Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PERKUAT TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN TINGGI

PERKUAT TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN TINGGI

Saya diundang oleh Dr. Ah. Ali Arifin, Drs, MEI., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Ampel Surabaya dalam acara ramah tamah dan halal bil halal untuk jajaran pimpinan, dosen dan tenaga kependidikan, Selasa, 18 Juni 2019. Acara ini digelar di ruang pertemuan FEBI dan dihadiri oleh para pimpinan, dosen dan staf tenaga kependidikan. Hadir pada acara ini ialah Dr. Ah. Ali Arifin, Drs, MEI., Drs. Nurkholis, MEd. Admin., PhD, Prof. Dr. Faishal Haq, dan sejumlah dosen lainnya.

Saya merasa berbahagia sebab di dalam acara ini hadir Prof. Faishal Haq, beliau adalah kyai yang sangat mumpuni di dalam ilmu keislaman dan berkemampuan sangat baik dalam ceramah-ceramah agama. Tugas saya tentu adalah memberikan motivasi bagi para dosen –khususnya dosen muda—untuk semakin kreatif di dalam program pembelajaran, sebab tantangan kita tentu semakin besar menghadapi era revolusi industry 4.0, dan era disruptif sekarang ini.

Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam forum ini, yaitu: pertama, bahwa ada beberapa tantangan terkait dengan pendidikan tinggi ialah matinya kepakaran. Sebuah buku yang ditulis oleh Tom Nichols, “The Death of Expertise” adalah wake up call untuk kita semua bahwa dunia kita sedang menghadapi suatu kenyataan bahwa kepakaran yang dahulu menjadi kekuatan kita akan dihabisi oleh teknologi informasi (TI).

Sambil berseloroh saya sampaikan kepada Prof. Faishal Haq, bahwa kepakaran beliau di bidang ilmu agama sekarang sudah direbut oleh Google. Kyai Google ini luar biasa sebab bisa memberikan jawaban yang sangat cepat terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang agama. Semua ada di situ, sehingga kalau orang bertanya tentang agama tidak perlu datang ke kyai. Sekarang kyai itu ada di tangan kita melalui teknologi android. Orang bertanya tentang fiqh, hukum Islam, perbandingan madzab dan soal-soal pelik lainnya cukup dengan Google Search. Selesai dan terjawab.

Anak-anak SMA atau Madrasah Aliyah tidak perlu bertanya kepada gurunya, tetapi cukup ke Ruangguru untuk menanyakan jawaban atas persoalan pembelajaran yang dihadapinya. Akhir-akhir ini banyak sekali aplikasi yang menyediakan ruang bagi para siswa untuk memperoleh bimbingan belajar melalui aplikasi. Rasanya semuanya selesai melalui HP Android.

Kedua, sebuah pernyataan dari Prof. Clayton Christensen, Guru Besar dari School of Business Harvard University, bahwa dalam 10-15 tahun ke depan akan terjadi penutupan kurang lebih 50 persen college atau perguruan tinggi di Amerika Serikat. Dari sebanyak 4000 perguruan tinggi, maka 2000 di antaranya akan tutup karena terdesak oleh penerapan TI. Bukankah ijazah sudah tidak lagi dijadikan sebagai ukuran kemampuan seseorang. Bahkan Google beberapa bulan yang lalu membuat pengumuman akan merekrut tenaga kerja tanpa ijazah. Sebuah tamparan bagi dunia pendidikan yang luar biasa. Bukan maksud Google untuk mereduksi terhadap kapasitas alumni pendidikan akan tetapi memang dia butuh seseorang yang ahli dan memiliki kapasitas praksis atau aplikatif untuk memenuhi kebutuhan SDM Google.

Jadi harus benar-benar diperhitungkan bagaimana kita mengelola pendidikan tinggi ini dalam kerangka agar prediksi Prof. Christensen tersebut tidak menjadi bagian dari pengalaman di Indonesia. Kita memang harus akui bahwa institusi pendidikan itu relative stabil dalam menghadapi goncangan perubahan zaman, akan tetapi dewasa ini saya kira kita tidak boleh terlena dengan stabilitas yang kita rasakan.

Ketiga, kita menghadapi cara belajar anak-anak milenial. Ada beberapa cara belajar anak milenial yaitu: belajar dari pengalaman, eksplorer, petualang, instan dan praktis, kecenderungan tarhadap IT, kolaboratif, dan multitasking. Anak-anak milenial itu senang belajar mengenai pengalaman dan bukan pengetahuan. Pengetahuan bisa dibaca dari media TI. Tetapi pengalaman hanya bisa didapatkan dari orang yang mengalami apa yang diceritakan.

Bagaimana seorang dosen bercerita tentang Imam Syafi’i sebagai pemuka madzab di dalam Islam padahal dosennya tersebut belum pernah datang ke makamnya. Dosen yang pernah datang ke makam beliau, maka akan bisa bercerita tentang apa yang dilihatnya dan dialaminya dalam perjalanan ke pemuka-pemuka madzab dimaksud. Orang mengajar bahasa Inggris tetapi belum pernah datang ke negeri asal bahasa Inggris, atau dosen mengajar bahasa Arab dan belum pernah berkunjung ke negeri asal bahasa Arab.

Anak-anak muda itu suka temuan baru. Makanya dosen harus bercerita tentang temuan baru berbasis riset yang dilakukannya. Anak-anak muda itu suka temuan baru berbasis pada petualangannya di media TI. Dosen harus mengimbanginya dengan kemampuan yang sama dengan anak-anak muda itu, meskipun dalam kapastitas kurang lebih. Jangan menjadi dosen yang sama sekali tidak menguasai teknologi informasi yang paling dasar. Era sekarang menuntut dosen untuk terus menerus menemukan sesuatu baik teori, konsep atau hal-hal praksis bagi mahasiswanya.

Anak muda juga menyukai kolaborasi atau kerja sama. Program pendidikan harus disetting dengan cara pendidikan base on collaboration. Sajikan masalah yang kemudian dicari jawabannya berdasar atas kemampuan kolaborasi. Sudah saatnya program pendidikan diarahkan untuk membangun kemampuan kolaboratif dimaksud. Jack Ma bukanlah ahli TI sebab dia adalah guru Bahasa Inggris, akan tetapi bisa mengembangkan alibaba.com karena kemampuannya untuk berkolaborasi dengan ahli di bidang IT, ekonomi dan sosial lainnya.

Oleh karena itu, mari kita isi institusi pendidikan kita ini dengan program pembelajaran berbasis IT, sebab hanya dengan cara seperti ini, maka kita akan survive di era disruptif sekarang ini. FEBI harus menjadi agen bagi penerapan TI dalam proses pendidikan sekarang dan masa yang akan datang.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JAGA ANAK KITA DARI GERAKAN RADIKAL

JAGA ANAK KITA DARI GERAKAN RADIKAL

Pada hari Ahad, 16 Juni 2019, saya diundang oleh kawan-kawan alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya untuk memberikan taushiyah dalam rangka halal bil halal. Hadir di dalam acara itu, Pak Abdurahman Chudhori, Drs., MM, Pak Sulhawi Rubba, Drs., MSi dan kawan-kawan alumni IAIN Sunan Ampel, tahun 1998. Dan Alhamdulillah saya masih bisa mengenal wajahnya satu persatu, meskipun dari sisi nama saya terkadang lupa. Jadi andaikan bertemu di ruang public lainnya tentu saya mash mengenal bahwa mereka adalah mahasiswa-mahasiswa saya di masa lalu.

Pada saat yang penting ini, saya menyampaikan hal mendasar yang menjadi tantangan kita sebagai umat Islam Indonesia, yaitu tantangan radikalisme dan ekstrimisme dalam beragama. Sesungguhnya jika kita bicara mengenai radikalisme tentu sudah sangat banyak yang membahasnya atau menulisnya. Tema ini sangat banyak dikaji dan dibicarakan terutama di era semakin meningkatnya gerakan radikalisme di tengah kehidupan masyarakat kita.

Saya memang tidak pernah bosan untuk berbicara tentang dampak radikalisme bagi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Saya merasakan denyut radikalisme yang semakin menguat di era akhir-akhir ini. Gerakan radikalisme dan ekstrimisme tersebut semakin menguat di berbagai level masyarakat. Makanya, seharusnya tidak hanya counter wacana yang dilakukan, akan tetapi harus counter action. Jika mereka telah menyasar berbagai segmen masyarakat kita, maka kita juga harus membentengi masyarakat kita dengan kekuatan penuh.

Di dalam forum halal bi halal ini, maka saya sampaikan 3 (tiga) hal, yaitu: pertama, ucapan selamat berhari raya, “ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin wal maqbulin kullu ‘amin wa antum bikhair”. Sudah saatnya di hari raya Eid al Fithri ini, kita semua saling memaafkan atas semua kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Perilaku yang tidak sesuai dengan syariat Islam agar bisa dimaafkan.

Sebagaimana para Ustadz menyampaikan bahwa dosa kita kepada Allah akan bisa diampuni langsung oleh Allah, akan tetapi kesalahan kita kepada orang lain, mestilah dimaafkan oleh orang lain dulu, dan baru Allah memaafkannya. Inilah beratnya kesalahan terhadap sesama manusia. Ada haqqul ‘adam yang harus diselesaikan di antara manusia dalam kesalahan atau kekhilafan yang dilakukannya.

Kedua, saya merasa berbahagia berada di tengah-tengah para alumni IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel), sebab ternyata bahwa para mahasiswa saya di masa lalu itu ternyata sudah menjadi Orang. Orang dengan huruf O besar. Hal ini menandai sebagai kategori tentang ketercapaian visi dan misi yang dahulu pernah dicitakannya. Ada di antara mereka ini yang sudah menjadi dosen, menjadi doctor, menjadi pengusaha, menjadi politisi, menjadi kyai, menjadi guru, menjadi pendamping masyarakat, dan menjadi apa saja yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya.

Semua ini didapatkan tidak hanya berbekal kemampuan hard skill akan tetapi juga soft skill. Jika hard skill adalah kapasitas yang diperoleh melalui bangku kuliah, dengan perolehan ijazah, maka soft skill diperoleh melalui persinggungannya dengan dunia nyata di dalam kehidupan dan pengalaman yang terukur. Tidak pernah terbayangkan di masa lalu mahasiswa IAIN yang hard skill-nya di bidang ilmu keislaman ternyata menjadi pengusaha ayam sukses. Ada yang menjadi pengusaha konstruksi, ada yang bermain di dunia politik dengan menjadi bupati dan bahkan gubernur atau menteri. Semua ini karena kemampuan soft skill yang dimilikinya.

Ketiga, saya merasa berbahagia sebab di acara ini dinyanyikan “Lagu Indonesia Raya”. Lagu kebanggaan kita semua sebagai bangsa. Dan bahkan diteriakkan “NKRI Harga Mati”. Alangkah bahagianya melihat mahasiswa saya di masa lalu itu tetap berada di dalam kesetiaan terhadap Pancasila dan NKRI. Kebahagiaan seorang dosen atau guru ialah melihat keberhasilan mahasiswa itu dan mereka semua tetap berada di dalam kesetiaan terhadap nusa, bangsa dan negaranya.

Kesetiaan kepada negara yang bersanding dan bernafas dengan keislaman inilah yang membuat kita semua merasakan bahwa Indonesia akan terus lestari dengan falsafah dan dasar negara, landasan yuridis dan bentuk kenegaraan yang tidak akan diubah oleh masa. Negara ini harus lestari sebagaimana yang diwariskan oleh leluhur kita. Tidak boleh berubah. Tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas. Sekali merdeka tetap merdeka, sekali Pancasila pantang berubah, dan sekali NKRI tetap selamanya seperti itu.

Oleh karena itu, marilah kita jaga anak kita. jangan sampai mereka terjerembab ke dalam ideology lain yang tidak jelas juntrungannya. Indonesia kita yang besar ini jangan sampai dijadikan eksperimen dengan penerapan ideology lain yang akan mengoyak kesatuan dan persatuan bangsa.

Caranya ialah dengan selalu check and recheck terhadap aktivitas anak-anak kita yang berada di luar jangkauan kita karena sekolah atau kuliah. Amati mereka di dalam kegiatan keagamaannya. Check mereka dalam aktivitas organisasinya. Check siapa saja yang menjadi jejaringnya. Di era yang seperti ini, perhatian orang tua harus diperkuat agar anak kita tidak jatuh ke dalam pelukan ideology lain yang menyesatkan. Sekali mereka terkena racun ideology yang merusaknya, maka rugilah kita semua. Tidak hanya keluarga yang merugi tetapi juga masyarakat dan bangsa secara keseluruhan.

Sebagai orang tua sudah selayaknya kita membentengi anak-anak kita dan keluarga kita dari pengaruh negative yang semakin nyata di hadapan kita. dan jangan pernah berpikir bahwa anak kita dipastikan selamat dari dampak gerakan radikal dan ekstrim, terkecuali kita menyaksikannya sendiri tentang apa yang dilakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEMBALI KE DESA UNTUK RITUAL TAHUNAN

KEMBALI KE DESA UNTUK RITUAL TAHUNAN

Moment yang paling indah di dalam berhari raya ialah di kala bisa kembali mengunjungi desa di mana kita lahir. Sebab di sana kita bisa bertemu dengan orang tua, kerabat dan sahabat yang selama ini mungkin jarang kita temui. Momen ini yang rasanya menjadi referensi mengapa orang selalu merindukan mudik atau pulang kampung ba’da menjalani ibadah puasa selama sebulan.

Saya juga melakukannya bahkan melebihi tahun-tahun sebelumnya. Jika selama ini pergi ke desa kelahiran saya itu hanya berbilang beberapa hari, maka tahun ini saya bisa meluangkan waktu lebih lama. Bersama keluarga saya kembali ke desa setelah berhalal bi halal di kantor, tanggal 10 Juni 2019 atau tepatnya enam hari setelah lebaran. Saya memang ingin menemani Ibu atau Emak saya yang sudah mulai udzur karena factor usia. Berlama-lama di kampung ini tidak pernah saya lakukan dalam tujuh tahun terakhir, sebab tugas-tugas birokrasi yang mengharuskan saya kembali secepatnya untuk bekerja.

Kelonggaran waktu ini benar-benar saya manfaatkan untuk menjalin kembali persahabatan dengan keluarga, baik keluarga di Mojokerto maupun Tuban. Bertemu dengan sanak saudara dan juga kawan-kawan saya rasanya seperti mengulang masa lalu. Shalat jamaah di mushalla Raudlatul Jannah di depan rumah dan juga memberikan ceramah agama terhadap jamaah mushalla tersebut.

Di dalam ceramah itu, saya menekankan pada betapa pentingnya melafalkan kalimat tauhid di dalam kehidupan. Saya sampaikan salah satu Hadits Nabi Muhammad saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, yang menyatakan: “man kana fi akhiri kalamihi la ilaha illa Allah dakhalal jannah”. Yang artinya kurang lebih: “siapa saja yang diakhir perkataannya Tidak ada Tuhan selain Allah, maka akan masuk surga”. Hadits ini merupakan hadits penting bagi kita semua. Hadits yang menjelaskan kepada kita betapa pentingnya membaca tahlil atau membaca kalimat tauhid. Itulah sebabnya di kalangan umat Islam, dinyatakan dengan ungkapan “afdhalu dzikri La ilaha illa Allah”. Jadi, sebaik-baik dzikir ialah kalimat “ La ilaha illa Allah”.

Adakah mudah untuk membaca kalimat tahlil ini di akhir hidup kita? Tentu saja tidak mesti mudah. Ada banyak cerita tentang bagaimana seseorang mengajari untuk membaca kalimat tauhid di kala ajal sudah mendekat dan ternyata tidak mudah mengucapkannya. Kalimat yang sangat mudah ini menjadi sangat sulit diucapkan. Di saat ajal mendekat, maka seseorang mungkin sudah dilanda kepanikan. Ada rasa takut yang luar biasa, dan ada perasaan yang kalut luar biasa. Di kala ajal menjemput, maka yang ada hanya rasa takut sebab malaikat pencabut nayawa atau Izrail mungkin saja datang dengan wujud aslinya, dan bayangan penderitaan juga sudah di depan mata. Maka mengucapkan kalimat tauhid bukan perkara mudah tetapi menjadi perkara yang sangat sulit. Sungguh sangat sulit untuk diucapkan, apalagi bagi orang yang jarang atau bahkan tidak pernah mengucapkannya.

Inilah yang disebut sebagai sakaratul maut, yang lazim di dalam bahasa Indonesia disebut “sedang sekarat” atau sedang menderita. Jadi kematian dianggap sebagai penderitaan. Padahal bagi orang yang salih, maka kematian hanyalah perpindahan dari satu alam ke alam lain, dari alam dunia ke alam kubur atau alam barzakh. Oleh karena itu para ulama kita mengajarkan agar kita terus membaca dzikir dengan kalimat tauhid. La ilaha illa Allah, dalam hitungan yang sudah ditentukan atau sesuka hati. Prinsipnya bacalah dzikir ini sebanyak-banyaknya. Dan yang paling penting ialah agar didalami maknanya, tidak sekedar terjemahan dalam bahasa Indonesianya “tidak ada Tuhan selain Allah”. Bisa direnungkan maknanya secara mendalam tentang bagaimana Allah itu wujud, dengan berbagai sifat yang melaziminya.

Di dalam doa yang sering kita lazimkan ialah membaca doa keselamatan di dalam kehidupan baik di dunia maupun selama proses perpindahan dari alam dunia ke alam barzakh dan juga alam akhirat. Doa kita itu menyatakan: “berikan kerahmatan ketika kematian, dan ampuni sesudah kematian, dan mudahkanlah selama proses kematian. Doa ini sedemikian penting sebagai bagian dari keinginan kita di dalam menjalani kehidupan ini.

Saya kira tidak ada orang yang tidak menginginkan keselamatan tersebut. Keselamatan adalah segala-galanya. Orang yang selamat di dalam kehidupan dunia dan juga selamat di dalam kehidupan akherat tentu merupakan dambaan bagi manusia muslim. Disebut sebagai orang muslim karena menjadi orang yang selamat.

Umat Islam dimohon agar terus menerus menyebarkan keselamatan. Coba kalau kita analisis, maka orang yang shalat juga diwajibkan untuk mengucapkan selamat kepada orang di sekitarnya, di sebelah kanan, kiri dan belakangnya. Hal ini menggambarkan bahwa keselamatan merupakan inti dari ajaran agama Islam, agama yang selamat dan menyelamatkan umatnya.

Berbahagialah kita semua bisa menjadi umat Islam, menjadi umat Muhammad saw, yang dijamin untuk memperoleh keselamatan bagi dirinya karena terus menerus menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman kehidupannya. Jadi, kita berkewajiban untuk menyelamatkan diri kita dan juga orang lain, sebagaimana doa kita dimaksud.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

PUASA: INSTRUMEN PENGAMPUNAN DOSA (26)

PUASA: INSTRUMEN PENGAMPUNAN DOSA (26)

Di dalam setiap agama diajarkan tentang pertobatan dan pengampunan. Tobat ialah suasana kembali dalam kebenaran dan kebaikan. Jika orang sudah melakukan kesalahan, kekhilafan atau dosa, maka agama menyediakan satu instrument untuk melakukan pertobatan. Secara lughowi, taubatan atau tobat ialah kembali kepada jalan yang benar, jalan yang diridlai Tuhan dan jalan yang akan mengantarkan kepada kebaikan. Di dalam tobat tersebut harus diniatkan dengan kuat dan tanpa pantang menyerah untuk melakukan kebaikan, dan juga harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas.

Manusia adalah makhluk Allah yang rentan terhadap kesalahan dan kekhilafan. Bahkan juga rentan dalam menghadapi perbuatan dosa. Sesungguhnya manusia memiliki dua potensi, yaitu berbuat baik dan berbuat jelek. Di dalam keadaan tertentu, manusia bisa jatuh dalam perbuatan jelek, baik disadari atau tidak disadarinya. Ada perbuatan jahat yang disengaja dan ada perbuatan jahat yang tidak dikehendakinya. Perbuatan jelek yang dikehendaki, misalnya ialah tindakan melakukan pencurian, perampokan, pembunuhan, korupsi dan sebagainya. Sedangkan perbuatan jahat yang tidak dikehendaki, misalnya ialah seseorang dalam ancaman untuk melakukan perbuatan tercela, seperti meminum alkohol, melecehkan, terpaksa melakukan pembunuhan karena factor terdesak, dan sebagainya.

Manusia bisa berada di dalam konteks kal malaikat atau seperti malaikat yang selalu berbuat baik karena terus menerus mengembangkan potensi dirinya untuk berbuat baik, dan ada kalanya manusia itu kasy syaithan atau seperti syaithan karena selalu berbuat jahat yang disengajanya. Manusia bisa juga berada di antara dua posisi tersebut, sekali waktu baik dan sekali waktu jahat. Di sinilah Allah memberikan instrument pertobatan, yang sesungguhnya sangat banyak, tetapi yang istimewa ialah menjalankan puasa pada Bulan Ramadlan.

Hanya Nabi Muhammad saw yang mendapatkan gelar “manusia ma’shum” atau manusia yang tidak berdosa di hadapan Allah swt. Beliau adalah manusia teladan di dalam kehidupannya, sebab memang dijadikan oleh Allah sebagai manusia tanpa dosa. Apa yang dilakukannya adalah manifestasi wahyu dan dengannya Nabi Muhammad saw dibimbingnya. Makanya, seluruh kehidupannya adalah teladan agung yang semestinya diikuti oleh hambanya.

Manusia lain secara pasti memiliki kesalahan, kekhilafan atau dosa baik besar atau kecil. Melihat kenyataan ini, maka Allah dengan sifat dasarnya ialah Rahman dan Rahim, maka memberikan peluang bagi hambanya untuk bertaubat atau lebih mendalam taubatan nashuha yaitu taubat yang optimal dan tidak ada sedikitpun keinginan untuk mengulanginya.

Momentum untuk bertaubat selalu diberikan oleh Allah melalui ucapan atau tindakan. Dengan ucapan misalnya selalu melafalkan kalimat taubat ialah astaghfirullah al adzim atau doa-doa yang senada dengan ucapan tersebut. Banyak sekali doa yang memberikan gambaran tentang pertobatan. Yang paling sering dibaca ialah: “Rabbigh firli waliwalidayya warhamhuma kama Rabbayani shaghira,” yang artinya kurang lebih ialah: “Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan rahmati keduanya sebagaimana mereka mengasuhku di kala kecil”. Doa ini adalah bentuk ajaran Allah agar kita selalu meminta ampunan dan juga ampunan untuk kedua orang tua kita.

Sudahkah hal ini kita lakukan? Pertanyaan ini saya anggap penting sebab terkadang kita ini lupa seirama dengan kesibukan demi kesibukan yang terus mendera kita setiap hari. Doa ini yang sesungguhnya menjadi “penyambung” relasi kita dengan orang tua kita dan Allah swt. Jika orang tua kita sudah meninggal, maka hanya lantunan doa yang bisa menyambung relasi kita dengannya dan dengan Allah swt. Tiada lagi media lainnya yang bisa menyambungkannya. Allah memberikan instrument kepada kita tentang bagaimana membangun hablum minan nas, khususnya dengan orang tua kita.

Dan sebagaimana yang kita yakini, bahwa Allah adalah dzat yang tidak akan ingkar janji, sehingga jika Allah berjanji akan mengampuni kita dan kita berupaya secara optimal pastilah Allah akan mengampuninya. Sekali lagi hal itu sangat tergantung kepada upaya kita.

Wallahu a’lam bi aal shawab.

 

PUASA: ALAM SEBAGAI MEDIUM PERSAKSIAN KEBESARAN ALLAH (25)

PUASA: ALAM SEBAGAI MEDIUM PERSAKSIAN KEBESARAN ALLAH (25)

Di antara Rukun Islam yang paling fundamental ialah persaksian bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat ini yang kemudian dikenal sebagai syahadat atau persaksian manusia kepada Tuhan. Syahadat itu secara lughawi ialah berasal dari kata syahada atau menyaksikan. Artinya menyaksikan tentang sesuatu.

Dinyatakan menyaksikan apabila seseorang melihat dengan inderanya sendiri atau merasakannya sendiri. Di dalam pandangan kaum positivistic, maka dinyatakan menyaksikan ialah apabila obyeknya bercorak empiris sensual atau dapat diamati dengan penginderaan. Jadi merupakan sesuatu yang empirical being.

Tentu sangat berbeda antara menyaksikan dalam konsepsi kaum positivistic dengan kaum agamawan. Bagi kaum agamawan, terutama yang menyangkut dimensi keyakinan kepada kegaiban, maka tidak bisa diukur dengan penglihatan fisikal atau seuatu yang empiric sensual. Bagi kaum agamawan, kegaiban merupakan aspek rohani atau dimensi kegaiban yang tidak mungkin alat-alat inderawi yang terbatas kemampuannya untuk mengetahui yang gaib atau nonfisik.

Mata, misalnya tidak bisa melihat sesuatu dibalik dinding atau sesuatu di dalam kegelapan. Kapasitas mata sangat terbatas. Sangat situasional dan kondisional. Makanya, kemampuan mata untuk melihat juga sangat terbatas. Yang bisa melihat sesuatu yang lebih mendalam atau hal-hal yang tidak terlihat dari dimensi lahiriyah ialah mata batin. Meskipun kenyataannya juga tidak semua batin manusia memiliki kemampuan untuk melihat yang bercorak batini atau immaterial. Namun juga bisa dipastikan bahwa ada manusia yang diberi kemampuan oleh Allah karena usahanya untuk melihat hal-hal yang gaib dan mustahil terlihat oleh orang lain. al Qur’an dalam surat Al An’am 6: (103): “dia tidak dapat dicapai oleh mata”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad saw, dengan lugas dinyatakan bahwa “jika engkau tidak bisa melihatnya, yakinlah bahwa Allah melihatmu”. Untuk bisa merasakan “kehadiran” Allah yang gaib tersebut maka diperlukan kekuatan batin yang terlatih. Bagi kaum awam dalam beragama, rasanya yang paling relevan ialah dengan menghadirkan keyakinan bahwa Allah dipastikan melihat apa yang kita perbuat. Jika kita ingin yang lebih dari itu, maka tentu ada pelatihan yang terstruktur dan sistematis dalam olah rasa. Tetapi juga harus hati-hati, sebab jangan sampai kita terjerumus pada “penghayatan” tentang Tuhan yang justru keliru. Dikira menghayati kehadiran Tuhan, padahal kita sedang dihadapan makhluk halus lain yang memang sengaja membelokkan keyakinan kita. Di sinilah pentingnya guru pembimbing yang akan mengantarkan seseorang pada tujuan memasuki Keharibaan Tuhan. Bahkan di kalangan kaum sufi dinyatakan, bahwa orang yang mencari sendiri untuk memasuki misteri ketuhanan, maka dikhawatirkan akan mengalami proses dan produk yang salah. Makanya ada pernyataan: “barang siapa yang akan memasuki ajaran tasawuf dalam Islam tanpa seorang guru, maka bisa jadi gurunya ialah syetan”. Inilah kehati-hatian jangan sampai kita terbelokkan oleh godaan dari dunia gaib yang kita tidak mampu melawannya.

Setiap agama selalu menghadirkan sesuatu yang misteri. Dan yang misteri itu ialah keyakinan-keyakinan terhadap kegaiban, termasuk keyakinan kepada Allah swt. Agama harus menghadirkan misteri, tanpa misteri maka agama akan kehilangan esensinya. Agama harus berurusan dengan sesuatu yang “Mysterium Tremendum et Fascinosum”. Yaitu misteri yang mempersona dan menakutkan. Dan agama selalu memiliki dua hal ini ialah keterpesonaan akan kegaiban itu sendiri dan ketakutan akan siksa yang diceritakannya. Ambivalensi ini selalu hadir di dalam agama, dan menunjukkan betapa kekaguman atau keterpesonaan dan ketakutan itu merupakan cici khas setiap agama. Agama yang tidak memilikinya tentu akan kehilangan aura spiritualitasnya. Disebabkan oleh eksistensi misteri ini, maka agama menjadi unik dan menarik untuk diamalkan dan bahkan dikaji secara akademik.

Di antara cara untuk mengetahui keberadaan Allah ialah melalui perenungan terhadap ciptaannya. Di dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, Baihaqi dan Nasa’i menjelaskan: “Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan Janganlah berfikir tentang dzat Allah”.

Di antara cara untuk mengenal Allah ialah dengan menggunakan logika yang tepat dan pasti, yaitu: memikirkan bahwa tata surya yang berjalan dengan teratur pastilah ada Dzat yang sangat berkuasa dan memiliki otoritas tunggal yang menciptakannya. Sebab tidak mungkin tata surya ini terjadi dengan sendirinya atau tanpa ada yang menciptakannya. Pastilah Dzat yang mencipta tersebut memiliki kemampuan yang sangat berbeda dengan makhluknya, dan Dia adalah Allah swt, sebagaimana yang diceritakan oleh para Rasulnya, sebagai manusia yang diberi kewenangan untuk memberikan informasi tentang kebenaran ini.

Sudah saatnya kita menggunakan mata batin kita untuk menyaksikan alam sebagai bentuk keberadaan Allah, sebab alam sebagai ciptaannya inilah yang sungguh-sungguh menjadi saksi akan keberadaan dan kebesaran Allah swt.

Wallahu a’lam bi al shawab.