Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KE TURKI; MENDISKUSIKAN MAHASISWA INDONESIA DI TURKI (7)

KE TURKI; MENDISKUSIKAN MAHASISWA INDONESIA DI TURKI (7)
Setelah saya berkunjung ke Museum Hagia Sophia dan Museum Topkopi, maka saya melanjutkan perjalanan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Turki. Saya beserta rombongan bertemu dengan Konjen RI untuk Turki di Istambul dan mendiskusikan banyak hal tentang situasi Turki pasca gerakan makar yang dilakukan oleh kelompok anti-pemerintah, yang diidentifikasi sebagai pengikut Fathullah Ghulen, yang sekarang mukim di Amerika Serikat.
Pak Herry, Konsuler Jenderal RI di Istambul memang baru bertugas di Istambul. Sebelumnya bertugas di Inggris dan Australia. Beliau baru memasuki bulan ketiga di Istambul. Sebelumnya adalah pegawai di Badan Narkotika Nasional (BNN). Meskipun baru tiga bulan tentu beliau mengikuti dengan cermat berbagai pemberitaan tentang Turki dan juga tentang Indonesia. Bertepatan saat saya berkunjung ke Konsulat ini, juga sedang dilakukan pelatihan kewirausahaan untuk mahasiswa Indonesia di Turki melalui program PPI di Istambul.
Pada saat kita berbincang, tiba-tiba datang Pak Hakan Soydemir, pimpinan Pesantren Sulaimaniyah untuk Asia Tenggara dan Australia. Saya tentu kenal baik dengan beliau sebab banyak forum yang kita lakukan bersama terutama dalam moment meeting mengenai perkembangan santri di pesantren Sulaimaniyah. Kalau saya bertemu dengannya, selalu saya bercanda tentang namanya yang mirip dengan pemain bola dari Club Sepak Bola Galatasaray, dan juga pemain Nasional Turki, Hakan Shukur, yang sekarang menjadi politisi. Selain Pak Hakan tentu yang saya kenal baik adalah Pak Farhat, mudir Pesantren Sulaimaniyah di Indonesia. Pak Farhat, bahkan menikah dengan orang Indonesia. Pada beberapa saat yang lalu, kala saya akan berangkat ke Turki tetapi gagal, beliau menyatakan menunggu saya di Turki. Kehadiran Pak Hakan di meeting ini menjadi penting, sebab sekaligus juga berkenalan dengan Pak Herry, Konsul kita di Istambul.
Ada sekurang-kurangnya tiga hal yang kita bicarakan. Pertama, mengenai keadaan di Turki pasca kudeta gagal yang dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat Turki. Menurut Pak Herry, bahwa ada sebanyak kira-kira 150 orang mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa dari PASSIAD yang kemudian diberhentikan beasiswanya karena masalah yang terkait dengan gerakan makar ini. Sementara ini mereka didanai dengan anggaran Kementerian Luar Negeri, namun tentunya tidak bisa dilakukan secara terus menerus. Tidak hanya itu, bahwa ada banyak mahasiswa Indonesia yang harus ditempatkan di Kantor Konjen dan juga ditempatkan di rumah-rumah kos, sebab banyak juga mahasiswa Indonesia yang bertempat di Asrama Pendidikan di PASSIAD ini. Ada juga yang kemudian ditangkap dan ditahan sampai kemudian mereka dilepaskan kembali. Tiba-tiba asrama di gerebeg dan semuanya diamankan. Terutama alat-alat komunikasi. Jadilah mereka kemudian dievakuasi ke tempat yang aman dan selamat.
Memang keadaan sekarang sudah kondusif. Meskipun semua dalam keadaan yang aman, akan tetapi bara api perlawanan itu juga masih ada. Makanya, masih ada misalnya ledakan-ledakan yang terjadi dalam skala kecil. Misalnya dua atau tiga hari lalu ada peledakan di dekat Museum Topkapi. Makanya, kunjungan wisatawan ke sini juga menjadi sangat berkurang. Pemerintah Turki sekarang sedang membangun imaje di mata dunia luar bahwa Turki sudah aman dan wisatawan dipersilahkan untuk mengunjungi Turki kembali.
Kedua, tentang pendanaan bagi mahasiswa Indonesia yang sekarang sedang belajar di Turki. Menurut Pak Konjen bahwa tahun 2017 harus ada skema lain. Sebab Kemenlu tentu tidak bisa melakukan pembiayaan melalui beasiswa regular. Dalam waktu dekat, katanya bahwa Pejabat dari Kemenristekdikti akan hadir di Turki di dalam kerangka pembicaraan mengenai skema pemberian beasiswa bagi mereka yang sedang bermasalah tersebut.
Saya sampaikan bahwa saya adalah salah satu Dewan Pengawas LPDP yang secara regular bertemu untuk membahas tentang hal-hal yang terkait dengan pengembangan pendidikan tinggi. Bisa saja hasil pertemuan dengan Pak Konsul ini dijadikan sebagai bahan pertemuan di Dewas LPDP. Hanya saja memang skema pembiayaan LPDP selama ini selalu dikaitkan dengan peringkat PT di luar negeri, misalnya Top 200, atau ada skema lain, misalnya terhadap PT di Timur Tengah yang di dalam banyak hal tidak terlibat di dalam Top 200 PT di dunia, akan tetapi karena kepentingan bangsa kemudian bisa dijadikan sebagai sasaran PT yang dituju untuk studi lanjut bagi mahasiswa Indonesia.
Ketiga, terkait dengan santri Indonesia di Turki yang sedang belajar di Pesantren Sulaimaniyah. Pak Hakan menjelaskan bahwa pesantren Sulaimaniyah sama sekali tidak terlibat di dalam masalah politik di Turki. Pesantren ini khusus untuk belajar Al Qur’an dan ilmu keislaman lainnya. Jadi di saat terjadi kudeta tersebut, maka pesantren Sulaimaniyah juga dalam keadaan aman. Semenjak semula pesantren Sulaimaniyah merupakan lembaga pendidikan nonpolitis dan tidak akan masuk di dalam dunia politis. Kita mengabdi pada ilmu keislaman saja, dan mengembangkan paham keislaman yang rahmatan lil alamin atau Islam ahli sunnah wal jamaah. Di sampaikan juga oleh Pak Hakan, bahwa pesantren Sulaimaniyah bisa menampung terhadap mahasiswa Indonesia yang sekarang sedang mengalami persoalan jika diperlukan. Kami siap bekerja sama untuk kepentingan ini, demikian pernyataan Pak Hakan.
Keempat, saya diskusikan juga tentang pentingnya pemetaan tentang mahasiswa kita di Turki berdasarkan atas peminatan program studinya. Jika kemudian ada di antaranya yang berasal dari program studi ilmu keislaman, saya kira harus dibicarakan di Kemenag tentang bagaimana Kemenag bisa terlibat di dalam pendanaan bagi mahasiswa tersebut. Perlu dicarikan solusi untuk mengatasi persoalan ini. Menurut Pak Herry, bahwa Dubes RI di Turki sudah berkirim surat ke Kemenristekdikti untuk skema pembiayaan mereka pada tahun 2017, sehingga diharapkan bahwa skema pembiayaan mereka di tahun tersebut sudah mendapatan kejelasan, agar mereka juga tenang untuk menjalani masa belajarnya.
Pertemuan ini saya kira sangat produktif untuk memberikan informasi kepada pemerintah Indonesia, terutama di dalam menangani warga Negara Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Apapun dalihnya bahwa pemerintah harus hadir bagi warganya di manapun berada termasuk mereka yang sedang belajar di Turki ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE TURKI: JADILAH PARA SANTRI SEBAGAI DUTA BANGSA (6)

KE TURKI: JADILAH PARA SANTRI SEBAGAI DUTA BANGSA (6)
Saya dan rombongan mengikuti shalat jamaah di Mushalla Pesantren Sulaimaniyah. Bersama saya adalah Prof. Gunaryo, Ferimeldy, PhD., Farid Wajdi, Pak Adek, Mas Firman, dan Pak Hendro. Yang menjadi imam shalat magrib adalah seorang santri dari Indonesia. Dia harus menggunakan pakaian gamis dan ikat kepala berwarna putih untuk menutupi kopyahnya. Saya yakin mereka bergantian untuk menjadi imam ini.
Di mushalla ini juga diselenggarakan pengajian al Qur’an atau tadarrus Al Qur’an. Rupanya yang memperoleh giliran untuk tadarrus Al Qur’an adalah santri yang lebih senior. Menjadi Imam shalat rawatib, membaca Al Qur’an adalah tradisi di dalam program pembelajaran di pesantren Sulaimaniyah. Semuanya mendapatkan giliran dan semua harus melakukannya.
Sebagai seorang pelajar Al Qur’an, maka dipastikan bahwa bacaan Al Qur’annya sangat baik. Sangat fasih mereka membaca ayat-ayat al Al Qur’an, baik surat Al Fatihah maupun surat lainnya. Sangat pantas jika kelak mereka akan bisa menjadi imam shalat rawatib dan ahli agama yang memadai. Mereka yang belajar di sini memang sudah hafal Al Qur’an 30 Juz semenjak di Pesantren Sulaimaniyah di Indonesia. Di sini mereka memang mendalami ilmu Al Qur’an dan ilmu ilmu keislaman lainnya.
Setelah selesai wiridan dan doa, maka saya berkesempatan untuk memberikan ceramah dan motivasi kepada segenap santri Indonesia itu. Ada tiga hal yang saya sampaikan di sini, yaitu: pertama, agar para santri terus menimba ilmu pengetahuan keislaman di Turki. Anda semua adalah orang yang sangat beruntung bisa belajar agama di pusat pendidikan agama di dunia ini. Turki dikenal sebagai pusat peradaban Islam yang luar biasa. Turki pernah menjadi Daulat Islamiyah dengan kemajuan peradaban yang sangat masyhur.
Para santri merupakan orang yang beruntung bisa belajar Al Qur’an, menghafal Al Qur’an dan mempelajari tafsir dan ilmu keislaman dari sumber aslinya. Saya merasakan betapa anda semua adalah orang yang memperoleh kenikmatan luar biasa dari Allah swt. Makanya anda semua harus bersyukur ke hadirat Allah swt atas nikmat yang sedemikain besar ini. Jadi ananda harus belajar dengan sangat serius agar kelak memiliki ilmu yang bermanfaat, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia.
Kedua, para santri harus menjadi duta bangsa. Ananda semua adalah orang yang terpilih untuk mewakili Indonesia untuk belajar di Turki. Bayangkan berapa banyak anak Indonesia yang seusia anda dan hanya berada di Indonesia dan bahkan ada di antaranya yang tidak bisa menikmati bangku pendidikan. Rasanya sangat banyak atau jutaan anak Indonesia yang hanya memperoleh pendidikan di negerinya sendiri. Paling jauh mereka belajar di kotanya atau di luar kotanya. Mereka bahkan ada yang hanya belajar di sekitar rumahnya. Makanya, ketika ananda bisa belajar nun jauh di sini, di tempat ini, yang jaraknya ratusan ribu kilometer dari Indonesia, membutuhkan waktu 12 jam dengan pesawat terbang ke sini, maka ini adalah prestasi yang luar biasa. Hanya ada sebanyak 50 orang anak-anak seusia ananda yang bisa datang untuk belajar di negeri dongeng ini.
Kita semua merasakan bahwa belajar agama Islam di Turki merupakan tempat belajar yang sangat tepat. Jika saya masih muda seperti ananda, maka saya akan merasa bangga untuk bisa mencicipi pendidikan di tempat ini. Sungguh betapa bahagianya bisa belajar Al Qur’an dan belajar agama Islam di Pesantren Sulaimaniyah ini. Harapan saya, selaku orang tua dan sekaligus Sekretaris Jenderal Kemenag adalah agar ananda semua sukses di dalam belajar.
Tunjukkan bahwa anak-anak Indonesia adalah anak-anak pintar dan cerdas dan dapat menyelesaikan pendidikan tepat pada waktunya. Anak-anak sekalian adalah duta bangsa Indonesia yang akan memperkenalkan inilah “Anak Indonesia yang cerdas, sopan dan Islami”.
Ketiga, tugas ananda disini adalah belajar dan belajar. Jangan pernah tertarik dengan berbagai isme atau pandangan lain yang berbeda dengan apa yang kita pelajari di tempat ini. Kaji ilmu sampai setinggi langit. Jangan berhenti sampai di sini. Anak-anak harus terfokus belajarnya pada bidang studi yang diajarkan di pesantren.
Jangan sampai anak-anak terpengaruh informasi dari manapun datangnya yang akan merusak konsentrasi belajar ananda. Jangan sampai tertarik dengan pikiran atau gagasan yang mengatasnamakan Islam yang keras, paham Islam yang radikal atau paham Islam yang fundamental bahkan paham Islam yang ekstrim. Ananda berada di wilayah yang berdekatan dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), maka jangan sampai terpenaruh oleh hal-hal seperti ini. Pertahankan paham Islam ananda sesuai dengan paham Islam yang rahmatan ili alamin.
Saya sungguh berharap bahwa ananda semua akan bisa memilah dan memilih, mana yang benar sesuai dengan paham Islam yang moderat dan mana paham Islam yang ekstrim. Pilih yang moderat karena sesuai dengan paham dan pengamalan Islam di Turki dan juga di Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE TURKI; MEMBAHAS SANTRI PESANTREN SULAIMANIYAH (5)

KE TURKI; MEMBAHAS SANTRI PESANTREN SULAIMANIYAH (5)
Salah satu di antara hal penting yang saya bicarakan dalam kunjungan singkat ke Turki adalah mengenai keadaan santri Indonesia yang sedang nyantri di Pesantren Sulaimaniyah Turki. Jumlahnya cukup banyak nyaris 500 orang. Sedangkan jumlah pesantren Sulaimaniyah di Turki kira-kira sebanyak 4000 pesantren.
Pasca gerakan makar yang terjadi di Turki, kehidupan masyarakat tentu relative terganggu. Terutama dari sisi keamanan. Bahkan menjelang saya datang ke Turki kemarin juga terdapat ledakan bom di Turki. Memang suasana keamanan dan politik di Turki masih menggambarkan indicator kerawanan. Terlepas dari usaha pemerintah untuk menekan dampak negative terhadap pencitraan Republik Turki, akan tetapi jelas sangat pengaruh kudeta gagal tersebut terkait dengan pemerintahan di Turki.
Banyak orang yang tiba-tiba diciduk karena memberikan indikasi kontra-pemerintah. Di antara yang dicokok itu adalah orang yang pernah bekerja sama dengan Fathullah Gulen, apakah dia memang anak buahnya atau sekedar selfi di kala bersama dengan Fathullah Gulen. Seperti biasa di tengah suasana kudeta, maka keadaaan tentu menjadi tak terkendali. Bahkan juga ada mahasiswa Indonesia di Turki yang sempat diamankan oleh otoritas keamanan di Turki.
Meskipun demikian, ada juga seorang pemuda yag rela melakukan pengabdian masyarakat dengan mengaji dan menjadi pendamping santri baru. Sebagaimana tulisan saya yang terdahulu bahwa santri tersebut berasal dari Jawa Barat dan sudah menetap selama 6 tahun di Turki. Sekarang menjadi tenaga bantu tetap yang mengurus para santri yang menghadapi masalah culture and social gap terutama di kalangan santri baru. Dialah Firman yang sering membantu para pejabat ketika berkunjung di Turki.
Selepas dari acara di Fakultas Ilahiyyat Universitas Marmara, maka saya, Prof. Gun, Pak Feri dan Pak Farid menghadiri acara dengan pimpinan pesantren Sulaimaniyah di Turki. Hari sudah sore dan perut belum terisi semenjak makan pagi, maka kami menyempatkan makan di Restoran Donercu Ali Baba di Turki. Sebagaimana biasanya, maka kami memilih menu yang terdapat nasi di dalamnya. Ternyata pilihan tersebut tidak salah, sebab nasinya seperti nasi uduk di Jawa. Dengan lauk pauk daging sapi, maka lezat juga rasanya makanan itu.
Kami datang di Pesantren Sulaimaniyah menjelang magrib. Tetapi masih cukup waktu untuk membahas tentang keadaan santri Indonesia di Turki. Kami datang disambut oleh santri-santri Indonesia dengan pakaian full dress. Ternyata kebanyakan mereka datang dari Aceh dan ada beberapa yang dari Surabaya dan Solo. Tampak rapi dengan gaya pakaian seperti itu. Tradisi belajar di Turki memang memakai pakaian lengkap dengan jas dan dasi.
Kami kemudian memasuki Ma’had Sulaimaniyah Unalan Chamlica Unalan Erkek, Jalan Ogrencu Yurdu Ates, SK No 9, 34700 Uskudar Istambul. Kami bertemu dengan Mudir Ma’had yang bernama Ismail. Kami membahas tiga hal penting terkait dengan para santri Indonesia yang tersebar di seluruh wilayah Turki. Pertama, tentu membahas mengenai apresiasi pemerintah Indonesia terhadap kerja sama dengan Pesantren Sulaimaniyah Turki dalam kapasitas program tahfidz al Qur’an dan pendidikan ilmu keislaman.
Kedua, terkait dengan sikap pemerintah Turki terhadap Pesantren Sulaimaniyah dalam kerangka pendidikan keagamaan dan banyaknya santri dari berbagai wilayah di dunia yang belajar di Pesantren Sulaimaniyah. Ketiga, sikap politik Pesantren Sulaimaniyah di dalam konteks pemerintah dan faham keagamaan untuk masa depan pesantren.
Di dalam pembahasan ini, dinyatakan oleh Pak Ismail bahwa Pesantren Sulaimaniyah hanya mengajarkan pendidikan keagamaan. Ada setara pendidikan Taman-Kanak-kanak, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Semua didesain untuk mengembangkan kemampuan ilmu keislaman khususnya ilmu al Qur’an. Pesantren ini memang semula tidak didesain terlibat dengan dunia politik. Hanya khusus mempelajari agama Islam saja.
Pesantren ini adalah pesantren yang mengikuti paham Islam Ahlu Sunnah wal Jamaah. Yaitu Islam yang sesuai dengan mayoritas umat Islam di Turki. Pesantren ini didirikan untuk mengajarkan al Qur’an. Di dalam sejarahnya diketahui bahwa pendiri pesantren ini mengajarkan Al Qur’an dengan berkeliling memakai taksi. Waktu itu mengajarkan Al Qur’an dilarang. Oleh Kemal Pasha Attaturk, semua bentuk pengajaran agama dilarang. Para pimpinan Turki menginginkan Turki harus seperti barat. Di dalam literature disebut Gerakan Westernisasi. Pesan mengajarkan al Qur’an itulah yang terus menyemangati pimpinan Pesantren Sulaimaniyah hingga sekarang.
Sesuai dengan pesan pendiri Pesantren Sulaimaniyah tersebut, maka pesantren ini tetap berada di dalam koridor untuk tidak terlibat di dalam gerakan politik akan tetapi murni untuk gerakan keagamaan. Jadi pesantren ini sama sekali tidak bertentangan atau berseberangan dengan pemerintah. Pesantren ini berada di dalam mendukung pemerintah yang sah. Dengan demikian, keadaan pesantren dan seluruh santrinya berada di dalam keadaan yang nyaman dan selamat.
Berdasarkan atas penjelasan Ustadz Ismail ini maka saya menegaskan bahwa santri Indonesia mestilah memperoleh pengamanan dan kenyamanan di dalam belajarnya di Turki. Saya mempercayakan sepenuhnya terhadap keselamatan dan kenyamanan para santri di dalam belajarnya di Pesantren Sulaimaniyah. Mereka pastilah belajar tentang paham keagamaan yang sama dengan Islam rahmatan lil alamin, Islam moderat sebagaimana kita lihat kesamaannya antara Islam di Turki dan Indonesia.
Jadi jika kelak mereka akan kembali ke Indonesia, maka mereka akan berada di dalam jalur pemahaman Islam yang relevan dengan bagaimana orang Indonesia memahami dan mengamalkan keislamannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE TURKI: MASJID PROSPEKTIF DI MARMARA UNIVERSITY (4)

KE TURKI: MASJID PROSPEKTIF DI MARMARA UNIVERSITY (4)
Setelah berbincang panjang tentang peluang melakukan evaluasi terhadap program kerja sama antara PTKIN dengan Marmara University, maka saya dan rombongan ditemani oleh Dr. Mehmet Toprak mengelilingi kampus Faculty of Theology pada Marmara University.
Saya diperkenalkan dengan berbagai ruangan di kampus ini. Saya diajak untuk mengagumi tatanan kampus yang prospektif. Misalnya ruangan yang berbentuk theater room. Di dalam ruangan ini didesain untuk perkuliahan dengan system theatrical, dalam arti dosen menjadi pusat perhatian berada di posisi paling bawah dan para mahasiswa bisa mengambil tempat duduk semakin ke belakang semakin tinggi. Seperti nonton opera atau nonton film di Bioskop. Ruangan yang sangat baik, dengan peralatan pembelajaran yang memadai. Ada dua ruangan yang sempat saya lihat dengan model seperti ini, yaitu di gedung perkuliahan dan satu lagi di Masjid Kampus.
Selain itu juga terdapat ruangan untuk perkuliahan biasa, sebagaimana kebanyakan di kampus-kampus kita. Ruangan yang seperti ini, saya kira tidak ada bedanya dengan ruang kuliah pada perguruan tinggi di Indonesia. Hanya saja mungkin sarana prasarananya yang kira-kira sedikit berbeda. Saya misalnya sempat melihat perkuliahan di bidang sosiologi agama di Fakultas Theology ini. Ketepatan yang diajarkan adalah mengenai “Mac Donald Society”, suatu teori ilmu sosial yang digunakan untuk menggambarkan mengenai realitas masyarakat sebagaimana fenomena Mac Donald. Sebuah resto cepat saji yang memberikan sesuatu secara simple, individual dan ingin serba cepat.
Ruang pimpinan tidaklah istimewa. Bahkan lebih sederhana dibandingkan dengan ruangan pimpinan di fakultas atau rektorat di Indonesia. Misalnya di ruangan wakil Dekan, hanya ada meja tamu dan meja pertemuan yang menyatu di dalam ruangan. Demikian pula di ruang Dekan, juga hanya terdapat hal yang sama, cuma saja lebih luas ruangannya. Tentu saja peralatan IT-nya sangat memadai. Jika dibandingkan dengan ruangan Kepala Kantor Wilayah Kemenag tentu jauh lebih sederhana. Rupanya mereka lebih mementingkan ruang pelayanan kepada mahasiswa dalam bentuk ruang-ruang yang bagus ketimbang ruangan pimpinan Fakultas. Dosen memang memiliki ruang dan satu ruang digunakan oleh dua orang dosen. Kelihatannya, seorang Profesor dan doctor.
Kita lalu menuju ke masjid kampus. Kita bisa berbangga dengan masjid kampus pada Fakultas Ilahiyyat ini. Desain masjid sangat prospektif. Jika di kampus Indonesia, masjid hanya digunakan untuk shalat dan kegiatan pengajian atau kegiatan keagamaan lainnya, maka di masjid kampus ini benar-benar multi fungsi. Saya jadi teringat dengan bukunya Sidi Gazalba, yang berjudul “Masjid Sebagai Pusat Ibadah dan Sosial Islam”. Saya agak lupa judulnya, akan tetapi Pak Sidi Gazalba ingin memberikan gambaran bahwa masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah akan tetapi juga tempat untuk berbagai gerakan sosial Islam lainnya.
Masjid kampus ini fully didanai oleh masyarakat. Pemerintah hanya mensupport saja. Jadi, tidak ada anggaran pemerintah yang digunakan untuk pembiayaan masjid meskipun Marmara University termasuk kampus negeri. Masjid ini termasuk bangunan baru dan beberapa bangunan sedang dalam penyelesaian. Begitu masuk kita sudah disuguhi dengan ruangan theatrical yang sangat baik dengan peralatan IT dan lain-lain yang sangat memadai. Di lantai ini, maka terdapat beberapa ruangan untuk seminar dan diskusi dalam jumlah tertentu. Tempat shalat berada di tengah-tengah lantai satu dan lantai atas.
Di lantai dua dapat dilihat cafeteria yang cukup besar. Pada saat saya berkunjung ada banyak dosen dan mahasiswa yang sedang menikmati berbagai makanan di cafetarian masjid ini. Bahkan juga sedang ada pertemuan di ruang pertemuan dengan peserta kira-kira 50-60 orang. Masjid ini memang didesain dengan sangat baik, dengan berbagai fungsi yang memadai. Masjid ini sekaligus juga menjadi laboratorium untuk mendalami ajaran Islam. Ada banyak kegiatan yang melibatkan dosen dan mahasiswa untuk mendalami ilmu keislaman di tempat ini. Makanya, ruang-ruang yang banyak jumlahnya di masjid ini tentu digunakan untuk kepentingan pendalaman Islam dimaksud.
Sepengetahuan saya di Indonesia, hanya ada dua masjid di PTKIN yang pembangunannya fully didanai masyarakat, yaitu Masjid Ulul Albab di Kampus UIN Sunan Ampel Surabaya, yang dibangun semasa rektornya, guru saya, Prof. Bisri Affandi. Masjid ini didanai oleh Ibu Toety Azis pemilik Koran Surabaya Post dan masyarakat. Selain itu juga masjid kampus IAIN Raden Intan Lampung. Sesuai dengan penuturan Rektor IAIN Raden Intan Lampung, Prof. Moh. Mukri maka seluruh anggaran untuk membiayai pembangunan masjid kampus ini adalah melalui donatur dari masyarakat. Masjid kampus lainnya, misalnya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Masjid Kampus UIN Sultan Syarif Kasim Riau didanai oleh APBN.
Ke depan, saya kira perlu bermimpi membangun masjid kampus sebagaimana yang terdapat di Fakultas Ilahiyyat pada Marmara University ini. Selain anggarannya didanai oleh masyarakat juga multi fungsi. Jadi memang diperlukan kreativitas untuk membangun bangunan yang monumental di kampus-kampus kita.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE TURKI: MENGEVALUASI MOU PTKIN DENGAN MARMARA UNIVERSITY (3)

KE TURKI: MENGEVALUASI MOU PTKIN DENGAN MARMARA UNIVERSITY (3)
Jika kita merasa pening kepala karena macet di jalanan Jakarta, maka saya kira juga ada tempat lain yang juga sama macetnya dengan Jakarta, yaitu di Istambul. Kota bersejarah ini juga memiliki tingkat kemacetan yang cukup parah. Sebagai kota lama, maka jalan-jalan di Istambul tergolong tidak lebar. Apalagi jalannya kebanyakan berisi dua arah.
Perjalanan ke Marmara University ternyata memerlukan waktu panjang. Dari Masjid Biru ke Marmara University akan memakan waktu panjang jika memutar dari wilayah Instambul di Eropa dan Wilayah Istambul di Asia. Makanya, harus memotong jalur dengan naik kapal feri melampaui Selat Bosphorus. Dengan naik kapal feri, maka separuh perjalanan bisa dipotong. Memang ada Jembatan Bosphorus, akan tetapi ternyata masih jauh juga tempatnya. Jadilah melewati Selat Bosphorus dengan kapal feri yang sangat baik. Pengalaman juga di Turki naik kapal feri. Jadi teringat menyeberang ke Madura atau ke Bali dengan kapal feri. Tradisi menyebrang dengan kapal feri ini memang tetap dilestarikan oleh Pemerintah Turki, terbukti dari banyaknya kapal feri yang antri dan juga mobil dan penumpang yang antri di sini. Meskipun ada jembatan, akan tetapi sengaja tradisi menyeberang dengan kapal feri tetap dipertahankan.
Setelah melewati jalan-jalan sempit dan naik turun di Istambul Asia, maka sampailah ke Marmara University, Fakultas Ilahiyyat atau Faculty of Theology. Kami diantarkan oleh Mas Syahroni, mahasiswa Program Doktor pada Fakultas Sosiologi Jurusan Hubungan Internasional. Mas Syahroni ini memperoleh gelar Strata satu dari UIN Kalijaga Jogyakarta, lalu Strata dua dari UGM dan program Doktor di Marmara University. Dia memperoleh rekomendasi dari Prof. Dr. Amin Abdullah untuk belajar di Marmara University. Dia belajar atas beasiswa Pemerintah Turki. Selama setahun persiapan Bahasa Turki dan baru masuk program Doktor di tahun kedua.
Mula-mula kami bertemu dengan Wakil Dekan Fakultas Ilahiyyat, Dr. Muhammad Abay, seorang doctor di bidang tafsir al Qur’an dan telah menghasilkan tulisan Khat Al Qur’an yang kemudian diterbitkan oleh Marmara University Publishing. Beliau ditemani oleh Kepala Pusat Riset di Fakultas Ilahiyyat, Dr. Mehmet Toprak.
Kepada Dr. Muhammad Abay, saya perkenalkan peserta kunjungan ke Marmara Universtity ini. Saya perkenalkan Prof. Gun, dengan jabatan akademis dan jabatan strukturalnya, saya perkenalkan Ferimeldy, PhD, dengan jabatannya dan juga saya dengan jabatan akademis dan structural saya, demikian pula Pak Farid Wajdi dengan jabatannya. Kemudian Prof. Gunaryo menyampaikan beberapa hal terkait dengan evaluasi mengenai penandatangan MoU antara PTKIN dengan Fakultas Ilahiyyat pada Marmara University.
Akhirnya, saya dan rombongan diajak untuk masuk ke ruang Dekan Fakultas Ilahiyyat, Prof. Dr. Ali Kofour. Sama dengan kala bertemu dengan Wakil Dekan Bidang akademis pada Fakultas Ilahiyyat, maka saya juga mengenalkan rombongan dari Kementerian Agama kepada Prof. Dr. Ali Kofour dan juga saya sampaikan bahwa di Indonesia ada pendidikan di bawah Kementerian Agama, di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi. Saya sampaikan bahwa di Kementerian Agama terdapat sebanyak 57 PTKIN, dengan status Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Institut Agama Islam Negeri dan Universitas Islam Negeri. Di PTKIN tidak hanya dikaji Islamic studies akan tetapi juga ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta sain dan teknologi.
Setelah itu, Pak Dekan lalu membeberkan tentang Fakultas Ilahiyyat dengan berbagai program studinya. Beberapa mata kuliah dasar, seperti ilmu Al Qur’an, Ilmu tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Fiqih, Ilmu Sejarah Islam, dan sebagainya diajarkan di sini. Selain itu juga ada program studi internasional, dengan menggunakan bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Dijelaskan juga bahwa Fakultas Ilahiyyat memang menempati satu tempat tersendiri di sini, sebab fakultas-fakultas lain bertebaran di tempat lain.
Saya juga menyampaikan bahwa di beberapa Universitas Islam Negeri, seperti UIN Jakarta juga sudah diselenggarakan program kelas internasional di dalam bidang Islamic economy. Selain itu juga Kemenag memiliki program 5.000 doktor untuk belajar di dalam dan luar negeri dan selain itu juga ada program beasiswa kepada mahasiswa asing yang belajar di Indonesia. Mereka datang dari Thailand, Eropa Timur dan Afrika. Tidak kalah pentingnya, ke depan juga diperlukan program student exchange atau lecturer exchange di dalam kerangka untuk memperkuat kualitas pendidikan.
Prof. Gunaryo kemudian menyampaikan beberapa tujuan untuk datang di Fakultas Ilahiyyat. Ada dua hal yang disampaikan oleh Prof. Gunaryo, yaitu: pertama terkait dengan evaluasi penandatangan Mou antara PTKIN dengan Marmara University, seperti apa dan bagaimana program-program kerjasama tersebut dilakukan. Kedua, apakah kerja sama tersebut bisa dilakukan kegiatannya, atau menjadi MoU “sleeping”. Pihak Kemenag menginginkan agar MoU tersebut bisa menjadi MoU “dinamics”, sehingga kerja sama itu akan bisa saling menguntungkan.
Terhadap pertanyaan ini, maka Pak Dekan menyatakan bahwa ada sebanyak 15 MoU antara PTKIN dengan Marmara University, khususnya Fakultas Ilahiyyat. Namun demikian kebanyakan MoU tersebut tidak terlaksana kegiatannya. Kebanyakan menjadi MoU yang tidak berkelanjutan. Ada memang yang kemudian dilakukan kegiatan bersama, misalnya pelatihan manejemen, pelatihan bahasa Arab dan lainnya, akan tetapi kebanyakan MoU memang belum dilaksanakan.
Terhadap hal ini, Prof. Gun menyatakan bahwa sebaiknya memang harus dilakukan evaluasi mana program yang sudah dilakukan dan mana program yang belum dilakukan. Untuk kepentingan ini, kiranya diperlukan semacam kegiatan seminar internasional bersama antara Fakultas Ilahiyyat dengan PTKIN. Pak Gun juga menegaskan bahwa setelah kunjungan ke Turki dan memperoleh gambaran persepsi dari pimpinan Marmara University tentang MoU signing ini, maka akan menjadi kewajiban Kemenag untuk mendorong agar PTKIN di Indonesia untuk mengembangkan program bersama antara Fakultas Ilahiyyat pada Universitas Marmara dengan PTKIN.
Saya juga menambahkan misalnya ada seminar bersama yang dilakukan oleh kedua institusi pendidikan tinggi, sebab antara Indonesia dan Turki memiliki banyak kesamaan, baik dari paham keagamaan maupun praktek pengamalan agamanya. Turki dan Indonesia memiliki tantangan yang sama di dalam melaksanakan Islam yang rahmatan lil alamin. Indonesia sedang mengalami gerakan radikalisme yang semakin kuat dan demikian pula dengan Pemerintah Turki.
Jadi, ada banyak hal yang bisa dikolaborasikan antara Marmara University dengan PTKIN di dalam kerangka peningkatan mutu, relevansi dan daya saing PTKIN khususnya di era pendidikan global ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.