SUNNAH BERBICARA BAIK DAN WAJAH MENYENANGKAN (88)
SUNNAH BERBICARA BAIK DAN WAJAH MENYENANGKAN (88)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir rahmanir rahim.
Mulutmu harimaumu. Artinya, mulut itu sangat menentukan di dalam relasi sosial. Mulut adalah organ penting di dalam kehidupan. Selamat orang karena mulut, dan celaka orang karena mulut. Makanya mulut itu menentukan terhadap kehidupan seseorang. Jika ingin selamat, maka harus berkata yang baik dan jika tidak ingin selamat maka silahkan berkata yang tidak baik.
Islam itu menganjurkan di dalam relasi sosial, seseorang menggunakan kata-kata yang baik. Ada beberapa prinsip yang harus digunakan yaitu qaulan layyinan atau berkata dengan penuh kelembutan, berkata dengan qaulan kariman atau berkata dengan penuh penghormatan, lalu qaulan sadidan berkata yang jelas, berkata dengan qaulan maysuran atau berkata dengan penuh kemudahan dan kebaikan, dan qaulan balighan atau berkata tegas, apa adanya. Prinsip ini yang seharusnya menjadi pedoman di dalam membangun relasi sosial yang baik dengan sesama manusia.
Islam sangat menganjurkan agar seseorang menjaga perkataannya. Di dalam filsafat Jawa dinyatakan “ajining diri saka pribadi, ajining raga saka busana, lan ajining pribadi saka lati”. Jika kita ingin dihargai, maka kita harus menjaga diri kita agar berkepribadian yang baik. Jika kita ingin dihargai, maka cara kita berpakaian harus baik, dan jika kita ingin dimuliakan maka kita harus menjaga mulut. Pribadi, lesan dan pakaian dapat menjadi ukuran kemuliaan seseorang.
Jika kita rasakan betapa relevansinya filsafat Jawa ini dengan nilai-nilai di dalam ajaran Islam. Islam begitu memperhatikan dimensi penampilan diri seseorang. Islam sangat menghargai nilai kebersihan, baik kebersihan badan, pakaian dan lingkungan. Islam sangat menghargai prilaku baik yang ditampilkan oleh seseorang. Kemuliaan orang dapat diukur dari kepribadiannya. Demikian pula Islam sangat menghargai atas perkataan dan pernyataan yang baik yang penuh dengan rasa kemanusiaan.
Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, menukil beberapa ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Di dalam Surat Al Hijr: 88, Allah berfirman: “…dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. Kemudian di Surat yang lain, Ali Imran: 159, bahwa: “…sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…”.
Hadits Nabi Muhammad SAW, menjelaskan sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Adi bin Hatim RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan sebelah kurma. Barang siapa yang tidak mendapatkannya, maka dengan kalimat yang baik”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Lalu juga terdapat hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda: “kalimat yang baik itu sedekah”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Juga terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar RA, berkata Rasulullah bersabda kepadaku: “janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, walau hanya bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri”. Hadits riwayat Imam Muslim.
Dari penjelasan di atas, kiranya dapat digambarkan atas tiga hal, yaitu:
Pertama, kita sedang hidup di era yang tidak baik-baik saja. Era media sosial yang serba boleh atau permissiveness. Di era ini, media sosial adalah panglima. Media sosial bisa menjadi kekuatan keempat, setelah kekuatan politik, kekuatan persenjataan dan kekuatan pemerintah. Bahkan dengan kekuatannya, media sosial dapat memengaruhi atas kekuatan politik dan pemerintahan. Media sosial itu begitu digdaya, powerfull. Melalui algoritma, maka media sosial dapat memengaruhi keputusan politik.
Apa saja bisa diunggah di media sosial. Ada yang positif dan ada yang negatif. Di media sosial itu semua serba ada. Ada konten kreatif keagamaan, ada konten kreatif hiburan, ada konten kreatif pembelajaran, ada konten kreatif yang menyeru untuk melakukan tindakan yang buruk dan ada juga yang baik. Misalnya di Youtube atau instagram, maka ada banyak konten yang tidak lacak, yang seronok atau tayangan vulgar pornografi dan sebagainya. Di sinilah sesungguhnya orang harus dapat memilah pesan-pesan yang baik, sehingga akan berpengaruh atas kebaikan. Islam sangat menganjurkan agar kita memelihara kebaikan dan membuang jauh kemaksiatan.
Kedua, ada banyak kebaikan yang dapat dilakukan oleh umat Islam, mulai dari tersenyum untuk membahagiakan orang lain, membuang benda di jalan yang dapat mencelakakan orang sampai bersedekah. Sedemikian banyak kebaikan yang akan dapat mengantarkannya pada keridlaan Allah SWT. Selama di dalam melakukannya untuk keridlaan Allah, maka dipastikan bahwa Allah akan memberikan keridlaannya. Sebagai umat Islam kita meyakini bahwa selalu ada kepastian dibalik ketidakpastian, dan ada ketidakpastian dibalik kepastian. Yang pasti bahwa Allah akan membalas setiap kebaikan yang bisa dilakukan oleh hambanya. Bersedekah tidak harus dengan materi, akan tetapi seseorang bisa bersedekah dengan senyuman. Idkhalus surur shadaqah. Menyenangkan orang adalah sedekah.
Ketiga, umat Islam harus bisa menjaga relasi sosial yang baik. Dan sebagaimana sabda Rasulullah SAW, maka jika kita tidak mampu untuk berbicara baik dalam relasi sosial karena ada sebab-sebab tertentu, maka Rasulullah SAW menganjurkan agar seseorang diam. Jika diperkirakan bahwa seseorang tidak bisa menjaga lesannya dari berkata yang baik, maka yang lebih utama adalah diam.. Rasulullah menegaskan agar umat Islam berkata yang baik atau lebih baik diam. Fal yaqul khairan au liyasmuth. Maka hendaknya berkata yang baik atau lebih baik diam. Diam adalah emas.
Dewasa ini, orang tidak hanya berbicara dengan lesannya, akan tetapi juga berbicara dengan coretan kata-katanya. Di sinilah terkadang terjadi paradoks. Lesannya berkata baik tetapi tulisannya menggambarkan ketidakbaikan. Oleh karena itu marilah kita jaga agar ada kesesuaian antara apa yang kita ucapkan dan apa yang kita ungkapkan dalam tulisan. Jangan sampai label kemuliaan diri dari mulut berubah menjadi ketidakmuliaan karena tulisan kita di media sosial.
Wallahu a’lam bi al shawab.
