Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SOLIDARITAS UMAT ISLAM 212 (3)

SOLIDARITAS UMAT ISLAM 212 (3)
Saya akan membicarakan tentang in order to motives sebagai bagan analisis terhadap gerakan dzikir nasional, 2/12/2016. Melalui bagan analisis ini, maka akan bisa diketahui tentang apa yang sebenarnya menjadi motif tujuan di dalam gerakan dzikir nasional dimaksud. Jika because motives dikaitkan dengan factor eksternal, maka in order to motives dikaitkan dengan factor internal.
Sebagaimana diketahui bahwa terdapat penggolongan yang sangat variatif terhadap pelaku dzikir bersama. Jika kita mengacu pada demonstrasi tanggal 4/11/2016, maka sekurang-kurangnya terdapat enam penggolongan di antara mereka itu. Ada kelompok yang ingin Ahok dihukum secara adil, ada kelompok yang ingin Ahok dihukum secepatnya, ada kelompok yang ingin Ahok dihentikan dari pencalonan sebagai kandidat gubernur DKI, ada kelompok yang menginginkan Hukum Ahok sesuai dengan kesalahannya, ada yang berkeinginan mendirikan khilafah dan ada kelompok yang memanfaatkan kesempatan karena digusur dari tempat tinggalnya.
Pengelompokan secara sederhana ini, dapat memberikan gambaran bahwa ada berbagai motif tujuan yang mendasari berbagai perilaku para subyek yang melakukan dzikir untuk bangsa di Lapangan Monas ini. Jumlah mereka memang sangat banyak, kira-kira 1,5 juta umat Islam, namun secara tipologis dapat ditafsirkan in order motives-nya dalam beberapa kategori.
Saya melihat ada tiga motif tujuan di dalam gerakan ini, yaitu: pertama, motif untuk memperoleh keadilan hukum. Kasus Ahok ini bisa dinyatakan sebagai kasus yang sangat fenomenal. Bahkan menurut informasi yang saya terima bahwa di berbagai daerah terus menerus dilakukan koordinasi antara Kapolda, Pangdam, Pemda, Kementerian Agama untuk membahas persoalan upaya demonstrasi yang dilakukan oleh umat Islam tentang penistaan Al Qur’an. Dengan membaca berbagai spanduk, umbul-umbul, pamphlet dan sebagainya, maka tuntutan mereka ini sangat jelas, “hukum Ahok”, “adili Ahok” dan sebagainya. Ungkapan “Tangkap Ahok” dan “penjarakan Ahok” dan sebagainya tentu memberikan gambaran bahwa tuntutannya jelas, yaitu berlakukan hukuman yang setimpal untuk sang penista Al Qur’an. Andaikan dilakukan survey dengan pertanyaan sederhana, “apakah Ahok harus dihukum setimpal dengan tindakannya?”, maka jawabannya dapat dipastikan, “ya, setuju”. Melalui mata rantai media sosial yang sedemikian menyebar di seluruh Indonesia, maka tindakan penistaan Al Qur’an ini sudah menjadi konsumsi public yang sangat massif. Inilah yang kemudian menimbulkan public opinion, bahwa perlu hukuman yang adil bagi penista Al Qur’an.
Kedua, motif tersembunyi gerakan khilafah. Sebagaimana yang saya tulis di dalam tulisan saya sebelumnya, “Mengadili Penista Al Qur’an”, bahwa di dalam elemen yang menuntut keadilan terhadap penistaan Al Qur’an, tidak hanya permasalahan keinginan menerapkan Islam secara kaffah, akan tetapi juga keinginan “tersembunyi” untuk menghadirkan system khilafah Islamiyah di dalam system pemerintahan di Indonesia.
Motif ini memang sudah berada di dalam tataran issu permukaan dan tidak hanya menjadi issu di dalam. Maknanya, bahwa mereka sudah secara terang-terangan mengungkapkan ambisi untuk mendirikan khilafah. Bahkan ada di antaranya (HTI) sudah merumuskan deklarasi atau manifesto khilafah tersebut. Artinya, bahwa gerakan khilafah ini sudah bukan barang wacana, akan tetapi sudah menjadi gerakan. Bukan sekedar di ruang halaqah, akan tetapi sudah berada di ruang harakah.
Di antara mereka juga sudah terdapat jejaring yang sangat kuat dengan fasilitasi media sosial yang menjadi andalannya. Banyak situs yang dimilikinya untuk menyebarkan gagasan dan praksis untuk gerakan khilafah. Makanya, tidak bisa dipungkiri bahwa gerakan ini sudah cenderung lebih massif di tengah pertarungan ideology di era global.
Ketiga, motif tujuan makar. Issu makar memang masih harus dibuktikan. Namun berdasarkan pembicaraan “tersembunyi” bahwa tujuan makar itu memang pernah disuarakan. Memang sulit untuk bisa membuktikan mengenai rencana makar ini. Namun dengan penangkapan sejumlah orang, yaitu Sri Bintang Pamungkas, Kivlan Zein, Rahmawati Soekarno Putri, Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, Eko Suryo, Adityawarman, Firza Hussein, Rizal Kobar dan Jamran kiranya menjadi potensi awal tentang peluang adanya gagasan makar tersebut.
Tentu ada proses yang akan membuktikan apakah gagasan makar ini ada atau tidak. Dan pengadilanlah yang akan memutuskan apakah motif makar itu bisa terjadi di tengah carut marut masyarakat sekarang. Sekarang sedang terjadi penyelidikan tersebut, sehingga perlu dilihat kelanjutannya. Tentu saja juga ada banyak tafsir tentang hal ini. Ada yang pro terhadap mereka yang diamankan dan ada yang kontra terhadap mereka itu.
Tetapi di atas segalanya, sebagaimana yang disuarakan oleh Pak Menteri Agama, Pak Lukman Hakim Saifuddin, di dalam press release di Net TV, bahwa “pemerintah mengapresiasi dan berterima kasih atas pelaksanaan dzikir untuk bangsa yang damai dan tertib. Kedewasaan umat Islam betul-betul terbukti di dalam kegiatan dzikir bersama ini. Dan selanjutnya agar diberikan kepercayaan kepada pengadilan untuk melakukan proses hukum bagi Pak Basuki Cahaya Purnama. Selanjutnya juga dinyatakan kiranya tidak diperlukan lagi acara seperti ini, manakala semua proses pengadilan sudah berjalan sesuai dengan ketentuannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

SOLIDARITAS UMAT ISLAM 212 (2)

SOLIDARITAS UMAT ISLAM 212 (2)
Di dalam konsepsi Islam dikenal istilah “ukhuwah Islamiyah”, yang sesungguhnya di dalam konteks bahasa Indonesia bisa saja dinyatakan sebagai “persaudaraan umat Islam”. Akan tetapi sesungguhnya bisa juga secara special diartikan sebagai “solidaritas sosial”. Secara kontekstual, solidaritas memang lebih mencerminkan ikatan emosional dibandingkan dengan makna persaudaraan. Jika persaudaraan lebih mencerminkan ikatan fisikal, maka solidaritas lebih mencerminkan makna emosional. Jadi di dalam ikatan solidaritas tidak mesti harus secara fisik, akan tetapi bisa saja bersifat non-fisikal, kesamaan visi dan misi.
Saya memaknai dzikir nasional ini sebagai ikatan solidaritas dan bukan hanya persaudaraan, sebab dzikir nasional ini bisa dilakukan di seluruh Indonesia di berbagai kota. Berdasarkan siaran televisi, maka dapat diketahui bahwa dzikir untuk bangsa ini memang dilakukan di banyak kota di Indonesia.
Saya mencoba untuk menganalisis tentang dzikir untuk bangsa ini dari perspektif sosiologi fenomenologi. Saya akan menggunakan bagan konsepsi motif tujuan (in order to motives) dan motif penyebab (because motives) untuk memahami realitas empiris dzikir nasional ini. Ada dua motif yang termuat di dalam peristiwa dzikir nasional, ialah: pertama, motif penyebab (factor eksternal) yaitu terjadinya ketidakadilan. Masyarakat berpersepsi bahwa peristiwa penistaan Ahok terhadap kitab suci Al Qur’an ini mengandung ketidakadilan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Munarman, bahwa terjadi perilaku yang berbeda di dalam menangani kasus penistaan agama, misalnya saat Yusman Roy dinyatakan tersangka, lalu Arswendo Atmowiloto dinyatakan tersangka, Muzadeq dan lain-lain, maka yang bersangkutan langsung ditahan. Akan tetapi untuk kasus Ahok, maka setelah penetapan tersangka untuk kasus penistaan agama, maka yang bersangkutan masih leluasa bahkan untuk kampanye. Dengan demikian ada perlakuan berbeda.
Makanya lalu terdapat berbagai tafsir atas tindakan atau perlakuan berbeda ini. Para ulama dan umat Islam menganggap bahwa ada scenario memberikan peluang kepada Ahok untuk terus mengikuti pilkada di DKI. Terlepas dari kebenaran atas asumsi ini, maka nalar umat Islam merasakan bahwa ada pembiaran terhadap kasus Ahok.
Kedua, motif lain penyebab adalah ketidakpercayaan umat Islam terhadap proses peradilan di Indonesia. Ada sementara pendapat yang menyatakan bahwa hukum di Indonesia itu belum mencerminkan “keadilan”. Ahok dan kroninya tentu dianggap sebagai representasi “atas” yang bisa saja memperoleh pengecualian dalam hukum. Makanya ada kekhawatiran bahwa proses hukum yang diberlakukan kepada Ahok akan berbeda dengan proses hukuman terhadap individu lainnya.
Itulah sebabnya para ulama ini meminta agar proses hukum untuk Ahok harus dilakukan transparan, sehingga masyarakat bisa mengakses terhadap proses hukum dimaksud. Bahkan di dalam proses penyelidikan pun masyarakat Islam menginginkan dengan proses keterbukaan. Namun pihak kepolisian tetap pada prinsipnya bahwa penyelidikan dilakukan secara tertutup. Akan tetapi meskipun dilakukan tertutup hasilnya ternyata memang cukup menggembirakan. Ahok dinyatakan sebagai tersangka, meskipun tidak dilakukan penahanan.
Untuk sementara memang cukup melegakan meskipun kemudian tetap memicu adanya aksi ketiga, yang dilakukan pada Jum’at, 2/12/2016. Jadi sesungguhnya aksi ketiga ini tetap dilakukan di dalam kerangka memberikan warning kepada aparat hukum bahwa umat Islam bisa bersatu untuk menggalang solidaritas. Kenyataannya memang bisa terjadi negosiasi bahwa aksi umat Islam jilid ke tiga ini bukanlah demonstrasi dalam konteks mengandung kekerasan dalam menyampaikan tuntutan. Akan tetapi merupakan gerakan dzikir bersama. Inti dari aksi ini merupakan pesan simbolik kepada pemerintah bahwa umat Islam itu ada dan jangan diremehkan kenyataan dan kekuatannya.
Ketiga, ketidakhadiran negara dalam penyelesaian kasus-kasus peminggiran umat Islam. Inisiator gerakan demonstrasi dan juga dzikir bersama ini adalah yang bisa dilabel sebagai penganut Islam kaffah. Mereka ini menghendaki diberlakukannya syariat Islam secara menyeluruh. Mereka adalah kelompok yang paling banyak menyuarakan amar ma’ruf nahi mungkar. Mereka sering melakukan sweeping di saat bulan puasa, mereka sering merazia tempat maksiat dan juga aktif di dalam dakwah untuk memperkuat ideology Islam.
Ideologisasi Islam yang dibangun adalah berbasis pada bagaimana menjadikan Islam sebagai agama yang secara kaffah diberlakukan oleh semua umat Islam. Bahkan di antara mereka tentu ada yang sampai pada prinsip akan memberlakukan system khilafah di dalam system pemerintahan di Indonesia. Meskipun mereka juga bervariasi di dalam pandangan mendasarnya, namun secara umum tentu mereka menginginkan bahwa penyelenggaraan pemerintahan agar lebih Islami.
Selain itu mereka juga berpandangan universalitas Islam, sehingga dianggapnya bahwa keberpihakan negara terhadap kasus Palestina, Rohingya dan sebagainya masih kurang menggigit. Mereka menginginkan agar perjuangan untuk membela umat Islam yang teraniaya ini lebih kongkrit dan jelas.
Dalam konteks because motives seperti ini, maka aksi demi aksi itu akan dilakukan. Oleh karenanya, diperlukan kearifan lebih besar di kalangan penegak hukum dan juga pemerintah secara umum untuk membangun keadilan, transparansi dan juga kepedulian negara terhadap umat Islam yang mayoritas ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

SOLIDARITAS UMAT ISLAM 212 (1)

SOLIDARITAS UMAT ISLAM 212 (1)
Pagi itu, Jum’at, 2/12/2016, pada jam 8.00 Wib, saya harus menyelenggarakan rapat di Kantor Kementerian Agama, Jl. Lapangan Banteng 3-4 Jakarta untuk membahas tentang serapan anggaran Tunjangan Profesi Guru (TPG). Selain rapat ini juga sedianya akan ada meeting dengan Pak Menteri Agama, Pak Lukman Hakim Saifuddin, untuk membicarakan tentang persiapan acara Informal Meeting Menteri-Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) yang akan dilaksanakan di Malaysia, tanggal 5-7 Desember 2016 dan Senior of Meeting (SOM) MABIMS, 3-5 Desember 2016.
Pada hari itu memang bertepatan dengan pelaksanaan dzikir bersama umat Islam Indonesia yang dikonsentrasikan di Lapangan Monas. Acara yang sudah disepakati antara pemerintah dengan insiator gerakan dzikir bersama ini, Ustadz Habieb Riziq Syihab dkk., memang dibersamakan waktunya dengan shalat Jum’at. Jadilah, umat Islam datang dari berbagai daerah untuk mengikuti dzikir bersama. Acara ini memang dikemas sangat berbeda dengan acara demonstrasi tanggal 4/11/2016 lalu, di mana memang mereka melakukan long march di jalan menuju istana dan juga di seputar istana.
Sungguh mereka, para inisiator gerakan dzikir nasional, menjanjikan bahwa format acara ini memang dikemas bukan sebagai demonstrasi, akan tetapi sebagai dzikir umat Islam untuk bangsa. Jika pada acara tanggal 4/11/2016 lalu terdapat orasi-orasi yang “sedikit” memprovokasi, maka di dalam acara ini, sesuai rencana, tidak akan melakukan hal yang sama. Nama yang dilabelkan pada acara ini “gerakan super damai”.
Saya harus berangkat pagi untuk mengantisipasi kemacetan di jalan menuju ke kantor. Saya juga sadar bahwa kemacetan pasti luar biasa. Makanya, saya meminta kepada driver saya agar membawa sepeda motor saja untuk mengantarkan saya ke kantor. Benar sekali dugaan saya itu. Baru masuk ke wilayah dekat BRI Cut Mutia, maka jalanan sudah penuh sesak dengan manusia. Mereka berbaju putih, berkopyah dan juga menggunakan lambang-lambang dan pamphlet beraneka ragam.
Yang paling banyak adalah spanduk atau umbul-umbul dengan tulisan “La Ilaha illa-Allah”. Ada yang benderanya berwarna putih dan ada yang berwarna hitam. Rasanya yang warna hitam jauh lebih banyak. Di antara tulisan di dalam umbul-umbul itu yang terbanyak adalah Hukum Ahok, Gantung Ahok, polisi harus jujur dan hakim harus jujur, dan lain-lain. Sebagaimana yang menjadi tuntutan lahiriyahnya adalah agar Ahok dituntut dengan adil, agar Ahok dihukum secara adil.
Selain itu juga umbul-umbul organisasi yang terlibat di dalamnya, misalnya Front Pembela Islam (FPI), Jamaah Ta’lim Adz Dzikro, dan Jam’iyah lokal lainnya. Ada yang dari Bangil Jawa Timur, dari Kuningan, Ciamis, Bandung, Banten dan bahkan dari Lampung dan wilayah luar Jawa lainnya. Semua bersepaham untuk meminta keadilan dalam kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Cahaya Purnama (Ahok).
Mereka memang melakukan long march dari berbagai wilayah. Bisa dibayangkan bahwa ada di antara mereka yang melakukan perjalanan panjang dari Ciamis ke Jakarta. Mereka berjalan dari Ciamis ke Jakarta (Lapangan Monas) sepanjang 300 kilo meter. Mereka rela melakukan perjalanan panjang berkilo-kilo meter untuk melakukan ritual memohon keadilan. Makanya, banyak jamaah yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya juga melakukan long march ini. Konon katanya malu kepada orang Ciamis.
Untuk bisa ke kantor, maka saya harus kembali menyusuri jalan di wilayah Menteng untuk menuju ke Cikini dan terus ke jalan Kramat Raya dan memutar hingga akhirnya sampai di kantor. Semua jalan sudah penuh sesak. Sepanjang jalan Kramat Raya, berbagai rombongan yang akan menuju ke Monas sudah tumplek blek. Sangat panjang long march ini. Laki-laki, perempuan, tua dan muda semuanya berjalan dengan tertib. Meskipun mereka melewati jalan-jalan utama, akan tetapi mereka semuanya berjalan dalam ketertiban.
Sebagaimana lomba gerak jalan, maka mereka juga meneriakkan yel-yel. Ada yang shalawatan, ada yang berteriak Allahu Akbar, ada yang menyanyikan mars-mars perjuangan. Yang juga menarik adalah warna-warni ikat kepalanya. Kebanyakan menggunakan ikat kepala “Merah Putih”, jika mereka bersorban, maka ikatan luarnya adalah ikatan “Merah Putih”. Dengan demikian, sesungguhnya dapat dipahami bahwa acara dzikir nasional ini senyatanya adalah pertemuan berbagai kepentingan yang menjadi satu ikatan berbasis pada keinginan menuntut keadilan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE TURKI: MENGUNJUNGI MUSEUM TOPKAPI (9)

KE TURKI: MENGUNJUNGI MUSEUM TOPKAPI (9)
Salah satu kehebatan Istambul sebagai kota tujuan wisata adalah karena museumnya yang sangat luar biasa. Salah satu museum yang hebat itu adalah Museum Topkapi yang memiliki koleksi langka dalam sejarah peradaban Islam.
Saya, Prof. Gun, Pak Feri, Pak Farid dan Mas Firman mengunjungi museum hebat ini. Tentu Mas Firman yang bertindak sebagai pemandu kami di dalam kunjungan penting ini.
Semula museum ini adalah istana raja. Istana ini dibangun pada tahun 1466 M sampai 1478 M. Pembangunan istana ini atas perintah Sultan Mehmet II. Topkapi ini didirikan di atas bekas bangunan kuno Byzantium dan kemudian menjadi tempat keluarga kerajaan dengan jumlah yang cukup besar. Dan baru tahun 1924 M istana raja ini dijadikan sebagai museum.
Untuk bisa masuk ke museum Topkapi, maka pengunjung harus membayar 40 Lira. Kami juga harus antri untuk masuk ke dalamnya. Museum ini cukup luas. Bangunan intinya ada di belakang sedang halamannya tertata sangat baik. Terdapat pohon-pohon yang rindang, burung gagak dan jalak yang berterbangan di sela-sela pepohonan dan juga aneka burung lainnya. Saya menjadi teringat kala berkunjung ke Singapura. Turki dan Singapura itu seakan-akan menjadi surganya para burung.
Begitu masuk ke dalam museum, kita sudah disuguhi dengan pedang-pedang hebat yang dimiliki oleh Rasulullah dan para sahabatnya, pedang Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali. Pedang Rasulullah ternyata pedang yang sangat baik. Terdapat ukiran yang indah di dalamnya. Demikian pula pedang Sayyidina Abubakar, Umar, Ustman dan Ali. Pedang-pedang ini juga terukir sangat indah. Ada pedang ukuran besar dan kecil. Salah satu pedang besar adalah milik Sayyidna Ali. Demikian pula pedang para sahabat lainnya. Benda-benda pusaka ini ditata dengan sangat baik.
Pedang adalah lambang kekuatan dan kejantanan. Makanya seluruh raja memiliki pedangnya masing-masing. Sultan Ahmad, Sultan Mehmet, dan Sultan-sultan lainnya juga memiliki pedang. Hebatnya bahwa pedang tersebut dihias dengan sangat indah. Ada ukiran-ukiran yang dibuat secara khas sebagai hiasan untuk sebuah pedang.
Gambaran kekuatan itu juga didapati pada baju perang yang terbuat dari besi atau lazimnya disebut sebagai baju besi. Baju besi itu terdiri atas pelapis tangan, badan dan kepala. Rasanya berat memakainya. Demikian pula anak panah dengan berbagai variasinya. Ada yang bermata runcing dengan membentuk segitiga dan ada juga yang lancip begitu saja. Busurnya juga sangat bervariasi. Konon katanya busur yang terbaik terbuat dari tulang yang diawetkan dan dirawat selama beberapa tahun.
Ada juga pistol dalam berbagai ukuran. Ada yang sangat panjang dan ada juga yang pendek. Senjata api ini memang dibuat untuk kepentingan perang dan ada juga yang kiranya digunakan untuk berburu binatang. Senjata api itu bervariasi dalam bentuk, hiasan dan juga jumlahnya. Tampaknya, senjata api itu juga merupakan hadiah-hadiah dari berbagai kerajaan. Demikian pula juga banyak pedang yang merupakan hadiah dari kerajaan-kerajaan lainnya. Misalnya kerajaan Jepang, Kerajaan Inggris, Kerajaan Belanda dan sebagainya. Selain itu juga didapati jenggot dan rambut Nabi Muhammad saw. Selain juga baju Sayyidina Hasan dan Pakaian Sayyidatina Fathimah. Sayangnya tidak ada keris kebanggaan kerajaan-kerajaan Nusantara. Mungkin waktu itu tidak didapatkan hadiah dari raja-raja Nusantara kepada Kerajaan Turki Utsmani.
Museum Topkapi kiranya merupakan lambang untuk menunjukkan tentang kejayaan masa lalu Kerajaan Turki Utsmani. Melalui museum ini ingin ditunjukkan bahwa Turki Utsmani merupakan kerajaan besar dengan kekuasaan dan kekuatan perangnya yang hebat. Menunjukkan kejayaan masa lalu bukanlah sesuatu yang salah, akan tetapi merupakan bentuk untuk melestarikan charisma yang berkepanjangan.
Melalui museum Topkapi ini, maka pemerintah tentu ingin menunjukkan bahwa terdapat kejayaan masa lalu yang luar biasa, gambaran bahwa pemerintah memelihara warisan leluhurnya yang hebat dan juga untuk pendapatan negara. Jika menilik terhadap banyaknya wisatawan asing yang hadir di Turki dan upaya-upaya pemerintah untuk menggalakkan kepariwisataan di Turki, maka hal ini menggambarkan bahwa pendapatan dari sector pariwisata memang penting.
Di Turki memang banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Hanya sayangnya saya tidak bisa menikmatinya. Saya harus segera kembali ke Jakarta, sebab di akhir tahun ini justru banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun saya sangat bergembira dengan bisa menginjakkan kaki saya di bekas kerajaan Turki Utsmani yang di masa lalu menjadi kebanggaan umat Islam dengan peradabannya yang adiluhung.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE TURKI: MENGUNJUNGI MUSEUM AYA SOPHIA (8)

KE TURKI: MENGUNJUNGI MUSEUM AYA SOPHIA (8)
Pagi hari Sabtu, 26/11/2016, saya, Prof. Gun, Pak Feri, Pak Farid, Mas Firman, Pak Hendro dan Pak Adek berjalan kaki menuju ke Aya Sophia Museum di Istambul. Cukup dengan jalan kaki, sebab jarak antara Hotel Golden Horn dengan museum itu tidaklah jauh. Sekaligus juga untuk mengusir hawa dingin Istambul yang kira-kira 10 derajat celsius.
Untuk memasuki kawasan Hagia Sophia Museum harus dengan menggunakan tiket yang harganya 40 Lira. Konon harga tiket itu terus naik, dari semula 15 Lira kemudian secara berturut-turut naik sampai tahun 2016 sebesar 40 Lira. Tetapi para wisatawan memang harus mengunjungi kawasan ini, sebab rasanya belum ke Turki kalau belum mengunjungi kawasan wisata Hagia Sophia Museum ini.
Hagia Sophia adalah bangunan yang sangat tua dibandingkan dengan bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Memang ada yang juga bangunan tua misalnya Benteng Romawi di Istambul, Dinding Kota Kuno Konstantinopel dan sebagainya. Sebagai kota lama, memang Istambul adalah kota yang unik dengan kontur tanahnya yang naik turun dan jalan kota yang sempit. Jalan-jalan di sekitar Hotel Golden Horn adalah jalan-jalan kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu kendaraan roda empat.
Kita harus mengantri untuk memasuki kawasan Hagia Sophia Museum ini. Menurut Firman, di masa sebelum kudeta gagal, maka jumlah wisatawan sangat meluber. Sangat banyak. Sekarang setelah kudeta itu, wisatawan jarang datang. Itulah sebabnya Kementerian Pariwisata sedang membangun imaje untuk kunjungan ke Turki. Bahkan beberapa saat yang lalu diadakan meeting dengan pihak Garuda Indonesia untuk meningkatkan jumlah wisatawan ini. Wisatawan Indonesia cukup banyak pada hari itu. Mereka menjadikan Turki sebagai tempat transit untuk ibadah umrah di Makkah al Mukarramah. Mereka datang ke Turki lalu ke Mekkah terus kembali ke Turki untuk pulang ke Indonesia.
Sebagai bangunan tua, maka memang membutuhkan perawatan atau rehabilitasi. Sekarang sedang dilakukan rehab terhadap bangunan utama museum ini. Banyak besi yang tersusun untuk menyangga atap bangunan itu. Untuk bisa memasuki lantai atas bangunan ini, maka pengunjung harus menaiki jalan meningkat dan melingkar. Berkelok-kelok. Sekitar tujuh atau delapan kelokan agar bisa sampai ke lantai atas. Jalan tersebut terbuat dari batu-batu cukup besar dan dipadu dengan campuran semacam semen dan pasir. Di tangga ini juga ada beberapa makam, mungkin makam para pendeta atau pastur. Dindingnya juga terdiri dari adonan semen, pasir dan batu bata. Bangunan ini tentu sangat kuat sebab sudah ribuan tahun yang lalu dibangun dan hingga sekarang masih berdiri dengan kokoh.
Hagia Sophia dibangun tahun 537 M dan sampai tahun 1453 M merupakan Katedral Ortodoks yang disucikan di Istambul sebagai lambang kebesaran agama Kristen di bawah kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel. Lalu dikuasai oleh umat Katolik menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kekuasaan Kekaisaran Latin Konstantinopel selama tahun 1204 M sampai 1261 M, dan lalu dikuasai oleh Kerajaan Turki Utsmani, tanggal 29 Mei 1453 M sampai tahun 1931 M untuk menjadi masjid. Dengan demikian, Hagia Sophia telah berkali-kali berubah fungsinya. Dari Gereja Kristen, ke Gereja Katolik dan lalu menjadi Masjid terus sekarang menjadi Museum. Hagia Sophia pernah ditutup selama beberapa tahun dan baru tahun 1935 M dibuka untuk dijadikan sebagai museum. Perubahan sistem Kerajaan Turki Utsmani ke sistem Republic Turki menjadikan perubahan dari fungsi masjid menjadi museum.
Semenjak kekalahan Kerajaan Bizantium oleh Kerajaan Turki Utsmani, maka fungsi gereja lalu diubah menjadi fungsi masjid. Makanya, lalu terdapat simbol-simbol masjid tersebut, misalnya mihrab, tempat sultan melakukan shalat Jum’at, tulisan nama-nama Sahabat Nabi, tulisan nama Nabi Muhammad saw dan juga tulisan Asma Allah. Namun demikian, simbol seperti Perawan Suci Maria yang sedang memangku Yesus dan di sebelah kanannya lambang Malaikat Jibril dan sebelah kirinya lambang Malaikat Mikail tetap eksis. Demikian pula di pintu keluar dan masuk di sisi atas, lambang Bunda Maria, Yesus dan kedua malaikat itu juga tetap eksis. Pihak kerajaan tidak melakukan perusakan terhadap eksistensi lambang-lambang itu, hanya dahulu cukup ditutup saja. Inilah saya kira kehebatan dari pimpinan Turki Utsmani yang sebegitu menghargai karya cipta dan peradaban masa lalu.
Yang juga menarik adalah bentuk kubah Hagia Sophia yang menyerupai kubah masjid. Konon menurut cerita rakyat, bahwa yang membangun kubah itu adalah arsitektur muslim di zaman Khulafaur Rasyidin. Makanya, kubahnya sama dengan kubah di masjid dalam tradisi Islam. Bahkan yang lebih mistis lagi bahwa di kala Istambul masih dikuasai oleh kerajaan Bizantium sudah ditafsirkan bahwa di masa depan Istambul akan menjadi pusat peradaban Islam. Dan Aya Sophia yang dahulu menjadi Katedral akan menjadi Masjid.
Di kala saya berkunjung di situ, saya lihat ada banyak turis yang datang dari Cina. Para siswa dan siswi Cina ini dipandu oleh guru-gurunya dan juga pemandu wisata Turki. Mereka sangat ceria berada di Turki. Gelak tawa mereka menandakan bahwa berkunjung ke Turki, khususnya di Istambaul adalah dambaan mereka. Mungkin suatu saat perlu juga pelajar-pelajar Islam Indonesia untuk melihat dari dekat bekas kebesaran Kerajaan Turki Ustmani yang tertulis dengan tinta emas dalam sejarah kebudayaan Islam.
Saya kira ada banyak pelajaran yang bisa diambil, tidak saja dari aspek peradaban arsitekturalnya, akan tetapi juga bagaimana para pimpinan kerajaan Islam itu memaknai kerukunan umat beragama.
Wallahu a’lam bi al shawab.