• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KHIDMATNYA DOA AKHIR DAN AWAL TAHUN BARU HIJRIYAH

KHIDMATNYA DOA AKHIR DAN AWAL TAHUN BARU HIJRIYAH

Sebagai masjid baru, Masjid Al-Ihsan memang berupaya agar banyak kegiatan yang dilakukan oleh para penyelenggaranya atau ta’mir masjid. Jika selama ini tidak digunakan shalat jum’at, maka mulai bulan ini diselenggarakan shalat Jum’at. Lalu juga kegiatan tahtimul Qur’an dan ngaji malam hari yang diasuh oleh para Hafidz dan hafidzah Qur’an, dan kemudian menyongsong tahun baru Hijriyah 1442, maka juga diselenggarakan acara doa bersama, yang diikuti oleh warga Lotus Regency. Hadir Bersama kita, Prof. Abd. A’la dan Ketua RT (Pak Yudi) serta Ketua Ta’mir Masjid Al-Ihsan (Pak Rusmin) dan warga Perumahan Lotus Regency.

Tanggal 19 Agustus 2020 sebelum shalat jamaah Magrib dilakukan doa bersama untuk doa tutup tahun 1441 H dan ba’da magrib dilanjutkan dengan doa awal tahun 1442 Hijriyah. Sebelum acara doa awal tahun didahului dengan membaca Surat Yasin bersama-sama yang dipimpin oleh Ustadz Zamzami al Hafidz. Saya bersyukur bahwa acara ini berlangsung dengan khidmat dan penuh kesyahduan. Melalui doa yang diterjemahkan secara bebas dari doa akhir dan awal tahun, maka terasa bahwa doa itu berasal dari dalam hati.

Saya diminta oleh Ta’mir Masjid Al-Ihsan untuk memimpin doa dan memberikan sedikit pengantar, tentang makna doa ini. Tentu saja saya bacakan doanya di dalam bahasa Arab sesuai dengan doa yang dibaca oleh Nabi Muhammad saw, dan kemudian saya terjemahkan secara bebas sesuai dengan situasi dan kondisi kita sekarang ini. Doa itu saya rumuskan dengan bahasa yang sedikit puitis agar lebih menyentuh hati dan perasaan.

Setelah saya membacakan doa di dalam Bahasa Arab untuk doa akhir tahun, maka saya berdoa dalam Bahasa Indonesia dengan mengambil kata-kata kunci di dalam Bahasa Arab dimaksud. Doa dalam Bahasa Indonesia tersebut terangkum dalam ungkapan sebagai berikut:

  1. Ya Allah, Dzat yang Maha Pengampun, ampuni kesalahan, kekhilafan dan dosa-dosa yang pernah kami lakukan. Kami menyadari bahwa kami banyak sekali melakukan pelanggaran atas perintahmu, dan bahkan kami tidak sempat memohon ampunanmu setelah kami melakukannya. Oleh karena itu ampuni kami di akhir tahun ini atas kesalahan, kekhilafan dan dosa yang pernah kami lakukan.
  2. Ya Allah, Dzat Yang Maha menerima taubat. Kami menyadari bahwa kami belum sungguh-sungguh melakukan pertaubatan. Kami masih sibuk dengan urusan kami di dunia ini dan lupa melakukan taubatan nasuha. Oleh karena itu di akhir tahun ini kami melakukan pertobatan agar engkau ridloi.
  3. Ya Allah, Dzat yang Maha Baik, kami menyadari banyak amalan kebaikan yang kami lupakan. Banyak amalan kebaikan yang kami lalaikan. Banyak amalan kebaikan yang kami tunda melakukannya. Oleh karena itu, jadikan kami hambamu yang terus berupaya untuk berbuat baik.
  4. Ya Allah, Dzat yang Maha Bijaksana, kami menyadari bahwa kami selalu mengharap agar amalan-amalan baik yang kami lakukan engkau terima dan ridloi sehingga menjadi amalan yang mengantarkan kami ke jalan menuju surgamu.
  5. Ya Allah, Dzat yang Maha Kuasa, bimbinglah kami menuju jalanmu dan bimbinglah kami kepada jalan yang Engkau Ridloi. Ya Allah kami sungguh berharap agar kami warga Lotus regency dapat menjadi bagian dari umatmu yang selalu bertaqarrub kepadamu. Rabbana Atina fidu dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzaban nar. Amin.

Ba’da magrib acara dilanjutkan. Setelah selesai dzikir ba’da magrib, lalu membaca Surat Yasin dengan harapan Allah akan memberikan ampunan, keridlaan dan keselamatan. Lalu dilanjutkan dengan doa bersama. Setelah membaca doa dalam Bahasa Arab, maka kami menerjemahkannya secara bebas sesuai dengan konteks yang sedang terjadi. Doa tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Ya Allah, Dzat yang Maha Kekal. Dzat yang awal tanpa permulaan dan Dzat yang akhir tanpa penghabisan. Dzat yang Maha Agung dan keagunganmu tiada taranya. Ya Allah Engkau selalu menjadi harapan kami agar kami dapat terus melakukan kebaikan.
  2. Ya Allah yang Maha Pemberi. Pada hari ini kami memasuki tahun baru Hijriyah, 1442. Ya Allah kami sedang menghadapi banyak tantangan di tahun kemarin dan juga tahun ini. Kami memohon kepadamu ya Allah agar Engkau menghilangkan masalah kami, yaitu tersebarnya wabah penyakit Covid-19, yang membuat kami ketakutan. Ya Allah bahkan kami takut untuk beribadah di rumahmu, di masjidmu. Kami harus melakukan hal-hal yang tidak relevan dengan perintahmu di dalam shalat, dan bahkan di dalam pergaulan. Oleh karena itu Ya Allah hilangkan penyakit ini agar kami dapat kembali hidup yang normal sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Allahumma inna na’udzubika minar rihil ahmari wad damil aswad wadail akbar. Ya Allah jauhkan kami dari angin merah, penyakit yang berasal dari darah hitam dan penyakit yang berat.
  3. Ya Allah, Dzat yang Maha membimbing. Kami memohon kepadamu agar kami selalu Engkau bimbing ke dalam jalan kebenaran dan jalan kebaikan. Berikan kekuatan kepada kami agar kami dapat mengarahkan nafsu amarah kepada nafsu muthmainnah. Tunjukkah kami yang benar itu kebenaran dan yang batil itu kebatilan.
  4. Ya Allah bimbinglah kami dari godaan syaitan dan seluruh bala tentaranya, agar kami dapat mengindari melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran kebaikan yang Engkau wajibkan. Ya Allah hanya kepadamu kami meminta pertolongan dan perlindungan.
  5. Ya Allah, dekatkan hati kami kepadamu, dan bimbinglah kami dan seluruh keluarga kami, warga Lotus regency untuk selalu berada dan berjuang untuk mencapai kebenaran yang Engkau ajarkan.
  6. Ya Allah kabulkan doa-doa kami. Rabbana atina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzaban nar, amin.

Wassalamu alaikum waramatullahi wabarakatuh.

 

DEMI MASA DEPAN PTKIS HARUS BERUBAH

DEMI MASA DEPAN PTKIS HARUS BERUBAH

Jadikan tantangan menjadi peluang. Jadilah Pemenang dan bukan pecundang. Itulah pernyataan saya   mengakhiri perbincangan di Webinar yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana   IAI Tribhakti Kediri, 08/08/2020. Hadir sebagai nara sumber adalah saya dan Prof. Dr. Azis Fahrur Rozi, MA, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.  Acara  tersebut diprakarsai oleh Dr. Suko Susilo, MSi, Direktur PPs IAI Tribhakti Kediri.

Secara empiris, bahwa PTKIS memang terus eksis di tengah persaingan PT yang semakin ketat. Bisa dibayangkan bahwa jumlah PTKIS semakin meningkat dari tahun ke tahun, dan untuk Koordinatorat Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) Wilayah IV, dengan wilayah Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT,   jumlahnya tidak kurang dari 150 PTKIS. Bahkan di dalam satu kabupaten/kota bisa terdapat tiga sampai empat PTKIS. Makanya, persaingan untuk merebut sumber daya mahasiswa di PTKIS juga sangat ketat. Padahal, kebanyakan yang memasuki PTKIS adalah mereka yang tidak menghendaki untuk kuliah di luar kota atau di kota-kota besar, tetapi sengaja memasuki kuliah di daerahnya karena beberapa keterbatasan.

Namun demikian, saya   berasumsi bahwa ada beberapa kekuatan yang dimiliki oleh PTKIS, khususnya yang berbasis pesantren. Kekuatan tersebut antara lain adalah kesamaan dalam perspektif dimensi keberagamaan, misalnya pengetahuan, keyakinan, ritual, konsekuensi dan pengamalan beragama. Dari sisi keyakinan beragama pastilah mereka memiliki paham keyakinan beragama berbasis konsep Ahlu Sunnah wal Jamaah, demikian pula pada dimensi pengetahuan, dan ritual beragama. Di dalam konteks konsekuensi beragama juga pasti berpaham Islam wasathiyah. Kala menafsirkan jihad, pasti bukan jihad dalam konteks perang offensive, tetapi jihad sebagai upaya sungguh-sungguh dalam menjalankan visi dan misi kehidupan, berbasis pada keluhuran ajaran Islam.

Kemudian, pesantren merupakan institusi social yang paling stabil, tidak mudah berubah, tidak mudah goncang karena serbuan modernisasi dan factor eksternal lainnya. Kyai bisa menjadi kekuatan penyeimbang dan mediator bagi setiap perubahan yang datang dari eksternal pesantren. Kekuatan lainnya adalah rasa memiliki pesantren dan kebanggaan sebagai alumni pesantren merupakan kekuatan khusus, yang menjadi peluang bagi PTKIS untuk menuai dukungan dan sumber daya mahasiswa. Selama ini, keterikatan alumni pesantren dengan kyai  itu masih melekat dengan kuat. Bahkan apa yang dinyatakan oleh kyai masih menjadi pedoman dalam menempuh kehidupan. Kyai memiliki peran polymorphic bagi para santri dan alumninya. Pesantren juga merupakan system social yang egaliter. Mereka memiliki kesamaan beragama, gaya hidup dan kehidupan sehari-hari, serta cara pandang terhadap dunia atau world view.

Namun demikian, pesantren dengan lembaga pendidikannya juga menghadapi tantangan yang sangat serius. Di antaranya adalah perubahan social yang sangat cepat, era revolusi industry 4.0, yang semua ini mengimbas pada perubahan social di dunia pesantren dan lembaga pendidikannya. Misalnya di masa lalu, pesantren hanya mengajarkan ilmu agama berbasis kitab kuning, dengan metode sorogan, bandongan atau wetonan. Akan tetapi perubahan dalam konsepsi pendidikan, maka pesantren berubah mengadopsi system madrasi dengan kurikulum Kementerian Agama, lalu harus mengadopsi system baru lagi, yaitu system pendidikan sekolah dengan mengadaptasi kurikulum Kemendikbud. Semua perubahan ini hakikatnya merupakan respon positif pesantren terhadap perubahan social yang terus terjadi.

Pesantren dan Pendidikan Tinggi Islam memang dua hal yang  berbeda, tetapi memiliki basis yang sama yaitu pengembangan ilmu keislaman. Hanya saja jika PTKI itu berbentuk institut maka memiliki kewenangan untuk pengembangan mandate tambahan yaitu ilmu social dan humaniora, sedangkan jika bentuknya universitas, maka bisa memiliki wewenang untuk mengembangkan ilmu sains dan teknologi selain ilmu keagamaan, social dan humaniora. Meskipun memiliki ilmu nonislamic studies, namun tetap saja lembaga pendidikan di bawah pesantren harus mengedepankan lingkungan pendidikan yang berbasis pesantren, yaitu institusi pendidikan yang mengusung ilmu keislaman, perilaku keberagamaan yang tinggi, mengembangkan wawasan kebangsaan dan mengadopsi kemodernan yang memiliki relevansi dengan kebutuhan di zaman sekarang.

Bukankah pesantren memiliki pirnsip: “al muhafadhotu ‘ala al qadimish shalih wa al ahdzu bi al jadid al ashlah”. Yang artinya kurang lebih “menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”. Jadi, perubahan itu suatu keniscayaan, melakukan pembaharuan itu kewajiban ijtima’iyyah dan melakukan inovasi itu kewajiban institusional, namun semua harus tetap berlandaskan pada nilai-nilai luhur yang sudah berjalan dan mentradisi yang memiliki rujukan di dalam pedoman keberagamaan.

Di dalam menghadapi tantangan  ERI 4.0, mestinya PTKIS harus merespon dengan cepat, dengan melakukan perubahan terhadap apa yang dibutuhkan di masa depan. Generasi ke depan itu harus memiliki kapasitas: competence, creative, communications and collaboration, maka PTKIS harus menjawabnya dengan perubahan kurikulum yang relevan dengan tuntutan perubahan ke depan. Hard skill diperkuat, baik dari sisi teori, metodologi maupun praksisnya, dan tetap mengedepankan wawasan keislaman, wawasan kebangsaan dan penguasaan IT. Betapa untungnya sekarang dengan Pandemi Covid-19, yang secara cepat mengubah dari nihil IT menjadi serba IT. Webinar hari ini dihadiri banyak participant dari berbagai daerah dan dihadiri nara sumber dari Jakarta dan Surabaya, yang  dengan aplikasi Zoom, maka semua tersambung dari tempatnya masing-masing lintas wilayah tersebut.

Hal ini merupakan contoh bagaimana ke depan PTKIS harus menggunakan IT untuk kepentingan pendidikan. IAIT, meskipun kajiannya bercorak Islamic studies, akan tetapi harus mengubah mindset pengelolaan pendidikan dari prinsip pendidikan konvensional ke pendidikan modern-religius, dengan mengadopsi IT sebagai instrument pembelajaran dan pelayanan. Ke depan, PTKIS harus memperkuat jejaring, misalnya antar PT, dengan perusahaan, dengan organisasi social keagamaan dan juga LSM yang bergerak di bidang pengembangan keberagamaan masyarakat dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk menjawab gagasan Kampus Merdeka dan Belajar Merdeka.

Tidak ada salahnya PTKIS belajar dari kampus-kampus di Thailand, dengan Pusat Bahasa dan Budaya negara-negara lain, semisal Pusat Bahasa dan Budaya Jepang, Korea Selatan, Indonesia dan sebagainya. Bukankah PTKIS yang berbasis pesantren bisa juga membuat Pusat Studi Bahasa dan Budaya Timur Tengah, Pusat Bahasa dan Budaya China, Pusat Bahasa dan Budaya Afrika Utara dan sebagainya.

Oleh karena itu, jika PTKIS ingin eksis, maka kedepankan distingsi, apa yang menjadi pembedanya dengan program sejenis, lalu ekselensi atau apa keunggulannya berbasis pada distingsi dimaksud dan akhirnya akan menjadi destinasi atau tujuan belajar bagi masyarakat Indonesia maupun dunia internasional. Makanya PTKIS harus berubah untuk menjemput masa depan yang lebih baik.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

Dampak Positif Covid-19

Selengkapnya

 

Islam Damai Dalam Konstruksi Ahli Tarekat

Download Fulltext Pdf

Peran Pesantren Luhur Al-Husna Dalam Meningkatkan Religiusitas

Download Fulltext Pdf