• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ISLAM PESISIRAN SEBAGAI DISTINGSI PENDIDIKAN TINGGI

ISLAM PESISIRAN SEBAGAI DISTINGSI PENDIDIKAN TINGGI
Di ruang theatre IAIN Kudus, 27/09/2018 diselenggarakan diskusi yang cukup menarik. Acara ini dihadiri oleh Rektor IAIN Kudus, Dr. Mundzakir, Direktur PPS, Dr. Ihsan, Prof. Muslim A. Kadir, para dosen dan mahasiswa PPs IAIN Kudus. Saya dan Prof. Muslim A. Kadir didapuk sebagai nara sumber. Saya tentu mengapresiasi terhadap kegiatan ini, karena temanya yang cukup menarik ialah untuk menjawab keinginan apakah yang kiranya bisa menjadi distingsi IAIN Kudus dan bagaimana kekuatan kelembagaan untuk mencapai hal tersebut.
Saya menyampaikan 2 (dua) hal terkait dengan tema seminar ini. Pertama, tentang Islam Pesisiran. Ada 7 proposisi yang saya sampaikan di dalam forum ini, yaitu:
1) tidak mungkin Islam di Indonesia, yang juga dilabel sebagai Islam Nusantara atau Islam berkemajuan itu terlepas dari sumber otoritas Islam, yaitu Islam Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Sumber ajaran Islam adalah Timur Al Qur’an dan Hadits yang itu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw di Aran Saudi.
2) tidak bisa dipungkiri bahwa sumber ilmu keislaman itu pastilah Islam Timur Tengah. Transmisi atau jaringan keilmuan Islam di mana pun termasuk Nusantara atau Indonesia adalah berasal dari Timur Tengah. Jadi hubungan antara keilmuaan di Nusantara adalah sangat kuat dengan Timur Tengah. Hampir seluruh ulama bahkan para wali memiliki jaringan keulamaan dengan dunia Timur Tengah.
3) Penyebar Islam generasi pertama dan berikutnya adalah para habaib. Jadi juga tidak mungkin Islam Nusantara itu akan meminggirkan para ulama yang mereka ini adalah para habaib. Orang Indonesia itu sangat suka pergi ziarah ke makam-makam wali, artinya mereka menziarahi para habaib.
4) Islam datang ke suatu wilayah pastilah sudah terdapat budaya local yang sangat kuat. Majapahit kala Islam datang ke Jawa tentulah sudah merupakan kerajaan yang sangat kuat. Bagaimana Majapahit bisa memiliki wilayah sampai ke daerah Siam bahkan kepulauan Sulu jika tidak memiliki armada laut yang sangat kuat. Lalu, dari sisi budaya juga sudah sangat kuat. Makanya, ketika Islam datang maka mau tidak mau tentu harus berdialog dengan budaya local tersebut.
Di sini ada beberapa konsep, ada yang menyebut dengan sinkretisme sebagaimana disebut Geertz dan ada yang disebut dengan Islam akulturatif. Kita tidak setuju dengan konsep sinkretisme itu, sebab lalu terjadi proses percampuran yang sama sekali tidak ada Islamnya. Maka kita lebih cenderung dengan konsep Islam akulturatif, sebab memberikan realitas bahwa dialog itu justru menghasilkan Islam yang bercorak khas. Misalnya, ada tahlilan, yasinan, sarungan, kopiyahan, pakaian koko dan sebagainya. Semua ini tidak ada di Arab Saudi. Di sana tidak ada yasinan dan tahlilan yang dilakukan oleh Muslimat atau Fatayat. Perempuan di sana sesuai dengan tradisi Arab tidak bisa keluar rumah. Inilah yang disebut sebagai kekhasan Islam berdasarkan lokalitasnya.
5) Di dalam buku saya “Islam Pesisir” terdapat ilustrasi bagaimana Wong Abangan menjadi Islam taat karena memiliki cultural sphere dengan Wong NU. Di kuburan dan sumur mereka bertemu. Tradisi nyadran yang biasanya berisi hal-hal yang bertentangan dengan Islam, lambat tetapi pasti dijadikan sebagai tradisi Islam. Yang semula adalah tayuban atau sindiran, lalu menjadi acara tahlilan dan yasinan. Dari Tayuban menjadi thayiban.
6) Islamisasi efektif melalui peran negara. Dengan berdirinya Negara Islam Demak, maka Islamisasi menjadi semakin efektif, dan demikian seterusnya. Dewasa ini relasi antara negara dan Islam sudah sedemikian kuat. Tidak ada lagi sikap antagonistic apalagi konflik. Islam menjadi pilar negara yang sangat mendasar. Makanya, menjadi orang Indonesia hakikatnya menjadi orang Islam dan menjadi Orang Islam hakikatnya juga menjadi Orang Indonesia.
7) di antara yang juga hebat ialah peran para tokoh agama untuk mendirikan pesantren, madrasah dan lembaga pendidikan keislaman lainnya. Semenjak para wali, maka pesantren telah menjadi lembaga pendidikan agama yang luar biasa. Pesentren telah menjadi lembaga andal dalam mencetak para ulama sebagai penerus pengembangan Islam di Indonesia.
Kedua, PTKIN sedang menghadapi tantangan yang luar biasa, di antaranya ialah Era Industri 4.0. Era digital atau Era Teknologi Informasi. Sekarang sedang semarak penggunaan TI untuk kepentingan industry dan perdagangan. Makanya, para mahasiswa harus dibekali dengan kemampuan teknologi yang baik. Manfaatkan kemampuan TI di kalangan mahasiswa sebagai generasi milenial untuk mengembangan talenta TI-nya. Oleh karena itu, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk membangun distingsi IAIN Kudus, yaitu:
1) menjadi pusat literasi media. Jadikan IAIN ini sebagai sentra pembelajaran dan pemahaman tentang TI sebagai piranti untuk cerdas bermedia dan juga peluang usaha.
2) Jadikan IAIN Kudus sebagai pusat Corner Islam Pesisiran. Apa saja yang terkait dengan pesisir harus ada di sini. Jadikan IAIN kita ini menjadi tempat bagi siapa saja yang ingin mengkaji tentang Pesisir.
3) Jadikan IAIN Kudus sebagai pusat pendampaingan bagi warga pesisiran. Jika kemiskinan disumbang oleh sejumlah warga pesisiran, maka saatnya IAIN Kudus untuk memberikan pendampingan bagaimana agar mereka sadar akan posisi dirinya di tengah kehidupan ekonomi yang terus menggeliat.
4) Jadikan IAIN Kudus, sebagai wahana untuk kerja sama lintas sektoral. Harus disadari bahwa sekarang ini kerja sama memiliki kekuatan utama dalam merumuskan dan melaksanakan program. Ingin saya ingatkan bahwa Kemenag memiliki kerja sama dengan BATAN tentang teknologi nuklir untuk kesejahteraan. Makanya, diperlukan kerja sama dengan berbagi pihak, misalnya Kementerian Perikanan, Kementerian Koperasi, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pariwisata, BAZNAZ, CSR Perusahaan dan lainnya untuk mengembangan program.
Dengan demikian, ke depan harus dilakukan berbagai upaya untuk membahas secara mendasar tentang “Masyarakat Pesisiran sebagai Distingsi IAIN Kudus” dan kemudian ditindaklanjuti dengan kerjasama khususnya untuk perumusan dan pengembangan program khusus ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KONTRIBUSI ISLAM PESISIRAN

KONTRIBUSI ISLAM PESISIRAN DALAM PEMBENTUKAN
TRADISI ISLAM NUSANTARA
Oleh: Prof. Dr. H. Nur Syam, MSi
(Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya)
(Makalah disampaikan pada Seminar Nasional di IAIN Kudus, 27/09/2018)

PENDAHULUAN
Secara teoretik tidak bisa dibantah bahwa Islam mula pertama berkembang di wilayah pesisir. Meskipun teori Islamisasi Nusantara tidak seluruhnya disebabkan oleh factor perdagangan, tetapi juga pendakwah sufi dan lainnya, akan tetapi secara umum bisa dinyatakan bahwa Islam pertama kali memang berkembang di wilayah pesisir dan kemudian terus berkembang di wilayah pedalaman.
Pada abad ke 14 sudah terdapat komunitas muslim di wilayah pesisiran Jawa, yang memang memperoleh peluang dari para pejabat negara kala itu untuk menjalankan perdagangan berbasis pada pertukaran barang dari luar negeri ke Nusantara dan juga produk barang dari Nusantara yang dibawa ke luar negeri. Para pedagang dari Timur Tengah dan juga India serta Cina telah hadir dalam percaturan perdagangan di Nusantara, khususnya di Jawa.
Pusat-pusat perdagangan itu memang di wilayah pesisiran dengan pelabuhan yang besar, misalnya Surabaya, Gresik dan Tuban, serta beberapa di pusat komunitas Muslim di pesisiran. Semuanya menggambarkan bahwa Islam pesisiran telah menjalankan dakwah dan penyiaran Islam melalui berbagai macam proses dan hasilnya. Munculnya pesantren di Surabaya—Pesantren Ampel—dan juga pesantren di Giri Gresik memberikan indikasi bahwa daerah pesisir memang menjadi pusat penyebaran Islam dan pendidikan Islam di kala itu.

BASIS ISLAM SAMA
Ada 7 (tujuh) hal yang ingin saya tuliskan terkait dengan bagaimana upaya komunitas Islam Pesisiran dalam mengembangkan Islam di wilayah Nusantara, lalu bagaimana Islam pesisiran berkontribusi dalam pembentukan budaya Islam Nusantara yang sungguh mengagumkan.
Pertama, baik teori Arab maupun teori India—Gujarat—telah menghasilkan sumber daya da’i yang luar biasa. Islam di Nusantara tentu tidak bisa dipisahkan dari para wali yang mengembangkan Islam. Para wali inilah yang sesungguhnya memiliki kontribusi yang sangat positif di dalam pengembangan Islam. Mereka bukan hanya mengajar di tempat tinggalnya, akan tetapi berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Misalnya, Sunan Giri yang memiliki jejak sejarah di Ternate, lalu juga di Nusantara Barat dan Bali. Islamisasi di Palu, misalnya dilakukan oleh wali dari Sumatera. Misalnya Syekh Jumadil Kubra—kakeknya Sunan Ampel—adalah seorang wali yang bisa saja menetap di Trowulan Mojokerto akan tetapi juga memiliki jejak di Sulawesi Selatan. Lalu Sunan Bonang memiliki jejak sejarah di Madura dan juga di Bawean, Gresik. Sunan Bonang menetap di Tuban, tetapi beliau adalah da’i keliling dari satu wilayah ke wilayah lain.
Kedua, sumber transmisi keilmuan semenjak dahulu adalah Islam Timur Tengah. Hampir semua para wali memiliki jejak keilmuan dari Mekkah. Sebagaimana diketahui bahwa sumber intelektual para wali ialah ajaran Islam yang berada di Timur Tengah. Nyaris semua wali adalah mereka yang secara intelektual memiliki jaringan dengan ulama-ulama Timur Tengah. Itulah sebabnya relasi antara Arab Saudi dengan Indonesia bukan hanya sebagaimana relasi antara Indonesia dengan negara lainnya, akan tetapi berbasis pada kesamaan teologis, keilmuan dan bahkan ukhuwah Islamiyah. Jadi, sesungguhnya Islam Nusantara atau Islam Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan Islam Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Tidak ada keraguan bahwa para penyebar Islam dari dulu hingga sekarang memiliki kedekatan psihologis dengan dunia Arab.
Islam Sunni yang menjadi pandangan atau tafsir keislaman yang dimiliki oleh Islam Nusantara atau Islam Indonesia dengan kebanyakan Islam di Timur Tengah tentu juga menjadi bagian tidak terpisahkan mengenai “kesamaan” pemahaman atau tafsir keagamaan. Jika ada yang berbeda hal itu bukan hal prinsip di dalam Islam tetapi hanyalah pada dimensi cabang-cabangnya yang disebabkan oleh tafsir agama. Al Qur’an dan Al Hadits memang merupakan sumber utama di dalam Islam dan hal itu tidak akan berubah. Hanya memang harus diakui bahwa ada banyak tafsir tentang Al Qur’an atau Al hadits, sehingga tentu akan terdapat ragam penafsiran. Dengan bahasa yangs sedikit “nyentrik” bisa dinyatakan “Satu Kitab Suci, Seribu Tafsir”. Sama-sama kaum Sunni tetapi memiliki rujukan tertentu atas paham keagamaannya. Apalagi dengan kelompok lain di luar sunni, tentu ada perbedaan yang nyata, namun selama dimensi tauhid dan ritual dasarnya sama, maka hal itu adalah kekayaan tafsir atas ajaran agama.
Ketiga, tidak bisa dipungkiri bahwa para penyebar Islam generasi awal adalah para habaib yang memang merekalah yang memperoleh transmisi ajaran Islam dari sumber otentiknya. Makanya, penghormatan terhadap para habaib itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan keagamaan di Nusantara ini. Berislam yang benar ialah dengan menghargai warisan leluhurnya–ajaran Islam yang ditinggalkan oleh para Habaib—dan mengamalkannya sesuai dengan konteks zamannya. Kita semua juga harus meyakini bahwa ada perubahan di dalam kehidupan ini, misalnya jika di masa lalu orang pergi haji dengan onta, maka sekarang tentu dengan pesawat terbang dan mobil. Jadi, jangan memaksakan untuk mengamalkan agama seperti 14 abad yang lalu, terutama yang terkait dengan instrument keagamaan itu. Ada yang tidak boleh berubah semenjak Islam pertama hadir di dunia ini dan ada yang dapat berubah karena perubahan zaman karena memang memungkinkan untuk perubahan tersebut. Dimensi ketuhanan, ritual yang tidak boleh berubah dan ajaran mendasar di dalam Islam tentu tidak boleh berubah, akan tetapi dimensi instrumental tentu boleh berubah. Ada sesuatu yang continuity dan ada yang change.
Keempat, Islam datang di suatu tempat pastilah bukan berada di lahan kosong yang sama sekali belum ada tradisi dan budayanya. Setiap daerah yang didatangi oleh para pendakwah Islam, selalu saja sudah merupakan daerah yang secara kebudayaan sudah maju. Islam datang ke Nusantara ketika system pemerintahan, system ekonomi, system sosial dan system budayanya sudah maju. Tidak ada yang meragukan kehebatan kerajaan Majapahit yang memiliki wilayah seluas wilayah Nusantara sekarang. Tentu saja, system ekonomi, sosial, budaya dan politiknya sudah maju. Islam datang pada saat yang tepat ketika system-sistem tersebut gagal menyejahterakan masyarakat dan system tersebut goyah karena peperangan antar kerajaan di dalamnya. Di saat seperti ini Islam datang dan menawarkan system baru yang egaliter, berkeadilan dan berkesejahteraan.
Di Nusantara telah terdapat berbagai macam tradisi dan budaya. Baik yang terkait dengan life style atau keyakinannya. Semuanya tentu semuanya saling berdialog lalu saling memberi dan menerima. Makanya, ada yang menyebutnya dengan konsep sinkretik, akulturatif dan juga kolaboratif. Semuanya menggambarkan tentang bagaimana Islam itu bertemu dengan budaya local yang sudah mapan di wilayah kebudayaannya.
Kelima, dalam perjumpaan dengan budaya local tersebut, terdapat hal yang unik. Nyaris semua tradisi local kemudian bisa diintegrasikan dengan konsepsi Islam. Di wilayah pesisiran dan saya kira juga di wilayah pedalaman, sudah terdapat budaya local yang semula sangat jauh dari konsepsi Islam. Misalnya tradisi manganan di kuburan, tradisi nyadran di sumur dan tradisi lainnya yang senafas dengan tindakan animisme dan dinamisme lainnya. Namun dengan caranya sendiri para pendakwah dan pemuka agama kemudian bisa mengintegrasikan tradisi local tersebut dengan nafas Islami. Di wilayah pesisir Tuban Jawa Timur, misalnya terdapat penggolongan Wong NU, Wong Muhammadiyah dan Wong Abangan. Wong NU dan Wong Abangan memiliki medan budaya yang sama. Cultural sphere itu ialah kuburan atau makam dan sumur. Ada banyak sumur yang berdasarkan keyakinan local dibikin oleh para Wali. Tempat ini dianggap sacral, akan tetapi dijadikan sebagai tempat untuk nyadran yang memiliki konotasi budaya animisme atau dinamisme. Ketika Wong NU dan Abangan bertemu di ruang budaya seperti ini, maka secara pelan tetapi pasti tradisi nyadran atau manganan tersebut dapat diubah dengan memasukkan ajaran Islam di dalamnya. Yang semula Tayuban atau Sindiran lalu diganti dengan Yasinan dan Tahlilan. Cultural sphere tetap, akan tetapi isi atau substansi berubah menjadi lebih Islami. Dari Tayuban menjadi Thayiban.
Keenam, Lalu dari system dakwah yang bercorak individual menjadi bercorak negara, yaitu dengan munculnya kerajaan Demak, dengan system pemerintahan monarkhi yang didukung oleh para waliyullah di tanah Jawa. Semua berjalan sesuai dengan scenario yang sudah ditetapkan, yaitu negara sebagai instrument untuk mengembangkan agama Islam. Tentu ada riak-rial kecil atau benturan antara kerajaan lama dengan yang baru, tetapi sejauh yang dicatat di dalam sejarah tentu tidak terdapat peperangan besar di dalam proses menjadikan negara sebagai system penguatan Islam di dalamnya.
Di dalam perkembangan berikutnya, relasi antara Islam dan negara mengalami pasang surut. Ada kalanya sangat dekat dan ada kalanya menjauh. Nuansa konfliktual tentu saja terjadi, misalnya di seputar tahun 1965. Akan tetapi pasca itu, maka relasi antara Islam dan negara semakin kondusif. Meskipun diwarnai dengan religious prejudice di masa lalu, akan tetapi dewasa ini kita melihat bahwa relasi antara Islam dan negara sudah semakin baik dan nyaris tidak bisa dipisahkan. Meskipun bukan relasi yang integrated akan tetapi berada di dalam konteks simbiosis mutualistik yang sangat mendasar. Dewasa ini hubungan antara negara dan Islam sangat menentukan terhadap bagaimana masyarakat bisa disejahterakan.
Ketujuh, salah satu kontribusi terbesar bagi tokoh-tokoh Islam baik di masa lalu maupun sekarang ialah melalui jalur pendidikan. Dunia pendidikan Islam sudah bukan lagi sebagai pendidikan pinggiran tetapi sudah memasuki wilayah tengah. Pendidikan pesantren, pendidikan madrasah dan pendidikan nonformal lain yang berciri khas keislaman sudah menjadi daya tarik yang kuat bagi masyarakat. Slogan “pendidikan Islam lebih baik dan lebih baik pendidikan Islam” atau yang lain “Pendidikan madrasah lebih baik dan lebih baik madrasah” sudah bukan lagi slogan tanpa makna akan tetapi sudah menjadi realitas.

PENUTUP
Sesungguhnya Islam itu satu dan tidak ada Islam dalam ajaran yang berbeda. Islam itu sumbernya adalah Al Qur’an, Al Hadits dan pendapat para ulama. Jika yang pertama dan kedua itu sudah final, artinya tidak ada perubahan-perubahan dari keduanya. Namun demikian, dalam pendapat para ulama akan sangat tergantung pada zamannya sesuai dengan problem dan tantangan masyarakat di era sekarang. Oleh karena itu, di kala pemahaman masyarakat berkembang tentu juga mengharuskan adanya penafsiran-penafsiran baru yang relevan dengan dunia kekinian. Akan tetapi satu hal yang pasti bahwa Islam dapat berkembang di masyarakat tentu disebabkan oleh keberadaan para tokoh dan berbagai upaya yang dilakukan, baik dakwah maupun pendidikan.
Dan semua ini, saya kira dimulai dari kontribusi kaum muslim pesisiran yang semenjak awal telah memberikan smbangan nyata bagi Islamisasi di Nusantara. Jadi, saya rasa sumbangan terbesar bagi dunia pesisiran terhadap Islamisasi Nusantara ialah karena kecerdasan dan kearifannya dalam menyikapi terhadap dunia sosial, budaya, politik dan ekonomi di masa lalu, dan berimbas sampai sekarang.
Wallahu a’lam bi al shawab.

NUANSA HANGAT DALAM PERSIAPAN PILPRES (4)

NUANSA HANGAT DALAM PERSIAPAN PILPRES (4)
Secara teoretik, bahwa perilaku pilihan ditentukan oleh sejumlah factor, dan di dalam perilaku politik maka perilaku tersebut dipengaruhi oleh factor penguasaan sumber daya ekonomi, sumber daya manusia, sumber daya lingkungan dan penguasaan masyarakat secara umum.
Dalam konteks SDM, maka melalui kekuasaan maka akan dapat diperoleh penguasaan SDM yang mendukung dan dapat digunakan untuk semakin memperkuat basis penguasaan dimaksud. Dengan berbagai cara, apakah melalui coersi atau hegemoni, maka secara lambat tetapi pasti akan memunculkan “ketundukan” terhadap penguasa. Mereka akan dapat didayagunakan untuk memperbesar kekuasaan. Semakin banyak dukungan terhadap penguasa, maka akan semakin besar peluang untuk memperkuat kekuasaan tersebut.
Dari konteks ekonomi, maka kekuasaan merupakan asset ekonomi yang luar biasa. Setiap kekuasaan pada ujungnya akan bersentuhan dengan dimensi ekonomi. Dalam dunia ekonomi politik, maka konsepsinya ialah “who gets what in what means and how much”. Jadi kekuasaan bertemali dengan besaran asset yang diperoleh. Inilah sebabnya terdapat asumsi “power tends to corrupt”. Kekuasaan merupakan ladang ekonomi. Sebagai contoh, berdirinya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), pada dasarnya ialah keinginan untuk menguasai ladang minyak di sana untuk mengukuhkan kekuasaan. Jadi bukan untuk kepentingan Islam dan masyarakat Islam akan tetapi untuk menguasai ekonomi perminyakan.
Sesungguhnya kekuasaan merupakan sarana yang efektif untuk mendulang banyak hal sehingga kekuasaan seperti sari madu yang banyak menyedot lebah dan semut dan bahkan juga makhluk lain untuk mengisapnya dan menguasainya. Bukankah ada pepatah yang menyatakan “ada gula ada semut”. Makanya, kekuasaan mengandung kelezatan yang bisa membuat orang mabuk kepayang untuk meraihnya dan menggenggamnya dengan genggaman raksasa agar kekuasaan tersebut tidak pernah lepas dari dirinya.
Di sinilah tempatnya orang menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Tujuan menghalalkan segala cara, demikian tutur Machiavelli. Tokoh ini bukan mengajarkan tentang cara meraih kekuasaan akan tetapi mengamati bahwa di dalam dunia politik, tujuan menghalalkan segala cara. Termasuk di dalamnya ialah menggunakan kampenye hitam atau black champagne yang semarak di media sosial.
Di dalam pilpres 2019, saya kira yang menjadi sosok yang rentan bullying ialah KH. Ma’ruf Amin dan Bang Sandi. Dua posisi wapres ini memang memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dan yang dijadikan sebagai sasaran bullying ialah kekurangannya itu. Kyai Ma’ruf Amin dengan usianya yang senior tentu bisa menjadi sasaran tembak bagi kelompok lain. Sebagai ulama tentu harus menampilkan wajah dan tindakan sebagai ulama, sedangkan di kala menjadi cawapres tentu juga harus menyesuaikan diri dengan berbagai komunitas. Maka, ketika beliau harus menyesuaikan dengan variasi komunitas, maka di sinilah letak kontradiksi antara ulama dengan praktisi politik.
Sandi juga memiliki peluang untuk dibully, misalnya ketika dinyatakannya tentang “biaya” politik, maka sontak banyak pengguna sosmed yang membullinya. Di Indonesia memang salah satu yang rawan adalah mengenai money politics. Oleh karena itu ketika dinyatakan bahwa akan memberikan bantuan biaya operasional dalam pilpres, maka di medsos berkembang issu money politics dalam penentuan wapres. Kekayaan Sandi juga rawan dijadikan sebagai komoditi politik. Sekarang ini, dugaan-dugaan tersebut telah dijadikan sebagai modal politik bagi yang kontra Bang Sandi. Selain itu juga tentang kata atau makna ulama yang justru menjadi bahan olok-olok di medsos. Misalnya orang yang tanpa mengaji dengan tuntas, pergi ke Amerika, kaya dan menjadi cawapres lalu disebut sebagai ulama.
Ketika kita berada di dalam kontestasi apapun dan pada level apapun, maka kata penting yang harus disadari ialah kompetisi. Sayangnya bahwa kompetisi di dalam berbagai tindakan politik selalu menyisakan ruang gelap yang berupa semaraknya berbagai macam character assasination, hate speech, dan juga perilaku membully yang sangat menyesakkan.
Di masa awal kampanye pilpres tahun 2019, genderang perang antar pendukung sudah kita rasakan. Adu cepat dalam penyajian informasi sudah sedemikian mengangkasa. Dan akibatnya ialah terjadinya polarisasi dukungan yang sedemikian kuat. Oleh sebab itu saya tetap berada di dalam kesimpulan, bahwa pilpres tahun 2019 akan jauh lebih “keras” dibandingkan dengan pilpres tahun 2014. Semoga prediksi saya ini salah dan yang terjadi justru sebaliknya pilpres yang sejuk dan damai dan menghasilkan kepemimpinan nasional yang terukur dalam program dan capaian kinerjanya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

NUANSA HANGAT MENJELANG PILPRES (3)

NUANSA HANGAT MENJELANG PILPRES (3)
Genderang kehangatan menjelang pilpres sudahlah ditabuh. Semenjak dimulainya kampanye, 23/09/2018, maka di sana sini sudah berlangsung kampanye melalui media sosial yang sungguh luar biasa. Memang tidak massive—sebab hanya yang memiliki media sosial saja—akan tetapi dampaknya tentu sudah sangat mendasar.
Meskipun jumlah pengguna medsos adalah kalangan tertentu, akan tetapi tentu massive sebab kebanyakan penggunanya adalah anak-anak muda yang tentu memiliki agenda khusus terkait dengan pilpres. Mereka kebanyakan adalah anak-anak generasi milenial yang sungguh memiliki kepedulian luar biasa bagi media sosial. Dari jumlah penduduk Indonesia, 140 persen lebih jumlah yang memiliki Hand Phone dan setengahnya adalah pengguna medsos. Dari sejumlah tersebut, maka dipastikan bahwa mereka akan menerima dan juga mengirimkan berbagai berita yang diterimanya kepada para pengguna medsos lainnya.
Berdasarkan penelusuran The Next Web (24/4/2018), tentang penggunaan Facebook dan Twitter, maka urutan pengguna medsos tersebut ialah: India (270 juta), Amerika Serikat (240 juta), Indonesia 140 juta, Brazil 130 juta dan Mexico 85 juta orang. Sedangkan pengguna Instagram ialah: Amerika Serikat 120 juta, Brazil 61 juta, India 59 juta, Indonesia 56 juta dan Turki 34 juta orang.
Tentu ini adalah jumlah yang sangat besar dan bisa saja memiliki jejaring terkait dengan pilpres tahun 2019. Di dalam media sosial, misalnya WA, maka banyak sekali grup yang saling bisa berbagi. Belum di Twitter, Instagram dan sebagainya. Semua bisa menjadikan medsos sebagai medium untuk “bertarung” dalam pilpres dimaksud. Makanya kehangatan pilpres tersebut sudah begitu terasa meskipun ranah public belum merasakan dampaknya. Keramaian media sosial sudah sedemikian kuat di masa-masa awal kampanye pilpres ini.
Sayangnya, bahwa medsos menjadi bagian dari cyber war dengan logikanya sendiri, yaitu hate speech, character assassination dan berita bohong atau hoax. Akhir-akhir ini yang banyak menuai serangan di medsos ialah KH. Ma’ruf Amin. Sebagai cawapres yang akan mendampingi Pak Jokowi, maka sasaran yang mudah dijangkau ialah KH. Ma’ruf Amin. Sebagai seorang kyai atau ulama, maka posisinya sedemikian tinggi di dalam jajaran ulama lainnya. Beliau sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagai Rais Am PBNU dan juga jabatan-jabatan lainnya di dalam dunia organisasi sosial kemasyarakatan.
Jika di masa lalu, orang menghormati orang yang lebih tua, dan juga menghormat kyai, maka sekarang di era media sosial yang bebas seperti ini, maka segala hal yang terkait dengan etika dan sopan santun sudah tidak ada lagi. Masyarakat Indonesia yang selama ini dikenal sebagai masyarakat religious dan berlaku sangat sopan, maka melalui media sosial hal itu tidak lagi berlaku. Di sini the freedom of expression itu benar-benar berlaku. Orang bisa mengunggah apa saja dan di mana saja. Jika sesuatu tidak sesuai dengan kepentingan dan tujuan politiknya, maka semua dihantam secara berjamaah.
Yang tersebar di media sosial tidak hanya dari aspek usia beliau dan kedudukan beliau sebagai ulama, akan tetapi juga dari tampilan beliau yang mengikuti acara temu pendukung Pak Jokowi dengan iringan music dangdut. Bahkan juga pidato-pidatonya yang juga diserang oleh kelompok lain. Saya merasakan bahwa yang terjadi sungguh-sungguh sudah merupakan upaya untuk membunuh karakter Beliau dalam kapasitas sebagai cawapres Pak Jokowi. Terlepas dari pilihan politik ke depan, tetapi sungguh pembunuhan karakter tentu tidak mendidik umat agar berpikir kritis berbasis pada kearifan. Yang kita butuhkan di era medsos seperti ini ialah bagaimana agar kita dapat menyebarkan informasi yang mendidik. Maka dibutuhkan konten medsos yang bisa memberikan keteduhan dan bukan pertarungan.
Era cyber war memang ditandai perilaku permissive di dalam persebaran informasi oleh berbagai kalangan. Tetapi yang jelas bahwa tujuan utamanya ialah “menghabisi” lawan politiknya untuk tujuan memenangkan pertarungan. Di era ini maka banyak orang yang merasa menjadi jurnalis, sehingga di dalam banyak hal juga tidak mengindahkan etika jurnalistik. Padahal di dalam dunia jurnalistik selalu ada kaidah bahwa tidak semua yang diketahui layak atau patut dipublish dan semua yang dipublish haruslah berdasar atas fakta atau realitas yang jelas kebenarannya.
Namun demikian, di dalam banyak hal yang sesungguhnya mempublih hate speech juga orang yang tahu secara benar mengenai etika jurnalistik. Akan tetapi hasrat kekuasaan dan hasrat ekonomi terkadang lebih mengedepan dibandingkan hasrat kemanusiaan atau religiositasnya.
Melihat kenyataan ini, maka akan dapat diprediksikan bahwa pilpres tahun 2019 rasanya akan berwajah lebih keras ketimbang pilkada serentak tahun 2018. Tentu harapan kita adalah pilpres akan mengedepankan kearifan, kerukunan dan keharmonisan. Upacara liminal ini harus menghasilkan pimpinan negara yang baik dengan proses yang juga baik dan bermartabat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

NUANSA HANGAT MENJELANG PILPRES (2)

NUANSA HANGAT MENJELANG PILPRES (2)
Harus dipahami bahwa setiap terdapat pilihan apapun peringkatnya dengan system one man one vote, dan di dalamnya terdapat upaya untuk memenangkan calon yang diusung, maka dipastikan bahwa akan terjadi pertarungan untuk menghadapi kostestasi dimaksud.
Proposisi yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk membahas hal ini ialah: “kontestasi untuk memenangkan setiap posisi dalam suatu organisasi atau pemerintahan yang di dalamnya terdapat pilihan public untuk memenangkannya, maka dipastikan akan terdapat tindakan-tindakan yang mengarah kepada kekerasan”. Di antara medium untuk melakukan tindakan yang mengarah kepada kekerasan itu ialah media sosial atau medsos.
Kita sekarang memang sedang memasuki suatu era yang disebut sebagai industry 4.0, yang salah satunya ialah penggunaan media teknologi untuk berbagai kepentingan. Bisa saja kepentingan commerce, politik, militer, sosial budaya dan juga agama. Yang menonjol tentu saja ialah untuk kepentingan e-commerce dan kemudian yang juga kuat ialah untuk kampanye politik.
Di dalam tulisan ini, saya akan memfokuskan pembahasan pada aspek politik yang menggunakan media sosial sebagai cara untuk berkampanye. Sudah diketahui bahwa penggunaan media sosial sebagai instrument kampanye sudah dilakukan di semua negara termasuk dalam pilpres di Amerika Serikat. Bahkan untuk kepentingan kampanye melalui media, maka selalu disiapkan tim yang kuat dengan para ahli dari berbagai disiplin ilmu dan juga kaum professional yang andal. Misalnya ahli ilmu sosial, politik dan budaya dan terutama adalah ahli komunikasi media dan juga para social marketer yang akan menjajakan gagasannya dalam bahasa kampanye yang hebat.
Tim cyber inilah yang sesungguhnya akan memainkan peranan penting di dalam upaya mendongkrak popularitas calon maupun melawan terhadap kampanye hitam atau black champagne dalam bentuk statement, seperti meme, short story, short video, speed writing dan sebagainya. Semua akan dikerahkan untuk kepentingan memenangkan paslon yang diusung.
Jika secara empiris diamati, maka yang dominan dalam menggunakan media sosial untuk kepentingan kampanye ialah PKS. Bahkan jauh sebelum kampanye dimulai, kelompok ini sudah mengusung hastag Ganti Presiden, yang sangat fenomenal. Mereka memang memiliki pasukan yang kuat terdiri dari anak-anak muda yang memiliki kepedulian dan keahlian dalam memanfaatkan media sosial. Di antara partai politik, saya kira PKS lah yang paling sadar tentang pentingnya media sosial.
#Ganti Presiden, sudah jauh hari dilansir oleh kelompok yang tergabung dengan eksponen Gerakan 212 yang bersatu padu dengan kelompok oposisi lainnya, seperti Partai Gerindra, PKS dan eksponen lain yang seperjuangan dengan hal ini.
Barulah kemudian muncul hastag lain yang merupakan posisi bertahan dari serangan hastag Ganti Presiden yang cukup massif pengaruhnya.
Era medsos adalah era untuk membangun opini. Dengan menggunakan medsos yang diharapkan ialah lahirnya simpati dan tindakan memilih. Jangan lupa misalnya dengan penolakan Neno warisman, maka kelompok ini bisa memanfaatkan situasi ini untuk membangun simpati karena merasa dipinggirkan. Mereka merasa menjadi korban dari rezim yang berkuasa dan semua pendukungnya. Perasaan menjadi korban inilah yang diunggah melalui media sosial untuk membangun simpati.
Di dalam konteks ini, maka yang diperlukan oleh para pengguna media sosial ialah memahami apa sesuangguhnya dibalik semua peristiwa. Pengguna medsos haruslah cerdas untuk memahami semua permainan yang dilakukan dalam kerangka menarik simpati. Oleh karena itu, ada beberapa cara untuk memahami semua content medsos, yaitu:
Pertama, sikap kritis dalam membaca setiap content media sosial. Harus selalu berpikir bahwa setiap content di dalam media sosial terutama yang terkait dengan tindakan politik dipastikan bahwa terdapat upaya “politisasi” di dalamnya. Bisa saja sebuah peristiwa dieksegerasikan, dihiperbolakan, atau dibesar-besarkan. Tujuan utama bagi semua content berita kampanye adalah bagian dari strategi untuk memenangkan pertarungan politik. Pasti bertujuan untuk meraih dukungan sebanyak-banyaknya.
Kedua, menolak atau menerima konten berita media sosial dengan cara yang cerdas. Kita harus yakin bahwa tentu ada konten medsos yang baik dan ada pula yang jelek. Semua tergantung pada bagaimana cara kita menyikapinya dan memahaminya. Jangan sampai berpikir bahwa semua yang terurai di medsos adalah berisi kebenaran dan kebaikan. Jika perlu harus suudz dzon terhadap berita-berita politik melalui medsos. Dengan sikap ini, maka kita akan cermat dan teliti dalam menyikapi dan memahami terhadap setiap berita yang masuk ke dalam akun media kita.
Ketiga, harus cermat dan teliti untuk menyebarkan berita politik kepada sahabat atau kolega kita. Jangan bertindak semua postingan dapat dishare kepada public. Teliti dan cermati dan lakukan check and recheck agar kita tidak terjerembab dalam menyebarkan hoax atau berita palsu. Pastikan bahwa hanya konten yang baik saja yang bisa digunakan untuk kepentingan membangun kebersamaan.
Keempat, agar semua membangun kompetisi berbasis persahabatan. Harus disadari bahwa kontestasi di dalam pilpres itu memang harus diakui keberadaannya karena memang semua ingin memenangkan pertarungan yang hanya dimenangkan oleh satu orang. Makanya, yang penting ialah memiliki kesadaran bahwa siapapun yang menang hakikatnya ialah ketentuan Tuhan yang azali sifatnya. Manusia hanya pelaku aktif yang bisa memenangkan kompetisi melalui tindakan yang baik.
Wallahu a’lam bi al shawab.