Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEBAHAGIAAN SEORANG PENDIDIK (1)

KEBAHAGIAAN SEORANG PENDIDIK (1)
Adakah yang lebih membahagiakan bagi seorang guru atau dosen melebihi kebahagiaannya ketika para mitra kerjanya di masa lalu, anak-anaknya, yang sudah lama tidak bertemu kemudian bertemu lagi dalam suatu moment untuk saling bertatap muka, bersalaman bahkan tersenyum dan tertawa bersama. Inilah yang saya rasakan di saat para mahasiswa saya mengunjungi rumah saya –tepatnya rumah dinas Sekjen Kemenag RI—di Jalan Indramayu No. 14, Menteng, Jakarta Pusat.
Malam ini, Kamis, 30/08/2018, memang sengaja dilakukan pertemuan kangen-kangenan untuk saling bertemu dan mengenang masa lalu. Masa di saat kita semua berada di dalam ruang kelas atau di luar ruang kelas, di dalam organisasi atau di ruang diskusi atau seminar dalam kerangka untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan dan menimbanya dalam proses belajar mengajar.
Saya sungguh sangat terkesan melihat mereka datang ke rumah untuk saling bernostalgia. Mereka memang datang dari para sahabat yang sekarang berada di Jakarta setelah mereka menyelesaikan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel) pada tahun 1990-an atau 2000-an. Mereka memang tergabung di dalam Ikatan Keluarga Alumi (IKA) UIN Sunan Ampel, untuk wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi.
Pasca menyelesaikan pendidikannya di Surabaya, maka ada di antara mereka yang memang asli Jakarta dan ada yang menjadi migran di Jakarta. Ada yang menjadi pengusaha atau menjadi ASN dan juga ada yang berkerja di sector swasta atau bekerja mandiri. Macam-macam latar belakang pekerjaannya sekarang, meskipun latar belakang pendidikan adalah Sarjana Agama (SAg) dan juga ada di antaranya yang Magister Agama (MAg). Bahkan juga ada yang sekarang sedang mengambil program master atau doctor di dalam dan luar negeri.
Salah satu kebahagiaan seorang pendidik adalah mendengar cerita dari anak-anaknya, mitra kerja di masa lalu, yang telah menapaki kehidupan dengan variasinya. Meskipun mereka alumni IAIN akan tetapi ternyata bisa bekerja dengan berbagai macam varian dan tentu dengan tingkat keberhasilan yang beraneka ragam.
Saya sangat menyukai guyonan-guyonannya yang masih bercorak Jawa Timuran. Panggilan Cak atau Mas tentu mewarnai upacara temu kangen ini. Dengan gaya khasnya masing-masing mereka saling berceloteh di masa lalu. Ada yang mentertawakan gaya pacarannya di masa lalu, ada yang bercerita mengenai dunia mereka sewaktu belajar, dan juga cerita tentang riwayat sekolahnya dan sebagainya. Semuanya menandai akan ketersambungan historis masa lalu dengan sekarang yang tidak pernah terhenti.
Acara ini dikoordinasi oleh Ainun Hadi, asli Purwodadi, yang menjalani usaha import barang-barang pabrikan dari Korea Selatan di Jakarta dan diikuti oleh tidak kurang dari 50-an orang. Saya tentu tidak hafal satu persatu di antara mereka. Salah satu kekurangan saya sekarang ialah mengingat nama. Tetapi wajah mereka tentu sangat saya kenal. Apalagi mereka adalah aktivis organisasi di masa lalu. Apapun organisasinya.
Ada yang masih saya kenal karena menjadi bimbingan saya di masa lalu. Ada di antara mereka yang saya kenal betul bahkan judul skripsinya. Ada yang saya kenal betul karena di masa lalu sering mengantarkan saya jika mencari makan atau ke toko buku dan bahkan juga ada yang saya kenal karena mengantarkan saya ke terminal Bus di Jembatan Merah. Saya masih mengenal dengan baik dan bahkan juga gayanya pada waktu itu.
Bolehlah saya bercerita sedikit tentang mereka. Tentu tidak semuanya. Misalnya Inun. Ada 2 (dua) Inun. Lelaki dan perempuan. Ada Inun dari Bawean yang sangat terbuka dan rasanya tidak berubah sampai sekarang. Tertawanya lepas dan omongannya bisa membuat semua tertawa. Begitu bertemu dengan Cak Basith, langsung nerocos, “Cak Sampeyan kok wis tuwek”. Kita lalu saling menggojlok dan akhirnya menyatakan: “Kalau ada suami, saya saya alim”. Siapa yang tidak tertawa mendengarnya.
Beda dengan Ainun, cowok yang berasal dari Purwodadi. Dia ini memiliki kemampuan memijat yang sangat baik. Sebenarnya bisa menjadi profesi. Saya sangat sering dipijit di saat dia datang ke rumah. Saya merasakan sentuhan tangannya memiliki aura penyembuhan. Meskipun begitu dia juga humoris. Dia yang paling sering datang ke rumah. Lalu ada Tika, yang paling suka selfie. Saya mengenal betul tema penelitiannya tentang pedagang buah di Pasar Wonokromo. Baihaqi, yang dipanggil Beq, adalah sisi lain. Logat Maduranya hingga hari ini tidak pernah luntur. Dia sudah lama di Surabaya dan kemudian di Jakarta, akan tetapi kekentalan bahasanya sangat menggambarkan asal-usulnya. Dia ini menyusun skripsi di rumah saya di Tuban.
Saya juga masih mengenal Aini, yang pernah saya bimbing skripsinya. Dia meneliti tentang Shalawat Wahidiyah, dan menghasilkan skripsi yang baik. Skripsinya masih saya simpan sampai hari ini. Dia tetap seperti yang dulu pendiam dan tidak banyak bicara. Saya juga mengenal dengan baik wajah-wajah mereka. Ada juga yang bertemu karena sesama aktivis organisasi. Maklum bahwa yang datang adalah pengurus IKA UINSA, sehingga tentu berlatar belakang dari berbagai Fakultas. Yang jelas bahwa mereka adalah mitra kerja yang tidak akan terlupakan di dalam kehidupan.
Di antara mereka yang hadir malam itu ialah: Margareth Alyatul Maimunah, Misbahul Munir, Fauzan Amin, Desembriar Rosyadi, Adel, Isna, Alihatul Husna, Amel, Abdul Haris, Salim dan lain-lain. Saya sungguh tidak sebutkan semuanya di dalam tulisan ringkas ini. Makanya, jika ada yang tidak disebutkan tentu di lain kesempatan masih ada peluang untuk menuliskannya.
Kebahagiaan itu sesungguhnya kita yang menciptakannya. Malam itu rasanya seperti menguntai kembali tentang apa yang telah kita lakukan selama ini dan apa pula yang sudah tersaji sebagai rona-rona kehidupan kita semua. Sebenarnya, silaturahmi itu tidak hanya bertemunya fisik dengan fisik, akan tetapi juga bertemunya aspek emosional, dan sosial serta religiusitas kita semua. Bukankah acara malam itu tidak hanya sekedar bertemu tetapi juga menjadi arena upacara ritual: Yasinan dan Tahlilan.
Dan saya suka bahwa meskipun mereka ini sudah hidup di hiruk pikuk kota Jakarta, akan tetapi mereka tidak melupakan tradisi ritual yang menjadi perekat spiritualitas di antara kita. Kita tentu berkeyakinan bahwa dengan terus menjadikan tradisi ritual itu sebagai bagian dari hidup kita, maka kita akan menemui kearifan yang lebih baik.
Wallahu a’lam bi al shawab.

ISLAM NUSANTARA; BUKAN ISLAM INDONESIA VERSUS ARAB (3)

ISLAM NUSANTARA; BUKAN ISLAM INDONESIA VERSUS ARAB (3)
Lalu apa yang sesungguhnya disebut sebagai Islam Nusantara itu? Islam Nusantara hakikatnya ialah Islam juga yang memiliki kesamaan dengan Islam di tempat lain dalam ajaran yang bercorak universal akan tetapi dalam corak pengamalannya yang sehari-hari maka Islam tersebut berkolaborasi dengan tradisi di mana Islam tersebut disebarkan dan diamalkan.
Di dalam buku saya, “Islam Nusantara Berkemajuan: Tantangan dan Upaya Moderasi Agama” saya jelaskan bahwa “Islam Nusantara Berkemajuan bukan merupakan varian Islam baru, tetapi juga Islam yang sudah mengakar dalam tradisi Islam di Timur Tengah dalam kolaborasinya dengan cultural space masyarakat Nusantara. Lalu membentuk corak Islam yang khas.”
Yang penting bagi kita ialah memahami bahwa setiap ekspressi keagamaan itu selalu terkait dengan di mana seseorang berada. Jika ia di Timur Tengah, maka corak Islam yang dilakukan tentu saja relevan dengan tempat di mana dia berada. Bahkan di antara negara Timur Tengah juga memiliki kesamaan dan juga perbedaan. Hal ini tentu dipengaruhi oleh berbagai factor, bahkan juga factor politik. Di Iran tentu memiliki corak keberagamaan yang berbeda dengan di Arab Saudi. Hal ini tentu karena factor politik yang menyeruak di dalam kehidupan bernegara. Di Iran menganggap bahwa negara itu dibentuk di atas dasar konsepsi “theodemocratic”, artinya bahwa pimpinan negara dipilih, sedangkan di Arab Saudi karena tradisinya bercorak monarkhi, maka raja itu terkait dengan keturunan. Mana yang benar, inilah urusan duniawi. Antum a’lamu bi’umuri dunyakum”.
Di Arab Saudi orang berhari raya dalam waktu yang sama. Tetapi di Indonesia orang bisa berhari raya dalam waktu yang berbeda. Di Indonesia, orang melakukan shalat dengan berkopyah dan bersarung atau memakai celana, tetapi di Arab Saudi, orang shalat dengan gamis dan pakaian khas Arab. Jadi ada aspek universalnya dan ada aspek partikularnya. Ada yang bercorak Islam sebagai pesan dasarnya, dan ada yang “tambahan” sesuai dengan cultural sphere di mana Islam tersebut diamalkan. Jadi, memang tidak ada cara menafsirkan Islam yang monolitik, sebab memang di kala Islam itu sudah sampai di tangan manusia, maka dia akan ditafsirkan sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.
Saya tidak ingin menggunakan dalil sosiologis untuk memberikan gambaran tentang penafsiran Islam itu. Akan tetapi dengan dalil yang sederhana saja kiranya akan dapat diketahui bahwa level pemahaman, pengamalan dan ekspressi berislam itu sangatlah variatif. Saya kira jika ada orang yang mengingkari terhadap hal ini, maka dia bisa disebut sebagai orang yang a-historis. Orang yang mengingkari sejarahnya sendiri. Dan inilah yang kebanyakan dipikirkan oleh mereka yang bisa dilabel sebagai “Islam Ideologis” atau orang yang berkeinginan memperjuangkan Islam sebagai dasar negara atau negara khilafah.
Kaum ideologis Islam memang selalu berpandangan bahwa Islam yang dikehendakinya ialah Islam yang sebagaimana ditafsirkannya. Tidak ada tafsir atas teks yang dianggap benar kecuali tafsirnya sendiri. Itulah sebabnya yang berbeda pasti dianggap salah dan hanya dia dan kelompoknya saja yang benar. Semua yang tidak terdapat di dalam teks sesuai dengan tafsirnya bisa dianggap sebagai bidh’ah. Yasinan, tahlilan, dzibaan, manaqiban dan sebagainya dianggap sebagai pengamalan beragama yang salah. Padahal itu merupakan ekspressi keagamaan yang lebih dekat dengan makna budaya dan agama. Mereka bertemu dan membaca yasin, atau tahlil atau dzibaan. Di Arab Saudi tentu tidak ada tradisi-tradisi seperti ini. Inilah yang kiranya disebut sebagai ekpressi Islam di dalam lokus wilayah Nusantara atau lebih lazim disebut sebagai Islam Nusantara.
Saya lebih melihat bahwa perdebatan Islam Nusantara itu bukanlah perdebatan tentang Islam itu sendiri akan tetapi merupakan perdebatan untuk “menguasai” wacana dan kemudian berimplikasi “politik”. Harus dipahami bahwa perdebatan ini tentu muncul terutama pasca gerakan pilkada DKI yang memiliki tingkat hiruk pikuk yang sedemikian kuat. Di dalam banyak hal kemudian menggunakan basis ajaran agama atau sentiment keagamaan untuk memperkuatnya.
Mereka yang menolak terhadap Islam Nusantara hakikatnya ialah mereka yang berpandangan “Islam Politik”. Artinya bahwa negara Indonesia ke depan haruslah menjadi negara Khilafah, atau sekurang-kurangnya ialah negara syariah. Mereka berkeinginan agar praktik politik di Indonesia ialah dalam coraknya untuk menata negara dengan system khilafah yang dianggapnya sebagai kebenaran.
Jadi, sesungguhnya perdebatan Islam Nusantara itu hanyalah tampilan luar saja dan bukan esensinya. Yang sesungguhnya ingin diraih ialah bagaimana kaum penolak Islam Nusantara itu memiliki kekuasaan yang lebih besar untuk tujuan-tujuan politik yang diinginkannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

ISLAM NUSANTARA: ANTARA ARAB DAN INDONESIA (2)

ISLAM NUSANTARA: ANTARA ARAB DAN INDONESIA (2)
Di antara pertanyaan lain ialah apakah Islam Nusantara itu varian baru Islam yang merupakan gerakan untuk memisahkan diri atau berbeda dengan tradisi Islam yang berkembang di dunia Arab. Pertanyaan ini penting untuk dikemukakan sebab di dalam pandangan kaum kontra Islam Nusantara itu ternyata beranggapan bahwa Islam Nusantara itu merupakan varian baru Islam, dan akan berbeda dengan Islam-Islam lain di tempat lain.
Secara akademis, perdebatan tentang Islam universal dan Islam particular itu sudah sangat lama. Basis diskusinya bukan pada aras mana yang genuine dan mana yang tidak genuine, akan tetapi pada cakupan pengaruh Islam itu di dalam skala besar atau kecil. Saya yakin bahwa Islam memiliki cakupan ajaran yang universal, yang berlaku umum dan harus dilakukan secara menyeluruh di semua wilayah dan bentangan dunia ini.
Islam di seluruh dunia menggunakan bahasa Arab sebagai instrument peribadahannya, misalnya yang paling riil ialah shalat. Adapun tentang do’a, tentu tidak ada kewajiban asasi bahwa harus menggunakan bahasa Arab, bisa juga menggunakan bahasa yang paling dikuasainya. Saya yakin Allah pasti mendengarkan doa kita dalam bahasa apapun. Jika kemudian dibatasi doa hanya dengan bahasa Arab saja yang diterima, maka akan mengerdilkan Allah yang memang secara sunnatullah menjadikan manusia itu berbeda-beda dalam suku, ras dan bahasanya. Yakinlah bahwa Allah memahami semua bahasa manusia, baik bahasa yang dilafalkan atau diungkapkan di dalam hati saja. Shalat dalam bahasa Arab dan doa dalam bahasa yang bervariatif ini yang kemudian membedakan ada corak Islam yang bersifat universal dan ada yang particular. Bukan ajaran Islamnya yang particular akan tetapi implementasi dalam berislam itulah yang bercorak particular, ditentukan oleh factor budaya, kewilayahan atau kedaerahan.
Jika kita memiliki kemampuan berdoa dalam bahasa Arab sesuai dengan doa-doa Nabi Muhammad saw yang tertuang di dalam al Qur’an atau hadits Nabi Muhammad saw dan bahkan juga doa-doa yang dirumuskan oleh ulama-ulama Islam, maka tentu itu akan sangat baik dan afdhal. Namun tidak berarti bahwa doa dalam bahasa yang kita kuasai lalu sama sekali tidak mendapatkan manfaat. Jadi, Allah yang memiliki hak untuk menerima doa kita itu.
Islam mengajarkan hal-hal yang sangat universal, bahkan juga menjadi ajaran semua agama di dunia ini. Konsepsi keadilan, pemihakan kepada kaum mustad’afin, pemihakan kepada hak-hak perempuan, pemihakan kepada kaum difabel, menjaga kerukunan umat manusia, menjaga persaudaraan dan sebagainya adalah ajaran universal Islam yang luar biasa. Siapapun tidak akan mengingkari hal ini. Baik Islam di Arab, Mesir, Irak, Cina, Maroko dan sebagainya pastilah menjadi ajaran Islam universal itu sebagai pedomannya. Tetapi lalu kenapa misalnya terjadi konflik antar sesama umat Islam di berbagai belahan dunia ini, tentu itu didasari oleh penafsiran akan Islam yang dianggapnya paling benar dan menafikan penafsiran bagi lainnya. Kenapa umat Islam di satu negara atau antar negara tetangga yang sama beragama Islam terjadi konflik, tentu karena hal itu dipengaruhi oleh politik kekuasaan dan lain-lain.
Dari sisi budaya, tidak mungkin kita akan memaksakan hanya ada satu budaya saja, bahkan budaya berbasis agama. Bayangkan bahwa kita akan memaksakan semua umat Islam akan menggunakan jenggot ala orang Arab atau berpakaian ala orang Arab. Maka itu hal yang sangat mustahil. Orang boleh berpakian dengan cara pakaian orang Arab, tetapi juga tidak bisa melarang orang berpakaian dengan tradisinya. Prinsip Islam dalam berpakaian ialah pakaian itu menutup aurat. Tetapi ekspressi menutup aurat itu juga bermacam-macam. Yang penting bahwa pakaian itu masih termasuk dalam kategori menutup aurat.
Dalam cara merawat jenazah, maka tentu juga tidak sama antara apa yang menjadi tradisi orang Arab dengan orang Indonesia, sebab memang hal itu adalah termasuk dalam budaya yang bisa bervariasi. Tetapi prinsipnya ialah orang Islam yang meninggal pastilah digunakan cara-cara yang dianggapnya relevan dengan ajaran Islam. Di Arab tentu tidak ada tradisi mengantar jenazah dalam ratusan orang, tetapi di Indonesia hal ini adalah hal yang lumrah. Di Arab tidak ada talqin mayit, tetapi di Indonesia didapati tindakan merawat orang mati seperti itu. Jadi inilah bentuk partikularitas Islam yang diamalkan oleh masyarakat di dunia ini.
Yang termasuk tradisi, misalnya acara kunjungan rumah setelah puasa atau hari raya. Di Arab tentut tidak ada hal seperti ini. sebab tata cara pergaulan di antara mereka memang tidak mengharuskan seperti itu. Tetapi di Indonesia, hal ini sudah mendarahdaging di dalam kehidupan masyarakat Islam. Ajaran saling memaafkan adalah ajaran universal Islam, tetapi melakukannya dalam bentuk halal bil halal adalah tradisi yang bercorak particular.
Dengan demikian jelaslah bahwa tidak ada keinginan untuk menjadikan Islam terkebiri dengan istilah Islam Nusantara itu, sebab dia hanyalah untuk menyebut satu kenyataan bahwa Islam dan wilayah itu bukanlah untuk dipertentangkan tetapi justru untuk saling berkolaborasi.
Jadi tuduhan bahwa Islam Nusantara itu bertentangan dengan Islam Arab juga sebuah gambaran yang mengada-ada. Sama sekali tidak ada halangan untuk menyatakan bahwa Islam itu kompatibel dengan budaya yang telah diislamkan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

ISLAM NUSANTARA: ANTARA ARAB DAN INDONESIA (1)

ISLAM NUSANTARA: ANTARA ARAB DAN INDONESIA (1)
Akhir-akhir ini urusan Islam Nusantara menjadi terungkap lagi, setelah sekian lama tidak menjadi masalah yang viral di media sosial. Hal ini tentu dipicu oleh ceramah Mamah Dedeh di media televisi yang kemudian viral di media. Meskipun Mama Dedeh sudah meminta maaaf atas cermahnya itu bahkan juga keluarganya, akan tetapi pro dan kontra tentang Islam Nusantara tentu tidak berhenti.
Memang harus diakui bahwa jumlah mereka yang kontra terhadap Islam Nusantara itu seakan-akan lebih banyak dari yang pro Islam Nusantara, tentu melalui media sosial. Hal ini tentu sangat wajar sebab mereka yang menolak itu memiliki kemampuan show up yang seakan-akan sangat anggegirisi atau seakan-akan gigantic. Mereka terdiri dari anak-anak muda yang memperoleh pengaruh media sosial yang memang secara sengaja disasarkan kepada mereka ini. Akan tetapi perdebatan itu sepertinya lebih bersearah dengan upaya untuk menolak atau menerima tanpa memasuki wilayah, apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang disebut sebagai Islam Nusantara itu.
Kebanyakan yang menolak Islam Nusantara itu menganggap bahwa Islam Nusantara melawan Islam Arab, atau Islam Nusantara yang sesungguhnya merupakan upaya untuk meminggirkan budaya Arab atau upaya untuk mendegradasi pengaruh Arab atas Islam di Indonesia. Di antara yang melakukan penyanggahan terhadap keberadaan Islam Nusantara, misalnya ialah dengan ungkapan bahwa “Islam Nusantara itu ialah membela penista agama, mendukung pemimpin pembohong dan munafiq, mendukung presiden menjual asset negara dan sebagainya.”
Kita memang perlu melihat realitas. Apakah benar bahwa yang menyatakan diri sebagai bagian dari Islam Nusantara itu berkeinginan meminggirkan Arab. Atau benarkah bahwa Islam Nusantara itu tidak menggunakan konsepsi-konsepsi Islam yang genuine dan menjadi pedoman di dalam peribadahan atau bahkan dalam urusan muamalah. Apakah misalnya dengan menggunakan istilah Islam Nusantara lalu melakukan tindakan anti terhadap syariah Islam. Dan tentu juga sederet pertanyaan lain, yang bisa sangat banyak jumlahnya.
Saya ingin membahas pertanyaan tersebut dalam uraian ringkas. Tentu tidak ada keinginan bagi penganut Islam Nusantara yang akan meminggirkan tradisi Arab di Indonesia. Sudah terlalu banyak tradisi Arab yang berkembang di sini. Bisa jadi tradisi itu memang khas Arab atau tradisi Arab yang sudah terislamkan. Misalnya, tradisi menggunakan jenggot atau pakaian gamis dan pakaian khas Arab lainnya. Bukankah kyai-kyai kita banyak yang menggunakannya dan mereka tidak risi menjadikan cara berpakaian dan berpenampilan seperti itu sebagai bagian dari life style yang mengeksis. Lalu, tradisi agama yang memang benar-benar berpedoman pada apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw. Saya kira tidak ada ulama yang berpandangan Islam Nusantara itu menolak untuk melakukannya. Misalnya bacaan Fatihah dalam bahasa Al Qur’an yang pasti bahasa Arab. Tidak ada ulama yang mengajarkan shalat dalam Bahasa Indonesia. apalagi bahasa daerah. Di Indonesia bisa jadi ada corak shalat dalam 500 lebih bahasa di Indonesia.
Jika Islam Nusantara itu akan meminggirkan Arab juga tidak perlu ada lembaga pendidikan yang mengajarkan bahasa Arab. Bukankah di PTKIN sangat banyak program studi Bahasa Aran dan Sastra Arab. Bahkan juga festival Bahasa Arab. Bahkan juga festival Al Qur’an. Bukankah Tahfidz al Qur’an banyak dilakukan di pesantren-pesantren yang secara kultural pengikut Islam Nusantara. Ketika seseorang belajar tahfidz Al Qur’an secara otomatis menjaga Bahasa Al Qur’an, yang tidak lain ialah bahasa Arab. Bahasa Arab yang dipelajari di Indonesia adalah Bahasa Arab Fushah, yang sekaligus juga mentradisikan berbahasa Arab dalam tradisi aslinya, sebagaimana di dalam Al Qur’an.
Ilmu-ilmu dalam Bahasa Arab seperti: nahwu, sharaf, balaghah, dan pengajaran matan Alfiyah masih terus menjadi bahan kajian dan pembelajaran di pesantren atau kyai-kyai yang memahami Islam Nusantara. Pengajaran Kitab Kuning di Pesantren-pesantren juga menjadi bukti bahwa upaya untuk melestrikan karya-karya ulama Timur Tengah menjadi tradisi di pesantren yang berlabel Islam Nusantara. Bahasa Arab sudah menjadi bahasa kedua di negeri ini dan itu semua adalah sumbangsih yang tidak bisa dipungkiri dari pesantren-pesantren yang mengajarkan pelestarian bahasa Arab yang tidak lain ialah bahasa al Qur’an.
Dunia pesantren yang di dalam banyak hal mendefinisikan dirinya sebagai penganut Islam Nusantara itu sudah berjalan ratusan tahun dan kita sekarang bisa berislam seperti ini karena sumbangsih yang luar biasa dari dunia pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya. Adakah yang meragukan tentang peran pendidikan Islam itu dalam kerangka menjadikan kita semua menjadi Islam.
Untuk menjadi Islam seperti di Indonesia bukanlah dibuat dengan simlabim adakadabrah, tetapi melalui proses panjang dalam ratusan tahun.
Jika kita lebih sedikit mengungkit peran para kyai dan pendidik Islam di masa lalu, maka siapakah yang meragukan terhadap peran para kyai dari pesantren dalam membela perjuangan bangsa. Indonesia ini ada salah satunya ialah peran pesantren dengan para kyai dan pendidik Islam dalam keikutsertaannya dalam membela bangsa dan negara. Kita harus berpikir jernih, bahwa tidak ada sedikitpun upaya para pengikut Islam Nusantara yang akan meminggirkan Arab, sebab Arab adalah bagian dari tradisi untuk membentuk Islamisasi di Indonesia.
Jika kita lebih empiric lagi, pendidikan Islam semakin baik dalam kualitas maupun kuantitasnya. Dan di kala mengajarkan Islam pastilah yang diajarkan adalah Islam yang itu juga. Bukan Islam yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam yang mendasar. Mengajarkan rukun Islam itu 5 (lima), yaitu membaca syahadat, menjalankan shalat, melakukan puasa, mengeluarkan zakat dan pergi haji bagi yang mampu. Saya yakin tidak ada lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan rukun Islam itu berbeda. Semua menggunakan hadits yang sama dalam urusan rukun Islam. Lalu rukun Iman yang diajarkan di lembaga pendidikan Islam, pastilah sebagaimana yang lazim diyakini sebagai rukun Iman. Tidak ada yang lain. Jika ada yang bervariasi di dalam pengamalannya tentu itu berasal dari cara menafsirkannya. Hukum Islam yang kita pelajari juga berasal dari hukum Islam sebagaimana ditafsirkan dan dirumuskan oleh ulama-ulama Islam Arab, meskipun tentu ada variasi karena cara penafsiran atau manhaj yang digunakan berbeda. Namun demikian, tetap saja bahwa sumber ajaran Islam itu ialah Al Qur’an, Al Hadits, dan pendapat para ulama. Kita harus merujuk kepada para ulama sebab tidak semua kita memiliki kemampuan untuk menafsirkan dan memahami sumber Islam dengan sempurna.
Jadi, dari satu aspek ini, maka tudingan bahwa Islam Nusantara akan mengkerdilkan budaya Arab tentu sama sekali tidak masuk akal dan hanya imajinasi belaka. Sungguh saya sangat meragukan terhadap statemen Islam Nusantara versus Islam Arab atau Islam Nusantara akan menghabisi terhadap tradisi Arab.
Wallahu a’lam bi al shawab.

GENERASI BARU PENGKAJI ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DI PTKIN

GENERASI BARU PENGKAJI ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DI PTKIN
Dahulu, kala berbicara tentang antropologi atau sosiologi, maka pikiran kita pastilah akan terbayang UI, UA, UGM dan sebagainya. Di kala itu, di perguruan tinggi umum memang sudah berkembang dengan pesat kajian antropologi dan sosiologi dan bahkan juga kajian multidisipliner tentang ilmu dimaksud.
Di UI dikenal ada Prof. Kuntjaraningrat, Begawan antropologi Indonesia, Prof. Parsudi Suparlan, Prof. Harsya Bachtiar dan sebagainya. Di UGM dikenal nama-nama seperti Prof. Tengku Yakub, Prof. Selo Soemardjan, Prof. Syafri Sairin, Prof. Kuntowijoyo dan sebagainya. Di Universitas Airlangga dikenal nama Prof. Sutandyo Wignjosoebroto, Prof. Ramlan Surbakti, Dede Oetomo dan sebagainya. Nama-nama mereka sangat dikenal di blantika ilmu sosial di Indonesia.
Saya teringat bahwa di masa lalu, memang ada semacam kesepakatan tidak tertulis, bahwa masing-masing Program Pascasarjana (PPs) di PTKIN akan memiliki ciri khasnya masing-masing. UIN Sunan Ampel Surabaya akan mengembangkan kajian Keislaman Multidispliner, baik dalam coraknya yang inter-disipliner ataupun yang cross-disipliner. Yang interdisipliner ialah penggabungan dua disiplin ilmu dalam satu pembidangan, misalnya sosiologi komunikasi, antropologi politik dan sebagainya. Penggabungan ilmu ini berada di dalam satu bidang ilmu sosial. Lalu ada yang cross-disipliner, yaitu penggabungan dua disiplin ilmu dalam dua bidang yang berbeda, misalnya sosiologi agama, antropologi agama, sosiologi santra dan sebagainya. Penggababungan ilmu ini berasal dari dua bidang ilmu, yaitu ilmu sosial dan ilmu humaniora.
Pada tahun 2004 di saat saya mulai mengajar pada Program Doktoral di UIN Sunan Ampel (kala itu masih IAIN), maka saya perkenalkan teori-teori sosial sebagai pendekatan baru di dalam mengkaji ilmu keislaman. Kajian tentang Islam yang hidup di masyarakat kita dekati dengan teori atau konsep di dalam ilmu sosial. Maka lahirlah banyak disertasi yang bercorak seperti itu. Bahkan ada yang menyatakan bahwa saya mengarahkan ilmu keislaman menjadi ilmu sosial. Tentu saja saya senang, meskipun juga harus hati-hati.
Saya tentu merasa senang, sebab banyak kajian di UIN Sunan Ampel yang menggunakan pendekatan ilmu sosial dan budaya untuk kajian keislaman tersebut. Ada yang menggunakan pendekatan sosiologis, budaya dan juga politik. Saya merasakan bahwa pengembangan integrasi ilmu itu sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari berbagai disertasi di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Beberapa hari yang lalu, 27/07/18, saya dipercaya untuk menguji disertasi di UIN Walisongo Semarang. Ujian disertasi Tri Astutik Haryati dengan bimbingan Promotor Prof. Dr. Achmad Gunaryo, M.Soc.Sc., dan Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, MA. Disertasinya berjudul “Kaline Buthek Wetenge Wareg: Studi tentang Pandangan Hidup dan Perilaku Ekonomi Santri Pelaku Usaha Batik di Pekalongan”. Hadir sebagai penguji di dalam Ujian Terbuka ini ialah Prof. Dr. Muhibbin, Prof. Dr. Ahmad Rofiq, Prof. Dr. Ahmad Gunaryo, Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, Prof. Dr. Nur Syam, Dr. M. Muhsin Jamil, Dr. Sholihan dan Dr. Hasan Asy’ari Ulama’i.
Saya tentu mengapresiasi disertasi ini karena 3 (tiga) hal: pertama, masukan saya dalam ujian tertutup agar lebih focus pada penggunaan teori fenomenologi atau konstruksi sosial bisa dipenuhi. Bagi saya penggunaan teori yang terlalu banyak, misalnya Giddens dengan teori strukturasinya dirasa kurang tepat untuk menggambarkan dunia pandangan hidup dan perilaku ekonomi santri. Atau juga penerapan teori Parsons tentang social actions juga kurang tepat. Dan akhirnya dipilihkah ancangan Berger dan Luckmann untuk pendekatan terhadap ajaran agama Islam yang hidup pada komunitas santri di Pekalongan.
Kedua, pengungkapan datanya sangat memadai dengan penggunaan bahasa naratif yang baik. Saya kira secara metodologis dan konten sangat memadai dan bisa mengungkapkan fenomena kehidupan para santri di Pekalongan dari konteks pemahaman dan perilaku ekonominya. Bahasanya cukup mengalir dan relevan dengan kajian antropologis dalam pendekatan kualitatif. Emic viewnya memadai.
Ketiga, saya juga mengapresiasi keberanian penulisnya untuk mengungkapkan implikasi teoritiknya dengan baik. Dinyatakannya bahwa temuan konseptualnya ialah “Islam dialektis bercorak spiritual”, yaitu Keislaman khas Jawa pesisiran dengan unsur spiritualtas yang menonjol, sebagai letak geografis pesisiran sebagai basis pertumbuhan Islam.
Disertasi memang harus menghasilkan teori baru atau konsepsi baru. Saya sering menyatakan bahwa disertasi harus berbeda dengan tesis apalagi skripsi. Disertasi harus menghasilkan konsepsi baru yang memungkinkan peneliti lain merujuknya, baik membantah atau menerimanya. Yang jelas peneliti disertasi harus menonjolkan temuan teoretiknya agar yang bersangkutan bisa masuk dalam blantika akademik yang diperhitungkan. Konsep spiritualisme simbolik dimaksudkan sebagai ekspressi sufistik yang tidak hanya dalam kepentingan pendekatan kepada Tuhan sesuai dengan kepentingan keakheratan semata akan tetapi juga untuk kepentingan bisnis batiknya. Keberhasilan ekonomi di dunia secara simbolik akan menggambarkan keberhasilan secara spiritual untuk kepentingan akherat.
Hanya saja, jika di dalam penelitian ini pengertian santri digunakan dalam makna generic, maka ke depan kiranya diperlukan pendalaman tentang santri ini, sebab bisa jadi bahwa di varian santri tentu juga akan memiliki varian di dalam pemahaman dan perilakunya. Jadi masih ada peluang untuk melakukan kajian lebih lanjut tentang santri dimaksud.
Di atas itu semua, kegembiran saya tentu saja adalah bahwa ke depan akan semakin banyak para pengkaji ilmu keislaman multidisipliner ini sebagai mandate dari pengembangan IAIN menjadi UIN yaitu tidak hanya mengembangkan Islamic studies saja tetapi juga Islamic studies multidicipliner. Dan itu artinya, di UIN harus semakin banyak ahli ilmu sosial dam humaniora yang terus menerus berusaha untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang menjadi mandate perguruan tingginya.
Wallahu a’lam bi al shawab.