• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ISLAM, FILSAFAT JAWA DAN WALISONGO

ISLAM, FILSAFAT JAWA DAN WALISONGO

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ada yang menarik di dalam perbincangan pengajian Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. 17/10/2023. Seperti biasanya pengajian dilakukan bada Shubuh dalam durasi waktu 90 menit. Jam 5.30 harus selesai sebab yang mengikuti acara adalah individu yang masih aktif di dalam dunia kerja, baik sebagai ASN maupun pekerja bisnis. Jika pada hari lainnya diselenggarakan acara tahsinan, maka khusus pada hari Selasa dilakukan kegiatan pengajian khusus, dan saya dipercaya untuk memantik diskusi dari peserta pengajian. Sungguh pengajian yang sangat interaktif.

Saya membawakan tema tentang “jihad” sebagaimana penafsiran yang dilakukan oleh Abu Bakar Jabir Al Jaziri di dalam kitabnya “Minhajul Muslimin” atau “Jalan menempuh kehidupan Muslim”.

Tibalah saatnya membicarakan tentang jihad dalam bentuk memerangi terhadap kaum  musyrikin dan kaum fasiq. Di dalam kitab ini sebagaimana tulisan ulama Timur Tengah, maka pendekatannya tentu saja tekstual. Dibahas apa saja jenisnya kemudian didasarkan pada teks Islam, baik dari Alqur’an maupun Al hadits. Maka saya jelaskan terkait dengan konteks “memerangi” itu seperti apa terhadap sebuah negara yang aman dan damai padahal di dalamnya terdapat juga berbagai varian keberagamaan masyarakatnya. Ada yang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu dan bahkan para penganut aliran kepercayaan/kebatinan. Saya jelaskan tentang bagaimana para walisongo di masa lalu memperkenalkan Islam ke tlatah Jawa tidak pertama-tama lalu perang, akan tetapi dilakukannya secara gradual. Dari dakwah individual ke organisasional ke negara.

Pak Mulyanta menyatakan di dalam bahasannya bahwa di dalam tradisi Jawa terdapat ungkapan yang menarik untuk dijadikan sebagai perbandingan antara jihad dengan perang dan jihad tidak melalui perang. Ungkapan tersebut adalah: “nglurug tanpo bolo, menang tanpa ngasorake dan mulat sariro angroso wani”.  Ungkapan Jawa ini  menggambarkan tentang berperang sendirian tanpa bala bantuan, artinya berperang tetapi dengan menggunakan strategi tanpa kekerasan. Karenanya yang dikalahkan juga tidak merasa kalah. Dan jika kemudian terpaksa harus melakukannya dalam bentuk perang, maka yang terpenting adalah melihat kemampuan diri dan kawan-kawannya. Jika sudah siap dengan segala sesuatunya, maka hal itu baru bisa dilakukan. Nglurug tanpo bolo artinya perang tanpa melibatkan orang lain, kawan atau bala tentara. Menang tanpa ngasorake berarti memenangkan pertarungan dengan musuh yang musuhnya tidak merasa  dikalahkan. Mulat sariro angroso wani artinya melihat kemampuan diri dan baru melakukan suatu tindakan.

Ungkapan ini yang digunakan para walisongo  di dalam Islamisasi di Jawa. Para waliyullah itu tidak datang untuk  menaklukkan. Tidak datang dengan wadyabala yang berkekuatan hebat. Tidak datang dengan senjata dan strategi perang. Tidak datang dengan membawa kesengsaraan untuk orang yang didatangi. Tetapi yang dilakukan adalah dengan datang secara individual. Para pedagang Arab dan kaum tasawuf datang di pesisir Jawa dengan sendirinya. Jika pun datang dengan kelompok, maka mereka datang dengan rasa damai. Mereka itu datang dan pergi.

Wilayah Nusantara adalah jalur sutra yang menghubungkan Timur Tengah, Malabar atau Gujarat India, Nusantara, China dan sebaliknya. Mereka itu datang di Nusantara dalam beberapa pekan, bahkan ada di antaranya yang menikah dengan penduduk asli. Merekalah yang membuka pintu masuknya Islam di Nusantara dan menjadikan masyarakat Nusantara sebagai sasaran dakwahnya. Aktivitas dakwah tersebut dilakukan dengan cara membangun keharmonisan, kerukunan dan perdamaian.

Setelah dirasakan bahwa masyarakat telah menjadi bagian dari ajaran agamanya, dan dirasakan perlu pengorganisasian, maka kemudian hadirlah organisasi yang kemudian disebut sebagai “walisongo”. Organisasi ini juga memiliki pimpinan atau yang dianggap patron, misalnya Kanjeng Sunan Ampel. Lalu dilanjutkan dengan Sunan Giri, lalu Sunan Bonang, lalu Sunan Drajad, Sunan Kalijaga  dan seterusnya. Lewat organisasi inilah maka dakwah menjadi lebih efektif dan masing-masing memiliki penugasan atas wilayah yang menjadi medan dakwahnya. Misalnya Sunan Giri memiliki medan dakwah sampai ke Ternate, Sunan Bonang sampai ke Mataram, Sunan Bonang sampai di Bawean dan sebagainya. Melalui organisasi ini, maka di Tuban pada awal abad ke 17 sudah terdapat para waliyullah yang berdakwah di pedesaan Tuban.

Jika kemudian pada tahap berikutnya melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Majapahit tentu hal itu dilakukan setelah secara fisikal dan mental memiliki kemampuan untuk melawan. Di dalam peperangan antara Majapahit melawan Demak, maka Raden Fatah yang dibantu oleh para waliyullah akhirnya memenangkan pertarungan. Hal ini tentu terkait dengan kerajaan Majapahit yang sudah mengalami kemunduran sehingga dapat dikalahkan oleh Demak dengan support dari para waliyullah. Akhirnya, kejayaan  Majapahit berakhir pada tahun 1478. Kerto ilang sirnaning bumi.

Jadi, prinsip kehidupan orang Jawa tersebut ternyata telah diaplikasikan oleh para waliyullah yang dengan kearifannya dapat mengislamkan masyarakat Nusantara sehingga masyarakat Nusantara akhirnya bisa menjadi Islam. Kolaborasi antara tradisi Islam dan Tradisi local akhirnya membentuk Tradisi Islam local.

Wallahu a’lam bi al shawab.

BURUNG ABABIL VS TENTARA ABRAHAH: KEKUASAAN ALLAH VS KEKUATAN MANUSIA

BURUNG ABABIL VS TENTARA ABRAHAH: KEKUASAAN ALLAH VS KEKUATAN MANUSIA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kisah tentang Burung Ababil versus Tentara Abrahah dinashkan di dalam Alqur’an, Surat Al Fil yang menggambarkan bagaimana kisah tentara Abrahah yang akan menghancurkan Ka’bah. Jumlah mereka sangat banyak dengan senjata yang modern pada zamannya. Tentara Abrahah tentu saja dibekali dengan perlengkapan yang cukup, baik dari peralatan perang sampai bahan makanan. Selain itu juga pasukan gajah yang sangat terlatih di dalam medan pertempuran. Mereka sangat yakin bahwa di dalam serangan ini dipastikan pasukan Abrahah akan dapat menghancurkan Ka’bah yang merupakan symbol dari agama Hanif yang dinisbahkan kepada Nabi Ibrahim As.

Begitu mendengar akan terjadinya serangan Raja Abrahah, maka pimpinan Quraisy menjadi panik. Mereka sudah mendengar akan kedigdayaan tentara gajah yang akan menyerang lambang kesucian kaum Quraisy, Ka’bah.  Mereka akan melawan tetapi sudah membayangkan kekalahannya. Maklumlah Raja Abrahah dari Yaman itu sangat terkenal di dunia Timur Tengah sebagai pemilik tentara gajah yang sangat digdaya. Artinya, kaum Quraisy dan seluruh suku yang terlibat di dalamnya sebenarnya sudah tidak mau untuk berperang melawan tentara Gajah tersebut. Di dalam penyerangan atas Ka’bah ini, Abrahah dibantu oleh Raja Najasyi dengan mengirimkan gajah-gajah terbaiknya. Ada delapan atau 12 gajah yang diperbantukan untuk menghancurkan ka’bah.

Tantara Gajah sudah mendekati Mekkah. Mereka sudah sampai di perbatasan Mina dan Muzdalifah. Jaraknya sudah sangat dekat dengan Ka’bah. Kepanikan melanda seluruh penduduk Mekkah karena membayangkan apa yang akan dialaminya di dalam peperangan melawan tentara gajah yang sudah diketahui kehebatannya dalam berperang.  Namun yang terjadi di luar nalar mereka, sebab tantara Gajah lalu pada tewas diserang oleh segerombolan burung.

Kehancuran tentara Gajah tersebut diceritakan berada di suatu lembah yang dinamakan Wadi Muhassir yang terletak di perbatasan antara Muzdalifah dan Mina. Pada suatu ketika, Nabi Muhammad SAW berhaji ke Mekkah, maka kala Beliau sampai di sini, maka seluruh peserta haji diminta untuk mempercepat langkahnya, sebab tanah itu menjadi saksi bisu akan kehancuran Abrahah dan tentaranya karena serangan burung Ababil yang di parohnya terdapat batu-batu kecil dari neraka sehingga batu-batu yang dijatuhkan oleh burung tersebut membuat tentara Abrahah harus mati secara meyakinkan.

Niat untuk menghancurkan ka’bah sebenarnya dipicu oleh keinginan Abrahah untuk menjadikan gereja yang didirikannya agar menjadi tempat ibadah bagi penganut agama-agama. Abrahah membuat gereja yang besar dan megah. Namun demikian, masyarakat masih lebih cenderung untuk mendatangi Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Merasa upayanya sia-sia, maka Abrahah lalu melakukan tipu daya untuk menghancurkan Ka’bah. Dengan kehancuran Ka’bah, maka orang akan pergi ke Yaman mengunjungi Gereja Abrahah.

Sebagaimana yang kita baca, bahwa di saat Abdul Muthalib kakek Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Abrahah, maka Abdul Muthalib meminta kembali untanya yang dirampok oleh tentara Abrahah, akan tetapi ditolak oleh Abrahah, sebab yang akan diminta adalah Ka’bah, maka Abdul Muthalib menyatakan: “saya minta unta itu karena unta itu adalah milikku, sedangkan ka’bah adalah milik Allah. Biar Allah yang akan memertahankan ka’bah miliknya itu”. Tatkala Abrahah dan bala tentaranya sampai di Wadi Muhassir, maka tiba-tiba gajah dan tentaranya menjadi lemas. Mereka terkena batu-batu kecil yang dilemparkan oleh burung-burung yang membawa kerikil kecil dari batu panas dari neraka. Burung itulah yang kemudian dikenal sebagai Burung Ababil.

Hal ini sebagaimana diceritakan di dalam Surat Al Fil, ayat 1-5. Ayat tersebut adalah: “Alam tara kaifa fa’ala rabbuka bi ashhabil fil. Alam yaj’al kaidahum fi tadhlil.  Wa arsala ‘alaihim thairan ababil. Tarmihim bihijarathim min sijjil. Fa ja’alahum ka ashfim ma’kul”. Yang artinya: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah. Bukankah mereka telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia. Dan dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Ayat ini merupakan bukti historis tentang kejadian di masa lalu yang bisa dibuktikan kebenarannya, yaitu peristiwa penyerangan Raja Abrahah dengan tentara gajahnya. Sejauh ini saya  belum mendapatkan bukti artefaknya, misalnya tulang belulang gajah-gajah yang mati di Lembah Muhassis. Tetapi bisa saja sudah ada penelitian yang membuktikannya, namun saya tidak mengetahuinya. Jika dihitung dengan tahun, maka serangan tersebut dilakukan pada tahun di mana Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan. Yaitu pada tahun 571 M. Nabi Muhammad SAW memang dilahirkan pada Hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau di dalam kalender Masihiyah tahun 571.

Tulisan ini lahir dari acara tahsinan Alqur’an yang sudah mendekati selesai. Sudah sampai pada surat Al Fil (15/10/23). Mungkin dalam pekan-pekan depan akan selesai. Saya bersyukur bahwa program tahsinan di Masjid Al Ihsan ini terus berlangsung dan semoga menjadi bukti atas keterlibatan kita semua dalam melestarikan bacaan Alqur’an yang benar, dan sekaligus juga memperoleh pahala dan keridlaan Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

SEGENGGAM KEKUASAAN LEBIH PENTING DIBANDING SEKARUNG EMAS

SEGENGGAM KEKUASAAN LEBIH PENTING DIBANDING SEKARUNG EMAS

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Anekdot ini disampaikan oleh Kyai Syarifuddin Wafa, seorang narasumber pada acara halaqah Politik Sunan Bonang  dalam  acara Tour de Wali yang diselenggarakan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Gedung Grand Javanila, Tuban, 07/09/2023. Acara ini dihadiri oleh Menteri Ketenagakerjaan Dr. Ida Fauzia, DPR Pusat Ratna Juwita Sari, dan sejumlah pimpinan PKB baik pusat, wilayah dan cabang Tuban. Hadir juga para Kyai, di antaranya  Kyai Cholilurrahman, Kyai Mohammad Fauzan, dan sejumlah kyai dan pengurus NU Cabang Tuban.

Anekdot ini, menurut Kyai Wafa adalah ungkapan yang disampaikan oleh Kyai Cholil, guru saya, di dalam banyak kesempatan. Kyai Cholil menyatakan bahwa memiliki kekuasaan itu lebih penting di dalam percaturan kemasyarakatan, pemerintahan dan kenegaraan. Selain ungkapan ini, juga disampaikan bahwa pemimpin itu harus memiliki moral yang bagus, memiliki kedekatan dengan masyarakat dan memberikan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya.

Saya dan Kyai Wafa didapuk sebagai narasumber di dalam acara ini. Tentu posisi saya adalah sebagai akademisi yang memberikan gambaran secara realistis tentang bagaimana politik Kanjeng Eyang Sunan Bonang di dalam kancah social politik pada masanya. Saya sampaikan tiga hal yang mendasar terkait dengan acara Sarasehan Tour de Wali.

Pertama, kita harus selalu bersyukur kepada Allah atas kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada kita. Bisa sehat dan bisa hadir pada acara penting ini merupakan bagian dari rahmat Allah SWT kepada kita semua. Kita bisa menjadi umat Islam tentu juga merupakan kenikmatan Allah yang tiada taranya. Betapa banyak di dunia ini, orang yang tidak bisa menjadi muslim meskipun kebenaran ajaran Islam itu telah sampai kepadanya. Ada yang menjadikan Islam hanya sebagai ilmu pengetahuan sehingga tidak tergerak hatinya untuk menjadi muslim atau tidak mendapatkan hidayah dengan ilmu keislamannya, dan ada yang belajar Islam lalu menjadi muslim dan ada yang menjadi muslim seperti kita. Menjadi Islam dulu dan baru belajar tentang Islam.

Kedua, sebagai akademisi, saya  mengapresiasi atas upaya yang dilakukan oleh Cak Imin. Betapa lamanya Cak Imin berupaya untuk menjadi tokoh  di negeri ini. Baliho pencalonannya sebagai Presiden Republik Indonesia sudah sangat lama dipampangkan. Terkadang bahkan menggunakan baliho dengan latar Panglima Santri. Semenjak tahun 2013 balihonya banyak menghiasi jalan-jalan utama di Republik ini. Di kota, di desa dan seluruh pelosok Nusantara terdapat namanya di dalam Baliho yang didirikannya.

Ketiga, PKB berusaha merenda  masa lalu, yaitu melalui Tour de Wali. Upaya yang dilakukan sebagai konsekuensi sebagai warga nahdhiyin yang memang menyukai ziarah wali. Terutama para walisanga di Jawa.  Secara historis, Islam hadir di Jawa di kala Kerajaan Majapahit berada di ujung kehilangan pamornya sebagai kerajaan besar. Majapahit sedang mengalami masa powerless. Negara tanpa kekuasaan. Yang dimiliki hanyalah kekuasaan simbolik dan bukan kekuasaan realistic. Nama kerajaan dan rajanya masih ada, tetapi otoritas kekuasannya sudah sangat menurun. Di saat seperti ini, maka muncullah Islam sebagai agama baru yang menawarkan ajaran keselamatan, kedamaian dan kerukunan, maka lambat tetapi pasti penduduk Jawa yang beragama Hindu Buddha lalu beralih ke agama Islam.

Jika ditelusur secara historis, maka Islam datang di Jawa sebelum  tahun 1082 (wafatnya Fathimah binti Maimun)  atau bersamaan dengan kekuasaan Kahuripan dengan rajanya Airlangga. Para saudagar Islam dan ahli tasawuf kemudian secara silih berganti masuk ke Nusantara, dan pada awal abad 14 para wali tersebut membangun organisasi kewalian, yang disebut sebagai walisanga. Walisanga merupakan kumpulan para Wali penyebar Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Pada tahun 1478 M Kerajaan Majapahit runtuh dan kemudian digantikan dengan Kerajaan Demak dengan rajanya Raden Fatah. Titik kulminasi penyebaran Islam terjadi pada era umat Islam telah memiliki kerajaan dengan kekuasaannya yang besar. Jadi ada tiga tahap di dalam proses penyebaran Islam, yaitu dakwah melalui individual, ke dakwah kelembagaan dan kemudian dakwah melalui kerajaan atau kekuasaan.

Jadi,  proses  penyebaran Islam melalui kekuatan individual ke kerajaan tersebut membutuhkan waktu selama  empat abad. Tentu merupakan waktu yang lama, sebab yang dihadapi adalah para pemeluk agama yang sudah mengakar kuat dan memiliki tokoh-tokoh agama yang sangat mapan. Sunan Bonang misalnya pertama kali berdakwah di Kediri harus  berhadapan dengan para tokoh agama, misalnya melawan Buto Locaya dan Nyai Plencing, penganut ajaran Bhairawa dan pertarungan dimenangkan oleh Sunan Bonang. Kemudian Sunan Bonang berdakwah di Tuban dan dakwahnya  menyebar sampai ke Pulau Bawean, bahkan ke Bali dan Nusa Tenggara. Sunan Bonang hidup pada pertengahan  abad ke 15 (lahir 1465).

Berdasarkan penelitian tentang para waliyullah di Tanah Tuban, maka didapati realitas bahwa pada abad ke  16, Tuban sudah menjadi daerah muslim terbukti dari banyaknya waliyullah yang makamnya terdapat pada hampir semua desa di Tuban. Ada sebanyak 193 waliyullah yang berdakwah di daerah Tuban dan mereka memiliki keterkaitan genealogis. Dari penelitian tentang “Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony: Melacak Jejak dakwah Waliyullah” (2022) bahwa Tuban merupakan daerah awal Islam di wilayah Jawa bagian Timur. Kira-kira usia Islam di Tuban itu nyaris sama dengan Islam di Gresik.

Melihat pola dakwah para Walisanga tersebut memberikan kesimpulan bahwa dakwah harus memasuki kekuasaan. Jika dakwah Islam tidak memasuki kekuasaan, maka proses dakwah akan mengalami kelambatan. Oleh karena itu, jika dakwah hanya selalu berada di luar kekuasaan, maka Islam tidak akan menjadi ruh bagi penyusunan kebijakan dan  tidak akan bisa menjadi instrument bagi pembangunan kesejahteraan umat.

Itulah sebabnya menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk mewujudkan politik Islam menjadi penting. Bukan Islam politik yang menginginkan terbangunnya khilafah, akan tetapi menjadikan Islam sebagai etika dalam membangun umat. Islam menjadi ruh bagi terciptanya masyarakat yang sejahtera di dalam koridor NKRI dengan dasar negara Pancasila, dan kebinekaan sebagai bagian kehidupan masyarakat Indonesia.

Jadi yang diperlukan adalah bagaimana memenangkan umat Islam dalam percaturan politik agar umat Islam dapat menjadi pemain dan bukan hanya menjadi penonton. Dan ini semua tergantung kepada kesadaran kita untuk berjuang berdasarkan atas pilihan rasional bahkan pilihan suprarasional. Jadikan keduanya sebagai piranti untuk menjadi pemain di negeri sendiri.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

KAPITALISME DAN PEREKONOMIAN DUNIA: ALQUR’AN SUDAH MEMBERI ISYARAH

KAPITALISME DAN PEREKONOMIAN DUNIA: ALQUR’AN SUDAH MEMBERI ISYARAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Acara tahsinan pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) telah sampai pada ayat yang terkait dengan mencela dan mengumpat, dan orang yang terus menerus mencari harta dan menghitung-hitung hartanya. Ayat tersebut adalah pada Surat Al Humazah, suatu surat yang bermakna tanzir atau peringatan kepada hamba Allah SWT. Sebagaimana diketahui bahwa di dalam ayat-ayat Makiyah maka bisa dijumpai dua hal, yaitu tanzir dan tabsyir. Tandzir artinya memberi peringatan dan tabsyir artinya memberikan kabar kegembiraan.

Pada Selasa, 09/09/2023, saya mendapatkan peluang untuk mengkaji ayat tersebut dalam kaitannya dengan realitas social yang berkembang dewasa ini. Ayat tersebut adalah: “wailul likulli humazatil lumazah. Alladzi jama’a malauw  wa’addadah. Yahsabu anna malahu akhladah. Kalla layumbadzanna fil huthamah”, yang artinya: “celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak. Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) hutamah”.

Di dalam ceramah ini, saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, Ayat ini secara general memberikan pemahaman tentang pencela dan pengumpat karena sikap dan tindakannya tersebut. Pengumpat dan pencela itu adalah orang yang berkecenderungan mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Yaitu orang yang di dalam hidupnya selalu berpikir tentang uang dan harta atau uang dan kekayaan. Padahal diketahui bahwa harta seberapapun  banyaknya ternyata tidak akan mampu menyelamatkan dirinya dari kematian. Orang kaya atau orang miskin sama-sama akan terkena takdir kematian. Berdasarkan Kitab Suci Alqur’an bahwa orang super kaya seperti Qarun, Namrudz, Fir’aun dan orang-orang yang memuja harta dan kekayaan juga akhirnya harus dilibas oleh takdir kematian. Di dunia, orang seperti Rockefeller, Ronald Reagan, lalu di Indonesia seperti Ciputra dan sebagainya juga meninggal. Di dalam kehidupan ini, maka yang tidak dapat dihindari adalah kematian.

Kedua, ayat ini dapat dikaitkan dengan pemikiran dan praksis kapitalisme. Perilaku kapitalis dapat dijelaskan tentang perilaku menumpuk harta atau akumulasi modal untuk tujuan modal. Modal akan menjadi modal dan seterusnya. Ada cecandaan bahwa uang itu mencari kawannya. Artinya jika uang sudah ada pada orang tertentu, maka uang yang lainnya akan datang. Uang akan menjadi beranak pinak. Bagi kaum kapitalis, bahwa uang harus menghasilkan uang lainnya tidak perduli cara apa yang digunakannya. Sesepuh kapitalisme, Adam Smith menyatakan bahwa dengan modal sedikit-dikitnya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

Kapitalisme telah sangat lama menguasai dunia. Hampir seluruh negara menerapkan system kapitalisme. Negara-negara Barat merupakan pioneer penerapan kapitalisme di dunia, dan di masa cold War, maka yang bisa mengimbanginya adalah USSR dan beberapa negara komunis lainnya, misalnya China, Korea Utara, Nikaragua, dan beberapa negara di Amerika Latin. Indonesia merupakan salah satu negara yang selama pemerintahan Orde Baru hingga sekarang menerapkan system kapitalisme. Hal ini dipengaruhi oleh para ekonom di masa lalu yang dikaitkan dengan Mafia Berkeley atau para ekonom lulusan dari Berkeley University di Amerika Serikat. Mereka menggunakan konsep pertumbuhan ekonomi yang hasilnya akan menetes ke bawah atau disebut sebagai economic growth base on trickle down effect. Konsep ini berasumsi bahwa dengan menumbuhkan makin banyak kapitalis maka efeknya akan terjadi berkurangnya kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan miskin. Namun demikian, secara realistis bahwa watak kapitalisme adalah akumulasi modal sehingga keinginan untuk meneteskan hasilnya ke bawah tidak pernah terlaksana. Dan parahnya kesenjangan ekonomi semakin besar dan menganga. Bahkan sampai era Jokowi ternyata kesenjangan ekonomi juga tidak turun secara signifikan.

Menurut Joseph E. Stiglitz bahwa kapitalisme telah menyebabkan penguasaan 1 persen orang kaya atas 99 persen kelompok lainnya. Di seluruh dunia, negara dikuasai oleh kelompok 1 persen. Tidak ada negara yang menggunakan system ekonomi kapitalisme yang tidak terkena hukum 1 persen menguasai 99 persen lainnya. Indonesia sebagai negara berkembang yang menerapkan system kapitalisme juga terkena dampak tersebut. Hanya 15 orang kaya di Indonesia ternyata kekayaannya separoh lebih APBN tahun 2020.  Misalnya pemilik Perusahaan Rokok Jarum, dua bersaudara, ternyata hartanya lebih dari 500 trilyun. Indonesia sudah berusaha untuk memastikan bahwa para pengusaha tersebut mau memberikan donasinya melalui regulasi CSR, namun demikian ternyata tidak efektif.

Ketiga, sesungguhnya Tuhan sudah memberikan peringatan agar orang tidak melakukan tindakan mencela atau mengumpat.  Keduanya adalah perilaku negative. Bisa berbeda dengan ghibah yang bisa saja memiliki makna positif dan negative. Ada ghibah yang boleh dan ada ghibah yang tidak boleh. Ghibah negative atau tindakan mengumpat yang bertujuan untuk membunuh karakter atau character assassination tentu merupakan tindakan yang dilarang di dalam Islam. Tetapi melakukan kritik atas kebijakan pemerintah yang dirasakan sebagai kebijakan yang tidak tepat merupakan tindakan ghibah yang memiliki nilai positif.

Di dalam acara seminar juga sering didapatkan tindakan untuk mengritik atas kebijakan pemerintah atau organisasi dan komunitas tertentu yang tindakannya tersebut dapat merugikan atas orang atau komunitas dan masyarakat. Jika dilakukan seperti ini, maka melakukan tindakan ghibah bisa dibenarkan.

Seperti ceramah kita hari ini yang mencoba menguliti tindakan kaum kapitalis yang cenderung serakah tentu bukanlah ghibah dalam makna negative, akan tetapi memberikan gambaran tentang tindakan yang bisa merugikan atas orang lain. Dan orang Islam semestinya tidak melakukannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENCINTAI NABI MUHAMMAD HARUS LEBIH DARI LAINNYA

MENCINTAI NABI MUHAMMAD HARUS LEBIH DARI LAINNYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Waktu saya menunggu kedatangan pesawat LIONS di Palangkaraya, sebenarnya sempat juga was-was. Kabut tentu saja penyebabnya. Saya seharusnya berangkat ke Surabaya pada pukul 11.40 WIB, akan tetapi pesawat tidak kunjung datang sampai ada pemberitahuan bahwa pesawat akan landing pada pukul 15.00 WIB. Saya tentu bergembira sebab sebelumnya sudah ada pesawat yang landing, Citylink dari Jakarta. Ternyata benar bahwa pesawat LIONS dari Surabaya juga landing tepat waktu sebagaimana yang disampaikan oleh petugas bandara.

Saya sempat khawatir sebab malam harinya ada janji mau mengisi ngaji Muludan di Majid Al Ihsan perumahan Lotus Regency. Jika saya tidak bisa pulang karena factor cuaca tentu panitia menjadi kalang kabut untuk mencari penggantinya. Akhirnya pesawat pun berangkat dan saya sampai rumah pada pukul 18.00 WIB. Plong rasanya. Kekhawatiran saya terbayar tidak terjadi dan saya bisa memberikan ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW pada Kamis ba’da Isya’. Kamis, 05/09/2023.

Sebagaimana tahun lalu, maka acara Mauludan ini juga dimeriahkan Rebana dan shalawatan yang dimainkan oleh Mahasiswa UIN Sunan Ampel, organisasi mahasiswa Nganjuk. Mereka melantunkan shalawat yang diiringi dengan tetabuhan ketimpung. Tembang shalawat ini dimainkan untuk menunggu para jamaah yang akan mengikuti acara Muludan. Sesungguhnya di dalam acara shalawatan itu yang ditunggu adalah  mahalul qiyam. Sebuah tradisi yang selalu dilakukan di kala membaca shalawat di dalam acara Muludan. Tradisi ini sudah dilakukan berdasarkan ijtihad para ulama di masa lalu yang diteruskan oleh umat Islam hingga kini. Di antara yang ditunggu adalah doa: “rabbighfirli dzunubi ya Allah, bilbarkati Muhammad ya Allah.  Yang artinya kurang lebih: “Ya Tuhanku, ampunilah dosaku ya Allah, dengan berkahnya   Muhammad Ya Allah”.

Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam acara ini, yaitu: pertama, adakah kita perlu memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW? Jawabannya tentu saja penting. Memeringati kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah Sebagian dari tanda-tanda mencintai Junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW. Memperingati kelahiran Nabi Muhammad merupakan ekspresi rasa cinta kepadanya. Lalu, jika kita mencintainya, maka yang diharapkan adalah menjadi bagian dari hambanya. Makanya, ada instrument yang diberitahukan kepada umat Islam adalah dengan menyambung tali silaturrahim dengan Nabi Muhammad SAW melalui bacaan shalawat kepadanya. Allah dan malaikat saja melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad apalagi kita sebagai umatnya.

Bahkan setiap Hari Jum’at pada khatib selalu mengingatkan kita agar membaca shalawat sebagaimana firman Allah: innallaha wa malaikatahu yushalluna alan Nabiy, Ya ayyuhal ladzina amanu shallu alaihi wa sallimu taslima. Yang artinya: “sesungguhnya Allah dan para malaikat membacanakan shalawat kepada Nabi Muhammad, dan wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah dan keselamatan atasnya”.

Kedua, umat Islam harus meneladani para Nabiyullah. Di dalam Islam dijelaskan agar menusia menjadikan para rasul sebagai teladan. Di dalam firmannya dinyatakan: “laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah”. Yang artinya: sesungguhnya pada diri utusan Allah adalah teladan yang baik”. Makanya, setiap Nabi adalah teladan. Saya ingin memberikan beberapa contoh, misalnya: Nabi Adam AS adalah teladan orang yang melakukan taubatan nasuha atau taubat yang sungguh-sungguh. Taubat Nabi Adam diterima Allah dan akhirnya dipertemukan sepasang suami istri tersebut di Jabal Rahmah, yang hingga sekarang masih dijadikan sebagai ziarah para jamaah haji. Di tempat ini pula Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu pertamanya dari Allah SWT. Nabi menerima wahyu di Gua Hira’ di Jabal Rahmah.

Lalu da Nabi Ibrahim AS, yang dikaruniai keberanian untuk melawan kedzaliman. Nabi Ibrahim adalah teladan dalam keberanian melawan kekuasaan tiranis yang membelenggu masyarakat. Nabi Ibrahim dikenal sebagai peletak dasar agama monotheisme atau agama yang mentauhidkan Allah SWT. Agama Hanif kemudian menurunkan agama-agama Semitis, Yahudi, Nasrani dan Islam.

Nabi Musa dikenal teladannya dalam membela kaum mustadz’afin. Bangs Israel yang mendiami wilayah Mesir ternyata diusir dari tempat tinggalnya. Di sinilah Nabi Musa melakukan Tindakan untuk membelanya dengan catatan harus meyeberangi lautan. Di sini Allah memerintahkan agar tongkat itu dipukulan ke lautan dan akhirnya terbenting jalan menuju wilayah tanah leluhur.

Kemudian Nabi Muhammad merupakan manusia yang sempurna, insan kamil. Manusia yang sangat sempurna. Nabi Muhammad SAW adalah teladan yang sempurna. Di dalam ceramah ini saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, Nabi Muhammad adalah teladan dalam keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Nabi itu tidak hanya mengarahkan pada kehidupan ukhrawi saja tetapi juga kehidupan duniawi diperhatikan. Nabi sangat perduli dengan kehidupan duniawi tetapi juga menjalankan sepenuhnya kehidupan ukhrawi. Nabi pernah menegur sahabatnya yang membiarkan keluarganya dan hanya berkonsentrasi pada kehidupan akherat.

Kedua, Nabi itu tidak pernah mencela dan menghina orang lain. Nabi itu berdakwah dengan kesopanan yang sangat tinggi. Nabi Muhammad tidak hanya menganjurkan agar berkata dan bersikap sopan tetapi juga mengamalkannya. Nabi itu menjalankan dakwah dengan qaulan kariman, qaulan sadidan, qaulan layyinan, qaulan balighan, qaulan maysuran  dan sebagainya. Berkata dengan memuliakan orang, berkata yang jelas, berkata yang lemah lembut, berkata yang tegas dan berkata yang memudahkan orang lain. Itulah akhlak Nabi Muhammad di dalam menyampaikan ajaran Islam. Nabi tidak pernah mengkafirkan, membidh’ahkan, dan menjelek-jelekkan orang. Tidak seperti para da’i sekarang yang cenderung membuat hati orang lain terluka.

Ketiga, Nabi itu menganjurkan untuk melakukan kehidupan yang penuh dengan kerukunan dan keharmonisan. Nabi memang pernah berperang tetapi hal tersebut dilakukan karena terjadi pengingkaran perjanjian atau umat Islam diserang. Bahkan di dalam berperangpun, Nabi menganjurkan jangan membunuh orang yan tidak berdaya, orang tua, anak-anak dan juga merusak perkebunan dan binatang ternak.

Hal ini menggambarkan betapa Nabi Muhammad SAW adalah teladan sempurna. Teladan yang utama di dalam kehidupan. oleh karena itu jika memperingati hari kelahirannya tentu yang diharapkan adalah agar kita dapat mencontoh kehidupannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.