• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

DI MANA ADA KEBAIKAN DI SITU ALLAH HADIR

DI MANA ADA KEBAIKAN DI SITU ALLAH HADIR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Senin ini, 16/02/2026, saya tidak menghadiri acara tahsinan Alqur’an di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, sebab saya berada di rumah Tuban, di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban. Tetapi sebagai gantinya, saya memberikan asupan jiwa dan rohani pada jamaah Shalat Shubuh di Mushalla Raudhatul Jannah di desa saya. jamaahnya para ibu dan bapak yang kebanyakan usianya sudah di atas angka 40 tahun.

Bukan ketepatan tentu saja, sebab tidak ada yang ketepatan. Ini bagian dari ketentuan Tuhan bahwa menjelang Bulan Puasa, saya bisa bersama kawan-kawan saya di masa kecil di Mushalla Raudhatul Jannah di depan rumah. Sebuah kebahagiaan saya bisa membersamai mereka menjelang pelaksanaan puasa tahun 1407 H, tahun ini. Saya memberikan ceramah dengan tema kehadiran Allah dalam perbuatan kebaikan. Ada dua  hal yang saya sampaikan:

Pertama, sebelum puasa sebaiknya kita saling memaafkan. Allah sangat menyukai orang yang saling memaafkan. Orang yang meminta maaf dan memberikan maaf adalah manusia yang ideal. Manusia yang menyadari bahwa manusia adalah tempat kesalahan dan kealpaan. Kita bukan manusia yang tidak memiliki kesalahan kepada orang lain, besar atau kecil. Disengaja atau tidak disengaja. Itulah sebabnya Allah memberikan ruang untuk saling memaafkan. Jangan pernah ragu untuk meminta maaf dan memberi maaf.

Coba perhatikan ajaran Islam ini, agama kita  mengajarkan bahwa “fa man ‘afa fa  aslaha fa ajrahu ‘indallah”, yang artinya: “maka siapa saja yang meminta maaf dan memberi maaf lalu berbuat ishlah atau berdamai, maka pahalanya di sisi Allah”. Ini sebuah gambaran bahwa Allah itu hadir atas hambanya yang saling memaafkan. Kehadiran Allah adalah dengan pahala yang diberikan kepada orang yang saling memaafkan. Memberi maaf dan meminta maaf dan perbuatan yang membawa kepada kedamaian adalah wujud dari perbuatan baik. jika kita melakukan kebaikan, maka di situ Allah dengan kekuasaannya akan dapat menurunkan rahman dan rahimnya agar manusia saling berbuat kebaikan.

Ada banyak sekali kebaikan yang bisa dihadirkan dalam berhubungan dengan sesama manusia. Misalnya memberi makan kepada orang fakir dan miskin atau memberi makan kepada para musafir dan pencari ilmu, maka itu adalah kebaikan. Di kala kita menolong orang yang berkesusahan, misalnya sedang menghadapi masalah di dalam kehidupannya, maka hal itu adalah kebaikan. Jika kita membuang paku atau duri di jalan yang bisa membuat orang celaka, maka hal itu adalah kebaikan. Semua hal yang bisa menyebabkan orang lain selamat, maka hal itu adalah kebaikan. Bahkan kita dapat  membuat orang lain tersenyum atau tertawa, maka itu adalah kebaikan. Di mana ada kebaikan di situ Allah akan hadir.

Islam adalah agama yang mengedepankan keselamatan. Sebarkan keselamatan atau afsyus salam. Ini perintah Nabi Muhammad SAW. Dan jika kita melakukannya, maka kita mendapatkan pahala dari Allah SWT. Ekspresi salam tersebut, misalnya juga dapat dilihat dari kesukaan kita untuk bersalaman. Saling melakukan kebaikan. Jadi, orang yang suka bersalaman dipastikan menjadi orang yang suka keselamatan.

Di kalangan kita, setelah shalat lalu bersalaman. Jangan dilihat dari ada atau tidak perilaku bersalaman setelah shalat oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi mari kita lihat maknanya. Agar tidak jatuh kepada sikap boleh atau tidak boleh. Bersalaman adalah tanda kita saling berada di dalam kesamaan. Tidak ada yang merasa benar atau salah. Kita merasa di dalam nuansa ingin kebaikan. Ada kata hati yang tidak terungkap di dalam kata-kata di kala kita bersalaman. Yaitu kita berada di dalam nuansa saling memaafkan.

Apakah selalu bersalaman bada shalat merupakan kebaikan. Dengan tegas saya nyatakan sebuah kebaikan. Akan tetapi kebaikan tersebut tentu didasarkan pada hati yang tulus dan Ikhlas. Janganlah tangannya bersalaman tetapi hatinya tidak. Bersalamanlah dengan keduanya, perbuatan dan hati. Jika hal ini bisa dilakukan dengan benar, maka hal tersebut adalah kebaikan dan dengan perilaku tersebut dipastikan Allah akan  hadir di dalam diri kita.

Kedua, Kita akan memasuki bulan Ramadlan. Bulan Ramadlan merupakan bulan yang penuh rahmat dan maghfirah Allah SWT.  Untuk memperoleh kerahmatan dan ampunan Tuhan tentu kita dapat melakukannya dengan banyak ibadah kepada Allah. Tetapi jangan lupa ada hal mendasar yang mesti harus dilakukan oleh seseorang, yaitu meminta maaf kepada sesama manusia. Allah akan memberikan ampunan atas kesalahan, kekhilafan dan dosa kepada Allah di dalam konteks hablum minallah. Dan di satu sisi juga ada kekhilafan dan kesalahan kepada sesama manusia dalam kerangka hablum minan nas. Jika keduanya bisa bertemu, maka inilah yang disebut sebagai manusia yang fithri atau manusia suci yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Nanti setelah pulang ke rumah, mari kita lakukan untuk meminta maaf kepada suami atau isteri, bahkan anak-anak dan tetangga. Juga kepada kawan-kawan kita. Tidak harus bertemu sebab sekarang berada di dalam kesibukannya masing-masing. Kita dapat  meminta maaf melalui pesan di media social. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menjaga agar hati kita selalu siap untuk meminta maaf dan memberi maaf. Inilah inti kehidupan yang dipedomani oleh ajaran agama Islam yang kita cintai.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BERDOA PADA BULAN RAJAB DAN SYA’BAN UNTUK KEBERKAHAN

BERDOA PADA BULAN RAJAB DAN SYA’BAN UNTUK KEBERKAHAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jika saya pulang ke Tuban, maka seakan menjadi kewajiban saya untuk memberikan asupan beragama pada jamaah shalat shubuh di Mushalla Raudhatul Jannah  di depan rumah saya. Jamaah shalat Subuh tersebut adalah kawan-kawan saya di masa kecil. Usianya nyaris sama. terpaut dua tahun lebih muda dan ada yang terpaut dua tahun lebih tua dari saya. Jika saya pulang terasa mengenang kembali masa-masa bersama-sama dalam kelompok bermain di masa lalu. Acara tersebut terselenggara, 15/02/2026.

Saya memberikan asupan jiwa tentang betapa senangnya karena kita akan bertemu kembali dengan Bulan Puasa atau Bulan Ramadlan, bulan yang dinantikan oleh umat Islam karena keistimewaannya. Allah SWT memang menjadikan Bulan Ramadlan sebagai bulan Istimewa, yang Allah akan melipatgandakan amal kebaikan yang dilakukan oleh umat Islam. Amalan kebaikan bisa diganjar oleh Allah dengan kelipatan bertubi-tubi, ada yang 10 kali, 100 kali dan sebagainya. Semua amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Berdzikir, shalat, sedekah dan amal kebaikan lainnya akan diberikn pahala berlipat-lipat.

Doa yang kita lantunkan kepada Allah SWT berbunyi: “Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadlan”. Artinya: “Ya Allah berkahi kami pada bulan Rajab, bulan Sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan Ramadlan”. Sebuah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk kita amalkan. Dan insyaallah doa ini sudah kita amalkan. Dan yang membuat kita bersyukur karena insyaallah kita akan dipertemukan dengan bulan Ramadlan. Kita tentu tidak tahu takdir kita, sebab takdir adalah kewenangan Allah, yang kita tidak bisa mengetahuinya. Akan tetapi indikatornya adalah kita semua masih sehat menjelang puasa, yang tinggal menghitung hari. Insyaallah puasa itu tanggal 18 Februari 2026 atau hari Rabo yang akan datang. Kita hari ini masih bisa shalat subuh berjamaah dan kita masih segar bugar sesuai dengan usia kita masing-masing.

Allah masih memberi peluang kepada kita semua untuk bisa bertemu dengan bulan Ramadlan. Artinya kita masih diperkenankan untuk menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain yang diutamakan pada bulan puasa. Inilah kenikmatan yang luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang patuh kepada-Nya. Meskipun kita tidak sampai memasuki Islam secara benar-benar kaffah, akan tetapi hal-hal yang prinsip di dalam Islam sudah kita lakukan, khususnya shalat dan dzikir yang mampu kita lakukan.

Di dalam literatur Islam dinyatakan bahwa berkah adalah bertambahnya kebaikan. Jadi artinya di kala kita berdoa agar diberkahi Allah pada bulan Rajab dan Sya’ban, maka kita berharap agar Allah memberikan tambahan kebaikan kepada kita. Kebaikan dalam hablum minallah dan hablum minan nas. Kebaikan dalam beribadah kepada Allah dalam banyak hal, dan semakin bisa melakukan kebaikan untuk manusia. Kebaikan kepada manusia itu memiliki dua sisi, yaitu baik kepada manusia sekaligus juga mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Semua ibadah kita yang bercorak kemanusiaan dipastikan di dalamnya terdapat kebaikan kepada Allah.  Jadi seperti pedang bermata dua. Satu sisi ketajamannya untuk Allah dan satu sisi ketajamannya untuk manusia. Dengan melakukan kebaikan kepada sesama manusia maka akan mempertajam rasa kehadiran Allah di dalam diri kita dan akan mempertajam rasa kemanusiaan yang berupa kasih sayang kepada sesama hamba Allah.

Pada bulan Rajab dan Sya’ban Allah akan mendatangkan keberkahan kepada umat Islam yang suka beribadah kepadanya. Keberkahan itu didapatkan dari Allah sehingga hidup menjadi tenang, damai, bahagia dan penuh manfaat. Manfaat bagi diri sendiri, keluarga dan umat manusia lainnya. Ketenanagan hidup dalam rumah tangga dan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya ditandai dengan keberhasilan anak-anak di dalam menjalani kehidupannya. Pendidikannya dan pekerjaannya, serta uang yang didapatkannya bermanfaat bagi keluarganya. Bahkan dapat menginfakkan atau mensedekahkan sebagian kecil hartanya untuk kepentingan kemanusiaan. Keberkahan harta bukan terletak pada banyaknya akan tetapi kemanfaatannya. Ada harta banyak tetapi tidak bermanfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat yang tentu tidak bisa dinyatakan sebagai harta yang berkah. Harta yang cukup tetapi bermanfaat jauh lebih baik dibandingkan dengan harta banyak tetapi tidak bermanfaat.

Ada banyak orang yang keliru dalam memandang harta. Sering diungkapkannya bahwa harta yang banyak adalah kenikmatan. Pernyataan ini tidak salah tetapi jika kenikmatan itu tidak membawa kemanfaatan untuk diri, keluarga dan masyarakat,  maka tentu bukan kenikmatan. Sebuah kenikmatan yang sementara itu bukanlah kenikmatan yang abadi. Hari ini dan sebulan ke depan nikmat, akan tetapi pada tahun berikutnya justru menemui kesengsaraan. Harta yang banyak dapat memenuhi keinginan jasad, akan tetapi kenikmatan jasad belum tentu menjadi kenikmatan jiwa dan rohani. Islam mengajarkan bahwa kenikmatan itu mencakup kenikmatan biologis, kenikmatan jiwa dan kenikmatan rohani. Inilah hakikat kenikmatan tersebut.

Nikmat hidup itu terletak pada badan yang sehat, dan dengan kenikmatan tersebut maka  seseorang dapat melakukan ibadah kepada Allah dengan sempurna dan juga dapat berlaku baik untuk manusia. Inilah makna doa keberkahan yang kita lantukan. Khususnya keberkahan pada bulan Rajab dan Sya’ban.

Doa yang kita lantunkan pada bulan Rajab dan Sya’ban merupakan doa agar kita dapat melaksanakan puasa ramadlan yang dapat menenangkan jiwa, membawa kedamaian di dalam hidup dan dapat membawa keselamatan diri dan keluarga kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

BERDOA PADA BULAN RAJAB DAN SYA’BAN UNTUK KEBERKAHAN

BERDOA PADA BULAN RAJAB DAN SYA’BAN UNTUK KEBERKAHAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jika saya pulang ke Tuban, maka seakan menjadi kewajiban saya untuk memberikan asupan beragama pada jamaah shalat shubuh di Mushalla Raudhatul Jannah  di depan rumah saya. Jamaah shalat Subuh tersebut adalah kawan-kawan saya di masa kecil. Usianya nyaris sama. terpaut dua tahun lebih muda dan ada yang terpaut dua tahun lebih tua dari saya. Jika saya pulang terasa mengenang kembali masa-masa bersama-sama dalam kelompok bermain di masa lalu. Acara tersebut terselenggara, 15/02/2026.

Saya memberikan asupan jiwa tentang betapa senangnya karena kita akan bertemu kembali dengan Bulan Puasa atau Bulan Ramadlan, bulan yang dinantikan oleh umat Islam karena keistimewaannya. Allah SWT memang menjadikan Bulan Ramadlan sebagai bulan Istimewa, yang Allah akan melipatgandakan amal kebaikan yang dilakukan oleh umat Islam. Amalan kebaikan bisa diganjar oleh Allah dengan kelipatan bertubi-tubi, ada yang 10 kali, 100 kali dan sebagainya. Semua amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Berdzikir, shalat, sedekah dan amal kebaikan lainnya akan diberikn pahala berlipat-lipat.

Doa yang kita lantunkan kepada Allah SWT berbunyi: “Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadlan”. Artinya: “Ya Allah berkahi kami pada bulan Rajab, bulan Sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan Ramadlan”. Sebuah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk kita amalkan. Dan insyaallah doa ini sudah kita amalkan. Dan yang membuat kita bersyukur karena insyaallah kita akan dipertemukan dengan bulan Ramadlan. Kita tentu tidak tahu takdir kita, sebab takdir adalah kewenangan Allah, yang kita tidak bisa mengetahuinya. Akan tetapi indikatornya adalah kita semua masih sehat menjelang puasa, yang tinggal menghitung hari. Insyaallah puasa itu tanggal 18 Februari 2026 atau hari Rabo yang akan datang. Kita hari ini masih bisa shalat subuh berjamaah dan kita masih segar bugar sesuai dengan usia kita masing-masing.

Allah masih memberi peluang kepada kita semua untuk bisa bertemu dengan bulan Ramadlan. Artinya kita masih diperkenankan untuk menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain yang diutamakan pada bulan puasa. Inilah kenikmatan yang luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang patuh kepada-Nya. Meskipun kita tidak sampai memasuki Islam secara benar-benar kaffah, akan tetapi hal-hal yang prinsip di dalam Islam sudah kita lakukan, khususnya shalat dan dzikir yang mampu kita lakukan.

Di dalam literatur Islam dinyatakan bahwa berkah adalah bertambahnya kebaikan. Jadi artinya di kala kita berdoa agar diberkahi Allah pada bulan Rajab dan Sya’ban, maka kita berharap agar Allah memberikan tambahan kebaikan kepada kita. Kebaikan dalam hablum minallah dan hablum minan nas. Kebaikan dalam beribadah kepada Allah dalam banyak hal, dan semakin bisa melakukan kebaikan untuk manusia. Kebaikan kepada manusia itu memiliki dua sisi, yaitu baik kepada manusia sekaligus juga mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Semua ibadah kita yang bercorak kemanusiaan dipastikan di dalamnya terdapat kebaikan kepada Allah.  Jadi seperti pedang bermata dua. Satu sisi ketajamannya untuk Allah dan satu sisi ketajamannya untuk manusia. Dengan melakukan kebaikan kepada sesama manusia maka akan mempertajam rasa kehadiran Allah di dalam diri kita dan akan mempertajam rasa kemanusiaan yang berupa kasih sayang kepada sesama hamba Allah.

Pada bulan Rajab dan Sya’ban Allah akan mendatangkan keberkahan kepada umat Islam yang suka beribadah kepadanya. Keberkahan itu didapatkan dari Allah sehingga hidup menjadi tenang, damai, bahagia dan penuh manfaat. Manfaat bagi diri sendiri, keluarga dan umat manusia lainnya. Ketenanagan hidup dalam rumah tangga dan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya ditandai dengan keberhasilan anak-anak di dalam menjalani kehidupannya. Pendidikannya dan pekerjaannya, serta uang yang didapatkannya bermanfaat bagi keluarganya. Bahkan dapat menginfakkan atau mensedekahkan sebagian kecil hartanya untuk kepentingan kemanusiaan. Keberkahan harta bukan terletak pada banyaknya akan tetapi kemanfaatannya. Ada harta banyak tetapi tidak bermanfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat yang tentu tidak bisa dinyatakan sebagai harta yang berkah. Harta yang cukup tetapi bermanfaat jauh lebih baik dibandingkan dengan harta banyak tetapi tidak bermanfaat.

Ada banyak orang yang keliru dalam memandang harta. Sering diungkapkannya bahwa harta yang banyak adalah kenikmatan. Pernyataan ini tidak salah tetapi jika kenikmatan itu tidak membawa kemanfaatan untuk diri, keluarga dan masyarakat,  maka tentu bukan kenikmatan. Sebuah kenikmatan yang sementara itu bukanlah kenikmatan yang abadi. Hari ini dan sebulan ke depan nikmat, akan tetapi pada tahun berikutnya justru menemui kesengsaraan. Harta yang banyak dapat memenuhi keinginan jasad, akan tetapi kenikmatan jasad belum tentu menjadi kenikmatan jiwa dan rohani. Islam mengajarkan bahwa kenikmatan itu mencakup kenikmatan biologis, kenikmatan jiwa dan kenikmatan rohani. Inilah hakikat kenikmatan tersebut.

Nikmat hidup itu terletak pada badan yang sehat, dan dengan kenikmatan tersebut maka  seseorang dapat melakukan ibadah kepada Allah dengan sempurna dan juga dapat berlaku baik untuk manusia. Inilah makna doa keberkahan yang kita lantukan. Khususnya keberkahan pada bulan Rajab dan Sya’ban.

Doa yang kita lantunkan pada bulan Rajab dan Sya’ban merupakan doa agar kita dapat melaksanakan puasa ramadlan yang dapat menenangkan jiwa, membawa kedamaian di dalam hidup dan dapat membawa keselamatan diri dan keluarga kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

SULTHAN DALAM MAKNA MELINTASI JAGAD RAYA

SULTHAN DALAM MAKNA MELINTASI JAGAD RAYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Alqur’an merupakan kitab suci yang harus diyakini kebenarannya. Tidak boleh sedikitpun umat Islam meragukannya. Mempercayai kitab suci termasuk salah satu dari rukun iman yang berjumlah enam hal.mempercayai Allah, malaikat, kitab suci, rasul, takdir dan hari akhir. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Hadits Nabi tentang Iman, Islam dan ihsan. Rukun iman tersebut harus diyakini dengan seganap hati dan pikiran tanpa keraguan sedikitpun.

Acara tahsinan Jamaah Ngaji Bahagia atau Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) sampailah pada Surat Ar Rahman, pada ayat 33, yang artinya adalah: “Wahai golongan Jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)”. Ayat ini menegaskan bahwa manusia akan dapat menguasai atau menembus dan melintasi alam raya tetapi dengan kekuatan dari Allah SWT.

Coba kita perhatikan beberapa kosa kata di dalam ayat ini, yaitu “jika kamu mampu”, “menembus langit dan bumi”, diperintahkan oleh Allah “tembuslah atau lintasi” dan ada kekuatan Allah yang menyertai upaya dimaksud. “inistatha’tum”, “min aqatharis samawati wal ard”, “fanfudzu”, “illa bisulthan”. Yang arti harfiyahnya adalah “jika berkemampuan” atau pengandaian berkemampuan, menembus atau melintasi langit dan bumi, perintah untuk menembusnya atau melintasinya dan semua bisa terjadi karena kekuatan Allah SWT.

Kata sulthan dinyatakan sebagai kekuatan atau bisa juga bermakna kekuasaan. Itulah sebabnya di Nusantara dikenal istilah Sultan atau penguasa atau pemimpin. Sultan Trenggana, Sultah Hadiwijaya, Sultan Agung Hanyakrakusuma, dan sebagainya. Tidak hanya di Jawa tetapi juga dikenal di Sulawesi, seperti Sultan Hasanuddin, di Aceh seperti Sultan Malikus Saleh, dan sebagainya.

Saya mencoba untuk memahami kata “sulthan” dalam tiga kategori, yaitu: pertama,  sulthan dalam konteks ilmu pengetahuan. Kekuatan atau kekuasaan itu ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan yang dapat dikuasai oleh manusia. Di dalam dunia ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan menembus atau melintasi alam raya adalah di kala manusia bisa menjejakkan kakinya di bulan.

Pesawat Antariksa Apollo 11 yang diproduksi oleh Amerika Serikat dapat mencapai bulan dalam rangka penyelidikan atas bulan sebagai salah satelit alam  di luar bumi yang bisa dikaji. Pesawat Antariksa Apollo diterbangkan ke bulan pada  16-24 Juli 1968. Setelah itu lalu berulang kali Amerika dan Uni Soviet menerbangkan Pesawat Antariksa ke planet yang dekat dengan bumi, misalnya Mars. Manusia dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang dikuasainya dapat mencapai planet lain yang di masa sebelumnya dirasakan tidak mampu dilakukannya.

Sebenarnya banyak sarjana Muslim yang mengkaji mengenai astronomi, seperti bulan dan planet-planet lain berdasarkan pemikiran empiris rasional atau bisa juga menggunakan pemikiran intuitif. Misalnya Al Biruni yang mengkaji tentang keliling bumi, atau Al Battani yang mengkaji tentang katalog Bintang dan lain-lain. Peredaran matahari atau bulan mengelilingi bumi dan planet-planet lain sudah dikaji secara ilmiah oleh para ahli. Namun secara empiric baru dilakukan eksperimennya melalui temuan pesawat Antariksa yang dapat menembus di luar orbit bumi.

Kedua, sulthan dalam arti menembus atau melintasi alam raya dengan ilmu spiritual atau kekuatan ilmu yang dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Tentu saja ada manusia yang memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk memahami alam raya dengan mata batinnya. Dengan kekuatan indra keenam, manusia dapat menembus waktu atau tempat dengan mata ilmu batiniyahnya. Di dalam Islam disebut sebagai ilmu laduni atau ilmu yang didapat dari Allah secara langsung tanpa melalui pembelajaran secara konvensional . Yaitu ilmu yang didapatkan dari karunia Allah kepada hambanya yang memenuhi persyaratan untuk memperolehnya. Ada riyadhah yang dilakukannya agar bisa sampai kepada tahapan ini. Dengan kekuatan batinnya, ada seseorang yang bisa menabak masa depan dengan ketepatan yang akurat. Orang bisa membaca masa lalu dengan akurasi yang memadai. Ada orang yang bisa berjalan di atas air, atau mampu menembus api yang panas atau mampu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang awam. Bisa disebut sebagai ilmu kasyaf atau ilmu hikmah atau ilmu karamah. Jika Nabi disebut sebagai mu’jizat dan jika kekasih Allah, misalnya para waliyullah disebut sebagai karamah atau keutamaan atau kemulyaan.

Ketiga, orang yang mampu menembus alam lain. Ada alam kasunyatan atau alam dunia dan alam gaib. Alam kasunyatan dihuni oleh manusia dan benda-benda lain yang bersifat fisikal, dan ada alam gaib yang dihuni oleh makhluk Allah yang gaib misalnya jin atau makhluk gaib lainnya. Allah bisa memberikan ilmu kepada hambanya yang berusaha dengan segenap upayanya untuk bisa masuk ke dalam alam gaib. Bisa berkomunikasi dan bahkan bisa hidup dalam dua alam sekaligus. Orang awam seperti kita tentu saja tidak mampu untuk memasuki alam lain, karena kita tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya.

Allah itu maha kasih dan sayang, maha Rahman dan Rahim, sehingga Allah akan dapat memberikan kemampuan yang luar biasa kepada hambanya yang memang bisa melakukannya. Bagi kita yang penting, percaya saja bahwa ada kekuatan yang bisa diberikan Allah kepada hambanya. Tetapi yang sangat penting adalah meyakini atas rukun iman.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

NABI ADAM SEBAGAI MANUSIA PERTAMA

NABI ADAM SEBAGAI MANUSIA PERTAMA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pengajian pagi di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya sungguh menjadi pengajian yang menarik minat anggotanya. Meskipun jumlah anggotanya tidak banyak, akan tetapi termasuk jamaah yang rajin. Nyaris setiap pengajian hadir kecuali ada uzur yang memang tidak bisa dihindarinya. Meskipun yang menjadi anggota ada yang masih menjabat di pemerintahan atau yang mantan pejabat dalam birokrasi dan orang penting lainnya, status social yang berbeda, akan tetapi keakraban dan kebersamaan tidak perlu dipertanyakan lagi. Kompak.

Pada acara tahsinan, saya menyampaikan bahwa manusia sesungguhnya merupakan satu kesatuan bersaudara. Semua manusia berasal dari keturunan Nabi Adam AS dan Sayyidati Hawwa, sebagai pasangan suami istri pada penciptaan pertama. Konon untuk menikahkannya, maka maharnya adalah kalimat tauhid “la ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah”. Mungkin kita bisa bertanya: “bagaimanakah kalimat tersebut menjadi mahar dalam perkawinan Nabi Adam dan Hawwa yang diciptakan Allah terlebih dahulu? Maka jawabannya, bahwa Nur Muhammad itu sudah diciptakan Allah terlebih dahulu sebelum Allah menciptakan alam seisinya.

Sebagai Tuhan yang Maha Mencipta dan Maha Memelihara, tentu saja Tuhan memiliki kekuasaan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan design besar atas penciptaan alam semesta dan manusia. Penciptaan Muhammad dalam bentuk fisik dan roh memang datang belakangan, akan tetapi hakikat Muhammad sebagai Cahaya Tuhan sudah diciptakan terlebih dahulu. Di dalam kitab klasik, yang dikaji di dunia tarekat, misalnya Dakhoikul Akbar, dinyatakan bahwa Nur Muhammad diciptakan terlebih dahulu, sebelum Allah menciptakan alam dan seluruh tata surya.

Sebagai akibat konflik keluarga, maka yang tersisa hidup adalah keturunan Qabil. Habil wafat terbunuh sebelum memiliki keturunan, maka kemudian dilahirkan Syits yang kemudian menggantikan Nabi Adam AS. Dari Nabi Syits kemudian melahirkan nabi-nabi dalam jumlahnya yang banyak, yang berfungsi untuk merawat umat manusia agar berada di dalam kebaikan. Keturunan Qabil tentu masih ada sisa-sisanya dan kemudian menjadi kelompok yang selalu memusuhi ajaran Nabi-Nabi. Bisa jadi kaum Nabi Nuh juga ada sebagian yang merupakan keturunan Qabil, dan ada sebagian yang kerurunan Nabi Syits. Demikian  umat Nabi Hud, umat Nabi Ilyas, umat Nabi Shaleh hingga Nabi Muhammad SAW.

Ada beberapa temuan science yang menginformasikan bahwa sudah terdapat makhluk di Bumi yang usianya bahkan ratusan tahun sebelum masehi. Artinya jauh sebelum Nabi Ibrahim. Sayangnya saya tidak bisa menyebutkan apakah makhluk tersebut sudah berupa manusia, meskipun tidak sama dengan umat manusia yang sekarang, akan tetapi  temuan-temuan artefaks tersebut mengindikasikan bahwa mereka bukan manusia yang diciptakan sempurna seperti kita, akan  tetapi  berpeluang ada yang serupa dengan manusia.

Ada juga tulisan yang menyatakan bahwa Nabi Adam bukan manusia pertama, yaitu tulisan Agus Musthofa dari Malang. Dengan pendekatan dekonstruksi atau mencoba berpikir dan berpendapat lain, dinyatakannya, bahwa Adam bukan manusia manusia pertama, tetapi rasul dan pemimpin manusia pertama. Berpendapat tentu boleh saja, tetapi jika merujuk kepada semua teks suci agama-agama Semitis, Yahudi, Nasrani dan Islam, maka baik teks Taurat, teks Injil dan teks Alqur’an menyatakan bahwa Adam AS adalah manusia pertama yang diciptakan Allah melalui tanah dan dengan kekuasaan-Nya jadilah manusia yang kemudian dinamai Adam. Dari situ kemudian diciptakan Hawwa yang menjadi pasangannya.

Adam merupakan manusia pertama yang kemudian menghasilkan orang-orang yang tidak patuh atas kebenaran wahyu yang dibawa oleh Nabi-Nabi berikutnya dan juga menghasilkan keturunan yang selalu patuh kepada wahyu yang disampaikan oleh Rasul dan Nabiyullah.

Di antara keturunan yang menjadi pewaris kenabian adalah Nabi Syits, Nabi Nuh, Nabi Hud dan seterusnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Persebaran manusia ke seluruh dunia dimulai dari Nabi Nuh AS. Setelah banjir besar yang merupakan peristiwa sejarah, bukan fiksi, maka ada tiga putranya yang kemudian menjadi sumber sejarah kemanusiaan. Yaitu Syam yang kemudian melahirkan keturunan di Timur Tengah dan ke timur,  Yafeth yang melahirkan keturunan di Eropa dan Ham  yang melahirkan keturunan di Afrika. Di dalam kajian etnis, maka dikenal ada tiga ras manusia, yaitu Negroid, Kaukasoid dan Mongoloid.

Rasullah pernah menyatakan bahwa Sam menurunkan bangsa Arab, Ham menurunkan bangsa Habsyah, dan Yafeth menurunkan bangsa Rum. Secara akliyah, maka bisa dinyatakan bahwa Yafeth menurunkan etnis Kaukasoid yang membenrang dari daratan Eropa ke barat dan Timur, Ham menurunkan etnis Negroid yang membentang di seluruh Afrika dan Sam menurunkan Etnis Kaukasoid yang  membentang dari Arab sampai china.

Tentu dalam waktu yang panjang kemudian terjadi perkawinan silang, antara etnis Kaukasoid dan Mongoloid dan antara keduanya dengan ras Negroid. Itulah yang menyebabkan terjadinya berbagai perubahan secara fisikal di antara manusia di dalam etnis-etnis tersebut. Perubahan secara fisikal juga misalnya terjadi pada manusia di Amerika Selatan yang kulitnya cenderung kemerah-merahan. Atau bangsa China, Jepang dan Korea yang cenderung matanya sipit. Bangsa Indonesia juga merupakan campuran dari berbagai macam etnis, sehingga berdasarkan haplogroup ternyata memiliki campuran antara etnis China, Arab, Asia Selatan lainnya.

Memang secara genealogi keturunan, berdasarkan teks suci agama-agama, bahwa kakek-nenek  moyang manusia di dunia adalah Nabi Adam AS. Nabi Adam bukanlah tokoh fiktif yang sengaja diciptakan oleh para agamawan, akan tetapi merupakan kenyataan historis, sebab bukan hanya interteks yang membenarkannya akan tetapi juga crossteks. Semua agama Semitis membenarkannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.