• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PENDIDIKAN ISRA (ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN)

PENDIDIKAN ISRA (ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN)

Terkadang saya salah persepsi, terutama terhadap siapa yang yang menjadi mitra saya dalam suatu forum. Hal ini terjadi di saat saya menjadi narasumber di salah satu acara yang digelar oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum, tepatnya di Hotel Alana, 28/11/2019. Acara ini dihadiri oleh siswa SMP dan tentu didampingi oleh guru-guru agamanya. Bukan informasi dari panitia yang salah, akan tetapi saya yang salah menyangka tentang siapa peserta forum ini. Maka saya lalu harus secepatnya mengubah strategi pembelajaran andragogy yang biasa digunakan untuk orang dewasa menjadi pembelajaran berbasis pedagogy.

Saya diundang oleh Direktur Pendidikan Agama Islam pada Ditjen Pendidikan Islam, Pak Dr. Rahmat Mulyana, untuk membincang tentang bagaimana mengembangkan pendidikan Islam Rahmatan lil Alamin (pendidikan Isra) di era milenial. Saya merasa senang karena diberi amanah untuk berbicara tentang kaum muda milenial. Suatu tema yang selama ini menjadi concern saya dalam banyak forum. Ketepatan saya berbicara kepada generasi milenial, atau tepatnya generasi Z karena mereka lahir antara tahun 2000an. Mereka adalah generasi milenial muda, setelah generasi milenial yang lahir tahun 80an.

Ada tiga hal yang saya sampaikan secara garis besar tentang pendidikan Islam rahmatan lil ‘alamin. Pertama, saya sampaikan bahwa sudah saatnya kita ini belajar untuk menulis, sebab dunia sekarang sudah menjadi era literasi. Siapa yang paling menguasai literasi, maka dialah yang akan menguasai perbincangan di dalam wacana public. Maka saya tunjukkan bahwa saya termasuk kaum blogger yang aktif. Saya tayangkan blog saya kepada anak-anak dan juga para guru. Saya sampaikan meskipun tulisan itu di dalam bahasa Indonesia, tidak berarti yang membaca hanya orang Indonesia. Saya tunjukkan, bagaimana US menjadi pembaca kedua, Malaysia menjadi pembaca ketiga, bahkan Italia, Jepang, Hongkong, Arab Saudi, UEA, Perancis, Belanda, Rusia dan sebagainya. Secara keseluruhan ada sebanyak 34 negara yang warganya membaca tulisan saya. Mereka membaca dari 1930 artikel (30/11/2019) yang saya publish di blog. Para guru dan anak-anak ayo kita belajar menulis. Apa saja. Bisa puisi, pantun, cergam, cerbung, meme, speed writing, info grafis dan apa saja, sebab dipastikan ada di antara tulisan itu yang akan dibaca orang.

Kedua, Kita ini diwarisi oleh para leluhur kita negeri yang indah, besar dan hebat. Tidak ada di dunia ini yang memiliki pulau, suku bangsa dan bahasa yang sedemikian besar. Anak-anak berapa jumlah pulau kita. lalu ada yang menjawab” “17.000”. Mendekati benar, yang pasti sebanyak 17.504 pulau, dengan 1340 suku bangsa dan bahasa sebanyak 742. Mana ada negara dengan pluralitas dan multikulturalitas seperti ini. Itulah sebabnya anak-anak harus bersyukur kepada Allah atas kenikmatan sebagai bangsa besar. Jangan sampai kehebatan Indonesia ini dirusak oleh orang lain yang tidak memiliki komitmen terhadap kelestarian bangsa Indonesia.

Saya tanya kepada anak-anak itu, “apakah anak-anak masih akan mempertahankan Pancasila”? Mereka menjawab dengan serempak: “masih”, “apakah anak-anak akan mempertahankan NKRI”? Mereka menjawab: “ya”. Saya menilai bahwa mereka tulus menyatakannya. Saya lalu menjelaskan, bahwa para founding fathers negeri ini telah meletakkan empat consensus kebangsaan, yaitu: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan. Tentang kebinekaan atau pluralitas dan multikulturalitas ini adalah sunnatullah. Jika Allah berkehendak, bisa saja hanya ada satu makhluk yang sama. Hanya ada satu binatang yang sama, hanya ada satu warna bunga yang sama. Akan tetapi Allah memberikan keanekaragaman sebagai bentuk kekuasaannya. Dan melalui keragaman itu kita bisa saling mengenal satu dengan yang lain. Coba kita hari ini berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Ada dari Jawa Timur, Kalimantan, Sumatera dan sebagainya. Dan kita bisa mengenal satu dengan lainnya. Padahal kita memiliki bahasa yang berbeda, tradisi yang berbeda, dan asal-usul yang berbeda, tetapi kita menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Janganlah kita seperti Afghanistan, yang hanya memiliki tujuh suku bangsa, tetapi perang tidak henti-hentinya. Perang, perang dan perang melulu.

Ketiga, islam itu agama yang memberikan rahmat bagi seluruh alam. Yaitu memberi rahmat bagi manusia, alam, dan ekosistem lingkungan. Jadi tidak hanya memberikan kerahmatan bagi umat Islam saja tetapi juga manusia lainnya yang hidup di alam ini, dan juga seluruh makhluk yang diciptakan oleh Allah. Oleh karena itu, Islam juga harus diajarkan sesuai dengan prinsip memelihara dan menjaga alam seluruhnya supaya selamat dan sejahtera. Tidak boleh manusia mengeksploitasi alam hanya untuk kepentingan manusia, sebab juga ada makhluk lain yang membutuhkan kehidupan di dalam ini. Hutan misalnya tidak boleh ditebang semena-mena sebab ada kehidupan hewan yang sangat tergantung kepada keberadaan alam. Demikian juga manusia tidak boleh mencemari lautan, sebab di laut juga terdapat kehidupan yang harus diselamatkan.

Dengan demikian, Islam memiliki prinsip hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam. Manusia harus menjaga hubungan baik dengan Allah sebagai penciptanya, manusia harus melakukan hubungan baik dengan sesamanya –tanpa membedakan apa agamanya—dan juga hubungan baik dengan alam yang ditinggalinya dengan makhluk lainnya. Jika kita bisa melakukannya dengan seimbang, maka inilah artinya kita telah menjalankan ajaran agama yang mengandung prinsip rahmatan lil alamin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

PRIORITASKAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN INKLUSI

PRIORITASKAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN INKLUSI

Saya ikut menghadiri acara pengukuhan Professor Zumratul Mukaffa, dosen Fakultas Tarbiyah dan ilmu Kependidikan UIN Sunan Ampel Surabaya. Hadir para Ketua Senat (Prof. Akhwan Mukarrom) dan anggota Senat, Rektor (Prof. Masdar Hilmy) dan segenap jajarannya, para dosen dan tenaga kependidikan pada UIN Sunan Ampel. Di antara yang juga hadir adalah Ibu Wury Ma’ruf Amin, Ibu Wakil Presiden RI, yang didampingi oleh Ibu Arumi Bakhsin, Ibu Wakil Gubernur Jawa Timur, dan juga hadir KH. Agus Ali Masyhuri, KH. Asep Saifuddin, KH, Jamaluddin, dan para undangan lainnya. Acara ini diselenggarakan di Sport Center UIN Sunan Ampe, 28 Nopember 2019.

Acara ini juga menarik sebab hadir juga sekelompok Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang menyanyi dan memainkan musik angklung diiringi oleh organ tunggal. Sungguh mengharukan dan sekaligus membanggakan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus itu menyanyikan lagu “Bunda” dan “Jangan Menyerah”. Kalau tidak salah lagu “jangan Menyerah” itu dinyanyikan oleh D’Massive dengan syair yang sangat menyentuh. “Tak ada manusia/yang terlahir sempurna/Jangan kau sesali/segala yang telah terjadi. Syukuri apa yang ada/hidup adalah anugrah/tetap jalani hidup ini/melakukan yang terbaik.” Saya lihat banyak undangan yang menitikkan air mata mendengar dan melihat mereka bermain angklung. Sungguh peristiwa yang membuat harus dikenang, bahwa mereka yang selama ini disebut sebagai disable atau anak berkebutuhah khusus ternyata bisa menghibur dengan semangatnya yang menyala-nyala.

Tema yang dibawakan oleh Prof. Dr. Zumratul Mukaffa, MAg. adalah “Membiakkan Pekerti Adiluhung Bagi Penyelenggara Madrasah Inklusi: Belajar dari MIT Arroihan Malang”. Saya kira ini adalah tema yang sangat menarik di tengah keinginan kita bahwa pendidikan juga harus menjangkau semua elemen masyarakat, tidak ada anak yang usia belajar dan tidak belajar atau sering disebut sebagai education for all. Tidak ada terkecuali semua anak Indonesia harus belajar pada usianya. Makanya pemerintah menggalakkan program wajib belajar sembilan tahun dan disusul kemudian wajib belajar 12 tahun, yang semula dinamakan dengan pendidikan universal.

Ada tiga hal yang saya kira bisa direspon dari uraian panjang Prof. Dr. Zumratul Mukaffa, MAg, dan juga diberi catatan khusus oleh Ibu Wury Ma’ruf Amin dalam pidatonya. Pertama, perdebatan pengertian pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Secara konseptual, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sering dibahasakan dengan disability atau ketidakmampuan. Penggunaan konsep disabilitas tentunya mengandung konsekuensi bahwa yang dijadikan sebagai mitra pendidikan adalah anak yang tidak berkemampuan. Lalu, juga konsep handycap atau rintangan. Di dalam konteks ini, Bu Zum –begitu saya menyebut—mengapresiasi pendapat Santrock, yang menyatakan sebagai “peserta didik yang memiliki keterbatasan”. Melalui konsep ini dunia pendidikan tidak menganggap bahwa ABK adalah individu yang tidak berkemampuan atau disability. Konsep ini lebih melihat bahwa setiap manusia memiliki potensi, dan para pendidiklah yang harus mencari potensi itu untuk dikembangkan.

Pendidikan harus mengutamakan manusia, makanya ABK juga harus dilihat sebagai manusia utuh yang memerlukan pendidikan secara khusus. Mengutip Franklin, Prof. Zum, bahwa ABK adalah anak yang tidak memiliki kemampuan belajar (Learning disability) sebagaimana anak pada umumnya dan bukan tidak mampu belajar (learning disabled child). Peserta yang tidak memiliki kemampuan belajar adalah masalah sekunder, dan selebihnya mereka harus dilihat sebagai manusia utuh dengan segala kehormatan, kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya.

Kedua, tanggung jawab pendidikan inklusi. Ada beberapa model sekolah atau madrasah inklusi, yaitu: 1) kelas regular penuh, dengan kurikulum yang sama untuk semua peserta didik, 2) kelas regular khusus dengan guru pembimbing khusus, di mana semua dikenai kirukulum berstandar nasional, hanya saja untuk ABK harus mendapatkan bimbingan secara khusus, dan 3) sekolah khusus di sekolah regular, di mana ABK diformat dalam kelas khusus dengan pelayanan khusus.

Dalam memangku tanggung jawab di dalam pendidikan inklusi, maka diperlukan persyaratan khusus, baik untuk kepala madrasah maupun guru-gurunya. Persyaratan untuk guru, misalnya adalah kemampuan personal, pedagogis, professional, sosial, spiritual, dan leadership. Sedangkan untuk kepala madrasah harus memiliki kemampuan mengenali kebutuhan SDM (guru, psikholog, therapist dll), serta kemampuan pedagogis pada umumnya dan pengembangan infrastruktur yang memadai. Sebagaimana namanya lembaga pendidikan inklusi, maka juga dibutuhkan penanganan dan pengelolaan secara inklusif. Kepala madrasah, guru dan bahkan tenaga kependidikan adalah individu yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi dalam memahami siapa sesungguhnya mitra didiknya.

Ketiga, Model MIT Arroihan. Di dalam program pembelajaran, ternyata ada beberapa prinsip yang kiranya bisa dijadikan model, yaitu: 1) mengembangkan pekerti adiluhung atau character building. Prinsip dasar dari pekerti adiluhung adalah konsep Al Rahman dan Al Rahim, melalui konsep ini, maka semua peserta didik adalah bagian rahman dan Rahim Tuhan, sehingga tidak terdapat diskiriminasi di dalam program pembelajaran. Hanya perlakuan khusus saja yang dibutuhkan. 2) prinsip pendidikan pekerti adiluhung adalah mengenal Allah berbasis pada ajaran tasawuf. Pekerti adiluhung juga berprinsip pada tanggung jawab dalam menghadapi kehidupan, misalnya janji harus ditepati, komitmen terhadap apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan, di sini diajarkan mengenai kejujuran. Selain itu juga mengajarkan konsistensi tentang apa tujuan dan apa yang dilakukan, makanya MIT Arroihan menyelenggarakan pendidikan tanpa memandang ABK dalam keadaan apapun dan menerima siapapun yang perlu belajar di sini. Prinsip keikhlasan yang diterapkan inilah akhirnya membawa pada kemajuan lembaga karena semua pimpinan dan guru merasa memiliki visi dan missi yang sama untuk mendidik anak-anak, termasuk ABK.

Oleh karena itu, MIT Arroihan dapat dijadikan sebagai role model di dalam pembelajaran ABK. Dan sejauh ini MIT Arroihan terus berupaya untuk menjadikan lembaga pendidikan ini sebagai yang terbaik, dengan menghasilkan ABK tetapi memiliki prestasi yang membanggakan, misalnya siswanya bisa menjadi juara dalam berbagai lomba robotic baik nasional maupun regional.

Dan yang tidak kalah penting adalah dukungan pemerintah, khususnya Kementerian Agama untuk membangun institusi pendidikan inklusi sebagai prioritas program, selain program unggulan yang sudah ada selama ini. Melalui program unggulan pendidikan inklusi, maka akan tampak betapa konsep education for all sungguh telah menjadi komitmen kita bersama.

Wallahu a’lam bi al sahwab.

 

MENJADI SARJANA YANG PROFESIONAL

MENJADI SARJANA YANG PROFESIONAL

Meskipun sarjana atau lulusan strata satu dalam KKNI berlevel 6 atau seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan pemecahan masalah dengan pendekatan monodisiplin, akan tetapi tidak berarti bahwa sarjana itu tidak memiliki kemampuan yang memadai dalam bidangnya. Itulah pesan inti yang saya sampaikan dalam acara pembekalan bagi para mahasiswa yang diyudisium oleh IAIN Kediri, 24/11/2019, di Aula IAIN Kediri. Yang diyudisium sejumlah 582 orang dari berbagai Fakultas di IAIN Kediri.

Hadir pada acara ini adalah Rektor IAIN Kediri, Dr. Nurhamid, para wakil rector, dekan dan wakil dekan, para dosen, Kabiro IAIN Kediri dan jajaran pejabat serta para mahasiswa dan mahasiswi IAIN Kediri. Saya tentu bersyukur bisa bertemu dengan para mahasiswa yang hari ini diyudisium dan juga bisa melihat kembali perkembangan IAIN Kediri pasca transformasi dari STAIN Kediri, dua tahun yang lalu. Perkembangan fisiknya tentu sangat baik berkat sentuhan anggaran SBSN yang menjadi skema Kemenag dalam kerangka memperkuat sarana dan prasarana pendidikan pada PTKIN.

Saya menyampaikan tiga hal terkait dengan pembekalan pada para mahasiswa yang diyudisium. Pertama, saya mengapresiasi dengan sangat mendalam atas penyelesaian studi, baik untuk program sarjana maupun pasca sarjana. Saya menyatakan bahwa “saudara-saudara yang diyudisium hari ini adalah orang-orang hebat, dan pasti dilahirkan dari orang-orang hebat”. Jika orang tua kita tidak hebat pasti kita tidak akan bisa meraih titel sarjana atau pasca sarjana. Apapun fakultas anda dipastikan bahwa anda dan orang tua anda adalah orang-orang yang terpilih untuk menghadirkan orang-orang hebat”. Ada sebuah pernyataan orang tua (Bapak) saya, yang selalu saya kenang sebelum Beliau meninggal. Pada suatu sore ba’da maghrib, Beliau menyatakan dalam bahasa Jawa, kira-kira dalam bahasa Indonesia bisa dinyatakan: “aku ingin menyekolahkan kamu tinggi sekali, tetapi rasanya sudah tidak kuat”. Pagi hari jam 05.00 WIB,   pagi tanggal 1 Ramadlan, beliau dipanggil kembali oleh Allah”. Kata-kata ini yang memicu saya untuk terus dan terus sekolah melawan terhadap keinginan masyarakat agar saya berhenti sekolah”. Jadi, saya yakin bahwa orang tua anda adalah orang-orang yang hebat dengan cita-cita yang sangat baik untuk pendidikan anak-anaknya.

Ucapan selamat juga pantas saya sampaikan kepada jajaran Rektorat, Dekanat, dan para tenaga kependidikan yang sudah melayani dan memberikan ilmunya kepada anda semua. Tanpa kehadiran dosen dan tenaga akademik, maka mustahil anda bisa duduk dalam barisan para sarjana yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan para pemuda lainnya. Ketulusan para dosen akan menentukan bagaimana kehidupan anda di masa yang akan datang. Pada dosen adalah orang yang membuka jendela rumah ilmu pengetahuan. Dan anda yang melanglang dunia ilmu di rumah ilmu pengetahuan tersebut. Kita adalah “the Seeker”, “the Explorer” yang bisa membuka pintu demi pintu pengetahuan yang sudah dibuka oleh para dosen.

Kedua, para alumni pendidikan tinggi memiliki tantangan yang sangat besar di era perkembangan teknologi informasi. Tantangan tersebut berupa semakin menguatnya artificial intelligent (AI) atau kecerdasan buatan seperti robot yang multifungsi. Robot rumah tangga akan bisa melayani kebutuhan dalam pelayanan kerumahtanggaan, mobil tanpa supir yang dibuat oleh Volvo dan juga truck tanpa sopir yang diinsiatifkan oleh Daimler akan mengubah peta tenaga kerja. Lalu juga munculnya aplikasi-aplikasi di bidang pendidikan juga akan mengubah peta dunia pendidikan menjadi “berkurangnya” peran guru atau dosen dan sebagainya.

Kita sedang berada di era milenial dengan ciri khasnya yang unik. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh IDN Research Center tentang “Indonesia Milenial Report 2019” dinyatakan bahwa 47,7 persen generasi milenal memperoleh pekerjaan lewat media sosial. Dan mereka bekerja reratanya 2-3 tahun saja. Mereka suka melakukan perpindahan, dengan alasan mencari pekerjaan yang bebas berinovasi, nyaman dalam waktu dan disupport oleh team. Hal ini tentu dikaitkan dengan generasi milenial yang memang menguasai TI sangat baik, dalam belajar mereka mencari pengalaman, tukang explorer, suka yang hal-hal yang bersifat instant, tetapi memiliki kemampuan kolaborasi atau kerja sama team yang sangat baik.

Lalu, tantangan pekerjaan di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang memastikan tidak ada proteksi dan pembatasan masuknya tenaga kerja asing yang professional. Jika kita teriak tentang masuknya tenaga kerja Cina ke Indonesia tentu disebabkan yang masuk bukan tenaga kerja professional dimaksud. Ke depan, tenaga professional akan semakin banyak bekerja di Indonesia. Negara seperti Filipina telah mengirim paramedic ke Arab Saudi karena mereka memiliki kemampuan bahasa Inggris dan professional dalam bekerja. Ini adalah contoh yang baik bagi tenaga kerja Indonesia.

Selain itu juga tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang sekarang memasuki era baru, berupa kecenderungan generasi milenial yaitu kecenderungan untuk memasuki ajaran agama yang radikal. Hasil survey IDN Research Center 2019 menggambarkan bahwa sebanyak 19,5 persen generasi milenial mendukung adanya khilafa, sementara 81,5 persen mendukung NKRI. Ini adalah early warning bagi para generasi senior bahwa ada perkembangan baru di kalangan anak-anak muda kita di Indonesia. Kewaspadaan sangat diperlukan dalam kerangka membentengi terhadap keberlangsungan NKRI dengan Pancasila sebagai Dasar Negara dan UUD 1945 sebagai landasan yuridisnya.

Ketiga, apa yang bisa dilakukan?. Saya menyatakan bahwa kita harus memasuki dunia global dengan kepala tegak. Caranya ialah dengan menguasai piranti dunia global, yaitu kemampuan bahasa yang baik, dan kemampuan TI yang memadai. Jangan berpikir bahwa “saya bukan alumni TI”, tetapi yang penting adalah bagaimana kita bisa berkolaborasi untuk mengembangkan pekerjaan berbasis TI. Mas Nadim Makarim tidak bekerja sendiri dengan Go Jek, lalu berkembang menjadi Go Pay, Go Food, Go Send, Go Massage dan sebagainya. Semua dikerjakan oleh team. Jack Ma, raja pebisnis on line, Alibaba.com juga guru bahasa Inggris yang karena kecerdasannya bisa bekerja sama dengan para ahli TI untuk mengembangkan bisnis yang sekarang bahkan sudah mengalahkan Amazon.com.

Kuasai Bahasa dunia (Arab, Inggris dan lainnya) dengan baik, kuatkan kolaborasi dan kerja sama antar bidang serta kuasai teknologi informasi dengan baik, maka kita akan bisa bersaing dengan orang lain. Jadilah guru yang menguasai aplikasi teknologi pembelajaran, kuasai aplikasi pembelajaran tafsir dan hadits, atau ilmu al Qur’an, Kuasai hukum Islam dengan baik melalui kemampuan TI yang memadai, maka kita akan bisa bersaing dengan para competitor. Jika saya dan generasi “colonial” untuk menyebut generasi “baby boomer” cukup dengan kemampuan dasar saja tentang TI, maka anda sebagai generasi milenial harus memahami aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan untuk bekerja.

Jadilah orang professional, yaitu orang yang tidak ketinggalan dengan zamannya. Jangan menjadi generasi masa lalu di era generasi milenial. Jadilah generasi milenial dengan pemikiran dan aksi milenial. Saya berkeyakinan bahwa sebagai orang hebat kita pasti akan bisa melampaui tantangan demi tantangan dengan kepala tegak dan dada membusung.

Kita sudah memiliki value, believing, berpikir independent, kerja sama tim yang baik dan juga kepedulian pada orang lain. Modalitas ini saya kira perlu dijadikan sebagai kekuatan dalam meraih masa depan yang jauh lebih baik. Man jadda wa jadda.

Wallahu a’lam bi al shawab.

COASTAL PARADISE: SOCIO, CULTURAL AND ECOLOGICAL PERSPECTIVE

COASTAL PARADISE: SOCIO, CULTURAL AND ECOLOGICAL PERSPECTIVE

Saya diminta oleh Ibu Dr. Eni Purwati, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya untuk menemani Prof. Kunifumi Tagawa, PhD, Director/Associate Professor pada Graduate School of Integrated Science for Life Marine Biological Laboratory, Hiroshima University Japan. Dan yang juga menjadi narasumber lainnya adalah Rumaidi, PhD, Dosen pada Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki, Malang dan juga alumni Hiroshima University.

Sebagai narasumber saya menyampaikan beberapa hal, terkait dengan bagaimana relasi antara manusia, kehidupan kelautan dan berbagai aspek sosial, budaya, ekonomi, politik dan budayanya. Pertama, saya sampaikan tentang Ecosystem science. Bidang ini merupakan bidang integrasi ilmu, yang menjelaskan mengenai saling relasi antara satu discipline dengan discipline lainnya. Di antara yang dapat diintegrasikan adalah mengenai ecology, marine and coastal science, biogeochemistry, eco-physiology, meteorology, botany, climatology, zoology, hydrology, microbial ecology, conservation biology, biogeography, dan sebagainya. bahkan tidak hanya interdisipliner tetapi multidisipliner. Ada banyak discipline yang harus dikaji untuk sampai kepada ecosystem science.

Alam dan masyarakat memiliki relasi timbal balik. Alam adalah sumber daya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai users. Untuk memahami relasi antara nature and society, maka diperlukan pengetahuan, praksis, institusi dan teknologi. Pengetahuan tentang alam sebagai sumber daya diperlukan agar pemanfaatannya sesuai dengan kehendak bersama, juga diperlukan institusi yang bisa mengelola sumberdaya alam secara baik, dan juga teknologi yang sesuai dengan kapasitas dan kegunaannya untuk kesejahteraan masyarakat. Alam dan kesejahteraan sosial juga saling bernegosiasi, misalnya climate and ocean yang bersahabat, habitat yang terjaga, human activities yang bermanfaat untuk kehidupan ekonomi dan masyarakat. Di antara factor-faktor ini tentu saling berkorelasi secara sistemik, sehingga tidak saling menegasikan. Di antara yang menjadi penyeimbangnya adalah pemerintah dengan regulasi serta segala program dan aktivitasnya.

Kedua, system social dan ecology tersebut saling terkait. Keduanya memiliki korelasi timbal balik. Suatu ketika konsep system sosial mempengaruhi terhadap ecologi dan sebaliknya. Social system, terdiri dari demografi, teknologi, ekonomi dan budaya masyarakat yang dapat berpengaruh terhadap marine ecosystem, baik yang bercorak spatial dan temporal, termasuk perubahan ekosistem pantai dan perairan dunia. Lalu, ecosystem juga berkorelasi dengan perubahan persepsi, pengaturan dan management marine system. Perubahan ekosistem dan social system tersebut berlangsung dengan sangat sistemik. Ikan berkorelasi dengan produk makanan, artinya bahwa ketersediaan makanan bagi manusia sangat tergantung dengan ketersediaan ikan, dan penangkapan ikan juga berpengaruh terhadap pelestarian ikan langka, dan juga konservasi burung. Burung-burung pemakan ikan sangat tergantung pada ketersediaan ikan. Sementara itu, pemerintah juga memiliki peran besar, antara lain terhadap kehidupan kaum nelayan, penerapan teknologi, dan kebijakan yang lebih luas, misalnya PBB. Sementara itu teknologi sangat berpengaruh terhadap penangkapan ikan, dan juga pelestarian dolphin dan sebagainya. Kelangkaan dolphin, misalnya akan bisa menjadi bahan informasi untuk institusi konvervasi dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap pemerintah dan public. Jadi, secara sistemik betapa terdapat saling keterkaitan antar subsistem di dalam ekosistem dan social system dimaksud. Di dalam penyusunan kebijakan mestilah mempertimbangkan keterkaitan sistemik ini, agar program atau kebijakan yang dirumuskan menjadi relevan dengan tujuan untuk perbaikan kehidupan manusia berbasis pada kebaikan ekosistemnya.

Ketiga, human activities dan pelayanan ecosystem. Relasi antara human activities dengan ecosystem services merupakan relasi yang saling terkait. Di dalam human activities dan ecosystem services terdapat dua aspek yang penting, yaitu social system dan ecosystem. Pada aspek social system, maka di dalamnya terdapat relasi-relasi yang saling berhubungan, misalnya tingkat pengetahuan, penerapan teknologi, organisasi sosial, kependudukan dan nilai-nilai yang menjadi pattern for behavior. Jadi, dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan tentang teknologi dalam suatu wilayah kependudukan tentu dapat mempengaruhi keterlibatan dalam organisasi sosial yang berbasis nilai. Di andaikan bahwa semakin banyak organisasi sosial yang bergerak di dalam konvervasi peraitan laut yang berbasis teknologi terapan, maka akan semakin banyak pengetahuan masyarakat tentang upaya konservasi perairan laut.

Dari sisi system ekologi, maka dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang sangat complex terkait dengan tumbuhan, udara, air, minyak, binatang mikroorganisme dan manusia yang membentuk struktur. System ekologi ini memiliki keterkaitan yang saling mempengaruhi, sehingga jika terdapat satu subsistem yang “rusak” maka akan berpengaruh terhadap subsistem lainnya. Misalnya, kerusakan kualitas air, maka akan berpengaruh pada keseluruhan sub system lainnya. Dalam kerangka mewujudkan keinginan untuk mengembangkan life marine yang seimbang dan berkelanjutan, maka dibutuhkan interaksi positif dari subsistem pembangunan, artinya semua aspek dalam pembangunan haruslah memperoleh sentuhan yang tepat dan memadai, meskipun tidak harus selalu sama dalam jenis kegiatan dan programnya. Selayaknya diupayakan pembangunan komunitas, pelestarian dan pengembangan sumber daya alam, pengembangan budaya, peningkatan ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan, penyusunan kebijakan dan penguatan spiritualitas. Aspek spiritualitas mestilah dijadikan sebagai basis di dalam pembangunan subsistem pembangunan lainnya. Dimensi spiritualitas mesti menjadi pola bagi tindakan bagi semua pengembangan ekosistem maupun system sosial di dalam suatu negara.

Tentu ada beberapa capaian yang sudah dihasilkan dalam bidang pembangunan ekonomi, politik, ecologi dan budaya. Dalam pembangunan tersebut yang terasa masih memerlukan sentuhan lebih memadai adalah dari aspek ekologi, sebab hanya aspek place and space saja yang cukup memadai, akan tetapi untuk material and energy, water and air, flora and fauna, habitat and food, construction and settlement serta emission and waste, masih perlu sentuhan lebih fundamental. Sementara itu untuk pembangunan ekonomi, dengan indicator production and resourcing, exchange and transfer, accounting and regulation, consumption and user, labor and welfare, technology and infrastructure, wealth and distributions sudah lumayan memadai., hanya indicator terakhir yang masih belum optimal.

Sementara itu dalam bidang budaya, dengan indicator engagement and identity, recreation and creativity, memory and projection, believe and meaning, gender and generations, enquiry and learning, health and wellbeing rasanya sudah cukup memadai, sekurang-kurangnya tidak ada yang berwarna merah atau kritis, jelek, highly unsatisfactory atau satisfactory minus. Dari dimensi politik juga lumayan memadai, dari berbagai indicator misalnya organization and governance, law and justice, communications and movement, security and accord, dialogue and reconciliation, ethnics and accountability, kiranya dapat dinyatakan bahwa dua aspek terakhir saja yang memang belum optimal.

Dari kasus upaya melakukan perubahan yang terstruktur, saya akan mengambil contoh Kabupaten Tuban. Ada beberapa hal yang saya kira bisa dilihat perubahan dalam kebijakan pemerintah, misalnya dari aspek budaya terus dikembangkan upacara ritual sosial seperti Upacara Petik Laut, yang merupakan upacara bersyukur dan sekaligus juga memaknai kehadiran laut sebagai berkah Tuhan YME, Demikian juga festival laut untuk menandai kegembiraan dan suka cita akan kehadiran laut yang menjadi sumber ekonomi masyarakat pesisir, kemudian konvervasi pantai dengan hutan mangrove, menjaga ecologi laut, pembangunan economy dengan pemberdayaan kaum nelayan, mengembangkan potensi komunitas dengan organisasi sosial, dan menghidupkan folklore yang berkaitan dengan lautan, dan sebagainya.

Upaya ini memang belum optimal, akan tetapi kesadaran pemerintah dan perlunya support masyarakat menjadi kunci keberhasilan untuk masa depan laut dan ekosistemnya. Jadi, ada banyak potensi dan peluang yang bisa dilakukan dalam kerangka membangun kehidupan ekosistem yang lebih bermakna di masa depan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

GENERASI MILENIAL DALAM JERAT RADIKALISME NEGATIF

GENERASI MILENIAL DALAM JERAT RADIKALISME NEGATIF

Meskipun banyak orang menyatakan bahwa generasi milenial kita bisa diharapkan untuk menjadi pilar bagi keberlangsungan NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai landasan yuridisnya, akan tetapi saya kira tetap harus ada keprihatinan –di kalangan generasi yang lebih senior—terutama dalam menghadapi sebagian generasi milenial yang berkeinginan berbeda dengan generasi sebelumnya, terutama terkait dengan ideology negara.

Kekhawatiran atau keprihatinan ini tentu bukan tanpa dasar. Keprihatinan atau kekhawatiran tersebut berangkat dari keinginan generasi yang lebih senior agar para penerus generasi di Indonesia tetap berada di dalam satu barisan untuk menegakkan empat consensus kebangsaan, yaitu: Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan kebinekaan.

Era milenial adalah era disrupsi. Suatu era yang penuh dengan ketidakpastian, perubahan demi perubahan yang sedemikian cepat, dan semakin menguatnya tantangan kehidupan ekonomi dan sosial yang juga berubah dengan cepat. Melalui kehadiran artificial intelligence (AI), maka banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh robot-robot dengan segala kekuatan dan kelebihannya. Manusia menjadi terdesak dengan teknologi ciptaannya sendiri.

Di era seperti ini, para milenial harus tetap berada di dalam koridor kebangsaan dan keindonesiaan. Mereka harus tetap menjadi bagian dari warga negara Indonesia yang setia dengan ideology Pancasila dan NKRI. Sementara itu, mereka hidup dengan tantangan yang tidak sedikit terkait dengan semakin maraknya inovasi-inovasi yang terkadang justru menyulitkan kehidupannya. Itulah sebabnya, generasi sebelumnya selalu menyatakan bahwa: “tidak ada yang lebih utama bagi warga negara Indonesia kecuali harus mempertahankan ideology Pancasila dan NKRI sebagai bentuk final negeri ini”.

Namun demikian, kegundahan itu terus muncul. Salah satunya tentu hasil bacaan atas perilaku generasi milenial, sebagaimana dilaporkan oleh IDN Research Institute, dengan Tema: “Indonesia Milenial Report 2019”, yang menyatakan bahwa 81,5 persen milenial mensupport Indonesia sebagai Republik, 19,5 persen millennial menyatakan bahwa Indonesia akan lebih baik dengan system khilafah. Dan juga perempuan yang siap menjadi teroris. Data ini dapat dibandingkan dengan hasil survey yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Universitas Negeri Jember, bahwa sebanyak 22 persen mahasiswanya terpapar virus radikalisme.

Hasil survey ini tentu mengkhawatirkan, sebab 19,5 persen merupakan angka yang lumayan besar. Jika dibandingkan dengan hasil survey lain, misalnya Survey CSIS (2017) tentang keinginan mengganti Pancasila dengan ideologi lain, maka disimpulkan bahwa: Gambaran setuju dari usia 17-29 tahun (generasi milenial) sebanyak 9,5% dan usia 30 tahun ke atas (generasi non milenial) 11,8%. Gambaran tidak setuju untuk usia 17-29 tahun (generasi milenial) 90,5% dan usia 30 tahun ke atas (generasi non mileneal ) 85,4%. Dukungan terhadap Pancasila sangat kuat di kalangan milenial dan non-milenial (Dari sisi presentase, dukungan terhadap Pancasila lebih besar di pemilih milenial). Gagasan untuk mengganti Pancasila mendapat banyak penolakan.

Prediksi tahun 2020, Generasi milenial berjumlah 83 juta atau 34 persen dari total populasi Indonesia sebesar 271 jiwa, generasi X sebanyak 53 juta atau 20 persen, dan generasi baby boomers sebanyak 35 juta atau13 persen. Jika yang terpapar virus radikalisme sebanyak 19,5 persen berarti sebanyak 16,85 juta. Tentu bukan angka eksak tentang jumlah itu, tetapi gambaran bahwa terdapat jumlah yang cukup besar dari generasi milenial yang terpapar radikalisme itu sangat mengkhawatirkan. Sebab selama ini kisaran generasi milenial yang cenderung intoleran dan berkeinginan mengganti Pancasila dengan ideology lain adalah 9-11 persen.

Data inilah yang saya kira patut untuk menjadi pencermatan dan sekaligus juga sebagai wake up call, bahwa kaum radikal negative itu telah semakin banyak jumlahnya. Dari tahun ke tahun kuantitas mereka semakin membesar. Artinya, bahwa mereka yang terkena virus radikalisme semakin membesar dan semakin menguat. Dan hal ini juga sekaligus memberikan makna bahwa upaya kaum radikalis negative cukup berhasil dalam mempengaruhi terhadap anak-anak muda generasi milenial.

Dan sementara itu, pemerintah juga selalu diserang jika menjadikan radikalisme negatif sebagai sasaran program, misalnya BNPT dengan deradikalisasi dan Kementeraian Agama dengan Moderasi Beragama. Pemerintah selalu dianggap mengada-ada dan membesar-besarkan radikalisme sebagai common enemy. Ada kegamangan di kalangan masyarakat kita untuk menjadikan mereka yang terpapar radikalisme sebagai sasaran pembinaan. Bahkan juga ada di kalangan aparat negara yang menyangsikan tentang keberadaan radikalisme negative ini.

Masih ada anggapan bahwa teks radikalisme yang dinyatakan oleh pemerintah sebagai pengalihan issue, pencitraan, dan bahkan rekayasa. Oleh karena itu, bisa jadi bahwa pemerintah pun akhirnya juga gamang untuk melakukan perlawanan terhadap radikalisme negative tersebut. Anehnya, di sana-sini ternyata terdapat bom bunuh diri, dan gerakan ekstrimisme lainnya.

Oleh karena itu, tetap diperlukan upaya untuk menjadikan radikalisme negative sebagai “lawan” yang harus diperhitungkan dalam kerangka untuk mempertahankan NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai basis yuridis negeri ini. Saya kira urusan radikalisme negative bukan hanya urusan pemerintah saja tetapi juga masyarakat pada umumnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.