• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

BETAPA INDAHNYA SHALAT: YA ALLAH SEHATKANLAH KAMI (BAGIAN KE DELAPAN)

BETAPA INDAHNYA SHALAT: YA ALLAH SEHATKANLAH KAMI (BAGIAN KE DELAPAN)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum memulai pengajian rutin selasanan bakda shubuh, marilah kita membaca shurat al fatihah, ummul Qur’an, semoga dengan membaca ummul kitab ini, maka kita akan selalu diberikan rasa tenteram, aman dan berbahagia serta dimudahkan seluruh urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat.  Syaiun lillah lahum alfatihah…

Salah satu doa yang kita baca pada saat membaca doa di antara dua sujud adalah: “Wa’afini” atau dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan: “Ya Allah sehatkanlah kami” atau “Ya Allah berikan saya kesehatan”. Intinya kita memohon kepada Allah agar kita selalu diberikan kesehatan. Dengan kita sehat, maka kita akan bisa menjalankan amanah Gusti Allah untuk beribadah dan bekerja sesuai dengan tuntunannya. Pertanyaan dasarnya adalah “mengapa kita memohon kepada Allah agar sehat? Apakah penting untuk memohon kesehatan kepada Allah, bukankah urusan kesehatan itu urusan manusia semata dan Allah tidak terlibat di dalamnya?

Kesehatan memang urusan fisikal meskipun di dalamnya juga terkandung urusan kejiwaan. Badan sehat itu sangat penting sebab tanpa badan yang sehat,  maka kita tidak akan dapat berpikir sehat dan dipastikan bahwa kita tidak  akan dapat menikmati kehidupan yang sedang kita alami. Sehat merupakan kata kunci dalam kehidupan manusia di dunia. Tanpa kesehatan, maka hidup akan menjadi tidak bermakna. Ada pepatah Arab yang menyatakan: “hati yang sehat terletak pada fisik yang sehat. “qalbun salim fi jismin salim”. Hati yang sehat terletak pada fisik yang sehat. Jika hati kita berpeluang sehat, maka juga harus diberi peluang tubuh kita untuk sehat. Jika tubuh kita sakit juga peluangnya besar hati kita sakit. Coba perhatikan orang-orang yang mengeluhkan tentang kesehatannya.

Jika semakin tua usia, maka semakin banyak keluhan. Ada sakit maag, ada asam aurat, ada sakit jantung, ada sakit ginjal, ada sakit paru-paru dan rhematik. Keluhan itu bisa datang satu persatu bahkan ada yang komplikasi. Begitulah hukum Tuhan untuk manusia. Ketika muda sehat dan ketika semakin tua maka semakin banyak penyakit yang diderita. Ibarat mobil,  semakin tua mobil semakin banyak spare part yang harus diganti karena aus terpakai. Nah begitulah manusia. Semakin lama dipakai,  maka  semakin banyak yang aus dan perlu diobati. Di saat seperti ini, maka manusia akan menjadi betapa pertolongan Allah menjadi sangat penting. Di sinilah makna doa yang perlu dilantunkan. Bahkan sebenarnya bukan hanya yang usianya lanjut saja yang harus berdoa,  tetapi bagi yang masih muda juga sangat penting untuk berdoa. Mumpung masih baik kondisi tubuh, maka doa perlu sekali untuk dipanjatkan.

Tetapi yang penting bahwa manusia dilahirkan lalu menjadi muda lalu menjadi tua lalu meninggalkan dunia adalah hukum alam yang berlaku bagi semua yang memiliki kehidupan. Tidak hanya manusia tetapi juga hewan dan tumbuh-tumbuhan. Setiap yang hidup pasti ada ajal yang menunggunya. Lahir, hidup, mati, rezeki dan jodoh adalah takdir Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi ketika hidup diharapkan bahwa hidup dengan sehat, bekerja dengan sehat, berumah tangga dengan sehat, dan kemudian mati dalam keadaan khusnul khatimah. Allahumma amin.

Semua manusia menginginkan  hidup sehat, kaya dan bahagia. Tidak satupun manusia yang tidak menginginkan hal ini. Akan tetapi tidak semuanya bisa seperti ini. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang bahagia. Juga  ada yang kaya bahagia, ada yang kaya tidak bahagia, ada yang miskin bahagia dan ada yang miskin sengsara. Semua sudah diatur dengan takdir Tuhan meskipun takdir ini masih bersifat takdir mu’allaq atau takdir yan tergantung kepada usaha manusia. Untuk ini manusia diminta untuk bekerja agar mendapatkan rezeki. Tidak boleh berpangku tangan untuk memperoleh rezeki. Dengan demikian, jika ingin memperoleh rezeki, maka satu persyaratannya adalah bekerja agar didapatkan rezeki yang sudah ditentukan oleh Allah. Tetapi di kala usaha sudah dilakukan dan ternyata rezeki tidak sebagaimana yang diharapkan, maka kita harus pasrah kepada Tuhan. Di dalam pepatah Inggris dinyatakan: “man proposes God disposes”. Yang artinya: “manusia merencanakan Tuhan yang menentukan”.

Di dalam aspek kesehatan, maka juga berlaku hukum yang sama. Manusia bisa berdoa sekuat tenaga, akan tetapi Tuhan yang menentukan hasilnya. Tetapi yang penting bahwa manusia diberikan instrument untuk berdoa dan memohon kepada Allah agar diberikan kesehatan yang prima, dan kita harus yakin bahwa Tuhan pasti mendengarkan doa kita. Di dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW dinyatakan: “ana ‘inda dzanni abdi bi”, yang artinya: “Aku (Allah) itu berada di dalam persangkaan hambaku kepadaku”. Jadi kalau  kita meyakini doa kita dikabulkan Allah maka potensinya akan berhasil,  tetapi jika kita sendiri tidak yakin, maka peluang untuk keberhasilan doa kita juga kecil.

Itulah sebabnya, kita diminta untuk berdoa: “Allahumma inni as alukal ‘afwa wal ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah”. Yang artinya: “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadamu ampunan dan kesehatan di dalam agama, dunia dan akhirat”. Coba kita simak doa ini, kita memohon kepada Allah ampunan bahkan kemaafan (dosa dihapus dan catatan dihapus), dan kesehatan di dalam agama, di dunia dan akhirat. Sehat dalam agama artinya kita beragama yang memberikan kerahmatan kepada seluruh alam, sehat di dunia artinya kita sehat dalam fisik dan jiwa dan juga sehat di akhirat artinya bisa memasuki kehidupan yang bahagia dengan bisa masuk ke dalam surganya Allah SWT.

Ya Allah kabulkan doa kita semua, agar kami semua bisa sehat di dalam menjalankan agama, sehat di dalam menapaki kehidupan dan juga memperoleh rahmat untuk bisa memasuki surgamu. Amin ya Rabbal alamin.

Wallahu a’lam bi al shawab. 

 

BETAPA INDAHNYA SHALAT: YA ALLAH AMPUNI KAMI (BAGIAN KETUJUH)

BETAPA INDAHNYA SHALAT: YA ALLAH AMPUNI KAMI (BAGIAN KETUJUH)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum memulai pengajian Selasanan bakda shubuh, marilah kita mulai terlebih dahulu dengan membaca shurat Alfatihah, semoga dengan keikhlasan hati kita membacanya maka kita akan diselamatkan oleh Allah dari semua marabahaya, kejelekan dan dosa dan bisa memperoleh kebahagiaan fid dini wadunya wal akhirah, syaiun lillah alfatihah…

Doa di antara dua sujud salah satunya adalah wa’afini, atau di dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan: “Ya Allah ampunilah kami” atau “Ya Allah ampunilah saya”. Mengapa kita harus mengungkapkan perkataan, “Ya Allah maafkan kami”. Dalam hal ini, apakah relevansinya dengan perbuatan yang kita lakukan. Jika ditilik dari teks Alhadits, maka dinyatakan bahwa: “al insanu mahalul khatha’i wan  nisyan” yang artinya: “manusia itu tempatnya kekhilafan  dan kelupaan”. Memang Allah menciptakan manusia dengan tingkat kesempurnaan yang tinggi, terutama terkait dengan inteligensinya. Dengan rational intelligent, emotional intelligent, social intelligent dan spiritual intelligent, sebagai indicator kesempurnaan Allah menciptakan manusia, namun satu hal penting manusia juga diciptakan dengan memiliki potensi melakukan kekhilafan dan kelupaan. Ini bagian dari hukum berpasangan yang Allah terapkan kepada manusia.

Sebagai instrument bagi manusia yang sering kali salah dan lupa, maka Allah memberikan cara kepada manusia untuk menghilangkan atau meminimalisasinya, dengan permohonan ampunan dan kemaafan kepada Allah. Sebuah instrument yang tidak rumit, yaitu selalu berdoa untuk memohon ampunan dan maaf dimaksud. Ucapan tersebut adalah astaghfirullah atau astaghfirullah al adhim atau wa’afini. Jika yang diucapkan adalah astaghfirullah maka yang dimaksud adalah “Ya Allah ampunilah kekhilafan kami” dan jika yang dibaca wa’afini maka yang dimaksud adalah: “Ya Allah maafkan kami”.

Menurut Prof. Nasaruddin Umar, bahwa ada perbedaan antara ampunan dan pemaafan. Maghfiroh dan afwun itu berbeda. Jika ampunan itu dosa atau kekhilafan kita dihapus oleh Allah tetapi catatannya masih ada. Jadi sewaktu-waktu masih bisa dibuka lagi. Sedangkan afwun itu dosa dan kekhilafan itu dihapus dan catatannya dihapus juga. Jadi sudah tidak ada jejak doa atau kekhilafan yang tercatat. Sama halnya dengan kita punya hutang, jika ampunan maka hutangnya dihapus tetapi catatan utang itu masih ada, sedangkan di dalam afwun itu hutang dihapus dan catatan hutang  dihapus juga. Sungguhlah bahagia orang yang dosanya dihapus dan catatan dosanya juga dihapus. Jadi nanti di saat hari penerimaan catatan kehidupan atau raport kehidupan diberikan, maka catatan dosa itu dihapus dan kita bisa menerima raport dengan tangan kanan. Dan itu pertanda surga akan diterima oleh hamba Allah tersebut.

Nabi Muhammad saw yang sudah dipastikan sebagai hamba Allah yang ma’shum atau tanpa dosa, tetap melantunkan istighfar kepada Allah ratusan kali dalam sehari. Ini Nabi Muhammad SAW. Maka  seharusnya kita harus melazimkan bacaan istighfar sebanyak-banyaknya. Pada setiap saat, setiap kesempatan dan setiap tempat.  Alangkah indahnya jika bisa seperti ini. Ya Allah berikan kami kemampuan untuk terus memohon ampunan kepadamu.

Allah adalah Dzat yang maha pengampun. “Innallaha ghafurur Rahim”, yang artinya kurang lebih “sesungguhnya Allah itu maha pengampun dan maha pengasih”. Tiada Dzat yang melebihi Allah SWT dalam memberikan ampunan kepada hambanya. Itulah sebabnya manusia mesti meminta ampunan dan maaf kepada Allah dengan sesungguhnya. Bukan permohonan yang semu dan pura-pura. Permohonan ampunan itu harus sungguh-sungguh dan ikhlas. Semoga dengan permohonan ampunan kepada Allah tersebut Allah mengabulkan doa dan permohonan kita, sehingga kita akan bisa menjadi hambanya yang bisa memasuki surganya karena keridlaan Allah SWT.

Di kalangan para ‘arif billah, maka ada tiga hal yang sangat penting di dalam kehidupan, yaitu bacaan kalimat tauhid: lailaha illallah, lalu membaca istighfar: “astaghfirullah”,  dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW”. Ketika membaca la ilaha illallah maka tidak hanya menyebut asma atau namanya, tetapi yang penting justru maknanya. Ada sebuah ungkapan di kalangan ahli kaum arif billah: man abadal asma wal makna fahuwa mu’minun haqiqiyyun artinya “barang siapa yang menyebut nama Allah dan maknanya maka dia adalah orang mukmin hakiki”.

Kita ini beragama sesuai dengan kapasitas kita, bahkan beragama kita termasuk beragamanya  kaum awam. Tetapi saya kira tidak ada salahnya jika kita berada di dalam konteks mengamalkan tiga hal sebagaimana yang dilakukan oleh kaum ‘arif billah, yaitu membaca kalimat tauhid, membaca istighfar dan membaca shalawat. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad”.  Kita berkeyakinan bahwa kalau kita sungguh-sungguh berusaha insyaallah bisa. Dan semoga kita menjadi bagian dari umat Islam yang memperoleh pengampunan dari Allah dan kita bisa memperoleh ridhanya Allah dan surganya Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

BETAPA INDAHNYA SHALAT: BERIKAN KAMI PETUNJUK (BAGIAN KE ENAM)

BETAPA INDAHNYA SHALAT: BERIKAN KAMI PETUNJUK (BAGIAN KE ENAM)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum memulai ngaji selasanan bakda shubuh, marilah kita mulai dengan membaca shurat Alfatihah, semoga dengan membaca ummul kitab ini kita diberikan oleh Allah keberkahan di dalam hidup dan diselamatkan dari segala mara bahaya dan kesulitan di dalam kehidupan. syaiun lillah lahum alfatihah…

Di antara doa kita kepada Allah di dalam duduk di antara dua sujud adalah warhamni, yang di dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan: “Ya Allah berikan kepada kami petunjuk” atau “berikan kepada saya petunjukmu”. Pertanyaannya adalah apakah sulit untuk mendapatkan petunjuk, maka jawabannya tidak sulit bagi Allah jika Allah berkehendak, dan juga tidak sulit bagi manusia untuk menerimanya jika memang terdapat potensi untuk memperoleh petunjuk. Jadi, ada yang memang mudah untuk memperoleh petunjuk dan ada yang sulit memperoleh petunjuk.

Di dalam sejarah Islam, maka dengan gamblang diceritakan bagaimana ada orang-orang yang hidup di dekat Nabi Muhammad SAW tetapi tidak bisa memperoleh petunjuk Allah SWT, dan ada orang yang beruntung memperoleh petunjuk Allah SWT. Yang diabadikan di dalam Riwayat Nabi Muhammad adalah pamanda Beliau, Abu Thalib, seorang petinggi Qurays, yang sangat dihormati oleh sukunya, pembela dan pelindung Nabi Muhammad SAW, yang ketika akan wafat dan diajari oleh Nabi untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, “asyhadu anla ilaha illallah”, maka Abu Thalib menolaknya, sehingga Beliau wafat. Nabi Muhammad SAW menjadi gundah gulana, tidak hanya karena ditinggalkan pelindungnya akan tetapi juga karena Abu Thalib tidak mengindahkan permohonan Nabi Muhammad. Di tengah kegundahannya ini, maka Allah SWT menyatakan: “innaka la tahdi man ahbabta, walakinnallahu yahdi man yasya”, yang artinya kurang lebih: “sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah yang memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki”.

Kemudian ada juga yang diabadikan di dalam Alqur’an, shurat Allahab, yaitu pamanda Nabi yang bernama Abu Lahab. Paman Nabi yang satu ini luar biasa bencinya kepada Nabi Muhammad, dan seringkali ingin mencelakakannya. Pernah Nabi Muhammad SAW dijatuhi batu besar dari atas Ka’bah, tetapi untung Nabi Muhammad SAW selamat. Juga pernah akan dicelakakan ke dalam lubang, tetapi Nabi Muhammad SAW juga selamat. Di dalam surat Allahab (ayat 1-5) diceritakan: “binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia, Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan, kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka), dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar, di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal”.

Di dalam sejarah modern, juga didapatkan seputar cerita, bagaimana hudan atau petunjuk Allah swt itu bekerja. Ada orang yang mempelajari ilmu keislaman dengan tingkatan pembelajaran yang tuntas, memahami teks-teks klasik di dalam Islam, sangat fasih berbahasa Arab, hafal kitab-kitab klasik, dan penulis hebat di dalam ilmu keislaman dan sejarah agama-agama, namanya Annemarie Schimmel, tetapi beliau tidak memperoleh petunjuk Allah. Beliau mempelajari Islam sebagai pengetahuan dan bukan sebagai ajaran untuk diyakini kebenarannya dan diamalkan ajarannya. Ada banyak ahli ilmu ketimuran, atau Orientalisme yang mempelajari Islam tetapi bukan hendak dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupan, akan tetapi justru dijadikan sebagai bahan olok-olokan. Orang yang seperti ini dapat dinyatakan sebagai orang yang tidak memperoleh petunjuk Allah.

Tetapi ada juga yang kemudian memperoleh petunjuk Allah, yaitu orang yang melakukan kajian atas peristiwa masa lalu sebagaimana diceritakan di dalam Alqur’an dan kemudian menjadikannya sebagai jalan untuk memasuki keimanan dan keislaman, misalnya Fritjof Squon, Muhammad As’ad, Maurice Buchaille dan lain-lain. Khusus Maurice Buchaille menjadi meyakini kebenaran Islam setelah mengkaji mummi Fir’aun yang dinyatakan tenggelam di laut, dan ternyata di mulutnya terdapat garam yang sesuai dengan garam di dalam cerita tenggelamnya Fir’aun. Sebagaimana di dalam kisah di dalam Alqur’an, bahwa Fir’aun tenggelam di laut merah setelah mengejar Nabi Musa dan rombongannya untuk menyeberangi laut, dan kala Nabi Musa dan rombongannya sudah sampai di daratan dan Fir’aun dan tentaranya masih di tengah laut tiba-tiba laut kembali sebagaimana sedia kala dan tenggelamlah Fir’aun dan bala tentaranya. Alqur’an, shurat albaqarah, 50 menceritakan dengan terjemahan ayat ini adalah: “dan (ingatlah) Ketika kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat kami selamatkan dan kami tenggelamkan (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun, sedangkan kamu menyaksikannya”.

Kita sungguh bersyukur kepada Allah SWT sebab pengetahuan agama kita yang pas-pasan saja, sementara kita juga tidak berada di Timur Tengah yang dekat dengan turunnya agama Islam, tetapi kita bisa menjadi umat Islam dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Kita selalu menjalankan perintah Allah SWT dan terus berusaha menjauhi larangannya. Saya yakin semua  ini adalah takdir atau ketentuan Allah kepada kita. Makanya, pantaslah kita berterima kasih kepada para penyebar Islam di bumi Nusantara ini di masa lalu, sebab merekalah yang menjadi washilah untuk menyambungkan kita dengan Nabi Muhammad SAW dalam rangka pengabdian kita kepada Allah SWT.

Jadi, makna doa wahdini tidak lain dan tidak bukan adalah agar kita yang sudah memperoleh petunjuk Allah ini akan selalu di dalam petunjuknya. Allahumma thawwil umurana, wa shahhih ajsadana, wa nawwir qulubana dan wa tsabbit imanana”. Amin.  Ya Allah panjangkan usia kami, dan sehatkan jasad kami, cahayailah hidup kami dan tetapkan (kuatkan)  keimanan kami”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BETAPA INDAHNYA SHALAT: BERIKAN KAMI REZEKI (BAGIAN KELIMA)

BETAPA INDAHNYA SHALAT: BERIKAN KAMI REZEKI (BAGIAN KELIMA)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum memulai mengaji selasanan bakda shubuh, maka marilah terlebih dahulu kita membaca Ummul Qur’an semoga apa yang kita kaji bersama-sama pada pagi ini mendapatkan berkah dari Allah SWT. Mari kita Yakini bahwa hanya dengan keberkahan Allah semata maka kita akan mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan. Syaiun lillah lahu alFatihah…

Doa yang kita baca di antara dua sujud, selain sebagaimana yang sudah saya jelaskan sebelumnya, adalah warzuqni atau dalam Bahasa Indonesia adalah “Ya Allah berikan kepada kami rezeki” atau “ Ya Allah berikan kepada saya rezeki”. Bukankah Allah sudah menjamin bahwa semua makhluk hidup akan diberikan rezeki sebagaimana yang sudah ditakdirkan kepadanya. Manusia sudah menerima takdirnya sendiri-sendiri tetapi masih ada kewajiban untuk memperolehnya. Kecuali rezeki yang tidak disangka atau bighairi la yahtasib.

Allah SWT tidak hanya Dzat yang Maha Kuasa, Maha Esa, Maha Menentukan, akan tetapi Dzat yang Maha Pemberi. Allah merupakan Dzat yang Maha Pemberi dan tidak ingin diberi. Allah hanya menyukai atas orang yang selalu menyembahnya. Tetapi Allah sungguh tidak ingin disembah agar Allah makin berkuasa atau semakin baik. Disembah atau tidak oleh hambanya, maka Allah tetap sebagai penguasa yang kekuasaan tidak terbatas dan tidak ada permulaannya kapan kekuasaan tersebut berada dan kapan berakhir. Allah itu ada sebelum awal dan tiada keberakhirannya. Allah itu Qadim yang terdahulu, tiada awal, Allah itu akhir tiada akhir. Tiada padanannya di dunia ini, bahkan di akherat. Allah itu bukan materi dan bukan immateri, tetapi wujud dengan wujudnya sendiri. Laisa kamitslihi syaiun.

Allah sebagai Dzat yang memberi rezeki kepada manusia memperkenankan kepada hambanya untuk berdoa atau memohon kepada Allah tentang rezeki atau kenikmatan, baik yang berupa materi maupun non materi. Yang berupa materi adalah untuk dan terkait dengan kebutuhan fisik atau biologis, dan selain itu juga rezeki yang berupa non materi, misalnya kenikmatan iman dan Islam. Kenikmatan yang berupa bisa mengaji, bisa berdzikir dan sebagainya merupakan nikmat Allah yang bersifat non bendawi.

Di dalam Islam,  rezeki yang kita mohon kepada Allah jika bersifat materiil, maka haruslah rezeki yang halalan thayyiban. Rezeki yang halal itu berupa rezeki yang cara memperolehnya halal, sifat dan dzatnya halal dan juga baik dan sehat. Jika rezeki itu berupa makanan dan minuman maka harus memenuhi standart halal dan sehat atau bermanfaat bagi kesehatan. Ada makanan yang sehat tetapi tidak halal, misalnya makanan yang diolah dengan tidak menggunakan prosedur Islami. Misalnya daging yang disembelih tidak secara Islami. Ada juga makanan yang halal tetapi tidak sehat, yaitu makanan yang mengandung  kadar kolesterol yang tinggi, sehingga bagi yang orang yang memiliki kolesterol tinggi tidak sehat. Atau minuman yang halal tetapi tidak sehat, misalnya mengandung banyak gula sehingga tidak sehat bagi orang yang berpenyakit diabet.

Islam mengajarkan agar makanan atau minuman, barang gunaan atau pakaian dan juga kosmetik dan obat-obatan agar diupayakan yang sumbernya dari bahan-bahan halal. Makanan dan minuman tidak cukup halal tetapi tayyib. Dengan keduanya,  insyaallah badan akan menjadi sehat dan kesehatan tersebut akan memberkahi terhadap kehidupan kita, baik secara individual maupun keluarga dan masyarakat. Islam sangat perhatian terhadap kesehatan tubuh, yang disebabkan oleh sumber makanan dan minuman halal dan tayyib. Islam mengajarkan qalbun salim fi jismin salim, artinya hati yang sehat terletak pada badan yang sehat. Jadi, kesehatan badan sangat diperlukan agar kita bisa sehat hatinya. Bayangkan jika fisiknya tidak sehat, maka kita akan mengeluh, merasa terganggu, merasa tidak nyaman dan tidak enak secara fisikal dan kejiwaan.

Oleh karena itu, menjaga kehalalan dan ketayyiban makanan dan minuman bahkan juga barang gunaan, kosmerik dan obat-obatan akan bisa menjamin atas kesehatan fisik dan kesehatan kejiwaan. Untuk memperoleh makanan, minuman dan lain yang sehat dan halal tentu juga sumbernya berasal dari rezeki yang halal, yaitu rezeki yang diupayakan dengan cara dan prosedur yang halal. Hidup ini sistemik, tidak hanya pada ujungnya baik, tetapi pangkalnya juga baik. Tidak hanya hulunya yang baik tetapi juga hilirnya baik. Sumbernya halal, mendapatkannya halal, dan penggunaannya halal.

Alhamdulillah, kita bersyukur karena Allah telah menjawab doa kita. Diberinya kita rezeki yang cukup. Kita bisa memenuhi hasrat fisikal, kita bisa memenuhi hasrat sosial dan kita juga bisa memenuhi kebutuhan integrative. Dan melalui pemenuhan atas tiga kebutuhan ini, maka sesungguhnya kita sudah dikaruniai rezeki atau kenikmatan yang sangat besar. Kita masih punya iman dan kita juga bisa menjalankan ajaran Islam. Semua ini adalah rezeki Allah yang sangat besar kepada kita. Betapa banyak orang yang diberikan kesempatan untuk memiliki iman kepada Allah tetapi melalaikannya. Diberi nikmat Allah yang besar tetapi tidak mensyukurinya. Insyaallah kita sudah menjalankannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

BETAPA INDAHNYA SHALAT: YA ALLAH TUTUPLAH AIB KAMI (BAGIAN KEEMPAT)

BETAPA INDAHNYA SHALAT: YA ALLAH TUTUPLAH AIB KAMI (BAGIAN KEEMPAT)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

 

Sebelum memulai pengajian Selasanan bakda Shubuh marilah kita baca terlebih dahulu shurat Alfatihah semoga dengan membaca shuratul Fatihah, maka hidup kita akan dimudahkan oleh Allah untuk memperoleh kebaikan dan keberkahan dan semua urusan kita dimudahkan oleh Allah SWT. Kita Yakini bahwa dengan membaca Ummul Qur’an, maka Allah akan memberikan kemudahan-kemudahan dalam hidup kita. Syaiun lillah lahum alfatihah…

Salah satu doa kita di dalam shalat di kala duduk di antara dua sujud adalah wajburni dengan ketentuan membaca pada bunyi akhirnya dipanjangkan untuk menunjukkan kata ganti aku. Maka artinya, “dan tutuplah aib-aib kami” atau “tutuplah aib-aib saya”. Inilah doa terbaik yang kita lantunkan di hadapan Allah pada waktu kita melakukan shalat. Adakah doa yang sedemikian indah dibandingkan dengan doa ini. Saya kira tidak ada. Saya meneteskan air mata Ketika menulis kata-kata ini. Mengingat betapa banyak aib kita yang sesama manusia tidak tahu sementara Allah SWT mengetahuinya. Melalui insrumen dahsyat, Allah sudah memasang radar tentang segala perilaku manusia di dunia ini, bahkan bukan perilaku saja yang terekam, tetapi juga apa yang ada di dalam batin kita: pikiran dan hati. Ya Allah Engkau Maha dahsyat atas segala sesuatu di dalam kehidupan manusia di dunia ini.

Manusia memiliki pikiran, perasaan dan perilaku. Atau kalau mengikuti taksonomi Bloom, maka dikenal ada tiga ranah, yaitu ranah:  pemikiran, sikap dan perilaku. Makanya kita bisa berpikir, kita bersikap dan kita bisa berperilaku. Memang tidak semua yang dipikirkan akan berakhir dengan sikap, dan yang dipikirkan juga belum tentu menjadi perilaku. Tetapi yang jelas bahwa di kala manusia memikirkan sesuatu tentang kebaikan atau kejelekan, maka hal itu sudah terekam dalam radar besar di hadapan Allah, dan kala kita melakukan tindakan maka juga akan terekam di dalam radarnya Allah SWT.

Coba kita bayangkan berapa banyak aib yang kita lakukan dalam sehari. Jika kita melakukan aib diri sendiri atau aib social, berapa banyak aib yang kita lakukan. Mulai dari aib mata, aib perkataan, aib pikiran, aib sikap dan aib tindakan. Belum lagi aib tangan, kaki, hati dan perasaan. Semua ada aibnya. Misalnya mata kita yang  masih liar, tangan kita yang juga cekatan untuk hal-hal yang kurang baik, Langkah kaki  kita ke hal-hal yang kurang baik, lalu hati kita yang sering menggunjing orang lain, dan perilaku kita yang mencederai kebaikan dan semua hal yang kita lakukan. Ya Allah betapa banyaknya. Seandainya Allah tidak menutup aib kita maka habislah kita. Misalnya kita sebagai pejabat, maka dipastikan bahwa kita harus melakukan tindakan yang tidak  sesuai dengan kaidah di dalam kehidupan, misalnya harus mengatur relasi social yang sesuai dengan kepentingan institusi secara lebih luas. Namun secara personal sesungguhnya “kurang” tepat. Namun dalam kerangka menyelamatkan kepentingan yang lebih luas, maka hal tersebut dilakukan. Dalam konteks ini, maka Allah SWT memberikan peluang agar kita berdoa, “Ya Allah tutuplah aib-aib kami”. Di mata relasi antar institusi, maka  yang kita lakukan itu sah-sah saja tetapi hati kita terkadang kurang atau bahkan tidak nyaman. Disinilah relevansi doa kita di dalam duduk di antara dua sujud.

Di dalam kehidupan ini terkadang juga kita harus berbohong dalam rangka untuk menyelatkan kebaikan. Di dalam cerita pewayangan, dalam episode Baratayuda, maka Puntadewa terpaksa harus berkata bohong di kala dia menyatakan bahwa Haswatama putra Pandita Durna berada di dalam peperangan mati. Padahal yang mati adalah Hestitama, seekor Gajah yang menjadi pasukan perang Pandawa. Ketika terjadi dialog antara Krisna, Raja  Dwarawati dengan Puntadewa Raja Amarta yang sedang berperang melawan Kaum Khurawa, dan Pandita Durna menjadi panglima perang Khurawa, maka Krisna memintanya agar sekali saja Puntadewa melakukan kebohongan agar kemenangan terdapat pada kaum Pandawa. Semula Puntadewa menolak dengan alasan tidak mau melakukan kebohongan, tetapi dengan kelihaian Krisna, maka akhirnya Puntadewa pun luluh dan menyatakan bahwa “Haswatama memang telah mati”. Luluh lantak hati Pandita Durna dan kala berjongkok tanpa daya itulah maka panah Drestajumna, panglima perang Pandawa,  mengenai tubuhnya dan akhirnya Pandita Durna Wafat. Seorang murid terpaksa berdusta kepada gurunya demi kemenangan pasukan kebaikan untuk mengalahkan pasukan kejahatan.

Di dalam hidup ini hal itupun bisa dilakukan oleh siapa saja, terutama para tokoh atau figure public. Tetapi untungnya bagi umat Islam, Allah sudah memberikan instrument bagi manusia untuk berdoa pada saat kita menghadapnya dalam shalat yang kita lakukan. Kita semua yakin bahwa Allah melihat apa yang kita lakukan terutama dalam shalat yang kita hadirkan.  Di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dinyatakan sebagai konsep ihsan “an ta’budallahu kaannaka tarah, wainlam takun tarah fainahu yaraka”. Yang artinya kurang lebih beribadahlah kepada Allah sekan-akan engkau melihatnya dan jika engkau tidak melihatnya, yakinlah bahwa Allah mengetahuinya”.

Ya Allah tutuplah aib-aib kami. Dengan Allah menutup aib-aib kita, maka kita masih memiliki harga diri, bahkan juga otoritas. Semoga Allah melindungi kita semua dari keaiban diri maupun keaiban social.

Wallahu a’lam bi al shawab.