STANDARISASI PENCERAMAH AGAMA (1)
Akhir-akhir ini kita sedang disibukkan oleh dua kata yang sangat penting di dalam proses penyebaran atau penguatan kualitas kehidupan umat beragama, yaitu “Standarisasi Khatib” atau “Sertifikasi khatib”. Dua kata ini menjadi trending topic di kalangan umat beragama sampai tokoh-tokoh agama. Ada yang menyatakan pro dan ada yang menyatakan kontra. Ada yang bernada mendukung dengan tegas, ada yang mendukung dengan malu-malu dan ada yang menolak dengan nada lirih dan ada yang menolak dengan keras.
Saya kira variasi dan keanekaragaman seperti ini tentu hal yang sangat wajar. Jadi rasanya memang semua bisa berpendapat dan semua bisa mengemukakan gagasannya. Semua yang menolak atau menerima tentu menggunakan logikanya masing-masing dan memberikan pembenarannya masing-masing. Namun demikian, penerimaan dan penolakan tersebut tentu terkait dengan kepentingannya. Bisa karena alasan politik, sosial dan juga keagamaan.
Berbagai pendapat tentang standarisasi khatib atau sertifikasi khatib ini tentu dipicu oleh pernyataan Menteri Agama, Pak Lukman Hakim Saifuddin, di majalah Tempo beberapa saat yang lalu, bahwa diperlukan sertifikasi khatib yang terkait dengan legalitas yang bersangkutan untuk memberikan uraian tentang khutbah Jum’at.
Menteri Agama sesungguhnya sudah memberikan klarifikasi tentang konsep sertifikasi atau standarisasi khatib ini. Menurut Beliau bahwa yang diperlukan adalah standarisasi khatib dan bukan sertifikasi khatib. Diperlukan standarisasi khatib ini tentu dengan menggunakan dua alasan, yaitu: terkait dengankhutbah adalah bagian dari shalat Jum’at, maka tentu yang dibutuhkan adalah pemenuhan syara danrukun shalat Jum’at, yang diantaranya ialah tentang khutbah. Dengan adanya standarisasi khatib, maka akan bisa menjamin tentang kualifikasi ibadah tersebut. Misalnya standart kualifikasi bacaan al Qur’annya, materinya, dan juga etika khutbahnya.
Kemudian kedua, ialah standarisasi teks khutbah atau konten khutbah. Khutbah sebagai bagian dari shalat Jum’at tentu harus mennggunakan konten yang relevan dengan persoalan ibadah dimaksud. Artinya, bahwa teks khutbah tentu harus ada kaitannya dengan amar ma’ruf nahi munkar dalam konteks keagamaan. Jika misalnya harus menyampaikan masalah-masalah sosial atau politik tentu harus dikemas dengan bahasa atau pernyataan yang membangun ketenangan umat dan bukan sebaliknya.
Dikaitkan dengan dua alasan ini adalah tentang banyaknya mimbar Jum’at yang dijadikan sebagai sarana untuk memprovokasi umat dengan berbagai cita-cita atau keinginan yang bertentangan dengan visi dan misi bangsa Indonesia. Misalnya ajakan untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan ideology bangsa dan mengusung ideology lain yang secara tegas berseberangan dengan kepentingan kebangsaan dan semangat nasionalisme keindonesiaan.
Bagi menteri Agama, bahwa yang tepat adalah standarisasi dan bukan sertifikasi. Melalui standarisasi, tentu kualitas khutbah akan menjadi lebih baik dalam kaitannya dengan Islam, kebangsaan dan keumatan. Istilah standarisasi lebih menegaskan pada konteks perbaikan kualitas dan bukan pembatasan. Jadi, siapapun yang memenuhi kualifikasi itu tentu diperbolehkan untuk menjadi khatib atau bahkan menjadi penceramah. Tidak ada pembatasan kecuali kualifikasi itu sendiri.
Standarisasi khatib itu akan menjadi berguna agar siapapun yang mengajarkan agama haruslah memahami tentang agamanya itu. Jangan sampai orang yang tidak memahami agamanya dengan utuh sesuai dengan kualifikasinya bisa dengan semau-maunya menjadi khatib atau bahkan penceramah agama.
Kata sertifikasi mengandung bias penyelenggaraannya. Kita tentu bisa belajar dari program sertifikasi guru dan dosen, yang ternyata juga tidak sepenuhnya menghasilkan guru yang professional. Persyaratan yang lebih bercorak administrative tentu kemudian menjadi kendala untuk pelaksanaan sertifikasi khatib ini. makanya dipilihlan frasa standarisasi sebab di dalamnya mengandung upaya perbaikan, penguatan, dan pemberdayaan.
Meskipun upaya untuk melakukan klarifikasi telah dilakukan dengan berbagai cara akan tetapi isu ini tetap saja bergulir dengan kuat. Di antara suara yang menolak tentu lebih kuat dari yang menerima. Kuatnya arus penolakan itu tentu terkait dengan akibat yang bisa ditimbulkan dengan program ini. ada banyak elemen masyarakat yang merasa khawatir dengan program ini, maka kebebasan yang selama ini diperolehnya menjadi “berkurang” atau “terbatasi”.
Dan yang menarik adalah bahwa di antara yang menolak itu kebanyakan adalah mereka yang selama ini menyuarakan gerakan Islam yang berafiliasi ideology trans-nasional. Mereka yang selama ini tergabung di dalam pemikiran “Khilafah Islamiyah” atau “Islam fundamental” itulah yang paling keras penolakannya. Hal ini tentu didasari oleh “kebebasan” untuk mengekspresikan ajaran agama dalam tersirannya. Jika kemudian program standarisasi khatib atau penceramah agama itu dilakukan sungguh-sungguh, maka akan bisa menjadi “boomerang” bagi mereka.
Dan tampaknya mereka sudah memasuki berbagai institusi dan media dengan memberikan argumentasi yang sangat memihak kepada kepentingannya di masa depan, yaitu terwujudnya khilafah Islamiyah yang dianggapnya sebagai solusi untuk mengatasi seluruh problem kemanusiaan, kemasyarakatan dan kenegaraan.
Wallahu a’lam al shawab.
MENGEMBANGKAN PTKN MELALUI MODALITAS JEJARING
Saya sungguh menikmati acara kuliah umum yang diselenggarakan di STAKN Kupang, NTT. Acara ini dihadiri oleh Ketua STKN Kupang, Harun Y. Natunis, para wakil ketua, para dosen, dan juga para mahasiswa. Acara ini diselenggarakan di ruang terbuka bertenda di Kampus STAKN Kupang, pada tanggal 28/01/2017.
Saya merasa senang, sebab selain ada kuliah yang dipercayakan kepada saya untuk memberikannya, tentu juga terdapat nyanyian Paduan Suara dari Mahasiswa Program Studi Musik Gerejawi. Suatu suguhan yang sangat bagus dan bisa dinikmati. Meskipun saya tidak memahami arti syairnya, akan tetapi tetap saja bisa menikmati musiknya. Bukankah music adalah bahasa universal yang meskipun kita tidak memahami syair-syair di dalam nyanyian itu akan tetap saja telinga dan perasaan kita bisa merasakan keindahannya.
Sebagaimana di daerah luar Jawa lainnya, maka saya disambut dengan tarian adat yang menggambarkan tentang penghormatan kepada tamu atau orang yang dituakan. Menurut tetua adat, bahwa syair di dalam upacara penyambutan ini merupakan bait-bait pantun yang diungkapkan di dalam bahasa daerah Kupang. Selain disambut dengan tarian selamat datang juga dilakukan pengalungan selendang kain khas NTT. Senang juga saya memperoleh sambutan hangat dari civitas mahasiswa STAKN Kupang.
Pada kesempatan ini, saya sampaikan tiga hal mendasar terkait dengan bagaimana pengembangan institusi, kemampuan mahasiswa dan tantangan pendidikan di Indonesia. Pertama, bahwa pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan yang cukup berat, yaitu Indeks Pengembangan Manusia (IPM) yang masih rendah. Pemikiran mendasar yang digunakan selama ini adalah pendidikan sebagai instrument terbaik di dalam peningkatan SDM. Saya kira hingga sekarang konsepsi ini belum terbantahkan. Meskipun banyak instrumen untuk peningkatan SDM, akan tetapi tetap saja bahwa pendidikan merupakan instrument terbaiknya. Institusi pendidikan kita makin baik, namun jika tidak diimbangi dengan kenaikan peringkat IPM kita di tingkat internasional, tentunya belum terdapat perubahan yang signifikan. Peringkat IPM kita masih berkisar di antara angka 110-112 dalam tahun-tahun terakhir.
Kemudian juga masih rendahnya Indeks Kompetisi Global atau Global Competitiveness Index (GCI). Meskipun pernah naik empat digit dari 38 ke 34, namun kemudian menurun lagi pada tahun 2016. Hal ini menggambarkan bahwa GCI kita bercorak fluktuatif dan sekaligus menjelaskan bahwa kualitas SDM kita belumlah memenuhi harapan kita semua. Demikian pula dalam hal kualitas pendidikan yang belumlah mencapai titik harapan. Kualitas pendidikan kita masih berada di urutan 69 sebagaimana yang terjadi selama ini.
Melihat angka-angka ini, maka kita semua haruslah memahami bahwa kualitas pendidikan dan SDM kita masih kalah dibandingkan dengan beberapa negara lain di Asia Tenggara. Meskipun kita sudah berusaha secara optimal, akan tetapi speed negara lain juga maksimal, sehingga upaya kita untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan SDM itu terasa berjalan di tempat.
Kedua, sebagai sebuah institusi seharusnya kita belajar pada institusi bisnis. Perusahaan yang maju ternyata karena bisa memanfaatkan modalitas yang mereka miliki. Ada empat modal yang terus dioptimalkan, yaitu modal fisik, modal SDM, modal intelektual dan modal jejaring. Empat modal inilah yang terus dikembangkan agar perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang cukup. Saya kira PTKN memiliki ke empat modal ini. Jika modal fisik memang agak rumit karena terkadang bisa dibatasi dengan kekuatan anggaran pemerintah, namun demikian dalam keunggulan modal SDM dan intelektual tentu tidak diragukan. Bukankah sebagai lembaga pendidikan kita memiliki modal SDM andal para doctor dan professor yang ekselen. Dengan banyak doctor dan professor, maka dipastikan ada banyak sumber-sumber pemikir yang hebat.
Sebenarnya potensi SDM di PTKN tidak jelek. Ada banyak doctor dan professor yang andal. Memiliki karya ilmiah yang outstanding. Hanya saja image yang dikembangkan untuk mendongkrak “kehebatan” para doctor dan professor itu belumlah menjadi pesan penting. Makanya, saya kira harus ada upaya-upaya untuk mendongkrak terhadap imaje kehebatan PTKN dalam hal kualitas yang dicapainya, misalnya akreditasi, capaian internasional, dan juga keterlibatannya di dalam rekayasa sosial dan keagamaan yang menonjol.
Demikian pula dengan modal intelektual. Di luar negeri, banyak institusi pendidikan tinggi yang sangat tergantung kepada kualitas dosennya. PT yang memiliki dosen hebat, maka akan diserbu oleh peminat mahasiswa. Ada korelasi antara kualitas tenaga pendidik dengan jumlah peminat mahasiswa. Saya kira di Indonesia ke depan juga akan memiliki hal yang sama.
Yang kiranya perlu untuk dikembangkan lebih cepat adalah modal jejaring. Saya ingat di Singapore dulu pernah ada kerja sama antara Massachusset Institute of Technology dalam tajuk SMART atau Singapore Massachuset for Research and Technology yang kemudian bisa melambungkan Nanyang Technological University (NTU) dan National University of Singapore (NUS) untuk bisa go international dan memasuki peringkat yang baik dari perguruan tinggi di tingkat internasional.
Ketiga, mahasiswa harus terus mengembangkan kemampuan belajarnya. Jangan pernah berhenti belajar. Gunakan kesempatan belajar untuk belajar secara optimal. Para mahasiswa yang sekarang sedang belajar adalah pemilik negeri ini di saat Indonesia emas. Tahun 2030 sampai tahun 2045 kita akan menikmati bonus demografi. Dan peluangnya terletak pada mahasiswa yang sekarang sedang belajar. Pada tahun 2030 akan terdapat sebanyak 102 juta kelas menengah baru di Indonesia dan saya yakin akan ada di antara mahasiswa yang sekarang sedang belajar ini untuk mencapai dan menikmatinya.
Oleh karena itu jadilah pembelajar yang baik, gunakan waktu untuk diskusi, penelitian dan pengkajian ilmu pengetahuan yang sedang dipelajari. Time is money kata orang barat, dan bagi kita waktu itu peluang. Time is opportunity. Jadi siapa yang bisa menggunakan waktu sebaik-baiknya maka dialah yang kelak akan memperoleh kebahagiaan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
KERJA KERAS SEBAGAI INTI REFORMASI BIROKRASI
Saya mendapatkan kesempatan yang baik untuk memberikan pengarahan dan sekaligus juga pencerahan kepada para Aparat Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten, di Hotel Le Dian, 25/01/2017 yang lalu. Acara ini dihadiri oleh segenap pejabat eselon 3 dan 4 serta Kakanwil Kemenag Provinsi Banten, Dr. HA. Bazari Syam. Acara ini didesain untuk rapat kerja (raker) pada Kementerian Agama Provinsi Banten.
Saya tentu mengapresiasi terhadap acara ini di dalam kerangka untuk melakukan evaluasi pelaksanaan anggaran tahun 2016 lalu, dan kemudian melakukan pencermatan terhadap perencanaan anggaran dan kegiatan tahun 2017. Pelaksanaan acara seperti ini tentu sangat baik dilakukan di awal tahun, sehingga memungkinkan untuk melakukan evaluasi terhadap perencanaan anggaran dan kegiatan tahun 2017, sehingga jika perlu dilakukan realokasi anggaran untuk menyesuaikan dengan kegiatan prioritas mendesak akan dapat dilakukan dengan segera.
Saya menyampaikan tiga hal penting sebagai bahan pemikiran di antara para ASN kemenag terutama untuk menatap pelaksanaan anggaran 2017. Pertama, tentang tugas dan misi Kementerian agama. Semua ASN Kemenag memiliki tugas untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama. Tidak ada yang dikecualikan. Semua memiliki tugas untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama melalui program dan kegiatan yang kita rencanakan. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Pak Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama, bahwa: “di satu sisi kita bergembira karena pengamalan beragama kita meningkat ke titik yang lebih baik, akan tetapi di sisi lain juga terjadi potensi untuk disintegrasi bangsa”. Jadi ada pemahaman agama yang menjadi semakin radikal atau fundamental dalam konteks “negative”. Yaitu adanya keinginan untuk mendirikan khilafah Islamiyah atau cenderung membenarkan terhadap gerakan ISIS.
Dalam konteks ini, maka ASN Kemenag diharapkan akan dapat melakukan program yang lebih mendukung terhadap gerakan Islam moderat atau Islam wasathiyah. Sesuai dengan arahan Pak Menteri, maka program kita harus diarahkan untuk membangun ukhuwah kebangsaan dan kemanusiaan melalui berbagai acara dialog kerukunan umat beragama dan intern umat beragama. Program-program pendidikan dalam semua agama, bimbingan masyarakat agama-agama harus diarahkan untuk membangun kesepahaman tentang pentingnya penegakan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan. Jika NKRI merupakan rumah besar kita, maka jangan sampai upaya untuk mengubah atau merobohkan rumah besar tersebut semakin mendapatkan tempatnya.
Makanya, kita harus melakukan pencermatan terhadap kegiatan-kegiatan pada tahun 2017. Saya pernah dikritik salah satu anggota Komisi 8 karena menempatkan program yang kurang cocok. Dinyatakannya bahwa di Provinsi Jawa Barat itu intoleransinya sangat tinggi dibandingkan dengan provinsi lain, akan tetapi program pembinaan kerukunan agama justru kalah dibandingkan dengan provinsi lainnya. Jadi kita perlu lakukan checking terhadap kegiatan kita itu agar bersearah dengan keinginan Pak Jokowi dan juga Menteri Agama.
Kedua, arahan Menag, bahwa kita harus melakukan realokasi anggaran tahun 2017 agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Salah satu di antara kelemahan perencanaan berbasis kinerja yang dirumuskan setahun sebelumnya ialah terkadang tidak responsive terhadap isu-isu yang berkembang dan datang belakangan. Makanya, tetap harus ada peluang untuk melakukan realokasi anggaran agar lebih relevan dengan sasaran dan kebutuhan rakyat. Makanya harus dilakukan review terhadap struktur anggaran kita. Lakukan pencermatan apakah semua kebutuhan yang terkait dengan RKP sudah terpenuhi. Apakah distribusi anggaran kita sudah relevan dengan sasaran dan kebutuhan. Jangan sampai ada satu wilayah kekurangan sangat banyak tentang belanja tukin atau TPG sementara itu di daerah lain kelebihan. Jangan berpikir “nanti” masih ada peluang untuk revisi. Lakukan sekarang revisi tersebut. Itulah sebabnya pertemuan awal tahun menjadi penting untuk melakukan pengecekan secara mendasar tentang banyak hal di dalam anggaran kita.
Ketiga, agar kita terus meningkatkan kinerja. Kabinet sekarang ini oleh Pak Jokowi disebut sebagai Kabinet Kerja. Bukan hanya slogan, akan tetapi harus menjadi realitas empiris. Menjadi kenyataan. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Makanya, semua ASN harus berubah. Yang biasanya hanya sekedar easy going, maka harus menjadi to do the best. Era reformasi yang menjadikan “manajemen kinerja” sebagai panglimanya harus benar-benar menjadi panduan kita semua untuk bekerja lebih keras dibanding dengan biasanya. Jadikan tunjangan kinerja sebagai bobot keharusan bekerja keras, seimbang dan seirama.
Tantangan kita semakin banyak. Sebagaimana yang saya ungkapkan di depan bahwa gerakan potensi disintegrasi bangsa makin kuat, tekanan tenaga kerja asing semakin menguat, tentangan pendidikan dari luar negeri juga semakin terbentang di depan mata, disorientasi bangsa menuju kepada sikap materialism semakin kuat, tantangan kekerasan sosial politik dan agama juga semakin eksis. Makanya, kita tidak bisa hanya bekerja apa adanya. Tetapi harus professional, inovatif dan bertanggungjawab.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita jadikan tahun 2017 sebagai tonggak “semakin dekat melayani umat” dan kita jadikan sebagai tahun prestasi karena kerja keras yang kita lalukan. Jadi, kita semua harus berubah menuju kepada need for achievement yang lebih baik. Dan melalui kerja keras dan kebersamaan hal itu pasti akan didapatkan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
TRANSFORMASI PTKN SEBAGAI ARENA PERUBAHAN MINDSET
Bulan Januari memang menjadi ajang bagi banyak instansi pemerintah untuk melakukan rapat kerja (raker) dalam kerangka untuk melakukan evaluasi kinerja tahun sebelumnya dan menjalankan program pada tahun berlangsung. Bertempat di Hotel Pajajaran Bogor, IAIN Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, melakukan raker yang diikuti oleh segenap jajaran pimpinannya. Rektor Dr. Hadari Hasan, para Wakil Rektor, Dekan, para Wakil Dekan, Kabiro dan juga segenap jajaran pejabat lainnya hadir pada acara yang diselenggarakan pada tanggal 26/01/2017.
Sebagaimana diketahui bahwa IAIN STS Jambi akan melakukan transformasi menjadi UIN, sebagaimana IAIN Raden Intan Lampung, IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Mataram, dan IAIN Antasari Banjarmasin. Saya kira tinggal menunggu waktu saja, sebab semua persyaratan baik administrative maupun akademis sudah lengkap. Semua tentu berharap segera bisa berubah statusnya tersebut.
Di dalam banyak kesempatan saya sampaikan bahwa menjadi UIN itu bukan tujuan akhir tetapi tujuan antara, sebab perubahan status atau bentuk merupakan tujuan instrumental di dalam kerangka untuk meraih prestasi akademik tertinggi secara kelembagaan. Oleh karena perubahan status atau bentuk merupakan instrument, maka yang sangat mendasar adalah bagaimana mengisi bentuk yang berubah tersebut dengan kualitas akademis yang unggul. Harus mengubah mindset ke arah yang lebih baik.
Saya menyampaikan tiga hal mendasar terkait dengan raker ini, yaitu: Pertama, tantangan PTKIN itu luar biasa di era atau zaman yang selalu berubah dengan cepat. Jika kita tidak mengikuti perubahan itu, maka bisa dibayangkan bahwa kita akan tertinggal. Kita akan bisa dilindas oleh perubahan yang cepat. Di dalam kehidupan keberagamaan, tentu kita tidak menduga bahwa akan terjadi lompatan kehidupan beragama yang sangat fantastis. Di sekeliling kita semakin banyak masyarakat yang mengamalkan ajaran agama. Akan tetapi tingginya pengamalan beragama tersebut tidak berbanding lurus dengan perilaku sosialnya. Beragamanya makin baik, akan tetapi intoleransinya juga semakin meningkat atau sikap kebangsaannya juga semakin tipis.
Saya mengapresiasi tindakan cepat yang dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam pada Ditjen Pendidikan Islam untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD) di dalam rangka menindaklanjuti arahan Menteri Agama, Bapak Lukman Hakim Saifuddin, agar kita melakukan langkah strategis menghadapi semakin kuatnya potensi disintegrasi bangsa. Oleh karena itu, seluruh PTKIN diharapkan dapat menjadi center atau pusat bagi penyemaian agen bangsa untuk mengeliminasi atau menihilkan upaya disintegrasi bangsa. PTKIN harus menjadi center of religious harmony (CRH) atau crisis center for religious and social relation (C2RSR). Melalui kapasitas dosen dan mahasiswanya, maka PTKIN bisa membangun kemampuan agensi untuk menjadi penyelamat integrasi bangsa.
Kedua, SDM PTKIN harus memiliki kepekaan untuk melakukan penelitian dalam menjawab permasalahan bangsa. Saya kira tidak hanya penelitian akademik murni saja yang harus dilakukan akan tetapi juga penelitian yang bertajuk menjawab problema bangsa yang akut maupun yang temporer. Dengan semakin banyaknya doctor dan professor yang dimiliki oleh PTKIN maka hal itu harus menjadi jaminan bagi bangsa ini untuk eksis di era gempuran ideology lain yang terus menggerus NKRI dan keberagamaan kita. Pusat-pusat studi atau kajian harus semakin banyak dengan variasi bidang yang jelas. Para professor harus membangun pusat studi yang bisa menjadi ekselensi bagi institusinya.
Menurut saya para doctor dan professor harus diberi waktu yang cukup untuk menjalankan tugas penelitian, sehingga akan menghasilkan riset yang unggul untuk menjawab problem bangsa. Para professor jangan terkungkung di dalam menara gading yang jauh dari masalah-masalah sosial dan keagamaan kita. Itulah sebabnya yang diharapkan dari perubahan bentuk PTKIN menjadi universitas adalah agar dapat mengubah tampilan SDM-nya untuk semakin menggeluti terhadap dunia akademik yang bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.
Ketiga, perlu perubahan mindset program. Jangan hanya copy paste. Apa yang dilakukan tahun lalu harus juga dilakukan tahun ini. Terkecuali memang program jangka panjang yang bercorak multi years. Harus ada keberanian untuk melakukan perubahan di dalam perencanaan program terutama menyongsong perubahan bentuk menjadi UIN. Itulah sebabnya, PTKIN harus memperkuat tim perencanaan agar lebih bersinergi dengan pimpinan institusi di era sekarang. Program riset yang bertali temali dengan program pendidikan dan pengajaran serta program riset yang berkaitan dengan pencarian solusi bagi kehidupan bangsa seharusnya menjadi garapan di dalam program kita.
Sebagaimana arahan Pak Menteri, bahwa sekarang saatnya untuk melakukan realokasi anggaran agar lebih relevan dengan kebutuhan stakeholder PTKIN. Jadi memang saatnya sekarang untuk mereview terhadap komposisi anggaran PTKIN dalam rangka untuk lebih mendayagunakan anggaran tersebut pada hal-hal yang urgen. Jangan sampai kita menggunakan anggaran tanpa logika kebutuhan dan sasaran yang benar.
Para pimpinan PTKIN haruslah menjadi contoh pendayagunaan anggaran pada dimensi urgensi berbasis pada data yang valid, kebutuhan sasaran dan target yang diprioritaskan untuk mencapai visi dan misi kelembagaan pendidikan tinggi.
Wallahu a’lam bi al shawab.
MEMBAHAS POTENSI DISINTEGRASI BANGSA MELALUI PTKN (2)
Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam pada Ditjen Pendidikan Islam, saya kira merupakan jawaban sementara atas arahan Menteri Agama, Pak Lukman Hakim Saifuddin, agar PTKIN terlibat lebih aktif dalam rangka menjawab tantangan bangsa yang disebut oleh Pak Jokowi sebagai “darurat radikalisme”.
Ada banyak masukan yang disampaikan oleh para Rektor PTKIN di dalam acara ini, tetapi jika dipetakan maka bisa dilihat dari tiga aspek. Pertama, sebagaimana yang disampaikan oleh Rektor IAIN Samarinda, Dr. Moh. Ilyasin, bahwa sesungguhnya PTKIN sudah melakukan gerakan pengkajian dan penelitian serta aksi untuk meredam dan menanggulangi terhadap gerakan radikalisasi agama. Di IAIN Samarinda sudah terdapat kerjasama dengan pihak lain untuk melakukan penelitian dan pembahasan mengenai merebaknya gerakan radikalisme tersebut.
Pernyataan ini diamini oleh Rektor IAIN Solo, Dr. Mudhofir, yang menyatakan bahwa memang PTKIN harus menjadi pusat kajian dan gerakan yang bertujuan untuk mengeliminasi dan menghentikan gerakan disintegrasi bangsa. PTKIN harus membangun pusat-pusat kajian dan aksi deradikalisasi melalui bangunan struktur kelembagaan yang kuat, jaringan kerjasama yang baik dan juga menjadi pusat untuk mengembangkan informasi yang benar, rasional dan bermanfaat.
Dalam nada yang sama, Rektor IAIN Ternate, Dr. Abdurrahman Marasabessy juga menyatakan bahwa PTKIN tentu dapat menjadi lembaga yang dapat membentengi terhadap gerakan Islam fundamental. Jangan sampai semua umat Islam lalu mengidolakan orang Islam yang sepaham dengan gerakan-gerakan ISIS, Islam radikal atau fundamental. Di Ternate sekarang ini, banyak umat Islam yang mengidolakan Habib Rizieq Syihab sebagai pemimpin umat Islam. Mereka hanya melihat ketokohannya saja dan tidak melihat siapa dan apa yang berada disekitarnya.
Kedua, lembaga pendidikan memiliki tugas tidak hanya untuk mengajarkan ilmu pengetahuan tetapi juga untuk kepedulian terhadap kehidupan masyarakat. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Prof. Muhibbin, Rektor UIN Walisongo Semarang, bahwa kita jangan terjebak pada asumsi bahwa yang melakukan radikalisme itu hanya umat Islam. Di negara-negara lain, radikalisme itu terkait dengan agama yang dominan di sana. Misalnya di Amerika Serikat tentu agama Nasrani, di India tentu agama Hindu, di Thailand tentu saja agama Buddha. Jadi janganlah memberikan label gerakan radikalisme bagi agama tertentu. Tetapi menyikapi terhadap kenyataan empiris sekarang ini, maka perguruan tinggi harus memberikan jawaban secara riil dan strategis untuk melakukan gerakan preventif. Yang juga perlu dilakukan adalah lembaga pendidikan di Kemenristekdikti. Di situ saya kira jauh lebih banyak potensinya untuk menjadi radikal. Jadi harus ada pendekatan yang komprehensif terpadu untuk melakukan deradikalisasi.
Rector IAIN Banten, Prof. Dr. Fauzul Iman, juga menyatakan bahwa tipologi radikalisme itu sebenarnya bisa dilekatkan kepada semua agama. Hanya saya kira yang memang harus menjadi perhatian para pimpinan PTKIN adalah sejauh mana peran gerakan radikalisasi itu dapat dihentikan. Jangan sampai kita terlena untuk memberantas radikalisme tetapi kemudian terpuruk dari aspek akademis. Jadi keduanya harus dilakukan secara simultan.
Ketiga, upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk melakukan gerakan deradikalisasi. Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Abd.A’la, menyatakan bahwa gerakan radikalisasi harus dilawan. Yang memiliki peran penting untuk mengerem radikalisme di kampus adalah para pimpinan dan dosen. Saya menjadi kecewa ketika ada seseorang yang jelas-jelas di dalam Pelatihan Pra Jabatan, di mana yang bersangkutan tidak mau menghormat bendera, tidak mau mengakui NKRI dan memiliki paham khilafah ternyata tetap lulus di dalam ujian akhir di Latihan Pra Jabatan. Ini sebuah ironi. Makanya, seharusnya ada kesepahaman tentang profile ASN dosen macam apa yang seharusnya bisa menjadi dosen di PTKIN. Jika hal ini tidak dilaklukan, maka sesungguhnya kita sudah membesarkan harimau di rumah kita dan suatu ketika akan menerkam kita.
Rector UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta menyatakan bahwa ke depan harus diperhatikan para alumni Timur Tengah yang tidak memiliki akses ke PNS atau lainnya. Kebijakan Prof. Munawir Syadzili dulu pernah mengirimkan para dosen untuk belajar di Barat karena berdasarkan pengalamannya bahwa belajar di Barat tidak mengajarkan radikalisme, sebab diajarkan perilaku yang terbuka dan demokratis. Yang menjadi radikal kebanyakan adalah alumni Timur tengah, yang memang diajarkan tentang pandangan yang sempit dan ketika kembali ke Indonesia maka yang dilakukan adalah keinginan untuk mewujudkan paham keagamaannya itu. Ke depan seharusnya mereka diberi akses kepada mereka untuk bergaul dengan lainnya sehingga mereka memiliki pemikiran yang lebih luas.
Dari berbagai pandangan tersebut, saya kira ada banyak gagasan yang muncul dari FGD ini. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mengelola gerakan kontra radikalisme itu menjadi program dan kegiatan di PTKIN. Jangan sampai kita terjebak dengan berbagai retorika yang terus berkembang di PTKIN. Yang dibutuhkan adalah melakukan aksi di tengah darurat radikalisme itu.
Pandangan lebih lanjut tentu akan disampaikan di kesempatan berikutnya, sebab masih ada beberapa hari untuk mendiskusikan tema FGD “merespon darurat radikalisme melalui PTKIN”. Jadi diskusi memang akan terus berlangsung tetapi yang sangat mendesak adalah melakukan aksi untuk mengerem potensi disintegrasi bangsa ini.
Wallahu a’lam bi alshawab.