• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENYAMBUT NISFU SYA’BAN: NGAJI DAN MAKAN BARENG

MENYAMBUT NISFU SYA’BAN: NGAJI DAN MAKAN BARENG

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Doa kita akhir-akhir ini adalah Allahumma bariklana di Rajab wa Sya’ban wa balighna Ramadlan. Yang artinya: “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan usia kami pada bulan Ramadlan”. Sebuah doa dan kepasrahan untuk meminta kepada Allah agar kehidupan kita  di bulan Rajab dan Sya’ban itu diberkahi Allah SWT dan kemudian dipanjangkan usia kita untuk hidup pada bulan Ramadlan.

Di dalam kenyataannya, ada orang yang tidak diberi peluang oleh Allah SWT karena keburu dipanggil menghadap-Nya menjelang bulan Ramadlan. Ada yang tiba-tiba sakit dan kemudian meninggal. Maka doa kita adalah agar kita dipanjangkan usia,  sehingga bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadlan, bahkan Ramadlan yang akan datang. Melalui panjangnya usia, maka kita masih diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi waktu yang sudah dijanjikan oleh Allah, yang tidak bisa dimajukan atau dimundurkan, yaitu datangnya  Malaikat Izrail, Sang Pencabut nyawa.

Tanpa dirasakan ternyata kita sudah sampai pada pertengahan bulan Sya’ban yang dikenal sebagai  nisfu sya’ban. Dan sebagaimana biasanya, pada malam nisfu sya’ban, maka umat Islam Indonesia melakukan serangkaian kegiatan untuk menyambutnya. Tradisi seperti ini hanya khusus di Indonesia saja. Mungkin ada juga di negara lain, tetapi tidak seramai di Indonesia. Masyarakat Indonesia memang doyan upacara-upacara keagamaan. Misalnya upacara idul fithri dan keanekaragaman acara di seputarnya, yang sangat ramai di Indonesia. Padahal di Saudi Arabia tidak dijumpainya. Upacara atau hari raya idul fithri itu sedemikian gegap gempita dengan pulkam atau pulang kampung.

Pada tahun 2023 M atau 1444 H, maka Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya juga menyelenggarakan acara ˜nisfu sya’ban, yang diselenggarakan pada malam Rabo, 07/03/2023 ba’dan maghrib. Sebuah acara yang sangat sederhana. Sebab hanya diikuti oleh sejumlah orang dari warga perumahan. Bahkan tidak semuanya. Di antara yang hadir adalah Ketua Takmir, Pak Rusmin, Sekretaris Ta’mir Pak Budi, Bendahara Ta’mir, Pak Hardi, Firdus, Alif, Pak Suyuti Rasyad, dan lain-lain. Sementara juga hadir para Ibu-ibu perumahan Lotus, yaitu Bu Indah Nur, Bu Suyuti, Bu Rusmin, Bu Budi, Bu Ina, dan lain-lain.

Sebagai acara yang sederhana, maka Firdaus yang membuka acara ini, saya yang mengantarkan acara nisfu sya’ban, Alif yang memimpin bacaan Yasin, dan Pak Suyuti yang memimpin doa. Sebagai pengantar, saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, kita harus terus mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas kenikmatan bisa hidup sampai hari ini. Dan kita masih diizinkan hidup. Semoga kita bisa menikmati bulan Ramadlan hingga akhir dan bertemu dengan bulan Ramadlan berikutnya. Kita diizinkan sehat, kita diberikan kecukupan hidup, kita diberikan kehidupan yang layak dan kenikmatan lain yang tidak bisa dihitung. Bahkan kita tidak akan bisa menghitung atas nikmat Allah tersebut.

Kedua, pada malam hari ini, kita secara bersama-sama akan menyambut datangnya malam nisfu Sya’ban.  Suatu malam yang Allah SWT akan memberikan banyak pahala atas kebaikan yang kita lakukan. Allah menganjurkan agar kita melakukan amal kebaikan pada malam nisfu Sya’ban.  Makanya kita akan membaca surat Yasin, sebagaimana tradisi ulama. Tidak usah dipertanyakan kenapa surat Yasin. Silahkan bagi yang mau membaca surat-surat Al Qur’an lainnya silahkan, misalnya membaca Surat Arrahman, Al Waqiah, An Naba’ atau Al Ikhlas. Pokoknya membaca Al Qur’an. Kita juga akan membaca Shalawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, kita juga akan membaca kalimat tauhid. Yang penting pada malam ini kita baca kalimat-kalimat yang menjadi kesukaan Allah SWT, bacalah dalam  jumlahnya yang ganjil, bisa 3 atau 5 atau 33 dan sebagainya. Bagi yang membaca shalawat 100 kali maka malam ini menjadi 200 kali, yang membaca kalimat tauhid 33 kali,  tambah jumlahnya.  Selain itu juga sedekah. Ingat ash shadaqatu tadfa’u lil bala’.  Yang artinya: “sedekah itu menghindarkan dari marabahaya”. Bahkan  kita membuat orang lain tertawa saja sudah memperoleh pahala.  Idkholus surur. Dan membuat senyum pada orang lain itu adalah amalannya Rasulullah Muhammad SAW. Kita bikin tertawa pasangan hidup kita masing-masing juga sedekah. Agar keluarga kita senang dan bahagia.

Ketiga, saya mengucapkan terima kasih karena malam ini kita bisa  sedekah. Ada makanan gulai sapi, pisang goreng, roti, dan sebagainya. Alangkah enaknya selesai membaca Surat Yasin, shalawat dan istighfar lalu kita bisa makan Bersama. Inilah indahnya menjadi umat Islam. Dalam satu acara,  tidak hanya ada satu pahala tetapi banyak pahala. Ada pahala baca surat fatihah, ada pahala membaca surat Yasin, ada pahala membaca istighfar, kalimat tauhid, dan shalawat Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga ada doa. Sungguh doa itu amalan yang penting. Bahkan ada yang menyatakan bahwa selain usaha dan tawakkal, maka ada doa yang menjadi kunci. Doa itu memegang kunci keberhasilan.

Saya sungguh mengucapkan terima kasih atas kesediaan ibu-ibu untuk membawa makanan di tempat ini. Hal ini merupakan sedekah yang nyata. Oleh karena itu kita berharap bahwa ada keikhlasan dalam membawa makanan sebagai sedekah bersama ini. Sebab keikhlasan memegang kunci penting dalam pemberian pahala oleh Allah SWT. Kita telah memberikan yang terbaik untuk kita. Dari kita untuk kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

ANAK POLAH BOPO KEPRADAH: RELASI TANGGUNGJAWAB DALAM TRADISI JAWA

ANAK POLAH BOPO KEPRADAH: RELASI TANGGUNGJAWAB DALAM TRADISI JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Keluarga memiliki banyak peran, dan salah satunya adalah peran tanggung jawab sosial di dalam keluarga. Seorang ayah dan ibu memiliki tanggungjawab yang sedemikian besar pada anak-anaknya dan keluarga yang berada di dalam rumah tangganya. Sedemikan besar  tanggung jawab tersebut, maka orang tua rela melakukan apa saja untuk kebahagiaan anak-anaknya. Orang tua akan bersedian untuk memenuhi keinginan anak-anaknya. Apa saja akan dilakukan agar cita-cita anak-anaknya dapat terealisasikan.

Saya kira seluruh orang tua di dunia akan memiliki perlakuan yang hampir sama terhadap anak-anaknya. Memberi asupan makanan, memberikan kasih sayang, dan memberikan tanggung jawab atas apa yang diinginkan oleh anak-anaknya. Hanya pada kasus khusus saja jika ada orang yang menelantarkan anaknya, menitipkan anaknya ke panti asuhan atau bahkan berbuat kekerasan pada anaknya. Kehidupan sosial termasuk kehidupan keluarga memang kompleks dan terkadang juga ada yang berdeviasi atau menyimpang. Tetapi secara umum bahwa kasih sayang orang tua itu sungguh tidak terbatas. “Kasih sayang anak sepanjang galah, kasih sayang orang tua sepanjang jalan”

Tidak hanya manusia yang sedemikian besar tanggung jawabnya pada anaknya. Hewan juga memiliki kasih sayang yang luar biasa. Ada banyak tayangan di you tube yang bercerita bagaimana kasih sayang hewan atas anaknya. Bahkan rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan anaknya. Tayangan yang mengharukan bagaimana hewan memiliki rasa kasih sayang yang demikian hebat.

Di dalam cerita Alqur’an terdapat suatu cerita yang mungkin aneh di dalam benak kita, yaitu tentang pengorbanan Nabi Ismail untuk memenuhi perintah Tuhan. Kala Ismail sudah menginjak remaja, maka Allah perintahkan untuk mengorbankannya. Hal ini dilakukan semata-mata menguji kesetiaan dan kepatuhan Nabi Ibrahim atas perintah Allah. Ternyata Nabi Ibrahim sangat mematuhi perintah tersebut. Ismail pun memberikan dukungan atas pelaksanaan perintah dimaksud. Tapi ending cerita ini berakhir bahagia, sebab Nabi Ismail yang akan dikorbankan tersebut tiba-tiba berubah menjadi domba besar. Dari ajaran agama seperti ini, maka kemudian menghasilkan ritual korban yang jatuh pada hari raya Haji.

Salah satu di antara filsafat hidup orang Jawa adalah anak polah bopo kepradah. Yang arti dalam Bahasa Indonesia adalah anak melakukan sesuatu orang tua yang harus bertanggung jawab. Orang tua tidak ikut melakukan perbuatannya akan tetapi orang tua yang harus mempertanggung jawabkan. Itulah hukum dunia. Anak adalah bagian tidak terpisahkan dari orang tuanya. Anak merupakan replica orang tuanya. Jika anak melakukan kebaikan, maka kebaikan itu merupakan replica orang tuanya, tetapi anak yang melakukan kejelekan belum tentu merupakan replica orang tuanya. Tetapi perbuatan baik dan buruk anak seringkali diasosiasikan dengan perilaku orang tua.

Ada anak yang melakukan kebaikan, maka dinyatakan orang: “anak siapa ya, begitu bagus amal perbuatannya”. Demikian pula jika ada anak yang melakukan kejahatan, maka orang lalu menyatakan: “pantes anaknya fulan, kelakuannya seperti itu”. Tetapi ada yang orang tuanya melakukan perbuatan sangat baik, tetapi anaknya justru berlaku sebaliknya. Jadi di dalam kehidupan ini ada bermacam-macam perilaku manusia yang bisa saja tidak tergantung kepada siapapun. Semua  tergantung pada pilihannya.

Putra Nabi Nuh, Kan’an, juga tidak mengindahkan ajakan orang tuanya untuk mengikutinya. Kala disampaikan bahwa akan ada banjir besar dan dimintanya untuk masuk ke dalam kapal Nabi Nuh, maka Kan’an justru menjawab bahwa dia akan naik gunung yang tinggi, dan akhirnya tenggelam. Jadi  merupakan gambaran bahwa anak seorang Nabi pun bisa saja tidak mengikuti dakwah orang tuanya.

Di dalam tradisi Jawa terdapat suatu filsafat kehidupan, yaitu anak polah bopo kepradah.  Jika anak melakukan suatu tindakan,  maka orang tuanya yang harus mempertanggung jawabkannya. Anak yang melakukan tindakan kejahatan dan orang tuanya yang harus mempertanggung jawabkan atas tindakan tersebut. Anaknya yang mencuri tetapi kala ditangkap polisi maka orang tuanya yang harus membebaskannya. Anaknya yang menjadi berandal tetapi bapaknya yang kena getahnya.

Tetapi di sisi lain, juga terdapat anak yang menjadi penghafal Alqur’an sementara itu orang tuanya bukanlah ahli agama. Orang tuanya bukan seorang ulama, kyai atau ahli agama yang hebat. Ternyata memang hidup ini ada kalanya antara apa yang dilakukan orang tuanya bisa saja berbeda dengan prilaku anak. Jadi yang terpenting bahwa apapun yang dilakukan anak tidak semata-mata menggambarkan siapa orang tuanya. Masih ada factor lain, misalnya factor lingkungan yang menyebabkan terjadinya perilaku seseorang.

Islam mengajarkan: “”kullu mauludin yuladi ‘alal fithrah. Fa in abawahu yuhawwidanihi, auw yunasshiranihi auw yumajjisanihi”. Yang artinya kurang lebih “setiap anak dilahirkan dalam keadaaan suci, maka orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”. Dari sini bisa diambil suatu kesimpulan bahwa orang tua termasuk lingkungan memang memiliki pengaruh atas perilaku anak, dan menjadi pantas jika kala anak melakukan suatu tindakan kemudian  orang tuanya ikut mempertanggung jawabkannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

NGUNDHUH WOHING PAKARTI: FILSAFAT AKIBAT TINDAKAN ORANG JAWA

NGUNDHUH WOHING PAKARTI: FILSAFAT AKIBAT TINDAKAN ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Tidak ada fakta yang berdiri sendiri kecuali ada fakta penyebabnya. Demikianlah kehidupan manusia juga tidak ada suatu hal atau perilaku yang berdiri sendiri kecuali berkaitan dengan fakta-fakta lain yang mengitarinya. Demikianlah konsepsi ahli ilmu sosial di dalam melihat kehidupan manusia dengan keanekaragaman perilaku di dalamnya. Manusia juga dipastikan melakukan sesuatu yang  ada kaitannya dengan orang lain atau yang disebut sebagai medan interaksi sosial.

Di dalam konsepsi ahli ilmu sosial lainnya juga dinyatakan bahwa tidak ada suatu tindakan  yang tidak didasari oleh tujuan tertentu. Manusia melakukan tindakan rasional bertujuan atau ada tujuan dibalik seseorang melakukan sesuau atau individu di dalam melakukan tindakannya. Setiap tindakan yang ditujukan kepada orang lain disebut sebagai tindakan sosial atau social action. Jadi, tidak ada orang yang melakukan tindakan yang ditujukan kepada orang lain tanpa tujuan. Jika ada orang yang melakukan sesuatu tanpa didasari oleh tujuan melakukannya, maka tidak disebut sebagai tindakan sosial. Orang gila misalnya melakukan tindakan yang tidak bisa disebut sebagai Tindakan sosial karena tidak ditujukan tindakannya tersebut untuk orang lain.

Di dalam filsafat Jawa dikenal ada suatu konsep yang disebut sebagai ngundhuh wohing pakarti, yang di dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan mendapat akibat dari  perilakunya. Akibat tersebut bisa positif dan bisa juga negative tergantung dari apa yang dilakukannya. Jika yang dilakukannya baik, maka akan berakibat kebaikan dan jika yang dilakukan kejelekan akan berakibat pada kejelekan. Jadi akibat itu erat kaitannya dengan apa yang dilakukan oleh seorang individu.

Di dalam cerita pewayangan, misalnya di dalam cerita Ramayana atau Baratayudha, maka didapatkan gambaran bahwa para Kurawa itu kalah di dalam peperangan karena tindakan licik yang dilakukannya selama itu  terhadap para Pandawa. Misalnya di dalam episode Pandawa Main Dadu, misalnya kemenangan Kurawa adalah karena kelicikan Mahapatih Sangkuni, dan salah satu episode yang sangat bertolak belakang dengan moral dan perilaku seorang ksatria adalah di kala Dursasono menelanjangi Dewi Drupadi istri Yudistira. Tetapi karena pertolongan para Dewa, maka Dewi Drupadi tidak bisa ditelanjangi karena kain yang dipakai itu tidak ada ujungnya. Dari sini, Dewi Drupadi bersumpah atau supata bahwa dia akan meminum darah Dursasono, dan akhirnya itulah yang terjadi. Demikian pula di dalam cerita Ramayana, Dosomuka atau Rahwono  akhirnya juga harus menelan kekalahan di dalam peperangan melawan Romowijoyo. Indrajit yang memiliki kesaktian tiada tara juga bisa dikalahkan, demikian pula Dosomuko yang memiliki kesaktian tiada tara juga berhasil dikalahkan oleh Romowijoyo.

Di dalam tradisi Jawa itu semua menggambarkan yang disebut sebagai ngundhuh wohing pakarti. Menerima akibat dari perilakunya yang tidak baik. Pandangan hidup orang Jawa sangat dipengaruhi oleh kayakinannya bahwa perilaku baik akan menghasilkan kebaikan dan perilaku kejahatan akan menghasilkan kejahatan. Siapapun yang melakukan kebaikan maka dipastikan akan memperoleh ganjaran atau pahala yang berupa kebaikan, dan siapa yang melakukan kejahatan juga akan memperoleh akibat dari apa yang dilakukannya tersebut.

Di dalam kehidupan sehari-hari akan dengan sangat mudah untuk diketahui tentang hal tersebut. Misalnya jika kita adalah seorang pemimpin yang baik, maka akan dikenang kebaikan kita itu, tetapi jika kita bukan pemimpin yang baik juga akan dikenang oleh orang lain tentang kepemimpinan kita itu. Pemimpin yang baik adalah yang mengedepankan humanisme sebagai inti kepemimpinan. Di dalam Bahasa Jawa disebut sebagai Nguwongke uwong atau memanusiakan manusia. Sebuah ungkapan yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan. Harimau mati meningglkan belang, gajah mati meninggalkan daging dan manusia mati meninggalkan budi baik.

Jika kita suka menolong orang, maka kita juga akan ditolong orang. Jika kita suka memberikan sedekah kepada orang, maka Allah juga akan membalas perilaku kita. Bahkan terkadang balasan itu hanya berjarak dalam waktu yang dekat. Artinya Allah langsung memberikan pengalaman nyata bagi para pelaku kebaikan ini. Kata kawan saya, kalau kita itu nyahnyoh atau memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa perhitungan, maka Allah juga akan nyahnyoh kepada kita. Kebaikan kita kepada orang lain terkadang langsung dibalas oleh Allah melalui orang lain.

Di dalam Islam sungguh sangat banyak ayat yang menyebutkan tentang adanya balasan atas perilaku yang dilakukan oleh seseorang. Misalnya di dalam konsep surga dan neraka atau Jannah dan nar. Orang yang di dalam kehidupan di dunianya melakukan tindakan yang baik, maka akan memperoleh pahala yang berakibat akan masuk surga, dan bagi orang yang melakukan kejelekan maka akan memperoleh balasannya yang berupa masuk neraka. Dan di antara ukuran untuk menentukannya adalah kepatuhan kepada ajaran agama Islam sebagaimana disyariatkan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW.

Di dalam Surat An Nahl, ayat 97 dinyatakan yang artinya: “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami berikan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Sebaliknya, bagi yang melakukan keburukan, maka Allah akan membalas keburukannya tersebut. Dinyatakan di dalam Surat Al Kahfi, ayat 106, yang artinya: “demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam, dIsebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok”.

Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa antara filsafat Jawa dengan ajaran Islam itu sesuatu yang saling menyatu. Tidak bisa dipisahkan, sebab di dalam ajaran Islam terdapat juga filsafat kehidupan Jawa dan sebaliknya. Tentu saja menyamakan keduanya bukan dalam konteks merendahkan salah satunya akan tetapi adalah koherensi yang bisa dipahami.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

BECIK KETITIK OLO KETORO: FILSAFAT PEMBALASAN TINDAKAN ORANG JAWA

BECIK KETITIK OLO KETORO: FILSAFAT PEMBALASAN TINDAKAN ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sesungguhnya agama apapun mengajarkan agar orang berbuat kebaikan. Tidak ada agama yang mengajarkan penganutnya untuk melakukan kejahatan. Namun demikian, di dunia ini masih banyak orang beragama yang melakukan kerusakan di bumi, membangun kebencian dan merusak perdamaian. Semua hal ini difasilitasi oleh penafsiran agama yang bersesuaian dengan kepentingan dan egoisme social pada dirinya. Agama yang sebenarnya mengajarkan kedamaian lalu berubah menjadi konflik social berkelanjutan.

Islam adalah agama keselamatan. Di antara doktrin pentingnya adalah mengajarkan kerahmatan bagi seluruh alam. Manusia diajari agar menjaga rahmat Tuhan Yang Maha Esa di dalam perilakunya, tidak hanya kerahmatan bagi manusia tetapi kerahmatan bagi seluruh alam. Jagad cililk atau alam kemanusiaan atau mikro kosmos  dan jagad gedhe alam makro kosmos atau alam semesta. Islam mengajarkan bukan hanya rahmatan lil muslimin akan tetapi rahmatan lil ‘alamin.

Ada banyak filsafat hidup orang Jawa yang bisa dilacak di dalam ungkapan-ungkapan Jawa yang hingga sekarang masih dilestarikan. Meskipun, yang melestarikannya adalah para sesepuh yang usianya di atas 50 tahun. Generasi muda Jawa yang sudah terpengaruh oleh budaya perkotaan dan lebih khusus budaya barat jarang yang memahami ungkapan Jawa yang memiliki derajat keluhuran.  Banyak generasi muda Jawa yang sudah melupakan pitutur luhur bangsanya. Mungkin dunia pendidikan juga memiliki andil melupakan atas tradisi leluhur tersebut karena tergerus oleh program pendidikan yang barat minded. Bisa jadi semua yang datang dari Barat itu kebaikan, sehingga kebaikan di dalam tradisi Jawa dilupakannya.

Sudah banyak di antara generasi muda sekarang yang tidak lagi bisa berbicara dalam Bahasa Jawa atau kromo inggil. Bahasa Jawa ngoko masih bisa tetapi ketika harus menggunakan Bahasa Jawa halus, maka semua sudah keteteran. Hal ini juga terdapat pengaruh pendidikan yang sudah tidak lagi menjadikan tradisi Jawa sebagai mata pelajaran yang wajib dilakukan. Sementara di rumah juga sudah tidak lagi menjadikan tradisi Jawa dan Bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi antar yang tua dan muda.

Padahal sangat banyak tradisi dan filsafat Jawa yang adiluhung, misalnya  becik ketitik olo ketoro.  Yang arti dalam Bahasa Indonesia adalah kebaikan akan didapatkan balasannya, dan kejelekan juga akan diketahui akhirnya. Orang Jawa berpandangan bahwa kebaikan itu meskipun disembunyikan pada suatu ketika akan didapatkan balasan atas kebaikan tersebut, demikian pula kejahatan atau kejelekan juga suatu ketika akan diketahui juga. Orang tidak boleh takut untuk melakukan kebaikan, sebab kebaikan tersebut ditekan seperti apapun juga akan terdapat balasan yang sesuai dengan kebaikannya. Orang Jawa harus takut dengan kejelekan atau keburukan, sebab keburukan tersebut juga lama kelamaan akan diketahui juga. Seperti menyimpan bangkai, maka suatu ketika akan berbau juga. Becik ketitik olo ketoro adalah cara orang Jawa untuk mendidik generasi muda agar selalu berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan.

Dalam kasus yang akhir-akhir ini terjadi, misalnya Kasus Sambo dalam pembunuhan Brigadir Joshua. Meskipun kasus ini ditutupi sekuat-kuatnya, akan tetapi lama-kelamaan ketahuan juga. Pada  suatu saat yang sudah dipastikan, maka kejahatan yang direncanakan dengan rapi seperti apapun, ternyata juga terendus dan dapat dibuktikan kejahatannya. Di dalam Bahasa Jawa terdapat suatu konsep titi mangsane atau waktu yang telah ditentukan, maka semua akan terbuka dan semua akan diketahui, bahwa kebaikan adalah kebaikan dan kejahatan adalah kejahatan.

Islam sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan tentang mana kebaikan dan mana kejahatan. Bahkan kita dianjurkan untuk berdoa dengan doa yang berbunyi: “Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqna tiba’ah, wa arinal bathila bathila war zuqnaj tinabah. Yang artinya: “Ya Allah tunjukkan kepada kami yang benar adalah kebenaran dan berikan kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkan yang jelek adalah kejelekan dan berikan kami kekuatan untuk menghindarinya”.

Di dalam surat Al Zalzalah, ayat terakhir (7 dan 8)  juga dinyatakan: Famay ya’mal mitsqala dzarratin khoiroy yaroh wamay ya’mal mistqala dzarratin syarray yaroh”. Yang artinya: “Sesiapapun  yang melakukan kebaikan sebesar biji dzarrah pun diketahui, dan sesiapapun yang melakukan kejelekan sebesar biji dzarrah pun diketahui”.  Ayat ini memberikan gambaran bahwa kebaikan atau kejelekan akan diketahui pada akhirnya. Tidak ada perbuatan yang terlepas dari radar Allah SWT kala manusia hidup di dunia.

Dengan demikian bisa dinyatakan bahwa antara ajaran Islam dan pemikiran dalam  tradisi Jawa merupakan dua entitas yang berada di dalam satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Ya Islam,  Ya Jawa dalam satu kesatuan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

TEGO LARANE GAK TEGO PATINE: FILSAFAT KASIH SAYANG ORANG JAWA

TEGO LARANE GAK TEGO PATINE: FILSAFAT KASIH SAYANG PADA ORANG JAWA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Orang Jawa dikenal memiliki filsafat hidup yang unik. Filsafat dalam kehidupan tersebut diwujudkan di dalam paugeran atau pedoman kehidupan yang diajarkan dari mulut ke mulut.  Melalui pengajaran yang bersifat oral tersebut, maka  akan  bisa menyebabkan  paugeran ke depan  menjadi hilang di tengah perubahan social, terutama dari intervensi budaya luar, salah satunya adalah budaya Barat.

Orang Jawa memiliki ekspressi yang unik di dalam kehidupan, khususnya terkait dengan kasih sayang kepada keluarga khususnya anak, cucu dan kerabat dekat atau orang yang hidup di dalam keluarga. Orang Barat dikenal ekspresif dalam relasi suami istri, tetapi tidak demikian terhadap orang tua atau anak. Terhadap orang tua, misalnya corak hubungannya lebih longgar, jika orang tua sudah tidak lagi bisa melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, kala anak-anaknya sudah dewasa dan berumah tangga, maka orang tua akan dititipkan di panti jompo. Rumah jompo menjadi peristirahatan di kala sudah tua. Anak-anaknya tidak mau ribet dengan urusan menidurkan, membangunkan, memandikan, memberi makan dan mengatur kehidupan orang tua. Anak-anak akan lebih terfokus pada pekerjaan atau urusan rumah tangganya sendiri. Meskipun kala masih kanak-kanak mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari orang tuanya, akan tetapi di kala mereka sudah memiliki tanggung jawab sendiri dalam keluarga,  maka orang tua harus ikhlas berada dan hidup di panti jompo.

Hal ini sangat berbeda dengan filsafat hidup orang Jawa. Orang Jawa itu memiliki kasih sayang yang tidak terbatas baik kepada anak maupun orang tua bahkan kepada cucu. Di kalangan orang Jawa, menyayangi cucu itu luar biasa besarnya. Bahkan dikatakan melebihi kasih sayang kepada anak. Jika cucunya dimarahi orang tuanya, maka kakek atau eyangnya yang akan membelanya. Banyak kakek atau nenek yang menyatakan seperti itu. Demikiajn pula  kasih sayang kepada orang tua juga tidak ada batasnya. Jika ada anak yang menitipkan orang tua kepada panti jompo, maka dianggapnya hal itu  sebagai perbuatan durhaka. Yakni orang yang tidak membalas budi baik orang tuanya, yang melahirkan, merawat dan membesarkannya. Bagi orang Jawa mengurus anak adalah tugas dan kewajiban utama. Tugas nomor satu di dalam kehidupan.

Itulah sebabnya, di dalam ungkapan Jawa dikenal konsep  tego larane ora tego patine. Ungkapan ini memberikan gambaran bahwa bagi orang Jawa, maka anak, orang tua, cucu dan keluarga dekat itu merupakan orang yang ditegakan kala sakit tetapi tidak ditegakan kematiannya. Ungkapan ini bukan merupakan perilaku pembiaran atas keluarga yang sakit, akan tetapi untuk menggambarkan atas ketidaktegaan atas ketiadaan seorang keluarga yang  meninggal. Sakit itu masih bisa dirawat dan  diobati artinya masih ada peluang untuk hidup, akan tetapi kematian dipastikan tidak ditegakan, karena kehilangan akan orang yang dicintainya. Jadi orang Jawa itu sangat merasakan kehilangan atas keluarganya yang wafat dan diungkapkan dengan ora tego patine.

Orang Jawa akan menolak sebagaimana gambaran di dalam tayangan yakni orang tua yang dirawat oleh robot, yang sudah diinstal dengan tata cara merawat orang tua. Artificial intelligent tersebut sudah dilengkapi dengan tata cara membangunkan dan menidurkan, memandikan dan berpakaian, makan dan minum, membersihkan kala kencing dan buang air besar dan seluruh tata cara kehidupan. Pada suatu ketika, orang tua itu meninggal. Robot menjadi bingung karena robot itu tidak diinstal untuk memahami kematian. Orang  tua itu dibangunkan, ditepuk-tepuk dan diingatkan untuk bangun, tetapi diam saja. Jadi robot tidak paham tentang mati yang memang belum diinstalkan kepadanya.

Merawat orang tua bukanlah barter atas kerja orang tua untuk merawatnya ketika kecil. Akan tetapi adalah tanggungjawab seorang anak kepada orang tuanya. Sebiah kesadaran dari dalam bahwa anak memiliki tanggungjawab untuk merawatnya. Tidak ada paksaan atas pekerjaan tersebut. Ungkapan anak durhaka tentu sangat menyakitkannya. Tentu saja ada juga yang menegakannya akan tetapi yang bertindak dengan sepenuh kesadaran untuk merawat orang tua tentu lebih banyak atau mayoritas.

Islam sangat menghargai atas kasih sayang. Bahkan dalam hal zakat, infaq atau shadaqah, maka diutamakan untuk keluarga terdekat atau dzawil qurba. Lebih baik memberikan sedekah kepada keluarga dekat dibandingkan dengan bersedekah kepada orang lain yang tidak jelas siapa orangnya. Jika kita memiliki uang yang cukup, maka zakat dan sedekah itu hendaknya diberikan kepada orang miskin, kaum fuqara’, ibn sabil misalnya orang yang belajar dan orang yang dalam perjuangan untuk kebaikan dan keluarga terdekat.

Islam sangat menganjurkan agar di dalam keluarga tetap dijaga untuk menjauhi neraka. Dinyatakan: “qu anfusakum wa ahlikum nara”.  Yang artinya: “Jagalah keluargamu dari api neraka”. Gambaran dari ayat ini, bahwa yang diutamakan oleh sebuah keluarga adalah menjaga agar semua keluarganya itu mengamalkan ajaran Islam secara kaffah dan menjauhi larangan Tuhan. Selama di dalam keluarga tersebut terdapat pengamalan ajaran Islam, maka kasih dan sayang akan tetap lestari.

Selain itu juga terdapat ajaran tentang bagaimana prilaku manusia yang satu atas lainnya, yang seharusnya berbasis kasih sayang.  Yang tua menyayangi yang muda dan sebaliknya. Hadits Nabi menyatakan: “laisa minna man lam yarham shaghirana  wa ya’rifu syarafa kabirana”.  Yang artinya: “tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak mengerti kemuliaan yang tua di antara kita”.

Kasih sayang adalah ajaran prinsip di dalam Islam. Islam itu mengedepankan keselamatan, maka tidak ada keselamatan tanpa adanya kasih sayang. Oleh karena itu kasih sayang orang tua kepada anak dan kasih sayang anak terhadap orang tua dapat dikaitkan dengan prinsip hidup orang Jawa tego larane ora tego patine.

Wallahu a’lam bi al shawab.