Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

Puasa: Hak Muslim Atas Muslim yang Lain (16)

Puasa: Hak Muslim Atas Muslim yang Lain (16)

Muh. Yusrol Fahmi

Malam ke-16 ramadlan 1440H yang bertugas menjadi penceramah di Musholla Al-Ihsan, Perumahan Lotus regency, Ketintang Baru Selatan IA,  adalah KH. Suyuti Rosyad. Mengawali paparannya beliau mengutip hadist nabi tentang hak muslim atas muslim yang lain.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Hadist ini menyiratkan bahwa hak muslim kepada muslim yang lain ada enam, yaitu:Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman) (HR. Muslim, No. 2162).

Pertama, mengucapkan salam apabila bertemu. Salam merupakan do’a, dengan begitu ketika seseorang mengucap salam maka sama halnya dia sedang mendoakan kebaikan kepada saudara kita. Tujuan dari mengucap salam ini tidak lain adalah untuk menumbuhkan rasa cinta sesama muslim, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا، أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحابب؟ أفشوا السلام بينكم

Yang artinya Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian kerjakan kalian akan saling mencinta? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah).

Dalam mengucapkan salam juga ada adab yang harus kita jadikan sebagai pedoman, diantaranya yang muda mengucap salam kepada yang tua. Kelompok orang yang jumlahnya lebih kecil mengucap salam kepada orang yang jumlahnya lebih banyak, dan terakhir orang yang naik kendaraan mengucap salam kepada orang yang sedang berjalan.

Kedua, memenuhi undangannya. Hak ini menunjukkan betapa pentingnya kita menjaga relasi dengan sesama muslim, artinya jika kita diundang oleh saudara atau tetangga sesame muslim hendaknya kita penuhi undangan tersebut. Para ulama’ berpendapat undangan yang harus dipenuhi  dan bahkan memiliki hukum wajib ialah memenuhi undangan walimatul ursy, sedangkan memenuhi undangan lainnya berhukum sunnah. Relasi semacam itu jika mampu menjaga dan merwatnya maka akan menumbuhkan rasa kasih sayang yang semakinkuat antara sesame muslim.

Ketiga, Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya. Kewajiban kita bagi sesame muslim tidak lain adalah saling mengingatkan kepad saudara kita. Sebab perilaku ini merupakan bagian dari perintah agama, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الدين النصيحة  قلنا : لمن قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

Agama adalah nasehat untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan pemimpin kaum muslimin, dan untuk semua kaum muslimin” (HR Muslim).

Nasihat kepada sesama muslim pada umumnya nasihat untuk beribadah keapa Allah, memerintahkan yang ma’ruf, melarang perbuatan munkar.

Meberikan nasihat bisa menjadi suatu kewajiban bagi kita apabila kita melihat saudara kita melakukan suatu hal yang berakibat buruk padanya atau mendatangkan dosa atasnya. Sebagai sesama muslim ini  merupakan sebuah kewajiban yang harus kita lakukan, walaupun saudara kita itu tidak meminta untuk dinasehati. Akan berbeda halnya jika kita melihat saudara kita melakukan sesuatu yang tidak akan mendatangkan dosa akan tetapi mendapatkan manfaat yang lebih besar, amak kita tidak memiliki kewajiban untuk menasehatinya, terkecuali dia memintanya.

Keempat, Mendoakan ketika bersin. Mendoakan seorang muslim ketika bersin wajib hukumnya dan wajib pula bagi yang bersin menjawab do’a tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda jika salah seorang dari kalian bersin, hendaknya ia mengucapkan الحمدلله (Segala puji bagi Allah), sedangkan yang mendengarnya mengucapkan يرحمك الله (Semoga Allah merahmatimu), lalu membalas dengan ucapan  يهديكم الله و يصلح بالكم ( Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki urusanmu). (HR Bukhari). Apabila sudah mendoakan tiga kali, sedangkan orang tersebut masih bersin maka yang keempat ucapkanlah  عافاك الله(Semoga Allah mengampuni mu) sebagai pengganti dari ucapan يرحمك الله..

Kelima, Apabila dia sakit, jenguklah dia. Imam Al-Bukhari pun menegaskan tentang kewajiban hal ini, namun wajib kifayah. Sementara mayoritas ulama berpendapat menjenguk saudaranya yang sakit adalah sunnah, bahkan imam Nawawi menegaskan bahwa ijma’ ulama menghukumi sunnah. Menjenguk saudaranya ketika sakit merupakan suatu bentuk empati yang sangat tinggi, betapa sesama muslim saling membantu dan menguatkan satu dengan lainnya baik di saat senang maupun susah.

Keenam, Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman). Nabi memberikan keteladanan kepada kita semua bahwa berempati dengan sesama muslim tidak hanya dalam keadaan hidup saja, melainkan dalam keadaan meninggal dunia seorang muslim juga harus berempati dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Demikian enam hak antar sesama muslim yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila kita renungkan lebih dalam dan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, betapa indah dan harmonisnya persaudaraan dengan sesame muslim.

Akhirnya, semoga kita semua dimudahkan mengamalkan tuntunan tersebut tersebut…Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA: AL QUR’AN SEBAGAI MU’JIZAT (18)

PUASA: AL QUR’AN SEBAGAI MU’JIZAT (18)

Sebagaimana malam sebelumnya, maka Sdr. Khabirul Amru yang berlaku sebagai penceramah agama pada Mushallah Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Pada kali ini tema ceramahnya ialah mengeni “Al Qur’an sebagai Mu’jizat Nabi Muhammad saw”.

Setiap Nabi yang diutus oleh Allah swt selalu dibarengi dengan pemberian mu’jizat yang sesuai dengan zamannya. Misalnya Nabi Musa As., diberi mu’jizat berupa tongkat yang tongkatnya bisa berubah menjadi ular atau bisa membelah lautan menjadi dua bagian. Nabi Isa bisa berbicara di waktu baru lahir, bisa menghidupkan burung yang sudah mati dan sebagainya,

Nabi Muhammad saw diberikan oleh Allah berupa Al Qur’an sebagai mu’jizat. Para ulama bersepakat bahwa ayat pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw ialah ayat 1 sampai 5 Surat Al Alaq. Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw saat Beliau sedang berada di Gua Hira’ tempat yang selalu dijadikannya sebagai tempat untuk berdoa dan bermunajah kepada Tuhan Allah. Nabi Muhammad memang sering datang ke Gua Hira’ sebagai tempat yang untuk bermunajat dalam waktu yang bervariasi. Terkadang sehari semalam, tiga hari tiga malam dan bahkan juga berminggu-minggu. Di saat seperti itu, biasanya Khadijah –isteri Beliau—mengirimkan makanan kepadanya. Di taruh makanan itu di dekatnya dan kemudian ditinggal kembali pulang.

Pada suatu malam, di saat Nabi Muhammad sedang bermunajat kepada Allah, tiba-tiba datang Malaikat Jibril –tidak diceritakan wujud Malaikat Jibril tersebut—dan meminta Nabi Muhammad untuk menirukan ucapannya. Malaikat Jibril berkata: “Iqra”, maka Nabi menjawab: “ma ana biqari’in”. maka Malaikat Jibril mengucapkannya lagi dan Nabi Muhammad menirukannya sampai tuntas ayat ke lima dari Surat Al Alaq.

Setelah selesai bertemu dengan Malaikat Jibril, Nabi Muhammad saw kemudian pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, kemudian bertemu dengan isterinya –Khadijah—dalam keadaan menggigil kedinginan. Oleh isterinya kemudian diselimuti. Lalu datang lagi Malaikat Jibril dan menyatakan: “Ya ayyuhal mudatstsir, Qum fa andzir wa rabbaka fa kabbir”. Yang artinya: “Wahai orang yang berselimut, bangunlah lalu beri peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu”. Oleh Khadijah kemudian diajaklah Nabi Muhammad bertemu dengan Pendeta Kristen yang bernama Waraqah binti Naufal, sepupu Khadijah. Lalu Muhammad saw bercerita tentang apa yang dialaminya. Waraqah memperhatikan fisik dan perawakan Nabi Muhammad saw dan kemudian menyatakan bahwa kelak Muhammad akan menjadi seorang utusan Allah sebagaimana diwartakan di dalam Kitab yang dipelajarinya”.

Semenjak menerima wahyu, maka Muhammad saw sudah menjadi utusan Allah, yang kemudian mengajak umat untuk mengimani keberadaan Allah swt dan mengamalkan ajaran agamanya. Banyak suka dan duka yang dialami, sampai kemudian Beliau berhijrah di Madinah untuk menanamkan aqidah dan pengamalan Islam, dalam kurun waktu 23 tahun semenjak menerima wahyu pertama di Gua Hira’.

Kitab al Qur’an adalah kitab suci umat Islam dan merupakan pedoman yang berasal dari wahyu Allah swt. Al Qur’an merupakan mu’jizat terbesar Nabi Muhammad saw. Al Qur’an sebagai mu’jizat memiliki kekuatan dalam segi kebahasaannya. Al Qur’an itu membuat bingung ahli-ahli syair di Arab. Al Qur’an itu bukan prosa dan juga bukan syair. Al Qur’an memiliki langgam bahasa yang khas dan tidak bisa ditandingi oleh akal manusia.

Pada zaman Arab Jahiliyah, di Mekah selalu diselenggarakan semacam festival membuat syair dan yang menang syairnya ditempelkan di dinding Ka’bah sebagai penghargaan. Orang Arab kala itu sudah sangat ahli dalam menyusun syair dengan kualitas sangat tinggi. Salah satunya ialah Musailamah al Kadzdzab. Misalnya: Ya dzifda’ata binti abdifta’aini nakiya lakum tankina lal ma’a takdirin wala syariba ta’ nain ro’suka fil ma wadzambuka fiddin. Terjemah ialah: “wahai katak betina, anak dari dua pasang katak bersihlah apa yang kamu bersihkan air, tidak kamu kotori dan peminum tidak kamu halangi, kepalamu di dalam air sedangkan ekormu di darat. Musailamah juga berkata: “wal fiil wama adrokamal fil lahu zhulumu thowil,” artinya: “dan gajah, tahu kah kamu apa itu gajah ia memiliki perawakan yang panjang.”

Karya Musailamah al Kadzdzab ini dimaksudkan untuk menandingi Surat Al Fil yang merupakan wahyu Allah. Tetapi sayangnya sebagaimana para ahli bahasa Arab dan sastra Arab justru menyatakan bahwa karya Musailamah ini sama sekali jauh dari kualitas kebahasaan yang ada di dalam ayat al Fil.

Sebagaimana dia telah melakukan penipuan menganggap dirinya Nabi tersebut maka Musailamah digelari dengan sebutan “tukang pembohong”. Dan memang nyata bahwa tidak ada kekuatan manusia untuk menandingi kehebatan kebahasaan Al Qur’an yang bukan karya manusia tetapi firman Allah swt.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA; IMAN SEBAGAI FONDASI ISLAM (19)

PUASA; IMAN SEBAGAI FONDASI ISLAM (19)

Pada malam 19 Bulan Ramadlan, Alhamdulillah yang hadir sebagai penceramah tarawih ialah Dr. Abdul Halim, Drs., MAg., Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi pada UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau tidak hanya seorang birokrat kampus tetapi juga telah malang melintang dalam dunia dakwah dalam waktu yang cukup panjang.

Beliau menyampaikan tema yang sangat relevan dengan tradisi menjalankan puasa di kalangan umat Islam, yaitu bagaimana kita semua harus menjadikan Iman sebagai landasan di dalam pelaksanaan ibadah kita kepada Allah swt. Tanpa iman yang benar maka ibadah kita akan menjadi sia-sia dan tidak ada maknanya. Pak Halim –demikian saya biasa memanggilnya—menyampaikan awal surat Al Baqarah, yang bunyinya ialah: Alif Lam Mim, dzalikal kitabu la raiba fihi hudan lil muttaqin. Allladzina yu’minuna bil ghaibi wa yuqimunas shalata wa mimma razaqnahum yunfiqun. Walladzina yu’mina bima unzila ilaika wa ma unzila min qablika wabil akhiratihum yuqinun”. Artinya: “Alif Lam Mim, inilah kitab (Al Qur’an) yang tidak diragukan kebenarannya, yang di dalamnya menjadi petunjuk bagi orang mu’min. ialah orang-orang yang beriman kepada yang ghaib dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizkinya. Dan orang-orang yang mempercayai apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan apa yang diturunkan sebelum kamu (Muhammad) dan kepada kehidupan akherat mereka mempercayainya”.

Ayat ini menjelaskan bahwa ada beberapa indicator tentang keimanan dan keislaman seseorang. Iman itu terkait dengan hal-hal yang gaib dan kita harus mempercayainya. Misalnya iman kepada Allah, maka wajib hukumnya kita beriman kepada-Nya tetapi tidak boleh kita berpikir tentang bagaimana wujud atau dzat Tuhan itu. Allah itu Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada sekutu baginya. Dan kita wajib meyakini keberadaannya. Lalu, kita wajib percaya kepada Malaikat. Makhluk yang gaib juga. Manusia tidak bisa mengetahui bagaimana bentuknya. Malaikat ini memiliki tugas-tugas yeng berbeda-beda sesuai dengan penugasan Allah. Malaikat itu tidak lelaki dan tidak perempuan, tetapi bukan banci. Tidak berupa fisik, tetapi wujud. Dan umat Islam wajib mempercayainya. Kemudian mempercayai kitab suci. Kitab suci yang kita ketahui sekarang itu mushaf al Qur’an. Kitab suci yang sudah ditulis berdasarkan wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw dengan berbagai cara. Ada yang lewat Malaikat Jibril dan ada yang langsung kepada Nabi Muhammad saw. Kitab Qur’an yang asli itu berada di Lauhul Mahfudz dan kemudian diturunkan ke langit dunia dan baru kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Jadi Qur’an yang azali itu sesuatu yang gaib juga. Lalu percaya kepada Nabi-Nabi Allah. Inilah orang-orang terpilih yang dijadikan sebagai utusan Allah. Mereka adalah orang yang ma’shum atau tidak berdosa. Hanya iman kepada Rasul yang berupa fisikal sebab semua rasul ialah manusia yang terpilih. Kemudian iman kepada Hari akhir atau qiyamat, hal ini juga kegaiban. Qiyamat itu pasti datang tetapi tidak ada satupun yang tahu kapan datangnya. Dan yang terakhir ialah iman kepada takdir Tuhan. Kita juga tidak tahu takdir Tuhan kecuali segala sesuatunya sudah selesai. Kita baru tahu “ini adalah takdir Tuhan”. Jadi iman itu “tasdiqu bil qalbi, wa tashdiqu bil lisan, wa tashdiqu bil af’al”. Sebagai contoh di dalam diri manusia itu terdapat ruh atau nyawa. Tetapi adakah kita yang tahu mengenai ruh itu. Tentu saja tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan ketika Rasulullah ditanya tentang Ruh, maka dinyatakannya bahwa ruh adalah urusan Tuhan. “Qul: al ruh min amri Rabbi”.

Baru setelah percaya dengan sungguh-sungguh, kita melakukan ibadah kepada Allah dan seluruh ibadah itu bercorak fisikal. Syahadat itu perbuatan fisik, dibaca dan disaksikan. “Kalau kita menikah. Kita baca syahadat dulu”. Shalat juga ibadah fisik, diketahui orang lain. Kita shalat jamaah tentu diketahui orang lain. Demikian pula zakat juga fisikal. Ada pemberi zakat dan ada penerima zakat. Jadi ibadah itu bercorak fisikal. Puasa juga ada dimensi fisikalnya. Orang harus menahan lapar dan dahaga. Dan haji juga ibadah fisikal sebab ada tawaf, sa’i, melempar jumrah dan sebagainya.

Ada cerita di dalam Al Qur’an, ketika ada seorang Suku Badui, yang menyatakan telah beriman kepada Allah, maka Rasulullah diperintahkan untuk membenarkan imannya kepada Allah tersebut. Cerita itu termaktub di dalam Surat Al Hujurat ayat 14, yang bunyinya ialah “Qalatil A’rabu amanna. Qul lam tu’minu walakin qulu aslamna wa lamma yadkhulil imanu fi qulubikum”. Yang artinya: “orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah; “kamu belum beriman, tapi katakanlah Kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu…”.

Ayat ini memberikan gambaran bahwa untuk bisa beribadah dengan benar harus beriman dengan benar. Jika seseorang telah menyatakan tunduk (berislam) tetapi hatinya belum mengindikasikan akan kepatuhannya tersebut, maka dipastikan bahwa yang bersangkutan belum memiliki iman yang sempurna.

Oleh karena itu, iman yang sempurna itu bisa dilihat dari kesungguhan untuk mengamalkan ajaran agamanya. Dan hanya amalan agama yang didasari oleh keyakinan terhadap iman yang bercorak kegaiban tersebut akan menjadi penanda pengamalan agama yang benar.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA; AL QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK KEHIDUPAN (17)

PUASA; AL QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK KEHIDUPAN (17)

Sebagaimana biasa terjadi, Khabirul Amru, yang menjadi imam mushalla Al Ihsan juga sekaligus memberi ceramah agama. Hari itu memang saya tidak menyediakan penceramah khusus, sehingga saya menunjuk sdr. Khabir untuk menjadi penceramah agama.

Beliau memulai ceramahnya terkait dengan malam 17 Ramadlan yang dikaitkan dengan Hari Turunnya Kitab Suci Al Qur’an. Atau malam Nuzulul Qur’an. Ada beberapa varian pandangan mengenai kapan turunnya al Aqur’an. Sebagaimana diketahui bahwa Al Qur’an yang azali berada di Lauhil Mahfudz dan kemudian pada masa kenabian Nabi Muhammad SAW diturunkan Al Qur’an tersebut pada langit dunia (Baitul Izzah). Dan dari sini kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad saw secara bertahap atau gradual. Al Qur’an diturunkan dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah (rumah kemuliaan) dan dari sini kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril atau secara langsung.

Pendapat pertama, menyatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada tanggal 17 Ramadlan. Malam ini oleh para ulama dan juga masyarakat diperingati sebagai malam turunnya al Qur’an atau Nuzulul Qur’an. Bahkan di Indonesia diperingati di Istana Negara. Pendapat ini sesuai dengan bunyi Surat Ad Dukhan, ayat 3, yang berbunyi: “inna alzalnahu fi lailatin mubarakatin inna kunna mundzirin.” Yang Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami yang memberi peringatan”. Dan malam yang diberkahi tersebut ialah malam di mana Al Qur’an diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw.

Kemudian kedua, ada pandangan yang menyatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadr. Yaitu suatu malam di mana Allah swt menurunkan malam kemuliaan yang dikenal sebagai malam lailatul Qadr tersebut. Pada malam itu Allah menurunkan kebaikan dan kemuliaan, bahwa jika seseorang beribadah kepada Allah atau melakukan kebaikan lainnya maka akan dikarunia pahala sebagaimana orang beribadah atau melakukan kebaikan selama seribu bulan. Al Qur’an menjelaskan di dalam Surat Al Qadr ayat 1 yang berbunyi: “inna anzalnahu fi Lailatul Qadr”. Yang berarti: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al Qur’an) pada malam Kemuliaan (lailatul Qadr)”.

Dari dua pendapat ini, lalu ada yang juga memahami bahwa yang diturunkan oleh Allah pada tanggal 17 Ramadlan ialah ayat 1-5 pada surat al Alaq, yang berbunyi: Iqra’ bismi Rabbikal ladzi khalaq. Khalaqal insana min ‘alaq. Iqra’ wa rabbuka akramul ladzi ‘allama bil qalam. ‘allamal insana malam ya’lam”. Yang artinya: “Bacalah. Dengan menyebut Nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Para ulama bersepakat bahwa turunnya Al Qur’an ialah pada bulan Ramadlan, sesuai dengan bunyi teks Al Qur’an pada Surat Al Baqarah, ayat 185, yang menyatakan: “Syahru Ramadlanal ladzi unzila fihil Qur’an. Hudan linnasi wa bayyinatin minal huda wal furqan”. Yang artinya ialah: “Bulan Ramadlan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia, serta penjelasan mengenai petunjuk itu dan sekaligus sebagai pembeda (antara yang haq dan yang bathil)”.

Oleh karena itu, apapun menurut pendapat para ahli sejarah bahwa Allah telah menurunkan kitab suci Al Qur’an kepada manusia sebagai petunjuk atas kebenaran yang perlu dilakukan oleh manusia. Al Qur’an tidak hanya berisi tentang petunjuk tetapi juga penjelasan mengenai petunjuk dan sekaligus juga untuk membedakan antara yang benar dan salah atau yang haq dan yang bathil.

Petunjuk telah diberikan dan manusia memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah sesuai dengan petunjuk Al Qur’an. Tetapi di atas segalanya, maka petunjuk Allah tentu juga menjadi factor penting di dalam keislaman dan keimanan seseorang.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Puasa: Memperbanyak Shalawat di Bulan Penuh Rahmat (14)

PUASA; MEMPERBANYAK SHALAWAT DI BULAN PENUH RAHMAT

Oleh: Khobirul Amru

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, pada malam ke 14 ini, kita masih diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk melaksanakan ibadah, sholat isya’ dan insha Allah tarawih dan witir secara berjamaah. Pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan kultum dengan tema, “Memperbanyak Shalawat di Bulan yang Penuh Rahmat.” Namun sebelumnya, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi, khususnya terkait nama “Nabi Muhammad” SAW.

Pertama, berkenaan dengan asal-mula diberinya nama Rasul terakhir ini dengan sebutan “Muhammad”, Syaikh Ibrahim al-Bajuri menjelaskan dalam kitabnya, Tuhfatul Murid Sharh Jauharatut Tauhid. Bahwa tatkala Ibu Aminah mengandung Rasulullah SAW, beliau bermimpi bertemu dengan seseorang yang berkata kepada beliau, “Jika engkau melahirkannya, maka namailah ia dengan panggilan Muhammad.” Tatkala ‘Abdul Muthallib diberi tahu tentang hal itu, maka—pada saat Rasulullah SAW lahir—dinamailah beliau dengan panggilan Muhammad, dengan harapan kelak dipuji oleh penduduk langit dan bumi. (Allah SWT pun mewujudkan harapannya itu) Namun pada hakikatnya, yang menamai Rasulullah SWT tersebut adalah Allah SWT sendiri, karena Dia telah menampakkan nama itu sebelum kelahiran beliau, di dalam kitab-kitab (samawi).

Kedua, bahwa di dalam al-Quran, tidak didapatkan —setidaknya menurut pengamatan kami pribadi— panggilan langsung kepada Rasulullah SAW dengan sebutan “Muhammad”. Memang ada nama Muhammad atau Ahmad di dalam al-Quran, tetapi ayat-ayat yang mengandung kedua nama itu, bukan dalam konteks “panggilan langsung/nida’”, melainkan dalam bentuk “berita”. Seperti firman Allah dalam surah Ali ‘Imran [3]: 144 dan al-Saff []: berikut ini:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡ‍ٔٗاۗ وَسَيَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ ١٤٤

Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.

وَإِذۡ قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُم مُّصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَمُبَشِّرَۢا بِرَسُولٖ يَأۡتِي مِنۢ بَعۡدِي ٱسۡمُهُۥٓ أَحۡمَدُۖ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ قَالُواْ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ٦

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Isra’il! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

Lantas bagaimana al-Quran “menyapa” Rasulullah SAW? Berdasarkan hasil penelitian, setidaknya ada 4 sebutan yang digunakan oleh al-Quran ketika hendak menyeru beliau dengan redaksi langsung. Yakni al-Rasul, al-Nabi, al-Muzammil dan al-Muddatstsir. Sebagaimana ayat-ayat berikut ini:

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغۡ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ

Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan Pemeliharamu.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita orang-orang mukmin supaya mereka mengulurkan atas diri mereka jilbab mereka.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ ١

Wahai (Nabi Muhammad SAW) yang berselimut!

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١

Wahai (Nabi Muhammad SAW) yang berselimut!

Selanjutnya, mengenai keistimewaan/keajaiban shalawat, ada satu kisah menarik yang patut dipahami dan diteladani. Alkisah, ada seorang lelaki yang terlilit hutang hingga mencapai 500 dinar. Kemudian, tatkala orang-orang menagih hutangnya, ia terpaksa menemui seorang pedagang dengan maksud meminjam uang 500 dinar untuk melunasi hutang-hutangnya. Setelah perjanjian disepakati, ia pun segera melunasi hutang-hutangnya dengan uang pinjaman itu.

Hari-hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan, hingga tibalah tempo pelunasan uang pinjaman. Si pedagang pun segera menemui lelaki miskin tersebut dan menagih hutangnya. Ternyata, ia masih belum mampu melunasinya. Merasa dibohongi, si pedagang pun mengadukan perkaranya ke al-Qadhi (Hakim). Singkat cerita, al-Qadhi menjatuhi hukuman penjara bagi si miskin, hingga ia bisa melunasi hutangnya.

“Duhai Hakim, berilah kesempatan kepadaku untuk menemui istri dan anak-anakku agar mereka tau keadaanku, tidak mengkhawatirkanku. Besok, saya akan kesini lagi!”, pinta si miskin kepada sang hakim.

“Apa jaminan yang engkau berikan, bahwa besok kamu akan kembali kesini?!”, tanya hakim.

“Jaminanku adalah Rasulullah SAW. Jika besok aku tak kembali ke sini, maka saksikanlah di dunia dan di akhirat bahwa aku bukan lagi termasuk umatnya Rasulullah SAW!,” jawab si miskin dengan tegas dan penuh pengharapan.

Berhubung sang hakim tergolong muslim yang saleh, ia pun menerima jaminan tersebut dan mempersilahkan si miskin menemui keluarganya. Sesampai di rumah, lelaki miskin itu menceritakan kepada istrinya perihal kejadian yang dialaminya. “Disebabkan Rasulullah SAW lah engkau diperbolehkan kembali ke rumah. Untuk itu, mari kita membaca sholawat sersama-sama. Semoga Allah SWT memberikan jalan keluar dengan barokah beliau (sholawat),” ucap si istri kepada suaminya.

Mereka pun duduk dan membaca sholawat kepada Rasulullah SAW bersama-sama, hingga mereka tertidur. Masya Allaaah…., di dalam tidurnya, lelaki miskin itu bertemu dengan Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda kepadanya, “Besok pagi, pergilah ke al-wali (pemimpin/raja) itu, sampaikanlah salam dariku kepadanya, dan katakan kepadanya, ‘Rasulullah SAW meminta/menuntutmu untuk melunasi hutangku.’ Jika ia bertanya tentang tanda-tanda kebenaran ucapanmu, maka katakanlah kepadanya bahwa ada dua tanda/bukti. Pertama bahwa pemimpin/raja itu mempunyai kebiasaan bersholawat kepadaku 1000 kali setiap malam yang tidak pernah ia tinggalkan. Kedua, bahwa pada malam ini ia salah dalam hitungannya (tidak mencapai 1000 kali). “

Ketika terbangun dari tidurnya, lelaki miskin itu pun segera menemui pemimpin tersebut. Si miskin berkata, “Rasulullah SAW menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhmu untuk melunasi hutangku.”

“Berapa hutangmu?”, tanya sang raja.

“500 dinar.”

“Apa bukti kebenaran ucapanmu ini?”

“Ada dua bukti. Pertama, bahwa engkau mempunyai kebiasaan membaca sholawat kepada Rasulullah SAW 1000 kali tiap malam.”

“Engkau benar,” sang raja pun menangis.

“Kedua…,” lelaki miskin itu melanjutkan penjelasannya, “Bahwa tadi malam engkau salah dalam hitunganmu (belum sampai 1000 kali), dan Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepadamu bahwa hitungan itu telah mencapai sempurna.”

“Engkau benar….”, jawab sang raja sambal menangis tersedu-sedu. Maka sang raja segera memberinya uang 500 dinar dari Baitul Mal, dan menambahkannya 2500 dinar dari uang pribadinya sambal berkata, “Ini sebagai bentuk penghormatanku kepadamu, dan atas salam dari Rasulullah SAW yang engkau sampai kepadaku.”

Lelaki miskin itu pun dengan gembira segera menemui sang hakim. Ketika masuk ke pengadilan, ternyata sang hakim sedang menunggunya dan di tangannya terdapat bungkusan yang berisi uang. Ia berkata kepada lelaki miskin itu, “Saya akan melunasi hutangmu, ini 500 dinar untukmu. Karena tadi malam aku bertemu dengan Rasulullah SAW lantaran kamu. Beliau bersabda kepadaku, ‘Bayarlah hutangnya lelaki itu, niscaya di hari kiamat kelak kami akan melunasimu.’”

Tiba-tiba, si pedagang masuk, dan berkata kepada sang hakim, “Duhai Tuanku, sesungguhnya aku telah memaafkannya, dan ini ada 500 dinar sebagai hadiah dariku untuknya, karena sungguh aku telah bertemu dengan Rasulullah SAW disebabkan olehnya.  Beliau bersabda kepadaku, “Jika engkau memaafkannya, niscaya kelak kami akan memaafkanmu di Hari Kiamat.”

Nah, cerita di atas kiranya cukup menjadi pelajaran buat kita semua bahwa betapa dahsyat kemuliaan dan keajaiban sholawat kepada Rasulullah SAW. Semoga di bulan Ramadhan yang penuh rahmat ini, kita bisa memperbanyak membaca sholawat kepada beliau SAW. Aaamiin.