Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PUASA; MEMPERKUAT SENSOR KETUHANAN (10)

PUASA; MEMPERKUAT SENSOR KETUHANAN (10)

Pada hari Selasa, 10 Ramadlan 1440 H atau 14 Mei 2019, jamaah Mushalla Al Ihsan mendapatkan tamu istimewa untuk memberikan ceramah agama ba’da shalat Isya’. Bertepatan hari ini, yang menjadi Imam shalat Isya’ dan Tarawih ialah Ust. Shonhaji, Lc, Al Hafidz, mahasiswa program magister Tafsir Hadits pada UIN Sunan Ampel. Beliau ini menyelesaikan strata 1 pada Universitas Al Azhar Mesir. Tamu yang saya maksud ialah KH. Drs. Abdul Mujib Adnan, MAg, Direktur Ma’had al Jami’ah UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau menyampaikan materi tentang “Puasa sebagai instrumen untuk memperkuat sensor Ketuhanan”.

Pak Mujib, begitu saya memanggilnya, memulai ceramahnya dengan membacakan Al Qur’an, Surat Anfal, ayat 3, yang berbunyi: “innamal mu’minunal ladzina idza dzukirallahu wajilat qulubuhum wa idza tuliyat ayatuhu zadathum imanan wa ala rabbihim yatawakkalun. Yang artinya: “Sesungguhnya orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut Nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambah iman mereka (karenanya) dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal.

Ayat ini dapat dipahami bahwa indicator seorang dapat dinyatakan mukmin ialah apabila mendengar nama Allah disebut , maka ada getaran di dalam dirinya. Hatinya bergetar karena asma Allah. Ada getaran positif bahwa Allah adalah Dzat yang menguasai seluruh alam, dijadikan sebagai tempat menyembah dan kepadanya segalanya akan kembali. Dan jika ditunjukkan tentang bukti-bukti kebesaran Allah, maka terus bertambah imannya. Getaran keberadaan Allah dan tanda-tanda kebesarannya itu menyatu dalam dirinya. Iman itu tidak berkurang atau bertambah tetapi terus menanjak naik sampai puncaknya keimanan tersebut.

Iman para Rasul dan Nabi itu terus bertambah dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun. Malaikat itu konstan atau stagnan. Tidak bertambah dan tidak berkurang. Dan manusia seperti kita ini adakalanya turun dan adakalanya naik atau iman kita itu fluktuatif. Jadi antara malaikat dan rasul itu lebih utama rasul dilihat dari keimanannya. Yang diharapkan dari manusia tentu bisa naik dan tidak terus turun. Dan naiknya keimanan itu adalah indicator keimanan kita kepada Allah yang semakin menguat.

Manusia itu secara kategorikal dapat dipilah menjadi dua dari aspek kecenderungannya. Ada yang berkecenderungan baik dan ada yang berkecenderungan jelek atau ada yang positif dan ada yang negative. Kecenderungan atau respon positif atau negative itu tergantung bagaimana sensor di dalam tubuh kita itu bekerja. Ada yang begitu mendengar nama Allah disebut langsung sensornya merespon positif. Ada orang yang perlu dibantu segera sensornya menyambut positif untuk membantu. Atau contoh lain, di tempat ini dulu adalah rerumputan dan kemudian karena takdir Allah didirikan rumah Allah atau mushalla, maka sensor kita akan merespon untuk memanfaatkan tempat ibadah ini dengan kegiatan keagamaan. Tetapi juga ada yang sensornya merespon dengan negative. Biarkan saja, semuanya akan berlalu. Sepertinya tidak ada keinginan untuk menyambut dengan positif atas upaya kebaikan dan sebagainya.

Puasa yang kita lakukan sebenarnya untuk menumbuhkan response sensor ketuhanan agar lebih peka untuk mendengarkan agar terjadi peningkatan kebaikan dan juga mendengarkan untuk menolak kejelekan. Manusia itu diberi pendengaran melalui telinga, diberikan penglihatan melalui mata, dan diberikan perasaan melalui hati. Namun demikian, ada orang yang potensinya lebih mengarah ke negative. Orang yang seperti ini diberikan hati tetapi tidak digunakan untuk memahami. Mereka diberikan telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar dan diberikan mata tetapi tidak digunakan untuk melihat kebaikan. Semuanya berlalu seperti angin lalu. Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak menyadari bahwa yang bersangkutan diberi kenikmatan oleh Allah tetapi tidak digunakannya untuk kepentingan kebaikan. Jika ada orang yang mengajak kepada tindakan kejahatan, maka dengan cepat sensor kita itu menolak, dan sebaliknya jika ada orang yang mengajak kepada kebaikan maka sensor kita itu cepat merespon untuk mendukungnya.

Perintah puasa itu wajib dilakukan oleh umat Islam. Kita berpuasa atau tidak berpuasa itu tidak berpengaruh kepada Allah. Tetapi harus diingat bahwa puasa itu ibadah yang khas. Ibadah yang hanya Allah sendiri yang akan menilainya. Puasa itu ibadah yang sangat personal. Tidak ada yang tahu kecuali pelaku puasa dan Allah saja. Saya bisa berpura-pura puasa di depan orang, tetapi tidak bisa berpura-pura di depan Allah. Jika ibadah lain, misalnya orang membaca shalawat dihargai 1 pahala dan jika pada bulan puasa misalnya dihargai 10 kali pahala. Jadi lipat 10. Untuk puasa itu tanpa ukuran atau tidak berbilang berapa Allah akan menghargai pahalanya. Pahalanya tidak terhingga. Ukurannya ialah maghfirah atau ampunan Allah berbasis keridlaannya.

Kita semua berharap melalui puasa yang merupakan ibadah khusus ini, kita dapat memperkuat sensor di dalam diri kita sehingga potensi kebaikan di dalam diri kita semakin optimal dapat digunakan, dan sebaliknya potensi kejelekan di dalam diri kita semakin terkikis habis. Dan puasa adalah instrument untuk ini semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

PUASA; MENGENAL ALAM MANUSIA (9)

PUASA; MENGENAL ALAM MANUSIA (9)

Pada hari Senin, 9 Ramadlan 1440 H atau bertepatan dengan tanggal 14 Mei 2019, saya memberikan ceramah agama pada Jamaah Shalat Tarawih di Musalla Al Ihsan perumahan Lotus Regency, Ketintang Selatan Surabaya. Sebagaimana biasa, tarawih berjamaah di Mushalla ini diikuti oleh jamaah lelaki dan perempuan dari perumahan Lotus dan juga beberapa orang lain yang sengaja melakukan shalat di tempat lain.

Pada kesempatan ini, saya menyampaikan ceramah dengan tema: “Mengenali alam manusia dari masa lalu hingga yang akan datang”. Saya menggunakan konsepsi para ahli tasawuf (Jawa) tentang pembagian alam menjadi 4 (empat) era atau waktu. Yaitu: Pertama, alam ruh atau alam persaksian atau alam kesaksian. Di dalam hal ini, semua makhluk manusia ditanya oleh Allah, yang berbunyi: “Alastu birabbikum, qalu bala syahidna.” (Surat al A’raf, 172). Allah menyatakan kepada seluruh manusia yang tercipta dan masih berada di dalam alam ruh dengan pertanyaan dasar “Bukankah aku ini Tuhanmu”, secara kompak manusia di alam ruh menyatakan mereka menyaksikannya. Makanya, ini merupakan proses kesaksian dan janji manusia kepada Tuhannya, bahwa hanya Allah saja yang disaksikan sebagai Tuhannya atau yang bisa disembahnya. Rabb dalam konteks ini ialah Tuhan sebagai sesembahan atau pemujaan dan sekaligus sebagai pencipta serta pemilik alam seluruhnya.

Semenjak itu, manusia sudah berjanji bahwa mereka akan menyembah Allah sebagai Tuhan, sesembahan seluruh manusia dan seluruh alam ini. Harus diingat bahwa yang melakukan sesembahan dan patuh terhadap Tuhan Allah bukan saja manusia akan tetapi seluruh alam ciptaannya. Ibaratnya di alam ini, seluruh kontrak kita kepada Tuhan itu telah ditandatangani. Surat Perjanjian Kontrak (SPK) ditandatangani pada saat sebagaimana Allah berfirman di dalam Al Qur’an, Surat Al A’raf, 173 di atas.

Kedua, Lalu, roh tersebut berpindah dari alam Ruh ke alam dunia melalui medium alam buthun atau alam di kala manusia dikandung oleh Ibundanya. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim tentang pertemuan antara sperma dan ovum kemudian menghasilkan nuthfah (segumpal darah, dalam waktu 40 hari) dan dalam 40 hari kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal daging) dan menjadi mudhghah (segumpal daging) yang di saat itu kemudian ditiupkan ruh oleh Malaikat atas perintah Allah ke dalam jasadnya, dan selanjutnya menjadi orok di dalam perut, yang kemudian akan lahir dari kandungan setelah usianya kurang lebih 9 (Sembilan) bulan. Masuklah seseorang ke dalam alam dunia atau alam “ngelakoni Janji” atau “melaksanakan janji”. Di sinilah manusia harus mengerjakan pekerjaan yang sudah menjadi SPK di masa alam ruh.

Ada pekerjaan yang harus dilakukan oleh manusia, termasuk jin ialah: 1) mengabdikan diri kepada Allah. Di dalam Al Qur’an, surat Adz Dzariyat, 56, Allah berfirman: “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun”. Yang artinya: “dan tidak kami ciptakan sebangsa Jin dan manusia kecuali untuk beribadah”. 2) membangun relasi yang baik dengan Allah, manusia dan alam atau hablum minallah, hablum minan nas atau hablum minal alam. 3) menyeimbangkan kehidupan jasmani dan rohani , kehidupan duniawiyah dan ukhrawiyah. Sesuai dengan perjanjian itu manusia harus membangun keserasian untuk mengupayakan kehidupan di dunia dan untuk akherat. Manusia harus bermanfaat bagi keluarganya, komunitasnya, masyarakat serta nusa dan bangsanya. Dan manusia juga harus berguna bagi agamanya.

Ketiga, alam kubur atau alam barzakh atau alam “ngaweruhi janji.” Ruh manusia berpindah dari alam dunia ke alam kubur. Kematian sesungguhnya adalah peristiwa perpindahan dari alam dunia ke alam kubur. Jadi sesungguhnya yang mati hanyalah fisiknya atau jasadnya saja, sedangkan ruhnya tetap hidup hanya saja di alam lain. Sebagai alam lanjutan, maka di alam kubur manusia sudah tidak bisa lagi melakukan persembahan kepada Allah. Manusia yang sudah mati hanya berkeinginan agar mendapatkan kiriman doa dari anak-anaknya atau keluarganya, jika manusia sudah mati atau ke alam   kubur.  Di sini sudah ditunjukkan apakah dia termasuk orang baik atau orang jahat. Orang beribadah atau tidak beribadah. Pancaran kenikmatan sudah ditunjukkan oleh Allah dan pancaran kepedihan juga sudah diinformasikan.

Anak yang shalih tentu merupakan asset yang luar biasa bagi orang tua yang sudah meninggal. Di kala amal-amalnya sudah terputus, maka peran anak sebagai penerus orang tua untuk mendoakannya. Di dalam hadits diungkapkan, yaitu; “waladin shalihin yad’ulahu”. Jadi yang diinginkan orang yang sudah meninggal ialah doa anak shalih.

Keempat, alam akherat atau “alam nompo hasil kelakuan” atau alam balasan kelakuan. Alam akherat adalah alam ruh tahap akhir dari rangkaian perjalanan ruh manusia. Di alam ini, maka Allah menyediakan untuk hambanya yang taat dan hambanya yang tidak patuh. Allah menjanjikan bagi hambanya yang patuh maka akan dibalas dengan surga atau al jannah dan yang tidak taat dengan balasan neraka atau al nar. Jadi untuk bisa memasuki surga atau neraka tentu sangat tergantung kepada amal ibadah dan tindakan kita selama hidup di dunia. Alam akherat disebut sebagai alam abadi, alam akhirat itu berisi kehidupan di surga dan neraka. Alam ini merupakan alam pembalasan terhadap perilaku manusia ketika hidup di dunia.

Di dalam al Qur’an dinyatakan bahwa kehidupan di akherat itu lebih baik dibanding kehidupan sebelumnya, alam ruh, alam dunia dan alam kubur. Al Qur’an menyatakan di “dalam  Surat Adh Dhuha, ayat 4, “Walal akhiratu khoriul laka minal ula. yang artinya: “Niscaya kehidupan akherat lebih baik dari kehidupan sebelumnya”. Tentu saja bagi mereka yang melaksanakan perjanjian dengan sebaik-baiknya. Alam akherat merupakan alam panjang dan tak berujung, dan hanya Allah saja yang mengetahui tentang hal ini. Islam hanya menggambarkan perumpaan-perumpamaan tentang kehidupan akherat, baik kehidupan yang nyaman di surge dan kehidupan yang sengsara di neraka.

Oleh karena itu manusia harus berusaha untuk berlaku baik agar mendapatkan surganya Allah dan menghindari larangannya agar terbebas dari nerakanya Allah. Namun karena rahman dan Rahim Allah bisa saja terjadi ada orang yang mampir ke neraka dulu untuk memperoleh hukumannya dan setelah itu bisa masuk ke surge Allah.

Kita tentu berdoa semoga kita langsung bisa masuk surge dengan amalan ibadah kita. tentu termasuk kitab telah menjalankan puasa Ramadlan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA; MENELADANI ORANG-ORANG SHALIH (8)

PUASA; MENELADANI ORANG-ORANG SHALIH (8)

Pada hari ke delapan tarawih, Ustadz Khobirul Amru yang memberikan ceramah agama ba’da shalat Isyak menjelang shalat tarawih. Tema yang diberikan ialah “Meneladani Orang Shalih”. Bahasan yang menarik, sebab memberikan contoh riil dalam sejarah perjalanan umat Islam, khususnya di era Khulafaur Rasyidin dan Tabiit-tabiin.

Ustadz Khobir memulai ceramahnya dengan memberikan ilustrasi tentang dua hal, yaitu: Pertama, kejadian pada zaman khulafaur rasyidin, khususnya Sayyidina Umar ibn Khattab, sebagai khalifah kedua sesudah wafatnya Sayyidina Abu Bakar ash Shiddiq. Sebagai khalifah Beliau banyak membuat inovasi, misalnya tentang hukuman penjara sebagai pengganti hukuman potong tangan, bagi pencuri yang terpaksa mencuri karena untuk makan, lalu pengumpulan mushhaf al Qur’an yang tercecer di kulit onta, kulit kambing, pelepah kurma, dan sebagainya, mengingat bahwa banyak sahabat Nabi yang hafal Al Qur’an kemudian meninggal di medan peperangan.

Beliau termasuk pemimpin yang bahasa sekarang disebut menyukai blusukan. Beliau suka turba untuk mendengarkan apa dan bagaimana suara rakyatnya. Pada suatu malam, tanpa pengawal –sebagian ahli menyatakan disertai seorang pengawalnya—beliau tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan antara Ibu dan anak tentang susu perahan yang akan dijual. Khalifah Umar ibn Khattab mendekat dan mendengarkan dialog Ibu dan anaknya itu. Ibunya menyatakan: “sebaiknya susu ini dicampur dengan air saja agar menjadi lebih banyak sebab Khalifah tentu tidak tahu apa yang kita lakukan.” Anaknya justru menyangkalnya. Anak ini menyatakan: “jangan Ibu sebab kalau ketahuan Khalifah kita akan dimarahi dan duhukum. Lagi pula, mungkin khalifah tidak tahu tetapi Allah pasti tahu apa yang kita lakukan”.

Terkesima Sayyidina Umar mendengar ucapan anak perempuan itu. Maka pada suatu hari Khlaifah Umar mengajak anaknya –lelaki (Ashim ibn Umar)— untuk datang di rumah perempuan itu dan meminta supaya anaknya bisa dinikahkan dengan putranya. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa dari perkawinan ini kemudian melahirkan seorang khalifah yang hebat ialah Umar Ibn Abdul Aziz, yang dikenal sebagai khalifah yang sangat baik, bijaksana, berintegritas dan berkeadilan.

Kedua, suatu peristiwa zaman tabiit-tabiin, yaitu terkait dengan Imam Syafi’i. Pada suatu ketika ada seorang anak muda (Idris bin Abbas) yang suka petualang untuk mencari ilmu dan lewatlah dia di pinggir sungai dan ditemui buah delima mengambang di sungai tersebut. Maka buah delima itu dimakannya. Setelah sampai di dalam perutnya, tiba-tiba beliau sadar. “Buah delima siapa yang saya makan.” Beliau menyesal yang luar biasa, dan akhirnya beliau berupaya untuk menemukan siapa pemilik buah tersebut. Disusurinya sungai itu ke hulu dan bertemulah dengan perkebunan buah delima yang ada batangnya yang menjorok ke sungai. Bergegaslah pemuda itu menemui pemiliknya. Beliau meminta agar pemilik kebun tersebut mengikhlaskan buah yang sudah dimakannya. Tetapi ternyata pemilik kebun itu meminta agar Beliau bekerja selama beberapa tahun. Terus dan terus ditahan tidak boleh keluar dari perkebunan, akhirnya dijadikan sebagai karyawan di situ untuk menebus kekhilafannya. Sampai akhirnya, pemilik kebun tersebut menawarkan anaknya perempuan untuk menjadi isterinya untuk menebus kesalahannya. Perempuan itu bernama Fathimah. Diceritakan bahwa anaknya perempuan itu buta, tuli, dan lumpuh. Akan tetapi agar beliau diikhlaskan memakan buah delima, maka tawaran tersebut diterimanya dengan ikhlas. “Ya saya terima keinginan Bapak agar saya menikahi putri Bapak agar saya memperoleh keikhlasan memakan buah dari kebun Bapak”. Setelah dinikahkan, maka disuruhlah pemuda itu untuk menemui isterinya. Dia ketuk pintu dan mengucapkan salam. Ternyata dari dalam kamar ada suara menjawab salamnya. Beliau kembali ke mertaunya. “Pak apa tidak salah. Perempuan yang di dalam kamar itu bukan bisu, dia bisa berbicara menjawab salam saya”. Oleh mertuanya dinyatakan: Ya sudahlah kamu ke situ, itu ada isteri kamu”. Si pemuda mendatangi lagi kamar itu dan masuk ke dalam. Betapa kagetnya sebab yang ditemui itu seorang perempuan yang cantik, tidak buta, tidak tuli dan juga bisa berjalan”. Maka beliau datang lagi ke mertuanya: “Pak itu bukan istri saya, sebab isteri saya itu buta tuli dan lumpuh”. Maka akhirnya dijelaskan, “puteri saya itu buta karena matanya tidak pernah melihat hal-hal yang jelek-jelek, tidak mendengar kata yang kotor dan menyakitkan, dan dia tidak pernah berjalan di dalam kemaksiatan. Ambillah, dia isterimu”.

Dari perkawinan ini kemudian melahirkan Abu Abdullah Muhammad ibn Idris al Syafi’i atau dikenal sebagai Imam Syafi’i, yang sangat luar biasa sebagai mujahid Islam dan pemikir yang ahli fiqih, tafsir, sastra, bahasa dan hadits serta sangat wira’i dan ahli tasawuf. Dari dua gambaran ini, dapat diambil satu manfaat, bahwa anak yang dilahirkan oleh dua orang tua yang sangat baik, tidak diberi makan kecuali yang halal, dan diajarkan dengan agama yang sangat baik, maka akan menjadi manusia yang bermanfaat.

Jadi, cerita ini dapat menginspirasi kita semua agar kita bisa meneladani orang-orang baik yang kebaikannya terkenang sepanjang masa. Dan kita juga mestinya bisa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA; INSTRUMEN MEMPEROLEH RIDLA ALLAH (7)

PUASA; INSTRUMEN MEMPEROLEH RIDLA ALLAH (7)

Setelah selesai mengikuti jamaah tarawih di Mushalla al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, Ketintang Surabaya, pada jum’at malam saya bergegas ke Tuban, tepatnya ke Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban. Tentu untuk pulang kampung menjenguk orang tua saya yang sudah usia lanjut. Ada kewajiban harus datang dua pekan sekali ke sana, dan sekaligus datang ke Mushalla Raudlatul Jannah di depan rumah saya.

Dan seperti biasanya, saya harus memberikan taushiyah, khususnya di bulan Ramadlan terhadap para jamaah shalat tarawih yang kebanyakan ialah kawan saya waktu kecil dan tetangga saya yang menjalankan tarawih berjamaah di Mushalla tersebut. Ada rasa gembira melihat jamaah shalat tarawih yang cukup banyak di Mushalla tersebut.

Kali ini saya membicarakan tentang puasa sebagai instrument untuk memperoleh ridlanya Allah swt. Puasa Ramadlan adalah salah satu rukun Islam yang memiliki kekhasan dibandingkan dengan ibadah lainnya, sebab di dalam puasa seseorang harus menahan tidak makan, minum dan kegiatan seksualitas di siang hari serta perbuatan lainya yang bisa membatalkannya. Puasa merupakan kegiatan ibadah kepada Allah yang mensyaratkan fisik yang sehat dan badan yang kuat. Jika seseorang sakit maka dapat menggantinya di hari lain atau membayarkan fidyah sesuai dengan aturan fiqhnya.

Di dalam ibadah puasa dan shalat tarawih ada sebuah doa yang dilantunkan oleh umat Islam, ialah yang berbunyi: “asyahadu an la ilaha illallah. Astaghfirullah. Nas’aluka ridlaka wal jannah wa naudzubika min sakhawatika wan nar”. Yang artinya kurang lebih ialah: “Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Ampuni kami ya Allah. Kami memohon ridlamu dan surgamu dan jauhkan kami dari siksa api neraka”. Sebuah persaksian yang mendalam bahwa tidak ada yang wajib disembah, dan diyakini keberadaannya kecuali Allah dan sekaligus permohonan ampunan kepada-Nya dan juga permohonan yang sedemikian tulus agar selalu mendapatkan ridla Allah swt dan dijauhkan dari panasnya api neraka.

Yang dimohon kepada Allah ialah keridlaannya. Maka bacaannya bukan dinyatakan memohon surganya Allah baru kemudian memohon ridlanya Allah. Tetapi jelas yang kita minta ialah ridlanya Allah dahulu dan surga baru mengikutinya. Di kalangan ahli tasawuf, misalnya Hasan Basri, Beliau sangat mengedepankan keridlaan Allah, sebab jika Allah meridlai apa yang kita lakukan, maka pasti Allah akan menyenangkan kita. Allah akan membahagiakan kita jika kita menyenangkan Allah swt.

Mungkin sebagai perumpamaan fisikal di dunia ini adalah gambaran tentang relasi antara orang tua dan anak atau kakek nenek dengan cucunya. Jika anaknya menyenangkan atau membahagiakan orang tua, pastilah orang tua akan berusaha seoptimal mungkin untuk membahagiakannya. Bahkan orang tua akan selalu memberikan kepada anaknya tanpa anak tersebut memintanya. Sama dengan kebahagiaan atau kesenangan kita menyenangkan hati cucu kita. Masyaallah karena kebahagiaan dari cucu kita itu, maka kita akan memberikan semua yang dimintanya bahkan yang belum dimintanya.

Saya pernah memperoleh ungkapan dari sahabat saya, namanya Abu Hasan, dulu adalah karyawan Fakultas Dakwah. Dia pernah bercerita: “jika kitab itu nyah nyoh (bahasa Jawa yang berarti memberikan sesuatu tanpa perhitungan untuk kebaikan), maka Allah juga akan nyah nyoh kepada kita tanpa perhitungan”. Ungkapan ini pantas kita renungkan karena sesuai benar dengan prinsip di dalam Islam, bahwa Allah bisa saja memberikan rizki kepada kita bighairi la yahtasib tanpa kita duga kapan rizki itu datang. Tentu dengan syarat bahwa kita juga suka memberikan sedekah, infaq atau pemberian apapun yang bisa kita lakukan untuk kebaikan.

Kerelaan tentu bukan sesuatu yang mudah didapatkan, akan tetapi juga bukan sesuatu yang tidak mungkin diperoleh. Yang penting ialah usaha untuk memperolehnya. Dan sebagaimana kita ketahui kata kuncinya ialah “menyenangkan Allah”. Seorang hamba harus menyenangkan Allah dengan mengamalkan kebaikan dan menjauhi larangannya. Seseorang harus menjalankan agamanya dengan benar, sesuai dengan kaidah agama yang benar. Orang harus selalu berusaha untuk mengingat atau berdzikir kepada Allah. Berdzikir di kala istirahat, bekerja, di rumah, di kantor, di dalam perjalanan dan segala tempat dan waktu. Fi kulli makanin wa zamanin.

Puasa sebagaimana doa yang kita lantunkan menggambarkan bahwa puasa adalah medium untuk memperoleh keridlaan Allah. Ada banyak upaya yang bisa dilakukan untuk menjemput hal tersebut. Ada qiyamul lail, ada tadarrusan, ada kajian dan juga berdakwah baik secara lesan maupun tulisan yang bisa dilakukan. Prinsipnya ialah sampaikanlah walaupun itu satu ayat, ballighu anni wa lau ayatan. Kita meyakini bahwa dengan amalan yang baik pada bulan puasa, insyaallah ramadlan akan menjadi instrument dalam kerangka memperoleh keridlaan Allah swt. Kita yakin bisa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PUASA; JIBRIL MENGAJAR TENTANG ISLAM (6)

PUASA; JIBRIL MENGAJAR TENTANG ISLAM (6)

Pada acara shalat jamaah Tarawih ke enam, saya menjadi penceramah untuk kuliah tujuh menit (kultum) di Mushalla Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Saya tentu sangat bersyukur sebab minat untuk menjalankan shalat Isya’ dan tarawih berjamaah masih terjaga sedemikian rupa. Saya menyampaikan ceramah dengan tema “Jibril mengajari tentang Islam, Iman dan Ihsan”. Suatu pelajaran yang kemudian menjadi dasar, bagi Rukun Islam, Rukun Iman dan juga amalan mendalam (esoteric) di dalam Islam.

Di dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, terdapat dialog yang sangat mendasar tentang ajaran Islam. Dalam sebuah Hadits tersebut dinyatakan (yang saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia secara general dalam bentuk cerita) ialah: “pada suatu ketika Nabi Muhammad saw duduk bersama para sahabatnya, lalu tiba-tiba datang seorang lelaki yang sangat tampan, kulitnya putih bersinar, rambutnya hitam legam, dan tidak ada tanda-tanda baru saja bepergian, lalu lelaki tersebut duduk dengan pahanya saling beradu dengan paha Rasulullah dan tangan lelaki tersebut ditempatkan pada paha Rasulullah. Lelaki itu terus bertanya kepada Nabi tentang Islam. Maka Nabi Menjawab, bahwa “Islam ialah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, menjalankan shalat, mengeluarkan zakat, menjalankan puasa Ramadlan dan pergi haji jika berkemampuan.” Lalu, lelaki tersebut menyatakan: “engkau benar”. Kemudian apakah iman itu?. Nabi Menjawab: Iman ialah mempercayai tentang Allah, meyakini tentang Malaikat Allah, mempercayai Kitab Allah, mempercayai Rasul Allah, mempercayai hari akhir dan mempercayai takdir baik dan buruk”. Lelaki itu menyatakan: “Engkau benar”. Kemudian lelaki tersebut bertanya, apa yang dimaksud dengan Ihsan, kemudian Nabi menjawab: “an ta’budallah ka annaka tarah, fain lam takun tarah fainnahu yaraka”. “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau mengetahuinya, dan jika engkau tidak mengetahuinya maka yakinlah bahwa Allah mengetahui kamu.”

Hadits ini yang kemudian menjadi pijakan bagi para jumhur ulama untuk memahami tentang Rukun Iman dan Rukun Islam. Bahwa ada 5 (lima) rukun Islam dan ada 6 (enam) rukun iman. Dan yang tidak kalah menarik ialah diajarkannya tentang bagaimana kita menyembah Allah swt, yang didasarkan pada keyakinan bahwa Allah mengetahui semua yang kita lakukan. Al Ihsan ini menjadi pijakan bagi kaum muslimin –khususnya kaum Tasawuf—untuk menjalankan Islam dalam coraknya yang esoteric (mendalam) melalui cara bertaqarrub kepada Allah melalui rumus-rumus tertentu.

Inti dari keberislaman ialah totalitas pengabdian, totalitas penyerahan diri dan totalitas kepasrahan kepada Allah semata. Sedangkan inti dari keimanan ialah totalitas keyakinan hanya kepada Allah saja tanpa ada satu keyakinan lain yang menyekutukannya. Allah yang memiliki seluruh system tata surya dan yang menguasainya tanpa ada sekutu baginya. Dan implikasi dari keyakinan ini ialah terwujudnya keyakinan kepada yang diperintahkan untuk diyakini oleh manusia.

Inti dari al Ihsan ialah kepasrahan total kepada Allah dalam pengabdian untuk mendapatkan keridlaannya. Di dalam doa yang seringkali kita lantunkan: “Allahumna inna nas’aluka ridlaka wal jannah, wa naudzu bika min sakhatika wan nar”. Yang arti secara generalnya ialah “Ya Allah sesungguhnya kami memohon ridlamu dan surgamu dan jauhkan kami dari siksamu dan nerakamu”. Doa ini kita lantunkan sebagai bentuk permohonan tertinggi kepada Allah swt agar kita memperoleh keselamatan fid dini wal akhirah. Adakah yang melebihi keselamatan dan ridla Allah untuk kita semua. Jika Allah sudah meridlai hidup kita, maka kehidupan akan menjadi nyaman dan bahagia. Tidak hanya kebahagiaan di dunia akan tetapi yang lebih penting ialah kebahagiaan di akherat.

Tujuan hidup sesungguhnya ialah untuk mendapatkan cinta dan ridla Allah swt. Sepeti para ahli tasawuf, misalnya Rabiah al Adawiyah yang mengembangkan tasawuf Cinta atau hubullah, atau Hasan Al Basri yang mengembangkan tasawuf ridla atau ridlallah. Jika Allah sudah mencintai dan meridlai hambanya, maka apa yang dilakukannya ialah “pancaran” ketuhanan yang mewujud di dalam diri manusia.

Itulah sebabnya, Mushalla kita ini dinamai sebagai Mushalla al Ihsan, dengan dasar filosofis agar mushalla ini dapat menjadi tempat untuk pengabdian kepada Allah swt dengan totalitas kepasrahan berbasis pada keyakinan bahwa apapun yang kita lakukan pasti Allah mengetahuinya. Tempat ini masjidnya Allah tempat beribadah dengan sungguh-sungguh. Mushalla ini adalah miliknya Allah untuk kita berubadah kepadanya.

Di tempat ini ada radarnya Allah, ada CCTV-nya Allah selain CCTV yang bertebaran di seluruh jagad kehidupan kita. Jauh sebelum ditemukan CCTV sebagai piranti untuk melihat apa yang dilakukan orang di dalamnya, Allah sudah membuat CCTV sebagai mahakarya untuk melihat seluruh amalan kita. Itulah sebabnya Hadits Nabi menyatakan: “ittaqillaha haitsuma kunta” yang artinya: “bertaqwalah kepada Allah di mana saja berada”, artinya kita harus bertaqwa kepada Allah di segala waktu, tempat dan keadaan kita.

Puasa ini menjadi momentum untuk semakin mengenal bahwa ada radar Allah yang maha besar yang menjadi piranti untuk mengamati tentang apa yang kita lakukan. Semoga  Allah menjadikan puasa kita untuk instrument yang dapat meningkatkan amal ibadah kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.