• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

HEBATNYA AJARAN ISLAM; AJARAN MEMBERI MAKAN (2)

HEBATNYA AJARAN ISLAM; AJARAN MEMBERI MAKAN (2)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum kita melanjutkan pengajian selasanan bakda shubuh, maka marilah kita membaca shurat Alfatihah, ummul qur’an, semoga dengan terus membaca shurat Alfatihah, maka kita akan dimudahkan Allah dalam segala urusan dan diberkahi kehidupan kita dengan kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat. Syaiun lillah lahum alfatihah…

Hadits Nabi Muhammad itu berbunyi: “sami’tu Rasulullah SAW yaqulu: Ya ayyuhan nas  ‘afsyus salam wa ath’imuth tha’am, wa shilul arham, wa shallu   wan nasu tsiyamun, tadkhulul Jannata bis salam”. Rawahu Tirmidzi. Yang artinya secara umum adalah: “saya mendengar Rasulullah SAW berkata: Wahai manusia sebarkanlah salam, berikan makanan, sambunglah tali silaturrahmi, dan shalatlah  kala manusia tertidur, maka masuklah surga dengan selamat”. Hadits ini dinukil dari Kitab Riyadhus Shalihin, karya Imam Nawawi. Pada tulisan yang lalu sudah saya jelaskan tentang hebatnya salam.

Di dalam hadits ini dijelaskan mengenai ath’imuth tho’am atau dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “berikan makan”. Secara tekstual, maka yang namanya makan tentu merupakan pemenuhan kebutuhan fisik. Jadi makan itu terkait dengan fisik atau pemenuhan kebutuhan biologis. Jadi jika menggunakan makna tekstual maka hadits ini memberikan arahan agar manusia memberikan makanan kepada manusia lainnya, atau bahkan tidak hanya manusia tetapi juga kepada makhluk Tuhan lainnya yang membutuhkan makan. Jadi secara etimologis, memberi makan itu artinya adalah dalam wujud makanan. Bisa nasi atau lainnya. Apa saja yang secara fisikal bisa mengenyangkan.

Namun saya berusaha untuk memahami secara terminologis makna dari memberi makan. Saya memahami bahwa memberi makan itu tidak terbatas pada pemberikan makan fisik dalam bentuk makanan yang mengenyangkan perut, tetapi bisa dimaknai lainnya, yaitu makanan fisik, makanan jiwa dan makanan rohani. Makanan fisik sudah jelas, tetapi makanan jiwa dan makanan rohani ini yang saya kira diperlukan penjelasan lebih lanjut.

Manusia memiliki tiga unsur, yaitu: unsur fisik atau biologis, unsur jiwa dan unsur roh. Di Indonesia hanya dikenal dua saja unsur dalam diri manusia, yaitu: jiwa dan raga. Jiwa di dalam Bahasa Arab disebut an nafs. Maka ilmu jiwa disebut sebagai ilmun nafs. Jadi jiwa itu bisa dipelajari. Ekspressi jiwa adalah perilaku. Dan perilaku bisa dikaji secara ilmiah. Sedangkan roh itu sesuatu yang tidak bisa dipelajari, karena roh itu ditiupkan Tuhan kepada manusia sehingga mengandung dimensi Ketuhanan atau aspek misteri ketuhanan. Hanya Allah saja yang tahu tentang roh, bahkan kala Nabi Muhammad SAW ditanya tentang roh, maka Nabi Muhammad SAW menyatakan roh itu urusannya Allah, dan kita tidak diberikan ilmu kecuali sedikit. “Wa yas’alunaka ‘anir ruh, kulir ruhi min ‘amri rabbi,  wa ma utitum minal ‘ilmi illa qalilan”, (Surat Al Isra’ ayat 85),  yang artinya kurang lebih: “dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh,  katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku, Dan  tidaklah kamu  diberikan pengetahuan  kecuali sedikit”.

Lalu, apakah perbedaan antara roh dan jiwa. Jawabannya adalah roh itu merupakan “sesuatu” yang ditiupkan Allah kepada janin manusia. Dengan roh itulah maka manusia menjadi hidup. Sebelumnya masih merupakan gumpalan daging dan darah dan kemudian setelah ditiupkan roh oleh Allah, maka jasad tersebut bernyawa. Menjadi hidup. Lalu jiwa adalah yang mengantarai relasi atau hubungan antara badan atau jasad dengan roh. Secara skematis bisa digambarkan jiwa berada di tengah-tengah antara jasad dan roh. Jiwa berisi tentang kecenderungan untuk melakukan sesuatu. Jiwa atau nafs memiliki kecenderungan terkait dengan pilihan-pilihan di dalam kehidupan. sedangkan roh itu netral karena roh adalah tiupan  Allah pada diri manusia. Oleh karena itu, jiwalah yang memainkan peranan penting di dalam kehidupan ini. Adakalanya jiwa itu lebih dekat kepada dunia jasad atau mengikuti keinginan jasad atau nafsu biologis dan ada kalanya cenderung kepada roh atau dimensi ketuhanan. Di dalam konsepsi Islam, jiwa itu adakalanya seperti binatang atau kal hayawan dan adakalanya kal malaikat. Jiwa bisa dekat kepada roh dan bisa dekat ke jasad. Islam membagi nafsu itu bermacam-macam, yaitu: nafsul muthmainnah  atau jiwa yang tenang yang penuh dengan dimensi ketuhanan, dan ada nafsul lawwamah atau jiwa yang dekat kepada jasad penuh dengan keinginan-keinginan duniawi sehingga akhirnya menyesali kenyataan tersebut, dan nafsul ammarah atau jiwa yang selalu berkecenderungan untuk memenuhi hasrat hidup dalam segala aspek dengan kekuasaan dan  kekuatan.  Jiwa yang tenang penuh dengan sifat-sifat kebaikan, akan mengantarkan manusia untuk dekat dengan Tuhan, sementara itu jiwa yang penuh dengan nafsu keduniawian dalam segala aspeknya akan mendekatkan kepada kehidupan biologis dan menjauhkannya dari Tuhan, sementara itu jika kemudian ada penyesalan atas kesalahan yang dilakukan maka dia memasuki jiwa penyesalan, bisa kepada kebaikan atau sebaliknya.

Sesungguhnya Allah SWT sudah memberikan kepada manusia cara untuk memasuki nafsu mutmainnah melalui makanan jiwa atau asupan jiwa. Asupan jiwa tersebut dapat berupa mengamalkan kebaikan-kebaikan sesuai dengan ajaran Islam, misalnya mendengarkan pengajian, mengaji Alqur’an, atau melakukan dzikir secara terstruktur dan amalan-amalan shalih lainnya yang jumlahnya sangat banyak. Asupan jiwa dapat diperoleh melalui kehadiran guru atau belajar sendiri (otodidak) dari sumber-sumber yang diyakini kesahihannya.

Dari penjelasan ini, maka ath’imuth tho’am  itu tidak hanya bermakna makanan fisik dalam bentuk makanan atau minuman, atau lainnya yang bersifat jasadiyah, akan tetapi juga pemberian atau pengisian batin atau jiwa dengan amalan-amalan kebaikan, yang dipastikan akan menjadikan kita akan lebih baik dan lebih baik lagi.

Wallahu a’lam bi al shawab.

HEBATNYA AJARAN ISLAM; MENEBARKAN KESELAMATAN (1)

HEBATNYA AJARAN ISLAM: MENEBARKAN  KESELAMATAN (1)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum melanjutkan ngaji Selasanan Bakda Shubuh, marilah terlebih dahulu membaca shurat Alfatihah, Ummul Kitab, semoga dengan membaca shurat alfatihah, maka kita bisa dimudahkan oleh Allah dalam menggapai apa yang baik dan bermanfaat untuk diri kita. Semoga dengan membaca shurat Alfatihah, maka Allah memberikan keberkahan untuk kita semua. Syaiun lillah lahum alfatihah…

Di antara keutamaan amal manusia di dalam kehidupan ini adalah  menebarkan keselamatan atau di dalam konteks ajaran Islam disebut afsyus salam. Sebagai orang Islam kita dianjurkan oleh Rasulullah Muhammad SAW untuk menyebarkan keselamatan. Inilah keindahan ajaran Islam yang kita pahami. Hadits Nabi Muhammad itu berbunyi: “sami’tu Rasulullah SAW yaqulu: Ya ayyuhan nas  ‘afsyus salam wa ath’imuth tha’am, wa shilul arham, wa shallu   wan nasu tsiyamun, tadkhulul Jannata bis salam”. Rawahu Tirmidzi. Yang artinya secara umum adalah: “saya mendengar Rasulullah SAW berkata: Wahai manusia sebarkanlah salam, berikan makanan, sambunglah tali silaturrahmi, dan shalatlah  kala manusia tertidur, maka masuklah surga dengan selamat”. Hadits ini dinukil dari Kitab Riyadhus Shalihin, karya Imam Nawawi.

Marilah kita perhatikan sabda Nabi Muhammad SAW ini, yaitu Nabi Muhammad SAW meminta kita untuk menyebarkan salam atau menebarkan keselamatan. Inti kehidupan adalah keselamatan. Menurut seorang ahli, namanya Franz Magnis Suseno, bahwa filsafat hidup orang Jawa itu adalah rukun, harmoni dan slamet. Saya kira hal ini bukan saja filsafat orang Jawa tetapi orang Indonesia atau masyarakat Nusantara. Masyarakat Indonesia itu adalah masyarakat yang sangat mengagungkan kerukunan hidup. Kerukunan merupakan fondasi kehidupan. Di dalam filsafat Jawa dinyatakan “rukun agawe santosa, congkrah agawe bubrah”. Artinya bahwa “kerukunan membawa ke arah kedamaian dan konflik membawa ke arah kerusakan”. Jadi kalau kita ingin hidup damai, maka syaratnya adalah mengedepankan kerukunan di dalam kehidupan.

Kemudian  harmoni yaitu hidup yang selaras. Harmoni dengan tetangga, harmoni dengan komunitas, dan selaras dengan seluruh masyarakat. Jika ada masalah harus diselesaikan dengan duduk bersama dan bukan dengan kemarahan dan kebencian. Jika kerukunan sudah dirajut dan keselarasan sudah dikerjakan, maka kita akan menuai keselamatan. Bagi kita keselamatan adalah segala-galanya. Tujuan hidup yang paling tinggi adalah menjaga agar hidup kita selamat.

Di dalam kehidupan dipastikan ada masalah, sebab masalah adalah rangkaian di dalam kehidupan di dunia ini. Kebahagiaan hakikatnya di kala kita bisa menyelesaikan masalah kehidupan, baik masalah yang besar maupun kecil. Hidup merupakan rangkaian dari penyelesaian masalah. Makanya janganlah takut kepada permasalahan, yang penting kita harus siap untuk menemukan solusi atas masalah yang kita hadapi. Adakalanya kita perlu kawan atau sahabat untuk menyelesaikannya. Ini hal yang wajar saja di dalam kehidupan kita.

Di sinilah kuncinya mengapa Rasulullah meminta kepada kita untuk menebarkan salam. Salam di dalam Islam itu doa kepada Allah agar kita diberikan keselamatan. Jadi di kala kita membaca “assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuhu” atau artinya “semoga Allah menyelamatkan kamu dan Allah memberikan rahmatnya kepadamu dan Allah memberikan berkahnya kepada kamu”. Hal ini berarti bahwa kita berdoa untuk  sesama muslim agar selalu berada di dalam  keselamatan. Alangkah senangnya melihat orang selamat dan kita semua selamat. Jadi bukan Senang Melihat orang Susah (SMS) dan harus Suka Melihat orang Senang (SMS).

Kita harus meyakini bahwa apa yang diminta oleh Nabi Muhammad SAW untuk kita lakukan tentu dipastikan ada hikmah yang terkandung di dalamnya dan jika Rasulullah melarang kita untuk melakukannya juga dipastikan ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Jika Rasulullah menyuruh kita untuk menebarkan salam, karena Islam sesungguhnya merupakan agama yang memberikan keselamatan. Islam bukan agama yang cenderung kepada kekerasan. Islam mengajarkan agar dengan agama Islam manusia menjadi selamat di dalam kehidupan. Dalil yang sangat jelas menyatakan: Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin” yang artinya secara general adalah “Dan kami (Allah) tidak menurunkanmu (Muhammad) kecuali untuk kerahmatan bagi seluruh alam”.

Kita semua berharap semoga Allah menyelamatkan kita di dunia maupun di akherat.  Sebagaimana doa kita: ”rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar”. Ya Allah berikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”. Doa ini sering disebut sebagai doa sapu jagat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

MARI MENJAWAB SALAM NON MUSLIM 

MARI MENJAWAB SALAM NON MUSLIM

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum kita mengaji Selasanan bakda Shubuh, marilah kita terlebih dahulu membaca shurat Alfatihah, ummul kitab, semoga dengan membaca ummul kitab ini, kita diberikan keselamatan, dan kebahagiaan di dalam kehidupan kita di dunia dan akhirat. Semoga juga kita diberikan keberkahan kesehatan, sehingga ibadah kita kepada Allah menjadi optimal sebagai bagian dari pengabdian kita kepada Allah SWT. Syaiun lillah lahum alfatihah…

Menjawab salam adalah urusan muamalah atau relasi sosial di antara umat manusia. Salam artinya adalah selamat. Jika kita mengucapkan salam berarti kita menyatakan “semoga keselamatan ada pada kalian” atau “semoga keselamatan ada pada kamu” atau “semoga keselamatan ada pada kita”. Jadi ucapan salam adalah ucapan terbaik, karena mengandung doa atau permohonan kepada Allah agar kita diselamatkan.

Ada banyak hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan tentang salam atau menyebarkan keselamatan. Di antara hadits itu adalah: “anna rajulan sa’ala Rasulullah, “ayyul Islami khairun”, faqala: “tuth’imuth tho’am, wa taqraus salami ila man ‘arafta ma man lam ta’rif”. Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Arti secara umum adalah “sesungguhnya seseorang datang kepada Rasulullah dan bertanya, “manakah Islam yang baik itu? Lalu Rasul menjawab: “berikanlah makan, ucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal”.

Kalau mengucapkan salam kepada orang Islam atau sesama muslim kiranya tidak ada masalah. Jawablah salam sebagaimana tuntutan Nabi Muhammad SAW. Jika seseorang mengucapkan assalamu alaikum, maka jawablah dengan lebih komplit “waalaikum salam warahmatullah, dan jika seorang muslim mengucapkan assalamu alaikum warahmatullah, maka jawablah dengan waalaikum salam warahmatullah wabaraktuh. Dan jika seorang muslim menyatakan “assalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh, maka jawablah wa alaikum salam  warahmatullah wabarakatuh”. Untuk menjawab salam dari umat Islam sudah selesai. Artinya tidak ada problem mendasar di dalamnya. Jadi untuk menjawab ‘ala man ‘arafta” sudah clear and clean.

Tetapi ada problem terkait dengan bagaimana menjawab yang “wa man lam ta’rif”. Nabi meminta kita mengucapkannya juga kepada orang yang tidak kita kenal. Bisa jadi mereka adalah orang selain beragama Islam, misalnya  Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Di sinilah maka memunculkan problem bagaimana menjawab salam orang non muslim dan bagaimana mengucapkan salam bagi non muslim. Bagi masyarakat Indonesia, ucapan salam “assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh” itu sudah menjadi bahasa nasional. Artinya tidak lagi dikaitkan dengan apa agama mereka. Tidak Islam, Hindu, Buddha, Kristen, Katolik dan Konghucu juga mengucapkannya pada forum-forum resmi. Jika forum itu dihadiri oleh beraneka ragam umat beragama, maka ucapan salam itu telah menjadi tradisi. Hanya pada forum khusus agama, maka ucapan salam tidak dilakukan, misalnya forum Buddha saja atau Hindu saja, maka ucapan salam tidak dilakukan.

Dalam menjawab salam yang dikatakan oleh umat nonmuslim, maka pada ulama atau ahli fiqih bersepakat bagaimana dan apa jawabannya. Bahkan di dalam Riwayat juga diceritakan di kalangan ulama Syafi’iyah juga berbeda pendapat tentang tata cara menjawab salam bagi nonmuslim. Untuk menjawab salam bagi orang nonmuslim, berdasarkan kajian para ulama nyaris tidak ada perbedaan, karena dalilnya jelas. Tidak ada perbedaan tentang jawaban atas salam yang dikemukakan oleh nonmuslim. Jawabannya adalah “wa’alaikum”. Jadi di kala ada orang nonmuslim yang mengucapkan salam, meskipun dengan salam yang lengkap “assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuhu”, maka jawabannya adalah “waalaikum”. Bisa juga “wa’alaikum salam”. Tetapi ulama ahli sunnah wal jamaah juga menyatakan seperti itu, tetapi tidak ditambah dengan “warahmatullah wa barakatuhu”. Sebab ungkapan “warahmatullahi wa barakatuhu” itu tentu khusus bagi umat Islam.

Tetapi juga ada peristiwa di mana seorang Yahudi mengucapkan “as samu ‘alaikum”  pada saat Nabi sedang bersama sahabat-sahabatnya. Maka Nabi Muhammad SAW juga menjawabnya dengan “waalaikum”.  As sam itu artinya: “celakalah kamu” atau “binasalah kamu”. Di sinilah Nabi Muhammad memberikan jawaban “juga celakalah kamu”. Sampai-sampai seorang sahabat Nabi Muhammad SAW akan melakukan tindakan kekerasan, tetapi Nabi Muhammad SAW melarangnya.

Tentang membalas salam kepada nonmuslim, maka terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Buchori dan Imam Muslim, yang bunyinya: “idza salama alaikum ahlul kitabi faqulu: wa’alaikum”. Yang artinya: “apabila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka katakanlah ‘dan atas kalian” . Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar di dalam menjawab salam dari nonmuslim (di dalam hadits ini hanya disebut ahlul kitab), maka dinyatakannya agar kita menjawab dengan “wa’alaikum”.

Ungkapan salam itu adalah ungkapan doa. Sebuah permohonan kepada Allah agar kita diselamatkan oleh Allah. Sebagai doa tentu salam itu sebaiknya dilakukan untuk sesama umat Islam. Jadi jika kepada umat nonmuslim, maka sebaiknya doa keselamatan kepada Allah itu tidak perlu disampaikan. Secara logika, bahwa kala ada orang yang mengucapkan yang baik, maka seharusnya juga dijawab dengan baik. Inilah prinsip Islam yang saya kira bisa menjadi pegangan bagi kita semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

RIHLAH BAHAGIA: FAMILY GATHERING ALA NGAJI BAHAGIA

RIHLAH BAHAGIA: FAMILY GATHERING ALA NGAJI BAHAGIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tidak didesain secara memadai, tetapi akhirnya keinginan jamaah Ngaji Bahagia untuk bersama-sama datang di Pondok Pesantren Ummul Qura di Seloliman akhirnya tercapai. Saya teringat pada waktu pengajian selasanan bakda shubuh ada usulan dari Pak Rusmin agar bisa bersama-sama pergi atau rihlah ke Mojokerto tepatnya di Pondok Pesantren yang diinsiasi atau digagas oleh Kyai Suyuthi warga Lotus Regency Ketintang Surabaya. Maka kemudian ditetapkan untuk pergi ke trawas itu pada hari Senin, 28/02/2022, bertepatan dengan libur Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Jam 6.30 WIB akhirnya rombongan berangkat menuju ke Seloliman. Ada yang melewati jalur jalan Tol dan exit di pintu keluar Gempol ke Trawas dan ada yang melewati tol dan exit di pintu keluar Krian ke Mojosari.

Di antara jamaah masjid dan peserta Ngaji Bahagia ini ada yang bersama keluarga dan ada yang sendirian. Maklum memang masing-masing memiliki kesibukan yang tidak bisa dikompromikan, sehingga memilih harus datang sendiri. Pak Rahmat Lubis, Pak Abdullah, Pak Sahid dan Pak Hardi datang sendiri, sementara itu, saya bersama keluarga dan anak dan cucu, Pak Bintara juga dengan istri dan anak-anak, demikian pula Pak Rusmin juga datang bersama keluarga. Sementara Mas Zamzam dan Mas Firdaus juga datang sendirian.

Ada rona bahagia, Pak Suyuthi dan Ibu Suyuthi ketika kita semua datang ke pondoknya. Ada rasa bahagia bertemu dengan sahabat Ngaji Bahagia di tempat Beliau di Pondok Ummul Qura, Desa Seloliman Trawas Mojokerto.

Waktunya memang dipilih yang bisa makan pagi bersama. Maka yang dipilih adalah makanan khas pedesaan. Ada nasi jagung, lauk ikan asin, menjeng, dadar jagung, sayur daun singkong, sayur batang lumbu, ikan teri sambal pedas, dan panggang ayam khas pedesaan. Ada di antara keluarga ini yang tidak pernah makan nasi jagung, sehingga memilih nasi putih, tetapi ada yang justru memilih menu nasi jagung. Bahkan Pak Rahmat yang aslinya dari Sumatera Utara, dan Pak Rusmin yang Makasar juga memakan nasi jagung. Kalau Pak Abdullah karena aslinya dari Madura maka tentu tidak asing dengan menu nasi jagung. Demikian pula saya dan keluarga. Asyik juga makan di pedesaan sambil mendengarkan gemericik air sungai di belakang pondok. Rasanya seperti penyatu dengan alam. Jadi teringat di masa kecil ketika makan di sawah bersama para pekerja saat tanam padi.

Saya akhirnya menjadi MC pada acara ini. Saya sampaikan bahwa pertemuan ini merupakan meeting yang hebat, sebab MC-nya saja professor. Tetapi Pak Rahmat lalu menimpali tetapi muridnya Ustadz Zamzam. Lalu kita tertawa serentak. Juga saya nyatakan ada di antara kita yang datang sendiri dan sekeluarga. Pak Abdullah ini datang sendiri. Tiba-tiba nyeletuk Pak Abdullah “tapi isteri saya satu lho Prof”. sambil yang lain menimpali: “1 A, 1 B, 1 C”. Dan kemudian semua tertawa. Gayeng. Pak Suyuthi lalu bercerita tentang bagaimana mendirikan pondoknya ini. Disampaikan bahwa pondoknya ini perlu pengelolaan yang berlanjut. Dulu sudah ada santrinya para anak yatim. Tetapi seirama dengan terjadinya Covid-19, maka mereka pulang ke rumah masing-masing. Moga tahun depan atau kalau Covid-19 sudah benar-benar landai semoga semuanya bisa kembali.

Diceritakan bahwa tanah untuk bangunan ini dibeli tahun 2010 pada saat Ustadz Suyuthi masih memiliki KBIH. Tanah ini semula tanah yang curam, sehingga ada kawan yang menyangsikan atas peluang untuk membangun bangunan. Tanah yang semula curam tersebut kemudian dibuat bangunan menjadi tiga lantai. Lantai atas adalah ruang tamu dan tempat tinggal kyai, lantai bawahnya (lantai 2) untuk ruang pertemuan dan kamar-kamar untuk tamu, dan lantai bawah (lantai 1) untuk kamar santri. Ruang pertemuan didesain sebagai ruang terbuka sehingga bisa melihat view persawahan dan ruang bawah adalah kamar-kamar santri yang menghadap persawahan. Pembangunan gedung dimulai tahun 2015 dan belum selesai secara utuh.

Di masa pandemic Covid-19, maka pondok ini dijadikan sebagai tempat pelatihan. Beberapa kali  dijadikan tempat training untuk tahfidz Qur’an, untuk pelatihan manajemen dan pelatihan guru-guru. Ada yang pernah selama satu bulan untuk pelatihan khusus menghafal Alqur’an dan ada yang hanya tiga hari saja. Diharapkan bahwa tempat ini akan dapat menjadi pusat pelatihan dalam berbagai event khususnya untuk pendalaman keagamaan.

Dilihat dari tempat, view dan lingkungannya memang sangat cocok untuk kegiatan yang menyatu dengan alam. Di depan kamar bawah ada sungai kecil yang airnya terus mengalir sepanjang tahun dan di bawahnya lagi juga terdapat sungai yang airnya juga terus mengalir. Suara air yang gemericik tentu sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat untuk uzlah atau menyendiri dalam rangka mengingat Allah lewat dzikir atau wirid yang terstruktur. Bagi yang suka melakukan kegiatan uzlah tentu sangat menantang.

Pak Sahid yang secara khusus saya minta untuk memberikan motivasi juga menyampaikan materi yang sangat menarik. Pak Sahid adalah trainer nasional dan memiliki pengalaman untuk melakukan training motivasi. Pak Sahid menyampaikan satu bahasan tentang bagaimana memanej kehidupan rumah tangga. “Mari kita start untuk menatap masa sekarang dan masa depan, jangan hanya mengingat masa lalu”. Diteruskan bahwa “kita hidup di masa sekarang dan akan datang dan bukan hidup di masa lalu”. Pak Sahid menyatakan: “untuk memanej kehidupan rumah tangga, sebenarnua cukup dengan tiga huruf saja, yaitu: ACI”. A artinya Agama harus menjadi pegangan bagi semua anggota rumah tangga. Kembalikan semua persoalan kepada agama. Jadikan agama sebagai pedoman di dalam kehidupan terutama dalam mengatur rumah tangga. C artinya Customer Focus, yaitu harus disadari bahwa kita adalah konsumen keluarga. Ayah adalah konsumen Ibu dan anak-anak. Ibu adalah konsumen ayah dan anak-anak. Dan anak-anak adalah konsumen ayah dan ibu. Maka semua harus focus untuk memberikan pelayanan optimal. Melalui pelayanan optimal, maka semua akan merasakan kepuasan. Semua harus focus pada keinginan untuk membahagiakan keluarga. Jika di rumah maka kita harus focus urusan rumah atau urusan keluarga. I adalah integritas atau kejujuran. Tidak ada dusta di antara anggota keluarga. Semua anggota keluarga harus menjadi satu kesatuan dalam menjalankan kejujuran ini.

Melalui tiga huruf “ACI” maka diharapkan agar tercipta suatu rumah tangga yang Sakinah, Mawaddah wa Rahmah. Amin.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BETAPA INDAHNYA SHALAT: YA ALLAH SEHATKANLAH KAMI (BAGIAN KE DELAPAN)

BETAPA INDAHNYA SHALAT: YA ALLAH SEHATKANLAH KAMI (BAGIAN KE DELAPAN)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum memulai pengajian rutin selasanan bakda shubuh, marilah kita membaca shurat al fatihah, ummul Qur’an, semoga dengan membaca ummul kitab ini, maka kita akan selalu diberikan rasa tenteram, aman dan berbahagia serta dimudahkan seluruh urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat.  Syaiun lillah lahum alfatihah…

Salah satu doa yang kita baca pada saat membaca doa di antara dua sujud adalah: “Wa’afini” atau dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan: “Ya Allah sehatkanlah kami” atau “Ya Allah berikan saya kesehatan”. Intinya kita memohon kepada Allah agar kita selalu diberikan kesehatan. Dengan kita sehat, maka kita akan bisa menjalankan amanah Gusti Allah untuk beribadah dan bekerja sesuai dengan tuntunannya. Pertanyaan dasarnya adalah “mengapa kita memohon kepada Allah agar sehat? Apakah penting untuk memohon kesehatan kepada Allah, bukankah urusan kesehatan itu urusan manusia semata dan Allah tidak terlibat di dalamnya?

Kesehatan memang urusan fisikal meskipun di dalamnya juga terkandung urusan kejiwaan. Badan sehat itu sangat penting sebab tanpa badan yang sehat,  maka kita tidak akan dapat berpikir sehat dan dipastikan bahwa kita tidak  akan dapat menikmati kehidupan yang sedang kita alami. Sehat merupakan kata kunci dalam kehidupan manusia di dunia. Tanpa kesehatan, maka hidup akan menjadi tidak bermakna. Ada pepatah Arab yang menyatakan: “hati yang sehat terletak pada fisik yang sehat. “qalbun salim fi jismin salim”. Hati yang sehat terletak pada fisik yang sehat. Jika hati kita berpeluang sehat, maka juga harus diberi peluang tubuh kita untuk sehat. Jika tubuh kita sakit juga peluangnya besar hati kita sakit. Coba perhatikan orang-orang yang mengeluhkan tentang kesehatannya.

Jika semakin tua usia, maka semakin banyak keluhan. Ada sakit maag, ada asam aurat, ada sakit jantung, ada sakit ginjal, ada sakit paru-paru dan rhematik. Keluhan itu bisa datang satu persatu bahkan ada yang komplikasi. Begitulah hukum Tuhan untuk manusia. Ketika muda sehat dan ketika semakin tua maka semakin banyak penyakit yang diderita. Ibarat mobil,  semakin tua mobil semakin banyak spare part yang harus diganti karena aus terpakai. Nah begitulah manusia. Semakin lama dipakai,  maka  semakin banyak yang aus dan perlu diobati. Di saat seperti ini, maka manusia akan menjadi betapa pertolongan Allah menjadi sangat penting. Di sinilah makna doa yang perlu dilantunkan. Bahkan sebenarnya bukan hanya yang usianya lanjut saja yang harus berdoa,  tetapi bagi yang masih muda juga sangat penting untuk berdoa. Mumpung masih baik kondisi tubuh, maka doa perlu sekali untuk dipanjatkan.

Tetapi yang penting bahwa manusia dilahirkan lalu menjadi muda lalu menjadi tua lalu meninggalkan dunia adalah hukum alam yang berlaku bagi semua yang memiliki kehidupan. Tidak hanya manusia tetapi juga hewan dan tumbuh-tumbuhan. Setiap yang hidup pasti ada ajal yang menunggunya. Lahir, hidup, mati, rezeki dan jodoh adalah takdir Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi ketika hidup diharapkan bahwa hidup dengan sehat, bekerja dengan sehat, berumah tangga dengan sehat, dan kemudian mati dalam keadaan khusnul khatimah. Allahumma amin.

Semua manusia menginginkan  hidup sehat, kaya dan bahagia. Tidak satupun manusia yang tidak menginginkan hal ini. Akan tetapi tidak semuanya bisa seperti ini. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang bahagia. Juga  ada yang kaya bahagia, ada yang kaya tidak bahagia, ada yang miskin bahagia dan ada yang miskin sengsara. Semua sudah diatur dengan takdir Tuhan meskipun takdir ini masih bersifat takdir mu’allaq atau takdir yan tergantung kepada usaha manusia. Untuk ini manusia diminta untuk bekerja agar mendapatkan rezeki. Tidak boleh berpangku tangan untuk memperoleh rezeki. Dengan demikian, jika ingin memperoleh rezeki, maka satu persyaratannya adalah bekerja agar didapatkan rezeki yang sudah ditentukan oleh Allah. Tetapi di kala usaha sudah dilakukan dan ternyata rezeki tidak sebagaimana yang diharapkan, maka kita harus pasrah kepada Tuhan. Di dalam pepatah Inggris dinyatakan: “man proposes God disposes”. Yang artinya: “manusia merencanakan Tuhan yang menentukan”.

Di dalam aspek kesehatan, maka juga berlaku hukum yang sama. Manusia bisa berdoa sekuat tenaga, akan tetapi Tuhan yang menentukan hasilnya. Tetapi yang penting bahwa manusia diberikan instrument untuk berdoa dan memohon kepada Allah agar diberikan kesehatan yang prima, dan kita harus yakin bahwa Tuhan pasti mendengarkan doa kita. Di dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW dinyatakan: “ana ‘inda dzanni abdi bi”, yang artinya: “Aku (Allah) itu berada di dalam persangkaan hambaku kepadaku”. Jadi kalau  kita meyakini doa kita dikabulkan Allah maka potensinya akan berhasil,  tetapi jika kita sendiri tidak yakin, maka peluang untuk keberhasilan doa kita juga kecil.

Itulah sebabnya, kita diminta untuk berdoa: “Allahumma inni as alukal ‘afwa wal ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah”. Yang artinya: “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadamu ampunan dan kesehatan di dalam agama, dunia dan akhirat”. Coba kita simak doa ini, kita memohon kepada Allah ampunan bahkan kemaafan (dosa dihapus dan catatan dihapus), dan kesehatan di dalam agama, di dunia dan akhirat. Sehat dalam agama artinya kita beragama yang memberikan kerahmatan kepada seluruh alam, sehat di dunia artinya kita sehat dalam fisik dan jiwa dan juga sehat di akhirat artinya bisa memasuki kehidupan yang bahagia dengan bisa masuk ke dalam surganya Allah SWT.

Ya Allah kabulkan doa kita semua, agar kami semua bisa sehat di dalam menjalankan agama, sehat di dalam menapaki kehidupan dan juga memperoleh rahmat untuk bisa memasuki surgamu. Amin ya Rabbal alamin.

Wallahu a’lam bi al shawab.