• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

IRI DAN DENGKI ADALAH SIKAP NEGATIF

IRI DAN DENGKI ADALAH SIKAP NEGATIF

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Adakah iri dan dengki yang bernuansa positif? Rasanya tidak. Iri dan dengki adalah penyakit hati yang sulit disembuhkan apalagi jika iri dan dengki sudah menjadi tabiat yang berbasis pada bakat dari dalam diri seseorang. Jika iri dan dengki sudah menjadi tabiat atau sifat yang melazimi kehidupan seseorang, maka penyakit hati ini akan terus bercokol di dalam diri dan tidak mudah untuk dikendalikan.

Sahabat saya, Titik Suryani, anggota WAG Reuni PGA 1977 menanyakan kepada saya tentang bagaimana jika kita itu iri pada keberhasilan seseorang,  tetapi tidak berupaya untuk menjelekkannya atau menggunjingnya. Secara lengkap konten WAG tersebut sebagai berikut: “Prof, tolong jelaskan pada kami ya kalau salah.  Memang  iri dan dengki adalah penyakit hati, tetapi bukankah iri itu  memotivasi seseorang ya Prof. Maksudnya keberhasilan seseorang, tetangga punya mobil atau  tetangga membeli perabot-perabot rumah tangga lantas kita iri kepingin berhasil, pingin punya mobil atau punya perabot  seperti dia sebagaimana yang Prof contohkan di atas,  tetapi tidak sakit hati terhadap keberhasilan orang tersebut. Kita ingin punya mobil dan perabot rumah tangga seperti dia dengan memicu dan bagaimana usaha kita agar bisa seperti dia.  Lain  halnya dengan  dengki, kalau dengki kita tidak senang melihat keberhasilan orang lain dan bahkan kita berusaha untuk mencelakai  orang tersebut. Itu kesan saya terhadap iri dan dengki Prof. Tolong  luruskan asumsi saya ini Prof agar saya tidak salah membedakan antara keduanya,  iri dan dengki.  Dengan  penuh kerendahan hati  saya mohon berikan penjelasan ya Prof. Terima kasih sebelumnya. Oke. Salam sehat semua”.

Saya ingin menyatakan bahwa iri dan dengki itu penyakit hati sehingga jika di dalam diri seseorang terdapat sifat ini, maka dipastikan akan terdapat ekspresi dari sifatnya itu, yaitu menjelekkan, mengunjingkan dan bahkan mendoakan kejelekan pada seseorang yang dianggapnya sukses di dalam kehidupan. Tidak ada ruang di dalam dirinya untuk tidak melakukan apa yang dirasakannya. Jadi bukan sebuah Tindakan yang berisi kebaikan karena sifat iri dan dengki tersebut. Iri merupakan sifat yang selalu melihat keberhasilan orang lain dan merasa bahwa orang tersebut lebih beruntung. Sementara dia tidak beruntung. Jika sifat iri itu dilestarikan, maka lama kelamaan akan menjadi dengki atau ketidaksukaan pada keberhasilan orang lain.

Adakah orang yang iri dan dengki lalu tidak mengekspresikan perasaannya di dalam tindakan yang buruk?. Jawabannya tidak ada. Iri dan dengki merupakan penyakit hati yang akan terus bercokol di dalam hati selama tidak ada upaya untuk menyadari bahwa iri dan dengki adalah sebuah penyakit. Yaitu penyakit hati. Jika seseorang senang melihat ada kebaikan dan kesuksesan pada seseorang maka hal tersebut tidak bisa dinyatakan sebagai iri apalagi dengki. Sebab iri dan dengki adalah sikap suka melihat kesuksesan orang dan kemudian berujung pada ketidaksukaan dan kebencian yang berlanjut pada ekspresinya yang bisa merugikan pada orang lain. Selalu melihat kebehasilan orang lain dapat menjadi pintu masuk tumbuhnya sifat dengki.

Kita terkadang harus mengapresiasi atas keberhasilan orang lain. Mungkin memuji dengan tujuan yang ikhlas bukan untuk basa-basi atau sekedar menyenangkan hati orang lain, apalagi bahwa dengan pujian tersebut diharapkan akan membawa imbal balik apa saja yang sesuai dengan tujuannya. Jika ada maksud yang tidak baik, maka sesungguhnya bukan apresiasi yang positif akan tetapi ekspresi yang negatif. Ekspresi apresiasi yang baik itu timbul dari keikhlasan dan bukan dari yang lain. Jadi memuji boleh dengan tanpa ada keinginan atau kepentingan pribadi.

Di dalam dunia pewayangan, maka ada seorang tokoh Namanya Sangkuni, Maha Patih Hastinapura. Dia selalu memuji Prabu Duryudono, keponakannya, dengan sanjungan yang berlebihan. Hal itu dilakukan sebab dia tahu bahwa keponakannya itu mabuk pujian. Dan jika dipuji maka segala hal yang diusulkan oleh Sang Maha Patih akan dikabulkan. Dan kemauan Sangkuni itulah yang kemudian menjadi kebijakan Negara Hastinapura. Perang Baratayudha adalah rekayasa Sang Maha Patih Sangkuni dan mendapatkan persetujuan Doryudona dan segenap pejabat Hastinapura.

Memang di dalam kehidupan ini ada orang yang sangat suka dipuji. Jika dipuji, maka hati dan perasaannya menjadi sangat gembira dan merasa hebat. Bahkan juga ada orang yang senang bercerita keberhasilannya di depan orang lain. Mungkin ini manusiawi sebab orang memang ingin diakui prestasinya. Tetapi jika perasaan ini berlebihan akan membawa kepada masalah tersendiri. Jadi, sudah seharusnya kita membatasi untuk memuji orang dan juga membatasi untuk mengungkap kesuksesan yang bisa dicapai. Seharusnya kita bersikap wajar dalam menghadapi relasi sosial kepada siapa saja agar tidak jatuh kepada sikap pujian yang berlebihan.

Seandainya kita melihat ada orang sukses, maka yang harus dilakukan adalah: pertama, mengkaji apa rahasia kesuksesannya. Kita pelajari untuk menjadi teladan di dalam kehidupan. jika usaha yang dilakukan sudah kita pahami dan kita melakukan yang sama tetapi tidak berhasil maka berarti masih ada variable lain yang belum kita pahami. Tetapi sekali lagi bukan iri dan dengki yang muncul tetapi belajar dari dirinya.

Kedua,  di dalam Islam terdapat trilogy kehidupan, yaitu: ikhtiyar, tawakkal dan doa. Usaha bisa dipelajari. Usaha bisa diduplikasi. Usaha bisa dilakukan. Usaha itu sesuatu yang kasat mata, yang terlihat. Tetapi tetap ada sesuatu yang berada dibalik usaha. Sesuatu yang menjadi ketentuan kesuksesan atau kegagalan. Di sinilah kita tawakkal atau pasrah kepada Allah SWT akan kegagalan atau kesuksesan. Jika gagal jangan putus asa. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Orang yang sukses bukanlah orang yang berhasil di dalam mencapai sesuatu tetapi orang yang bisa bangkit dari kegagalannya. Kemudian berdoa. Jangan pernah meremehkan doa. Ada pandangan bahwa 80 persen keberhasilan itu karena doa yang dilantunkan kepada Sang Pemilik Kesuksesan, Allah SWT. Ada banyak cerita sukses karena doa. Jangan pernah berhenti berdoa kepada Allah SWT.

Ketiga,  jangan merasa bahwa kesuksesan itu karena kemampuan kita, akan tetapi adalah pemberian Tuhan kepada kita. Saya merupakan salah seorang yang merasakan bahwa prestasi yang saya capai bukan karena kemampuan saya akan tetapi karena welas asih Gusti Allah. Pemberian Allah SWT. Sama sekali tidak karena kepandaian, kehebatan dan kekuatan yang saya miliki tetapi semata-mata rahmat Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

OJO IRI LAN DENGKI: FILSAFAT HIDUP ORANG JAWA TENTANG PENYAKIT HATI

OJO IRI LAN DENGKI: FILSAFAT HIDUP ORANG JAWA TENTANG PENYAKIT HATI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

 

Hidup itu tidak lama. Rata-rata usia orang adalah 70 tahun. Bisa ada yang lebih dalam beberapa kasus dan ada yang kurang juga dalam beberapa kasus. Orang akan merasa menjadi tua saat usianya sudah berada di atas 60 tahun. Ditandai dengan semakin melemahnya fisik, kurangnya ingatan dan juga semakin lemahnya pemikiran dan sebagainya.

Ada ujaran bahwa tua hanyalah usia, tetapi pemikiran dan gerak tidak boleh ikut menjadi tua. Saya menulis tentang “Menjadi Tua Sehat dan religious” (nursyamcentre.com), sebuah refleksi atas realitas yang menggambarkan tentang betapa seharusnya orang harus tetap optimis di tengah semakin tua usia. Banyak orang yang tidak hanya fisiknya yang renta tetapi juga pemikirannya. Kita harus berguru pada orang-orang yang terus beraktivitas, apakah menulis, apakah menjadi aktivis atau tetap menjaga kebugaran di saat usia merambat tua.

Islam mengajarkan agar kita berdoa kepada Allah SWT, Tuhan kita semua, agar kita diberi umur yang panjang, thawwil umurona, dan sehat fisik kita,  wa ahsin ajsadana, dan bercahaya kehidupan kita dengan kebaikan, wa nawwir qulubana, dan tetap dalam keimanan kepada Allah SWT, wa tsabbith imanana. Alangkah indahnya doa ini terutama bagi kita yang sudah berumur. Kita meminta usia yang panjang, tetapi tetap sehat dan berada di dalam keimanan kepada Allah SWT.

Di dalam usia yang tidak panjang tersebut, orang Jawa diajari agar jangan iri dan dengki atau ojo iri lang dengki. Keduanya adalah penyakit hati yang sangat berbahaya bagi kehidupan kita. Iri itu ada kaitannya dengan keinginan atau desire  yang tidak tercapai, sementara orang lain mendapatkannya. Bahkan sering diungkapkan “saya bekerja lebih keras, tetapi saya tidak mendapatkannya, sementara dia bekerja seadanya tetapi mendapatkannya”. Iri itu penyakit yang datang dari dalam diri manusia. Di  dalam teori social disebut sebagai in order to motive, atau motif dari dalam diri atau internal motive.

Sebagai manusia tentunya kita memiliki banyak keinginan. Ingin sukses dalam bekerja, ingin kaya dengan harta, ingin jabatan yang tinggi, ingin sejahtera, dan ingin bahagia. Tidak semua keinginan itu tercapai. Bisa juga ada yang tercapai dan ada yang tidak. Yang tercapai membuat senang dan yang tidak tercapai membuat susah atau sedih bahkan juga putus asa. Jika seseorang memiliki sifat iri, maka yang diukur hanya satu kata “sukses”. Seseorang akan menjadi marah jika tujuannya tidak berhasil. Di dalam dirinya hanya ada kata berhasil, sehingga dia akan mencari-cari penyebab ketidakberhasilan tersebut dan kemudian menyalahkan yang lain bahkan  juga menyalahkan Tuhan, sebagai dzat yang tidak memihak kepadanya. Itulah sebabanya Islam mengajarkan agar kita tidak berputus asa atas rahmat Allah SWT.  Wa la taiasu min rauhilllah.

Kemudian dengki  ialah sifat yang dimiliki oleh seseorang untuk tidak suka atas orang lain karena keberhasilannya di dalam kehidupan. Jika ada orang yang berhasil maka dia akan tidak suka, melakukan gunjingan kepada yang lain, bahkan juga tidak jarang melakukan fitnah atas orang tersebut. Orang yang dengki akan merasa tidak senang dengan kebahagiaan dan kesenangan orang lain. Makanya dengki disebut dengan penyakit hati karena terkait dengan perasaan tidak senang atas kesuksesan atau kesenangan orang lain.

Ada tetangganya membeli mobil panas hatinya. Ada tetangganya yang membeli barang-barang rumah tangga panas hatinya dan ada tetangganya yang naik jabatan sakit hatinya dan sebagainya.

Orang yang seperti ini disebut ahli SMS atau Senang Melihat Orang Susah (SMS) atau Susah Melihat Orang Senang (SMS). Di dalam kehidupan ini tentu terdapat orang dengan tipe seperti ini. Ada yang memang tabiat atau bakatnya memang seperti itu dan ada yang karena factor luar. Keduanya memang tidak bisa dipisahkan. Satu dengan lainnya saling terkait secara sistemik. Tetapi orang yang memiliki bakat atau tabiat seperti itu akan lebih sulit untuk menghilangkan sifat buruk ini dibanding yang memang hanya karena factor luar saja.  Bagi orang yang memiliki bakat, maka akan kesulitan untuk menghentikan sifat ini, yang tentu berbeda dengan yang hanya karena factor eksternal.

Di dalam Islam sifat seperti itu disebut sebagai hasad atau bisa diterjemahkan sebagai iri dan dengki. Di dalam Islam disebutkan  sebagai  wa la tajassasu atau jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan wa la tahasadu  atau jangan membenci orang yang memperoleh kesenangan. Kemudian  wa la tabaghadu  atau jangan membenci. Islam sedemikian rincinya memberikan gambaran tentang sifat manusia yang seharusnya tidak dilakukannya. Orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain bisa disebabkan karena kebencian dan ketidaksenangan. Demikian juga janganlah sesama umat Islam saling membenci dan menggunjing.

Di dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dinyatakan: “la tabaghadhu, wa la tahasadu, wa la tadabaru, wa kunu ‘ibadallahi ikhwana”, yang artinya: “janganlah kamu saling membenci, dan jangan saling iri hati, dan jangan saling menjauhi dan hendaknya menjadi hamba Allah yang saling bersaudara”. Betapa jelasnya hadits Nabi Muhammad SAW ini untuk dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupan.

Jika kita menilik atas ajaran Islam dan juga paugeran di dalam tradisi Jawa ini maka menjadi bukti bahwa antara Islam dan tradisi Jawa merupakan dua hal yang saling terkait, artinya tidak ada pertentangan satu dengan lainnya. Ya Islam, ya Jawa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ANDHAP ASOR: MENJAGA KESOPANAN DALAM TRADISI JAWA

ANDHAP ASOR: MENJAGA KESOPANAN DALAM TRADISI JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religious. Labelisasi ini bukan sesuatu yang berlebihan, sebab bagi masyarakat Jawa,  agama adalah pedoman yang sangat mulya semenjak dahulu kala. Agama bagi masyarakat Jawa merupakan pedoman bertingkah laku, dan hal ini sudah berlangsung semenjak dahulu kala. Sebelum Islam datang ke Indonesia,  masyarakat Jawa sudah menjadikan  agama Buddha dan Hindu serta ajaran-ajaran lainnya misalnya ajaran Kapitayan, sebagai modal relasi kepada Tuhan dan juga sesama manusia.

Semua agama di dunia mengajarkan kebaikan untuk kehidupan. pesan-pesan agama mengandung ajaran moral yang adiluhung bagi kehidupan manusia. Semua agama mengajarkan agar membangun relasi dengan Tuhan secara memadai dan juga relasi social yang memadai. Jika kemudian terdapat kekerasan yang dikaitkan dengan agama tertentu, maka sebenarnya merupakan penafsiran manusia atas ajaran agamanya, dan bukan substansi ajaran agama tersebut. Makanya, di dunia ini juga terdapat “perang” yang bernuansa agama, artinya agama dijadikan sebagai penguat atas  konflik social yang dilakukan oleh dua atau lebih kelompok.

Orang Jawa mengajarkan prinsip filsafat kehidupan yang disebut sebagai andap asor. Atau prinsip tradisi yang bersubstansi pemahaman, sikap dan Tindakan yang bercorak sopan santun. Prinsip ini bertali temali dengan substansi ajaran tentang bagaimana seharusnya perilaku orang Jawa atas orang lain. Prinsip ini mengajarkan tentang ojo adigang adigung adiguna, ojo gumedhe, ojo dumeh dan sebagainya. Ajaran-ajaran ini mengunggah prinsip hidup yang menempatkan diri di dalam dunia social yang wajar dan bermartabat.

Andhap asor, secara kebahasaan berarti rendah hati dan sopan santun. Ungkapan Jawa ini juga dikaitkan dengan istilah seperti lembah manah lan andap asor. Yang artinya adalah rendah hati dan sopan santun.

Sopan santun merupakan ajaran yang sangat baik. Sopan santun sesungguhnya akan memberikan gambaran tentang bagaimana tingkat kesopanan kita di dalam relasi social. Melalui sikap dan Tindakan yang menggambarkan kesopanan, maka orang lain dapat menilai siapa sesungguhnya kita itu. Orang Jawa memiliki sejumlah indicator untuk mengetahui bagaimana sikap dan Tindakan orang lain. Contoh sederhana, misalnya  dari cara berjalan, cara duduk, cara berbicara, gerak  gesturnya dan cara memasuki ruang yang sudah ada orang di dalamnya. Semua ini sering dijadikan sebagai indicator tingkat kesopanan kita.

Orang Jawa misalnya jika duduk di bawah atau lantai tanah, maka duduknya mestilah bersila, bisa jadi ini berasal dari kata susila atau kepatutan. Jika melewati tempat orang duduk atau berdiri, maka akan menjulurkan tangannya ke bawah dengan punggung membungkuk dan biasanya diikuti dengan pernyataan “nuwun sewu” atau  atau mohon ijin. Ini merupakan perilaku orang Jawa yang selalu mengedepankan kerendahan pikiran dan hati. Makanya, di dalam makam-makam keramat, seperti para wali, maka pintu masuk ke dalam area makam itu pintunya rendah, sebagai perlambang agar orang merunduk atau menunduk sebagai bagian dari tatakrama atas orang yang dituakan atau para kekasih Allah. Semua melambangkan agar manusia memiliki tatakrama dalam relasinya dengan orang yang lebih tinggi derajad taqwanya kepada Allah swt.

Islam mengajarkan tentang ajaran tawadhu’ atau rendah hati bukan rendah diri. Orang yang rendah hati tidak menganggap bahwa dirinya yang paling hebat, paling kuat, paling berkuasa dan seterusnya. Akan tetapi dia tetap berada di dalam konteks kemanusiaan yang serba dhaif atau lemah tetapi bukan tidak berdaya. Lemah karena sesungguhnya kekuatan yang paling tinggi adalah milik Allah semata. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah swt.

Di dalam syarah shahih Muslim (Imam An Nawawi)  dinyatakan bahwa “sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu, sehingga seseorang merasa bangga lagi sombong terhadap orang lain dan juga tidak berlaku aniaya kepada orang lain”. Hadits ini memberikan gambaran bahwa orang Islam  itu seharusnya rendah hati dan tidak melakukan kesombongan terhadap orang lain. Orang Islam mesti harus sadar bahwa dirinya  tidaklah memiliki apa-apa jika Allah mencabut kekuatan fisik dan akalnya , bahkan ilmu dari dirinya.

Orang yang tawadhu’ tidak pernah menyombongkan diri, tidak pernah menganggap dirinya paling hebat dan tidak beranggapan bahwa dia tahu segalanya. Sebagai manusia pengetahuan kita sangat terbatas. Bahkan kita tidak tahu ada apa dibalik dinding sebelah kita duduk. Hanya orang khusus yang diberikan pengetahuan oleh Allah SWT karena kedekatannya atau taqarrubnya. Para waliyullah atau para ulama atau kyai yang memiliki kedekatan khusus kepada Allah SWT melalui riyadhohnya saja yang berpeluang diberikan pengetahuan lebih di atas manusia lainnya.  Di dalam dunia empiris kita mengetahui ada orang-orang yang mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia lain. Mereka merupakan golongan orang yang weruh sakdurunge winarah atau mengetahui sesuatu tanpa dipelajari atau diberitahukan sebelumnya.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya jika orang-orang yang awam seperti kita ini tetap berada di dalam konteks kehidupan yang menjaga kesopanan dalam relasi dengan dunia social kita yang kompleks. Sesungguhnya manusia itu berharga jika menghargai orang lain, dan manusia tidak berharga jika selalu memandang rendah orang lain.

Ajaran kesopanan di dalam filsafat Jawa ini sungguh memiliki rujuan teks yang sangat kuat di dalam ajaran Islam, sehingga pantaslah jika kita tidak mempertentangkan Islam dan Jawa, karena keduanya sudah menyatu di dalam filsafat dan tradisi Islam Jawa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MIKUL DUWUR MENDHEM JERO: TINDAKAN ORANG JAWA  PADA HIRARKHI USIA

MIKUL DUWUR MENDHEM JERO: TINDAKAN ORANG JAWA  PADA HIRARKHI USIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Relasi  sosial orang Jawa sesungguhnya berpusat pada keluarga. Fungsi keluarga di dalam tradisi Jawa sangatlah mendasar. Keluarga berdasarkan kajian Hildred Geertz memiliki aneka macam fungsi. Ada sekurang-kurangnya delapan fungsi, yaitu fungsi pendidikan. Keluarga memiliki fungsi utama untuk melakukan pendidikan bagi anak-anak dan keluarga lainnya. Dari keluargalah pertama-tama seorang anak akan mengenal dunia Pendidikan, terutama adalah pendidikan moral yang berupa sopan santun di dalam relasi sosial. Lalu, fungsi sosialisasi, yaitu fungsi keluarga untuk mengenalkan atas pentingnya relasi sosial, baik di dalam maupun di luar keluarga.

Tidak kalah penting juga fungsi ekonomi, artinya bahwa keluarga adalah tempat untuk menyemai ekonomi agar kehidupan menjadi lebih sejahtera. Di dalam keluargalah kehidupan ekonomi akan terajut,  baik di dalam memanfaatkan pendapatan maupun untuk pengeluaran atau belanja rumah tangga. Kemudian fungsi ketahanan keluarga. Rumah merupakan tempat yang paling aman bagi keluarga dalam mengarungi kehidupan. Jika ada masalah, maka keluargalah yang akan melakukan penyelesaian secara optimal. Selanjutnya adalah fungsi rekreasi. Keluarga adalah tempat rekreatif yang paling menyenangkan. Baik bagi orang tua maupun anak-anak.  Maka  tempat rekreasi yang utama adalah keluarga. Berikutnya adalah fungsi agama. Keluarga adalah tempat menyemaikan pengetahuan, sikap dan pengamalan beragama. Keluarga  yang religiositasnya sangat baik, maka kehidupan agama di dalam keluarga juga akan sangat baik. Tidak kalah menarik adalah fungsi persahabatan. Meskipun di Jawa terdapat hirarkhi di dalam keluarga tetapi yang  penting bahwa keluarga merupakan tempat yang nyaman untuk persahabatan. Sikap yang muda terhadap yang tua adalah penghormatan dan sikap yang tua pada yang muda bukanlah dominasi.

Seterusnya adalah fungsi pemecahan masalah. Secara spesifik keluarga merupakan tempat yang paling nyaman untuk menyelesaikan berbagai persoalan di dalam relasi sosial. Makanya, relasi sosial yang kuat di dalam keluarga akan dapat menjadi jaminan akan kuatnya ikatan di dalam keluarga dimaksud. Dan yang terakhir adalah pengembangan SDM untuk kemandirian. Seseorang akan menjadi mandiri jika di dalam keluarga diajarkan kemandirian dan tanggung jawab.

Berbasis pada gambaran fungsi rumah tangga atau keluarga dimaksud, maka orang Jawa memiliki ungkapan yang sangat masyhur, yaitu mikul duwur mendhem jero. Suatu pengetahuan, sikap dan tindakan orang Jawa yang selalu berkeinginan untuk memulyakan yang lebih tua dan bahkan rela berkorban demi yang lebih tua dalam kebaikan. Sekali lagi bahwa yang menjadi ukuran pengorbanan adalah kebaikan dan bukan sebaliknya yaitu keburukan.

Meskipun konteks mikul duwun mendhem jero tersebut dalam lingkup mikro atau keluarga, akan tetapi sesungguhnya bisa diberlakukan untuk yang makro, misalnya masyarakat dan bahkan negara atau pemerintahan. Seorang anak harus memuliakan dan menghormati orang tuanya, kapan dan di mana saja. Seorang staf harus melakukan tupoksinya sebagai pertanggungjawaban pekerjaannya dan juga menghormati atasannya. Atasannya juga harus berlaku baik bagi bawahannya dan tidak menganggap bahwa stafnya adalah pekerjanya. Yang harus diutamakan adalah charisma institusi dan bukan charisma individunya.

Tidak hanya seperti itu, akan tetapi juga menjaga martabat orang tua, pemimpinnya dan para pemimpin sebelumnya. Jika terdapat kebaikan, maka harus dilestarikan dan jika ada yang jelek maka harus dipendam dalam-dalam. Seorang pemimpin yang baik bukan untuk mencari-cari kelemahan pemimpin sebelumnya dan mengungkapkannya di ruang public.

Di dalam ajaran Islam terdapat prinsip sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW, bahwa orang yang muda agar menghormat yang lebih tua dan yang tua menyayangi yang muda. Dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai berikut: “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak mengerti kemuliaan yang tua di antara kita”. (Hadits diriwayatkan Ammar ibn Syuaib). Islam sebagai ajaran yang menjadi pedoman di dalam kehidupan memberikan norma agar sesama manusia saling menyayangi. Ada tiga konsep penting di dalam relasi sosial, yaitu ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama umat Islam. Tidak seharusnya antar sesama umat Islam saling menjelekkan dan menghina atas pemahaman dan prilaku agamanya. Kecuali mereka yang melakukan penistaan atas ajaran agama. Lalu, persaudaraan sesama  umat manusia meskipun berbeda agama. Seharusnya di antara umat yang berbeda agama juga tidak saling menghina dan melecehkan. Jangan sampai perbedaan agama menjadi penyebab konflik antara satu dengan lainnya. Kemudian persaudaraan sesama warga bangsa. Sesama umat manusia di dalam suatu wilayah negara, maka harus mendahulukan kepentingan bangsa dan negara dibandingkan dengan kepentingan diri sendiri.

Bahkan Islam juga mengajarkan agar kita menyembunyikan aib sesama manusia. Jika kita tahu ada sesama manusia yang memiliki aib maka dilarang kita untuk menyebarkan aib tersebut bagi orang lain. Tidak seharusnya kita menyebarkan aib orang di ruang public sehingga orang lain menjadi menderita karenanya. Islam bahkan mengajarkan berdoa di dalam waktu duduk di antara dua sujud dalam shalat, agar Allah SWT menyembunyikan aib kita. Wajburni. Begitu bunyi doa kita.

Mikul duwur mendhem jero merupakan prinsip hidup orang Jawa yang memiliki kecocokan dengan prinsip di dalam ajaran Islam dalam relasinya dengan kehidupan kebersamaan. Oleh karena itu, tidak selayaknya dipertentangkan antara ajaran Islam dengan ajaran Jawa dalam merenda kehidupan di dunia.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

EMPAN PAPAN: MEMAHAMI POSISI DIRI DALAM DUNIA SOSIAL ORANG JAWA

EMPAN PAPAN: MEMAHAMI POSISI DIRI DALAM DUNIA SOSIAL ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

 

Pepatah Jawa itu luar biasa banyaknya. Hanya saja kita tidak bisa memahami semuanya. Hal itu terkait dengan semakin rendahnya pemahaman kita tentang budaya dan filsafat Jawa. Kita rasanya semakin tidak Njawani. Kita semakin merasa bukan sebagai orang yang memahami Jawa secara seutuhnya. Menjadi orang Jawa itu hanya seperti kulit yang tipis di luarnya saja, sehingga yang tampak hanya lahiriyahnya sebagai orang Jawa, tetapi paham, sikap dan prilakunya sudah bukan lagi orang Jawa.

Pengaruh globalisasi memang luar biasa. Semenjak semua negara terbuka untuk menjadi global market, maka semuanya menjadi berubah. Kita tentu bukanlah orang yang anti perubahan. Perubahan adalah inti kehidupan. Siapa yang tidak mau berubah akan ketinggalan zaman. Begitulah ajaran di dalam kehidupan kita. Semuanya berubah, termasuk juga gaya hidup, perilaku, dan tindakan sehari-hari.

Jika orang yang usianya di atas 60 tahun, maka perilaku kejawaannya masih terlihat. Cara berkomunikasi, gaya bahasa, dan tindakannya masih bercorak sesuai dengan pemahaman, sikap dan perilaku orang Jawa. Orang Jawa yang lahir tahun 60-an ke bawah rasanya masih ngugemi sikap hidup sebagai orang Jawa. Tetapi bagi yang lahir tahun 80-an ke atas rasanya sudah tidak lagi atau sekurang-kurangnya rendah kejawaannya. Sementara itu generasi yang lahir tahun 60-80-an itu berada di dalam masa transisi antara sikap hidup sebagai orang Jawa dan perubahan social ke arah global.

Sebagai akibat global market, misalnya dalam konteks makanan, maka generasi milenial sudah jarang mereka itu memakan makanan seperti soto, rawon, gudeg, tengkleng, rujak dan jenis-jenis makanan Jawa lainnya, akan tetapi mereka lebih familiar dengan Kentucky Fried Chicken (KFC), McDonald (McD), AW, dan jenis-jenis makanan berbau barat lainnya. Makanan cepat saji ini berseirama dengan generasi milenial yang ingin serba instan dan cepat. Akibat globalisasi dalam berbagai segmen kehidupan, maka orang Jawa menjadi kehilangan kejawaannya. Life style dan kehidupannya dipengaruhi oleh factor luar tersebut.

Orang Jawa memahami bahwa setiap perilaku itu memiliki kaitan dengan derajad atau status social dan peranan yang dimainkannya. Orang Jawa sangat menghargai atas prestasi yang cocok dengan derajadnya. Orang Jawa sangat menghargai atas perilaku orang kaya yang tidak sombong, perilaku pejabat yang tidak sombong. Orang hebat yang tetap menghargai kesantunan. Dan orang istimewa yang tetap mengedepankan kesopanan.

Di antara filsafat hidup orang Jawa yang juga sangat menonjol adalah  empan papan. Secara harfiyah artinya adalah memahami di mana kita berada. Tetapi jangan salah bahwa jika kita berada di kalangan orang bejat juga menjadi bejat. Sebab di dalam empan papan tidak seperti itu yang dimaksudkan. Empan papan  itu menempatkan diri dalam relasi social yang sesuai dengan pangkat dan derajad kita, sesuai dengan prestasi, kapasitas dan moralitas kita. Orang Jawa tidak suka atas prilaku yang “semau gue” atau tidak menghargai lingkungannya. Dipastikan bahwa lingkungan social tersebut adalah lingkungan yang baik, yang bermoral dan relevan dengan ajaran agama yang dianutnya.

Salah seorang penyair Indonesia, Zawawi Imron, penyair “Celurit Emas” sering kali mengungkapkan bahwa “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Jadi jangan kita itu berada di suatu tempat atau wilayah tetapi tidak menggunakan norma dan moralitas yang relevan dengan tempat kita berada. Hargai moralitas dan norma yang dijadikan pedoman agar kita bisa melakukan yang terbaik untuk diri kita. Kita hidup di Indonesia dengan ajaran moralitas dan norma yang berasal dari ajaran agama, akan tetapi kita menggunakan etika dan norma yang berkembang di Eropa. Tidak bisa dengan dalih kebebasan, lalu kita melakukan segala sesuatu dengan permisif. Serba boleh. Jadikan ukuran untuk performance kita itu atas dasar nilai, norma dan moralitas yang bersumber dari relasi antara ajaran agama dan lokalitas yang berkembang. Yang agak politis, misalnya kita menjadi orang Indonesia, tetapi tidak mengakui common platform bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Kita hidup di Indonesia tetapi menginginkan system khilafah sebagai bentuk negara. Yang seperti ini namanya tidak empan papan.

Kita sebagai warga negara Indonesia tetapi cara kita berperilaku seperti orang barat yang permisif, yang serba boleh. Bahkan juga berpakaian yang tidak menggambarkan tata cara berpakaian orang Indonesia yang mengagungkan kesopanan. Melakukan sesuatu tindakan sebagaimana basis moralitas di mana kita hidup merupakan bagian tidak terpisahkan dalam prinsip orang Jawa.  Sesungguhnya, kita merupakan bagian dari lingkungan social di mana kita hidup. Tetapi juga jangan diartikan bahwa kala kita berada di negara dengan tindakan permissiveness kita juga harus melakukannya seperti itu.

Di dalam Islam terdapat ajaran uzlah atau menyendiri dalam lingkungan social yang permisif. Jika mayoritas orang melakukan perbuatan permisif, maka janganlah kita karena tuntutan lingkungan social lalu kita juga melakukannya. Jadi harus tetap diperhatikan bahwa tetap ada ajaran moral yang normative dan aplikatif yang tetap harus dipegang sebagai basis moralitas di dalam kehidupan.

Jadi, empan papan tidak berarti menoleransi atas tindakan yang keliru hanya karena relasi dan lingkungan social seperti itu.  Di dalam kondisi seperti ini, maka konsistensi menjaga moralitas tetap menjadi acuan. Empan papan tetap berada di dalam koridor menjaga yang baik dan menghindari yang jelek atau tetapi berada di dalam bingkai amar ma’ruf nahi mungkar.

Wallahu a’lam bi al shawab.