Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

HARI AMAL BHAKTI KEMENTERIAN AGAMA KE 72

HARI AMAL BHAKTI KEMENTERIAN AGAMA KE 72
Rangkaian panjang peringatan Hari Amal Bhakti Kementerian Agama ke 72 usai sudah. Hari Jum’at, 19 Januari 2018 merupakan acara penutupan peringatan HAB tersebut. Acara di dalam HAB memang sangatlah banyak. Ada kegiatan pertandingan olah raga, seperti futsal, bulutangkis, bola volley, tarik tambang dan sebagainya. Lalu juga terdapat perlombaan seni, seperti lomba MC, dirigen Lagu Indonesia Raya, Kemenag Idol dan sebagainya.
Selain itu juga terdapat kegiatan dzikir bersama untuk negeri yang dihadiri oleh AA Gym atau KH. Abdullah Gymnastiar dari Pesantren Darut Tauhid, pengajian untuk bangsa yang diberikan oleh Cak Nun atau KH. Emha Ainun Najib dari Jogyakarta dan sekaligus juga pementasan Kyai Kanjeng. Selain itu juga terdapat kegiatan jalan kerukunan dan senam massal yang diikuti oleh segenap pejabat dan pelaksana Kemenag dari pusat, DKI, Banten, Jawa Barat dan lainnya.
Acara demi acara berjalan dengan lancar dan mengasyikkan. Saya merasakan bahwa aura acara HAB ke 72 ini sangat semarak dibandingkan dengan acara HAB serupa pada tahun sebelumnya. Tentu berkat kerja keras dari seluruh panitia pelaksana dan juga dengan kebersamaan yang sangat tinggi. Makanya, pantaslah jika kita semua mengapresiasinya. Yang tidak kalah juga support dari Asosiasi Perbankan Syariah yang memberikan donasi yang cukup untuk penyelenggaraan acara-acara ini. Makanya, secara khusus saya sampaikan ucapan terima kasih tidak terhingga kepada semua pihak yang membantu terhadap terselenggaranya acara ini dengan semarak dan khidmat.
Di tengah hujan gerimis sebelumnya, saya menduga bahwa acara penutupan HAB ke 72 ini akan kurang semarak. Dalam pikiran saya bahwa dengan suasana sedikit hujan yang terjadi, maka orang akan enggan untuk mengikuti senam massal itu. Apalagi Pak Menteri, Pak Lukman Hakim Saifuddin, juga sedang berada di luar negeri. Beliau menghadiri acara Konferensi Internasional tentang Palestina di Mesir. Ternyata dugaan saya salah. Lapangan Kementerian Agama ternyata penuh sesak dengan peserta. Dari kalangan dalam –kemenag pusat—dan juga dari DKI, Jabar dan Banten. Sungguh pemandangan yang indah melihat semaraknya acara senam massal yang diikuti oleh segenap karyawan Kemenag ini.
Acara penutupan dimulai dengan laporan Ketua Panitia, Dr. Rahmat Mulyana Sapdi, Sesbalitbangdiklat. Di dalam sambutannya dinyatakan rasa syukur atas keberhasilan penyelenggaraan acara HAB ke 72. Beliau nyatakan ucapan terima kasih atas semua upaya dan bantuan yang diberikan oleh semua pihak. Disampaikan juga seluruh kegiatan yang diselenggarakan pada acara ini. Dan yang menarik, katanya bahwa “panitia tidak punya hutang kepada siapapun di dalam penyelenggaraan acara ini.”
Di dalam sambutan yang saya sampaikan, saya nyatakan tiga hal, yaitu: pertama, bersyukur kepada Allah atas semua karunianya sehingga kita bisa menyelenggarakan acara HAB ke 72 dengan semarak dan membahagiakan. Saya sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang membantu terhadap pelaksanaan HAB dengan sebaik-baiknya. Kepada Asosiasi Perbankan Syariah dan juga Bank Konvensional yang membantu acara sehingga seluruh acara terselenggara dengan baik, maka atas nama Kementerian Agama saya ucapkan terima kasih. Demikian pula kepada segenap pengisi acara, seperti Cak Inun dengan Kyai Kanjengnya, AA Gym dan segenap pembaca Ratib Hadad, dan seluruh panita dan peserta sangat layak saya mengucapkan terima kasih. Sungguh bahwa HAB kita kali ini adalah yang tersemarak selama ini.
Kedua, Tema HAB kita kali ini adalah “Tebarkan Kedamaian”. Sesuai dengan tema ini maka kita berharap agar semua ASN Kemenag dapat menjadi agen bagi penyebaran kedamaian. Sebagaimana yang sering kita dengar dari Pak Menteri, bahwa ASN Kemenag haruslah menjadi agen-agen perdamaian dan selalu menjaga terhadap moderasi agama. Hakikatnya semua agama memiliki pesan agar selalu menjaga perdamaian. Tidak ada ajaran agama yang di dalamnya untuk saling membunuh dan memerangi. Semua berpesan bahwa perdamaian merupakan tujuan akhir bagi hadirnya agama di tengah-tengah kita semua.
Jika semua di antara kita memahami agama sebagaimana pesan substansial agama-agama itu, maka akan terjadi perdamaian dan ujung akhirnya ialah harmoni dan kerukunan umat beragama. Jika kaum agamanya semua rukun, maka ke depan akan terjadi kerukunan nasional bahkan kerukunan antar bangsa yang akhirnya akan menghasilkan kesejahteraan dan kebahagiaan. Sungguh kita semua mendambakan agar perdamaian menjadi instrument bagi terselenggaranya kehidupan yang baik.
Ketiga, Di tengah tahun politik ini juga para ASN kita minta agar tidak terjebak pada politik praktis. Jangan sampai ada di antara kita yang terlibat secara langsung dengan pilkada maupun pemilu, baik legislative maupun eksekutif. Jangan ada di antara kita yang hadir di dalam deklarasi calon bupati, gubernur, maupun calon anggota DPR/DPD bahkan calon Presiden/Wakil Presiden. Semua diharapkan focus pada pekerjaannya. Sebagaimana pesan Pak Menteri agar kita bekerja dengan baik dan juga pesan Pak Presiden agar kita focus kepada program dan kegiatan pemerintah. Jangan ada yang terlibat di dalam politik praktis.
HAB ke 72 usai sudah dan tugas kita berikutnya ialah membayar lunas kepercayaan Negara terhadap anggaran Kemenag. Yang harus dilakukan berikutnya ialah bagaimana agar anggaran yang merupakan hak rakyat tersebut dapat digunakan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

CAK NUN DAN HARI AMAL BHAKTI KE 72

CAK NUN DAN HARI AMAL BHAKTI KE 72
Saya tentu senang dengan kehadiran Kyai Emha Ainun Najib atau biasa dipanggil dengan sebutan Cak Nun, pada tanggal 11 Januari 2018 sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Amal Bhakti Kementerian Agama ke 72. Apalagi Cak Nun hadir dengan paket lengkap. Isteri Beliau, Ibu Novia Kolopaking dan Group Kyai Kanjeng juga datang.
Acara ini diselenggarakan di Lapangan Kementerian Agama, Jl. Lapangan Banteng 3-4 Jakarta Pusat. Untuk menyelenggarakan acara ini tentu harus dipasang tenda yang kuat. Maklum bahwa sekarang musim hujan dan terkadang turunnya hujan itu dalam waktu yang tidak terduga. Untung Pak Arif Harsono dari PT Samator Grup menyumbangkan tenda yang sangat bagus dan sangat representative untuk menggelar acara yang prestisius tersebut.
Hadir pada acara ini ialah Menteri Agama, Pak Lukman Hakim Saifuddin, para pejabat eselon I Kemenag, para pejabat eselon II pusat dan daerah, dan masyarakat penggemar Cak Nun. Selain itu juga hadir para pejabat dari Kemenag DKI dan aparatnya, dari Jawa Barat dan juga Banten. Selain itu juga hadir para Kakanwil dan Rektor serta Ketua PTKN se Indonesia. Dan yang menggembirakan juga hadirnya para tokoh agama dari Majelis-Majelis Agama di Indonesia. Sungguh acara yang komplit pada malam tasyakuran tersebut.
Saya mengenal Cak Nun tentu sudah sangat lama. Pada tahun 2008 saya sering bersama Beliau di dalam acara Bang-Bang Wetan yang selalu diselenggarakan di Balai Pemuda Surabaya. Saya juga membantu Beliau untuk memberikan ceramah tentang banyak hal. Saya tentu masih ingat bagaimana para pemuja Cak Nun selalu hadir pada acara-acara Maiyahan di Surabaya. Hanya saja saya tidak bisa terus mengikuti acara Beliau sebab terkendala oleh waktu.
Maklum, Cak Nun menyelenggarakan acaranya itu sampai larut malam. Bisa sampai jam 2 dini hari. Dan anehnya, semua penggemarnya tidak beringsut dari tempat duduknya. Semua dengan tekun menyimak pandangan-pandangannya. Nyaris semuanya mengikuti dengan cermat ceramahnya. Karena pagi hari saya harus datang ke kantor di IAIN Sunan Ampel (kini menjadi UIN Sunan Ampel), maka kemudian saya tidak terus mengikuti acara Beliau.
Saya juga tentu ingat bagaimana saya mengundang Beliau di IAIN Sunan Ampel dalam acara yang sama. Waktu itu menjelang pemilihan Rektor IAIN Sunan Ampel. Saya masih ingat pesan Beliau agar saya mengembangkan IAIN Sunan Ampel menjadi perguruan tinggi yang terpandang. Sebagaimana biasa acara ini juga dihadiri oleh para penggemarnya, para dosen dan mahasiswa IAIN Sunan Ampel.
Saya didaulat oleh panita HAB untuk memberikan sambutan, makanya saya sampaikan tiga hal penting, yaitu: pertama, ucapan terima kasih atas kehadiran Pak Menteri Agama beserta Ibu Willy Tresna Lukman Hakim, para pejabat di lingkungan Kemenag, para ASN dan juga para pecinta acara Cak Nun. Juga saya sampaikan ucapa terima kasih atas dukungan semua pihak dan para tokoh agama. Hadir bersama kita Pak Suhadi Senjaya, Pak Arif Harsono, Pak Piyandi, dan sejumlah tokoh agama lainnya. Juga pimpinan Asosiasi Perbankan Syariah dan Bank Konven dan seluruh hadirin. Semuanya berkontribusi atas terselenggaranya acara HAB dengan baik. Secara khusus ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Cak Nun dengan timnya. Acara ini terselenggara berkat upaya Pak Menteri yang sangat mengharap Cak Nun datang di acara ini. Maklum seharusnya acara ini diselenggarakan pada tanggal 5 Januari yang lalu, akan tetapi karena bertepatan dengan acara lain yang tidak bisa ditinggalkan oleh Cak Nun, maka kita bersyukur acara terselanggara hari ini.
Kedua, Cak Nun atau nama lengkapnya ialah KH Emha Ainun Najib ini adalah kyai dan sekaligus budayawan. Beliau adalah kyai yang kritis dalam menyikapi banyak hal. Tidak terkecuali juga mengkritisi terhadap pemerintah. Itulah sebabnya Cak Nun dikenal di Jawa Timur bahkan juga di Nusantara sebagai Kyai Mbeling. Konsep Mbeling itu tidak sama dengan nakal. Jika nakal itu sebuah kebodohan dan mengandung kesalahan, maka Mbeling itu memiliki dimensi kecerdasan, religiositas dan bahkan spiritualitas. Sebuah ungkapan yang tidak berlebihan saya kira. Beliau memang memiliki kemampuan untuk mengekspresikan pikirannya baik dalam tulisan maupun lesan dengan sangat baik.
Saya tentu bergembira bahwa Beliau masih mengingat saya dan mengkritik saya tentang catatan Kyai Mbeling tersebut. Katanya, “tidak ada istilah mbeling berkaitan dengan spiritualitas. Itu Hanya Pak Sekjen takut sama saya saja”. Acara ini juga gayeng karena Pak Menteri memberikan sambutan dalam cara berpuisi. Dengan judul “Wajah-Wajah” beliau memberikan gambaran tentang multi wajah manusia sesuai dengan konteksnya.
Selain memberikan ceramah, Cak Nun juga memberikan kesempatan kepada Bu Novia untuk menyanyi dan juga grup Kyai Kanjeng untuk menyanyi dan memberikan hiburan dalam parodi-parodi Jawa. Saya kira acara ini cukup lengkap sebab selain menghibur dengan alunan music religious juga ada taushiyah keagamaan.
Saya sungguh merasakan betapa waktu yang cukup panjang tanpa terasa usai sudah. Jam sudah menunjukkan pukul 23.20 menit, dan acara pun ditutup dengan menyanyikan lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia. Kecintaan kita terhadap Indonesia dengan kebudayaannya dan keberagamannya begitu kelihatan di dalam acara tasyakuran HAB ke 72 ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

PROF. DR. NUR SYAM: PENGHARGAAN 30 TAHUN PENGABDIAN KEPADA NEGARA

PROF. DR. NUR SYAM: PENGHARGAAN 30 TAHUN PENGABDIAN KEPADA NEGARA
Ada yang istimewa di dalam puncak peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama RI ke 72, yaitu penerimaan lencana Karya Satya, 10 tahun, 20 tahun dan 30 tahun. Meskipun pemberian atau penghargaan Lencana Karya Satya tersebut setiap tahun diberikan tetapi tetap saja menarik untuk dicermati karena hal itu menggambarkan prestasi seorang ASN.
Saya bersyukur karena saya menerima Penghargaan Lencana Karya Satya 30 Tahun Pengabdian kepada Negara. Saya tentu merasa bergembira bahwa di akhir masa jabatan saya sebagai pejabat structural ini saya memperoleh penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo.
Sebelumnya saya juga memperoleh penghargaan Lencana Karya Satya 20 tahun pada waktu saya menjabat sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel, tahun 2010. Suatu penghargaan yang bagi saya juga bermakna sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil yang dianggap memiliki ketercukupan persyaratan untuk memperoleh penghargaan dari Pemerintah RI.
Bersama saya untuk memperoleh penghargaan Karya Satya tersebut adalah sejumlah pegawai negeri di Kemenag yang memperoleh penghargaan Karya Satya 10 dan 20 tahun. Di antara yang memperoleh penghargaan Karya Satya 20 tahun tersebut ialah Prof. Muhammadiyah Amin Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Caliadi, SH, MH., Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Prof. Dr. Nizar, MAg., Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah dan lainnya.
Penyerahan Lencana Karya Satya dilakukan oleh Menteri Agama, Bapak Lukman Hakim Saifuddin didampingi oleh Inspektur Jenderal Kemenag, Prof. Dr. HM. Nurkholis Setiawan dan Kepala Biro Umum, Syafrizal. Pemberian penghargaan dilakukan secara simbolik tentu terkait dengan waktu yang terbatas untuk pelaksanaan upacara. Saya menjadi penerima utama penghargaan ini dan disematkan penghargaannya langsung oleh Pak Menag. Saya tentu saja mengucapkan terima kasih kepada Pak Menag atas pemberian penghargaan itu. Bukan sekedar ucapan terima kasih, tetapi juga merupakan bentuk rasa tasyakkur atas nikmat yang diberikan oleh Allah atas diri saya.
Tentu saja ada kriteria yang umum maupun yang khusus untuk seseorang bisa menerima penghargaan tersebut. Ukuran utamanya ialah masa pengabdian seseorang yang sudah mencapai batas waktu yang mencukupi. Saya mendapatkan penghargaan Lencana Karya Satya XXX tahun sebab saya sudah mengabdi lebih dari 30 tahun. Tepatnya saya diangkat sebagai PNS tahun 1986, jadi sudah mengabdi selama 31 tahun, 9 bulan. Suatu waktu pengabdian yang cukup lama.
Lalu yang juga menjadi ukuran lain ialah kesetiaan kepada negara dan bangsa. Yang memperoleh penghargaan tentu saja ialah orang yang terus menerus menggelorakan semangat mempertahankan 4 (empat) pilar consensus kebangsaan. Dalam konteks ini saya telah merasa menjadi salah satu PNS yang terus menulis dan menyemangati para generasi muda agar terus mencintai Pancasila dan menjadikannya sebagai dasar dan pandangan hidup bangsa. Saya telah menulis ratusan tulisan tentang ketidaksetujuan saya dengan gerakan radikalisme, ekstrimisme,i kekerasan sosial, intoleransi dan sebagainya.
Yang tidak kalah penting tentu ialah semangat bekerja dan kedisiplinan. Saya nyaris tidak pernah izin cuti selama ini. Selama 31 tahun lebih saya tidak memanfaatkan izin cuti tahunan untuk istirahat bekerja. Saya terus bersemangat bekerja untuk kepentingan kementerian yang yang telah mempercayai saya untuk bekerja di dalamnya. Tentu masih ada kriteria lainnya yang menjadi tolok ukur pemberian Lencana Karya Satya ini. Namun “ala kulli hal” saya sungguh merasakan kelegaan dan kebahagiaan terpilih sebagai penerima Lencana Karya Satya XXX tahun dengan Lencana berwarna emas yang mengagumkan.
Di dalam sambutannya, Menteri Agama, menyatakan bahwa: “Kita harus mensyukuri perjalanan panjang Kementerian Agama yang memasuki usia 72 tahun. Tentu bukan usia yang muda lagi. Kementerian Agama sudah memasuki usia yang dewasa. Usia yang matang. Usia yang harus direnungkan terkait dengan sumbangannya bagi masyarakat nusa dan bangsa.”
Lebih lanjut beliau menyatakan: “Peringatan Hari Amal Bhakti Kementerian Agama jatuh pada tanggal 3 Januari, sebab Kementerian Agama memang lahir pada tanggal 3 Januari 1946, genap 72 tahun yang lalu. Kementerian Agama merupakan Kementerian yang pertama lahir dari rahim Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kementerian yang memiliki fungsi untuk pengembangan kehidupan umat beragama. Kementerian ini menyandang kata agama, makanya harus dijadikan agama itu sebagai perekat dan pendamai bagi semuanya. Agama harus dijalankan sesuai dengan substansinya. Meskipun agama itu bermacam-macam namanya, tetapi hakikatnya atau substansinya ialah untuk membangun keharmonisan, keselamatan, keadilan dan kebersamaan. Tidak ada agama yang mengajarkan tentang konflik dan kekerasan.”
Juga dinyatakannya: “itulah sebabnya untuk HAB yang ke 72 ini sengaja dipilih slogan tebarkan kedamaian, sebab inti ajaran agama ialah kedamaian itu sendiri. Kita semua berharap untuk dapat menjadi agen-agen perdamaian. Di setiap diri ASN harus menjadi agen-agen perdamaian untuk bangsa dan negara kita.”
Kiranya, HAB ke 72 ini memiliki makna penting, tidak hanya karena saya mendapatkan Lencana Karya Satya, akan tetapi karena HAB ini memang lebih serempak dan meriah dibandingkan dengan HAB tahun sebelumnya. Kita semua menjadi saksi bahwa Kementerian Agama merupakan ladang perjuangan bagi kita semua untuk menegakkan kedamaian di Bumi Nusantara.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENGEMBANGKAN E-GOVERNMENT

MENGEMBANGKAN E-GOVERNMENT
Salah satu kado akhir tahun 2017 bagi Kementerian Agama ialah launching sejumlah aplikasi yang dilakukan oleh Biro Kepegawaian dan Biro Perencanaan Kementerian Agama. Tanggal 28 Desember 2017 menjadi saksi atas diluncurkannya e-government untuk menandai semakin banyaknya aplikasi yang dimiliki oleh Kemenag.
Di dalam acara launching ini hadir Menteri Agama RI, Bapak Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Komisi VIII DPR RI, Dr. Ali Taher Parasong, semua pejabat eselon I Kemenag dan pejabat eselon 2 Pusat., Para Kakanwil Kemenag se Indonesia, Para Rektor dan Ketua PTKN dan sejumlah pejabat lainnya, khususnya dari Biro Kepegawaian dan Perencanaan Kemenag. Ada dua hal yang dilaunching oleh Menteri Agama, ialah aplikasi pada Biro Kepegawaian, aplikasi pada Biro Perencanaan dan Buku Pohon Perencanaan pada Kemenag.
Ada sebanyak 7 (tujuh) aplikasi yang dilaunching pada hari itu ialah: Sistem Elektronik Kinerja ASN Kemenag, Aplikasi izin belajar dan tugas belajar, Aplikasi Sistem presensi terpadu, Aplikasi kenaikan gaji berkala, Aplikasi kenaikan pangkat otomatis, Aplikasi system informasi perencanaan, dan buku Pohon Perencanaan Kemenag. Ke depan, buku Pohon Perencanaan tersebut harus dijadikan aplikasi, sehingga akan dengan sangat mudah akan bisa dijadikan sebagai referensi di dalam menyusun perencanaan.
Pada kesempatan melaporkan kegiatan launching kepada Menteri Agama dan para audience saya sampaikan bahwa kita semua layak berterima kasih kepada Badan Kepegawaian Negara (BKN) yang sudah menghibahkan Aplikasi Sistem Pelaporan Kinerja ASN –yang di Kemenag RI disebut sebagai SI-EKA—sehingga dengan lebih simple kita dapat menggunakannya. System yang dikembangkan oleh BKN ini tentu sudah sangat teruji dan sudah digunakan oleh banyak Kementerian/Lembaga. Dengan SI-EKA ini maka akan dapat dipastikan siapa mengerjakan apa pada setiap hari, dan siapa mendapatkan apa pada setiap bulannya. Jadi dengan system ini akan bisa menjamin bahwa setiap ASN akan bekerja sesuai dengan tupoksinya.
Dengan adanya launching 7 (tujuh) aplikasi system elektronik ini, maka akan memastikan bahwa ke depan akan terjadi percepatan di dalam pelayanan public. Tidak hanya bagi customer dari dalam tetapi juga customer dari luar (public). Dengan system KGB, maka secara otomatis akan terjadi kenaikan gaji berkala bagi ASN tanpa harus membuat permohonan dan sebagainya. Demikian pula dengan system elektronik ijin dan tugas belajar maka juga dipastikan akan terjadi percepatan dalam pelayanan.
Jika kita mengembangkan system e-government, sesungguhnya diinspirasikan oleh instruksi Menteri Agama bahwa pada tahun 2017 harus dikembangkan e-government. Dan semua ini didalam kerangka untuk menapaki suatu era baru yang sudah dicanangkan oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo, tentang Birokrasi Kelas Dunia atau World Class Bureaucracy (WCB). Kita tentu selalu ingat pernyataan Pak Jokowi bahwa “Bangsa yang hebat itu bukan yang besar mengalahkan yang kecil, bukan yang kuat mengalahkan yang lemah, akan bangsa yang cepat merespon terhadap perkembangan dan perubahan zaman. Siapa yang cepat dialah yang akan menjadi pemenangnya”.

Di dalam kesempatan ini, Ketua Komisi VIII DPR RI, Dr. Ali Taher Parasong, juga menyatakan bahwa kita bergembira dengan launching aplikasi kepegawaian dan parencanaan ini. Semua ini tentu menjadi penanda bahwa Kementerian Agama sudah memasuki suatu era baru pemerintahan berbasis elektronik. Kita semua berharap bahwa dengan penggunaan aplikasi ini akan semakin cepat pelayanan public pada Kementerian Agama. Beliau juga menyatakan: “saya ini terus mendukung terhadap Kementerian Agama. Dalam hal anggaran berapapun permintaannya akan saya turuti sesuai dengan regulasi. Pokoknya untuk Kementerian Agama, semuanya harus diberikan”.
Pada kesempatan tersebut, Pak Menag juga menyatakan apresiasinya atas peluncuran system aplikasi di Biro Kepegawaian dan pada Biro Perencanaan. Kita semua tentu berharap bahwa Kementerian Agama harus menjadi contoh karena Kementerian Agama adalah satu-satunya kementerian dan menyandang kata agama. Beliau menyatakan: “dengan menyandang kata agama, maka kita semua harus dapat mengamalkan lima nilai budaya kerja secara baik dan konsekuen”.
Beliau melanjutkan bahwa: “melalui system elektronik tersebut, maka akan dapat dipastikan pelayanan akan menjadi transparan dan akuntabel. Tidak ada lagi meja-meja yang banyak yang harus dilalui oleh public kita, tidak banyak lagi hambatan dalam aplikasi kebutuhan pelayanan public, karena semuanya sudah menggunakan pelayanan berbasis elektronik, sehingga akan terjamin transparansi dan akuntabilitasnya”.
Beliau juga menyampaikan bahwa: “kita akan memasuki tahun politik 2018 dan 2019, maka saya meminta agar semua aparat sipil negara pada Kemenag dapat lebih arif menyikapi tahun politik yang biasanya memang terjadi eskalasi konflik dan benturan kepentingan.” Juga beliau tegaskan: “Di sinilah letak kenapa kita menggunakan jargon “Tebarkan Kedamaian” sebab kita memang harus terus menerus untuk menebarkan kedamaian sebagaimana pesan semua agama bagi manusia.”
Sungguh kita merasakan bahwa inovasi-inovasi terus kita galakkan dalam kerangka untuk memasuki masa depan World Class Bureaucracy yang sebentar lagi akan menjadi keniscayaan bagi kita semua.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMBANGUN CYBER ARMY PADA LEMBAGA PEMERINTAH

MEMBANGUN CYBER ARMY PADA LEMBAGA PEMERINTAH
Malam hari setelah diskusi dengan tema “Personal dan Institutinal Branding,” maka dilanjutkan dengan acara diskusi tentang “Upaya Membangun Cyber Army pada Kementerian Agama”. Hadir di dalam diskusi tersebut ialah Wakil Rektor Bidang Administrasi, Dr. Zumrotul Mukaffa, Dr. Chabib Mustafa, Dr. Liliek Hamidah, Retno Indriyati, Kasubag Data dan Informasi, dan sejumlah dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.
Sebagai nara sumber ialah: saya (Prof. Dr. Nur Syam, MSi, Sekjen Kemenag), Dr. Mastuki (Kepala Biro Humas, Data dan Informasi), Hadi Rahman (staf Khusus Menteri Agama), Dr. Ali Rahmat (Kepala Biro Perencanaan Kemenag), dan sesuai dengan rencana maka esok harinya akan didatangkan nara sumber dari TNI Angkatan Udara yang selama ini dianggap sebagai instansi pemerintah yang berhasil mengembangkan cyber army.
Di dalam forum ini, maka saya sampaikan beberapa hal penting, yaitu: Pertama, memberitakan informasi positif tentang program, kegiatan dan hasil-hasilnya yang bisa dirasakan oleh khalayak. Tujuan dari program ini ialah membangun opini positif tentang Kemenag. Bisa saja dalam bentuk infografis, speed writing, karikatur, film pendek, dan sebagainya. Info ini diambil dari quick wins Kemenag yang bernilai positif. Program ini saya kira tidak sulit sebab memang sudah tersedia bahan-bahannya dan hanya diperlukan sentuhan grafisnya saja. Program ini bisa merupakan agenda setting yang memang disediakan untuk mengarahkan pembaca atau pemirsa agar memahami secara positif terhadap upaya Kemenag dalam pelayanan public yang lebih memuaskan.
Kedua, merespon terhadap isu-isu sensitive yang diarahkan kepada Kemenag. Jika dilihat dari system kerjanya, maka tim cyber army tentu bertugas untuk menetralisir atau memberikan respon yang mengarah kepada opini yang positif. Isu-isu negative tersebut dibalik dengan pemberitaan yang lebih posisitf sehingga akan memunculkan opini kesebalikan dari isu-isu negative yang terpublish di media sosial. Di dalam konteks ini, maka tim harus selalu siap meneropong seluruh berita di media sosial, dan kemudian memberikan respon yang seimbang. Isu yang kedua ini tentu lebih rumit dibanding yang pertama tadi. Di sini tentu dibutuhkan suatu tim yang sangat kuat untuk mendeteksi dan memetakan terhadap seluruh pemberitaan terutama yang negative terhadap Kemenag. Namun demikian dengan bantuan teknologi seperti media track atau media ivenstigasi, maka tidak ada lagi kesulitan untuk mendeteksi content media yang negative dimaksud.
Ketiga, membangun tim yang solid. Saya yakin bahwa di lembaga pendidikan Islam, seperti UIN Sunan Ampel ada beberapa orang yang memiliki talenta bagus di dalam pengembangan media sosial. Selain itu di beberapa PTKIN juga terdapat fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, sehingga dipastikan ada sejumlah ahli komunikasi yang andal untuk menjadi anggota tim cyber army kemenag.
Di dalam pembicaraan kita dengan Pak Mastuki bahwa di Kemenag pusat juga ada sejumlah personal yang memiliki talenta dalam bermedia sosial. Jika mereka ini kemudian bisa dirangkai dalam satu kesatuan untuk membangun cyber army pasti dapat dikembangkan kerja tim yang baik. Sepengetahuan saya bahwa ada beberapa orang di UIN Sunan Ampel yang di masa lalu menggilai media sosial ini. saya tidak tahu apakah mereka masih seperti yang dulu yang aktif di dalam mengotak atik media sosial.
Tentu saja diskusi ini sangat menarik, sebab ada beberapa masukan yang diberikan oleh narasumber utama maupun nara sumber floor. Hadi Rahman, misalnya menyatakan bahwa yang perlu dibangun ialah visi dan misi di dalam membangun cyber army ini. Harus ada visi dan misi yang jelas apa yang akan dirumuskan dan dbangun itu. Jangan sampai hanya karena tekanan eksternal, lalu kita membuat tim cyber army. Mestinya harus ada visi dan misi yang jelas sehingga akan bisa dihasilkan produk tim cyber army yang lebih bermanfaat bagi kementerian. Selain itu juga harus ada keberpihakan pimpinan. Jangan sampai pemimpin lembaga tidak care terhadap keinginan untuk membangun imaje yang lebih positif dimaksud.
Dr. Chabib Mustafa menyatakan bahwa sekarang memang era cyber war. Dia menyatakan bahwa di dalam acara temu internasional tarekat di Pekalongan, maka di situ terdapat satu tim yang luar biasa untuk membangun opini tentang tarekat, sehingga pemberitaan tarekat melalui media sosial itu luar biasa. Dalam kasus Universitas Al Azhar, maka didapati satu tim cyber yang hebat, sehingga informasi tentang Islam, fatwa para ulama Azhar dan juga counter opini terhadap dunia Islam itu sangat dikuasai. Hasilnya adalah informasi tentang Islam dari Al Azhar itu bisa mempengaruhi terhadap dunia internasional.
Dr. Lilik Hamidah juga menyatakan bahwa kesadaran tentang pentingnya cyber army itu sudah ada dan sudah dilakukan pembicaraan yang mendasar. Hanya saja memang masih berhenti di wacana dan belum diimplementasikan di dalam perencanaan dan aksi yang memadai. Oleh karena itu sudah saatnya kita membuat rencana aksi yang lebih kongkrit untuk tujuan membangun imaje Kemenag tersebut, baik melalui perguruan tinggi maupun jajaran lainnya.
Dari diskusi ini tentu ada hal yang sebagaimana yang dinyatakan Pak Mastuki ialah bagaimana membangun SDM yang kuat untuk mewujudkan tiga hal, yaitu mendorong terwujudnya image Kemenag yang makin baik karena semua berita keberhasilan program terupload, lalu bagaimana menghadapi issu yang terus berkembang terkait dengan Kemenag, dan bagaimana mendorong semua aparat sipil negera Kemenag untuk terus terlibat di dalam program building image bagi Kemenag.
Wallahu a’lam bi al shawab.