Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ISLAM ITU INDAH: MENJALIN SILATURRAHMI (4)

ISLAM ITU INDAH: MENJALIN SILATURRAHMI (4)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam pengajian yang diselenggarakan setiap hari Selasa atau pengajian Selasanan bakda subuh , maka secara sengaja saya menyampaikan satu tema tentang indahnya Islam karena Islam mengajarkan agar kita semua membangun relasi sosial yang akan membawa kepada kerahmatan bagi kehidupan kita semua. Sebelum mengaji marilah kita baca Surat Alfatihan semoga apa yang kita inginkan di dalam kehidupan diijabah oleh Allah swt. Syaiun lillah lahum alfatihah….

Salah satu keutamaan ajaran Islam adalah Islam sangat menganjurkan agar umatnya melakukan relasi sosial satu dengan lainnya. Tanpa harus membedakan apa warna kulitnya, bagaimana bentuk fisiknya, apa etnis dan golongan sosialnya dan bahkan apa agamanya. Di dalam hal ini, maka ajaran Islam menganjurkan agar manusia satu dengan lainnya melakukan hubungan sosial yang saling asah asih dan asuh. Relasi sosial yang seimbang, selaras dan menuju kepada keharmonisan dan kerukunan sosial.

Keragaman adalah sunnatullah yang kehadirannya merupakan keniscayaan. Jadi sebagai keniscayaan sosial. Tidak ada di dalam dunia ini masyarakat yang monokultur dan juga mono etnis. Dipastikan ada berbagai tradisi atau kebudayaan dan juga berbagai rasa atau kesukubangsaan. Allah memang menciptakan manusia dalam keragaman, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Hikmah diciptakannya keragaman adalah agar satu dengan lainnya saling mengenal atau saling memahami. Alqur’an menjelaskan li ta’arafu, yang arti harfiahnya adalah untuk saling mengenal dan bahkan untuk saling memahami satu dengan lainnya.

Allah menciptakan hamparan dunia ini dengan berbagai ragam kehidupan. Ada manusia, hewan, binatang. Ada makhluk maujud secara fisikal dan ada juga makhluk non maujud atau non fisikal. Di samping manusia, Allah juga menciptakan jin sebangsa manusia tetapi tidak kasat mata. Tetapi harus diyakini keberadaannya. Bahkan ajaran Islam sesungguhnya harus dijadikan sebagai pedoman bagi jin dan manusia. Allah menyatakan: “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun”. Yang artinya: “tidaklah kami (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”.

Sesungguhnya Allah sudah memberikan potensi bagi manusia untuk membangun relasi sosial berbasis pada pemahaman tentang siapa manusia di sekeliling kita. Bahkan Allah juga mengajarkan kepada kita sebagaimana tercantum di dalam surat AlHujurat ayat 10: “innamal mu’minuna ikhwahtun fa ashlihu baina akhawaikum wat taqullahu la’allakum turhamun”, yang artinya secara harfiyah adalah: “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, maka lakukan ishlah atau damaikan (jika ada masalah) di antara kamu, dan bertaqwallah kepada Allah jika kamu ingin mendapatkan kerahmatan”. Melalui ayat ini, maka Allah telah memberikan alternatif jika ada di antara kita yang berselisih. Bisa karena selisih paham, selisih pilihan dalam kehidupan, perbedaan paham agama, perbedaan amal ibadah dan sebagainya.

Di dalam kehidupan ini dipastikan bahwa ada masalah yang bisa dialami siapa saja. Masalah itu berbasis pada   ketidaksamaan pemahaman tentang sesuatu hal, atau karena ketidakmengertian, atau perbedaan di antara kita. Perselisihan paham bisa berangkat dari misalnya urusan jabatan, urusan harta, urusan pekerjaan, urusan keyakinan beragama dan sebagainya. Maka jika terjadi seperti ini, maka instrumennya adalah ishlah. Konsep ishlah hakikatnya harus berangkat dari keinginan untuk saling memahami perbedaan, atau saling memahami tujuan dan kepastian hidup masing-masing. Selain itu juga harus ada orang yang bersedia untuk menjadi penengah atau pendamai. Yang bisa menjadi pendamai adalah orang yang memahami kepentingan kedua belah pihak sehingga akan bisa berposisi netral di dalam menentukan kepastian apa yang akan dijadikan sebagai penyelesaian masalah. Tentu saja, di dalam penyelesaian masalah haruslah ada kemauan untuk saling mengalah dan bukan saling menang. Dalam istilah saya nyatakan harus ada kemauan untuk maju selangkah dan mundur  selangkah. Tanpa adanya kemauan untuk bernegosiasi seperti ini, maka penyelesaian masalah dipastikan akan sulit dilakukan. Di sinilah diperlukan seorang negosiator yang andal dan juga open mind dari para pelaku yang berselisih.

Jika masalah tersebut masalah individu, maka masih mudah untuk diselesaikan. Yang rumit adalah di kala yang terjadi adalah perselisihan komunal. Bisa saja masalah tersebut berasal dari masalah individu yang kemudian menjadi masalah komunal, dan bisa juga memang masalah komunal. Jika ini yang terjadi maka diperlukan upaya untuk rekonsiliasi melalui resolusi konflik. Ada beberapa Langkah di dalam resolusi konflik, yaitu: pertama, diperlukan sebuah tim rekonsiliasi yang berada di dalam kawasan netral baik dalam pemikiran, sikap dan perilaku. Kedua, mengenal dengan jelas apa yang menjadi akar masalahnya, sehingga akan bisa menemukan solusi atas masalah dimaksud, ketiga, melakukan negosiasi dengan actor atau agen yang bermasalah, yaitu dengan media pertemuan tertutup untuk menyamakan wawasan, keempat, yang menjadi representasi dari dua kubu adalah orang yang benar-benar menjadi perwakilan di antara yang bermasalah. Kelima, diandaikan bahwa pertemuan itu akan terjadi berulang-ulang untuk menghasilkan kesepahaman, sehingga tercapai titik temu di antara yang bermasalah.   Keenam, adanya kesepakatan di antara dua kelompok yang berselisih untuk menentukan sendiri jalan apa yang ditempuh dalam penyelesaian masalah, dan ketujuh, menjalankan kesepakatan di antara mereka. Apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan.

Islam sangat menghargai kebaikan, menghargai persahabatan, menghargai kesepahaman, menghargai titik temu dalam problem kehidupan serta menghargai ukhuwah Islamiyah, bahkan ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah. Islam adalah agama damai, Islam adalah agama untuk membangun keteraturan sosial, dan Islam adalah agama yang sangat menunjung tinggi relasi sosial berbasis kesetaraan dan keadilan.

Jadi kita harus melakukan relasi sosial yang baik dan bermanfaat agar citra Islam yang sedemikian indah tidak tereduksi dengan pemahaman, sikap dan perilaku kita yang tidak menghargai keindahan Islam dimaksud. janganlah kita menodai kesucian Islam dengan perilaku kita yang tidak terpuji.

Wallahu a’lam bi al shawab.

INDAHNYA AJARAN ISLAM: MEMBERI MAKANAN ROHANI (3)

INDAHNYA AJARAN ISLAM: MEMBERI MAKANAN ROHANI (3)

Prof. Dr. Nur Syam, Msi

Sebelum memulai pengajian rutin selasanan bakda shubuh, marilah kita membaca shurat al fatihah, ummul Qur’an, semoga dengan membaca ummul kitab ini, maka kita akan selalu diberikan rasa tenteram, aman dan berbahagia serta dimudahkan seluruh urusan kita, baik di dunia maupun di akhirat.  Syaiun lillah lahum alfatihah…

Selama ini kebanyakan ahli membagi tentang manusia dalam dua unsur, yaitu rohani dan jasmani. Atau terkadang membaginya dengan jiwa dan raga. Pembagian ini sudah sangat lazim di dalam Bahasa Indonesia dan dipahami oleh kebanyakan masyarakat. Pembagian ini tentu bukan salah, hanya kiranya perlu dicermati lagi untuk mendalami apakah masih ada peluang untuk menilai ulang mengenai pengenalan unsur manusia yang hanya dua saja. Saya sering bertanya di dalam pikiran saya, mungkin masih ada unsur lain di dalam diri manusia, yang kiranya perlu untuk dipahami.

Saya membagi unsur di dalam tubuh manusia itu dengan tiga, yaitu: Roh, Jiwa dan Raga atau Roh, Jiwa dan jasad. Jika jasad tentu sudah dipahami adalah tubuh atau fisik manusia, misalnya kepala, tangan, kaki, punggung, jari, mata, telinga dan seluruh hal yang terkait dengan fisik. Baik yang kelihatan dengan mata  atau melalui pengindraan, atau yang diketahui melalui alat atau teknologi kedokteran, misalnya paru-paru, jantung, hati, syaraf dan sebagainya. Di dalam dunia ilmu pengetahuan bahwa tubuh atau jasad tersebut memiliki kebutuhan yang bercorak biologis, misalnya kebutuhan makan, minum, seksualitas dan sebagainya. Pokoknya semua kebutuhan yang terkait jasad. Karena jasad itu fisik maka juga membutuhkan hal-hal yang bercorak fisik.

Roh adalah sesuatu yang lain. Roh adalah barang sesuatu yang tidak bercorak bendawi, yang bisa menghidupkan fisik yang tak berdaya, membangkitkan kehidupan manusia dari seonggok daging dan darah untuk menjadi makhluk hidup dan roh merupakan tiupan Tuhan ke dalam diri manusia. Hingga hari ini ilmu pengetahuan tidak bisa menjelaskan secara memadai tentang apakah roh itu, bagaimana dzatnya, dan bagaimana unsur-unsurnya dan sejumlah pertanyaan lainnya. Roh itu urusan Allah SWT, dan Nabi Muhammad SAW juga tidak menjelaskannya. Urusan Roh adalah keyakinan dan menjadi misteri ketuhanan. Jadi jasad dan roh saya kira sudah jelas. Jasad bisa dikaji secara empiris, sedangkan roh tidak bisa dikaji secara empiris. Roh adalah sesuatu yang misterius.

Nah yang perlu penjelasan mendalam adalah jiwa atau dalam dalam Bahasa Arab disebut sebagai al-nafs. Jiwa adalah kecendenderungan untuk melakukan tindakan atau melakukan sesuatu. Di dalam diri manusia terdapat “segumpal daging” jika ia baik maka akan baik seluruh kehidupan manusia dan jika jelek akan jelek seluruh kehidupan manusia. Di dalam hadits Nabi dijelaskan “ala wa inna fil jasadi mudzghatan, wa idza shaluhat shaluhal jasaduhu kulluh, wa idza fasadat fasadat jasadu kulluhu, wa hiya qalbu”. Yang artinya: “ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal darah, maka jika baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika jelek maka jeleklah seluruh jasadnya, dan itu adalah hati”. Hati itu bisa berupa fisik yang bisa diketahui dengan teknologi kedokteran, tetapi juga bisa non fisik. Sama dengan otak yang bisa dikaji secara medis melalui teknologi kedokteran, dan tentu ada dimensi nonfisik yang misterius. Dan yang misterius itulah yang bisa disebut sebagai jiwa atau  disebut sebagai nafsu. Apa itu nafsu, maka ilmu psikhologi mengkaji aspek yang bisa diobservasi yaitu perilaku. Maka akhir-akhir ini psikhologi disebut juga sebagai ilmu perilaku.

Manusia dikaruniai jasad yang berasal dari unsur tanah atau sari pati tanah. Seluruh makanan dan minuman manusia tersebut bercampur menjadi satu kesatuan, dari unsur nabati dan unsur hewani, dan kemudian menjadi sari pati di dalam tubuh menjadi sperma. Jika sperma bertemu dengan ovum, maka jadilah gumpalan daging dan darah  kemudian ditiupkan roh kepadanya, dan menjadi hidup. Jelaslah bahwa roh itu adalah “sesuatu” yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk menghidupkannya. Jadi roh berbeda dengan jiwa atau nafsu. Pada tulisan sebelumnya saya nyatakan bahw roh itu adalah netral. Dan di dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai nyawa. Roh atau nyawa ini yang menggerakkan tubuh.

Sedangkan nafsu adalah kecenderungan manusia kepada sesuatu, apakah kepada keduniawian atau keukhrawian.   Nafsu itu kecenderungan hati untuk melakukan, merasakan dan mengalami kehidupan.  Makanya, manusia bisa dilabel dengan kal malaikat atau seperti malaikat, yang selalu berkecenderungan untuk ibadah atau berlaku kebaikan, dan kal hayawan atau seperti hewan, yang selalu berkeenderungan memenuhi kebutuhan biologisnya. Jiwa dikenal memiliki unsur syahwat atau keinginan biologis, ghadhab atau nafsu kemarahan, nafsu untuk melakukan tindakan yang tak terkendali, dan nafsu natiqah yang terkait dengan nafsu kebaikan atau nafsu tenang dan dekat dengan dimensi ketuhanan.

Melalui gambaran seperti ini, maka kita sekurang-kurangnya bisa membedakan mana yang roh, mana yang jiwa dan mana yang jasad. Jika di dalam Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dinyatakan “bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”, maka terjemahannya adalah manusia memiliki dua hal penting, yaitu jiwa atau nafsu dan raga atau badan. Yang dibangun juga kesehatan raganya selain kesehatan jiwanya. Maka, janganlah memiliki jiwa keangkaramurkaan, karena hal ini bertentangan dengan pedoman dan ajaran agama dan juga kecintaan kepada Nusa dan bangsa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

HEBATNYA AJARAN ISLAM; AJARAN MEMBERI MAKAN (2)

HEBATNYA AJARAN ISLAM; AJARAN MEMBERI MAKAN (2)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum kita melanjutkan pengajian selasanan bakda shubuh, maka marilah kita membaca shurat Alfatihah, ummul qur’an, semoga dengan terus membaca shurat Alfatihah, maka kita akan dimudahkan Allah dalam segala urusan dan diberkahi kehidupan kita dengan kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat. Syaiun lillah lahum alfatihah…

Hadits Nabi Muhammad itu berbunyi: “sami’tu Rasulullah SAW yaqulu: Ya ayyuhan nas  ‘afsyus salam wa ath’imuth tha’am, wa shilul arham, wa shallu   wan nasu tsiyamun, tadkhulul Jannata bis salam”. Rawahu Tirmidzi. Yang artinya secara umum adalah: “saya mendengar Rasulullah SAW berkata: Wahai manusia sebarkanlah salam, berikan makanan, sambunglah tali silaturrahmi, dan shalatlah  kala manusia tertidur, maka masuklah surga dengan selamat”. Hadits ini dinukil dari Kitab Riyadhus Shalihin, karya Imam Nawawi. Pada tulisan yang lalu sudah saya jelaskan tentang hebatnya salam.

Di dalam hadits ini dijelaskan mengenai ath’imuth tho’am atau dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “berikan makan”. Secara tekstual, maka yang namanya makan tentu merupakan pemenuhan kebutuhan fisik. Jadi makan itu terkait dengan fisik atau pemenuhan kebutuhan biologis. Jadi jika menggunakan makna tekstual maka hadits ini memberikan arahan agar manusia memberikan makanan kepada manusia lainnya, atau bahkan tidak hanya manusia tetapi juga kepada makhluk Tuhan lainnya yang membutuhkan makan. Jadi secara etimologis, memberi makan itu artinya adalah dalam wujud makanan. Bisa nasi atau lainnya. Apa saja yang secara fisikal bisa mengenyangkan.

Namun saya berusaha untuk memahami secara terminologis makna dari memberi makan. Saya memahami bahwa memberi makan itu tidak terbatas pada pemberikan makan fisik dalam bentuk makanan yang mengenyangkan perut, tetapi bisa dimaknai lainnya, yaitu makanan fisik, makanan jiwa dan makanan rohani. Makanan fisik sudah jelas, tetapi makanan jiwa dan makanan rohani ini yang saya kira diperlukan penjelasan lebih lanjut.

Manusia memiliki tiga unsur, yaitu: unsur fisik atau biologis, unsur jiwa dan unsur roh. Di Indonesia hanya dikenal dua saja unsur dalam diri manusia, yaitu: jiwa dan raga. Jiwa di dalam Bahasa Arab disebut an nafs. Maka ilmu jiwa disebut sebagai ilmun nafs. Jadi jiwa itu bisa dipelajari. Ekspressi jiwa adalah perilaku. Dan perilaku bisa dikaji secara ilmiah. Sedangkan roh itu sesuatu yang tidak bisa dipelajari, karena roh itu ditiupkan Tuhan kepada manusia sehingga mengandung dimensi Ketuhanan atau aspek misteri ketuhanan. Hanya Allah saja yang tahu tentang roh, bahkan kala Nabi Muhammad SAW ditanya tentang roh, maka Nabi Muhammad SAW menyatakan roh itu urusannya Allah, dan kita tidak diberikan ilmu kecuali sedikit. “Wa yas’alunaka ‘anir ruh, kulir ruhi min ‘amri rabbi,  wa ma utitum minal ‘ilmi illa qalilan”, (Surat Al Isra’ ayat 85),  yang artinya kurang lebih: “dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh,  katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku, Dan  tidaklah kamu  diberikan pengetahuan  kecuali sedikit”.

Lalu, apakah perbedaan antara roh dan jiwa. Jawabannya adalah roh itu merupakan “sesuatu” yang ditiupkan Allah kepada janin manusia. Dengan roh itulah maka manusia menjadi hidup. Sebelumnya masih merupakan gumpalan daging dan darah dan kemudian setelah ditiupkan roh oleh Allah, maka jasad tersebut bernyawa. Menjadi hidup. Lalu jiwa adalah yang mengantarai relasi atau hubungan antara badan atau jasad dengan roh. Secara skematis bisa digambarkan jiwa berada di tengah-tengah antara jasad dan roh. Jiwa berisi tentang kecenderungan untuk melakukan sesuatu. Jiwa atau nafs memiliki kecenderungan terkait dengan pilihan-pilihan di dalam kehidupan. sedangkan roh itu netral karena roh adalah tiupan  Allah pada diri manusia. Oleh karena itu, jiwalah yang memainkan peranan penting di dalam kehidupan ini. Adakalanya jiwa itu lebih dekat kepada dunia jasad atau mengikuti keinginan jasad atau nafsu biologis dan ada kalanya cenderung kepada roh atau dimensi ketuhanan. Di dalam konsepsi Islam, jiwa itu adakalanya seperti binatang atau kal hayawan dan adakalanya kal malaikat. Jiwa bisa dekat kepada roh dan bisa dekat ke jasad. Islam membagi nafsu itu bermacam-macam, yaitu: nafsul muthmainnah  atau jiwa yang tenang yang penuh dengan dimensi ketuhanan, dan ada nafsul lawwamah atau jiwa yang dekat kepada jasad penuh dengan keinginan-keinginan duniawi sehingga akhirnya menyesali kenyataan tersebut, dan nafsul ammarah atau jiwa yang selalu berkecenderungan untuk memenuhi hasrat hidup dalam segala aspek dengan kekuasaan dan  kekuatan.  Jiwa yang tenang penuh dengan sifat-sifat kebaikan, akan mengantarkan manusia untuk dekat dengan Tuhan, sementara itu jiwa yang penuh dengan nafsu keduniawian dalam segala aspeknya akan mendekatkan kepada kehidupan biologis dan menjauhkannya dari Tuhan, sementara itu jika kemudian ada penyesalan atas kesalahan yang dilakukan maka dia memasuki jiwa penyesalan, bisa kepada kebaikan atau sebaliknya.

Sesungguhnya Allah SWT sudah memberikan kepada manusia cara untuk memasuki nafsu mutmainnah melalui makanan jiwa atau asupan jiwa. Asupan jiwa tersebut dapat berupa mengamalkan kebaikan-kebaikan sesuai dengan ajaran Islam, misalnya mendengarkan pengajian, mengaji Alqur’an, atau melakukan dzikir secara terstruktur dan amalan-amalan shalih lainnya yang jumlahnya sangat banyak. Asupan jiwa dapat diperoleh melalui kehadiran guru atau belajar sendiri (otodidak) dari sumber-sumber yang diyakini kesahihannya.

Dari penjelasan ini, maka ath’imuth tho’am  itu tidak hanya bermakna makanan fisik dalam bentuk makanan atau minuman, atau lainnya yang bersifat jasadiyah, akan tetapi juga pemberian atau pengisian batin atau jiwa dengan amalan-amalan kebaikan, yang dipastikan akan menjadikan kita akan lebih baik dan lebih baik lagi.

Wallahu a’lam bi al shawab.

HEBATNYA AJARAN ISLAM; MENEBARKAN KESELAMATAN (1)

HEBATNYA AJARAN ISLAM: MENEBARKAN  KESELAMATAN (1)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum melanjutkan ngaji Selasanan Bakda Shubuh, marilah terlebih dahulu membaca shurat Alfatihah, Ummul Kitab, semoga dengan membaca shurat alfatihah, maka kita bisa dimudahkan oleh Allah dalam menggapai apa yang baik dan bermanfaat untuk diri kita. Semoga dengan membaca shurat Alfatihah, maka Allah memberikan keberkahan untuk kita semua. Syaiun lillah lahum alfatihah…

Di antara keutamaan amal manusia di dalam kehidupan ini adalah  menebarkan keselamatan atau di dalam konteks ajaran Islam disebut afsyus salam. Sebagai orang Islam kita dianjurkan oleh Rasulullah Muhammad SAW untuk menyebarkan keselamatan. Inilah keindahan ajaran Islam yang kita pahami. Hadits Nabi Muhammad itu berbunyi: “sami’tu Rasulullah SAW yaqulu: Ya ayyuhan nas  ‘afsyus salam wa ath’imuth tha’am, wa shilul arham, wa shallu   wan nasu tsiyamun, tadkhulul Jannata bis salam”. Rawahu Tirmidzi. Yang artinya secara umum adalah: “saya mendengar Rasulullah SAW berkata: Wahai manusia sebarkanlah salam, berikan makanan, sambunglah tali silaturrahmi, dan shalatlah  kala manusia tertidur, maka masuklah surga dengan selamat”. Hadits ini dinukil dari Kitab Riyadhus Shalihin, karya Imam Nawawi.

Marilah kita perhatikan sabda Nabi Muhammad SAW ini, yaitu Nabi Muhammad SAW meminta kita untuk menyebarkan salam atau menebarkan keselamatan. Inti kehidupan adalah keselamatan. Menurut seorang ahli, namanya Franz Magnis Suseno, bahwa filsafat hidup orang Jawa itu adalah rukun, harmoni dan slamet. Saya kira hal ini bukan saja filsafat orang Jawa tetapi orang Indonesia atau masyarakat Nusantara. Masyarakat Indonesia itu adalah masyarakat yang sangat mengagungkan kerukunan hidup. Kerukunan merupakan fondasi kehidupan. Di dalam filsafat Jawa dinyatakan “rukun agawe santosa, congkrah agawe bubrah”. Artinya bahwa “kerukunan membawa ke arah kedamaian dan konflik membawa ke arah kerusakan”. Jadi kalau kita ingin hidup damai, maka syaratnya adalah mengedepankan kerukunan di dalam kehidupan.

Kemudian  harmoni yaitu hidup yang selaras. Harmoni dengan tetangga, harmoni dengan komunitas, dan selaras dengan seluruh masyarakat. Jika ada masalah harus diselesaikan dengan duduk bersama dan bukan dengan kemarahan dan kebencian. Jika kerukunan sudah dirajut dan keselarasan sudah dikerjakan, maka kita akan menuai keselamatan. Bagi kita keselamatan adalah segala-galanya. Tujuan hidup yang paling tinggi adalah menjaga agar hidup kita selamat.

Di dalam kehidupan dipastikan ada masalah, sebab masalah adalah rangkaian di dalam kehidupan di dunia ini. Kebahagiaan hakikatnya di kala kita bisa menyelesaikan masalah kehidupan, baik masalah yang besar maupun kecil. Hidup merupakan rangkaian dari penyelesaian masalah. Makanya janganlah takut kepada permasalahan, yang penting kita harus siap untuk menemukan solusi atas masalah yang kita hadapi. Adakalanya kita perlu kawan atau sahabat untuk menyelesaikannya. Ini hal yang wajar saja di dalam kehidupan kita.

Di sinilah kuncinya mengapa Rasulullah meminta kepada kita untuk menebarkan salam. Salam di dalam Islam itu doa kepada Allah agar kita diberikan keselamatan. Jadi di kala kita membaca “assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuhu” atau artinya “semoga Allah menyelamatkan kamu dan Allah memberikan rahmatnya kepadamu dan Allah memberikan berkahnya kepada kamu”. Hal ini berarti bahwa kita berdoa untuk  sesama muslim agar selalu berada di dalam  keselamatan. Alangkah senangnya melihat orang selamat dan kita semua selamat. Jadi bukan Senang Melihat orang Susah (SMS) dan harus Suka Melihat orang Senang (SMS).

Kita harus meyakini bahwa apa yang diminta oleh Nabi Muhammad SAW untuk kita lakukan tentu dipastikan ada hikmah yang terkandung di dalamnya dan jika Rasulullah melarang kita untuk melakukannya juga dipastikan ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Jika Rasulullah menyuruh kita untuk menebarkan salam, karena Islam sesungguhnya merupakan agama yang memberikan keselamatan. Islam bukan agama yang cenderung kepada kekerasan. Islam mengajarkan agar dengan agama Islam manusia menjadi selamat di dalam kehidupan. Dalil yang sangat jelas menyatakan: Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin” yang artinya secara general adalah “Dan kami (Allah) tidak menurunkanmu (Muhammad) kecuali untuk kerahmatan bagi seluruh alam”.

Kita semua berharap semoga Allah menyelamatkan kita di dunia maupun di akherat.  Sebagaimana doa kita: ”rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar”. Ya Allah berikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”. Doa ini sering disebut sebagai doa sapu jagat.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

MARI MENJAWAB SALAM NON MUSLIM 

MARI MENJAWAB SALAM NON MUSLIM

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebelum kita mengaji Selasanan bakda Shubuh, marilah kita terlebih dahulu membaca shurat Alfatihah, ummul kitab, semoga dengan membaca ummul kitab ini, kita diberikan keselamatan, dan kebahagiaan di dalam kehidupan kita di dunia dan akhirat. Semoga juga kita diberikan keberkahan kesehatan, sehingga ibadah kita kepada Allah menjadi optimal sebagai bagian dari pengabdian kita kepada Allah SWT. Syaiun lillah lahum alfatihah…

Menjawab salam adalah urusan muamalah atau relasi sosial di antara umat manusia. Salam artinya adalah selamat. Jika kita mengucapkan salam berarti kita menyatakan “semoga keselamatan ada pada kalian” atau “semoga keselamatan ada pada kamu” atau “semoga keselamatan ada pada kita”. Jadi ucapan salam adalah ucapan terbaik, karena mengandung doa atau permohonan kepada Allah agar kita diselamatkan.

Ada banyak hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan tentang salam atau menyebarkan keselamatan. Di antara hadits itu adalah: “anna rajulan sa’ala Rasulullah, “ayyul Islami khairun”, faqala: “tuth’imuth tho’am, wa taqraus salami ila man ‘arafta ma man lam ta’rif”. Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Arti secara umum adalah “sesungguhnya seseorang datang kepada Rasulullah dan bertanya, “manakah Islam yang baik itu? Lalu Rasul menjawab: “berikanlah makan, ucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal”.

Kalau mengucapkan salam kepada orang Islam atau sesama muslim kiranya tidak ada masalah. Jawablah salam sebagaimana tuntutan Nabi Muhammad SAW. Jika seseorang mengucapkan assalamu alaikum, maka jawablah dengan lebih komplit “waalaikum salam warahmatullah, dan jika seorang muslim mengucapkan assalamu alaikum warahmatullah, maka jawablah dengan waalaikum salam warahmatullah wabaraktuh. Dan jika seorang muslim menyatakan “assalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh, maka jawablah wa alaikum salam  warahmatullah wabarakatuh”. Untuk menjawab salam dari umat Islam sudah selesai. Artinya tidak ada problem mendasar di dalamnya. Jadi untuk menjawab ‘ala man ‘arafta” sudah clear and clean.

Tetapi ada problem terkait dengan bagaimana menjawab yang “wa man lam ta’rif”. Nabi meminta kita mengucapkannya juga kepada orang yang tidak kita kenal. Bisa jadi mereka adalah orang selain beragama Islam, misalnya  Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Di sinilah maka memunculkan problem bagaimana menjawab salam orang non muslim dan bagaimana mengucapkan salam bagi non muslim. Bagi masyarakat Indonesia, ucapan salam “assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh” itu sudah menjadi bahasa nasional. Artinya tidak lagi dikaitkan dengan apa agama mereka. Tidak Islam, Hindu, Buddha, Kristen, Katolik dan Konghucu juga mengucapkannya pada forum-forum resmi. Jika forum itu dihadiri oleh beraneka ragam umat beragama, maka ucapan salam itu telah menjadi tradisi. Hanya pada forum khusus agama, maka ucapan salam tidak dilakukan, misalnya forum Buddha saja atau Hindu saja, maka ucapan salam tidak dilakukan.

Dalam menjawab salam yang dikatakan oleh umat nonmuslim, maka pada ulama atau ahli fiqih bersepakat bagaimana dan apa jawabannya. Bahkan di dalam Riwayat juga diceritakan di kalangan ulama Syafi’iyah juga berbeda pendapat tentang tata cara menjawab salam bagi nonmuslim. Untuk menjawab salam bagi orang nonmuslim, berdasarkan kajian para ulama nyaris tidak ada perbedaan, karena dalilnya jelas. Tidak ada perbedaan tentang jawaban atas salam yang dikemukakan oleh nonmuslim. Jawabannya adalah “wa’alaikum”. Jadi di kala ada orang nonmuslim yang mengucapkan salam, meskipun dengan salam yang lengkap “assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuhu”, maka jawabannya adalah “waalaikum”. Bisa juga “wa’alaikum salam”. Tetapi ulama ahli sunnah wal jamaah juga menyatakan seperti itu, tetapi tidak ditambah dengan “warahmatullah wa barakatuhu”. Sebab ungkapan “warahmatullahi wa barakatuhu” itu tentu khusus bagi umat Islam.

Tetapi juga ada peristiwa di mana seorang Yahudi mengucapkan “as samu ‘alaikum”  pada saat Nabi sedang bersama sahabat-sahabatnya. Maka Nabi Muhammad SAW juga menjawabnya dengan “waalaikum”.  As sam itu artinya: “celakalah kamu” atau binasalah kamu. Di sinilah Nabi Muhammad memberikan jawaban “juga celakalah kamu”. Sampai-sampai seorang sahabat Nabi Muhammad SAW akan melakukan tindakan kekerasan, tetapi Nabi Muhammad SAW melarangnya.

Tentang membalas salam kepada nonmuslim, maka terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Buchori dan Imam Muslim, yang bunyinya: “idza salama alaikum ahlul kitabi faqulu: wa’alaikum”. Yang artinya: “apabila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka katakanlah ‘dan atas kalian” . Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar di dalam menjawab salam dari nonmuslim (di dalam hadits ini hanya disebut ahlul kitab), maka dinyatakannya agar kita menjawab dengan “wa’alaikum”.

Ungkapan salam itu adalah ungkapan doa. Sebuah permohonan kepada Allah agar kita diselamatkan oleh Allah. Sebagai doa tentu salam itu sebaiknya dilakukan untuk sesama umat Islam. Jadi jika kepada umat nonmuslim, maka sebaiknya doa keselamatan kepada Allah itu tidak perlu disampaikan. Secara logika, bahwa kala ada orang yang mengucapkan yang baik, maka seharusnya juga dijawab dengan baik. Inilah prinsip Islam yang saya kira bisa menjadi pegangan bagi kita semua.

Wallahu a’lam bi al shawab.