Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

DISCOVERY LEARNING

DISCOVERY LEARNING
Saya merasa harus melakukan yang terbaik di dalam proses pembelajaran dalam beberapa mata kuliah yang dipercayakan kepada saya untuk mengampunya. Distansi antara satu mata kuliah dengan lainnya sangat jauh dan berada di dalam bidang yang berbeda-beda. Tidak merupakan program perkuliahan dalam satu rumpun studi yang berdekatan dan bahkan sama.
Namun demikian, perjalanan untuk mengajar ini tentu penting untuk saya alami, mengingat sebagai dosen dengan fungsi mendidik telah lama saya tinggalkan semenjak saya diamanahi tugas sebagai pejabat di Kementerian Agama Pusat. Sungguh saya terkadang merasa bahwa saya tidak lagi setia dengan profesi saya sebagai dosen yang sesungguhnya adalah profesi yang sangat prestisius.
Itulah sebabnya saya harus berbuat total di dalam pembelajaran yang dipercayakan tersebut. Saya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik di dalam proses pembelajaran, apapun hasil yang akan berlaku di kemudian hari. Saya harus menyiapkan dengan baik program pembelajaran berbasis pada menemukan sesuatu baik tipologi, konsep dan teori yang seharusnya memang dikuasai oleh peserta didik atau mahasiswa.
Di antara upaya untuk menghadirkan yang terbaik ialah dengan konsep yang saya sebut “discovery learning” yaitu sebuah pembelajaran atau pendidikan yang berbasis pada tujuan pendidikan untuk menemukan tipologi, konsep dan teori atau berbagai penjelasan terkait dengan hal tersebut. Discovery Learning, saya kira bukan konsep baru di dalam pendidikan. Banyak ahli pendidikan yang tentu sudah merumuskannya. Namun sebagaimana biasanya, saya menggunakan istilah atau konsep ini dalam pemahaman saya dan tidak diintervensi oleh pandangan-pandangan para ahli di dalamnya.
Discovery learning tersebut dapat saya gambarkan secara sederhana sebagai proses pembelajaran yang bertujuan dan menghasilkan produk pembelajaran yang memadai sesuai dengan bidang atau disiplin ilmu yang dikajinya. Jadi, ada proses untuk menemukan dan ada hasil temuannya. Saya terus terang terinspirasi oleh Jack Ma, yang menyatakan bahwa peserta didik harus diajar untuk bekerja sama, atau di dalam pemikiran Farid Zakaria sebagai pendidikan untuk menghasilkan pemikiran. Jadi learning for discovery atau learning for thinking.
Di dalam proses pembelajaran ini, maka mahasiswa diajak untuk bersama-sama menemukan sesuatu dan bukan hanya sekedar transfer of knowledge. Pendidikan sebagai transfer of knowledge sudah seharusnya ditinggalkan. Dan yang harus dilakukan adalah dosen dan mahasiswa secara bersama-sama menemukan tipologi, konsep atau teori dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Makanya kerja sama menjadi kata kunci penting untuk proses pembelajaran. Pun pula penilaian juga diberikan bukan pada pencapaian individu akan tetapi capaian kebersamaan tersebut.
Diandaikan di dalam proses pembelajaran dilakukan dengan berbagai cara, misalnya:
1) alternative pertama ialah pembelajaran konvensional, di mana dosen sebagai sumber pengetahuan dan mahasiswa sebagai pendahaga ilmu. Maka mahasiswa haruslah memperoleh sejumlah pengetahuan dari gurunya dan guru berkewajiban untuk menyampaikan semua ilmu yang dimilikinya.
2) model perkuliahan di mana antara mahasiswa dan guru saling memberi peluang untuk menjelaskan. Namun kebanyakan dosen yang memberikan penjelasan berdasarkan atas pertanyaan dari mahasiswanya.
3) pola campuran, mixed learning, yaitu pola pertama dan kedua. Dosen memberikan penjelasan atas tema-tama yang dipilih sesuai dengan kurikulum dan sillabi yang sudah disepakati. Jadi ada proses dialogis antara mahasiswa dan dosennya dalam koridor tetap memberikan posisi lebih kepada dosen. Dosen lebih bersifat menjadi patron sementara mahasiswanya sebagai client. Pola satu, dua dan tiga cocok di masa lalu, tetapi belum tentu cocok untuk masa sekarang.
4) pola kontemporer, ialah di kala mahasiswa dan dosen memiliki kesamaan “derajat” dalam menemukan sesuatu. Dosen tugasnya sebagai “fasilitator” yang akan menjadi orang yang memfasilitasi proses untuk mencapai produk pembelajaran. Sebagai fasilitator, maka tugasnya bukan menjadi penentu, akan tetapi sebagai “mitra” untuk bekerja dan menemukan sesuatu. Tentu saja dosen tetap memiliki otoritasnya sebagai agen atau orang kreatif untuk menemukan sesuatu di kala terjadi kebuntuan atau stagnansi. Dosen harus tetap berada “one step ahead”. Dosen bukanlah follower tetapi inspiratory bagi para mahasiswanya.
Saya mengandaikan bahwa di dalam setiap session perkuliahan, maka dosen bisa membentuk kelompok-kelompok, baik permanen ataupun temporer yang diharapkan akan menjadi teman sejawat untuk menemukan sesuatu. Kepada mereka diberikan tugas untuk menemukan sesuatu di dalam kelas dan bisa juga di luar kelas.
5. di dalam setiap perkuliahan, maka para mahasiswa diwajibkan untuk melaporkan hasil bacaannya atau hasil browsing terhadap sumber informasi yang ditemuinya. Tidak hanya menuliskannya akan tetapi harus menuliskannya dalam konteks membuat essay yang menarik untuk dibaca. Bukan tulisan teknis akan tetapi tulisan yang merupakan kesan pembaca yang kemudian dituangkannya di dalam bahasanya sendiri. Laporan tulisan tersebut bisa diupload di media sosial, blog atau web lainnya yang relevan. Jadi selain melaporkannya dalam kelas diskusi yang dirancang setiap perkuliahan juga dapat dilaporkan melalui media sosial.
Apa yang saya sampaikan tentu bukanlah konsep ideal di dalam metodologi pembelajaran, akan tetapi merupakan cara saya untuk mengajak dosen atau pihak lainnya untuk mencermati bahwa tugas dosen bukan hanya memindahkan pengetahuan saja, akan tetapi lebih lanjut ialah untuk menemukan sesuatu dalam disiplin ilmu yang ditekuninya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMBACA SEBAGAI JENDELA ILMU

MEMBACA SEBAGAI JENDELA ILMU
Semenjak saya berada di dalam dunia birokrasi yang hiruk pikuk, maka yang terjadi ialah terbatasnya waktu untuk membaca dan menelaah karya-karya akademis yang berat. Kegiatan demi kegiatan yang padat tentu menyita waktu yang luar biasa, sehingga sungguh menyita waktu. Tidak jarang acara diselenggarakan malam hari disebabkan siang hari harus menyelesaikan tugas-tugas perkantoran. Rasanya tidak hanya waktu yang berjalan sedemikian cepat, akan tetapi juga kesempatan untuk membaca yang tidak ada waktunya lagi.
Untunglah saya masih bisa menuliskan apa yang saya kerjakan dan apa yang saya pikirkan. Saya terus menuliskan apa yang saya sampaikan di berbagai forum yang menghadirkan saya. Itulah salah satu “kekuatan” yang saya miliki, sehingga saya masih terus eksis di dalam dunia penulisan. Blog saya, nursyam.uinsby.ac.id masih terus terisi meskipun tidak setiap hari bahkan terkadang dalam 1 (satu) bulan hanya beberapa tulisan.
Dan yang membuat saya bahagia adalah tulisan tentang kegiatan-kegiatan tersebut dapat saya kumpulkan untuk menjadi buku berjudul “Friendly Leadership, Kepemimpinan Sebagai Ruh Manajemen” yang diterbitkan oleh LKIS pada saat menjelang saya lengser dari jabatan Sekjen Kemenag RI. Tulisan yang semula hanyalah sebagai laporan kegiatan itu ternyata bisa menjadi buku yang paling tidak mengandung keunikan. Tidak hanya bicara teori tetapi juga rekaman jejak dan pengalaman selama saya menjabat sebagai birokrat di Kemenag.
Hanya saja tulisan-tulisan saya itu nyaris tidak menggunakan referensi sebagaimana tulisan akademik lainnya. Sangat jarang saya mengutip pendapat para ahli dalam bidangnya. Tentu ada beberapa di antaranya yang mengutip pendapat ahli. Saya hanya mengandalkan daya nalar saya untuk menuliskan apa yang menjadi pikiran saya dan kegiatan saya. Inilah kebahagiaan yang sungguh saya rasakan bahwa saya masih bisa menulis di tengah kesibukan yang menumpuk.
Semenjak saya harus kembali menjadi dosen, maka sesungguhnya waktu relative cukup tersedia. Namun di awal-awal kembali mengajar, maka urusan domestic ternyata juga tidak sederhana. Mulai pindahan dari Jakarta ke Surabaya dengan barang-barang berupa buku dan peralatan rumah tangga tentu harus ditata. Dan hal ini ternyata juga menyita waktu. Makanya, di awal-awal saya kembali ke UIN ini tidak banyak tulisan yang saya rumuskan.
Sebagai dosen tentu harus menyampaikan gagasan, ide atau pikiran yang berbasis pada kajian atau hasil penelitian dan tulisan yang mendukung terhadap gagasan atau ide tersebut. Makanya, saya harus membaca dan terus membaca. Pekerjaan membaca itu bukan sesuatu yang gampang. Sebab membutuhkan konsentrasi dan kekuatan untuk memahami ide dasar dalam tulisan itu. Ada beberapa hal yang saya kira bisa dijadikan sebagai instrument untuk membaca, yaitu: pertama, untuk membaca pemikiran penulis yang mendasarkan pada pemikiran filosofis, maka yang penting ialah menemukan gagasan sentral tentang apa yang dibicarakan. Di dalam konteks ini, maka seorang pembaca harus menangkap pesan yang disampaikan penulis agar bisa menjadi bagian yang relevan dengan pemikirannya. Untuk bisa sampai ke dalam tahap ini, maka diperlukan tingkat konsentrasi yang utuh. Hanya saja, saya termasuk orang yang tidak bisa secara terus menerus membaca dalam waktu panjang. Saya membutuhkan banyak jeda dalam membaca tersebut. Bagi mereka yang sudah memasuki “alam ma’rifat” di dalam membaca, maka ketika seseorang membaca judul buku, maka sudah terbayang tentang apa yang menjadi pesan penulis di dalam karyanya tersebut.
Kedua, membaca buku hasil penelitian. Berbeda dengan membaca buku pemikiran, maka membaca buku hasil penelitian mensyaratkan kita untuk memahami data dan analisis yang dilakukan oleh penulisnya. Di dalam konteks ini, kita dituntut untuk memahami bagaimana data tersebut disajikan (baik dalam uraian pernyataan maupun angka-angka statistic) dan kemudian memahami bagaimana penulisnya menggambarkan atau menjelaskannya dan kita bisa memahami apa yang disajikannya.
Ketiga, membaca buku-buku novel, sastra atau antologi puisi dan seterusnya. Saya tentu termasuk orang yang bersyukur sebab semenjak masih di sekolah menengah sudah menyenangi membaca novel, cerpen, cergam, cerbung dan dan karya sastra lainnya. Saya sudah membaca tulisan Api di Bukit Menoreh, Siti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, dan sebagainya. Bahkan saya juga sudah membaca buku-buku pewayangan semenjak saya di sekolah dasar. Komik atau cergam sudah saya akrabi semenjak saya di sekolah dasar. Saya sangat senang membaca buku komik dan menjadi penyewa rutin untuk novel-novel tersebut.
Inilah sebabnya, saya menyenangi dunia penelitian kualitatif pasca beberapa tahun menggeluti dunia penelitian kuantitatif.
Yang ditimbulkan oleh membaca karya sastra ialah tokoh-tokohnya, situasi yang diceritakannya dan juga kesan yang ditimbulkannya. Sampai sekarang saya sangat senang membaca novel berlatar pewayangan, misalnya Rahuvana Tatwa, Sutasoma, dan karya Pramudya Ananta Toer tentang Arok dan Dedes. Pengembaraan dalam cerita-cerita itu sungguh menarik minat saya.
Menurut saya, janganlah kita membatasi diri dengan harus membaca buku yang linear saja. Tetapi bacalah apa yang menyenangkan dan membuat kesan yang baik di dalam kehidupan kita. Sungguh bahwa dengan membaca kita akan merasakan pengembaraan intelektual yang baik dan tentu juga menambah pengetahuan dan wawasan,
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENDISKUSIKAN ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN (2)

MENDISKUSIKAN ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN (2)
Giliran berikutnya yang membedah buku saya ialah Dr. Abdul Ghafur Maimun, alumni Universitas Al Azhar Mesir, yang sekarang menjadi pengelola STAI Al Anwar Sarang. Menurut Beliau, bahwa kita ini lebih banyak berbicara tentang kulitnya Islam dan bukan substansi Islam. Di dalam hal ini, orang sering salah paham tentang Islam Nusantara juga disebabkan oleh anggapannya bahwa Islam Nusantara dianggap sebagai varian baru Islam. Padahal sebenarnya Islam Nusantara itu ya Islam yang itu juga.
Kita ini terkadang minder dan menganggap bahwa ulama dari Timur Tengah itu lebih dari segalanya. Makanya untuk memberi fatwa tentang masalah di Indonesia diperlukan ulama dari Timur Tengah. Kasus Ahok, misalnya harus didatangkan ulama Mesir untuk memberikan kesaksian ahli. Padahal yang bersangkutan tidak tahu tentang permasalahan di Indonesia. Marilah kita berpikir lebih jernih, untuk menyelesaikan problem orang Indonesia itu haruslah orang Indonesia sendiri. Ada banyak ulama Indonesia yang mumpuni dan tahu tentang masalah-masalah kebangsaan dan kenegaraan di Indonesia.
Ada sebagian kecil orang Indonesia yang menginginkan kita kembali ke masa lalu, 14 abad yang lalu. Mestinya ita berpikir bagaimana kita itu beragama dengan masa sekarang. Dahulu orang ke Mekkah atau ke Madinah memakai onta. Sekarang di zaman modern, orang pergi haji dengan pesawat terbang, dengan mobil. Jadi jangan memaksakan kehendak untuk mengikuti paham keagamaan yang memang bisa bervariasi. Kita tidak mengubah al Qur’an dan al Hadits yang memang sudah jelas. Yang bisa berubah itu ialah penafsiran terhadapnya. Makanya, jangan memaksakan bahwa yang benar adalah tafsirnya sendiri. Dalam Hukum Islam saja terkadang ada yang disebut sebagai qaulani atau dua pendapat bahkan bisa lebih banyak pendapat. Makanya, mari kita melakukan ajaran agama sesuai dengan pemahaman kita tentang agama tersebut.
Pak Dr. Imam Syafe’i, Direktur Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum pada Ditjen Pendidikan Islam sengaja saya pilih untuk menjadi narasumber dalam acara bedah buku ini tentu dengan berbagai pertimbangan. Beliau adalah orang yang sangat menyenangkan jika berbicara di forum karena memiliki talenta humor yang sangat orisinal dan juga seorang yang menggeluti dunia pesantren luar biasa. Benar juga akhirnya bahwa Beliau dapat mengocok perut audience dengan joke-jokenya yang segar. Beliau nyatakan bahwa kita harus memiliki mimpi tentang pendidikan Indonesia masa depan. Saya bersyukur, kata bahwa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) menuai keberhasilan yang optimal. Jika di masa lalu santri sangat sulit menjadi dokter, maka dengan program ini, banyak santri berprestasi yang bisa menjadi dokter. Jadi yang penting adalah berikan peluang, maka pasti akan bisa diraih prestasi tersebut.
Tantangan yang tidak kalah menarik ialah bagaimana kita memiliki kesadaran agar daerah pinggiran Indonesia tersentuh program pendidikan dan agama. Maka kita buat program pengembangan pendidikan agama di wilayah pinggiran Indonesia. program bina kawasan. Dan salah satu kekuatan Buku Prof. Nur Syam adalah tentang bagaimana pendidikan di Indonesia harus berkualitas di masa depan. Jadi, salah satu kekuatan ke depan bagi Indonesia ialah jika pendidikan kita berhasil.
Sementara itu, Prof. Kacung Marijan juga menyatakan bahwa untuk membangun Indonesia yang berhasil, salah satu kuncinya ialah ketika kita bisa melakukan dialog antar umat beragama. Dengan terus mengembangkan dialog antar umat beragama maka kita akan bisa meneruskan pembangunan bangsa dengan sebaik-baiknya. Salah satu yang menyebabkan kita ini tidak bisa berpikir ke depan adalah kita terbelenggu oleh diskusi yang tidak produktif. Misalnya, seperti kesalahan memahami tentang Islam Indonesia itu. Seharusnya kita tidak berada di dalam ruang untuk berdebat tentang hal-hal yang tidak produktif. Islam di Indonesia semenjak dahulu itu seperti ini. Ada tradisi yang menjadi penyedap terhadap keberislaman kita. Makanya kita harus mendukung terhadap upaya untuk Gerakan Moderasi Beragama, sebab dari sini kiranya, upaya untuk melstarikan negara ini akan terwujud.
Diskusi yang dipandu oleh Dr. Sukowidodo ini juga sangat menarik tidak hanya dari aspek guyonannya akan tetapi juga pendapat-pendapat orisinal dari nara sumbernya. Dan yang lebih menarik juga banyak pembahas yang menanyakan tentang materi diskusi ini. Sungguh saya kira bahwa diskusi ini bisa menjadi penjelas tentang kesalahpahama kita dewasa ini tentang Islam Nusantara, Islam Berkemajuan dan juga tentang dialog antar umat beragama serta gerakan moderasi beragama yang sekarang sedang menjadi trending topic di Indonesia maupun dunia internasional.
Wallahu a’lam bi al shawab.

MENDISKUSIKAN ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN (1)

MENDISKUSIKAN ISLAM NUSANTARA BERKEMAJUAN (1)
Sungguh saya merasa sangat terhormat kala 3 (tiga) buku saya didiskusikan di UIN Sunan Ampel Surabaya, 12/09/2018. Diskusi itu diselenggarakan di Amphitheater UIN Sunan Ampel Surabaya, yang sangat prestisius. Apalagi acara ini dihadiri oleh sangat banyak masyarakat akademis, kaum penggiat kerukunan umat beragama dan juga perbankan serta birokrat.
Sebagai narasumber utama ialah Prof. Kacung Marijan, PhD., Dr. Abdul Ghafur, MA dan Dr. Imam Syafei, MPd dengan moderator Dr. Sukowidodo, MA. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan dosen UIN Sunan Ampel, yaitu Prof. Dr. HM. Rudlwan Nashir, Dr. Wahidah Siregar, MA, Prof. Dr. Ma’shum, Prof. Dr. Abu Azam, Dr. Ah. Ali Arifin, Dr. Abdul Halim, Prof. Dr. Sahid, HM., Prof. Dr. Shonhaji Sholeh, Prof. Faishol Haq., Prof. Abdul Hadi, Prof. Imam Bawani, Pak Avantiono dan beberapa lainnya dari Bank Jatim Syariah, beberapa Pendeta dan agamawan dari Forum Lintas Agama, Beda Tetapi Mesra, serta akademisi dan para mahasiswa program PPs UIN Sunan Ampel Surabaya.
Acara ini dibuka oleh Prof. Dr. Ma’shum, selaku WR III UIN Sunan Ampel Surabaya, sebab hari ini Prof. Masdar Hilmy, PhD sedang ada acara di Jakarta untuk penerimaan CPNS tahun 2018. Acara seminar ini juga menandai Launching Festival Hari Santri tahun 2018 dengan seluruh agendanya. Lalu dilanjutkan dengan pemutaran profile Prof. Dr. Nur Syam, MSi yang merupakan garapan dari kawan-kawan mahasiswa dan dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi pada UIN Sunan Ampel Surabaya. Meskipun dibikin dalam waktu yang singkat saya kira cukup memadai untuk menggambarkan “siapa Prof. Nur Syam itu, baik semasa kecil maupun lengser jabatan Sekjen Kemenag dan kembali sebagai dosen pada UIN Sunan Ampel Surabaya”.
Dr. Sukowidodo memang ahlinya untuk menjadi moderator. Dengan guyonannya, maka suasana menjadi cair, tidak bernuansa akademik yang kaku dan menjemukan. Dengan candaannya, maka para audience menjadi tertawa dan merasakan suasana yang akrab dan berkawan. Sebagai penulis buku, saya tentu diperkenankan untuk menjadi panelis pertama. Di dalam kesempatan ini, saya sampaikan 3 (tiga) hal, yaitu: pertama, ucapan terima kasih atas terselenggaranya acara bedah buku ini. Ada 3 (tiga) buku yang saya sampaikan pada bedah buku ini, “Islam Nusantara Berkemajuan, tantangan dan Upaya Moderasi Agama”, “Demi Agama, Nusa dan Bangsa” dan “Menjaga Harmoni Menuai Damai”. Secara sengaja memang saya membedah 3 (tiga) buku sekaligus untuk menandai kehadiran kembali ke UIN Sunan Ampel Surabaya. Saya sampaikan bahwa buku-buku ini hadir karena kebiasaan menulis semenjak saya menjadi Pembantu Rektor IAIN Sunan Ampel, tahun 2007. Ada sebanyak 1777 tulisan di Blog saya, sehingga saya bisa mengumpulkannya menjadi buku.
Kedua, saya sampaikan tentang konsepsi Islam Nusantara, yaitu: “Islam Nusantara Berkemajuan bukanlah varian Islam baru, akan tetapi adalah Islam yang telah kita kenal selama ini, memiliki ikatan genealogi yang sangat kuat dengan Islam di Timur Tengah yang telah berkolaborasi dengan tradisi dan budaya masyarakat Nusantara dalam kurun waktu yang sangat lama, dan lalu membentuk kekhasan tersendiri”.
Teologi Islam di manapun pasti sama, baik di Timur Tengah, Eropa, Amerika dan Afrika pastilah sama. Demikian pula terkait dengan ritual. Dipastikan bahwa ritual Islam juga memiliki kesamaan-kesamaan. Gak mungkin shalat wajib lebih dari 5 (lima) kali. Yang lain-lain juga ada kesamaan meskipun juga tidak menutup kemungkinan peluang ada perbedaan. Tetapi semuanya dipastikan bersumber dari fiqih Islam yang memang merupakan penafsiran para ulama Islam.
Nah yang dipastikan ada perbedaan ialah dalam tradisinya. Misalnya tentang tatacara pakaian. Di Arab menggunakan gamis, lalu di Jawa memakai blangkon, sarung dan celana. Di Eropa tidak pakai gamis tetapi memakai Pakaian Sipil Lengkap (PSL). Di Arab tidak ada acara Yasinan, Tahlilan, Dzibaan dan Rejeban karena ini adalah tradisi di Nusantara. Hal ini yang disebut sebagai outward looking atau performance luaran saja.
Islam wasathiyah itu sekarang sedang menuai banyak tantangan di antaranya ialah radikalisme negative, ekstrimisme dan terorisme. Tantangan ini bukanlah pencitraan atau agar dianggap pro-pemerintah, akan tetapi memang benar-benar adanya. Bahkan ditengarai usianya semakin muda, kaum terdidik dan bukan dari mereka yang secara ekonomi miskin. Dan yang menjadi sasarannya, bukan hanya gereja dan hotel, tetapi juga kantor polisi dan juga masjid. Kaum jihadis itu beranggapan bahwa siapa saja yang melawan mereka harus dihancurkan. Inilah tantangan terbesar dari Islam wasathiyah yang sekarang sedang terjadi.
Ketiga, di antara medium untuk menanggulangi gerakan radikalisme ialah melalui penguatan pendidikan. Pendidikan harus dimanfaatkan untuk kepentingan membawa anak didik untuk memahami Islam dengan cara-cara Islam kenusantaraan tersebut. Islam yang mengedepankan pembelaannya terhadap negara dan bangsa (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan). Indonesia harus lestari sampai kapanpun. Dan yang menjadi penyangga utamanya ialah Islam Nusantara Berkemajuan tersebut. Selain itu tentu juga penguatan SDM, mengembangkan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat dan solusi untuk menangani masalah-masalah sosial dan budaya.
Oleh karena itu, yang sangat penting dilakukan ialah agar kaum pendidik dapat mengembangkan kualitas pendidikan dengan daya jangkau yang luas untuk seluruh masyarakat Indonesia, dengan mengedepankan kurikulum yang mendukung terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan kualitas manusia Indonesia. Bagi orang miskin, maka akses pendidikan terjangkau haruslah menjadi prioritas yang mendasar dan saya kira para guru dan dosen sudah sangat memahami tantangan ini.
Wallahu a’lam bi al shawab.

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (5)

KEMBALI MENGABDI SEBAGAI DOSEN (5)
Ada yang menarik dari berita Jawa Pos, Ahad, 09/09/2018, tentang Jack Ma, yang sering saya kutip di dalam tulisan dan ceramah-ceramah saya. Jack Ma, founder Alibaba.com, yang sangat terkenal ternyata memilih pensiun dari CEO Alibaba.com dan akan mengabdikan dirinya untuk pendidikan.
Sungguh berita ini membuat saya merenung, bahwa orang yang sangat terkenal dengan perusahaan dan kekayaannya ternyata justru di saat tertentu justru akan mengabdikan dirinya untuk kepentingan pendidikan. Lalu ada apa? Pertanyaan ini yang kiranya menarik untuk disimak dan dicoba untuk ditafsirkan terkait dengan tantangan pendidikan dewasa ini.
Pernyataan Jack Ma yang baru saja terlibat di dalam penutupan Asian Game ke 18 di Jakarta itu sungguh menarik untuk direnungkan. Bukan kekayaannya yang patut diperbincangkan, akan tetapi minatnya untuk mendidik dan mengabdikan kekayaannya untuk pendidikan. Apa yang disampaikan Jack Ma adalah sebuah kesadaran tentang betapa pendidikan harus diutamakan terutama di era digital atau era industry 4.0.
Pernyataan ini sungguh bukan hanya sensasi dan pencarian citra, akan tetapi merupakan kesadaran yang didasari oleh keinginan untuk menjawab tantangan pendidikan yang semakin berat di masa yang akan datang. Bagi yang memiliki kesadaran mendasar, bahwa tantangan era industry 4.0 bukanlah hal yang mudah diselesaikan akan tetapi harus dijawab oleh para pendidik dengan segenap kemampuan, tidak hanya kemampuan fisik, ide dan pemikiran, akan tetapi juga harta dan jiwa sekaligus.
Saya merasa bahwa kegalauan saya itu tidak seharusnya terjadi. Setelah membaca pernyataan Jack Ma ini, maka rasa kegalauan di dalam melaksanakan program pendidikan yang akan datang tentu tidak boleh terjadi lagi. Kegalauan itu bukan karena ketidakmampuan untuk mengajar akan tetapi terkait dengan bagaimana menjawab tantangan pendidikan yang sungguh luar biasa. Kegalauan yang saya rasakan –sebagaimana tulisan saya sebelumnya—bahwa di era Industri 4.0 ini—maka tantangan terbesar ialah bagaimana kita menyiapkan generasi muda yang siap untuk hidup di era yang akan datang.
Kita akan menghadapi era Generasi Emas Indonesia pada tahun 2030-2045, artinya bahwa bonus demografi itu tentu tidak boleh sia-sia. Mereka haruslah menjadi bonus demografi yang memberikan keuntungan bagi bangsa dan negara ini. Mereka harus menjadi generasi yang siap untuk menerima estafeta kepemimpinan nasional dan juga sebagai penerus bangsa. Mereka harus menjadi generasi yang dapat dan memiliki kemampuan untuk hidup dalam kehidupan Indonesia yang akan datang.
Mereka harus menjadi orang Indonesia yang tangguh, profesional, bermoral dan berkepribadian Indonesia. Itulah sebabnya pendidikan memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan mereka kepada tujuan menjadi warga negara Indonesia.
Ada 3 (tiga) hal yang kiranya bisa disiapkan untuk generasi yang akan datang, yaitu: pertama, menyiapkan pendidikan yang berkualitas. Tantangan kita ialah bagaimana menghadirkan pendidikan yang memiliki kompetensi dan distingsi yang jelas. Tidak hanya akreditasi prodi yang bernilai baik, akan tetapi harus menyiapkan program-program yang relevan dengan tuntutan zaman. Alumni PTKIN harus memiliki sejumlah keahlian yang relevan dengan tuntutan zaman.
Kedua, harus menyiapkan program-program pendidikan vokasi yang lebih banyak dalam kerangka menyiapkan generasi terampil di era teknologi informasi. Selama ini kita lebih banyak menyiapkan calon sarjana Strata I dengan keahlian yang kiranya memerlukan sentuhan pendidikan berbasis praktis. Artinya, harus disiapkan sejumlah keahlian tambahan untuk menjembatani antara pengetahuan teoretis dengan pengetahuan praktis. Saya kira sudah saatnya untuk memikirkan basis keahlian tambahan atau kemampuan professional sesuai dengan basis keahlian yang dimiliki oleh para mahasiswa. Bisa saja hard skilled alumni adalah ilmu fiqih atau ilmu tafsir, akan tetapi mereka harus memiliki sejumlah kemampuan soft skilled yang relevan dengan tuntutan era sekarang ini. Pemikiran yang pernah saya tuangkan dalam beberapa tahun terakhir ini saya kira tetap relevan untuk diimplementasikan.
Ketiga, era milenial memerlukan 4 keahlian yang harus disemai di PTKIN, yaitu competency professional, competensi komunikasi, kompetensi net working dan competency kolaboratif. Empat hal ini yang seharusnya menjadi pertimbangan bagi para pimpinan dan dosen PTKIN, bahwa ke depan kita harus membangun kemampuan untuk mencetak generasi yang memiliki kompetensi professional. Di dalam hal ini maka yang dibutuhkan ialah keahlian dalam konteks hard skilled dan soft skilled. Lalu kemampuan membangun jejaring. Mereka harus diajari tentang bagaimana membangun kemampuan menciptakan jejaring untuk kepentingan membangun kemampuan professional dimaksud. Lalu juga harus mempertimbangkan untuk membangun kemampuan berkomunikasi dengan baik. Siapa yang memiliki kemampuan komunikasi, maka dia yang akan menguasai belantara kehidupan ini, dan yang terakhir ialah kemampuan kolaboratif atau koordinasi. Tidak ada kesuksesan yang dibangun sendirian, sebab setiap kesuksesan pastilah berbasis pada kerja sama.
Kemampuan soft skilled inilah yang kiranya perlu diperkuat untuk menyongsong pendidikan di era sekarang dan akan datang. Sekali lagi kita harus menyiapkan generasi yang siap untuk berkompetisi tetapi berbasis persahabatan.
Wallahu a’lam bi al shawab.