Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMAJUKAN PTKIN BERBASIS PADA KEUNGGULAN SDM DAN SARPRAS

MEMAJUKAN PTKIN BERBASIS PADA KEUNGGULAN SDM DAN SARPRAS
Masih ada keluhan mengenai penyelenggaraan pendidikan tinggi di bawah Kementerian Agama (Kemenag). Yaitu yang terkait dengan kelengkapan sarana prasarana dan SDM. Di Indonesia, tidak sebagaimana di India, bahwa sarana prasarana harus sama hebatnya dengan SDM di dalam kerangka menarik minat calon mahasiswa untuk memasuki perguruan tinggi dimaksud.
Di Inggris, berdasarkan penelitian yang dilakukan, bahwa mahasiswa –terutama program studi master dan doctor—yang membuat menarik adalah jika performance pada profesornya sangat ekselen. Jadi, seseorang tertarik untuk memasuki perguruan tinggi untuk program studi lanjut adalah pada kualifikasi profesornya yang unggul. Makanya, di Indonesia tentu diperlukan banyak professor yang unggul dan juga sarana prasarana pendidikan yang baik, misalnya gedung perkuliahan yang hebat dan juga laboratorium yang memadai.
Saya sampaikan hal ini di dalam ceramah saya di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makasar, 27/12/2016, pada acara Evaluasi Program Pendidikan tahun 2016 dan Implementasi Program Pendidikan tahun 2017. Acara ini menarik sebab semua pejabat mulai dari rektor, wakil rektor, dekan dan wakil dekan, pimpinan lembaga dan pejabat struktural di UIN Alauddin semuanya hadir. Pada waktu saya ceramah, maka hadir pula Pak Amich Al Humami, Deputi Pendidikan dan Agama pada Bappenas.
Pak Rektor, Prof. Dr. Musafir Pabbabari, menyatakan agar saya memberikan ceramah dengan tema “Pengembangan Kelembagaan di UIN Alauddin Makasar” akan tetapi beliau memberikan peluang kepada saya untuk ceramah yang kontekstual saja kepada seluruh pejabat di UIN Alauddin Makasar. Saya sampaikan biarkan saya berceramah tanpa tema utama, atau judul-judulan saja, sebagaimana lagunya Jonni Iskandar, yang penyanyi dangdut asal Madura itu.
Saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, rasa apresiasi saya atas dibukanya Fakultas Kedokteran pada UIN Alauddin Makasar. Saya selalu sampaikan bahwa menjadi UIN itu belum cukup bagi perubahan status dari IAIN ke UIN, sebab ada satu lagi yang diminta, yaitu memiliki Fakultas Kedokteran. Jadi PTKIN itu sudah kaffah kalau sudah menjadi univertas dan memiliki Prodi Kedokteran. Hanya yang diperlukan adalah bagaimana menjadi Prodi Kedokteran yang memiliki distingsi dengan Prodi Kedokteran pada PT lain yang mesti harus dipikirkan. Keunggulan pada basis ilmu agama saya kira bisa menjadi pilihan para calon dokter yang dihasilkan oleh PTKIN kita ini.
Kedua, PTKIN harus unggul SDM dan sarana prasarana. Saya kira tidak hanya mahasiswa yang merasa senang melihat kampusnya hebat dari sisi SDM dan sarana prasarananya. Kita semua tentu merasakannya. Itulah sebabnya saya juga merasakan betapa senangnya melihat UIN Sunan Ampel Surabaya yang gedungnya sangat indah dan berkualitas. Jika malam hari bisa menjadi pemandangan yang menarik. Bukan karena saya ikut membidani lahirnya UIN Sunan Ampel dan juga suntikan dana dari Islamic Development Bank (IDB), tetapi siapapun para punggawa UIN Sunan Ampel akan membanggakannya. Sama dengan kebanggaan civitas akademika UIN Alauddin terhadap sarana dan prasarana PTKIN kita ini. wilayah yang dulu dianggap sebagai tempat jin buang anak, maka sekarang menjadi ikon di Makassar karena kehebatan kampus ini secara fisik.
Yang saya kira harus didorong terus adalah bagaimana agar secara kualitas, PTKIN kita ini juga menjadi unggulan, misalnya semakin banyak prodinya yang terakreditasi internasional, semakin banyak mahasiswanya yang berasal dari sejumlah negara. Setahu saya, yang sudah memiliki mahasiswa asing dari 20 negara lebih adalah UIN Malang. Ada yang dari Amerika Serikat, Inggris, Australia dan sebagainya. Tidak apa-apa meskipun satu negara hanya ada satu mahasiswa. Yang penting dari banyak negara.
Prospek UIN Alauddin Makasar untuk meraih akreditasi internasional dan juga menjadi destinasi mahasiswa asing tentu sangat besar. Saya kira sudah banyak prodi yang terakreditasi A dalam waktu lima tahun, maka harus didorong untuk memperoleh akreditasi internasional. Di sini ada banyak alumni doctor dari luar negeri yang tentu bisa menjadi agen bagi peningkatan kerja sama lintas negara untuk meningkatkan status akreditasi internasional. Saya kira pengabdian terbaik bagi para professor dan doctor adalah jika bisa mengembangkan status dan kualitas pendidikan di mana yang bersangkutan mengabdi untuk meraih sukses yang hebat sekarang dan yang akan datang.
Ketiga, tantangan kita ke depan adalah bagaimana memanej pengembangan PTKIN. SDM yang hebat dan sarpras yang bagus tentu tidak akan ada artinya, jika tidak termanej dengan sebaik-baiknya. Professor yang hebat jika bekerja sendiri tentu tidak akan memberikan manfaat yang optimal bagi PTKIN. Maka solusinya adalah bagaimana memanej SDM dan sarpras tersebut semaksimal-maksmalnya bagi manfaat PTKIN. Sekarang adalah saat yang paling menentukan di dalam mengembangkan manajemen kinerja yang optimal.
Melalui manajemen kinerja yang baik, maka akan dihasilkan output dan outcome yang memadai. Para ASN tidak hanya menandatangani perjanjian kinerja akan tetapi juga harus dievaluasi kinerjanya. Dengan demikian, maka rector akan mengetahui kualitas para partnernya di dalam kerangka memajukan PTKIN. Siapa dekan yang hebat, siapa wakil rektor yang performance-nya bagus dan siapa pejabat struktural yang andal. Rektor bisa memiliki rapport pada masing-masing personal yang membantunya. Mereka harus merumuskan sasaran kinerja dan indikator kinerja dan juga merumuskan target kinerja serta capaian kinerjanya dan kemudian dievaluasi bagaimana tingkat keberhasilannya. Melalui manajemen kinerja ini, maka tidak ada alasan orang tidak berprestasi karena tuntutan sekarang adalah semakin meningkatnya performance PTKIN kita melalui kinerja yang optimal.
Di masa lalu, dosen hanya berkewajiban mengajar dan menilai, menulis dan membuat karya lainnya, akan tetapi sekarang harus terukur kinerjanya. Sebentar lagi kita akan memiliki PMA tentang Jam Kerja Dosen, dan salah satu di antara misi pentingnya adalah agar semua dosen menuliskan pekerjaannya yang terkait dengan pengembangan pembelajaran, riset dan pengabdian masyarakat melalui ekivalensi yang bisa diperhitungkan. Semua itu harus tertulis dan dilaporkan kepada lembaganya. Bahkan khutbah Jum’at pun bisa dihitung selama yang bersangkutan membuat resume materi khutbahnya dan kemudian dilaporkan kepada lembaganya lewat e-kinerja dosen.
Saya kira akan ada dampak yang luar biasa di dalam konteks karya tulis dosen, sebab semua dosen akan melaporkan hasil kinerjanya setiap hari dalam bentuk tertulis, sehingga rich files di dalam web juga akan meningkat. Dan kemudian tentu akan meningkatkan peringkat web kita di mata Webometrics atau 4ICU. Masuklah kita ke dalam World Class University (WCU) karena konten web kita yang baik.
Jika seluruh civitas akademika memiliki visi dan misi pengembangan institusi pendidikan, maka saya berkeyakinan bahwa kemajuan PTKIN tidak akan terhindarkan. Maka semua harus bersemangat succeeding together.
Wallahu a’lam bi al shawab.

NKRI HARGA MATI: SEKEDAR SLOGAN ATAU HARUS DIWUJUDKAN

NKRI HARGA MATI: SEKEDAR SLOGAN ATAU HARUS DIWUJUDKAN
Saya termasuk orang yang bergembira mendengarkan slogan ini dikumandangkan oleh warga Indonesia yang berpikir bahwa NKRI merupakan bentuk negara yang sudah final dan tidak bisa ditawar lagi. Kalangan ini beranggapan bahwa menjadi orang Indonesia itu persyaratannya tidak terlalu susah: amalkan Pancasila, tegakkan NKRI dan jadikan UUD 1945 sebagai landasan yuridis bernegara dan berbangsa.
Akhir-akhir ini memang sering terdengar dan telah menjadi gerakan untuk memalingkan diri dari NKRI. Ada yang berasaskan atas liberalisme, sosialisme dan juga agamaisme. Di antara tantangan yang dirasakan mulai menguak di permukaan adalah tantangan sosialisme baru dan agamaisme. Di kalangan kaum sosialisme baru, maka terdapat keinginan untuk mengembalikan sosialisme baru atau komunisme baru di kalangan masyarakat Indonesia.
Sedangkan di kalangan kaum agamaisme, maka juga terdapat keinginan yang sangat kuat untuk menjadikan Indonesia sebagai negara khilafah atau negara yang menjadikan Islam sebagai dasarnya. Di dalam hal ini, maka terdapat sejumlah gerakan yang mengatasnamakan Islam politik yang mencitakan Khilafah Islamiyah sebagai bentuk negara.
Di antara yang bertujuan untuk menjadikan khilafah sebagai sistem politik dunia, juga melakukan tindakan yang jauh lebih ekstrim, yaitu dengan melakukan bom bunuh diri sebagaimana yang sering dilakukan. Misalnya bom bunuh diri di kompleks pertokoan Sarinah, di Mapolresta Solo dan yang rencananya akan meledakkan diri di Istana Negara dengan “pengantin” seorang perempuan.
Mereka ini diremote oleh Bahrun Naim, yang sekarang sedang mukim di Irak atau Syria, untuk melakukan jihad dalam persepsi mereka. ISIS diharapkan akan menjadi sistem politik Islam internasional. Di dalam pemahaman mereka bahwa semua sistem negara yang bukan khilafah Islamiyah adalah berhala-berhala politik yang menyesatkan dan tidak akan mencapai tujuan bernegara.
Pancasila, demokrasi, NKRI dan sebagainya adalah thagut-thagut yang harus dienyahkan di muka bumi karena bertentangan dengan khilafah Islamiyah yang dianggapnya sebagai pilihan terakhir. Tidak ada pilihan alternative dan yang ada hanyalah memilih Khilafah Islamiyah. Sekarang atau tidak sama sekali. Umat Islam harus melakukan jihad memperjuangkan khilafah ini. Hidup atau mati. Isy kariman atau mut syahidan.
Di tengah gerakan jihad menuju khilafah ini, maka sebagian masyarakat Islam melakukan penolakan. Ada berbagai penolakan yang dilakukan, yaitu melalui aksi damai, melalui diskusi dan seminar, melalui spanduk, melalui media sosial dan juga melalui ceramah-ceramah agama. Gerakan NKRI Harga Mati adalah salah satu di antara slogan yang dikemukan oleh orang NU dan sekelompok umat Islam lainnya dan juga sebagian politisi yang memiliki kesadaran untuk menegakkan pilar kebangsaan tersebut.
Hanya saja gerakan NKRI Harga Mati ini masih sporadik dilakukan tidak secara terorganisir, sistematis dan massive. Gerakan ini kelihatan sangat individual, dilakukan tidak dengan perencanaan yang matang, hanya simbolis dan kurang greget. Saya melihat bahwa kesadaran ini masih bercorak parsial sehingga kurang koordinatif.
Berbeda dengan gerakan khilafah yang dilakukan secara sistematis. Mereka memiliki agen-agen muda yang idealis, organisasi yang mantap dan mereka telah memasuki seluruh jaringan: baik birokrasi, NGO, angkatan bersenjata, politisi, dan dunia pendidikan. Mereka sesungguhnya sudah sangat siap untuk melakukan banyak hal.
Semenjak tahun 1990-an mereka sudah mempersiapkan diri untuk melakukan perubahan dengan melakukan “taqiyah” meminjam istilah Orang Syiah.
Sekarang mereka sudah dewasa, sudah akil baligh. Mereka sudah memiliki kesiapan yang cukup memadai, dengan SDM yang andal, penguasaan teknologi informasi dan juga penguasaan bisnis. Mereka sudah memiliki para pengusaha, lembaga pendidikan untuk klas menengah ke atas, dan juga jaringan-jaringan teknologi informasi. Meskipun hal ini masih merupakan hipotesis, tetapi tidak ada salahnya dilakukan kajian yang mendalam untuk memahami semua ini.
Memang semuanya masih di dalam perjalanan awal untuk meraih yang lebih besar, akan tetapi tidak salah jika dilakukan pencermatan terhadap gerakan-gerakan seperti ini, sebab tantangan ke depan tentu jauh lebih kuat.
Bagi saya, selama gerakan NKRI Harga Mati itu hanya sekedar gerakan temporal, dilakukan secara parsial dan individual, tidak sistematis dan mengandalkan medium-medium non teknologi informasi, kurang focus dan hanya sambil lalu saja, maka saya kira ke depan akan berbahaya bagi “Islam Nusantara Berkemajuan”.
Jadi pilihannya hanya satu, bergerak atau tidak sama sekali. Jika NKRI menjadi pilihan final bagi bangsa ini, maka teguhkan semangat kebersamaan, hilangkan ego sektoral dan lakukan gerakan secara sistematis, terorganisir dan massive.
Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT akan memberikan rahmat dan berkahnya bagi bangsa ini dalam kesatuan dan persatuan dan menjauhkan dari perpecahan dan kerusakan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN DI ERA KONTESTASI (6)

ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN DI ERA KONTESTASI (6)
Kita sungguh merasakan bahwa dewasa ini terdapat banyak hal yang terjadi. Ada yang membuat gembira tetapi juga ada yang membuat kita berpikir keras untuk masa depan Islam Indonesia. Bukankah di sekitar kita ada banyak perubahan terutama yang terkait dengan semakin menguatnya simbol-simbol Islam di masyarakat tetapi juga dibarengi semakin kuatnya pemikiran fundamental beragama yang cukup signifikan.
Di mana-mana kita jumpai perempuan berjilbab: tua, muda, anak-anak, rakyat jelata, politisi dan juga artis. Makanya kemudian juga dijumpai kaum hijabers. Perempuan yang mengguanakan jilbab untuk kepentingan banyak hal. Dikenal juga misalnya hijab modis di kalangan kaum artis dan sosialita. Jilbab menjadi penanda bagi semakin banyaknya perempuan yang berkemauan mengekspresikan kecantikan atau mungkin juga keagamaannya.
Tidak hanya jilbab modis, akan tetapi juga semakin banyaknya perempuan yang berpakaian cara Arab. Dengan pakaian warna hitam dan tertutup seluruh badannya. Mulai dari kaki sampai ujung rambut. Matanya juga tertutup atau sekurang-kurangnya matanya sedikit terbuka. Mereka ini sengaja untuk menunjukkan identitasnya sebagai perempuan muslimah yang lengkap atau kaffah.
Di sisi lain, juga didapati banyak lelaki yang bergaya Arab, misalnya dengan membiarkan cambangnya lebat, jidat hitam tanda banyak sujud dan celana cekak kira-kira tiga perempat. Model berpakaian seperti ini seakan memberikan kesan bahwa merekalah orang Islam yang kaffah, meniru cara berpakaian orang Islam yang sesungguhnya. Dan Islam di sini harus sama dengan Islam di Arab. Bagi kelompok ini, maka semua yang datang dari Arab adalah kebenaran. Tidak dibedakan apakah ini tradisi atau ajaran Islam, atau tradisi yang relevan dengan ajaran Islam.
Cara berpakaian dengan blangkon, kopyah, celana 100 persen panjangnya, celana jeans, apalagi belel, tentu bukanlah ajaran Islam. Pakaian ini adalah pakaian yang tidak digunakan oleh Rasulullah dan juga pengikutnya di Timur Tengah, sehingga tidak didapatkan dasar penggunaannya. Meskipun ada orang Islam yang ahli ilmu keislaman dan sungguh ahli ibadah dalam Islam, namun jika cara berpakiannya belum sama dengan orang Arab, maka dianggaplah masih belum merupakan bagian dari Islam kaffah tersebut.
Kita tentu bersyukur bahwa nuansa religious masyarakat Indonesia makin baik, pasca diberikannya peluang bagi umat Islam untuk mengakses ajaran Islam sesuai dengan realitas idealnya. Sebagaimana diketahui bahwa pasca relasi Islam dan negara menjadi semakin baik, maka gemerlap sinar Islam makin tampak di bumi pertiwi. Di sudut-sudut yang sunyi terdengar suara orang mengaji dengan suara indah ayat demi ayat Al Qur’an. Ajaran Islam makin diminati dan tentu saja amalan ibadahnya juga menjadi semakin membaik.
Masjid-masjid banyak berdiri di pinggiran jalan utama seluruh negeri. Masjid yang baik dan indah yang menggambarkan betapa umat Islam telah memenuhi panggilan Hadits Nabi Muhammad saw: “man bana masjidan banallahu lahu baitan fil jannah”. Banyak orang menganggap bahwa membangun masjid menjadi pertanda kekuatan imannya. Dan kemudian berharap bahwa dengan membangun masjid, maka pintu surga terbuka lebar untuknya.
Sementara itu juga didapatkan sekelompok orang yang belum puas dengan melihat semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang mengamalkan ajaran Islam. Mereka ingin melihat sesuatu yang lebih, yaitu berlakunya syariat Islam secara kaffah. Mereka menginginkan bahwa di Indonesia ini yang berlaku adalah hukum Islam. Mereka menganggap bahwa hukum positif yang dihasilkan oleh manusia belumlah mencukupi dan bahkan tidak berguna. Hanya hukum Allah saja yang harus dilakukan. Makanya, kelompok ini lalu menolak banyak hal, termasuk sistem pemerintahan yang dianggapnya masih belum sesuai dengan Islam kaffah yang diperjuangkannya.
Islam kaffah itu tidak hanya pada dimensi ibadah dan muamalah saja, akan tetapi seluruh syariah Islam harus dilakukan secara kaffah termasuk sistem pemerintahan. Demokrasi, pemilihan umum, Undang-Undang, Pancasila, NKRI dan sebagainya bukanlah asas yang harus dipertahankan. Tidak ada kepatuhan terhadap regulasi buatan manusia. Hanya ada satu regulasi bikinan Allah saja yang dapat dilakukan. Dengan demikian, yang diperlukan bukan saja Islam dipeluk dan diamalkan sesuai dengan kapasitas dan prinsip yang selama ini terjadi, akan tetapi perubahan secara revolusioner termasuk sistem pemerintahan dan bentuk negara.
Di dalam konteks seperti ini, maka jika kemudian organisasi Islam seperti NU dan juga Muhammadiyah atau organisasi Islam lainnya, seperti PERTI, Nahdlatul Wathon, Jamiyatul Washilyah dan sebagainya yang mengembangkan pemikiran dan praksis keislaman wasathiyah secara diam-diam tidak terlibat di dalam gerakan seperti ini, maka tentu disebabkan oleh perbedaan pandangan yang sangat tajam tersebut.
Hanya saja, bahwa organisasi dengan jumlah penganutnya yang mayoritas itu biasanya berada di dalam nuansa stable dan mapan, maka di dalam banyak hal lalu tidak melakukan gerakan untuk menyebarkan gagasannya secara massif. Mereka disebut sebagai silent majority. NU, Muhammadiyah, PERTI dan sebagainya terasa tidak memberikan “perlawanan” yang proaktif terhadap gerakan Islam politik Kekhilafahan.
Itulah sebabnya akhir-akhir ini, di kala mereka diserang habis-habisan oleh kelompok Islam politik kekhilafahan, maka organisasi Islam yang dilabel sebagai silent majority terlihat kedodoran di dalam menghadapinya. Di kemudian hari bukan tidak mungkin bahwa gerakan Islam politik kekhalifahan akan semakin bisa melebarkan sayapnya di tengah agen-agennya yang sangat produktif dan proaktif untuk membangun jejaring.
Jadi pimpinan organisasi Islam wasathiyah tidak boleh hanya bermain di wacana simbolik saja. Hal demikian tentu tidak cukup di tengah kontestasi organisasi Islam yang semakin jelas-jelas berkeinginan tidak hanya terwujudnya simbol Islam di dalam pakaian, ritual dan muamalah akan tetapi juga keinginan untuk mendirikan khalifah di bumi Nusantara ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN DI ERA KONTESTASI (5)

ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN DI ERA KONTESTASI (5)
Para pimpinan NU akhir-akhir ini banyak dikecam bukan karena tidak menjalankan roda organisasi dengan baik dan bertanggungjawab, akan tetapi karena pimpinan NU “kurang” mendukung terhadap upaya-upaya untuk melakukan upaya kritik terhadap pemerintah yang dianggap melakukan ketidakadilan dalam penegakan hukum bagi Pak Ahok, yang diduga menista al Qur’an.
Berbeda dengan pimpinan organisasi lain, yang menganjurkan agar jamaahnya terlibat di dalam “Aksi Super Damai” 212, akan tetapi pimpinan NU justru membuat edaran agar jamaah NU tidak terlibat di dalamnya. Inilah yang dianggap sebagai “ironi” oleh kelompok pendukung Aksi yang memang menginginkan agar seluruh komponen organisasi Islam mendukungnya.
NU memang memiliki pandangan yang berbeda. NU tentu mendukung terhadap penerapan syariah Islam secara kaffah, namun demikian bukan dalam konteks kenegaraan atau politik kebangsaan. Islam kaffah diterapkan di dalam ritual dan muamalah dan tidak diterapkan di dalam system kenegaraan, misalnya dalam bentuk khilafah Islamiyah.
Semenjak dahulu NU tidak pernah bersepakat untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Itulah sebabnya di dalam Sidang Konstituante tahun 1955 sampai 1959, maka NU tidak mengikuti cara berpikir Masyumi yang menginginkan Islam sebagai dasar negara, akan tetapi lebih memilih terhadap Pancasila sebagai dasar negara. Politisi NU lebih berpikiran tentang Islam Keindonesiaan ketimbang Islam Universal, yang diusung oleh beberapa politisi Islam kala itu.
Di dalam konteks ini, maka sikap NU konsisten. Para pimpinan NU tidak terpengaruh untuk memasuki kawasan abu-abu tentang Islam politik yang mengusung khilafah Islam. NU selalu berada di garis depan untuk mempertahankan dan memperjuangkan terhadap diterapkannya Pancasila sebagai dasar negara, NKRI, UUD 1945 dan kebinekaan di dalam berbangsa dan bernegara. Dari KH. Wahid Hasyim, sampai KH. Hasyim Muzadi dan KH. Said Aqil Siraj di dalam konteks mempertahankan pilar kebangsaan ini tidak pernah goyah.
NU melihat bahwa di dalam berbagai aksi akhir-akhir ini terdapat sekelompok orang yang menginginkan lebih dari pelaksanaan syariah Islam secara kaffah, akan tetapi mengusung Khilafah Islamiyah. Inilah yang tentu menjadi penyebab mengapa NU tidak mau terlibat di dalam gerakan aksi dan aksi yang dilakukan akhir-akhir ini. Jadi berdasarkan analisis dan pencermatan mendalam, bahwa tujuan aksi itu telah dibelokkan untuk hal-hal yang secara fundamental bertentangan dengan prinsip NU yang asasi.
Hasil analisis NU atas penyelenggaraan aksi yang bermuatan Islam kaffah dalam konteks Khilafah Islamiyah itulah yang menjadikan NU lebih baik di luar panggung. NU tetap konsisten dengan sikap kebangsaannya sebagaimana dinyatakan oleh KH. Sahal Mahfudz, yang menyatakan bahwa “Pancasila, UUD 1945 dan NKRI sudah final bagi NU”. Artinya sudah tidak perlu untuk diperdebatkan dan yang perlu untuk diamalkan.
Di dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh pesantren, sebagaimana acara di Pesantren Al Ikhlas Pasuruan, KH. Muslim Ihram di dalam pidatonya menyatakan bahwa “NKRI Harga Mati”. Di WA para Rektor PTKIN juga sering ditulis “NKRI Harga Mati”. Hal ini menandakan bahwa secara diam-diam, NU sudah mengumandangkan “perlawanan” terhadap gerakan “Khilafah Islamiyah” yang juga nyaring dipertontonkan.
Bahkan melalui gerakan Aksi Damai itu juga akhirnya terkuak apa yang menjadi agenda sesungguhnya. Jika di Aksi Super Damai 2/12/2016 terasa tidak terdapat ceramah-ceramah yang mengedepankan khilafah, maka pada acara Aksi 4/11/2016 terasa betul keinginan untuk menegakkan khilafah itu dengan sangat kentara. Ada orasi-orasi yang dikemukakan dengan menggunakan idiom-idiom khilafah tersebut.
Berbasis pada kenyataan seperti ini, maka NU menarik diri dari gerakan ini. Tentu bukan tidak setuju bahwa penegakan hukum dan keadilan hukum harus dijunjung tinggi, tetapi semata-mata karena ketidaksutujuannya atas sikap beberapa orang yang sengaja ingin menggerakkan khilafah di tengah semangat umat Islam ini. Dengan demikian secara positioning, bahwa NU berada di dalam barisan “NKRI Harga Mati” sementara itu beberapa eksponen –tidak seluruhnya—dari Aksi umat Islam itu terdapat realiatas politik yang akan mendirikan khilafah Islamiyah.
Mengamati sikap NU akhir-akhir ini, saya jadi teringat akan konsepsi James Scott, tentang “pembangkangan dalam diam”. Hanya saja jika para petani melakukan “perlawanan dalam diam” terhadap pemerintah, akan tetapi NU melakukannya terhadap eksponen organisasi yang mengatasnamakan Islam, dalam bentuk ketidakterlibatannya dalam acara aksi demi aksi yang mereka lakukan. NU secara organisasi tidak menggerakkan aksi tandingan, akan tetapi hanya tidak terlibat di dalam aksi-aksi yang dilakukan oleh organisasi yang menyatakan mewakili umat Islam.
NU memang selama ini dikenal sebagai organisasi Islam yang seluruh nadi dan darahnya berisi Islam Keindonesiaan yang bersatu menyatu dengan sikap kebangsaan dan kenegaraan. Jadi, NU akan selalu mengambil sikap yang berbeda dengan organisasi apapun yang ingin merobohkan pilar kebangsaan. Di dalam hal ini kelihatannya sikap NU konsisten.
Wallahu a’lam bi al shawab.

ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN DI ERA KONTESTASI (4)

ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN DI ERA KONTESTASI (4)
Di antara tantangan bagi Islam Nusantara Berkemajuan adalah dengan semakin kuatnya tarikan HAM yang menjanjikan kebebasan untuk mengekspesikan gagasan, sikap dan tindakan. Hanya saja bahwa di antara sebagian masyarakat Indonesia menginginkan pelaksanaan HAM tersebut dalam coraknya yang sebebas-bebasnya.
Maka kemudian muncullah berbagai forum, organisasi, pertemuan, badan dan bahkan unjuk rasa yang semua dibingkai dengan HAM. Bahkan juga muncul aliran-aliran keagamaan baik yang local maupun regional dan internasional yang mengusung HAM sebagai basisnya. Berbagai aksi sosial dan keagamaan yang muncul akhir-akhir ini bisa menggunakan konteks keterbukaan dan HAM yang memang memberikan peluang seperti itu.
Era ini disebut sebagai era HAM sebagai panglima. Saya nyatakan seperti ini, sebab orang bisa menggunakan HAM sebagai instrument untuk mengedepankan keinginan akan kebebasan dalam konteks pemahamannya. Rasanya kebebasan kita di segala bidang itu luar biasa. Makanya, Indonesia bisa dinyatakan sebagai negara dengan tingkat kebebasan yang sangat tinggi.
Seharusnya, kebebasan itu berada di dalam konteks tanggungjawab. Orang bisa bebas akan tetapi tentu harus berada di dalam bingkai tanggungjawab. Sesungguhnya tidak ada kebebasan yang tanpa tanggungjawab itu. Di dalam kebebasan ada hak orang lain atau masyarakat lain, sehingga masing-masing harus menempatkan dirinya di tengah kebebasan yang berkonteks kehidupan orang lain.
Dengan dasar kebebasan, orang bisa dengan mudah untuk mengembangkan agama baru, tanpa memperdulikan bahwa yang dilakukan itu melanggar regulasi atau menista keyakinan orang lain. Dengan dalih HAM orang bisa berbicara apa saja dan menyebarkan apa saja tanpa memperdulikan di sekitarnya ada yang orang yang ternodai, tersinggung dan tercederai. Dengan alasan HAM orang bisa berdemontrasi tanpa memperdulikan bahwa kegiatan itu mengurangi hak orang lain. Dengan dasar HAM orang bisa membuat pernyataan yang mengandung hate speech dan sebagainya.
Posisi pemerintah lalu menjadi sulit di tengah isu keterbukaan dan demokratisasi yang berkonteks HAM ini. Bisa dibayangkan bahwa polisi atau aparat hukum tidak bisa menindak terhadap orang yang melakukan tindakan mencederai kebangsaan kita dengan keinginan untuk melakukan teror. Aparat hukum tidak bisa melakukan tindakan terhadap seseorang yang terindikasi akan melakukan terror sebelum dapat dibuktikan dengan jelas dalam pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mereka hanya akan bisa ditangkap jika sudah terpenuhi bukti-bukti yang meyakinkan bahwa yang bersangkutan akan melakukan pengeboman atau bom bunuh diri. Aparat kepolisian akan bisa dianggap represif jika melakukan penangkapan yang tidak didasari oleh bukti-bukti yang sangat meyakinkan. Bisa jadi nanti akan dituntut balik jika yang bersangkutan tidak menerimanya. Makanya, kemudian banyak terjadi gerakan terorisme yang tiba-tiba meletus tanpa diketahui sebelumnya, atau kalaupun diketahui sebelumnya akan tetapi belum meyakinkan bukti-bukti untuk menangkapnya.
Problem utamanya adalah regulasi yang belum memihak kepada aparat keamanan untuk melakukan tindakan mendahului terhadap kejadian yang diprediksi akan terjadi. Aparat keamanan merasa gamang untuk melakukannya sebab regulasi belum memberikan jaminan kepastian bahwa yang dilakukannya itu sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Jadi rasanya, Revisi Undang-Undang Tindak Pidana Terorisme itu harus segera direalisasikan. Tanpa regulasi yang memihak kepada aparat hukum untuk lebih proaktif melakukan tindakan hukum bagi pelaku terror, maka jangan diharapkan bahwa pengamanan negara dari tindakan terorisme akan bisa dioptimalkan. Jika aparat keamanan tidak dilengkapi dengan regulasi yang memadai, maka keamanan negara sedang dipertaruhkan.
Negara tentu tidak boleh kalah dengan berbagai tindakan yang menyimpang dari keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang aman dan damai, tenteram dan sejahtera. Keamanan dan kedamaian tidak akan pernah tercapai jika masih ada orang yang akan melakukan tindakan criminal mengatasnamakan apa saja untuk kepentingan mereka sendiri.
Semua berharap bahwa HAM tidak dijadikan sebagai alat untuk menekan negara dengan membiarkan kaum teroris untuk merajalela di negeri ini. Seandainya dilakukan survey tentang apakah aparat bisa menangkap orang yang akan melakukan kejahatan terorisme meskipun belum ditemukan bukti-bukti yang sangat akurat, rasanya akan didapatkan data bahwa masyarakat mendukung terhadap tindakan aparat keamanan agar lebih proaktif.
Di sinilah tantangan terbesar masyarakat dan organisasi keagamaan wasathiyah di dalam kerangka “menyelamatkan” Indonesia dengan pilar consensus kebangsaannya. Organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Perti, Jamiyatul Washliyah, Nahdlatul Wathon, Mathlaul Anwar, dan sebagainya yang selama ini dilabel sebagai Islam Wasathiyah tentu memiliki tugas untuk membentengi agar pelaksanaan HAM tidak melampaui batas. Jangan sampai dengan dalih HAM lalu menyebarkan ajaran kekerasan, gerakan Islam politik yang mengusung terbentuknya negara Islam, terorisme, agama local dan sebagainya yang bisa merusak kesatuan dan persatuan bangsa.
Dengan demikian para pimpinan organisasi Islam Wasathiyah tentu memiliki tanggngjawab moral untuk menegakkan consensus kebangsaan agar masa depan Indonesia yang plural dan multicultural ini akan terus terjaga dengan paham keagamaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.