• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

THE POWER OF SOFT SKILLED

THE POWER OF SOFT SKILLED
Di era industry 4.0 yang sekarang sedang memasuki eranya, maka salah satu yang dianggap penting untuk menyongsong era tersebut ialah dengan mengembangkan kemampuan yang disebut sebagai soft skilled. Kemampuan ini diperlukan sebagai jawaban atas semakin menguatnya artificial intelligent (AI) yang ke depan akan menjadi pesaing manusia.
Soft skilled dapat diartikan sebagai kemampuan yang bersumber dari kecerdasan multi talenta. Maksudnya tidak hanya berbasis pada kecerdasan rational, akan tetapi juga kecerdasan emosional, sosial dan bahkan kecerdasan spiritual. Jika kecerdasan rational akan mengantarkan kepada kemampuan hard skilled dan profesionalitas, maka soft skilled mengantarkan kepada kecerdasan yang lebih kompleks dibalik kecerdasan atau hard skilled dan profesionalitas. Ia berada dibalik semua itu.
Saya ingin menggambarkan kemampuan apa saja yang bisa mengantarkan kepada kecerdasan atau soft skilled tersebut, yaitu:
Pertama, the power of thinking. Kemampuan berpikir tentu bersumber dari kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh manusia secara variatif. Ada kaitannya dengan Intellectual Quotion (IQ). Bahkan ada yang beranggapan perlunya blue sky thinking atau pemikiran yang melambung seperti awan, berbasis pada ide-ide yang highly ideas performance. Di dalam konteks ini, maka kekuatan pemikiran ialah menghasilkan pemikiran-pemikiran yang out of the box atau lateral thinking. Misalnya ide cemerlang tentang aplikasi Go-Jek, Go-Pay, Go-Food, Bukalapak, Shahnaz shop, Amazon.com., Alibaba.com dan sebagainya yang bisa melakukan dekonstruksi atas kemapanan perusahaan-perusahaan pertaksian, mall, dan sebagainya. Yang dibutuhkan ialah berpikir kritis untuk menghasilkan inovasi dengan memanfaatkan talenta yang dimilikinya.
Kedua, the power of communications, yaitu di dunia millennial ini, maka yang bisa mengangkat posisi seorang individu ke dalam jenjang pergaulan luas ialah kemampuan berkomunikasi. Kemampuan komunikasi jangan hanya diartikan sebagai kemampuan berbahasa asing, akan tetapi sesungguhnya ialah kemampuan untuk memahami siapa lawan komunikasinya. Jika kita akan melakukan komunikasi untuk kemampuan negosiasi, maka harus diketahui siapa sesungguhnya orang yang akan kita ajak untuk berkomunikasi. Pelajari back ground pendidikannya, keluarganya, hobbinya, kemampuannya dalam bernegosiasi, karakternya dan sebagainya. Pelajari secara mendalam agar kita bisa menyeimbangkan posisi dan kemampuan kita dengan lawan komunikasi kita. jangan biarkan pertemuan penting hilang begitu saja. Sebagai seorang negosiator atau human relations atau public relations, maka mutlak diperlukan kemampuan komunikasi.
Ketiga, the power of informations. Kita sedang berada di era peluberan informasi. Artinya lalu lintas berita itu sangat dominan. Dalam hal ini maka kita harus mampu untuk memanfaatkan informasi untuk memperkaya gagasan, ide atau tindakan-tindakan kita. Kita harus memilih infomasi yang membuat kita semakin arif tetapi jitu dalam mengambil keputusan. Setiap informasi yang datang kepada kita harus kita analisis dengan cermat agar kita tidak salah meresponnya. Pilihlah informasi yang membuat kita semakin wise dan smart. Saya akhir-akhir ini senang membaca majalah SWA, sebab ada banyak inspirasi tentang dunia talenta yang terekspose menjadi praksis berwirausaha dan sebagainya.
Keempat, the power of team work. Kita hidup di era semakin terdiferensianya kemampuan, visi pekerjaan, jenis-jenis layanan dan sebagainya. Kita hidup di era organisme sosial yang sangat menantang. Di tengah kehidupan ini tidak ada orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan atau misinya seorang diri. Semua harus dilakukan dengan kerja team yang solid. Makanya, sebagaimana Jack Ma menyatakan bahwa team work adalah kekuatan kita untuk menghadapi masa depan yang sarat dengan tantangan. Sebagaimana Islam juga mengajarkan agar kita saling tolong menolong –ta’awun—agar kita bisa menyelesaikan tantangan kehidupan dengan lebih realistis dan sukses.
Kelima, the power of friendship. Kita diciptakan oleh Tuhan, Allah swt., sebagai makhluk dengan kehidupan berkelompok. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Semuanya memiliki kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan untuk bersahabat, berekspressi dan mengembangkan rasa dan tindakan persahabatan tersebut sebagai manifestasi kemanusiaan kita. Jangan pernah berpikir bahwa kita adalah orang yang paling hebat sendiri, paling jempolan sendiri, sebab setiap manusia memiliki talenta dan keunggulan untuk saling melengkapi. Stephen Hawking adalah manusia cerdas tetapi memiliki kecacatan nyaris sempurna. Beliau hanya bisa menciptakan tiga kata dalam satu menit. Hal ini semua dibantu oleh mesin yang membuatnya bisa bekerja cerdas. Makanya Stephen Hawking membutuhkan orang lain untuk menemukan teori “asal-usul alam semesta” yang sangat luar biasa. Jadi, berpikirlah cerdas, bahwa persahabatan merupakan kunci sukses di dalam kehidupan ini.
Kemampuan soft skilled tidak hanya persoalan bakat atau talenta, akan tetapi sesuatu yang bisa dipelajari. Dia tidak hanya given tetapi juga achievement. Makanya, kita harus meraihnya di saat waktu masih ada dan tersedia untuk kita semua.
Wallahu a’lam bi al shawab.

ANTARA JABATAN, PEKERJAAN DAN TANGGUNJAWAB

ANTARA JABATAN, PEKERJAAN DAN TANGGUNJAWAB
Saya diminta oleh UIN Sunan Ampel Surabaya yang bekerja sama dengan Biro Keuangan dan BMN untuk memberikan masukan dalam kerangka Focus Group Discussion (FGD), tentang pengelolaan keuangan dan BMN pada Kementerian Agama (04/09/2018). Bagi saya tentu tidak asing berbicara tentang pengelolaan keuangan, sebab selama ini memang saya terlibat banyak di dalam mengelola keuangan dalam kapasitas jabatan yang saya lakukan.
Acara ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Prof. Dr. Abu Azam al Hady, Kepala Biro UIN Sunan Ampel, Drs. Rijal Faqih, dan Kabag Aklab, Agusli Ilyas dan para wakil dekan bidang administrasi dan juga sekretaris lembaga dan pusat pada UIN Sunan Ampel Surabaya. Sebagaimana biasa, maka saya sampaikan tiga hal mendasar terkait dengan pengelolaan keuangan dan BMN. Saya tidak focus pada persoalan ini saja, sebab saya kira Pak Agusli akan memberikan penjelasan lebih rinci terkait dengan pengelolaan keuangan dan BMN.
Pertama, serapan anggaran sebagai indicator umum kinerja ASN atau K/L. Untuk kepentingan ini, maka diharapkan agar para pejabat memahami betul bahwa kita memerlukan serapan tinggi untuk menandai bahwa kita telah bekerja secara optimal. Jangan sampai uang rakyat yang dititipkan negara kepada kita itu tidak kita dayagunakan secara maksimal untuk kepentingan rakyat. Anggaran negara adalah uang amanah rakyat dan harus kembali kepada rakyat. Apapun kerjanya, maka serapan adalah ukurannya. Selama ini banyak PTKIN yang serapannya rendah, oleh karena itu melalui forum ini, maka diharapkan dapat membangun kesadaran untuk menata ulang besaran serapan anggaran dimaksud.
Selama ini rekayasa yang dilakukan untuk memperkuat serapan ialah dengan membuat matriks yang di dalamnya terdapat upaya untuk percepatan serapan anggaran. Matriks ini sangat penting untuk memastikan mana program atau kegiatan yang sudah dilakukan, mana yang sedang dilakukan dan mana yang akan dilakukan serta mana yang tidak bisa dilkaukan. Semua harus teruji dengan kepastian, sehingga kita bisa membuat prediksi serapan kita itu maksimal.
Kedua, harus memastikan bahwa Laporan Keuangan Kementerian Agama (LKKA) bernilai Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Dengan demikian, serapan anggaran yang baik saja tidak cukup kecuali bahwa laporan keuangan tersebut memenuhi syarat sebagai laporan keuangan yang wajar. Makanya, semua harus berusaha secara optimal agar setiap pengeluaran keuangan harus dibarengi dengan pertanggungjawaban yang baik. Jangan sampai terjadi kecurangan, kesalahan dan kesengajaan untuk melakukan hal yang tidak terpuji di dalam pengelolaan keuangan.
Ketiga, kita semua diangkat menjadi pejabat, maka jangan hanya diambil pejabatanya, tetapi tidak diambil pekerjaannya, juga tidak diambil tanggungjawabnya dan tidak diambil penyelesaian masalahnya. Semua harus diambil sebagai konsekuensi pejabat public. Kita bertanggungjawab tidak hanya kepada masyarakat, tetapi juga kepada negara dan Tuhan yang Maha Esa. Makanya, tugas pejabat itu sangat berat sebab dia harus menanggung berbagai masalah dan penyelesaian masalahnya. Itulah sebabnya sekali lagi juga kita harus memiliki peta masalah dan bagaimana rumusan penyelesaiannya. Janganlah kita menjadi pejabat namun tidak tahu arah mana yang akan kita tempuh. Janganlah menjadi kemudi kapal di tengah laut sementara kita tidak tahu arah mana untuk sampai ke tepi luat sebagai tujuan perjalanan.
Kita sudah menandatangani pakta integritas, kita sudah berkomitmen untuk bekerja secara optimal, maka menjadi tugas kita untuk terus membangun kinerja yang baik dan optimal. Ada orang yang menjadi pejabat tetapi hanya diambil jabatannya saja, tetapi tidak mengambil pekerjaan, masalah, penyelesaian masalah dan tanggungjawabnya. Jika ini yang terjadi maka kita menunggu kapan kemunduruan lembaga atau kementerian yang kita bekerja di dalamnya.
Jabatan bukan hanya gengsi sosial yang dengannya status seseorang akan meningkat. Tetapi jabatan merupakan tanggungjawab ganda yang harus diemban dengan optimal. Makanya, kinerja dan tanggungjawab menjadi tolok ukur penting untuk menilai apakah pejabat yang bersangkutan berhasil atau tidak di dalam jabatannya. Di sinilah sebabnya setiap pemimpin ingin meninggalkan legacy yang dianggap sebagai monument keberhasilannya. Meskipun demikian, saya termasuk yang kurang sependapat jika seorang pemimpin hanya mengejar legacy dengan cara bongkar pasang program yang sudah mapan. Jadi, pertimbangkan bahwa keberhasilan bukan satu-satunya diukur dengan monument.
Kita ini dipercaya oleh Tuhan untuk mengemban tugas sebagai aparat sipil negara (ASN), kita dipercaya oleh negara untuk mengelola anggaran, kita dipercaya masyarakat bahwa program dan kegiatan itu pasti akan sampai ke tangan mereka, maka marilah kita berusaha untuk mendekati amanah ganda tersebut sambil berharap agar yang kita kerjakan itu akan bernilai ibadah.
Wallahu a’lam bi al shawab.

TRADISI MEMPERINGATI HARI KESAKTIAN PANCASILA

TRADISI MEMPERINGATI HARI KESAKTIAN PANCASILA
Di masa lalu ada yang mempertanyakan bagaimana Pancasila yang hanya gambar yang terdiri dari lima sila dengan ungkapan-ungkapan yang umum dan standart bisa dinyatakan memiliki kesaktian?. Dengan menyatakan bahwa Pancasila memiliki kesaktian, maka berarti sudah terdapat “kemusyrikan” secara sirri, dan seharusnya tidak ada orang muslim yang menyatakan bahwa Pancasila Sakti.
Saya ingin memberikan gambaran yang berupa jawaban atas statemen ini dalam kerangka untuk memberikan klarifikasi terhadap keberagamaan yang rasanya semakin tekstual saja tanpa mengindahkan nuansa keagamaan yang lebih manusiawi dan menyejukkan. Saya selalu menggunakan cara pandang kecerdasan sosial dan spiritual sekaligus. Dengan cara menggunakan kecerdasan-kecerdasan ini, maka rasanya kita tidak akan jatuh ke dalam penilaian hitam putih dalam menghadapi setiap tradisi termasuk tradisi upacara bendera untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila.
Tradisi memperingati Hari Kesaktian Pancasila merupakan tradisi kebangsaan dan kenegaraan, artinya di sana terdapat intelligensi sosial yang mendasari kegiatan orang untuk menyatakan bahwa Pancasila memiliki kesaktian. Pancasila sakti merupakan ungkapan simbolik untuk menandai bahwa ada suatu saat di mana kebersamaan dan kemenyatuan warga negara Indonesia menjadi taruhan dalam ujian yang dahsyat, dengan tujuan untuk mengganti dasar negara tersebut dengan ideology lain, komunisme. Dan yang menarik bahwa semua elemen bangsa menyatakan “menolak” dengan melakukan tindakan “melawan” atas kedhaliman dimaksud.
Menyatakan Pancasila Sakti bukan berarti bahwa ada yang sakti selain Allah atau yang kuat selain Allah. Sama sekali tidak bisa disepadankan antara Allah sang Maha Khalik dengan Pancasila yang hanya merupakan gagasan kebersamaan untuk membentuk negara bangsa. Pancasila Sakti merupakan pernyataan simbolik bahwa perjuangan untuk menegakkan Pancasila sebagai ideology bangsa akan terus hidup dan bertahan sampai kapanpun. Jika ada individu atau sekelompok individu yang mempermasalahkannya dan bahkan akan menggantinya, maka dengan kekuatan kebersamaan yang disimbolisasikan dengan Pancasila itu akan bergerak bersama.
Sebagai ungkapan simbolik, maka sudahlah lazim, jika kata “kuat”, “perkasa”, “digdaya”, “sakti” itu dilekatkan pada hal-hal yang dapat dijadikan sebagai symbol kebersamaan. Misalnya, di dalam cerita pewayangan, yang melambangkan tentang senjata Kuntawijayadhanu yang memiliki kekuatan atau kesaktian luar biasa dan dimiliki oleh Adipati Karna. Senjata ini hanya dapat ditandingi oleh Senjata Pasopati milik Raden Arjuna yang akhirnya dapat mengakhiri kehidupan Adipati Karna di Padang Kurusetra. Sementara itu, senjata Kuntawijayadhanu dapat menghabisi Raden Gatutkaca karena intervensi Kala Bendana, paman Gatutkaca sendiri.
Jadi kata-kata yang dilabelkan kepada benda, atau consensus, atau pernyataan sebenarnya tidak bisa dinilai sebagai pemadanan terhadap Tuhan dengan segala atribut dan kekuasaannya.
Beberapa saat yang lalu ada seorang akademisi di PTKIN, yang menyatakan bahwa menghormat bendera itu mengarah kepada kemusyrikan. Baginya, tidak pantas warna merah putih itu dihormati. Mungkin baginya, bendera hanyalah kain berwarna yang tidak pantas dan tidak berhak untuk dihormati atau dianggap sebagai memiliki kekuatan. Ungkapan seperti ini tentu berangkat dari pemikiran tekstual tentang benda, warna dan segala hal yang tampak di luar. Di dalam dunia lambang atau symbol, bahwa benda atau apapun merupakan benda atau ungkapan yang mengnadung makna “kesakralan”. Sakral dalam konteks bukan untuk disembah tetapi dihargai sebagai lambang kebersamaan dan kesatuan. Jadi, yang dilihat seharusnya adalah apa yang ada dibalik benda, warna, ungkapan atau ucapan itu sehingga akan lebih komplit untuk membacanya.
Saya kira semua orang yang menghormat bendera, menganggap sakti Pancasila dan juga menganggap orang yang memiliki “kelebihan” misalnya dalam kepemimpinan, tentu bukan menyamakan hal tersebut dengan Tuhan, akan tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada apa yang ita anggap “sacral” tersebut. Dalam dunia simbolik, bahwa ada sesuatu yang memiliki keunikan sendiri dan relevansinya sendiri bagi kehidupan individu maupun masyarakat.
Dengan demikian, menyebut hari Kesaktian Pancasila, sesungguhnya harus dipahami dari dimensi inteligensi sosial, yaitu keinginan untuk secara bersama-sama mempertahankan ideology negara, sebagai pengikat kesatuan dan persatuan bangsa dan merupakan ekspressi kebangsaan. Kemudian dari sisi inteligensi spiritual, bahwa menjadikan Pancasila sebagai ideology dan dasar negara adalah design Allah swt untuk bangsa Indonesia. Saya tetap berkeyakinan bahwa tidak ada di dalam dunia ini yang tidak sesuai dengan takdir Tuhan. Sebuah bentuk final dari takdir yang bisa diupayakan atau takdir yang muallaq, yang sangat tergantung kepada bagaimana Tuhan merespon keinginan kuat bangsa ini.
Sungguh tidak ada sedikitpun untuk menjadikan Hari Kesaktian Pancasila itu sebagai penentangan terhadap Allah swt dalam bentuk perilaku musyrik karena menganggap benda memiliki kekuatan atau di dalam konsep antropologis disebut dinamisme, sebab di dalam menjalankan upacara itu yang muncul bukan menyembah Pancasila akan tetapi menjadikannya sebagai lambang kebersamaan atau menjawab kebutuhan social intelligent, yang kita tentu butuh negara, bangsa dengan keharmonisan, kerukunan dan keselamatan. Selain itu juga keinginan untuk memenuhi spiritual intelligent, bahwa Allah telah mentakdirkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar yang selalu bisa memenangkan pertarungan di saat-saat yang kritis.
Marilah kita maknai Ritual Hari Kesaktian Pancasila sebagai hari bersyukur nasional atas keberhasilan bangsa ini untuk terus mempertahankan lambang kebersamaan tersebut dalam konteks pertarungan isme-isme yang terus berkembang di era sekarang.
Wallahu a’lam bi al shawab.

BENCANA ALAM YANG TERUS MENDERA (2)

BENCANA ALAM YANG TERUS MENDERA (2)
Seluruh wilayah Indonesia kecuali Pulau Kalimantan adalah daerah yang rawan gempa. Saya teringat di kala terjadi gempa dengan kekuatan 6,4 skala richter di wilayah selatan Banten, maka getarannya sampai di Jakarta. Sangat terasa. Saya yang sedang berada di lantai II Kementerian Agama merasakan betapa kuatnya tekanan gempa bumi tersebut. Karena pusat gempanya jauh dari daratan, maka tidak berpotensi tsunami.
Setelah itu, lalu ada beberapa informasi yang menyebutkan bahwa Jakarta akan digoncang gempa dengan kekuatan lebih dari 9 skala richter. Maka kepanikan tentu lalu melanda warga Jakarta, apalagi dengan banyaknya gedung pencakar langit dan bangunan-bangunan yang tinggi. Seluruh kementerian lalu diminta untuk melakukan uji kekuatan atas dampak gempa dengan skala richter tertentu. Sontak seluruh kementerian melakukan hal tersebut, sebagai wujud kepedulian terhadap akibat gempa yang memang menakutkan.
Beban psikhologis para pengungsi gempa bumi memang sungguh sangat besar. Masyarakat yang selama ini hidup mapan dengan keluarganya, tiba-tiba harus menjadi pengungsi karena rumahnya dan harta miliknya hancur berantakan. Mereka sedang menghadapi masalah pasca bencana yang menimbulkan trauma luar biasa. Dalam kasus di Lombok, bisa dibayangkan terjadi lebih dari 1000 kali gempa dengan ukuran kekuatan yang berbeda-beda. Makanya, tidak ada yang berani tidur di dalam rumah, paling tidak di halaman rumah atau di teras rumah. Hal ini dipicu oleh pemikiran agar jika terjadi gempa maka sesegera mungkin bisa menyelamatkan diri. Peristiwa seperti ini terjadi dalam waktu yang panjang sehingga mendera beban psikhologis yang sangat kuat.
Beban psikhologis ini yang menyebabkan mereka kompak di dalam berdoa agar Tuhan segera mengakhiri “penderitaan” yang mereka rasakan. Sungguh doa yang sangat menyayat hati bagi orang yang mendengarnya atau mendengar ceritanya. Apakah anda mendengar jeritan saudara-saudara kita di tempat yang sedang dilanda duka sebagai akibat gempa bumi? Doa mereka terpapar dalam dua hal, yaitu: “Ya Allah, jika musibah ini adalah cobaan dari MU, maka sudah cukup cobaan ini kami rasakan. Dan jika musibah ini adalah ujian MU, maka sudah cukup ujian ini bagi kami”. Betapa mendalamnya doa-doa yang mereka lantunkan ini di tengah nuansa ketidakmenentuan kehidupan sebagai akibat gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Memang bisa dibayangkan bahwa dampak psikhologis para korban bencana alam ini luar biasa. Mereka tidak lagi memiliki rumah, pekerjaan dan masa depan. Sementara keluarganya tentu menuntut agar kehidupan terus berlangsung. Mengandalkan bantuan tentu tidak menyelesaikan masalah. Bantuan sosial tentu bersifat tanggap darurat dan hanya bersifat sementara. Berapapun bantuan yang dikucurkan, tentu hanya bersifat sementara saja.
Sekarang kita sedang menghadapi bencana di Palu yang juga tidak kalah hebat dampaknya. Ada banyak yang tewas karena tertimbun lumpur dan terkena longsor bahkan juga terseret arus gelombang tsunami yang besar. Semua ini memberikan gambaran bahwa gempa di Palu itu sebagai sebuah peristiwa alam yang dahsyat. Sebuah peristiwa alam yang sesungguhnya terdesain semenjak bumi atau alam diciptakan dan baru sekarang peristiwa itu terjadi.
Namun yang jelas bahwa musibah ini telah memberikan “kesadaran” baru warga dunia untuk saling bersimpati. Tidak hanya warga negara Indonesia yang secara serempak memberikan donasinya di wilayah atau tempat kerjanya. Bahkan di Kementerian Agama bisa dikumpulkan anggaran sebesar 13 Milyard untuk menyumbang bencana di Lombok. Dan sekarang tentu mereka juga tergerak untuk melakukan hal yang sama.
Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan juga kementerian lain agar memberikan programnya untuk kepentingan recovery di tempat bencana. Ada banyak lembaga pendidikan, tempat ibadah dan juga sarana pemerintahan yang rusak, sehingga semuanya harus diselesaikan secepatnya untuk recovery.
Bahkan pemerintah negara-negara asing juga memberikan simpatinya. Presiden Amerika Serikat, PM. Jepang, PM. India, Raja Arab Saudi dan banyak lagi lainnya. Semua di antara mereka merasakan bahwa tekanan gempa bagi warga negara Indonesia ini sungguh berat. Mereka bersimpati terhadap terjadinya gempa yang meluluhlantakkan bangunan dan juga menyebabkan korban jiwa.
Namun demikian, pemerintah belum menganggap perlu bantuan asing untuk membantu menyelesaikan masalah akibat gempa ini. Pemerintah tentu telah mengukur bahwa beban anggaran untuk melakukan recovery terhadap korban gempa tentu masih bisa ditanggulangi. Hal ini mengaca pada penanganan gempa di Lombok yang juga bisa dilakukan secara optimal.
Walaupun begitu satu hal yang harus diungkapkan di dalam menghadapi kejadian demi kejadian gempa ini, yaitu: “semua warga negara Indonesia merasa ikut prihatin atas gempa bumi ini seraya terus mengucapkan doa agar mereka berada di dalam kesabaran dan ketabahan. Kita semua yakin bahwa segala sesuatu pasti akan ada akhirnya dan kehidupan akan menjadi normal kembali.”
Wallahu a’lam bil as shawab.

GEMPA BUMI YANG TERUS MENDERA (1)

GEMPA BUMI YANG TERUS MENDERA (1)
Ada banyak orang yang bisa menyatakan bahwa keberadaan bencana atau hal-hal yang bersifat entropic itu merupakan ujian Tuhan atau cobaan Tuhan. Allah sering dikaitkan dengan kejadian bencana sebab dianggap bahwa Allah sedang mencoba atau menguji hambanya dengan bencana itu.
Jawaban atas hal ini tentu bisa dua juga. Di satu sisi bisa saja bencana alam dianggap sebagai wujud kepedulian Tuhan dengan memberikan cobaan atau ujian, akan tetapi juga bisa tidak dikaitkan dengan cobaan atau ujian Tuhan terhadap hambanya. Bencana adalah bencana dan hal itu merupakan kejadian alam yang memang sudah Allah takdirkan atas dinamika atau pergerakan alam itu sendiri. Tetapi di antara yang pasti bahwa bencana alam pastlah kepastian Tuhan atas seluruh alam yang memang harus terjadi.
Saya termasuk orang yang mengikuti pandangan bahwa bencana alam adalah kejadian alam di bawah kepastian Tuhan dan hal itu bisa terjadi di mana saja. Tidak harus di tempat di mana banyak kemaksiatan atau di tempat yang di situ banyak orang beribadah. Memang ada riwayat yang menyatakan bahwa Allah pernah misalnya memberikan bencana kepada umat manusia karena kemaksiatannya. Dalam kisah Nabi Nuh AS., maka banjir besar pertama dalam sejarah kemanusiaan dipicu oleh kemaksiatan hambanya dan dilakukan atas doa Nabi Nuh AS. Atau misalnya bencana pada waktu Nabi Sholeh diutus di negeri Madyan. Sebagai akibat kepongahan dan kemaksiatan hambanya itu, maka kota Sodom dan Gomora diluluhlantakkan, dan bukti historisnya dapat dilihat di tempat yang disebut sebagai Madain Sholeh di Arab Saudi.
Tetapi apakah bencana akhir-akhir ini yang terjadi di Indonesia merupakan bentuk dari ujian atau cobaan Allah atau bahkan adzab Tuhan? Terhadap hal ini saya akan menggunakan logika rasional, bahwa bencana alam merupakan bagian tidak terpisahkan dari peristiwa alam yang memang harus terjadi. Hal ini tentu terkait dengan bagaimana Allah menciptakan susunan dan struktur alam yang memang memungkinkan dalam suatu ketika terjadi bencana tersebut. Misalnya, tentang struktur dan susunan bumi yang berlapis-lapis, ada bongkahan-bongkahan dan lempengan-lempengan yang karena bumi terus bergerak maka sangat memungkinkan terjadi pergesearan dan bahkan patahan demi patahan. Hukum pergerseran, hukum patahan dan hukum himpitan lempengan tersebut maka dipastikan dalam suatu ketika akan mengalami pergerakan dan akhirnya terbentuk gempa yang memang tidak bisa dihindari.
Melalui perkembangan teknologi seismografi, maka posisi gunung yang akan meletus pun bisa diprediksi sebab gejala-gejalanya tentu bisa diramalkan. Hanya saja, kapan gunung meletus sesungguhnya itulah yang tidak mudah diprediksi. Sama dengan prediksi tentang kapan akan terjadi bencana, maka ilmu pengetahuan tidak dapat mencandranya, meskipun gerakan lempengan dan bongkahan pada bawah bumi itu bisa diprediksi gerakannya. Akan tetapi lagi-lagi ilmu pengetahuan tidak dapat memprediksi secara tepat kapan akan terjadi gempa bumi.
Manusia dengan kemampuan ilmu pengetahuannya tentu saja bisa membuat prediksi demi prediksi, akan tetapi ketepatan prediksinya tentang kapan kejadian gempa tersebut akan berlangsung rasanya masih selalu menjadi tanda tanya. Di sinilah takdir Tuhan itu berlaku. Para ilmuwan yang bergerak di dalam bidang ini lantas membuat analisis secara akademis tentang kejadiannya dan juga peluangnya terjadi di tempat lain.
Sungguh saya berpendapat bahwa kejadian alam apapun bentuknya merupakan bagian dari proses alam itu berlangsung dan tentu sudah secara azali ditentukan oleh Allah. Makanya, ketika gempa terjadi di Nusa Tenggara Barat –tepatnya di wilayah NTB bagian timur—yang secara religious umatnya sangat luar biasa, tentu tidak bisa dijadikan sebagai bukti bahwa Tuhan sedang mencoba umatnya atau menguji umatnya. Atau bencana alam di Donggala Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat yang juga memiliki tingkat religious yang baik, maka pastilah Tuhan tidak sedang mencoba atau menguji hambanya dengan kejadian-kejadian yang luar biasa tersebut.
Marilah kita tempatkan bahwa bencana itu merupakan peristiwa alam yang memang harus terjadi dan bertepatan bahwa jatuhnya lempengan atau pergerakan lempengan tersebut sedang berada di wilayah tersebut. Indonesia memang dikenal dengan sebutan “ring of fire” atau cincin api. Dalam hal ini banyak gunung berapinya luar biasa aktif dan lempengan atau patahan-patahan bawah bumi juga bisa menyebabkan bencana yang hebat.
Gempa bumi di Palu dengan 7,2 skala richter yang diikuti dengan tsunami, adalah peristiwa alam yang saling terkait. Patahan dalam bumi yang hanya berjarak 10 meter dengan skala yang besar tentu memiliki dampak yang kuat untuk terjadinya katerkaitan antara gempa bumi dan tsunami. Jarak gempa yang dangkal dan dekat dengan daratan dalam skala richter yang besar tentu memiliki konsekuensi sebagaimana yang kita lihat tersebut.
Oleh karena itu, kiranya menjadi arif jika kita tidak lagi berkomentar bahwa gempa bumi atau gunung meletus tersebut dikaitkan dengan “kemarahan” Tuhan, “cobaan” Tuhan atau “ujian” Tuhan kepada hambanya. Apalagi dikaitkan dengan kekuasaan politik yang juga sedang menuai hari-harinya. Bagi saya, yang terpenting ialah bagaimana dengan kejadian ini, makin mendekatkan kita kepada Allah swt dengan amal ibadah dan amalan sosial, dan semoga saudara kita di sana selalu berada di dalam kesabaran.
Wallahu a’lam bi al shawab.