Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PUASA; MENINGKATKAN KUALITAS KEIMANAN (20)

PUASA; MENINGKATKAN KUALITAS KEIMANAN (20)

Oleh: Ning Izmi Nugraheni

Pada bulan Ramadhan yang kini telah memasuki hari ke-19, Dr. Chabib Musthafa, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Sunan Ampel Surabaya yang memberikan taushiyah keagamaan pada jamaah tarawih Mushalla Al Ihsan, Perumahan Lotus Regency, Ketintang Surabaya. Tentu dengan taushiyah yang disampaikan, saya sangat bersyukur karena untuk ke sekian kalinya saudara Chabib Musthafa bisa memberikan ceramah seputar agama di bulan yang penuh berkah.

Pada kesempatan ini, Jika sebelumnya Pak Chabib memulai ceramahnya dengan bentuk ilustrasi tapi kini ada yang berbeda. Pak Chabib memulai ceramahnya dengan menceritakan sebuah kisah yang cukup menginspirasi, yaitu kisah antara sang penggembala domba dan singa. Tak hanya itu, terdapat makna tersirat dan hikmah yang luar biasa di balik kisah tersebut. Tentu akan menjadi lebih baik jika kita memetik hikmah dalam kisah tersebut sebagai sebuah pembelajaran demi sebuah perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Pak Chabib mengutip Karya Kyai Asrori  Magelang (Kyai asli Orang Jawa) yang berjudul Hikayatul Badiah yang juga merupakan kutipan dari karya Imam Nawawi yang berjudul  Asy-Syifa.

Kisah tersebut menggambarkan sebuah cerita bahwa terdapat salah seorang penggembala domba. Suatu hari, tiba-tiba terdapat seekor singa yang datang menghampiri domba-domba milik sang penggembala domba. Lantas, seekor singa itu ingin memakan seekor dombanya. Namun, sang penggembala tak menginginkan dan bahkan menghalangi singa itu untuk memakan seekor domba miliknya.

Pak Chabib melanjutkan kisah tersebut bahwa seketika pada saat itu juga terjadi sebuah perbincangan yang tidak biasa antara sang penggembala dan seekor singa itu. Sebab mana mungkin ada seorang manusia dapat berbicara dengan hewan. Singa berkata ‘Maa Haqquka wa Maa Rizquka’ yang artinya dalam bahasa indonesia ‘Apa hak kamu dan apa yang menjadi rezeki kamu’. Singa melanjutkan perbincangannya dan ia berkata, sebab terdapat makhluk yang jauh lebih utama dan mulia disana. Singa itu kembali bertanya ‘Maukah aku tunjukkan padamu makhluk itu?’. Kemudian, singa itu pun memberitahu sang penggembala, jika kamu menginginkan makhluk itu.  Kau dapat temui makhluk tersebut di balik pegunungan.

Namun, sang penggembala masih belum juga memutuskan keinginan untuk pergi ke pegunungan yang disampaikan oleh singa. Dalam benak Sang penggembala masih saja terfikirkan dan berat hati untuk meninggalkan hewan ternaknya sebab ia khawatir dengan keadaan domba-domba miliknya jika ia harus pergi ke pegunungan.  Akhirnya, Sang penggembala pun bertanya kepada singa ‘Lalu siapa yang akan menjaga domba-domba milikku jika aku pergi ke pegunungan itu’. Singa pun menjawab seketika itu juga ‘Berangkatlah, Aku yang akan menjaga seluruh domba milikmu’. Kemudian, pada akhirnya barulah ia memutuskan diri dan rela hati meninggalkan dombanya untuk berangkat ke pegunungan.

Seketika, tibanya di pegunungan dan dilihatnya memang terdapat makhluk dibalik pegunungan tersebut. Ternyata makhluk yang dimaksud oleh singa yakni sosok yang menjadi suri tauladan umat Islam baik dari segi perkataan dan perbuataan yang melekat padanya sifat-sifat yang luar biasa, yaitu Siddiq (Jujur), Amanah (Bertanggung Jawab), Tabligh (Menyampaikan), Fathonah (Cerdas). Makhluk itu bernama Nabi Muhammad SAW.  Pada saat itu juga, sang penggembala itu akhirnya angkat ba’iat lalu masuk Islam.

Sang penggembala itu bernama Salama Al-‘Aqwa dan bapaknya Sinan ibn Abdullah yang telah meriwayatkan 77 hadist. Salama meninggal 74 Hijriah tepat saat usianya 80 tahun.

Maka pembelajaran dan hikmah yang dapat dipetik dari kisah Sang Penggembala dan Singa, yaitu Al-Iman wa Al-Amanah yang artinya Iman dan Tanggung Jawab.

Dalam At-Takrifat menurut Al-Jurjani (wafat pada 816 H), iman secara bahasa adalah membenarkan dengan hati. Sementara menurut syariat, iman adalah meyakini dengan hati dan mengikrarkan dengan lisan.

Definisi ini sejalan dengan dikemukakan Ibnu Hazm AL-Andalusi Al-Qurthubi (wafat pada 456 H) dalam Al-Fathlu fil Milal. Sedang, Ibnu Hazm menyampaikan keyakinan hati dan pengakuan lisan itu harus berlangsung secara bersamaan. Menurut para ulama lain, amal perbuatan adalah konsekuensi dari iman itu sendiri.

Sudah tentu dengan kisah sang penggembala yaitu Salama Al-‘Aqwa yang memiliki amanah atau tanggung jawab yang besar pada hewan ternaknya mencerminkan keyakinan hati yang teguh dan kuat jika hewan ternak yang telah dianugerahkan kepadanya perlu dijaga dan dirawat dengan sebaik mungkin. Tergambarkan saat Salama menghalang-halangi singa memakan seekor domba miliknya dan tak segera memutuskan untuk meninggalkan hewan ternaknya itu.

Bahkan, tak hanya itu sebab keyakinan hati, kesungguhan dalam megawal dan menjaga dombanya. Ia mendapat sesuatu yang jauh lebih besar yang tak terbayangkan. Ia dapat bertemu dengan Rasulullah dan yang akhirnya membuatnya masuk Islam.

Demikian sama halnya dengan shalat tarawih pada bulan Ramadhan bulan penuh berkah ini. Bulan istimewa sebab hanya sekali hadir dalam setahun. Kita semestinya berupaya untuk lebih mendekatkan diri pada Allah dan menjaga hubungan serta komunikasi kita dengan Allah (hablun mina Allah). Dengan itu akan dapat meningkatkan kualitas keimanan kita. Bahkan, tak hanya itu sebab dengan kesungguhan kita dalam menjaga dan mengerjakan shalat tarawih walaupun bersifat sunnah insha Allah kita mendapatkan hadiah yang jauh lebih besar. Allah melimpahkan kepada kita pahala dan menghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan di masa lampau. Maka, kenapa terdapat istilah kata ‘Kembali Suci’ jika telah memasuki Hari Raya Idul Fitri.

Sebagaimana hadist Nabi diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Muslim yang berbunyi ‘Man qama ramadhona imaanan wa ihtisaban iqfiro lahu  ma taqoddama min dzanbihi’ yang artinya ‘Barang siapa ibadah (tarawih) di Bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau”.

Demikian disampaikan oleh Pak Chabib pada ceramhnya, siapa-siapa menginginkan iman yang baik maka perlu menjaga amanah dengan baik pula sebab amanah atau tanggung jawab merupakan bentuk implementasi dari kualitas keimanan seseorang. Maka, semakin menjaga amanah atau tanggung jawab, maka semakin meningkat pula kualitas keimanan seseorang.

Kita ketahui secara seksama sebagaimana di atas bahwa Amanah atau tanggung jawab juga merupakan salah satu sifat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW, tentu dengan harapan sebagai umat Islam dapat mencontoh sifat amanah yang dimiliki oleh Rasulullah dengan menerapkan nilai-nilai tanggung jawab pada setiap apapun yang kita hadapi dan kerjakan. Serta, kapan pun dan dimana pun kita berada.

Demi meningkatkan kualitas keimanan kita sudah seharusnya mulai dari hari ini kita menanamkan setiap saat nilai-nilai tanggung jawab pada setiap apapun yang telah Allah berikan kepada kita saat ini, baik itu berupa pekerjaan, tugas, keluarga, teman, atau pun organisasi dengan penuh kesungguhan dalam mengerjakan sebab hal itu menjadi penanda jika iman kita kuat dan kita insha Allah mendapatkan sesuatu dari Allah yang jauh lebih besar berkat tangggung jawab, keimanan, serta kesungguhan serta ikhlas dalam mengerjakan suatu hal apapun.

wallahu a’lam bi al shawab

Puasa: Hak Muslim Atas Muslim yang Lain (16)

Puasa: Hak Muslim Atas Muslim yang Lain (16)

Muh. Yusrol Fahmi

Malam ke-16 ramadlan 1440H yang bertugas menjadi penceramah di Musholla Al-Ihsan, Perumahan Lotus regency, Ketintang Baru Selatan IA,  adalah KH. Suyuti Rosyad. Mengawali paparannya beliau mengutip hadist nabi tentang hak muslim atas muslim yang lain.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Hadist ini menyiratkan bahwa hak muslim kepada muslim yang lain ada enam, yaitu:Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman) (HR. Muslim, No. 2162).

Pertama, mengucapkan salam apabila bertemu. Salam merupakan do’a, dengan begitu ketika seseorang mengucap salam maka sama halnya dia sedang mendoakan kebaikan kepada saudara kita. Tujuan dari mengucap salam ini tidak lain adalah untuk menumbuhkan rasa cinta sesama muslim, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا، أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحابب؟ أفشوا السلام بينكم

Yang artinya Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian kerjakan kalian akan saling mencinta? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah).

Dalam mengucapkan salam juga ada adab yang harus kita jadikan sebagai pedoman, diantaranya yang muda mengucap salam kepada yang tua. Kelompok orang yang jumlahnya lebih kecil mengucap salam kepada orang yang jumlahnya lebih banyak, dan terakhir orang yang naik kendaraan mengucap salam kepada orang yang sedang berjalan.

Kedua, memenuhi undangannya. Hak ini menunjukkan betapa pentingnya kita menjaga relasi dengan sesama muslim, artinya jika kita diundang oleh saudara atau tetangga sesame muslim hendaknya kita penuhi undangan tersebut. Para ulama’ berpendapat undangan yang harus dipenuhi  dan bahkan memiliki hukum wajib ialah memenuhi undangan walimatul ursy, sedangkan memenuhi undangan lainnya berhukum sunnah. Relasi semacam itu jika mampu menjaga dan merwatnya maka akan menumbuhkan rasa kasih sayang yang semakinkuat antara sesame muslim.

Ketiga, Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya. Kewajiban kita bagi sesame muslim tidak lain adalah saling mengingatkan kepad saudara kita. Sebab perilaku ini merupakan bagian dari perintah agama, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الدين النصيحة  قلنا : لمن قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

Agama adalah nasehat untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan pemimpin kaum muslimin, dan untuk semua kaum muslimin” (HR Muslim).

Nasihat kepada sesama muslim pada umumnya nasihat untuk beribadah keapa Allah, memerintahkan yang ma’ruf, melarang perbuatan munkar.

Meberikan nasihat bisa menjadi suatu kewajiban bagi kita apabila kita melihat saudara kita melakukan suatu hal yang berakibat buruk padanya atau mendatangkan dosa atasnya. Sebagai sesama muslim ini  merupakan sebuah kewajiban yang harus kita lakukan, walaupun saudara kita itu tidak meminta untuk dinasehati. Akan berbeda halnya jika kita melihat saudara kita melakukan sesuatu yang tidak akan mendatangkan dosa akan tetapi mendapatkan manfaat yang lebih besar, amak kita tidak memiliki kewajiban untuk menasehatinya, terkecuali dia memintanya.

Keempat, Mendoakan ketika bersin. Mendoakan seorang muslim ketika bersin wajib hukumnya dan wajib pula bagi yang bersin menjawab do’a tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda jika salah seorang dari kalian bersin, hendaknya ia mengucapkan الحمدلله (Segala puji bagi Allah), sedangkan yang mendengarnya mengucapkan يرحمك الله (Semoga Allah merahmatimu), lalu membalas dengan ucapan  يهديكم الله و يصلح بالكم ( Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki urusanmu). (HR Bukhari). Apabila sudah mendoakan tiga kali, sedangkan orang tersebut masih bersin maka yang keempat ucapkanlah  عافاك الله(Semoga Allah mengampuni mu) sebagai pengganti dari ucapan يرحمك الله..

Kelima, Apabila dia sakit, jenguklah dia. Imam Al-Bukhari pun menegaskan tentang kewajiban hal ini, namun wajib kifayah. Sementara mayoritas ulama berpendapat menjenguk saudaranya yang sakit adalah sunnah, bahkan imam Nawawi menegaskan bahwa ijma’ ulama menghukumi sunnah. Menjenguk saudaranya ketika sakit merupakan suatu bentuk empati yang sangat tinggi, betapa sesama muslim saling membantu dan menguatkan satu dengan lainnya baik di saat senang maupun susah.

Keenam, Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman). Nabi memberikan keteladanan kepada kita semua bahwa berempati dengan sesama muslim tidak hanya dalam keadaan hidup saja, melainkan dalam keadaan meninggal dunia seorang muslim juga harus berempati dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Demikian enam hak antar sesama muslim yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila kita renungkan lebih dalam dan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, betapa indah dan harmonisnya persaudaraan dengan sesame muslim.

Akhirnya, semoga kita semua dimudahkan mengamalkan tuntunan tersebut tersebut…Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA: AL QUR’AN SEBAGAI MU’JIZAT (18)

PUASA: AL QUR’AN SEBAGAI MU’JIZAT (18)

Sebagaimana malam sebelumnya, maka Sdr. Khabirul Amru yang berlaku sebagai penceramah agama pada Mushallah Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Pada kali ini tema ceramahnya ialah mengeni “Al Qur’an sebagai Mu’jizat Nabi Muhammad saw”.

Setiap Nabi yang diutus oleh Allah swt selalu dibarengi dengan pemberian mu’jizat yang sesuai dengan zamannya. Misalnya Nabi Musa As., diberi mu’jizat berupa tongkat yang tongkatnya bisa berubah menjadi ular atau bisa membelah lautan menjadi dua bagian. Nabi Isa bisa berbicara di waktu baru lahir, bisa menghidupkan burung yang sudah mati dan sebagainya,

Nabi Muhammad saw diberikan oleh Allah berupa Al Qur’an sebagai mu’jizat. Para ulama bersepakat bahwa ayat pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw ialah ayat 1 sampai 5 Surat Al Alaq. Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw saat Beliau sedang berada di Gua Hira’ tempat yang selalu dijadikannya sebagai tempat untuk berdoa dan bermunajah kepada Tuhan Allah. Nabi Muhammad memang sering datang ke Gua Hira’ sebagai tempat yang untuk bermunajat dalam waktu yang bervariasi. Terkadang sehari semalam, tiga hari tiga malam dan bahkan juga berminggu-minggu. Di saat seperti itu, biasanya Khadijah –isteri Beliau—mengirimkan makanan kepadanya. Di taruh makanan itu di dekatnya dan kemudian ditinggal kembali pulang.

Pada suatu malam, di saat Nabi Muhammad sedang bermunajat kepada Allah, tiba-tiba datang Malaikat Jibril –tidak diceritakan wujud Malaikat Jibril tersebut—dan meminta Nabi Muhammad untuk menirukan ucapannya. Malaikat Jibril berkata: “Iqra”, maka Nabi menjawab: “ma ana biqari’in”. maka Malaikat Jibril mengucapkannya lagi dan Nabi Muhammad menirukannya sampai tuntas ayat ke lima dari Surat Al Alaq.

Setelah selesai bertemu dengan Malaikat Jibril, Nabi Muhammad saw kemudian pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, kemudian bertemu dengan isterinya –Khadijah—dalam keadaan menggigil kedinginan. Oleh isterinya kemudian diselimuti. Lalu datang lagi Malaikat Jibril dan menyatakan: “Ya ayyuhal mudatstsir, Qum fa andzir wa rabbaka fa kabbir”. Yang artinya: “Wahai orang yang berselimut, bangunlah lalu beri peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu”. Oleh Khadijah kemudian diajaklah Nabi Muhammad bertemu dengan Pendeta Kristen yang bernama Waraqah binti Naufal, sepupu Khadijah. Lalu Muhammad saw bercerita tentang apa yang dialaminya. Waraqah memperhatikan fisik dan perawakan Nabi Muhammad saw dan kemudian menyatakan bahwa kelak Muhammad akan menjadi seorang utusan Allah sebagaimana diwartakan di dalam Kitab yang dipelajarinya”.

Semenjak menerima wahyu, maka Muhammad saw sudah menjadi utusan Allah, yang kemudian mengajak umat untuk mengimani keberadaan Allah swt dan mengamalkan ajaran agamanya. Banyak suka dan duka yang dialami, sampai kemudian Beliau berhijrah di Madinah untuk menanamkan aqidah dan pengamalan Islam, dalam kurun waktu 23 tahun semenjak menerima wahyu pertama di Gua Hira’.

Kitab al Qur’an adalah kitab suci umat Islam dan merupakan pedoman yang berasal dari wahyu Allah swt. Al Qur’an merupakan mu’jizat terbesar Nabi Muhammad saw. Al Qur’an sebagai mu’jizat memiliki kekuatan dalam segi kebahasaannya. Al Qur’an itu membuat bingung ahli-ahli syair di Arab. Al Qur’an itu bukan prosa dan juga bukan syair. Al Qur’an memiliki langgam bahasa yang khas dan tidak bisa ditandingi oleh akal manusia.

Pada zaman Arab Jahiliyah, di Mekah selalu diselenggarakan semacam festival membuat syair dan yang menang syairnya ditempelkan di dinding Ka’bah sebagai penghargaan. Orang Arab kala itu sudah sangat ahli dalam menyusun syair dengan kualitas sangat tinggi. Salah satunya ialah Musailamah al Kadzdzab. Misalnya: Ya dzifda’ata binti abdifta’aini nakiya lakum tankina lal ma’a takdirin wala syariba ta’ nain ro’suka fil ma wadzambuka fiddin. Terjemah ialah: “wahai katak betina, anak dari dua pasang katak bersihlah apa yang kamu bersihkan air, tidak kamu kotori dan peminum tidak kamu halangi, kepalamu di dalam air sedangkan ekormu di darat. Musailamah juga berkata: “wal fiil wama adrokamal fil lahu zhulumu thowil,” artinya: “dan gajah, tahu kah kamu apa itu gajah ia memiliki perawakan yang panjang.”

Karya Musailamah al Kadzdzab ini dimaksudkan untuk menandingi Surat Al Fil yang merupakan wahyu Allah. Tetapi sayangnya sebagaimana para ahli bahasa Arab dan sastra Arab justru menyatakan bahwa karya Musailamah ini sama sekali jauh dari kualitas kebahasaan yang ada di dalam ayat al Fil.

Sebagaimana dia telah melakukan penipuan menganggap dirinya Nabi tersebut maka Musailamah digelari dengan sebutan “tukang pembohong”. Dan memang nyata bahwa tidak ada kekuatan manusia untuk menandingi kehebatan kebahasaan Al Qur’an yang bukan karya manusia tetapi firman Allah swt.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA; IMAN SEBAGAI FONDASI ISLAM (19)

PUASA; IMAN SEBAGAI FONDASI ISLAM (19)

Pada malam 19 Bulan Ramadlan, Alhamdulillah yang hadir sebagai penceramah tarawih ialah Dr. Abdul Halim, Drs., MAg., Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi pada UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau tidak hanya seorang birokrat kampus tetapi juga telah malang melintang dalam dunia dakwah dalam waktu yang cukup panjang.

Beliau menyampaikan tema yang sangat relevan dengan tradisi menjalankan puasa di kalangan umat Islam, yaitu bagaimana kita semua harus menjadikan Iman sebagai landasan di dalam pelaksanaan ibadah kita kepada Allah swt. Tanpa iman yang benar maka ibadah kita akan menjadi sia-sia dan tidak ada maknanya. Pak Halim –demikian saya biasa memanggilnya—menyampaikan awal surat Al Baqarah, yang bunyinya ialah: Alif Lam Mim, dzalikal kitabu la raiba fihi hudan lil muttaqin. Allladzina yu’minuna bil ghaibi wa yuqimunas shalata wa mimma razaqnahum yunfiqun. Walladzina yu’mina bima unzila ilaika wa ma unzila min qablika wabil akhiratihum yuqinun”. Artinya: “Alif Lam Mim, inilah kitab (Al Qur’an) yang tidak diragukan kebenarannya, yang di dalamnya menjadi petunjuk bagi orang mu’min. ialah orang-orang yang beriman kepada yang ghaib dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizkinya. Dan orang-orang yang mempercayai apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan apa yang diturunkan sebelum kamu (Muhammad) dan kepada kehidupan akherat mereka mempercayainya”.

Ayat ini menjelaskan bahwa ada beberapa indicator tentang keimanan dan keislaman seseorang. Iman itu terkait dengan hal-hal yang gaib dan kita harus mempercayainya. Misalnya iman kepada Allah, maka wajib hukumnya kita beriman kepada-Nya tetapi tidak boleh kita berpikir tentang bagaimana wujud atau dzat Tuhan itu. Allah itu Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada sekutu baginya. Dan kita wajib meyakini keberadaannya. Lalu, kita wajib percaya kepada Malaikat. Makhluk yang gaib juga. Manusia tidak bisa mengetahui bagaimana bentuknya. Malaikat ini memiliki tugas-tugas yeng berbeda-beda sesuai dengan penugasan Allah. Malaikat itu tidak lelaki dan tidak perempuan, tetapi bukan banci. Tidak berupa fisik, tetapi wujud. Dan umat Islam wajib mempercayainya. Kemudian mempercayai kitab suci. Kitab suci yang kita ketahui sekarang itu mushaf al Qur’an. Kitab suci yang sudah ditulis berdasarkan wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw dengan berbagai cara. Ada yang lewat Malaikat Jibril dan ada yang langsung kepada Nabi Muhammad saw. Kitab Qur’an yang asli itu berada di Lauhul Mahfudz dan kemudian diturunkan ke langit dunia dan baru kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Jadi Qur’an yang azali itu sesuatu yang gaib juga. Lalu percaya kepada Nabi-Nabi Allah. Inilah orang-orang terpilih yang dijadikan sebagai utusan Allah. Mereka adalah orang yang ma’shum atau tidak berdosa. Hanya iman kepada Rasul yang berupa fisikal sebab semua rasul ialah manusia yang terpilih. Kemudian iman kepada Hari akhir atau qiyamat, hal ini juga kegaiban. Qiyamat itu pasti datang tetapi tidak ada satupun yang tahu kapan datangnya. Dan yang terakhir ialah iman kepada takdir Tuhan. Kita juga tidak tahu takdir Tuhan kecuali segala sesuatunya sudah selesai. Kita baru tahu “ini adalah takdir Tuhan”. Jadi iman itu “tasdiqu bil qalbi, wa tashdiqu bil lisan, wa tashdiqu bil af’al”. Sebagai contoh di dalam diri manusia itu terdapat ruh atau nyawa. Tetapi adakah kita yang tahu mengenai ruh itu. Tentu saja tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan ketika Rasulullah ditanya tentang Ruh, maka dinyatakannya bahwa ruh adalah urusan Tuhan. “Qul: al ruh min amri Rabbi”.

Baru setelah percaya dengan sungguh-sungguh, kita melakukan ibadah kepada Allah dan seluruh ibadah itu bercorak fisikal. Syahadat itu perbuatan fisik, dibaca dan disaksikan. “Kalau kita menikah. Kita baca syahadat dulu”. Shalat juga ibadah fisik, diketahui orang lain. Kita shalat jamaah tentu diketahui orang lain. Demikian pula zakat juga fisikal. Ada pemberi zakat dan ada penerima zakat. Jadi ibadah itu bercorak fisikal. Puasa juga ada dimensi fisikalnya. Orang harus menahan lapar dan dahaga. Dan haji juga ibadah fisikal sebab ada tawaf, sa’i, melempar jumrah dan sebagainya.

Ada cerita di dalam Al Qur’an, ketika ada seorang Suku Badui, yang menyatakan telah beriman kepada Allah, maka Rasulullah diperintahkan untuk membenarkan imannya kepada Allah tersebut. Cerita itu termaktub di dalam Surat Al Hujurat ayat 14, yang bunyinya ialah “Qalatil A’rabu amanna. Qul lam tu’minu walakin qulu aslamna wa lamma yadkhulil imanu fi qulubikum”. Yang artinya: “orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah; “kamu belum beriman, tapi katakanlah Kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu…”.

Ayat ini memberikan gambaran bahwa untuk bisa beribadah dengan benar harus beriman dengan benar. Jika seseorang telah menyatakan tunduk (berislam) tetapi hatinya belum mengindikasikan akan kepatuhannya tersebut, maka dipastikan bahwa yang bersangkutan belum memiliki iman yang sempurna.

Oleh karena itu, iman yang sempurna itu bisa dilihat dari kesungguhan untuk mengamalkan ajaran agamanya. Dan hanya amalan agama yang didasari oleh keyakinan terhadap iman yang bercorak kegaiban tersebut akan menjadi penanda pengamalan agama yang benar.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PUASA; AL QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK KEHIDUPAN (17)

PUASA; AL QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK KEHIDUPAN (17)

Sebagaimana biasa terjadi, Khabirul Amru, yang menjadi imam mushalla Al Ihsan juga sekaligus memberi ceramah agama. Hari itu memang saya tidak menyediakan penceramah khusus, sehingga saya menunjuk sdr. Khabir untuk menjadi penceramah agama.

Beliau memulai ceramahnya terkait dengan malam 17 Ramadlan yang dikaitkan dengan Hari Turunnya Kitab Suci Al Qur’an. Atau malam Nuzulul Qur’an. Ada beberapa varian pandangan mengenai kapan turunnya al Aqur’an. Sebagaimana diketahui bahwa Al Qur’an yang azali berada di Lauhil Mahfudz dan kemudian pada masa kenabian Nabi Muhammad SAW diturunkan Al Qur’an tersebut pada langit dunia (Baitul Izzah). Dan dari sini kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad saw secara bertahap atau gradual. Al Qur’an diturunkan dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah (rumah kemuliaan) dan dari sini kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril atau secara langsung.

Pendapat pertama, menyatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada tanggal 17 Ramadlan. Malam ini oleh para ulama dan juga masyarakat diperingati sebagai malam turunnya al Qur’an atau Nuzulul Qur’an. Bahkan di Indonesia diperingati di Istana Negara. Pendapat ini sesuai dengan bunyi Surat Ad Dukhan, ayat 3, yang berbunyi: “inna alzalnahu fi lailatin mubarakatin inna kunna mundzirin.” Yang Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami yang memberi peringatan”. Dan malam yang diberkahi tersebut ialah malam di mana Al Qur’an diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw.

Kemudian kedua, ada pandangan yang menyatakan bahwa Al Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadr. Yaitu suatu malam di mana Allah swt menurunkan malam kemuliaan yang dikenal sebagai malam lailatul Qadr tersebut. Pada malam itu Allah menurunkan kebaikan dan kemuliaan, bahwa jika seseorang beribadah kepada Allah atau melakukan kebaikan lainnya maka akan dikarunia pahala sebagaimana orang beribadah atau melakukan kebaikan selama seribu bulan. Al Qur’an menjelaskan di dalam Surat Al Qadr ayat 1 yang berbunyi: “inna anzalnahu fi Lailatul Qadr”. Yang berarti: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al Qur’an) pada malam Kemuliaan (lailatul Qadr)”.

Dari dua pendapat ini, lalu ada yang juga memahami bahwa yang diturunkan oleh Allah pada tanggal 17 Ramadlan ialah ayat 1-5 pada surat al Alaq, yang berbunyi: Iqra’ bismi Rabbikal ladzi khalaq. Khalaqal insana min ‘alaq. Iqra’ wa rabbuka akramul ladzi ‘allama bil qalam. ‘allamal insana malam ya’lam”. Yang artinya: “Bacalah. Dengan menyebut Nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Para ulama bersepakat bahwa turunnya Al Qur’an ialah pada bulan Ramadlan, sesuai dengan bunyi teks Al Qur’an pada Surat Al Baqarah, ayat 185, yang menyatakan: “Syahru Ramadlanal ladzi unzila fihil Qur’an. Hudan linnasi wa bayyinatin minal huda wal furqan”. Yang artinya ialah: “Bulan Ramadlan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia, serta penjelasan mengenai petunjuk itu dan sekaligus sebagai pembeda (antara yang haq dan yang bathil)”.

Oleh karena itu, apapun menurut pendapat para ahli sejarah bahwa Allah telah menurunkan kitab suci Al Qur’an kepada manusia sebagai petunjuk atas kebenaran yang perlu dilakukan oleh manusia. Al Qur’an tidak hanya berisi tentang petunjuk tetapi juga penjelasan mengenai petunjuk dan sekaligus juga untuk membedakan antara yang benar dan salah atau yang haq dan yang bathil.

Petunjuk telah diberikan dan manusia memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah sesuai dengan petunjuk Al Qur’an. Tetapi di atas segalanya, maka petunjuk Allah tentu juga menjadi factor penting di dalam keislaman dan keimanan seseorang.

Wallahu a’lam bi al shawab.