Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMPERKUAT PENDIDIKAN DINIYAH

MEMPERKUAT PENDIDIKAN DINIYAH
Tulisan ini bukanlah sebuah upaya untuk membikin makin ruwet persoalan yang menyangkut 5 ( lima) hari sekolah atau 5HS atau yang juga disebut sebagai LHS atau juga Full Day School (FDS), akan tetapi hanyalah percikan pemiiran tentang perlunya kita semua memikir kembali mengenai eksistensi Madrasah Dinyah, khususnya Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT).
Hal ini perlu saya sampaikan di dalam forum pertemuan para pengasuh Madrasah Diniyah Takmiliyah dalam acara temu teknis untuk membahas bantuan pemerintah bagi lembaga pendidikan Islam. Hadir di dalam acara ini adalah Kasubdit Madrasah Diniyah Takmiliyah, Dr. Abdul Adhim, dan Kasubag Tata Usaha, Abdur Rauf serta segenap jajaran panitia penyelenggaran dan pengelola Madrasah Diniyah se Wilayah Timur.
Di dalam kesempatan ini, saya sampaikan tiga hal penting, yaitu: pertama, tantangan Madrasah Diniyah di tengah perubahan sosial, termasuk perubahan pendidikan yang sangat cepat. Tantangan itu ialah: 1) tantangan Sumber Daya Pengajar di Madrasah Diniyah. Harus diakui bahwa lembaga pendidikan diniyah takmiliyah memang didirikan oleh masyarakat dalam berbagai stratum sosialnya. Bisa berada di pusat-pusat kota tetapi juga bisa di wilayah pedesaan yang jauh dari ingarbingar keramaian. MDT bisa ada di setiap wilayah di Indonesia ini.
Sebagai lembaga pendidikan yang didirikan oleh masyarakat tentu dengan kualifikasi, cakupan dan kualitas yang sangat beragama. Ada yang sangat maju dengan dukungan Teknologi Informasi da nada yang sama sekali tertinggal dari kemajuan-kemajuan. Makanya, tantangan utama lembaga pendidikan ini ialah ketercukupan kualifikasi tenaga pendidik dan tenaga kependidikannya.
2) Tantangan program pembelajaran. Harus diakui bahwa kebanyakan tenaga pendidikan MDT ialah berasal dari pesantren-pesantren di Indonesia. Mereka dikenal sangat menguasai content pembelajaran akan tetapi kurang dalam penguasaan metodologi pengajaran. Makanya, perlu ada sentuhan program untuk memperkuat potensi mengajar mereka dengan program terstruktur dan sistematis agar penguasaan metodologinya semakin kuat.
3) Tantangan media pembelajaran. Sebagai lembaga oendidikan yang didirikan masyarakt tentu dengan kualitas media pembelajaran yang tradisional. Nyaris belum tersentuh media pembelajaran modern. Masih apa adanya saja. Artinya, lebih banyak menggunakan media tradisional. Oleh karena itu yang juga penting dilakukan ialah dengan memberikan bekal teknologi pembelajaran yang akan mengantarkan mereka untuk dapat menyusun media pembelajaran yang lebih baik.
Kedua, menurut pendapat saya bahwa untuk memperkuat SDM, maka yang dibutuhkan oleh memberikan kemampuan dan kapasitas yang memadai. Saya teringat dengan upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Jawa Timur di era Pak GUbernur Soekarwo atau Pak De Karwo. Beliau merancang program pendidikan penyataraan Strata I bagi guru madin. Dan melalui program ini, maka pata guru madin memperoleh tambahan pengetahuan melalui jengang program Strata I. melalui kerja sama dengan PTKN dan Swasta di Jawa Timur, maka ribuan guru Madin yang kemudian bisa menyelesaikan pendidikan setara Strata I. Mereka menjadi guru yang memiliki kemampuan untuk mengajarkan konten pendidikan yang sudah dikuasainya dengan baik. Selain itu mereka juga bisa memperoleh sertifikasi sebagai guru non PNS karena telah memenuhi kualifikasi pendidikan yang bertaraf Strata I tersebut.
Sesungguhnya program inilah yang disebut oleh Pak De Karwo sebagai program kerakyatan dengan slogan “wong cilik melu iso gumuyu”. Artinya, bahwa guru-guru madin yang selama ini tidak tersentuh dengan program pendidikan formal, lalu bisa dilibatkan di dalam program pendidikan formal melalui PTKN atau PTKS. Jadi sesungguhnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan dimaksud.
Melalui program penyerataan itu, maka banyak hal yang bisa diperoleh, seperti penguasaan seperangkat metodologi pembelajaran, media pembelajaran dan juga kompetensi yang mendukung terhadap penguatan kapabilitasnya. Jadi merea tentu memiliki empat kompetensi sebagai syarat untuk memperoleh sertifikasi sebagai pendidik professional, yaitu kompetensi pedagogis, kompetensi professional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian.
Oleh karena itu melalui program penyetaraan ini, maka kita akan mendapatkan guru madin yang peofesional karena sudah memiliki sertifikasi sebagai pendidik professional. Jika demikian, maka sesungguhnya pemerintah memiliki peran penting untuk peningkatan standart mutu yang jelas. Makanya, saya kira standarisasi madin yang dilakukan oleh Direktorat Pesantren akan memiliki makna penting untuk memberikan kualifikasi mutu yang lebih baik.
Kita semua berharap bahwa madrasah diniyah yang sudah melahirkan banyak tokoh local, nasional maupun internasional ini akan semakin kuat posisinya baik di dalam system pendidikan nasional dan juga memperoleh recognisi yang jauh lebih jelas di era sekarang.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PERLU PENINGKATAN KUALITAS PTKN

PERLU PENINGKATAN KUALITAS PTKN
Hari Senin, 12 Agustus 2017, saya berkesempatan untuk menghadiri acara Seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Sriwijaya di Tengerang Banten. Saya memang berjanji akan hadir pada suatu kesempatan di STABN ini, sewaktu saya menjadi Plt. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, beberapa saat yang lalu. Namun demikian, sampai berakhirnya masa jabatan Pelaksana Tugas tersebut saya belum berkesempatan datang. Akhirnya, sampai juga waktunya untuk memberikan orasi pada segenap civitas STABN dimaksud.
Oleh Bu Yunani, MPd., (ketua Panitia Seminar), saya diminta untuk memberikan orasi ilmiah terkait dengan tema “Peran dan Tanggung Jawab Umat Beragama dalam Menghadapi Indonesia di Era Kekinian”. Hadir pada acara ini ialah para sesepuh Umat Buddha, para Bhiksu Sangha, Plt. Ketua STABN, Sapardi, SAg, MHum., Direktur Bimbingan dan Pendidikan Agama Buddha, Supriyadi, MPd., Dirjen Bimas Buddha, Caliadi, MH., dan juga segenap mahasiswa dan para dosen STABN Sriwijaya.
Saya sampaikan tiga hal mendasar terkait dengan seminar ini, yaitu: pertama, saya menyampaikan apresiasi atas terselanggaranya seminar ini, terutama dalam kaitannya dengan keinginan kita semua untuk merespon perubahan sosial yang cepat di era modernitas yang sekarang sedang kita alami.
Kedua, saya sampaikan tantangan Indonesia di era sekarang dan yang akan datang. Tantangan tersebut ialah: 1) Globalisasi yang tidak mampu untuk dibendung. Globalisasi tersebut mengalir bagai air bah menerjang setiap ladang kehidupan manusia tanpa pandang bulu. Nyaris tidak ada ruang kosong yang tidak diterjangnya. Salah satu di antara pengungkit terbesar ialah pertumbuhan teknologi informasi. TI ini menjadi piranti yang dahsyat untuk mengembangkan sayap pertumbuhan globalisasi di setiap sudut kehidupan manusia. Melalui TI maka seluruh dunia dapat dilipat dengan ringkas dan padat. Jika di masa lalu, bumi manusia itu sangat luas, maka sekarang terasa sangat sempit. Orang bisa melakukan relasi kapan dan di mana saja tanpa penghalang.
Antara TI dengan globalisasi itu merupakan variabel yang berhubungan secara timbal balik. Globalisasi dapat menumbuhkan perkembangan teknologi Informasi dan teknologi informasi juga mendorong perkembangan globalisasi sampai ke segenap penjuru dunia. Jadi di antara keduanya merupakan dua variabel yang saling berhubungan dan mensupport.
2) tantangan perkembangan ideology tran-nasional yang juga tumbuh seirama dengan perkembangan teknologi informasi. Munculnya proxy war dan cyber war juga dipicu oleh perkembangan media sosial yang tumbuh bak jamur di musim penghujan. Semua bermunculan dan semua memiliki segmen pasar yang tidak terhingga. Skype, misalnya memiliki konsumen sebanyak 500 juta orang. Belum lagi WA, Linkedin, Twitter, Facebook dan sebagainya. Semua memiliki jangkauan yang tidak terhingga ke sudut-sudut dan ruang-ruang manusia tanpa pandang usianya. Jika di masa lalu, hanya orang terpelajar saja yang menggunakan media sosial, akan tetapi coba lihat sekarang bagaimana perkembangannya. Anak-anak balita saja sudah mengakses You tube yang kondang itu.
Cyber war adalah sisi gelap teknologi informasi. Di sini semua bisa diakses dan semua bisa dipublis. Tidak ada yang bisa ditutupi. Ujaran kebencian, caci maki, sumpah serapah, makian dan sebagainya bisa diunggah dengan tanpa perasaan sedikitpun. Nyaris semuanya bisa diunggah dan diunduh dengan perangkat TI yang tersedia. Sungguh bahwa dunia ini bisa dikuasai oleh siapa yang menguasai dunia media sosial. Makanya, sekarang ini, siapa yang menguasai media, maka dialah yang yang menguasai dunia ini. Masihkah kita ingat dengan kejadian-kejadian akhir-akhir ini, di mana media sosial digunakan untuk saling mencaci maki, saling teriak dan saling mengumbar kebencian.
Ketiga, ditengah gelegak tantangan ini, maka diperlukan upaya untuk mengarahkannya kepada perubahan yang lebih baik. Kita harus ingat bahwa tahun 2045 adalah tahun Emas Indonesia, genap 100 tahun Kemerdekaan Indonesia. Tahun 2030 diperkirakan bahwa kalangan Kelas Menengah Baru Indonesia mencapai angka 102 juta. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada di antara kita yang akan menjadi bagian dari kelas menengah tersebut. Makanya, agar perubahan sosial di tengah globalisasi itu tidak salah arah, maka kata kuncinya ialah “memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia”. Saya yakin bahwa pendidikan merupakan kata kunci untuk menggapai Indonesia yang lebih baik ke depan.
Itulah tanggung jawab lembaga pendidikan kita sekarang ialah untuk menghasilkan manusia Indonesia yang akan menjadi penjaga Indonesia di masa depan. Jika kita berhasil sekarang maka akan berhasil pula Indonesia di masa depan. Dan sebaliknya. Lembaga pendidikan tinggi harus menjadi penjaga atas keutuhan dan kehebatan Indonesia sekarang dan yang akan datang. Civitas akademika memegang kata kunci keberhasilan Indonesia tersebut. Tetap tegaknya consensus kebangsaan sangat tergantung kepada bagaimana insan pendidikan tinggi merawat dan mengembangkan Indonesia yang lebih baik.
Perguruan Tinggi Agama Buddha tentu bertanggungjawab untuk tetap mengembangkan pemahaman agama yang lebih moderat. Di dalamnya harus diajarkan tafsir agama yang senafas dengan keinginan membangun Indonesia yang berbasis agama yang moderat. Kita sungguh memimpikan lembaga pendidikan Agama Budha akan menjadi instrument untuk menumbuhkan masyarakat Indonesia yang religious, modern dan tetap dalam koridor kebangsaan. Jadi, tugas lembaga pendidikan kita ini ialah untuk mencetak kaum agamawan yang berkeindonesia, maju dan modern. Bisakah kita seperti itu? Saya yakin dengan kerja keras insyaallah bisa.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGEMBANGKAN KOMPETENSI PEGAWAI

MENGEMBANGKAN KOMPETENSI PEGAWAI
Beberapa saat yang lalu, saya memperoleh peluang untuk memberikan bekal masukan bagi para ASN di dalam kerangka untuk meningkatkan kapasitasnya bagi pengembangan Kementerian. Saya sungguh merasa bersyukur bahwa di sela-sela kesibukan yang tentu menumpuk, saya masih berkesempatan untuk meberikan informasi tambahan terkait dengan peningatan kualitas SDM.
Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam hal ini, yaitu: pertama, saya selalu mengapresiasi setiap usaha untuk meningkatkan kualitas aparat pemerintah. Di dalam pemikiran saya bahwa dengan semakin berkualitasnya para ASN maka roda pemerintahan akan dapat berjalan lebih cepat dan lebih baik. Saya memiliki keyakinan bahwa melalui upaya-upaya terstruktur untuk pengembangan pegawai, maka hasilnya pastilah akan lebih baik.
Kedua, saya melihat bahwa tugas Biro Kepegawaian itu akan dapat diringkas menjadi tiga saja, yaitu: 1) peningkatan kompetensi pegawai. Sebagaimana diketahui bahwa biro kepegawaian menyandang tugas yang sangat mendasar terutama di era reformasi pegawai, yaitu meningkatkan kompeensi pegawai supaya perubahan menuju kepegawaian atau ASN yang berkelas internasional itu akan lebih cepat dicapai. Bukankah selama ini terdapat semacam ungkapan pejorative, bahwa ASN itu lamban di dalam bekerja, lambat di dalam menyelesaikan masalah, bekerja dengan prinsip easy going, dan yang lebih parah ialah koruptor, baik waktu maupun anggaran.
Untuk mengikis dan menghilangkan anggapan masyarakat seperti itu, maka tidak ada jalan lain kecuali meningkatkan kompetensi para ASN. Yag perlu ditingkatkan ialah kompetensi dasar, kompetensi professional, kompetensi sosial dan kepribadiannya. Di dalam konteks ini, maka yang sangat memerlukan sentuhan optimal ialah mengenai kompetensi professional. Jadi, setiap ASN harus dapat bekerja dengan benar dan optimal sesuai dengan tupoksinya. Tidak hanya bekerja tetapi bekerja produktif.
2) Meningkatkan kesejahteraan pegawai. Upaya ini menjadi mendasar di tengah gelegak perubahan ekonomi masyarakat yang semakin mengarah kepada keinginan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Kesejahteraan ASN merupakan kewajiban bagi biro kepegawaian yang juga mendasar. Untuk mencapai kesejahteraan tersebut, maka di antara factor pemicunya ialah profesionalitas yang terukur. Di era reformasi birokrasi ini, maka yang digunakan untuk mengukur ialah Penilaian Kinerja Kelembagaan dan ASN. Kita telah memperoleh penilaian yang cukup memadai di Kinerja Reformasi Birokrasi, dengan capaian 68, 85, dan Laporan Akuntabitas Kinerja Kementerian sebesar 69,14. Dari kondisi ini maka kemudian tunjangan kinerja (tukin) kita telah mencapai angka 60 persen.
3) Peningkatan kualitas administrasi kepegawaian. Salah satu di antara pengukuran keberhasilan pelayanan ialah jika pengurusan administrasi dapat diselesaikan dalam waktu sebagaimana tertuang di dalam Standart Pelayanan Minimal (SPM) dan juga Standart Operating Prosedur (SOP). Di dalam hal ini, maka menjadi tugas biro kepegawaian untuk menuntaskan pelayanan administrasi agar para pelangan kita menjadi lebih merasakan manfaatnya.
Ketiga, upaya kita ke depan agar tercapai keinginan pelayanan yang terbaik berbasis profesionalitas, ialah: 1) menuntaskan e-government. Sebagaimana diketahui bahwa dewasa ini di antara yang menjadi upaya optimal reformasi birokrasi ialah tercapainya Smart Government. Di antara yang penting ialah pelayanan berbasis digital. Semakin banyak layanan yang berbasis digital, maka akan semakin baik reformasi tersebut dilakukan. Itulah sebabnya, saya selalu menekankan agar makin banyak layanan kita yang berbasis digital dimaksud. Misalnya, kita telah memiliki Sistem Informasi Penilaian Kinerja (SIPKA) yang kemudian menjadi andalan di dalam pelaporan kinerja institusional seluruh unit eselon I. Tetapi yang juga penting ialah bagaimana kita merumuskan Sistem Elektronik Kinerja ASN (SIEKA) bagi penilaian kinerja individu. Tahun 2018 harus ditandai dengan penerapan sistem baru ini agar penilaian kinerja ASN tidak lagi berbasis pada kertas-kertas sebagaimana sekarang.
2) Kita harus tetap berupaya untuk meningkatkan inovasi baru di dalam pelayanan kepada masyarakat. Jangan sampai kita hanya bekerja apa adanya, tanpa berupaya untuk terus menerus membangun inovasi baru dalam kaitannya dengan pelayanan optimal. Pelayanan yang selama ini terkesan lamban, harus diubah dengan pelayanan digital yang terukur dan cepat. Makanya program Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) harus menjadi andalan kita di dalam keinginan untuk memberikan pelayanan optimal dimaksud.
3) Menuntaskan reformasi birokrasi. Ke depan, kita semua berharap bahwa LAKIP dan Evaluasi Reformasi Birokrasi kita harus meningkat menjadi lebuh baik. Jika sekarang masih B saja, maka ke depan harus berubah menjadi BB. Untuk itu, semua harus berkonsentrasi untuk peningkatan RB, dan kita berharap tahun 2018 akan menjadi tahun kebetrhasilan peningkatan kinerja ASN Kemenag dengan ditandai dengan kenaikan tunjangan kinerja kitas semua. Kita pasti bisa untuk melakukannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

AKSIOMA PADA MADRASAH

AKSIOMA PADA MADRASAH
Penyelenggaraan acara Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (AKSIOMA), Kompetisi Sains Madrasah (KSM) dan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) bagi siswa madrasah sudah usai. Saya diberi kesempatan untuk menutup acara ini. AKSIOMA, KSM dan LKTI diselenggarakan di Jogyakarta dengan diikuti oleh perwakilan siswa madrasah se Indonesia. Acara ini diselenggarakan semenjak tanggal 7 sampai 11 Agustus 2017.
Keluar sebagai juara umum dan memperoleh piala bergilir ialah kontingen Jawa Timur, dan juara umum KSM dan LKTI adalah kontingen Jogyakarta. Saya bersyukur karena para siswa dari madrasah-madrasah di luar Jawa juga menunjukkan gairah yang luar biasa dengan menjuarai beberapa nomor lomba di ajang kompetisi kali ini. Aceh, Gorontalo, Kalimantan Tengah, Sulsel, Sulawesi Utara, Bali, NTB, DKI, Jawa Barat, Banten dan daerah lainnya ternyata juga berhasil menyabet beberapa nomor lomba yang dipertandingkan di dalam ajang kompetisi ini. Hadir pada acara ini, Wakil Walikota Daerah Istimewa Jogyakarta (Drs. Heru Purwadi, MA, Kakanwil DIY (Luthfi Hamid), para pejabat eselon III dan segenap jajaran madrasah dari seluruh Indonesia.
Acara ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan backing vocal dari Paduan Suara MAN II Jogyakarta, lalu dilanjutkan dengan penampilan Amir (Komedian dari Siswa MAN II Jogyakarta dan sekaligus juga pesulap) yang pernah mengikuti ajang kompetisi di TV Swasta Nasional kita. Anak ini ternyata memang bisa melakukan perannya yang sangat baik, dengan penampilan yang sangat memadai. Lalu juga diminta kepada beberapa orang untuk menulis angka sesuai dengan perintahnya. Saya menuliskan angka 1,3,5,7,9,11.13 dan yang lain juga menulis angka untuk mengisi kolom-kolom yang sudah disediakan. Si Pesulap ini memiliki angka keramat yang ditutup dengan kain hitam. Lalu dipanggilah seorang audience untuk datang ke panggung dalam rangka menjumlahkan angka-angka yang sudah ditulis oleh kami. Ketepatan yang maju ke depan ialah salah seorang siswi dari MAN di Jawa Timur. Dari penjumlahan angka tersebut ternyata tercatat angka yang ternyata cocok dengan angka keramat yang ada di dalam papan berbalut kain hitam. Dan yang menarik ternyata ketika dibalik angka tersebut dapat membentuk huruf “AKSIOMA”. Maka tepuk tangan para audience menjadi membahana.
Selain itu juga ada hiburan lagu pop yang disuarakan oleh pemenang “Singer Madrasah”, Hani, kontestan dari Jogyakarta. Suaranya merdu. Saya memberikan komentar, sebagaimana komentator pada Ajang Akademi Dangdut, bahwa artikulasinya bagus, temponya sangat baik dan gerak penampilannya juga sangat indah, dan yang terpenting Islami”. Acara ini ditutup dengan penancapan Gunungan, sebagai lambang “Tutup Kayon” dalam dunia pewayangan. Sebagai orang yang menyukai Wayang, maka sebelum menancapkan Gunungan tersebut, maka layaknya seorang dalang, saya mengibas-ibaskan Gunungan dan mengerak-gerakkan Gunungan tersebut dan baru kemudian menancapkannya pada pohon pisang (gedebog) yang biasa dipakai sebagai tempat untuk menancapkan wayang di pakeliran. Memang back drop acara ini adalah seperangkat Jejeran Wayang di Kiri dan Kanan, layaknya pegelaran Wayang Kulit.
Saya menyampaikan tiga hal dalam sambutan penutupan. Pertama, ungkapan rasa terima kasih dan selamat. Saya sungguh merasakan bahwa keberhasilan penyelenggaraan acara ini karena dukungan Pak Gubernur, Ingkang Sinuhun Hamengkubuwono ke 10 dan segenap jajaran, serta Pak Walikota dan segenap jajarannya. Dukungan dari panitia pusat dan daerah juga sangat menentukan terhadap kelancaran acara, serta partisipasi dari para dewan juri, wasit, kepala madrasah, guru, official, pelatih, dan juga orang tua siswa dan siswa madrasah secara keseluruhan. Kepada para siswa yang memenangkan konpetisi tentu saya ucapkan selamat, dan bagi yang belum menjadi juara juga berterima kasih atas partisipasinya yang luar biasa.
Kedua, kompetisi ini sangat penting sebagai sarana untuk bersilaturahim, membangun kebersamaan dan untuk mengukur pembinaan pada madrasah. Kompetisi Seni bagi saya adalah ajang untuk olah rasa, untuk mempertajam perasaan kemanusiaan kita semua. Dengan seni maka orang akan menjadi lebih halus budinya, akan semakin peka perasaan kemanusiaannya dan akan menjadi manusia yang lebih baik. Kompetisi olahraga, bagi saya adalah ajang untuk menggerakkan badan, olah rogo, olah fisik, sehingga akan mengantarkan kita semua ke arah menjadi sehat. Fisik akan menjadi lebih sehat. Di sisi lain, Kompetisi Sains dan Karya Tulis akan mengasah otak dan pemikiran kita untuk menjadi lebih kreatif. Jika di dalam diri kita, dibangun olah roso, olah rogo dan olah pikir, maka kita akan menjadi menusia yang sempurna. Sehat fisiknya dan sehat rasanya dan juga sehat pikirannya.
Ketiga, tantangan yang kiranya harus dipikirkan adalah terkait dengan upaya untuk menjadikan program ini sebagai sarana untuk mengukur keberhasilan pendidikan baik akademik maupun non akademik. Kita telah memiliki slogan “madrasah lebih baik, lebih baik madrasah”. Program ini sudah berjalan dengan baik dan dampak positifnya juga sudah dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Jadi semuanya harus sevisi untuk menjadikan madrasah lebih baik tersebut.
Kemudian tantangan yang tidak kalah penting ialah terkait dengan pengakuan terhadap hasil-hasil kompetisi ini. Recognisi itu harus terbentuk dan menperoleh pengabsahan dari dunia akademik maupun non akademik. Jika UIN Malang dan UIN Jogyakarta siap menerima para juara setingkat pendidikan menengah atas untuk menjadi mahasiswa di dua PTKIN tersebut, maka ke depan harus lebih banyak Perguruan tinggi yang memberikan recognisi tersebut. Jadi harus diupayakan agar pengakuan terhadap produk AKSIOMA, KSM dan LKTI itu semakin banyak.
Di akhir pidato sebagaimana biasanya, saya ajak mereka untuk berteriak dengan suara menggema dengan meneriakkan kata-kata secara serentak dan menggema. Kata itu ialah Hidup AKSIOMA yang dijawab dengan teriakan Go, Go, GO. Lalu teriakan Hidup Madrasah yang dijawab dengan Yes, Yes, Yes, dan teriakan Hidup Indonesia, yang dijawab dengan teriakan Oke, Oke, Oke.
Dengan menancapkan Gunungan, maka acara ini berakhir. Joyo Joyo Wijayanti, nir ing rubedo lan sambikolo, rahayu kang pinanggih.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PELAYANAN HAJI OPTIMAL

PELAYANAN HAJI OPTIMAL
Di tengah-tengah kesibukan saya untuk menjalani 4 (empat) jabatan di Kementerian Agama (Kemenag), yaitu sebagai Sekretaris Jenderal, Plt. Dirjen Buddha, Plt. Inspektur Jenderal, dan akhirnya juga diberi mandate oleh Pak Menteri Agama, Pak Lukman Hakim Saifuddin, untuk menjabat Plt. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Tentu cukup menguras fisik dan pikiran, akan tetapi dengan semangat pengabdian, Alhamdulillah tugas tersebut dapat dilaksanakan.
Kesibukan akhir-akhir ini tentu terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji. Maklum bahwa pelaksanaan haji memang membutuhkan tenaga dan pikiran ekstra sebab selain harus memberangkatkan jamaah haji dalam jumlah yang sangat besar juga pelaksanaan haji tersebut diawasi oleh banyak pihak. Jadi, kesibukan untuk penyelenggaraan ibadah haji juga luar biasa.
Penyelenggaraan haji memang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari Kemenag dan juga telah menjadi core business Kemenag. Sebagai pelaksana mandate penyelenggara haji, maka tugas itu tentu menjadi bagian yang sangat penting untuk ditunaikan dengan optimal.
Sebagai Plt Dirjen PHU, tentu saja saya memperoleh kesempatan untuk memberikan pengarahan di dalam berbagai peluang dan kesempatan. Salah satu di antaranya ialah dalam acara pelepasan Petugas Haji yang tergabung dalam jamaah Petugas Haji non Kolter. Ada dua kali pemberangkatan, yaitu tanggal 24 Juli 2017 dan tanggal 27 Juli 2017. Pada kesempatan memberikan pengarahan tersebut saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, ucapan selamat kepada para petugas. Hari ini menandai bahwa para petugas adalah orang yang terpilih. Sungguh semua ini merupakan desain dan takdir Tuhan Yang Mahas Esa. Tidak mungkin saudara menjejakkan kaki di tempat ini, bersama kita semua, jika tidak ada rencana Allah swt untuk kita semua. Yakinlah bahwa menjadi petugas haji adalah panggilan Allah kepada orang yang terpilih. Makanya, sudah sepantasnya kita semua bersyukur atas kenikmatan Allah ini, dan kemudian melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.
Kedua, sebagai petugas maka saya memiliki rumus, yang saya perkenalkan sebagai 5 J, yaitu: J kesatu, jadilah petugas yang memahami secara mendalam tentang lokasi tempat kerjanya. Oleh karena itu, setibanya di Madinah dan Makkah agar segera melakukan orientasi lapangan. Sebagai petugas kita harus memastikan bahwa lokasi-lokasi tempat jamaah dan tempat ibadah kita kuasai dengan baik. Makanya, para petugas harus memahami pengetahuan tentang peta tempat bekerja.
J kedua ialah jadilah petugas yang terus berkerja sama. Tidak ada kesuksesan yang diperoleh orang perorang. Kesuksesan selalu merupakan kerja bersama antara satu petugas dengan lainnya. Jangan membedakan saya berasal dari mana. Ketika di Arab Saudi, maka semuanya adalah petugas negara, petugas pemerintah dan bukan petugas kementerian atau lembaga. Jadi kita mestilah bergandeng tangan agar semua tugas dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Saya yakin bahwa dengan kebersamaan maka kita akan meraih kesuksesan.
J ketiga ialah jadilah petugas sebagai duta bangsa Indonesia. Sesuai dengan Undang-Undang No 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Haji, maka haji dilaksanakan oleh negara yang di dalam hal ini dilaksanakan oleh Kementerian Agama dan terkait dengan kementerian lainnya. Sebagai petugas negara maka kita harus merasa bahwa kita adalah bangsan Indonesia. Kita bukan bangsa lain atau bahkan ketika berada di Arab Saudi kita justru merasa lebih Arab dari pada orang Arab. Tetaplah menjadi orang Indonesia dengan ciri khas orang Indonesia. Di antara ciri khas orang Indonesia itu ialah memiliki religiusitas yang tinggi, ramah dan sopan santun. Kita semuanya terkenal sebagai orang yang ramah. Dunia telah mengakui hal ini.
J keempat ialah jadilah petugas yang melayani optimal. Sungguh-sungguh harus dipahami bahwa pelayanan optimal merupakan keinginan semua orang. Termasuk para jamaah haji. Harus diingat bahwa tahun 2016, hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencapai angka baik, yaitu 83,83. Dengan skore ini maka pelayanan jamaah haji kita dinyatakan secara kualitatif memuaskan. Tugas kita semua para jamaah haji, baik kloter maupun non kloter tentu harus memberikan kepastian kita memperoleh layanan yang lebih baik. Kita harus tingkatkan pelayanan kita semua, sehingga bisa memperoleh hasil penilaian survey BPS di atas 85. Jika kita bisa maka kita akan memasuki babak baru pelayanan prima, yaitu pelayanan yang sangat memuaskan.
Ketiga, menurut saya, bahwa kita semua adalah pelayan tamu Allah, dhuyufur rahman. Sebagai pelayan tamu Allah maka keikhlasan bekerja menjadi kata kunci penting. Jangan pernah kita merasa kesal, cemberut apalagi marah kepada jamaah haji kita itu. Harus diingat bahwa mereka adalah warga bangsa Indonesia yang sama dengan kita. Namun dengan kenyataan bahwa mereka adalah orang yang rata-rata memiliki tingkat pendidikan, pengalaman dan pengetahuan yang relative tidak tinggi. Jadi, kenyataan ini harus disadari dengan optimal agar ketika kita bisa melayani dengan sebaik-baiknya. Sekali lagi layani dengan hati agar pelayanan kita itu menimbulkan efek senang dan bahagia bagi orang lain.
Wallahu a’lam bi al shawab.