• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MUNGKINKAH MENYAMAKAN METODOLOGI PENENTUAN HILAL (1)

MUNGKINKAH MENYAMAKAN METODOLOGI PENENTUAN HILAL (1)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam literatur studi Islam khususnya Ilmu Falaq atau dikenal juga sebagai ilmu astronomi, maka dikenal dua metode untuk menentukan awal bulan, khususnya tiga bulan, yaitu awal Ramadlan, awal Syawal dan awal Dzulhijjah. Ketiganya itu memiliki kaitan dengan ibadah wajib di dalam ajaran Islam, yaitu melakukan puasa bulan Ramadlan, melakukan hari raya idul fitri dan melakukan ibadah haji. Makanya, perdebatan tentang penentuan awal bulan, khususnya tiga bulan itu nampak dinamis.

Di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, saya selalu mendapatkan jatah awal dalam memberikan ceramah agama, yang sering dikonsepsikan sebagai Kuliah Tujuh Menit (Kultum) dengan materi diserahkan sepenuhnya kepada para penceramahnya. Maka tugas saya di awal Ramadlan tentu terkait dengan upaya menjelaskan tentang perbedaan di dalam mengawali puasa Ramadlan, memulai awal Syawal dan mengawali bulan Dzulhijjah. Di dalam tradisi Jawa disebut sebagai Wulan Poso, Wulan Syawal dan Wulan Besar.  Di dalam ceramah ini, saya jelaskan tiga hal, yaitu:

Pertama, hari ini kita memulai melakukan shalat tarawih dan shalat witir yang menandai bahwa besuk kita akan melaksanakan puasa Ramadlan. Menurut  versi pemerintah dan NU, puasa  akan dimulai pada hari Kamis, tanggal 19/02/2026,  sesuai dengan penggunaan metode rukyatul hilal atau menyaksikan hilal dengan mata, memakai teknologi penginderaan jarak jauh, bahwa hilal belum atau sudah bisa dilihat atau dirukyat. Sementara itu, Muhammadiyah dengan menggunakan metode hisab sudah menentukan awal puasa pada hari Rabo, 18/02/2026. Jadi malam ini ada jamaah yang tadi siang sudah berpuasa dan ada jamaah shalat yang baru akan memulai puasa besuk pagi.

Kita bersyukur kepada Allah karena kita bisa dipertemukan dengan Ramadlan tahun 1447 H. itu artinya bahwa kita diperkenankan untuk beribadah puasa. Doa kita semenjak bulan Rajab hingga menjelang puasa adalah: “Allahumma bariklana fi rajab wa sya’ban wa ballighna ramadlan”. Yang artinya: “Ya Allah berkahi kami pada bulam rajab dan sya’ban dan temukan  usia kami pada bulan ramadlan”. Seluruh  masjid di Indonesia dan bahkan di dunia melantunkan doa ini. Sebuah doa yang sangat penting agar kita bertemu dengan bulan Ramadlan yang penuh dengan rahmat dan maghfirah Allah SWT.

Kedua, puasa kita tahun ini tetap menarik, sebab ada dualisme dalam melaksanakan awal puasa. Muhammadiyah dengan metodologi Hisab, yang berfokus pada konsep wujudul hilal, maka berapapun kecilnya atau minusnya hilal, selama sudah wujud berbasis pada perhitungan astronomi atau ilmu falaq, maka berarti hilal sudah wujud dan sebagai konsekuensinya, maka sudah berganti bulan. Maka ditetapkan awal puasa atau tanggal 1 Ramadlan 1447 H jatuh pada hari Rabo, tanggal 18 Pebruari 2026. Sementara NU dan pemerintah menetapkan awal puasa pada hari Kamis, 19 Pebruari 2026,  berdasarkan atas 99 tempat untuk memantau  hilal di seluruh Indonesia, melalui teknologi canggih,  tidak berhasil merukyat hilal.

Saya mencoba untuk menyimpulkan bahwa selama terdapat metode yang berbeda dalam menentukan kapan hilal sudah eksis, maka peluang berbeda itu sungguh nyata. NU berpedoman pada Sabda Nabi Muhammad SAW bahwa berpuasalah dengan melihat hilal dan berhentilah pada saat melihat hilal, maka ketentuan untuk memulai puasa dan menghentikannya adalah berbasis pada observasi atas kehadiran hilal yang dapat dilihat dengan mata kepala. Dan memang hadits Nabi Muhammad SAW menyatakannya seperti itu. Itulah sebabnya pemerintah dan NU mengharuskan untuk mengobservasi hilal dalam kerangka menjaga kepastian awal bulan sudah datang atau belum.  NU juga menggunakan hisab sebagai salah satu piranti untuk menentukan awal bulan, akan tetapi hanya sebagai basis teoretiknya, sedangkan praksisnya harus berbasis pada pengamatan ketinggian hilal di atas ufuq.

Di sisi lain, karena pengembangan ilmu astronomi atau ilmu falaq, yang semakin tinggi akurasinya berbasis pada perhitungan yang teliti dan meyakinkan, maka kapan awal bulan, seperti awal puasa, awal Syawal dan awal Dzulhijjah akan dapat diprediksi dengan tepat. Berdasarkan atas pandangan tersebut maka dapat diyakini kapan awal bulan tersebut sudah terjadi. Muhammadiyah menggunakan konsep wujudul hilal atau wujud bulan sabit. Selama sudah ada wujudnya berapapun derajadnya minus atau plus, maka berarti awal bulan sudah dimulai. Jadi tidak perlu harus di atas ufuq kala matahari tenggelam. Di bawah ufuq pun bisa menjadi awal bulan. Seperti tahun ini, 17/02/2026, di kala matahari terbenam, maka hilal jauh di bawah ufuq di seluruh Indonesia dengan angka -2,41 derajad. Meskipun minus, akan tetapi hilal sudah wujud, maka memenuhi syarat untuk menetapkan bulan sudah berganti dan puasa bisa dimulai. Jadi tidak memerlukan rukyat. Selesai sudah.

Ketiga, otoritas menentukan awal bulan. Jika  tidak karena kebaikan hilal yang muncul di atas ufuk dengan ketinggian yang memungkinkan di rukyat, elongasi  berada di atas ufuk dan jarak hilal dengan matahari yang berpeluang untuk dirukyat, maka dipastikan perbedaan di dalam menentukan kapan awal puasa akan terjadi. Inilah yang memunculkan konsep imkanur rukyat atau hilal potensial dilihat. Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) membuat persyaratan imkanur rukyat adalah 2 derajat dan kemudian direvisi menjadi 3 derajad. Hilal akan dapat dioberservasi hanya dengan panduan tersebut. Selama di bawah angka tersebut, maka digenapkan menjadi 30 hari untuk lama puasa.

Ada dunia tafsir di dalam ajaran agama, sehingga semua metode dan pemikiran adalah kawasan tafsir. Wujudul hilal dan imkanur rakyat adalah dunia tafsir pada ahli ilmu falaq. Oleh karena itu kita tentu tidak bisa “bertengkar” tentang tafsir.  Dunia penafsiran tentu memungkinkan terjadinya perbedaan. Di negara lain, penetapan awal bulan ditentukan oleh negara, seperti di Malaysia, Brunei, Singapura, Arab Saudi, Mesir, Australia dan bahkan Perancis. Jadi bagaimana ketentuan pemerintah, maka itulah yang dijadikan pedoman oleh masyarakatnya.

Indonesia sungguh kasus khusus. Untuk menentukan awal Ramadlan, awal Syawal dan awal Dzulhijjah, maka organisasi keagamaanpun dibolehkan. Pemerintah tidak melarang atas keputusan-keputusan tersebut. Yang penting adalah menjaga silaturrahmi tetap jalan dengan saling menghargai dan menoleransi. Itu saja sudah cukup. Dan bertahun-tahun masyarakat Indonesia bisa melakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

DI MANA ADA KEBAIKAN DI SITU ALLAH HADIR

DI MANA ADA KEBAIKAN DI SITU ALLAH HADIR

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Senin ini, 16/02/2026, saya tidak menghadiri acara tahsinan Alqur’an di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, sebab saya berada di rumah Tuban, di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban. Tetapi sebagai gantinya, saya memberikan asupan jiwa dan rohani pada jamaah Shalat Shubuh di Mushalla Raudhatul Jannah di desa saya. jamaahnya para ibu dan bapak yang kebanyakan usianya sudah di atas angka 40 tahun.

Bukan ketepatan tentu saja, sebab tidak ada yang ketepatan. Ini bagian dari ketentuan Tuhan bahwa menjelang Bulan Puasa, saya bisa bersama kawan-kawan saya di masa kecil di Mushalla Raudhatul Jannah di depan rumah. Sebuah kebahagiaan saya bisa membersamai mereka menjelang pelaksanaan puasa tahun 1407 H, tahun ini. Saya memberikan ceramah dengan tema kehadiran Allah dalam perbuatan kebaikan. Ada dua  hal yang saya sampaikan:

Pertama, sebelum puasa sebaiknya kita saling memaafkan. Allah sangat menyukai orang yang saling memaafkan. Orang yang meminta maaf dan memberikan maaf adalah manusia yang ideal. Manusia yang menyadari bahwa manusia adalah tempat kesalahan dan kealpaan. Kita bukan manusia yang tidak memiliki kesalahan kepada orang lain, besar atau kecil. Disengaja atau tidak disengaja. Itulah sebabnya Allah memberikan ruang untuk saling memaafkan. Jangan pernah ragu untuk meminta maaf dan memberi maaf.

Coba perhatikan ajaran Islam ini, agama kita  mengajarkan bahwa “fa man ‘afa fa  aslaha fa ajrahu ‘indallah”, yang artinya: “maka siapa saja yang meminta maaf dan memberi maaf lalu berbuat ishlah atau berdamai, maka pahalanya di sisi Allah”. Ini sebuah gambaran bahwa Allah itu hadir atas hambanya yang saling memaafkan. Kehadiran Allah adalah dengan pahala yang diberikan kepada orang yang saling memaafkan. Memberi maaf dan meminta maaf dan perbuatan yang membawa kepada kedamaian adalah wujud dari perbuatan baik. jika kita melakukan kebaikan, maka di situ Allah dengan kekuasaannya akan dapat menurunkan rahman dan rahimnya agar manusia saling berbuat kebaikan.

Ada banyak sekali kebaikan yang bisa dihadirkan dalam berhubungan dengan sesama manusia. Misalnya memberi makan kepada orang fakir dan miskin atau memberi makan kepada para musafir dan pencari ilmu, maka itu adalah kebaikan. Di kala kita menolong orang yang berkesusahan, misalnya sedang menghadapi masalah di dalam kehidupannya, maka hal itu adalah kebaikan. Jika kita membuang paku atau duri di jalan yang bisa membuat orang celaka, maka hal itu adalah kebaikan. Semua hal yang bisa menyebabkan orang lain selamat, maka hal itu adalah kebaikan. Bahkan kita dapat  membuat orang lain tersenyum atau tertawa, maka itu adalah kebaikan. Di mana ada kebaikan di situ Allah akan hadir.

Islam adalah agama yang mengedepankan keselamatan. Sebarkan keselamatan atau afsyus salam. Ini perintah Nabi Muhammad SAW. Dan jika kita melakukannya, maka kita mendapatkan pahala dari Allah SWT. Ekspresi salam tersebut, misalnya juga dapat dilihat dari kesukaan kita untuk bersalaman. Saling melakukan kebaikan. Jadi, orang yang suka bersalaman dipastikan menjadi orang yang suka keselamatan.

Di kalangan kita, setelah shalat lalu bersalaman. Jangan dilihat dari ada atau tidak perilaku bersalaman setelah shalat oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi mari kita lihat maknanya. Agar tidak jatuh kepada sikap boleh atau tidak boleh. Bersalaman adalah tanda kita saling berada di dalam kesamaan. Tidak ada yang merasa benar atau salah. Kita merasa di dalam nuansa ingin kebaikan. Ada kata hati yang tidak terungkap di dalam kata-kata di kala kita bersalaman. Yaitu kita berada di dalam nuansa saling memaafkan.

Apakah selalu bersalaman bada shalat merupakan kebaikan. Dengan tegas saya nyatakan sebuah kebaikan. Akan tetapi kebaikan tersebut tentu didasarkan pada hati yang tulus dan Ikhlas. Janganlah tangannya bersalaman tetapi hatinya tidak. Bersalamanlah dengan keduanya, perbuatan dan hati. Jika hal ini bisa dilakukan dengan benar, maka hal tersebut adalah kebaikan dan dengan perilaku tersebut dipastikan Allah akan  hadir di dalam diri kita.

Kedua, Kita akan memasuki bulan Ramadlan. Bulan Ramadlan merupakan bulan yang penuh rahmat dan maghfirah Allah SWT.  Untuk memperoleh kerahmatan dan ampunan Tuhan tentu kita dapat melakukannya dengan banyak ibadah kepada Allah. Tetapi jangan lupa ada hal mendasar yang mesti harus dilakukan oleh seseorang, yaitu meminta maaf kepada sesama manusia. Allah akan memberikan ampunan atas kesalahan, kekhilafan dan dosa kepada Allah di dalam konteks hablum minallah. Dan di satu sisi juga ada kekhilafan dan kesalahan kepada sesama manusia dalam kerangka hablum minan nas. Jika keduanya bisa bertemu, maka inilah yang disebut sebagai manusia yang fithri atau manusia suci yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Nanti setelah pulang ke rumah, mari kita lakukan untuk meminta maaf kepada suami atau isteri, bahkan anak-anak dan tetangga. Juga kepada kawan-kawan kita. Tidak harus bertemu sebab sekarang berada di dalam kesibukannya masing-masing. Kita dapat  meminta maaf melalui pesan di media social. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menjaga agar hati kita selalu siap untuk meminta maaf dan memberi maaf. Inilah inti kehidupan yang dipedomani oleh ajaran agama Islam yang kita cintai.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BERDOA PADA BULAN RAJAB DAN SYA’BAN UNTUK KEBERKAHAN

BERDOA PADA BULAN RAJAB DAN SYA’BAN UNTUK KEBERKAHAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jika saya pulang ke Tuban, maka seakan menjadi kewajiban saya untuk memberikan asupan beragama pada jamaah shalat shubuh di Mushalla Raudhatul Jannah  di depan rumah saya. Jamaah shalat Subuh tersebut adalah kawan-kawan saya di masa kecil. Usianya nyaris sama. terpaut dua tahun lebih muda dan ada yang terpaut dua tahun lebih tua dari saya. Jika saya pulang terasa mengenang kembali masa-masa bersama-sama dalam kelompok bermain di masa lalu. Acara tersebut terselenggara, 15/02/2026.

Saya memberikan asupan jiwa tentang betapa senangnya karena kita akan bertemu kembali dengan Bulan Puasa atau Bulan Ramadlan, bulan yang dinantikan oleh umat Islam karena keistimewaannya. Allah SWT memang menjadikan Bulan Ramadlan sebagai bulan Istimewa, yang Allah akan melipatgandakan amal kebaikan yang dilakukan oleh umat Islam. Amalan kebaikan bisa diganjar oleh Allah dengan kelipatan bertubi-tubi, ada yang 10 kali, 100 kali dan sebagainya. Semua amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Berdzikir, shalat, sedekah dan amal kebaikan lainnya akan diberikn pahala berlipat-lipat.

Doa yang kita lantunkan kepada Allah SWT berbunyi: “Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadlan”. Artinya: “Ya Allah berkahi kami pada bulan Rajab, bulan Sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan Ramadlan”. Sebuah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk kita amalkan. Dan insyaallah doa ini sudah kita amalkan. Dan yang membuat kita bersyukur karena insyaallah kita akan dipertemukan dengan bulan Ramadlan. Kita tentu tidak tahu takdir kita, sebab takdir adalah kewenangan Allah, yang kita tidak bisa mengetahuinya. Akan tetapi indikatornya adalah kita semua masih sehat menjelang puasa, yang tinggal menghitung hari. Insyaallah puasa itu tanggal 18 Februari 2026 atau hari Rabo yang akan datang. Kita hari ini masih bisa shalat subuh berjamaah dan kita masih segar bugar sesuai dengan usia kita masing-masing.

Allah masih memberi peluang kepada kita semua untuk bisa bertemu dengan bulan Ramadlan. Artinya kita masih diperkenankan untuk menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain yang diutamakan pada bulan puasa. Inilah kenikmatan yang luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang patuh kepada-Nya. Meskipun kita tidak sampai memasuki Islam secara benar-benar kaffah, akan tetapi hal-hal yang prinsip di dalam Islam sudah kita lakukan, khususnya shalat dan dzikir yang mampu kita lakukan.

Di dalam literatur Islam dinyatakan bahwa berkah adalah bertambahnya kebaikan. Jadi artinya di kala kita berdoa agar diberkahi Allah pada bulan Rajab dan Sya’ban, maka kita berharap agar Allah memberikan tambahan kebaikan kepada kita. Kebaikan dalam hablum minallah dan hablum minan nas. Kebaikan dalam beribadah kepada Allah dalam banyak hal, dan semakin bisa melakukan kebaikan untuk manusia. Kebaikan kepada manusia itu memiliki dua sisi, yaitu baik kepada manusia sekaligus juga mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Semua ibadah kita yang bercorak kemanusiaan dipastikan di dalamnya terdapat kebaikan kepada Allah.  Jadi seperti pedang bermata dua. Satu sisi ketajamannya untuk Allah dan satu sisi ketajamannya untuk manusia. Dengan melakukan kebaikan kepada sesama manusia maka akan mempertajam rasa kehadiran Allah di dalam diri kita dan akan mempertajam rasa kemanusiaan yang berupa kasih sayang kepada sesama hamba Allah.

Pada bulan Rajab dan Sya’ban Allah akan mendatangkan keberkahan kepada umat Islam yang suka beribadah kepadanya. Keberkahan itu didapatkan dari Allah sehingga hidup menjadi tenang, damai, bahagia dan penuh manfaat. Manfaat bagi diri sendiri, keluarga dan umat manusia lainnya. Ketenanagan hidup dalam rumah tangga dan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya ditandai dengan keberhasilan anak-anak di dalam menjalani kehidupannya. Pendidikannya dan pekerjaannya, serta uang yang didapatkannya bermanfaat bagi keluarganya. Bahkan dapat menginfakkan atau mensedekahkan sebagian kecil hartanya untuk kepentingan kemanusiaan. Keberkahan harta bukan terletak pada banyaknya akan tetapi kemanfaatannya. Ada harta banyak tetapi tidak bermanfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat yang tentu tidak bisa dinyatakan sebagai harta yang berkah. Harta yang cukup tetapi bermanfaat jauh lebih baik dibandingkan dengan harta banyak tetapi tidak bermanfaat.

Ada banyak orang yang keliru dalam memandang harta. Sering diungkapkannya bahwa harta yang banyak adalah kenikmatan. Pernyataan ini tidak salah tetapi jika kenikmatan itu tidak membawa kemanfaatan untuk diri, keluarga dan masyarakat,  maka tentu bukan kenikmatan. Sebuah kenikmatan yang sementara itu bukanlah kenikmatan yang abadi. Hari ini dan sebulan ke depan nikmat, akan tetapi pada tahun berikutnya justru menemui kesengsaraan. Harta yang banyak dapat memenuhi keinginan jasad, akan tetapi kenikmatan jasad belum tentu menjadi kenikmatan jiwa dan rohani. Islam mengajarkan bahwa kenikmatan itu mencakup kenikmatan biologis, kenikmatan jiwa dan kenikmatan rohani. Inilah hakikat kenikmatan tersebut.

Nikmat hidup itu terletak pada badan yang sehat, dan dengan kenikmatan tersebut maka  seseorang dapat melakukan ibadah kepada Allah dengan sempurna dan juga dapat berlaku baik untuk manusia. Inilah makna doa keberkahan yang kita lantukan. Khususnya keberkahan pada bulan Rajab dan Sya’ban.

Doa yang kita lantunkan pada bulan Rajab dan Sya’ban merupakan doa agar kita dapat melaksanakan puasa ramadlan yang dapat menenangkan jiwa, membawa kedamaian di dalam hidup dan dapat membawa keselamatan diri dan keluarga kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

BERDOA PADA BULAN RAJAB DAN SYA’BAN UNTUK KEBERKAHAN

BERDOA PADA BULAN RAJAB DAN SYA’BAN UNTUK KEBERKAHAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Jika saya pulang ke Tuban, maka seakan menjadi kewajiban saya untuk memberikan asupan beragama pada jamaah shalat shubuh di Mushalla Raudhatul Jannah  di depan rumah saya. Jamaah shalat Subuh tersebut adalah kawan-kawan saya di masa kecil. Usianya nyaris sama. terpaut dua tahun lebih muda dan ada yang terpaut dua tahun lebih tua dari saya. Jika saya pulang terasa mengenang kembali masa-masa bersama-sama dalam kelompok bermain di masa lalu. Acara tersebut terselenggara, 15/02/2026.

Saya memberikan asupan jiwa tentang betapa senangnya karena kita akan bertemu kembali dengan Bulan Puasa atau Bulan Ramadlan, bulan yang dinantikan oleh umat Islam karena keistimewaannya. Allah SWT memang menjadikan Bulan Ramadlan sebagai bulan Istimewa, yang Allah akan melipatgandakan amal kebaikan yang dilakukan oleh umat Islam. Amalan kebaikan bisa diganjar oleh Allah dengan kelipatan bertubi-tubi, ada yang 10 kali, 100 kali dan sebagainya. Semua amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Berdzikir, shalat, sedekah dan amal kebaikan lainnya akan diberikn pahala berlipat-lipat.

Doa yang kita lantunkan kepada Allah SWT berbunyi: “Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadlan”. Artinya: “Ya Allah berkahi kami pada bulan Rajab, bulan Sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan Ramadlan”. Sebuah doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk kita amalkan. Dan insyaallah doa ini sudah kita amalkan. Dan yang membuat kita bersyukur karena insyaallah kita akan dipertemukan dengan bulan Ramadlan. Kita tentu tidak tahu takdir kita, sebab takdir adalah kewenangan Allah, yang kita tidak bisa mengetahuinya. Akan tetapi indikatornya adalah kita semua masih sehat menjelang puasa, yang tinggal menghitung hari. Insyaallah puasa itu tanggal 18 Februari 2026 atau hari Rabo yang akan datang. Kita hari ini masih bisa shalat subuh berjamaah dan kita masih segar bugar sesuai dengan usia kita masing-masing.

Allah masih memberi peluang kepada kita semua untuk bisa bertemu dengan bulan Ramadlan. Artinya kita masih diperkenankan untuk menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain yang diutamakan pada bulan puasa. Inilah kenikmatan yang luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang patuh kepada-Nya. Meskipun kita tidak sampai memasuki Islam secara benar-benar kaffah, akan tetapi hal-hal yang prinsip di dalam Islam sudah kita lakukan, khususnya shalat dan dzikir yang mampu kita lakukan.

Di dalam literatur Islam dinyatakan bahwa berkah adalah bertambahnya kebaikan. Jadi artinya di kala kita berdoa agar diberkahi Allah pada bulan Rajab dan Sya’ban, maka kita berharap agar Allah memberikan tambahan kebaikan kepada kita. Kebaikan dalam hablum minallah dan hablum minan nas. Kebaikan dalam beribadah kepada Allah dalam banyak hal, dan semakin bisa melakukan kebaikan untuk manusia. Kebaikan kepada manusia itu memiliki dua sisi, yaitu baik kepada manusia sekaligus juga mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Semua ibadah kita yang bercorak kemanusiaan dipastikan di dalamnya terdapat kebaikan kepada Allah.  Jadi seperti pedang bermata dua. Satu sisi ketajamannya untuk Allah dan satu sisi ketajamannya untuk manusia. Dengan melakukan kebaikan kepada sesama manusia maka akan mempertajam rasa kehadiran Allah di dalam diri kita dan akan mempertajam rasa kemanusiaan yang berupa kasih sayang kepada sesama hamba Allah.

Pada bulan Rajab dan Sya’ban Allah akan mendatangkan keberkahan kepada umat Islam yang suka beribadah kepadanya. Keberkahan itu didapatkan dari Allah sehingga hidup menjadi tenang, damai, bahagia dan penuh manfaat. Manfaat bagi diri sendiri, keluarga dan umat manusia lainnya. Ketenanagan hidup dalam rumah tangga dan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya ditandai dengan keberhasilan anak-anak di dalam menjalani kehidupannya. Pendidikannya dan pekerjaannya, serta uang yang didapatkannya bermanfaat bagi keluarganya. Bahkan dapat menginfakkan atau mensedekahkan sebagian kecil hartanya untuk kepentingan kemanusiaan. Keberkahan harta bukan terletak pada banyaknya akan tetapi kemanfaatannya. Ada harta banyak tetapi tidak bermanfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat yang tentu tidak bisa dinyatakan sebagai harta yang berkah. Harta yang cukup tetapi bermanfaat jauh lebih baik dibandingkan dengan harta banyak tetapi tidak bermanfaat.

Ada banyak orang yang keliru dalam memandang harta. Sering diungkapkannya bahwa harta yang banyak adalah kenikmatan. Pernyataan ini tidak salah tetapi jika kenikmatan itu tidak membawa kemanfaatan untuk diri, keluarga dan masyarakat,  maka tentu bukan kenikmatan. Sebuah kenikmatan yang sementara itu bukanlah kenikmatan yang abadi. Hari ini dan sebulan ke depan nikmat, akan tetapi pada tahun berikutnya justru menemui kesengsaraan. Harta yang banyak dapat memenuhi keinginan jasad, akan tetapi kenikmatan jasad belum tentu menjadi kenikmatan jiwa dan rohani. Islam mengajarkan bahwa kenikmatan itu mencakup kenikmatan biologis, kenikmatan jiwa dan kenikmatan rohani. Inilah hakikat kenikmatan tersebut.

Nikmat hidup itu terletak pada badan yang sehat, dan dengan kenikmatan tersebut maka  seseorang dapat melakukan ibadah kepada Allah dengan sempurna dan juga dapat berlaku baik untuk manusia. Inilah makna doa keberkahan yang kita lantukan. Khususnya keberkahan pada bulan Rajab dan Sya’ban.

Doa yang kita lantunkan pada bulan Rajab dan Sya’ban merupakan doa agar kita dapat melaksanakan puasa ramadlan yang dapat menenangkan jiwa, membawa kedamaian di dalam hidup dan dapat membawa keselamatan diri dan keluarga kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

SULTHAN DALAM MAKNA MELINTASI JAGAD RAYA

SULTHAN DALAM MAKNA MELINTASI JAGAD RAYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Alqur’an merupakan kitab suci yang harus diyakini kebenarannya. Tidak boleh sedikitpun umat Islam meragukannya. Mempercayai kitab suci termasuk salah satu dari rukun iman yang berjumlah enam hal.mempercayai Allah, malaikat, kitab suci, rasul, takdir dan hari akhir. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Hadits Nabi tentang Iman, Islam dan ihsan. Rukun iman tersebut harus diyakini dengan seganap hati dan pikiran tanpa keraguan sedikitpun.

Acara tahsinan Jamaah Ngaji Bahagia atau Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) sampailah pada Surat Ar Rahman, pada ayat 33, yang artinya adalah: “Wahai golongan Jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)”. Ayat ini menegaskan bahwa manusia akan dapat menguasai atau menembus dan melintasi alam raya tetapi dengan kekuatan dari Allah SWT.

Coba kita perhatikan beberapa kosa kata di dalam ayat ini, yaitu “jika kamu mampu”, “menembus langit dan bumi”, diperintahkan oleh Allah “tembuslah atau lintasi” dan ada kekuatan Allah yang menyertai upaya dimaksud. “inistatha’tum”, “min aqatharis samawati wal ard”, “fanfudzu”, “illa bisulthan”. Yang arti harfiyahnya adalah “jika berkemampuan” atau pengandaian berkemampuan, menembus atau melintasi langit dan bumi, perintah untuk menembusnya atau melintasinya dan semua bisa terjadi karena kekuatan Allah SWT.

Kata sulthan dinyatakan sebagai kekuatan atau bisa juga bermakna kekuasaan. Itulah sebabnya di Nusantara dikenal istilah Sultan atau penguasa atau pemimpin. Sultan Trenggana, Sultah Hadiwijaya, Sultan Agung Hanyakrakusuma, dan sebagainya. Tidak hanya di Jawa tetapi juga dikenal di Sulawesi, seperti Sultan Hasanuddin, di Aceh seperti Sultan Malikus Saleh, dan sebagainya.

Saya mencoba untuk memahami kata “sulthan” dalam tiga kategori, yaitu: pertama,  sulthan dalam konteks ilmu pengetahuan. Kekuatan atau kekuasaan itu ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan yang dapat dikuasai oleh manusia. Di dalam dunia ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan menembus atau melintasi alam raya adalah di kala manusia bisa menjejakkan kakinya di bulan.

Pesawat Antariksa Apollo 11 yang diproduksi oleh Amerika Serikat dapat mencapai bulan dalam rangka penyelidikan atas bulan sebagai salah satelit alam  di luar bumi yang bisa dikaji. Pesawat Antariksa Apollo diterbangkan ke bulan pada  16-24 Juli 1968. Setelah itu lalu berulang kali Amerika dan Uni Soviet menerbangkan Pesawat Antariksa ke planet yang dekat dengan bumi, misalnya Mars. Manusia dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang dikuasainya dapat mencapai planet lain yang di masa sebelumnya dirasakan tidak mampu dilakukannya.

Sebenarnya banyak sarjana Muslim yang mengkaji mengenai astronomi, seperti bulan dan planet-planet lain berdasarkan pemikiran empiris rasional atau bisa juga menggunakan pemikiran intuitif. Misalnya Al Biruni yang mengkaji tentang keliling bumi, atau Al Battani yang mengkaji tentang katalog Bintang dan lain-lain. Peredaran matahari atau bulan mengelilingi bumi dan planet-planet lain sudah dikaji secara ilmiah oleh para ahli. Namun secara empiric baru dilakukan eksperimennya melalui temuan pesawat Antariksa yang dapat menembus di luar orbit bumi.

Kedua, sulthan dalam arti menembus atau melintasi alam raya dengan ilmu spiritual atau kekuatan ilmu yang dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Tentu saja ada manusia yang memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk memahami alam raya dengan mata batinnya. Dengan kekuatan indra keenam, manusia dapat menembus waktu atau tempat dengan mata ilmu batiniyahnya. Di dalam Islam disebut sebagai ilmu laduni atau ilmu yang didapat dari Allah secara langsung tanpa melalui pembelajaran secara konvensional . Yaitu ilmu yang didapatkan dari karunia Allah kepada hambanya yang memenuhi persyaratan untuk memperolehnya. Ada riyadhah yang dilakukannya agar bisa sampai kepada tahapan ini. Dengan kekuatan batinnya, ada seseorang yang bisa menabak masa depan dengan ketepatan yang akurat. Orang bisa membaca masa lalu dengan akurasi yang memadai. Ada orang yang bisa berjalan di atas air, atau mampu menembus api yang panas atau mampu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang awam. Bisa disebut sebagai ilmu kasyaf atau ilmu hikmah atau ilmu karamah. Jika Nabi disebut sebagai mu’jizat dan jika kekasih Allah, misalnya para waliyullah disebut sebagai karamah atau keutamaan atau kemulyaan.

Ketiga, orang yang mampu menembus alam lain. Ada alam kasunyatan atau alam dunia dan alam gaib. Alam kasunyatan dihuni oleh manusia dan benda-benda lain yang bersifat fisikal, dan ada alam gaib yang dihuni oleh makhluk Allah yang gaib misalnya jin atau makhluk gaib lainnya. Allah bisa memberikan ilmu kepada hambanya yang berusaha dengan segenap upayanya untuk bisa masuk ke dalam alam gaib. Bisa berkomunikasi dan bahkan bisa hidup dalam dua alam sekaligus. Orang awam seperti kita tentu saja tidak mampu untuk memasuki alam lain, karena kita tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya.

Allah itu maha kasih dan sayang, maha Rahman dan Rahim, sehingga Allah akan dapat memberikan kemampuan yang luar biasa kepada hambanya yang memang bisa melakukannya. Bagi kita yang penting, percaya saja bahwa ada kekuatan yang bisa diberikan Allah kepada hambanya. Tetapi yang sangat penting adalah meyakini atas rukun iman.

Wallahu a’lam bi al shawab.