• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

RELASI SOSIAL DEKAT TETAPI JAUH DI ERA MEDSOS

RELASI SOSIAL DEKAT TETAPI JAUH DI ERA MEDSOS

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada salah satu efek positif dari media social adalah menciptakan hubungan social yang menjadi dekat bahkan sangat dekat. Kita bisa melakukan komunikasi social kapan saja, dan di mana saja. Selama ada sinyal di handphone, maka kita dapat melakukan relasi social dengan enak dam nyaman. Media social dapat mendekatkan jarak antara sesama manusia karena tidak terhalang oleh jarak dan tempat. Dunia mampu dilipat dalam jarak dan tempat yang sedemikian factual

Pada waktu terdapat Pandemi Covid-19, maka salah satu yang menghubungkan relasi social adalah media social. Di kala terdapat kebijakan social distancing dan physical distancing, maka yang menjadi penghubung efektif adalah media social. Kita dapat bertanya kesehatan keluarga kita yang jauh, tidak hanya bermukim di Indonesia akan tetapi juga yang di luar negeri, karena media social dimaksud. Beruntunglah berkat kecanggihan teknologi imformasi, maka kita tetap bisa saling menyapa antara satu dengan lainnya.

Tidak hanya itu, para mahasiswa yang berbeda tempat juga mampu mengikuti perkuliahan dengan baik. Ada banyak mahasiswa yang menyelesaikan pendidikannya dan hanya beberapa kali datang ke kampusnya. Masih untung. Bahkan mungkin juga ada yang tidak sama sekali pernah tahu tempat kuliahnya. Perkuliahan dapat dilakukan dengan system dalam jaringan (daring) sehingga dapat mencapai kelulusan dengan sempurna. Tidak terhitung berapa jumlah mahasiswa yang dapat menyelesaikan pendidikannya dengan model pembelajaran jarak jauh karena keterbatasan program pendidikan tatap muka.

Yang saya ceritakan di atas ini adalah dampak positif dari media social. Dengan WhatsApp, Zoom, Google Meet, dan Google Class Room, dan sebagainya, maka perkuliahan atau seminar bisa dilakukan. Akan tetapi ada juga yang menurut saya bagian dari negativitas penggunaan media social, yaitu fenomena orang berada di dalam kedekatan di dalam jarak social, akan tetapi jauh fokusnya. Mereka di dalam relasi social yang berdekatan tetapi masing-masing memiliki focus berbeda dalam relasi sosialnya.

Hari Sabtu, 31/01/2026, saya pergi ke Lampung. Tentu dengan transit terlebih dahulu di Bandara Juanda. Dan seperti biasa, saya menyempatkan minum kopi, biasanya Capuchino tanpa gula, dalam waktu kira-kira satu jam. Lama juga. Sambil menunggu keberangkatan, maka saya sempatkan untuk menulis artikel. Yang saya tulis adalah artikel yang berjudul “Pendidikan Tinggi Islam Masa Depan: Pengaruh Humanoid Pada Pendidikan Islam” telah dimuat di nursyamcentre.com pada tanggal 02/02/2026.

Saya akan menceritakan tentang apa yang saya temui di lapangan terkait dengan penggunaan media social. Ada sepasang suami-isteri. Tampak dari luar seperti pejabat. Dari tampilan dan sosoknya menggambarkan bahwa mereka adalah orang berada atau kelompok happiness. Mereka minum berdua dan makan-makanan ringan. Mereka berhadapan dalam satu meja. Akan tetapi mereka sibuk dengan membaca dan membalas pesan WA. Bisa dari temannya atau relasinya. Keduanya sedemikian asyik sehingga nyaris tidak ada perkataan apapun dari keduanya.

Saya duduk di sebelahnya dengan menulis artikel di atas. Sesekali saya perhatikan. Tentu dengan mencuri-curi pandang. Nyaris satu jam dan mereka tetapi berada di dalam posisi memegang HP dan berjawab-jinawab dalam media social. Sampai suatu saat, suaminya akan ke toilet, dan kemudian pamit kepada isterinya “Ma saya ke toilet”. Dan tidak ada satu katapun dari isterinya, sebab masih asyik dengan HPnya. Jadi focus perhatian isterinya hanyalah ke HP dan bukan hal-hal di sekitarnya. Sungguh sebuah “ironi” dalam relasi social yang terjadi.

Saya lalu berpikir, sedemikan jauhnya relasi social suami-isteri padahal mereka berdua dalam suatu moment yang sama, di tempat yang sama, dan berada di dalam hubungan yang mestinya sangat dekat, suami dan isteri. Tetapi inilah fakta empirisnya, bahwa dewasa ini di tengah semakin powerfull-nya media social ternyata memiliki dampak yang nyata yaitu adanya kerenggangan atau adanya distansi social dalam relasi kehidupan rumah tangga.

Kehidupan memang mengalami perubahan seirama dengan perubahan social yang terjadi. Salah satunya adalah munculnya kerenggangan dan ketegangan social dalam relasi suami isteri. Hubungan suami isteri sebenarnya sangat dekat, akan tetapi masuknya media social di dalam relasi social suami-isteri dapat meningkatkan resiko ketegangan social dan kerenggangan social. Berdasarkan penelitian, banyak pengaruh media social atas perkawinan, misalnya yang menyebabkan gangguan dalam rumah tangga. Seseorang bisa cekcok dengan pasangannya karena media social, terutama WhatsApp. Mereka berada di dalam satu rumah bahkan satu tempat tidur akan tetapi masing-masing membuka HP-nya dengan focus yang berbeda. Isteri melihat tayangan makanan, sementara  suami nonton bola. Masing-masing sibuk dengan tiktok atau youtube-nya masing-masing.

Di dalam teori uses and gratification, dinyatakan bahwa terdapat dampak teknologi informasi pada hubungan interpersonal. Berdasarkan teori “penggunaan dan kepuasan” tersebut relasi social interpersonal dapat dipengaruhi oleh bagaimana penggunaan media social dan bagaimana kepuasan yang didapatkannya.

Kita lalu bisa bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah kita termasuk yang seperti ini. Kita berdekatan dengan orang yang paling dekat dengan kita, istri atau suami, akan tetapi ternyata kita berada di dalam ruang kehidupan yang jauh dan berbeda focus. Mari kita introspeksi.

Wallahu ‘alm bi al shawab.

PERILAKU PERMISSIVE

PERILAKU PERMISSIVE

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kehidupan di era sekarang adalah kehidupan yang serba boleh. Apapun bisa dilakukan yang penting tidak mengganggu orang lain. Ini merupakan contoh di mana seseorang menempatkan dunia privasi di atas dunia kehidupan social. Artinya, bahwa jika selama secara privat tidak mengganggu orang,  maka selama itu boleh dilakukan. Pandangan ini merupakan bentuk kehidupan yang memisahkan antara yang privat dengan yang public sedemikian mencolok, sehingga seakan-akan manusia itu hidup di alam sendirian.

Kehidupan yang mengedepankan kepentingan privat ketimbang kehidupan social adalah kehidupan binatang. Dalam  arti hubungannya dengan binatang lain. Sebab hewan sesungguhnya juga memiliki solidaritas yang kuat di antara sesama jenisnya. Misalnya hewan dubug atau heyna yang hidup berkelompok dengan sesamanya dan saling menolong terhadap sesamanya. Demikian pula yang lain.

Saya mencoba mengenalnya bahwa manusia yang hanya mementingkan dirinya sesungguhnya memiliki sifat kebinatangan atau sifat hayawaniyah yang jauh lebih besar ketimbang nafsu sosialiyahnya atau nafsu ijtimaiyahnya. Di era kapitalisme seperti ini, maka sifat manusia kembali kepada sifat hakikinya yang berupa sifat nafsi-nafsi atau sendiri-sendiri. Sesungguhnya sifat seperti ini sudah ada semenjak manusia diciptakan Tuhan untuk tahap awal. Kita masih ingat cerita tentang Qabil dan Habil yang menghiasi sejarah agama-agama Semitis di dunia. Yahudi, Nasrani dan Islam.

Saya ingin memberi contoh tentang perilaku seseorang yang saya lihat secara empiric sensual atau dengan pengamatan mata. Saya naik pesawat terbang dari Surabaya ke Jakarta, dan terus dari Jakarta ke Lampung, 30/01/2026. Terdapat seorang penumpang yang pakaiannya sangat minim. Perempuan dengan celana pendek. Pendek sekali. Baju yang atas juga kurang sekali. Perempuan ini berada di samping saya, sehingga saya tahu bagaimana dia naik pesawat dan duduk di kursi. Kedua kakinya naik ke kursi. Masih untung karena memakai syal untuk menutupi kedua kakinya. Orang Jawa menyebut: “ora ilok,  atau tidak pantas atau tidak etis.

Bagi kaum etikawan atau orang yang memandang etika sebagai basis keberadaan seseorang di ruang public tentu sangat terganggu. Maklum biasanya kaum etikawan atau agamawan itu selalu menjadikan norma-norma agama atau etika sebagai tolok ukurnya. Makanya, di kala kaum agamawan atau etikawan tersebut mengetahui hal ini, maka langsung di dalam hati akan menyatakan: “ini kemaksiatan tubuh”.

Kata maksiat tentu sebuah ungkapan yang memiliki konsekuensi hukum agama. Bahwa yang dilakukan adalah dosa, sebab seharusnya tubuh perempuan harus tertutup. Yang boleh diperlihatkan adalah wajah dan tangan atau jari-jarinya. Bahkan kaum Salafi Wahabi menyatakan semua tubuh perempuan adalah aurat, maka wajahpun harus dihias dengan niqab atau cadar. Semua tubuhnya tertutup secara menyeluruh. Orang Jawa menyatakan berukut. Inilah ajaran agama yang diyakini kebenarannya dan harus dilakukan di dalam kehidupan. Makanya jika kita berada di Arab Saudi, kita akan melihat betapa banyaknya perempuan yang memakai niqab dimaksud.

Bagi kaum agamawan, maka membuka aurat perempuan juga mengganggu orang lain. Akan menyebabkan terjadinya kemaksiatan mata atau ma’shiyatul ‘ain. Bagaimana tidak akhirnya juga ada orang yang secara terpaksa atau tidak terpaksa untuk menatapnya. Saya menjadi ingat tayangan di Youtube yang menyatakan: “dilihat maksiat tidak dilihat barang bagus”. Ini adalah gambaran yang terjadi jika di sekitar kita terdapat perilaku kemaksiatan.

Perilaku permissive banyak dilakukan pada masyarakat Barat. Saya pernah ke Kanada,  Belanda, Perancis dan Amerika. Tentu melihat lelaki dan perempuan muda yang  berciuman di jalan raya itu  bukan hal yang aneh. Biasa saja. Mereka berpikir bahwa mereka berdua tidak mengganggu orang lain. Ini urusan privat. Suka sama suka. Tidak ada yang dirugikan. Inilah wujud nyata dari yang saya sebut sebagai perilaku privat. Di dalam bahasa Orang Betawi dinyatakan: “ini urusan gue, bukan urusan elu”.

Di dalam pandangan kaum materialis, bahwa tubuh manusia itu adalah materi. Sebuah susunan materi yang terdiri dari daging, darah, saraf dan tidak ada di dalamnya urusan roh, jiwa dan sebagainya. Pokoknya materi. Karena materi,  maka kematian sesungguhnya adalah di kala bagian-bagian tubuh tersebut rusak, misalnya jantung, paru-paru, ginjal dan lain-lain. Jika kekuatan paru-paru tinggal 30 persen maka pertanda kehidupan akan berakhir. Mati.

Sebagai benda  juga akan mengikuti hukum materi. Tidak ada yang lebih dari itu. Secara alami benda  tidak perlu tertutup. Makanya di Barat terdapat kaum nudis. Back to nature. Menjadi bugil adalah kembali ke alam. Ada mall yang seluruh penjaga dan pengunjungnya harus menanggalkan pakaiannya. Sedangkan berpakaian adalah nurture atau budaya.

Berpakaian adalah hasil konstruksi manusia tentang tradisi berpakaian. Ada nilai-nilai di dalam berpakaian.  Orang Jawa Perempuan dulu berpakaian dengan kemben atau atasannya atau di atas dada terbuka dan tanpa jilbab. Di Jawa, jilbab disebut sebagai kerudung. Yaitu kain yang dililitkan di kepala dengan pakaian atasan dan jarit atau bawahan yang tertutup. Ini adalah tradisi berpakaian hasil dari pemikiran local dan tradisi dalam berpakaian.

Tubuh sebagai benda dapat diperlakukan sesuai dengan kehendak yang punya. Mau ini atau mau itu sangat tergantung kepada yang empunya tubuh. Beyonce Knowls, American Singer, song writer and actress,  pernah menyatakan dalam bahasa saya: “saya tidak perduli apa yang dikatakan orang terhadap penggunaan alat kelamin saya”. Jadi, kemaluan hanyalah alat kelamin yang bisa diperlakukan apa saja tergantung pada yang memilikinya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENGGEMBIRAKAN JASMANI DAN ROHANI

MENGGEMBIRAKAN JASMANI DAN ROHANI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sudah sewajarnya jika kita bersyukur ke hadirat Allah, karena banyaknya nikmat yang diberikan kepada kita. Tidak terhitung. Nikmat fisik maupun batin. Nikmat fisik terkait masih dapat kita semua merasakan kenikmatan makanan, minuman, jajanan dan buah-buahan. Sedangkan nikmat batin adalah masih diberinya kesempatan kita semua untuk merasakan indahnya beragama Islam sebagaimana yang kita rasakan hari-hari ini.

Ungkapan ini yang saya sampaikan dalam acara tasyakuran walimatul hamli, anak saya Shiefta Dyah Elyusi,  yang bermukim di Bekasi Jawa Barat bersama suaminya Nasrur Rohman dan anak-anaknya, Sahief, Kiva dan Fathan. Acara ini diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, Jumat, 30/01/2026 pagi yang diikuti oleh anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), dan beberapa peserta para hafidz Alqur’an.

Sebagaimana biasanya, setelah shalat shubuh berjamaah, maka dilakukan acara ngaji Surat Al Kahfi, lalu acara walimatul Hamli, dengan membaca Surat Ar Rahman sampai tuntas, dan beberapa ayat pilihan dari Surat Maryam dan Surat Yusuf. Acara dipimpin oleh Ustadz Alief dan Ustadz Syahwal. Dalam pengantar acara, saya sampaikan tiga hal secara singkat, yaitu:

Pertama, saya merasakan bahwa nikmat Allah kepada saya dan keluarga itu sangat luar biasa. Di antara nikmat itu adalah banyaknya cucu yang hadir di dalam kehidupan saya. Dari tiga anak saya, perempuan semua, Kiki, Eva dan Evi, saya mendapatkan cucu sembilan orang dan akan hadir yang ke sepuluh. Dari yang sembilan orang itu, tiga di antaranya lelaki dan enam perempuan. Jika saya tidak bersyukur, maka nikmat mana lagi yang saya dustakan. Fa biayyi alai rabbikuma tukadzdziban. 

Kita  itu pasti merasa tidak enak kalau tidak bersyukur kepada Allah.  Jika  tidak bersyukur ke hadirat Allah itu rasanya keterlaluan. Bayangkan betapa banyak nikmat Allah yang sudah kita terima lalu kita tidak tergerak untuk mensyukurinya. Orang yang tidak mensyukuri nikmat itu tarmasuk orang kafir. Bukan mengingkari keberadaan Tuhan, akan tetapi mengingkari kenikmatan Tuhan. Dan kita tentu tidak menginginkan kedua-duanya. Bersyukur adalah kelanjutan atas keimanan kita kepada Allah. Jika kita beriman kepada Allah, maka kita harus bersyukur. Mendapatkan iman saja sudah harus bersyukur, sebab banyak orang yang tidak mendapatkan hidayah iman tersebut.

Kita semua ini sudah menjadi orang yang on the track. Sekurang-kurangnya sudah beriman secara full kepada Allah dan mencintai Muhammad SAW secara full juga. Di antaranya adalah selalu melakukan shalat dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan shalat dan shalawat, insyaallah kita akan mendapatkan balasan kebaikan kelak di hari akhir. Setiap hari sudah kita lakukan, hanya perlu konsistensi dengan  sedikit lebih berkualitas dan semakin banyak.

Kedua, kita harus membahagiakan fisik dan roh atau jasmani dan rohani. Menggembirakan jasmaniyah dan ruhaniyah. Banyak orang yang beranggapan bahwa manusia hanya terdiri dari jasmani dan ruhani atau badan dan roh. Padahal ada satu lagi yaitu nafs atau nafsu atau jiwa. Roh itu pancaran Tuhan sebab ditiupkan oleh Allah dalam kandungan  seorang Ibu pada usia 4 bulan 10 hari. Dan semenjak itu, gumpalan darah itu memiliki daya untuk bergerak dan bernafas di dalam kandungan ibu. Janin tersebut sudah hidup. Bahkan jika sudah berusia tujuh  bulan maka seorang ibu merasakan janin itu menendang-nendang. Artinya sudah mengalami kehidupan.

Nafsu atau jiwa itu adalah kehendak yang mendorong manusia untuk melakukan atau tidak melakukan atau menunda atau mempercepat. Ia bisa disebut sebagai hati atau qalbun. Segumpal campuran daging, darah dan saraf yang disebut qalbun. Jika qalbun itu baik,  maka akan baik keseluruhan fisik dan jika rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Yang dimaksud adalah perilaku manusia. “Faidza shaluhat shaluhal jasadu kulluhu, waidza  fasadat fasadal jasadu kulluhu”. Jadi perilaku manusia ditentukan oleh jiwa atau nafsu yang terkandung di dalam diri manusia. Tentu ada kaitan antara otak, hati dan jasad manusia. Hati memerintah otak dan otak memerintahkan seluruh badan kita. Jadi hati adalah kata kunci.

Roh bagi saya netral. Tergantung pada  hati atau jiwa. Jika hatinya dekat kepada roh akan menjadikan jiwa yang tenang atau jiwa yang muthmainnah, dan jika jiwa itu dekat dengan fisik maka akan menjadi jiwa yang bersifat kebinatangan atau nafsu hayawaniyah. Untuk itu kita harus belajar untuk mendekatkan jiwa kita kepada roh dan menjauhi yang bersifat kebinatangan. Jiwa harus dilatih agar dapat mendorong ke arah kebaikan dan bukan sebaliknya.

Ketiga, tugas kita sekarang adalah menggembirakan fisik dan roh atau jasmani dan rohani. melalui keterlibatan jiwa. Fisik harus dibahagiakan dan roh juga harus dibahagiakan. Cara untuk menggembirakan fisik atau jasad adalah dengan memberikan asupan fisik, misalnya makanan, minuman, buah-buahan, sayur-sayuran yang bergizi, baik dan halal. Bergizi artinya makanan itu memenuhi ketercukupan nutrisi, misalnya karbohidrat dan protein yang seimbang. Keseimbangan itu sangat penting agar makanan tidak menjadi beban bagi fisik.

Makanan yang lezat tentu baik, tetapi harus dipertimbangkan halal dan thayibnya atau halal dan manfaatnya. Agar kita sehat,  maka komposisi makanan menjadi penting. Ketercukupan gizi dan keseimbangannya menjadi syarat agar tubuh menjadi sehat. Hati yang sehat terletak pada jasad yang sehat. Begitulah maqalahnya. Ada kebutuhan biologis atau kebutuhan fisik.

Semua kebutuhan yang baik bagi fisik atau biologis itu harus dipenuhi untuk kepentingan kebahagiannya.

Lalu, roh juga memerlukan kebahagiaan atau kegembiraan. Yang perlu bahagia bukan hanya fisik atau jasmani. Tetapi juga roh kita. Untuk membahagiakannya adalah dengan shalat untuk menyatukan hakikat roh yang ada Ka’baitullah bersama Bapak Roh, Nabi Muhammad SAW. Sekurang-kurangnya lima kali sehari kita harus bersama hakikat roh yang berada di Masjidil Haram. Roh di dalam tubuh kita dipertemukan dengan hakikat roh di Makkah al Mukarramah atau tepatnya di rumah Allah, Baitullah.

Cara lainnya adalah dengan membaca shalawat kepada Bapak Roh, Nabi Muhammad SAW. Shalawat adalah instrument untuk bertemu pada Nabi Muhammad SAW. Allah sangat menganjurkan umatnya untuk membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan Allah dan seluruh Malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Maka manusia sebagai hamba Allah dan umat Muhammad SAW pastilah akan membaca shalawat dimaksud.

Instrument lain adalah membaca Alqur’an. Jangan bertanya sedikit atau banyak. Tetapi yang penting membaca Alqur’an. Sebaiknya setiap hari. Alqur’an adalah kitab suci yang menjadi pedoman bagi umat Islam untuk mengamalkannya. Dengan membaca Qur’an dipastikan akan memperoleh pahala sebagaimana dijanjikan oleh Allah SWT.

Kita bersyukur bahwa ketiganya sudah kita lakukan dalam kapasitas yang bisa dilakukan. Kita sudah melakukan shalat, sudah membaca shalawat dan juga membaca Alqur’an. Nyaris di setiap hari kita membaca Alqur’an melalui acara-acara di masjid ini. Mari kita optimis bahwa amalan ini diterima Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

TASYAKURAN DALAM TRADISI JAWA

TASYAKURAN DALAM TRADISI JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu yang masih mengikat di dalam relasi antar tetangga di perkotaan adalah silaturahmi. Dan salah satu fasilitasnya adalah masjid yang menjadi tempat bersama untuk mengekspresikan keyakinan keagamaan. Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga untuk kegiatan social lainnya. Masjid menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan keagamaan dan social sekaligus. Di antara kebutuhan social adalah untuk saling menyapa dan bergembira bersama. Ekspresi relasi social terjadi di rung tempat ibadah.

Kali ini, saya akan mengungkapkan relasi social tetanggaan untuk melakukan tasyakuran bersama di rumah salah seorang anggota Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), Pak Suhardi. Beliau adalah jamaah aktif KNB yang selalu hadir dalam acara pengajian Selasanan maupun tahsinan dan ikatan persaudaraan atau silaturahmi yang terbangun secara kultural. Pak Hardi sedang memiliki hajad untuk menikahkan putra dan acara malam itu, 27/01/2026, adalah ungkapan rasa syukur karena telah berhasil menemukan jodoh bagi anaknya. Angga Saputra dan B. Fitriani. Tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan untuk menjodohkan anak dalam rangka membangun rumah tangga baru. Ekspresi rasa syukur tersebut adalah dengan mengundang anggota KNB, keluarga dan tetangga untuk bersyukur bersama-sama.

Saya mendapatkan tugas untuk memberikan taushiyah atau sekedar ucapan terima kasih atas nama keluarga. Maka, saya sampaikan tiga hal, yaitu:

Pertama, ungkapan rasa Syukur di dalam Islam. Saya mencoba untuk mengedepankan rasa syukur dalam ajaran Islam itu dalam dua hal, yaitu: Syukur dengan sedekah atau tasyakkur bis shadaqah makanan atau saya sebut sebagai tasyakkur bit tha’am atau tasyakuran dengan makanan. Islam sangat mendorong umatnya untuk saling bertolong menolong dengan sedekah makanan. Ath’imuth tha’am. Jadi,  manakah  amalan yang afdhal atau utama, Nabi Muhammad SAW menyatakan: “afsyus salam, atau menyebarkan salam,  shilul arham atau membangun silatur rahim dan kemudian ath’imut tha’am atau memberi makanan”. Jadi memberikan makanan kepada orang lain, apalagi kaum miskin, dan keluarga atau tetangga dekat adalah kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi bersyukur dengan memberikan makanan adalah sunnah Rasulullah SAW. Hanya caranya yang mungkin bisa berbeda. Ada yang diberikan ke rumah satu persatu, ada yang diberikan sambil silaturahmi pada yang empunya hajad dan ada juga yang menggunakan uang atau barang. Mana saja yang dipilih, tetapi intinya adalah sedekah. Bahkan seseorang bisa bersedekah dengan senyuman atau menyenangkan hati orang.

Bisa juga dalam bentuk memberikan peluang untuk beribadah, seperti membaca shalawat. Ada sejumlah orang yang didatangkan ke rumah untuk bersama-sama membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Jika dilakukan bersama-sama, maka yang menarik adalah di saat membaca shalawat sambil berdiri atau mahalul qiyam, kala berdoa “rabbi faghfirli dzunubi ya Allah, bibarkatil Hadi Muhammad Ya Allah”.  “Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku Ya Allah, dengan berkah petunjuk Nabi Muhammad  Ya Allah”. Di antara ampunan itu diperoleh melalui berkahnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Tradisi di perkotaan seperti ini tentu merupakan kelanjutan dari tradisi pedesaan di masa lalu. Maklum bahwa orang-orang yang sekarang menghuni wilayah perkotaan pada dasarnya adalah orang desa yang kemudian menetap di kota dan beranak pinak di wilayah perkotaan. Mereka ini masih menjadikan budaya masa lalu untuk dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupannya. Mereka tidak tercerabut dari akar budaya yang sudah mandarah daging. Jika ada yang tidak melakukannya tentu terpengaruh oleh mereka yang belajar dari budaya dari tempat lain.

Kedua, tradisi di dalam budaya Jawa itu memang sangat variative termasuk tasyakuran yang dilakukan di malam hari ini. Menjelang pernikahan, maka orang Jawa menyelenggarakan upacara selamatan atau tasyakuran. Di masa lalu disebut sebagai selamatan supaya acara yang diselenggarakan berada keadaan selamat, lancar dan sukses. Selamat bagi calon mempelainya, selamat juga bagi keluarganya dan memperoleh berkah dari Allah SWT. Harapan orang Jawa yang tertinggi di dalam kehidupan adalah keselamatan. Lalu karena pengaruh Islam menjadi tasyakuran. Jika keselamatan adalah tujuan finalnya, maka tasyakuran itu instrumennya. Sesungguhnya ungkapan keselamatan itu lebih mendasar dibandingkan dengan kata tasyakuran. Selamat adalah tujuan akhirnya dan tasyakuran adalah tujuan antaranya.

Karena acara ini adalah mengawali acara yang sesungguhnya yaitu acara pernikahan dan kemudian dilanjutkan dengan walimatul arusy, maka saya sampaikan hal yang terkait dengan persiapan mental untuk menjalani pernikahan. Saya mengutip syair lagunya Nayla, yang berbunyi: “kasihi aku karena Allah, sayangi aku karena Allah, cintai aku karena Allah, miliki aku karena Allah”. Betapa indahnya lagu ini.

Orang menikah harus karena Allah. Bukan karena hartanya, kekayaannya, pekerjaannya, keluarganya, dan jabatannya dan sebagainya tetapi harus karena Allah SWT. Jika kita mencintai bukan karena Allah, maka semuanya bisa hilang. Karena factor usia, maka kecantikan, kegantengan dan kekuatan akan hilang. Harta, jabatan, kekuasaan dan kepemilikan akan hilang. Tetapi cinta karena Allah akan terus berlangsung sepanjang hidup.

Ketiga, kita hadir untuk memberikan ucapan selamat kepada keluarga Pak Hardi. Kita semua berdoa semoga keluarga yang akan dibangun akan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa Rahmah. Jadi bukan mawaddah sendiri, rahmah sendiri dan sakinah sendiri, akan tetapi semuanya. Satu kesatuan. Yang diharapkan akan menjadi keluarga yang tenang, penuh cinta dan kasih sayang sampai tua. Sampai akhir hayat. Bismillah.

Petuah seperti ini tidak hanya bagi yang muda yang akan menikah, akan tetapi juga bagi yang sudah lama menikah. Kita semua berharap baik yang muda maupun yang tua mendapatkan berkah atas peristiwa yang kita lakukan malam ini.

Wallahu a’lam bi al shawab.

DERAJAD ORANG BERIMAN DAN BELAJAR

DERAJAD ORANG BERIMAN DAN BELAJAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya beruntung bisa bergaul dengan Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) yang selalu bertemu nyaris setiap hari dalam acara tahsinan Alqur’an maupun Ngaji Bahagia. Acara tahsinan diselenggarakan setiap hari kecuali Sabtu dan Ahad, sementara hari Selasa untuk Ngaji Bahagia. Di antara keistimewaan Komunitas Ngaji Bahagia adalah kegiatan yang selalu diselingi dengan tertawa renyah dan bersifat dialogis. Penceramah hanyalah pengantar materi saja, sedangkan pembahasan dapat dilakukan bersama-sama.

Selasa, 27/01/2026 dilakukan Ngaji Bahagia yang diikuti oleh jamaah Masjid Lotus dan Raudhoh, yang secara tetap mereka hadir dalam acara Ngaji Bahagia. Materinya tidak diurutkan secara sistematis, tetapi sangat kondisional dan tergantung pada apa yang menarik untuk dibicarakan. Ketepatan hari Selasa membahas tentang derajad bagi orang yang beriman kepada Allah dan selalu mencari ilmu. Di dalam pembahasan ini, saya bicarakan tiga hal, yaitu:

Pertama, derajad orang beriman. Allah di dalam Alqur’an menjelaskan bahwa Allah akan meninggikan derajad orang yang beriman. “Yarfa’il lahul ladzina amanu minkum wal ladzina utul ‘ilma darajad.” Yang arti secara harfiyahnya bahwa: “Allah mengangkat derajat orang yang beriman dari kamu semua dan orang yang mencari ilmu pengetahuan”. Jadi ada dua golongan orang yang akan ditinggikan atau diangkat derajadnya oleh Allah, yaitu orang yang beriman dan orang yang mencari ilmu. Artinya, bahwa bagi orang yang mencari ilmu dan beriman kepada Allah maka akan diganjar dengan ketinggian derajadnya di sisi Allah SWT.

Tetapi kata kuncinya adalah beriman kepada Allah. Ada orang yang terus menerus belajar akan tetapi tidak mendapatkan derajad yang tinggi di sisi Allah sebab orang tersebut tidak beriman kepada Allah. Yang bersangkutan tidak menyatakan “la Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah”. Di dalam keyakinannya tidak mengesakan Allah dan tidak bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika seseorang ingin mendapatkan pengakuan derajad di sisi Allah,  maka harus beriman terlebih dahulu.

Di dunia ini banyak sekali orang yang terus menerus mencari ilmu, akan tetapi tidak mendapatkan derajad tinggi di sisi Allah karena misalnya mereka adalah orang atheis, atau orang yang tidak percaya kepada Allah. Iman di dalam konteks ayat ini adalah iman kepada Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Yang selain ini, maka bisa disebut sebagai orang yang tidak mendapatkan pengakuan memiliki derajad tinggi di sisi Allah SWT.

Tentu tidak sekedar percaya. Misalnya dengan menyatakan: “saya beriman kepada Allah, dan saya juga bersaksi Muhammad Rasulullah”, akan tetapi tidak melanjutkan keyakinannya tersebut dengan menjalankan perintah Allah SWT. Di dalam Alqur’an dinyatakan: “amantu billahi tsumastaqim”. Makna dari tsumas taqim itu tidak hanya terus menerus atau secara continue meyakini keberadaan Allah,  tetapi juga menjalankan ajaran-ajaran agama Islam sebagaimana diwahyukan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.

Kita bisa menyaksikan secara empiris, betapa banyaknya orang yang mengaku sebagai umat Islam,  akan tetapi tidak konsisten menjalankan ajaran agamanya. Mereka memang pernah bersyahadat tentang “keesaan Allah dan kenabian Muhammad SAW”, akan tetapi ternyata tidak konsisten di dalam menjalankan ajaran agamanya. Yang seperti ini sesuai dengan bunyi dan makna teks di atas tentu tidak termasuk yang  memperoleh derajad tinggi dimaksud.

kedua, Selain itu juga orang yang mencari ilmu pengetahuan. Jangan dipersepsikan bahwa mencari ilmu itu harus dalam bentuk persekolahan secara formal, misalnya menempuh pendidikan di perguruan tinggi atau sederajad. Akan tetapi mencari ilmu itu adalah belajar di mana saja dan dalam bentuk apa saja. Long life education. Pendidikan sepanjang masa, baik pendidikan formal, non formal atau informal. Orang yang sudah dewasa seperti kita tentu yang dimaksud belajar adalah belajar dalam konteks informal. Misalnya mengikuti pembelajaran melalui pengajian, majelis ta’lim, belajar melalui kelompok belajar Alqur’an, bahkan juga acara tahsinan. Semua itu disebut sebagai mencari ilmu.

Apalagi tahsinan yang kita lakukan adalah pembelajaran informal yang sangat penting. Tidak hanya memperbaiki bacaan tentang ayat-ayat Alqur’an, akan tetapi juga memahami arti kata perkata dan kemudian penjelasan umum tentang ayat dimaksud. Yang kita pelajari bukanlah pembelajaran Alqur’an yang sangat ketat, dari perspektif ilmu tafsir, akan tetapi membaca teks ayat dengan situasi social yang kita hadapi. Sungguh dapat menjadi pencerahan atas ajaran agama dalam relevansinya dengan realitas social yang utuh.

Islam menyatakan belajar ilmu itu dari ayunan hingga liang lahat. Dari kandungan sampai di kuburan. Di kandungan kita diperdengarkan lantunan ayat Alqur’an, ketika lahir diperdengarkan adzan dan iqamah, dan ketika dikuburkan di pemakaman juga dibacakan talqin tentang pertanyaan-pertanyaan oleh Malaikat. Meskipun diperdebatkan tentang kesahihannya, akan tetapi tetap ada makna positifnya, jika tidak untuk yang wafat tentu bagi yang masih hidup yang mengantarkan jenazah.

Ketiga, kita semua ini bersyukur karena insyaallah bisa merengkuh keduanya. Kita terus beriman kepada Allah dan menjalankan amalan-amalan kebaikan yang diperintahkannya dan kemudian juga terus mencari ilmu dengan belajar agama. Dengan dua kenyataan ini maka pastaslah jika kit akita semua optimis, bahwa kita adalah orang yang mendapatkan derajat tinggi di dalam pandangan Allah SWT.

Kita selalu berdoa kepada Allah semoga kita akan dapat menjalankan amanat kehidupan ini dengan beriman kepada Allah dan menyaksikan Muhammad sebagai rasulullah dan terus diberikan kekuatan untuk menjalankan amanat kehidupan dengan kekuatan penuh untuk beribadah. Ada banyak orang yang kemudian bisa berpindah keyakinan atau konversi, karena hidayah Allah dicabut dari dirinya. Insyaallah dengan doa yang konsisten kita akan tetap berada di dalam jalan yang benar. On the right place.

Wallahu a’lam bi al shawab.