Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TANTANGAN SERTIFIKASI MUBALIG DI ERA MILENIAL (1)

TANTANGAN SERTIFIKASI MUBALIG DI ERA MILENIAL (1)
Pekan ini saya merasakannya sebagai hari-hari yang menyenangkan sebab saya bisa hadir di UIN Sunan Ampel Surabaya dalam kegiatan Halal bil Halal dan Pembinaan ASN, serta kegiatan Peran Sertifikasi Mubalig dalam Kehidupan Beragama. Sebuah momentum yang menyenangkan bisa kembali hadir di perguruan tinggi yang membesarkan saya. Sungguh tanpa UIN Sunan Ampel saya tentu bukan siapa-siapa.
Saya selalu mengenang IAIN Sunan Ampel yang kini menjadi UIN Sunan Ampel sebagai tempat yang penting di dalam karir akademik dan juga birokrasi yang saya jalani.
Saya sungguh mengagumi terhadap perubahan fisikal UIN Sunan Ampel. Kala saya menjadi rektor, selama tiga tahun, maka proyeksi saya adalah bagaimana agar terjadi revolusi fisikal itu. Dan saya merasakan bahwa upaya untuk menyusun proposal, mendiskusikan dan membuka jalur ke Islamic development Bank (IDB) yang dulu saya dan semua jajaran lakukan tersebut ternyata berbuah sangat manis.
Dulu saya selalu mengagumi perguruan tinggi dengan bangunan-bangunan yang sangat baik. Misalnya di dalam kunjungan saya ke Melbourne, Sydney dan Wollongong, maka saya selalu kagum dengan ruang-ruang theatrenya, kagum pada perpustakaannya dan sebagainya. Bahkan ketika saya datang ke Marmara University, Turki, maka saya kagumi ruang-ruang theatrenya. Tetapi kini saya harus membanggakan bahwa ruang theatre UIN Sunan Ampel Surabaya, ternyata tidak kalah dengan semuanya. Meski saya berada di UIN Sunan Ampel Surabaya, rasanya saya berada di Melbourne University. Dulu saya selalu menyatakan bahwa dengan sentuhan IDB, maka kita bisa melipat waktu 45 tahun menjadi 4 tahun saja. Ucapan saya itu terbukti, bahwa UIN Sunan Ampel Surabaya bisa membangun fisiknya menjadi luar biasa dalam waktu empat tahun saja. Jika secara regular pasti membutuhkan waktu selama 45 tahun. Ini adalah sebuah keajaiban yang menjadi nyata. Beyond believe.
Saya memang belum sempat untuk melihat seluruh ruangan dan fasilitas pendidikan di UIN Sunan Ampel, akan tetapi dengan melihat ruangan theaternya dan beberapa di antaranya, maka gambaran akan kehebatan fasilitas pendidikan di UIN Sunan Ampel pastilah sudah memenuhi persyaratan akademis. Jika tahun 2018, pembangunan fasilitas gedung di Gunung Anyar dapat dilakukan sesuai dengan format loan IDB, maka dipastikan bahwa sarana dan prasarana fisikal UIN Sunan Ampel pastilah makin luar biasa. Kampus UIN Sunan Ampel yang di Gunung Anyar itu berada di lintasan jalan dari dan ke Bandara Juanda. Jadi orang yang ke dan dari Bandara Juanda untuk ke Surabaya, maka dipastikan akan melewati Kampus UIN Sunan Ampel yang megah. Sungguh impian banyak pimpinan Perguruan Tinggi. Ini juga akan menjadi mimpi yang menjadi kenyataan.
Saya bersyukur bisa menikmati acara di ruang theater UIN Sunan Ampel. Acara yang diberi tema “Peran Sertifikasi Mubaligh bagi Kehidupan Beragama” ini tentu sangat penting. Hadir di acara ini Prof. Dr. Mohammad Ali Azis, penulis buku laris “Terapi Shalat Bahagia” dan juga da’i internasional. Sudah berdakwah di Afrika, Eropa, Amerika dan juga Australia. Lalu, Dr. Ahmad Yani Basuki, Mayjen Purnawirawan, doctor di bidang sosiologi militer yang langka, Prof. Dr. Aswadi, ahli Hadits, khususnya hadits tentang pengobatan Islam, mereka adalah alumni Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel. Lalu hadir juga Prof. Abd. A’la, Rektor UIN Sunan Ampel, Prof. Dr. Ali Mufrodi, Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan, dan juga Dr. Chalil Nafis, cendekiawan Islam yang juga asset internasional, pimpinan MUI Pusat. Hadir juga para dosen dan alumni Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel.
Saya sampaikan beberapa hal sebagai pengantar untuk diskusi lanjutan di dalam workshop ini. yaitu, Kementerian Agama memiliki pengalaman pahit terkait dengan upaya untuk melakukan sertifikasi penceramah agama. Di kala istilah sertifikasi diungkapkan oleh Majalah Tempo, maka serentak terjadi penolakan luar biasa dari kalangan yang selama ini dikenal sebagai dai yang dikenal menggunakan “kebebasan” untuk mendakwahkan tafsir agamanya di kalangan masyarakat.
Sebagaimana diketahui bahwa di era “kebebasan” ini, maka forum keagamaan juga menjadi sarana untuk membicarakan politik praktis. Terutama di era pilkada DKI, maka forum keagamaan, termasuk khutbah Jumat, juga tidak lepas dari upaya untuk menjadikannya sebagai forum untuk membicarakan politik. Sehingga nuansa Khutbah Jum’ahnya menjadi bercorak politik ketimbang pembicaraan agamanya. Mereka beralasan bahwa Islam dan politik tidak bisa dibedakan. Memilih pemimpin harus bersendi agama. Dan yang lebih mendasar lagi, orang yang memilih lawan politiknya dianggap sebagai kafir dan dilarang disalatkan di masjid yang dikuasainya.
Diskusi tentang sertifikasi atau standarisasi lalu menjadi pembicaraan yang sangat intensif baik di media sosial maupun media cetak, televise dan radio. Perdebatan tentang hal ini benar-benar menyita perhatian kita semua dan menjadi trending topic selama berbulan-bulan. Akhirnya, pembicaraan inipun reda pasca pilkada, yang dimenangkan oleh pasangan Anies-Sandi dan terkaparnya pasangan Ahok-Djarot. Akhir-akhir ini memang sudah tidak lagi terdapat diskusi public di sekitar sertifikasi atau standarisasi penceramah agama. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh diterbitkannya “Maklumat” Menteri Agama yang berisi Sembilan pesan. Namun sebagaimana yang sering saya ungkapkan bahwa intinya tiga saja, yaitu: “sebarkan agama yang memberikan ketenangan dan kedamaian”, lalu “tegakkan kebangsaan melalui pilar konsensus bangsa” dan “hindari pembicaraan politik praktis, kebencian, caci maki dan sabagainya”.
Workshop ini sebagaimana dinyatakan oleh Prof. A’la untuk menghasilkan standarisasi mubaligh di dalam kerangka untuk mengembangkan Islam yang rahmatan lil alamin di tengah semakin menguatnya arus radikalisme, ekstrimisme dan kekerasan agama yang terus terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Keinginan ini tentu tidak berlebihan dan semua di antara kita memang berkehendak agar Islam Indonesia akan semakin kuat dengan penyebarannya yang penuh kedamaian dan keselamatan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PETUGAS HAJI ANDALAN

PETUGAS HAJI ANDALAN
Saya memperoleh kesempatan untuk memberikan pengarahan dalam acara penutupan pelatihan petugas haji atau Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH), yang dilaksanakan di Asrama Haji Pondok Gede, yang dilaksanakan oleh Direktorat Bina Haji dan Umroh pada Ditjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama. Acara dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2017.
Acara ini diikuti oleh sebanyak 780-an peserta yang terdiri dari petugas kloter, yaitu TPHI, TPIHI dan petugas kesehatan. Hadir pada acara ini, Direktur Bina Haji dan Umrah dan segenap jajarannya, Kepala Biro Umum Kemenag, Kepala Biro Perencanaan Kemenag, Kepala Biro Perencanaan Kementerian Kesehatan, yang mewakili TNI dan juga Polri serta para narasumber, pelatih dan pendamping pelatihan.
Di dalam kesempatan ini, saya sampaikan tiga hal penting, yaitu: Pertama, saya mengapresiasi terhadap penyelenggaraan pelatihan selama 10 hari. Saya bersyukur bahwa ternyata pelatihan ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan pengetahuan bagi para petugas haji. Sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Bina Haji, Dr. Muhajirin, bahwa di dalam pre test, rerata nilai peserta adalah 60-an dan setelah mengikuti sessi demi sessi pelatihan ternyata meningkat menjadi 80 lebih pada rerata post test. Hal ini memberikan gambaran bahwa pengetahuan mengenai perhajian bagi petugas meningkat dengan sangat drastis. Demikian pula para petugas kesehatan, dari pre test dihasilkan rerata 80 an dan setelah mengikuti pelatihan maka nilainya sebesar di atas 90 pada reratanya. Kenyataan ini yang memberikan gambaran bahwa pelatihan ini memiliki makna strategis bagi petugas haji yang akan melaksanakan tugas negara untuk jamaah haji Indonesia.
Kedua, saya membuat rumusan agar para petugas haji menjadi petugas yang andal. Rumusan tersebut ialah 5 (lima) J. 1) Jadilah petugas yang sehat. Kesehatan merupakan kata kunci di dalam ibadah haji. Hampir seluruh pelaksanaan ibadah haji adalah urusan fisik. Makanya, memiliki fisik yang sehat tentu menjadi syarat utama bagi jamaah haji dan juga petugas haji. Jangan sampai petugas haji justru tidak sehat. Secara fisikal petugas haji harus memiliki fisik yang prima. Dengan melihat para petugas yang reratanya masih muda, maka saya berkeyakinan bahwa mereka adalah orang yang memiliki kesehatan yang memadai di dalam penyelenggaraan haji.
2) Jadilah petugas yang perkasa. Saya sungguh-sungguh berharap bahwa para petugas haji adalah orang yang sigap, cepat, tanggap dan kuat di dalam penyelenggaraan ibadah haji. Tugas haji adalah tugas yang tidak mengenal waktu. Bagi petugas kesehatan, maka akan bisa dipanggil jam berapa saja. Mungkin kita baru saja memejamkan mata, akan tetapi ketika ada penggilan harus menolong orang yang sakit maka tidak ada alasan untuk tidak datang. Demikian pula petugas kloter lainnya. Maka dia juga harus sigap untuk membantu jam berapa saja dan di mana saja. Keperkasaan ini sungguh diperlukan di saat kita mendampingi jamaah haji di Mekkah maupun di Madinah serta di Armina.
3) Jadilah petugas yang memahami seluk beluk perhajian. Petugas haji tidak memandang apa tugasnya akan selalu dianggap oleh para jamaah sebagai orang yang tahu tentang penyelenggaraan haji. Mereka dianggap yang tahu regulasi haji, yang tahu manasik haji, yang tahu peta dan lokasi haji dan seterusnya. Makanya kita akan menjadi tempat bertanya bagi jamaah haji. Masih ada waktu yang tersisa sebelum keberangkatan haji, saya berharap pelajari manasik haji, pelajari Google Map agar kita tahu sedang berada di mana di peta Arab Saudi dan juga jamaah kita ada di mana. Mumpung masih ada waktu untuk belajar secara optimal untuk menjadi petugas yang paham tentang seluk beluk perhajian.
4) Jadilah petugas yang melayani jamaah haji secara optimal. Sekarang sudah eranya kita berbuat yang tindakan itu akan memberikan rasa dilayani oleh parner kita. Era sekarang adalah era di mana kita harus memberikan pelayanan yang bisa memberikan kepuasan bagi para pelanggan kita yang di dalam konteks ini ialah para jamaah haji. Kita bersyukur bahwa skore hasil survey kepuasan jamaah haji Indonesia semakin membaik. Tahun 2016, skore yang diperoleh dari survey BPS ialah sebesar 83,83 persen. Itu artinya kita sudah mendekati angka 85 persen. Jika tahun ini pelayanan kita optimal dan memperoleh skore 85 lebih maka dipastikan bahwa kepuasan pelanggan kita sangat memuaskan. Saya kira tinggal sedikit lagi untuk mencapai angka tersebut.
5) Jadilah petugas yang ikhlas. Salah satu kekuatan kita sebagai petugas adalah keikhlasan. Jika kita bekerja dengan ikhlas, maka segala bentuk kelelahan, kesulitan dan kerumitan itu akan dapat diselesaikan dengan baik. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan pertolongan kepada kita semua jika kita bisa bekerja dengan sepenuh keikhlasan. Saya juga berkeyakinan bahwa hanya dengan keikhlasan semata, maka pahala dari Allah itu akan dapat diraih. Jadi mari kita tata niat kita untuk bekerja dengan ikhlas dan Allah pasti akan meridhoi apa yang kita lakukan.
Ketiga, kita ini adalah petugas negara, sebab berdasarkan UU No 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Haji, maka penyelenggara haji adalah negara. Oleh karena itu petugas haji hakikatnya mengemban tugas negara. Sebagai petugas negara, maka kita semua adalah duta-duta bangsa yang akan menentukan keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji. Oleh karena itu, mari kita wujudkan 5 (lima) J di atas agar penyelenggaraan haji akan memperoleh penilaian optimal, yaitu kepuasan pelanggan atau customer satisfaction.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJADI PENJAGA INTEGRITAS

MENJADI PENJAGA INTEGRITAS
Pada akhir Ramadlan, 2017, memang ada banyak kegiatan yang dilakukan oleh para pejabat unit eselon satu Kementerian Agama. Di antara yang menyelenggarakan tersebut ialah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Kali ini, saya diundang oleh Sdr M. Munir, Kasubdit Organisasi Tata Kelola pada Ditjen Pendis untuk memberikan taushiyah Ramadlan dan sekaligus pembinaan ASN pada Subdt Ortala Ditjen Pendis. Selain saya, yang menjadi narasumber adalah Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Ketua MUI dan juga Rais Am PBNU.
Pada kesempatan yang membanggakan ini, saya sampaikan tiga hal mendasar agar bisa menjadi pedoman di dalam melaksanakan kegiatan pada ditjen Pendis. Pertama, saya merasakan bahwa ada desakan yang sangat kuat agar para ASN kita semakin mematuhi regulasi. Tema-tema pembicaraan yang kita lakukan di dalam banyak hal ialah mengenai bagaimana agar compliance kita itu semakin meningkat. Itulah sebabnya pada kesempatan ini saya menyatakan apresiasi terhadap kegiatan yang terkait dengan pembinaan ASN. Kita ingin agar kita mengingat kembali niat kita untuk bekerja di Kementerian Agama. Bukankah kita ini tidak hanya mengurus persoalan duniawi tetapi juga persoalan ukhrawi. Kita mengurus orang yang akan memasuki surga dan menjaga agar mereka tidak masuk neraka.
Kedua, di dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi kita, agar kita menerapkan rumus 3 (tiga) J, yaitu: 1) Jaga integritas. Kita sudah memiliki 5 nilai budaya kerja dan yang utama dan mendasari lainnya ialah integritas. Percuma saja menjadi ASN yang professional, inovatif, jika tidak didasari oleh integritas. Tanggungjwab dan keteladanan hanya akan diperoleh jika integritas kita sangat teruji. Di dalam konteks ini, maka menjaga integritas menjadi sangat penting. Upayakan agar kita terus berada di dalam konteks kejujuran, amanah dan menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita.
Harkat dan martabat kemanusiaan kita itu sesungguhnya terletak pada kejujuran yang kita miliki dan kita lakukan. Dia tidak hanya ada di dalam slogan-slogan dan banner-banner dan bahkan juga tidak hanya ada di dalam upacara-upacara tetapi berada di dalam tindakan dan perilaku kita. Janganlah kita merekayasa kegiatan yang tidak ada kegiatannya. Janganlah kita memanipulasi public kita dengan tindakan culas yang tidak relevan dengan pedoman beragama kita.
2) Jaga kebersamaan. Di dunia ini tidak ada kesuksesan tunggal atau keberhasilan yang dicapai oleh individu dengan dirinya sendiri. Semua dilakukan dalam kebersamaannya dengan lainnya. Allah memang menciptakan kita semua untuk saling tolong menolong. Kita harus saling membantu agar kita mencapai yang terbaik. Islam mengajarkan kepada kita agar kita selalu tolong menolong di dalam kebaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia memang secara sunnatullah memiliki kemampuan dan potensi untuk saling menolong.
Kita terkadang menjadi menyesalkan jika tidak terdapat kebersamaan di dalam bekerja. Kebersamaan di dalam kebaikan. Agar kita juga saling mengingatkan. Jika ada kelakuan rekan kerja kita tentu harus diingatkan. Jangan dibiarkan bahkan ditunggu kesalahannya. Saling tolong menolong dan saling mengingatkan adalah pasangan perintah Allah untuk bekerja sama. Jika di dalam dunia kerja lalu tidak didasari oleh dua konsep ini, maka akan mengalami kegagalan. Desain Allah di dalam kerangka relasi antar manusia ialah melalui konsep pertolongan dan penasehatan. Dua prinsip ini yang kiranya akan menjadi kata kunci kebaikan, keberhasilan dan bahkan kesejahteraan.
3) Jaga kerja keras. Tidak ada keberhasilan yang bisa diperoleh tanpa kerja keras. Agar kita bisa mencapai visi dan misi kelembagaan kita, maka kita semua harus bekerja keras untuk lembaga kita. Oleh karena itu, kita harus memiliki etos kerja yang kuat. Janganlah kita bekerja apa adanya saja. Janganlah kita bekerja hanya sebatas bekerja. Akan tetapi yang diharapkan ialah bekerja yang optimal agar visi dan misi Kementerian akan bisa dicapai.
Kita harus mengaca terhadap kesuksesan negara-nega lain yang memiliki kerja keras, misalnya Singapura, Korea Selatan dan beberapa negara lainya. Singapura menjadi hebat karena kerja keras warga negaranya, demikian pula Korea Selatan yang menjadi new emerging economy juga disebabkan oleh kerja keras dari warga negaranya, khususnya para aparat negara dan aparat swastanya. Semua berupaya untuk bekerja keras sehingga misi dan program yang dilakukan akan menuai keberhasilan yang tinggi.
Dengan demikian, Kementerian Agama, khususnya Ditjen Pendidikan Islam akan bisa memberikan pelayanan yang optimal kepada para stakeholdernya di kala semua ASN-nya bisa melakukan kerja yang berbasis pada integritas dan didukung oleh kebersamaan dan kerja keras. Saya sungguh berkeyakinan bahwa bangsa pribumi malas hanyalah mitos yang dibuat oleh mereka yang tidak menghendaki kita semua maju,
Marilah kita sadari bahwa kita bisa bekerja dengan baik melalui menjaga integritas, menjaga kerja sama dan juga menjaga kerja keras yang sesungguhnya menjadi tradisi kita. bulan puasa ini saya kira adalah moment yang tepat untuk melakukan “muhasabah” terhadap apa yang sudah kita lakukan selama ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

TEROSISME DAN ANCAMAN GLOBAL (5)

TEROSISME DAN ANCAMAN GLOBAL (5)
Siapa yang tidak mengenal Baghdad, Ibu kota Iraq, kota 1001 malam? Baghdad adalah saksi kejayaan Islam di masa lalu. Baghdad menjadi ikon sejarah peradaban Islam yang luar biasa. Di kota ini Islam menjadi mercu suar dunia berkat kemajuan peradaban Islam yang sungguh-sungguh mengagumkan. Perkembangan peradaban Islam yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan di mulai dari Baghdad. Khalifah-khalifah Islam yang luar biasa terutama di era Kerajaan Abbasiyah tentu masih dicatat dengan tinta emas di dalam buku-buku sejarah Islam. Jika kita membaca sejarah Islam, pastilah kita tahu hal ini.
Sebagai ibukota kerajaan Islam, saya memastikan bahwa Baghdad adalah kota idaman untuk dikunjungi. Sisa-sisa peradaban Islam masa lalu tentu menjadi magnet tidak terelakkan untuk dikagumi. Nyaris semua kota yang pernah menjadi ibukota kerajaan kuat, ternyata memang menyimpan keagungan yang sangat tinggi. Sebutlah misalnya kota-kota di Marokko, Mesir, Turki dan beberapa kota di Eropa barat yang pernah menjadi pusat kebanggaan kerajaan Islam.
Saya memang belum pernah berkunjung ke Iraq, akan tetapi saya pernah mengunjungi Kairo, beberapa kota di Marokko, Istambul dan Iskandariyah serta beberapa kota di Eropa Barat yang pernah menjadi pusat kebudayaan Islam, maka gambaran kemegahan dan kehebatan kota itu tergambar hingga sekarang. Makanya, saya meyakini bahwa di Iraq dipastikan juga terdapat kehebatan dan kemewahan masa lalu yang terpapar di dalam gambaran bangunan-bangunannya, apakah dalam bentuk masjid, museum, bangunan istana, perpustakaan, dan bangunan bersejarah lainnya. Dan melalui teknologi informasi tentu kita tahu bagaimana keindahan Baghdad itu di masa lalu.
Baghdad menjadi rusak di kala terjadi proyek perang yang dipimpin oleh George Walker Bush, Presiden Amerika Serikat. Dengan dalih Baghdad mengembangkan senjata nuklir, maka Presiden Saddam Hussein, symbol perlawanan terhadap Barat, diperangi dan dihancurkan pemerintahannya. Saddam Hussein pun tumbang oleh tentara koalisi Barat di bawah komando George Bush. Semenjak itu, maka Baghdad sudah tidak lagi indah. Ada banyak gedung dan bangunan yang runtuh karena terkena bom atau rudal.
Baghdad menjadi serangan pihak eksternal bukan kali itu saja. Jauh di masa meredupnya kejayaan kerajaan Abbasiyah, Baghdad juga pernah diserang oleh Hulagu Khan. Baghdad pun jatuh di bawah kekuasaan Kerajaan Mongol. Tetapi anehnya, para penakluk ini justru memeluk Islam dan mengembangkan kerajaan yang kuat. Kita masih ingat nama Jengis Khan sebagai raja yang kuat di kala itu. Di kala terjadi serangan Hulagu Khan itu digambarkan bahwa sungai Eufrat dan Tigris airnya menjadi berwarna biru karena kitab-kitab yang dibuang di dalamnya. Episode kelamnya ilmu pengetahuan terjadi saat itu.
Namun demikian, perang antara Kerajaan Abbasiyah dan Pasukan Mongol itu tidaklah merusak seluruh monument berupa bangunan-bangunan yang indah. Perang di kala itu adalah perang tradisional dengan pasukan berkuda dan senjata pedang atau lainnya atau paling-paling menggunakan panah-panah berapi untuk menggempur pasukan lawan. Daya rusaknya tentu masih sebatas perang tradisional.
Sungguh perang dewasa ini sangatlah berbeda. Perang sekarang menggunakan bom eksplosif berdaya ledak sangat tinggi dan juga rudal-rudal darat serta ranjau darat yag tidak terkirakan daya rusaknya. Perang sekarang sungguh usaha untuk menghancurkan semuanya. Tidak hanya manusia akan tetapi juga bangunan monumental di dalamnya. Kita tidak bisa membayangkan berapa ratus tahun untuk mengembalikan kota atau wilayah sebagaimana sedia kala di saat perang itu belum berkecamuk.
Baghdad kira-kira seperti itu. Kota yang hancur. Tidak hanya penduduknya, tetapi juga fisikal kotanya. Jika di masa lalu kita melihat keindahan dan keagungan kota Baghdad ini, maka sekarang tinggallah puing-puing yang menyesakkan dada. Siapapun yang melihat gambaran kota Baghdad pasti menjerit meratapi kehancurannya.
Masjid yang dibangun ratusan tahun lalu menjadi puing-puing berantakan, bangunan hotel, perumahan, pusat perbelanjaan, museum, perpustakaan dan bahkan makam-makam Auliya menjadi rusak berantakan. Kota-kota indah seperti Baghdad menjadi hancur berantakan. Di kala saya menuliskan betapa kehancuran Baghdad, tiba-tiba bergulir titik air mata saya merasakan betapa kehancuran negeri 1001 malam ini. Betapa keganasan manusia yang mengatasnamakan kekuasaan untuk menghancurkam warisan budaya bangsa yang adiluhung. Duh Gusti Allah, apakah memang demikian keganasan manusia di dalam merebut kekuasaan.
George Bush telah meninggalkan warisan peperangan yang tiada hentinya di Iraq dan kemudian datanglah ISIS yang juga memiliki tujuan yang sama yaitu penguasaan atas negeri ini untuk tujuan politiknya. Bahkan yang membuat sedih mereka menggunakan Islam sebagai pintu masuknya. Islam dijadikan sebagai basis tafsir untuk melakukan perebutan kekuasaan.
Kita sungguh tidak tahu kapan perang ini akan berakhir dan siapa yang akan menjadi pemenangnya. Tetapi sebagaimana lazimnya, bahwa baik yang kalah atau yang menang tentu akan menanggung beban kerusakan sosial, fisik dan kebudayaan yang tiada taranya.
Bagi kita, adakah keadaan di Baghdad ini menjadi pelajaran agar kita tidak bercerai berai dan tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa. Saya kira kita masih memiliki nalar untuk mempertahankan keindonesiaan kita di tengah upaya radikalisme atau ekstrimisme yang terus berkembang.
Duh Gusti Allah, lindungi bangsa Indonesia ini agar tidak terjebak pada peperangan yang tidak lain adalah upaya untuk mendegradasi manusia dan kemanusiaan bahkan juga mendegradasi warisan peradaban yang adi luhung.
Wallahu a’lam bi al shawab.

TERORISME DAN ANCAMAN GLOBAL (4)

TERORISME DAN ANCAMAN GLOBAL (4)
Kampung Melayu Jakarta, 24 Mei 2017, yang selama ini damai lalu tiba-tiba menjadi sorotan mata masyarakat Indonesia dan bahkan dunia, sebab terjadi bom bunuh diri yang dilakukan oleh orang Indonesia. Warga kita sendiri, Ahmad Sukri dan Ichwan Nurul Salam. Dua ledakan bom panci, itu mengkoyak yang membawanya dan juga beberapa yang terluka dan ada juga yang meninggal dunia. Peristiwa ini berbarengan dengan terorisme di Manchester Inggris dan berdekatan waktunya dengan pemberontakan di Marawi Filipina.
Teror melalui bom bunuh diri tentu bukan barang baru di negeri ini. Sudah banyak kejadian bom bunuh diri, baik yang terjadi atau yang bisa digagalkan oleh aparat. Semua mengindikasikan bahwa gerakan terorisme memang tetap menjadi ancaman bagi negeri ini, kapan dan di manapun. Lalu muncullah sejumlah analisis tentang siapa dibalik bom bunuh diri ini. Terlepas ada atau tidak ada yang menyatakan bertanggung jawab, akan tetapi jelaslah bahwa ancaman terror bukanlah sekedar gertakan mulut belaka, akan tetapi tetap menjadi kenyataan yang realistis.
Namun demikian, di beberapa WA yang sempat saya baca, bahwa ada sejumlah kecil masyarakat yang meragukan bahwa bom bunuh diri ini dilakukan oleh kelompok ekstrimis di Indonesia. Alasannya adalah jika bom bunuh diri itu dilakukan oleh kelompok ekstrimis pastilah setelah bom meledak lalu ada yang menyatakan bertanggungjawab. Misalnya dalam kasus terror di Manchester Inggris, maka kelompok ISIS lalu mengklaim bahwa mereka dibalik terror tersebut. Lalu alasan lain bahwa bom bunuh diri itu dilakukan bukan di tempat keramaian, akan tetapi di tempat yang relative bukan terjadi kerumunan massa. Walhasil kelompok ini menyatakan bahwa bom bunuh diri itu adalah rekayasa.
Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan Pak Saud Usman mantan Kepala BNPT dan mantan Kapolda Sumsel, yang bertepatan Beliau datang ke Kantor untuk urusan penegerian Sekolah Tinggi Agama Islam Madinah Medan, lalu tentu secara sengaja saya tanyakan tentang berbagai terror yang terjadi akhir-akhir ini, maka beliau dengan tegas menyatakan bahwa gerakan terror memang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari rencana kaum ekstrimis untuk mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa.
Orang yang pernah lama bertugas di Timor Timur dan Poso ini dengan tegas menyatakan bahwa terorisme itu memang benar-benar akan menghancurkan Indonesia dan menggantinya dengan system pemerintahan baru, khilafah. Jika ada orang yang meragukannya, maka itu sebuah kesalahan besar. “saya ini pelaku yang berhadapan langsung dengan kaum teroris itu”.
Ada juga yang menyatakan bahwa terorisme itu merupakan rekayasa, kelompok agama lain dan seterusnya. Tetapi itu hal yang salah. Beliau menyataan: “Sama sekali tidak ada rekayasa dari manapun dan dari siapapun juga. Saya beragama Islam dan saya pelaku yang melakukan tindakan anti terror dan saya mengepalai Densus 88 Anti Teror. Mereka ini bekerja untuk bangsa dan negara dan bukan perekayasa terhadap terror demi terror di Indonesia.”
Di Indonesia memang banyak tersebar informasi yang menyesatkan dengan menjadikan aparat pemerintah sebagai musuh Islam. Informasi melalui medsos ini lalu dianggap sebagai kebenaran. Padahal sesungguhnya merupakan informasi yang menghasut, penuh dengan ketidakbenaran dan menyesatkan. Salah satu di antaranya ialah pernyataan Ustadz Hasyim Yahya. Ustadz Hasyim Yahya, sebagaimana ceramahnya di Mujahidin TV yang menyebar di medsos, menyatakan bahwa Densus 88 dan BNPT adalah musuh Islam. Berita-berita seperti ini yang selama ini dijadikan sebagai sumber pembenaran terhadap tindakan melakukan terror dan perlawanan terhadap masyarakat.
Ada sebagian kecil orang Indonesia yang kemudian mempercayai terhadap informasi seperti ini. Dianggapnya bahwa ceramah ini adalah ceramah agama dan penuh dengan semangat keagamaan. Dijadikan sebagai rujukan dan dijadikan sebagai pedoman untuk beragama. Padahal sebagaimana yang diketahui oleh khalayak umat Islam lainnya justru merupakan cara untuk merusak bangsa Indonesia.
Bagi kalangan ekstrimis yang memiliki agenda politik kenegaraan, maka di antara tujuan utamanya ialah mendirikan negara Islam. Dianggapnya bahwa negara Indonesia sekarang ini merupakan negara yang tidak menjadikan Islam sebagai dasarnya dan mengingkari terhadap hukum agama Islam. Hanya saja yang dilakukannya justru akan merusak misi Islam yang sarat dengan kedamaian. Bukan cara terror yang dilakukan oleh kaum ekstrimis. Mereka memanfaatkan medsos untuk menyebarkan keinginannya dan ternyata memiliki sejumlah pengaruh terhadap sebagian kecil umat Islam.
Oleh karena itu diperlukan kontra pandangan terhadap hal-hal semacam ini tentu dengan bahasa dan cara yang penuh dengan misi kemanusiaan. Umat Islam wasathiyah tentu harus melawan terhadap ajakan-ajakan provokatif untuk membenturkan umat Islam dengan pemerintah, dengan sesama umat Islam dan pemeluk agama lain. Harus ada upaya cerdas untuk menangkal hal ini agar kehidupan masyarakat Indonesia yang damai akan terus berlangsung.
Wallahu a’lam bi al shawab.