• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

LESSON LEARNED TENTANG KEHIDUPAN DAN KEMATIAN

LESSON LEARNED TENTANG KEHIDUPAN DAN KEMATIAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Selalu ada saja yang menarik di dalam acara tahsinan Alqur’an di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. 23/05/2024. Acara tahsinan ini dipandu oleh Ustadz Alief Rifqi, Al Hafidz, Imam tetap masjid Al Ihsan. Seperti biasa bahwa acara ini selalu saja ada hal-hal menarik yang menjadi bahan pembicaraan. Ada humor, ada taushiyah dan ada juga penerjemahan ayat-ayat yang dibaca. Pada acara seperti ini, semua bisa menjadi narasumber.

Kali ini pembicaraan pengantar disampaikan oleh Pak Mulyanta, Ketua RW 8 yang menjadi pengikut setia di dalam Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), yang digelar setiap hari Selasa ba’da shalat Shubuh dan juga acara tahsinan yang dilakukan setiap ba’da shubuh di Masjid ini. Meskipun pesertanya tidak membludak, tetapi anggotanya merupakan orang-orang yang sukses pada zamannya dalam berbagai profesi atau dalam profesi yang sedang dilakoninya.

Pak Mul, begitulah sesama kita menyebutnya,  bercerita tentang “kematian” dan hal-hal lain di sekelilingnya. Pak Mul bercerita tentang kematian seorang sahabatnya, dari daerah lain. Sahabatnya adalah orang yang sukses di dalam kehidupannya, anak-anaknya sukses di dalam perjalanan kehidupannya. Ada bahkan yang hidup di Amerika Serikat. Yang lain juga sukses hidup di Indonesia. Hanya sayangnya, anak-anaknya yang sukses tersebut berada di luar rumahnya atau kota tempat tinggalnya. Jauh dan tidak bisa setiap saat berada di dekatnya. Maklumlah mereka sudah memiliki pekerjaan dan harus bertanggungjawab atas kehidupan keluarganya. Di masa tuanya, sahabatnya ini harus hidup sendiri tanpa siapapun. Hidup seorang diri. Kala wafat,  sahabatnya ini berada d rumah saudaranya, sementara rumahnya sendiri kosong. Tentu doa kita untuk aktivis Islam ini adalah semoga amal kabaikannya diterima oleh Allah dan mendapatkan rahmat Allah SWT untuk menjadi barisan dari ahli surga. Bukankah setiap mengawali acara tahsinan selalu kita lantunkan doa: Allahumaghfir li wa li walidaiyya wa lil mu’minin wal mu’minat. Amin ya rabbal alamin”. Sebuah doa yang luar biasa yang tidak hanya untuk kepentingan diri tetapi juga untuk kepentingan umat Islam. Semua didoakan agar mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

Salah seorang sosiolog, David Reisman, pernah menulis tentang “lonely in the crowd”  atau kesepian di tengah keramaian. Konsep ini memang relevan untuk menggambarkan tentang kehidupan kaum modernis yang sarat dengan dunia materialistic dan kelimpahan kakayaan. Di kala masyarakat berada di dalam posisi yang beranggapan bahwa ukuran kesuksesan adalah kesejahteraan lahiriyah, maka bisa dibayangkan bahwa persoalan batiniah  tidak terlalu penting. Sesungguhnya basis pemikiran seperti ini hadir bersamaan dengan semakin menguatnya modernisasi yang hinggap di dalam kehidupan masyarakat.

Memang harus diakui bahwa keberhasilan anak secara ekonomis tentu membanggakan orang tua. Banyak di antara kita yang beranggapan bahwa ukuran kesuksesan anak adalah di kala mereka berhasil secara ekonomi. Tidak jarang di antara kita menceritakan kesuksesan anak karena keberhasilan secara ekonomi. Kita bangga jika anak kita dapat  memiliki benda-benda penting seperti rumah, kendaraan roda empat, dan peralatan rumah tangga yang hebat serta asesori kehidupan yang mewah. Inilah ukuran keberhasilan.

Ternyata di dalam kehidupan ini keberhasilan anak bukan dari bagaimana kesejahteraan anak itu terdapat di dalam kehidupannya. Tetapi keberhasilan anak jika anak bisa melakukan “kebaikan” bagi keluarganya, khususnya pada kedua orang tuanya. Kebaikan itu saya berikan tanda petik, sebab kebaikan itu bermakna khusus, yaitu kebaikan yang basisnya adalah ajaran agama. Kebaikan dalam Islam itu bagi orang tua adalah ungkapan birrul walidain. Kata birr itu khusus kebaikan yang berdasar atas ajaran agama.  Berbeda dengan khair yang basisnya bisa selain ajaran agama. Misalnya tradisi yang tidak memiliki basis keagamaan.

Di dalam tradisi Jawa dikenal ungkapan “mangan ora mangan yen ngumpul” artinya makan tidak makan yang penting adalah berkumpul. Orang Barat salah memahami ungkapan ini yang dianggap sebagai cara berpikir kemiskinan. Padahal ungkapan ini menggambarkan tentang tradisi Jawa yang beranggapan bahwa “yang penting berkumpul”. Jadi bukan pada konteks makannya, tetapi pada konteks kumpul atau menyatu dalam kesatuan keluarga. Ada banyak tradisi Jawa yang bersenada dengan perkumpulan, misalnya slametan, brokohan, kendurenan atau banyak lainnya. Kata kuncinya adalah berkumpul.

Islam mengajarkan agar anak selalu berbakti kepada orang tua. Kapan dan di mana saja. Berbakti tersebut bisa memiliki makna memberikan ketercukupan kasih sayang, memberikan ketercukupan kehidupan fisikalnya, dan memenuhi ketercukupan kebutuhan batinnya. Orang tua tidak hanya membutuhkan ketercukupan kebutuhan fisik saja. Kebutuhan makan, minum dan menempati rumah yang layak, akan juga memerlukan kebutuhan akan ketenangan batinnya.

Islam mengajarkan agar menjadi anak yang saleh dengan indicator melakukan upaya untuk membahagiakan orang tua, baik kebahagiaan fisik dan batin. Kebahagiaan fisik dengan mencukupi kebutuhan fisiknya dan kebahagiaan batin jika anaknya menjadi anak yang saleh yang dapat mendoakannya. Anak yang saleh tidak akan terputus sampai manusia berada di dalam alam barzakh. Kala manusia wafat,  maka semuanya ditinggalkan kecuali tiga hal saja, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang bisa mendoakannya.

Harapan kita semua tentu adalah agar  tidak terputus untuk mendoakan orang tua kita baik yang masih hidup atau sudah wafat. Doa yang terus kita lantunkan adalah: “Ya Allah ampunilah aku dan ampunilah kedua orang tuaku dan rahmati keduanya sebagaimana mereka mengasuh aku kala masih kecil”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

SEKSUALITAS DALAM RELASI LELAKI DAN PEREMPUAN

SEKSUALITAS DALAM RELASI LELAKI DAN PEREMPUAN

Prof. Dr. Nur Syam, Msi

Tema pengajian dalam Kamunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency kali ini, sungguh menarik. Tema yang dibicarakan tersebut ada kaitannya dengan tema sebelumnya, sebagaimana dipertanyakan oleh Pak Karsali, sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab, yaitu: “Mengapa kalau di dalam komunitas yang isinya lelaki saja, kok yang dibicarakan itu mesti urusan seksualitas”.

Pertanyaan ini memantik Pak Sahid Sumitro, penceramah dan pelatih pengembangan SDM di Surabaya, untuk memberikan jawaban. Dan jawaban tersebut disampaikan pada waktu ngaji Selasanan pada pekan berikutnya. Pak Sahid mengungkapkan tentang data hasil penelitian yang tentunya sangat layak untuk dipaparkan. Maka, Pak Sahid berceramah dengan tema: “Seksualitas dalam Relasi Lelaki dan Perempuan”. 21/05/2024.

Pak Sahid mengungkapkan data untuk menjawab mengapa lelaki jika bertemu dalam komunitas lelaki maka yang dibicarakan adalah persoalan seksual. Ada tiga hal yang disampaikannya, yaitu: pertama, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Richard Lee, bahwa di dalam otak lelaki terdapat lebih besar pemikiran tentang seksualitas. Lelaki berkecenderungan berpikir seksualitas sebanyak 19 kali atau kalau menurut ahli psikhologi sebanyak 12 kali. Sedangkan perempuan hanya berpikir seksualitas separuhnya. Jadi, lelaki lebih besar keinginannya atau pemikirannya dalam seksualitas dibanding dengan perempuan. Jika lelaki lebih banyak membicarakan seksualitas dibanding perempuan karena memang begitulah isi dari otak lelaki.

Jika dilihat gambar tentang otak lelaki, maka yang dominan adalah sex and sex. Artinya bahwa pada diri lelaki terdapat kecenderungan untuk berpikir dan melakukan kegiatan seksual dibanding perempuan. Jika perempuan memerlukan mood yang bagus untuk melakukan kegiatan seksualitas, maka lelaki tidak demikian. Yang penting menyalurkan hasrat seksualnya kapan dan di mana saja. Tidak memerdulikan apakah ada mood atau tidak. Tubruk saja.

Perempuan itu lebih cenderung untuk berpikir selain seks, misalnya berpikir tentang kebutuhan untuk shoping, kebanyakan isi otaknya terkait dengan komitmen atas kehidupan, misalnya komitmen berumah tangga, komitmen pada kesetiaan dan sebagainya. Termasuk juga otak kecemburuan. Jika perempuan ternyata pencemburu karena memang isi otaknya seperti itu. Tidak ada perempuan yang tidak pencemburu terhadap banyak hal. Tidak hanya urusan rumah tengga tetapi juga pencemburu atas keberhasilan orang lain.

Jika lelaki bisa melakukan relasi seksual kapan saja dan di mana saja, sebaliknya perempuan akan sangat berhitung dengan tempat dan waktu. Perempuan akan lebih mengedepankan apa yang sedang dikerjakan dan bukan apa yang dilakukan oleh pasangan hidupnya. Perempuan lebih berkomitmen dengan apa yang dilakukannya saat itu dan bukan menuruti apa yang diinginkan oleh pasangan hidupnya. Hal ini karena seks itu bagian kecil saja di dalam otak perempuan. Perempuan lebih tahan menjanda dibandingkan dengan lelaki yang menduda.

Kedua, jika lelaki ingin memperoleh respon yang memadai dalam hal apapun termasuk seksualitas, maka lelaki harus memahami apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Perempuan itu lebih peka dengan ungkapan kata atau pernyataan yang disampaikan ke telinganya. Jika lelaki dapat memanfaatkannya bukan tidak mungkin lelaki akan memperoleh respon yang memadai. Ungkapkan kata-kata yang menghibur, menyanjung, mengagumi dan memberikan rasa aman dan damai. Ungkapkan kata cinta yang berasal dari kekuatan batin yang mendalam.

Lakukan sentuhan yang berbasis pada kasih sayang dan cinta. Lelaki mesti harus tahu di manakah wilayah erotis yang dimiliki oleh perempuan. Jika seseorang  tepat melakukannya tentu sangat potensial untuk memperoleh respon positif dari pasangan hidup. Beri dukungan atas apa yang diinginkannya. Jangan serba melarang. Beri dukungan dan penjelasan yang memungkinkan peluang untuk mencapainya. Diskusikan dengan pikiran dan perasaan. Berikan hadiah pada waktu-waktu khusus, misalnya pada waktu ulang tahun, ulang tahun perkawinan atau hari-hari khusus dan berikan pelayanan yang yang menyenangkan dan membuat bahagia.

Ketiga, membahagiakan pasangan. Baik lelaki maupun perempuan harus berupaya untuk saling membahagiakan. Kita sedang hidup di dunia, jangan persulit dengan syarat-syarat yang memberatkan. Permudahlah agar semua merasakan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Hidup pasti ada masalahnya. Tetapi setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Every problem there is a solution. Carilah solusi bersama untuk memecahkannya.

Kehidupan merupakan rangkaian masalah dan kebahagiaan itu akan tumbuh kala masalah kehidupan bisa dipecahkan atau ditemukan solusinya. Kita semua yakin bahwa dengan kekuatan pikiran dan kekuatan hati yang dipadukan dengan usaha dan doa, maka mencapai hidup bahagia bukan sesuatu yang tidak bisa dicapai.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

RAHMAT ALLAH YANG DIDAMBA

RAHMAT ALLAH YANG DIDAMBA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam acara Ngaji pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), Selasa, 14/05/2024, terdapat pertanyaan yang menggelitik dalam kaitannya dengan takdir untuk manusia yang berupa kebaikan dan keburukan. Padahal manusia berkeinginan untuk memperoleh surganya Allah SWT. Sementara itu terdapat takdir yang memihaknya untuk bisa masuk surga dan tidak ditakdirkan untuk masuk neraka. Mereka disebut sebagai orang yang sa’idun.

Sesungguhnya semua manusia yang beragama, apapun agamanya, berkeinginan untuk masuk surga dimaksud. Masuk nirwana dalam agama Hindu, masuk Jannah dalam agama Islam, moksa dalam tradisi Buddha dan sebagainya. Surga merupakan dambaan manusia beragama. Sementara itu terdapat takdir yang tidak memihak kepada manusia untuk bisa masuk surga. Ada golongan saqiyyun atau orang yang celaka.

Kebanyakan  manusia mesti memiliki referensi tentang surga. Yaitu sebuah tempat yang dijanjikan oleh Tuhan kepada manusia. Surga merupakan rangkaian akhir dalam perjalanan manusia dengan jasad dan rohnya. Kala manusia dibangkitkan atau disebut sebagai Hari Kebangkitan atau Yaumul Ba’ats, maka manusia dihidupkan lagi dengan jasadnya setelah sekian lamanya hidup di alam kubur atau alam barzakh. Rohnya hidup di alam barzakh sementara jasadnya berkalang tanah. Jasadnya menjadi tanah kembali. Ada yang masih tersisa tulang-tulangnya sementara kulit dan dagingnya kembali menjadi tanah. Yang diyakini tersisa dari jasad itu adalah tulang ekor. Berdasarkan keyakinan bahwa tulang ekor itu yang nanti akan dibangkitkan untuk menjadi manusia kembali. Tentu kita tidak tahu bagaimana wujudnya, apakah akan sama seperti sekarang atau dalam bentuk lain.

Di dalam proses berikutnya, maka mereka akan mengalami proses “pengadilan” berdasarkan atas amal perbuatannya. Jika amalnya baik maka akan menerima amal kebaikannya dengan tangan kanannya, dan jika amalnya jelek maka akan menerima catatan atau raport amalnya dengan tangan kirinya. Di sinilah manusia akan ditentukan mau masuk ke surga atau neraka. Jika masuk neraka maka akan menjadi orang yang saqiyyun dan orang yang masuk surga maka akan menjadi manusia yang sa’idun.

Manusia tentu masih memiliki peluang selamat. Dua yang utama untuk menggapai keselamatan tersebut adalah iman dan amal shaleh. Keduanya merupakan kata kunci yang akan menyelamatkan manusia di alam akherat, khususnya di saat berada di alam makhsyar atau padang makhsyar. Oleh karena itu, manusia harus berkompetisi untuk menjadi yang terbaik dalam iman dan amal shaleh. Misalnya amal baik tersebut seperti cerita seorang pelacur yang memberikan minuman pada anjing dengan ikhlas, maka kemudian mendapatkan rahmatnya Allah SWT. Atau misalnya cerita tentang masuk surganya Imam Ghazali yang disebabkan karena memberikan pertolongan pada lalat yang haus dan meminum tinta saat Imam Ghazali menulis. Rahmat Allah itu terkadang terjadi dan disebabkan oleh hal-hal sepele yang bahkan tidak disadari oleh pelakunya.

Jadi sebagai jawaban atas pertanyaan tentang takdir yang memihak atau tidak memihak kepada manusia dalam kebahagiaan adalah rahmat Allah SWT. Nasib orang kelak  tidak ditentukan oleh banyaknya harta atau asset dan bahkan kekuasaan yang besar di dalam kehidupan duniawi. Tetapi bagaimana asset dan kekuasaan tersebut bisa dimanfaatkan untuk amal shaleh. Kita sering mendengar ungkapan: “saya wakafkan diri saya untuk kepentingan rakyat”, atau “saya wakafkan diri saya untuk bangsa” dan sebagainya. Ungkapan ini sering kita dengar dan baca pada waktu akan berlangsungnya Pilkada, Pilpres, Pileg dan sebagainya. Tetapi sesungguhnya banyak dari ungkapan ini yang hanya menjadi ungkapan tanpa makna.

Rahmat Allah tidak terletak pada ungkapan yang berbusa-busa, atau pada ungkapan yang lemah lembut dan mengasyikkan, akan tetapi terletak pada perilaku yang ikhlas tanpa pamrih. Peristiwa seorang pelacur memberi minuman anjing yang kehausan atau memberikan  peluang lalat untuk minum air merupakan perbuatan yang tidak didasari oleh kepentingan dan hasil imbal balik. Benar-benar datang dari rasa kasih sayang yang timbul dan dimanifestasikan di dalam kehidupan.

Sayangnya bahwa banyak hal yang dilakukan manusia ternyata tidak murni dalam keikhlasan. Selalu ada keinginan untuk memperoleh balasan yang datang kepadanya. Sering di dalam hati kecil manusia tersebut tersimpan satu keinginan, misalnya: “semoga apa yang saya lakukan ini akan menyenangkan Tuhan” atau “agar Tuhan memberikan rahmat kepadaku”, dan sebagainya. Ini bagian dari “penyakit” dalam diri yang selalu berpikir “transaksional” dalam membangun relasi dengan Tuhan.

Tetapi kita tetap harus berprasangka baik kepada Allah, khusnudh dhan, bahwa Allah itu maha pengasih dan penyayang, Rahman dan Rahim, yang dengan kasih sayangnya tersebut semua alam mikro dan makro kosmos tercipta, semua tata surya tercipta, dan semua keteraturan dalam alam tercipta. Hanya melalui rasa yang berkeyakinan bahwa Allah itu maha baik dan akan memberikan yang terbaik pada hambanya, maka manusia akan terselamatkan.

Ya Allah, hanya kepada-Mu aku menyembah, dan hanya kepada-Mu aku berserah diri, dan hanya kepada-Mu aku berharap keridlaan-Mu.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

TRILOGI PAHAM DAN AMALAN MENUJU MUKHLISHIN

TRILOGI PAHAM DAN AMALAN MENUJU MUKHLISHIN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sungguh saya merasa sangat bahagia bertemu dengan Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) pada ngajii Selasanan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Ngaji santai dan bergelak tawa yang menyenangkan, tetapi juga belajar memahami ajaran Islam dengan cara yang membahagiakan. Selasa, 14/05/2024 merupakan hari yang menyenangkan karena bisa bersama-sama mendalami ajaran Islam yang penting yaitu menjadi orang yang ikhlas, atau menjadi kaum Mukhlishin.

Ngaji Bahagia ini sudah menjadi brand image bagi komunitas ini. Akibatnya, baru datang saja tanpa ada pembicaraan apa-apa kita sudah tertawa bareng. Sungguh nuansa pengajian yang berbeda dengan lainnya. Yang dikaji adalah Islam tetapi dikemas dalam konten Islam happy atau Islam yang membahagiakan. Bukankah di era semakin menguatnya kehidupan yang meterialistis ini, seseorang memerlukan kehidupan yang happy, yang senang, yang membahagiakan. Dan Ngaji Bahagia merupakan medium untuk menjadi salah satu cara sublimasi untuk mendapatkan kebahagiaan.

Ada tiga hal yang saya bahas di dalam pengajian itu, yakni: pertama, mukhlish atau perbuatan ikhlas adalah perbuatan yang sudah dilakukan oleh seseorang dan di dalam tindakannya tersebut terdapat rasa menerima dan pasrah hanya kepada Allah semata. Bagaimana orang bisa pasrah dan menerima atas semua hal yang didapatkannya atau diperolehnya, maka kata kuncinya adalah iman kepada Allah. Semuanya bersumber dari adanya iman. Jika ada iman di dalam dada seseorang, maka semua perbuatan yang dilakukannya akan kembali kepada rasa iman dimaksud.

Iman menyangkut keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah. La ilaha illallah. Di dalam keyakinan tersebut terdapat akal atau pikiran dan hati atau perasaan  dan kemudian mengejawantah di dalam tindakan. Makanya di dalam Alqur’an banyak ayat yang menggambarkan pasangan antara iman dan amal shalih. “Alladzina amanu wa ‘amilush shalihati falahum ajrun ghairu mamnun”. “Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang tidak terhingga”.  Oleh karena itu, amal shaleh selalu dikaitkan dengan iman, sebab tidak akan menjadi amal shaleh jika tidak didasari oleh Iman. Sebab kebaikan yang tidak didasari  oleh iman bukanlah amal shaleh di dalam agama Islam. Jadi ukuran utamanya adalah iman kepada Allah SWT. Ada banyak orang yang disebut sebagai humanis. Orang yang berbuat baik. Namun demikian, perbuatannya itu tidak berpahala di dalam konteks Islam karena tidak didasari oleh Iman kepada Allah SWT.

Kedua, menerima. Di dalam Islam terdapat takdir yang berlaku untuk manusia. Saidun auw saqiyyun. Bahagia atau sengsara, senang atau susah, bersukaria atau berdukacita. Semuanya sudah ada catatannya. Di dalam Alqur’an dijelaskan: “kulla yushibana illa ma kataballahu lana, huwa maulana wa alallahi fal yatawakkalil mu’minun”. Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakkal”. (Surat Attaubah, 51).

Berdasarkan ayat ini, maka tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita terkecuali semuanya sudah terdapat catatan atau takdir Allah SWT. Lalu jika semuanya ada catatannya berarti bahwa orang yang celaka atau memperoleh balasan neraka juga sudah terdapat catatan di dalam bukunya. Jadi terkesan Tuhan itu tidak adil, kenapa tidak semua manusia diberikan catatan yang baik, sehingga semuanya akan masuk surga. Terhadap catatan ini kiranya perlu mendapatkan perhatian. Allah memang memberikan catatan seseorang itu bahagia atau sengsara. Tetapi sesungguhnya Allah memberikan peluang untuk melakukan amalan yang shalihan. Nabi dan Rasul itu diturunkan kepada segenap umat manusia. Nabi dan Rasul diutus untuk memberikan pedoman kepada manusia berdasarkan wahyu yang diterimanya dari Allah SWT. Maka atas catatan tersebut, Allah tetap memberikan peluang bagi yang bersangkutan untuk memilih. Ibaratnya kita berada di persimpangan jalan dan tidak tahu jalan mana yang ditempuh. Maka ada petunjuk, jika lewat jalan ini akan selamat tetapi banyak rintangan, tetapi kalau lewat jalan yang satunya itu lebih mudah tetapi berujung ketidakselamatan. Manusia diminta untuk memilihnya. Bisa jadi orang yang catatannya sebenarnya jelek tetapi kemudian selamat dan ada orang yang catatannya baik tetapi akhirnya tidak selamat. Salah satu piranti untuk memahami tentang kepastian Tuhan tersebut adalah dengan sikap menerima. Di dalam filsafat Jawa disebut sebagai nerimo ing pandum. Diterima pemberian tersebut jika semuanya sudah diusahakan dengan usaha yang berisi kebaikan-kebaikan.

Ketiga, pasrah atau tawakkal yaitu upaya untuk memahami bahwa setiap usaha yang dilakukan tersebut selalu terkait dengan bagaimana takdir atau catatan atas yang dilakukan tersebut. Ada kalanya usaha tersebut berhasil dan ada kalanya tidak berhasil. Ada kalanya menyenangkan dan ada kalanya menyusahkan. Jika kita sampai pada tahapan ini, maka kita sudah sampai pada tahapan orang yang ikhlas. Di dalam filsafat Jawa disebut sebagai legowo atau menerima dan pasrah atas semua yang berlaku bagi dirinya. Legowo bukan hanya menerima tetapi juga pasrah atas ketentuan yang harus diterimanya.

Dengan demikian, trilogy keyakinan, nerimo dan legowo merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tidak mungkin orang menerima dan pasrah jika tidak didasari oleh iman. Dan iman saja juga tidak cukup jika tidak dibarengi dengan sikap dan tindakan menerima dan pasrah atas segala ketentuan yang datang kepadanya. Dari semua itu, maka yang muncul adalah kata hikmah atau akibat dari hasil akhir perbuatan yang tidak disadari sebelumnya tetapi menjadi nyata adanya, dan yang lebih penting tidak merugikannya secara fisik atau batin, tetapi menguntungkan fisik dan batinnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

IBADAH TRANSAKSIONAL

IBADAH TRANSAKSIONAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya semula menyatakan bahwa kebanyakan di antara kita di dalam beribadah lebih cenderung mengarah kepada perilaku untung rugi. Jadi pemikirannya lebih mengarah kepada pemikiran rasional semata. Jika untungnya banyak  dikerjakan, jika untung sedikit bisa ditinggalkan  dan jika tidak menguntungkan tentu tidak  dilakukan.

Sebagai contoh, jika pada bulan puasa, maka kuantitas ibadah kita cenderung meningkat. Bahkan meningkat luar biasa. Amalan-amalan sunnah nyaris semua dilakukan. Mulai dari shalat sunnah tarawih dan witir, dzikir atau wirid juga ditambah, jumlah bacaan shalawat  ditambah, lalu tadarrus Qur’an juga dilakukan secara lebih maksimal. Mengapa begini? Karena Allah akan melipatgandakan pahala orang yang melakukannya.

Lalu, ada seorang jamaah pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), 07/05/2024, Namanya Pak Dr. Wardi yang nyeletuk menyatakan: “ibadah kita transaksional”. Ungkapan transaksional itu menarik, sehingga kata itu yang saya gunakan untuk menggambarkan cara orang beribadah yang hanya bertumpu pada pahala yang berupa surga. Jadi yang dicari adalah surga, yang dilambangkan sebagai tempat yang luar biasa, dengan berbagai kenikmatan yang bisa membuat seseorang menginginkannya. Bukankah manusia memang memiliki kecenderungan pada kenikmatan atau hedonis. Jadi, kalau kemudian manusia tergiur dengan surga tidak lain adalah keinginannya untuk memuaskan nafsu kenikmatan yang luar biasa tersebut.

Di dalam Alqur’an banyak dijumpai gambaran pahala yang akan diberikan kepada orang yang suka beribadah kepada Allah yang berupa surga. Surga itu digambarkan sebagai:  “jazauhum ‘inda rabbihim jannatu adnin tajri min tahtihal anhar”  (Surat Al Bayyinah: 8), yang artinya: “balasan mereka di sisi Tuhannya adalah surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”. Mereka yang tergolong orang yang beruntung  disebut sebagai ashhabul  yamin, yaitu orang yang dijanjikan Allah akan menjadi ahli surga. Dinyatakan di dalam Alqur’an (Surat Al Waqiah, 27-30) : “wa ashhabul Yamini, ma ashhabul yamin, fi sidrim makhdhud wa thalhim mandhud wa dzillin mamdud wa main mashub, yang artinya: “dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas”.

Bahkan juga gambaran ahli surga adalah: “usianya berkisar 33 tahun, yang masuk surga berwajah bersinar seperti bulan purnama, tidak buang air besar dan kecil, tidak ingusan, tidak meludah, dan keringatnya seperti minyak pewangi dan disediakan dua orang istri yang sangat putih bahkan tulang betisnya kelihatan,  dan tidak ada permusuhan. Selain itu juga bisa saling melihat dan memiliki rumah yang mewah. Mereka berkata dengan lemah lembut, dan hidup dalam kenyamanan, kedamaian dan kerukunan. (Rumah Zakat, 24/11/23).

Membaca dan menghayati atas gambaran ahli surga yang seperti itu tentu sangat pantas jika orang merindukan surga. Sebagai makhluk yang menyenangi kelezatan, kenikmatan, kenyamanan dan kedamaian, maka gambaran surga itu sungguh menakjubkan. Begitulah cara Allah mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW agar seseorang bercita-cita menjadi ahli surga. Sebuah ajaran moral yang sangat luar biasa untuk memberikan literasi religious betapa surga tersebut sangat menjajikan dan manusia dapat berada di sana selama amalan kebaikannya baik dan banyak.

Alqur’an sebagai pedoman utama di dalam ajaran Islam diturunkan pada masyarakat Arab yang kondisi geografis dan topografi kering kerontang, masyarakat banyak hidup nomaden karena mengikuti sumber air yang tersedia atau jika menetap tentu karena ketersediaan sumber bahan makanan dan minuman pada masa itu, sehingga Nabi Muhammad SAW banyak memberikan kabar gembira atau tabsyir agar masyarakat Arab mengikuti ajaran Islam. Misalnya digambarkan bahwa di dalam surga  terdapat air mengalir dari sungai-sungai, tumbuhannya menghijau, rumahnya indah-indah, bahkan juga kenikmatan syahwati yang tiada taranya. Semua itu menggambarkan bahwa ada konteks social pada zaman Nabi Muhammad dengan teks suci yang hadir pada mereka. Itulah sebabnya banyak ulama Arab yang kemudian mengagumi tanah Nusantara, sebab di mana-mana gambaran Alqur’an tentang geografis dan topografis bumi Nusantara itu sebagaimana gambaran di dalam Alqur’an. Pada zaman Presiden Soekarno, ada mufti Mesir dan Rektor Al Azhar University, Prof. Mahmud Syaltut, yang datang ke Indonesia dan menyatakan bahwa: “Indonesia adalah percikan surga di dunia”.

Oleh karena itu, jika banyak orang  yang memohon kepada Allah agar diganjar dengan surga tentu bukanlah sebagai kesalahan. Begitulah adanya. Namun demikian, yang sesungguhnya jauh lebih penting adalah seseorang memohon kepada Allah agar mendapatkan ridha-Nya. Melalui keridhaan Allah atas diri manusia tersebut, maka dipastikan manusia akan memperoleh surga-Nya.

Doa tertinggi kepada Allah adalah untuk memperoleh ridha Allah melalui jiwa yang tenang. Seseorang yang memilikinya maka dialah yang memperoleh ridha Allah yang kemudian berujung kepada jalan menuju surga. Jadi ada tiga  hal mendasar yaitu berdoalah untuk mendapatkan ridhanya  dan surganya Allah serta memohon agar terhindar dari api neraka.

Wallahu a’lam bi al shawab.