Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

NASEHAT KEBAIKAN (23)

NASEHAT KEBAIKAN (23)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 22, Syekh Imam An Nawawi menuliskan Bab Nasehat. Kemudian di dalam artikel ini, secara sengaja saya tambahkan ungkapan “Nasehat Kebaikan”. Hanya sekedar untuk menta’kidkan saja, menegaskan maksudnya. Bukan untuk yang lain-lain. Seorang muslim memiliki kewajiban untuk memberikan nasehat untuk kebaikan. Sudah sangat dipahami tentang prilaku kepenasehatan ini. Allah menganjurkan agar saling menasehati atas kebenaran dan menasehati atas kesabaran.

Pilar Islam dalam kepenasehatan adalah wasiat atas kebenaran dan kesabaran. Mengapa kebenaran, sebab kebenaran adalah kunci dalam membangun relasi social. Truth atau kebenaran akan dapat menjadi kunci bagi kepercayaan atas kita. Tanpa kebenaran, maka tidak akan terdapat keterpercayaan. Lalu yang tidak kalah mendasar adalah pesan kesabaran. Sabar juga kata kunci di dalam relasi social. Orang yang sabar merupakan seseorang yang memiliki ketahanan mental dalam menghadapi kehidupan. Dengan kesabaran,  maka kesulitan dan keruwetan akan bisa diuraikan.

Allah SWT berfirman di dalam Surat Al Hujurat: 10, bahwa “sesungguhnya hanya orang-orang yang beriman yang disebut bersaudara”. Di ayat lain, Al A’raf: 68, dinyatakan: “…Aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu”. Demikian pula di dalam Surat Hud: 62, dinyatakan: “…dan aku memberi nasihat kepadamu”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Abi Ruqayyah Tamim bin Aus Addari, Rasulullah bersabda: “Agama itu nasihat. Kami Bertanya: untuk siapa? Bagi Allah, bagi kitabnya, bagi rasulnya , bagi pemimpin-pemimpin kaum Muslimin umumnya”. Riwayat Imam Muslim. Kemudian hadits Nabi Muhammad SAW dari Anas, Nabi Muhammad SAW bersabda: “tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. Hadits Riwayat Mutafaq alaihi.  Dan satu lagi hadits penting, sebagaimana diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah, Nabi SAW bersabda: “saya berbaiat kepada Rasulullah SAW untuk senantiasa menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan memberi nasehat kepada setiap muslim”. Hadits Riwayat Mutaffaq alaihi.

Betapa indahnya ajaran Islam yang memberikan pedoman agar sesama umat Islam saling menasehati. Saling berlaku kebaikan dan saling menyanyangi atau saling berkasih sayang. Adakah yang lebih indah dibandingkan dengan pesan tersebut. Konsep dasar Islam itu cinta dan kasih sayang. Sebagaimana dijelaskan oleh hadits Nabi Muhammad SAW., bahwa belumlah sempurna iman seorang muslim jika belum mencintai saudaranya itu. Jadi  mencintai keluarga dan orang lain adalah pertanda kesempurnaan iman.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat didalami pemahamannya, sebagai berikut:

Pertama, memberikan nasehat kepada sesama umat Islam merupakan kewajiban syaksiyan. Kewajiban individual. Nasehat itu tidak mesti diberikan setiap hari, kecuali para penceramah agama, akan tetapi kewajiban itu dapat berlaku kapan saja dan tidak terikat berapa kali jumlahnya.  Mungkin hanya sekali saja selama hidupnya. Bisa juga berkali-kali sesuai dengan kemampuannya. Memberikan nasehat adalah agar seseorang yang dinasehati selalu berada di jalan Allah SWT. Jika ada seseorang yang melakukan kemungkaran, maka seseorang  berkewajiban untuk mengingatkannya. Jangan dibiarkan seseorang berada di dalam kubangan kejelekan. Akan tetapi harus diingatkan. Orang yang tersesat harus ditunjukkan pada jalan yang benar.

Kedua, umat Islam harus menjaga keluarganya dari api neraka. Artinya, setiap anggota keluarga harus memiliki kesadaran untuk saling mengingatkan. Seseorang tidak boleh egois dalam menjalani kehidupannya. Harus ada kesadaran untuk saling menasehati. Harus ada kerelaan untuk saling berbagi masalah, sehingga dapat dipecahkan bersama. Nasehat itu dimulai dari dalam keluarga. Lalu menyebar ke tetangga, kepada komunitas dan kepada masyarakat luas.

Nasehat yang benar bukan hanya nasehat yang berangkat dari lesan, akan tetapi yang terbaik berasal dari pengalaman kehidupan yang baik yang pantas untuk dinasehatkan. Allah akan memberikan punishment atas orang yang memberi nasehat keagamaan, padahal nasehat tersebut tidak dilakukannya. Apa yang diucapkan adalah apa yang dilakukan. Ada kesesuaian antara ucapan dan perilaku.

Ketiga, Islam mengajarkan nasehat yang baik atau mauidzah hasanah. Jadi ukuran atau indikatornya adalah kebaikan. Bukan sembarang nasehat, akan tetapi nasehat yang dipedomani oleh ajaran Islam. Bingkainya adalah ajaran Islam dan substansinya  adalah kebaikan. Ada trilogy penting, yaitu: nasehat, kebaikan dan kemaslahatan. Nasehat yang tidak berbasis kepada kebaikan untuk membangun kemaslahatan bukanlah nasehat yang diajurkan oleh ajaran Islam.

Kita semua bersyukur bahwa trilogy: nasehat, kebaikan dan kemaslahatan  tersebut sudah menjadi pengetahuan dan perilaku kita, dan kita meyakininya bahwa kebaikan yang kita nasehatkan merupakan amalan yang dipastikan mendapatkan reward  dari Allah SWT. Tidak ada perbuatan baik yang kita lakukan terkecuali dijanjikan oleh Allah akan Rahmatnya  kelak di surga.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SALING MENOLONG UNTUK KEBAIKAN (21)

SALING MENOLONG UNTUK KEBAIKAN (21)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam Bab 21, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Saling Tolong Menolong Dalam Kebaikan dan Ketaqwaan”. Di dalam artikel ini saya ringkas menjadi tema “Saling Menolong Untuk Kebaikan”.

Prinsip di dalam ajaran Islam yang utama dalam kaitannya dengan relasi social adalah saling menolong dalam kebaikan. Semua agama mengajarkan kebaikan dan meminta kepada pemeluknya untuk saling menolong di dalam kebaikan. Tanpa terkecuali. Semua dikenai khitab atas perilaku baik dan menolong di dalam kebaikan. Alangkah indahnya ajaran agama seperti ini. Saling menolong adalah modalitas social yang luar biasa dan seandainya semua orang bisa mengamalkannya, maka dunia akan menjadi damai, guyup rukun dan tiada permusuhan.

Islam mengajarkan agar umat Islam saling menolong dalam kebaikan dan taqwa. Tidak cukup menolong untuk kebaikan tetapi juga menolong untuk taqwa. Artinya, ada dua pesan yang diberikan kepada umat Islam. Jika seseorang dapat melakukan kebaikan, maka hal itu akan menjadi jalan kepada ketaqwaan. Instrument ketaqwaan itu sangat banyak, misalnya melakukan puasa, shalat, zakat, haji dan yang tidak kalah penting bahwa berbuat baik juga dapat menjadi sarana untuk memperoleh ketaqwaan kepada Allah SWT.

Pada sisi yang lain, Allah tidak menghendaki hambanya untuk melakukan perbuatan yang mengandung dosa dan kemaksiatan. Rasulullah telah memberikan pedoman yang sangat clear tentang ketidakbolehan untuk melakukan kejahatan, kejelekan dan dosa. Perbuatan-perbuatan ini sungguh sangat berbahaya jika dilakukan oleh manusia.  Ada hakikat kerusakan yang dapat diketahui jika seseorang melakukan tindakan kejelekan, kejahatan dan dosa. Oleh karena itu, Islam melarang atas semua perbuatan tersebut.

Alqur’an menjelaskan di dalam Surat Al Maidah: 2, “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa”. Lalu di dalam Surat Al ‘Ashr: 1-3, juga dinyatakan: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang tema ini adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abi Said Al Khudri: “sesungguhnya Rasulullah SAW mengirimkan suatu pasukan sebagai utusan untuk memerangi Bani Lihyan dari suku  Hudzail. Beliau bersabda: hendaklah setiap dua orang hanya seorang yang bersangkat dari keduanya. Yang tidak ikut berangkat adalah yang menjamin kehidupan keluarga dari orang yang ikut berperang dan pahalanya terbagi di antara keduanya”.

Kemudian juga hadits Nabi SAW  yang diriwayatkan oleh Abi Abdurrahman Zaid bin Khalid al Jahani berkata Rasulullah SAW; “barang siapa yang menyediakan perbekalan perang di jalan Allah, maka dianggap sebagai orang-orang yang benar-benar ikut berperang. Dan barang siapa yang tidak ikut perang lalu menjaga baik-baik keluarga orang yang berperang, maka dia dianggap sebagai orang yang benar-benar ikut berperang”. Hadits diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Penjelasan atas ayat Alqur’an dan hadits sebagaimana dijelaskan di atas memberikan pemahaman kepada kita tentang konsep tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Dari penjelasan tersebut dapatlah dipahami dalam tiga hal, yaitu:

Pertama,  sebagai sesama umat manusia, khususnya umat Islam, maka di dalam Islam didapati ajaran yang solutif dalam relasi social yaitu saling menolong dalam kebaikan. Tidak hanya kepada sesama umat Islam, akan tetapi juga kepada sesama umat manusia. Perintah Aqur’an adalah berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Tentu saja ada kebenaran yang bersifat universal dan ada kebenaran yang bersifat special. Kebenaran universal adalah kebenaran yang bisa dirasakan oleh semua umat manusia, misalnya semua manusia merasakan lapar. Maka memberikan pertolongan atas orang yang lapar agar menjadi kenyang adalah perintah umum. Islam menganjurkan ath’imut tha’am atau berikanlah makan. Atau menolong orang yang sengsara agar menjadi berdaya adalah untuk kepentingan kemanusiaan. Tetapi tentu ada yang khusus yaitu menolong umat Islam agar semakin baik ketaqwaannya, semakin baik pemahaman atas kitab sucinya dan semakin kuat imannya adalah pesan keagamaan.

Kedua, islam tidak hanya berpesan agar menolong umat manusia, akan tetapi juga menolong binatang. Sangat masyhur cerita tentang seorang Perempuan pelacur yang menolong anjing yang kehausan dan dalam keadaan lemas. Maka Perempuan tersebut kemudian mengambil air dengan sepatunya dan diminumkannya kepada anjing dan anjing tersebut menjadi sehat, maka di saat seperti itu, maka Allah mengampuni semua kesalahannya dan bahkan menjanjikannya masuk ke dalam surganya. Tentu pelajaran yang sangat penting bahwa menolong hewan merupakan pertolongan kebaikan.

Ketiga, inti dari pertolongan adalah ketaqwaan dan kesabaran. Yaitu perilaku yang terkait dengan dimensi mendalam agama, yaitu keyakinan atas kekuasaan Allah dan kerahmanrahiman Tuhan dan balasan atas kebaikan yang dilakukannya. Pesan taqwa berarti pesan agar orang berkeyakinan akan kebenaran semua pesan keagamaan melalui Nabi dan pesan kesabaran bahwa di dalam menghadapi kehidupan yang sangat keras, maka orang harus bisa menahan hawa nafsunya untuk marah dan tidak sabar.

Pemahaman atas hadits Nabi Muhammad SAW tentang pergi atau tidak pergi berperang adalah contoh bahwa yang pergi berperang untuk membela agama Allah dan yang tidak pergi berperang untuk menjaga keamanan Masyarakat tetapi dinilai sebagai ikut berjuang adalah contoh tentang betapa penting saling menolong dan saling berperan pada perannya masing-masing. Hakikat dari menolong adalah agar manusia fungsional bagi kehidupan social.

Kita semua berada di dalam bulan puasa yang sangat dianjurkan agar berbuat sabar, sebab buah kesabaran adalah lahirnya relasi social yang menjanjikan akan kedamaian dan harmoni. Jika umat manusia dapat memahami makna kesabaran, maka dunia akan menjadi aman tanpa kekerasan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

AJAKAN PADA KEBENARAN DAN KESESATAN (20)

AJAKAN PADA KEBENARAN DAN KESESATAN (20)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Sebagai pedoman di dalam kehidupan umat manusia, maka agama selalu menganjurkan kepada perbuatan yang baik dan melarang perbuatan yang buruk. Sisi  kehidupan manusia yang  mondar-mandir di dalam dua hal ini. Ada kalanya manusia tertarik kepada perbuatan yang baik dan ada kalanya tertarik pada perbuatan yang buruk. Tarik menarik antara kebaikan dan keburukan merupakan dinamika di dalam kehidupan manusia.

Ada manusia yang selalu berada di dalam perilaku kebaikan dan ada manusia yang berada di dalam perilaku keburukan. Para Nabi adalah jenis manusia yang selalu melakukan kebaikan sesuai dengan perintah Allah dan ada manusia yang selalu berada di dalam kejelekan karena pilihan perilakunya. Para Nabi seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam berperilaku baik. Sementara itu seperti Firaun, Nebukadnezar, Donald Trump dan Benyamin Netanyahu adalah contoh manusia yang dinyatakan berbuat kejahatan. Orang-orang yang haus darah.

Sesungguhnya agama apapun selalu diwarnai dengan perintah menjalankan  kebajikan. Agama mengajarkan tentang keadilan, kesetaraan dan ketiadaan diskriminasi. Agama mengajarkan tentang kerukunan dan kasih sayang. Agama mengajarkan agar manusia berperilaku yang tidak bertentangan dengan cinta dan perdamaian. Agama merupakan pedoman tentang bagaimana membangun relasi yang baik dengan Tuhan, Alam dan Manusia.

Tetapi manusia kemudian membuat penafsiran tersendiri atas perintah kebaikan dengan melakukan kesebalikannya. Dunia yang seharusnya penuh dengan canda dan tawa, dengan rasa senang dan bahagia, dengan  rasa estetika dan etika, lalu pecah genderang perang.  Dunia menjadi hancur berantakan, luluh lantak tak beraturan dan kiamat seakan telah datang. Demikianlah silih berganti sang pemenang menjadi pecundang dan sang pecundang menjadi pemenang.

Dalam sejarah kehidupan dijumpai misalnya Fir’aun yang merasa menjadi titisan dewa Matahari, Nebukadnezar yang menjadi representasi dewa, raja-raja Romawi yang menjadi legenda karena kekerasan di dalam kekuasaannya. Mereka mengajarkan agar manusia menyembah patung yang dibuatnya sendiri. Di dalam proses pencarian Tuhan, pesan Sang Nabi tidak diindahkan atau tidak dihiraukan. Nabi-Nabi dihina, dilecehkan bahkan dibunuh. Nabi Yahya  dipenggal kepalanya, Nabi Isa  akan dibunuh hingga diangkat ke Langit dan yang menyerupainya lalu disalib di tiang gantungan, Nabi Muhammad juga harus berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Oleh karena itu, Allah begitu menghargai atas orang yang mengajak kepada kebaikan dengan ungkapan dan perilakunya. Bukan hanya di ucapannya saja tetapi juga di dalam tindakannya. Mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas ucapan dan perilakunya. Orang yang tidak ada sedikitpun keraguan untuk menyebarkan kebenaran dan menghindari keburukan. Mereka adalah para ulama, para da’i dan para guru serta para pengambil kebijakan negara yang menyerukan kebaikan dan bukan taghut atau kebijakan yang mengajarkan kepada kejahatan.

Alqur’an menjelaskan sebagaimana di dalam Surat An Nahl: 125 dinyatakan: “serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik”. Atau di dalam Surat Al Maidah: 2, dinyatakan: “dan tolong menolonglah kamu  dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa”. Lalu di dalam Surat Ali Imran: 104, dinyatakan: “dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ‘Uqbah bin Amr al Anshari bahwa Rasulullah bersabda: siapa saja yang menunjukkan (mengajak) kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan itu”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Kemudian hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “siapa saja yang mengajak kepada kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia  mendapat dosa seperti dosa yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun”. Ada juga sebuah hadits, seperti yang diriwayatkan oleh Anas bahwa Rasulullah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya ingin ikut berperang tetapi tidak mempunyai bekal. Rasulullah bersabda:  datanglah kepada si Fulan karena ia sudah mempersiapkan tetapi ia sakit. Kemudian pemuda itu datang kepada Fulan dan berkata, Rasulullah mengucapkan salam untukmu. Kemudian melanjutkan perkatannya: berikanlah perbekalan perangmu untukku. Kemudian si Fulan itu berkata:   wahai istriku, berikanlah perbekalan yang sudah aku siapkan dan jangan kamu simpan sedikitpun. Demi Allah, jangan kamu simpan sedikitpun bekal yang sudah aku persiapkan, karena hal itu pasti akan membawa berkah bagi dirimu”.

Dari Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW ini, maka ada beberapa hal yang dapat digambarkan.

Pertama,  terbayang bagi kita betapa banyaknya pahala yang mengalir kepada para penyebar Islam di berbagai wilayah belahan dunia. Jika saya berziarah ke makam para waliyullah, maka saya terbayang bagaimana cahaya di alam kubur karena kehadiran para peziarah yang selalu membacakan ayat Alqur’an, wirid atau dzikir yang memuja-muji Tuhan seru sekalian alam. Mereka adalah orang yang mengabdikan hidupnya untuk kejayaan Islam dan hasilnya dapat dilihat dan dirasakan sekarang. Subhanallah.

Kedua, terbayang juga di benak kita betapa banyaknya siksaan yang dirasakan oleh orang-orang yang selalu mengajak kepada kejahatan atau keburukan. Para raja thaghut, pemimpin harus darah dan kehidupannya bersimbah dengan kekerasan dan kekejaman, maka mereka akan merasakan dosanya sendiri dan dosa orang yang terperosok ke dalam jalan kejelekan sebagaimana yang dianjurkannya. Mereka yang seperti ini tentu alam kuburnya menjadi gelap pekat dan penuh dengan kejadian yang menyedihkan.

Ketiga,  kita pantas bersyukur sebab tidak menjadi orang dalam kategori penyesat orang lain. Kita meskipun hanya sedikit tentu sudah beramal kebaikan dan mengajak orang untuk berbuat baik dengan cara yang bisa kita lakukan. Kita yakin bahwa Allah akan memberikan pertolongan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SUNNAH BAIK DAN BURUK (19)

SUNNAH BAIK DAN BURUK (19)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Salah satu keutamaan para ulama adalah menjadi pewaris Para Nabi. Melalui ulama maka Islam bisa sampai kepada kita sekarang ini. Mereka adalah yang memahami ajaran Islam melalui Alqur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Secara berantai mereka menganjurkan agar umat menjalankan  agama Allah SWT. Dimulai dari sahabat, tabiin dan tabiit tabiin hingga sekarang. Tanpa kehadiran para ulama,  maka ajaran Islam yang indah tidak akan sampai kepada kita.

Kita sungguh bersyukur kepada Allah SWT karena memiliki para alim ulama yang hebat yang warisan ilmunya masih dapat kita  baca hingga sekarang. Mereka adalah orang-orang yang polymath atau memiliki ilmu pengetahuan yang bervariasi. Demikian kuat ilmu agamanya dan ilmu lainnya. Kita memiliki Imam Ghazali, Ibnu Sina, Al Kindi, Al Khawarzmi, Al Biruni, Ibn Jabir  yang sangat memahami ilmu pengetahuan, misalnya ilmu kedokteran, filsafat, matematika, astronomi, dan lain-lain dan kedalaman ilmu agamanya seperti ilmu fiqih, ilmu tasawuf, ilmu bahasa, ilmu Alqur’an dan lain-lain. Dari merekalah masyarakat dunia  belajar tentang banyak hal. Itulah makna kehadiran ulama di dalam Islam yang dapat menjadi pelita dalam pengembangan pemahaman umat manusia hingga dewasa ini.

Umat Islam Indonesia tentu tidak bisa melupakan peran ilmu-ilmu agama melalui kehadiran Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam An Nasai, Imam At Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Maliki. Melalui pengajaran ilmu fiqih dan ushul fiqih, maka pengamalan beragama kita menjadi standart. Pengamalan beragama kita menjadi sesuai dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Demikianlah Allah mendesain atas ajaran agama untuk kita semua.

Di Nusantara juga terdapat para waliyullah dan para ulama yang menyebarkan Islam di seluruh pelosok Nusantara. terdapat Syekh Jumadil Kubra, Syekh Ibrahim Asmaraqandi, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Muryo, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati sampai Syekh Hasyim Asyari, Kiai Ahmad Dahlan, Imam Surkati, dan seterusnya.  Ada kyai pesantren dan ada kyai langgar. Semuanya berkontribusi dalam pengembangan Islam di Indonesia.

Allah banyak menjelaskan di dalam Alqur’an seperti Surat Al Furqan: 74, “Dan orang yang berkata,  Ya Rabb Kami anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. Dan ayat lain, Surat Al Anbiya: 73, “Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami”.

Kemudian terdapat hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dinyatakan: “…kemudian beliau bersabda: barang siapa yang memulai membuat sunnah dalam Islam berupa amalan yang baik, maka dia memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan itu (sepeninggalnya) tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka yang mencontohnya itu. Dan barangsiapa yang membuat dalam Islam berupa amalan buruk, maka dia memperoleh dosanya bagi diri sendiri dan doa orang yang mengerjakannya itu sesudahnya (sepeninggalnya) tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya”.

Berdasarkan atas ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW ini, maka ada beberapa catatan yang bisa dijadikan sebagai pengetahuan dalam beragama, yaitu:

Pertama,  Islam memang didesaian untuk menyebar ke seluruh dunia. Islam yang semula berkembang di Arab, lalu menyebar ke Persia,  Hadramaut, Malabar, Gujarat ke Nusantara dan menjadi agama mayoritas di Indonesia. Allah mengutus pada da’i dan guru-guru untuk mengajar Islam di Nusantara. Peran mereka di dalam islamisasi Nusantara tentu sangat besar. Mereka semua adalah peletak dasar Islam dan yang menjadi peletak dasar sunnah kebaikan di Indonesia. Islam yang rahmatan lil alamin.

Kedua, apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan kemudian ditafsirkan dan dipahami oleh para ulama dalam kebaikan disebut sebagai sunnah kebaikan. Nabi Muhammad SAW merupakan teladan kebaikan. Itulah yang kemudian dibawa oleh para da’i dan guru ke berbagai wilayah di Indonesia. Ajaran Islam yang berporos pada kalimat tauhid atau pengakuan keesaan Allah dan pengakuan Muhammad SAW sebagai rasulnya: “la ilaha illallah. Muhammadur Rasulullah”. Dari kalimat syahadat tersebut kemudian disebarkan kepada umat manusia ke seluruh dunia. Kebaikan tersebut menjadi sunnatan hasanatan atau contoh kebaikan. Jika seseorang melakukan contoh kebaikan, maka apa yang dilakukan tersebut akan diganjar untuk dirinya dan juga orang yang mengikutinya sesudahnya. Orang yang seperti ini adalah contoh kebaikan untuk kehidupan masyarakat di dunia.

Ketiga, selain sunnah hasanah juga terdapat sunnah sayyi’ah atau contoh yang keburukan. Sebaliknya,  sunnah hasanah  yang berisi kebaikan-kebaikan,  dan  sunnah sayyi’ah atau contoh keburukan adalah contoh yang tidak seharusnya disebarkan oleh seseorang. Dunia memang berisi dua sisi yaitu dimensi kebaikan dan dimensi keburukan. Jika kebaikan akan mendapatkan pahala untuk diri pelakunya dan juga pahala yang diterima oleh pelaku awalnya dan orang-orang yang melakukannya. Sedangkan contoh keburukan juga akan mendapatkan siksaan dari pelakunya dan orang yang melakukannya dan siksa bagi pelaku awalnya. Jadi, kebaikan akan berakibat kebaikan berlipat-lipat dan keburukan juga akan berlipat-lipat keburukan yang diterimanya.

Begitulah, yang sesungguhnya akan terjadi. Orang yang menyebarkan kebaikan akan memperoleh kebaikan dan orang yang menyebarkan kejelekan akan mendapatkan kejelekan. Kita sekarang berada di era media social, maka sudah selayaknya jika kita berhati-hati untuk menyebarkan berita atau informasi apapun. Jangan sembarangan, karena Rasulullah SAW sudah memperingatkan semenjak 1447 tahun yang lalu. Masihkah kita tidak berhati-hati.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUJI UNTUK BADAN

PUJI UNTUK BADAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada saat sebelum shalat tarawih, 15/03/2026,  di Langgar Raudlatul Jannah di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Merakurak Tuban saya menyempatkan diri untuk memberikan sedikit taushiyah.  Ceramah tersebut terkait dengan  amalan yang, saya kira sangat penting, yaitu tentang bagaimana kita bersyukur atas kenikmatan Tuhan atas badan kita atau jasad kita, melalui bacaan wirid yang bisa dilakukan kapan saja. Tetapi akan menjadi semakin utama jika dibaca di pagi hari antara ba’da shalat shubuh sampai berakhirnya shalat dhuha.

Saya sampaikan tiga hal, yaitu:

Pertama, manusia terbagi dalam tiga unsur, yaitu roh, nafsu dan jasad. Sementara orang melihat hanya dua unsur, yaitu badan dan roh. Badan atau jasad adalah unsur badan yang berasal dari tanah, akumulasi bahan-bahan yang berasal dari tanah. Dari  tumbuh-tumbuhan, dari Binatang, dari buahan-buahan, beras atau jagung dan lain-lain, yang kemudian menjadi sperma, lalu bertemu dengan ovum dan jadilah manusia sebagaimana yang bisa dilihat. Jasad ini yang nanti akan kembali ke tanah menjadi unsur tanah kembali.

Sedangkan roh adalah unsur yang berasal dari Allah SWT, yang ditiupkan Allah di kala janin masih berusia empat  bulan 10 hari, menjadi unsur yang menghidupkan dan kemudian memiliki kemauan atau  diberi nafsu yang akan mengarahkan kehidupannya apakah akan menjadi baik atau buruk. Untuk menjadi baik,  Allah sudah memberinya petunjuk sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW, baik dari Alqur’an dan sunnah-sunnahnya.

Rasulullah sudah mengajarkan bahwa fisik atau jasad itu memerlukan asupan, tidak hanya makan dan minum akan tetapi juga asupan dzikir atau wirid. Asupan makan dan minum sudah bisa  kita lakukan dengan makan secara teratur, bisa tiga kali makan atau dua kali makan, yang penting memenuhi standart makan. Perut kenyang. Nasi atau karbohidrat bertemu dengan ikan atau protein dan menjadi tenaga yang menguatkan hidup manusia. Ada satu lagi yang perlu mendapatkan asupan yang berasal dari dzikir bukan untuk kepentingan Allah tetapi untuk kepentingan badan atau jasad kita. Jadi, badan atau fisik itu membutuhkan asupan materi dan juga asupan spiritual. Asupan atau gizi materi berupa makanan dan minuman, dan asupan atau gizi spiritual yang berupa dzikir atau wirid.

Ada hadits yang sangat mendasar sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda: “setiap pagi ruas tulang kalian terdapat sedekah. Setiap ucapan tasbih (subhanallah) adalah sedekah. Setiap ucapan Tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah. Setiap ucapan tahlil (la ilaha illallah) adalah sedekah, setiap ucapan takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, mencegah perkara mungkar adalah sedekah. Dan dua rakaat yang dikerjakan dalam shalat dhuha telah mencakup segalanya”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Bacaan kalimat ini adalah sedekah untuk tubuh atau badan atau jasad. Ada di dalam tubuh kita yang perlu disedekahi. Perlu untuk diberikan asupan atau gizi spiritual. Ada kebutuhan yang sesungguhnya sangat mendasar di dalam kehidupan ini. Kebanyakan orang yang hanya berpikir bahwa tubuh atau jasad hanya perlu makan dan minum, padahal Islam mengajarkan bahwa kebutuhan jasad bukan hanya makan dan minum akan tetapi juga asupan spiritual. Di dalam tubuh, ada daging, tulang, saraf dan sejumlah piranti kehidupan seperti otak, hati, paru-paru, usus, jantung, empedu dan jutaan saraf, yang di otak 100 juta neuron (sel saraf),  di dalam tubuh kita yang membutuhkan asupan atau gizi spiritual.

Betapa rumitnya tubuh kita itu. Sebuah misteri di dalam ciptaan Allah SWT atas diri manusia. Dan kita hanya menggunakannya. Tangan untuk segala sesuatu yang terkait dengan pekerjaan tangan, kaki untuk segala sesuatu yang terkait dengan fungsi kaki, jantung yang setiap detik, menit, jam, hari, bulan, tahun  dan seterusnya memompa darah ke otak, lalu otak meneruskan ke seluruh sel tubuh, dan dengan mekanisme seperti itu, manusia menjadi hidup, memiliki nafsu, memiliki keinginan, memiliki tujuan hidup dan sebagainya. Maha Suci Allah SWT yang telah mendesain manusia dengan kecanggihannya.

Pantaskah jika kita tidak bersyukur kepada Allah SWT. Kita disindir oleh Allah SWT sebagaimana di dalam Surat Al Waqiah, “fabiayyi alai rabbikuma tukaddziban” yang artinya “nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan”. Ya Allah selama ini kami kurang bersyukur kepada-Mu. Ampunilah atas kekhilafan kami ini.

Pada bulan puasa ini, marilah kita menyadari betapa besarnya nikmat Allah SWT kepada kita. Mari kita berikan hak tubuh atau badan kita, dan mari kita berikan hak bagi kaum fakir dan miskin. Dan hak itu adalah dengan membaca kalimat tasbih, Tahmid, tahlil dan takbir serta mengeluarkan zakat, infaq dan sedekah.

Wallahu a’lam bi al shawab.