Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KESEDERHAAN DALAM BERIBADAH (14)

KESEDERHAAN DALAM BERIBADAH (14)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam Bab 14, Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan yang sangat mendalam tentang “Bab Berlaku Sederhana Dalam beribadah” dan kemudian saya rumuskan dalam judul Kesederhanaan dalam Beribadah”. Bab ini merupakan penjelasan tentang kesederhanaan itu tidak hanya di dalam perilaku social yang berhubungan dengan sesama manusia, diri sendiri, keluarga dan masyarakat, akan tetapi juga sederhana di dalam beribadah kepada Allah. Janganlah berlebih-lebihan. Kita harus menyeimbangkan diri di dalam beribadah kepada Allah SWT.

Di dalam Alqur’an dinyatakan pada  Surat Thoha: 1-2, diberitakan bahwa “Thoha. Kami tidak menurunkan Alqur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah”. Di dalam Surat Al Baqarah: 185, Allah menjelaskan: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Aisyah bahwa Nabi SAW  memasuki rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang perempuan. Beliau bertanya, “Siapakah dia”. Aisyah menjawab “ini adalah Si Fulanah yang terkenal shalatnya. “Beliau bersabda: “jangan demikian, hendaknya engkau beramal sesuai dengan kemampuanmu. Demi Allah, Allah itu tidak bosan untuk menerima amalmu hingga kamu sendiri yang akan merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah adalah yang dikerjakan terus menerus”. Lalu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa Allah bersabda: “binasalah orang-orang yang keterlaluan. Beliau mengulanginya sampai tiga kali”. Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Di dalam hadits lain dinyatakan: Ibnu Abbas berkata: “Tatkala Nabi Muhammad SAW berkhutbah, tiba-tiba ada seorang laki-laki lalu Beliau menanyakannya.” Para Sahabat menjawab: “dia adalah Abu Israil, ia bernazar akan berdiri pada waktu panas, tidak akan duduk, dan tidak akan berteduh serta tidak akan berbicara dan akan berpuasa.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “perintahkan dia supaya berbicara, berteduh, duduk dan perintahkanlah dia supaya menyempurnakan puasanya”. Hadits Riwayat Bukhari.

Demikianlah Islam sebagai ajaran untuk manusia memberikan kemudahan dan tidak memberikan kesulitan. Islam memerintahkan yassir wa la tu’assir. Permudah dan jangan persulit. Oleh karena itu dalam hal ibadahpun Allah SWT memberikan kemudahan. Rasulullah memiliki konsern yang luar biasa atas kemudahan di dalam beribadah. Islam merupakan ajaran yang sedemikian memberikan keseimbangan di dalam peribadahan. Kita masih ingat cerita tentang Salman al Farisi, seorang sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari Persia,  ahli srategi perang di dalam Islam. Beliau ingin mengabdikan diri dalam beragama dengan cara beribadah secara konsisten bahkan untuk hidup di masjid. Maka oleh Nabi SAW diminta untuk tetap memperhatikan keluarganya, rumahnya, pekerjaannya dan kehidupan duniawinya.

Di dalam Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW meminta kepada hambanya untuk menyeimbangkan diri di dalam beribadah. Jangan sampai karena nadzar yang sudah dilakukan kemudian menyulitkannya. Nadzar yang tidak sesuai dengan ajaran agama agar dipermudah agar tidak terdapat keberatan di dalam melakukan nadzarnya. Islam begitu memberikan kemudahan agar jangan bernadzar yang tidak Islami. Yang dibolehkan untuk bernadzar itu hanyalah Nabi Zakaria yang berkeinginan untuk memiliki anak lelaki. Maka Allah membolehkan untuk tidak berbicara selama tiga hari. Yang lain-lain, saya kira tidak kita jumpai.

Tentu saja segala sesuatu ada perkecualian. Sebagaimana tadi dijelaskan di dalam hadits bahwa jangan melakukan perbuatan dalam ibadah yang menyulitkan, sebagaimana dalam cerita Aisyah. Rasulullah memberikan jalan keluar agar beribadah sesuai dengan kemampuannya. Bagaimana dengan para waliyullah yang di dalam dunia mistisisme itu memiliki kelebihan dalam beribadah. Kanjeng Sunan Kalijaga bisa melakukan puasa di dalam air, di dalam tradisi Islam Jawa disebut sebagai topo mbatang, atau meditasi dengan merendam tubuhnya di dalam air, maka itulah yang disebut eksepsional. Tiga tahun lamanya topo mbatang itu dilakukan. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana shalatnya, puasanya dan sebagainya. Itulah urusan mereka yang memiliki keahlian khusus. Dan hanya Allah yang tahu tentang hal ini. Nabi Muhammad SAW jika qiyamul lail sampai kakinya bengkak. Inilah yang disebut sebagai perkecualian.

Bahkan tidak hanya para waliyullah yang diberi eksepsinalitas itu. Juga  para kyai yang diberi kekuatan Allah untuk melakukan ibadah yang melebihi kapasitas orang awam. Ada seorang kyai yang berjalan kaki dari Banyuwangi ke Serang atau Ujung Kulon. Sambil menghafal Alqur’an. Dan dari riyadhah itu kemudian mengantarkannya untuk menjadi kyai dengan kemampuan khusus dan mengembangkan Lembaga Pendidikan Islam yang sangat baik. memiliki pesantren sampai universitas. (nursyamcentre.com 27/07/25)

Sebagai Tuhan, Allah tentu memiliki pengetahuan dan kekuasaan yang tidak terhingga. Oleh karena itu, Allah dipastikan memiliki kekuatan superekstra untuk memilih dan memilah mana orang yang bisa melakukan sesuatu yang melebihi kapasitas orang awam dan mana yang biasa saja. Tetapi jangan lupa bahwa ada dimensi riyadhah yang bisa dilakukan oleh umat Islam untuk mencapai derajad lebih tinggi dalam beribadah.

Kita adalah orang awam. Yang beragama dengan tingkatan ibadah yang biasa saja. Tetapi saya kira yang terpenting adalah konsisten atau mudawamahnya. Semoga kita tetap bisa melakukan amalan ibadah yang tidak harus dengan jumlah terbanyak tetapi sekali-kali saja. Lebih baik ibadah yang tidak banyak tetapi istiqamah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BANYAK JALAN KEBAIKAN (13)

BANYAK JALAN KEBAIKAN (13)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pintu kebaikan itu terbuka lebar dan sangat banyak variasinya. Bukan hanya banyak tetapi sangat banyak. Di dalam slogan sering dinyatakan “banyak jalan menuju Roma” atau “banyak jalan menuju surga”. Allah memang memberikan jalan seluas-luasnya, selebar-lebarnya, sebanyak-banyaknya kepada umat Islam untuk mencari dan menemukan jalan kebaikan, melaluinya dan sampai pada tujuan akhirnya. Di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, Karya Syekh Imam An Nawawi disebutkan “Bab Penjelasan Banyaknya Jalan Kebaikan”.

Jalan untuk menuju kepada Tuhan itu banyak sekali, yang kemudian dikenal sebagai jalan kebaikan. Ada yang mencarinya melalui jalan ibadah mahdlah atau ibadah yang ditujukan kepada Allah SWT, seperti shalat, Haji, Puasa dan amalan dzikir yang istiqamah atau konsisten. Ada yang melalui jalan zakat, infaq, sedekah, wakaf dan ibadah ghairu mahdlah. Ibadah yang manfaatnya untuk kemanusiaan. Mendekati Tuhan bisa melalui jalan yang ramai, banyak dilihat orang, sehingga amalan ibadah itu diketahui sebagai jalan  jahriyah. Ibadah yang bisa dilakukan secara bersama-sama dalam banyak variannya, dan ada jalan sunyi, sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi di dalam mendekati Tuhan atau jalan sirriyah.  Keduanya jika dilakukan dengan mujahadah atau sungguh-sungguh,  maka akan menemukan jalan yang lurus, jalan yang benar, yang akan mengantarkannya sampai kepada Allah SWT.

Ada banyak ayat Alqur’an yang menyatakan jalan menuju Tuhan tersebut. Di antara ayat tersebut adalah Surat Al Baqarah: 215, yang artinya: “dan apa saja kebaikan yang kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”. Di ayat lain, Surat Al Baqarah: 19, artinya: “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya”. Di dalam Surat Al Zalzalah: 7, dinyatakan: “barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya”.

Hadits Nabi Muhammad SAW yang terkait dengan hal ini juga banyak, di antaranya adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzarr Junduh bin Junaidah,  Rasulullah bersabda: “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “beriman kepada Allah dan berjihad di jalannya”. Saya bertanya lagi, “memerdekakan hamba sahaya  yang bagaimana yang lebih utama”? Beliau menjawab: “sangat disayang pemiliknya dan yang paling mahal harganya”. Saya bertanya lagi: “seandainya saya tidak mampu mengerjakan demikian, maka apakah yang dapat saya lakukan”? Beliau bersabda: “kamu membantu orang yang  bekerja atau kamu menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia”. Saya bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu melakukan sebagian pekerjaan itu”? Beliau menjawab: “janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah untuk dirimu”.  (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Ada lagi hadits yang sangat mendasar sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda: “setiap pagi ruas tulang kalian terdapat sedekah. Setiap ucapan tasbih (subhanallah) adalah sedekah. Setiap ucapan Tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah. Setiap ucapan tahlil (la ilaha illallah) adalah sedekah, setiap ucapan takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, mencegah perkara mungkar adalah sedekah. Dan dua rakaat yang dikerjakan dalam shalat dhuha telah mencakup segalanya”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Hadits yang panjang tetapi sarat makna. Dengan ayat Qur’an dan hadits ini,  maka kita menjadi sadar bahwa begitu banyaknya jalan menuju kebaikan. Di dalam memahami teks-teks ini, maka ada beberapa hal, yaitu:

Pertama, Allah SWT memberikan banyak jalan kepada kita untuk melakukan kebaikan, sebagai jalan menuju Allah. Kita bisa memilih mana yang bisa dilakukan. Tetapi dilakukan secara konsisten dan penuh kesungguhan. Bil istiqamah wal mujahadah. Harap dipahami bahwa amalan yang disukai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara mudawamah atau istiqamah. Bukan amalan sekali banyak, tetapi Allah suka amalan sedikit tetapi konsisten. Amalan kebaikan itu lalu terus ditingkatkan. Thabaqan an thabaq. Setahap demi setahap dan akhirnya menjadi banyak. Bahkan dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa membuang benda di jalan yang bisa membahayakan orang lain itu merupakan sedekah. Tersenyum dan membuat orang lain tertawa adalah sedekah. Seorang pelacur yang menolong anjing kehausan dan kelaparan, lalu Allah mengganjar dengan surga. Di saat itu, ada keikhlasan yang tidak terhingga dari pelacur itu, sehingga Allah SWT dengan sifat ketidakterhinggaannya dapat bertemu dan memaafkan semua kesalahannya.

Kedua, ada amalan ibadah yang biasa kita lakukan sebagaimana dicontohkan oleh para ulama, sebuah bacaan: “subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar”. Ternyata bacaan ini adalah bacaan yang berdimensi sedekah. Jadi ada sedekah bacaan lesan dan hati dan ada sedekah bil fi’li atau perbuatan. Biasanya kita berpikirnya yang menguntungkan. “saya sudah bersedekah sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW, maka tidak perlu sedekah bil fi’li”. Inilah pemikiran yang keliru, sebab Nabi Muhammad SAW tidak hanya melakukan amal ibadah dengan pikiran, lesan dan hati tetapi juga amalan shalihan, amalan yang nyata dalam bentuk benda, uang atau jasa.

Ketiga,  betapa banyak hal yang dapat kita lakukan. Ada banyak menu, ada banyak merek ibadah yang dapat dilakukan. Kita tinggal memilih mana yang terbaik kita lakukan dan kemudian dikerjakan dengan Ikhlas. Ikhlas, Sabar dan Syukur adalah trilogy dalam perilaku kita di dalam beragama. Jika kita dapat melakukannya, maka insyaallah kita akan menjadi orang yang bahagia fiddini, wad fiddunya wal fil akhiarah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENINGKATKAN IBADAH DI USIA SENJA (12)

MENINGKATKAN IBADAH DI USIA SENJA (12)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 12, Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitabnya “Riyadhus Shalihin” menjelaskan tentang “Anjuran Untuk Meningkatkan Amal Kebaikan pada Akhir Usia”. Tulisan ini mendedahkan suatu hal yang sangat mendasar tentang apa sebaiknya yang dilakukan oleh manusia khususnya umat Islam di kala usia semakin merambat tua. Kala kehidupan sudah semakin bau tanah.

Di dalam Alqur’an diceritakan tentang pentingnya menjaga usia agar selalu berada di dalam ibadah kepada Allah SWT. Hal ini yang kiranya perlu disadari sebab tidak ada satupun manusia yang tahu kapan takdirnya untuk meninggalkan semua yang ada di dunia. Urusan usia manusia kapan lahir dan kapan wafat adalah urusan Allah. Kita tahu bahwa ada empat hal yang menjadi takdir Allah terkait dengan manusia, yaitu:  lahir, mati, jodoh, dan rezeki. Karena kita tidak tahu berapa lama usia, maka konsekuensinya bahwa semakin tua harus semakin banyak beribadah.

Ada  ayat Alqur’an terkait dengan hal di atas, yaitu sebagaimana dijelaskan di dalam Surat Fathir: 27, “Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan (apakah tidak)  datang kepada kamu pemberi peringatan”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW dijelaskan sebagaimana  diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Allah telah memberi kesempatan kepada seseorang yang dipanjangkan usianya sampai berumur enam puluh tahun”. Di dalam Riwayat Imam Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah senantiasa memperbanyak bacaan “subhanalalahi wabihamdihi astaghfirullaha wa atubu ilaika”. (Mahasuci Allah dan dengan memujinya, saya memohon ampun kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya). Aisyah berkata: “saya bertanya Wahai Rasulullah, saya melihat engkau selalu memperbanyak bacaan  “subhanallahi wabihamdihi astaghfirullah wa atubu ilaihi”.  Rasulullah menjawab: “Rabbku telah memberitahukan kepadaku bahwa kalau aku melihat tanda tentang umatku, maka aku memperbanyak bacaan “subhanallahi wabihamdihi astahgfirullah wa atubu ilaih”.

Dari uraian tentang ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat dipahami bahwa usia adalah karunia Allah. Ada yang berusia pendek dan ada yang panjang. Keduanya menjadi ketentuan Tuhan dan tidak ada manusia yang mengetahuinya. Hanya Allah dan Rasulullah yang tahu kapan sebenarnya ajal akan tiba. Rasulullah dan Nabi-Nabi lain tentu diberi pengetahuan yang sangat memadai tentang urusan ruh dan kegaiban lainnya.

Di dalam tradisi Jawa, Allah memberikan tanda-tanda tentang kematian bagi seseorang. Tentu saja ada yang bisa memahami bahasa simboliknya dan ada yang tidak. Berdasarkan pengalaman tentang seseorang yang sudah mendekati wafatnya, maka akan muncul berbagai mimpi yang memberikan pengetahuan tentang kapan wafat. Misalnya bertemu dengan leluhurnya yang sudah wafat dalam puluhan tahun. Bahkan diungkapkan kepada keluarganya tentang mimpi-mimpinya itu.

Simbol-simbol seperti ini diyakini di dalam tradisi Jawa, bahwa kematian itu diketahui akan datang. Tentu tidak tahu kapan datangnya karena itu haknya Allah. Bahkan ada mimpi yang memberitahukan kepada keluarga, misalnya gigi tanggal, atas atau bawah, maka dapat dipahami bahwa akan ada keluarganya yang meninggal dunia. Tentu tidak semua orang bisa mendapatkan mimpi seperti ini. Jadi Allah kadangkala memberitahukan kepada manusia tentang keadaan keluarga yang akan wafat.

Dari hadits ini dapat dipahami beberapa hal, yaitu: pertama, wafat atau mati adalah ketentuan Tuhan yang hanya Allah yang mengetahuinya. Kala Nabi Muhammad SAW ditanya tentang Roh, maka Nabi juga menyatakan bahwa roh adalah urusan Allah dan kita hanya diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit. Manusia yang mengetahui tanda-tanda akan datangnya kematian tentu saja ada berbasis pada riyadhah yang telah dilakukan, akan tetapi jumlahnya sangat sedikit.

Kedua, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa manusia bisa berusia 60 tahun itu sudah dipanjangkan usianya oleh Allah SWT. Jadi, usia 60 tahun ke atas adalah bonus bagi seseorang. Manusia yang bisa berusia lebih dari 60 tahun berarti sudah diberi peluang untuk banyak melakukan pertaubatan. Di antara salah satu ajaran Nabi Muhammad SAW adalah dengan membaca dzikir sebagaimana ucapan Nabi Muhammad SAW, yaitu: bacaan “subhanallahi wabihamdihi astahgfirullah  wa atubu ilaih”. Di usia semakin tua, maka kita harus semakin banyak memuji Allah dan bersyukur atas nikmatnya Allah,  lalu semakin banyak memohon ampunan kepada-Nya. Jadi semakin tambah usia seharusnya semakin menunjukkan kepatuhan, ketaqwaan dan beribadah kepada Allah.

Ketiga, hendaknya manusia berpikir tentang bonus usia itu. Melalui tambahan usia di atas 60, maka sesungguhnya Allah memberikan peluang untuk kita  bertaubat kepada Allah SWT. Sebaiknya manusia tidak menyia-nyiakan peluang ini, sehingga akan dapat memperoleh kenikmatan dari Allah SWT. Kenikmatan itu yang berupa peluang untuk beribadah lebih banyak dibandingkan manusia lainnya.

Nabi Muhammad SAW berusia 63 tahun. Kita yang sudah lebih dari 63 tahun berarti masih diberi peluang untuk semakin banyak beribadah kepada Allah SWT. Mari kita jadikan sisa hidup ini dengan semakin banyak berbuat baik.  Untuk  Allah, manusia dan alam sekeliling kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MUJAHADAH (11)

MUJAHADAH (11)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Mujahadah merupakan kesungguhan dalam melakukan kebaikan apapun dalam konsepsi Islam. Menurut Syekh Imam Nawawi dalam Kitab Riyadhus Shalihin, dinyatakan bahwa Mujahadah adalah bersungguh-sungguh untuk Ikhlas kepada Allah SWT di dalam melaksanakan ibadah.

Umat Islam diharapkan untuk bersungguh-sungguh di dalam amalan ibadah. Tidak boleh separoh-separoh. Harus total. Totalitas ibadah kepada Allah dengan tingkatan Ikhlas itulah yang dikonsepsikan dengan mujahadah. Di dalam konsepsi kaum tasawuf, mujahadah adalah proses untuk beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh melalui maqam muraqabah sebagaimana yang diajarkan dalam dunia tasawuf.

Ada banyak ayat Alqur’an yang berbicara tentang mujahadah, misalnya di dalam Surat Al Ankabut: 69, dinyatakan: “dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. Di dalam Surat Muhammad: 8, dinyatakan: “sebutlah Nama Rabbmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan”. Kemudian di ayat lain disebutkan, Az Zalzalah: 7, dinyatakan: “barangsiapa yang mengerjakan  kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihatnya (balasannya)”.

Hadits Nabi juga memberikan tekanan atas mujahadah tersebut, misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah telah berkata Rasulullah: “sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku nyatakan perang terhadapnya. Sesuatu yang paling Aku sukai yang dikerjakan oleh hambaku untuk mendekatkan diri adalah mengerjakan apa yang Aku wajibkan kepadanya dan tidak ada hentinya hambaku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku merupakan pendengaran yang ia mendengar dengannya. Aku merupakan penglihatan yang ia melihat dengannya, Aku merupakan tangan yang ia gunakan menyerang dan Aku merupakan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku niscaya Aku mengabulkannya dan jika memohon perlindungan kepada-Ku nisacaya Aku melindunginya”.

Di dalam hadits lain  yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,  Anas menceritakan oleh Rasulullah SAW dari Rabbnya: “Dia berfirman apabila seorang hamba mendekat pada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan apabila dia mendekat sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, apabila hamba ini mendatangi Aku dengan berjalan, maka aku mendatanginya dengan berlari kecil”. Di dalam hadits lain sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas Rasulullah bersabda: “ada dua nikmat yang kebanyakan manusia menyia-nyiakannya yaitu kesehatan dan waktu luang”. Di dalam hadits lain juga dijelaskan bahwa Aisyah berkata: “Nabi SAW selalu bangun untuk mengerjakan salat malam sampai kedua kakinya bengkak, Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah mengapa Engkau berbuat demikian sedangkan Allah telah mengampuni semua dosamu, baik yang telah lampau maupun yang akan datang”. Beliau menjawab “apakah tidak sepantasnya jika Aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur”.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka diketahui bahwa mujahadah  dalam konsepsi tasawuf adalah usaha sungguh-sungguh dan perjuangan batin untuk melawan hawa nafsu, gangguan setan, dan rendah hati untuk menyucikan diri atau jiwa atau disebut tazkiyatun nafs untuk mendekatkan diri kepada Allah”. Di dalam dunia tasawuf, mujahadah adalah perjuangan batin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melawan godaan hawa nafsu yang didorong oleh gangguan  setan dengan cara melakukan dzikir atau wirid sesuai dengan petunjuk para guru yang bersambung sanadnya sampai Rasulullah SAW baik melalui Sayyidina Ali atau Sayyidina Abu Bakar.

Untuk  menjalankan ibadah secara sungguh-sungguh, baik ibadah yang khusus kepada Allah maupun ibadah secara umum kepada sesama manusia, maka  harus dilakukan secara istiqamah dan kesungguhan batin. Untuk memahami mujahadah maka perlu hal-hal sebagai berikut:

Pertama, kedekatan orang khusus atau orang yang khawas.  Ada orang yang mampu beribadah dengan tingkatan kesungguhan secara optimal. Di dalam konteks ini, misalnya adalah para waliyullah yang memiliki kelebihan dibandingkan  dengan manusia atau umat Islam pada umumnya. Mereka adalah orang yang digambarkan oleh Alqur’an orang yang mendekat atau taqarrub ilallah dengan kesungguhan, dan di dalam hal ini, maka para waliyullah itu, semakin dekat kepada Allah,  maka Allah akan semakin dekat kepadanya. Dan setiap kedekatan dipastikan akan diganjar dengan ganjaran yang tidak terhingga. Digambarkan bahwa begitu dekatnya, maka semua perilakunya adalah cerminan Allah SWT. Cahaya Allah yang gilang gemilang.

Kedua, kedekatan kaum awam atau umat Islam yang tidak memiliki kedekatan khusus kepada Allah SWT. Orang yang seperti ini adalah orang yang juga berkesungguhan mendekat kepada Allah akan tetapi tidak mampu untuk memasuki relung Cahaya Allah SWT. Mereka melakukan ibadah secara istiqamah dan sungguh-sungguh,  akan tetapi belum bisa mencapai maqam musyahadah bil batin. Perilaku ibadahnya masih berada di dalam lingkaran antara luar dan dalam,  tetapi tidak masuk ke dalam dengan menghunjamkan batinnya.

Bagi yang merasa masih seperti ini, maka Allah SWT juga menjanjikan pahala sebagaimana yang dijanjikannya. Allah tidak akan mengingkari janji. Tetap ada surga yang disediakan baginya. Dan tetap akan bisa bersama Rasulullah kelak di yaumil akhirat. Yang penting konsisten beribadah dengan melakukan rukun Islam: shalat, zakat, dan puasa. Kemudian memperbanyak sedekah sesuai dengan kemampuannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENYEGERAKAN KEBAIKAN (10)

MENYEGERAKAN KEBAIKAN (10)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Saya akan membahas mengenai satu tema di dalam karya Syekh Imam An Nawawi pada Bab yang ke 10 dengan tema yang panjang: “Bersegeralah kepada Kebaikan dan Menganjurkan Kepada Orang Menuju Kebaikan,  Segera Menghadapinya dengan Sungguh-sungguh Tanpa Keraguan” dengan tema yang lebih simple sebagaimana judul di atas. Bab ini membahas tentang bagaimana umat Islam bisa menyegerakan perilaku kebaikan agar melakukannya dengan sungguh-sungguh tanpa keraguan.

Tidak ada yang menyangkal bahwa semua ajaran agama memberikan ajaran untuk berbuat baik. Kebaikan merupakan bahasa universal di dalam agama-agama. Tidak ada agama yang mengajarkan untuk berbuat jahat, berbuat jelek, untuk mendhalimi orang lain dan mengajarkan kekerasan dan konflik social. Semua agama mengajarkan agar di dalam kehidupan itu terdapat kerukunan atau harmoni social. Dan untuk memperolehnya, maka kata kuncinya adalah perbuatan yang baik,.

Kebaikan merupakan inti ajaran Islam. Setiap perkataan beriman dilanjutkan dengan beramal kebaikan. Itulah ciri Islam, tidak berhenti kepada iman kepada Allah dan iman-iman lainnya, tetapi harus ditindaklanjuti dengan beramal shaleh atau berlaku kebaikan baik bagi dirinya, keluarga dan masyarakat pada umumnya. Orang yang bisa melakukannya akan diganjar dengan surganya Allah dan akan kekal di dalamnya. Ada banyak ayat di dalam Alqur’an yang membicarakan hal ini.

Di dalam Alqur’an misalnya terdapat ayat yang membahas agar kita secepatnya mengamalkan amalan kebaikan, sebagaimana tertera di dalam Surat Al Baqarah: 148, yang menyatakan “Maka berlomba-lombalah  (dalam membuat) kebaikan”. Di dalam surat lain Ali Imran: 133, dinyatakan: “dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi  yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”.

Mengenai menyegerakan melakukan kebaikan, hadits Nabi Muhammad SAW menceritakan: “Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah  SAW bersabda: bersegeralah kalian untuk mengerjakan  amal-amal shaleh, karena akan terjadi bencana yang menyerupai sepotong malam yang gelap gulita, yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman tetapi pada waktu sore dalam keadaan kafir. Atau pada waktu sore dia dalam keadaan beriman tetapi pada waktu paginya dia berada di dalam keadaan kafir. Dia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia”.

Islam memberikan arahan agar kita segera melakukan kebaikan, terutama jika kita selesai melakukan kesalahan, kekhilafan atau dosa. Di dalam sebuah hadits, yang biasa dibacakan oleh khatib shalat Jum’at yang menyatakan: “bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu sekalian berada. Dan ikuti kejelekan dengan kebaikan maka kebaikan itu akan menghapus kesalahan dan berakhlaklah kepada sesama manusia dengan akhlak yang baik”. Hadits ini menjelaskan agar manusia segera melakukan kebaikan pasca melakukan kesalahan dan membangun relasi social yang baik kepada sesama manusia.

Berdasarkan atas substansi Alqur’an dan hadits ini, maka kiranya dapat dipahami beberapa hal, yaitu:

Pertama, menyegerakan berbuat baik adalah perbuatan individual. Artinya, bahwa harus ada dorongan dari dalam diri manusia atau motif internal untuk melakukan perbuatan baik. Jangan menunda berbuat baik. Karena sesungguhnya manusia tidak tahu akan kepastian Tuhan tentang kita, misalnya usia kita kapan berakhir atau kebertahanan kita di dalam menghadapi gelombang kehidupan. Misalnya godaan untuk tetap beragama Islam sampai akhir hayat kita. Doa kita adalah “wa tsabbit Imanana”. Yang artinya “Kekalkan iman kami”.

Kedua, Allah meminta kepada kita agar segera atau mempercepat bertaubat kepada Allah SWT. Bertaubat dengan ucapan memohon ampun atau istighfar, astaghfirullah, atau juga dengan segera melakukan kebaikan yang dapat menghapus kesalahan, kekhilafan atau dosa. Kita harus berlomba-lomba beramal kebaikan. Jangan ditunda pada kesempatan lain. Salah satu kekuatan dalam menghadapi kehidupan duniawi yang kompleks adalah dengan berlomba-lomba  untuk melakukan kebaikan. Siapa yang banyak melakukan kebaikan, maka dialah yang beruntung di hadapan Allah SWT.

Ketiga, perbuatan baik itu didasari oleh ketaqwaan kepada Allah. Sebaik-baik umat yang beragama Islam adalah umat yang paling baik ketaqwaannya. Allah tidak akan menilai seseorang dari kebaikan kulitnya, kecantikan wajahnya, kegantengan tubuhnya, keelokan fisiknya akan tetapi kebaikan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Iman, taqwa dan amal shalih adalah trilogy umat terbaik. Dengan iman kita meyakini akan kekuasaan Allah, dengan ketaqwaan akan mengarahkan kita untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan yang jelek dan dengan amal shaleh akan mengantarkan kita kepada keridlaan Allah. Marilah kita menjadi umat Islam yang dapat meneladani kehidupan Rasulullah yang penuh dengan keteladanan iman, taqwa dan amal shaleh.

Wallahu a’lam bi al shawab.