• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

REZEKI SEBAGAI NIKMAT ALLAH SWT (2)

REZEKI SEBAGAI NIKMAT ALLAH SWT (2)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum kita melanjutkan pengajian Selasanan (21/12/21), maka terlebih dahulu  kita membaca surat Alfatihah atau ummul Qur’an agar mengaji kita ini memperoleh ridhanya Allah SWT dan dimudahkan segala urusan kita, baik urusan duniawai maupun ukhrawi. Makanya, marilah kita baca bersama-sama surat Alfatihah, syaiun lillah lahum alfatihah…

Manusia memiliki sejumlah kebutuhan. Menurut para ahli antropologi-sosiologi, maka kebutuhan manusia itu adalah kebutuhan fisik, kebutuhan social dan kebutuhan integrative. Kebutuhan fisik terkait dengan kebutuhan biologis, misalnya harus memenuhi keinginan makan, minum, melanjutkan keturunan melalui prilaku seksual halal, atau segala hal yang terkait dengan tujuan melanjutkan kehidupan dari aspek fisik. Misalnya ketika harus makan, maka harus memenuhi standart makanan yang sehat. Kala kita minum juga yang berstandart sehat dan kebutuhan fisik lainnya juga yang memenuhi standart sehat dan halal.

Kemudian,  kebutuhan social. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri di dunia ini. Pasti membutuhkan orang lain. Sekaya apapun seseorang, misalnya seperti Jeff Bezos (109,6 Miliar Dolar US), atau Bernard Arnault (106,1 Milir Dolar US), Mark Zukkerberg (73,7 Milar Dolar US), atau Bil Gates (106,4 Milar dolar US) dan lain-lain, akan tetapi dia tidak bisa hidup sendiri. Untuk makan dan minum maka dipastikan harus ada orang lain yang menyiapkan atau membantunya. Maka, manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling berkomunikasi, berkolaborasi atau bekerja sama dengan manusia lainnya agar kebutuhan sosialnya tersebut bisa dicapainya. Meskipun suatu ketika Artificial intelligent (robot) bisa memenuhi kebutuhan manusia, tetapi bukankah robot juga hasil ciptaan ratusan orang, sehingga robot tersebut bisa sampai di tangan kita. Manusia butuh manusia lainnya untuk memenuhi semua kebutuhan kemanusiaan atau kebutuhan sosialnya. Manusia butuh curhat, butuh membicarakan kegagalan atau kesuksesannya, manusia membutuhkan uluran tangan sahabatnya dan sebagainya.

Lalu, kebutuhan integrative bahwa manusia membutuhkan kebutuhan yang menghubungkan antara kebutuhan biologis dan social. Misalnya pernikahan, misalnya mengekspresikan rasa cintanya, melampiaskan hasrat kasih sayangnya, dan sebagainya. Manusia juga membutuhkan pemenuhan rasa ketuhanan. Keinginan untuk melampiaskan hasrat rohaninya, manusia memerlukan penyaluran untuk mengekspressikan rasa ketuhannya dan sebagainya.  Semenjak dahulu, manusia memiliki cita rasa ketuhanan yang diekpressikan sesuai dengan kapasitasnya.

Segala kebutuhan manusia yang berhasil dan bisa dinikmati keberhasilannya itulah yang kemudian disebut sebagai kenikmatan. Kita butuh makan dan minum serta kebutuhan seksual dan kita bisa meraihnya, maka inilah yang dinamai sebagai kenikmatan. Jadi kenikmatan adalah tercapainya kebutuhan berdasarkan atas usaha yang dilakukannya dan kenikmatan tersebut dirasakannya. Tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk keluarganya, kerabatnya bahkan masyarakat secara lebih luas.

Di dalam terminology agama, maka kenikmatan yang seperti itu yang disebut sebagai rezeki atau sesuatu yang diusahakan dan kemudian hasilnya bisa dirasakannya. Kita menjadi bahagia karena tujuan bisa tercapai. Kita berhasil. Jika kebutuhan tersebut bisa tercapai maka itulah yang disebut sebagai memperoleh rezeki. Bagi orang yang beragama, maka kenikmatan karena keberhasilan tersebut disebut sebagai rezeki dari Allah SWT. Manusia akan merasakan kenikmatan dan kebahagiaan.

Sebaliknya, jika yang kita inginkan tidak tercapai, maka kita menjadi sedih atau tidak bergembira. Kita merasakan kegagalan. Maka kegagalan itulah yang disebut sebagai kesedihan atau ketidaknyamanan. Tetapi kegagalan belum tentu niqmah. Tetapi niqmah dipastikan menjadi basis kegagalan. Di dalam konteks ini, niqmah merupakan hal ihwal dari rasa kesedihan yang disebabkan oleh banyak factor. Bisa factor biologis, dan  bisa juga factor social. Dari factor biologis misalnya ketidaksesuian antara apa yang diharapkan dan apa yang didapatkan secara fisikal. Sedangkan secara social adalah kala harapan dan kenyataan tidak sesuai misalnya kegagalan dalam negosiasi berusaha dan sebagainya.

Manusia tentu selalu berharap agar memperoleh kenikmatan, tetapi tidak selamanya kenikmatan itu menghampiri kehidupan kita. Oleh karena itu jangan berlebihan dalam menerima kenikmatan dan jangan berlebihan dalam menyikapi keniqmahan. Hadapi keduanya dengan pasrah kepada Allah SWT yang telah mentakdirkan kenikmatan dan keniqmahan tersebut di dalam hiudp kita. Tentu saja kita harus terus berdoa Ya Allah berikan kami kebahagiaan di dunia dan juga kebahagiaan di akhirat. Semoga doa kita didengarkan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

REZEKI SEBAGAI NIKMAT ALLAH SWT (1)

REZEKI SEBAGAI NIKMAT ALLAH SWT (1)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Marilah kita mulai pengajian rutin selasanan (7/12/21) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency ini dengan bersama-sama membaca Surat Alfatihah semoga dengan membaca Ummul Qur’an ini, maka segala urusan kita akan dimudahkan oleh Allah swt dan semua amalan kita di dalam beribadah diterima oleh Allah swt. Syaiun lillah lahum al fatihah…

Tentu sudah banyak orang yang memberikan definisi baik secara lughawi maupun secara maknawi tentang rezeki. Tetapi yang jelas bahwa rezeki adalah segala sesuatu yang diterima oleh seseorang di dalam hidupnya yang diyakini datang dari keharibaan Allah Swt. Saya tekankan di sini, bahwa rezeki itu segala sesuatu, apa saja, berupa apa saja, di mana saja,  yang kedatangannya dirasakan sebagai nikmat oleh Allah Swt.  Jadi rezeki itu ada kaitannya dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Pandangan saya dalam konteks ini tentu lebih sosiologis dibandingkan dengan fiqhiyah atau konsep-konsep Islam lainnya yang lebih rinci.

Di dalam kehidupan ini ada yang disebut sebagai nikmat atau sesuatu yang membuat kita bahagia, senang, tertawa, tersenyum dan merasakan betapa hal tersebut dapat membuat hidup kita menjadi nikmat dan menyenangkan. Ada rasa bahagia, ada rasa senang, ada rasa nikmat di dalamnya. Sebaliknya ada yang disebut sebagai niqmah atau sesuatu yang membuat hidup kita itu sengsara, tidak suka, membencikan, atau tidak membahagiakan. Ada nikmah dan ada niqmah. Ini merupakan konsekuensi dari hukum berpasangan yang memang menjadi sunnatullah di dalam kehidupan manusia.

Semua manusia dipastikan merasakan dua hal ini. Ada kalanya merasakan kenikmatan dan ada kalanya merasakan keniqmahan. Sekali lagi semua manusia. Bahkan Nabiyullah juga merasakannya. Nabi Adam, sebagai leluhur manusia juga merasakannya. Ketika Beliau berada di surganya Allah, maka tentu semua kenikmatan surgawi diterimanya. Kita bisa membayangkan betapa nikmatnya hidup di surga. Serba ada, semua yang diinginkan tercapai, semua yang diharapkan terkabulkan. Tetapi takdir Allah untuk mendesain dunia ini tentu harus berlaku, yaitu diturunkannya Nabi Adam dan Hawwa ke dunia untuk menyambung kalimat Tuhan, Allah SWT, bahwa Allah akan menciptakan manusia dan menjadikannya sebagai khalifahnya di muka bumi. Maka Nabi Adam lalu turun ke dunia tidak secara bersama-sama. Mereka turun ke bumi dan terpisah di antara keduanya. Dan pada saat itu hanya ada dua saja manusia, yaitu Nabiyullah Adam dan Hawwa. Tetapi karena takdir Allah bahwa keduanya harus menyatu dan beranak pinak sebagai awal terjadinya kehidupan manusia di dunia ini, maka Allah mempertemukannya di Bukit yang disebut sebagai Jabal Rahmah di Arab Saudi, dan tempat itu ditandai sebagai salah satu tempat untuk berhaji. Sebuah perbukitan di dekat Arafah, tempat jamaah haji menyelenggarakan wukuf sebagai puncak ibadah haji.

Lalu Nabiyullah Muhammad Saw juga pernah merasakan bagaimana  kesedihan tersebut melanda dirinya. Pada saat Beliau berdakwah secara terang-terangan, maka Beliau ditinggalkan oleh isteri tercintanya, Khadijah binti Khuwalid, seorang perempuan terkaya di Mekkah, seorang isteri yang membiayai dan memberikan perlindungan kepadanya dan karena takdir Tuhan harus wafat untuk meninggalkannya. Siti Khadijah wafat di pangkuannya. Khadijah wafat dalam keadaan bukan orang kaya, sebab hartanya didarmabaktikan untuk dakwah Nabi Muhammad SAW. Pada tahun bersamaan, pamanda Nabi Muhammad SAW, Abu Thalib, ayahanda Sayyidina Ali, Pemimpin Suku Quraisy juga wafat. Tahun ini yang diabadikan sebagai tahun kesedihan atau ayyamul Huszni atau tahun kesedihan, yaitu pada tahun 619 Masehi. Selama ini yang memberikan perlindungan secara fisikal kepada Nabi Muhammad SAW adalam pamandanya ini. Orang-orang Qurays dan suku lainnya segan untuk menyakiti Nabi Muhammad SAW karena keberadaan pamandanya ini. Maka ketika pamandanya wafat maka penghinaan, cacian, dan bahkan kekerasan fisik akan lebih banyak dilakukan orang Quraisy Mekkah. Genaplah sudah kesedihan Nabi pada tahun tersebut.

Dengan demikian, kesenangan dan kesedihan, kebahagianan dan ketidakbahagiaan atau nikmah dan niqmah merupakan bagian dari kehidupan manusia. Jika kenikmatan yang kita dapatkan maka itulah sesungguhnya rezeki yang diberikan oleh Allah kepada hambanya. Dan di antara kita pasti juga pernah merasasakannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

SOSIOLOGI AGAMA: AGAMA DAN MASYARAKAT (1)

SOSIOLOGI AGAMA: AGAMA DAN MASYARAKAT (1)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

PEMAHAMAN:

  1. Apakah definisi ilmu itu, misalnya definisi sosiologi, psikhologi, antropologi, ilmu politik, ilmu komunikasi, ilmu hukum, ilmu agama dan sebagainya.
  2. Apakah sasaran kajiannya atau subject matternya, misalnya sasaran kajian sosiologi, psikhologi, antropologi, ilmu politik, ilmu komunikasi dan sebagainya.
  3. Apakah metodologi penelitiannya: metode kuantitatif atau kualitatif dengan berbagai jenis desainnya.
  4. Apakah teori yang telah dijadikan sebagai referensi di dalam ilmu dimaksud. Misalnya teori sosiologi, psikhologi, antropologi dan sebagainya.
  5. AGAMA: seperangkat pedoman yang dijadikan sebagai cara untuk menafsirkan atas tindakan-tindakan yang diyakini kebenarannya dan diamalkan sebagaimana para penafsirnya.
  6. MASYARAKAT: sekumpulan individu yang memiliki kesepahaman dan tindakan berbasis pada pedoman kehidupan yang disepakati Bersama.
  7. ISLAM: Agama yang dilabelkan kepada ajaran Allah swt melalui Nabi Muhammad saw, yang didasarkan atas pedoman di dalam Alqur’an, Alhadits, dan pendapat para ulama yang sesuai dengan ajaran teks dan konteks Islam.
  8. SOSIOLOGI: ilmu yang memelajari dan mengkaji tentang masyarakat.
  9. SOSIOLOGI ISLAM: ilmu yang memelajari dan mengkaji tentang relasi antara agama Islam dan masyarakat di dalam suatu lokus tertentu.
  10. Sosiologi Islam merupakan bagian dari sosiologi agama, yang mengkaji seluru relasi antara berbagai agama dengan masyarakat.
  11. Sosiologi menjadi masyarakat dengan berbagai interaksinya menjadi sasaran kajiannya.
  12. Yang dikaji adalah relasi antar individu, antar individu dengan kelompok, antar individu dengan masyarakat atau antara kelompok dengan kelompok atau kelompok dengan masyarakat dan antar masyarakat dengan masyarakat.
  13. Sosiologi agama menjadikan relasi antara agama dengan individu, atau kelompok dan masyarakat. Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan juga konghucu bahkan penghayat kepercayaan kepada Tuhan YME.
  14. Sosiologi Islam adalah sosiologi khusus yang mengkaji relasi antara agama Islam dengan individu, kelompok atau masyarakat.
  15. Yang dikaji adalah relasi antara Islam dengan individu dan individu, dengan kelompok dan masyarakat.

 

ADA LIMA DIMENSI KAJIAN SOSIOLOGI AGAMA/ISLAM

  1. Dimensi teologis atau seperangkat keyakinan terhadap yang diyakini sebagai Tuhan: Allah, Hyang Widhi, Tung Tien,
  2. Dimensi inteletual atau seperangkat pengetahuan tentang Tuhan: misalnya pemahaman tentang akidah, Syariah dan akhlak.
  3. Dimensi ritual atau seperangkat upacara keagamaan, misalnya: Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa  dan haji dan ibadah lainnya.
  4. Dimensi konsekuensial atau seperangkat konsekuensi beragama, misalnya: jihad dalam konteks perang, berusaha sungguh-sungguh dalam berusaha dan beribadah, berdakwah, dan sebagainya.
  5. Dimensi pengalaman beragama yaitu seperangkat pengalaman dalam relasi dengan Tuhan atau makhluk gaib lainnya. Pengalaman agama itu bercorak individual dan sulit direplikasi.

 

YANG DIKAJI ADALAH:

  1. Ajaran agama yaitu seperangkat ajaran agama yang menjadi pedoman di dalam melakukan Tindakan beragama atau perilaku beragama. Disebut juga sebagai ajaran normative tentang agama.
  2. Kepemimpinan beragama, yaitu tipe-tipe, otoritas dan jenis-jenis fungsi kepemimpinan agama. Misalnya pemimpin formal, non-formal atau informal, kewenangan kharismatis, tradisional dam legal formal atau jenis fungsinya, yaitu: monomorfik dan polimorfik.
  3. Masyarakat beragama, yaitu relasi antara individu, kelompok dan masyarakat yang terkait dengan ajaran normative agama-agama.

 

YANG DIKAJI:

  1. What does religion do for other, atau apakah fungsi agama terhadap relasi antara individu dengan kelompok dan masyarakat. Misalnya fungsi keselamatan dalam agama, fungsi kerukunan beragama, fungsi toleransi beragama, fungsi solidaritas social agama, dan sebagainya.
  2. What is religion atau mengkaji tentang makna agama bagi manusia. Bagaimana manusia atau individu memaknai agama bagi kehidupannya atau bagaimana manusia atau individu merasakan, menghayati dan mendalami agama di dalam kehidupannya.
  3. Semenjak lama atau  abad ke 19, agama telah dikaji oleh banyak ahli ilmu pengetahuan social.
  4. Bahkan jauh dari itu, Ibnu Khaldun telah mengkaji masyarakat Islam, baik dalam corak nomaden atau menetap.
  5. Kitab sosiologis yang sangat terkenal adalah Mukaddimah Ibn Khaldun, yang sudah dikaji oleh banyak sarjana dan akademisi di seluruh dunia.
  6. Di antara ahli ilmu social yang mengkaji agama adalah Max Weber, Emile Durkheim, J. Ober Volt, John L. Esposito, Geertz, John Ryan Bartolomew, Robert K. Nottingham, Thomas F.O. Dea,  Robert N Bellah, dan lain-lain.
  7. Ahli-ahli dari Indonesia, misalnya: Parsudi Suparlan, Amri Marzali, Ahmad Fediyani Saifuddin, Muhaimin AG, Erni Budiwanti, Nur Syam, dan sebagainya.

 

SOAL UJIAN SOSIOLOGI ISLAM

SOAL UJIAN SOSIOLOGI ISLAM

  1. Agar jawaban dikirim ke email: nursyamtuban2018@gmail.com
  2. Jawaban bersifat individual.
  3. Jawaban paling akhir dikirim ke email pada Rabo, 27 Januari 2021 jam 22.00 WIB
  4. Komponen penilaian terdiri dari responsi dalam perkuliahan, tugas makalah dan jawaban atas soal ujian ini.
  5. Selamat bekerja.

 

Soal ujian:

  1. Apakah yang saudara ketahui tentang sosiologi muslim atau sosiologi Islam, berikan jawaban singkat tetapi memenuhi kriteria yang standart: apa batasannya, apa paradigmanya, apa metodologinya dan teori-teori yang bisa digunakan.
  2. Apa yang dimaksud dengan what is religion dan what does religion do for others. Jelaskan dengan contoh-contoh yang relevan.
  3. Benarkah bahwa masyarakat Indonesia semakin religious, buktikan dengan hasil-hasil survey yang dilakukan oleh Lembaga-lembaga yang kredibel, namun religiusitas tersebut cenderung lebih fundamental. Jelaskan juga dengan data-data yang saudara ketahui.
  4. Ada pandangan yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia beruntung sebab mayoritas masyarakatnya beragama dengan cirinya yang moderat. Jelaskan apa yang dimaksud dengan moderasi beragama dan apa ciri-cirinya yang saudara ketahui. Berikan juga contoh berbasis pada data yang saudara ketahui tentang Gerakan moderasi beragama tersebut.
  5. Pemerintah telah membubarkan HTI, sebagai konsekuensi atas pandangannya tentang negara. Jelaskan hubungan antara agama dan negara dalam pandangan FPI dan bagaimana pandangan organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah dan NU. Jelaskan secara mendalam.
  6. Banyak orang yang membela FPI mengapa dibubarkan oleh pemerintah. Mereka menyatakan bahwa Gerakan FPI adalah Gerakan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Bagaimana pandangan saudara tentang Tindakan pemerintah tersebut, apakah kesalahan, keharusan atau tidak jelas alasannya.
  7. Dewasa ini sedang terjadi menjadikan agama sebagai komoditas yang disebut sebagai komodifikasi agama. Jelaskan apa saja yang bisa dikomodifikasikan dari agama tersebut dan bagaimana pandangan saudara tentang komodifikasi agama, apakah agama bisa dikomodifikasikan. Jelaskan alasannya berbasis pada dalil naqli dan aqli.

 

PERINGATI TAHUN BARU HIJRIYAH DENGAN RENUNGAN KEBAIKAN

PERINGATI TAHUN BARU HIJRIYAH DENGAN RENUNGAN KEBAIKAN

Saya diminta oleh Ta’mir Masjid Al Ihsan untuk memberikan khutbah Jum’at, 21/08/2020, sehari setelah peringatan Tahun Baru Hijriyah 1442. Saya tentu bersyukur sebab Masjid Al Ihsan bisa menjadi tempat shalat Jum’at bagi warga Lotus Regency dan juga warga sekitar. Perumahan Lotus Regency memang hanya terdiri dari kurang lebih 20 KK, berbeda misalnya dengan Perumahan Sakura atau lainnya. Namun demikian, pelaksanaan Shalat Rawatib dan Shalat Jum’at bisa dilaksanakan dengan jumlah jamaah yang memadai.

Di dalam khutbah ini saya sampaikan beberapa hal, yaitu: Pertama, pesan taqwa. Sebagai umat Islam tentu kita harus bertaqwa kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa. Bertaqwa sering dipahami sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah Swt., dengan cara menjalankan semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Semua umat Islam tentu yang diharapan adalah ketika meninggal dunia berada di dalam suasana khusnul khatimah. Jangan sampai meninggal dalam keadaaan suul khatimah. Inilah yang dimaksud sebagai wa la tamutunna illa wa antum muslimun. Jangan kita meninggalkan dunia dalam keadaan tidak pasrah menjadi umat Islam.

Kedua, kemarin kita memperingati Tahun Baru Hijriyah atau tahun 1442 Hijriyah. Makna memperingati hari Tahun Baru Hijriyah itu tidak sebagaimana dengan berakhirnya tahun baru Masehi dan memulai Tahun Baru Masehi, yaitu dengan hura-hura bersama  alunan music dan sebagainya, akan tetapi merayakan Tahun Baru Hijriyah sebaiknya dilakukan dengan perenungan dan doa. Apa yang sudah kita lakukan pada tahun yang baru saja berakhir dan apa yang seharusnya dilakukan di tahun berikutnya sebagaimana kemarin adalah sesuatu yang benar.

Yang justru harus direnungkan adalah bagaimana Nabi Muhammad saw melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah dalam jarak 490 KM lebih di tengah gurun pasir yang tandus, penuh bebatuan kecil dan besar, gunung-gunung, lembah dan ngarai batu dan gundukan pasir yang kering, bahkan suatu ketika bisa saja terjadi badai pasir yang menerbangkan pasir lembut kemana saja.

Perjalanan Nabi Muhammad saw di dalam hijrah inilah yang seharusnya menjadi perenungan kita untuk diteladani dan dilakukan yaitu hijrah di dalam kerangka menjalankan ajaran agama yang benar sesuai dengan keyakinan kita. Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan hijrah itu pasti tidak akan bisa dilakukan oleh manusia biasa. Kita semua tidak akan mampu melakukannya. Nabi Muhammad saw diberikan kekuatan yang dahsyat sebagaimana dahsyatnya ajaran agama yang harus disebarkannya. Tidak mungkin manusia berjalan di malam hari dalam kegelapan atau terang bulan di tengah padang pasir yang seperti itu. Pastilah Allah yang membimbingnya dan menjalankannya. Semua terjadi karena takdir Allah semata. Hijrah Nabi Muhammad saw yang dijadikan sebagai permulaan tahun baru Islam menandai disebarkannya Islam ke seluruh dunia, dan berdasarkan statistic tahun 2019 sudah terdapat sebanyak 1,8 Milyar umat Islam di seluruh dunia.

Makanya sudah benar ketika terjadi pergantian tahun baru di dalam tahun Hijriyah, maka yang dilakukan adalah berdoa sebagaimana tuntunan Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw memang tidak menyuruh kita melakukannya, akan tetapi dengan Nabi Muhammad saw melakukan hal ini, maka pantaslah jika kita mengikuti apa yang dilakukannya. Inilah yang membedakan  dalam perayaan tahun baru  Masehi dengan tahun baru Hijriyah. Jadi kita sudah melakukan yang benar di dalam menyambut tahun baru Hijriyah tersebut.

Ketiga,  sebagai konsekuensi dari perenungan tersebut, maka sudah sewajarnya kalau kita kemudian selalu berdoa kepada Allah swt agar kita ditunjukkan jalan kebenaran. Jalan yang diridhoi oleh Allah swt. Ada doa yang sangat baik yang bisa dilantunkan malam hari ketika kita selesai Shalat Malam, selesai Qiyamul Lail dan membaca dzikir kepada Allah. Doa itu adalah: Allahumma arinal haqqa haqqa war zuqnat tiba’ah, wa arinal bathila bathila warzuqnaj tinabah”. Yang arti bebasnya adalah: “Ya Allah tunjukkan kepada Kami yang benar itu kebenaran dan berikan kekuatan kami untuk mengikutinya, dan tunjukkan kepada kami yang salah itu kesalahan dan berikan kami kekuatan untuk menjauhinya”.

Alangkah indahnya doa ini. Doa yang menunjukkan bahwa kita membutuhkan pertolongan Allah agar Allah menunjukkan kepada kita mana yang benar dan mana yang salah, dan yang paling penting Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa melakukan yang terbaik dan menjauhi yang jelek. Doa ini akan menjadi harapan kita kepada Allah agar kita menjadi umat Islam yang terbaik. Dan umat Islam yang terbaik itu ditandai dengan kebaikan pula.

Ketika Islam mengajarkan tentang Islam itu rahmat bagi seluruh alam, maka hendaknya kita tidak melakukan kekerasan. Tidak melakukan pelecehan, penghinaan, penistaan terhadap umat Islam sendiri bahkan terhadap umat manusia lainnya. Manusia di dalam kehidupan ini memiliki hak yang kita harus menghormatinya, hak sebagai sesama manusia, hak sebagai sesama umat Islam dan hak sebagai bangsa atau masyarakat.

Marilah kita hargai “kemanusiaan” dengan hak-hak istimewanya tersebut agar kita bisa menjadi teladan bahwa umat Islam memiliki peradaban yang luar biasa dan menjadi contoh bagi manusia  dan bangsa lainnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.