• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENJADI PEMBIMBING MANASIK HAJI PROFESIONAL

MENJADI PEMBIMBING MANASIK HAJI PROFESIONAL

Secara mendadak saya dihubungi oleh Pak Cholil agar bisa memberikan materi dalam Program Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji, kerjasama antara Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dan Direktorat Jenderal Pelayanan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama RI. Ternyata Pak Cholil meneruskan pembicaraan Pak Dr. Agus Santoso agar kiranya saya dapat terlibat di dalam program dimaksud.

Pak Agus juga WA saya terkait dengan hal ini. Sebagai balasan kepada Pak Agus saya sampaikan bahwa saya siap untuk terlibat dengan catatan saya akan menyampaikan dimensi managemen yang sedikit banyak saya kuasai. Saya tidak akan bercerita tentang conten ibadah haji. Maka, jadilah saya memberikan materi tersebut di Asrama Haji Sukolilo, 3/10/2019.

Secara umum, saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, standarisasi dan sertifikasi.

Standar ialah suatu usaha melalui program atau kegiatan dalam rangka menetapkan kepastian atau ketentuan yang dapat dijadikan sebagai pedoman bersama. Jadi, ada beberapa hal yang pasti, yaitu: dipastikan ada usaha atau kegiatannya, dipastikan ada aturan atau kepastian ukurannya atau parameternya, dipastikan ada yang dinyatakan standar dan tidak standar. Standarisasi ialah upaya untuk melakukan bersama-sama dalam mencapai standar dimaksud.

Sedangkan sertifikasi adalah hal yang lain. Sertifikasi ialah program atau kegiatan yang dilakukan dalam rangka untuk menetapkan seseorang atau individu yang memiliki kualifikasi dalam bidang tertentu dan dilakukan oleh institusi yang berkompeten. Di dalam sertifikasi juga harus ada kepastian. Dipastikan ada program atau kegiatan, dipastikan ada standarisasi keahliannya, dipastikan ada keputusan atau penetapan ahli atau tidak ahli. Program sertifikasi disebut juga sebagai sertifikasi profesi.

Sedangkan manasik haji ialah program atau kegiatan untuk memberikan peragaan tentang tatacara melakukan ibadah haji. Untuk beribadah yang baik, maka dipastikan niat, tujuan dan maknanya benar, dipastikan bahwa tatacaranya benar, dipastikan prosesnya benar, dipastikan tempatnya benar, dipastikan waktunya benar, dipastikan doa ibadahnya benar. Serta dipastikan rukun, wajib dan sunnahnya benar.

Kedua, Bekal pengalaman berhaji. Saya berpendapat bahwa pelatihan manasik haji bukan memberikan pengetahuan tentang berhaji, sebab manasik haji merupakan program atau kegiatan pelatihan yang berbasis pada pengalaman berhaji. Manasik haji memberikan bekal pengalaman yang pernah dilakukan oleh pembimbing tentang bagaimana melaksanakan ibadah haji. Para pembimbing harus memahami tentang sekian banyak problem yang dimiliki oleh calon Jemaah haji (calhaj).

Ada beberapa problema yang mendasar terkait dengan jamaah haji. Kebanyakan jamaah haji merupakan individu dengan tingkat literasi keislaman yang belum optimal. Kebanyakan jamaah haji kita berasal dari masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah. Kebanyakan jamaah haji kita orang pedesaan dengan tingkat literasi kewilayahan yang rendah. Kebanyakan jamaah haji kita itu tidak memiliki pengalaman menggunakan transportasi udara. Kebanyakan jamaah haji kita berasal dari daerah yang bervariasi. Banyak calhaj yang berusia tua, kira-kira 30 persen. Oleh karena itu, diperlukan penjelasan secara   mendalam tentang ibadah haji, baik yang bercorak fisikal maupun non fisikal.

Para jamaah haji perlu mengenal titik-titik rawan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Diperlukan memahami problem utama haji, baik dari sisi teknologikal, fisikal maupun spiritual. Selain itu juga diperlukan untuk mengajarkan tentang pentingnya kelompok, regu dan kebersamaan.

Ketiga, Manajemen Manasik Haji. Dalam kerangka memperkuat pemahaman para jamaah haji, agar tujuan haji mabrur dapat ditunaikan, maka tata kelola bimbingan manasik haji yang baik tentu diperlukan untuk penyiapan jamaah haji. Pelatihan harus menggambarkan bahwa tata kelola yang baik dalam penyelenggaraan manasik haji akan menentukan terhadap keberhasilan haji secara umum maupun khusus. Dan juga untuk menjelaskan bahwa melalui tata kelola yang baik akan dapat memberikan jaminan tentang kepuasan pelanggan.

Kita sekarang telah memasuki dunia manajemen baru. Di antara ragam manajemen, maka manajeman pelayanan termasuk bagian dari manajemen kinerja atau performance management. Tujuan manajemen kinerja ialah memastikan bahwa semua proses, prosedur, content dan produk sesuai antara perencanaan dan produknya (target dan capaian). Tujuan pelayanan ialah memastikan bahwa pelanggan kita puas (customer satisfaction). Bahkan Jika mungkin sampai loyalitas pelanggan (customer loyalty).

Sebagai manajemen modern, manajemen pelayanan tentu mengandaikan bahwa calhaj kita adalah orang yang bisa dilatih sesuai dengan pedoman manasik yang sudah baku. Ada prinsip bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menyerap pengetahuan dan pengalaman yang ditransfer oleh petugas, meskipun dalam kapasitas penerimaan yang berbeda-beda. Di sinilah kearifan para petugas untuk menterjemahkan pengetahuan dan pengalaman agar dapat dipindahkan kepada para calhaj.

Di dalam manajemen performa, maka ada beberapa prinsip, yaitu: (1) menentukan sasaran program. Jadi, Tentukan siapa sasaran yang akan dilatih untuk manasik haji. Kenali dengan baik siapa mereka. Kenali dengan baik kemampuan mereka dalam ilmu keislaman, khususnya ibadah haji. Kenali dengan memadai tentang latar keagamaannya. Kenali dengan memadai tentang latar kehidupan sosialnya. (2) Indikator Sasaran: Berapa persen yang memiliki kemampuan cukup memadai tentang agamanya. Berapa persen yang dapat membaca dan menulis dengan baik. Berapa persen yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan berapa yang tidak. Berapa yang bisa berbahasa selain bahasa daerah dan Bahasa Indonesia. Berapa persen yang berlatarbelakang organisasi keagamaan. Berapa persen yang sudah saling mengenal di antara mereka. Berapa persen calhaj yang diinginkan untuk dapat memahami dan mengaplikasikan tata cara memakai ihram dan dam. Berapa persen calhaj yang diinginkan untuk memahami tata cara thawaf. Berapa persen calhaj yang diinginkan untuk memahami tata cara sa’i dan tahallul. Berapa persen calhaj yang diinginkan untuk memahami tata cara wukuf di Arafah. Berapa persen calhaj yang diinginkan untuk memahami tata cara mabid di Muzdalifah. Berapa persen yang diinginkan calhaj tentang tatacara melempar jamarat. Berapa persen clhaj yang diinginkan untuk memahami nafar awal dan tsani. Berapa persen yang diinginkan dari calhaj untuk memahami tentang shalat arbain. Berapa persen yang diinginkan dari calhaj untuk memahami tentang ziarah di Tanah Suci. Berapa persen yang diinginkan dari calhaj untuk memahami etika haji dan ziarah. (4) Capaian kinerja: Berapa persen capaian calhaj memiliki pemahaman dan mengaplikasikan tata cara memakai ihram dan dam. Berapa persen capaian calhaj yang memahami tata cara thawaf. Berapa persen capaian calhaj yang memahami tata cara sa’I dan tahallul. Berapa persen capaian calhaj yang memahami tata cara wukuf di Arafah. Berapa persen capaian calhaj yang memahami tata cara mabid di Muzdalifah

Secara hakiki, bahwa pembimbing bukan hanya sekedar trainer. Mereka para manasiker (sebutan yang saya berikan kepada pembimbing manasik) adalah pendidik, pelatih dan pemimpin. Sebagai pendidik maka harus menggunakan pendidikan base on pendidikan orang dewasa atau andragogi dengan prinsip memiliki konsep diri, memiliki akumulasi pengalaman, kesiapan belajar, keinginan memanfaatkan hasil belajar, memiliki kemampuan belajar.

Sebagai pemimpin, maka manasiker harus menerapkan friendly leadership (kepemimpinan ramah atau kepemimpinan persahabatan). Tidak memandang orang lain berada di bawah kita. Tidak menanggap diri sebagai atasan atau yang paling hebat dalam segala hal. Menganggap orang lain adalah mitra kerja atau mitra belajar atau mitra ibadah. Dapat melakukan kerja sama atau kolaborasi. Dan ciri utamanya ialah kepemimpinan yang membawa kebahagiaan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MEMBAHAS PARADIGMA ILMU DAKWAH

MEMBAHAS PARADIGMA ILMU DAKWAH

Saya tentu sangat bersyukur diundang menjadi narasumber utama di dalam International Conference of Da’wah and Communication (ICONDAC), yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) pada 24-25 September 2019 di Amphitheatre Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Hadir sebagai nara sumber ialah: Prof. Reevani Bustami, MA, PhD., dari University Sains Malaysia (USM), Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, (Director of Center for Southeast Asian Social Studies-UGM Yogyakarta), Prof. Nadirsyah Hossein (Monash University, Australia), Syekh Dr. Muhammad Husayn Farg Sayyid Ahmad (Al Azhar University) dan Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, MAg (UIN Sunan Ampel Surabaya).

Saya menyampaikan beberapa hal terutama dalam kaitannya dengan posisi ilmu Dakwah dan Komunikasi, terutama dilihat dari paradigm dan pengembangannya ke depan.

Pertama, saya sampaikan pertanyaan dasar, “Is the science of da’wah already in the “established” area as it develops other sciences in the cluster of religion study? This is the question that I think is necessary to obtain certain answers from lecturers who should be directly or indirectly involved in the development of da’wah study.

This paper takes effort to examine the scientific development of da’wah and its scientific application from the content analysis perspective which is often used as a perspective to view works or documents in the scientific field. On this context, indeed is an analysis of the work among observers and lecturers of the Faculty of Da’wah and Science Communication which during that time had gained an understanding of the da’wah science and various variants of its derivatives.

Kedua, posisi dan paradigm ilmu dakwah. Mengenai posisi ilmu dan beberapa paradigm di dalam kajian ilmu dakwah dapat dinyatakan sebagai berikut: I stated that the science of da’wah is the science of religion, as is the existence of tarbiyah, sharia, ushululuddin, commentary, hadith science and so on. Of this view, it is Abdullah, who states that the science of da’wah is religious knowledge. I think this view must be confirmed, because it really is unlikely that the da’wah science becomes the part of social science.

If we look at the works produced by the da’wah scientist, presumably it can be mapped based on the da’wah scientific paradigm, namely: paradigm factor, system, developmentalism, interpretative and participatory. Based on the above mapping paradigm, it can be seen that in the meantime, most experts in da’wah science still exist and develop the da’wah paradigm factor.

This is certainly due to the fact that the discussion around the science of da’wah is inside this paradigm. In Faculty of Da’wah and Communication of UIN Sunan Ampel, it can be known that the paradigm factor is ingrained, especially around the 1980s until the 1990s even now especially in Communication and Study programs of Islamic Broadcasting (KPI). These studies are related to the relationship between da’wah factors.

In addition to this, there are also a number of study areas that are interdisciplinary and cross-disciplinary, which have not yet gotten the optimal touch based on the scientific studies posted. For example, the interpretation of da’wah, da’wah hadith, sociology of da’wah, anthropology of da’wah, da’wah politics and so on. The interpretation of da’wah and da’wah hadith is an interdisciplinary study, because it is the field of religious science, whereas the sociology of da’wah, anthropology of da’wah, da’wah political studies, da’wah law studies, and so on is interdisciplinary study or fields that are in between has also not been received adequate touch.

Ketiga, ada beberapa catatan penting untuk pengembangan ilmu dakwah ke depan, di antaranya ialah: Lecturer Resources at the Faculty of Da’wah and Communication are sufficient. Today, there are many lecturers at the Faculty of Da’wah and Communication who hold doctoral degree with various studies. Their presence is certainly very meaningful for the development of da’wah science indeed really needs rapid development.

Therefore, there are a few notes to notice:

  1. Most studies of da’wah are within the da’wah factor paradigm, so that other paradigms such as the paradigm system, paradigm developmentalism and interpretive paradigm have not yet obtained an adequate proportion of studies.
  2. A consortium of experts in the field of da’wah is needed in collaboration with other sciences, to discuss and develop mono-disciplinary, interdisciplinary and cross-disciplinary and even multi-disciplinary studies.
  3. Efforts are needed to write and develop studies in interdisciplinary or cross-disciplinary studies and even multidisciplinary in the science of da’wah. I consider that most studies of da’wah interdisciplinary, and cross disciplinary are also immature. If it already exists (da’wah psychology, da’wah sociology and da’wah management) it is still an introductory study and has not been developed yet in a deeper direction. Moreover, interdisciplinary and cross-disciplinary studies (da’wah anthropology, da’wah political studies, da’wah law studies, etc.) have not yet been developed optimally.

I think that accelerating steps are needed to achieve the development of da’wah science that is responsive to the times and is also relevant to the desire to develop a multidisciplinary of da’wah science. The task of the lecturers of the Da’wah and Communication Faculty is not only to teach but also to conduct research and then publish it in the form of books and journals in various confessions.

Wallahu a’lam bi al shawab

 

 

 

MEDIA SOSIAL DAN DAKWAH

MEDIA SOSIAL DAN DAKWAH

Selama ini banyak yang menyatakan bahwa media sosial (medsos) itu memiliki kemadharatan yang lebih banyak dibanding kemanfaatannya. Pandangan ini tentu saja tidak salah mengingat –terutama di era pilkada atau pilpres—maka media sosial dijadikan sebagai sarana yang ampuh di dalam menggiring opini masyarakat tentang apa yang diinginkannya.

Media sosial sering dikaitkan dengan hoax, informasi bohong, pembunuhan karakter, ujaran kebencian dan sebagainya. namun sesungguhnya medsos memiliki kapasitas yang luar biasa untuk dijadikan sebagai sarana untuk mengembangkan kebaragamaan masyarakat. Misalnya ketenaran Ustadz Abdus Shomad (UAS) adalah didorong oleh penggunaan media sosial sebagai sarana untuk mendakwahkan Islam sesuai dengan paham keagamaannya. Selain beliau memang memiliki kapasitas sebagai da’i disebabkan beliau adalah alumni Timur Tengah, beliau juga memiliki keberanian dalam berbeda dengan pandangan ulama atau tokoh agama lainnya, terutama yang terkait dengan relasi antar umat beragama.

UAS memang didukung oleh team teknologi yang baik. Suatu team yang terdiri dari anak-anak muda untuk menyebarkan konten ceramah UAS dengan cara memilah mana yag disebarkan relatif utuh melalui editing secukupnya dan ada yang dipilah menjadi meme, infografis, dan sebagainya. Begitu hebatnya team media sosial itu, misalnya pernah di media sosial diunggah foto yang menyamakan wajah UAS dengan Panglima Sudirman.

Beberapa hari yang lalu, Senin, 23/09/2019, saya dan beberapa kawan (Dr. Chabib Musthofa, Yusrol Fahmi, M.Si, Ning Izmi, Alin, Zamzami, Ilham, Yero, Rizal dan Mukhlis mendiskusikan tentang bagaimana kita memasuki media sosial untuk membangun konten Islam wasathiyah. Di dalam diskusi itu, salah satunya bagaimana kita harus juga terlibat di dalam hiruk pikuk medsos dengan tujuan untuk mengembangkan konten Islam yang ramah dan juga mencerahkan. Targetnya tentu tidak semuluk-muluk misalnya untuk menyaingi informasi dari pelaku medsos lainnya, akan tetapi tentu untuk memberuikan gambaran bahwa ada alternatif lain untuk melihat Islam dengan pemahaman dan pengamalan yang lebih mengedepankan pada dimensi moderatisme.

Saya sampaikan ada tiga hal penting untuk dibahas di dalam forum kecil ini, yaitu: Pertama, bagaimana kita bisa menjadi team yang kuat untuk menyebarkan pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Konsepsi Islam rahmatan lil ‘alamin itu sudah sangat jelas, akan tetapi jangan sampai hilang di tengah kerumunan medsos yang menyebarkan kontra hal ini. Dewasa ini begitu banyak konten agama yang dijadikan sebagai sarana untuk memperkuat kelompok, paham dan juga keyakinan akan kebenarannya sendiri dalam menafsirkan agamanya. Kedua, kita harus bergerak untuk membuat konten-konten informasi keagamaan dalam berbagai variannya, sehingga ada alternatif lain bagi para penggemar medsos untuk memahami bahwa ada tafsir lain tentang agama dan juga diyakini bahwa tafsir adalah sesuatu yang bisa sangat variatif karena berisi “pemikiran” manusia tentang agamanya. Ketiga, kita sedang berhadapan dengan generasi milenial yang di dalam banyak hal berpikir sangat instan dan tidak suka pada hal-hal yang rumit, sehingga untuk memahami sesuatu cukup dengan membaca “sekejap” dan kemudian dianggap sebagai kebenaran. Mereka tidak memandang apakah yang berbicara itu tokoh agama atau bukan, yang penting pesan tersebut bisa memenuhi keinginannya dan dengan mudah bisa diperolehnya. Cara berpikir instan ini yang saya kira harus menjadi perhatian kita semua, terutama orang-orang yang sadar betapa medsos sesungguhnya bisa dijadikan sebagai sarana untuk dakwah Islam.

Menanggapi hal ini, Dr. Chabib Musthofa memberikan paparannya, bahwa dewasa ini memang media sosial sudah sedemikian rumitnya dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat. Coba jika dilihat lalu lintas informasi di media sosial, maka dapat menggambarkan tentang bagaimana tingkat kompleksitas dan lalu lalang informasi yang menyebar tanpa bisa dihentikan oleh siapapun. Makanya, harus segera dimulai untuk mengembangkan konten-konten sebagaimana disampaikan oleh Pak Professor tadi. Kita harus bergerak dan jangan hanya menjadikan hal ini sebagai wacana saja. Coba dilihat di media sosial sudah banyak konteks mengaji ilmu sosial, mengaji filsafat, mengaji Islam rahmah, tetapi juga terdapat konten-konten yang menyesatkan dan membuat perpecahan. Lalu lalang berita di medsos sudah dalam tahapan “mengkhawatirkan”. Makanya, harus diupayakan untuk membuat konten-konten informasi keislaman, melalui meme, infografis, speedwriting, dan bahkan vlog-vlog yang isinya tentang Islam ramah dimaksud. Bukannya, Pak Prof. Nur Syam sudah memilki “Nur Syam Center”, yang saya kira bisa dijadikan sebagai salah satu medium bersama untuk mengembangkan informasi damai dimaksud.

Ning Izmi juga menyampaikan bahwa NU juga sudah melakukan pelatihan tentang literasi digital dan menjadikan media sebagai sarana untuk menyebarkan islam yang rahmatan lil ’alamin. Yang kita akan lakukan kiranya memiliki kesamaan visi dengan organisasi-organisasi wasathiyah yang telah ada di Indonesia. senada dengan ini Yusrol juga menyampaikan bahwa sebenarnya Prof. Nur Syam sudah memiliki banyak ceramah atau wawancara yang intinya terkait dengan bagaimana membangun umat Islam yang moderat dan sudah dikategorikan, jadi tinggal kita yang harus bekerja untuk kepentingan tersebut.

Kita berkesepakatan bahwa kita harus menjadikan medsos sebagai sarana untuk pesan kebaikan. Meskipun kita tidak bisa mengimbangi derasnya arus di dalam media sosial tersebut, tetapi yang saya lakukan itu penting bahwa kita harus berbuat. Kelemahan kita adalah pada membangun tim yang kuat dan solid. Makanya, saya setuju dengan pandangan Dr. Chabib bahwa kita sudah saatnya bergerak.

 

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

GENERASI QUR’ANI DI ERA INDUSTRI 4.0

GENERASI QUR’ANI DI ERA INDUSTRI 4.0

Sebanyak 40 orang pimpinan cabang Tilawati dari seluruh Indonesia mengikuti program pertemuan nasional yang dilakukan oleh Pimpinan Pesantren Al Qur’an Nurul Falah Ketintang Surabaya. Hadir di dalam acara ini adalah ketua Yayasan Pesantren Al Qur’an Nurul Falah, Ustadz Umar Zaini, dan segenap pimpinan Pusat Tilawati di Surabaya, 22 September 2019. Pesantren Al Qur’an Nurul Falah Ketintang inilah yang menciptakan Metode Belajar Al Qur’an Tilawati, yang sekarang sudah menjadi trend di Indonesia.

Saya tentu sangat bersyukur bertemu dengan orang-orang hebat yang selama ini mengabdikan dirinya untuk memasyarakatkan Al Qur’an di dalam kehidupan sosial. Sebagaimana diketahui bahwa Metode Tilawati adalah metode belajar Al Qur’an yang sudah memasyarakat di Indonesia. Terbukti hampir seluruh propinsi di Indonesia terdapat cabang Tilawati, misalnya dari Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan tentu saja di Jawa. Selain saya, yang menjadi narasumbernya adalah Prof. Masdar Helmy, PhD, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sebagaimana biasanya, saya menyampaikan tiga hal yaitu: pertama, tentang tantangan umat Islam di dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi yang sangat luar biasa. Kita sedang berada di dalam suatu era yang “nggegirisi” berupa era perang media atau yang biasa disebut sebagai cyber war. Yaitu perang bukan bersifat fisik sebagaimana di masa lalu, akan tetapi perang melalui media sosial. Kita berada di dalam era yang orang bisa melakukan tindakan yang baik dan dan buruk melalui media. Ada ujaran kebencian, ada pembunuhan karakter dan ada kebohongan public yang luar biasa di media massa. Akan tetapi di media sosial juga terdapat dakwah, nasehat keagamaan dan aplikasi belajar al Qur’an dan sebagainya.

Menurut saya bahwa para pimpinan Cabang Tilawati harus memeiliki kecerdasan media atau literacy media. jangan mudah percaya terhadap berbagai ungkapan di media. Check and recheck atau saring sebelum sharing. Janganlah kita menjadi penyebar hoax yang sungguh akan sangat merugikan masyarakat kita.

Kedua, sebagai akibat dari era cyber war tersebut, maka juga orang bisa digiring untuk memahami agama sesuai dengan yang dikehendaki oleh penyebar informasinya. Ada sekelompok komunitas yang dengan kekuatan medianya dapat mempengaruhi terhadap opini public. Dan yang menyedihkan mereka menjadikan agama sebagai komoditas untuk mempengaruhi orang untuk memiliki visi yang sama dengannya. Tafsir agama yang cenderung tunggal tersebut disebar melalui media sosial dan karena tingkat literasi media yang rendah, maka banyak yang terpengaruh. Dewasa ini banyak sebaran informasi seperti meme, infografis, speed writing dan sebagainya yang terkadang mengusung isu-isu yang menyesatkan atau hoax. Para pimpinan cabang tilawati harus menjadi agen untuk menyadarkan masyarakat tentang pengaruh negative media sosial, lalu mengisinya dengan informasi yang positif.

Ketiga, tentu tidak ada keraguan untuk mendidik masyarakat Indonesia dengan Al Qur’an, sebab tidak ada yang menyangsikan tentang kebenaran al Qur’an. seperti Maurice Buchaille, Leopold von Weiss, Toshihiro Isutzu, dan lain-lain. Ada yang menjadi Muslim dan ada yang tidak. Lalu, Al Qur’an yang terjaga keasliannya, semenjak Nabi Muhammad saw sampai sekarang. Para penghafal Al Qur’an adalah para penyelamat keaslian Al Qur’an.

Selain hal ini, Penulisan Al Qur’an adalah penyelamatan Al Qur’an. Para ahli tafsir dan para pengkaji Al Qur’an adalah penyelamat Al Qur’an. Semua dari mereka adalah orang yang bekerja karena takdir Allah semata untuk menjaga autentisitas Al Qur’an.

Dewasa ini ada kesadaran untuk mempelajari dan mengkaji Al Qur’an semakin banyak. Ada para ahli yang mengkhususkan untuk mengajar dan mendalami Al Qur’an. Ada individu yang mengkhususkan diri menghafal Al Qur’an. Dahulu kita heran para penghafal Al Qur’an di Timur Tengah dalam usia 7 atau 8 tahun. Kita dahulu heran orang bisa hafal al Qur’an dalam waktu 2 atau 3 tahun. Sekarang ada banyak anak Indonesia yang hafal al Qur’an dalam usia 7 atau 8 tahun. Sekarang ada lembaga pendidikan al Qur’an yang khusus belajar hafalan Al Qur’an dalam waktu 5 bulan

Pendidikan Al Qur’an sudah sangat memasyarakat. Banyak lembaga tahfidz yang berkembang di Indonesia. Ada Pesantren, TPQ/TPA, sekolah, madrasah, organisasi, individu dan sebagainya yang berfokus untuk mengajarkan al Qur’an. Ada masjid, mushalla, televisi dan radio serta media sosial yang mengkhususkan diri untuk mengkaji al Qur’an. Di dalam konteks ini, nuansanya mencapai derajat “memasyarakatkan al Qur’an dan “mengalQur’ankan masyarakat”. Al Qur’an menjadi program massive di tengah masyarakat.

Saya berasumsi, dengan semakin banyaknya pengkaji, penghafal dan pengamal Al Qur’an, maka suatu negara bangsa akan semakin baik dan berkualitas. Saya berpandangan bahwa arah ke depan Indonesia adalah dengan generasi Qur’ani. Bisa dibayangkan para politisinya hafal Al Qur’an, para pejabatnya hafal Al Qur’an, para staffnya paham al Qur’an, para pengusahanya mencintai al Qur’an dan masyarakatnya juga menyayangi al Qur’an. Jika seperti demikian, maka puncaknya ialah negara yang aman dan damai, penuh kesejahteraan dan kebahagiaan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MEMBAHAS SOSIOLOGI TRANSENDENTAL

MEMBAHAS SOSIOLOGI TRANSENDENTAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi (Founder Friendly Leadership Training)

Diskusi buku yang diselenggarakan di Mushalla Al Ihsan, 24/08/2019, terasa istimewa, sebab yang hadir adalah Narasumber yang kompeten untuk membahas karya ilmiah, sebagaimana pandangan kaum akademis. Saya sungguh merasa terhormat bahwa yang menghadiri bedah buku ini adalah Dr. Moh. Zein, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Keagamaan, Khazanah Keagamaan dan Pengembangan Manajemen Kelembagaan pada Balitbangdiklat Kementerian Agama, seorang akademisi yang kemudian berkarir di birokrasi Kementerian Agama. Dan yang kedua, ialah Dr. Ali Rohmat, kepala Biro Perencanaan pada Kementerian Agama, yang juga penulis buku-buku tentang Haji. Bukunya tentang Manajemen Haji saya kira sangat memadai bagi bacaan akademik di UIN atau IAIN. Dan yang ketiga adalah  Dr. Abdul Halim, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Acara bedah buku ini dipandu oleh Dr. Chabib Musthafa, murid saya yang sedang naik daun dalam kiprah akademis dan juga birokrasi kampus. Acara ini dihadiri oleh sejumlah mahasiswa dan juga warga di sekitar Mushalla al Ihsan, yang baru didirikan sekitar tiga bulan yang lalu. Hadir antara lain, Dr. Syamsul Bahri, Drs. Rijalul Faqih, MM., Chalil Umam, MPdI., Pak Rangga dan kawan-kawan dari Bank Jawa Timur Syariah, Yusral Fahmi, MSi (penyelanggara Bedah Buku dari Darul Qur’an), Rusmin, MPdI., Rahmat Lubis, MM, Pak Yudi, Pak Tomi, Pak Hardi dan lainnya.

Sebagai narasumber, saya menyampaikan tiga hal, yaitu: Pertama, tentang posisi buku ini. Terus terang buku ini bukanlah buku akademik yang ketat dan berbasis pada pengalaman penelitian yang rumit dan mendalam. Buku ini merupakan refleksi tentang “Ramadlan” yang saya tulis dan dibantu oleh beberapa kawan untuk menulisnya. Ada tulisan yang merupakan refleksi, dan ada tulisan yang berisi content ceramah dan tulisan yang menggambarkan tentang hal itu dari sisi empiris.

Pada tahun 2016 yang lalu, saya bernadzar bahwa selama bulan puasa saya akan menulis setiap hari, dan Alhamdulillah nadzar tersebut terpenuhi dan kemudian dalam rentang waktu 2014-2019, saya menulis tentang “Hari Raya” di Indonesia yang unik dan menarik. Tidak hanya bagi akademisi atau penulis ilmiah popular, tetapi juga para penulis luar negeri yang suka mencermati “keberagamaan” di Indonesia. Tulisan-tulisan inilah yang kemudian saya bukukan, sehingga isinya merupakan refleksi tentang puasa dari sisi theologis, sosiologis dan budaya.

Jadi, jangan dibayangkan bahwa buku ini adalah buku akademis yang sophisticated, yang rumit dan jelimet, akan tetapi lebih merupakan buku refleksi yang berisi tentang kesan, pengalaman dan dunia empiris tentang puasa yang sehari-hari dilakukan oleh umat Islam dan juga tradisi-tradisi di sekelilingnya. Mungkin akan lebih tepat disebut sebagai “Sosiologi Reflektif”, namun saya lebih suka menggunakan istilah “Sosiologi Transendental”, sebab yang dikaji ialah persoalan theologis yang hidup di dalam diri manusia. Puasa adalah ajaran theologis yang hidup dalam ruang kemanusiaan, dan kemudian menghasilkan pengalaman sosiologis kemanusiaan maupun tradisi hari raya.

Kedua, mengapa puasa itu menarik dikaji. Ada tiga alasan, yaitu: alasan teologis, sosiologis dan budaya. Puasa memang merupakan ibadah yang khas dan juga menghasilkan perilaku yang khas. Puasa menjadi sarana yang sangat efektif untuk beribadah dalam “penebusan” atau “pengampunan” atas kekhilafan, kesalahan dan dosa. Ada dua jenis dosa bagi manusia, yaitu dosa karena lalai menjalankan ibadah kepada Allah dan dosa kepada sesama manusia. Dua-duanya bisa diselesaikan pada bulan ramadlan dan syawal.

Bulan puasa adalah Bulan diturunkannya Al Qur’an. Bulan Dilipatgandakan pahala bagi umat Islam yang melakukan kebaikan. Bulan penuh kerahmatan. Bulan penuh keberkahan. Bulan penuh ampunan. Bulan di mana-mana orang berlomba-lomba untuk beribadah. Bulan banyak lantunan ayat-ayat al Quran, banyak ceramah, kajian dan pendalaman ajaran agama. Banyak orang berdzikir, I’tikaf dan taqarrub ila Allah. Banyak orang melakukan muhasabah. Banyak orang melakukan amal perbuatan yang bertujuan “menyenangkan” Allah. Banyak shadaqah dan infaq yang dilakukan oleh umat Islam. Banyak doa berkumandang dari rumah, mushalla, masjid dan bahkan perkantoran. Banyak yang ingin tidak hanya memperoleh ampunan Allah tetapi juga kemaafan Allah kepada hambanya. Tidak hanya masjid yang ramai tetapi juga makam auliya, mall dan tempat perbelanjaan. Semuanya dilakukan untuk memperoleh ridha Allah dan kecintaan Allah. Ada malam lailat al qadar. Puasa memiliki sejumlah makna di dalam kehidupan umat.

Secara sosiologis, Puasa merupakan ajaran yang paling tua dalam sejarah agama-agama. Puasa sebagai bentuk dekonstruksi fisik. Pembalikan waktu makan bisa berakibat kesehatan, pendidikan dan kepekaan sosial. Puasa memiliki makna agar umat Islam memiliki kepedulian, kepekaan, solidaritas dan empati terhadap orang lain. Puasa dapat menjadi instrumen untuk mengasah kepekaan rational intelligent. Puasa dapat menjadi instrumen untuk mengasah emotional intelligent. Puasa dapat menjadi instrumen untuk mengasah social intelligent. Puasa dapat menjadi instrumen untuk mengasah spiritual intelligent

Secara kebudayaan, puasa dan hari raya menjadi arena untuk pualng kampong (Pulkam). Mudik, silaturrahim, kunjungan rumah dan sebagainya. Untuk pulkam, mudik, dan lain-lain itu diperlukan waktu, biaya dan tenaga ekstra sebab menempuh perjalanan panjang. Pulkam atau mudik menjadi ukuran seseorang dalam kehidupan bersama kolega, kerabat dan masyarakat lokal. Pulkam dan mudik adalah budaya khas Nusantara yang tidak dijumpai di negara-negara lain. Mulai dari rakyat jelata, birokrat, pejabat bahkan presiden juga merindukan tradisi ini.

Tradisi mudik, pulkam dan silaturrahim telah menginstitusional di dalam kehidupan masyarakat Indonesia.Yang menikmati tradisi ini bukan hanya umat Islam tetapi juga umat beragama lain. Tradisi silaturrahim telah menjadi budaya Indonesia. Tradisi ini akan terus berlangsung di tengah perubahan sosial apapun.

Ketiga, puasa merupakan bulan syiar agama, di mana seluruh media televise, radio, media sosial, masjid, mushalla, dan lembaga pemerintah atau institusi sosial keagamaan menyelenggarakan acara-acara keagamaan yang sangat dinamis. Oleh karena itu, kita bisa memastikan bahwa bulan puasa merupakan bulan yang di dalamnya banyak terjadi peristiwa keagamaan, peristiwa sosial bernuansa agama dan bahkan juga tradisi berbalut agama.

Walllahu a’lam bi al shawab.