• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

DERAJAD ORANG BERIMAN DAN BELAJAR

DERAJAD ORANG BERIMAN DAN BELAJAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya beruntung bisa bergaul dengan Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) yang selalu bertemu nyaris setiap hari dalam acara tahsinan Alqur’an maupun Ngaji Bahagia. Acara tahsinan diselenggarakan setiap hari kecuali Sabtu dan Ahad, sementara hari Selasa untuk Ngaji Bahagia. Di antara keistimewaan Komunitas Ngaji Bahagia adalah kegiatan yang selalu diselingi dengan tertawa renyah dan bersifat dialogis. Penceramah hanyalah pengantar materi saja, sedangkan pembahasan dapat dilakukan bersama-sama.

Selasa, 27/01/2026 dilakukan Ngaji Bahagia yang diikuti oleh jamaah Masjid Lotus dan Raudhoh, yang secara tetap mereka hadir dalam acara Ngaji Bahagia. Materinya tidak diurutkan secara sistematis, tetapi sangat kondisional dan tergantung pada apa yang menarik untuk dibicarakan. Ketepatan hari Selasa membahas tentang derajad bagi orang yang beriman kepada Allah dan selalu mencari ilmu. Di dalam pembahasan ini, saya bicarakan tiga hal, yaitu:

Pertama, derajad orang beriman. Allah di dalam Alqur’an menjelaskan bahwa Allah akan meninggikan derajad orang yang beriman. “Yarfa’il lahul ladzina amanu minkum wal ladzina utul ‘ilma darajad.” Yang arti secara harfiyahnya bahwa: “Allah mengangkat derajat orang yang beriman dari kamu semua dan orang yang mencari ilmu pengetahuan”. Jadi ada dua golongan orang yang akan ditinggikan atau diangkat derajadnya oleh Allah, yaitu orang yang beriman dan orang yang mencari ilmu. Artinya, bahwa bagi orang yang mencari ilmu dan beriman kepada Allah maka akan diganjar dengan ketinggian derajadnya di sisi Allah SWT.

Tetapi kata kuncinya adalah beriman kepada Allah. Ada orang yang terus menerus belajar akan tetapi tidak mendapatkan derajad yang tinggi di sisi Allah sebab orang tersebut tidak beriman kepada Allah. Yang bersangkutan tidak menyatakan “la Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah”. Di dalam keyakinannya tidak mengesakan Allah dan tidak bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika seseorang ingin mendapatkan pengakuan derajad di sisi Allah,  maka harus beriman terlebih dahulu.

Di dunia ini banyak sekali orang yang terus menerus mencari ilmu, akan tetapi tidak mendapatkan derajad tinggi di sisi Allah karena misalnya mereka adalah orang atheis, atau orang yang tidak percaya kepada Allah. Iman di dalam konteks ayat ini adalah iman kepada Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Yang selain ini, maka bisa disebut sebagai orang yang tidak mendapatkan pengakuan memiliki derajad tinggi di sisi Allah SWT.

Tentu tidak sekedar percaya. Misalnya dengan menyatakan: “saya beriman kepada Allah, dan saya juga bersaksi Muhammad Rasulullah”, akan tetapi tidak melanjutkan keyakinannya tersebut dengan menjalankan perintah Allah SWT. Di dalam Alqur’an dinyatakan: “amantu billahi tsumastaqim”. Makna dari tsumas taqim itu tidak hanya terus menerus atau secara continue meyakini keberadaan Allah,  tetapi juga menjalankan ajaran-ajaran agama Islam sebagaimana diwahyukan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.

Kita bisa menyaksikan secara empiris, betapa banyaknya orang yang mengaku sebagai umat Islam,  akan tetapi tidak konsisten menjalankan ajaran agamanya. Mereka memang pernah bersyahadat tentang “keesaan Allah dan kenabian Muhammad SAW”, akan tetapi ternyata tidak konsisten di dalam menjalankan ajaran agamanya. Yang seperti ini sesuai dengan bunyi dan makna teks di atas tentu tidak termasuk yang  memperoleh derajad tinggi dimaksud.

kedua, Selain itu juga orang yang mencari ilmu pengetahuan. Jangan dipersepsikan bahwa mencari ilmu itu harus dalam bentuk persekolahan secara formal, misalnya menempuh pendidikan di perguruan tinggi atau sederajad. Akan tetapi mencari ilmu itu adalah belajar di mana saja dan dalam bentuk apa saja. Long life education. Pendidikan sepanjang masa, baik pendidikan formal, non formal atau informal. Orang yang sudah dewasa seperti kita tentu yang dimaksud belajar adalah belajar dalam konteks informal. Misalnya mengikuti pembelajaran melalui pengajian, majelis ta’lim, belajar melalui kelompok belajar Alqur’an, bahkan juga acara tahsinan. Semua itu disebut sebagai mencari ilmu.

Apalagi tahsinan yang kita lakukan adalah pembelajaran informal yang sangat penting. Tidak hanya memperbaiki bacaan tentang ayat-ayat Alqur’an, akan tetapi juga memahami arti kata perkata dan kemudian penjelasan umum tentang ayat dimaksud. Yang kita pelajari bukanlah pembelajaran Alqur’an yang sangat ketat, dari perspektif ilmu tafsir, akan tetapi membaca teks ayat dengan situasi social yang kita hadapi. Sungguh dapat menjadi pencerahan atas ajaran agama dalam relevansinya dengan realitas social yang utuh.

Islam menyatakan belajar ilmu itu dari ayunan hingga liang lahat. Dari kandungan sampai di kuburan. Di kandungan kita diperdengarkan lantunan ayat Alqur’an, ketika lahir diperdengarkan adzan dan iqamah, dan ketika dikuburkan di pemakaman juga dibacakan talqin tentang pertanyaan-pertanyaan oleh Malaikat. Meskipun diperdebatkan tentang kesahihannya, akan tetapi tetap ada makna positifnya, jika tidak untuk yang wafat tentu bagi yang masih hidup yang mengantarkan jenazah.

Ketiga, kita semua ini bersyukur karena insyaallah bisa merengkuh keduanya. Kita terus beriman kepada Allah dan menjalankan amalan-amalan kebaikan yang diperintahkannya dan kemudian juga terus mencari ilmu dengan belajar agama. Dengan dua kenyataan ini maka pastaslah jika kit akita semua optimis, bahwa kita adalah orang yang mendapatkan derajat tinggi di dalam pandangan Allah SWT.

Kita selalu berdoa kepada Allah semoga kita akan dapat menjalankan amanat kehidupan ini dengan beriman kepada Allah dan menyaksikan Muhammad sebagai rasulullah dan terus diberikan kekuatan untuk menjalankan amanat kehidupan dengan kekuatan penuh untuk beribadah. Ada banyak orang yang kemudian bisa berpindah keyakinan atau konversi, karena hidayah Allah dicabut dari dirinya. Insyaallah dengan doa yang konsisten kita akan tetap berada di dalam jalan yang benar. On the right place.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

PELAJARAN DARI SURAT AL QAMAR

PELAJARAN DARI SURAT AL QAMAR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Senin, 19/01/2026, jamaah Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) mengakhiri tahsinan Surat Al Qamar, yang sudah beberapa lama dipelajari bersama Ustadz Alief Rifqi, yang selama ini membersamai jamaah Komunitas Ngaji Bahagia untuk melakukan pembenahan dalam mengaji Al Qur’an. Jamaah tahsinan ini memang tidak banyak pesertanya, orang-orang khusus, yang memiliki keinginan sedemikian kuat untuk membenahi bacaan Qur’an-nya.

Sebagaimana biasa, kita membaca empat ayat dan diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, ayat demi ayat. Dan setelah itu saya diminta untuk memberikan penjelasan tentang arti secara keseluruhan dari konteks ayat tersebut. Alhamdulillah selama saya tidak pergi keluar kota, maka saya sempatkan untuk hadir bersama jamaah Komunitas Ngaji Alqur’an tersebut.

Pagi tersebut saya menjelaskan tentang makna dan pesan penting di dalam Surat Alqamar. Ada empat hal yang saya jelaskan kepada jamaah Ngaji Bahagia, yaitu: pertama,  ayat ini memberikan pelajaran kepada Masyarakat,  pada umat manusia,  agar belajar dari masa lalu, di mana Allah memberikan adzab atas umat yang tidak mempercayai apa yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang kafir dan musyrik sekaligus,  sebab mereka tidak percaya dengan ajakan para Nabi dan Rasul untuk membenarkan dan melakukan apa yang diinginkan oleh Allah melalui para Nabi dan Rasul, dan mereka kaum musyrik sebab menyekutukan Tuhan dengan benda-benda yang berupa patung-patung yang dibuatnya sendiri dan kemudian disembahnya. Umat Nabi Nuh diadzab dengan banjir bandang yang menerjang seluruh permukaan bumi. Umat Nabi Hud dengan angin topan yang membuat mereka hancur berkeping-keping. Umat Nabi luth yang terkena adzab suara gemuruh yang membuat mereka mati, suara keras yang mengguntur. Suara itu merupakan suara yang sangat memekakkan telinga dan dapat merusak atas kulit dan membakar daging dan tulang-tulang manusia. Dan Fir’aun dan keluarga Fir’aun yang juga mati di telah Samudra di kala mengejar Nabi Musa.

Kedua, Pelajaran tentang pahala dan siksa. Di dalam ayat-ayat pada Surat Alqamar diceritakan tentang balasan bagi orang yang berbuat baik dan siksa bagi orang yang melanggarnya. Mereka yang mempercayai adanya Allah sebagai Dzat yang menciptakan alam semesta dan memeliharanya, dan kemudian melakukan amalan kebaikan sebagaimana pesan agama yang dibawa oleh Para Rasul, maka mereka akan dibalas dengan surganya Allah yang penuh dengan keindahan. Ada air mengalir di bawahnya, ada berbagai kelezatan yang tidak dijumpai di dunia dan segala kebaikan dan kenikmatan yang dirasakannya. Sementara itu, orang yang mengingkarinya maka akan dibalas dengan neraka yang sangat panas, sehingga hancur tulang belulangnya dan kemudian dihidupkan lagi dan terus disiksa seperti itu. Semua menggambarkan akan reward dan punishment bagi manusia berdasarkan atas prilakunya di dunia.

Ketiga, Alqur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW memberikan kemudahan bagi manusia untuk mempercayai kebenarannya dan menjadi pedoman dalam prilakunya. Alqur’an berisi tandzir atau peringatan dan tabsyir atau kegembiraan. Keduanya sudah dijelaskan secara mendalam dan sangat tegas. Maka seharusnya manusia mempercayainya. Hanya sayangnya semenjak semula memang ada orang yang percaya dan ada yang tidak percaya. Ada yang bertipe seperti Abu Jahal dan Abu Lahab yang selalu menentang akan kebenaran Nabi Muhammad SAW dan ada yang bertipe seperti Sayyidina Abu Bakar, Siti Khadijah, Sayyidina Ali yang selalu mempercayai akan kebenaran seruan Nabi Muhammad SAW. Semula ada sebanyak 40 orang yang kemudian disebut sebagai assabiqunal awwalun. Para pemula yang mempercayai kebenaran ajaran Nabi Muhammad SAW.

Keempat, Gambaran tentang orang yang percaya dan melakukan amal kebaikan dan orang yang tidak percaya dan tidak melakukan kebaikan hingga hari ini masih bisa dilihat. Ada orang yang menjalani tipe kehidupan sebagaimana  Abu Jahal dan Abu Lahab dan ada orang yang bertipe seperti Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali. Gambaran di dalam Alqur’an memberikan penjelasan bahwa manusia selalu terbagi ke dalam dua golongan besar, yang di dalam Alqur’an disebut sebagai asyhabul yamin dan asyhabul syimal. Mereka yang tergolong asyhabul yamin adalah orang yang kelak akan bahagia, dan orang yang tergolong ke dalam asyhabul syimal kelak akan celaka.

Kita semua beruntung, meskipun tidak mampu untuk melakukan amalan Islam secara kaffah sebagaimana para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin yang disebut salafus shaleh, akan tetapi kita sudah melakukan ajaran Islam dengan benar. Kita meyakini akan kebenaran keberadaan Allah dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT melalui Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Kita sudah menjadi umat Islam yang “amantu billahi tsummas taqim”, atau menjadi orang Islam yang percaya kepada Allah dan menjalani kehidupan dengan kepercayaan tersebut dan mengamalkan ajaran Iman dan Islam dalam kapasitas yang bisa dilakukan.

Mari kita semua optimis atau husnudh dhan, bahwa kita adalah hamba Allah yang kelak akan mendapatkan rahman dan rahimnya Allah SWT. Insyaallah kita akan selamat fid dini, wad dunya wal akhirah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJEMPUT TAKDIR

MENJEMPUT TAKDIR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam acara tahsinan, 14/01/2026, sampailah para peserta tahsinan pada Surat Alqamar, ayat 49, yang berbunyi: “inna kulla syaiin khalaqnahu biqadarin”, yang artinya: “sungguh, kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. Dan sebagaimana biasanya, setelah dibacakan artinya oleh Ustadz Alief, maka saya diminta untuk memberikan tambahan penjelasan. Saya  jelaskan beberapa hal, yaitu:

Saya tentu saja tertarik untuk membahas tentang takdir sebagaimana  rukun iman yang sudah kita yakini kebenarannya. Tanpa meyakini tentang takdir atau ketentuan Tuhan, maka iman kita tidak ada artinya. Iman itu sistemik, sehingga tidak boleh hanya percaya satu saja dan mengabaikan lainnya. Sebagaimana Malaikat Jibril mengajarkan tentang Iman, Islam dan Ihsan, maka ketiganya harus diimani dan dilaksanakan sebagai umat Islam yang sempurna.

Takdir dapat diterjemahkan secara leterlek sebagai ketentuan atau kepastian Tuhan. Artinya ada segala sesuatu di alam tata surya kita yang memiliki kepastian atau ketentuan. Peredaran bumi mengitari matahari, atau bulan mengitari bumi dan segala perjalanan  bintang gemintang di langit atau tata surya, maka semuanya ada takdirnya atau kepastiannya. Semua beredar sesuai dengan garis edarnya.

Di dalam ayat lain dinyatakan bahwa “segala sesuatu yang terjadi ada catatannya. “kullay yushibana illa ma kataballahu lana”. Yang artinya: “setiap kali ada kejadian musibah kepada  kita tidak ada lain kecuali dipastikan ada catatannya”. Catatan tersebut yang dimaksud sebagai kepastian atau ketentuan yang disebut sebagai takdir Tuhan. Manusia sudah ditentukan bahagia atau sengsaranya, sudah ditakdirkan usianya atau kelahiran atau kematiannya, sudah ditakdirkan jodohnya dan sudah pula ditentukan rezekinya.

Lalu bagaimana pandangan para ahli tentang takdir itu? Marilah sejenak kita bahas dengan ringkas tentang pandangan kaum Jabariyah atau kaum determinisme atau serba takdir bahwa takdir sudah ditentukan dan manusia tinggal melakukannya. Manusia itu seperti wayang yang tidak mampu melakukan apapun kecuali dalang yang memainkannya. Begitulah manusia itu. Baik dan buruk atau kaya dan miskin itu sudah ada cadangannya. Jadi kalau ada orang kaya tentu karena memang ditakdirkan kaya dan kalau ada orang miskin tentu sudah ada cadangannya. Manusia tidak mampu menolak takdirnya. Jika takdirnya kaya maka ada saja jalan untuk kaya dan jika ditakdirkan miskin maka ada saja jalan untuk menjadi miskin. Semuanya sudah ada kepastiannya.

Lalu, ada yang berpendapat sebaliknya yang menyatakan bahwa takdir itu kepastian yang tidak mengikat. Yang ada kepastiannya itu usia manusia, atau menjadi lelaki atau Perempuan itu takdir atau kepastian. Akan tetapi terkait dengan hal lain, maka manusialah yang menentukan takdirnya sendiri. Inilah yang disebut sebagai kaum qadariyah atau serba usaha. Manusia memang diberi kekuatan akal. Takdir bukanlah kemutlakan. Takdir itu sesuatu yang tergantung pada peran manusia. Kala hidup di dunia, maka manusia harus mengikuti hukum dunia, misalnya untuk makan yang bersangkutan harus berusaha untuk mencari makan. Tidak boleh menyatakan manusia pasti mendapatkan makan dan manusia tidak tahu caranya untuk mendapatkan makan. Untuk mendapatkan surga maka manusia harus melakukan kebaikan dan yang tidak melakukan kebaikan dipastikan akan dapat masuk beraka. Meskipun tidak diajarkan oleh Nabi atau Rasul, manusia bisa memilih dan memilah mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang jelek. Masyarakat memiliki hukumnya sendiri tentang kebaikan dan keburukan. Pandangan kaum qadariyah tersebut melebih-lebihkan takdir dibandingkan dengan kepastian atau takdirnya. Manusia dapat menentukan takdirnya sendiri. Tuhan tidak terlibat di dalam persoalan takdir.

Kemudian terdapat kaum ahli sunnah wal jamaah dalam aspek tauhid, yaitu kaum yang menyeimbangkan antara takdir dan ikhtiar. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Takdir memang sudah dibuat akan tetapi ada peran manusia di dalam menjalankan takdir tersebut. Tidak serta merta.  Dikenal ada takdir yang bersifat mubram atau kepastian yang tidak akan berubah selamanya, dan ada takdir yang bersifat muallaq atau melalui usaha yang diberikan  kepada manusia. Bahkan orang yang sebenarnya ditakdirkan untuk masuk neraka, akan tetapi karena yang bersangkutan berupaya untuk melakukan kebaikan di dalam kehidupan di dunia, maka Allah memberikan peluang untuk masuk surga. Orang yang ditakdirkan untuk bodoh, bisa berubah menjadi pintar karena Upaya yang dilakukannya. Ibnu Hajar Al Askolani, adalah seorang murid yang tidak cemerlang otaknya atau pembelajar lambat, akan tetapi karena upayanya untuk bekerja keras dalam belajar, maka akhirnya menjadi pembelajar yang unggul. Namanya Ibnu Hajar atau Anak Batu itu merupakan sebutan karena lambatnya di dalam menyerap pembelajaran. Akan tetapi seperti batu, meskipun keras akan tetapi dengan tetesan air terus menerus, akhirnya batu itu bisa lobang. Ada orang ingin membelah batu dan sudah memukulnya 100 kali ternyata batu itu tidak terbelah, lalu datang orang lain yang hanya memukul dengan 10 kali pukulan kemudian batu terbelah. Secara kepastian atau takdirnya bahwa batu itu memang akan terbelah dalam 110 kali pukulan.

Menyeimbangkan antara ikhtiar, doa dan tawakkal atau usaha, doa dan pasrah adalah bagian dari cara berpikir teologis tentang takdir. Ada orang yang sakit lalu dibiarkan saja, tentu  lama-kelamaan akan mati, akan tetapi ada orang yang sakit kemudian diupayakan untuk berobat, lalu didoakan dan pasrah kepada Allah, maka yang bersangkutan atau orang yang sakit tersebut akan memiliki dua peluang mati atau sehat. Jika mati maka itulah takdirnya dan jika sehat itu adalah takdirnya. Jadi harus ada usaha dulu, dan baru menyatakan itulah takdirnya. Bukan menyatakan kalau takdirnya masih hidup tentu akan hidup atau  obati saja pasti akan sehat.

Makanya, ungkapan “menjemput takdir” adalah ungkapan yang khas yang menyeimbangkan antara ketentuan Tuhan dan usaha manusia. Takdir sudah ditentukan, akan tetapi manusia diberikan kekuatan atau potensi untuk berusaha. Jika ingin pintar maka harus belajar, jika ingin kaya maka harus berusaha untuk menjadi kaya, dan jika ingin sehat maka harus berusaha untuk sehat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

TAAWUN DALAM KEKUASAAN, ILMU DAN HARTA (BAGIAN DUA)

TAAWUN DALAM KEKUASAAN, ILMU DAN HARTA (BAGIAN DUA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Lama saya tidak memberikan pencerahan di dalam kegiatan Ngaji Selasanan, kira-kira tiga pekan, sebab harus wira-wiri Surabaya-Jakarta, yang ketepatan harinya Senin sampai Selasa atau Selasa dan Rabo. Tetapi pada Selasa, 13/01/26, saya menyempatkan diri untuk terlibat di dalam pengajian Selasanan di Masjid Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Di sini di Ngaji Bahagia ini,  sesungguhnya kita dapat tersenyum bahkan tertawa lepas karena joke-joke yang terdapat di dalamnya.

Sebagaimana biasa maka ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam Ngaji Bahagia ini, yaitu: pertama,  taawun dalam kekuasaan. Konsep taawun mengacu kepada pernyataan di dalam Alqur’an tentang saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa dan bukan tolong menolong di dalam keburukan dan dosa. Islam memang sangat konseren dengan Upaya untuk saling menolong tersebut. Menolong tidak hanya untuk urusan duniawi tetapi juga untuk urusan ukhrawi. Disadari bahwa manusia di dalam ajaran Islam tidak hanya akan hidup di dunia yang fana, akan tetapi akan hidup kelak di akherat. Semua umat Islam meyakini akan hal ini. Iman kepada Allah, hari akhir dan kehidupan sesudah mati. Keyakinan akan kegaiban adalah bagian dari inti ajaran Islam.

Kekuasaan kapan dan di mana saja akan menghasilkan kebijakan. Disebut sebagai kebijakan public. Yaitu kebijakan yang dirumuskan oleh penguasa untuk menyejahterakan umatnya. Di sinilah sesungguhnya kekuatan Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa negara bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menyejahterakan Masyarakat, melindungi warga negara dan menjaga ketertiban umum. Alangkah indahnya ungkapan ini. Isi Pembukaan UUD 1945 ini selaras dengan ajaran agama yang menekankan bahwa negara harus bertujuan untuk menjaga warganya dalam lima atau enam hal, yaitu menjaga agama, menjaga keturunan, menjaga harta, menjaga jiwa, menjaga akal dan menjaga lingkungan. Enam hal ini menjadi tugas negara untuk mewujudkannya. Inilah yang disebut sebagai maqashidusy syariah atau tujuan utama syariah atau  tujuan relasi manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam.

Saya ingin mengambil contoh yang saya kira menjadi kebijakan public misalnya tentang pendidikan. Di dalam memperluas akses pendidikan, maka diperlukan pemihakan pemerintah kepada kelompok miskin. Caranya dengan memberikan Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang kemudian menjadi Kartu Indonesia Pintar dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kebijakan ini memungkinkan Lembaga Pendidikan yang selama ini tertatih-tatih dalam pendanaan operasional lembaganya menjadi hidup kembali. Kebijakan ini diambil semasa Presiden SBY dan dilanjutkan oleh Presiden Jokowi dan juga Presiden Prabowo. Sekarang terdapat kebijakan mengenai Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG), Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda, yang menjadi percontohan tentang pendidikan berkualitas. Tentu masih banyak minusnya, akan tetapi substansi kebijakan ini adalah untuk memperluas akses pendidikan, sehingga tidak ada anak yang usia sekolah lalu tidak sekolah.

Setiap kekuasaan seharusnya berdampak positif untuk rakyat. Setiap segmen masyarakat dipastikan terdapat kekuasaan. Dan setiap level kekuasaan juga harus memberikan dampak bagi kehidupan masyarakatnya. Benarlah sabda Nabi Muhammad SAW: “kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyatihi”. “Setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya atas kepemimpinannya”. Jadi kepemimpinan haruslah berdampak atas apa yang dipimpinnya.

Kedua,  taawun bil ilmi atau menolong berbasis ilmu pengetahuan. Oleh Allah dinyatakan bahwa ilmu harus digunakan untuk kebaikan. Allah akan menaikkan derajad pada orang yang berilmu. Semakin tinggi ilmu dimiliki, maka semakin besar tuntutan Ilmu tersebut dimanfaatkan untuk orang lain. Orang yang menyembunyikan ilmu itu tidak disukai oleh Allah. Bahkan dipersulit jalannya untuk menempuh ke surga. Itulah sebabnya orang yang berilmu harus mengembangkannya untuk kepentingan orang lain. Ilmu harus diwakafkan untuk orang lain. Bukan ilmu untuk ilmu tetapi ilmu untuk kebaikan orang lain. Ilmu harus berdampak pada kebaikan orang lain.

Setiap orang memiliki ilmu meskipun ilmunya hanya satu ayat. Tetapi ilmu yang hanya satu ayat tersebut harus diamalkan. Satu ayat itu tidak berarti menguasai satu ayat Alqur’an tetapi ayat itu bisa dimaknai satu tanda kebaikan. Pengalaman tentang kebaikan itulah yang harus disampaikan kepada orang lain. Agar dapat menjadi contoh yang kemudian bisa diamalkannya. Orang yang memiliki pengalaman melakukan wirid, dan kemudian memberikan pengalaman spiritual atau pengalaman beragama tentu akan berguna bagi orang lain. Jika itu dilakukannya maka akan menjadi pedoman bagi orang lain untuk mengamalkannya.

Ketiga, taawun bil mal atau saling menolong dalam harta. Islam mengajarkan agar bagi orang kaya untuk mengeluarkan sebagian kecil hartanya untuk orang lain. Bentuknya bisa zakat, infaq dan sedekah atau wakaf. Jika umat Islam bisa memaksimalkan keempatnya, maka peluang untuk memberdayakan umat Islam tentu sangat besar.

Indonesia itu nyaris setiap tahun menjadi negara terbaik dalam World Giving Index (WGI). Sudah enam atau tujuh tahun berturut-turut menjadi negara nomor  satu di dunia dengan donasi terbaik. Kita sadari bahwa menjadi yang terbaik dalam pilantropi bukan tanpa dasar. Islam memiliki zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Umat Kristen dan Katolik punya dana kolekte, Masyarakat Hindu memiliki dana punia dan Masyarakat Buddha memiliki dana paramita. Semua itu menjadi dasar dalam melakukan pilantropi.

Hanya sayangnya bahwa potensi zakat yang sangat besar di atas Rp300 triliun belum optimal untuk dilakukan. Masih sangat sedikit yang bisa digayagunakan. Andaikan dana tersebut dapat dioptimalkan tentu bisa menjadi lokomotif pengembangan masyarakat. Di masa depan, diperlukan upaya yang lebih kuat untuk merealisasikannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

TAAWUN (BAGIAN SATU)

TAAWUN (BAGIAN SATU)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ngaji Bahagia itulah yang menjadi motto dari Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), yang diselenggerakan oleh Jamaah Masjid A Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Pada Selasa, saya mendapatkan kesempatan untuk mengantarkan ceramah interaktif pada jamaah shalat Shubuh. Sebuah kebahagiaan bisa berbagi pengetahuan keislaman yang saya kira tetap menjadi kebutuhan bersama pada KNB Masjid Al Ihsan.

Ta’awun  itu artinya saling menolong. Di dalam teks dijelaskan tentang ayat yang berbunyi: “ta’awanu ‘alal birri wat taqwa wala ta’wanu alal itsmi wal udhwan”. Yang artinya: “saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam kejelekan dan dosa”. Mari kita perhatikan bahwa yang diwahyukan oleh Allah SWT adalah kata birr dan bukan khoir. Kata birr merujuk pada ungkapan kebaikan yang tidak hanya kebaikan di dunia tetapi kebaikan di akhirat. Artinya bahwa yang dilakukan adalah kebaikan yang memiliki basis religiositas. Bukan hanya kepentingan duniawi semata. Tetapi keuntungan ukhrawi. Jadi khoir itu kebaikan tetapi lebih bernuansa duniawi. Tetap ukurannya adalah kebaikan.

Di dalam Islam kata birr, misalnya digunakan untuk birrul walidain atau berbuat baik kepada kedua orang tua berbasis pada kepentingan duniawi dan ukhrawi. Berbuat baik pada orang tua tidak hanya kepentingan dunia yang baik, tetapi juga berbuat baik untuk kepentingan akhirat. Misalnya kala kedua orang tua sudah meninggal atau dalam keadaan masih hidup, maka hendaknya dibacakan surat Alfatihah, atau doa atau bacaan subhanallahil adzim wa bihamdihi. Bacaan-bacaan wirid, doa atau bacaan Alqur’an harus diyakini akan diterima oleh Allah dan pahalanya akan diberikan kepada orang tua. Yakin seperti itu.

Ada tiga hal terkait dengan konsep ta’awun, yaitu: pertama,  bertolong menolong dalam ilmu atau ta’awun fil ‘ilmi. Salah satu di antara ciri  khas yang mendasari mengenai tolong menolong dalam kebaikan adalah saling menolong dalam ilmu pengetahuan. Kita diminta oleh Allah tidak pelit dalam ilmu. Ilmu yang kita miliki agar bisa disebarkan, bahkan ada sebuah hadits yang menyatakan yang artinya: “barang siapa yang memudahkan jalan menuju ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan menuju ke surga”. Jadi ilmu tidak boleh disimpan dan dimiliki sendiri tetapi ilmu itu harus disampaikan agar menjadi pahala. Semua di antara kita memiliki ilmu. Tidak hanya ilmu yang qauliyah, akan tetapi juga yang kauniyah. Bagi seorang da’i, guru atau dosen tentu lebih mudah untuk menolong dalam ilmu, akan tetapi bahwa ada imu yang basisnya adalah ayat-ayat kauniyah, termasuk prilaku manusia yang baik yang bisa menjadi teladan di dalam kehidupan. Orang dapat membaca apa yang dilakukannya, dan orang bisa mencontoh atas apa yang dilakukannya tersebut. Makna dari sabda Nabi Muhammad SAW tentang ballighu ‘anni malau ayatan, bisa dimaknai bahwa menyampaikan ajaran Islam itu tidak selalu dengan menggunakan ayat qauliyah tetapi juga ayat kauniyah. Alam, manusia dan bahkan binatang bisa menjadi bukti keberadaan Allah dan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bagi manusia.

Kedua, manusia tidak bisa hidup sendiri. Di dalam kehidupan seseorang membutuhkan pertolongan orang lain. Coba perhatikan untuk minum saja, manusia memerlukan bantuan orang lain. Jika kita minum air mineral kemasan, coba perhatikan siapa saja yang berada di dalam proses pembuatan air mineral dalam kemasan. Ada pemilik modal, ada para pekerja, ada moda transportasinya, ada kendaraannya, ada pekerjanya dan sebagainya dan baru sampai ke rumah kita dan kita bisa meminumnya. Alangkah panjangnya mata rantai air kemasan itu bisa sampai di tenggorokan kita.

Di dalam konteks inilah manusia harus selalu berusaha untuk menolong. Ada keterbatasan yang nyata di dalam kehidupan. Itulah sebabnya manusia tidak boleh sombong. Di dalam bahasa Jawa disebutkan “sopo siro sopo ingsung”. Merasa dirinya tidak tertandingi. Padahal sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna. Selalu ada kekurangannya. Kurang apa Fir’aun dengan kekuasaannya yang luar biasa, akhirnya tenggelam di laut. Kurang apa Namrud yang kuat dan gagah perkasa, akhirnya tumbang oleh seekor nyamuk. Kurang apa Qarun manusia terkaya pada zamannya, akhirnya terjerembab di bumi karena tanah longsor. Orang yang hebat di dunia tidak mampu melawan takdir kematiannya. Hitler, Mussolini, Michael Jackson, Whitney Houston  dan Bruce Lee akhirnya juga harus menerima takdirnya. Siapapun manusia akan mengalami masa remaja, dewasa, tua dan akhirnya wafat.

ketiga, Makanya, janganlah menyombongkan diri karena kita ini bukan siapa-siapa. Jadilah manusia yang membutuhkan manusia lainnya dan juga dapat menolong yang lain. Saling menolong adalah kebutuhan manusia yang hakiki. Jika kita tidak menyadari akan hal ini, maka kita akan berada di dalam kesombongan diri yang tidak tertahankan. Sesungguhnya, manusia merupakan makhluk yang lemah dalam kenyataan fisiknya, meskipun dari aspek intelektualnya memang memiliki kehebatan khusus.

Oleh karena itu kelebihan intelektual sudah selayaknya digunakan untuk kebaikan. Kelebihan tersebut digunakan untuk menyebarkan yang ma’ruf dan memberikan penyadaran agar berbuat dalam kebaikan. Beruntunglah kita semua yang sedikit atau banyak sudah saling menolong dalam kebaikan. Memberikan sedekah, zakat dan infaq meskipun tidak banyak tetapi isntiqamah kita lakukan. Selain itu juga memberikan nasehat untuk beribadah kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.