• July 2026
    M T W T F S S
    « Jun    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PEMIMPIN HARUS MENGANGKAT PEJABAT YANG JUJUR (83)

PEMIMPIN HARUS MENGANGKAT PEJABAT YANG JUJUR (83)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir rahim.

Dunia kepemimpinan itu tidak sebagaimana yang kita persepsikan. Kepemimpinan itu penuh dinamika. Ada tarikan kepentingan, ada tarikan kebutuhan dan ada tarikan yang mengarah kepada kebaikan dan ada yang juga mengarah kepada kejelekan. Sungguh kompleks persoalan yang menyangkut kepemimpinan. Maka kemudian terdapat simbolisasi kepemimpinan yang adil dan jujur dan ada kepemimpinan yang tidak adil dan tidak jujur.

Kompleksitas kepemimpinan itu tentu terkait dengan betapa banyaknya orang dengan berbagai kepentingan yang ingin mendekat atau menjadi bagian tidak terpisahkan dari kepemimpinan. Di antara mereka ada yang ikhlas dan ada yang culas. Ada yang berbudi pekerti baik dan ada yang berbudi pekerti jelek. Ada yang berpikir untuk kemanusiaan dan ada yang berpikir untuk diri, keluarga dan golongannya. Macam-macam.

Pemimpin harus memiliki kewibawaan dan integritas. Kewibawaan dapat digunakan untuk menyaring atas siapa yang memiliki niatan baik dan siapa yang memiliki niatan jahat. Harus benar-benar disadari di dalam tim pemimpin itu terdiri dari dua penggolongan manusia itu. Ada yang demi rakyat dan ada yang demi golongan, bahkan demi diri sendiri. Di sinilah kewibawaan seorang pemimpin akan menentukan atas siapa yang dipilih dan siapa yang ditinggalkan.

Pemimpin juga harus berbasis kejujuran. Seorang pemimpin yang jujur dan memiliki rekam jejak kejujuran akan membuat orang lain segan untuk melakukan ketidakjujuran. Di sinilah kata kunci agar pemerintahannya menjadi bersih dan berwibawa. Seorang pemimpin adalah teladan di dalam kejujuran. Jika pemimpinnya dalam semua level itu jujur, maka akan dapat diperoleh kepatuhan para bawahannya. Staf akan menghargainya. Oleh karena itu kejujuran, keadilan dan kewibawaan menjadi tiga faktor penting dalam merajut kebaikan. Jadi memilih para pejabat harus berbasis kepada perilaku kebaikannya.

Syekh Imam An Nawawi merumuskan judul pada Bab ke 82 dengan panjang, yaitu: “Anjuran Untuk Pemimpin, Hakim Dan Lainnya Yang Memegang Kekuasan Untuk Mengangkat Menteri/Pembantu Yang Saleh Dan Peringatan Untuk Mereka Dari Rekan-Rekan Yang Jahat Serta Peringatan Menerima Mereka”. Oleh karena itu, judul tersebut saya ringkas menjadi “Pemimpin Harus Mengangkat Pejabat yang jujur”.

Hadits Nabi sebagaimana diceritakan oleh Abu Said dan Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tidaklah Allah mengutus seorang Nabi dan tidak pula mengangkat seorang khalifah, melainkan baginya dua teman. Teman yang memerintahkan kepadanya kebaikan  dan juga menganjurkan itu kepadanya, dan teman yang memerintahkan kepadanya kejahatan dan juga menganjurkan itu kepadanya. Dan orang yang terjaga (ma’shum) adalah orang yang dijaga oleh Allah”. Hadits riwayat Imam Bukhari.

Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA., berkata Rasulullah bersabda: “apabila Allah menghendaki kebaikan untuk seorang pemimpin, dia menjadikan untuknya menteri yang jujur. Jika pemimpin itu lupa, sang menteri mengingatkannya. Dan  jika pemimpin itu ingat, sang menteri membantunya. Dan apabila Allah menghendaki selain itu untuk seorang pemimpin, Dia menjadikan untuknya menteri yang jahat. Jika pemimpin itu lupa, sang menteri tidak mengingatkannya. Dan jika pemimpin itu ingat, sang menteri tidak menolongnya”. Hadits riwayat Abu Dawud.

Dari penjelasan sosiologis dan teks-teks Hadits sebagaimana di atas, maka dapat diperoleh tiga penjelasan sebagai berikut:

Pertama, Islam mengajarkan agar seorang pemimpin memilih orang yang baik. Dengan kebaikannya itu, maka jika seorang pemimpin melakukan tindakan yang mengarah kepada kejelekan, maka dia dapat mengingatkannya, dan dapat membelanya untuk kembali kepada kebaikan. Tetapi jika dia memilih pejabat yang salah dan memiliki rekam jejak yang salah, maka di kala pemimpinnya akan melakukan tindakan yang berdampak kejelekan maka akan dibiarkannya dan bahkan didukungnya.

Dalam banyak hal,  kita itu mengikuti siapa yang yang dekat dengan kita dan yang sayang kepada kita. Tetapi di tengah rasa sayang dan dekat itu tetap harus ada ruang untuk berpikir jernih tentang bagaimana dampak kedekatan dimaksud dengan dunia kepemimpinan yang dilakukan. Jangan sampai rasa dekat dan sayang itu membutakan kita untuk membaca realitas yang sesungguhnya terjadi. Dekat dan sayang penting akan tetapi jangan membuat kita terlena. Apapun kebijakan kepemimpinan harus menghadirkan kebaikan, kesejahteraan dan keselamatan.

Kedua, setiap pemimpin akan dikelilingi oleh dua golongan besar orang, yaitu orang yang baik dan jujur dan orang yang jahat dan tidak jujur. Keduanya saling berupaya optimal untuk mendekati seorang pemimpin. Orang yang baik akan selalu memberikan informasi kebaikan dan orang yang jahat akan menghadirkan informasi tentang  kecurigaan dan fitnah yang ditujukan kepada orang yang baik. Tugas seorang pemimpin adalah melakukan check and recheck atas berbagai masukan. Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan akan tetapi harus diupayakan untuk tabayyun. Klarifikasi menjadi sangat penting. Ada banyak pemimpin yang hancur, karena tidak mendengarkan ungkapan baik yang disampaikan oleh orang yang di dalam dirinya tidak ada lain kecuali kebaikan. Orang yang sudah tuntas kehidupannya. Orang yang sudah tidak lagi memiliki ambisi golongan apalagi ambisi diri.

Ketiga, menjadi seorang pemimpin itu harus memiliki kesadaran diri bahwa seseorang itu  ibaratnya madu, akan dikelilingi semut dengan aneka ragam semut,  akan tetapi jika semut hanya akan mengisap madunya saja. Tetapi jika itu madu kekuasaan, maka yang hadir itu orang dengan varian kebutuhan. Ada yang memiliki kebutuhan yang membela rakyat dan ada yang memiliki kebutuhan untuk diri dan golongannya. Di sinilah kearifan seorang pemimpin akan dapat memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang jelek.

Kearifan pemimpin akan sangat menentukan atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin tidak hanya menggunakan rasionya, akan tetapi juga mata batinnya. Integrasi antara rasio dan batin atau antara rasio dan hati akan menjadikannya sebagai pemimpin yang dapat memilih mana yang baik dan mana yang jelek. Jadi, manfaatkan kecerdasan rasional, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan bahkan kecerdasan spiritual untuk memimpin. Saya yakin akan berhasil.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..