Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGEMBANGKAN SEMANGAT KEBANGSAAN ALUMNI PT

MENGEMBANGKAN SEMANGAT KEBANGSAAN ALUMNI PT
Akhir-akhir ini saya memperoleh kesempatan untuk memberikan taushiyah bagi para wisudawan dan wisudawati di Perguruan Tinggi Agama (PTA). Tidak terkecuali kemarin, Rabo, 9 Nopember 2016. Saya didapuk untuk memberikan wejangan bagi wisudawan dan wisudawati Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hikmah, Jakarta yang diselenggarakan di Graha Sasana Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.
Hadir di di tempat ini adalah para pejabat di lingkungan PTAI ini, yaitu: Prof. Dr. Mundzir Suparta, MA., Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan mantan Inspektur Jenderal Kemenag (Ketua STAI Al Hukmah), Prof. Dr. HD. Hidayat., (Direktur PPS STAI Al Hikmah.), Dr. KH. Manarul Hidayat, Ketua Umum Yayasan dan seluruh jajaran Wakil Ketua STAI Al Hikmah Jakarta, para dosen, para wisudawan dan wisudawati serta orang tua atau wali wisudawan dan wisudawati.
Selayaknya upacara wisuda sarjana, maka prosesi tentu dilakukan dengan sangat ketat tahap demi tahap. Meskipun saya datang terlambat, tentu karena urusan kantor, maka saya diperkenankan untuk duduk di meja kehormatan pimpinan atau Senat STAI Al Hikmah. Pagi itu saya harus melayani wawancara dengan wartawan Jurnal asing (Febriyanti) tentang bantuan beasiswa ke luar negeri melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Pada kesempatan ini saya sampaikan tiga hal mendasar terkait dengan apa yang harus dilakukan oleh para wisudawan dan wisudawati pasca pengukuhan gelar sarjana strata satu dan magister ini. Pertama, saya sampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas keberhasilan para wisudawan dan wisudawati untuk menjadi sarjana. Melalui upacara ini tentu menegaskan bahwa para alumni ini telah menjadi bagian dari sedikit orang Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi. Kini, saudara telah menjadi bagian dari kira-kira tiga persen dari anak-anak Indonesia yang usia pendidikan tinggi dan bisa belajar di lembaga pendidikan tinggi.
Melalui wisuda ini menegaskan bahwa saudara telah menjadi kaum intelektual atau kaum akademisi. Di belakang nama saudara telah tercantum gelar Sarjana Pendidikan atau Magister Pendidikan. Atas keberhasilan ini tentu kita semua harus mengingat betapa menjadi sarjana adalah hasil dari kerja bersama. Menjadi sarjana bukan hanya capaian individu, akan tetapi capaian kebersamaan. Ada orang tua atau wali mahasiswa, ada dosen, ada tenaga kependidikan, ada pimpinan perguruan tinggi dan banyak lainnya yang terlibat di dalam proses pencapaian prestasi ini. Maka saya mengingatkan agar jasa orang-orang yang telah membuat para wisudawan itu berhasil, dikenang sebagai jasa yang baik dan bermanfaat.
Kedua, ada teladan baik yang saya rasa harus dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupan. Saat saya meluncur ke tempat ini, saya diwawancarai oleh Wartawan Republika terkait dengan pemberian Gelar Pahlawan Nasional terhadap KHR. As’ad Syamsul Arifin. Dia bertanya tentang kepahlawan KHR. As’ad tersebut. Saya sampaikan bahwa Kyai As’ad memiliki sumbangan yang sangat signifikan di dalam menegaskan Pancasila sebagai dasar Negara dan harus menjadi pedoman di dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi. Pada saat terjadi perdebatan tentang Pancasila harus menjadi satu-satunya asas bagi seluruh organisasi di Indonesia, maka Kyai As’ad dengan tiga Kyai lain, yaitu KH. Ahmad Siddiq, Kyai Masjkur, dan KH. Ali Ma’shum menyatakan bahwa Pancasila bisa menjadi satu-satunya asas organisasi keagamaan. Beliau berempat menyatakan: “jika ijtihad menetapkan Pancasila sebagai asas NU ini salah, maka beliau berempat yang pertama-tama harus masuk neraka”. Bukankah ini contoh yang luar biasa bagaimana Kyai yang sering disebut sebagai Kyai Tradisional ini ternyata memiliki jiwa dan semangat kebangsaan yang tidak ada taranya. Berikutnya, adalah sumbangannya bagi bangsa ini untuk memiliki organisasi terbesar, NU. Beliau adalah kurir Hadratusy Syekh Kyai Hasyim Asy’ari dan sekaligus juga pendiri dan pemikir NU. Jika NU hingga hari ini terus mengembangkan sikapnya yang moderat, tentu hal ini adalah sumbangan signifikan beliau terhadap bangsa Indonesia. Lalu Beliau juga mendirikan Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Melalui lembaga ini tentu sangat banyak orang Indonesia yang menjadi pintar. Tidak hanya dari Jawa Timur, tetapi juga dari NTB, Kalimantan dan sebagainya.
Ketiga, saya jelaskan tentang tantangan pendidikan Indonesia dewasa ini. Ada tantangan yang penting, yaitu: tantangan pendidikan dan pengembangan SDM. Saya kira ini adalah problem yang tiada henti untuk dibicarakan dan diimplematasikan. Kita masih berada di peringkat IPM 110, indeks Kompetisi 37 (2014). Posisi GCI kita yang semacam ini tentu menjadi masalah jika dikaitkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah menjadi kenyataan. Juga tentang posisi kualitas pendidikan tinggi dan pelatihan sebagai sub-indikator GCI yang masih berada di posisi 80. Dengan demikian, menjadi tugas civitas akademika untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan itu, sehingga peningkatan HDI dan GCI akan semakin baik ke depan.
Selain tantangan ini, maka juga ada tantangan yang tidak kalah seru adalah mengenai gerakan ekstrimisme, radikalisme dan fundamentalisme yang semakin menguat di negeri ini. Makanya, saya sungguh-sungguh berharap bahwa para alumni STAI Al Hikmah Jakarta, akan bisa menjadi agen dalam kerangka menanggulangi radikalisme, fundamentalisme atau ekstrimisme keagamaan, sehingga ke depan posisi tantangan ini makin berkurang. Menurut saya harus ada yang menggerakkan perubahan menuju ke moderatisme dengan melakukan gerakan deradikalisasi atau deekstrimisasi yang sedang berlangsung ini.
Alumni pendidikan tinggi saya kira bisa menjadi warga Negara yang baik karena telah mengenyam pendidikan yang makin tinggi dan hal itu berkonsekuensi agar para alumni mampu mendarmabhaktikan ilmunya untuk kepentingan menjaga keislaman kita, keindonesiaan kita dan kebudayaan kita.
Wallahu a’lam bi al shawab.

ZAKAT SEBAGAI INSTRUMEN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

ZAKAT SEBAGAI INSTRUMEN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
Senin, 7 Nopember 2016, saya memperoleh kesempatan untuk menguji disertasi di IAIN Sultan Thaha Saifuddin, Jambi. Acara menguji disertasi seperti ini tentu mengingatkan saya ketika saya masih aktif mengajar dan menguji di IAIN (kini UIN) Sunan Ampel Surabaya dan juga di perguruan tinggi lainnya.
Saya tulis acara menguji disertasi ini tentu karena menurut saya ada hal yang penting untuk diungkapkan. Misalnya seorang pengujinya adalah Wakil Gubernur Provinsi Jambi (Dr. H. Fachrori Umar, M.Hum), Mantan Pejabat di Pengadilan Tinggi Agama. Beliau sudah dua periode menjadi Wakil Gubernur Provinsi Jambi, yaitu pertama berpasangan dengan Pak Gubernur Hasan Basri Agus (HBA) dan kemudian mendampingi Gubernur Zumi Zola, yang mengalahkan incumbent di dalam pilihan gubernur Provinsi Jambi setahun yang lalu.
Selain itu juga tamu undangan di dalam ujian ini juga bervariasi, misalnya Pak Darmawel (Direktur Hukum di BNN), pejabat Kepolisian Daerah Jambi, pejabat dari Pangdam Jambi, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi dan segenap jajaran pejabat di Pemda dan jajaran pejabat di Kanwil dan Kankemenag Muara Bungo. Maklum jika yang menjadi tamu atau undangan ujian disertasi ini banyak, sebab Promovendus adalah Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Muara Bungo.
Judul disertasi Pak HM. Umar adalah “Pengelolaan Zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional dalam Menunjang Pendidikan di Provinsi Jambi”. Sidang ujian disertasi ini dipimpin oleh Prof. Dr. HM. Muhtar, MPd., mantan Rektor IAIN Sultan Thaha Saifuddin, sahabat saya ketika sama-sama menjadi rector di IAIN. Waktu itu saya menjadi Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Sebagai penguji adalah saya (Prof. Dr. Nur Syam, MSi, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Sekretaris jenderal Kemenag), Dr. Hadri Hasan, MA (Rektor IAIN Sultan Taha Saifuddin Jambi), Prof. Dr. Hasbi Umar, MA. PhD., Prof. Dr. Adrianus Chatib, SS, MHum. (Promotor), Dr. Hidayat, MPd. (Co-Promotor), Dr. Risnita, MPd., dan sekretaris Dr. Lukman Hakim, MPdI.
Sebagai penguji utama, saya diberi kesempatan untuk menjadi penguji pertama. Setelah berbasa-basi dengan mengucapkan selamat, maka saya tanyakan beberapa hal mendasar dalam kaitannya dengan kajian ini. Yaitu: sejauh mana disertasi ini telah memenuhi syarat orisinalitas disertasi, ada berapa banyak buku atau referensi baik itu berupa buku atau jurnal yang memberikan informasi bahwa kajian ini benar-benar orisinal. Lalu pertanyaan berikutnya adalah apa yang menjadi temuan akademis atau temuan teoretik dari disertasi ini. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu kekuatan disertasi adalah pada temuan baru baik berupa konsep atau teori di dalam kajian-kajian yang serupa dengan disertasi ini atau di dalam bidang studi terkait. Kemudian, apa sumbangan praktis atau signifikansi praksis yang dihasilkan dari kajian di dalam disertasi ini. Sebagai rumpun ilmu yang applied science, maka harus ada hal-hal baru yang dapat disumbangkan untuk perbaikan atau solusi bagi problem yang sedang dihadapai. Karena temanya terkait dengan program zakat, maka tentu sumbangan praksisnya terletak pada apa yang kira-kira dapat menjadi program unggulan untuk pengelolaan zakat di Jambi.
Selain sebagai penguji utama, Pak Prof. Muhtar sudah menyiapkan scenario lain, yaitu meminta saya untuk memberikan taushiyah bagi doctor baru dan juga segenap audience. Saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, sekali lagi ucapan selamat atas pengukuhan gelar doctor untuk Pak. HM. Umar. Sekarang Pak Umar sudah menyandang gelar baru, sebagai Doktor di bidang Manajemen Pendidikan. Artinya, bahwa Pak KH. M. Umar sudah menjadi akademisi paripurna, karena sudah menyandang gelar tertinggi dalam dunia akademis. Disertasi yang ditulis juga menjadi disertasi terbaik, sebab disertasi terbaik adalah disertasi yang bisa diselesaikan. Meskipun temanya sangat bagus dan menarik serta orisinal, namun jika disertasi tersebut tidak selesai berarti bukan yang terbaik. Saya pesankan kepada Pak Dr. Umar, bahwa menjadi doctor bukan akhir tetapi awal dari proses pencarian tiada henti terhadap samudra ilmu pengetahuan. Pasca menjadi doctor, maka harus banyak karya akademis lainnya. Baik karya dalam bentuk buku, laporan penelitian, karya tulis di jurnal dan sebagainya.
Kedua, tadi memang sengaja saya tanyakan tentang implikasi teroretik dan implikasi praksis. Pertanyaan tadi terkandung maksud bahwa karya seleval disertasi harus menemukan konsep atau teori baru yang berbeda dengan teori atau konsep yang sudah ada selama ini di dalam bidang ilmu yang dikaji. Jadi harus melahirkan teori baru di bidang manajemen pendidikan. Saya kira belum ada keberanian Pak Dr. Umar untuk melabel temuan empiriknya tersebut dengan label konseptual atau teoretik yang menonjol. Jadi masih ada peluang untuk menuliskan di dalam hasil akhir disertasi yang nanti akan disimpan di perpustakaan IAIN Jambi, sebagai renungan teoretik atau konseptual dimaksud. Harus diingat bahwa disertasi ini merupakan produk pertama di IAIN Jambi, maka harus menjadi contoh tentang disertasi yang akan lahir berikutnya.
Ketiga, tentang rekomendasi atau implikasi praksis. Saya memang sengaja menanyakan hal ini, sebab bagi saya harus ada temuan baru di dalam disertasi ini dalam kaitannya dengan program apa yang ke depan akan menjadi sarana untuk meningkatkan peran Baznas dalam bidang pendidikan. Misalnya dapat dituangkan dalam konsep program yang kurang lebih aplikabel sehingga akan dapat diterapkan di dalam upaya untuk meningkatkan pelaksanaan pengelolaan zakat untuk pendidikan.
Saya kira masih ada peluang untuk melakukan serangkaian perenungan tentang hal ini, terutama di dalam kerangka menjadikan disertasi ini sebagai karya akademis yang ekselen, sehingga kelak akan menjadi bahan referensi bagi siapa saja yang akan melakukan dalam tema-tema yang serupa.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MERAWAT KERUKUNAN MENUAI KEDAMAIAN

MERAWAT KERUKUNAN MENUAI KEDAMAIAN
Pagi ini, Ahad, 6 Nopember 2016, di Kantor Kementerian Agama di Jalan Thamrin diselenggarakan acara Gerak Jalan yang diinisiasi oleh Parisadha Buddha Dharma Niciren Soshu Indonesia (PBD-NSI) di bawah kepemimpinan Maha Pandita Utama, Suhadi Sanjaya. Acara ini diikuti oleh Majelis-Majelis Agama lainnya, seperti Kristen, Islam, Hindu, Katolik dan juga pejabat Kemenag serta para peserta dari berbagai kalangan.
Acara ini diikuti kira-kira dua ribu orang dan kebanyakan adalah para pemeluk agama Buddha. Gerak jalan ini juga dimeriahkan dengan Drum Band, tarian Nusantara dan juga lainnya. Semuanya menyatu di dalam kegiatan gerak jalan yang mengusung tema “Merawat Kerukunan Umat Beragama”. Acara ini juga sekaligus untuk memperingati Hari Kelahiran Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia yang ke 52.
Satu hal yang saya catat bahwa acara seperti ini sesungguhnya bisa menjadi medium untuk saling bertemu di antara tokoh-tokoh agama. Hadir misalnya Ibu Hartati Murdaya, Ketua Umum Walubi, Wakil Sekretaris PBNU, Imam Pituduh, dan segenap Jajaran Majelis Agama Budha, serta dari PGI, KWI dan sebagainya. Baik sebelum dan sesudah acara gerak jalan, semua melingkar untuk duduk di kursi masing-masing dan membicarakan banyak hal terkait dengan kerukunan beragama.
Yang saya rasa menjadi surprise adalah kehadiran Pak Menteri Agama, Bapak Lukman Hakim Saifuddin, sebab sebelumnya beliau menginformasikan tidak bisa hadir karena kecapekan setelah mengawal Demontrasi “anti Ahok” sehari sebelumnya. Sebagai tambahan informasi, bahwa Pak Menteri sampai jam 2.00 dini hari baru pulang ke rumah. Pada jam 20.00 Beliau bersama Pak Jenderal Wiranto menyempatkan diri untuk melakukan monitoring di lokasi kerusuhan pasca demontrasi damai tersebut.
Saya tentu merasa paling plong dengan kehadiran Pak Menteri Agama, sebab tugas saya untuk mewakili Beliau tidak berlaku dan yang paling bahagia tentu adalah penyelenggara Gerak Jelan, Pak Suhadi dan seluruh jajarannya bahkan juga umat beragama. Mereka merasa bergembira dengan kehadiran Pak Menag. Perhatian Pak Menag saya kira bisa menjadi contoh tentang bagaimana pejabat harus memberikan peluang lebih besar untuk bertemu dengan rakyatnya.
Di dalam sambutannya, Pak menteri menyampaikan hal yang menurut saya sangat mendasar. Beliau nyatakan bahwa: “jangan jadikan agama sebagai wahana untuk menilai orang lain dan meminta orang lain untuk sama dan menghormatinya, akan tetapi lebih baik kita jadikan agama sebagai wahana untuk menjadi pedoman untuk menghormati dan menghargai orang lain”. Lebih lanjut Beliau menyatakan “Mari jadikan agama sebagai sarana untuk saling memahami yang lain dan bukan agama untuk meminta orang lain sama dengan kita.”
Jika prinsip ini yang dipakai, maka kerukunan pasti akan dapat dijalankan dengan baik. Kita jangan menuntut orang lain menghargai dan mengormati diri kita, tetapi kita lupa untuk menghormati dan menghargai orang lain. Orang lain pasti tidak akan menghormati dan menghargai kita, jika kita tidak menghormati dan menghargai orang lain.
Di dalam pidatonya, Beliau juga menyatakan: “Kerukunan umat beragama sudah merupakan bagian tidak terpisahkan dari bangsa ini. Kita sebagai bangsa yang besar, maka pluralitas dan multikulturalitas tentu merupakan sesuatu yang sangat niscaya. Perbedaan merupakan ciri umum dari bangsa yang besar seperti bangsa Indonesia. Jika kita ingin tetap menjadi bangsa yang besar, maka salah satu syaratnya adalah menghargai perbedaan dan merekatkan persatuan berbasis pada perbedaan-perbedaan tersebut.”
Selanjutnya, Pak Menteri juga menyatakan bahwa agar gerak jalan kerukunan ini ditradisikan sebagai sarana untuk saling bertemu antara satu penganut agama dengan lainnya. Agar para tokoh agama bisa bersama-sama berjalan dan bergandengan tangan, sehingga kerukunan umat beragama juga akan terjaga.
Sekali lagi Pak Menteri mengapresiasi terhadap penyelenggaraan acara Gerak Jalan dalam rangka memperingati Hari Kelahiran Parishada Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia yang ke 52. Mari kita perkuat jati diri bangsa Indonesia dengan kerukunan yang sudah mentradisi di kalangan masyarakat Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MERUMUSKAN PERENCANAAN BERBASIS TANGGUNG JAWAB

MERUMUSKAN PERENCANAAN BERBASIS TANGGUNG JAWAB
Hari Sabtu, 5 Nopember 2016, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi nara sumber pada acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha. Semestinya semalam saya akan menjadi nara sumber dan sekaligus membuka secara resmi acara ini. Akan tetapi karena terjadi demonstrasi di seputar jalan menuju ke Hotel Aston Marina, maka saya diminta untuk memberikan materi pada siang harinya.
Acara ini diselenggarakan terkait dengan telah selesainya Pagu Anggaran Kemenag untuk tahun 2017, sehingga seluruh unit Eselon I sudah melakukan telaah RKAKL yang sekanjutnya akan menjadi rujukan untuk melakukan serangkaian kegiatan pada tahun 2017. Di Hotel Aston Marina, kelihatannya banyak acara yang diselenggarakan oleh Unit Eselon I Pusat Kemenag, seperti Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam dan Ditjen Pendidikan Islam.
Sebagai nara sumber, maka saya didampingi oleh Direktur Pembinaan dan Pendidikan Agama Buddha, Pak Supriyadi. Acara ini dihadiri oleh seluruh Pembimas Buddha se Indonesia, selain juga beberapa pejabat lain yang terkait dengan perencanaan program dan kegiatan pada Ditjen Bimas Buddha.
Sebagai nara sumber, saya menyampaikan beberapa hal yang sangat urgen terkait dengan perencanaan program dan kegiatan. Pertama, saya meminta seluruh pembimas Agama Buddha memastikan bahwa kegiatan yang dirumuskan di dalam perencanaan dapat dilaksanakan. Di dalam RKAKL, kita tidak sedang bermimpi tentang sesuatu yang akan dicapai di masa depan yang jauh, akan tetapi sesuatu yang pasti dalam setahun berlangsung. RKAKL berisi tentang prioritas program dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab masing-masing Kementerian/Lembaga.
RKAKL harus memastikan bahwa perencanaan yang dirumuskan tersebut merupakan serangkaian program dan kegiatan yang bersumber dari kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran layanan Kemenag, khususnya Ditjen Buddha. Di sinilah makna mengapa kita harus memastikan bahwa kegiatan yang dirancang itu bisa dilakukan untuk kepentingan masyarakat.
Saya mengharapkan kepada para pembimas agar dapat merumuskan program dan kegiatan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan rakyat, sehingga masyarakat merasakan kehadiran Negara melalui kementerian/lembaga pemerintah. Agar diupayakan bahwa setiap uang yang dibelanjakan untuk kegiatan tersebut memiliki dampak yang lebih nyata di tengah kehidupan masyarakat.
Kedua, agar dipastikan bahwa serapan anggaran di setiap unit memberikan gambaran realitas serapan yang optimal. Meskipun serapan bukanlah ukuran tentang kekuatan kinerja kelembagaan, akan tetapi selama ini masih terdapat pemikiran bahwa serapan yang tinggi dapat menggambarkan tingginya tingkat kinerja tersebut. Saya juga berpandangan bahwa seharusnya ada korelasi antara tingginya serapan anggaran dengan tingginya kinerja dan kehebatan impact bagi masyarakat luas.
Memang berdasarkan Evaluasi Kinerja untuk Semester III bisa diketahui bahwa tidak ada korelasi sgnifikan antara serapan anggaran dengan capaian kinerja Unit Eselon I. Serapan kita masih rendah sementara capaian kinerja relative tinggi. Tentu bukan kesalahan jika hal ini terjadi, sebab memang kenyataan empirisnya membenarkan bahwa seluruh program dan kegiatan sampai semester III dapat dlaksanakan secara memadai.
Ketiga, agar dapat dipastikan bahwa setiap program dan kegiatan dapat dipertanggungjawabkan secara memadai. Jangan sampai terjadi ketidakpatuhan pada regulasi apalagi dengan sengaja melakukan penyimpangan. Berdasarkan temuan BPK bahwa tingkat kepatuhan pada regulasi dari seluruh Unit Eselon I masih perlu ditingkatkan. Jika kita menginginkan kembalinya Opini WTP, maka hal yang harus dibenahi adalah tentang kepatuhan pada regulasi ini. Jangan sampai ketidakpatuhan kita pada regulasi bisa menjadi pengganjal terhadap Opini WTP dari BPK.
Seharusnya seluruh program juga harus bisa diukur apa pengaruhnya terhadap masyarakat kita. Pelayanan yang kita berikan harus memiliki dampak positif bagi kehidupan masyarakat agama-agama. Harus diingat bahwa tugas dan fungsi Kemenag adalah memberikan pelayanan kepada umat beragama. Makanya, kepuasan di dalam pelayanan agama-agama menjadi tolok ukur keberhasilannya.
Semestinya setiap rupiah yang kita keluarkan untuk program dam kegiatan itu harus bisa dipertanggungjawabkan secara administrative dan juga berdampak positif bagi masyarakat. Makanya, janganlah membikin kegiatan dalam jumlah ribuan, sehingga akan sangat sulit diukur hasilnya. Impactnya menjadi tidak jelas dan bisa-bisa mubadzir.
Di saat diberikan kesematan Tanya jawab, maka ada sebanyak enam penanya dari peserta dan jika disarikan maka sesungguhnya intinya satu saja, yaitu keinginan mereka agar SDM ASN di Pembimas Agama Buddha dapat ditambah. Sudah sekian lama tidak ada rekruitmen CPNS di Pembimas Buddha. Bahkan ada banyak Pembimas Buddha yang tidak memiliki staf. Maka harapannya agar ke depan diperhatikan mengenai SDM Agama Buddha ini. Saya nyatakan bahwa dewasa ini selalu saja untuk rekrutmen CPNS diprioritaskan untuk guru dan dosen. Oleh karena saya meminta agar Ditjen Bimas Buddha memiliki peta kebutuhan tentang ASN baik di pusat maupun di daerah. Dari sini akan kita lakukan negosiasi dengan Kementerian PAN dan RB. Dalam waktu dekat, maka yang bisa dilakukan adalah mengisi kebutuhan dengan jabatan Non-PNS. Makanya juga harus dipastikan anaggaran untuk belanja pegawai di kalangan ditjen Bimas Buddha untuk kepentingan ini.
Terkait dengan hal ini, maka saya meminta agar di dalam perumusan RKAKL pada Ditjen Bimas Buddha ini bisa mempertimbangkan “kepastian” sasaran, kebutuhan, dan capaian kinerjanya, sehingga apa yang kita lakukan tersebut dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PERAN ORGANISASI WANITA ISLAM DALAM PEMBANGUNAN

PERAN ORGANISASI WANITA ISLAM DALAM PEMBANGUNAN
Kala di Jakarta terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh organisasi Islam, maka saya ditugaskan Pak Menteri Agama, untuk membuka acara Muktamar Wanita Islam ke 11 yang diselenggarakan di Gedung Merdeka, yang dahulu dikenal sebagai Gedung Asia Afrika. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 4 Nopember 2016.
Acara yang sangat penting ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat, Bapak Deddy Mizwar, Ibu Deddy Mizwar, saya (Prof. Dr. Nur Syam, MSi), Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Pak Bukhori, para Pimpinan Pusat Wanita Islam, Ketua Umum PP Wanita Islam, Dr. Ir. Hj. Atifah Thaha, MSc., Ketua Majleis PP Wanita Islam, Ibu Hj. Subariyah Husni Thamrin, dan jajaran Pimpinan PP Wanita Islam dan pimpinan Wilayah Wanita Islam seluruh Indonesia. Jumlah peserta Mu’tamar sebanyak kurang lebih 800 orang.
Sebagaimana biasanya di dalam acara yang dihadiri oleh actor atau actris, maka bintang acaranya tentu Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat, Pak Deddy Mizwar. Saya nyatakan di dalam pidato saya, bahwa nanti Ibu-Ibu pasti semuanya ingin foto dengan Pak Deddy. Dan ternyata betul, begitu saya selesai menabuh gong sebagai pertanda pembukaan acara ini secara resmi, maka peserta mau’tamar menyerbu Pak Deddy Mizwar untuk foto bersama. Jadilah acara riuh rendah untuk selfi dengan Pak Deddy yang memang juga menyediakan diri untuk foto bareng.
Pesona Pak Deddy memang luar biasa. Tentu karena pengaruh sinetron yang dibintanginya, sehingga semua peserta mu’tamar berebut untuk foro bersama. Sebagai bintang film dan sinetron yang senior dan professional, maka dilayaninya para peserta mu’tamar untuk foto bersama, dan bahkan tidak jarang beliau yang memfotonya sendiri.
Saya hadir mewakili Pak Menteri, sebab beliau diminta untuk tidak keluar kota atau harus tetap berada di Jakarta berkaitan dengan demonstrasi yang dilakukan untuk menuntut Pak Ahok diadili di dalam dugaan “penghinaan” terhadap kitab Suci Al Qur’an. Beliau meminta saya jam 16.00 WIB kemarin. Sesungguhnya sesuai jadwal Beliau akan hadir sendiri untuk membuka acara ini, tetapi perintah untuk meninggalkan Jakarta tentu harus dipatuhi. Jadilah saya yang harus ke Bandung. Karena berangkatnya pukul 4.15 pagi, maka jalanan sangat lancar. Persis dua jam saya sudah sampai di Bandung. Jadi sempat juga untuk sarapan pagi dengan menu Sate Gule di pinggiran jalan di Bandung. Nikmat juga pagi-pagi makan sate gule sapi.
Saya sampaikan bahan pidato Pak Menteri apa adanya. Tidak saya tambahi dan juga tidak saya kurangi. Saya nyatakan bahwa sebagai orang yang mewakili Pak Menteri, maka seluruh bahan pidato Beliau akan saya baca kecuali titik dan koma. Saya harus menjadi pembaca yang baik. Saya nyatakan bahwa saya akan bacakan seluruh gagasan dan pesan Pak Menteri di dalam kerangka pembukaan acara Mu’tamar Wanita Islam ke 11 ini.
Jika disarikan, maka pidato pak Menteri tersebut mengandung tiga hal penting, yaitu: Pertama, ucapan selamat dan apresiasi atas terselenggaranya acara Mu’tamar Wanita Islam, apalagi acaranya dibuka di Gedung Merdeka yang sangat bersejarah. Semua orang Indonesia akan mengenang Gedung Merdeka ini sebagai gedung dicetuskannya semangat persatuan Bangsa Asia Afrika yang digagas oleh Presdien Soekarno dan dilaksanakan di kota Bandung ini. Wanita Islam telah mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat Indonesia dalam waktu yang sangat panjang, yaitu semenjak tahun 1962 sampai sekarang. Sudah selama 54 tahun Wanita Islam mengabdi kepada bangsa dan Negara dan khususnya kepada umat Islam.
Wanita Islam didirikan pada tanggal 29 April 1962 atau bertepatan dengan tanggal 22 Dzulqaidah 1382 Hijriyah. Organisasi ini berhasil didirikan atas prakarsa Ibu Hj. Zaenab Damiri, Ibu Aisyah Hilal, Ibu Hj. Gitoatmojo, Ibu Sunaryo Mangunpranoto, Ibu AR Baswedan, Ibu RABS Sjamsurijal, Ibu SR Pujotomo dan sebagainya.
Sebagai organisasi dengan asas Islam, maka Wanita Islam bertujuan untuk membangun kehidupan keagamaan, sosial dan ekonomi. Wanita Islam sudah menyumbangkan banyak hal bagi keberagamaan masyarakat Indonesia hingga dewasa ini. Oleh karena itu, tentu sangat pantas jika pada kesempatan ini, kami mengucapkan selamat bermu’tamar dan semoga sukses.
Kedua, mu’tamar ini tentu untuk menandai tentang bagaimana kiprah Wanita Islam di dalam pembangunan bangsa, khususnya umat Islam. Mu’tamar selalu memiliki tiga agenda penting, yaitu memilih pemimpin baru, mengevaluasi program yang sudah dilakukan dan merancang program berikutnya. Sesuai dengan tema mu’tamar yaitu “Menuju Kepemimpinan Muslimah yang Istiqamah dan Profesional” , maka diharapkan bahwa Wanita Islam akan dapat menjadi organisasi keagamaan yang akan mampu menyiapkan generasi pemimpin Indonesia masa depan.
Wanita Islam memiliki khittah perjuangan “Panca Dharma”, yaitu: 1) Mengabdi Kepada Allah SWT merupakan tujuan hidup untuk mencapai keridlaannya: aqidah Islam, Syariah Islam dan akhlak Islam. 2) Menciptakan keselarasan hidup antara duniawi dan ukhrawi. 3) meningkatkan kualitas pribadi wanita untuk berperan di berbagai bidang sesuai harkat dan martabatnya. 4) melaksanakan tugas wanita sebagai pendidik putra bangsa. 5) berpartisipasi di dalam masyatakat secara aktif sebagai anggota masyarakat.
Melalui lima dharma ini, Wanita Islam ke depan diharapkan akan dapat memberikan kontribusinya terutama sebagaimana yang tertuang di dalam tema Mu’tamar, yaitu ingin mencetak generasi pemimpin bangsa yang Islami dan professional. Tidak hanya memiliki semangat keislaman yang tinggi tetapi juga profesional di dalam bidangnya.
Ketiga, kita harus menyadari bahwa tantangan bangsa Indonesia tentu akan semakin besar dan kompleks. Makanya, organisasi keagamaan seperti Wanita Islam tentu akan memiliki peran strategis untuk melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa dalam levelnya masing-masing. Wanita Islam akan menjadi pegiat untuk menghasilkan pimpinan keluarga, pimpinan organisasi Islam, pimpinan masyarakat dan sebagainya.
Oleh karena itu kami berharap semoga melalui Mu’tamar Wanita Islam kali ini akan dapat merumuskan program strategis di dalam kerangka untuk pembangunan bangsa yaitu terciptanya “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur”.
Wallahu a’lam bi al shawab.