• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

BETAPA INDAHNYA SHALAT: MEMOHON RAHMAT ALLAH (BAGIAN KE TIGA)

BETAPA INDAHNYA SHALAT: MEMOHON RAHMAT ALLAH (BAGIAN KE TIGA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum memulai pengajian Selasanan bakda Shubuh, maka marilah kita mulai dengan membaca shurat Alfatihah, semoga acara kita pagi ini memperoleh ridha Allah SWT dan dampaknya bagi kehidupan kita akan semakin  baik fid dini, wad dunya wal akhirat. Selain itu semoga semua urusan kita tentang kebaikan selalu dimudahkan oleh Allah SWT. Syaiun lillah lahum Alfatihah…

Di antara doa kita di dalam shalat, yaitu doa yang kita baca kala duduk di antara dua sujud adalah warhamni. Bacaan akhir di dalam doa ini dibaca panjang untuk memberikan tekanan bahwa doa ini untuk diri sendiri atau orang yang membacanya. Shalat memang memiliki kekhususan bahwa doanya memang untuk diri orang yang shalat. Maka arti warhamni adalah Ya Allah rahmati saya atau rahmati diriku. Jadi di dalam shalat banyak sekali doa yang kembalinya kepada diri para pelakunya, terutama doa di dalam bacaan di antara dua sujud. Rahmat adalah isim atau kata benda dari kata kerja rahama, yarhamu, rahmatan. Di dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai rahmat.

Islam merupakakan agama yang penuh dengan kerahmatan. Sebagaimana di dalam Alqur’an dinyatakan “wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin”, (QS Al anbiya’, 107)  yang artinya: secara umum adalah “dan tidak sekali-kali Kami (Allah) mengutusmu kecuali untuk kerahmatan bagi seluruh alam”. Jadi, Islam itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk rahmat bagi seluruh alam dan bukan rahmat bagi umat Islam saja. Islam diturunkan untuk seluruh alam, artinya untuk manusia dan alam seluruhnya. Yaitu manusia dan segala binatang, tetumbuhan, dan segala makhluk Tuhan yang menghuni alam ini.

Semua makhluk Allah di dunia ini memperoleh kerahmanan Tuhan SWT. Binatang cecak misalnya diberikan Allah makanan melalui cahaya lampu dengan binatang-binatang yang terbang di sekelilingnya, bahkan binatang laut juga memperoleh makanannya sendiri dari keharibaan Allah dengan desain yang hebat. Allah SWT mendesain semua untuk mendapatkan makanan sebagai mata rantai kehidupan. Contoh, manusia memakan tumbuh-tumbuhan, dan tumbuhan hidup di tanah basah atau kering, maka sesungguhnya manusia memakan saripati tanah yang didesain oleh Allah kepada manusia. Selain itu, manusia memakan hewan yang dihalalkan, lalu hewan memakan rerumputan atau sesama hewan yang diperuntukkan baginya, dan hewan-hewan itu memakan rerumputan, lalu rerumputan hidup di tanah, maka hakikatnya manusia juga memakan saripati tanah yang didesain untuk manusia. Ini yang kira-kira secara logika, bahwa manusia diciptakan dari tanah dan kemudian juga fisiknya yang berasal dari tanah tersebut kembali ke tanah.

Manusia tidak hanya terdiri dari jasad atau fisik tetapi juga ada roh yang ditiupkan oleh Allah di kala manusia masih berada di dalam alam kandungan. Pada saat inilah maka manusia bisa disebut makhluk hidup sebab dia sudah memiliki roh yang merupakan penggerak fisiknya. Oleh orang Jawa disebut sebagai nyawa atau yang menggerakkan jasad untuk bisa bergerak, berkembang kecerdasannya dan memiliki segala kelebihan sebagai makhluk Tuhan yang terbaik. Kecerdassan intelektualnya berkembang, kecedasan emosionalnya berkembang, kecerdasan sosialnya berkembang dan bahkan kecerdasan spiritualnya. Tentang empat kecerdasan ini nanti akan saya jelaskan secara khusus. Kecerdasan yang dimiliki manusia ini merupakan pembeda antara manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya.

Di dalam setiap kali kita membaca basmalah pastilah kita menyebut  arrahman dan arrahim. Di dalam konteks ini, maka arrahman  adalah kasih sayang Tuhan YME yang diberikan kepada semua makhluk Allah di dunia ini dan juga akhirat. Semua makhluk yang diciptakan Allah sudah didesain untuk memperoleh Rahman tersebut, seperti peluang untuk makan, minum dan bahkan melangsungkan keturunannya. Manusia dan hewan serta tumbuh-tumbuhan semuanya membutuhkan energi yang dipasok dari makanan. Tumbuhanpun juga harus menyerap sinar matahari dan juga tanah yang basah untuk melangsungkan kehidupannya. Bahkan untuk mempertahankan keturunannya dalam bentuk buah maka tumbuhan juga harus melangsungkan perkawinan sebagaimana  desain Allah.

Arrahim adalah kenikmatan Allah yang diberikan kepada manusia yang berjalan di atas hukum-hukum Allah. Mereka bisa berasal dari agama-agama yang Allah turunkan, misalnya agama Nasrani atau Yahudi sebelum diturunkannya Alqur’an sebagai kitab suci di dalam agama Islam. Tetapi posisi Alqur’an tentu tidak mengabrogasi atau menasakh atas kitab-kitab sebelumnya. Kitab Injil, Taurat dan suhuf-suhuf lainnya adalah kebenaran pada zamannya. Itulah sebabnya Islam mengajarkan agar umat Islam percaya kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum turunnya Kitab Suci Alqur’an. Kitab-kitab itu adalah wahyu Allah yang diberikan kepada rasul-rasulnya pada zamannya.

Kerahiman Allah ini bersifat khusus dan pada era Nabi Muhammad SAW dan seterusnya diberikan kepada umat Islam di akherat. Di dalam kitab Alqur’an dijanjikan oleh Allah bahwa manusia yang beriman dan beramal shalih, maka Allah akan memberinya jalan ke surga atau jalan kenikmatan di  akhirat.. Secara sosiologis, orang bisa hidup berbahagia di kala hidupnya tenteram dan marasakan kenikmatan yang Allah berikan dan kemudian bersyukur atas kenikmatannya.

Allah menyatakan di dalam Shurat al Bayyinah, ayat 7: “innal ladzina amanu wa’amilush shalihati ulaikahum Khairul bariyyah. Jaza’uhum ‘inda rabbihim jannatu ‘adnin tajri min tahtihal anharu khalidina fiha abada”.  Yang artinya kurang lebih: “sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, balasannya di sisi Allah adalah surga Aden yang di bawahnya mengalir air sungai yang kekal abadi di dalamnya”.

Bagi orang Islam, maka Rahman dan Rahim  Tuhan adalah kebahagiaan yang tiada akhir atau endless bliss yang dirasakan tidak hanya di akhirat tetapi juga di dunia ini bagi orang yang menginginkan keridlaan Allah dan berusaha secara optimal untuk mendapatkannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

BETAPA INDAHNYA SHALAT: MEMOHON DITINGGIKAN DERAJAD (BAGIAN KEDUA)

BETAPA INDAHNYA SHALAT: MEMOHON DITINGGIKAN DERAJAD (BAGIAN KEDUA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum memulai Ngaji Bersama Selasanan Bakda Shubuh, marilah kita baca shurat Alfatihah terlebih dahulu, semoga apa yang kita kaji dan apa yang menjadi tujuan kita untuk berbuat baik selalu dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla. Semoga semua keberkahan selalu dilimpahkan kepada kita semua. Syaiun lillah lahum alfatihah…

Pada kali ini kita akan membahas tentang doa di antara dua sujud, setelah kita bahas tentang betapa pentingnya istighfar atau memohon ampunan kepada Allah, yaitu memohon agar ditinggikan derajad kita oleh Allah SWT, kalimatnya berbunyi: “warfa’ni” dengan pernyataan akhir dipanjangkan untuk menunjukkan kata ganti saya. Arti warfa’ni adalah dan angkatlah derajad saya”. Doa ini tentu bercorak individual karena shalat memang ibadah individual hanya saja bisa dilakukan secara berjamaah atau bersama-sama. Jika ibadah shalat dilakukan sendiri atau munfaridan akan mendapatkan pahala tiga derajat dan jika dilakukan secara berjamaah akan mendapatkan 27 derajat. Tentang makna derajad ini tentu ahli fiqih atau ahli tasawuf yang bisa menjelaskan. Sebagaimana bacaan subhanallah. Alhamdulillah dan Allahu akbar yang dibaca bakda shalat berjumlah masing-masing 33 kali. Secara sosiologis tidak bisa dijelaskan. Ahli tasawuf yang bisa menjelaskannya. Setiap jumlah bacaan itu merupakan kunci.

Masyarakat kita sering memahami bahwa derajad itu ada kaitannya dengan hal-hal yang fisikal. Makanya ada konsep wong gede atau Bahasa Indonesia orang besar atau wong cilik atau orang awam, orang kebanyakan, yang menggambarkan derajad. Makanya orang Jawa sering memaknai derajad itu dengan pangkat atau jabatan atau kekayaan atau harta benda yang dimiliki. Derajad dimaknai secara material. Kekeliruan pemaknaan ini tentu telah turun temurun sehingga dianggap sebagai kebenaran. Misalnya kalau ada orang naik jabatan atau pangkat, maka disebut dapat derajad yang tinggi. Atau kalau ada orang kaya, maka disebut derajadnya tinggi. Semua diukur serba materi atau fisikal. Derajad dianggap sebagai labelling atas suatu kedudukan atau kekayaan, sehingga disebut sebagai wong gede dimaksud.

Derajad di dalam konsepsi Islam (secara sosiologis) bukan secara fiqhiyah adalah symbol atau lambang yang didapatkan  manusia karena upaya yang dilakukan dan memperoleh pengabsahan Allah dalam semua bidang kehidupan baik material atau fisikal dan juga nonmaterial atau nonfisikal. Jadi yang namanya derajad itu sangat luas cakupannya yang menyangkut dimensi materi dan nonmateri.  Allah itu meninggikan derajad manusia dengan ilmu pengetahuan, baik pengetahuan umum maupun pengetahuan agama. Allah meninggikan derajad manusia dengan hidayah akan keimanan dan keislaman, Allah itu meninggikan derajad manusia dengan pengamalan beragama bahkan sampai ke tingkatan kelompok khusus lil  khusus, tidak terus berada di dalam pengamalan beragama kelompok awam. Allah menyatakan: “yarfa’il lahul ladzina amanu minkum walladzina utul ilma darajad” artinya secara harfiyah adalah Allah meninggikan derajad orang yang beriman dan orang yang mencari ilmu pengetahuan”. (QS. Almujadaah: 11). Di dalam konteks ini, maka ada dua orang yang ditinggikan derajadnya, yaitu orang yang beriman dan orang yang mencari ilmu pengetahuan.

Jadi derajad itu bukan hanya materi dengan kekayaan dan jabatan atau pangkat, tetapi yang lebih urgen adalah derajad dalam keimanan dan penguasaan ilmu pengetahuan. Ada banyak orang yang kaya atau  berpangkat tetapi tidak menjadi idola di sisi Allah sebab tidak iman secara utuh atau tidak berpengetahuan untuk memperkuat keimanan. Tetapi di sisi Allah yang baik adalah jika menjadi orang kaya tetapi dermawan, orang yang menjadi pejabat untuk membangun keadilan, kebaikan dan kesejahteraan dan tentu orang yang beriman,  bertaqwa dan berilmu pengetahuan yang didayagunakan untuk membangun kehidupan sosial yang lebih baik.

Jadi ketika kita berdoa, Ya Allah tinggikan derajad kami, hendaknya yang dimaksudkan adalah agar jangan hanya derajad keduniawian yang fana ini, tetapi lebih jauh adalah derajad keukhrawian yang kekal adanya. Jadi rasanya memang diperlukan reorientasi pemahaman kita tentang derajad, bahwa derajad yang dimaksud adalah derajat yang agung yang menjadi tujuan dan harapan akhir kita. Boleh kita memperoleh derajad duniawi yang sifatnya instrumental, tetapi agar diletakkan derajad kita itu di dalam purpose dan hope untuk memperoleh keimanan dan ketaqwaan.

Marilah kita ubah mindset kita yang selalu berpikir duniawi menjadi mengarah ke ukhrawi, dari berpikir derajad itu material ke spiritual. Melalui perubahan pemikiran ini semoga kelak kita memperoleh kebaikan di akhirat sebagai kampung halaman abadi bagi manusia. Derajad di dunia kita dapatkan dan derajad di akhirat juga kita dapatkan. Dan hal itu seharusnya dipahami dari doa kita pada waktu kita membaca “warhamni” di dalam shalat kita. Semoga kita masuk dalam golongan orang yang berderajad tinggi di sisi Allah, baik di dunia dan berderajad tinggi di sisi Allah  di akhirat. Allahumma amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BETAPA INDAHNYA SHALAT: ISTIGHFAR (BAGIAN SATU)

BETAPA INDAHNYA SHALAT: ISTIGHFAR (BAGIAN SATU)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum kita memulai pengajian Selasanan bakda Shubuh, marilah kita mulai dengan membaca shurat Alfatihah, semoga apa yang kita inginkan dalam kebaikan selalu dikabulkan dan diridhoi oleh Allah SWT dan semoga kita diberikan kemudahan oleh Allah atas segala urusan kita. Syaiun lillah lahum alfatihah..

Yang saya jelaskan pada pagi ini memang tidak urut, yaitu shalat dimulai dengan takbiratul ihram, lalu bacaan doa iftitah dan seterusnya, akan tetapi saya akan memulai dari doa yang kita baca diantara dua sujud yang mesti kita baca di dalam shalat. Kajian ini tidak melihatnya dari dimensi fiqih tetapi lebih tepat sebagai kajian ethical-sosiologis yang memang sedikit banyak saya kuasai. Jika yang terkait dengan fiqih biarkan ada ahli lain yang menerangkannya atau menjelaskannya.

Doa di antara dua sujud itu terkait dengan permohonan hamba kepada tuannya, dari manusia kepada Allah SWT. Shalat itu tidak hanya untuk mengingat Allah tetapi juga permohonan kita kepada Allah SWT. Kita gunakan kata permohonan dan bukan permintaan. Permintaan itu digunakan untuk sesama hamba Allah sedangkan untuk Allah kita gunakan kata memohon. Di dalam konteks ini Allah mengajarkan agar kita menyembahnya terlebih dahulu dan baru memohon kepada-Nya. Di dalam Shurat Alfatihah Allah menjelaskan
“iyyaka na’budu wa iyyaka nastain”.

Doa kita atau permohonan kita kepada Allah itu, yang pertama adalah permohonan agar dosa kita diampuni atau dihapuskan oleh Allah SWT. Bunyinya: Rabbighfirli. Yang artinya kurang lebih “Wahai Allah ampuni segala dosa saya”. Jadi doa ini menggambarkan permohonan individual, permohonan orang-orang di kala shalat kita lakukan. Permohonan seorang hamba kepada Tuhannya, yang dilakukan oleh dia seorang diri kepada Allah SWT. Di dalam doa ini kita memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar dosa atau kekhilafan atau kesalahan yang kita lakukan kepada Allah memohon diampuni. Ada di antara kita yang barangkali kurang bersyukur kepada Allah, kita kurang tawakkal kepada Allah, kita kurang beriman kepada Allah, kita kurang ikhlas dalam beribadah dan sebagainya agar Allah mengampuni. Ada di antara kita yang shalatnya masih bolong-bolong, masih suka shalat sendirian, masih kurang khusyu’, masih kurang focus, masih menganggap shalat itu kewajiban dan bukan kebutuhan, dan sebagainya maka saatnya kita memohon ampunan Allah.

Ada juga yang mungkin sedekahnya kurang, kurang suka menolong orang, suka menyimpan harta, kurang zakatnya, kurang infaqnya, kurang rasa iba kepada sesama hamba Allah yang sedang mengalami masalah kehidupan, kurang merasakan nikmatnya Allah atau selalu merasa kurang, maka inilah saatnya kita memohon ampunan kepada Allah. Ada juga yang merasa ibadahnya karena didorong oleh factor luar bukan dari dorongan dalam diri atau lainnya, maka saatnya kita berdoa memohon agar Allah memaafkannya.

Ada juga yang merasa dirinya tidak bersih, banyak maksiat, misalnya maksiat mata, maksiat hati, maksiat lesan, maksiat tangan dan sebagainya, maka inilah saatnya kita memohon kepada Allah agar diampuni. Jika ada riyak di dalam diri, baik riya dhahir atau batin, riya jahr atau riya sir, maka inilah saatnya kita memohon ampunan kepada Allah SWT. Jika ada di antara kita yang merasa paling hebat dalam profesi kita dan membuat kita membusungkan dada, lalu berpikir “sopo siro sopo ingsun” atau siapa saya dan siapa saudara, maka shalat inilah saatnya kita memohon ampunan kepada Allah SWT.

Apa yang saya sampaikan ini sesungguhnya merupakan upaya untuk introspeksi diri, khususnya diri saya yang di dalam banyak hal masih melakukan dosa atau kesalahan dan terkadang juga shalat itu berjalan begitu saja atau tanpa penghayatan, maka dengan membicarakan hal ini dan bahkan menuliskan hal ini, akan bisa menjadi kaca benggala tentang ibadah yang kita lakukan. Kita benar-benar menyadari bahwa dimensi kemanusiaan kita itu lebih dominan dibanding dimensi ketuhanan. Factor keduniawian itu lebih dominan dibandingkan dengan factor keukhrawian. Hal ini bisa saja dipengaruhi oleh lingkungan kita yang memang semakin materialistis, yang semakin permisif dan semakin serba boleh. Oleh karena itu, mudah-mudahan dengan memberikan penjelasan tentang hal ini akan bisa menjadi pengingat bahwa ada kewajiban dan kebutuhan kita untuk terus memohon ampunan kepada Allah SWT.

Di tengah kehidupan kita yang  berpaham bahwa kebutuhan itu semata-mata fisikal atau material, maka hal ini akan sangat mempengaruhi terhadap mindset kita. Kita tentu selalu mendendangkan lantunan doa dalam bentuk istighfar “astaghfirullah al adzim” dan doa itu diterima Allah SWT.  Tentu saja harapan kita kepada Allah adalah lantunan-lantunan doa tersebut akan menjadi persaksian bahwa kita termasuk orang yang beribadah dan memohon ampunan kepada-Nya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

REZEKI SEBAGAI NIKMAT ALLAH SWT (BAGIAN KEEMPAT)

REZEKI SEBAGAI NIKMAT ALLAH SWT (BAGIAN KEEMPAT)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum kita melanjutkan pengajian selasanan bakda shalat shubuh (18/1/22), marilah terlebih dahulu kita membaca surah Alfatihah, semoga dengan membaca ummul qur’an ini, maka kita akan mendapatkan kemudahan dalam segala urusan kita, baik urusan di dunia yang fana ini dan juga urusan akhirat. Allahumma Amin. Syaiun lillah lahum al fatihah…

Allah SWT selalu memberikan kepada manusia yang disebut sebagai hukum berpasangan. Yaitu hukum yang terkait dengan baik dan buruk, halal dan haram, siang dan malam, pagi dan sore dan sebagainya. Termasuk juga hukum merasakan kesenangan dan kesedihan, bahagia dan sengsara, dan sebagainya. Semua ini sudah dijelaskan oleh Allah SWT di dalam kitab sucinya, bahkan semua kitab agama-agama di dunia. Pada pertemuan yang lalu disebut sebagai saidun  dan saqiyyun. Bahagia dan sengsara.

Manusia sekaya apapun dipastikan juga tidak selalu bahagia. Dipastikan ada suatu masa yang dia merasakan ketidakbahagiaan, misalnya tekanan bisnis, yang berupa kerugian, atau tekanan politik bisnis yang tidak bisa dihindari, atau tekanan rekanan bisnis yang mestinya tidak mungkin dilakukan akan tetapi terpaksa dilakukan. Patut diingat bahwa semakin kaya seseorang sesungguhnya juga semakin besar tekanan atas kekayaannya. Bill Gate, yang super kaya sebagai pemilik Google, juga tidak bisa diam sebab para pesaingnya akan selalu mengintai kelemahannya. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana Nokia merek hand phone yang sangat meraksasa terpaksa harus gulung tikar karena kemajuan teknologi android yang dikembangkan oleh Samsung. Persaingan yang ketat dalam dunia bisnis tentu juga sangat luar biasa. Makanya, dipastikan ada masa di mana orang kaya itu mengalami masa-masa yang suram atau ketidakbahagiaan.

Bahagia tidak bisa diukur dengan kekayaan atau banyaknya harta benda yang dimilikinya. Kekayaan mungkin bisa menghasilkan kesejahteraan fisikal sebab semua keperluan terpenuhi. Mau beli apapun tinggal menunjukkan jari. Mau apapun dipastikan akan terpenuhi. Tetapi ada yang tidak bisa dibeli adalah ketenangan batin. Ada yang tidak bisa dibeli adalah semakin tua dan semakin renta. Ada yang tidak bisa dibeli yaitu semakin lemahnya fisik karena sakit atau ketuaan. Ada factor takdir yang tidak bisa dibeli oleh orang kaya sekalipun.

Kebahagiaan adalah nikmat Tuhan yang berupa ketenangan batin yang diakibatkan oleh kepasrahan kita atas semua yang harus berlaku kepada manusia. Mungkin bisa terjadi orang yang secara ekonomi hanya cukup untuk makan sehari-hari, tetapi kebahagiaannya jauh lebih besar dibandingkan dengan orang kaya yang seharusnya serba kecukupan. Itulah yang di dalam pandangan orang Jawa disebutkan: “urip iku sawang sinawang” artinya “hidup itu saling melihat”. Artinya, bahwa orang lain memandang kita bahagia, tetapi kenyataannya tidak. Dan ada orang lain memandang kita tidak bahagia tetapi ternyata bahagia.

Kita boleh banyak-banyak meminta tetapi tidak boleh meminta banyak. Jangan minta harta yang banyak, tetapi memintalah sebanyak-banyaknya  agar diberikan harta. Jadi banyaknya meminta bukan meminta yang banyak. Atau lebih jelasnya kita harus sering meminta, bukan sekali meminta dengan permintaan yang banyak. Di dalam surat Alfatihah disebutkan: “kepadamu kami menyembah dan kepadamu kami memohon”. Jadi perbanyak persembahan dulu dan baru meminta.

Badan Pusat Statistik (BPS) sudah merilis indeks kesejahteraan. Dalam hal ini kesejahteraan itu “diidentikkan” dengan kebahagiaan. Padahal sesungguhnya terdapat perbedaan yang mendasar antara “kesejahteraan” dengan “kebahagiaan”. Artinya sudah dibuat ukuran untuk menentukan apa saja yang menjadi indicator kesejahteraan. Karena ukuran atau indicator tentu yang bercorak fisikal, misalnya: pendidikan, penghasilan, pengeluaran rumah tangga, keamanan lingkungan, keamanan sosial, jumlah anak, kepemilikan rumah, kendaraan, kesehatan dan kenyamanan dalam rumah tangga. Semua ini menggambarkan bahwa ukuran sejahtera itu yang secara fisikal dapat diukur.

Padahal sesungguhnya kesejahteraan itu tidak hanya aspek fisik tetapi juga batiniah. Pengukuran batiniah inilah yang sulit, misalnya ketenangan, kedamaian, keselarasan yang sumbernya dari aspek batin. Mengukur keimanan tentu susah sebab ada dimensi batin, makanya yang diukur adalah aspek luar dari agama, misalnya menjalankan shalat atau tidak. Padahal menjalankan shalat juga belum tentu bisa menjadi ukuran kebahagiaan. Jadi yang dilihat adalah perilaku dan bukan dimensi batiniah manusia.

Dengan demikian, kesejahteraan atau kebahagiaan itu adalah nuansa hati dalam menerima kenikmatan atau rezeki yang datang dari Allah SWT. Semakin menerima atas rezeki yang diberikan oleh Allah maka semakin besar peluang seseorang untuk bahagia. Menerima atas nikmat Allah itulah yang di dalam konsepsi Islam disebut sebagai tawakkal atau kepasrahan atas semua ketentuan Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

REZEKI SEBAGAI NIKMAT ALLAH SWT (BAGIAN KETIGA)

REZEKI SEBAGAI NIKMAT ALLAH SWT (BAGIAN KETIGA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum kita memulai ngaji bareng pada program ngaji bareng Selasanan (4/1/22), maka terlebih dahulu kita membaca Surat Alfatihah, semoga dengan membaca Ummul Qur’an ini maka semua tujuan kita yang memiliki kebaikan akan bisa dikabulkan oleh Allah SWT. Mari kita Yakini bahwa dengan bacaan ummul qur’an maka tujuan kita insyaallah akan bisa dikabulkan Allah SWT. Syaiun lillah lahum alfatihah…

Di antara kita ada yang keliru di dalam membaca atau memahami tentang rezeki. Baginya bahwa rezeki itu hanya persoalan materi. Jadi tidak dianggap sebagai rezeki jika tidak berupa materi, misalnya lebih specific uang. Dengan demikian, rezeki itu hanya uang saja. Kenikmatan Allah hanya dianggap jika berupa nikmat material, misalnya menjadi kaya, memiliki banyak uang, memiliki rumah besar, memiliki perabot rumah yang mewah, memiliki mobil yang bagus dan semuanya terkait dengan materi.

Oleh karena itu, saya membagi rezeki Allah tersebut dengan dua hal, yaitu rezeki fisikal atau material dan rezeki nonfisikal atau nonmaterial. Rezeki yang bersifat fisikal adalah rezeki yang bisa dilihat dan dirasakan kenikmatannya. Uang, kekayaan, mobil, rumah mewah dan sebagainya adalah rezeki yang bersifat fisikal atau material. Rezeki fisikal ada kaitannya dengan kebutuhan biologis. Manusia membutuhkan papan (rumah), pangan (makanan dan minuman), sandang (pakaian, baju atau jabatan) yang merupakan symbol-simbol fisik atau materi. Sedangkan nikmat Allah SWT yang sungguh luar biasa sebenarnya adalah nikmat iman dan islam. Syukur kalau bisa merasakan nikmat ihsan. Tetapi yang dua di depan itu saja sudah sangat luar biasa. Tidak banyak manusia yang memiliki nikmat iman dan Islam. Di dunia ini ada sebanyak 6 milyar umat manusia dan hanya 2 milyar saja yang menjadi Islam. Beriman kepada Allah dan menjadi umat Islam. Yang umat Islam sebanyak 2 milyar itu juga tidak semuanya memperoleh nikmat iman dan Islam yang utuh. Ada yang bisa menjalankan ajaran Islam dan ada yang tidak mampu menjalankan ajaran Islam. Kita yang mengikuti pengajian ini adalah orang yang memperoleh nikmat iman dan Islam yang utuh. Paling tidak sudah shalat, puasa, zakat dan bahkan ada yang sudah haji. Tidak hanya syahadat sebagai pengakuan formal sebagai orang Islam.

Ada banyak orang yang mempelajari Islam tetapi berhenti menjadi ilmu dan tidak menjadi pengamalan. Ada ahli ilmu keislaman tetapi tidak melakukan Islam atau menjadi Islam. Ada yang sedikit pengetahuan ilmu keislamannya tetapi mengamalkan Islam dengan baik. Inilah yang harus kita syukuri karena kita telah menjadi bagian umat Islam yang bisa mengamalkan ajaran Islam. Orang-orang Barat yang disebut sebagai ahli orientalis itu orang yang mempelajari Islam secara tuntas tetapi tidak menjadi Islam. Bisa disebut misalnya Wael B. Hallaq yang ahli hukum Islam, L. Stoddart, ahli kebudayaan Islam, J. Spencer Trimingham yang ahli tasawuf, Virginia Hooker yang ahli hukum Islam, Philip K. Hitti yang ahli sejarah Islam, dan lain-lain yang ilmunya tuntas tetapi tidak mendapatkan hidayah untuk menjadi muslim atau Muslimah. Tetapi juga ada yang kemudian menjadi Islam, misalnya Maurice Buchaile yang ahli sains, Muhammad Ali, Floyd Mayweather, Mike Tyson yang menjadi petinju, dan Muhammad As’ad yang ahli sejarah Islam.

Semua ini menggambarkan kenikmatan yang terselubung yang tidak berupa materi dan biasanya kita kurang bersyukur karena dianggap sebagai biasa saja. Nikmat Tuhan yang seperti ini justru sebagai nikmat al udzma atau nikmat Tuhan terbesar. Dan ini tidak kita sadari, kita anggap sebagai biasa saja. Nikmat Tuhan yang tidak tampak terkadang justru lebih banyak dibandingkan dengan nikmat fisikal. Sungguh kita tidak bisa menghitung nikmat Tuhan kepada kita. Saking banyaknya.

Nikmat yang Tuhan yang bisa dilihat, dirasakan dan direnungkan itu semua adalah rezeki Allah kepada kita semua. Kita memiliki rumah, yes sebagai rezeki, kita bisa menerima gaji yang cukup, yes itu sebagai rezeki, kita punya simpanan uang di Bank, yes itu rezeki, kita bisa sehat, yes itu rezeki, tetapi jangan lupa kita menjadi umat Islam yang akan diberikan Rahman dan Rahim Tuhan juga rezeki. Kita bisa tidur tenang, kita bisa berdzikir banyak, kita bisa shalat dengan damai adalah rezeki Tuhan yang tidak bisa kita abaikan. Rezeki Tuhan itu maha luas, hanya sayangnya kita tidak memahaminya.

Kita perlu memperoleh pencerahan agar kita bisa selalu bisa merasakan betapa besarnya nikmat Allah yang kemudian disebut sebagai rezeki. Jangan sampai Allah swt memberikan tandzir atau peringatan kepada kita karena ketidaksyukuran kita atas rezeki yang Allah berikan kepada kita. Saya yakin bahwa kita bisa menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur atas nikmat Allah, baik itu rezeki yang bersifat fisikal atau material dan juga rezeki yang bersifat non material atau non fisikal. Kita selalu berdoa “ya Allah berikan kami rezeki yang berkah fid dini, wad dunya wal akhirah”.

Wallahu a’lam bi al shawab.