Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

Puasa: Amal Manusia Istimewa (15)

Puasa: Amal Manusia Istimewa (15)

Muh. Yusral Fahmi

 

Alhamdulillah pada malam ramadlan ke-15 di Musholla Al-Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketingtang Baru Selatan, mendapat tamu kehormatan penceramah yakni Dr (Cand). KH. Cholil Umam, M.Pd.I. Beliau adalah dosen pada Fakultas dan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Ampel, juga penceramah yang sekaligus pengasuh majelis ta’lim dibeberapa perumahan di wilayah Sidoarjo-Surabaya.

Mengawali ceramah, beliau menyampaikan tentang empat amal perbuatan yang amat sulit dilakukan oleh ummat manusia dalam situasi dan kondisi pada umumnya. Empat amal tersebut seperti yang disampaikan Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah, dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Syaikh Muhammad Nawawi al-jawi al-Banteni, yaitu: Pertama, al’afwu ‘indal ghadhab; Kedua, al juudi fil ‘usroh; Ketiga, al-iffah fil khulwah; dan Keempat, qaulul haq liman yahofuhu au yajuruhu.

Amal perbuatan pertama yang dianggap berat untuk dilakukan adalah al’afwu ‘indal ghadhab -memberi maaf ketika dalam keadaan emosi- dalam keadaan emosi pada umumnya memaafkan bukanlah sesuatu hal yang mudah dilakukan, lebih-lebih ketika seseorang itu dalam posisi memiliki kewenangan dan kesempatan untuk marah. Tetapi dalam posisi dan kewenangan yang dimilikinya seseorang itu mengambil jalan sikap memaafkan atas kesalahan dan perbuatan yang dilakukan oleh bawahannya merupakan sikap terpuji dan patut mendapatkan apresiasi.

Dalam konteks di atas, Abu Bakar Asshidiq memberikan nasihat, bahwa “apabila lisan ucapan seseorang itu rusak disebabkan oleh marah dan emosi, banyak orang yang hatinya menangis”. Petikan nasihat tersebut jika kita bawa dalam konteks praktis, misalnya dalam sebuah institusi kenegaraan atau swasta, jika pimpinan berucap tidak baik atau lebih jauh marah-marah maka bawahan bisa menangis. Tidak lain pula, jika dalam sebuah keluarga seorang isteri yang berkata tidak baik maka seorang suamin pun akan menangis sebab ucapan itu.

Pada taraf ini, suatu hari Rasulullah SAW dimintai nasihat oleh seorang sahabat, maka Rasulullah berpesan: kendalikan diri, jangan emosi, jangan marah. Niscaya surga untukmu. Hal ini senada dengan salah satu indikator ciri orang bertaqwa: yaitu memaafkan, yang didasari hati jembar maka akan mudah memaafkan kesalahan orang lain, lebih-lebih memaafkan ketika sedang marah.

Kedua, al juudi fil ‘usroh –menumbuhkan sikap loman dan dermawan dalam keadaan sempit-. Amal perbuatan ini jika terjadi dalam kondisi kita sedang longgar dan rezeki jembar itu mudah, yang susah adalah ketika dalam kondisi kesulitan ada orang lain yang datang dan meminta bantuan kepada kita. Di sinilah kualitas keimanan kita diuji, hati kita diuji, dan pada akhirnya akan nampak kualitas akhlak kita.

Sebagai contoh, dalam kehidupan keseharian kita mungkin sering mendengar “wong banyak masalah dan banyak kesulitan kok malah menolong orang”. Harusnya yang kita lakukan justru menolong orang tersebut, sebab kedatangan orang tersebut kepada kita bukan atas kemauan sendiri akan tetapi digerakkan oleh Allah SWT. Kita jadikan kesulitan orang lain dan pertolongan orang lain itu sebagai washilah akan datangnya pertolongan Allah SWT, sebab sejatinya yang menolong bukanlah kita melainkan Allah SWT. Ini merupakan pengembangan sikap menafkan sebagian dari rezeki yang diberikan Allah baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit.

Ketiga, al-iffah fil khulwah –menjaga diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah dalam keadaan sendirian-. Sebagai contoh, Nabi Yusuf AS, ada peluang untuk melanggar larangan Allah, tetapi beliau menjadikan Allah sebagai pengawas. Atau contoh dalam kehidupan kita, seandainya kita di jalan dan menemukan dompet yang dalam kejadian itu tidak ada seorang pun. Maka dalam keadaan seperti inilah hati dan iman kita diuji, dikembalikan atau tidak.

Keempat, qaulul haq liman yahofuhu au yajuruhu –mengucapkan dan menyampaikan kebenaran kepada orang yang ditakuti serta diharapkan. Ini biasanya berlaku di birokrasi, yang mana pimpinan kita melakukan kesalahan dan diingatkan bawahannya, bisa jadi bawahan yang mengingatkan dibenci bahkan bisa jadi dimutasi. Siapakah orang membutuhkan perlindungan dan sangat kita harapkan?, ini bisa terjadi dalam relasi orang tua dan anak. Dimana ketika ada orang tua yang melakukan kesalahan, kita yang dalam posisi sebagai anak akan mengingatkan orang tua terasa berat sekali. Bahkan jika terjadi sebaliknya, ketika anak melakukan kesalahan kemudian orang tua akan mengingatkan kesalahan anak terasa berat bahkan ada rasa tidak tega untuk menyampaikan.

Dari empat macam amal perbuatan itu, apabila kita bisa melakukannya maka pahala besar layak kita dapatkan. Akhirnya, siapapun yang dapat melaukan empat amal tersebut dapat dikategorikan sebagai manusia yang istimewa.

Mudah-mudahan kita semua diberikan Allah kemudahan melaksanakan empat macam perbuatan tersebut.

 

Wallahu a’lam bi al shawab

PUASA; MENCIPTAKAN PEMIMPIN ADIL (13)

PUASA; MENCIPTAKAN PEMIMPIN ADIL (13)

Muh. Yusral Fahmi

Malam ke-13 Ramadlan 1440 H di Musholla Al-Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang, yang bertugas memberikan ceramah keagamaan ialah ustadz Shonhadji, Lc, Al Hafidz. Tema yang dipaparkan pada malam tersebut ialah “Bagaimana Melahirkan Pemimpin Yang Adil”. Mengawali penjelasan terkait dengan tema itu, beliau memberikan gambaran bagaimana menciptakan negara yang sejahtera dengan pemimpin yang adil.

Ada tiga komponen penting untuk dapat mewujudkan negara sejahtera yang dipimpin pemimpin yang adil. Pertama, Istri harus sholihah. Hal ini penting sebab semua anak lahir dari rahim ibu, jika yang mengandung dan melahirkan adalah orang sholihah maka kemungkinan besar anak tersebut bisa menjadi anak yang sholeh-sholehah. Sebagaimana riwayat khalifah Umar Bin Khattab dalam kitab Hikayatu Islamiyyah Qabla an-Naum, Karya Najwa Husain Abdul Aziz, Kairo: Maktabah  Ash-Shofa 2001. Dalam kitab itu dikisahkan Khalifah Umar bin Khattab ketika tengah melakukan “blusukan” di tengah perjalanan merasa Lelah kemudian beliau istirahat. Saat khalifah sedang istirahat, tidak sengaja mendengar percakan antara Ibu dan Anak gadisnya “wahai anakku oploslah susu yang kamu perah tadi dengan air, lalu si gadis menolak perintah ibunya dengan mengatakan: apakah Ibu tidak pernah mendengar perintah Amirul Mukminin Umar bin Khattab untuk tidak menjual susu yang dicampur air?  Sang anak menimpalinya lagi dengan “Dia tidak melihat kita, tapi Rabb-nya melihat kita dan demi Allah saya tidak akan melakukan perbuatan yang dilarang Allah dan melanggar seruan Khalifah Umar untuk selama-lamanya” Gadis tersebut menolak dengan yakin dan tegas.

Setelah mendengar percakapan di atas, khalifah Umar bin Khattab menceritakan kepada anak laki-lakinya, Ashim bin Umar dan meminta agar anaknya menikahi seorang gadis yang memiliki kejujuran tersebut.

Kedua, anak yang bisa menjadi Qurrota A’yun. Kita sebagai orang tua mampu mecetak keturunan yang dapat membanggakan kedua orang tua. Dalam konteks ini kiranya kita patut merenungkan firman Allah dalam Surat Al-Furqon: 74, yang berbunyi “Rabbana Hablana min Azwajina wa Dzurriyatina Qurrota A’yun waj ’alna lil Muttaqina Imama (Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa). Mencetak anak yang mampu menjadi penyejuk jiwa tentu bukanlah hal yang mudah, untuk mencapai kategori tersebut para orang tua dituntut untuk dapat dijadikan panutan serta contoh bagi anak-anaknya. Selain itu juga diharap selalu memohon kepada allah agar diberikan anak yang dapat menjadi penyejuk serta berbakti kepada orang tua. Disaat yang sama kita sebagai orang tua hendaknya mengawasi pergaulan anak-anak kita, sebab di zaman saat ini yang disebut oleh para pakar “zaman tidak menentu” membutuhkan peran ekstra orang tua dalam menjaga anak agar tetap on the track seperti yang kita harapkan.

Ketiga, pemimpin yang adil. Pengertian sederhana adil adalah mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, sehingga seorang pemimpin semestinya memiliki kemampuan memempatkan sesuatu hal pada porsinya. Sebab jika pemimpin tidak mampu bersikap adil, mustahil sebuah negara akan mensejahterakan rakyatnya. Pemimpin yang adil di dalam Al-Qur’an digambarkan melalui surat Al-Nahl: 90, “Innallaha ya’muru bil ‘adli wal-ihsaani wa-iitaa-i dziil qurba wayanha ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun”, yang artinyaSesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.  Negara yang sejahtera dan pemimpin adil yang kita dambakan adalah seperti ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz, di mana pada masa kepemimpinan beliau negara sangat sejahtera dan rakyat makmur. Sebagai bukti makmurnya rakyat pada masa kepemimpinan beliau, mencari orang untuk sedekah saja sampai tidak ditemukan.

Tiga komponen di atas semoga dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita masing-masing dan menjadi penyemangat untuk memperbaiki kualitas ke-Ummat-an kita. Semoga kita dimudahkan untuk menjadi ummat yang hakiki yang memiliki predikat paripurna.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PUASA: MEMBANGUN UKHUWAH (12)

PUASA: MEMBANGUN UKHUWAH (12)

Yang menjadi penceramah pada kultum di Mushallah Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, Ketintang pada tanggal 12 Ramadlan 1440 H ialah Ustadz Shonhaji, Lc, Al Hafidz, mahasiswa program Magister Tafsir Hadits pada Program Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau adalah lulusan Universitas Al Azhar di Mesir untuk program Studi Islam, dan sekarang mengajar pada Kelas Bahasa Arab pada mahasiswa UIN Sunan Ampel.

Beliau menyampaikan materi dengan tema: “Perlunya Menjaga Ukhuwah Islamiyah di Era Milenial”. Mengawali ceramahnya, Ustadz Shonhaji menyampaikan bahwa kita sekarang sedang berada di era Milenial, yaitu suatu era di mana teknologi informasi begitu dominan di dalam kehidupan kita. Era ini adalah era di mana media sosial begitu menguasai terhadap kehidupan masyarakat kita. Semua serba HP dan semua serba gadget dan semua serba mudah diakses baik informasi yang baik maupun informasi yang jelek. Semua ada di media HP yang telah menjadi teman karib kita. Media sosiai bisa merekatkan persaudaran dan juga bisa merenggangkan persaudaraan.

Islam sebenarnya sangat menekankan betapa pentingnya persaudaran sesama umat Islam atau ukhuwah Islamiyah. Hadits Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dinyatakan: “Perumpamaan orang-orang Mukmin kasih mengasihinya, sayang menyayanginya dan santun menyantunnya bagaikan satu tubuh yang jika satu anggotanya menderita sakit maka menderita keseluruhan tubuh”. Atau di dalam hadits lain, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, bahwa “Almuslimu lil Muslimi kal bunyan yasyuddu ba’dhuhu ba’dhan”, artinya: “seorang muslim dengan muslim lainnya itu seperti bangunan, saling menguatkan satu dengan lainnya”.

Hadits ini memberikan makna bahwa mengumpamakan persaudaraan antar sesama umat Islam dengan analogi tubuh tentu sangat tepat. Sebagaimana diketahui bahwa antara satu anggota tubuh dengan lainnya itu berhubungan secara sistemik. Satu dan lainnya tidak bisa dipisahkan. Misalnya jika tubuh kita gatal di dada, maka seluruh tubuh terasa sakitnya, dan jika sakit panas maka seluruh tubuh juga akan merasakannya. Dan mengumpamakan antara seorang muslim dengan lainnya seperti bangunan juga sangat tepat, sebab memang begitulah seharusnya antara satu orang dengan orang lainnya dalam relasi sosial.

Jadi antara satu orang muslim dengan orang muslim lainnya itu seharusnya seperti pertautan antar anggota tubuh tersebut. Jika ada seseorang yang merasakan kesedihan, maka rasa kesedihan itu juga menjadi perasaannya. Jika ada saudara muslim kita yang menderita, maka pastilah penderitaan itu kita rasakan. Inilah perumpamaan Rasulullah bahwa persaudaran antar sesama muslim itu seperti satu tubuh atau satu bangunan. Pilar, dinding, genteng, bata, semen dan sebagainya bisa merekat kuat karena dipersatukan. Oleh karenanya bangunan yang kuat ialah bangunan yang saling mengikat satu dengan lainnya.

Kita sekarang ini sedang hidup di tengah teknologi informasi dan salah satu turunannya ialah media sosial. Kalau kita lihat perkembangan media sosial sekarang ini sungguh sudah melampaui batas, sebab media sosial dijadikan media untuk saling menyerang dengan informasi satu kepada lainnya. media sosial telah menjadi alat untuk saling menyalahkan, saling mencemooh, saling merendahkan dan bahkan mengkafirkan. Makanya, media sosial lalu menjadi ajang untuk saling berkontestasi untuk membenarkan kelompoknya sendiri.

Media sosial dijadikan media untuk membenarkan perilakunya dan menyalahkan perilaku kelompok lainnya. Media sosial yang seharusnya bisa dijadikan sebagai medium untuk saling berbuat baik malah sebaliknya. Ini adalah dampak dari teknologi informasi yang sekarang sedang semarak di dunia dan juga di Indonesia.

Kita ini seharusnya menggunakan media sosial untuk saling mengingatkan dan saling menasehati sesama umat Islam agar bersatu dan menjaga persaudaraannya. Jangan saling bercerai berai. Islam mengajarkan agar kita ini menjadi saleh spiritual dan juga saleh sosial. Jangan hanya saleh spiritual saja. Sebagaimana contoh, orang Islam yang hafal Al Qur’an dan ibadahnya juga sangat baik, akan tetapi karena berita bohong dan perbedaan lalu saling membunuh. Yang membunuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah Ibnu Muljam, seorang dari Golongan Khawarij, yang saleh spiritual tetapi tidak saleh sosial. Dia hanya membenarkan pendapatnya sendiri dan kemudian dengan bekal keyakinan itu, maka dia membunuh orang Islam, Sayyidina Ali Karramahullah wajhah, saudara sepupu dan sekaligus menantu Rasulullah saw.

Yang dibutuhkan ialah orang yang saleh spiritual dan juga saleh sosial. Orang yang tidak diragukan keimanan dan keislamannya secara spiritual tetapi juga memiliki kepedulian yang sangat baik kepada sesama manusia. Islam mengajarkan tentang hablum minallah dan juga hablum minan nas. Artinya, orang harus menyeimbangkan hubungan dalam bentuk ibadah kepada Allah dan juga menjaga hubungan dengan sesama manusia, misalnya jangan saling menyakiti, saling mencemooh, dan bahkan saling mengkafirkan. Dan yang digunakan salah satunya ialah media sosial.

Itulah sebabnya sekarang ini yang berbicara bukan hanya mulut tetapi juga tangan. Dengan kita menggunakan HP, maka yang berbicara bukan mulut tetapi tangan kita semua. Allah menyatakan bahwa yang akan ditanyai besuk di hari kiamat itu bukan hanya mulut tetapi juga tangan dan kaki kita. Tangan akan mewakili mulut untuk berbicara karena melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji melalui media sosial. Allah berfirman di dalam Surat Yasin, ayat 65: “al yauma nakhtimu ‘ala afwahihim watukallimuna aidihim wa tasyhadu arjulihim bi ma kanu yaksibun”, yang artinya: “Pada hari ini, Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”.

Puasa yang kita lakukan sekarang hendaknya menjadi pengingat agar kita terus menjaga lesan dan tangan kita dalam menggunakan media sosial agar kita tidak menyesal di kelak kemudian hari. Dan kita semestinya bisa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

PUASA; PERABAIKI KUALITAS IBADAH

PUASA; PERABAIKI KUALITAS IBADAH

Pada Ramadlan hari ke 11, Dr. Chabib Musthafa, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Sunan Ampel Surabaya yang memberikan taushiyah keagamaan pada jamaah Tarawih Mushalla Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, Ketintang Surabaya. Saya tentu bersyukur karena Sdr Chabib Musthafa bisa memberikan ceramah agama pada forum ini. Saya tentu sangat memahami kapasitasnya dalam hal ilmu keagamaan.

Pak Chabib memulai ceramahnya dengan ilustrasi tentang nama Mushalla ini, yaitu Al Ihsan. Sebuah nama yang menggambarkan tentang tingkatan tertinggi dalam hirarkhi, Iman dan Islam. Ihsan sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad saw ialah kita merasa berada di hadapan Allah di saat kita menyembahnya. Di saat kita berdzikir kepadanya, dan di saat kita bertaqarrub kepadanya. Tempat ini nanti akan menjadi saksi bahwa kita adalah orang yang mengagungkan namanya dan kita mengabdikan diri di kala kita hidup di dunia. Semoga semua yang mendirikan dan kemudian meramaikan rumah Allah ini akan menjadi hambanya yang kelak mendapatkan nikmat Allah berupa surga yang dijanjikanya.

Sekarang kita berada di dalam bulan puasa, dan sebagaimana yang sering diungkapkan berdasarkan ayat al Qur’an (Surat Al Baqarah, ayat 183), bahwa “Ya ayyuhal aldzina amanu kutiba alaikumush shiyamu kama kutiba alal ladzina min qablikum laallakum tattaqun”. Yang artinya: “wahai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu, agar amu bertaqwa”. Berdasarkan sejarah, ibadah yang paling tua ialah puasa dan setiap umat diwajibkan berpuasa.

Tujuan puasa ialah untuk bertaqwa. Taqwa berasal dari bahasa Arab yang berarti memelihara. Menurut para ahli fiqih ialah: “imtitsalu awamirillah wa wajtinabu nawahihi” yaitu: “menahan diri dari siksaan Allah swt dengan cara mengikuti segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.”

Ada 4 (empat) indikator ketaqwaan kita kepada Allah sebagaimana disampaikan oleh Sayyidina Ali ibn Abi Thalib Karramallahu wajhah seperti yang dikutip oleh Habib Zen bin Abdullah bin Smith dalam Kitab Manhajus Showi, yaitu: 1) Al Khouf ilal Jalil atau takut kepada Allah seiring dengan sikap mengharap (roja’) pada rahmat Allah. 2) al ‘amalu bil tanzil atau berusaha mengamalkan apa yang telah diturunkan di dalam Al Qur’an, 3) al ‘amal bil Qalil atau qanaah dengan apa yang disedikitkan oleh Allah, dan 4) al isti’dad bil yaumil rahil atau menyiapkan diri menyongsong hari pergantian.

Jika puasa diinginkan untuk mencapai derajat ketaqwaan, maka 4 (empat) hal ini bisa dijadikan ukuran atau standart tentang ketaqwaan tersebut. Apakah kita sudah terus menerus merasa takut menjalankan larangan Allah dan sekaligus berharap agar Allah memberikan rahman dan rahimnya. Apakah kita sudah menjalankan amalan-amalan baik wajib atau sunnah sebagaimana diperintahkan kepada kita, apakah kita istiqamah menjalankan perintah Allah dalam dzikir, dalam ibadah dan dalam berbuat lainnya. Bahkan apakah kita sudah mudawamah di dalam menjalankan ajaran agama tersebut. Dan apakah kita sudah membuat persiapan untuk terjadinya kematian, atau pergantian alam dari alam ruh ke alam barzakh dengan persiapan kelakuan dan tindakan yang menyenangkan Allah. Jika kita bisa mengukur dengan diri sendiri tentang 4 (empat) hal ini, maka berarti kita semakin taqwa kepada Allah swt.

Mengenai ketakutan manusia kepada Allah itu tidak sama dengan ketakutan dengan makhluk. Misalnya ketakutan kepada hewan atau lainnya. Jika ketakutan kepada hal ini kita justru melarikan diri akan tetapi ketakutan kepada Allah justru kita mendekat atau taqarrub kepada Allah dengan cara memelihara amal kebaikan dan menjauhi amalan kejelekan. Di antara cara mendekat atau taqarrub kepada Allah ialah dengan mengamalkan ajaran sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Misalnya shalat, puasa, zakat dan sebagainya.

Shalat merupakan ibadah yang penting. Untuk memahami apakah shalat kita itu sudah baik atau belum, maka harus ditinjau dari hal-hal di sekeliling shalat. Misalnya mengapa justru pikiran aneh-aneh itu datang di waktu shalat. Contohnya datangnya pikiran bagaimana bisa ada demontrasi mahasiswa, bagaimana kita menyelesaikan hutang dan sebagainya. Makanya, harus kita lihat bagaimana wudlu kita, bagaimana pakaian kita, bagaimana makanan kita dan sebagainya. Hal-hal di sekeliling shalat itu berpengaruh terhadap jiwa dan fisik kita di waktu menjalankan shalat. Contoh berwudlu untuk membasuh muka, maka caranya ialah dari atas ke bawah dan seterusnya dengan urutan yang benar. Jika wudlunya baik dan lingkungan ibadah lainnya juga baik, maka shalatnya pasti baik. Ini cara kita mengukur diri sendiri. Akan tetapi ukuran sebenarnya tentu Allah yang menentukan.

Sebagaimana tadi saya contohkan bahwa amalan yang istiqamah itu sangat penting. Amalan yang terus menerus dilakukan dengan keikhlasan dan kepatuhan itu sangat mendasar. Saya memiliki pengalaman terhadap orang yang sudah mati dan dikuburkan. Saya sering ikut masuk dalam lobang kubur dan bau orang yang akan dikubur itu berbeda-beda. Ini ada contoh. Orang yang sudah meninggal tetapi kain kafannya dan badannya itu masih utuh. Ketika ada orang yang membuat lobang pemakaman, ternyata makam disebelahnya terkikis dan menyebabkan posisi orang yang dimakamkan itu terbuka. Dan subhanallah ternyata jenazah orang itu masih utuh. Kain kafannya masih putih bersih dan badannya masih utuh. Untuk membuktikan maka saya pegang dan ternyata benar. Lalu, saya bertanya kepada orang-orang di situ dan tidak ada orang yang tahu. Sampai tiga bulan saya terus mencari makam siapa yang utuh itu, akhirnya diketahui bahwa orang itu bernama “Fulan”. Orang ini tidak memiliki keistimewaan dalam hal agama. Orang biasa saja. Tetapi ada satu yang diingat oleh masyarakat sekitar ialah keistiqamahan si “Fulan” dalam hal shalat. Beliau ini selalu datang mendahului Muadzin dan jika belum datang Muadzinnya, maka Beliau membersihkan masjid. Itu yang terus dilakukan sampai beliau meninggal. Rupanya amalan semacam ini menyenangkan Allah, maka Allah memberikan rahman dan rahimnya, bahwa jasadnya utuh tanpa kerusakan.

Cerita-cerita ini menggambaran bahwa semua orang berpeluang untuk mendapatkan kasih sayang Allah tetapi yang diperlukan ialah keistiqamahan di dalam menjalankan perintah Allah dan Allah terkesan dengan amalan kita itu.

Semoga puasa ini dapat menjadi jalan bagi kita semua untuk mengamalkan ajaran Islam dengan tingkat keistiqamahan yang terjaga.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PUASA; MEMPERKUAT SENSOR KETUHANAN (10)

PUASA; MEMPERKUAT SENSOR KETUHANAN (10)

Pada hari Selasa, 10 Ramadlan 1440 H atau 14 Mei 2019, jamaah Mushalla Al Ihsan mendapatkan tamu istimewa untuk memberikan ceramah agama ba’da shalat Isya’. Bertepatan hari ini, yang menjadi Imam shalat Isya’ dan Tarawih ialah Ust. Shonhaji, Lc, Al Hafidz, mahasiswa program magister Tafsir Hadits pada UIN Sunan Ampel. Beliau ini menyelesaikan strata 1 pada Universitas Al Azhar Mesir. Tamu yang saya maksud ialah KH. Drs. Abdul Mujib Adnan, MAg, Direktur Ma’had al Jami’ah UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau menyampaikan materi tentang “Puasa sebagai instrumen untuk memperkuat sensor Ketuhanan”.

Pak Mujib, begitu saya memanggilnya, memulai ceramahnya dengan membacakan Al Qur’an, Surat Anfal, ayat 3, yang berbunyi: “innamal mu’minunal ladzina idza dzukirallahu wajilat qulubuhum wa idza tuliyat ayatuhu zadathum imanan wa ala rabbihim yatawakkalun. Yang artinya: “Sesungguhnya orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut Nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambah iman mereka (karenanya) dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal.

Ayat ini dapat dipahami bahwa indicator seorang dapat dinyatakan mukmin ialah apabila mendengar nama Allah disebut , maka ada getaran di dalam dirinya. Hatinya bergetar karena asma Allah. Ada getaran positif bahwa Allah adalah Dzat yang menguasai seluruh alam, dijadikan sebagai tempat menyembah dan kepadanya segalanya akan kembali. Dan jika ditunjukkan tentang bukti-bukti kebesaran Allah, maka terus bertambah imannya. Getaran keberadaan Allah dan tanda-tanda kebesarannya itu menyatu dalam dirinya. Iman itu tidak berkurang atau bertambah tetapi terus menanjak naik sampai puncaknya keimanan tersebut.

Iman para Rasul dan Nabi itu terus bertambah dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun. Malaikat itu konstan atau stagnan. Tidak bertambah dan tidak berkurang. Dan manusia seperti kita ini adakalanya turun dan adakalanya naik atau iman kita itu fluktuatif. Jadi antara malaikat dan rasul itu lebih utama rasul dilihat dari keimanannya. Yang diharapkan dari manusia tentu bisa naik dan tidak terus turun. Dan naiknya keimanan itu adalah indicator keimanan kita kepada Allah yang semakin menguat.

Manusia itu secara kategorikal dapat dipilah menjadi dua dari aspek kecenderungannya. Ada yang berkecenderungan baik dan ada yang berkecenderungan jelek atau ada yang positif dan ada yang negative. Kecenderungan atau respon positif atau negative itu tergantung bagaimana sensor di dalam tubuh kita itu bekerja. Ada yang begitu mendengar nama Allah disebut langsung sensornya merespon positif. Ada orang yang perlu dibantu segera sensornya menyambut positif untuk membantu. Atau contoh lain, di tempat ini dulu adalah rerumputan dan kemudian karena takdir Allah didirikan rumah Allah atau mushalla, maka sensor kita akan merespon untuk memanfaatkan tempat ibadah ini dengan kegiatan keagamaan. Tetapi juga ada yang sensornya merespon dengan negative. Biarkan saja, semuanya akan berlalu. Sepertinya tidak ada keinginan untuk menyambut dengan positif atas upaya kebaikan dan sebagainya.

Puasa yang kita lakukan sebenarnya untuk menumbuhkan response sensor ketuhanan agar lebih peka untuk mendengarkan agar terjadi peningkatan kebaikan dan juga mendengarkan untuk menolak kejelekan. Manusia itu diberi pendengaran melalui telinga, diberikan penglihatan melalui mata, dan diberikan perasaan melalui hati. Namun demikian, ada orang yang potensinya lebih mengarah ke negative. Orang yang seperti ini diberikan hati tetapi tidak digunakan untuk memahami. Mereka diberikan telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar dan diberikan mata tetapi tidak digunakan untuk melihat kebaikan. Semuanya berlalu seperti angin lalu. Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak menyadari bahwa yang bersangkutan diberi kenikmatan oleh Allah tetapi tidak digunakannya untuk kepentingan kebaikan. Jika ada orang yang mengajak kepada tindakan kejahatan, maka dengan cepat sensor kita itu menolak, dan sebaliknya jika ada orang yang mengajak kepada kebaikan maka sensor kita itu cepat merespon untuk mendukungnya.

Perintah puasa itu wajib dilakukan oleh umat Islam. Kita berpuasa atau tidak berpuasa itu tidak berpengaruh kepada Allah. Tetapi harus diingat bahwa puasa itu ibadah yang khas. Ibadah yang hanya Allah sendiri yang akan menilainya. Puasa itu ibadah yang sangat personal. Tidak ada yang tahu kecuali pelaku puasa dan Allah saja. Saya bisa berpura-pura puasa di depan orang, tetapi tidak bisa berpura-pura di depan Allah. Jika ibadah lain, misalnya orang membaca shalawat dihargai 1 pahala dan jika pada bulan puasa misalnya dihargai 10 kali pahala. Jadi lipat 10. Untuk puasa itu tanpa ukuran atau tidak berbilang berapa Allah akan menghargai pahalanya. Pahalanya tidak terhingga. Ukurannya ialah maghfirah atau ampunan Allah berbasis keridlaannya.

Kita semua berharap melalui puasa yang merupakan ibadah khusus ini, kita dapat memperkuat sensor di dalam diri kita sehingga potensi kebaikan di dalam diri kita semakin optimal dapat digunakan, dan sebaliknya potensi kejelekan di dalam diri kita semakin terkikis habis. Dan puasa adalah instrument untuk ini semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.