Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (4)

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (4)
Kegamangan tentu tidak boleh berlalu dalam waktu yang lama. Artinya, bahwa diperlukan way out dalam kerangka untuk menyiapkan bagaimana para mahasiswa sebagai calon penerus bangsa ini akan bisa menghadapi tantangan yang sangat ketat di era yang akan datang. Tidak hanya tantangan terkait dengan perebutan sumber daya ekonomi, akan tetapi juga tantangan sebagai bangsa dan sosial budaya lainnya.
Saya berpikir, bahwa sebaiknya kita memang melakukan beberapa hal, yang kiranya harus dirumuskan oleh suatu team yang kuat. Tantangan ini bukan problem individu, akan tetapi adalah tantangan semua para pendidik, baik guru maupun dosen, dan bahkan juga tantangan pemerintah dan masyarakat. Saya berpikir bahwa problem bangsa ini merupakan tugas bersama dan memerlukan penanganan bersama. Para dosen dan guru adalah part of program besar yang akan terlibat secara aktif di dalam menghadapi era yang akan datang.
Era sekarang disebut sebagai era teknologi informasi atau era digital. Siapapun yang menguasai era digital, maka dialah yang sesungguhnya akan menjadi pemenang. Jika di era Industri 1.0, maka siapapun yang memiliki kekuatan modal untuk memanfaatkan mesin uap, maka dialah yang menguasai medan dunia. Mungkin masih bisa diingat tentang kekuatan tentara Jerman di era Perang Dunia II ialah karena kekuatan mobilisasi pasukan melalui darat dengan menggunakan kereta api. Selain itu dengan ditemukannya mesin uap juga sangat memungkinkan terjadinya perdagangan antar negara. Seluruh benua Eropa bisa disambungkan dengan kekuatan kereta uap, lalu juga benua Amerika dan sebagainya.
Lalu di era industry 2.0., maka juga terjadi lompatan teknologi yang luar biasa. Misalnya dengan berkembangnya produk manufacturing seperti mobil dan peralatan-peralatan kehidupan yang menggunakan sumber daya listrik. Perkembangan perdagangan dan mobilisasi manusia juga menjadi sangat tinggi disebabkan oleh adanya pabrik-prabrik dengan berbagai bentuk dan produknya.
Kemudian di era industry 3.0, maka manusia dimanjakan dengan kehadiran teknologi computer. Melalui mesin computer portable atau personal computer, maka pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Dengan kehadiran teknologi komputer, maka pekerjaan yang dahulu dikerjakan dengan manual, maka kemudian menjadi lebih ringkas. Juga ditemukannya teknologi telepon lalu kemudian mesin faximile, email dan sebagainya, maka dapat menghasilkan relasi yang on time. Jika menggunakan surat menyurat bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan, maka dengan mesin faximile, maka surat akan datang hanya dalam beberapa menit.
Pada era industry 4.0, maka dunia semakin terlipat dan tanpa batas. Sekaranglah sesungguhnya era globalisasi itu. Bayangkan dengan alat hand phone, maka dunia menjadi tidak berbatas. Dengan ditemukannya teknologi android, maka hubungan antar manusia antar wilayah tidak lagi mengalami kendala. Era sekarang merupakan era teknologi aplikasi, sehingga banyak hal –terutama dunia perdagangan—banyak mengalami perubahan. Jika di masa lalu, sebuah mall atau supermarket yang dibutuhkan pertama ialah bangunan mall atau supermarket, namun dengan perkembangan aplikasi teknologi informasi maka toko tidak harus memiliki gedung, sebab gedungnya ialah aplikasi itu. Menjamur e-commerce yang luar biasa. Banyak juga perusahan angkutan yang tidak memiliki satupun armada, sebab armadanya ialah aplikasi itu. Perusahan taksi di Malaysia bisa beroperasi di Indonesia dengan hanya mengandalkan aplikasi tekonologi informasi.
Makanya kemudian berkembang ekonomi digital, yaitu dunia ekonomi yang tidak lagi berbasis pada perdagangan konvensional, akan tetapi berbasis digital. Jadi siapa yang menguasai teknologi informasi dengan seperangkat aplikasinya, maka dialah yang akan menguasai ekonomi tersebut. Di dunia dikenal, misalnya Amazon.com, Alibaba.com, dan sebagainya yang dapat menguasai dunia perdagangan dengan kekuatan teknologi aplikasinya.
Banyak sekarang anak-anak muda yang menjajakan perdagangan dengan aplikasi teknologi computer, misalnya Go-Jek, yang dikomandani oleh Nabiel Makarim, lalu juga ada Grabb yang berpusat di Malaysia, Bukalapak, Shophie, Shahnaz Shop dan sebagainya. semua ini adalah dunia perdagangan yang tidak memanfaatkan gerai sebagai tempat memajang barang-barangnya, akan tetapi dengan aplikasi. Dari Go-Jek yang merupakan cikal bakal perusahaan transportasi, maka sekarang sudah berkembang Go-Food, Go-Bank, Go-lainnya yang menjadi anak-anak perusahaan.
Perkembangan ini sungguh luar biasa, dan yang menjadi masalah adalah apa yang bisa diberikan kepada anak-anak UIN dengan segala program dan jurusannya.
Mungkin ada di antara kita yang bertanya, core business UIN adalah ilmu agama, ataupun jika ada program studi lain adalah pendukung core business ini. tetapi yang jelas bahwa apapun program studinya, mereka harus tetap dididik untuk menghadapi tantangan teknologi informasi. Jadi, bagaimana dakwah di era teknologi informasi, perdagangan syariah berbasis teknologi informasi, tafsir dan hadits berbasis teknologi informasi, dan sebagainya.
Selain itu, mereka mestilah diberi program sertifikasi yang memungkinkan para mahasiswa dapat mengakses kehidupan secara lebih baik. Dan ini semua adalah tantangan para dosen yang memang diciptakan oleh Allah untuk menjadi teoretisi dan praktisi pendidikan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (3)

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (3)
Ketika menginjakkan kaki di Kampus tercinta, UIN Sunan Ampel Surabaya, sebenarnya ada rasa gamang. Kegamangan tersebut disebabkan oleh pemikiran mendasar tentang apa yang harus saya lakukan setelah sekian lama tidak mengajar dalam konteks relasi dosen-mahasiswa, sebagaimana di masa lalu serta tantangan pendidikan yang sangat kompleks.
Saya merasakan betapa waktu yang cukup panjang tidak mengajar membuat saya gamang. Banyak hal yang rasanya tidak saya alami akhir-akhir ini. Bukan disebabkan karena conten pembelajaran yang saya pikirkan, akan tetapi yang lebih mendalam ialah bagaimana menyuguhkan pendidikan yang tidak hanya berbasis pada transfer pengetahuan, akan tetapi menghasilkan temuan yang disebabkan oleh kerja bersama antara dosen dan mahasiswa.
Saya memang getol menyuarakan tentang program pendidikan yang bercorak discovery bukan pendidikan yang berbasis transfer pengetahuan. Jika pembelajaran berbasis pada transfer of knowledge, maka sudah banyak bahan-bahan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Search engine, seperti Google dengan sangat cepat akan menghadirkan apa saja yang kita ingin tahu. Nyaris semuanya bisa terpenuhi di mesin pencari ini. Al ilmu fil machine. Dengan Youtube, nyaris semua hal bisa dipenuhi. Mulai dari program televise film documenter, music cadar, music dangdut sampai music keroncong. Semua tersedia dengan lengkap. Jadi jika proses pembelajaran tetap menggunakan pola transfer of knowledge, maka sudah pasti kita akan ketinggalan.
Di sinilah kata kunci mengapa saya gamang. Apakah saya bisa menghadirkan program pembelajaran berbasis discovery record, yang kelak akan berguna di dalam proses penemuan jati diri yang bersangkutan. Saya masih terngiang-ngiang dengan ungkapan Jack Ma, konglomerat negeri Tirai Bambu, yang menyatakan bahwa pendidikan harus berubah. Cara kita mengajar harus berubah. Content pembelajaran harus berubah. Sebab jika tidak berubah kita akan dilahap oleh artificial intelligent yang sangat cermat dan semakin bervariatif dalam jumlah dan kualitasnya.
Sebagaimana yang pernah saya tulis sebelumnya, bahwa Jack Ma menyatakan bahwa “program pembelajaran harus mengajarkan tentang values, believing, independent thinking, team work, care for other. Selain itu juga diajarkan sport, music, painting, art dan sebagainya.” Semua berbeda dengan mesin. Mesin tidak bisa mengajarkan semua ini. Manusia yang bisa mengajarkannya. Di sinilah sesungguhnya dosen memiliki keunikan yang tidak akan bisa dilawan oleh mesin dan piranti lainnya di dalam proses pendidikan.
Akan tetapi yang menjadi problem adalah bagaimana kita menghasilkan pendidikan yang bisa memenuhi hasrat untuk menyongsong era milenial yang semakin kencang ke depan dengan teknologi informasi dan kekuatan artificial intelligent dimaksud. Saya kira inilah tantangan kita yang tidak sederhana, dan kita harus siap menghadapinya. Sementara di antara kita mungkin belum care terhadap problem besar yang menjadi tantangan perguruan tinggi kita itu.
Ada kekhawatiran yang sangat mendasar tentang semua masalah yang sudah berada di depan mata kita ini. Sekali lagi bahwa kita sebagai ahli dan praktisi pendidikan –dalam kapasitas kita masing-masing—tentulah akan dan diharapkan untuk mengantarkan anak-anak kita, generasi yang akan datang untuk berkarya dalam kerangka menyiapkan generasi emas Indonesia, tahun 2030-2045 yang akan datang. Jika kita berhasil mendidik mereka untuk menghadapi tantangan milenial dengan teknologinya itu, maka peluang mereka untuk berhasil tentu sangat besar, sementara itu jika kita tidak mampu menghasilkan anak-anak hebat yang akan menjadi the winners, maka kita akan gagal di masa yang akan datang. Sungguh dunia pendidikan sangat menentukan terhadap masa depan Indonesia ini.
Di dalam batin saya ada sebuah pertanyaan besar yang rasanya harus dijawab oleh dunia pendidika tinggi, yaitu: sanggupkah kita menghadapi derasnya tekanan teknologi informasi yang sudah berada di pelupuk mata?, apakah dengan kemampuan SDM yang kita miliki sekarang ini, sudahkah kita bersiap untuk bertarung dalam pertempuran global dalam menghadapi lajunya perkembangan artificial intelligent yang sebenarnya ciptaan kita sendiri.
Lagi-lagi saya ingat Jack Ma, yang menyatakan bahwa pada tahun 2030, akan terdapat sebanyak 800 juta pekerjaan yang akan digantikan oleh robot atau mesin, dengan tingkat kecepatan dan ketelitian serta keakuratan di dalam pekerjaan yang tidak akan bisa dilawan oleh manusia super sekalipun. Sungguh inilah yang membuat saya gamang kala kembali ke dunia pendidikan yang memiliki 1001 tantangan.
Saya harus focus pada satu dua persoalan saja untuk menghadapi tantangan pendidikan ini di tahap awal dan setelah itu mungkin ada peluang untuk menghadapinya satu persatu.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KEMBALI DALAM PENGABDIAN DOSEN (2)

KEMBALI DALAM PENGABDIAN DOSEN (2)
Salah satu di antara moment penting bagi Pak Suryadharma Ali sewaktu menjadi Menteri Agama ialah melaksanakan gerak jalan kerukunan umat beragama. Moment ini dilakukan melalui diskusi kecil saya dengan Pak Surya dan Pak Kakanwil Jogykarta, Pak Masykul Hadi, pada awal tahun 2014. Salah satu di antara yang digagas bersama ialah bagaimana menggerakkan umat terutama di daerah untuk membangun semangat kerukunan. Makanya, kemudian dilakukanlah gerak jalan kerukunan umat beragama di seluruh wilayah Indonesia. Mula-mula yang melakukan ialah Kakanwil Kemenag Jawa Tengah, Pak Khoiruddin, lalu berturut hampir setiap akhir pekan dilakukan gerak jalan dimaksud. Tidak hanya dilakukan di daerah tetapi juga di pusat, yang selalu dimulai dari Kantor Lapangan Banteng 3-4 Jakarta. Bahkan pernah menyelenggarakan apel kerukunan umat beragama dengan peserta sebanyak 50.000 orang di Lapangan Monas Jakarta. Hadir pada waktu itu ialah Wakil Presiden RI, Bapak Professor Budiono. Apel akbar ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Amal Bhakti Kemenag. Sebagai seorang Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis) tentu saya mendukung terhadap Gerakan Kerukunan Umat Beragama, sebab memang bernilai sangat strategis. Saya masih ingat ungkapan Pak Surya: “pembangunan bangsa tidak bisa dilaksanakan tanpa persatuan bangsa dan persatuan bangsa tidak akan terjadi jika tidak terdapat kerukunan umat beragama”.
Pada suatu sore, saya datang ke ruang Pak Surya. Bertepatan waktu itu terdapat Menteri Perumahan Rakyat, Pak Djan Farid. Sambil berdiri Pak Surya memberitahu bahwa saya akan dilantik untuk menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kemenag. Kalau tidak salah, hal itu terjadi satu hari sebelum saya dilantik, tanggal 11 April 2014. Maka sambil berdiri itu, saya nyatakan bahwa saya akan lebih banyak bisa membantu Pak Surya dalam jabatan Dirjen. Apa tidak sebaiknya saya tetap dalam jabatan saya saja. Pak Surya menyatakan: “Surat Keputusan Presiden sudah jadi, makanya akan segera saya lantik”. Mungkin tidak ada yang pernah menyangka bahwa saya sebenarnya keberatan ketika mau diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Kemenag.
Tetapi tentu takdir berkata lain, sebab akhirnya saya memang dilantik sebagai Sekjen Kemenag dan jabatan itu berlangsung sampai kemudian Pak Lukman Hakim Saifuddin, diangkat untuk jabatan Menteri Agama pada akhir tahun 2014 dan kemudian tetap dipertahankan pada waktu Pak Lukman menjadi Menteri Agama pada era Pak Jokowi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Ada banyak suka dn duka di dalam menjabat sekjen Kemenag. Maklumlah bahwa Sekjen Kemenag itu dituntut untuk juga memahami konsep—konsep dasar Ilmu Agama. Meskipun tidak ahli betul di dalam ilmu agama, akan tetapi pengetahuan dasar mengenai ilmu agama harus dikuasai. Sebagai alumni IAIN tentu sedikit atau banyak saya cukup memahami banyak hal tentang ilmu keislaman. Tentu berbeda dengan sekjen K/L lainnya, yang memang murni administrasi pemerintahan, maka untuk Sekjen Kemenag diperlukan seperangkat pengetahuan tentang Ilmu administrasi kelembagaan dan juga administrasi yang terkait dengan agama.
Memang tugas pokok dan fungsi Kemenag itu sangat luas. Dari aspek administrasi pemerintahan, pendidikan Islam, dan juga administrasi agama dan kelembagaan agama pada semua agama. Sebagai sekjen Kemenag tentu yang sangat mendasar ialah bagaimana mengkomunikasi dan mengkoordinasikan tupoksi kemenag yang sangat luas tersebut. Untuk administrasi pendidikan Islam dan all of the problem pendidikan Islam tentu saya tahu, sebab saya pernah menjabat sebagai dirjen Pendidikan Islam. Tentang administrasi kelembagaan juga bisa saya kuasai dalam waktu yang relative singkat, namun yang tidak kalah pointing ialah administrasi keagamaan dan kelembagaan keagamaan.

KEMBALI DALAM PENGABDIAN DOSEN (1)

KEMBALI DALAM PENGABDIAN DOSEN (1)
Tidak terasa bahwa telah lama saya berada di Jakarta, yaitu 6 (enam) tahun 8 (delapan) bulan. Semenjak tanggal 17 Januari 2012 sampai tanggal 31 Agustus 2018. Tidak terasa waktu berjalan sedemikian cepat. Sungguh sangat cepat rasanya waktu berjalan. Mungkin karena aktivitas yang sangat padat sehingga tanpa terasa waktu terus berjalan dari hari ke hari dan bulan ke bulan dan tahun ke tahun.
Hari Senin, 3 September 2018, saya menjejakkan kaki ke kampus yang dahulu pernah membesarkan saya. Saya teringat betapa tidak mudah mengembangkan karir di perguruan tinggi, IAIN dan Kini UIN Sunan Ampel. Hari-hari yang panjang pernah saya lalui. Mulai dari pengabdian sebagai Asisten Dosen Pak Drs. Bisri Afandi, MA yang kali itu menjadi dosen dan juga Pembantu Rektor I IAIN Sunan Ampel, sampai kemudian menjadi dosen PNS di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, tahun 1986.
Saya memang dipercaya oleh Pak Bisri –demikian saya memanggil Beliau—untuk menjadi asistennya, dan ketika Beliau mengambil program doctor di IAIN Sunan Kalijaga, Jogyakarta, maka sayalah yang sering diminta untuk menemukan disertasi di berbagai universitas, terutama tentang Ahmad Soorkati, yang menjadi tema disertasi Beliau. Tugas itu bisa saya emban dengan baik, sehingga Beliau bisa meraih doctor dalam bidang pemikiran Islam.
Jalan yang diberikan Allah tentunya sangat indah bagi saya. Sebab semenjak menjadi Calon PNS, saya sudah diamanahi sebagai Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) pada Fakultas Dakwah dan kemudian terus menjadi Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), berlanjut menjadi Sekretaris Koordinatorat Perguruan Tinggi Islam Swasta (Kopertais) se wilayah Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT. Jabatan yang bisa mengantarkan saya untuk bertemu dengan varian pimpinan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS) yang terdiri dari para kyai, ulama dan juga akademisi. Maklum bahwa banyak PTAIS yang didirikan oleh para Kyai di pesantren.
Dari sinilah kemudian jejaring dengan ulama, kyai dan cendekiawan itu terbangun. Dan tentu saya bersyukur atas pilihan Pak Prof. HM. Ridlwan Nasir yang telah memilih saya untuk jabatan ini. Berlanjut kemudian menjadi Pembantu Rentor II, Bidang Administrasi Umum, yang dari sini saya belajar banyak tentang bagaimana mengelola administrasi perguruan tinggi. Suatu hal yang kemudian sangat bermanfaat untuk memahami dunia administrasi khusus pendidikan tinggi maupun administrasi pada umumnya.
Berdasarkan pilihan one man one vote, saya terpilih menjadi rector IAIN Sunan Ampel, dan dilantik oleh Pak Maftuh M. Basuni, Menteri Agama RI, tanggal 8 Oktober 2009. Dan belum genap 1 (satu) periode, akhirnya saya diajak Pak Menteri Agama, Pak Dr.Hc. Suryadharma Ali ke Jakarta untuk menduduki jabatan sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Islam. Dan kemudian dilanjutkan menjadi Sekretaris Jenderal Kemenag. Saat itu, 11 April 2014, saya menempati pos sebagai Sekjen Kemenag hingga 31 Agustus 2018.
Makanya, tanggal 1 September 2018, saya secara resmi kembali ke UIN Sunan Ampel untuk mengabdikan diri sebagai ASN Kemenag yang berfungsi sebagai dosen atau Professor Sosiologi sebagaimana jabatan semula yang saya tinggalkan.
Saya merasa senang bisa kembali sebagai Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel. Bagaimanapun jabatan sebagai Professor merupakan jabatan yang sangat prestisius. Guru besar tentu memanggul tugas mulia untuk mengantarkan anak Indonesia agar siap untuk menghadapi masa depan, khususnya era milenial yang sangat prospektif. Jika kita bisa menghadapinya, maka dipastikan bahwa kita akan keluar sebagai pemenang, tetapi sebaliknya jika kita kalah, maka kita akan menjadi pecundang.
Oleh karena itu, tugas para dosen haruslah memberikan yang terbaik bagi para mahasiswa sebagai calon manusia Indonesia masa depan. Dan tugas itu adalah bagian dari tugas saya sebagai Professor yang sesungguhnya memanggul upaya untuk memperbaiki kualitas manusia Indonesia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KEBAHAGIAAN SEORANG PENDIDIK (2)

KEBAHAGIAAN SEORANG PENDIDIK (2)
Menjelang kepulangan saya ke Surabaya, setelah selama 6,5 tahun menjadi Pejabat Tinggi Madya, pada Kemenag RI, maka di rumah dinas –Jalan Indramayu No. 14, Menteng, Jakarta—diselenggarakan acara temu muka untuk melepas kepulangan saya tersebut. Hadir pada acara ini ialah mahasiswa-mahasiswa di masa lalu, dan juga Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Masdar Hilmy, MA, PhD., Dekan Fakultas Dakwah, Dr. Abdul Halim, MA., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Dr. Ah. Ali Arifin, MEI., Pengasuh Ma’had Al Jami’ah, HM. Mujib Adnan, MA., dan Sekretaris Penelitian, Abdul Basith, MPd.
Sungguh merupakan suatu kebahagiaan bahwa acara yang tidak direncanakan dengan seksama tersebut ternyata dihadiri oleh banyak sahabat dalam kapasitasnya masing-masing. Saya sangat menghargai terhadap keberadaan acara ini sebab tidak hanya acara kangen-kangenan tetapi juga acara ritual, sebagaimana Orang NU melakukannya selama ini, yaitu Yasinan dan Tahlilan. Acara yang juga biasa saya lakukan selama ini di sela-sela kesibukan saya sebagai pejabat di Jakarta. Apapun kesibukannya, acara ritual ini tidak boleh dilupakan sama sekali.
Tidak ada acara ceramah atau yang terkait dengan nasehat keagamaan. Saya tidak ingin bahwa acara kangen-kangenan itu dimuati dengan acara keagamaan yang sangat banyak. Oleh karena acara ini juga tidak didesain dengan ketat. Hanya guyonan saja. Sungguh bisa menjadi acara humor dan tawa yang tidak henti-hentinya.
Yang banyak justru selfi dan foto-fotoan. Lalu, mereka membentuk kelompok-kelompok yang tidak didesain sedemikian rupa. Secara alami saja terjadi pengelompokan berdasarkan usia dan angkatan atau persahabatan. Maklumlah bahwa mereka ini memiliki kedekatan yang bisa berbeda-beda. Mereka memang saling mengenal, akan tetapi tentu ada yang lebih atau kurang.
Saya merasakan betapa sebagai seorang guru atau dosen, akan merasakan kebahagiaan di kala para mitranya di masa lalu itu berkumpul dalam momentum yang menggembirakan. Tidak ada yang melebihi di saat mereka pada datang dan saling berceloteh tentang masa lalu dan masa kininya.
Saya memang memiliki hubungan yang demikian baik dengan mitra kerja saya di masa lalu itu. Maklumlah di saat itu, saya sering menginap di kantor atau disebut doktor atau mondok di kantor. Isteri dan anak-anak saya menetap di Tuban, sehingga saya hadir di kantor saat mengajar. Selama 4 (empat) hari saya di kantor. Senin sampai Kamis saya di kantor dan selebihnya berada di Tuban. Di saat malam, biasanya mereka bertemu. Mereka sering datang untuk membelikan makan malam. Lalu, membicarakan banyak hal. Mulai dari mata kuliah sampai persoalan aktivis kemahasiswaan. Maklum di antara mereka kebanyakan ialah aktivis mahasiswa di IAIN kini UIN Sunan Ampel Surabaya.
Saya memang tidak memasuki arena menjadi aktivis di Jakarta. Sejauh yang saya pernah lakukan ialah menjadi aktivis di tingkat korcab, dan bukan sebagai pimpinan puncak. Saya memang lebih banyak berkiprah di organisasi intra universitas. Tepatnya pernah menduduki jabatan Sekretaris Umum Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, lalu berlanjut menjadi Sekretaris Umum Badan Pelaksana Kegiatan Mahasiswa (BPKM) IAIN Sunan Ampel. Pada waktu itu, IAIN Sunan Ampel di Surabaya menjadi pusat dan beberapa Fakultas Lainnya di luar Surabaya menjadi cabang, misalnya IAIN Sunan Ampel di Malang, Tulungagung, Pamekasan, Kediri, Ponorogo, Mataram dan juga Banjarmasin. Jadi wilayah BPKM juga sesuai dengan wilayah-wilayah tersebut.
Kala menjadi dosen itulah saya memiliki kedekatan dengan para mahasiswa terutama para aktivis. Tidak hanya di ruang kuliah saja bertemu tetapi juga di kegiatan pendampingan, tutorial dan juga ngobrol bareng di malam hari. Waktu itu, banyak dosen Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel yang menginap di kantor. Bahkan juga Pak Wakil Dekan I dan berlanjut sebagai Dekan Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel, Pak Imam Sayuti Farid, juga menginap di Fakultas. Makanya, hubungan dosen dan mahasiswa dan bahkan dengan pimpinan Fakultas itu sedemikian bersahabat.
Rasanya, kedekatan saya dengan para mahasiswa dan juga para dosen itulah yang kemudian membentuk sikap-sikap saya di kemudian hari. Saya sesungguhnya banyak belajar dari relasi saya dengan mahasiswa dan juga para dosen. Maklumlah di Perguruan Tinggi nyaris relasi antara mahasiswa dengan dosen dan pimpinan fakultas itu tidak terdapat hirarkhi, tidak ada jarak antara satu dengan lainnya. Tentu sangat berbeda dengan dunia birokrasi yang terkadang memang menyisakan jarak atau hirarkhi antara atasan dan bawahan.
Dan tentu yang membuat saya bersyukur ialah hubungan sosial itu tidak terputus hingga sekarang. Sangat banyak mahasiswa saya yang hingga sekarang tetap menjalin komunikasi dengan baik dengan saya dan bahkan juga dengan keluarga saya. Sungguh relasi yang terjalin berdasarkan rasa hubungan guru-murid namun tidak menyisakan ruang perbatasan di antara kita.
Sesungguhnya yang kita harapkan di dalam kehidupan ini ialah manakala relasi sosial yang kita bangun itu terus berlangsung dengan baik dan tidak menyisakan masalah yang menyebabkan terkoyaknya relasi sosial dimaksud. Saya merasakan bahwa hubungan saya dengan para mahasiswa saya semenjak dahulu hingga sekarang tetap berada di dalam konteks saling memahami dalam kepentingan yang sangat wajar.
Melihat kenyataan ini, maka sangatlah wajar jika saya menyatakan bahwa kebahagiaan seorang guru atau dosen ialah jika melihat mahasiswanya masih memiliki kedekatan hubungan emosional dan bukan hanya relasi intelektual. Dengan tetap mengedepankan hubungan emosional di dalam relasi intelektual tersebut, maka hubungan sosial akan menjadi langgeng tanpa rekayasa.
Inilah yang saya lihat dalam acara farewell party yang terselenggara di malam itu. Terima kasih anak-anakku, mahasiswaku dan juga kolegaku. Semoga relasi sosial berbasis hati ini akan terus berlangsung sebagai bukti bahwa kita adalah hamba Allah yang memang diciptakan untuk kepentingan memiliki hubungan sosial yang baik.
Wallahu a’lam bi al shawab.