• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENDISKUSIKAN ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN (2)

MENDISKUSIKAN ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN (2)
Giliran berikutnya yang membedah buku saya ialah Dr. Abdul Ghafur Maimun, alumni Universitas Al Azhar Mesir, yang sekarang menjadi pengelola STAI Al Anwar Sarang. Menurut Beliau, bahwa kita ini lebih banyak berbicara tentang kulitnya Islam dan bukan substansi Islam. Di dalam hal ini, orang sering salah paham tentang Islam Nusantara juga disebabkan oleh anggapannya bahwa Islam Nusantara dianggap sebagai varian baru Islam. Padahal sebenarnya Islam Nusantara itu ya Islam yang itu juga.
Kita ini terkadang minder dan menganggap bahwa ulama dari Timur Tengah itu lebih dari segalanya. Makanya untuk memberi fatwa tentang masalah di Indonesia diperlukan ulama dari Timur Tengah. Kasus Ahok, misalnya harus didatangkan ulama Mesir untuk memberikan kesaksian ahli. Padahal yang bersangkutan tidak tahu tentang permasalahan di Indonesia. Marilah kita berpikir lebih jernih, untuk menyelesaikan problem orang Indonesia itu haruslah orang Indonesia sendiri. Ada banyak ulama Indonesia yang mumpuni dan tahu tentang masalah-masalah kebangsaan dan kenegaraan di Indonesia.
Ada sebagian kecil orang Indonesia yang menginginkan kita kembali ke masa lalu, 14 abad yang lalu. Mestinya ita berpikir bagaimana kita itu beragama dengan masa sekarang. Dahulu orang ke Mekkah atau ke Madinah memakai onta. Sekarang di zaman modern, orang pergi haji dengan pesawat terbang, dengan mobil. Jadi jangan memaksakan kehendak untuk mengikuti paham keagamaan yang memang bisa bervariasi. Kita tidak mengubah al Qur’an dan al Hadits yang memang sudah jelas. Yang bisa berubah itu ialah penafsiran terhadapnya. Makanya, jangan memaksakan bahwa yang benar adalah tafsirnya sendiri. Dalam Hukum Islam saja terkadang ada yang disebut sebagai qaulani atau dua pendapat bahkan bisa lebih banyak pendapat. Makanya, mari kita melakukan ajaran agama sesuai dengan pemahaman kita tentang agama tersebut.
Pak Dr. Imam Syafe’i, Direktur Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum pada Ditjen Pendidikan Islam sengaja saya pilih untuk menjadi narasumber dalam acara bedah buku ini tentu dengan berbagai pertimbangan. Beliau adalah orang yang sangat menyenangkan jika berbicara di forum karena memiliki talenta humor yang sangat orisinal dan juga seorang yang menggeluti dunia pesantren luar biasa. Benar juga akhirnya bahwa Beliau dapat mengocok perut audience dengan joke-jokenya yang segar. Beliau nyatakan bahwa kita harus memiliki mimpi tentang pendidikan Indonesia masa depan. Saya bersyukur, kata bahwa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) menuai keberhasilan yang optimal. Jika di masa lalu santri sangat sulit menjadi dokter, maka dengan program ini, banyak santri berprestasi yang bisa menjadi dokter. Jadi yang penting adalah berikan peluang, maka pasti akan bisa diraih prestasi tersebut.
Tantangan yang tidak kalah menarik ialah bagaimana kita memiliki kesadaran agar daerah pinggiran Indonesia tersentuh program pendidikan dan agama. Maka kita buat program pengembangan pendidikan agama di wilayah pinggiran Indonesia. program bina kawasan. Dan salah satu kekuatan Buku Prof. Nur Syam adalah tentang bagaimana pendidikan di Indonesia harus berkualitas di masa depan. Jadi, salah satu kekuatan ke depan bagi Indonesia ialah jika pendidikan kita berhasil.
Sementara itu, Prof. Kacung Marijan juga menyatakan bahwa untuk membangun Indonesia yang berhasil, salah satu kuncinya ialah ketika kita bisa melakukan dialog antar umat beragama. Dengan terus mengembangkan dialog antar umat beragama maka kita akan bisa meneruskan pembangunan bangsa dengan sebaik-baiknya. Salah satu yang menyebabkan kita ini tidak bisa berpikir ke depan adalah kita terbelenggu oleh diskusi yang tidak produktif. Misalnya, seperti kesalahan memahami tentang Islam Indonesia itu. Seharusnya kita tidak berada di dalam ruang untuk berdebat tentang hal-hal yang tidak produktif. Islam di Indonesia semenjak dahulu itu seperti ini. Ada tradisi yang menjadi penyedap terhadap keberislaman kita. Makanya kita harus mendukung terhadap upaya untuk Gerakan Moderasi Beragama, sebab dari sini kiranya, upaya untuk melstarikan negara ini akan terwujud.
Diskusi yang dipandu oleh Dr. Sukowidodo ini juga sangat menarik tidak hanya dari aspek guyonannya akan tetapi juga pendapat-pendapat orisinal dari nara sumbernya. Dan yang lebih menarik juga banyak pembahas yang menanyakan tentang materi diskusi ini. Sungguh saya kira bahwa diskusi ini bisa menjadi penjelas tentang kesalahpahama kita dewasa ini tentang Islam Nusantara, Islam Berkemajuan dan juga tentang dialog antar umat beragama serta gerakan moderasi beragama yang sekarang sedang menjadi trending topic di Indonesia maupun dunia internasional.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENDISKUSIKAN ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN (1)

MENDISKUSIKAN ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN (1)
Sungguh saya merasa sangat terhormat kala 3 (tiga) buku saya didiskusikan di UIN Sunan Ampel Surabaya, 12/09/2018. Diskusi itu diselenggarakan di Amphitheater UIN Sunan Ampel Surabaya, yang sangat prestisius. Apalagi acara ini dihadiri oleh sangat banyak masyarakat akademis, kaum penggiat kerukunan umat beragama dan juga perbankan serta birokrat.
Sebagai narasumber utama ialah Prof. Kacung Marijan, PhD., Dr. Abdul Ghafur, MA dan Dr. Imam Syafei, MPd dengan moderator Dr. Sukowidodo, MA. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan dosen UIN Sunan Ampel, yaitu Prof. Dr. HM. Rudlwan Nashir, Dr. Wahidah Siregar, MA, Prof. Dr. Ma’shum, Prof. Dr. Abu Azam, Dr. Ah. Ali Arifin, Dr. Abdul Halim, Prof. Dr. Sahid, HM., Prof. Dr. Shonhaji Sholeh, Prof. Faishol Haq., Prof. Abdul Hadi, Prof. Imam Bawani, Pak Avantiono dan beberapa lainnya dari Bank Jatim Syariah, beberapa Pendeta dan agamawan dari Forum Lintas Agama, Beda Tetapi Mesra, serta akademisi dan para mahasiswa program PPs UIN Sunan Ampel Surabaya.
Acara ini dibuka oleh Prof. Dr. Ma’shum, selaku WR III UIN Sunan Ampel Surabaya, sebab hari ini Prof. Masdar Hilmy, PhD sedang ada acara di Jakarta untuk penerimaan CPNS tahun 2018. Acara seminar ini juga menandai Launching Festival Hari Santri tahun 2018 dengan seluruh agendanya. Lalu dilanjutkan dengan pemutaran profile Prof. Dr. Nur Syam, MSi yang merupakan garapan dari kawan-kawan mahasiswa dan dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi pada UIN Sunan Ampel Surabaya. Meskipun dibikin dalam waktu yang singkat saya kira cukup memadai untuk menggambarkan “siapa Prof. Nur Syam itu, baik semasa kecil maupun lengser jabatan Sekjen Kemenag dan kembali sebagai dosen pada UIN Sunan Ampel Surabaya”.
Dr. Sukowidodo memang ahlinya untuk menjadi moderator. Dengan guyonannya, maka suasana menjadi cair, tidak bernuansa akademik yang kaku dan menjemukan. Dengan candaannya, maka para audience menjadi tertawa dan merasakan suasana yang akrab dan berkawan. Sebagai penulis buku, saya tentu diperkenankan untuk menjadi panelis pertama. Di dalam kesempatan ini, saya sampaikan 3 (tiga) hal, yaitu: pertama, ucapan terima kasih atas terselenggaranya acara bedah buku ini. Ada 3 (tiga) buku yang saya sampaikan pada bedah buku ini, “Islam Nusantara Berkemajuan, tantangan dan Upaya Moderasi Agama”, “Demi Agama, Nusa dan Bangsa” dan “Menjaga Harmoni Menuai Damai”. Secara sengaja memang saya membedah 3 (tiga) buku sekaligus untuk menandai kehadiran kembali ke UIN Sunan Ampel Surabaya. Saya sampaikan bahwa buku-buku ini hadir karena kebiasaan menulis semenjak saya menjadi Pembantu Rektor IAIN Sunan Ampel, tahun 2007. Ada sebanyak 1777 tulisan di Blog saya, sehingga saya bisa mengumpulkannya menjadi buku.
Kedua, saya sampaikan tentang konsepsi Islam Nusantara, yaitu: “Islam Nusantara Berkemajuan bukanlah varian Islam baru, akan tetapi adalah Islam yang telah kita kenal selama ini, memiliki ikatan genealogi yang sangat kuat dengan Islam di Timur Tengah yang telah berkolaborasi dengan tradisi dan budaya masyarakat Nusantara dalam kurun waktu yang sangat lama, dan lalu membentuk kekhasan tersendiri”.
Teologi Islam di manapun pasti sama, baik di Timur Tengah, Eropa, Amerika dan Afrika pastilah sama. Demikian pula terkait dengan ritual. Dipastikan bahwa ritual Islam juga memiliki kesamaan-kesamaan. Gak mungkin shalat wajib lebih dari 5 (lima) kali. Yang lain-lain juga ada kesamaan meskipun juga tidak menutup kemungkinan peluang ada perbedaan. Tetapi semuanya dipastikan bersumber dari fiqih Islam yang memang merupakan penafsiran para ulama Islam.
Nah yang dipastikan ada perbedaan ialah dalam tradisinya. Misalnya tentang tatacara pakaian. Di Arab menggunakan gamis, lalu di Jawa memakai blangkon, sarung dan celana. Di Eropa tidak pakai gamis tetapi memakai Pakaian Sipil Lengkap (PSL). Di Arab tidak ada acara Yasinan, Tahlilan, Dzibaan dan Rejeban karena ini adalah tradisi di Nusantara. Hal ini yang disebut sebagai outward looking atau performance luaran saja.
Islam wasathiyah itu sekarang sedang menuai banyak tantangan di antaranya ialah radikalisme negative, ekstrimisme dan terorisme. Tantangan ini bukanlah pencitraan atau agar dianggap pro-pemerintah, akan tetapi memang benar-benar adanya. Bahkan ditengarai usianya semakin muda, kaum terdidik dan bukan dari mereka yang secara ekonomi miskin. Dan yang menjadi sasarannya, bukan hanya gereja dan hotel, tetapi juga kantor polisi dan juga masjid. Kaum jihadis itu beranggapan bahwa siapa saja yang melawan mereka harus dihancurkan. Inilah tantangan terbesar dari Islam wasathiyah yang sekarang sedang terjadi.
Ketiga, di antara medium untuk menanggulangi gerakan radikalisme ialah melalui penguatan pendidikan. Pendidikan harus dimanfaatkan untuk kepentingan membawa anak didik untuk memahami Islam dengan cara-cara Islam kenusantaraan tersebut. Islam yang mengedepankan pembelaannya terhadap negara dan bangsa (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan). Indonesia harus lestari sampai kapanpun. Dan yang menjadi penyangga utamanya ialah Islam Nusantara Berkemajuan tersebut. Selain itu tentu juga penguatan SDM, mengembangkan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat dan solusi untuk menangani masalah-masalah sosial dan budaya.
Oleh karena itu, yang sangat penting dilakukan ialah agar kaum pendidik dapat mengembangkan kualitas pendidikan dengan daya jangkau yang luas untuk seluruh masyarakat Indonesia, dengan mengedepankan kurikulum yang mendukung terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan kualitas manusia Indonesia. Bagi orang miskin, maka akses pendidikan terjangkau haruslah menjadi prioritas yang mendasar dan saya kira para guru dan dosen sudah sangat memahami tantangan ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (5)

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (5)
Ada yang menarik dari berita Jawa Pos, Ahad, 09/09/2018, tentang Jack Ma, yang sering saya kutip di dalam tulisan dan ceramah-ceramah saya. Jack Ma, founder Alibaba.com, yang sangat terkenal ternyata memilih pensiun dari CEO Alibaba.com dan akan mengabdikan dirinya untuk pendidikan.
Sungguh berita ini membuat saya merenung, bahwa orang yang sangat terkenal dengan perusahaan dan kekayaannya ternyata justru di saat tertentu justru akan mengabdikan dirinya untuk kepentingan pendidikan. Lalu ada apa? Pertanyaan ini yang kiranya menarik untuk disimak dan dicoba untuk ditafsirkan terkait dengan tantangan pendidikan dewasa ini.
Pernyataan Jack Ma yang baru saja terlibat di dalam penutupan Asian Game ke 18 di Jakarta itu sungguh menarik untuk direnungkan. Bukan kekayaannya yang patut diperbincangkan, akan tetapi minatnya untuk mendidik dan mengabdikan kekayaannya untuk pendidikan. Apa yang disampaikan Jack Ma adalah sebuah kesadaran tentang betapa pendidikan harus diutamakan terutama di era digital atau era industry 4.0.
Pernyataan ini sungguh bukan hanya sensasi dan pencarian citra, akan tetapi merupakan kesadaran yang didasari oleh keinginan untuk menjawab tantangan pendidikan yang semakin berat di masa yang akan datang. Bagi yang memiliki kesadaran mendasar, bahwa tantangan era industry 4.0 bukanlah hal yang mudah diselesaikan akan tetapi harus dijawab oleh para pendidik dengan segenap kemampuan, tidak hanya kemampuan fisik, ide dan pemikiran, akan tetapi juga harta dan jiwa sekaligus.
Saya merasa bahwa kegalauan saya itu tidak seharusnya terjadi. Setelah membaca pernyataan Jack Ma ini, maka rasa kegalauan di dalam melaksanakan program pendidikan yang akan datang tentu tidak boleh terjadi lagi. Kegalauan itu bukan karena ketidakmampuan untuk mengajar akan tetapi terkait dengan bagaimana menjawab tantangan pendidikan yang sungguh luar biasa. Kegalauan yang saya rasakan –sebagaimana tulisan saya sebelumnya—bahwa di era Industri 4.0 ini—maka tantangan terbesar ialah bagaimana kita menyiapkan generasi muda yang siap untuk hidup di era yang akan datang.
Kita akan menghadapi era Generasi Emas Indonesia pada tahun 2030-2045, artinya bahwa bonus demografi itu tentu tidak boleh sia-sia. Mereka haruslah menjadi bonus demografi yang memberikan keuntungan bagi bangsa dan negara ini. Mereka harus menjadi generasi yang siap untuk menerima estafeta kepemimpinan nasional dan juga sebagai penerus bangsa. Mereka harus menjadi generasi yang dapat dan memiliki kemampuan untuk hidup dalam kehidupan Indonesia yang akan datang.
Mereka harus menjadi orang Indonesia yang tangguh, profesional, bermoral dan berkepribadian Indonesia. Itulah sebabnya pendidikan memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan mereka kepada tujuan menjadi warga negara Indonesia.
Ada 3 (tiga) hal yang kiranya bisa disiapkan untuk generasi yang akan datang, yaitu: pertama, menyiapkan pendidikan yang berkualitas. Tantangan kita ialah bagaimana menghadirkan pendidikan yang memiliki kompetensi dan distingsi yang jelas. Tidak hanya akreditasi prodi yang bernilai baik, akan tetapi harus menyiapkan program-program yang relevan dengan tuntutan zaman. Alumni PTKIN harus memiliki sejumlah keahlian yang relevan dengan tuntutan zaman.
Kedua, harus menyiapkan program-program pendidikan vokasi yang lebih banyak dalam kerangka menyiapkan generasi terampil di era teknologi informasi. Selama ini kita lebih banyak menyiapkan calon sarjana Strata I dengan keahlian yang kiranya memerlukan sentuhan pendidikan berbasis praktis. Artinya, harus disiapkan sejumlah keahlian tambahan untuk menjembatani antara pengetahuan teoretis dengan pengetahuan praktis. Saya kira sudah saatnya untuk memikirkan basis keahlian tambahan atau kemampuan professional sesuai dengan basis keahlian yang dimiliki oleh para mahasiswa. Bisa saja hard skilled alumni adalah ilmu fiqih atau ilmu tafsir, akan tetapi mereka harus memiliki sejumlah kemampuan soft skilled yang relevan dengan tuntutan era sekarang ini. Pemikiran yang pernah saya tuangkan dalam beberapa tahun terakhir ini saya kira tetap relevan untuk diimplementasikan.
Ketiga, era milenial memerlukan 4 keahlian yang harus disemai di PTKIN, yaitu competency professional, competensi komunikasi, kompetensi net working dan competency kolaboratif. Empat hal ini yang seharusnya menjadi pertimbangan bagi para pimpinan dan dosen PTKIN, bahwa ke depan kita harus membangun kemampuan untuk mencetak generasi yang memiliki kompetensi professional. Di dalam hal ini maka yang dibutuhkan ialah keahlian dalam konteks hard skilled dan soft skilled. Lalu kemampuan membangun jejaring. Mereka harus diajari tentang bagaimana membangun kemampuan menciptakan jejaring untuk kepentingan membangun kemampuan professional dimaksud. Lalu juga harus mempertimbangkan untuk membangun kemampuan berkomunikasi dengan baik. Siapa yang memiliki kemampuan komunikasi, maka dia yang akan menguasai belantara kehidupan ini, dan yang terakhir ialah kemampuan kolaboratif atau koordinasi. Tidak ada kesuksesan yang dibangun sendirian, sebab setiap kesuksesan pastilah berbasis pada kerja sama.
Kemampuan soft skilled inilah yang kiranya perlu diperkuat untuk menyongsong pendidikan di era sekarang dan akan datang. Sekali lagi kita harus menyiapkan generasi yang siap untuk berkompetisi tetapi berbasis persahabatan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (4)

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (4)
Kegamangan tentu tidak boleh berlalu dalam waktu yang lama. Artinya, bahwa diperlukan way out dalam kerangka untuk menyiapkan bagaimana para mahasiswa sebagai calon penerus bangsa ini akan bisa menghadapi tantangan yang sangat ketat di era yang akan datang. Tidak hanya tantangan terkait dengan perebutan sumber daya ekonomi, akan tetapi juga tantangan sebagai bangsa dan sosial budaya lainnya.
Saya berpikir, bahwa sebaiknya kita memang melakukan beberapa hal, yang kiranya harus dirumuskan oleh suatu team yang kuat. Tantangan ini bukan problem individu, akan tetapi adalah tantangan semua para pendidik, baik guru maupun dosen, dan bahkan juga tantangan pemerintah dan masyarakat. Saya berpikir bahwa problem bangsa ini merupakan tugas bersama dan memerlukan penanganan bersama. Para dosen dan guru adalah part of program besar yang akan terlibat secara aktif di dalam menghadapi era yang akan datang.
Era sekarang disebut sebagai era teknologi informasi atau era digital. Siapapun yang menguasai era digital, maka dialah yang sesungguhnya akan menjadi pemenang. Jika di era Industri 1.0, maka siapapun yang memiliki kekuatan modal untuk memanfaatkan mesin uap, maka dialah yang menguasai medan dunia. Mungkin masih bisa diingat tentang kekuatan tentara Jerman di era Perang Dunia II ialah karena kekuatan mobilisasi pasukan melalui darat dengan menggunakan kereta api. Selain itu dengan ditemukannya mesin uap juga sangat memungkinkan terjadinya perdagangan antar negara. Seluruh benua Eropa bisa disambungkan dengan kekuatan kereta uap, lalu juga benua Amerika dan sebagainya.
Lalu di era industry 2.0., maka juga terjadi lompatan teknologi yang luar biasa. Misalnya dengan berkembangnya produk manufacturing seperti mobil dan peralatan-peralatan kehidupan yang menggunakan sumber daya listrik. Perkembangan perdagangan dan mobilisasi manusia juga menjadi sangat tinggi disebabkan oleh adanya pabrik-prabrik dengan berbagai bentuk dan produknya.
Kemudian di era industry 3.0, maka manusia dimanjakan dengan kehadiran teknologi computer. Melalui mesin computer portable atau personal computer, maka pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Dengan kehadiran teknologi komputer, maka pekerjaan yang dahulu dikerjakan dengan manual, maka kemudian menjadi lebih ringkas. Juga ditemukannya teknologi telepon lalu kemudian mesin faximile, email dan sebagainya, maka dapat menghasilkan relasi yang on time. Jika menggunakan surat menyurat bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan, maka dengan mesin faximile, maka surat akan datang hanya dalam beberapa menit.
Pada era industry 4.0, maka dunia semakin terlipat dan tanpa batas. Sekaranglah sesungguhnya era globalisasi itu. Bayangkan dengan alat hand phone, maka dunia menjadi tidak berbatas. Dengan ditemukannya teknologi android, maka hubungan antar manusia antar wilayah tidak lagi mengalami kendala. Era sekarang merupakan era teknologi aplikasi, sehingga banyak hal –terutama dunia perdagangan—banyak mengalami perubahan. Jika di masa lalu, sebuah mall atau supermarket yang dibutuhkan pertama ialah bangunan mall atau supermarket, namun dengan perkembangan aplikasi teknologi informasi maka toko tidak harus memiliki gedung, sebab gedungnya ialah aplikasi itu. Menjamur e-commerce yang luar biasa. Banyak juga perusahan angkutan yang tidak memiliki satupun armada, sebab armadanya ialah aplikasi itu. Perusahan taksi di Malaysia bisa beroperasi di Indonesia dengan hanya mengandalkan aplikasi tekonologi informasi.
Makanya kemudian berkembang ekonomi digital, yaitu dunia ekonomi yang tidak lagi berbasis pada perdagangan konvensional, akan tetapi berbasis digital. Jadi siapa yang menguasai teknologi informasi dengan seperangkat aplikasinya, maka dialah yang akan menguasai ekonomi tersebut. Di dunia dikenal, misalnya Amazon.com, Alibaba.com, dan sebagainya yang dapat menguasai dunia perdagangan dengan kekuatan teknologi aplikasinya.
Banyak sekarang anak-anak muda yang menjajakan perdagangan dengan aplikasi teknologi computer, misalnya Go-Jek, yang dikomandani oleh Nabiel Makarim, lalu juga ada Grabb yang berpusat di Malaysia, Bukalapak, Shophie, Shahnaz Shop dan sebagainya. semua ini adalah dunia perdagangan yang tidak memanfaatkan gerai sebagai tempat memajang barang-barangnya, akan tetapi dengan aplikasi. Dari Go-Jek yang merupakan cikal bakal perusahaan transportasi, maka sekarang sudah berkembang Go-Food, Go-Bank, Go-lainnya yang menjadi anak-anak perusahaan.
Perkembangan ini sungguh luar biasa, dan yang menjadi masalah adalah apa yang bisa diberikan kepada anak-anak UIN dengan segala program dan jurusannya.
Mungkin ada di antara kita yang bertanya, core business UIN adalah ilmu agama, ataupun jika ada program studi lain adalah pendukung core business ini. tetapi yang jelas bahwa apapun program studinya, mereka harus tetap dididik untuk menghadapi tantangan teknologi informasi. Jadi, bagaimana dakwah di era teknologi informasi, perdagangan syariah berbasis teknologi informasi, tafsir dan hadits berbasis teknologi informasi, dan sebagainya.
Selain itu, mereka mestilah diberi program sertifikasi yang memungkinkan para mahasiswa dapat mengakses kehidupan secara lebih baik. Dan ini semua adalah tantangan para dosen yang memang diciptakan oleh Allah untuk menjadi teoretisi dan praktisi pendidikan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (3)

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (3)
Ketika menginjakkan kaki di Kampus tercinta, UIN Sunan Ampel Surabaya, sebenarnya ada rasa gamang. Kegamangan tersebut disebabkan oleh pemikiran mendasar tentang apa yang harus saya lakukan setelah sekian lama tidak mengajar dalam konteks relasi dosen-mahasiswa, sebagaimana di masa lalu serta tantangan pendidikan yang sangat kompleks.
Saya merasakan betapa waktu yang cukup panjang tidak mengajar membuat saya gamang. Banyak hal yang rasanya tidak saya alami akhir-akhir ini. Bukan disebabkan karena conten pembelajaran yang saya pikirkan, akan tetapi yang lebih mendalam ialah bagaimana menyuguhkan pendidikan yang tidak hanya berbasis pada transfer pengetahuan, akan tetapi menghasilkan temuan yang disebabkan oleh kerja bersama antara dosen dan mahasiswa.
Saya memang getol menyuarakan tentang program pendidikan yang bercorak discovery bukan pendidikan yang berbasis transfer pengetahuan. Jika pembelajaran berbasis pada transfer of knowledge, maka sudah banyak bahan-bahan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Search engine, seperti Google dengan sangat cepat akan menghadirkan apa saja yang kita ingin tahu. Nyaris semuanya bisa terpenuhi di mesin pencari ini. Al ilmu fil machine. Dengan Youtube, nyaris semua hal bisa dipenuhi. Mulai dari program televise film documenter, music cadar, music dangdut sampai music keroncong. Semua tersedia dengan lengkap. Jadi jika proses pembelajaran tetap menggunakan pola transfer of knowledge, maka sudah pasti kita akan ketinggalan.
Di sinilah kata kunci mengapa saya gamang. Apakah saya bisa menghadirkan program pembelajaran berbasis discovery record, yang kelak akan berguna di dalam proses penemuan jati diri yang bersangkutan. Saya masih terngiang-ngiang dengan ungkapan Jack Ma, konglomerat negeri Tirai Bambu, yang menyatakan bahwa pendidikan harus berubah. Cara kita mengajar harus berubah. Content pembelajaran harus berubah. Sebab jika tidak berubah kita akan dilahap oleh artificial intelligent yang sangat cermat dan semakin bervariatif dalam jumlah dan kualitasnya.
Sebagaimana yang pernah saya tulis sebelumnya, bahwa Jack Ma menyatakan bahwa “program pembelajaran harus mengajarkan tentang values, believing, independent thinking, team work, care for other. Selain itu juga diajarkan sport, music, painting, art dan sebagainya.” Semua berbeda dengan mesin. Mesin tidak bisa mengajarkan semua ini. Manusia yang bisa mengajarkannya. Di sinilah sesungguhnya dosen memiliki keunikan yang tidak akan bisa dilawan oleh mesin dan piranti lainnya di dalam proses pendidikan.
Akan tetapi yang menjadi problem adalah bagaimana kita menghasilkan pendidikan yang bisa memenuhi hasrat untuk menyongsong era milenial yang semakin kencang ke depan dengan teknologi informasi dan kekuatan artificial intelligent dimaksud. Saya kira inilah tantangan kita yang tidak sederhana, dan kita harus siap menghadapinya. Sementara di antara kita mungkin belum care terhadap problem besar yang menjadi tantangan perguruan tinggi kita itu.
Ada kekhawatiran yang sangat mendasar tentang semua masalah yang sudah berada di depan mata kita ini. Sekali lagi bahwa kita sebagai ahli dan praktisi pendidikan –dalam kapasitas kita masing-masing—tentulah akan dan diharapkan untuk mengantarkan anak-anak kita, generasi yang akan datang untuk berkarya dalam kerangka menyiapkan generasi emas Indonesia, tahun 2030-2045 yang akan datang. Jika kita berhasil mendidik mereka untuk menghadapi tantangan milenial dengan teknologinya itu, maka peluang mereka untuk berhasil tentu sangat besar, sementara itu jika kita tidak mampu menghasilkan anak-anak hebat yang akan menjadi the winners, maka kita akan gagal di masa yang akan datang. Sungguh dunia pendidikan sangat menentukan terhadap masa depan Indonesia ini.
Di dalam batin saya ada sebuah pertanyaan besar yang rasanya harus dijawab oleh dunia pendidika tinggi, yaitu: sanggupkah kita menghadapi derasnya tekanan teknologi informasi yang sudah berada di pelupuk mata?, apakah dengan kemampuan SDM yang kita miliki sekarang ini, sudahkah kita bersiap untuk bertarung dalam pertempuran global dalam menghadapi lajunya perkembangan artificial intelligent yang sebenarnya ciptaan kita sendiri.
Lagi-lagi saya ingat Jack Ma, yang menyatakan bahwa pada tahun 2030, akan terdapat sebanyak 800 juta pekerjaan yang akan digantikan oleh robot atau mesin, dengan tingkat kecepatan dan ketelitian serta keakuratan di dalam pekerjaan yang tidak akan bisa dilawan oleh manusia super sekalipun. Sungguh inilah yang membuat saya gamang kala kembali ke dunia pendidikan yang memiliki 1001 tantangan.
Saya harus focus pada satu dua persoalan saja untuk menghadapi tantangan pendidikan ini di tahap awal dan setelah itu mungkin ada peluang untuk menghadapinya satu persatu.
Wallahu a’lam bi al shawab.