• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEMBALI DALAM PENGABDIAN DOSEN (2)

KEMBALI DALAM PENGABDIAN DOSEN (2)
Salah satu di antara moment penting bagi Pak Suryadharma Ali sewaktu menjadi Menteri Agama ialah melaksanakan gerak jalan kerukunan umat beragama. Moment ini dilakukan melalui diskusi kecil saya dengan Pak Surya dan Pak Kakanwil Jogykarta, Pak Masykul Hadi, pada awal tahun 2014. Salah satu di antara yang digagas bersama ialah bagaimana menggerakkan umat terutama di daerah untuk membangun semangat kerukunan. Makanya, kemudian dilakukanlah gerak jalan kerukunan umat beragama di seluruh wilayah Indonesia. Mula-mula yang melakukan ialah Kakanwil Kemenag Jawa Tengah, Pak Khoiruddin, lalu berturut hampir setiap akhir pekan dilakukan gerak jalan dimaksud. Tidak hanya dilakukan di daerah tetapi juga di pusat, yang selalu dimulai dari Kantor Lapangan Banteng 3-4 Jakarta. Bahkan pernah menyelenggarakan apel kerukunan umat beragama dengan peserta sebanyak 50.000 orang di Lapangan Monas Jakarta. Hadir pada waktu itu ialah Wakil Presiden RI, Bapak Professor Budiono. Apel akbar ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Amal Bhakti Kemenag. Sebagai seorang Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis) tentu saya mendukung terhadap Gerakan Kerukunan Umat Beragama, sebab memang bernilai sangat strategis. Saya masih ingat ungkapan Pak Surya: “pembangunan bangsa tidak bisa dilaksanakan tanpa persatuan bangsa dan persatuan bangsa tidak akan terjadi jika tidak terdapat kerukunan umat beragama”.
Pada suatu sore, saya datang ke ruang Pak Surya. Bertepatan waktu itu terdapat Menteri Perumahan Rakyat, Pak Djan Farid. Sambil berdiri Pak Surya memberitahu bahwa saya akan dilantik untuk menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kemenag. Kalau tidak salah, hal itu terjadi satu hari sebelum saya dilantik, tanggal 11 April 2014. Maka sambil berdiri itu, saya nyatakan bahwa saya akan lebih banyak bisa membantu Pak Surya dalam jabatan Dirjen. Apa tidak sebaiknya saya tetap dalam jabatan saya saja. Pak Surya menyatakan: “Surat Keputusan Presiden sudah jadi, makanya akan segera saya lantik”. Mungkin tidak ada yang pernah menyangka bahwa saya sebenarnya keberatan ketika mau diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Kemenag.
Tetapi tentu takdir berkata lain, sebab akhirnya saya memang dilantik sebagai Sekjen Kemenag dan jabatan itu berlangsung sampai kemudian Pak Lukman Hakim Saifuddin, diangkat untuk jabatan Menteri Agama pada akhir tahun 2014 dan kemudian tetap dipertahankan pada waktu Pak Lukman menjadi Menteri Agama pada era Pak Jokowi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Ada banyak suka dn duka di dalam menjabat sekjen Kemenag. Maklumlah bahwa Sekjen Kemenag itu dituntut untuk juga memahami konsep—konsep dasar Ilmu Agama. Meskipun tidak ahli betul di dalam ilmu agama, akan tetapi pengetahuan dasar mengenai ilmu agama harus dikuasai. Sebagai alumni IAIN tentu sedikit atau banyak saya cukup memahami banyak hal tentang ilmu keislaman. Tentu berbeda dengan sekjen K/L lainnya, yang memang murni administrasi pemerintahan, maka untuk Sekjen Kemenag diperlukan seperangkat pengetahuan tentang Ilmu administrasi kelembagaan dan juga administrasi yang terkait dengan agama.
Memang tugas pokok dan fungsi Kemenag itu sangat luas. Dari aspek administrasi pemerintahan, pendidikan Islam, dan juga administrasi agama dan kelembagaan agama pada semua agama. Sebagai sekjen Kemenag tentu yang sangat mendasar ialah bagaimana mengkomunikasi dan mengkoordinasikan tupoksi kemenag yang sangat luas tersebut. Untuk administrasi pendidikan Islam dan all of the problem pendidikan Islam tentu saya tahu, sebab saya pernah menjabat sebagai dirjen Pendidikan Islam. Tentang administrasi kelembagaan juga bisa saya kuasai dalam waktu yang relative singkat, namun yang tidak kalah pointing ialah administrasi keagamaan dan kelembagaan keagamaan.

KEMBALI DALAM PENGABDIAN DOSEN (1)

KEMBALI DALAM PENGABDIAN DOSEN (1)
Tidak terasa bahwa telah lama saya berada di Jakarta, yaitu 6 (enam) tahun 8 (delapan) bulan. Semenjak tanggal 17 Januari 2012 sampai tanggal 31 Agustus 2018. Tidak terasa waktu berjalan sedemikian cepat. Sungguh sangat cepat rasanya waktu berjalan. Mungkin karena aktivitas yang sangat padat sehingga tanpa terasa waktu terus berjalan dari hari ke hari dan bulan ke bulan dan tahun ke tahun.
Hari Senin, 3 September 2018, saya menjejakkan kaki ke kampus yang dahulu pernah membesarkan saya. Saya teringat betapa tidak mudah mengembangkan karir di perguruan tinggi, IAIN dan Kini UIN Sunan Ampel. Hari-hari yang panjang pernah saya lalui. Mulai dari pengabdian sebagai Asisten Dosen Pak Drs. Bisri Afandi, MA yang kali itu menjadi dosen dan juga Pembantu Rektor I IAIN Sunan Ampel, sampai kemudian menjadi dosen PNS di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, tahun 1986.
Saya memang dipercaya oleh Pak Bisri –demikian saya memanggil Beliau—untuk menjadi asistennya, dan ketika Beliau mengambil program doctor di IAIN Sunan Kalijaga, Jogyakarta, maka sayalah yang sering diminta untuk menemukan disertasi di berbagai universitas, terutama tentang Ahmad Soorkati, yang menjadi tema disertasi Beliau. Tugas itu bisa saya emban dengan baik, sehingga Beliau bisa meraih doctor dalam bidang pemikiran Islam.
Jalan yang diberikan Allah tentunya sangat indah bagi saya. Sebab semenjak menjadi Calon PNS, saya sudah diamanahi sebagai Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) pada Fakultas Dakwah dan kemudian terus menjadi Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), berlanjut menjadi Sekretaris Koordinatorat Perguruan Tinggi Islam Swasta (Kopertais) se wilayah Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT. Jabatan yang bisa mengantarkan saya untuk bertemu dengan varian pimpinan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS) yang terdiri dari para kyai, ulama dan juga akademisi. Maklum bahwa banyak PTAIS yang didirikan oleh para Kyai di pesantren.
Dari sinilah kemudian jejaring dengan ulama, kyai dan cendekiawan itu terbangun. Dan tentu saya bersyukur atas pilihan Pak Prof. HM. Ridlwan Nasir yang telah memilih saya untuk jabatan ini. Berlanjut kemudian menjadi Pembantu Rentor II, Bidang Administrasi Umum, yang dari sini saya belajar banyak tentang bagaimana mengelola administrasi perguruan tinggi. Suatu hal yang kemudian sangat bermanfaat untuk memahami dunia administrasi khusus pendidikan tinggi maupun administrasi pada umumnya.
Berdasarkan pilihan one man one vote, saya terpilih menjadi rector IAIN Sunan Ampel, dan dilantik oleh Pak Maftuh M. Basuni, Menteri Agama RI, tanggal 8 Oktober 2009. Dan belum genap 1 (satu) periode, akhirnya saya diajak Pak Menteri Agama, Pak Dr.Hc. Suryadharma Ali ke Jakarta untuk menduduki jabatan sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Islam. Dan kemudian dilanjutkan menjadi Sekretaris Jenderal Kemenag. Saat itu, 11 April 2014, saya menempati pos sebagai Sekjen Kemenag hingga 31 Agustus 2018.
Makanya, tanggal 1 September 2018, saya secara resmi kembali ke UIN Sunan Ampel untuk mengabdikan diri sebagai ASN Kemenag yang berfungsi sebagai dosen atau Professor Sosiologi sebagaimana jabatan semula yang saya tinggalkan.
Saya merasa senang bisa kembali sebagai Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel. Bagaimanapun jabatan sebagai Professor merupakan jabatan yang sangat prestisius. Guru besar tentu memanggul tugas mulia untuk mengantarkan anak Indonesia agar siap untuk menghadapi masa depan, khususnya era milenial yang sangat prospektif. Jika kita bisa menghadapinya, maka dipastikan bahwa kita akan keluar sebagai pemenang, tetapi sebaliknya jika kita kalah, maka kita akan menjadi pecundang.
Oleh karena itu, tugas para dosen haruslah memberikan yang terbaik bagi para mahasiswa sebagai calon manusia Indonesia masa depan. Dan tugas itu adalah bagian dari tugas saya sebagai Professor yang sesungguhnya memanggul upaya untuk memperbaiki kualitas manusia Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KEBAHAGIAAN SEORANG PENDIDIK (2)

KEBAHAGIAAN SEORANG PENDIDIK (2)
Menjelang kepulangan saya ke Surabaya, setelah selama 6,5 tahun menjadi Pejabat Tinggi Madya, pada Kemenag RI, maka di rumah dinas –Jalan Indramayu No. 14, Menteng, Jakarta—diselenggarakan acara temu muka untuk melepas kepulangan saya tersebut. Hadir pada acara ini ialah mahasiswa-mahasiswa di masa lalu, dan juga Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Masdar Hilmy, MA, PhD., Dekan Fakultas Dakwah, Dr. Abdul Halim, MA., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Dr. Ah. Ali Arifin, MEI., Pengasuh Ma’had Al Jami’ah, HM. Mujib Adnan, MA., dan Sekretaris Penelitian, Abdul Basith, MPd.
Sungguh merupakan suatu kebahagiaan bahwa acara yang tidak direncanakan dengan seksama tersebut ternyata dihadiri oleh banyak sahabat dalam kapasitasnya masing-masing. Saya sangat menghargai terhadap keberadaan acara ini sebab tidak hanya acara kangen-kangenan tetapi juga acara ritual, sebagaimana Orang NU melakukannya selama ini, yaitu Yasinan dan Tahlilan. Acara yang juga biasa saya lakukan selama ini di sela-sela kesibukan saya sebagai pejabat di Jakarta. Apapun kesibukannya, acara ritual ini tidak boleh dilupakan sama sekali.
Tidak ada acara ceramah atau yang terkait dengan nasehat keagamaan. Saya tidak ingin bahwa acara kangen-kangenan itu dimuati dengan acara keagamaan yang sangat banyak. Oleh karena acara ini juga tidak didesain dengan ketat. Hanya guyonan saja. Sungguh bisa menjadi acara humor dan tawa yang tidak henti-hentinya.
Yang banyak justru selfi dan foto-fotoan. Lalu, mereka membentuk kelompok-kelompok yang tidak didesain sedemikian rupa. Secara alami saja terjadi pengelompokan berdasarkan usia dan angkatan atau persahabatan. Maklumlah bahwa mereka ini memiliki kedekatan yang bisa berbeda-beda. Mereka memang saling mengenal, akan tetapi tentu ada yang lebih atau kurang.
Saya merasakan betapa sebagai seorang guru atau dosen, akan merasakan kebahagiaan di kala para mitranya di masa lalu itu berkumpul dalam momentum yang menggembirakan. Tidak ada yang melebihi di saat mereka pada datang dan saling berceloteh tentang masa lalu dan masa kininya.
Saya memang memiliki hubungan yang demikian baik dengan mitra kerja saya di masa lalu itu. Maklumlah di saat itu, saya sering menginap di kantor atau disebut doktor atau mondok di kantor. Isteri dan anak-anak saya menetap di Tuban, sehingga saya hadir di kantor saat mengajar. Selama 4 (empat) hari saya di kantor. Senin sampai Kamis saya di kantor dan selebihnya berada di Tuban. Di saat malam, biasanya mereka bertemu. Mereka sering datang untuk membelikan makan malam. Lalu, membicarakan banyak hal. Mulai dari mata kuliah sampai persoalan aktivis kemahasiswaan. Maklum di antara mereka kebanyakan ialah aktivis mahasiswa di IAIN kini UIN Sunan Ampel Surabaya.
Saya memang tidak memasuki arena menjadi aktivis di Jakarta. Sejauh yang saya pernah lakukan ialah menjadi aktivis di tingkat korcab, dan bukan sebagai pimpinan puncak. Saya memang lebih banyak berkiprah di organisasi intra universitas. Tepatnya pernah menduduki jabatan Sekretaris Umum Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, lalu berlanjut menjadi Sekretaris Umum Badan Pelaksana Kegiatan Mahasiswa (BPKM) IAIN Sunan Ampel. Pada waktu itu, IAIN Sunan Ampel di Surabaya menjadi pusat dan beberapa Fakultas Lainnya di luar Surabaya menjadi cabang, misalnya IAIN Sunan Ampel di Malang, Tulungagung, Pamekasan, Kediri, Ponorogo, Mataram dan juga Banjarmasin. Jadi wilayah BPKM juga sesuai dengan wilayah-wilayah tersebut.
Kala menjadi dosen itulah saya memiliki kedekatan dengan para mahasiswa terutama para aktivis. Tidak hanya di ruang kuliah saja bertemu tetapi juga di kegiatan pendampingan, tutorial dan juga ngobrol bareng di malam hari. Waktu itu, banyak dosen Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel yang menginap di kantor. Bahkan juga Pak Wakil Dekan I dan berlanjut sebagai Dekan Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, Pak Imam Sayuti Farid, juga menginap di Fakultas. Makanya, hubungan dosen dan mahasiswa dan bahkan dengan pimpinan Fakultas itu sedemikian bersahabat.
Rasanya, kedekatan saya dengan para mahasiswa dan juga para dosen itulah yang kemudian membentuk sikap-sikap saya di kemudian hari. Saya sesungguhnya banyak belajar dari relasi saya dengan mahasiswa dan juga para dosen. Maklumlah di Perguruan Tinggi nyaris relasi antara mahasiswa dengan dosen dan pimpinan fakultas itu tidak terdapat hirarkhi, tidak ada jarak antara satu dengan lainnya. Tentu sangat berbeda dengan dunia birokrasi yang terkadang memang menyisakan jarak atau hirarkhi antara atasan dan bawahan.
Dan tentu yang membuat saya bersyukur ialah hubungan sosial itu tidak terputus hingga sekarang. Sangat banyak mahasiswa saya yang hingga sekarang tetap menjalin komunikasi dengan baik dengan saya dan bahkan juga dengan keluarga saya. Sungguh relasi yang terjalin berdasarkan rasa hubungan guru-murid namun tidak menyisakan ruang perbatasan di antara kita.
Sesungguhnya yang kita harapkan di dalam kehidupan ini ialah manakala relasi sosial yang kita bangun itu terus berlangsung dengan baik dan tidak menyisakan masalah yang menyebabkan terkoyaknya relasi sosial dimaksud. Saya merasakan bahwa hubungan saya dengan para mahasiswa saya semenjak dahulu hingga sekarang tetap berada di dalam konteks saling memahami dalam kepentingan yang sangat wajar.
Melihat kenyataan ini, maka sangatlah wajar jika saya menyatakan bahwa kebahagiaan seorang guru atau dosen ialah jika melihat mahasiswanya masih memiliki kedekatan hubungan emosional dan bukan hanya relasi intelektual. Dengan tetap mengedepankan hubungan emosional di dalam relasi intelektual tersebut, maka hubungan sosial akan menjadi langgeng tanpa rekayasa.
Inilah yang saya lihat dalam acara farewell party yang terselenggara di malam itu. Terima kasih anak-anakku, mahasiswaku dan juga kolegaku. Semoga relasi sosial berbasis hati ini akan terus berlangsung sebagai bukti bahwa kita adalah hamba Allah yang memang diciptakan untuk kepentingan memiliki hubungan sosial yang baik.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KEBAHAGIAAN SEORANG PENDIDIK (1)

KEBAHAGIAAN SEORANG PENDIDIK (1)
Adakah yang lebih membahagiakan bagi seorang guru atau dosen melebihi kebahagiaannya ketika para mitra kerjanya di masa lalu, anak-anaknya, yang sudah lama tidak bertemu kemudian bertemu lagi dalam suatu moment untuk saling bertatap muka, bersalaman bahkan tersenyum dan tertawa bersama. Inilah yang saya rasakan di saat para mahasiswa saya mengunjungi rumah saya –tepatnya rumah dinas Sekjen Kemenag RI—di Jalan Indramayu No. 14, Menteng, Jakarta Pusat.
Malam ini, Kamis, 30/08/2018, memang sengaja dilakukan pertemuan kangen-kangenan untuk saling bertemu dan mengenang masa lalu. Masa di saat kita semua berada di dalam ruang kelas atau di luar ruang kelas, di dalam organisasi atau di ruang diskusi atau seminar dalam kerangka untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan dan menimbanya dalam proses belajar mengajar.
Saya sungguh sangat terkesan melihat mereka datang ke rumah untuk saling bernostalgia. Mereka memang datang dari para sahabat yang sekarang berada di Jakarta setelah mereka menyelesaikan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel) pada tahun 1990-an atau 2000-an. Mereka memang tergabung di dalam Ikatan Keluarga Alumi (IKA) UIN Sunan Ampel, untuk wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi.
Pasca menyelesaikan pendidikannya di Surabaya, maka ada di antara mereka yang memang asli Jakarta dan ada yang menjadi migran di Jakarta. Ada yang menjadi pengusaha atau menjadi ASN dan juga ada yang berkerja di sector swasta atau bekerja mandiri. Macam-macam latar belakang pekerjaannya sekarang, meskipun latar belakang pendidikan adalah Sarjana Agama (SAg) dan juga ada di antaranya yang Magister Agama (MAg). Bahkan juga ada yang sekarang sedang mengambil program master atau doctor di dalam dan luar negeri.
Salah satu kebahagiaan seorang pendidik adalah mendengar cerita dari anak-anaknya, mitra kerja di masa lalu, yang telah menapaki kehidupan dengan variasinya. Meskipun mereka alumni IAIN akan tetapi ternyata bisa bekerja dengan berbagai macam varian dan tentu dengan tingkat keberhasilan yang beraneka ragam.
Saya sangat menyukai guyonan-guyonannya yang masih bercorak Jawa Timuran. Panggilan Cak atau Mas tentu mewarnai upacara temu kangen ini. Dengan gaya khasnya masing-masing mereka saling berceloteh di masa lalu. Ada yang mentertawakan gaya pacarannya di masa lalu, ada yang bercerita mengenai dunia mereka sewaktu belajar, dan juga cerita tentang riwayat sekolahnya dan sebagainya. Semuanya menandai akan ketersambungan historis masa lalu dengan sekarang yang tidak pernah terhenti.
Acara ini dikoordinasi oleh Ainun Hadi, asli Purwodadi, yang menjalani usaha import barang-barang pabrikan dari Korea Selatan di Jakarta dan diikuti oleh tidak kurang dari 50-an orang. Saya tentu tidak hafal satu persatu di antara mereka. Salah satu kekurangan saya sekarang ialah mengingat nama. Tetapi wajah mereka tentu sangat saya kenal. Apalagi mereka adalah aktivis organisasi di masa lalu. Apapun organisasinya.
Ada yang masih saya kenal karena menjadi bimbingan saya di masa lalu. Ada di antara mereka yang saya kenal betul bahkan judul skripsinya. Ada yang saya kenal betul karena di masa lalu sering mengantarkan saya jika mencari makan atau ke toko buku dan bahkan juga ada yang saya kenal karena mengantarkan saya ke terminal Bus di Jembatan Merah. Saya masih mengenal dengan baik dan bahkan juga gayanya pada waktu itu.
Bolehlah saya bercerita sedikit tentang mereka. Tentu tidak semuanya. Misalnya Inun. Ada 2 (dua) Inun. Lelaki dan perempuan. Ada Inun dari Bawean yang sangat terbuka dan rasanya tidak berubah sampai sekarang. Tertawanya lepas dan omongannya bisa membuat semua tertawa. Begitu bertemu dengan Cak Basith, langsung nerocos, “Cak Sampeyan kok wis tuwek”. Kita lalu saling menggojlok dan akhirnya menyatakan: “Kalau ada suami, saya saya alim”. Siapa yang tidak tertawa mendengarnya.
Beda dengan Ainun, cowok yang berasal dari Purwodadi. Dia ini memiliki kemampuan memijat yang sangat baik. Sebenarnya bisa menjadi profesi. Saya sangat sering dipijit di saat dia datang ke rumah. Saya merasakan sentuhan tangannya memiliki aura penyembuhan. Meskipun begitu dia juga humoris. Dia yang paling sering datang ke rumah. Lalu ada Tika, yang paling suka selfie. Saya mengenal betul tema penelitiannya tentang pedagang buah di Pasar Wonokromo. Baihaqi, yang dipanggil Beq, adalah sisi lain. Logat Maduranya hingga hari ini tidak pernah luntur. Dia sudah lama di Surabaya dan kemudian di Jakarta, akan tetapi kekentalan bahasanya sangat menggambarkan asal-usulnya. Dia ini menyusun skripsi di rumah saya di Tuban.
Saya juga masih mengenal Aini, yang pernah saya bimbing skripsinya. Dia meneliti tentang Shalawat Wahidiyah, dan menghasilkan skripsi yang baik. Skripsinya masih saya simpan sampai hari ini. Dia tetap seperti yang dulu pendiam dan tidak banyak bicara. Saya juga mengenal dengan baik wajah-wajah mereka. Ada juga yang bertemu karena sesama aktivis organisasi. Maklum bahwa yang datang adalah pengurus IKA UINSA, sehingga tentu berlatar belakang dari berbagai Fakultas. Yang jelas bahwa mereka adalah mitra kerja yang tidak akan terlupakan di dalam kehidupan.
Di antara mereka yang hadir malam itu ialah: Margareth Alyatul Maimunah, Misbahul Munir, Fauzan Amin, Desembriar Rosyadi, Adel, Isna, Alihatul Husna, Amel, Abdul Haris, Salim dan lain-lain. Saya sungguh tidak sebutkan semuanya di dalam tulisan ringkas ini. Makanya, jika ada yang tidak disebutkan tentu di lain kesempatan masih ada peluang untuk menuliskannya.
Kebahagiaan itu sesungguhnya kita yang menciptakannya. Malam itu rasanya seperti menguntai kembali tentang apa yang telah kita lakukan selama ini dan apa pula yang sudah tersaji sebagai rona-rona kehidupan kita semua. Sebenarnya, silaturahmi itu tidak hanya bertemunya fisik dengan fisik, akan tetapi juga bertemunya aspek emosional, dan sosial serta religiusitas kita semua. Bukankah acara malam itu tidak hanya sekedar bertemu tetapi juga menjadi arena upacara ritual: Yasinan dan Tahlilan.
Dan saya suka bahwa meskipun mereka ini sudah hidup di hiruk pikuk kota Jakarta, akan tetapi mereka tidak melupakan tradisi ritual yang menjadi perekat spiritualitas di antara kita. Kita tentu berkeyakinan bahwa dengan terus menjadikan tradisi ritual itu sebagai bagian dari hidup kita, maka kita akan menemui kearifan yang lebih baik.
Wallahu a’lam bi al shawab.

ISLAM NUSANTARA; BUKAN ISLAM INDONESIA VERSUS ARAB (3)

ISLAM NUSANTARA; BUKAN ISLAM INDONESIA VERSUS ARAB (3)
Lalu apa yang sesungguhnya disebut sebagai Islam Nusantara itu? Islam Nusantara hakikatnya ialah Islam juga yang memiliki kesamaan dengan Islam di tempat lain dalam ajaran yang bercorak universal akan tetapi dalam corak pengamalannya yang sehari-hari maka Islam tersebut berkolaborasi dengan tradisi di mana Islam tersebut disebarkan dan diamalkan.
Di dalam buku saya, “Islam Nusantara Berkemajuan: Tantangan dan Upaya Moderasi Agama” saya jelaskan bahwa “Islam Nusantara Berkemajuan bukan merupakan varian Islam baru, tetapi juga Islam yang sudah mengakar dalam tradisi Islam di Timur Tengah dalam kolaborasinya dengan cultural space masyarakat Nusantara. Lalu membentuk corak Islam yang khas.”
Yang penting bagi kita ialah memahami bahwa setiap ekspressi keagamaan itu selalu terkait dengan di mana seseorang berada. Jika ia di Timur Tengah, maka corak Islam yang dilakukan tentu saja relevan dengan tempat di mana dia berada. Bahkan di antara negara Timur Tengah juga memiliki kesamaan dan juga perbedaan. Hal ini tentu dipengaruhi oleh berbagai factor, bahkan juga factor politik. Di Iran tentu memiliki corak keberagamaan yang berbeda dengan di Arab Saudi. Hal ini tentu karena factor politik yang menyeruak di dalam kehidupan bernegara. Di Iran menganggap bahwa negara itu dibentuk di atas dasar konsepsi “theodemocratic”, artinya bahwa pimpinan negara dipilih, sedangkan di Arab Saudi karena tradisinya bercorak monarkhi, maka raja itu terkait dengan keturunan. Mana yang benar, inilah urusan duniawi. Antum a’lamu bi’umuri dunyakum”.
Di Arab Saudi orang berhari raya dalam waktu yang sama. Tetapi di Indonesia orang bisa berhari raya dalam waktu yang berbeda. Di Indonesia, orang melakukan shalat dengan berkopyah dan bersarung atau memakai celana, tetapi di Arab Saudi, orang shalat dengan gamis dan pakaian khas Arab. Jadi ada aspek universalnya dan ada aspek partikularnya. Ada yang bercorak Islam sebagai pesan dasarnya, dan ada yang “tambahan” sesuai dengan cultural sphere di mana Islam tersebut diamalkan. Jadi, memang tidak ada cara menafsirkan Islam yang monolitik, sebab memang di kala Islam itu sudah sampai di tangan manusia, maka dia akan ditafsirkan sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.
Saya tidak ingin menggunakan dalil sosiologis untuk memberikan gambaran tentang penafsiran Islam itu. Akan tetapi dengan dalil yang sederhana saja kiranya akan dapat diketahui bahwa level pemahaman, pengamalan dan ekspressi berislam itu sangatlah variatif. Saya kira jika ada orang yang mengingkari terhadap hal ini, maka dia bisa disebut sebagai orang yang a-historis. Orang yang mengingkari sejarahnya sendiri. Dan inilah yang kebanyakan dipikirkan oleh mereka yang bisa dilabel sebagai “Islam Ideologis” atau orang yang berkeinginan memperjuangkan Islam sebagai dasar negara atau negara khilafah.
Kaum ideologis Islam memang selalu berpandangan bahwa Islam yang dikehendakinya ialah Islam yang sebagaimana ditafsirkannya. Tidak ada tafsir atas teks yang dianggap benar kecuali tafsirnya sendiri. Itulah sebabnya yang berbeda pasti dianggap salah dan hanya dia dan kelompoknya saja yang benar. Semua yang tidak terdapat di dalam teks sesuai dengan tafsirnya bisa dianggap sebagai bidh’ah. Yasinan, tahlilan, dzibaan, manaqiban dan sebagainya dianggap sebagai pengamalan beragama yang salah. Padahal itu merupakan ekspressi keagamaan yang lebih dekat dengan makna budaya dan agama. Mereka bertemu dan membaca yasin, atau tahlil atau dzibaan. Di Arab Saudi tentu tidak ada tradisi-tradisi seperti ini. Inilah yang kiranya disebut sebagai ekpressi Islam di dalam lokus wilayah Nusantara atau lebih lazim disebut sebagai Islam Nusantara.
Saya lebih melihat bahwa perdebatan Islam Nusantara itu bukanlah perdebatan tentang Islam itu sendiri akan tetapi merupakan perdebatan untuk “menguasai” wacana dan kemudian berimplikasi “politik”. Harus dipahami bahwa perdebatan ini tentu muncul terutama pasca gerakan pilkada DKI yang memiliki tingkat hiruk pikuk yang sedemikian kuat. Di dalam banyak hal kemudian menggunakan basis ajaran agama atau sentiment keagamaan untuk memperkuatnya.
Mereka yang menolak terhadap Islam Nusantara hakikatnya ialah mereka yang berpandangan “Islam Politik”. Artinya bahwa negara Indonesia ke depan haruslah menjadi negara Khilafah, atau sekurang-kurangnya ialah negara syariah. Mereka berkeinginan agar praktik politik di Indonesia ialah dalam coraknya untuk menata negara dengan system khilafah yang dianggapnya sebagai kebenaran.
Jadi, sesungguhnya perdebatan Islam Nusantara itu hanyalah tampilan luar saja dan bukan esensinya. Yang sesungguhnya ingin diraih ialah bagaimana kaum penolak Islam Nusantara itu memiliki kekuasaan yang lebih besar untuk tujuan-tujuan politik yang diinginkannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.