• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SABAR, MURAH HATI DAN LEMAH LEMBUT (74)

SABAR, MURAH HATI DAN LEMAH LEMBUT (74)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab ini, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Sabar, Murah Hati dan Lemah Lembut”, sebagai sikap dan perilaku umat Islam yang mesti ditampilkannya. Seseorang akan dinilai baik oleh orang lain tentu dari sikap dan tindakannya di dalam menghadapi kehidupan dengan kebaikan. Di  sisi lain, seseorang dianggap buruk perilakunya jika tampilan sikap dan tindakannya menggambarkan tentang keburukan.

Problem social dewasa ini sungguh luar biasa. Ada banyak masalah yang dihadapi oleh manusia di dalam kehidupannya. Relasi social yang tidak seimbang, relasi psikhologis yang tertekan, relasi social politik yang saling menihilkan dan bahkan juga kekuasaan yang meminggirkan atas orang lain. Belum lagi perubahan social yang cepat atau disebut sebagai volatility, sesuatu yang tidak jelas atau uncertenty, atau serba komplek atau complexity dan juga sesuatu yang ambivalen, sulit dipilih karena irisannya yang tipis dan tampak susah dibedakan. Semua ini menumbuhkan berbagai respon social yang tidak nyaman.

Sesungguhnya kita hidup di era di mana batas antara yang kebaikan dan keburukan itu sangat tipis. Ada perbuatan yang kita sangka baik ternyata mengandung dimensi keburukan. Perbuatan yang di luar tampak baik tetapi ternyata membawa di dalamnya keburukan. Itulah yang disebut sebagai ambivalen. Perbuatan yang dilakukan salah ditinggalkan juga bermasalah.

Di dalam kehidupan social ekonomi kerumitan itu semakin nyata. Terbatasnya akses ekonomi membuat orang lupa diri. Semuanya akan dilakukan yang terpenting mendapatkan akses ekonomi. Di tengah sulitnya mencari peluang pekerjaan, maka orang bisa saja membayar agar dapat akses pekerjaan. Di tengah sulitnya mendapatkan uang, orang akan berbuat apa saja untuk memperolehnya. Jadilah mereka berlaku permissiveness.

Belum lagi dimensi politik. Orang juga bisa menghalalkan cara agar akses politik terbuka untuknya. Tidak salah jika kemudian muncul tindakan permissive. Salah satu di antaranya adalah dengan melakukan tindakan money politics. Semua yang ingin memiliki akses di bidang politik maka harus melakukan tindakan serba boleh seperti ini. Akibatnya, jika akses sudah terbuka maka yang dilakukannya adalah upaya untuk mengembalikan modal politik yang sudah dikeluarkannya. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman tentang bagaimana bersikap dan berbuat sabar di dalam menghadapi semua ini.

Syekh Imam An Nawawi RA, menukil Kitab Suci Alqur’anul karim di dalam Surat Ali Imran: 134, yang artinya: “dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Di dalam Surat Al A’raf: 199, Allah berfirman: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”.  Di  dalam Surat yang lain, Asy Syu’ara: 43, dinyatakan: “tetapi barang siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia”.

Hadits Nabi SAW yang dinukil adalah hadits yang diriwayatkan oleh A’isyah RA., dia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan”. (Hadits Riwayat Shahihain). Kemudian pada hadits yang lain juga diriwayatkan oleh A’isyah RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu lembut dan senang dengan kelembutan. Dia akan memberikan kepada orang yang lembut apa yang tidak diberikannya kepada orang lain kepada orang yang kasar, dan juga apa yang tidak diberikan kepada selainnya”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Lalu hadits yang diriwayatkan oleh Anas RA., bahwa Nabi SAW bersabda: “permudahlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan menakut-nakuti”. Hadits Riwayat Shahihain.

Islam mengajarkan agar seseorang berbuat sabar, saling mengasihi, dan berbuat yang lemah lembut. Dari kajian di atas dapat ditegaskan atas tiga hal, yaitu:

Pertama, kesabaran, murah hati dan lemah lembut bukan hanya bakat tetapi pengalaman kehidupan. Kesabaran tidak datang dengan sendirinya, akan tetapi melalui pelatihan dan eksperimen berkali-kali. Orang juga tidak bisa sabar dalam semua urusan. Terkadang parsial. Yang ini sabar dan yang itu tidak sabar. Begitulah. Bahkan orang juga tidak bisa sabar dalam semua urusan relasi social. Ada yang selalu mengganjal hatinya untuk sabar menghadapi sesuatu yang membuatnya susah. Orang terkadang bisa memaafkan tetapi tidak bisa melupakan. Inilah dinamika kemanusiaan yang kita hadapi dewasa ini.

Inilah arti penting latihan kesabaran. Bukan sesuatu yang sim salabim. Harus terus menerus dipupuk dan dilatih agar kesabaran itu menjadi bagian di dalam kehidupan. Yang penting jangan setengah-setengah. Upayakan kita dapat  bersabar di dalam menghadapi situasi apapun.

Kedua, murah hati adalah sikap dan perilaku yang sangat terpuji. Seseorang yang memiliki sikap dan perilaku murah hati, tidak hanya dicintai oleh manusia akan tetapi juga disayangi oleh Allah, para Nabi dan para Malaikat. Murah hati ditandai dengan hati yang terbuka atas kebaikan dan kesalahan orang lain. Suka memaafkan atas kesalahan orang lain bagi yang berkenginan untuk dimaafkan. Ada orang yang berbuat kejelekan atas orang lain akan tetapi tidak merasa melakukannya. Orang seperti ini tentu tidak akan memiliki kemauan untuk meminta maaf. Inilah lawan dari murah hati yaitu tinggi hati. Selain itu juga ditandai dengan suka menyayangi atas orang lain, dan bahkan makhluk lainnya. Jika kita menyayangi yang di bumi, maka akan disayangi oleh yang di langit. Allah, rasul dan malaikat akan menyayanginya.

Ketiga, orang yang disayangi Allah adalah orang yang lemah lembut. Biasanya dalam sikap dan perkataan. Yang dikembangkan adalah sikap dan ucapan yang memuliakan manusia, yang ucapannya lembut sehingga membuat orang lain menyukainya dan ucapan yang membahagiakan orang lain. Islam telah mengajarkan prinsip-prinsip untuk bertutur kata yang baik dan penuh dengan kasih sayang. Bukan perkataan yang penuh caci maki, yang menyusahkan orang lain dan membuat kesulitan bagi orang lain.

Islam sungguh merupakan agama yang memberikan panduan yang komplit di dalam relasi social dan relasi kemanusiaan. Jika kita dapat melakukannya, maka harmoni social akan menjadi kenyataan yang jelas.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..