Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PEMIMPIN HARUS DINAMIS (3)

PEMIMPIN HARUS DINAMIS (3)
Saya sudah membahas dua prinsip dalam kepemimpinan, yaitu: inisiatif dan fleksibilitas. Maka tulisan ini akan membahas mengenai prinsip mobilitas. Kata kunci ketiga ini menjadi sangat penting sebab prinsip inisiatif dan fleksibilitas tidak akan ada maknanya apa-apa tanpa prinsip mobilitas dari para pemimpinnya. Tanpa mobilitas, maka organisasi atau institusi akan menjadi stagnan atau tidak bergerak bahkan mati.
Gerakan merupakan kunci kehidupan. Orang bisa saja hidup, akan tetapi jika tidak bisa melakukan gerakan apapun, maka disebut sebagai koma, yaitu situasi kehidupan yang terletak di antara hidup dan mati. Sebuah organisasi atau institusi juga akan mati jika tidak ada gerakan apapun yang dilakukan oleh para pelaku di dalamnya. Prinsip mobilitas hakikatnya adalah gerakan itu.
Organisasi atau institusi tentu diharapkan oleh para pelakunya untuk terus mengalami pergerakan yang mengarah kepada kemajuan dan bukan pergerakan menuju kemunduran. Kemajuan itu identik dengan gerakan dalam kualitas dan kuantitas ke arah kebaikan dan kemajuan. Maka semua pemimpin sesungguhnya menyandang tugas yang berat untuk membawa gerakan menuju kebaikan dan kemajuan dimaksud, baik dalam kuantitas maupun kualitas.
Di dalam sejarah kehidupan manusia tentu ada banyak orang atau individu yang dapat melakukan pergerakan untuk memajukan masyarakat atau organisasi secara optimal. Misalnya ialah apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau adalah seorang pemimpin yang memiliki mobilitas luar biasa. Gerakan untuk mempertahankan keyakinan agamanya dan juga menyebarkan ajaran agamanya melalui mobilitas geografis yang sangat unik.
Di dalam waktu 23 tahun, Beliau mampu mengubah masyarakat jahiliyah dalam keyakinan dan kemasyarakatan menjadi maju dan berkembang. Beliau disebut sebagai pemimpin paling berpengaruh di dunia. Di dalam buku 100 orang pemimpin yang paling berpengaruh, Beliau disebut sebagai berperingkat pertama. Meskipun Islam bukan sebagai agama dengan jumlah pengikut terbesar di dunia, akan tetapi pengaruh ajarannya luar biasa. Tidak hanya di dalam aspek moral dan religious, akan tetapi juga di dalam bidang sains dan teknologi. Perkembangan sains dan teknologi barat yang terjadi di saat sekarang tentu diinspirasikan oleh penulis-penulis Muslim pada masanya.
Dalam sejarah Islam di Nusantara, maka mobilitas para Walisongo tentu bisa dijadikan sebagai acuan, bagaimana gagasan atau ide tentang Islamisasi kultural itu bergerak dengan cepat. Wilayah Nusantara yang sebelumnya berada di dalam pengaruh agama Hindu dan Buddha, juga dalam waktu yang relative cepat menjadi dipengaruhi oleh Islam. Tentu tidak bisa dibayangkan, bahwa dengan teknologi sederhana di bidang kelautan, para Wali itu telah menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara. Sunan Giri misalnya dikenal sebagai penyebar Islam di Kepulauan Ternate yang sangat jauh dari Gresik. Bahkan mereka juga menyebarkan ajaran Islam itu di berbagai wilayah di Nusantara, misalnya wilayah Lombok ke Timur. Semuanya memberikan ilustrasi tentang mobilitas geografis yang sangat penting.
Perkembangan akhir-akhir ini, dengan ditemukannya listrik sebagai daya untuk memudahkan kehidupan, maka Bill Gates kemudian mengembangkan perusahaan Microsoft yang bergerak di bidang teknologi informasi. Perusahaan ini kemudian menjadi sangat berpengaruh di dunia ini dan semuanya memanfaatkan produknya untuk kepentingan membangun relasi antar manusia dengan efektif dan efisien. Seluruh dunia memanfaatkan produk computer dari Microsoft untuk kepentingan perusahaan, bisnis dan juga pemerintahan. Para pimpinan dalam levelnya masing-masing di Microsoft tentu memiliki inisiatif, fleksibilitas dan mobilitas yang sangat relevan. Makanya perusahaan ini menjadi mendunia dan memiliki pengaruh yang sangat tinggi tentu disebabkan oleh kerja keras dari seluruh pegawainya yang telah memiliki virus membangun kemajuan.
Mobilitas itu memiliki cakupan yang cukup luas, misalnya mobilitas vertical untuk menggambarkan tentang bagaimana seorang individu mencapai posisinya yang lebih tinggi karena factor kerja keras dan professional yang dilakukannya. Dia terpilih di dalam posisi penting disebabkan karena kemampuannya untuk melakukan inovasi berbasis pada inisiatif pengembangan. Dia bisa berpikir out of the box di dalam menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak hanya terpaku pada prinsip business asa usual, akan tetapi lebih dari itu.
Lalu ada mobilitas horizontal, yaitu perubahan yang dilakukan sebatas atas penyelesaian masalah atas dasar pengalaman yang dilakukan sebelumnya. Seseorang memang bekerja dengan ulet, tetapi tidak menghasilkan keluaran yang spektakuler. Makanya, dia hanya berputar-putar saja pada lingkungan dan posisi yang sama dengan yang ditempatinya itu. Di dalam konteks ini, maka bekerjalah secara optimal sambil terus mencari peluang untuk menciptakan sesuatu yang baru, sehingga peluang untuk memperoleh posisi yang lebih baik itu akan datang pada saatnya.
Mobilitas sosial bukan sesuatu yang given by takdir, akan tetapi merupakan capaian. Mobilitas adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan direproduksi teknik dan caranya. Mobilitas bukan milik suku atau ras tertentu. Mobilitas merupakan hasil capaian atau achievement. Dengan demikian, mobilitas tentu bisa diraih bagi siapa saja yang memiliki keinginan untuk terus berkarya dengan sungguh-sungguh dengan capaian yang optimum.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PEMIMPIN HARUS DINAMIS (2)

PEMIMPIN HARUS DINAMIS (2)
Sekali lagi saya nyatakan bahwa kata kunci kepemimpinan ialah inisiatif, fleksibilitas dan mobilitas. Saya telah membahas tentang bagaimana peran inisiatif sebagai lokomotif penting di dalam kepemimpinan. Inisiatif merupakan kata kunci awal bagi kesuksesan kepemimpinan. Makanya, organisasi atau institusi yang memiliki pemimpin dengan tingkat inisiatif yang tinggi tentu memiliki peluang keberhasilan secara lebih optimal.
Namun demikian, jangan dilupakan bahwa fleksibilitas juga menjadi kata mendasar di dalam blantika kepemimpinan. Fleksibilitas merupakan upaya untuk melakukan tindakan menyesuaikan antara gagasan atau ide dengan situasi empiris dengan melakukan berbagai modifikasi ide atau gagasan atas situasi sosial yang terjadi. Jadi fokusnya bukan ide disesuaikan begitu saja dengan situasi sosialnya, akan tetapi bagaimana relasi tersebut lebih terfokus kepada gagasannya. Dengan demikian, situasi sosial bisa diubah menuju kepada gagasan atau ide perubahan dengan melakukan modifikasi dan penyesuaian secukupnya.
Sebagaimana diketahui bahwa seorang pemimpin bisa datang dari luar dan dalam. Artinya, bahwa terkadang seorang pemimpin datang dari dalam organisasi atau institusi, dan terkadang juga bisa datang dari luar organisasi atau institusi. Bagi pemimpin yang datang dari dalam, maka tentunya sudah memahami secara mendasar tentang bagaimana situasi sosial, bahkan kekuatan SDM dan infrastrukturnya. Jika demikian, maka tentu pemimpin tersebut sudah memiliki seperangkat pengetahuan yang memadai mengenai apa yang harus dilakukannya. Dia tidak memerlukan lagi proses adaptasi secara mendasar, karena memang sudah berada di dalamnya. Tinggal running saja. Hanya saja problemnya adalah pemimpin yang datang dari dalam terkadang kurang peka terhadap apa yang sesungguhnya menjadi bahan dasar untuk menyelesaikan masalahnya. Terkecuali yang memang memiliki tingkat inteligensi yang tinggi, sehingga meskipun dari dalam tetapi perangkat pengetahuannya sangat mencukupi untuk memiliki kritisisme. Dengan demikian, pemimpin yang bersangkutan benar-benar telah siap untuk melakukan perubahan-perubahan.
Berbeda halnya dengan seorang pemimpin yang datang dari luar organisasi atau institusi, maka dia memerlukan seperangkat pengetahuan ekstra untuk memahami apa yang sudah terjadi dan bagaimana caranya dengan segera untuk beradaptasi dengan situasi sosialnya. Bagi pemimpin yang datang dari luar juga akan menghadapi kendala resistensi dari orang dalam yang sangat kuat, apalagi jika terdapat orang dalam yang juga memiliki kekuatan SDM dan dukungan yang relative massif. Makanya sering kita dengar pernyataan “mau berapa lama dia berada di sini” atau “dia hanya penumpang saja dan bukan pemilik kendaraan”.
Menghadapi situasi seperti ini, maka ada banyak pemimpin yang akhirnya mengalami kegagalan. Dia akan terus dianggap sebagai orang luar, sehingga upaya-upaya perubahan tampaknya mengalami “kegagalan”. Saya kira ada banyak pemimpin dari luar organisasi atau institusi yang datang dengan badan tegak dan keluar dengan badan bongkok. Di sinilah diperlukan “kearifan” sang pemimpin untuk memasuki “kawasan” dalam dari jantung organisasi atau institusi dengan melibatkan seluruh kemampuannya, baik kapasitas intelektualnya, sosial dan emotionalnya bahkan spiritualitasnya.
Pemimpin dari dalam juga tidak selalu mulus di dalam menjalankan kepemimpinannya. Banyak dikenal bahwa di dalam sebuah organisasi atau institusi selalu ada rivalitas untuk mencapai puncak kepemimpinan. Makanya, juga terjadi rivalitas yang sangat mendasar. Saya kira da banyak juga pemimpin dari dalam organisasi atau institusi yang kemudian juga mandul disebabkan oleh resistensi internal yang tidak mampu diselesaikannya.
Oleh karena itu, fleksibilitas memiliki makna penting. Pertama, fleksibilitas untuk melakukan pengaturan SDM. Seorang pemimpin harus fleksibel di dalam penempatan dan juga pengorganisasian SDM yang menjadi partnernya. Dia harus mampu untuk menempatkan orangnya dan juga orang lain dalam kapasitas yang tepat. Yang sering dilakukan adalah the winner takes all. Bisa jadi hal ini memang benar, akan tetapi jika tidak sangat kuat otoritas dan SDMnya, maka bisa juga akan menghalangi keberhasilannya untuk era yang akan datang. Orang yang tersisih akan terus melakukan konsolidasi untuk melakukan “perlawanan”.
Kedua, fleksibilitas dalam proses mencapai tujuan. Jika di dalam business process ternyata mengalami hambatan, maka rencana akan dapat diubah secara fleksibel. Di dalam konteks ini maka yang penting ialah pencapaian tujuan atau misi organisasi atau institusi. Konsep manajemen modern dengan prinsip plan, do, check, action (PDCA) tentu relevan dengan konsep fleksibilitas di dalam menjalankan roda kepemimpinan ini. Jika rencana sudah matang, maka lakukan pekerjaannya, lalu lakukan pengecekan dan kemudian lakukan tindakan baru yang lebih memungkinkan tujuan dapat dicapai dengan efektif dan efisien.
Jadi para pemimpin harus menerapkan fleksibilitas untuk pencapaian target yang sudah ditetapkan bersama melalui mekanisme yang relevan dengan prinsip yang dijadikan sebagai acuan bersama.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PEMIMPIN HARUS DINAMIS (1)

PEMIMPIN HARUS DINAMIS (1)
Seorang pemimpin memang diciptakan untuk menarik gerbong padat berisi aneka rupa manusia yang menjadi partnernya. Ibaratnya, seorang pemimpin itu adalah manusia dengan kekuatan melebihi manusia lainnya untuk melakukan serangkaian tindakan dalam rangka meraih kemajuan. Maka pastinya, di pundaknyalah segala harapan dari seluruh aneka penumpang itu akan selamat sampai tujuan.
Seorang pemimpin itu harus membawa gerbong pada tujuan bersama. Tidak boleh salah jalan atau juga salah kendali. Seorang pemimpin itu ibarat nakhoda kapal yang sedang berlayar di tengah samodra. Dia harus tahu persis jalan untuk menuju pantai yang menjadi tujuannya. Jika dia tidak memiliki kepekaan membaca kompas dan juga petunjuk-petunjuk alam, maka bisa jadi ia dan pengikutnya akan tersesat dan terombang-ambing di tengah lautan dan tidak tahu jalan kemana yang harus ditempuh.
Makanya, seorang pemimpin itu harus lengkap pengetahuannya atau cerdas baik cerdas intelektual, sosial, emosional dan juga spiritualnya. Berbagai kecerdasan ini sudah saya bahas dalam tulisan-tulisan saya yang lalu dan juga sudah banyak penulis yang mengulasnya. Semua memiliki kesamaan pandangan bahwa pemimpin memang harus memiliki kelengkapan kecerdasan agar bisa memimpin dengan baik.
Sesungguhnya ada tiga mantram sakti sebagai pemimpin yaitu: “inisiatif, fleksibilitas dan mobilitas”. Kata ini saya peroleh dari membaca buku “The Language of Leader” karya Kevin Murray. Saya sungguh terinspirasi dengan tulisan tersebut.
Tiga kata ini merupakan magic word bagi seorang pemimpin. Bagi mereka yang tergolong pemimpin dalam berbagai levelnya, maka tiga kata ini merupakan kata kunci bagi keberhasilan kepemimpinannya. Jika seorang pemimpin dapat mengaplikasikannya di dalam kehidupan kepemimpinannya, maka dipastikan keberhasilan akan berpihak kepadanya. Makanya, memiliki kemampuan yang relevan dengan tiga kata penting ini, kiranya akan bisa menjadi pembuka kesuksesan yang bersangkutan di dalam kepemimpinannya.
Harus diakui bahwa memang tidak semua dari tiga kata itu dapat dikuasainya. Jika benar ada yang seperti itu, maka hal itu merupakan karunia terbesar Tuhan yang Maha Kuasa kepada pemimpin itu. Ada kalanya, orang sangat piawai di dalam menemukan insiatif baru. Dia bisa berpikir jauh ke depan melampaui zamannya. Dia bisa memiliki ide atau gagasan yang sangat brilian untuk mendeteksi masa depan. Akan tetapi dia lemah di dalam melakukan eksekusi atau melakukan mobilitas. Adakalanya, orang memiliki mobilitas tinggi tetapi memiliki kelemahan di dalam fleksibilitas. Makanya, dia akan merasa berjalan sendiri tanpa dukungan dari mitra kerjanya. Manusia ide hanya akan berhasil jika didukung oleh fleksibilitas dan mobilitas yang memadai. Tanpa hal itu, maka ide demi ide itu akan menguap seperti embun pagi yang terkena terpaan sinar matahari.
Inisiatif sangat dibutuhkan bagi seorang pemimpin. Dia harus memiliki gagasan-gagasan perubahan, baik dalam skala besar maupun kecil. Dia harus menjadi pengungkit untuk menemukan perubahan-perubahan yang lebih efektif atau efisien tentang tata kelola di dalam kepemimpinannya. Inisiatif merupakan kemampuan seseorang untuk menemukan alternatif-alternatif dan kemudian menemukan alternatif terbaik yang dapat dilakukannya. Dia dapat menemukan sintesis dari dua persoalan atau lebih yang harus dipecahkannya. Dia juga memiliki pandangan jauh ke depan untuk mencandra perubahan-perubahan baik yang bercorak cepat atau lambat. Jadi inisiatif merupakan keahlian yang dimiliki oleh seorang individu pemimpin dalam rangka untuk menemukan solusi atau menemukan sesuatu yang baru yang terkait dengan perubahan yang diinginkannya.
Secara teoretik dapat dinyatakan bahwa kepemimpinan yang berhasil untuk melakukan perubahan ditentukan oleh seberapa kuat pemimpin tersebut memiliki gagasan untuk melakukan perubahan baik dalam skala kecil maupun besar. Tampaknya ada dua hal, yaitu: kemampuan untuk menggagas tentang solusi atas problem yang sudah akut untuk bisa dipecahkannya, atau bisa juga gagasan untuk melakukan sesuatu yang baru yang selama ini belum dilakukan. Setiap pemimpin akan bersentuhan dengan urusan lama yang tidak bisa diselesaikan pada saatnya. Ada banyak masalah yang mengendap dan menjadi tumpukan masalah terus menerus dan kemudian menyesakkan. Bisa saja hal tersebut terkait dengan asset, administrasi, maupun relasi penyelesaian. Dalam hal asset, misalya ada banyak asset yang berada di dalam proses sengketa, dikuasai oleh pihak lain, atau masuk di dalam ranah hukum.
Masalah-masalah ini terkadang tidak bisa diselesaikan dengan meeting atau rapat-rapat. Akan tetapi terkadang membutuhkan energy tambahan untuk menyelesaikannya. Salah satu tehniknya adalah dengan negosiasi atau meeting informal. Saya berkeyakinan bahwa tidak selamanya rapat formal bisa menyelesaikan masalah-masalah khususnya yang terjadi di masa lalalu. Rapat formal dapat dilakukan di saat semua penyelesaian atau solusi sudah ditemukan.
Jadi, diperlukan inisiatif untuk menyelesaikan berbagai problem institusi yang sering menjadi kendala di dalam menjalankan roda kepemimpinan, baik yang terjadi di masa lalu maupun sekarang. Seorang pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang memiliki kemampuan untuk berinisiatif di dalam menjalankan roda kepemimpinannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

LITERASI MEDIA DI ERA CYBER WAR

LITERASI MEDIA DI ERA CYBER WAR
Zaman kita sekarang disebut sebagai era cyber war, yaitu era di mana perang bukan lagi berciri khas fisikal tetapi perang melalui media elektronik. Teknologi informasi dijadikan sebagai media untuk melakukan peperangan. Memang korbannya bukan secara fisik manusia, akan tetapi kepribadian, ketidaktentraman, ketidaknyamanan yang di suatu kesempatan bisa berpengaruh terhadap fisikal manusia.
Jika di masa lalu peperangan itu bercorak satu melawan satu, orang per orang, maka kemudian dengan dtemukannya bubuk mesiu, maka peperangan menjadi lebih seru karena bisa terjadi jarak jauh. Saling tembak menembak, saling menghancurkan dengan daya ledakan yang lebih dahsyat. Kemudian dengan ditemukannya senjata kimia, maka perang juga menjadi medium penghancuran fisikal manusia dan seluruh kehidupan di dunia ini. Dengan senjata kimia maka pengaruhnya menjadi sangat massive dan merata.
Era sekarang, di tandai dengan perang media atau cyber war. Yaitu peperangan yang bertujuan untuk menghancurkan pikiran, meracuni kemanusiaan dan merusak harkat kemanusiaan. Di dalam cyber war, yang disasar bukannya fisik akan tetapi pikiran, sikap dan tindakan manusia. Makanya, di dalam cyber war yang terjadi adalah penghinaan, penistaan, penodaan, atau ujaran-ujaran kebencian dan pembunuhan karakter. hate speech and character assassination.
Di tengah semakin merebaknya penggunaan media komunikasi seperti face book, instagram, twitter, H5, Linkedin dan sebagainya, maka terjadi peningkatan hate speech dan character assassination ini. Media komunikasi yang seharusnya digunakan untuk kebaikan dan bahkan amar ma’ruf nahi munkar tersebut akhirnya jatuh kepada perilaku yang merusak dan menghancurkan. Makanya di era seperti ini harus terdapat kecerdasan bermedia sosial agar masyarakat tidak jatuh kepada tindakan antipati. Kita semua menghendaki agar pemanfaatan media sosial dapat digunakan untuk kepentingan kebaikan dan bukan untuk kepentingan kejahatan atau kejelekan.
Penggunaan media sosial sudah tidak lagi melalui pembedaan desa atau kota, tua atau muda, guru atau siswa, dosen atau mahasiswa, kaum intelektual atau orang awam. Sebab media sosial sudah menjadi alat yang efektif untuk kepentingan membangun jejaring yang sangat massive. Bayangkan saja bahwa kita bisa membangun jejaring dengan seluruh masyarakat dalam aneka bangsa dan bahasa karena jejaring media sosial.
Ada tiga sikap di dalam menghadapi media sosial, yaitu: pertama, menerima seluruh message media sosial sebagai kebenaran. Jika seperti ini maka semua content media sosial yang diterima akan diteruskan atau dishare kepada sesama pengguna media sosial. Jadi di dalam banyak hal, bahwa apa yang diterima akan bisa dibagikan kepada siapapun yang menjadi anggotanya atau rekannya.
Kedua, menolak seluruh content media sosial, sehingga ada kecenderungan untuk menolak seluruh pemberitaan atau informasi dari media sosial. Dia tidak akan melakukan sharing kepada siapapun. Di dalam konteks ini, maka semua berita atau informasi yang sampai kepadanya dianggapnya sebagai kebohongan belaka. Jumlah yang seperti ini tentu sangat sedikit atau bahkan nyaris tidak ada. Ketiga, menerima pesan atau message media sosial secara kritis. Pilihan ketiga inilah yang saya kira penting untuk diperhatikan. Kita berharap bahwa perilaku ketiga ini yang ke depan bisa didorong untuk mendominasi informasi di media sosial. Cara ini merupakan cara cerdas di dalam bermedia sosial. Jadi tidak semuanya dianggap disinformasi akan tetapi juga tidak semua dianggap sebagai the correct information. Jadi harus dipilah dan dipilih mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Yang bermanfaat akan bisa dishare kepada sesama pengguna media sosial dan yang tidak bermanfaat harus dikeep sebagai informasi yang harus dibuang.
Kita sungguh memiliki perbedaan dibandingkan dengan binatang lainnya, karena kita diberi kekuatan untuk perilaku memilih. Makanya dengan kemampuan perilaku memilih tersebut, tentunya kita bisa menggunakan yang bermanfaat dan membuang yang tidak ada gunanya. Dengan demikian, secara konseptual manusia memiliki kemampuan yang sangat mendasar untuk memahami mana yang baik dan mana yang buruk.
Makanya, jika kita menerima informasi dari manapun datangnya, maka yang perlu diperhatikan adalah check and recheck terhadap informasi tersebut secara akurat dan lalu share yang dinyatakan relevan dan memiliki fakta yang akurat, dan buang yang ternyata tidak memiliki akurasi dan fakta yang benar. Dengan begitu, maka kita akan terhindar dari menyebarkan berita hoax yang menyesatkan.
Hal-hal inilah yang saya kira perlu untuk diperhatikan oleh seluruh jajaran ASN Kementerian Agama, khususnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha. Dan hal ini yang saya sampaikan di dalam forum pertemuan sosialisasi dengan ASN Ditjen Bimbingan Masyarakat Buddha, Jum’at, 7/4/2017 di Jakarta.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMBUDAYAKAN ZAKAT (2)

MEMBUDAYAKAN ZAKAT (2)
Di saat saya memperoleh kesempatan untuk memberikan presentasi di hadapan para pejabat di Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, di Jakarta, 30/03/ 2017, maka saya sampaikan beberapa hal yang saya anggap urgen. Sebagaimana tulisan saya sebelumnya maka saya terus dihantui oleh perasaan, bagaimana membudayakan membayar zakat di kalangan umat Islam. Maka, saya sampaikan bahwa problem-problem perzakatan itu harus diuraikan dulu untuk diselesaikan sebelum dituntaskan pembudayaannya.
Kali ini saya ingin membahas mengenai program pentasarufan zakat bagi umat Islam. Sengaja di dalam tulisan ini saya menggambarkan mengenai pemanfaatan zakat, sebab satu hal pasti yang harus dilakukan oleh pengelola zakat ialah bagaimana memanfaatkan zakat untuk umat. Di dalam hal ini, maka saya menyampaikan ada tiga besaran program terkait dengan pemanfaatan zakat, yaitu:
Pertama, zakat untuk pendidikan. Di era sekarang, maka pembiayaan pendidikan tidak hanya melalui APBN akan tetapi juga melalui peran serta masyarakat dan dunia usaha. Pemanfaatan zakat untuk pendidikan tentu merupakan bagian tidak terpisahkan dari keinginan banyak pihak bahwa dana zakat dapat digunakan untuk penguatan pendidikan.
Pendidikan merupakan instrument penting di dalam penguatan SDM suatu negara. Jika pendidikannya berkualitas maka dipastikan bahwa SDM bangsa itu juga akan menjadi lebih baik. Sebagaimana diketahui bahwa sampai tahun 2019, maka Rencana Strategik Pemerintah di bidang pendidikan ialah perluasan akses dan pemerataan pendidikan. Makanya, diharapkan bahwa zakat akan dapat menjadi salah satu kekuatan untuk membantu bagi perluasan akses dan pemerataan pendidikan ini. Seyogyanya dilakukan pemetaan oleh Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf dan juga BAZNAS untuk bersama-sama memetakan terhadap bagaimana peran dana zakat untuk pendidikan ini.
Di masa lalu terdapat “Program Satu Keluarga Satu Sarjana” yang dijadikan sebagai program unggulan BAZNAS. Lalu pertanyaannya, apakah kita sudah melakukan evaluasi terhadap program ini terutama dilihat dari sasarannya dan ketepatan kegiatannya. Yang tidak kalah penting juga bagaimana cakupannya. Saya khawatir bahwa program yang baik semacam ini kemudian tidak terevaluasi dari berbagai aspek yang dibutuhkan.
Kedua, pemberdayaan ekonomi umat. Diketahui bahwa jumlah orang miskin di Indonesia semakin banyak. Sebagai akibat dari problema ekonomi dunia, maka jumlah orang miskin cenderung meningkat meskipun tidak signifikan. Di Indonesia masih terdapat sebanyak 13,5 juta orang miskin, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Mereka ini adalah orang yang tidak memiliki akses ekonomi. Mereka tidak memiliki asset yang dapat digunakan untuk pengembangan ekonominya. Makanya, mereka akan terus miskin di tengah perubahan-perubahan perekonomian dunia dan juga perekomian Indonesia.
Di dalam konteks ini, maka zakat harus memerankan sumbangannya secara signifikan dalam pengentasan ekonomi umat. Jangan sampai zakat hanya digunakan untuk pembayaran konsumtif saja, akan tetapi juga harus ada yang digunakan untuk kepentingan produktif. Saya tidak tahu kabar terakhir dari upaya pengentasan kemiskinan melalui zakat oleh masyarakat desa Putukrejo, Malang. Apakah terus berlangsung atau mengalami stagnansi dan bahkan kemunduran. Tetapi yang jelas bahwa cerita keberhasilan pemberdayaan zakat di tempat ini sudah menghasilkan tesis dan disertasi yang baik.
Alangkah baiknya jika Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf bersama BAZNAS melakukan berbagai inovasi program unggulan yang terkait dengan pemanfaatan zakat produktif. Saya menjadi teringat dengan upaya Bank Mandiri untuk membantu para mahasiswa yang memiliki talenta baik di dalam kewirausahaan, lalu mereka diberikan voucher jika proposal usahanya memiliki tingkat prospectus yang baik. Jadi, terhadap mereka yang sungguh-sungguh ingin berwirausaha maka akan diberikan bantuan yang memadai sesuai dengan kapasitas usaha yang akan dikembangkannya. Tidak hanya diberi bantuan permodalan akan tetapi juga diberi pendampingan dan pengarahan. Saya kira penting ke depan, BAZNAS memiliki tim yang kuat untuk melakukan pendampingan ekonomi umat ini, agar peran zakat untuk umat semakin menunjukkan keberhasilannya.
Ketiga, yang penting juga zakat untuk kesehatan umat. Warga miskin memang sudah terjangkau dengan BPJPS kesehatan. Artinya, bahwa mereka sudah memiliki akses untuk sehat. Tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana menjaga agar masyarakat sehat. Di sinilah saya kira peran BAZNAS di dalam mengembangkan kesehatan umat tersebut. Jadi, bukan pada tataran memberikan insentif bagi umat untuk berobat ke Rumah Sakit, tetapi menjaga agar mereka bisa menjaga kesehatannya. Pengembangan warung kesehatan, agen kesehatan dan sebagainya dengan upaya-upaya preventif di di bidang kesehatan tentu bisa dilakukan.
Jika tiga aspek ini bisa dilakukan oleh pentasarufan zakat bagi umat, maka secara langsung atau tidak langsung, BAZNAS dan Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf sudah terlibat di dalam penguatan SDM di Indonesia. Harus diiingat bahwa tiga variabel, yaitu: pendidikan, ekonomi dan kesehatan adalah tiga variabel penting di dalam peningkatan kualitas SDM.
Jadi, dana zakat akan bisa dijadikan sebagai instrument untuk ikut serta di dalam peningkatan kualitas SDM Indonesia di tengah kompetisi antar bangsa yang semakin kuat. Dan seharusnya kita bisa.
Wallahu a’lam bi al shawab.