Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MASJID DI GUANGZHOU (3)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MASJID DI GUANGZHOU (3)
Saya sungguh bersyukur sebab bisa shalat di Masjid Abi Waqqas. Setelah saya berziarah ke Maqam Sahabat Abi Waqqas, maka kami datang ke masjid monumental ang didirikan oleh paman Nabi Muhammad saw, Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqqas. Masjid ini termasuk masjid kuno dan dideklarasikan sebagai World Cultural Heritage, sebagai puncak sejarah dari Maritime Silk Road.
Begitu saya memasuki area masjid dan makam ini, maka sudah tergambarkan tentang keindahan arsitektur Cina. Di gerbang utara terdapat bangunan berkubah hijau dengan tiga tulisan, Arab, Inggris dan Cina. Dalam bahasa Inggris dengan tulisan “The North Gate of Abi Waqqas Mosque” dan dalam Bahasa Arab tertulis “ Al Bawabah al Syimaliyah li Masjid Abi Waqqas”.
Memasuki kawasan dalam, maka kita akan melewati jalan masuk kira-kira 2 (dua) meter dengan tanaman menghijau di kiri dan kanan. Pohon-pohon yang tumbuh besar dan subur. Di sebelah kiri terdapat tiga makam yang dibuat untuk menandai para Syuhada yang berjuang pada masa Dinasti Qing, yaitu: Jenderal Yu Feng Qi, Jenderal Su Zhifu dan Jenderal Ma Chengzu. Saya kira, Ma Chengzu adalah Laksamana Chengho yang sangat dikenal dalam sejarah Indonesia. Laksamana Chengho adalah duta besar dan pengelana Cina yang beragama Islam dan menjadi ikon Cina Muslim di Indonesia.
Saya dan kawan-kawan menjalankan shalat jama’ ta’khir di Masjid Abi Waqqas. Ada banyak Muslim yang shalat di sini. Tampaknya ada yang datang dari Afrika dan juga Pakistan atau India, selain masyarakat Muslim Cina. Bahkan yang dari Pakistan, bisa sedikit-sedikit bahasa Indonesia. Beliau sempat menyapa Pak Piyandi dan Pak Supriyadi yang juga duduk di luar masjid.
Untuk memasuki masjid dari arah depan, maka terdapat sebanyak 9 (Sembilan) tangga, dengan pagar kokoh khas Cina. Ada sebanyak 10,000 jamaah shalat Jum’at setiap pekan. Mereka adalah umat Islam yang berdiam di Ghuangzhou. Di Guangzhou terdapat sebanyak 30.000 muslim. Masjid ini memiliki bentuk bangunan yang merupakan campuran dari arsitektur Islam dan arsitektur Lingnan.
Selain masjid ini, maka terdapat 3 (tiga) masjid lainnya. Saya tidak sempat mengunjungi semua masjid di Guangzhou. Tetapi saya sempat mengunjungi Masjid Xiaodongyin di Guangzhou. Masjid ini memiliki luas sebesar 5000 M2, dan berusia 500 tahun. Masjid ini dibangun oleh Diaguanjun (tentara Muslim), di Guangzhou semasa pemerintahan Kekaisaran Ming.
Masjid ini berada di area pertokoan dan perumahan penduduk. Untuk masuk masjid ini, harus melewati pintu besi yang tertutup rapat. Ada dua bangunan depan dan belakang. Bangunan depan digunakan untuk wudlu dan ruang-ruang khusus, sedangkam bangunan berikutnya merupakan bangunan utama atau hall masjid. Untuk memasuki ruang utama maka harus melewati halaman yang bisa digunakan untuk belajar silat. Sewaktu kami berkunjung terdapat sejumlah anak usia sekolah dasar yang berpakain kuning dan belajar silat. Kira-kira itu pendidikan ko-kurikuler. Ada guru dan pelatih silat yang mengajari gerakan-gerakan silat tersebut.
Di dalam aula masjid maka terdapat karpet merah dan kaligrafi berbunyi “la ilaha illahllah Muhammadur Rasulullah” tulisan tersebut tepat berada di atas tempat imam. Tidak didapati peralatan lain kecuali mimbar untuk khutbah Jum’at dan juga bangku-bangku untuk belajar Al Qur’an. Masjid ini kelihatan kurang terawat. Hal ini tentu bisa dipahami sebab tidak ada sedikitpun anggaran pemerintah yang bisa dikucurkan ke lembaga-lembaga pendidikan agama dan juga sarana prasarana ibadah. Untuk memenuhi kebutuhan, tentu semuanya ditanggung oleh kaum muslimin dengan mengandalkan kotak jariyah, infaq dan shadaqah.
Bagi kami yang penting bahwa di depan masjid ini terdapat masakan khas untuk orang Islam. Rupanya pemilik restoran ini ialah orang Islam suku Uighur. Wajahnya yang khas tentu bisa dibedakan dengan kebanyakan orang Cina. Kami tentu menikmati makanan khas di sini. Nasi goreng, ikan dan daging kambing. Sayangnya saya tidak mencatat nama-nama masakan yang khas ini.
Selain itu juga 2 (dua) lagi masjid di Guangzhou, yaitu Masjid Haopan dan Masjid Huaisheng. Masjid Haopan didirikan oleh Daguanjun (tentara Muslim) pada era Kekaisaran Ming Chenghua. Masjid ini didirikan bersama dengan pendirian masjid
Xiaodongyin. Jadi usianya kira-kira 500 tahun. Masjid ini pernah direnovasi tahun 1706 M pada saat pemerintahan Kangsi. Fu Yunfeng mendonasikan hartanya untuk membangun masjid ini. Selain didanai oleh masyarakat Islam, masjid ini juga didanai oleh Huiwen (Islamic) University.
Kemudian juga terdapat masjid Huaisheng dikenal juga sebagai Masjid Guangta. Masjid ini memiliki luas sebanyak 3600 M2. Masjid ini memiliki menara yang disebut sebagai Menara Huaisheng. Menara ini dibangun pada masa awal Dinasti Tang dan usianya kira-kira 1300 tahun. Masjid ini pernah terbakar parah pada tahun 1343 M pada masa Kekaisaran Yuan Zengkui.
Meskipun saya tidak bisa mengunjungi seluruh masjid di Guangzhou, tetapi tetap saja saya bersyukur bisa melihat peninggalan sahabat Nabi Muhammad saw yang berdakwah melintasi batas pulau dan samodra di dalam menegakkan kalimat Allah yang Maha Esa. Saya merasa bahwa saya belum melakukan apa-apa dibandingkan dengan para sahabat Nabi Muhammad saw yang sedemikian hebat itu,
Wallahu a’lam bi asl shawab.

BERKUNJUNG KE NEGARA TIRAI BAMBU: MASJID ABI WAQAS (2)

BERKUNJUNG KE NEGARA TIRAI BAMBU: MASJID ABI WAQAS (2)
Saya tentu merasa bersyukur bisa melihat kehebatan Bandar Udara Baiyun di Guangzhou. Bandara yang terletak di Dsitrict Baiyun dan sesuai dengan nama Pegunungan Baiyun ini memang sangat luas. Arsitekturnya sangat modern dan juga sarana dan prasaranya yang hebat. Sangat modern dalam arti bahwa sudah menggunakan teknologi yang modern dan juga memudahkan. Bahkan kereta dorong barang saja sudah menggunakan aplikasi untuk check in.
Di dalam bandara ini juga dipenuhi dengan penjualan barang-barang, makanan, muniman dan toko-toko yang serba ada. Mulai dari asesori untuk oleh-oleh sampai mainan anak-anak dan pakaian. Bandara ini tentu didesain sebagai bandara internasional yang memenuhi standart internasional sungguhan. Sebuah bandara yang bersih dan modern, penataan pertokoan yang baik dan juga kelengkapan barang-barang yang dijual.
Saya tentu merasa terhormat dengan dijemput oleh Pak Piandi di bandara. Beliau yang menjadi penerjemah saya dan kawan-kawan dengan sopir taksi yang saya tumpangi. Pak Komeng atau Pak Hotma Ojahan Ocktavianus Napitupulu tidak bersama kami, sebab kendarannya tidak cukup. Van yang kami tumpangi hanya cukup untuk 6 (enam) orang saja. Kami melewati jalan tol yang indah, sebab di sisi kiri dan kanan jalan dihiasi dengan bunga-bunga yang lagi mekar. Bangunan di seputar jalan tol memang tergolong banyak bangunan yang sudah tua.
Pusat perbelanjaan grosir juga dengan bangunan yang cukup tua. Kata Pak Piyandi bahwa di sini semua jenis barang di jual. Kalau di Jakarta seperti di Pasar Tanah Abang, atau Pusat Perbelanjaan Glodok. Barang-barang dijual dengan murah. Sepanjang jalan menuju ke Makam Sahabat Nabi, Sa’ad bin Abi Waqas dipenuhi dengan toko-toko dengan aneka ragam jualan. “Murah-murah”, demikian Pak Piyandi menyatakan.
Langkah kami pertama ialah berziarah ke Makam Paman Rasulullah Muhammad saw, Sayyidina Sa’ad bin Abi Waqas. Seorang sahabat Nabi Muhammad Saw dan termasuk assabiqunal awwalun, yang berdagang dan berdakwah di Negeri Tirai Bambu. Beliau tentu menyusuri Jalur Maritim Sutra (Maritime Silk Road) yang sangat terkenal semenjak dahulu kala. Cina sudah merupakan negara yang sangat maju di kala itu, sehingga telah menjadi pusat perdagangan dunia. Kekaisaran Cina –sebagaimana di dalam cerita-cerita dan manuskrip yang dipercaya memang telah memajukan Cina menjadi negeri yang sangat hebat di masa lalu.
Sayyid Sa’ad bin Abi Waqas datang ke Negeri Cina di masa Kekaisaran Dinasti Tang. Beliau datang dari Jazirah Arab menuju ke Guangzhou dan kemudian mendirikan Masjid yang sangat bersejarah di Cina. Di Guangzhou ada 4 (empat) masjid, yaitu Masjid Huaisheng, Masjid Abi Waqqas, Masjid Haopan, dan Masjid Xiaodongying. Beliau dimakamkan di Tempat Pemakaman Islam di Guangzhou. Berdekatan dengan masjid yang didirikannya.
Masjid Abi Waqqas didirikan pada saat kekaisaran Tang dengan luas 25.000 M2. Masjid ini –sebagaimana model bangunan Cina, terdiri dari banyak tiang baik di dalam maupun di luar. Dari depan tampak memanjang dengan lambang bulan sabit di atasnya. Masjidnya memang tidak terlalu luas, akan tetapi taman yang penuh dengan pepohonan dan bunga-bunga menghiasi depan dan samping masjid ini. Berbeda dengan masjid-masjid di Jakarta yang kebanyakan berada di tempat-tempat pemukinan padat penduduk, maka masjid ini sungguh luar biasa dilihat dari lingkungannya.
Saya datang di tempat ini sudah sore, jam 16.00 waktu setempat. Saya bersama rombongan kemudian memasuki pintu menuju makam. Kami bersyukur bertemu dengan Imam masjid, namanya Imam Siddeeq dari Guangzhou Islamic Association. Pelestarian dan pengembangan agama Islam di Cina dikoordnasikan oleh lembaga ini, termasuk juga mengkoordinir para dai dan imam masjid.
Begitu memasuki pintu gerbang makam, maka di atas pintu terdapat tulisan dalam bahasa Arab dan Cina yang berbunyi “Raudhah Abi Waqqas”. Di dalamnya ternyata terdapat Kantor Penjaga Makam atau Juru Kunci Makam Suci. Saya temui beliau di kantornya, dan saya nyatakan kalau kami bersama rombongan datang dari Jakarta, Indonesia dan ingin berziarah ke Makam Sayyid Sa’ad bin Abi Waqqas.
Beliau sangat welcome dan mempersilahkan saya untuk berziarah dan bahkan kami diantarkan ke tempat makam keramat itu. Dibukakan pintunya dan dinyalakan lampunya. Begitu beliau tahu bahwa kami adalah muslim dari Indonesia, maka beliau sangat gembira dan juga menyatakan hampir setiap pekan ada jamaah dari Indonesia yang mengunjungi dan berziarah ke makam ini.
Beliau temani saya berziarah di makam. Sebagai orang Islam, saya sangat menghargai terhadap para leluhur yang berdakwah, seperti Sayyid Abi Waqqas, maka saya dan kawan-kawan membacakan tahlil dan do-doa sebagaimana biasanya kami berziarah ke makam para auliya. Saya merasakan betapa aura makam ini sungguh luar biasa. Demikian pula Pak Ferry juga merasakannya. Saya sungguh kagum dengan dakwah yang dilakukan oleh Sayyid Abi Waqqas yang menyusuri jalur lautan sutra dan berdakwah di sini. Di dalam makam Beliau terdapat kaligrafi dengan tulisan La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah. Sebagaimana makam di Indonesia, maka makam ini ditutup dengan kain. Yang paling atas berwarna putih dan dibawahnya berwarna kehijau-hijauan dan bukan putih seluruhnya. Sebagaimana makam para auliya di Indonesia. bentuk makam Sa’ad Bin Abi Waqqas itu ditutup dengan kain yang menyerupai bentuk bel atau seperti kubah khas Timur Tengah. Selain itu juga terdapat buku-buku tahlil dan surat Yasin. Juga ada buku Tahlil yang terjemahannya dicetak dalam bahasa Indonesia. Selain kami yang berziarah juga ada beberapa orang dari Cina muslim yang juga berziarah. Selain itu juga ada semacam bendera berwarna hijau sebanyak 2 (dua) atau 3 (tiga) buah.
Bangunan fisik luar didominasi oleh warna hijau, dengan sedikit ada warna merah. Meskipun sebatas menduga, tetapi saya kira makna dari warna merah tentu terkait dengan lambang negeri Cina sekarang. Saya, Pak Piyandi, Pak Supriyadi, Pak Ferry, Pak Chuzaimi dan Pak Desmond serta Pak Imam Siddeq tentu saja menyempatkan berfoto bersama. Sayangnya karena waktu yang sangat terbatas sehingga kami segera meninggalkan makam yang agung ini untuk melakukan shalat di masjid Abi Waqqas.
Di dekat makam juga terdapat sumur keramat, yang berusia lebih dari 1300 tahun. Konon sumur ini digunakan untuk mengingat perjuangan Sahabat Abi Waqqas di dalam berdakwah di negri Cina. Kami tentu saja meminum sumur itu sebagai bentyk penghargaan atas dibangunnya sumur bersejarah dalam kaitannya dengan Sahabat dan sekaligus paman Nabi Muhammad saw.
Kami tentu sangat bergembira bisa berziarah ke makam salah seorang Sahabat Nabi Muhammad saw dan bahkan paman Beliau, yang ternyata telah melakukan perjalanan sangat jauh menyusur samudra jalur Sutra dari Arab Saudi ke Cina untuk mengembangkan Islam. Pantaslah rasanya jika Beliau termasuk sahabat Nabi yang dijanjikan oleh Allah akan memasuki surganya. Saya rasa sangat pantas jika umat Islam membacakan surat Al Fatihah kepada Beliau.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGUNJUNGI NEGERI TIRAI BAMBU (1)

MENGUNJUNGI NEGERI TIRAI BAMBU (1)
Saya sungguh surprise memperoleh izin dari Menteri Agama, Bapak Lukman Hakim Saifuddin, untuk berkunjung ke Cina. Izin ini saya peroleh ketika saya dan Beliau berkunjung ke Ketua Mahkamah Konstitusi, Pak Prof. Arif Hidayat, dalam acara audiensi pasca Penetapan Aliran Kepercayaan bisa disikan di kolom KTP.
Saya ingat betul apa yang saya ucapkan di saat kami duduk berdampingan, lalu saya sampaikan: “Pak saya mohon izin untuk 2 (dua) hari untuk kunjungan ke Cina nanti setelah Bapak datang dari kunjungan ke Jepang”. Beliau agar terkejut sebab tidak menyangka saya akan izin di sini. Makanya, Beliau lalu bertanya: “kapan Pak Sekjen ke Cina?”. Lalu saya jawab: “kira-kira tanggal 16 berangkatnya dan pulang tanggal 21”. Saya tandaskan, “mohon izin sebab saya belum pernah ke Cina”. Beliau menimpali, “lho Pak Sekjen belum pernah ke Cina, wah kalau ingin melihat kemajuan harus datang ke Cina itu”.
Perbincangan ini menggambarkan bahwa beliau setuju saya ke Cina untuk melihat bagaimana Cina itu berkembang dengan pesat melalui system ekonomi yang unik. System komunis tetapi mengadaptasi system kapitalis. Ke dalam keras, ke luar longgar. Pak Menteri juga menambahkan, “saya sudah pernah ke sana, sekian tahun yang lalu”. Beliau melanjutkan: “bersama siapa ke sana?. Lalu saya sebutkan bersama kawan-kawan Khonghucu, bersama Pak Mudhofir dan kawan-kawan.
Kenyataannya, saya pergi bersama kawan-kawan Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) dan juga kawan Ditjen Bimas Buddha. Saya tidak jadi berangkat dengan kawan-kawan Pusat Pendidikan dan Bimbingan Masyarakat Konghucu, sebab persoalan teknis dan akhirnya berangkat dengan Pak Ferry Meldy, PhD. (Kepala Pusat KUB), Pak Supriyadi (Direktur Pendidikan dan Bimbingan Masyarakat Buddha), Pak Chuzaimi (Staf saya di Setjen), dan Desmond (staf di PKUB).
Seharusnya saya berangkat hari Kamis malam. Akan tetapi peswat yang ke Guangzhou itu harus mampir ke Bali atau mampir ke Singapore, maka saya putuskan berangkat hari Jum’at pagi saja, dengan pertimbangan bahwa hari Kamis siang ada banyak acara yang harus saya selesaikan. Ada tiga agenda hari itu, yaitu: rapat dengan seluruh pejabat eselon 4, Kasi Perencanaan dan Keuangan pada seluruh Kanwil Kemenag se Indonesia dalam acara penyelesaian pagu minus dan percepatan serapan anggaran, lalu rapat response atas dikeluarkannya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang kewajiban memasukkan aliran kepercayaan dalam kolom KTP agama, dan rapat penyelesaian asset Rumah Sakit Haji Jakarta (RSHJ) pada sore harinya.
Hari Jumat, jam 5.30 kami bergerak dari rumah untuk menuju ke Bandara Soekarno Hatta. Bersama saya Jimmi, sementara Pak Fery dan lainnya menunggu di Bandara Soetta. Dengan pesawat Garuda Indonesia, saya dan kawan-kawan berangkat ke Cina. Tentu ada perasaan senang bisa mengunjungi Cina kali ini. saya sudah berkunjung ke banyak negara, baik di Australia, Eropa, Amerika dan Eropa. Semua tentu menjadi catatan menarik di dalam hidup saya. Sebuah karunia Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, saya diberikan kesempatan untuk mengunjungi negara-negara ini. bahkan sudah saya terbitkan buku yang dicetak oleh LKIS berjudul “Perjalanan Etnografis Lima Benua”. Judul yang ambisius, tetapi juga menarik sebab menggambarkan tentang perjalanan saya yang monumental tersebut.
Disebabkan naik pesawat Garuda Indonesia, layaknya perjalanan ini seperti ke Bali atau ke Papua. Dengan jarak waktu 5 (lima) jam mengudara, maka rasanya seperti pergi ke Papua saja. Apalagi beda waktu antara Jakarta dan Guangzou juga hanya 1 (satu) jam saja, seperti ke Makassar. Jadi kayak ke Makassar saja. Pesawat garuda yang saya tumpangi adalah pesawat yang memang beroperasi di wilayah Indonesia, maka dipastikan bahwa tidak ada nuansa yang baru atau spektakuler. Rasanya miliki sendiri dan terbiasa ditumpangi. Tentu berbeda dengan perjalanan ke Arab Saudi dengan pesawat Emirate, yang memang memiliki kekhususan. Dalam hal pramugari saja tentu berbeda. Sungguh perjalanan ke Cina ini terasa perjalanan di Indonesia saja. Hanya ada beda sedikit saja, yaitu ada suguhan coklat hangat kesukaan saya.
Sampai di Guangzhou kira-kira jam 15 Waktu setempat. Meskipun kota provinsi, akan tetapi Gunagzhou memiliki Bandar Udara yang hebat. Dengan bangunan yang baik dan seperangkat teknologi yang hebat. Menilik bangunannya, saya kira ada kesamaan dengan Bandara Soetta, yaitu Bandara 3. Kiranya, pembangunan Bandara Soetta itu mendapatkan inspirasi dari sini. Bandara yang luas dan modern. Sejumlah pesawat dengan berbagai maskapai ada di sini. Sebagai bandara internasional, maka tentu berbagai maskapai dari berbagai negara singgah di sini.
Saya dijemput oleh Staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), yang biasa dipanggil Pak Komeng. Ternyata itu bukan nama aslinya. Dia orang Batak. Pak Napitupulu. Dia kelihatan lebih enjoy dipanggil dengan nama panggilan Komeng. Sudah 13 tahun lamanya dia bertugas di sini. Dengan jemputan ini, maka tidak ada hambatan yang berarti di dalam melewati imigrasi di Bandara Gunagzhou atau Baiyun Port ini. naman Baiyun Port diambil dari nama Kabupaten di Guangzhu ini. kira-kira sama dengan Bandara Solo, dan sebagainya.
Yang tentu melegakan ialah karena saya juga dijemput oleh Kolega saya, Romo Piandi, yang saya kenal semenjak saya menjabat sebagai Plt. Dirjen Bimas Buddha. Saya juga bersyukur bahwa dengan menjabat Plt. Dirjen Buddha itu maka kolega saya menjadi semakin banyak dan dan semuanya seperti saudara. Pak Piandi memang pernah berjanji, bahwa kalau saya ke Cina maka beliau yang akan mengantar saya. Jadi, beliau menepati janjinya itu. Lagi pula juga ada rapat yang akan dilakukannya di Guangzhou. Jika orang melihat wajah Pak Piandi, maka orang akan menyatakan sangat mirip dengan Deng Xiao Ping. Bahkan Beliau juga ditawari untuk memerankan Deng Xiao Ping dalam sebuah episode sejarah Cina.
Sungguh saya merasa bahwa di mana saja kita berada ternyata ada sahabat yang memberikan pertolongan. Saya juga yakin bahwa hal ini tidak dikarenakan jabatan saya akan tetapi karena rasa persahabatan yang tulus dan ikhlas yang sudah kita bina. Sungguh Tuhan selalu mengirimkan orang-orang baik yang selalu bersama-sama kita.
Wallahu a’lam bi al shawab.

TOLERANSI BERAGAMA GENERASI MILENIAL

TOLERANSI BERAGAMA GENERASI MILENIAL
Saya memperoleh kesempatan yang cukup memadai untuk menulis di kala saya pergi ke Cina, tepatnya ke Guangzou, tanggal 17 November 2017. Di pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi dari Jakarta ke Guangzou, maka saya dapat menulis dengan leluasa. Saya bisa membaca beberapa hasil survey yang dilakukan oleh Alvara Research Center, CSIS, LSI dan sebagainya dan kemudian menuliskannya sesuai dengan minat dan kecenderungan saya.
Yang saya tulis ini adalah upaya untuk memahami terhadap laporan survey yang dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS), 2017. Rilis ini bertajuk “Ada Apa dengan Milenial: Orientasi Sosial, Ekonomi dan Politik”. Sebagaimana judul di dalam tulisan ini, maka saya hanya akan konsentrasi terhadap keberagamaan mereka dan bukan pada hal-hal lain sesuai dengan rilis laporan survey ini. Sampel dari survey ialah sebanyak 600 orang yang terdiri dari seluruh provinsi secara proporsional.
Ada dua pertanyaan dasar terkait dengan sikap keberagamaan kaum milenial, yaitu penerimaan terhadap pemimpin yang berbeda agama dan sikap bila ada gagasan yang hendak mengganti Pancasila dangan ideology lain. Pertanyaan ini yang dijadikan sebagai dasar atau indicator untuk menjelaskan sikap generasi milenial dalam kaitannya dengan toleransi beragama.
Sebagaimana diketahui bahwa genarasi milenial ialah generasi yang lahir setelah tahun 80-an. Dalam hal ini ditandai dengan tingkat akseptansi terhadap media informasi yang sangat tinggi. Mereka adalah generasi yang paling sadar tentang penggunaan media komunikasi dan juga media informasi. Berbeda dengan generasi yang lahir di era tahun 50-an atau bahkan tahun 70-an yang rata-rata hanya sebagai pengguna minimal media Hand Phone, misalnya, maka generasi milenial ini sangat akrab dengan media informasi dan sebagai pengguna optimal. WA, Skype, H5, Linkedin, Twitter, Facebook, dan segala media lainnya. Saya tidak bisa menyebutkan keseluruhannya karena keterbatasan pengetahuan saya tentang media teknologi informasi ini.
Dari survey CSIS ini digambarkan bahwa mereka yang menjawab bisa menerima pemimpin yang berbeda agama ialah untuk usia 17-29 tahun (generasi milenial) sebanyak 38,8% dan usia di atas 30 tahun (generasi non milenial) sebanyak 39,4% sedangkan yang tidak bisa menerima untuk usia 17-29 tahun (generasi milenial) 53,7%) dan usia 30 tahun ke atas (generasi non milenial) 58,1%.
Kemudian mengenai sikap tentang keinginan mengganti Pancasila dengan ideology lain, maka didapatkan gambaran setuju dari usia 17-29 tahun (generasi milenial) sebanyak 9,5% dan usia 30 tahun ke atas (generasi non milenial) 11,8%. Lalu yang tidak setuju untuk usia 17-29 tahun (generasi milenial) 90,5% dan usia 30 tahun ke atas (generasi non mileneal ) 85,4%.
Angka persentase ini tentu menarik untuk dicermati, sebab dari generasi milenial yang tentu diharapkan akan menjadi generasi Indonesia terbaik di masa depan, ternyata sudah ada yang berkeinginan untuk melakukan pilihan pimpinan yang sesuai dengan agamanya dan menolak pemimpin yang tidak sama dengan agamanya. Dengan persentase sebesar 53,7%, berarti sebuah angka yang cukup tinggi atau bahkan sebagian besar anak-anak muda kita tidak bisa menerima pemimpin yang berbeda keyakinan. Artinya jika mereka beragama Islam, maka tidak bisa menerima terhadap pemimpin yang beragama lain. Sama halnya yang beragama selain Islam juga tidak bisa menerima pemimpin yang tidak sama dengan agamanya. Sungguh data ini merupakan lampu kuning bagi perkembangan toleransi beragama. Jadi artinya, jika ada pilihan gubernur atau Bupati, maka kecenderungan anak-anak muda kita ialah memilih yang sama agamanya. Saya tidak tahu, apakah pilihan gubernur DKI dapat didekati dengan angka-angka ini, artinya bahwa kemenangan Anies-Sandi ditentukan oleh salah satunya ialah factor agama.
Data bagi yang generasi non mileneal saya kira juga tidak sangat signifikan bedanya dengan yang generasi milenial. Angka menerima pemimpin yang berbeda agama sebanyak 39,4% juga menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam hal kesetujuan menerima pemimpin yang berbeda agama. Dan ternyata generasi yang lebih senior memilih pemimpin yang sama agamanya atau tidak bisa menerima pemimpin yang berbeda agama dengan persentasi 58,1%. Data ini juga secara umum memberikan gambaran bahwa factor agama menjadi variabel penting di dalam pemilihan pemimpin.
Yang justru mengkhawatirkan ialah sudah adanya kecenderungan untuk mengganti Pancasila dengan ideology lain. Meskipun jumlahnya baru mencapai angka 9,5% untuk generasi milenial dan angka 11,8% untuk generasi non milenial, akan tetapi angka ini memberikan gambaran bahwa mereka yang ingin mengganti Pancasila dengan ideology lain itu sudah eksis di Indonesia. Jika menilik usianya, maka mereka adalah para pemuda atau para mahasiswa yang bisa saja mereka sudah terkena virus gerakan khilafah atau Islam kafah yang untuk meperjuangkannya memerlukan negara Islam.
Memang kita masih bisa bergembira sebab yang memilih tidak ingin mengganti Pancasila dengan ideology lain untuk generasi milenial sebesar 90,5% dan generasi non milenal sebesar 85,4%. Artinya bahwa mayoritas generasi milenial tidak ingin mengganti Pancasila, demiikian pula generasi non milenial.
Meskipun demikian, kita tentu perlu mengembangkan sikap kewaspadaan yang tinggi terhadap sebagian kecil generasi milenai dan non milenial yang berkeinginan untuk mengganti Pancasila dengan ideology lain. Kita harus mewaspadai terhadap persebaran informasi di era cyber war ini di mana terjadi banyak disinformasi, character assassination, ujaran kebencian dan sebagainya.
Pemerintah bersama masyarakat harus aware terhadap pengaruh media informasi ini, sebab jika kita lalai maka akan sangat mahal harga yang harus dibeli. Jangan sampai ketidakwaspadaan kita menjadi penyebab kehancuran negeri yang sangat kita cintai ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENCERMATI WAJAH KELAS MENENGAH MUSLIM INDONESIA

MENCERMATI WAJAH KELAS MENENGAH MUSLIM INDONESIA
Saya tentu beruntung bertemu dengan Pak Ari Dwipayana di dalam Seminar di UNHI itu. Pertemuan saya dengan Beliau banyak memberikan inspirasi tentang bagaimana sesungguhnya kita itu di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika selama ini saya belum tertarik untuk mencermati data hasil survey berbagai lembaga survey nasional, misalnya Alvara, CSIS, LSI dan SMRC dan sebagainya, maka kemudian saya menjadi tertarik untuk membahasnya.
Saya telah membaca berbagai hasil survey itu, misalnya tentang “Profile Keberagamaam Masyarakat Jawa Timur”, “Wajah Kelas Menengah Muslim Indonesia”, “Generasi Milenial”, dan sebagainya, yang saya peroleh dari kiriman WA group, seperti WA Group Tim Pidato Menteri, WA Group Dosen NU, WA Group Pimpinan PTKIN dan yang terakhir juga WA dari Pak Ari Dwipayana. Sungguh saya belum tertarik untuk membahasnya di blog saya, sebab akhir-akhir ini saya lebih banyak menulis tentang aktivitas saya dalam kegiatan-kegiatan yang saya lakukan bersama unit-unit Kemenag.
Kali ini saya ingin membahas tentang “Wajah Kelas Menengah Muslim Indonesia: antara Materi dan religiusitas” berdasarkan survey yang dilakukan oleh Alvara Research Center, Jakarta, tahun 2017. Survey ini tentu sangat menarik di tengah berbagai hiruk pikuk keberagamaan di Indonesia, khususnya kebaragamaan yang bercorak lebih ekskusif dan terkadang bertentangan dengan keinginan untuk mempertahankan 4(empat) pilar consensus kebangsaan.
Berdasarkan laporan hasil survey Alvara, 2017, diketahui jumlah umat Islam berdasarkan pulau dapat diketahui ialah Sumatera sebanyak 87,12%, Jawa 95,64%, Kalimantan 78,23%, Sulawesi 80,89%, Bali dan Nusra 40,42%, Maluku dan Papua 37,13%. Secara keseluruhan jumlah umat Islam ialah 87,13% dari total penduduk Indonesia 207, 176 juta jiwa.
Sesuai dengan kategori yang dirumuskan oleh Asian Development Bank (ADB), maka yang dinyatakan sebagai kelas menengah ialah penduduk yang memiliki penghasilan sebesar $2 hingga $20 perkapita perhari. Berdasarkan rentangan pengeluaran, maka didapatkan kategori: lower middleclass ($2 hingga $4), middle-middleclass ($4 hingga $10) dan upper middleclass ($10 hingga $20). Dari sudut pandang ekonomi, maka kelas menengah didasarkan atas pengeluaran perhari. Dari berbagai literature didapatkan bahwa kelas menengah Muslim Indonesia masih berkategori lower-middleclass, dengan indicator penghasilan mereka kebanyakan digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang tinggi.
Di dalam tulisan ini, saya akan membahas tentang keberagamaan Kelas Menengah Muslim Indonesia dari perspetif keberagamaan saja dan tidak membahas yang terkait dengan ekonominya. Pemilihan ini tentu didasarkan atas kepentingan untuk menginformasikan tentang bagaimana sesungguhnya wajah keberagamaan kelas menengah muslim Indonesia tersebut.
Dari hasil survey ini, yang menarik bahwa kebanyakan kelas menengah muslim dekat dengan organisasi NU sebesar 59,7%, Muhammadiyah 11,8% dan ada sebanyak 26,5% tidak terikat dengan organisasi keagamaan. Bisa jadi kedekatan mereka karena factor keluarga, atau dengan ajaran Islam wasathiyah yang dikembangkan NU dan juga pergaulannya dengan tokoh-tokoh NU. Survey ini memberikan indikasi menarik bahwa kalangan menengah muslim ternyata memiliki kedekatan dengan NU yang di masa lalu dilabel sebagai organisasi tradisional dan berwajah pedesaan.
Jika melihat jumlah yang berhubungan dekat dengan NU dan Muhammadiyah dengan persentase sebesar 73,5%, maka dapat dijelaskan bahwa wajah Islam yang dikembangkan ialah Islam wasathiyah, sebab NU dan Muhammadiyah adalah pilar Islam wasathiyah ini. Jadi Islam yang digelutinya ialah Islam berwajah Islam Indonesia dan bukan Islam berwajah Timur Tengah yang lebih puris. Jika dikembangkan lebih lanjut bahwa terdapat sebanyak 26,5% yang tidak dekat dengan organisasi Islam manapun tentu bisa dikaitkan dengan mereka yang berlatarbelakang pendidikan umum dan kemudian tidak pernah terlibat di dalam organisasi keagamaan baik pada waktu belajar ataupun sesudahnya dan kemudian mereka belajar Islam dari berbagai sumber informasi, seperti internet, televisi, dan lainnya. Mereka tidak terikat dengan ulama dan organisasi keagamaan tetapi memiliki komitmen keislaman yang baik.
Hal ini dapat dikaitkan dengan data bahwa sumber informasi keagamaan diperoleh dari TV (68,4%), acara pengajian dekat rumah (54%), broadcast akun messenger (17%), artikel di media sosial (14,1%) dan artikel di internet (13,9%). Jika kita cermati data ini, maka sumber informasi keislaman itu terbesar diperoleh dari media televisi. Artinya, bahwa TV ternyata menjadi medium penting bagi proses keislaman seseorang. Mereka mendalami ajaran Islam justru bukan dari ulama melalui proses pembelajaran langsung, misalnya berguru kepada kyai atau ulama –tentu disebabkan oleh factor waktu yang terbatas—akan tetapi diperoleh melalui sumber tidak langsung. Televisi menjadi medium belajar agama.
Yang saya kira penting untuk dicermati ialah sejauh mana para awak televisi menyadari betapa TV telah menjadi sumber informasi keagamaan ini. Sejauh yang saya tahu bahwa awak televisi “belum” melakukan upaya untuk mengembangkan Islam dalam coraknya yang wasathiyah. Memang ada beberapa acara yang sudah dilakukan oleh berbagai TV, misalnya TV One, TVRI, iNews TV, Indosiar, Trans TV yang menggelar acara-acara keagamaan dalam coraknya yang moderat, akan tetapi juga ada siaran-siaran televisi yang memang mengusung Islam eksklusif. Kebanyakan narasumbernya berasal dari Timur Tengah dan kalaupun sumber da’inya berasal dari orang Indonesia tetapi juga lebih keras dalam paham keagamaannya.
Saya kira sudah saatnya, bahwa pemerintah memiliki regulasi yang lebih kuat dalam mengatur sumber informasi keagamaan ini, sebab Maklumat Menteri Agama yang pernah diedarkan beberapa bulan yang lalu, saya kira belum menjadi pedoman yang hebat untuk mengatur penyiaran agama tersebut,
Wallahu a’lam bi al shawab.