• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

GENERASI MUDA BUDDHIS DAN KERUKUNAN BANGSA (1)

GENERASI MUDA BUDDHIS DAN KERUKUNAN BANGSA (1)

Saya dengan Maha Pandita Utama (MPU) Suhadi Senjaya memiliki hubungan yang dekat di saat saya masih menekuni dunia birokrasi terutama di saat menjabat Sekretaris Jenderal Kementerian Agama dan dipercaya oleh Pak Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, untuk menjadi Plt. Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha, selama setahun lebih. Dari sini, maka kedekatan hubungan secara personal itu terbentuk, misalnya dengan Pak Arif Harsono, pendiri Permabudhi, Pak David Hermansyah, pegiat Tridharma, Pak Suhadi, Ketua Parisadha Buddha, Niciren Syosyu Indonesia (NSI), Bu Hartati, Pimpinan Walubi, dan juga yang lain-lain.

Dalam waktu setahun lebih menjadi Plt. Dirjen Bimas Buddha tersebut, maka saya bisa melakukan relasi personal maupun organisasional dengan sahabat-sahabat saya, baik dalam momentum kegiatan maupun lainnya. Misalnya saya terlibat dalam perumusan Permabudhi, pemikiran pengembangan pendidikan Agama Buddha, pengembangan organisasi-organisasi di dalam agama Buddha dan menghadiri upacara-upacara keagamaan di dalam agama Buddha, misalnya menghadiri acara “Meruwat Rupang Buddha” di Vihara Pak Aguan, dan juga menghadiri acara Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi Agama Buddha internasional, Seminar maupun acara lainnya. Waktu setahun lebih menjadi Plt. Dirjen Bimas Buddha menjadi momentum yang sangat monumental.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai Plt. Dirjen Bimas Buddha, saya juga masih sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Sahabat-sahabat saya dari Agama Buddha ini. Rupanya persahabatan yang tulus itu ditandai bukan karena jabatan atau kepentingan sesaat, akan tetapi difasilitasi oleh bertemunya rasa kemanusiaan yang tulus dan ikhlas. Dan saya merasakan ketulusan tersebut di dalam relasi personal yang kami lakukan bersama.

Termasuk di saat saya diundang di dalam acara “Penutupan Temu Generasi Muda (TGM) Parisadha Niciren Sosyu Indonesia (NSI),” yang malam itu ditutup di Hotel Samator Surabaya, milik Pak Arif Harsono. Acara yang diikuti oleh kurang lebih 170 pemuda ini dilakukan dalam waktu yang panjang, 2-8 Juli 2019, dan merupakan putaran yang ke 32. Acara ini diikuti oleh pemuda se Indonesia dan semuanya harus berkumpul di Jakarta lalu baru ke lokasi-lokasi yang diperlukan.

Mereka harus datang ke Jakarta dulu, sebab perlu pembekalan spiritual. Perjalanan ini tidak hanya perjalanan wisata duniawi, akan tetapi merupakan perjalanan untuk menghadirkan nuansa spiritual yang memang diperlukan di era sekarang. Itulah sebabnya di dalam acara ini mereka dihadirkan di Pesantren, misalnya Pesantren Raudlatut Thalibin, asuhan Kyai Mustafa Bisri, di Pesantren An Nuqayah di Sumenep, di Vihara Trowulan, Mojokerto, dan juga Vihara di Surabaya. Selain itu mereka juga memperoleh asupan pengetahuan mengenai kebangsaan, oleh Prof. Dr. Mahfud MD, Radar Pancadahana, Pak Suhadi Senjaya dan beberapa tokoh kebangsaan lainnya.

Acara penutupan ini tentu sangat meriah. Nyaris tidak dijumpai bahwa mereka telah berjalan panjang dari Jakarta ke Jawa Timur. Mereka merasakan bahwa perjalanan ini begitu penting, tidak hanya untuk kepentingan masa depan Agama Buddha, akan tetapi juga untuk masa depan bangsa dan negara. Saya kira pilihan yang sangat cerdas dari Pak Suhadi untuk memilih acara terakhir di Hotel Bintang 5, Hotel Samator. Selain lokasi yang strategis juga sangat layak untuk dijadikan sebagai tempat untuk bernostalgia dan bertemu anak- anak muda mileneal.

Bagi saya acara penutupan ini padat tetapi berkesan. Misalnya dibuka dengan tarian-tarian kreasi baru, dan dilanjutkan dengan drama satu babak, yang mengisahkan tentang perjalanan karir music Chrisye, yang ternyata adalah anak Tionghoa yang berkarir di dunia music pop Indonesia. Para pemainnya memiliki talenta yang baik, misalnya yang memerankan Chrisye, saya mengagumi aktivitas perannya sebagai Chrisye. Lalu juga mengisahkan perjalanan karir seni Bunyamin Sueb, tokoh legendaris Betawi yang sukses dalam dunia music local dan juga pemain film. Tidak kurang 70 album music yang dihasilkannya dan lima puluhan film yang juga diperaninya. Pelakon Bunyamin Sueb juga sangat berbakat dan memiliki talenta yang baik untuk seni peran. Mereka dipilih oleh kawan-kawan mereka sendiri untuk tampil dalam acara ini, selain tentu masukan dari Pak Radar Pancadahana.

Saya mencermati terhadap sambutan-sambutan dari Pak Suhadi, selaku pimpinan NSI dan juga penggerak acara TGM ini. Beliau menyatakan bahwa acara ini memiliki keunikan tersendiri, sebab seluruh peserta TGM ini biaya sendiri. Mereka mengumpulkan uangnya sendiri sampai bisa berangkat mengikuti acara TGM. Tidak hanya yang beragama Buddha akan tetapi juga ada dua mahasiswa UIN Ar Raniri Aceh yang bersama-sama dalam perjalanan panjang. Mereka bisa menyatu dengan sangat baik, tidak hanya sesama peserta tetapi juga dengan para santri pondok pesantren yang didatanginya. Bahkan acara selalu tambah waktunya karena keakraban yang bisa dijalin. Misalnya di Rembang yang seharusnya acara selesai jam 15.00 WIB ternyata selesai yang 16.30 WIB. Para kyai sangat welcome atas kedatangan peserta TGM, misalnya bahkan di Pesantren An Nuqayah, seluruh peserta diberi makan gratis.

Agama masih diperlukan di era Revolusi Industri 4.0. Ada banyak hal yang bisa ditanyakan kepada Google, misalnya akan tetapi ada juga yang mesin pencari tersebut tidak mampu menjawabnya. Kita berangkat di kawal oleh Patwal untuk mengejar waktu agar bisa datang di Rembang tepat waktu, akan tetapi ternyata hal itu tidak sesuai dengan rencana. Ada factor di luar kemampuan manusia untuk memprediksinya. Itulah sebabnya mereka ini harus tetap berada di dalam keberagamaannya. Mereka harus memperoleh siraman rohani selain siraman wawasan kebangsaan. Peserta TGM ini datang di Surabaya jam 24.00 WIB. Akan tetapi mereka tidak langsung ke Islamic Center, sebab mereka harus lapor dulu kepada Buddha bahwa mereka sudah datang di Surabaya dalam bentuk ritual kepada Tuhan.

Pak Suhadi menyatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat baik untuk membina generasi muda yang ke depan tentu akan menjadi penerus generasi tua yang tentu akan meninggalkannya. Dan kita berharap banyak terhadap para generasi muda yang memahami kebinekaan bangsa ini.

Wallahu a’lam bi al shawab,

 

MERESPON RADIKALISME MELALUI GERAKAN MODERASI BERAGAMA

MERESPON RADIKALISME MELALUI GERAKAN MODERASI BERAGAMA

Saya diminta oleh Prof. Dr. Babun Soeharto, MM., selaku Ketua Forum Pimpinan PTKIN, untuk menjadi pembahas dalam acara bedah Buku “Moderasi Beragama, Dari Indonesia untuk Dunia” yang ditulis oleh para rector PTKIN se Indonesia. Buku yang sangat menarik sebab para penulisnya adalah orang-orang yang paling bertanggungjawab terhadap pengembangan pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan di bawah Kementerian Agama. Hadir seluruh Rektor PTKIN, Direktur Diktis, Prof. Arsekal Salim, dan Kasubdit Pengabdian Masyarakat Diktis, Dr. Suwendi dan juga para pejabat di lingkungan IAIN Jember. Acara ini digelar di Hotel Ketapang Indah, Banyuwangi, 20-22 Juni 2019.

Para rector yang selama ini disibukkan oleh urusan adminitrasi pendidikan tinggi akhirnya tergerak juga untuk menulis dengan tulisan yang sangat akademis, berisi konsep-konsep dan teori-teori serta aplikasi dari gerakan moderasi beragama. Memang semenjak digulirkan oleh Pak Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI, gebrakan untuk mengembangkan Moderasi Agama tersebut terus menuai penguatan. Dan tulisan para rector PTKIN ini membuktikan sebagai bagian dari komitmen para rector untuk terlibat secara partisipatif di dalam pengembangan gerakan moderasi beragama dimaksud.

Buku bagus ini ditulis oleh Prof. Babun Soeharto, Prof. TGS. Saidurrahman, Prof. KH. Ahmad Mujahidin, Prof. Mahmud, Prof. Syamsun Nizar, Prof. Muhibbin, Dr. Idrus al Hamid, Prof. Ibrahim Siregar, Dr. Mudzakir, Dr. Syarif, Dr. Andi Nuzul, Dr. Hasbullah Toisuta, Dr. Mudhofir Abdullah, Prof. Mujiburrahman, Prof. Segaff S Pettalongi, Dr. Muhammad Ilyasin, Prof. Moh. Mukri, Dr. Khairil Anwar, Prof. Fauzul Iman, dan Prof. Masdar Hilmy. Juga diberi kata pengantar oleh Prof. Kamaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag. Buku setebal 410 halaman ini dicetak oleh LKIS, penerbit yang selama ini memiliki reputasi sangat baik dalam percaturan penerbitan buku di Indonesia. Konon katanya, buku ini disiapkan dalam waktu yang singkat 2 (dua) pekan dan telah terbit dengan baik. Buku ini merupakan respon atas keinginan Pak Menteri Agama agar para rector merumuskan pijakan dalam kerangka Gerakan Moderasi Beragama yang menjadi tema sentral dalam Kementerian Agama.

Ketika saya membaca buku, maka yang saya lihat pertama ialah apakah referensinya banyak. Dan ternyata buku ini meskipun disiapkan dalam waktu yang pendek tetapi sangat ilmiah. Bagi saya ukuran ilmiah ialah jika di dalam setiap halaman terdapat banyak catatan footnote dan buku Moderasi Beragama ini telah memenuhi persyaratan akademis dimaksud. Tulisan Prof. Babun Soeharto, Prof. Saidurrahman, Prof. Mujahidin, Prof. Mujiburahman, Prof, Mukri, Dr. Idrus al Hamid, Dr. Mudhofir, Dr. Mudzakir, dan sebagainya telah memiliki kekayaan referensi sebagai persyaratan sebagai tulisan ilmiah. Selain itu juga didapatkan tulisan yang merupakan hasil perenungan mendalam mengenai gerakan moderasi beragama. Sungguh membaca buku ini sangat memenuhi harapan tentang what is Gerakan Moderasi Beragama dan wa ma adraka ma Gerakan Moderasi Beragama. Hanya saja tentu ada catatan kecil masih terdapat beberapa kesalahan ketik yang bisa mengganggu terhadap “kehebatan” buku ini.

Sambil gurau saya nyatakan: “jika para dosen menulis bisa menghasilkan buku, jika para birokrat menulis menghasilkan proyek, maka jika rector menulis bisa menghasilkan buku plus proyek”. Jadi buku ini tentu tidak akan berhenti menjadi bahan bacaan yang berharga saja, tentu akan ditindaklanjuti dengan program dan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi para akademisi dan juga para mahasiswa.

Saya menyampaikan tiga hal di dalam forum ini: pertama, ucapan selamat atas terbitnya buku yang sangat berkualitas yang ditandai dengan banyak referensi yang digunakan sebagai pembangun “kepekaan” akademis. Buku ini memenuhi standart akademis karena hal tersebut. Meskipun para rector itu sibuk dengan urusan administrasi dalam berbagai jenisnya, ternyata masih bisa meluangkan waktu untuk menulis serius. Saya mengapresiasi sangat tinggi terhadap terbitnya buku ini.

Kedua, tantangan kita dewasa ini sangat besar, terutama dari kalangan radikalis dalam pemahaman ajaran agamanya. Pasca pilpres kita melihat ada hal mendasar yang penting diperhatikan ialah semakin menguatnya Islam politik dan identitas politik. Menjelang pilpres kita dibuat silang sengkarut karena Islam politik dan identitas politik yang luar biasa hingar bingarnya. Di media sosial perang wacana dengan basis agama itu sedemikian kuatnya.

Pilihan politik ke 01 dan 02 dibatasi dengan identitas politik keagamaan. Dan jumlahnya relative berimbang. Meskipun pemilahan ini tidak logis, akan tetapi inilah yang berkembang di media sosial dan memiliki banyak pengaruh kepada masyarakat kita. Orang memilih pasangan capres didasari oleh kuatnya pengaruh media sosial, bahwa pasangan capres 01 dan 02 dilegitimasi oleh keyakinan beragama. Meskipun pilpres sudahlah usai, akan tetapi proxy war akan terus berlangsung dengan tensi yang fluktuatif. Ada kalanya meningkat dan ada kalanya merendah. Itulah sebabnya, para rector harus terlibat di dalam perbincangan mengenai nasib bangsa ini ke depan, agar Pancasila dan NKRI akan terus berlanjut.

Radikalisme semakin kuat ditandai dengan hasil survey beberapa lembaga riset. Yang terakhir survey yang dilakukan oleh Kemenhan (JP,18/06/2019), sebagaimana disampaikan oleh Ryamizard Ryacudu, bahwa Survey yang dilakukan oleh Kemenhan, 2019: 3 (tiga) persen TNI terpapar gerakan radikalisme, Sebanyak 18,1 persen pegawai swasta terpapar radikalisme, 19,4 persen PNS terpapar radikalisme,  19,1 persen pegawai BUMN terpapar radikalisme, 23,4 persen mahasiswa terpapar radikalisme dan 23,3 persen siswa SMA terpapar virus setuju jihad untuk menegakkan negara Islam di Indonesia.

.Angka ini nyaris sama dengan survey Alvara (2017) bahwa ada sebanyak 22,2 persen PNS yang terpapar virus radikalisme. Kisaran angka 19-23 persen untuk PNS yang terjangkiti virus radikalisme tentu membahayakan bagi kelangsungan negeri ini. usia para radikalis juga semakin muda. Jika di masa lalu adalah kisaran usia di atas 30 tahun, maka sekarang kisaran 20 tahunan. Mereka adalah anak-anak muda yang terpengaruh oleh media sosial yang menawarkan solusi instan dalam menghadapi kehidupan.

Ketiga, lalu apa yang bisa dilakukan oleh para rector PTKIN? Menurut saya ada beberapa hal yang harus dilakukan percepatan, yaitu:

1) melanjutkan buku ini dengan kegiatan aplikatif. Kita harus bergerak. Dari wacana ke gerakan atau meminjam bahasa tentangga sebelah dari halaqah ke harakah. Jika menulis buku adalah bagian dari halaqah, maka perlu tindakan praksis untuk menggerakkan seluruh komponen dunia PTKIN untuk bersama satu visi dan misi membuat dan melaksanakan program dan kegiatan moderasi beragama.

2) diperlukan pemihakan anggaran untuk kepentingan mendidik seluruh mahasiswa dalam rangka gerakan moderasi beragama ini. Seluruh mahasiswa tahun pertama harus mendapatkan pendampingan dari seniornya untuk memahami tentang moderasi beragama. Tehnik dan caranya bisa didiskusikan lebih lanjut. Demiian pula anggaran negara (anggaran Kemenag) untuk membiayai proyek besar nasional dalam kerangka mempertahankan Pancasila dan NKRI bagi bangsa ini.

3) agar seluruh civitas akademika memberikan dukungan dan demikian pula Direktorat Pendidikan Tinggi Islam pada Diitjen Pendidikan Islam juga harus memprioritaskan program ini. Diperlukan pemihakan yang serius untuk kepentingan besar bagi bangsa Indonesia. Jangan sampai kita menyesal karena meninggalkan generasi yang akan datang yang tidak lagi mengenal falsafat bangsanya dan dasar ideologis bangsanya, sehingga mereka tertarik dengan percobaan untuk mendirikan falsafat dan dasar negara dengan lainnya. Dan saya kira semua pasti bisa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PUASA; INSTRUMEN PENGAMPUNAN DOSA (4)

PUASA; INSTRUMEN PENGAMPUNAN DOSA (4)
Di dalam setiap agama diajarkan tentang pertobatan dan pengampunan. Tobat ialah suasana kembali dalam kebenaran dan kebaikan. Jika orang sudah melakukan kesalahan, kekhilafan atau dosa, maka agama menyediakan satu instrument untuk melakukan pertobatan. Secara lughowi, taubatan atau tobat ialah kembali kepada jalan yang benar, jalan yang diridlai Tuhan dan jalan yang akan mengantarkan kepada kebaikan. Di dalam tobat tersebut harus diniatkan dengan kuat dan tanpa pantang menyerah untuk melakukan kebaikan, dan juga harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas.
Manusia adalah makhluk Allah yang rentan terhadap kesalahan dan kekhilafan. Bahkan juga rentan dalam menghadapi perbuatan dosa. Sesungguhnya manusia memiliki dua potensi, yaitu berbuat baik dan berbuat jelek. Di dalam keadaan tertentu, manusia bisa jatuh dalam perbuatan jelek, baik disadari atau tidak disadarinya. Ada perbuatan jahat yang disengaja dan ada perbuatan jahat yang tidak dikehendakinya. Perbuatan jelek yang dikehendaki, misalnya ialah tindakan melakukan pencurian, perampokan, pembunuhan, korupsi dan sebagainya. Sedangkan perbuatan jahat yang tidak dikehendaki, misalnya ialah seseorang dalam ancaman untuk melakukan perbuatan tercela, seperti meminum alkohol, melecehkan, terpaksa melakukan pembunuhan karena factor terdesak, dan sebagainya.
Manusia bisa berada di dalam konteks kal malaikat atau seperti malaikat yang selalu berbuat baik karena terus menerus mengembangkan potensi dirinya untuk berbuat baik, dan ada kalanya manusia itu kasy syaithan atau seperti syaithan karena selalu berbuat jahat yang disengajanya. Manusia bisa juga berada di antara dua posisi tersebut, sekali waktu baik dan sekali waktu jahat. Di sinilah Allah memberikan instrument pertobatan, yang sesungguhnya sangat banyak, tetapi yang istimewa ialah menjalankan puasa pada Bulan Ramadlan.
Hanya Nabi Muhammad saw yang mendapatkan gelar “manusia ma’shum” atau manusia yang tidak berdosa di hadapan Allah swt. Beliau adalah manusia teladan di dalam kehidupannya, sebab memang dijadikan oleh Allah sebagai manusia tanpa dosa. Apa yang dilakukannya adalah manifestasi wahyu dan dengannya Nabi Muhammad saw dibimbingnya. Makanya, seluruh kehidupannya adalah teladan agung yang semestinya diikuti oleh hambanya.
Manusia lain secara pasti memiliki kesalahan, kekhilafan atau dosa baik besar atau kecil. Melihat kenyataan ini, maka Allah dengan sifat dasarnya ialah Rahman dan Rahim, maka memberikan peluang bagi hambanya untuk bertaubat atau lebih mendalam taubatan nashuha yaitu taubat yang optimal dan tidak ada sedikitpun keinginan untuk mengulanginya.
Momentum untuk bertaubat selalu diberikan oleh Allah melalui ucapan atau tindakan. Dengan ucapan misalnya selalu melafalkan kalimat taubat ialah astaghfirullah al adzim atau doa-doa yang senada dengan ucapan tersebut. Banyak sekali doa yang memberikan gambaran tentang pertobatan. Yang paling sering dibaca ialah: “Rabbigh firli waliwalidayya warhamhuma kama Rabbayani shaghira,” yang artinya kurang lebih ialah: “Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan rahmati keduanya sebagaimana mereka mengasuhku di kala kecil”. Doa ini adalah bentuk ajaran Allah agar kita selalu meminta ampunan dan juga ampunan untuk kedua orang tua kita.
Sudahkah hal ini kita lakukan? Pertanyaan ini saya anggap penting sebab terkadang kita ini lupa seirama dengan kesibukan demi kesibukan yang terus mendera kita setiap hari. Doa ini yang sesungguhnya menjadi “penyambung” relasi kita dengan orang tua kita dan Allah swt. Jika orang tua kita sudah meninggal, maka hanya lantunan doa yang bisa menyambung relasi kita dengannya dan dengan Allah swt. Tiada lagi media lainnya yang bisa menyambungkannya. Allah memberikan instrument kepada kita tentang bagaimana membangun hablum minan nas, khususnya dengan orang tua kita.
Dan sebagaimana yang kita yakini, bahwa Allah adalah dzat yang tidak akan ingkar janji, sehingga jika Allah berjanji akan mengampuni kita dan kita berupaya secara optimal pastilah Allah akan mengampuninya. Sekali lagi hal itu sangat tergantung kepada upaya kita.
Wallahu a’lam bi aal shawab.

PERKUAT TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN TINGGI

PERKUAT TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN TINGGI

Saya diundang oleh Dr. Ah. Ali Arifin, Drs, MEI., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Ampel Surabaya dalam acara ramah tamah dan halal bil halal untuk jajaran pimpinan, dosen dan tenaga kependidikan, Selasa, 18 Juni 2019. Acara ini digelar di ruang pertemuan FEBI dan dihadiri oleh para pimpinan, dosen dan staf tenaga kependidikan. Hadir pada acara ini ialah Dr. Ah. Ali Arifin, Drs, MEI., Drs. Nurkholis, MEd. Admin., PhD, Prof. Dr. Faishal Haq, dan sejumlah dosen lainnya.

Saya merasa berbahagia sebab di dalam acara ini hadir Prof. Faishal Haq, beliau adalah kyai yang sangat mumpuni di dalam ilmu keislaman dan berkemampuan sangat baik dalam ceramah-ceramah agama. Tugas saya tentu adalah memberikan motivasi bagi para dosen –khususnya dosen muda—untuk semakin kreatif di dalam program pembelajaran, sebab tantangan kita tentu semakin besar menghadapi era revolusi industry 4.0, dan era disruptif sekarang ini.

Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam forum ini, yaitu: pertama, bahwa ada beberapa tantangan terkait dengan pendidikan tinggi ialah matinya kepakaran. Sebuah buku yang ditulis oleh Tom Nichols, “The Death of Expertise” adalah wake up call untuk kita semua bahwa dunia kita sedang menghadapi suatu kenyataan bahwa kepakaran yang dahulu menjadi kekuatan kita akan dihabisi oleh teknologi informasi (TI).

Sambil berseloroh saya sampaikan kepada Prof. Faishal Haq, bahwa kepakaran beliau di bidang ilmu agama sekarang sudah direbut oleh Google. Kyai Google ini luar biasa sebab bisa memberikan jawaban yang sangat cepat terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang agama. Semua ada di situ, sehingga kalau orang bertanya tentang agama tidak perlu datang ke kyai. Sekarang kyai itu ada di tangan kita melalui teknologi android. Orang bertanya tentang fiqh, hukum Islam, perbandingan madzab dan soal-soal pelik lainnya cukup dengan Google Search. Selesai dan terjawab.

Anak-anak SMA atau Madrasah Aliyah tidak perlu bertanya kepada gurunya, tetapi cukup ke Ruangguru untuk menanyakan jawaban atas persoalan pembelajaran yang dihadapinya. Akhir-akhir ini banyak sekali aplikasi yang menyediakan ruang bagi para siswa untuk memperoleh bimbingan belajar melalui aplikasi. Rasanya semuanya selesai melalui HP Android.

Kedua, sebuah pernyataan dari Prof. Clayton Christensen, Guru Besar dari School of Business Harvard University, bahwa dalam 10-15 tahun ke depan akan terjadi penutupan kurang lebih 50 persen college atau perguruan tinggi di Amerika Serikat. Dari sebanyak 4000 perguruan tinggi, maka 2000 di antaranya akan tutup karena terdesak oleh penerapan TI. Bukankah ijazah sudah tidak lagi dijadikan sebagai ukuran kemampuan seseorang. Bahkan Google beberapa bulan yang lalu membuat pengumuman akan merekrut tenaga kerja tanpa ijazah. Sebuah tamparan bagi dunia pendidikan yang luar biasa. Bukan maksud Google untuk mereduksi terhadap kapasitas alumni pendidikan akan tetapi memang dia butuh seseorang yang ahli dan memiliki kapasitas praksis atau aplikatif untuk memenuhi kebutuhan SDM Google.

Jadi harus benar-benar diperhitungkan bagaimana kita mengelola pendidikan tinggi ini dalam kerangka agar prediksi Prof. Christensen tersebut tidak menjadi bagian dari pengalaman di Indonesia. Kita memang harus akui bahwa institusi pendidikan itu relative stabil dalam menghadapi goncangan perubahan zaman, akan tetapi dewasa ini saya kira kita tidak boleh terlena dengan stabilitas yang kita rasakan.

Ketiga, kita menghadapi cara belajar anak-anak milenial. Ada beberapa cara belajar anak milenial yaitu: belajar dari pengalaman, eksplorer, petualang, instan dan praktis, kecenderungan tarhadap IT, kolaboratif, dan multitasking. Anak-anak milenial itu senang belajar mengenai pengalaman dan bukan pengetahuan. Pengetahuan bisa dibaca dari media TI. Tetapi pengalaman hanya bisa didapatkan dari orang yang mengalami apa yang diceritakan.

Bagaimana seorang dosen bercerita tentang Imam Syafi’i sebagai pemuka madzab di dalam Islam padahal dosennya tersebut belum pernah datang ke makamnya. Dosen yang pernah datang ke makam beliau, maka akan bisa bercerita tentang apa yang dilihatnya dan dialaminya dalam perjalanan ke pemuka-pemuka madzab dimaksud. Orang mengajar bahasa Inggris tetapi belum pernah datang ke negeri asal bahasa Inggris, atau dosen mengajar bahasa Arab dan belum pernah berkunjung ke negeri asal bahasa Arab.

Anak-anak muda itu suka temuan baru. Makanya dosen harus bercerita tentang temuan baru berbasis riset yang dilakukannya. Anak-anak muda itu suka temuan baru berbasis pada petualangannya di media TI. Dosen harus mengimbanginya dengan kemampuan yang sama dengan anak-anak muda itu, meskipun dalam kapastitas kurang lebih. Jangan menjadi dosen yang sama sekali tidak menguasai teknologi informasi yang paling dasar. Era sekarang menuntut dosen untuk terus menerus menemukan sesuatu baik teori, konsep atau hal-hal praksis bagi mahasiswanya.

Anak muda juga menyukai kolaborasi atau kerja sama. Program pendidikan harus disetting dengan cara pendidikan base on collaboration. Sajikan masalah yang kemudian dicari jawabannya berdasar atas kemampuan kolaborasi. Sudah saatnya program pendidikan diarahkan untuk membangun kemampuan kolaboratif dimaksud. Jack Ma bukanlah ahli TI sebab dia adalah guru Bahasa Inggris, akan tetapi bisa mengembangkan alibaba.com karena kemampuannya untuk berkolaborasi dengan ahli di bidang IT, ekonomi dan sosial lainnya.

Oleh karena itu, mari kita isi institusi pendidikan kita ini dengan program pembelajaran berbasis IT, sebab hanya dengan cara seperti ini, maka kita akan survive di era disruptif sekarang ini. FEBI harus menjadi agen bagi penerapan TI dalam proses pendidikan sekarang dan masa yang akan datang.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JAGA ANAK KITA DARI GERAKAN RADIKAL

JAGA ANAK KITA DARI GERAKAN RADIKAL

Pada hari Ahad, 16 Juni 2019, saya diundang oleh kawan-kawan alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya untuk memberikan taushiyah dalam rangka halal bil halal. Hadir di dalam acara itu, Pak Abdurahman Chudhori, Drs., MM, Pak Sulhawi Rubba, Drs., MSi dan kawan-kawan alumni IAIN Sunan Ampel, tahun 1998. Dan Alhamdulillah saya masih bisa mengenal wajahnya satu persatu, meskipun dari sisi nama saya terkadang lupa. Jadi andaikan bertemu di ruang public lainnya tentu saya mash mengenal bahwa mereka adalah mahasiswa-mahasiswa saya di masa lalu.

Pada saat yang penting ini, saya menyampaikan hal mendasar yang menjadi tantangan kita sebagai umat Islam Indonesia, yaitu tantangan radikalisme dan ekstrimisme dalam beragama. Sesungguhnya jika kita bicara mengenai radikalisme tentu sudah sangat banyak yang membahasnya atau menulisnya. Tema ini sangat banyak dikaji dan dibicarakan terutama di era semakin meningkatnya gerakan radikalisme di tengah kehidupan masyarakat kita.

Saya memang tidak pernah bosan untuk berbicara tentang dampak radikalisme bagi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Saya merasakan denyut radikalisme yang semakin menguat di era akhir-akhir ini. Gerakan radikalisme dan ekstrimisme tersebut semakin menguat di berbagai level masyarakat. Makanya, seharusnya tidak hanya counter wacana yang dilakukan, akan tetapi harus counter action. Jika mereka telah menyasar berbagai segmen masyarakat kita, maka kita juga harus membentengi masyarakat kita dengan kekuatan penuh.

Di dalam forum halal bi halal ini, maka saya sampaikan 3 (tiga) hal, yaitu: pertama, ucapan selamat berhari raya, “ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin wal maqbulin kullu ‘amin wa antum bikhair”. Sudah saatnya di hari raya Eid al Fithri ini, kita semua saling memaafkan atas semua kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Perilaku yang tidak sesuai dengan syariat Islam agar bisa dimaafkan.

Sebagaimana para Ustadz menyampaikan bahwa dosa kita kepada Allah akan bisa diampuni langsung oleh Allah, akan tetapi kesalahan kita kepada orang lain, mestilah dimaafkan oleh orang lain dulu, dan baru Allah memaafkannya. Inilah beratnya kesalahan terhadap sesama manusia. Ada haqqul ‘adam yang harus diselesaikan di antara manusia dalam kesalahan atau kekhilafan yang dilakukannya.

Kedua, saya merasa berbahagia berada di tengah-tengah para alumni IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel), sebab ternyata bahwa para mahasiswa saya di masa lalu itu ternyata sudah menjadi Orang. Orang dengan huruf O besar. Hal ini menandai sebagai kategori tentang ketercapaian visi dan misi yang dahulu pernah dicitakannya. Ada di antara mereka ini yang sudah menjadi dosen, menjadi doctor, menjadi pengusaha, menjadi politisi, menjadi kyai, menjadi guru, menjadi pendamping masyarakat, dan menjadi apa saja yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya.

Semua ini didapatkan tidak hanya berbekal kemampuan hard skill akan tetapi juga soft skill. Jika hard skill adalah kapasitas yang diperoleh melalui bangku kuliah, dengan perolehan ijazah, maka soft skill diperoleh melalui persinggungannya dengan dunia nyata di dalam kehidupan dan pengalaman yang terukur. Tidak pernah terbayangkan di masa lalu mahasiswa IAIN yang hard skill-nya di bidang ilmu keislaman ternyata menjadi pengusaha ayam sukses. Ada yang menjadi pengusaha konstruksi, ada yang bermain di dunia politik dengan menjadi bupati dan bahkan gubernur atau menteri. Semua ini karena kemampuan soft skill yang dimilikinya.

Ketiga, saya merasa berbahagia sebab di acara ini dinyanyikan “Lagu Indonesia Raya”. Lagu kebanggaan kita semua sebagai bangsa. Dan bahkan diteriakkan “NKRI Harga Mati”. Alangkah bahagianya melihat mahasiswa saya di masa lalu itu tetap berada di dalam kesetiaan terhadap Pancasila dan NKRI. Kebahagiaan seorang dosen atau guru ialah melihat keberhasilan mahasiswa itu dan mereka semua tetap berada di dalam kesetiaan terhadap nusa, bangsa dan negaranya.

Kesetiaan kepada negara yang bersanding dan bernafas dengan keislaman inilah yang membuat kita semua merasakan bahwa Indonesia akan terus lestari dengan falsafah dan dasar negara, landasan yuridis dan bentuk kenegaraan yang tidak akan diubah oleh masa. Negara ini harus lestari sebagaimana yang diwariskan oleh leluhur kita. Tidak boleh berubah. Tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas. Sekali merdeka tetap merdeka, sekali Pancasila pantang berubah, dan sekali NKRI tetap selamanya seperti itu.

Oleh karena itu, marilah kita jaga anak kita. jangan sampai mereka terjerembab ke dalam ideology lain yang tidak jelas juntrungannya. Indonesia kita yang besar ini jangan sampai dijadikan eksperimen dengan penerapan ideology lain yang akan mengoyak kesatuan dan persatuan bangsa.

Caranya ialah dengan selalu check and recheck terhadap aktivitas anak-anak kita yang berada di luar jangkauan kita karena sekolah atau kuliah. Amati mereka di dalam kegiatan keagamaannya. Check mereka dalam aktivitas organisasinya. Check siapa saja yang menjadi jejaringnya. Di era yang seperti ini, perhatian orang tua harus diperkuat agar anak kita tidak jatuh ke dalam pelukan ideology lain yang menyesatkan. Sekali mereka terkena racun ideology yang merusaknya, maka rugilah kita semua. Tidak hanya keluarga yang merugi tetapi juga masyarakat dan bangsa secara keseluruhan.

Sebagai orang tua sudah selayaknya kita membentengi anak-anak kita dan keluarga kita dari pengaruh negative yang semakin nyata di hadapan kita. dan jangan pernah berpikir bahwa anak kita dipastikan selamat dari dampak gerakan radikal dan ekstrim, terkecuali kita menyaksikannya sendiri tentang apa yang dilakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.