• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ARTIFISIAL INTELIGENT BAGI GENERASI MILENIAL

ARTIFISIAL INTELIGENT BAGI GENERASI MILENIAL
Kita tidak menyangka bahwa di era sekarang ini terdapat perkembangan yang spektakuler terkait dengan kecerdasan buatan atau disebut sebagai artificial inteligent. Semenjak ditemukannya robot sebagai bagian dari revolusi industry, maka perkembangan robot berbasis kecerdasan buatan menjadi luar biasa.
Bagi manusia, kehadiran robot yang memiliki kecerdasan buatan memang memiliki dampak positif dan negatif. Kehebatan robot di dunia industry tentu sangat luar biasa. Dengan kehadiran robot, maka pekerjaan yang sesungguhnya berbahaya akan dapat diminimalisir atau dikurangi dampak bahayanya. Misalnya untuk bekerja di sector nuklir yang secara kesehatan membahayakan manusia, maka robot akan bisa dijadikan pekerjanya. Selain aman tentu juga memiliki ketelitian yang luar biasa. Efektif dan efisien.
Di dalam konteks ini, maka kehadiran robot dapat menggantikan peran manusia yang memang memiliki kerentanan dalam kaitannya dengan dangerous situation atau tingkat resiko yang sangat besar. Dengan ditemukannya teknologi remote control, maka robot akan sangat mudah dipekerjakan, dikendalikan dan dimonitor akurasinya.
Di antara yang sangat pesat perkembangannya, selain teknologi pertahanan dan persenjataan, maka yang juga sangat diuntungkan ialah dunia kesehatan. Melalui kehadiran robot dengan artificial inteligent ini, maka akurasi pemeriksaan dan pembedahan akan sangat teliti untuk dilakukan. Melalui teknologi canggih di dalam bidang kesehatan, maka pembedahan dengan resiko tinggi akan bisa dilakukan lebih akurat dan cermat.
Dari sisi negatifnya ialah pada saat banyak pekerjaan yang bisa dihandle oleh robot dengan kecerdasan buatan. Di dalam buku yang ditulis oleh Malcolm Frank, “What to do When the Machine do Everything” digambarkan tentang aspek positif dan negatif artifisial intelligent ini. Saya memang hanya membaca ringkasannya saja di Majalah Swa (31 Agustus-13 September 2017), akan tetapi yang penting bagi saya ialah dapat sedikit terlibat di dalam membahas tatangan bagi kaum milenial di era kecerdasan buatan.
Amerika Serikat akan melakukan otomasi terhadap sector pekerjaan sebesar 47 persen tahun 2025, berdasarkan riset yang dilakukan oleh Oxford University. Itu artinya bahwa pemerintah Amerika Serikat akan memangkas terhadap tenaga kerja manusia di dalam berbagai jenis pekerjaan yang sudah diotomasikan. Jika ini terjadi maka dapat dibayangkan bahwa ke depan, akan terdapat pabrik-pabrik yang selama menggunakan tenaga kerja manusia dan akan digantikan oleh robot-robot berkecerdasan artifisial.
Tantangan terbesar otomasi atau digitalisasi ialah pada aspek ketenagakerjaan ini. Bisa dibayangkan dengan otomasi melalui kecerdasan buatan, maka dipastikan bahwa manusia akan tergeser dari dunia pekerjaannya. Dengan kata lain, manusia akan melawan teknologi hasil ciptaannya sendiri. Dan di dalam banyak hal, akhirnya manusia harus menyatakan kekalahannya menghadapi hasil rekayasa teknologi dimaksud. Para Grand Master Catur Dunia tidak ada yang bisa mengalahkan mesin catur yang direkayasa dengan teknologi canggih. Robot bisa menjadi musuh manusia nomor satu dalam era Industri 4.0.
Di era kecerdasan buatan, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, sesuai dengan nasehat Malcolm Frank, yaitu AHEAD. A ialah automate, yaitu upaya manusia untuk mengotomasikan seluruh hal yang terkait dengan teknologi. Otomasi dilakukan terhadap banyak aspek di dalam rekayasa industry.
Halo ialah upaya untuk menjadikan chip sebagai salah satu piranti untuk memudahkan dalam banyak hal, misalnya chip untuk kartu pintar, pembayaran, transaksi keuangan dan sebagainya. Melalui digitalisasi perpustakaan, misalnya, maka tidak dibutuhkan ruangan-ruangan besar untuk kepentingan pengembangan perpustakaan, dan sebagainya.
Enhance atau memaksimalkan manfaat dari peran teknologi untuk kemudahan kehidupan. Diyakini bahwa dengan paduan antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan akan semakin memaksimalkan kehidupan manusia.
Abundance yaitu keberlebihan atau menjadikan kehidupan lebih murah dan efekif atau efisien. Melalui pemanfaatan teknologi informasi maka dengan mudah seseoang dapat mengakses berbagai informasi dengan hanya klik Google atau lainnya.
Discovery ialah upaya untuk terus menemukan sesuatu yang baru yang lebih bermanfaat. Dengan berbagai inovasi yang dilakukan di dalam bidang teknologi informasi, maka kehidupan manusia menjadi lebih mudah dan mendatangkan kemanfaatan.
Dengan demikian, bagi yang menganut paham kemudahan, maka teknologi justru akan mendatangkan kebaikan bagi manusia, sedangkan bagi yang menganut paham kesulitan, maka kehadiran teknologi merupakan tentangan berat yang dihadapi manusia.
Jadi tergatung dari sudut mana kita akan melihat teknologi atau rekayasa kecerdasan buatan tersebut dalam konteks kehidupan yang memang selalu berada di dalam tantangan demi tantangan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

GENERASI MILENIAL DI ERA CYBER WAR

GENERASI MILENIAL DI ERA CYBER WAR
Suatu kesempatan yang sangat baik bagi saya untuk berbagi pengalaman tentang dunia media sosial dengan para dosen dan mahasiswa di dalam acara yang diselenggarakan oleh Ditjen Bimas Buddha, di Ancol Jakarta, 19/04/2018. Acara ini merupakan rangkaian dalam kegiatan “Mahaniti Loka Damma” yang merupakan acara rutin 2 (dua) tahunan.
Hadir pada acara ini para dosen, para pimpinan Perguruan Tinggi Agama Buddha, para mahasiswa dan pejabat di lingkungan Ditjen Bimas Buddha. Acara talkshow yang dipandu oleh Alim, penulis scenario perfilman, menghadirkan saya dan Dr. Jonathan Sofian Lusa, SE., M.Kom., dosen pada Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia, dan juga konsultan di bidang teknologi informasi. Sungguh acara yang sangat menarik, sesuai dengan zaman now. Sebelum acara talkshow dimulai, maka dilakukan kuis tentang pengetahuan mahasiswa mengenai dunia teknologi informasi, dan lebih khusus tentang media sosial. Saya sungguh mengapresiasi terhadap para mahasiswa ini, sebab mereka ternyata memang memiliki sejumlah pengetahuan mendasar tentang media sosial tersebut.
Sebagai praktisi dan dosen di bidang ilmu computer, maka Pak Sofian memang luar biasa. Beliau menceritakan tentang tantangan anak-anak muda, generasi milenial, di era industry 4.0 dewasa ini, di mana kehidupan manusia terus berubah seirama dengan perubahan dari generasi X ke generasi Y atau generasi digital atau generasi cyber. Tantangan tersebut misalnya terkait dengan artifisial intelligent atau kecerdasan buatan. Dengan robot yang semakin cerdas, maka manusia akan berhadapan dengan inovasi teknologi robot hasil buatannya. Misalnya akan banyak tenaga kerja yang ke depan akan digantikan oleh robot. Misalnya dalam dunia sepakbola, maka perrandingan tersebut dapat dijelaskan dengan gamblang tentang segala hal yang dilakukan oleh para pemain. Jadi, begitu pertandingan selesai, maka semua hal yang terkait dengan pertandingan tersebut sudah bisa disajikan. Wartawan sepak bola akan tersaingi dengan teknologi ini. Juga robot cerdas yang dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di bidang industry, maka juga akan menjadi tantangan bagi tenaga kerja. Ke depan akan makin banyak pemilik perusahaan yang akan mempekerjakan mereka, sebab mereka tidak akan unjuk rasa, lebih teliti dan cermat dan bisa disuruh bekerja tanpa mengenal lelah. Bahkan sudah ditemukan “smart house” sebuah rumah yang segala sesuatunya dikendalikan oleh teknologi informasi. Seluruh peralatan dan perabot rumah menggunakan kecanggihan teknologi informasi.
Sebagai seseorang yang tidak memiliki keahlian di bidang media sosial, maka saya sampaikan beberapa hal yang saya anggap penting bagi generasi milenial. Pertama, bahwa sekarang kita sedang hidup di era cyber war atau perang media. Bagi generasi seperti saya –sebut sebagai generasi baby booming—maka tantangan ini sungguh luar biasa. Orang-orang seusia saya, dan bahkan juga generasi X, memiliki tantangan yang sangat besar. Dan sebagian besar tentu tidak memahami bagaimana dunia media sosial tersebut bekerja dengan mekanismenya.
Era cyber war ditandai dengan berbagai hal yang lebih bercorak negative, misalnya hoax, disinformasi, hate speech, character assassination, dan sebagainya. Kita bisa saksikan bagaimana pertarungan ide, gagasan dan tindakan di dalam media sosial tersebut. Orang bisa tenar dalam sekejap dan hancur dalam sekejap. Orang bisa ditarget untuk diunggulkan dan bisa juga dihancurkan melalui media sosial. Sungguh pertarungan yang luar biasa. Maka, siapa yang menguasai media sosial maka dialah yang akan menguasai dunia ini. Kita saksikan pertarungan demi pertarungan untuk merebut “kekuasaan” di dalam media sosial yang luar biasa.
Di dalam konteks ini, maka para generasi milenial mestilah memiliki seperangkat pengetahuan tentang bagaimana melawan terhadap hoax, misalnya di era cyber war. Jangan justru kita larut di dalamnya, akan tetapi kita justru menjadi agen yang terus mengembangkan literasi media. Pada beberapa waktu yang lalu, saya gambarkan tentang pentingnya Mata Kuliah “Literasi Media” bagi para mahasiswa PTKN agar para generasi milenial tersebut memahami, mana yang positif dari media sosial dan mana yang negative dari media sosial itu.
Kedua, di tengah kegundahan akibat negative dari media sosial, maka saya memberikan beberapa strategi untuk menangkalnya, yaitu 4 (empat) B. 1) Bangun Kritisisme Positif. Harus dihindari kritisisme negative. Sekarang ini ada sekelompok masyarakat kita yang cenderung melakukan hoax dalam bentuk memfitnah terhadap kelompok lain, bahkan ulama sekalipun. Mahasiswa harus membangun kemampuan kritisisme yang positif, yaitu bermedia sosial berbasis pada etika dan moralitas media sosial. Jika kita akan melakukan posting apapun maka harus dicek dulu dan dipertimbangkan secara matang mengenai kondisi fit of expose. Pertimbangkan betul secara mendalam agar jangan sampai kita terjebak kepada kritisisme negative yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.
2) Bangun kejujuran. Kita harus membangun kejujuran dalam seluruh tampilan tindakan kita. Di dalam bermedia sosial, maka harus dinyatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Jangan kita melakukan tindakan politisasi terhadap media sosial ini. Jangan sampai yang salah dinyatakan benar dan yang benar dinyatakan salah. Harus ada kejujuran di dalam bermedia sosial ini. 3) Bangun Moralitas bermedia. Moralitas merupakan basis bagi kita di dalam melakukan komunikasi dan kolaborasi. Media sosial merupakan instumen bagi kita semua untuk berkomunikasi dan berkolaborasi, sehingga kalau kita tidak menggunakan etika di dalam komunikasi dan kolaborasi, maka akan terjadi kerusakan sosial.
4) Bangun religiositas untuk menjadi dasar dalam bermedia sosial. Saya kira puncak dari kehidupan ini ialah bagaimana mengimplementasikan pemahaman agama kita ke dalam tindakan agama yang benar. Oleh karena itu, marilah kita bermedia sosial dengan mengedepankan rasa kebangsaan. Makanya, bagi semua kita ini harus tetap beragama dalam coraknya yang moderat. Beragama yang tidak cenderung ke kiri atau ke kanan. Jangan liberal dan jangan radikal. Jadilah kaum beragama yang tetap berada di tengah-tengah sehingga kita akan bisa mengembangkan keharmonisan dan kerukunan. Media sosial merupakan instrument yang seharusnya dapat dijadikan sebagai sarana untuk membangun keharmonisan dan kerukunan dimaksud.
Wallahu a’lam bi al shawab.

CEO DAN GERAKAN ZAKAT NASIONAL BAGI INDONESIA

CEO DAN GERAKAN ZAKAT NASIONAL BAGI INDONESIA
Ada acara yang sangat menarik dilakukan oleh Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Mohammad Fuad Nazar, yaitu Cheaf Executive Officer (CEO) Meeting Forum, yang dilaksanakan di Hotel Morrisey Jakarta, 18 April 2018. Acara ini merupakan ajang untuk mediskusikan tentang bagaimana mengembangkan potensi pengelolaan zakat baik oleh BAZNAS maupun LAZ, yang jarak potensi dengan realita pengelolaannya masih relative perlu ditingkatkan.
Oleh karena itu, saya sampaikan ada beberapa problem penting yang bisa dijadikan sebagai rujukan untuk menggerakkan perzakatan nasional, yaitu: bagaimana masyarakat mengenal dan kemudian berkesadaran untuk menunaikan zakat, infaq dan shadaqahnya kepada institusi pengelola zakat. Lalu, bagaimana menggerakkan perzakatan nasional baik secara kuantitatif atau kualitatif agar perzakatan masinoal semakin berdaya guna dan sejauh mana kemampuan managerial dalam pengelolaan perzakatan nasional terutama kapasitas dan professionalitas SDM pengelola zakat.
Tentu masih ada sejumlah masalah yang dihadapi oleh institusi pengelola perzakatan nasional, makanya CEO Meeting Forum ini bisa menjadi ajang berguna dalam memetakan masalah yang lebih detil dan bagaimana action plan untuk menjadi solusinya. Saya selalu berharap agar dibuatlah matrix yang kompreensif untuk memudahkan kita melakukan pengecekan, sejauh mana masalah-masalah tersebut sudah bisa ditindaklanjuti.
Saya melihat bahwa diperlukan upaya untuk memahami lebih jauh tentang perilaku zakat masyarakat Indonesia, misalnya para kelas menengahnya. Jika pada tahun 2030 diperkirakan akan terdapat sebanyak 102 juta kelas menengah Indonesia, maka perlu dipahami bagaimana kondisinya sekarang. Berapa persen di antara para kelas menengah ini sudah memiliki kesadaran membayar zakat dan kemana zakatnya disalurkan. Apakah sudah mempercayai terhadap institusi zakat ataukah masih menggunakan pola tradisonal dalam membayar zakat. Pemetaan ini menjadi penting untuk membangun upaya melalui program yang feasible dan implementable. Jika kita tidak memiliki data akurat tentag siapa dan bagaimana tindakannya terhadap perzakatan nasional, maka program yang kita rumuskan pastilah tidak akan mengenai sasaran yang sesungguhnya. Jika sudah jelas sasarannya, by name by address, bahkan by account maka dipastikan bahwa program yang kita usung pastilah akan mengenai sasarannya.
Sebagai sebuah kritik, selama ini kita hanya melakukan diseminasi program kita kepada para pengelola zakat akan tetapi dari dimensi sasaran zakat belum optimal. Tentu sudah ada program seperti ini yang dilakukan oleh BAZ maupun LAZ akan tetapi tentu sangat terkendala dengan sasaran pezakat yang jumlahnya sangat banyak. Saya memang tidak memiliki data rinci, tetapi tentu belum optimal kaum kelas menengah kita tercover di dalam BAZ maupun LAZ. Melalui pendataan ini juga akan bisa diketahui siapa saja sesungguhnya yang sudah menjadi pezakat minded, dan siapa yang belum sampai ke tahapan tersebut.
Kemudian, tentang mengkatualkan potensi zakat yang berdasarkan kajian oleh beberapa Perguruan Tinggi mencapai angka fantastis 217 Trilyun, dengan kapasitas pengelolaan baru 5,6 trilyun. Tentu jarak yang cukup jauh jika dibandingkan antara potensi dan nilai aktualnya. Meskipun demikian yang juga cukup menggembirakan bahwa pendapatan zakat dari tahun ke tahun terus meningkat dengan rerata 35,18 persen semenjak tahun 2002 sampai 2017. Saya berkeyakinan bahwa dengan kerja keras seluruh pelaku zakat dan pengelola zakat akan dipastikan bahwa perzakatan nasional akan terus meningkat. Kita telah memiliki BAZ, LAZ, UPZ yang cukup banyak meskipun belum seluruh provinsi dan kabupaten memilikinya, namun upaya untuk mengembangkan penerimaan dan pendayagunaan zakat terus dilakukan.
Saya telah melihat beberapa contoh tentang bagaimana menggerakkan zakat dari LAZ. Ada LAZ yang telah mengembangkan lembaga pendidikan yang relative baik, memiliki lembaga kesehatan yang lumayan memadai, memiliki gerakan ekonomi yang tapat dan juga managemen yang baik. Saya kira forum ini akan bisa menjadi salah satu forum untuk menyusun agenda berbasis pada pengalaman lapangan. Jika ada BAZ atau LAZ yang memadai dalam mengelola zakat, maka akan dapat dijadikan rujukan dan sementara yang belum optimal dapat mengungkapkan tantangan, kendala dan juga hambatan dalam pengelolaan zakat, sehingga akan menjadi rujukan tentang bagaimana mengelola zakat dimaksud.
Ketika di dunia media sosial diramaikan oleh rencana merumuskan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pengelolaan Zakat bagi ASN, maka saya menjadi teringat salah satu disertasi yang pernah saya bimbing di IAIN Sunan Ampel (kini UIN) yang bercerita tentang “Implementasi Zakat bagi ASN di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur” oleh Mohammad Hadi, sekarang menjadi dosen di IAIN Kendari Sulawesi Tenggara. Jadi sebenarnya pembayaran zakat PNS sudah menjadi tradisi semenjak lama. Makanya ketika ada keinginan untuk menformalkan kebijakan ini lalu ditentang ramai-ramai di media sosial, maka sesungguhnya hal ini merupakan kesalahan yang relative mengganggu.
Lalu, juga tentang penguatan SDM pengelola zakat. Saya kira sekarang ini era profesionalitas dan akuntabilitas, selain juga transparansi. Makanya, para CEO institusi zakat harus benar-benar berpikir tentang bagaimana mengembangkan profesionalitas SDM perzakatan.
Di saat masyarakat dihinggapi distrust dalam banyak lini kehidupan, maka seharusnya institusi perzakatan membangun trust tersebut, misalnya melalui SMS Gate, sehingga masyarakat yang sudah memiliki piranti teknologi komunikasi akan dapat melihat bagaimana pengelolaan zakat dimaksud.
Saya kira masih ada peluang yang cukup untuk bisa mengelola zakat dengan kadar transparansi, akuntalitas dan professional.
Wallahu a’lam bi al shawab.

RPP JAMINAN PRODUK HALAL DAN KESIAPAN INDONESIA

RPP JAMINAN PRODUK HALAL DAN KESIAPAN INDONESIA
Salah satu tugas yang saya harus tunaikan terkait dengan Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Jaminan Produk Halal (JPH) ialah memastikan bahwa RPP ini harus segera diselesaikan. Sudah sangat lama pembahasan tentang RPP ini tidak klar. Masih ada masalah yang urgen dan dirasakan.
Ada beberapa pasal yang dirasakan harus mendapatkan focusing lebih mendasar, yaitu pasal yang terkait dengan bagaimana menerapkan Undang-Undang Jaminan Produk Halal tersebut pasca tahun 2019 atau 5 (lima) tahun pasca diundangkannya, lalu tentang bagaimana memberikan label halal atau tidak halal di dalam seluruh produk, baik makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika dan barang gunaan dan sebagainya, serta bagaimana menerapkan jaminan produk halal untuk obat-obatan, produk biologi dan alat kesehatan.
Untuk kepentingan ini, maka kami pernah diminta oleh Pak Wapres untuk secara khusus membicarakan hal ini dan kemudian ditindaklanjuti dengan pembicaraan di dalam dua konsinyering untuk menyamakan kesepahaman tentang 3 (tiga) hal yang masih problematic tersebut. Di dalam 2 (dua) konsinyering kita bisa menuntaskan 2 (dua) masalah, yaitu: penerapan produk halal pasca tahun 2019 dan pelabelan halal atau tidak halal. Hanya 1 (satu) masalah yang tidak tuntas, yaitu tentang jaminan produk halal atau sertifikasi produk halal untuk obat-obatan, alat kesehatan dan produk biologis.
Untuk kepentingan ini, maka saya, Prof Gunaryo (Kabiro Hukum dan KLN) dan Prof. Sukoso (Kabadan JPH) harus bersilaturrahmi dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesahatan (Dr. dr. Untung Suseno) dan seluruh jajaran terkait Kemenkes untuk membicarakan hal ini. Dan saya sungguh apresiatif sekali sebab di dalam pertemuan ini lalu bisa disepakati hal-hal yang sangat mendasar terutama terkait dengan bagaimana penerapan sertifikasi bagi produk obat-obatan, alat kesehatan dan produk biologis.
Selama ini memang ada keberatan yang sangat tinggi dari Kemenkes, bahkan Bu Menteri Kesehatan (Dr. Dr. Nina S Muluk) berkirim surat kepada Presiden (Joko Widodo) agar untuk obat-obatan, dan alat kesehatan dapat dibebaskan dari jaminan produk halal. Ada kekhawatiran yang sangat tinggi, jika obat-obatan dan alat kesehatan dilabel tidak halal, maka akan terjadi banyak orang yang tidak mau menggunakan obat atau alat kesehatan sebab produk tersebut dinyatakan haram. Bahkan di awal pertemuan, Pak Untung, juga menyatakan hal ini. Beliau menyatakan: “siapa yang bertanggungjawab jika banyak pasien yang akhirnya harus meninggal karena tidak mau mengonsumsi obat-obatan.”
Ada dua perbedaan yang sangat prinsipil, yaitu: Kemenkes menginginkan bahwa seluruh obat dan alat kesehatan agar dikecualikan dari jaminan produk halal, sementara antar KL sependapat bahwa jika hal itu dilakukan akan menuai protes dari masyarakat sebab secara nyata “melawan” undang-undang. Makanya, Pak Untung menyatakan: “apakah undang-undang dibuat untuk menyengsarakan masyarakat”. Berangkat dari pernyataan ini, saya sudah membayangkan bahwa perbedaan antara Kemenag dan KL lainnya dengan Kemenkes sangatlah jauh.
Saya harus menyampaikan bahwa untuk masalah obat memang ada hokum Islam yang memperbolehkan untuk mengonsumsikannya selama hal tersebut berada di dalam kawasan “dharurat”. Konsep darurat saya kira bisa dijadikan sebagai pintu masuk untuk memberikan “peluang” bagi obat dan alat kesehatan yang belum nyata-nyata halal. Makanya, jika diperkenankan maka sebaiknya bisa ita adopsi hokum kedaruratan tersebut sebagai salah satu dimensi yang bisa dipertimbangkan. Bagi saya, yang penting prinsip bisa beredar. Jadi obat apakah dia sudah atau belum memenuhi standart halal tetap bisa diperdagangkan. Sedangkan kehalalannya tentu menjadi syarat lain untuk bisa digunakan dalam konteks pengobatan.
Di dalam perbincangan tersebut, akhirnya dapat disepakati sebagaimana rumusan Kemenkes dengan beberapa modifikasi. Ada satu bagian yang dihilangkan, sebab kalau hal tersebut dinyatakan pastilah dianggap RPP ini bertentangan dengan Undang-Undang. Untuk itu maka disepakati bunyi salah satu ayat di dalam pasal 71 yaitu: (2) dalam hal produk obat, produk biologi dan alat kesehatan yang bahan bakunya belum bersumber dari bahan halaldan/atau cara pembuatannya belum halal, dapat beredar dengan mencamtumkan informasi asal bhan sampai ditemukan bahan yang halal dan/atau cara pembuatannya yang halal. Di dalam hal ini ada satu kalimat yang dihilangkan …dapat dikecualikan dari sertifikasi halal…, lalu (3) Produk obat, produk biologi dan alat kesehatan yang akan dilakukan sertifikasi halal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selain memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan, dan mutu, juga harus memenuhi cara pembuatan yang baik dan halal (Good Manufacturing Practice/GMP Halal).
Kita merasakan bahwa upaya untuk menemukan kesamaan pemahaman tersebut telah tercapai dengan persetujuan kita bersama antara Kemenag dan Kemenkes pada hari ini (Rabu, 11/04/2018). Akhirnya, Pak Sekjen Kemenkes, dan stafnya, serta saya dan kawan-kawan juga membubuhkan paraf sebagai penanda bahwa kita semua telah menerima rumusan RPP JPH ini.
Wallahu a’lam bia al shawab.

DUNIA ISLAM YANG TERUS TERKOYAK

DUNIA ISLAM YANG TERUS TERKOYAK
Istilah dunia Islam, saya gunakan untuk menggambarkan bahwa negara-negara Timur Tengah adalah personifikasi Islam. Sebab di sanalah sesungguhnya umat Islam mengharapkan contoh bagaimana umat Islam itu berperadaban. Sayangnya bahwa keinginan tersebut selalu menuai kegagalan disebabkan oleh kenyataan perang yang tiada henti, konflik berkepanjangan yang tidak ada kata akhirnya.
Saya bukanlah ahli Timur Tengah, namun saya ingin membaca dunia Timur Tengah dengan “perasaan” saya sebagai bagian dari umat Islam dunia. Sungguh ini bukan analisis empiris yang ketat, akan tetapi hanya cara saya bagaimana melihat dunia Timur Tengah yang tidak pernah sepi dari konflik sepanjang masa tersebut. Saya “mengelus” dada dengan perasaan yang campur aduk ketika melihat siaran televisi, iNews TV, yang memberitakan tentang serangan Amerika, Inggris dan Perancis terhadap Suriah yang sedang berperang menyelesaikan internal pemerintahannya.
Alasan penyerangan Suriah oleh Trio Barat ialah dugaan adanya pemanfaatan teknologi nuklir sebagaimana di saat koalisi negara-negara barat menyerang Iraq sekian tahun yang lalu. Dan akhirnya juga tidak didapatkan adanya pabrik senjata nuklir di Iraq, kecuali memang niatnya untuk menggulingkan Saddam Husein, Presiden Iraq saat itu.
Serangan koalisi negara-negara barat kali ini juga memiliki alasan klasik yang sama dengan di saat mereka menyerang Iraq. Dengan tuduhan memiliki senjata nuklir, maka Suriah juga hendak diluluhlantakkan. Padahal sebagaimana diketahui bahwa perang Iraq yang dipicu oleh serangan koalisi barat kala itu juga meninggalkan bekas peperangan bersaudara di negara tersebut yang hingga saat ini nyaris tidak tuntas. Bukankah hadirnya State of Iraq and Syria (ISIS) juga dipicu oleh “kekosongan” kepemimpinan di Iraq. Pasca meninggalnya Saddam Hussein, nyaris negeri ini menjadi ajang peperangan internal yang terus berkecamuk.
Apapun yang ada, sesungguhnya Syria adalah pusat peradaban Islam. Negara-negara di Timur Tengah, seperti Iraq, Syria, dan Arab Saudi adalah pusat peradaban Islam. Islam pernah sangat gemilang di saat Iraq dikuasai oleh pemerintahan Islam terutama di era Kekhilafahan Bani Abbasiyah. Baghdad menjadi pusat pemerintahan dan sekaligus pusat peradaban adiluhung. Di sini banyak ulama terkenal hingga saat ini yang karyanya sungguh tidak tergantikan. Di Syria juga banyak ditemui makam-makam auliya, para ulama dan ahli-ahli ilmu pengetahuan. Di sini memang pernah menjadi pusat peradaban Islam yang luar biasa di masa yang lalu.
Di saat saya melihat reruntuhan bangunan yang berserakan sebagai akibat rudal berdaya ledak tinggi (high explosive), maka bisa dilihat bagaimana kerusakan tersebut sedang berlangsung. Belum korban nyawa yang melayang sia-sia karena serangan dahsyat sekutu barat tersebut. Sungguh kita sedang melihat drama dalam bentuk tragedy yang menyesakkan. Siapapun pasti melihat kengerian di dalam serangan rudal-rudak berdaya ledak tinggi tersebut.
Ternyata motif kekuasaan jauh di atas motif kemanusiaan di saat terjadi perebutan pengaruh seperti ini. Bagi orang awam yang melihat aspek kemanusiaan jauh di atas segala-galanya, maka peperangan itu sama sekali di luar prinsip kemanusiaan. Tidak ada yang lebih kejam di dunia ini dibandingkan dengan peperangan itu sendiri. Banyak mayat bergelimpangan, banyak reruntuhan di sana-sini dan yang tidak akan kembali adalah peradaban manusia yang sudah didirikan dalam ribuan tahun.
Setiap konflik akan selalu menghasilkan kubu. Di dalam konteks ini, maka Amerika Serikat, Inggris dan Perancis lalu mendapat tambahan sekutu Arab Saudi, sementara itu Syria juga memperoleh sekutu Russia yang selama ini memang membackup kepentingan pemerintahan Syria. Akankah konflik ini akan terus terjadi dengan semakin memperkuat blok Amerika dan blok Soviet. Tentu saja kita berharap bahwa masih ada jalan untuk menyelesaikan.
Di saat terjadi pengeboman demi pengeboman itu –sebagaimana yang disaksikan di televisi—maka saya yang tidak pernah melihat atau mendengar dan menyaksikan bom menyalak lalu menjadi bertanya: “bagaimana perasaan masyarakat Syria yang terus menerus berada di dalam bayang-bayang peperangan itu?”. Saya sungguh merasakan bagaimana derita mereka yang selalu dirundung perang. Rakyat Iraq dan Syria yang terus menerus berada di dalam ketidaknyamanan dan ketentraman untuk melakukan apapun termasuk juga beribadah kepada Allah swt.
Saya merasakan bagaimana penderitaan mereka di saat anak atau suami atau istri atau keluarga dekatnya yang menjadi korban perang. Mungkin air matasudah tidak lagi bisa keluar karena seringnya mereka menangisi kepergian kerabatnya. Air mata bening yang terus keluar karena perang yang tiada henti. Sungguh ini merupakan penderitaan fisik dan batin yang tidak terkira.
Masih adakah peluang perdamaian itu? Saya kira Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa masih memiliki peran yang penting untuk menyelesaikan konflik di Syria ini. Terlepas dari siapa yang nanti akan berperan lebih besar, akan tetapi keberpihakan dari negara dan masyarakat dunia untuk menghentikan krisis ini tentu harus terus diupayakan. Dan sungguh masyarakat dunia harus membangun perdamaian kapanpun dan di manapun.
Wallahu a’lam bi al shawab.