• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PUASA; INSTRUMEN PENGAMPUNAN DOSA (3)

PUASA; INSTRUMEN PENGAMPUNAN DOSA (3)

Pada hari ke tiga Bulan Ramadlan 1440 H, saya memperoleh kesempatan untuk memberikan kuliah tujuh menit (kultum) pada Jamaan Mushalla Al Ihsan di Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Saya sampaikan beberapa hal terkait dengan puasa sebagai instrument pengampunan dosa.

Pertama, Betapa Allah itu menyayangi hambanya sedemikian rupa. Allah itu sungguh-sungguh menyayangi dan mengasihi hambanya secara luar biasa. Allah Maha Mengetahui tentang apa yang diperbuat oleh hambanya, baik tindakan kebaikan maupun keburukan, maka Allah menyediakan kesempatan dan peluang untuk memohon ampunan atas kekhilafan, kesalahan dan dosa yang diperbuat hambanya. Di dalam Islam, maka yang menjadi instrument untuk memohon ampunan itu ialah puasa pada Bulan Ramadlan. Di dalam Hadits Nabi Muhammad saw disebutkan: “man shama ramadlana imanan wa ihtisaban ghufiro lahu ma taqaddama li dzanbihi”. Yang artinya secara generic ialah “Sesiapaun yang menjalankan puasa Ramadlan secara sungguh-sungguh dengan keimanan dan perhitungan yang matang atau keikhlasan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa sebelumnya”. Subhanallah, alangkah indahnya hadits ini bagi kita. Allah berjanji akan mengampuni dosa kita sebelum pelaksanaan puasa sekarang. Maknanya, bisa dosa sebulan yang lalu, setahun yang lalu dan bahkan beberapa tahun yang lalu. Masyaallah, subhanallah.

Puasa hakikatnya ialah menahan dari segala yang membatalkannya. Misalnya, makan, minum, melakukan hubungan seksual dan menjauhi segala perilaku yang membatalkannya pada siang hari. Jika puasa hanya seperti ini, maka puasa kita itu semakna dengan puasa fisikal. Secara fisik kita berpuasa. Akan tetapi yang dikehendaki dengan puasa yang imanan wa ihtisaban itu melebihi takaran puasa fisik. Orang mengembangkan olah batin untuk bertaqarrub kepada Allah. Puasanya itu dijadikan sebagai medium untuk melakukan “kemenyatuan” dzikir kepada Allah. Mungkin bisa dinyatakan bahwa keluar masuknya nafas adalah gerak dzikir kepada Allah. Makanya, puasa bagi para perindu Tuhan adalah medium untuk melatih kejiwaan atau rohani untuk bersama Allah dalam perbuatan. Apa yang dilakukan adalah dalam rangka ibadah kepada Allah semata. Jadi bukan hanya fisiknya yang berpuasa tetapi juga batinnya atau spiritualnya. Dan ujung dari semua itu ialah ampunan Allah swt.

Di dunia ini, saya kira tidak ada orang yang tidak bersuka cita memperoleh ampunan Allah, sama dengan kita melakukan kesalahan kepada orang lain dan orang itu mengampuni kekhilafan kita. Sungguh kita akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Dengan memperoleh ampunan Allah, maka sungguh-sungguh kita telah terbebas dari belenggu dosa yang kita lalukan. Dengan menurunkan ritual ibadah berupa puasa, maka Allah memberikan suatu kesempatan dalam setahun untuk manusia memperoleh ampunannya. Namun, sekali lagi bahwa perolehan ampunan itu sangat tergantung kepada usaha yang kita lakukan. Puasa dengan imanan wa ihtisaban merupakan medium untuk memperoleh ampunan tersebut.

Kedua, pada bulan puasa ini kita harus memperbanyak permohonan ampunan kepada Allah melalui pernyataan “astaghfirullah”, yang artinya: “Wahai Allah ampuni dosa kami”. Para ulama menyatakan bahwa ampunan tersebut berada di dalam 2 (dua) kategori, yaitu maghfirah dan afwun. Maghfirah ialah ampunan Allah yang diberikan kepada manusia tetapi catatan kesalahannya itu masih tertulis, sedangkan afwun ialah pengampunan oleh Allah atas kesalahan manusia dan catatan tersebut dihapusnya. Jadi ada kesalahan yang diampuni tetapi catatannya masih dilestarikan dan ada ampunan yang diberikan kepada manusia dan catatan kesalahan tersebut dihapus. Sama dengan ibarat, kita punya hutang pada seseorang tetapi catatan hutang tersebut masih disimpan, sedangkan ada hutang yang dibebaskan dan catatan hutangnya juga dihapuskan.

Allah menjadikan puasa sebagai instrument untuk menghapus dosa dan catatan dosa juga dihapusnya. Makanya, doa kita ialah “Allahumma innaka ‘afwun karim, tuhibbul afwa fa’fuanna ya karim”, yang pengertian secara bebasnya ialah Wahai Allah Engkau adalah Maha Pengampun yang Agung, Engkau menyukai ampunan maka ampuni kami, Wahai Dzat yang Mulya”. Subhanallah, sesungguhnya kita diberi peluang oleh Allah untuk mendapatkan pemaafan yang agung ini, khususnya pada bulan Ramadlan. Jadi kita perbanyak membaca istighfar dan doa di atas. Dengan harapan agar dosa kita diampuni tanpa catatan, atau sekurang-kurangnya diampuni dengan masih ada catatan. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sehingga peluang untuk diampuni dengan tanpa catatan tentu sangat terbuka.

Sungguh kita merasa sangat beruntung, sebab bisa berjumpa lagi dengan bulan puasa, bulan penuh berkah, bulan penuh maghfirah sehingga kita masih berpeluang untuk memohon ampunan kepada Allah. Peluang ini saya kira harus kita manfaatkan sebesar-besarnya dengan melakukan permohonan yang serius dan melakukan amal kebaikan.   Yang kita harapkan ialah kelak kita akan dapat memperoleh kebahagian, khususnya ialah kebahagiaan di akherat sebab kita termasuk golongan ashabul yamin, atau golongan orang yang menerima catatan amal ibadah dengan tangan kanan dan masuk ke dalam surganya Allah swt.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PUASA; RELASI ANTARA SHALAT DAN PUASA (2)

PUASA; RELASI ANTARA SHALAT DAN PUASA (2)

Rasa syukur saya menjadi bertambah sebab jamaah shalat tarawih yang diselenggarakan di Mushalla Al Ihsan di Perumahan Lotus Regency Ketintang ternyata cukup banyak. Meskipun jumlah penghuni perumahan Lotus Regency tidak banyak, akan tetapi yang mengikuti shalat tarawih lumayan memadai. Ke depan, saya kira akan semakin banyak di kala Mushalla Al Ihsan sudah dikenal oleh lingkungan masyarakat sekitar.

Pada bulan Ramadlan 1440 H ini, kami memang sengaja meminta kepada Direktur Ma’had Al Jami’ah UIN Sunan Ampel –KH. Drs. Abd. Mujib Adnan, MAg—untuk menugaskan mahasiswa UIN Sunan Ampel, khususnya yang hafal Al Qur’an dan mahasiswa Jurusan tafsir Hadits untuk menjadi imam tetap selama bulan Ramadlan. Dan akhirnya, dikirimkan Sdr. Khobirul Amru, S.Th.I., mahasiswa program Pascasarjana UIN Sunan Ampel Program Studi Tafsir Hadits untuk menjadi imam tetap selama bulan Ramadlan. Dan selain itu juga diminta untuk memberikan ceramah agama –kuliah tujuh menit, kultum—sesuai dengan tema yang diberikan kepadanya. Pada malam ini (tarawih kedua) dia menyampaikan tema tentang shalat dan puasa di dalam Islam.

Dia memulai ceramahnya dengan pernyataan: “apa yang sesungguhnya diharapkan dari orang yang sudah meninggal?”. Sebuah pertanyaan sufistik yang biasanya menjadi bahan perbincangan di kalangan ahli-ahli tasawuf atau ahli “ngelmu” tentang kehidupan sesudah mati. Ternyata, yang diinginkan oleh mereka yang sudah wafat ialah agar diberikan kesempatan oleh Allah agar bisa berkesempatan untuk melakukan sujud. Hal ini menandakan betapa pentingnya melakukan sujud sebagai inti dari pengabdian manusia kepada Allah swt. Dengan demikian, shalat menjadi sangat penting dan memberikan pemahaman bahwa shalat adalah inti dari ajaran agama.

Shalat menempati posisi penting di dalam ajaran Islam. Betapa pentingnya shalat dapat dilihat dari perintahnya yang sangat special. Yaitu dengan cara Allah memanggil langsung kepada Nabi Muhammad saw., untuk menghadap keharibaannya. Nabi Muhammad saw mendapatkan Surat Keputusan (SK) langsung tentang pelaksanaan shalat wajib sehari semalam sejumlah 5 (kali) kali. Hal ini sangat berbeda dengan perintah untuk mengamalkan rukun Islam lainnya yang cukup dengan Malaikat Jibril untuk menyampaikannya. Perintah tentang zakat, puasa dan haji dan lainnya dicukupkan melalui wahyu Allah di dalam Al Qur’an.

Shalat merupakan ibadah yang sangat penting sehingga Nabi Muhammad saw diminta langsung untuk menghadapnya. Bahkan begitu pentingnya, maka yang akan dihisab pada tahap awal sebelum amal-amal lainnya ialah shalatnya. Makanya, jika seseorang telah menjalankan amalan shalatnya dengan baik, maka peluang untuk dibebaskan dari semua tuduhan atasnya akan bisa dihapuskan. Itulah sebabnya shalat menempati posisi penting di dalam ajaran Islam. Shalat menjadi instrument agar manusia bisa berkomunikasi secara langsung kepada Allah. Shalat merupakan instrument agar hablum minallah bisa dilakukan secara seimbang. Di dalam bacaan-bacaan surat Al Fatihah, maka di dalamnya terdapat dialog antara manusia dengan Allah. Seluruh bacaan di dalam surat Al Fatihah, memiliki konsepsi dialog dengan Allah swt.

Di dalam kitab-kitab yang membahas tentang shalat, dinyatakan bahwa orang yang menjalankan puasa tetapi tidak melakukan shalat adalah orang yang murtad. Dan sama sebaliknya jika ada orang yang shalat tetapi tidak mau melakukan puasa, maka juga dikategorikan sebagai orang yang mengingkari ajaran Islam. Tentu terkecuali mereka yang udzur syar’i atau memang menderita sakit atau dalam perjalanan yang diperkenankan untuk tidak berpuasa tetapi menggantinya pada kesempatan lainnya. Artinya, bahwa menjadi orang Islam itu mesti harus mengamalkan ajaran Islam secara utuh, misalnya mengamalkan ajaran Islam mulai dari syahadat, shalat, zakat, puasa dan menjalankan haji jika mampu secara ekonomi. Jadi tidak boleh ditinggalkan antara satu dengan lainnya.

Bahkan ada ulama yang lebih keras menyatakan, Syekh Abdullah bin Hussein bin Thohir Ba’alawi dalam Kitab Sullamut Taufiq, yang menyatakan bahwa orang yang melakukan puasa tetapi tidak melakukan shalat adalah orang murtad (keluar dari ajaran Islam), sebab mengabaikan perintah Allah di dalam beragama. Hal ini memberikan identifikasi bahwa menjadi orang Islam yang sempurna ialah dengan mengamalkan ajaran Islam secara utuh tanpa meninggalkan semua yang diwajibkan oleh Allah swt melalui percontohan yang dilakukan Nabi Muhammad saw.

Sebagai konsekuensi orang yang murtad, maka puasa yang dilakukan juga tidak dapat diterima oleh Allah swt. Tentu saja kita tidak menginginkan menjadi orang yang murtad itu. Kita semua ingin menjadi orang Islam yang sebenar-benarnya. Orang Islam yang menjalankan seluruh ajaran agama yang diwajibkan, dan bahkan yang disunnahkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

Di tengah masyarakat kita terkadang ada yang berpendapat bahwa beribadah itu nanti kalau sudah tua saja. Artinya di kala masih muda tidak perlu menjalankan ajaran agama. Pernyataan begini tentu harus dikoreksi, sebab kita semua tidak tahu kapan kita akan meninggal. Urusan kematian adalah urusan Allah swt, sehingga kita tidak bisa memprediksi kapan kematian itu akan datang. Orang bisa mati pada usia tua dan bisa juga meninggal pada waktu usia muda. Oleh karena ketika sudah ada kesadaran untuk melakukan amal ibadah yang relevan dengan ajaran Islam, maka harus segera dilakukan.

Dan insyaallah kita semua telah menjadi orang Islam sebagaimana yang dikehendaki oleh Nabi Muhammad saw. Tiada kebahagiaan yang melebihi posisi bahwa kita dinyatakan sebagai pengikut dan umat Muhammad saw yang menjalankan amalan agama secara benar.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

PUASA: UPAYA MENJADI MUTTAQIN (1)

PUASA: UPAYA MENJADI MUTTAQIN (1)

Ada yang saya syukuri di awal Ramadlan tahun ini, 1440 H atau 2019 M, ialah telah digunakannya Mushalla Al Ihsan, di Perumahan Lotus Regency, Ketintang Selatan, Surabaya. Mushalla yang diinginkan tersebut telah berdiri di tempat fasilitas umum perumahan dan berdiri dengan kokoh dan cantik, meskipun tidak terlalu luas untuk ukuran tempat ibadah.

Tahun ini kita bisa bertarawih berjamaah di Mushalla al Ihsan bersama warga perumahan. Ada rasa bangga dan sekaligus syukur atas berdirinya Mushalla al Ihsan, sebab menurut cerita sudah cukup lama keinginan membangun mushalla tersebut diimpikan, dan baru pada tahun 2019 mushalla tersebut bisa dibangun dan didirikan. Saya mengapresiasi atas kerja keras warga RT 005, RW 008, Kelurahan Ketintang, Kecamatan Gayungan yang telah berpartisipasi di dalam mendirikan Mushalla Al Ihsan tersebut.

Saya mendapatkan kesempatan pertama untuk menjadi penceramah “kuliah tujuh menit” atau yang disingkat “kultum”. Memang tidak banyak hal yang saya sampaikan tentu mengingat waktu yang sangat terbatas. Dalam waktu 7 (tujuh) menit harus menyampaikan pengetahuan mengenai ajaran Islam, khususnya tentang puasa. Ceramah ini dilakukan dengan harapan bahwa apa yang disampaikan dalam ceramah tersebut bisa menjadi pemahaman dari para jamaah shalat tarawih.

Sebagai awal bulan Ramadlan, maka tentunya saya sampaikan hal-hal mendasar tentang puasa. Yaitu hikmah puasa dalam kerangka mendidik manusia agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah swt melalui instrument puasa. Sebagaimana diketahui bahwa dalil al Qur’an yang paling laris pada bulan Ramadlan ialah: “Ya ayyuhal ladzina amanu kutiba alaikumush shiyam kama kutiba alal ladzina min qablikum la’allakum tattaqun (Surat Al Baqarah, ayat 183).” Yang artinya: “wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” Ayat ini memberikan arahan dan sebagai pedoman agar manusia menjadikan puasa sebagai instrument untuk menggapai ketaqwaan.

Ketaqwaan itu diindikatori dengan keyakinan yang sepenuhnya, ibadah yang sepenuhnya, dan amalan-amalan keagamaan yang sepenuhnya. Bahkan juga tidak hanya dalam pengabdian kepada Allah melalui amalan-amalan keagamaan, akan tetapi juga pengabdian kepada sesama manusia dan bahkan kepada alam seluruhnya. Pengabdian itu dalam bentuk membangun relasi dengan Tuhan dengan sepenuh keyakinan dan pengamalan keagamaan, membangun relasi dengan sesama manusia dalam bentuk tindakan yang elok dan menyenangkan dan bukan tindakan yang menyebalkan dan menyusahkan, dan juga membangun relasi dengan alam dalam bentuk memanfaatkan alam secara seimbang, menjaga ekosistem lingkungan dengan sebaik-baiknya. Jika kita berbuat baik kepada alam, maka Allah swt dapat memerintahkan alam untuk berbuat baik kepada manusia. Jangan mengekploitasi alam sekehendak kita, sehingga alam pun tidak bersahabat dengan kita.

Ketaqwaan adalah pencapaian atau achievement dan bukan perolehan atau something given. Jadi manusia harus berusaha dengan sekuat tenaga, fisik dan spiritual agar bisa sampai kepada derajat taqwa. Sebagai pencapaian, maka keberhasilannya sangat tergantung dari upaya yang kita lakukan. Dan Allah swt pasti menjamin siapapun yang bisa mencapai derajat taqwa maka dialah orang yang beruntung. Keberuntungan dengan demikian, sangat tergantung pada upaya lahiriyah dan batiniah kita. Dan Bulan Ramadlan adalah bulan yang dijadikan oleh Allah sebagai bulan instrumen ketaqwaan dimaksud.

Kita bersyukur kepada Allah dengan menjadi manusia Indonesia. Kita menjadi orang Islam di Indonesia. Kenyataan ini yang harus kita syukuri. Coba bayangkan kalau kita menjadi orang Amerika Utara—misalnya Canada, atau orang Skandinavia—maka siang harinya sangat panjang, sementara itu malamnya sangat pendek. Saya pernah di Canada, selama satu bulan, maka shalat magrib dilaksanakan pada jam 21.00 malam dan shalat shubuh dilakukan pada jam 03.00 dini hari. Dan ini tentu berakibat pada pelaksanaan puasa yang jauh lebih lama dari 12 jam. Di Indonesia, puasa 12 jam, sebab waktu imsyak pada saat yang tepat dan ifthar dalam waktu yang tepat. Oleh karena itu, mari kita bersyukur kepada Allah swt, atas kenikmatan kita menjadi orang Indonesia.

Sesungguhnya, menjadi orang Islam itu tidak sulit, sebab system akidahnya tidak rumit. Ilmu tauhid mengajarkan bahwa Allah itu tidak berbilang, Allah itu satu-satunya yang menciptakan system tata surya secara utuh, Allah itu tidak dipersekutukan dengan lainnya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan Allah adalah dzat yang mula pertama tanpa permulaan dan yang terakhir tanpa akhiran. Di dalam system tata surya ini, maka Allah yang berkuasa dan yang menjadi pemiliknya. Dialah satu-satunya Dzat yang bisa disembah dan dipatuhi perintahnya dan tiada sekutu baginya. Dialah Dzat yang maha Rahman dan Rahim, yang maha menyayangi dan mengasihi kita semua.

Dalam system ibadah juga sangat simple. Tidak membutuhkan aturan-aturan yang rumit di dalamnya. Ajaran ibadah tersebut terkonstruksi di dalam rukun Islam, yaitu menusia bersaksi atas keberadaan Allah dan persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah, lalu menyelenggarakan shalat , zakat dan puasa dan berhaji ke Baitullah jika memiliki kemampuan ekonomi dan kesehatan. Islam tidak mengajarkan tentang system peribadahan yang berhirarkhi melalui manusia, akan tetapi langsung kepadanya. Allah akan menjawab atas keinginan kita. Allah akan mengabulkan do’a kita.

Kita bersyukur bisa bertemu kembali dengan Bulan Ramadlan, sebagaimana doa kita “Ya Allah berkahilah kami di Bulan Rajab dan Sya’ban dan berikan peluang bagi kami untuk menjumpai Bulan Ramadlan”. Doa kita itu sudah dikabulkan Allah dan sudah saatnya kita bergembira atas capaian kita menjumpai bulan Ramadlan.

Saya yakin bahwa dengan mengamalkan amalan-amalan kebaikan di bulan ini, maka Allah pasti akan meridloi kita semua. Tiada yang lebih dirindukan oleh umat Islam di dalam kehidupan ini, kecuali keridlaan Allah. Dan jika ini yang didapatkan oleh manusia, maka inilah makna terdalam dari puasa kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

CENTER OF FRIENDLY LEADERSHIP

CENTER OF FRIENDLY LEADERSHIP

Akhirnya keinginan saya untuk menyelenggarakan pelatihan “Friendly Leadership” dapat diwujudkan. Melalui saringan terhadap sebanyak 15 orang mahasiswa dari berbagai jurusan, di UIN Sunan Ampel, akhirnya terdapat sebanyak 11 orang yang lulus untuk mengikuti pelatihan ini. Dengan demikian angkatan pertama telah dimulai penyelenggaraannya. Dengan di asuh oleh Dr. Chabib Mustafa, Yusrol Fahmi, MSi, Cholil Umam dan saya, pelatihan tersebut bisa diselenggarakan. Mimpi untuk membangun center of leadership telah diwujudkan.

Mimpi untuk memiliki center of leadership, center of research and center of writing, sesungguhnya sudah muncul di dalam waktu yang cukup lama, yaitu semenjak saya kembali dari tugas jabatan sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Agama dan menjadi Guru Besar Sosiologi pada UIN Sunan Ampel. Saya berpikir bahwa harus ada sesuatu yang dapat saya berikan kepada orang lain –khususnya mahasiswa—agar memiliki seperangkat pemahaman tentang manajemen dan kepemimpinan sebagai bekal dalam menghadapi tantangan kehidupan yang lebih kompleks di masa depan.

Pelatihan ini memang hanya merekrut sebanyak 15 orang mahasiswa dari berbagai jurusan. Melalui test yang saya lakukan didapatkan sebanyak 14 orang yang dinyatakan lulus dan kemudian sebanyak 11 orang yang dapat mengikuti kegiatan pelatihan ini. Mereka adalah mahasiswa yang memiliki keinginan untuk mendapatkan seperangkat pengetahuan tentang bagaimana memanej dan memimpin.

Sesungguhnya ada keinginan yang sangat kuat dari dalam diri saya, bahwa pengalaman saya sebagai birokrat –rektor, dirjen dan sekjen pada kemenag—merupakan pengalaman berharga yang dapat ditularkan kepada para mahasiswa dan juga siapapun yang memiliki minat untuk kepentingan ini. Hasrat ini tentu menjadi nyata berkat dukungan, Dr. Chabib Mustafa, Cand. Dr. Cholil Umam dan Yusrol Fahmi, MSi yang tenaga dan pikirannya sangat dibutuhkan untuk kepentingan ini.

Tanggal 27 April 2019 merupakan hari pertama pembukaan Friendly Leadership Training. Hari itu adalah momentum bagi saya dan kawan-kawan untuk memberikan sumbangan bagi mahasiswa agar memperoleh tambahan lampiran ijazah, yang sekarang disebut sebagai Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Gagasan ini sudah lama saya canangkan pada tahun 2010, di kala saya menjabat sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel, bahwa setiap mahasiswa harus memiliki banyak lampiran ijasah. Tahap pertama IAIN Sunan Ampel menjalin kerja sama dengan Microsoft Indonesia untuk menerbitkan sertifikat atas dasar kelulusan mahasiswa dalam pelatihan program komputer dasar.

Ada pemikiran dasar pada waktu itu, bahwa mahasiswa harus berkemampuan dasar computer sebagai prasyarat untuk menjemput kehidupan. Bayangkan bahwa mahasiswa prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), lalu ditanya oleh tim Koran pada waktu pemagangan, dengan pertanyaan yang sangat mendasar: “apakah anda bisa computer”. Makanya, dengan semangat kuat kita lahirkan sertifikat kemampuan dasar computer yang dikeluarkan oleh Microsoft.

Pemikiran ini bergulir dan menyebar di seluruh PTKIN, terutama pada saat saya menjabat menjadi Dirjen Pendis, sebab di banyak kesempatan selalu saya sampaikan tentang pentingnya alumni PTKIN memiliki kemampuan lain selain ijazah dan transkrip nilai. Jadi, mereka memiliki sertifikat bahasa Arab dan Inggris, lalu sertifikat computer dan lain-lain. Jadi, mahasiswa tentu harus belajar mengenai banyak hal selain hardskill tentang keilmuannya.

Saya diilhami oleh Dale Goleman yang mengajarkan kepada kita, bahwa hard skill hanya memberikan sumbangan sebanyak 20 persen saja, sementara itu soft skill memberikan sumbangan sebanyak 80 persen. Itu artinya, bahwa seseorang jangan hanya pandai dan cerdas dalam ilmunya saja, akan tetapi juga cerdas di bidang lainnya, khususnya kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan skill lain yang diminatinya. Oleh karena itu, kehadiran “Friendly Leadership Training” ini menandai akan satu tambahan sertifikat bagi alumni PTKIN tentang Surat Keterangan Pendamping Ijazah, yaitu Sertifikat Friendly Leadership Training.

Mereka yang mengikuti program ini akan diberikan materi tentang “Tantangan Generasi Milenial di Era Industri 4.0, Manajemen Konvensional dan Modern, Total Quality Management, Manajemen Kinerja, Kepemimpinan berbasis spiritual, Membangun Tim Kerja, Kemampuan Soft Skill dan sebagainya” dengan tehnik penyajian yang berupa ceramah, tanya jawab dan game yang didesain sesuai dengan tema yang dibahas.

Saya berharap bahwa mereka yang mengikuti pelatihan ini akan dapat menjadi agen dalam perubahan di manapun nantinya mereka menempatkan dirinya. Saya berkeyakinan bahwa melalui pelatihan ini akan didapatkan seperangkat pengalaman tentang bagaimana memimpin dan bagaimana menjadi pemimpin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MEMBANGUN INDONESIA MELALUI KEPEMIMPINAN SPIRITUAL

MEMBANGUN INDONESIA MELALUI KEPEMIMPINAN SPIRITUAL

Saya tentu bersyukur diundang oleh Prof. Babun Suharto, Rektor IAIN Jember, untuk memberikan materi tentang “Kepemimpinan Spiritual”, 03/05/2019. Sebuah materi yang penting di tengah gelegak duniawi yang semakin kuat dan makin meningkatnya disorientasi dan distrust yang terus menggema di kalangan masyarakat kita. acara ini diiukti oleh seluruh pejabat di lingkungan IAIN Jember. Yaitu Rektor, Wakil Rektor, Kepala Biro, Direktur Pasca,  Kepala Lembaga, para pejabat eselon 3 dan 4 dan lainnya.

Di mana-mana muncul distrust yang disebabkan oleh berbagai problem yang menghimpit negeri ini. Orang banyak yang bertanya “siapa lagi yang bisa dipercaya di negeri ini”. Ada semacam keraguan bahwa bangsa kita sesungguhnya adalah bangsa hebat yang bisa mengambil pelajaran dari masa lalu untuk membangun masa depan.

Semakin menguatnya perilaku permissiveness yang terus menggelora di banyak elemen bangsa ini, tentu semakin memperkuat asumsi bahwa kita adalah bangsa yang sakit, dan diperlukan penyembuhan total berbasis pada nilai spiritual yang agung. Di dalam banyak kenyataan bahwa mereka memahami agama, tetapi nilai agama tidak dijadikan sebagai pedoman di dalam melakukan tindakan. Agama hanya memasuki ruang ritual dan tidak memasuki ruang kehidupan yang lebih luas.

Berbagai tindakan koruptif dan abuse of power yang tersaji di hamparan kehidupan kita sebagai bangsa, semakin menegaskan bahwa bangsa ini sedang menghadapi kegalauan tentang orientasi masa depan. Tindakan koruptif yang menjerat para elit partai politik, birokrat dan juga kaum pengusaha sungguh membuat keraguan bisakah bangsa ini keluar dari jerat-jerat masa sekarang yang membelenggu. Bisakah kita mengagungkan kembali trust, kejujuran, keadilan, semangat membangun yang kuat dan kemampuan mandiri untuk membangun peradaban yang adiluhung.

Di sinilah letaknya upaya untuk membangun kepemimpinan spiritual yang sesungguhnya telah menjadi pengalaman bangsa ini di masa lalu. Kita ini dikenal sebagai bangsa yang religious, bangsa yang memandang kerohanian atau spiritualitas itu sesuatu yang sangat penting. Oleh karena itu, upaya untuk membangkitkan kembali spiritualitas di dalam kepemimpinan merupakan upaya yang cerdas agar institusi yang sedang berada di dalam kewenangan kita itu semakin baik dari sisi akuntabilitasnya dan semakin maju inovasi dan pengembangannya untuk memenuhi keinginan maju di kalangan anak-anak muda milenial yang terus bergerak cepat.

Spiritual intelligent adalah seperangkat kecerdasan yang berbasis pada nilai-nilai agama. Hanya manusia yang diberkahi oleh Allah swt dengan kecerdasan ini. Kita memiliki sejumlah kecerdasan sebagai konsekuensi Tuhan menciptakan manusia sebagai sebaik-baik ciptaannya. Manusia memiliki kecerdasan rational atau rational intelligent atau disebut juga sebagai intellectual quotient. Yaitu kecerdasan intelektual yang basisnya adalah logika pengetahuan yang berkoridor pilihan rational dan untung rugi. Lalu kecerdasan emosional atau emotional intelligent ialah kecerdasan berbasis pada emosi yang berupa kemampuan mengendalikan diri dan memahami orang lain. Di sini terdapat sejumlah emosi yang terkait dengan senang, susah, sedih gembira, dan sebagainya. Lalu ada juga kecerdasan sosial atau social intelligent ialah sejumlah pemahaman dan tindakan tentang bagaimana kita memposisikan diri kita di tengah orang lain, misalnya simpati, antipati atau empati.

Jika manusia memiliki empat inteligensi, maka binatang hanya memiliki insting saja atau naluri saja. Nalurinya tidak berkembang dan hanya diwariskan secara turun temurun. Misalnya, semenjak dahulu cara berkehidupan binatang tidak mengalami perubahan. Dari induknya ke anaknya dan terus seperti itu. Hal ini tentu berbeda dengan manusia yang memiliki empat kecerdasan yang luar biasa. Inilah makna Allah memberikan kelebihan manusia atas makhluk ciptaan lainnya. “Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim” (Al Qur’an, surat At Tin: 4). “Sesungguhnya kami ciptakan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan”.

Di dalam kerangka untuk membangun Indonesia melalui peranan institusi pemerintah, khususnya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), maka sesungguhnya yang diperlukan ialah bagaimana mengembangkan kepemimpinan dengan basis nilai keagamaan atau spiritualitas. Jika melalui emotional leadership akan menghasilkan orang yang peka terhadap dunia sekelilingnya, lalu melalui social leadership akan menghasilkan orang yang bisa berempati kepada orang lain, maka dengan spiritual leadership akan bisa dihasilkan orang yang tidak hanya memiliki kepekaan terhadap hablum minan nas, akan tetapi juga peka terhadap hablum minallah.

Dengan demikian di saat memutuskan sesuatu, atau mengambil kebijakan tentang sesuatu, maka pertimbangannya menjadi lebih komplit, yaitu menyerahkan keputusannya kepada kepentingan kemanusiaan dan sekaligus juga memasrahkannya kepada kehendak Tuhan. Oleh karenanya tidak ada keputusan yang diambil berasal dari kepentingan dirinya, akan tetapi semata-mata untuk kepentingan kemanusiaan dan ketuhanan. Alangkah indahnya jika seorang pemimpin dapat menihilkan kepentingan individunya dan menempatkan kepentingan tersebut di dalam koridor untuk kepentingan masyarakat dan bangsa secara utuh. Bukan dimaksudkan bahwa pemimpin tidak boleh berkepentingan, akan tetapi tetap saja bahwa kepentingan umum harus berada di atas kepentingan pribadi.

Pemimpin harus memiliki integritas, kejujuran, keadilan, keterbukaan, kesabaran dan pekerja keras. Syarat untuk memperoleh trust dari staf kita jika kita memiliki sifat-sifat kepemimpinan seperti ini. Rasulullah saw. memberikan contoh tentang sifat pemimpin ialah harus shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah. Shiddiq ialah jujur, amanah artinya bisa dipercaya, tabligh yang berarti dapat mengembangkan transparansi dan fathanah artinya cerdas secara rasional, emosional, sosial dan spiritual.

Makanya pemimpin harus membangun nuansa kebahagiaan bagi para stafnya. Menurut Anny Mc-Kenzy, agar bahagia di tempat kerja, maka seseorang yang bekerja harus memiliki purpose (tujuan tertinggi dalam bekerja), hope (harapan tertinggi dalam bekerja) dan friendship (pertemanan). Tujuan dan harapan ialah mendapatkan ridha Allah dan menjadikan bekerja sebagai ibadah, bukan sekedar memperoleh gaji atau jabatan, dan yang penting juga harus ada milleau perkawanan di dalam bekerja.

Jika ini dimiliki oleh para pimpinan dan staf, maka kita akan merasakan bahagian dan bekerja menjadi enjoy dan sukses. Ciptakan joy working agar bekerja menjadi nyaman dan menyenangkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.