Dalam diskusi yang diselenggarakan hari Kamis yang lalu, 18 Pebruari 2010, ada sebuah pernyataan menarik dari Muhammad Zakki, penulis buku Gus Dur Presiden Republik Akherat, bahwa Gus Dur adalah setengah manusia setengah malaikat. Ada beberapa bukti empiris transendental yang diyakini oleh yang bersangkutan, bahwa hal itu memang nyata adanya. Diungkapkan bahwa ketika Gus Dur akan dibawa ke Surabaya untuk perawatan, maka sesampainya di Trowulan, Beliau minta kembali ke Jombang untuk berziarah di makam orang tuanya. Ternyata, ketika sampai di makam Gus Dur menangis. Tangisan Gus Dur itulah yang ditafsirkan bahwa Beliau dianggap memiliki kemampuan untuk bercakap-cakap dengan para leluhurnya, yang sudah meninggal. (more..)
Tentu tidak salah, jika masih ada yang beranggapan bahwa dengan menjadi UIN maka ilmu-ilmu keislaman akan menjadi semakin terabaikan atau terpinggirkan, meskipun pemikiran tersebut masih harus dikaji lebih mendalam. Dalam rentang historis tentu masih dapat diingat tentang adanya beberapa perguruan tinggi yang semula merupakan perguruan tinggi agama, akan tetapi lambat laun ketika menjadi universitas dengan berbagai prodi umumnya, maka prodi agama kemudian menjadi tergerus pengembangan kuantitas mahasiwanya. Kekhawatiran inilah yang menyulut perdebatan tentang rencana konversi tersebut. (more..)
Kemarin saya menjadi moderator dan sekaligus nara sumber di dalam seminar dalam rangka bedah buku yang berjudul “Gus Dur Presiden Republik Akherat” karya Muhammad Zakki, akademisi muda yang selama ini menjadi dosen di Universitas Sunan Giri dan juga pengusaha muda yang cukup berhasil. Diskusi ini menjadi menarik karena dipadukan dengan Penandatanganan prasasti di atas kanvas tentang Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional. Diskusi ini dihadiri oleh Gus Ipul (Wakil Gubernur Jawa Timur) dan Gus Umar Wahid, adik kandung Gus Dur sejumlah pengurus LSM, Organisasi Keagamaan, Sosial dan para pengusaha di Surabaya. (more..)
Hari ini, saya menulis tentang bagaimana menyeimbangkan program studi (prodi) agama dan umum atau secara lebih akademis menyeimbangkan ilmu agama dan umum. Mengapa tulisan ini saya buat, tentu saja terkait dengan pertanyaan dari salah seorang yang menanggapi tulisan saya di blog, tentang mengapa perlu menjadi UIN dan kenapa tidak tetap menjadi IAIN saja. Tampaknya ada kekhawatiran jika menjadi UIN lantas prodi agama atau ilmu agama akan terpinggirkan. Pertanyaan ini tentu sangat wajar, mengingat bahwa setiap perubahan pasti akan menghasilkan sikap yang variatif. Ada yang mendukung secara langsung, ada yang mendukung tetapi kritis dan ada juga yang mungkin menolak. Ini merupakan sikap yang sangat wajar terkait dengan inovasi baru atau perubahan menuju sesuatu yang baru. (more..)
Pada hari Senin, 15 Pebruari 2010, saya memang memiliki kegiatan di IAIN Sultan Amai Gorontalo untuk membicarakan tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (FPPTAIN) dan beberapa isu penting terkait dengan peningkatan kualitas Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). Selaku ketua FPPTAIN, maka saya memang harus memimpin tim kecil yang akan mempersiapkan AD/ART dan pertemuan FPPTAIN di Gorontalo sekitar akhir April 2010. Yang hadir pada acara ini adalah Rektor IAIN Palembang (Prof. Dr. Aflatun Muchtar) beserta Pembantu Rektor I (Prof. Dr. Saerozi), Rektor Antasari Banjarmasin (Prof. Dr. H.M. Fauzi Aseri), Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo (Prof. Dr. Muhammadiyah Amin) beserta Pembantu Rektor I, dan Ketua STAIN Salatiga (Prof. Dr. Usman Abubakar) dan Rektor IAIN Sunan Ampel (Prof. Dr. Nur Syam) dan Pembantu Rektor I (Prof. Dr. Abd. A’la). (more..)