• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SUNNAH DALAM MAKAN (109)

SUNNAH DALAM MAKAN (109)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pada bab ke 109, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang sunnah di dalam memakan makanan. Di dalam bab ini dijelaskan dengan judul yang sangat panjang yaitu: “Anjuran  makan dengan tiga jari, anjuran menjilati jari, larangan membasuh jari sebelum menjilatinya anjuran menjilati bejana, mengambil suapan yang terjatuh dan memakannya, serta bolehnya membersihkan jari setelah dijilat dengan lengan, kaki atau selain keduanya”. Oleh karena itu, saya ringkas dengan tema: “Sunnah Dalam Makan”.

Makan kelihatannya merupakan hal biasa saja. Setiap hari kita lakukan makan untuk memenuhi kebutuhan fisik atau raga kita. Tidak ada yang istimewa. Karena prilaku keseharian, maka tidaklah menjadi hal yang istimewa. Berjalan apa adanya sesuai tuntutan kebutuhan fisik kita. Tetapi ternyata ada pantangan makan. Ada makanan yang halal dan makanan yang haram. Ada makanan yang membuat sehat dan membuat sakit. Ada persyaratan halalan thayyiban. Tidak cukup halal tetapi juga yang menyehatkan.

Ada tradisi yang terkait dengan agama-agama. Misalnya Islam mengharuskan puasa selama satu bulan pada bulan ramadlan. Bagi para Bante dalam agama Buddha, maka makan sehari hanya sekali sebelum jam 12 siang. Jika lebih dari jam itu, maka harus menunggu hari berikutnya. Di dalam agama Kristen, Katolik, Hindu dan Konghucu juga memiliki pantangan-pantangan makanan, yang dalam istilah yang lazim disebut sebagai puasa.

Agama memang memiliki seperangkat ajaran terkait dengan makan. Islam sangat rinci dalam mengatur tentang bagaimana makan itu dan apa yang boleh dimakan. Islam memberikan pedoman makan makanan yang sunnah, yang mubah dan yang dilarang. Ini menunjukkan betapa pentingnya urusan makan. Bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik semata tetapi ada pahalanya dan ada dosanya.

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, RA., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “apabila salah seorang di antara kamu makan makanan, maka janganlah ia mengusap jarinya sampai ia menjilatinya atau meminta orang lain menjilatkannya”. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Kaab bin Malik RA., ia berkata: “Aku melihat Rasulullah SAW makan dengan tiga jari dan apabila Beliau selesai, Beliau menjilatinya’. Hadits riwayat Muslim.

Hadits yang diriwayatkan Jabir RA., bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk menjilati jari-jari dan bejana dan Beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui pada makanan kalian bagian mana yang terdapat keberkahannya”. Hadits Riwayat Muslim.

Jabir RA., bahwa Rasulullah bersabda: “apabila suapan salah seorang dari kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membersihkan kotoran yang menempel padanya, lalu memakannya. Janganlah ia membiarkannya untuk setan. Dan janganlah ia mengusap tangannya  dengan kain sebelum menjilati jari-jarinya, karena ia tidak mengetahui pada bagian mana dari makanannya terdapat keberkahan”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari sedikit penjelasan di atas dan hadits Nabi Muhammad SAW., maka dapat dipahami tentang tiga hal, yaitu:

Pertama, Nabi Muhammad SAW mengajarkan tentang makna makanan. Makanan adalah rezeki dari Allah SWT., sehingga tidak boleh disia-siakan. Tidak boleh ada sebutir nasipun yang ditinggalkan di piring atau tidak boleh ada makanan yang jatuh dan tidak dipungut kembali dengan dibersihkan dan kemudian dimakan. Hal ini menandakan bahwa makanan merupakan rezeki yang sangat besar maknanya bagi manusia.

Nabi SAW., memberikan pedoman kepada kita untuk makan di antaranya adalah jangan mengusap bekas makanan di tangan kita hingga sisa makanan tersebut kita bersihkan dengan mulut kita. Selain itu juga memungut makanan yang terjatuh agar bisa dimakan kembali. Bukan tindakan jorok karena menjilati makanan dimaksud tetapi sebuah proses untuk menjalankan pesan Nabi SAW. Mungkin tidak semua orang bisa melakukannya. Jika makan di rumah bersama keluarga mungkin kita bisa melakukannya, akan tetapi di dalam tradisi masyarakat modern yang seperti sekarang, bisa jadi hal tersebut dianggap sebagai keanehan.

Kedua, di dalam makanan ada keberkahan. Yaitu semakin bertambahnya kebaikan-kebaikan yang bisa diterima. Jika makanan kita itu sesuai dengan sunnah Nabi SAW, maka terdapat keberkahan dalam makanan yang kita makan. Bisa saja rezeki kita akan ditambah oleh Allah SWT. Orang menjadi tidak akan kekurangan makan. Dipastikan Allah SWT akan memberikan rezeki yang cukup. Bukan rezeki yang banyak. Ketercukupan rezeki itulah yang dirasakan sangat penting.

Nabi SAW mengajarkan agar mulai makan dengan basmalah. Artinya di kala makan maka makanan itu berada di dalam Asma Allah. Dan sebaiknya ditambah dengan doa keberkahan makan. Tidak hanya doa tetapi juga mengikuti tata cara makan Nabi SAW. dan mengakhiri makan dengan bacaan hamdalah. Bersyukur atas nikmat Allah SWT karena bisa makan.

Begitulah indahnya Islam, sehingga makan saja diatur oleh Nabi Muhammad SAW. Kita harus makan dengan tangan kanan dan bukan tangan kiri. Tangan kanan adalah simbol kebaikan, sehingga kita harus menggunakan tangan kanan. Kiri adalah simbol kejelekan, maka kita diminta untuk tidak makan dengan tangan kiri. Dan banyak lagi pedoman dan etika dalam makan makanan.

Ketiga, mungkin ada di antara kita yang belum bisa meneladani atas prilaku Nabi SAW dalam makan. Ada yang kurang dan tidak ada yang menyamai dengan cara makan Nabi SAW apalagi melebihinya. Tetapi yang penting kita harus berusaha sekuatnya untuk melakukannya. Kita upayakan untuk bisa meneladaninya, dan jika belum mampu maka beristighfar sesuai dengan kekhususan perkara yang belum sesuai.

Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW sangat memahami atas prilaku umatnya, sehingga jika ada yang kurang, maka jalan keluarnya adalah memohon ampunan kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..