SURAT AL KAHFI, MENGAPA PERLU DIBACA SECARA KONTINYU?
SURAT AL KAHFI, MENGAPA PERLU DIBACA SECARA KONTINYU?
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Tidak selamanya postingan di media sosial itu jelek. Ada juga yang baik dan membuka pengetahuan kita tentang makna sebuah surat di dalam Alqur’an. Postingan yang saya baca dari Instagram tersebut sudah beberapa hari yang lalu dan saya juga sudah lupa siapa yang menguploadnya. Saya kira tidak sangat mendasar untuk kembali mencari dan menemukan siapa yang mengunggahnya. Tetapi saya kira postingan di Qiswah.
Saya berusaha untuk menjelaskannya untuk Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) pada waktu akan mengaji Surat Al Kahfi pada setiap hari Jum’at ba’da Shubuh. Sebagaimana diketahui bahwa di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya selalu diselenggarakan Ngaji Surat Al Kahfi setiap hari Jumat. Sedangkan di hari lain, Selasa ba’da Shubuh diselenggarakan acara ngaji atau ceramah agama dalam berbagai perspektif, dan hari Senin, Rabo dan Kamis digunakan untuk tahsinan Alqur’an bagi para senior, untuk tidak menyebut tua, dari Jamaah shalat Shubuh. Pada Jum’at, 04/08/2026, saya membahas postingan tersebut.
Secara garis besar, bahwa makna membaca Surat Al Kahfi ada banyak. Akan tetapi saya hanya akan memberikan sedikit gambaran mengenai tiga hal. Yaitu:
Pertama, di dalam Surat Al Kahfi diceritakan tentang tujuh pemuda, yang disebut sebagai Ashabul Kahfi. Para pemuda yang hidup pada masa kerajaan otoriter, dengan rajanya yang sangat dhalim, bernama Raja Decius atau disebut sebagai Dekyanus, 249-251 M di Efesus. Seorang yang raja yang sangat berkuasa dan karena kekuasaannya itu lalu merasa menjadi Tuhan, yang wajib disembah oleh rakyatnya. Patungnya dibuat besar dan megah, dan rakyat diwajibkan menyembahnya. Siapa yang menolak akan dipancung. Hiduplah tujuh pemuda yang dikaruniai kehidupan yang makmur dengan usaha-usaha pertanian dan perkebunan. Makanya mereka menjadi pemuda yang sukses kehidupannya. Dia pemuda yang beriman kepada Allah dan juga menjalankan amalan agama yang dicontohkan oleh para ulamanya. Akhirnya kedengaran di telinga raja tentang penolakannya untuk menyembah berhala Rajanya. Begitu mendengar bahwa dia akan disiksa karena keyakinannya itu, maka mereka melarikan diri agar selamat. Di sini Allah mengajarkan sebuah doa yang sangat penting, yang masih dijadikan doa oleh umat Islam. Yaitu: “rabbana atina min ladunka rahmatan wa ahyyi’lana min amrina rasyada”. Ya Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari Sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami”. (Surat A Kahfi: 10).
Sedemikian kuat iman tujuh pemuda ini, sehingga mengharuskan diri mereka untuk meninggalkan kekayaan dan kemakmuran di dalam hidupnya. Tetapi Allah SWT mengetahui apa yang dilakukannya, sehingga menidurkannya selama 309 tahun. Anjingnya sudah mati. Ketika bangun diketahui zaman sudah berubah. Mata uang yang dibawanya sudah tidak lagi laku di pasaran. Dan ternyata pemuda tersebut berada zaman yang berbeda. Goa tempat Ashabul Kahfi ditidurkan Allah sudah ditemukan dan banyak ditemukan naskah-naskah kuno. Baru sebagian kecil yang ditemukan dan dipahami dan sebagian besar lainnya belum ditemukan. Berdasarkan kajian studi agama-agama, maka peristiwa Al Kahfi adalah peristiwa sejarah sebab banyak kitab yang menjelaskannya. Seperti Kitab Taurat, Injil dan Alqur’an, dan bahkan juga shahifah yang ditemukan juga menjelaskan hal yang sama. tentang nama memang terjadi debatable. Ada yang menamakannya Iskandar Zulqarnain atau Alexander The Great, ada yang menyatakan sebagai Dzulqarnain, atau ada juga yang menyatakan Koresy Agung atau Cyrus the Great.
Kedua, adalah peristiwa Ya’juz dan Ma’juz yang berperang melawan Raja Iskandar Zulqarnain, yang hidup sezaman dengan Nabi Ibrahim AS. Seorang raja yang sangat arif dan bijaksana di dalam melayani dan melindungi warga negaranya. Zulqarnain hidup pada tahun 336-323 SM. Bukti perpustakaannya masih ada hingga sekarang di Kota Iskandariyah Mesir. Perpustakaan yang sangat bagus dengan koleksi buku yang sangat lengkap. Saya pernah hadir di perpustakaan ini, pada tahun 2010. Di depan perpustakaan ditulis nama Alexandre The Great, bertarikh 356-328 SM. Sudah saya saya tulis di nursyam.uinsa.ac.id. dengan judul: “Antara Alexandria, Kairo dan Melbourne”, dan juga baca dalam Nur Syam, “Perjalanan Etnografis Lima benua” (LKIS, 2014).
Iskandar Zulqarnain adalah salah seorang raja yang memagari keberingasan Ya’juz dan Ma’juz. Mereka ini makhluk Tuhan yang sangat bengis dan merusak alam. Jika mereka datang ke suatu tempat, maka hancurlah manusia, binatang dan alam di sekitarnya. Penderitaan umatnya tersebut mengetuk hatinya untuk membuatkan dinding yang dapat mengurung kaum Ya’juz dan Ma’juz. Berdasarkan kajian eskatologis, maka Ya’juz dan Ma’juz terkurung hingga hari ini dan hanya akan keluar di kala mendekati kiamat. Di dalam studi agama-agama, komunitas Ya’juz Ma’juz atau di dalam Bahasa orang Barat disebut dengan Gog Magog adalah peristiwa sejarah sebab banyak naskah atau kitab suci yang menjelaskannya. Di antaranya adalah Kitab Injil dan Alqur’an. Jadi Gog Magog adalah fenomena sejarah di masa lalu yang diakui kebenarannya.
Ketiga, peristiwa pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khidhir. Keduanya adalah Nabiyullah memiliki hubungan sangat dekat dengan Allah SWT. Nabi Musa sering berbicara langsung dengan Allah SWT dan demikian pula Nabi Khidhir. Tetapi mereka memiliki perbedaan dalam mengimplementasikan kedekatan tersebut. Nabi Musa AS adalah seorang nabi dengan penguasaan ilmu syariat yang sangat kuat, sedangkan Nabi Khidhir AS dengan penguasaan ilmu ma’rifat yang tiada banding. Keduanya bertemu, dan Nabi Musa akhirnya berguru kepada Nabi Khidhir. Sebagai ahli ma’rifat, maka perilaku Nabi Khidhir sering tidak dipahami oleh Nabi Musa. Keduanya akhirnya tetap berbeda pandangan dalam taqarrub ilallah.
Pertarungan antara syariat dan ma’rifat tentu tetap berlangsung hingga masa kenabian Muhammad SAW dan bahkan seterusnya. Di kalangan ahlu Ma’rifat adalah mereka yang mempelajari filsafat dan ilmu ma’rifat sehingga menghasilkan tokoh misalnya Al Hallaj yang akhirnya dibunuh karena dianggap menyalahgunakan ajaran Islam. Dzikir ahlu syariah adalah la ilaha illallah, kemudian meningkat menjadi Allahu. Sampai di titik ini, lalu ahli ma’rifat melanjutkannya dengan hu dan terakhir sampai ke ana. Di sinilah problemnya, sehingga orang ahlu ma’rifat lalu disingkirkan dari percaturan penyebaran Islam. Di Jawa misalnya Kanjeng Syekh Lemah Abang atau Kanjeng Syekh Abdul Jalil yang harus juga disingkirkan. Dianggapnya bahwa dia mengajarkan ilmu ma’rifat yang tidak boleh sembarang diajarkan kepada orang awam. Syekh Lemah Abang dibunuh dan ajarannya diberangus oleh wali songo atas perintah raja.
Pertarungan di antara ahlu syariah dan ahlu tasawuf diselesaikan oleh Imam Ghazali yang memberikan penekanan atas keduanya. Ajaran ma’rifat tidak sah tanpa syariah dan ajaran syariah kurang sempurna tanpa ilmu tasawuf. Kehadiran Imam Ghazali dengan Ihya Ulumuddin adalah menandai bagaimana kedua ilmu tersebut dipraktekkan di dalam Islam.
Wallahu a’lam bi al shawab.
