Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENDORONG E-GOVERNMENT PADA KEMENTERIAN AGAMA

MENDORONG E-GOVERNMENT PADA KEMENTERIAN AGAMA
Sesungguhnya semenjak awal tahun 2017, saya sudah menulis tentang “Tahun 2017 sebagai tahun digitalalisasi pelayanan Kementerian Agama”. Sayangnya bahwa pelaksanaannya ternyata tidak semudah memberikan arahan secara konseptual. Di dalam hal yang sangat teknis sekalipun, maka diperlukan keterlibatan secara mendalam.
Saya menyadari bahwa padatnya tugas terkait dengan jabatan-jabatan di Kementerian Agama menyebabkan menjadi kurang focus untuk menangani persoalan yang sesungguhnya memerlukan penanganan lebih memadai. Itulah sebabnya di kala saya melihat bahwa perkembangan digitalisasi pelayanan ini terasa stagnan, maka saya meminta kepada tim untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya menjadi bottle neck yang menjadi penghambatnya.
Makanya, di dalam dua minggu terakhir ini kami memerlukan berbagai penjelasan tentang problema dan hambatan pelaksanaan e-government yang menjadi idaman kita semua. Yang menjadi focus saya ialah bagaimana agar kinerja ASN Kemenag segara bisa didigitalisasikan secara memadai, sehingga bagaimana profile kinerja ASN tersebut dapat dilakukan secara lebih mendalam. Saya sudah sering mendengar mengenai rencana di Biro Kepegawaian yang akan mengaplikasikan 7 (tujuh) layanan elektronik. Lalu, apa dan bagaimana 7 (tujuh) layanan tersebut dipersiapkan, dan bagaimana ketersediaan perangkat lunak dan piranti kerasnya tentu harus dipetakan secara akurat.
Pada minggu ketiga bulan Agustus, maka saya kumpulkan seluruh jajaran Biro Kepegawaian yang terlibat di dalam penyiapan electronic government tersebut. Hadir pejabat eselon 3 dan 4 serta teknisi ICT yang bekerja di Biro Kepegawaian. Mereka laporkan tentang 7 (tujuh) aplikasi yang direncanakan, yaitu: e-izin belajar dan tugas belajar, e-kenaikan pangkat otomatis, e-kinerja ASN, e-administrasi pensiun, e-penghargaan, dan lainnya.
Di antara sekian aplikasi yang akan dikembangkan, maka yang sungguh-sungguh menjadi perhatian saya ialah mengenai e-kinerja. Mengapa e-kinerja perlu untuk didorong lebih kuat agar bisa dicapai. Di dalam konteks manajemen kinerja, maka tolok ukur ketercapaian kinerja sangat tergantung pada bagaimana ASN melakukan pekerjaan yang relevan antara visi, misi, sasaran strategis dan indicator kinerja, sehingga out put dan out come yang dirancang akan bisa dihasilkan produknya secara optimal.
Dari pertemuan ini menghasilan beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu: memperkuat tim IT di biro Kepegawaian, melakukan pertemuan dengan Tim BKN yang sudah memiliki aplikasi e-kinerja dan merumuskan apa saja yang dibutuhkan untuk mendukung terhadap implementasi e-kinerja Kemenag dan kapan kegiatan ini bisa dimulai. Bagi saya, bahwa apapun hasilnya, tahun ini harus dilaunching e-kinerja Kemenag oleh Menteri Agama.
Maka, hari Selasa, 22/08/17, dilakukan pertemuan dengan Tim BKN, yang dihadiri oleh Diretur Kinerja ASN pada BKN, Ibu Nenny dan Ibu Siwi, ahli IT BKN. Saya sangat bersyukur bahwa berdasarkan pemaparan dari Ibu Direktur, maka kita mendapatkan gambaran bahwa ke depan, seluruh K/L harus menerapkan system aplikasi e-kinerja sebagai salah satu alat ukur ketercapaian program dan kegiatan pada K/L dimaksud. Secara seloroh saya nyatakan bahwa “kenapa tidak dulu-dulu saya bertemu dengan Ibu”. Sambil saya lanjutkan, bahwa “dengan bertemu Ibu rasanya, saya memperoleh gambaran apa yang seharusnya dilakukan oleh Kemenag”.
Menurut Ibu Penny, bahwa BKN memerlukan waktu 3 (tiga) tahun untuk mengaplikasikan e-kinerja sehingga bisa ditampilkan lebih sempurna. Tentu dilakukan dengan perbaikan demi perbaikan sehingga sekarang sudah relative lebih memadai untuk menggambarkan laporan kinerja ASN di BKN. Secara umum sudah terdapat 37 K/L yang menggunakan aplikasi ini, dengan modifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya. Ada 6 (enam) tahap di dalam mengimplementasikan e-kinerja di BKN. Enam tahapan sebagai berikut: Tahap pertama, membangun system data aktivitas harian. Tahap Kedua, Pendataan aktivitas kedinasan yang terkait dengan SPK. Tahap ketiga, menyusun dan mengimplementasikan data rencana kegiatan bulanan sebagai tahapan sasaran kinerja pegawai dan rencana data kegiatan tahunan (perjanjian Kinerja/Renstra/DPA/POK). Tahap keempat, mengkaitkan system dengan Evaluasi Jabatan (data base tupoksi dan jabatan/ analisis jabatan). Tahap kelima, menggabungkan system dengan data base kompetensi PNS. Tahap keenam, Pemanfaatan data PNS dalam rangka merit system.
Sebagaimana yang disampaikan oleh tim kerja Biro Kepegawaian, maka untuk penerapan e-kinerja Kemenag tahun 2017 diharuskan seluruh ASN Sekretariat Jenderal harus menerapkan e-kinerja itu pada tahun 2017 dan seluruh unit eselon satu akan menerapkannya tahun 2018. Dari meeting ini juga dihasilkan beberapa kesimpulan utama, yaitu: membentuk tim kerja unit setjen, yang terdiri dari seluruh tim ICT setjen, lalu melakukan pertemuan secara rutin dengan tim BKN, dan membuat penjadwalan tentang implementasi e-kinerja secara utuh, serta memetakan kekuatan sarana dan prasarana yang terkait dengan implementasi e-kinerja bagi ASN Kemenag.
Saya tetap yakin bahwa ke depan, pelayanan Kemenag harus berbasis elektronik karena hal ini bukan pilihan tetapi kewajiban. Di dalam konteks ini maka harus terjadi perubahan mindset ASN dari laporan berbasis paper menjadi laporan kinerja elektronik. Saya kira memang perlu usaha lebih keras untuk mewujudkannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMBANGUN KUALITAS PELAYANAN KERUMAHTANGGAN KANTOR

MEMBANGUN KUALITAS PELAYANAN KERUMAHTANGGAN KANTOR
Hari Sabtu, 26/08/17, di halaman Kantor Kementerian Agama (Kemenag) di Jalan Lapangan Banteng, 3-4 Jakarta Pusat diselenggarakan apel dalam rangka persiapan pemberangkatan peserta Pelatihan dan Pendidikan Pelayanan Kerumahtanggaan pada Biro Umum Kemenag Jakarta. Acara ini diikuti oleh sebanyak 300 orang yang terdiri dari tenaga kebersihan, tenaga keamanan dan tenaga outsourcing lainnya. Sebanyak 140-an orang akan melakukan touring dengan menaiki sepeda motor sementara lainnya akan naik bus Kemenag. Mereka semua akan menuju ke Ciloto Puncak untuk mengikuti pembinaan pelayanan kerumahtanggan Kemenag.
Acara ini memang dikemas dengan menggunakan prinsip learning by having fun, yaitu acara pembinaan pegawai akan tetapi juga dikaitkan dengan acara touring, kerja bakti membersihkan masjid di daerah yang dilewati tim touring dan juga outbound yang diikuti oleh segenap peserta. Acara yang saya kira cukup menarik sebab selama ini mereka bekerja sebagai satuan pengamanan dan satuan kebersihan tentu pekerjaan yang bergerak dari itu ke itu saja. Dengan menyelenggarakan touring ini, maka mereka akan merasakan sesuatu yang berbeda dengan nuansa pekerjaan yang dilakukannya selama ini.
Sebagai pengarahan, maka saya sampaikan tiga hal mendasar, yaitu: pertama, saya mengapresiasi terhadap inovasi baru terkait dengan model pembinaan pegawai. Jika selama ini selalu menggunakan pola ceramah searah, terutama terhadap pekerja outsourcing, maka dengan mengombinasikan acara pembinaan dengan kemasan having fun, maka akan diperoleh nuansa baru, yaitu joyfull learning. Saya tentu sangat mengapresiasi terhadap kegiatan pembinaan pegawai dengan pola seperti ini.
Kedua, saya tekankan bahwa pekerjaan pengamanan dan pembersihan adalah pekerjaan mulia. Bayangkan seandainya sebuah kantor tanpa kehadiran satuan ini, maka sungguh nuansa kantor akan menjadi tidak menyenangkan. Kebersihan menjadi amburadul dan keamanan kantor akan menjadi terancam. Bukankah di dalam kantor itu terdapat ratusan milyar Barang Milik Negara (BMN) yang harus dijaga dan diamankan. Dan juga harus dijaga kebersihannya. Makanya, kehadiran satuan keamanan dan satuan kebersihan menjadi sangat vital. Orang sering kali meremehkan terhadap pekerjaan seperti ini. akan tetapi menjadi tenaga keamanan dan kebersihan bagi saya adalah pekerjaan yang sangat mulia karena memiliki fungsi yang sangat penting bagi jalannya roda pemerintahan.
Kita semua mendambakan sebuah kantor yang hijau, bersih dan aman. Green office adalah bagian tidak terpisahkan di dalam kerangka membangun Indonesia berkelanjutan. Sustainable Development Goals (SDG) tentu akan diawali dengan bagaimana kantor dan ruang di dalamnya memiliki kebersihan dan keindahan. Indah itu tentu terkait dengan bagaimana kita mengemas kantor kita itu menjadi hijau dan bersih. Yang paling sederhana untuk melihat kebersihan kantor itu ialah melihat kebersihan toiletnya. Jika toiletnya bersih, maka yang lain juga akan bersih. Kepada Pak Syafrizal, Kepala Biro Umum, kiranya diperlukan “Lomba Kebersihan Toilet” di kantor kita.
Semua pekerjaan itu sesungguhnya mulia jika dimaknai sebagai ibadah. Jadi yang dibutuhkan bukan hanya honor atau gaji bulanan, akan tetapi juga pahala dari Allah SWT. Saya yakin bahwa setiap orang yang bekerja dan diniati sebagai ibadah, maka akan mendapatkan pahala dari Alla SWT. Oleh karena itu mari kita niatkan kita bekerja selain untuk memberikan nafkah keluarga, juga untuk beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampai kita hanya berhenti pada bekerja untuk dunia, tetapi mari kita bekerja untuk akhirat kita semua. Jika ada kantor yang bersih, maka dipastikan itu adalah peran para office boy, yang sering disingkat dengan OB. Jika kantor kita aman, maka pasti itu adalah peran satuan pengamanan (satpam). Pengamanan kantor itu menjadi sangat vital, sebab satpam itu akan menjaga terhadap keamanan kantor secara fisik, misalnya keberadaan air, keamanan listrik, keamanan fasilitas milik negara dan bahkan keamanan nyawa orang-orang yang berada di dalamnya. Jadikanlah orang yang bekerja merasa nyaman, jadikan orang yang menaruh barang di kantor ini merasa enjoy dan jadikan semua yang ada di dalam maupu luar kantor berada di dalam rasa keamanan. Dengan cara ini, maka orang akan bisa bekerja secara terfokus sebab sudah ada sekelompok orang yang akan mengamankan dirinya dan barang-barang miliknya. Oleh karena itu sungguh-sungguh kita memiliki tanggung jawab yang besar bagi kehidupan dan keberlangsungan penyelenggaraan birokrasi di kantor kita.
Ketiga, jadilah kita ini petugas yang ramah. Jadilah petugas yang melayani. Siapkan diri dengan 3 S, yaitu: Senyum, Salam dan Sapa. Upayakan kita bisa tersenyum dengan senyum yang ikhlas, bukan senyum yang dipaksakan. Upayakan agar kita memberi salam kepada siapapun yang datang ke kantor kita dan upayakan sapa mereka semua dengan sebaik-baiknya. Tanyakan mau kemana dan tunjukkan tempatnya dan bahkan jika perlu diantarkan ke tempat yang dituju. Berikan kepada orang yang datang bahwa kita memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya. Jasa kita itu akan dikenang sebagai pelayanan yang optimal. Di akhir pidato, saya minta mereka untuk bersama-sama meneriakkan tiga hal, yaitu: “kita harus sehat” dan agar dijawab “yes, yes, yes.” Lalu, saya teriakkan “memberikan pelayanan optimal” agar dijawab “Oke, Oke, Oke” dan saya teriakkan “Kementerian Agama” agar dijawab dengan “hebat, hebat, hebat”.
Saya sungguh yakin bahwa dengan kebersamaan dan kesungguhan bekerja yang baik, maka citra Kemenag akan semakin baik di masa yang datang. Sebagaimana slogan kita “semakin bersih dan semakin dekat dengan umat”, maka hal itu akan menjadi realitas yang sesungguhnya terjadi di kalangan kita semua, jika kita berkarya nyata.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENENTUKAN TANGGAL SATU DZULHIJJAH 1438 H

MENENTUKAN TANGGAL SATU DZULHIJJAH 1438 H
Sungguh perputaran bulan terasa cepat sekali. Seingat saya, rasanya baru saja saya menjemput jamaah haji Indonesia untuk kloter terakhir di Madinah tahun 1437 Hijriyah atau tahun 2016 Masehi. Tetapi hari-hari ini jamaah haji Indonesia sudah berangkat lagi untuk melaksanakan haji tahun 1438 Hijriyah atau 2017 Masehi. Dunia berputar semakin cepat.
Tanggal 22 Agustus 2017 atau bertepatan tanggal 29 Dzulqo’dah 1438 Hijriyah yang baru lalu, saya diberi amanah oleh Menteri Agama RI, Bapak Lukman Hakim Saifuddin, untuk memimpin pelaksanaan Sidang Itsbat dalam rangka menentukan tanggal 1 Dzulhijjah 1438 H. Sebagaimana biasanya, maka sidang itsbat ini dihadiri oleh para Duta Besar dan Kepala Perwakilan Negara-Negara Sahabat. Datang antara lain, Duta Besar Bosnia Herzegovina, Duta Besar Lybia, Arab Saudi, Brunei, dan beberapa lainnya. Selain itu juga hadir para perwakilan organisasi Islam, seperti NU, Muhammadiyah, Perti, Jamiyatul Washiliyah, Persis dan lain sebagainya. Tentu saja juga Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, dan para pejabat eselon dua dan tiga, serta para pakar di bidang ilmu falaq dari seluruh Indonesia.
Sebagaimana tradisi yang selama ini sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari prosesi menentukan awal Dzulhijjah, awal Ramadlan dan awal Syawal, maka acara inti dimulai dengan pemaparan pandangan ilmiah tentang metodologi Hisab oleh Cecep Purwendaya, anggota Majelis Hisab dan Rukyat Kementerian Agama. Di dalam uraian yang sangat akademis, Pak Cecep menjelaskan tentang bagaimana metodologi hisab modern digunakan dan bagaimana hasilnya. Dari uraian panjang tersebut maka sesungguhnya terdapat 4 (empat) indicator yang digunakan untuk menentukan awal bulan, yaitu: tinggi hilal, jarak elongasi, lama hilal dan umur hilal. Empat hal ini yang dijadikan sebagai ukuran untuk menentukan dan dijadikan sebagai referensi untuk melalukan rukyatul hilal. Berdasarkan perhitungan sains tentang hilal, maka dijelaskan bahwa tinggi hilal berada di dalam kisaran 6-8 derajat. Di Lembang ketinggian hilal sebesar 7,50 derajad, lama hilal 31,55 detik, umur hilal 16,22,22 detik, dan jarak elongasi 7,54 derajat. Dengan menggunakan referensi yang bervariasi, misalnya Odeh dan lain-lain, maka dipastikan bahwa hilal akan terlihat atau bisa dirukyat. Meskipun di beberapa daerah dalam keadaan hujan atau cerah berawan, maka dipastikan bahwa hilal akan terlihat dengan mata kepala, baik langsung atau menggunakan bantuan teknologi pengindraan atau teleskop.
Sidang itsbat menggunakan urutan, yaitu: pertama, pembukaan. Di dalam acara ini saya gambarkan kesimpulan dari pemaparan Pak Cecep dan kemudian membuka secara resmi acara sidang itsbat. Kedua, mendengarkan laporan dari Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Drs. Mohammad Thambrin, MAg., sebagai pertanggungjawaban atas pelaksanaan rukyat yang dilakukan di 70 titik di seluruh Indonesia. Ternyata ada sebanyak 10 orang yang bersumpah melihat hilal, yaitu dua orang dari peneliti BOSCA, dua orang dari Lajnah Falaqiyah NU, dari pesantren, dari kementerian agama dan dari UIN Walisongo Semarang. Berdasarkan atas kesaksian tersebut, maka disimpulkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah sudah bisa ditetapkan malam ini.
Ketiga, berdasarkan Keputusan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2004, bahwa Kementerian Agama memiliki otoritas di dalam menentukan 1 (satu) Ramadlan, 1 (Satu) Syawal dan 1 (satu) Dzulhijjah. Atas fatwa ini, maka Kementerian Agama memiliki kewenangan secara syar’i untuk menentukan kapan awal bulan tersebut terjadi. Namun demikian, sebagaimana tradisi penentuan awal bulan di Kementerian Agama, maka segenap peserta sidang istbat tentu diperkenankan untuk memberikan tanggapan secukupnya. Lalu, KH. Ghazali Masruri, Ketua Lajnah Falaqiyah PBNU memberikan tanggapannya bahwa setiap tahun, NU sudah mengeluarkan kalender hijriyyah yang didadasrkan atas peritungan atau hisab dan juga dipadukan dengan rukyah. Dan hasilnya dapat diketahui oleh masyarakat umum.
Mendengarkan pemaparan para ahli, baik dari sisi hisab maupun rukyat, maka NU menentapkan bahwa tanggal 1 (satu) Dzulhijjah jatuh pada hari Rabu, 23 Agustus 2017. Dengan penetapan ini, maka NU berharap agar kerukunan, harmoni dan kebersamaan antar umat beragama akan menjadi semakin baik. Kemudian, Pak Yunahar Ilyas dari MUhammadiyah juga menyatakan agar segera ditetapkan tanggal 1 (satu) Dzulhijjah sebab sudah tidak ada lagi pertentangan di dalamnya.
Keempat, berdasarkan atas hasil rukyat dan hisab sebagaimana yang menjadi tradisi di dalam penentuan awal bulan, dan juga mendengarkan tanggapan dari tokoh organisasi Islam, maka dapat ditentukan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 438 Hijriyah akan jatuh pada Hari Rabo Kliwon tanggal tanggal 23 Agustus 2017. Tahun ini sebagaimana tradisi Indonesia untuk melakukan sidang itsbat yang menggunakan dua metode sekaligus, yaitu berpatokan pada prinsip imkanur rukyat, maka akhirnya dapat diketahui bahwa pelaksanaan Hari Raya Idul Adha akan dapat dilaksanakan secara bersama-sama.
Kita tentu merasa bersyukur bahwa penyelenggaraan hari raya idul adha dapat dilaksanakan serentak pada hari yang sama, meskipun perbedaan tentang penyelenggaraan hari raya bukanlah masalah prinsip, akan tetapi kebersamaan tentu akan memiliki makna yang lebih baik.
Wallahu a’lam bi al shawab.

BANG HAJI RHOMA IRAMA DAN LEGENDA DANGDUT INDONESIA

BANG HAJI RHOMA IRAMA DAN LEGENDA DANGDUT INDONESIA
Saya merasa medapatkan kehormatan di kala Bang Haji Rhoma Irama memberikan kenangan tulisan tangan dan fotonya terkait dengan Hari Ulang Tahun saya, tanggal 7 Agustus 2017. Kenangan ini saya peroleh dari kawan-kawan BNI, Sdr. Poppy dan kawan-kawan yang mengupayakan agar saya mendapatkan hadiah yang istimewa dari Bang Haji Rhoma Irama. Tulisan Bang Haji itu berbunyi: “Selamat Ultah Pak Nur Syam yang ke 59 semoga panjang Umur dan sukses selalu”. Tulisan ini ditandatangani oleh Beliau. Dengan hadiah itu, maka saya SMS beliau sebagai ungkapan rasa terima kasih, dan beliau balas juga pada hari yang sama.
Sehari berikutnya saya kontak Bang Surya AKA, mantan wartawan Jawa Pos, yang tentu saya kenal sangat baik, karena sama-sama dari Surabaya. Bang Surya AKA adalah Ketua Umum FORSA, sebagai wadah atau organisasi fans Bang Haji Rhoma Irama. Saya sampaikan kalau saya mendapatkan kehormatan dari Bang Haji terkait dengan ultah saya. Maka, Bang Surya menyampaikan kalau Bang Haji bersama Indosiar akan live show di Ancol dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 72. Maka tiba-tiba saya teringat bagaimana caranya untuk memberikan kenangan yang sama. Saya ingin Bang Haji juga memperoleh kenangan yang mirip dengan kenangan Beliau kepada saya. Lalu saya putuskan untuk memberikan juga foto saya dan ungkapan yang saya anggap penting. Maka saya pilih foto terbaik yang akan saya pigurakan bersama dengan tulisan tangan saya sebagai kenang-kenangan kepada Bang Haji Rhoma Irama. Tulisan saya di dalam pigura itu berbunyi: “Soneta dan Bang Haji Rhoma Irama adalah legenda Musik INDONESIA. Semoga Bang Haji selalu sehat dan terus berkarya untuk INDONESIA”.
Kebetulan Beliau akan melakukan checking sound system untuk acara live show Indosiar di Taman Impian Jaya Ancol. Maka beliau saya SMS dan memberikan penegasan bahwa pada tanggal 16/8/2017, beliau akan melakukan checking sound system tersebut. Saya juga bersyukur bahwa ucapan kenangan itu sudah selesai sehari sebelumnya, sehingga tidak ada kesulitan untuk menyampaikannya. Makanya, pada tanggal 16/8/2017, saya luangkan waktu untuk menemui Beliau di Ancol. Tepat jam 15.. WIB saya sampai di lokasi pagelaran music Soneta Grup. Dan kira-kira jam 16.00 WIB Beliau sampai di lokasi. Beliau belum naik ke panggung untuk melakukan checking sound system. Beliau berada di mobil Alphard. Jemi yang mengetahui bahwa Bang Haji Rhoma Irama berada di Mobil. Lalu Jemi mengajak saya untuk bertemu Bang Haji Rhoma Irama.
Tentu sebuah pertemuan yang menyenangkan. Meskipun tidak dilakukan di tempat khusus dan hanya di mobil, tetapi saya kira merupakan pertemuan yang berkesan. Saya sampaikan kepada Beliau, bahwa hadiah kenangan untuk ultah saya dari Bang Haji Rhoma Irama itu sungguh sangat berkesan bagi saya. Foto yang berada di dalam hadiah itu tentu menjadi inspirasi saya untuk memberikan cendera mata yang sama. Keinginan itu tercapai karena Bang Haji Rhoma Irama menerima pemberian hadiah itu dengan senang hati. Bahkan sehari berikutnya Beliau SMS saya: “Prof terima kasih atas cendera matanya”.
Sayang memang saya tidak bisa hadir di dalam acara pagelaran Peringatan Kemerdekaan yang diselenggarakan oleh Indosiar di Taman Impian Jaya Ancol itu. Tetapi moment penting ini tentu tidak akan saya kewatkan begitu saja. Maka setelah saya datang dari Bogor, maka saya harus menyempatan diri untuk nonton pagelaran music dangdut yang hingga hari ini masih menjadi bagian dari cita rasa music saya. Dangdut memang telah menjadi bagian dari kehidupan saya. Akan tetapi bukan music dangdut yang seronok dan kurang etis. Saya secara khusus memang menggandrungi music dangsut terutama Soneta Grup dengan Bang Haji Rhoma Irama. Selain memberikan hiburan tentu juga memiliki nuansa religious. Ada nada dakwah di dalamnya.
Saya tentu masih teringat kala saya memajang poster Bang Haji di rumah di pedesaan Tuban Jawa Timur. Maklum di masa lalu, di saat membeli kaset Bang Haji, maka dipastikan mendapatkan poster ukuran besar. Saya masih bisa mengingat gambar Bang Haji di dalam poster itu. Dengan rambutnya yang panjang keriting, sepatu berhak tinggi, celana warna putih lebar di bawah –kami menyebutnya celana komprang—dengan sal warna hijau dan baju putih dengan gaya memetik gitar, sungguh gagah sekali. Bahkan saya pun mengikuti gaya celananya yang memang menjadi trend di saat itu.
Di saat pagelaran HUT Kemerdekaan itu tentu ada peristiwa yang bagi saya sangat mengharukan dan tanpa terasa air mata saya meleleh, ialah di saat Bang Haji menyerahkan gitar tua, yang usianya kira-kira 20 an tahun, banyak digunakan untuk mencipta lagu, kepada Fans Bang Haji. Aji, adalah orang yang beruntung mendapatkan hadiah gitar tua itu. Kepada Anggota FORSA ini Bang Haji nitip pesan agar gitar itu dirawat. Sambil menyanyikan lagu yang sangat fenomenal, “Gitar Tua”, Bang Haji menitikkan air matanya. Dengan suaranya yang khas, Beliau menyanyikan lagu itu dengan suara bergetar. Sungguh merupakan moment yang mengharukan.
Namun demikian, juga terdapat satu momentum yang tidak akan pernah saya lupakan adalah saat saya pertama kali bertemu Bang Haji pada tahun 1982. Saat itu Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel menyelenggarakan acara Pelatihan Kader Dai bagi Mahasiswa se Jawa Timur. Sebagai Sekretaris Umum Senat Mahasiswa, saya diminta untuk mencari dukungan dana. Pada saat itu Bang Haji melakukan pementasan Musik Dangdut di Tuban. Hal ini tentu ini merupakan moment penting. Dengan Bus, saya datang ke Tuban untuk memohon bantuan kepada Bang Haji Rhoma Irama. Beliau menginap di Hotel Purnama Tuban, dan jam 16.30 WIB saya diterima di teras depan Hotel Purnama. Saya sampaikan proposal kegiatan dan tanpa basa basi saya sampaikan keinginan saya itu. Dan yang tidak terduga adalah Bang Haji lalu memberikan bantuannya sebesar Rp. 50.000,00. Uang sebegitu tentu sudah cukup banyak di saat itu. Kenangan ini tentu masih tersimpan di dalam memori saya.
Hanya sayangnya kala itu belum ada camera digital atau HP yang bisa dipakai untuk selfie. Jika ada tentu dapatlah saya berfoto selfie dengan Bang Haji Rhoma Irama. Walaupun begitu dengan tulisan ini saya berharap kenangan itu menjadi terdokumentasikan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PENGUATAN SUMBER DAYA MANUSIA

PENGUATAN SUMBER DAYA MANUSIA
Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) pada Kementerian dan Lembaga tentu sangat penting. Kekuatan birokrasi sebenarnya terletak pada bagaimana SDM pada Kementerian/Lembaga tersebut dapat mengawal roda birokrasi dengan sebaik-baiknya dan sangat optimal. Di dalam kerangka ini, maka Kemenag menyelenggarakan acara-acara yang bertujuan untuk penguatan SDM dimaksud.
Saya memperoleh kesempatan untuk memberikan materi pembekalan terkait dengan pengembangan SDM khususnya pada Biro Keuangan dan Barang Milik Negara (BMN) di Bogor beberapa saat yang lalu. Acara ini diselenggarakan dengan diikuti oleh para pengelola keuangan, yang terdiri dari kabag keuangan pada unit eselon satu dan juga dari daerah.
Saya sampaikan tiga hal penting dalam kaitannya dengan pengembangan kapasitas SDM, khususnya SDM bidang keuangan. Pertama, saya mengapresiasi atas upaya untuk melakukan pengembangan kapasitas SDM yang tentu menjadi keinginan kita semua untuk memperbaikinya. Sebagaimana diketahui bahwa kebanyakan SDM di Kemenag tentu saja ialah bergelar Sarjana Agama, baik yang berlatarbelakang pendidikan, dakwah, syariah atau lainnya. Jadi, SDM bidang keuangan juga di dalam banyak hal adalah lulusan prodi-prodi agama. Oleh karena itu penguatan kapasitas menjadi sangat penting untuk dilakukan. Juga harus diakui bahawa ada di antara SDM keuangan yang berlatar pendidikan ekonomi atau akuntan akan tetapi jumlahnya tentu tidak sebanding dengan kebutuhan yang diinginkan.
Kedua, untuk memperkuat SDM keuangan tersebut, saya menyampikan rumus 5 (lima) U, yaitu: 1) update pengetahuan tentang tata kelola keuangan. Jangan pernah berhenti untuk memperbarui pengetahuan kita itu. Kita semua harus membaca dan membaca. Jangan merasa bahwa pengetahuan kita itu sudah cukup sehingga kita lupa untuk mengupdate pengetahuan kita. Perubahan demi perubahan terus berjalan sementara itu pekerjaan rutin menyita waktu dan hari-hari kita. Namun jangan lupa bahwa memperbarui pengetahuan tentu sangat penting. Jangan menjadi orang yang selalu terlambat dalam mengantisipasi atau merespon perubahan karena ketidaktahuan kita tentang perkembangan baru tersebut.
2) Update keahlian kita di dalam tata kelola keuangan. Keahlian itu mengandung dimensi pengetahuan konseptual dan teoretik. Di tengah perubahan misalnya tata kelola keuangan yang semula berbasis kas lalu menjadi berbasis akrual, maka secara teoretik dan konseptual harus dipelajari. Tidak hanya bertanya “ma huwa akrual” akan tetapi juga “wa ma adraka ma akrual”. Di kala kita berbicara tentang apa dan bagaimana serta apa yang ada di dalam akrual, maka dipastikan dibutuhkan seperangkatan keahlian, baik secara teroretik maupun konseptual.
3) Update keterampilan dalam tata kelola keuangan. Sebagai bendaharawan atau jabatan yang terkait dengan pengelolaan keuangan, maka harus selalu memperbaharui keterampilannya dalam pengelolaan keuangan. Misalnya di saat terjadi perubahan tata kelola keuangan dari basis kas ke basis akrual. Maka dipastikan bahwa para pengelola keuangan harus mengubah keterampilannya di dalam system akuntansi. Bagi mereka yang memiliki basis keilmuan di bidang akuntansi tentu bukanlah hal yang rumit, namun bagi mereka yang memiliki bidang kajian di luar akuntansi tentu akan mengalami banyak kendala. Makanya, up grade keterampilan di dalam pengelolaan keuangan berbasis akrual lalu menjadi sangat urgen.
4) Upgrade kebersamaan di dalam bekerja. Saya selalu menekankan betapa pentingnya kebersamaan ini. Saya tidak akan pernah lelah untuk mengajak semua ASN Kemenag agar terus menerus memperbaharui kebersamaannya di dalam mengerjakan tupoksinya. Yakinlah bahwa hanya dengan kebersamaan, maka pekerjaan yang sulit akan dapat diselesaikan. Saya selalu teringat betapa beratnya tantangan penyusunan LKKA tahun 2016. Akan tetapi dengan kebersamaan para Duta Akrual berbasis WA, ternyata masalah-masalah yang rumit bisa didiskusikan penyelesaiannya. Bahkan dengan kehadiran Duta Akrual ini, maka Kemenag diapresiasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai karya inovatif di dalam penyusunan LKKA tahun 2016.
5) Update lingkungan kerja agar selalu kondusif untuk bekerja optimal. Saya berkeyakinan bahwa dengan lingkungan kerja yang nyaman, maka akan terbentuk kerja sama yang baik. Maka proposisinya dapat dinyatakan bahwa “di dalam lingkungan kerja yang kondusif, maka akan tercipta kerja sama yang baik dan berkualitas”. Lalu, “dengan kerjasama yang baik dan berkualitas, maka pencapaian kinerja terbaik akan dapat dihasilkan” dan seterusnya. Oleh karena mari terus menerus kita perbaharui lingkungan kerja kita agar bisa menjadi prasyarat untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat kita.
Ketiga, ke depan saya kira kita harus terus menerus melakukan evaluasi terhadap serapan anggaran kita dalam korelasinya dengan ketercapaian kinerja dan sasaran kinerja. Kita inginkan agar serapan Kemenag makin baik dan ketepatan sasaran dan pencapaian kinerja juga optimal. Oleh karena itu semua harus bekerja keras agar hal ini bisa dicapai.
Wallahu a’lam bi al shawab.