Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PERSONAL DAN INSTITUTIONAL BRANDING MELALUI BLOG (3)

PERSONAL DAN INSTITUTIONAL BRANDING MELALUI BLOG (3)
Diskusi di UIN Sunan Ampel dengan tema “Personal dan Institutional Branding”, 22/12/17, yang dipandu oleh Pak Mastuki ini tentu menarik dilihat dari nara sumber yang sangat memadai. Prof. Moh. Ali Aziz adalah guru besar di bidang Ilmu Dakwah yang memiliki kualitas akademis dan pengabdian masyarakat yang sangat baik. Beliau telah menciptakan model terapi shalat bahagia yang tidak hanya sudah ditrainingkan di Indonesia tetapi juga di luar negeri.
Menurut pengakuannya, bahwa terapi shalat ini sudah disampaikan kepada orang-orang atheis di Amerika Serikat dan dinyatakan sebagai model gerakan atau terapi yang bisa menyehatkan. Melalui gerakan ruku’ dan sujud yang lama dan dengan tekanan pada saraf dan sendi-sendi tertentu, maka gerakan shalat ini akan dapat memberikan efek sehat pada saraf dan otot yang terkena gerakan shalat tersebut.
Sebagai pembahas pada kesempatan ini, Prof. Ali menyatakan, bahwa “para dosen dan mahasiswa harus mengembangkan budaya menulis. Jangan pernah berhenti untuk berkreasi melalui tulisan. Percayalah bahwa tulisan kita itu akan dibaca orang. Saya tidak mengira bahwa tulisan-tulisan saya itu dibaca oleh jutaan orang. Tulisan dalam bentuk apapun apa dibaca oleh masyarakat pembaca. Di era teknologi informasi dan media sosial ini, maka tulisan dalam bentuk apapun akan dibaca oleh khalayak.”
Lebih lanjut beliau menegaskan: “Saya terus bersyukur, karena bahan khutbah saya itu dihargai puluhan juta rupiah oleh orang yang bersimpati dengan gerakan dakwah dan pengembangan pendidikan. Bahkan tulisan saya, ada yang dihargai sampai ratusan juta rupiah. Semua ini memberikan gambaran bahwa jika kita rajin menulis dan secara konsisten terus dilakukan bukan tidak mungkin tulisan itu akan dihargai orang. Makanya, saya akan terus menulis.” Beliau memberikan tip tentang cara untuk menemukan judul yang menarik, misalnya dengan membaca buku atau artikel yang relevan dan kemudian merumuskan judul tulisan yang menarik minat.
Sebagai penanggap berikutnya, Mas Hadi Rahman memberikan penjelasan mengenai arah baru dalam bermedia sosial. Menurutnya, “Kita sekarang ini berada di era digital. Era media sosial di mana semakin banyak orang yang akan menggunakan media sosial untuk berinteraksi dan menemukan jati dirinya. Ada beberapa kategori tentang pemanfaat media sosial. Ada generasi yang lahir tahun 50-an, yang merupakan generasi yang paling lengkap pengalamannya. Generasi ini yang paling komplit pengalamannya. Menggunakan mesin ketik untuk menulis, lalu beralih ke computer generasi awal, program Windows dan seperangkat teknologinya, lalu ke generasi ipad dan android. Jadi generasi ini adalah yang paling menikmati perjalanan teknologi informasi yang paling lengkap. Prof. Nur Syam dan Prof. Ali Aziz adalah termasuk generasi yang komplit pengalamannya itu.
Kemudian ada generasi berikutnya yang tidak mengalami perjalanan panjang teknologi informasi, sebab mereka sudah berada di era sekarang atau disebut sebagai generasi now. Di sinilah banyak tantangan yang dihadapi oleh mereka yang menggunakan media sosial sebagai wahana interaksi dan indentifikasi diri tersebut. Pada generasi ini sesungguhnya pertarungan media atau cyber war itu terjadi. Makanya, terhadap generasi ini maka diperlukan seperangkat pengetahuan yang memadai agar kemudian tidak jatuh ke dalam kubangan masalah dengan orang lain atau kelompok lain sebagai akibat penggunaan teknologi informasi. Mereka perlu disadarkan akan bahaya pemanfaatan media sosial yang justru tidak mendidik, misalnya hoax, dan sebagainya.”
Lebih lanjut Beliau sampaikan: “Saya termasuk orang yang mengapresiasi terhadap blog Pak Sekjen. Tidak hanya dari konsistensinya tetapi juga varian isi atau contentnya. Beberapa saat yang lalu saya membawa rombongan para rektor ke Finlandia dalam rangka kerja sama dan membangun jejaring dengan beberapa perguruan tinggi di sana. Para rektor tentu berkampanye tentang kehebatan perguruan tingginya, akan tetapi ketika ditanya apa yang sudah dilakukan oleh para rektor dan para dosennya di tengah teknologi informasi, maka semua pada bungkam tidak bisa menjawab. Dan saya akhirnya diselamatkan oleh Blognya Pak Sekjen.
Saya sampaikan bahwa blog Pak Sekjen ini adalah contoh keterlibatan para dosen di PTKIN pada era teknologi informasi. Ditanyakan oleh pimpinan di sana, apakah Prof. Dr. Nur Syam adalah profesor di PTKIN, maka saya sampaikan bahwa: “Prof. Dr. Nur Syam adalah Professor Sosiologi pada UIN Sunan Ampel Surabaya dan juga beberapa Universitas Islam Negeri lainnya.” Lebih lanjut Mas Hadi menyatakan: “selamatlah wajah PTKIN berkat blognya Pak Sekjen”.
Selain Prof. Ali dan Mas Hadi juga ada narasumber lainnya, yaitu Pak Dr. Fathurrahman, dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Beliau menyatakan bahwa: “di dalam dunia tulis menulis ada beberapa nama yang dapat dicatat. Pada waktu saya akan menulis biografi Pak Imam Suprayoga, saya nyatakan bahwa ada tiga Imam yang harus ditulis biografinya. Ada Imam Syafii, ada Imam Ghazali dan Imam Suprayogo. Dan sekarang saya tambahkan Prof. Nur Syam.”
Seungguhnya menulis adalah kebiasaan. Siapa yang konsisten menulis, maka secara otomatis akan terbentuk kemampuan menulis. Kosa kata akan secara langsung bertambah, kecepatan untuk merangkai kalimat juga akan terbentuk dan yang tidak kalah penting bahwa kita akan bisa menerjemahkan pikiran kita ke dalam tulisan yang akan lebih abadi.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PERSONAL DAN INSTITUTIONAL BRANDING MELALUI BLOG (2)

PERSONAL DAN INSTITUTIONAL BRANDING MELALUI BLOG (2)
Acara tasyakuran (22/12/2017) tentang pemeringkatan blog saya itu ternyata memang serius. Hal itu dibuktikan dengan nara sumber yang menjadi pembahasnya ternyata orang yang selama ini terlibat dengan dunia media sosial. Hadir bersama saya adalah Prof. Dr. H. Mohammad Ali Aziz, MAg., professor Ilmu Dakwah pada UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau adalah penulis buku laris, “60 Menit Terapi Shalat Bahagia” dan Trainer Terapi Shalat Bahagia yang sudah keliling dunia untuk memberikan pelatihan tersebut. Juga hadir Mas Hadi Rahman, Staf khusus Pak Menteri Agama, anak muda yang selama ini terlibat di dalam media sosial dan menjadi pemasok informasi media sosial bagi Kemenag., Pak Dr. Fathurrahman, dosen UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, dosen yang aktif di media sosial dan memiliki followers yang sangat memadai, dan juga Dr. Mohammad Arif, MSi, dosen ilmu Komunikasi pada Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya. Dan dipandu oleh Dr. Mastuki, Kepala Biro Humas, Data dan Informasi Kemenag.
Ada tiga hal yang saya sampaikan pada kesempatan penting ini, yaitu: pertama, acara ini diusung dalam kerangka mensyukuri komitmen untuk terus menulis di dalam blog yang telah mencapai tulisan sebanyak 1656 buah. Tulisan ini diupload dalam waktu kurang lebih 7 (tujuh) tahun, semenjak tahun 2009 sampai sekarang. Seandainya saya tidak absen dalam setahun, maka kiranya sudah terdapat 2000 tulisan. Sayang bahwa saya pernah berhenti menulis. Biarlah ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk terus berkomitmen menulis itu.
Dilihat dari pengunjung tulisan, maka mereka datang dari Indonesia, Amerika Serikat, Malaysia, Taiwan, Singapura, Norwegia, Cina, Belgia, Jepang, Belanda, Jerman, Saudi Arabia, dan lain-lain. Ada sebanyak 36 negara yang mengakses tulisan ini. Yang menarik setelah pembaca Indonesia, maka yang menduduki peringkat kedua terbanyak ialah Amerika Serikat. Kemudian dari peringkat bagi saya juga cukup membanggakan sebab dari sejumlah 3000 blogger di Indonesia dan 120 juta blogger di dunia, ternyata blog saya itu berada dalam peringkat 44.572. Tentu merupakan kebanggan khusus bahwa tulisan-tulisan saya itu mendapatkan pemeringkatan yang lumayan baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kedua, semenjak semula niat untuk menulis di blog setiap hari itu adalah untuk menyemangati para dosen di UIN Sunan Ampel, Surabaya. Di setiap saya bertemu dengan para dosen muda itu selalu saya tanyakan: “apa masih menulis, sudah berapa banyak tulisannya” terkadang saya tambahkan “saya yang menjabat saja masih bisa menulis, seharusnya sampeyan lebih produktif” atau pertanyaan yang saya tujukan kepada para kandidat doctor, selalu saya tanyakan: “Kapan selesai doktornya”. Pertanyaan ini memang secara sengaja saya sampaikan agar bisa mensupport para dosen agar segera menyelesaikan studinya.
Dewasa ini ada semakin banyak doctor, baik dari dalam maupun luar negeri. Para doctor ini tentu sangat teruji di dalam menulis makalah atau sejenisnya. Sesungguhnya mereka telah memiliki seperangkat keterampilan untuk menulis. Dan dengan menyimak terhadap blog saya ini, maka mereka akan memperoleh lesson learn tentang aktivisme menulis tersebut.
Ketiga, ada beberap tip agar bisa menulis secara konsisten, yaitu: 1) tulislah yang kita pahami dan kita kuasai. Jika kita menulis yang kita pahami, maka kita akan bisa menulis dengan cepat dan akurat. Kita akan bisa memberikan penjelasan secara lebih rinci dan kita juga tidak akan terjebak pada penulisan yang bersifat subyektif dan kurang tepat. Saya memang tidak menulis dengan standart akademik yang tinggi. Saya hanya menuliskan pengalaman dan pengetahuan saya secara independen. Bahkan saya juga tidak menggunakan footnote yang ketat. Saya menulis dengan kekuatan pikiran saja. Nyaris tidak dijumpai catatan kaki untuk menggambarkan kita ittiba’ dengan penulis lain.
Saya kira menulis dengan tanpa referensi, bukanlah lalu tidak ada harganya, atau pengakuannya akademiknya sedikit. Melalui tulisan tanpa referensi juga tidak berarti terdapat kadar akademik yang rendah. Jadi, dengan tulisan kita akan memberikan peringatan, mengajak diskusi sebagai forum untuk tabayyun dan sebagainya. Selain itu juga memberikan informasi tentang komentar atau ulasan yang didasarkan atas kekuatan pikiran kita yang independen.
2) menulislah dengan focus yang jelas. Setiap tulisan tentu memiliki pesan yang akan disampaikan kepada pembacanya. Makanya setiap pembaca harus memperoleh kesan tentang apa yang dibacanya itu. Di dalam konteks ini, maka seorang penulis yang baik ialah jika dia menulis dengan focus yang jelas, memiliki pandangan yang mendalam dan juga memiliki ketajaman analisis. Ketiganya tentu akan bisa dilakukan dengan pelatihan dan pengalaman menulis yang cukup. Semakin banyak menulis akan semakin variatif kosa kata, dan juga makin “renyah” pembahasannya.
3) jangan menulis yang diperkirakan akan membawa kegaduhan. Seorang penulis yang baik juga predictor yang baik. Maka memprediksi terhadap dampak tulisan akan menjadi sangat penting untuk dipahami. Jangan sampai kita menulis lalu justru akan mematikan diri kita sendiri. Dewasa ini memang ada perubahan paradigm. Jika di masa lalu orang menulis dibahas dengan tulisan, akan tetapi sekarang tulisan dibalas dengan demo dan caci maki.
Sebagai seorang akademisi dan praktisi birokrasi saya kita kita memiliki sejumlah pengetahuan yang dapat kita tuangkan ke dalam tulisan. Jangan sampai pikiran-pikiran kita yang cemerlang itu hanya menguap bersama angin akan tetapi harus tetap lestari dengan tulisan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PERSONAL DAN INSTITUTIONAL BRANDING LEWAT BLOG (1)

PERSONAL DAN INSTITUTIONAL BRANDING LEWAT BLOG (1)
Saya tentu tidak mengira bahwa saya telah menjadi warga blogger di dunia ini. Tulisan-tulisan saya yang secara “relative” kontinyu di blog ternyata menghasilkan rangking yang tentu saja di luar perkiraan saya. Selama ini saya hanya terpikir menulis dan menulis tanpa ada keinginan untuk melakukan lebih dari itu. Saya hanya terpikirkan untuk menulis di saat-saat yang mungkin dan kemudian memajang tulisan itu di Blog pribadi saya, nursyam.uinsby.ac.id.
Saya tentu berterima kasih kepada kolega saya Nur Hasib, salah seorang staf di Kabag Umum UIN Sunan Ampel Surabaya yang telah menyediakan ruang bagi keinginan saya untuk menulis. Melalui sentuhan tangannya, maka blog saya itu terbit di media sosial dan bisa diakses melalui media sosial oleh khalayak umum. Cak Hasib yang membuatkan rumah blog itu dan saya terus bertahan di blog ini semenjak tahun 2009 sampai sekarang.
Saya menulis di blog semenjak saya menjadi Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel), sampai sekarang. Jika dihitung waktu tentu cukup panjang. Namun memang harus saya akui bahwa saya pernah berhenti menulis selama setahun kurang lebih kala saya menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Islam. Tahun 2012-2013. Saya lupa bulannya, akan tetapi kira-kira setahun saya telah melupakan kebiasaan saya yang penting itu. Sampai kemudian teringat kembali tentang blog saya dan kemudian terus menulis sampai sekarang.
Jika di saat menjadi rector IAIN Sunan Ampel dulu selalu menulis setiap hari, dalam varian tema yang luas, namun sekarang tidak lagi dapat menulis rutin seperti dulu. Kesibukan kantor dan urusan lain, ternyata cukup menyita waktu saya untuk menulis secara rutin. Namun demikian, komitmen untuk terus menulis tentu tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan sesuai dengan komitmen saya, maka saya akan terus menulis. Verba valent scripta manen. Inilah prinsip yang terus saya pegang di tengah kesibukan yang tentu tetap tinggi.
Di dalam suatu kesempatan, saya bercerita kepada Jimmi, staf saya, bahwa saya akan melakukan tasyakuran terhadap pemeringkatan atas blog saya itu. Jimmi tentu akan menyiapkan segala sesuatunya terkait dengan acara tasyakuran tersebut. Rencananya akan dilakukan di kantor saja, di lantai 2 Kemenang. Acara yang sederhana saja. Yang penting bertemu dengan para staf dan jajaran pimpinan di Sekretariat Jenderal Kemenag RI.
Namun demikian, di dalam acara yang diselenggarakan di UIN Sunan Ampel, saya bercerita bahwa saya akan tasyakuran Blog saya itu di Jakarta. Oleh Ibu Wakil Rektor II UIN Sunan Ampel, Dr. Zumratul Mukaffa, MAg., diminta agar acara itu ditaruh di Surabaya. “Pak ditayakuri di UIN Surabaya saja. Akan kami siapkan segala sesuatunya”. Begitu Bu Zum menyampaikan kepada saya.
Sebagai orang yang pernah terlibat di dalam pengembangan UIN Sunan Ampel, maka tawaran ini tentu menarik. Saya tentu masih mengingat dengan baik bagaimana saya bersama civitas akademica di UIN Sunan Ampel membangun kampus ini. Maka, tawaran tersebut saya terima dan jadilah acara itu dilakukan di Surabaya. Saya kemudian menyampaikan kepada Pak Kepala Biro Humas, data dan Informasi, Dr. Mastuki, tentang rencana tersebut dan kemudian melalui diskusi akhirnya disepakati bahwa acara di Surabaya itu agar diperluas cakrawalanya. Tidak hanya tasyakuran tetapi juga ada acara lain yang sangat bermanfaat di saat sekarang ini. Lalu disepakati bahwa selain acara diskusi tentang blog saya itu juga ada acara untuk membahas kesiapan kita di dalam menghadapi tahun politik 2018 dan 2019 dengan menyiapkan Team of Cyber Army Kemenag. Acara ini diselenggarakan malam hari, Jum’at, 22/12/2017 dan berlanjut hari Sabtu pagi, 23/12/2017.
Saya tentu sangat apresiatif terhadap acara ini, sebab melalui acara tersebut maka saya kembali bisa memotivasi para dosen dan mahasiswa untuk melakukan gerakan menulis. Di era media sosial seperti ini, maka kata kunci penting ialah bagaimana kita menuangkan gagasan, ide atau pikiran ke dalam tulisan, gambar, sketsa dan sebagainya lalu ditayangkan di media sosial, sehingga akan menjadi khazanah pengetahuan yang bisa dinikmati oleh pembaca atau pendengar di media sosial.
Saya selalu tekankan bahwa apapun coretan yang kita buat dan dipublish melalui media sosial, pastilah akan ada orang yang meliriknya dan membacanya. Saya juga tidak pernah terpikir bahwa tulisan saya dalam bahasa Indonesia itu lalu bisa diklik oleh para pembaca dari banyak negara. Dan tentunya menjadi kebanggaan di kala kita melihatnya bahwa tulisan kita itu diakses oleh pembaca dari berbagai negara.
Sungguh saya merasakan bahwa dengan menulis itu saya ada. Badan atau fisik dan detak nafas kita akan berhenti di suatu ketika, akan tetapi tulisan kita itu akan terus ada di dalam kehidupan di dunia ini. Masyarakat tidak akan mengenal Imam Ghazali, seandainya tidak terdapat tulisan-tulisan Beliau yang hidup hingga sekarang. Demikian pula para penulis lainnya.
Maka berbahagialah orang yang bisa menulis dan menerbitkannya di media apapun. Tulisan itu akan dibaca orang kapan pun dan di manapun. Dan dengan demikian, maka tulisan itu akan menjadi lebih abadi dibandingkan dengan fisik atau raga kita. Menulislah selagi masih ada peluang dan kesempatan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

YERUSALEM DALAM DAHAGA PERDAMAIAN (2)

YERUSALEM DALAM DAHAGA PERDAMAIAN (2)
Benturan politik antara Israel dengan Palestina nyaris terjadi sepanjang perjalanan kedua negara ini. Untuk dewasa ini, saya kira benturan politik yang sangat lama hanya terjadi di dataran kelahiran agama Semitic, Yahudi, Nasrani dan Islam.
Sebagaimana diketahui bahwa Jerusalem adalah tempat suci tiga agama besar dunia, yaitu: Yahudi, Nasrani dan Islam. Di Jerusalem, tempat kelahiran Nabi Isa, atau di dalam Agama Nasrani disebut sebagai Yesus Kristus, lalu Nabi Musa sebagai cikal bakal Agama Yahudi, dan juga keberadaan Masjid al Aqsha sebagai tempat suci Agama Islam. Masjid ini bahkan pernah dijadikan kiblat untuk melakukan shalat oleh Nabi Muhammad saw.
Melihat kenyataan historis ini, maka pantaslah jika Yerusalem menjadi arena “perebutan” antar agama besar di dalam tradisi Semitis. Orang Nasrani beranggapan bahwa Yerusalem adalah kota sucinya, sebab Yesus Kristus dilahirkan di sini. Orang Yahudi menganggap bahwa disinilah kaum Yahudi memiliki tradisi keyahudiannya dan umat Islam memiliki sejarah terkait dengan Masjid al Aqsha yang disucikan. Dengan demikian Yerusalem merupakan kota dengan tiga tradisi agama yang berbeda dan masing-masing memiliki klaim kebenaran yang secara ideologis akan terus dipertahankan.
Di dunia ini ada banyak perang yang disebabkan oleh berbagai masalah terkait dengan negara lain atau juga internal negara yang bersangkutan. Misalnya kasus India dan Pakistan, kasus Afghanistan yang melibatkan Rusia dan negara Barat lainnya, kasus ISIS di Syria dan Iraq, Kasus Houthi dan beberapa kasus di Eropa Timur, seperti Serbia, Chechnya dan juga kasus di beberapa negara di Afrika. Namun demikian, kasus yang memiliki rentang panjang dalam penyelesaiannya ialah masalah Jalur Gaza yang melibatkan Palestina dan Israel.
Masalah jalur Gaza ini rasanya menjadi pekerjaan rumah negara-negara di dunia yang selama ini dikenal sebagai juru runding dan juru penyelesai masalah ini. Amerika Serikat yang selalu memiliki standart ganda atau double speak selalu berada di belakang Israel. Pembangunan pemukiman di Jalur Gaza yang dilakukan oleh Israel dan selalu mendapatkam kecaman dari negara lain, akan tetapi juga terus dilakukan oleh Israel. Pembangunan perumahan oleh Israel seakan menandai akan penguasaan jalur Gaza tersebut bagi dirinya.
Sementara itu Palestina nyaris tidak pernah mendapatkan dukungan dari negara-negara Barat di dalam memperjuangkan kemerdekaannya dan memperoleh keadilan di dalam mengusung kemerdekaannya. Politik double speak yang dilakukan oleh Amerika dan Sekutunya menegaskan bahwa mereka memberikan support kepada Israel untuk meneruskan penguasaannya atas Jalur Gaza, yang sesungguhnya ada juga hak dari pemerintah Palestina.
Konflik di Jalur Gaza tentu tidak secepatnya selesai, sebab negara-negara di Teluk juga berada di dalam konflik mereka masing-masing. Yang diharapkan oleh Palestina tentu adalah dukungan mutlak dari negara Liga Arab. Akan tetapi dengan konflik antar negara di Timur Tengah tentu merupakan masalah yang tidak memudahkan dukungan tersebut diperoleh secara memadai. Pasca konflik di Iraq dan Syria yang disebabkan oleh ISIS, maka konflik di Timur Tengah juga meluas. Arab Saudi yang selama ini tidak melakukan tindakan konflik dengan negara-negara tetangganya, maka sekarang juga terlibat konflik dengan Yaman. Lalu juga konfliknya dengan Kelompok Houthi yang pro Iran. Meskipun tidak terlibat konflik terbuka dengan Iran, akan tetapi kontestasi dengan Iran juga terus berlangsung.
Suasana konfliktual ini dibaca oleh Trump untuk berani melakukan tindakan dengan menentukan Yerusalem sebagai Ibukota Israel. Dengan memberikan pengakuan ini, maka perdagangan senjata di Timur Tengah akan kembali menghangat dan keuntungannya tentu adalah untuk Amerika Serikat. Jadi Trump memiliki insting bisnis yang kuat di dalam hal ini, dan proyek bisnis senjatanya akan kembali untung besar.
Bayangkan dengan konflik ini, maka Israel, Mesir, Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah lainnya akan membutuhkan senjata cukup banyak dan tentu akan menggantungkan harapannya pada pemasok senjata, ialah Amerika. Dengan demikian ada tiga keuntungan yang diperoleh Trump di dalam hal ini. Pertama, Trump memenuhi janji kampanyenya akan menjadikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel dan hal itu akan dipenuhinya sekarang dan sekaranglah saatnya. Kedua, Trump dapat memainkan jual beli senjata untuk kepentingan melestarikan konflik di Timur Tengah. Konflik di negara-negara Timur Tengah tentu akan sangat menguntungkan Amerika dalam penjualan senjata. Ketiga, dengan kebijakannya ini, maka Amerika akan tetap menjadi “pengendali” bagi konflik di dalam suatu kawasan atau bahkan antar kawasan. Jadi, konflik di Timur Tengah bukan tidak mungkian disebabkan oleh global game yang didesign oleh Amerika Serikat.
Dan yang paling menderita tentu adalah Palestina sebab negara ini hanya memperoleh dukungan pernyataan dan tidak memperoleh dukungan untuk mempertahankan negerinya dari serangan demi serangan Israel dengan senjata modernnya. Di sinilah gerakan intifadah itu memiliki maknanya. Serangan dengan ketapel relawan Palestina melawan tentara dengan senjata-senjata otomatis dari Israel.
Jadi, konflik Palestina dan Isarel di Jalur Gaza, Yerusalem dan penguasaan Isarel atas tanah-tanah Palestina lainnya juga tidak akan segera berakhir. Jadi unjuk rasa atau pernyataan-pernyataan yang diserukan oleh dunia termasuk umat Islam, rasanya hanya akan berlalu seiring angin yang juga terus berlalu.
Wallahu a’lam bi al shawab.

YERUSALEM DALAM DAHAGA PERDAMAIAN (1)

YERUSALEM DALAM DAHAGA PERDAMAIAN (1)
Mungkin saya terlambat di dalam merespon terhadap masalah Yerusalem yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak ada alasan yang patut saya jelaskan melalui tulisan ini, sebab memang benar-benar terlambat saya merespon akan hingar bingar keputusan Presiden Donald Trump atau disebut Trump saja atas upaya untuk memindahkan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Trump mengklaim bahwa keputusannya yang kontroversial ini hanyalah kelanjutan dari apa yang sudah diputuskan oleh para pendahulunya, Presiden Bill Clinton dan Barack Obama. Keduanya oleh Trump dianggap sudah mengungkapkan akan melakukan poerubahan ini, tetapi terhenti sampai pada retorika saja, dan dialah yang berani melakukannya. Trump tentu beranggapan bahwa dirinyalah yang berani melakukan tindakan ini.
Seluruh dunia sontak melawan Trump. Bahkan sekutunya Inggris, Perancis dan beberapa negara lainnya juga menolak tindakan Trump ini dan beranggapan bahwa Trump telah melakukan pengingkaran perjanjian damai yang mengharuskan bertemunya dua pihak: Palestina dan Israel. Tindakan Trump ini dianggap sebagai tindakan yang anti terhadap perdamaian di Jalur Gaza yang memang terus memanas.
Seluruh dunia melakukan pengecaman terhadap “tindakan nekad” Trump dengan pengakuan dan keinginan pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat ke Yerusalem. Lalu, Organisasi Konferensi Islam (OKI) juga kemudian bersidang di Turki untuk menyamakan sikap dan tindakan dalam menghadapi keputusan Trump. Di dalam sidang yang dihadiri oleh seluruh komponen anggota OKI ini, maka diambil sikap tegas bahwa OKI menolak rencana Trump.
Bahkan Presiden Joko Widodo juga menegaskan bahwa tindakan Trump tersebut menyalahi terhadap perjanjian damai antara Palestina dan Israel. Beliau menyatakan bahwa rakyat Indonesia akan selalu bersama Palestina untuk mendapatkan haknya atas negara Palestina, secara adil dan damai. Menteri Luar Negeri, Retno L. Marsudi juga menyatakan hal yang sama, bahwa negara Indonesia akan selalu membantu pemerintah Palestina untuk mendapatkan haknya atas Yerusalem.
Di Indonesia, gerakan anti Trump dan Amerika Serikat juga terus berkobar. Di banyak kota kemudian terjadi unjuk rasa. Di kota-kota Kabupaten, seperti Jombang dan Situbondo, masyarakat juga sangat antusias untuk melakukan unjuk rasa. Para santri dan masyarakat menyuarakan aspirasinya untuk menolak rencana Trump dan menganggap Amerika Serikat sebagai negara yang pongah dan berlaku sewenang-wenang. Dianggapnya bahwa Trump secara sengaja merusak jalan damai yang sudah diupayakan oleh banyak pihak. Amerika Serikat sebagai “penghubung” perdamaian justru merusak jalan damai.
Kegeraman terhadap tindakan Trump tentu luar biasa. Di Jakarta atas prakarsa MUI juga melakukan tindakan unjuk rasa. Di Silang Monumen Nasional (Monas) berkumpul jutaan orang untuk memprotes terhadap tindakan kesewenangan Amerika Serikat dengan rencana Trump itu. Berbagai orasi yang disampaikan oleh para ulama juga menyuarakan hal yang sama. Tolak rencana Trump untuk menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Berbagai orasi yang diangkat oleh para ulama ini menggambarkan atas sikap kaum muslimin Indonesia atas perilaku Trump yang berlebihan dan menjadikan wilayah di Timur Tengah semakin tidak kondusif untuk membangun perdamaian. Kyai dan ulama yang selama ini tidak melakukan unjuk rasa, maka semua menjadi tergerak untuk membela Palestina.
Dari berbagai unjuk rasa ini, maka ada beberapa motif untuk melakukan unjuk rasa. Pertama, anggapan bahwa menciderai rakyat Palestina sama dengan menciderai umat Islam. Pandangan ini yang saya kira menempati posisi paling banyak dalam perilaku unjuk rasa di berbagai tempat. Masyarakat Islam beranggapan bahwa membela Palestina itu identic dengan membela Islam. Meskipun mereka ada yang mengetahui bahwa Palestina itu terdiri dari tiga kelompok: Muslim, Nasrani dan bahkan Yahudi, akan tetapi tetap saja mereka beranggapan bahwa pembelaan terhadap Palestina adalah pembelaan agama. Membela Allah dan Islam. Masjid al Aqsha adalah symbol Islam yang harus dibela.
Kedua, anggapan bahwa membela Palestina adalah membela kemanusiaan. Kelompok ini yang secara sistematik menyebarkan gagasan bahwa membela Palestina bukan membela agama tertentu, akan tetapi merupakan pembelaan terhadap kemanusiaan. Mereka sadar betul bahwa dengan menyatakan membela Palestina sama dengan membela agama tertentu, maka bisa menyebabkan terjadinya benturan antar agama di Indonesia.
Ketiga, kelompok ikutan yang tidak memiliki pandangan apapun. Yang penting bela Palestina. Kelompok ini hanya memiliki pandangan bahwa lawan mereka adalah Israel yang memang pantas untuk dimusuhi dan dihancurkan. Melawan Israel adalah kepastian yang tidak bisa diingkari. Pokoknya benci Israel atau benci Yahudi.
Sebagai orang yang sedikit memahami “peta” benturan politik antara Israel dan Palestina, maka kita tentu akan memilih pandangan kedua, dengan catatan bahwa pandangan ini memang lebih relevan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Wallahu a’lam bi al shawab.