• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

INOVASI TIADA HENTI: KISAH SEPATU DAN KAOS KAKI (2)

INOVASI TIADA HENTI: KISAH SEPATU DAN KAOS KAKI (2)
Pertemuan di Lembang sungguh sangat bermakna dalam kerangka menciptakan suasana keakraban kita semua. Sudah saya paparkan bahwa secara structural-jabatan tampaknya tidak ada lagi jarak antara satu dengan lainnya. Melalui joke-joke yang hangat kita bisa merasakan betapa keakraban itu terbentuk. Sungguh menjadi acara yang sangat menarik bagi kita semua.
Acara (12/01/18) malam hari di tempat terbuka dengan pemanasan api unggun juga sangat khas. Mengingatkan ketika kita di Sekolah Menengah Atas yang sering mengikuti camping di tempat terbuka dan juga pelatihan-pelatihan organisasi kemahasiswaaan yang juga selalu ada api unggunnya. Terasa kita berada di nuansa yang sangat berbeda dengan rapat-rapat yang biasa kita lakukan.
Para eselon I dan beberapa eselon II duduk di kursi dalam posisi setengah lingkaran. Saya tentu saja duduk bersebelahan dengan Pak Menteri. Saya di sebelah kiri dan Pak Menteri berada di sebelah kanan saya. Sekali-kali saya berdiri saat memandu acara. Saya berusaha untuk menjadikan acara malam itu sebagai acara yang tidak resmi yang berbeda dengan rapat pada umumnya. Meskipun tentu saja tetap harus didesain agar para peserta dapat menyatakan pendapat dan pandangannya secara akademis. Saya rasa tidak mudah memang untuk mengatur acara dalam paduan, santai tetapi serius. Guyonan tetapi tetap menjaga tradisi akademis dan birokratis.
Seperti biasanya, maka saya membawakan acara ini dengan celetukan. “Saya terkesan dengan nyanyinya Pak Sukoso. Lagu “Jatuh Bangun” yang biasa didendangkan oleh Kristina itu menggambarkan bagaimana BPJPH terasa jatuh bangun juga. Bagaimana dalam setahun hanya ada anggaran 17 milyard yang untuk membayar gaji saja tidak cukup. Padahal tahun depan sertifikasi halal sudah menjadi mandatory”.
Satu persatu seluruh eselon I memberikan pandangan dan pendapatnya tentang tugas pokok dan fungsinya. Dengan gayanya masing-masing mereka menampilkan dirinya di hadapan peserta rakerpim. Setiap kali mengantarkan seorang pejabat eselon I untuk bicara, maka saya selingi dengan humor.
Pak Rahman, Kabalitbangdiklat pun terkena goda tatkala akan memberikan penjelasan tentang program-programnya. Saya nyatakan sambil tertawa. “Pak Rahman baru saja melansir hasil survey tentang kerukunan umat beragama di Indonesia, tapi bagi saya ada yang perlu dikoreksi. Masak score toleransi dan kesetaraannya lebih rendah dibanding kerja samanya. Gak apa-apa, cuma lucu saja”. Serentak semua tertawa. Dari sebanyak 12 unit eselon I semua sudah mengutarakan maksud dan keinginannya di dalam pelaksanaan anggaran 2018 dan juga sudah melaporkan tentang pelaksanaan anggaran tahun 2017.
Giliran Pak Menteri yang memberikan paparannya. Sebagaimana diketahui bahwa Pak Lukman adalah sosok yang memiliki tipikal detailed dalam berpikir. Kata Pak Huda, Sekretaris Menteri, “kalau mau menghadap Pak Menteri, minimal harus disiapkan lima jawaban, sebab jika tidak disiapkan, bisa kedodoran”. Pengalaman Beliau selama 17 tahun di parlemen memberikan pelajaran tentang berpikir detailed. Maklumlah di legislative tentu saja harus berdebat untuk merumuskan regulasi. Makanya, berpikir teknis tentu sudah menjadi kebiasaannya.
Di dalam uraiannya, Pak Menteri mengajak kita semua, para Eselon I, untuk terlibat dan memahami semua program dan kegiatan secara mendalam. Jangan hanya bermain pada level yang aman saja, tetapi harus bermain dengan mendasar tentang program dan kegiatan. Jangan serahkan program dan kegiatan pada eselon di bawahnya dan tanpa control yang berarti. Era sekarang ialah zamannya pejabat harus menguasai hal-hal yang detailed agar kita tidak dimainkan oleh pejabat di bawah kita.
Pak Menteri meminta kepada kita semua untuk bekerja lebih keras agar kepuasan pelanggan dapat dihasilkan. Sekarang ini sudah generasi teknologi informasi, maka layanan berbasis electronic government harus menjadi sasaran tugas ke depan. “saya meminta kepada segenap jajaran eselon I agar melek teknolgi informasi sehingga kita bisa terlibat di dalam global game, media sosial.”
Begitu mendasarnya, Pak Menteri bahkan juga memberikan arahan tentang cara berpakaian. Beliau menyatakan: “Jika kita memakai full dressed, maka janganlah kemejanya garis-garis atau kotak-kotak dan dasinya bermotif bunga-bunga. Gunakan kemeja warna putih sebab warna putih bisa dikaitkan dengan dasi warna apa saja asal serasi dengan kemeja dan jasnya. Jangan memakai jas casual pada acara-acara resmi.
Gilirannya, beliau melirik sepatu saya. Ketepatan malam itu saya tidak memakai kaos kaki, sebab acaranya memang didesain tidak resmi. Saya termasuk yang agak cuek malam itu tentang sepatu dan kaos kaki. Padahal dalam acara-acara resmi saya termasuk yang sangat memperhatikan perkara kaos kaki itu. Tetapi malam itu, sungguh saya lagi bernasib kurang baik. Tidak memakai kaos kaki dan duduk di sebelah Pak Menteri. Saya ingat betul pernyataan beliau. “Jangan pernah tidak memakai kaos kaki jika kita bersepatu”. Sambil Beliau melirik saya. Makanya saya juga lalu berkata: “waduh kena saya. Sekarang ini saya tidak memakai kaos kaki”. Semua lalu menjadi tertawa. Tentu bukan mentertawakan saya, tetapi mentertawakan bahwa setelah saya menggojlok Pak Menteri, giliran saya yang kena gojlok oleh Pak Menteri. Dalam hati saya berkata: “score 1:1”.
Saya rasa ini merupakan takdir Tuhan dan cara Tuhan untuk mengajari agar saya selalu ingat Pak Menteri. Mengapa? Semenjak saat itu, setiap kali saya memakai sepatu, maka setiap itu pula saya ingat kepada Pak Menteri dan saya menjadi tertawa sendiri. Jika orang lain tidak diberi cara oleh Allah untuk mengingat Pak Menteri, maka saya diberi caranya, yaitu kisah “sepatu dan kaos kaki”.
Pak Lukman memang seorang pemimpin yang selalu berpikir kesempurnaan atau berpikir perfectionist dan mendasar atau detailed. Saya yang biasanya berpikir serba konsep dan general juga harus berpikir mendasar juga. Sebab sebagai birokrat, tentu saya harus berpikir tidak hanya kebijakan saja, tetapi juga bagaimana kebijakan tersebut diimplementasikan dan bagaimana pula proses dan produknya bahkan pengaruhnya terhadap masyarakat luas.
Wallahu a’lam bi al shawab.

INOVASI TIADA HENTI: RAKERNAS KEMENAG 2018 (1)

INOVASI TIADA HENTI: RAKERNAS KEMENAG 2018 (1)
Untuk menyiapkan Rapat Kerja Nasional Kementerian Agama 2018 (29-31/01/2018) memang sungguh luar biasa. Tidak seperti biasanya yang dipersiapkan biasa saja. Untuk tahun 2018 memang dipersiapkan dengan segenap kemampuan dan usaha, sebab kita ingin melakukan sesuatu yang berbeda, dengan target yang berbeda.
Untuk kepentingan menyiapkan rakernas ini, maka dilakukan rapat pimpinan seluruh unit eselon I Kemenag dan beberapa unit eselon II yang memang membidangi persiapan rakernas. Biro Perencanaan, Biro Keuangan dan BMN, Biro Ortala, Biro Umum dan Biro Humas, Data dan Informasi turut serta diundang di acara rakerpim ini.
Acara (12/01/2018) di Hotel Putri Gunung Lembang Bandung juga sungguh menarik, sebab tidak sebagaimana biasanya yang berangkat sendiri-sendiri, akan tetapi untuk kali ini harus menyewa satu gerbong kereta pariwisata ke Bandung. Harapannya tentu agar ada “kemesraan” atau “sambung hati” untuk meneguhkan komitmen kebersamaan.
Rasanya usaha untuk meneguhkan kebersamaan itu sudah bisa diawali dengan berada di dalam satu gerbong kereta api itu. Dalam nuansa yang sangat rileks, bisa bernyanyi bersama, bisa tertawa bersama dan juga “nyaris” tidak ada jenjang jabatan, maka nuansa kebersamaan itu telah terbentuk. Antara Pak Menteri, Pak Lukman Hakim Saifuddin, dengan pejabat-pejabat eselon I dan II sungguh terjadi keakraban yang luar biasa. Bisa saling menggoda dan lalu tertawa bersama-sama. Di kala Pak Menteri menyanyi, maka saya menyelipkan penilaian seperti gaya komentator Akademi Dangdut. Bahkan juga kita beri nilai. Akrab sekali.
Rakerpim di Bandung sungguh tepat sebab selain bisa konsentrasi di Lembang ini, maka juga bisa saling mengisi. Selain acara yang serius, juga diselingi dengan canda tawa yang menyegarkan. Saya bersyukur diberi mandate sebagai moderator dan dapat saya mainkan dengan baik. Dengan gaya lelucon dan candaan ternyata suasana menjadi hidup dan bermanfaat. Meskipun pertemuan itu sangat panjang di ruang terbuka, dengan pemanasan api unggun, akan tetapi suasana hangat sungguh mampu tercipta. Rasanya, sungguh luar biasa. Demikian pada sessi hari berikutnya, saya juga dipercaya untuk menjadi moderator dan lagi-lagi peran itu dapat saya mainkan dengan baik. Bahkan Pak Menteri menyatakan: “suasana seperti ini sungguh mengingatkan saya pada keakraban sebagaimana tahun-tahun jauh sebelumnya”.
Rakerpim juga menghasilkan program prioritas yang menjadi tugas eselon I untuk menindaklanjutinya. Ada 5 (lima) dari masing-masing unit eselon I yang menetapkan program prioritasnya. Saya tentu tidak akan memberikan catatan pada seluruh unit eselon I. Saya hanya akan menyampaikan 5 (lima) program prioritas pada Sekretariat Jenderal Kementerian Agama.
Program prioritas Setjen itu ialah: 1) Mempertahan Opini BPK untuk Laporan Keuangan Kementerian Agama (LKKA) dengan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), 2) Meningkatkan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) dari B menjadi BB, 3) Meningkatkan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), 4) Memberdayakan SDM Kemenag, dan 5) Memperkuat Kerukunan dan Moderasi Agama.
WTP adalah “harga mati” bagi Kemenag. Kita sudah memahami bahwa WTP adalah marwah Kemenag. Jika kita bisa mempertahankan Opini WTP, maka sungguh kita akan mendapatkan nilai yang baik di mata masyarakat. Oleh karena itu WTP harus dipertahankan. Tidak kalah menarik ialah tentang peningkatan kualitas LAKIP dan SAKIP Kemenag. Kita semua sungguh berharap agar terdapat kenaikan dari posisi B tahun 2016 menjadi BB tahun 2017. Dengan kenaikan keduanya, maka ASN Kemenag berpeluang memperoleh tunjangan kinerja 70 persen tahun 2018.
Kemudian terkait dengan penguatan SDM. Sungguh sangat dibutuhkan kemampuan optimal dari ASN Kemenag di dalam pelayanan masyarakat. Oleh karena itu, penguatan SDM menjadi tidak terelakkan. Lalu yang terakhir ialah penguatan kerukunan dan pengarusutamaan moderasi agama. Kita tentu berharap bahwa dengan penguatan harmoni dan moderasi agama akan tercipta kehidupan beragama yang rukun dan damai, dan kemudian akan berimbas terhadap kerukunan bangsa. Dan saya yakin bahwa kita semua bisa melakukannya.
Rakernas Kemenag 2018 memang didesain berbeda dengan rakernas sebelumnya. Jika selama ini, pembukaan selalu dilakukan oleh Menteri, maka tahun ini tidak lagi. Jika selama ini hanya terjadi pola pembicaraan satu arah, maka sekarang dilakukan dengan dua arah. Menteri tidak memberikan sambutan tetapi memberikan paparan dan kemudian melakukan dialog dengan para peserta rakernas. Dengan demikian, arahan Menteri tidak dalam bentuk ceramah satu arah tetapi menjadi kegiatan dialogis yang lebih cair.
Wallahu a’lam bi al shawab.

BERBAHAGIA DALAM BEKERJA (2)

BERBAHAGIA DALAM BEKERJA (2)
Saya rasa bahwa di kantor atau tempat pekerjaan ada juga kebahagiaan. Saya kira ada di antara kita yang bisa merasakannya. Kebahagiaan sebenarnya ialah hak semua manusia di manapun berada. Akan tetapi tentu juga tidak semua hak untuk memperoleh kebahagiaan tersebut bisa dicapainya.
Menurut saya ada dua factor yang mempengaruhinya, yaitu factor internal dari diri yang bersangkutan terkait dengan dirinya di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan dan factor eksternal ialah seberapa keberadaan sesuatu di luar dirinya itu juga mempengaruhi terhadap kehidupan yang bersangkutan. Setiap orang memiliki potensi untuk bahagia. Hanya saja berapa lama dan kapan itu tentu sangat variatif.
Dari factor internal ialah terkait dengan seberapa kesiapan yang bersangkutan di dalam menghadapi kehidupan. Misalnya sikap dan tindakan kepasrahannya menghadapi kepastian atau takdir Tuhan. Selain itu juga terkait dengan kesiapan seseorang di dalam menghadapi keinginan demi keinginan yang sudah atau tidak tercapai. Jika seseorang memiliki rasa pasrah atau menerima semua kejadian sesuai dengan kepastian Tuhan, maka dia akan terhindar dari rasa bersalah atau stress yang menyebabkan sesuatu menjadi semakin rumit.
Yang lebih rumit ialah mengenai factor eksternal yang juga memiliki pengaruh besar terhadap kebahagiaan itu. Misalnya lingkungan sosial, lingkungan bekerja atau lingkungan alam yang saya kira juga bisa menjadi factor determinan untuk pencapaian kebahagiaan. Di sinilah maka keberadaan lingkungan kerja yang kondusif akan menjadi factor utama untuk berbahagia di dalam bekerja. Factor persahabatan yang merupakan factor eksternal bisa menentukan terhadap adanya rasa bahagia dimaksud. Sering kali orang berpindah-pindah profesi atau berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya disebabkan oleh factor lingkungan kerja ini. Orang tidak nyaman di dalam pekerjaannya.
Makanya, membangun kebersamaan dalam persahabatan menjadi hal utama di dalam bekerja. Kita harus membangun kerja sama dan sama-sama bekerja. Kerja sama itu tidak lain dan tidak bukan adalah kerja bersama-sama itu. Jika kita bisa melakukannya berarti satu factor sudah bisa diatasi. Lalu kita bisa bekerja keras untuk mencapai tujuan bersama. Common purpose menjadi instrumen bagi para pekerja untuk bisa menciptakan nuansa pencapaian hasil bersama.
Yang juga tidak kalah penting ialah bagaimana kita bisa menciptakan kebersamaan dan kerja bersama tersebut. Bagi kita nuansa kebersamaan menjadi instrument utama untuk mencapai tujuan organisasi atau tujuan institusi. Di dalam konteks ini, maka seharusnya dilakukan upaya untuk membangun kebersamaan itu, apapun cara yang bisa dilakukannya.
Saya tentu merasa bersyukur bahwa Allah memberikan talenta humor yang sering saya gunakan sebagai pemecah nuansa ketegangan. Bahasa kerennya disebut sebagai ice breaker. Tentu saja dalam kapasitas yang bisa saya daya gunakan. Di dalam rapat-rapat atau meeting yang selalu membutuhkan keseriusan melebihi batas yang bisa dilakukan, sering kali saya selingi dengan gurauan. Bagi orang yang tidak terbiasa, maka bisa saja dianggap sebagai ketidakseriusan. Tentu ada orang yang menganggap bahwa serius itu artinya tidak ada canda dan tawa bahkan tersenyum saja bisa menjadi penanda sebagai ketidakseriusan itu. Tetapi saya lakukan dekonstruksi bahwa seserius apapun rapat atau sidang, maka harus ada nada gurauan di dalamnya. Dan saya bersyukur bahwa dengan canda dan ketawa itu suasana menjadi santai tetapi serius. Menghasilkan kesimpulan terbaik tetapi dilakukan dengan tersenyum, canda dan tawa.
Saya pernah menghadiri acara Rapat Kerja di Kantor Wilayah Kemenag DKI. Sehabis acara saya ditegor oleh Kabid Madrasah. Dia menyatakan bahwa “hari ini saya tidak bertemu dengan Pak Sekjen”. Lalu saya nyatakan: “lho kan saya baru saja memberikan ceramah”. Kemudian dinyatakan: “Pak Sekjen memang di sini, tetapi tidak ada leluconnya”. Saat itu saya menjadi ingat bahwa memang saya tidak membuat lelucon sama sekali di dalam ceramah saya.
Pak Prof. Abdurrahman Mas’ud, Kabalitbangdiklat, juga sering menyatakan jika saya memberi pengarahan atau memimpin rapat lalu tidak ada candanya, Beliau juga menanyakan: “kok tidak ada candanya”. Saya kemudian berpikir, “Wah saya ternyata identic dengan gurauan atau canda tawa kalau sedang melakukan rapat atau apapun.” Lalu saya berpikir, dari pada sudah dilabel dengan begitu, maka sudah saya lanjutkan saja di dalam memimpin birokrasi Kemenag untuk mengajak kolega saya untuk tersenyum bahkan tertawa.
Bahkan di dalam rapat-rapat antar kementerian dan lembaga, gaya lelucon itu juga sering saya terapkan. Saya berpandangan: “janganlah rapat menjadi halangan kita untuk tersenyum dan tertawa di dalamnya”. Pak Prof. Thomas Fentury, Dirjen Bimas Kristen, suatu ketika menyatakan: “kalau rapat dipimpin Pak Sekjen, pasti kita semua bergembira”.
Bahkan yang lebih heboh lagi, Pak Syafrizal, Karo Umum, kalau Beliau datang ke ruang saya, maka yang pertama kali muncul dari bibirnya ialah: “Pak Sekjen, saya ingin tertawa di sini”. Baru saja Beliau datang saya sudah tertawa, dan Beliau juga tertawa. Sungguh saya merasakan bahwa dengan senyuman maka akan tercipta rasa kebersamaan. Dan jika ini sudah bisa dibentuk, maka kerja keras dan pencapaian tujuan bersama pastilah akan bisa dilewati.
Saya akhirnya sampai pada kesimpulan, bahwa lingkungan pekerjaan yang meminimalisir atau bahkan menihilkan ketegangan dengan bisa tersenyum dan tertawa bersama akan bisa menjadi fondasi untuk membangun kebahagiaan. Saya sungguh yakin dengan proposisi ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

BERBAHAGIA DALAM BEKERJA (1)

BERBAHAGIA DALAM BEKERJA (1)
Ada sebuah pertanyaan, mungkinkah kita bisa berbahagia di dalam pekerjaan kita, atau bisakah kita berbahagia di kantor kita, atau lebih mendasar bisakah kita membuat dunia pekerjaan kita membawa kepada kebahagiaan. Pertanyaan ini saya rasa penting di tengah kenyataan bahwa sebagian waktu kita memang berada di ruang pekerjaan.
Disebabkan oleh waktu sehari, selama 7,5 jam berada di kantor atau di ruang pekerjaan, maka rasanya pertanyaan itu patut dikemukakan. Bayangkan bahwa waktu kita sebesar 30 persen justru berada di ruang perkantoran atau di ruang pekerjaan, sedangkan 30 persen lainnya di ruang tidur dan sisanya adalah untuk kegiatan ekspressi diri di tengah keluarga, masyarakat dan dunia sosial lainnya.
Pagi ini, 03/02/2018, saya harus ke Surabaya sebab ada acara di STAIN Pamekasan dalam rangka rapat kerja yang ditempatkan di Hotel Aston Gubeng Surabaya. Dan yang menggembirakan saya bersama dengan Cak Muhaimin, Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga memiliki acara di Pasuruan, Jawa Timur. Sebagai sesama Nahdliyin tentu kami lalu membicarakan banyak hal terutama pandangan-pandangan politik Beliau di seputar Pilkada dan kesiapan politik lainnya.
Saya senang dengan pandangan-pandangan Beliau tentang Indonesia ke depan dan juga tentang bagaimana peluang partai politik tahun depan. Beliau nyatakan bahwa sekarang ini adalah era cyber war atau era media sosial, maka siapa yang siap dengan penggunaan media sosial, maka tentu akan banyak memperoleh keuntungan. Beliau juga menyatakan bahwa sekarang ini sudah banyak kyai dan penceramah agama yang memiliki kekuatan media sosial yang bagus, seperti AA Gym sampai Ustadz Abdus Shomad, mereka telah memiliki follower jutaan orang. Jika kita bermain di arena partai politik tentu juga harus mengikuti perkembangan baru ini.
Pada kesempatan ini, saya juga sempat untuk membaca Koran. Ada Koran Tempo, Republika dan juga Kompas. Dan yang menarik saya karena di Koran Kompas, 03/02/2018, ada tulisan yang menggelitik dengan judul “Mengejar Kebahagiaan”. Sebuah judul yang saya kira menarik untuk dicermati oleh para eksekutif yang terlibat di dalam upaya untuk melakukan perubahan. Jika dia adalah CEO di perusahan-perusahaan besar maka tantangannya tentu adalah bagimana meningkatkan performance perusahaan tersebut di tengah suasana ketidakmenentuan atau disruptive era yang terus membayangi para pengusaha. Dan jika dia adalah pejabat pemerintah juga tentu akan terlibat di dalam era reformasi birokrasi yang terus menggelinding, utamanya terkait dengan “manajemen perubahan”.
Sebuah survey yang dilakukan oleh Annie McKee (Happiness Trap, Harvard Business Review, Oktober 2017/Kompas, 03/02/18) bahwa untuk menemukan kebahagiaan di dalam pekerjaan, maka ada 3 (tiga) hal yang harus dipertimbangkan, yaitu: Purpose, Hope and Friendship. Ketiga hal inilah yang akan memberikan sumbangan menentukan terhadap perasaan bahagia dari para businesman di dalam sebuah dunia kerja. Jika kita ingin memperoleh kebahagiaan di dalam bekerja, maka 3 (tiga) aspek ini harus memperoleh penekanan yang optimal.
Pertama, purpose. Orang bekerja tentu harus mempunyai tujuan apa yang diinginkan. Orang yang bekerja harus dipandu oleh suatu pandangan berbasis keinginan untuk mencapai kesuksesan. Orang harus bekerja keras untuk mencapai tujuan organisasi atau institusi yang dijadikan sebagai tempat pengabdiannya. Orang bekerja harus dipandu oleh need for achievement. Suatu hasrat yang kuat agar tujuan bekerjanya dapat diwujudkan dalam bentuk capaian kerja yang optimal.
Makanya, seseorang akan terus berusaha untuk mencapai tujuan tertinggi dari institusi yang tertuang di dalam misi atau visi institusinya. Dipastikan bahwa ada sesuatu yang akan diraihnya atau dicapainya. Dia tidak hanya berkeinginan untuk mencapai tujuannya saja tetapi lebih dari tujuannya. Di sinilah yang membedakan antara orang yang memiliki visi di dalam bekerja dan orang yang tidak memiliki visi di dalam bekerja. Orang yang memiliki visi bekerja dipastikan akan bekerja lebih keras dan kuat karena dia berkeinginan untuk mencapai visi yang sudah dibebankan kepadanya.
Kedua, hope. Setiap orang memiliki harapan dan keinginan untuk meraih sesuatu yang lebih baik, tidak hanya untuk institusinya akan tetapi juga untuk dirinya. Keduanya tentu harus berjalan seiring. Setiap orang tentu menginginkan suatu hasil yang lebih baik. Maka di sini harus ada peluang dan potensi untuk mencapai keinginan tersebut. Para pimpinan juga harus memberikan peluang untuk mencapai tujuan dan bawahan juga menyadari bahwa dia diberi peluang untuk mencapai tujuan instistusinya. Di sini harus terdapat lingkungan yang memungkinkan peluang dan potensi itu menjadi actual.
Di sini harus ada keseimbangan antara keinginan mencapai harapan dan tujuan dengan potensi dan peluang yang dimiliki untuk berkembang mencapai tujuan. Di dalam konteks ini, maka semuanya harus menjaga agar keduanya berjalan sinergi sehingga akan memperkecil tekanan yang akan mengakibatkan stress di kalangan kita sendiri. Menjaga keseimbangan di dalam bekerja tentu menjadi penting. Untuk itu, maka diperlukan kegiatan-kegiatan yang bisa mengembalikan kita semua untuk berada di dalam posisi seimbang tersebut.
Ketiga, friendship. Kita tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa perkawanan atau persahabatan. Kita hidup di dalam dunia sosial dan salah satu kebutuhan kita ialah bagaimana membangun dan mewujudkan kebutuhan sosial itu. Kita butuh sahabat atau kawan yang bisa menjadi medium untuk saling berbagi dan memberikan pandangan-pandangannya. Ada titik nol di mana kita tidak bisa melihat diri kita sendiri. Kita sangat tergantung kepada orang lain untuk melihat titik nol tersebut. Sama halnya dengan petinju atau pemain bola yang tetap membutuhkan pelatih untuk melakukan evaluasi terhadap titik nol yang kita tidak bisa melihatnya.
Maka, di dalam sebuah institusi mestilah dibangun suasana friendship ini. di mana, sesama kawan akan saling menerima dan memberi. Di dalam konteks seperti ini, maka gradasi atau leveling di dalam bekerja tidak sangatlah mendasar. Semua bisa saling memberi dan menerima. Bisa saja pimpinan tertinggi memberikan pandangan terhadap bawahannya dan bisa juga bawahannya memberikan pandangan terhadap para pimpinannya.
Di dalam membangun prinsip perkawanan ini, maka diperlukan suasana kebersamaan, seperti out bond, rekreasi atau meeting informal yang bisa menjadi wahana untuk membangun kebersamaan. Jadi, ketiga prinsip ini harus dikembangkan agar suasana bekerja bisa menjadi wahana untuk berbahagia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMBERI HAK KEPADA MINORITAS ALIRAN KEPERCAYAAN

MEMBERI HAK KEPADA MINORITAS ALIRAN KEPERCAYAAN
Saya tentu merasa senang mendengarkan laporan Pak Dr. Muharram Marzuki (Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama pada Balitbangdiklat Kemenag) setelah Beliau saya tugaskan untuk rapat antar Kementerian di Kementerian Dalam Negeri, 24/01/18. Rapat ini diikuti oleh kementerian/lembaga untuk membahas tentang nasib KTP bagi penganut Aliran Kepercayaan/Kebatinan, yang beberapa saat yang lalu diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) agar dilegalkan penggunaan KTP bagi mereka.
Di awal-awal penetapan keputusan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) ini tentu mengandung pro-kontra. Ada yang senang dengan keputusan ini, sebab mereka menggunakan dalil Hak Asasi Manusia (HAM) yang memang para penganut Aliran Kepercayaan memiliki hak kependudukan sebagai warga negara, dan juga hak untuk memperoleh pendidikan dan pelayanan lainnya. Sedangkan di pihak lain, tentu menolak bahwa aliran kepercayaan bukan agama dan sebaliknya, sehingga haknya itu melekat kepada agama yang absah menurut perundang-undangan.
Di dalam berbagai pertemuan, khususnya yang diselenggarakan oleh MUI, bahwa pencantuman KTP dengan menyebutkan nama aliran kepercayaan itu tidak sesuai dengan kehendak umat Islam. Bagi mereka, bahwa agama tidak bisa disamakan dengan aliran kepercayaan dan sebaliknya. Aliran kepercayaan/kebatinan itu adalah rekayasa manusia, sedangkan agama adalah berasal dari Tuhan atau Allah. Jadi tidak bisa disamakan di antara keduanya. MUI bersikukuh agar pemeluk aliran kepercayaan dibuatkan KTP tersendiri dan pemeluk Agama juga dibuatkan KTP tersendiri. MUI sangat menolak di dalam satu format KTP ada dua kolom: agama dan kepercayaan.
Kemenag tentu juga terlibat di dalam pembahasan-pembahasan seperti ini. meskipun urusan KTP itu adalah kewenangan Kementerian Dalam Negeri, akan tetapi karena menyangkut agama, maka mau tidak mau kemenag harus memikirkannya. Makanya, ada 5 (lima) atau 6 (enam) kali diskusi di Kemenag, baik internal maupun eksternal. Secara internal tentu saya terlibat di dalam diskusi-diskusi tersebut. Bahkan ada 3 (tiga) kali saya mendiskusikannya dengan balitbangdiklat, Ditjen Bimas Islam, dan juga staf di Setjen. Lalu, ada juga diskusi yang diselenggarakan oleh Ditjen PHU, meskipun temanya terkait dengan evaluasi umrah, tetapi salah satu poinnya membicarakan tentang HAM dan KTP, lalu yang terakhir diskusi yang dilakukan oleh Ditjen Bimas Islam untuk membicarakan secara khusus tentang pencantuman aliran kepercayaan di dalam KTP. Di acara yang terakhir ini, maka hadir para dirjen dari agama-agama lainnya.
Saya sudah menulis tentang pandangan-pandangan yang muncul di dalam rapat terakkhir tentang pencantuman aliran kepercayaan dalam KTP. Ada 4 (empat) hal yang dijadikan sebagai simpulan terkait dengan format KTP di dalam meeting akhir tersebut, yaitu: pertama, dalam satu KTP maka ada kolom agama dan ada kolom aliran kepercayaan. Kedua: di dalam KTP ada satu kolom Agama/Aliran Kepercayaan. Ketiga, KTP tanpa mencamtumkan Agama atau Aliran Kepercayaan. Keempat, ada 2 (dua) format KTP, yaitu KTP dengan kolom Agama, dan KTP dengan kolom Aliran Kepercayaan.
Tiga format awal bagi kita tentu baik. Tetapi jika dicantumkan kolom Agama/Aliran Kepercayaan maka akan terdapat resistensi yang sangat tinggi dari kalangan tokoh-tokoh agama, sebaliknya dengan mencantumkan kolom Agama pada baris yang berbeda dengan kolom Aliran Kepercayaan juga masih mengandung resistensi yang kuat. Kemudian tanpa mencantumkan Agama dan Aliran Kepercayaan juga ditolak oleh para tokoh agama. Agama di Indonesia merupakan identitas yang salah satu ekspressinya tentu di KTP tersebut.
Maka meskipun tidak sepenuhnya sepakat, maka pola KTP dua format dirasakan lebih realistis. Selain tidak akan membuat KTP baru dan menghapus KTP yang sudah terbit, maka juga dari sisi anggaran tentu akan sangat besar jika kita melakukan lagi proyek e-KTP. Maka pilihan keempat dirasa paling realistis, sebab kita tidak perlu untuk membuat KTP baru atau proyek e-KTP baru, juga perubahan hanya akan diberlakukan untuk mereka yang merasa menjadi aliran kepercayaan dan ditulis dengan pengikut agama tertentu. Jadi yang diubah hanya sejumlah penganut Aliran Kepercayaan saja, yang diperkirakan 12 juta orang. Akhirnya, ada KTP bagi penganut agama dengan kolom agama, dan ada KTP bagi penganut aliran kepercayaan dengan kolom Aliran Kepercayaan.
Kita tentu bersyukur bahwa Kementerian Dalam Negeri juga memiliki opsi yang keempat tersebut, maka di dalam rapat di Kemendagri disepakati bahwa untuk menindaklanjuti Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), maka dipilihlah KTP dengan format ada kolom agama, bagi penganut agama dan ada KTP dengan format ada kolom aliran kepercayaan bagi para penghayat kepercayaan.
Dengan rumusan ini, maka tidak lagi dibutuhkan perubahan dan proyek baru e-KTP, sebab yang diubah hanya yang merasa berubah, yaitu para poenghayat kepercayaan dan kebatinan. Akhirnya, keputusan pun bisa diambil.
Wallahu a’lam bi al shawab.