Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MENGUNJUNGI MASJID DAN PAGODA (8)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MENGUNJUNGI MASJID DAN PAGODA (8)
Setelah kami melihat Great Wall atau Tembok Cina, maka saya sempatkan untuk berkunjung ke Masjid Niujie di Beijing. Masjid ini didirikan oleh Nasuruddin, seorang ulama dari Arab Saudi, pada tahun 996 M. Masjid ini juga disebut sebagai “Libaisi” oleh Kaisar pada tahun 1474 M.
Masjid ini sangat indah dilihat dari ornamennya. Dengan ornament berciri khas merah, maka kelihatan betul bahwa masjid ini merupakan masjid di Cina dengan keagungan pahatannya. Bangunan masjid ini merupakan gabungan dari tradisi arsitektur Arab dan Cina. Itulah yang menyebabkan bangunan masjid ini sangat khas tidak sebagaimana masjid di Arab atau Indonesia.
Sebagaimana bangunan di Cina, maka masjid Niujie ini memiliki kekhasan yang mirip dengan bentuk bangunan Pagoda di Cina. Ada tiga bangunan yang mirip pagoda, yaitu di sebelah utara, depan dan selatan. Atap bangunan itu berundag dua, dengan cat warna-warni, meskipun warna merah yang dominan. Bangunan berundag atau pavilion selatan dibangun pada tahun 1496 M di dalam inskripsi dalam bahasa Cina dan Persi. Lalu Menara yang dibangun oleh ulama Muslim pada tahun 1068-1077, disebut sebagai “Xuanlilou” yang digunakan sebagai tempat untuk memanggil akan datangnya waktu shalat atau adzan. Paviliun utara dibangun pada tahun 1496 M. Dan ada juga ruang-ruang kelas yang saya perkirakan sebagai tempat untuk belajar Al Qur’an.
Bangunan tiangnya ditambah dengan asesori yang berwarna merah menyala dan warna kuning. Karpetnya berwarna hijau dan di tempat imam juga terdapat pahatan kayu atau kaligrafi tulisan Arab berwarna kuning yang sangat khas. Itulah saya rasa sebagai cita rasa arsitektur berkhas Cina. Mimbarnya juga sangat khas, dengan tongkat dari kayu yang memiliki lekuk-lekuk indah. Sayang saya tidak bisa menanyakannya secara mendalam tentang kayu apa yang digunakan untuk tongkat Sang khotib.
Jika menilik terhadap tahun berdirinya masjid ini, maka artinya bahwa masjid ini didirikan pada tahun yang hampir sama dengan didirikannya masjid-masjid di Guangzhou atau dulu disebut sebagai Canton. Rupanya, para Dai yang datang ke Cina ini dalam waktu yang bersamaan. Dalam pikiran saya, bahwa Sahabat Nabi Sa’ad bin Abi Waqqas datang ke Guangzhou, sementara itu Nusuruddin datang ke Beijing, atau disebut Peking di masa lalu.
Canton memang telah menjadi pusat perdagangan dan kota internasional di zaman Kekaisaran Tang. Jadi, di masa persebaran Islam di masa lalu, Canton sungguh sudah merupakan daerah perdagangan. Jika menyebut jalur sutra, maka Canton merupakan salah satu tujuannya. Sedangkan Peking menjadi wilayah ibukota kekaisaran Cina, terbukti dengan Benteng Cina atau Great Wall yang luar biasa panjangnya itu, 8000 KM lebih.
Masjid Niujie di Beijing ini sungguh menarik dan memiliki daya tarik yang khas. Jika kita shalat di dalamnya, maka akan merasakan kesyahduan yang luar biasa. Saya bersyukur bisa shalat jama’ ta’khir qasar untuk Shalat Dzuhur dan Ashar. Karena saya yang lebih tua maka saya harus menjadi imam, sementara Fery, Jemi dan Desmon menjadi makmumnya.
Saya lalu ingin bercerita tentang Pagoda di Beijing. Tidak seperti di negeri kita, yang masjid dan vihara bisa ada di mana-mana, dibangun dan didirikan di mana-mana, maka di Guangzhou dan Beijing hanya ada beberapa vihara atau pagoda. Kalau tidak salah di Guangzhou hanya ada 2 (dua) pagoda saja dan Beijing juga sama. Tetapi tentu ada beberapa bangunan yang biasa digunakan untuk penyembahan kepada Yang Maha Suci secara individual. Sebagaimana di Thailand maka di beberapa tempat ada kuil-kuil yang dijadikan sebagai tempat untuk persembahan saja.
Pagoda ini didirikan pada tahun 420-479 M pada zaman kekaisaran Song. Artinya Temple Liu Rang ini sudah berumur lebih dari 1500 tahun.
Di dalam pagoda Liu Rang terdapat beberapa bangunan, yang menggambarkan tentang tempat persembahan bagi dewa-dewa di dalam agama Buddha. Misalnya ada tempat ibadah berdasarkan atas Arca Dewi Kwan Im, dan ada beberapa tempat persembahan bagi dewa-dewa lainnya. Semestinya ada 6 (enam) pohon yang disebut sebagai 6 (six) Banyan Tress di dalam pagoda ini, akan tetapi yang direnovasi hanya 3 (tiga) saja. Tiga bangunan persembahan ini yang terus dipenuhi dengan umat Buddha di dalam persembahyangannya.
Namun demikian ada hall utama yang dijadikan sebagai tempat sembahyang. Hall ini dijaga oleh para pendeta Buddha, yang betugas mengawasi terhadap individu yang melakukan sembahyang. Mereka berpakaian coklat tua, ada lelaki dan perempuan. Orang yang akan ibadah juga dipandu untuk mengenakan pakaian serupa, meskipun bisa juga tidak menggunakannya. Bedanya, jika para pendeta atau bhiksu itu semuanya gundul, maka yang bersembahyang tentu tidak seperti itu. Banyak warga yang melakukan ritual di hall ini.
Yang menarik bagi kami bahwa untuk memasuki pagoda ini harus membayar. Jadi, baik yang akan melakukan sembahyang atau sekedar rekreasi juga dikenai ticket. Saya dan kawan-kawan tentu juga harus membayarnya. Rasanya ticket ini memang diperlukan sebagai bagian dari upaya untuk perawatan terhadap vihara ini. Jika di dalam Islam tidak dikenai ticket, akan tetapi secara suka rela membayar infaq dan shadaqah.
Selain itu, ada satu hal yang juga menarik untuk dikaji lebih jauh ialah adanya “kesamaan” dalam gerakan ritual. Misalnya ada gerakan membungkuk atau rukuk dalam Islam dan juga ada gerakan yang menyerupai sujud. Saya kira menarik dikaji dari perspektif adanya persamaan gerakan dalam ritual yang bisa jadi juga memiliki “kesamaan” makna di dalamnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE NEGERI TIRAI BAMBU: GREAT WALL YANG MENAKJUBKAN (7)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: GREAT WALL YANG MENAKJUBKAN (7)
Jarak antara Guangzhou dengan Beijing ternyata cukup jauh. Butuh waktu 3 (tiga) jam perjalanan dengan pesawat udara. Pesawat yang saya tumpangi ialah Boeing berbadan lebar, Boeing 383, dengan dua deck, atas dan bawah. Pesawat ini sangat istimewa. Selama ini saya menganggap bahwa pesawat Emirat Airline sudah sangat baik, tetapi dibandingkan dengan Boeing 383 Southern China Airline, ternyata kalah jauh. Bisa juga pesawat ini baru, akan tetapi melihat desainnya memang disiapkan luar biasa.
Saya tidak sempat banyak berkunjung di Guangzhou untuk jalan-jalan. Hanya malam hari setelah dari KJRI, maka saya sempat melihat Gedung Menara Guangzhou atau Canton Tower Touring Panorama. Gedung yang luar biasa dan dihiasi dengan warna-warni lampion. Tingginya 488 M lebih menjulang ke atas. Dibangun dengan desain tiangnya yang bercorak miring, bentuk bangunan kecil di tengah dan besar di bawah dan atas. Orang bisa naik lift sampai ke lantai paling atas. Semakin atas semakin mahal harganya. Jika pada ketinggian 468 M berharga 398 Yuan, pada ketinggian 460 M berharga 298 Yuan, pada ketinggian 450 berharga 228 Yuan dan pada ketinggian 433 M berharga 150 Yuan. Sayangnya saya tidak sempat naik ke atas. Tower sudah tutup ketika saya datang ke menara ini. Maklum sudah malam ketika saya sampai di menara ini.
Saya berangkat ke Beijing pada pukul 15.00 waktu setempat. Jika saya bandingkan Bandara Baiyun di Guangzhou dengan Bandara Beijing rasanya Baiyun Port lebih luas dan mewah. Banyak pertokoan dengan aneka dagangan di Baiyun Port. Semua merek terkenal ada di sini, mulai dari Channel sampai merek local. Barang mainan anak-anak, makanan dan minuman sampai barang gunaan lainnya. Di Baiyun Port juga ada makanan halal. Tepatnya di lantai dua internasional dekat lift di arena restorant. Saya sempat makan di resto ini untuk makan siang.
Kami dijemput oleh Hutomo, mahasiswa Feihang University pada Program Studi Civil Architecture. Dia sudah tahun kedua di Cina, dan program pembelajarannya menggunakan bahasa Inggris. Tahun depan akan menyusun skripsi sebagai tugas akhir untuk meperoleh gelar sarjana. Dia berasal dari Makassar, dia menyatakan bahwa “selepas menyelesaikan program strata I, saya akan bekerja terlebih dahulu.”
Jika di Guangzhou kami diantar oleh Edward, mahasiswa program studi Internasional dalam bidang Economy and International Business dengan pengantar bahasa Mandarin, maka di Beijing kami dipandu oleh Hutomo ini. memang di Cina membutuhkan orang yang bisa berbahasa Mandarin agar perjalanan menjadi lebih mudah. Bahasa Inggris kurang cukup sebab tidak semua yang kita ajak komunikasi bisa menggunakan bahasa Inggris dimaksud.
Di Beijing kami mengunjungi beberapa tempat, yaitu Great Wall, Kuil dan masjid. Pagi-pagi jam 8.00 waktu setempat kami telah siap-siap untuk berangkat. Sebenarnya kami sudah disiapkan dengan jaket kulit untuk berjaga-jaga jika temperature sangat rendah. Ternyata betul bahwa temperature dibawah 0 derajat. Kami disarankan oleh kawan-kawan agar menggunakan jaket tebal. Khawatir serangan angina yang dingin dan berpeluang sakit. Makanya kami membeli jaket tebal sebagai respon positif atas desakan kawan-kawan. Ternyata udara sangat dingin, sehingga kami juga harus membeli tutup kepala dan kaos tangan.
Untuk sampai ke Great Wall harus jalan kaki sebab tidak semua kendaraan bisa memasuki arena yang lebih dekat dengan pintu masuk. Kami harus berjalan kira-kira 1 (satu) kilo meter untuk mencapai pintu gerbang Great Wall. Ada jalan menanjak yang dipenuhi dengan orang jualan cendera mata. Dan juga jualan makanan dan minuman. Disebabkan karena ketakutan memakan makanan non halal, maka kami hanya makan jangung rebus saja. Maklum kami hanya sarapan roti di jalan menuju ke Great Wall.
Kami masuk melalui pintu gerbang Great Wall setelah membeli ticket, seharga 10 Yuan. Ramai juga orang dating ke tempat ini. rasanya ada dari turis dalam negeri dan juga dari Pakistan, Malaysia, India dan juga Singapura. Bahkan saya lihat beberapa turis dari Eropa. Mereka dating dengan Bus Pariwisata da nada juga yang menggunakan modil van. Mereka yang bisa masuk ke dalam mendekati pintu gerbang hanyalah yang berlisensi saja.
Begitu memasuki area Great Wall, maka pikiran saya menerawang jauh ke masa lalu, dengan sebuah pertanyaan. Bagaimana kaisar Cina dulu membangun Great Wall yang sedemikian panjang di atas gunung dengan tebing yang curam? Berapa anggaran yang dibutuhkan untuk membangunGreat Wall yang luar biasa kuat dan hebatnya ini? sungguh tidak terbayangkan berapa jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dan berapa banyak material yang dihadirkan untuk membangun peradaban tinggi seperti ini?.
Pikiran saya lalu terbayang dengan bagaimana Fir’aun membangun Piramida di Mesir atau Raja di Jawa membangun Candi Borobudur. Bangunan Piramida di Mesir dengan batu-batu raksasa dinaikkan ke atas, sama dengan bahan bangunan dinaikkan ke atas gunung-gunung di Cina. Alangkah hebatnya kerja peradaban yang dilakukan oleh para kaisar di Cina ini. saya kira hanya dengan kesejahteraan atau kekayanaan negara yang hebat dan kekuasaan yang full power saja bangunan seperti ini bisa dihadirkan.
Setiap jarak 200 meter atau 300 meter selalu ada bangunan seperti “regol” atau tempat pemberhentian. Dahulu menjadi tempat berjaga bagi tentara Cina. Bangunan untuk pertahanan dibikin lebih tinggi dengan lubang atas selebar kira-kira 20 cm. tempat itu digunakan oleh pasukan panah untuk mengawasi tentara musuh yang dating. Makanya, dalam berates-ratus tahun tembol benteng ini kuat menjaga kekaisaran Cina dari serangan musuh.
Banyak orang yang naik sangat tinggi mendekati puncak bukit, akan tetapi saya hanya 3 (tiga) “regol” saja. Kami harus tahu diri sebab selain factor usia tentu juga masih ada acara lain yang harus kami kunjungi. Dan kami ingin semuanya bisa diselesaikan hari itu.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE NEGERI TIRAI BAMBU: TRADITIONAL CHINA MEDICINE (6)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: TRADITIONAL CHINA MEDICINE (6)
Selama ini saya memang telah mengenal betapa kehebatan ilmu kedokteran China, yang tidak hanya mengandalkan ilmu kedokteran barat akan tetapi juga mengembangkan ilmu kedokteran timur. Salah satu di antara yang dikembangkan itu ialah Traditional China Medicine (TCM). Bahkan salah satu lembaga pendidikan disiapkan untuk kepentingan itu, yaitu China University of Traditional Medicine.
Saya pernah mendengar tentang cara pengobatan Cina dalam hal saraf terjepit dan bagaimana Kedokteran Cina melakukan pengobatannya. Dilakukan tanpa operasi dan hanya dilakukan dengan menarik secara perlahan daerah yang sarafnya terjepit dan kemudian meminum ramuan herbal yang diproduksi di Cina. Jika dihitung biayanya sama dengan biaya operasi, tetapi dengan resiko yang lebih kecil. Melalui operasi pembedahan, maka hasilnya juga fifty-fifty. Demikian cerita Prof. Dr. Eko Sugitario (anggota DRD Jawa Timur) dalam salah satu kesempatan bersama saya di Kantor DRD Jawa Timur.
Saya memang tidak melakukan perjalanan dinas terkait dengan hal ini, akan tetapi dengan bertemu salah seorang mahasiswa program magister di Cina ini tentu menggambarkan bahwa Ilmu Kedokteran Cina Tradisional sudah melangkah sangat jauh. Meskipun belum seluruh dunia mengakui pengobatan tradisional tersebut, tetapi Cina sudah jauh mengembangkan Ilmu Kedokteran Timur yang cukup memadai.
Saya tentu beruntung dapat bertemu dengan pemuda Medan dan pasangannya, Dr. Henry yang sedang mengambil program magister di bidang TCM. Dia Sarjana Kedokteran dan kemudian mengambil program magister di bidang TCM dan pendidikan ini sudah dilaluinya dengan baik. Dia telah memperoleh gelar master di bidang TCM dan sebenarnya sudah sangat siap untuk mendarmabaktikan ilmunya dalam dunia medis. Hanya sayangnya bahwa di Indonesia pengakuan tentang TCM itu belum memadai, kalau tidak disebut “belum” diakui. Masih dianggap sebagai keterampilan saja atau program pendidikan vokasi.
Dalam diskusi di sela-sela perjalanan ke Great Wall di Cina bersama dengan Pak Supriyadi dan Pak Ferry, maka kami merasakan bahwa mereka sesungguhnya sedang menghadapi “kegundahan”. Gelar Magister sudah di tangan akan tetapi pengakuan pemerintah terhadap gelar ini tidak didapatkannya. Keahlian TCM ini belum memperoleh pengabsahan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), sebagai bagian dari Ilmu Kesehatan. Demikian pula Kementerian Kesehatan juga belum mengakuai terhadap produk kesarjanaan TCM termasuk gelar magisternya.
Henry menyatakan bahwa “saya harus mengambil program Sertifikasi Kompetensi Keahlian (SKK) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Bagaimana bisa gelar saya sebagai master di bidang TCM tidak diakui di Indonesia.” “Akhirnya dengan terpaksa kami harus mengambil program sertifikasi agar kami bisa membuka klinik di bidang ini, untuk keahlian acupuntur. Dan sertifikat ini bukan sertifikat di bidang kesehatan, akan tetapi sertifikat kompetensi untuk melakukan akupuntur semata”, tambahnya.
Diskusi ini menjadi terus berlanjut terkait dengan program pendidikan di bidang kesehatan dalam Agama Buddha. Pak Supri menjelaskan bahwa di dalam ilmu kesehatan ada yang disebut sebagai Terapeutik atau keahlian untuk melakukan pengobatan berbasis pada pendekatan agama. Di dalam Agama Buddha, memang ada potensi ajaran tentang bagaimana melakukan pengobatan. Di dalam bahasa sehari-hari bisa disebut sebagai Shinshe. Yaitu orang yang memiliki keahlian untuk melalukan pengobatan secara tradisional dan juga meracik obat-obatan herbal. Saya kira sama dengan ketabiban dalam konteks yang lebih umum.
Di dalam program pendidikan agama Buddha, lalu dicarikan nama yang relevan dengan ajaran Agama Buddha, yang disebut sebagai “Usadha” atau pengobatan. Terjemahan Terapeutik itu ialah Usadha dalam Agama Buddha. Terkait dengan hal ini, maka Pendidikan Tinggi Agama Buddha lalu mengembangkan Program Studi Dharma Usadha. Program ini dinyatakan sebagai program sarjana atau Strata I.
Sayangnya bahwa Kemenristekdikti dan juga Kemenkes belum mau mengakui bahwa program studi ini memiliki basis keilmuan yang memadai. Produknya hanya dianggap sebagai memiliki keahlian atau keterampilan melakukan pengobatan tradisional dan belum memiliki basis keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Demikian pula di Kemenkes. Ada anggapan juga bahwa “usadha’ hanyalah keahlian atau keterampilan saja dan bukan keilmuan. Kemenristek hanya mengakui TCM atau di dalam Agama Buddha sebagai Usadha itu sebagai program vokasi saja. Jadi tidak bisa disamakan dengan dunia kedokteran yang memang sudah memiliki basis recognisi yang kuat.
Rupanya, basis keilmuan para dokter dan akademisi yang selama ini berkiblat di Barat belum “rela” jika otoritas keilmuan kedokteran Barat itu dimasuki atau diintervensi oleh program “usadha” atau terapeutik ini. Jadi meskipun seseorang sudah menyelesaikan program pendidikan strata dua, akan tetapi tetap saja ilmunya tidak diakui. Meskipun seseorang telah memperoleh ijazah master, tetapi untuk membuka klinik akupuntur atau acupressure tetap harus memperoleh Sertifikat Kompetensi Keahlian (SKK).
Memang harus diakui bahwa dominasi keilmuan memang terkadang menjadi kendala untuk melihat ada perspektif lain atau cara pandang lain dalam melihat sesuatu. Saya teringat di masa lalu, psikhologi Islam itu dianggap hanya khayalan belaka. Beberapa ahli psikhologi yang berbasis pendidikan Barat yang positivistic tidak akan mengakuinya. Jadi kalau ada tulisan yang memasukkan Ayat Kitab Suci di dalam kajian psikhologi, lalu dianggap sebagai kesalahan memalukan.
Namun seirama dengan upaya yang terus menerus di antara para pengkaji dan pelaku pendidikan psikhologi Islam, akhirnya pelan tetapi pasti mulai ada pengakuan tentang keberadaan psikhologi Islam dimaksud.
Saya kira keberadaan TCM juga sama. Dia akan berhadapan secara diametral dengan para ilmuwan kedokteran Barat yang selalu merasa bahwa tidak ada “kebenaran” lain selain kebenaran madzabnya itu. Sehingga jika ada yang melahirkan ilmu yang bukan dalam kandungan ilmu kedokteran Barat dipastikan bahwa hal itu merupakan “kesalahan” yang tidak bisa ditoleransi.
Makanya, menurut pendapat saya, seharusnya Perguruan Tinggi di Cina yang mengembangkan pengobatan Cina tradisional harus terus berupaya untuk memperoleh pengakuan dan hal itu bisa dimulai dengan kerja sama antar mereka, sehingga pelan tetapi pasti akan diperoleh pengakuan yang seimbang.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MENGUPAYAKAN INTERFAITH DIALOGUE (5)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MENGUPAYAKAN INTERFAITH DIALOGUE (5)
Perbincangan dengan Pak Wicaksono memang menjadikan suasana makin hangat. Maklumlah, Pak Wicak ini memang humoris dan tertawanya lepas saja. Saya kira ada kesamaan dengan saya yang juga suka bercanda di tengah bicara seserius apapun. Kalau saya serius dalam berbicara justru dipertanyakan oleh staff saya. Pernah saya berceramah dengan serius dari awal hingga akhir dan justru dipertanyakan bahwa saya tidak hadir. Ternyata bahwa kehadiran saya itu jika berceramah dengan sambil gurauan. Saya kira perbincangan di KJRI juga sama. Kita bisa tertawa lepas dan hangat.
Setelah Pak Supriyadi menyampaikan uneg-unegnya, maka giliran Pak Ferry Meldy (Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag) menyampaikan tujuan dan keinginannya berkunjung ke Cina ini. Pak Fery menyatakan bahwa ada keinginan agar antara Indonesia dan Cina menyelenggarakan acara interfaith dialogue. Selama ini antara pemerintah dan Cina belumlah memiliki satu forum interfaith dialogue sebagaimana negara lain. Kita sudah memiliki 38 negara sebagai anggota interfaith dialogue. Dua yang terakhir ialah dengan pemerinah Myanmar dan Belgia.
Dengan Pemerintah Myanmar tentu kita membicarakan tentang kasus kekerasan di Rohingya beberapa saat yang lalu, dan dengan Belgia tentu dalam kaitannya dengan pentingnya penjelasan-penjelasan tentang berbagai program kerukunan umat beragama di Indonesia. Beberapa saat yang lalu, kami ke Brussel untuk melakukan interfaith dialogue. Saya datang bersama tokoh NU, Muhammadiyah dan juga tokoh umat beragama serta pimpinan perguruan tinggi Islam. Dan satu hal yang positif ialah mereka mengakui bahwa Indonesia adalah the best example for religious harmony. Demikian penjelasan Pak Ferry.
Nah kita sedang merancang tahun depan untuk menyelenggarakan interfaith dialogue dengan pemerintah Cina. Untuk kepentingan ini, saya rasa perlu sekali dukungan dari Kedutaan Besar RI di Beijing dan juga KJRI di Guangzhou dalam rangka mendukung terhadap keinginan ini. Untuk interfaith dialogue biasanya memang kita lakukan dengan tokoh agama dari agama mayoritas. Jadi kalau di Cina tentu dengan tokoh-tokoh agama Buddha.
Pak Wicak lalu memberikan tanggapan atas pembicaraan Pak Ferry. Dinyatakan bahwa Cina ini memang berbeda dengan negara-negara lain, sebab negara sama sekali tidak mengakui tentang keberadaan agama-agama. Sebagai negara atheis atau komunis tentu dipahami sikap negara terhadap agama ini. Tetapi pemerintah juga tidak melarang jika warga negaranya mengikuti agama tertentu. Makanya, agama Islam juga ada pengikutnya dan bisa berkembang seperti di Guangzhou, di Beijing dan juga di wilayah Uighur. Demikian pula Agama Buddha juga hidup dan berkembang di negeri ini. Mayoritas masyarakat memang memeluk Agama Buddha.
Negara menyerahkan sepenuhnya urusan agama kepada asosiasi masing-masing. Di dalam Agama Buddha terdapat China Buddhis Association, yang dipimpin oleh Master Xue Cheng, sedangkan yang Muslim dibawah The China Muslim Association. Sebagaimana saya ceritakan bahwa yang mengurusi Makam Abi Waqqas ialah Imam Sideeq, sebagai anggota asosiasi ini.
Masyarakat beragama harus beribadah di tempatnya. Tidak diperkenankan di sini untuk beribadah di luar tempat ibadah. Misalnya tidak boleh beribadah di jalan atau lapangan yang di situ sebagai fasilitas umum. Ibadah tidak boleh mengganggu terhadap kepentingan umum.
Saya tentu sangat senang jika ada acara inteffaith dialogue antara Cina dan Indonesia, sebab dialog itu tentu hal yang sangat penting untuk saling memahami bagaimana mengelola kehidupan beragama di masing-masing negara. Hanya saja, di Cina yang pemerintah tidak mengakui tentang suatu agama, maka keberadaan agama sama sekali di luar kepentingan pemerintah. Bahkan pemerintah juga tidak memberikan hibah atau anggaran apapun kepada asosiasi agama itu. Jadi asosiasi dan umatnya harus bisa mengurus dirinya sendiri.
Di dalam hal ini tentu lalu terkait dengan pembiayaan. Jika dilakukan acara interfaith dialogue, lalu siapa yang membiayai. Tentu dipastikan pemerintah tidak akan membiayainya, demikian pertanyaan Pak Wicak. Pak Ferry menjelaskan bahwa selama ini, jika dialog dilakukan di Indonesia, maka Kemenag yang membiayai seluruh transportasi dan akomodasi para peserta dari luar negeri, dan jika delegasi datang ke luar negeri, maka pemerintah setempat yang membiayainya. Jika memang tidak ada pembiayaan tentu bisa dilakukan di Indonesia dengan segenap konsekuensi pembiayannya, sedangkan jika dilakukan di Cina tentu kita berharap melalui diplomasi ada bagian dari pemerintah untuk membiayainya.
Pak Wicak, memang harus ada pembicaraan lebih lanjut tentang hal ini, akan tetapi saya kira memang interfaith dialogue antara Cina dan Indonesia memang diperlukan. Kita coba lakukan negosiasi tentang hal ini.
Saya kemudian menimpali, bahwa tahun 2018 agar dipastikan ada program interfaith dialogue antara Cina dan Indonesia yang ditempatkan di Indonesia. Kita pastikan anggarannya, kita pastikan kesiapannya. Dan ini merupakan sejarah baru bagi kita bisa melakukan dialog antar umat beragama dengan Cina yang selama ini belum pernah dilakukan.
Pembicaraan ini tidak terasa cukup lama berlangsung. Kira-kira jam 19.30 Waktu setempat, kami pamit ke Pak Wicaksono. Kami tentu berterima kasih sudah diterima di sini dan dapat mendiskusikan hal-hal yang prospektif ke dapan. Kami diantar sampai lantai bawah hotel dan yang tidak lupa pasti selfie bareng.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MENDISKUSIKAN ROHANIWAN BUDDHA (4)

KE NEGERI TIRAI BAMBU: MENDISKUSIKAN ROHANIWAN BUDDHA (4)
Memang agak malam saya datang ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou. Kami dating ke sini setelah melakukan acara ziarah ke Makam Keramat Sayyed Sa’ad bin Abi Waqqas, sahabat dan Paman Nabi Muhammad saw dan juga shalat jama’ ta’khir di Masjid Abi Waqqas.
Saya merasa bergembira sebab tentu kedatangan kami sudah dibicarakan oleh Pak Komeng atau Pak Hotma Napitupulu dengan pimpinan beliau. Hari itu Pak Konjen memang sedang tidak ada di tempat. Ada acara yang tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya saya bertemu dengan Pak Wicaksono dan Pak Taufiq. Pak Wicaksono ini sebelumnya bertugas di Beijing dan sudah 2 (dua) tahun berada di Guangzhou. Sedangkan Pak Taufiq baru 2 (dua) bulan berdinas di KJRI Guangzhou.
Kami dating di KJRI pada jam 17.30. sudah sangat sore dan seharusnya Konjen sudah tutup. Tetapi lagi-lagi saya beruntung sebab Pak Wicaksono akan pulang malam, sebab harus mempersiapkan naskah atau bahan-bahan terkait dengan Ibu Ratu Silvy Gayatri (Konjen RI di Gunagzhou) akan pulang ke Indonesia. Tentu saja ada beberapa hal penting yang diperlukan untuk dituliskan sebagai laporan kepada Bu Menlu.
Dengan diantarkan oleh Romo Piyandi, kami datang di Konjen RI di Guangzhou. Kami tentu merasa lebih aman bersama beliau, sebab kami yang hadir ke Cina ini tidak ada satupun yang bisa berbahasa Mandarin. Makanya kehadiran Pak Piyandi tentu sangat membantu kami yang datang ke sini. Oleh petugas KJRI –tepatnya satpam—kami diiizinkan untuk masuk ke ruangan dalam. Bertepatan di dalam ruang tamu ada beberapa mahasiswa Indonesia yang akan berkonsultasi. Rupanya, KJRI memang masih terbuka untuk tamu dan juga para pendatang dari Indonesia pada sore hari itu.
Disambutlah saya oleh Pak Komeng yang datang terlebih dahulu. Mobil van yang kami tumpangi tidak memuat seluruhnya, sehingga kami dengan Pak Piyandi ke Makam dan Masjid Abi Waqqas dan sementara Pak Komeng langsung ke KJRI. Kami disuruh masuk lalu beberapa saat kemudian datang Pak Wicaksono –priyantun Yogyakarta—dan Pak Taufiq untuk menemui dan berbincang dengan kami.
Tentu kami tidak langsung to the point mengenai apa yang kami akan bicarakan. Kami “gegojekan” atau bercandaria terlebih dahulu, misalnya tentang relasi Cina dan Indonesia. Kami bercerita tentang perkembangan Cina yang sangat pesat, padahal ini adalah negara Komunis. Bagaimana Cina bisa memanej 1,5 Milyard penduduknya, dan bagaimana luas kota Guangzhou yang 11 kali lipat dibanding luas Jakarta dan juga penduduknya yang 200 juta orang. Kami bercerita tentang kereta cepat Cina yang luar biasa hebat mengalahkan kereta cepat Jepang dan Jerman.
Sampailah kami secara formal menyampaikan maksud dan kedatangan kami di Cina, khususnya bertemu dengan Pak Wicaksono dan Pak Taufiq. Saya sampaikan ucapan terima kasih yang tidak terkira karena kami diterima di saat seharusnya kantor sudah tutup dan Jum’at malam yang seharusnya Pak Wicaksono harus pulang untuk bersama keluarga. Saya ucapkan juga selamat menempati kantor yang hebat, 1 (satu) lantai Hotel bintang 5 (lima). Makanya, kemudian saya sampaikan agar Pak Supriyadi dan Pak Ferry menyampaikan maksud dan tujuannya mendatangi KJRI ini.
Pak Supriyadi (Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha, Kemenag) menyatakan bahwa salah satu yang menjadi masalah yang tidak mudah diselesaikan ialah terkait dengan banyaknya para Bhiksu palsu yang datang ke Indonesia. Mereka datang dengan menggunakan jubbah Bhiksu padahal sesungguhnya bukan bhiksu. Mereka adalah orang yang sengaja datang ke Indonesia dan kemudian mengaku sebagai Bhiksu untuk mencari uang.
Yang menyulitkan adalah mereka ini terorganisir dan datang secara bersamaan lalu menyebar di seluruh wilayah di Indonesia. Mereka datang dengan visa on arrival bahkan mungkin dengan pakaian tidak resmi dan sebagaimana turis pada umumnya. Akan tetapi setelah sampai di bandara kemudian berganti pakaian jubbah dan mengaku sebagai bhiksu. Mereka datang ke vihara-vihara atau ke umat Buddha dan meminta sedekah atau uang untuk kehidupannya selama di Indonesia.
Pernah ada yang kita tangkap lalu kita serahkan ke Kepolisian untuk diusut, lalu dideportasi kembali ke Cina. Namun demikian karena jumlahnya banyak tentu menjadi problem kami yang tidak mudah diselesaikan. Itulah yang kami mintakan kepada KJRI untuk bisa membantu kami di dalam menanggulangi pemalsuan Bhiksu di Indonesia. Demikian penjelasan Pak Supri.
Pak Wicak—begitu panggilan akrabnya—menyatakan ucapan terima kasihnya kepada kami semua atas kedatangan ke Cina dan terutama informasi penting tentang pemalsuan Bhiksu yang datang ke Indonesia. Menurut beliau bahwa dewasa ini memang sulit untuk melakukan pengawasan kepada para warga Cina yang datang ke Indonesia. Semenjak pemerintah Cina membuka pintu bagi warganya ke negara lain, dengan memberlakukan visa on arrival, maka gelombang orang Cina yang datang ke Indonesia juga sangat banyak.
Pemerintah Indonesia juga memberlakukan hal yang sama dengan dalih untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Indonesia. Di tengah keinginan untuk menambah jumlah wisatawan luar negeri, maka pemerintah juga membuka kerannya lebar-lebar untuk menerima kunjungan warga negara lain. Semenjak Cinda dan Indonesia sama-sama membuka keran kunjungan ke luar negeri dengan sistem visa on arrival, memang kunjungan ke masing-masing negara ini menjadi meningkat.
Oleh karena itu, ada hal yang harus dilakukan, yaitu Pak Sekjen bisa berkirim surat kepada kami untuk memberi penjelasan tentang keadaan ini dan meminta agar KJRI terlibat di dalam menangani atau mengawasi para Bhiksu palsu yang akan datang ke Indonesia. Kami akan bekerja sama dengan imigrasi Cina untuk mencoba memberikan pengawasan yang lebih ketat kepada para pengunjung atau wisatawan yang akan pergi ke Indonesia, terutama yang berpotensi menjadi bhiksu.
Meskipun hal ini agak sulit dilakukan, tetapi tidak ada salahnya jika kita semua melakukan upaya agar hal-hal seperti ini tidak terus terjadi. Dan saya juga menyampaikan bahwa yang harus melakukan pengawasan ketat ialah para pimpinan vihara di Indonesia. Jika ada yang datang ke viharanya, maka agar segera berkoordinasi dengan para pembimas di Kanwil atau para penyuluh agama agar segera memperoleh penanganan yang memadai.
Juga saya nyatakan, masyarakat Buddha juga harus melakukan kewaspadaan, jangan setiap orang yang memakai jubbah kebesaran para Bhiksu lalu dianggap sebagai bhiksu. Masyarakat juga harus aware atas masalah ini dan jika ada bhiksu yang datang kepadanya dan melakukan tindakan yang tidak terpuji dengan meminta-minta uang, maka harus dilakukan pengecekan secara memadai. Harus check and recheck. Tanyakan dan sampaikan kepada para penyuluh atau pembimas Buddha tentang siapa sesungguhnya mereka ini. Jadi memang diperlukan kebersamaan.
Wallahu a’lam bi al shawab.