• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENJAGA KESEIMBANGAN RASIO DAN SPIRITUALITAS: KASUS ANDI IBRAHIM

MENJAGA KESEIMBANGAN RASIO DAN SPIRITUALITAS: KASUS ANDI IBRAHIM

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Selasa yang lalu, 24/12/2024, sebagaimana biasa, saya memberikan pengajian pada jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Surabaya. Hadir jamaah Masjid Al Ihsan Lotus Regency dan Masjid Raudhah Sakura Regency pada acara tersebut. Sudah dua kali berturut-turut acara Ngaji Bahagia ini diisi oleh Ustadz Dr. Cholil, karena ketetapan, saya  ada pekerjaan di luar Surabaya. Pertama ke Pontianak dan berikutnya ke Tuban.

Makanya ada rasa kangen dengan guyonan atau joke yang selalu menghiasai acara ngaji bareng. Bayangkan di dalam acara ngaji itu setidak-tidaknya 17 kali tertawa. Dan jika kita dapat  melakukan dengan tulus maka tertawa itu akan membawa kepada kesehatan. Adrenalin kebahagiaan akan muncul bersamaan dengan tertawa lepas tanpa rekayasa. Sungguh bagi Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), ngaji bahagia  adalah acara yang dinantikan.

Saya memberikan ceramah yang agak bernuansa kasuistis, yaitu kasus yang mendera Dr. Andi Ibrahim, akademisi dan birokrat dari UIN Alauddin Ujungpandang. Sebuah kasus yang menyita perhatian banyak orang sebab dilakukan oleh ASN dari Perguruan Tinggi Islam yang untuk wilayah Timur tentu merupakan barometer kemajuan PTKIN. Makanya, sontak peristiwa ini memantik riuh rendah pembahasan di media social yang sekarang ini menjadi trend untuk informasi apa saja.

Kita sungguh bisa bertanya, bagaimana seseorang dengan realitas well educated bisa melakukan kesalahan yang sangat fatal. Bahkan tidak masuk akal. Andi Ibrahim adalah seorang doctor dalam Islamic Studies dengan latar belakang Pendidikan yang sangat baik. Pernah menjadi pejabat, Wakil Dekan, dan sekarang menjadi Kepala Perpustakaan. Tetapi inilah dunia manusia yang tidak bisa diprediksi dengan nalar manusia. Selalu ada misteri di dalam kehidupan manusia yang sulit dinalar dengan pendekatan rasio belaka.

Sebagai akademisi tentu secara nalar bisa mengukur akibat dan resiko yang akan didapatkan jika tertangkap. Menggandakan uang akan memiliki resiko yang sangat berat bagi keuangan negara. Makanya setiap kejahatan penggandaan uang dipastikan akan dihukum yang sangat berat. Tidak juga Andi Ibrahim. Memang sedang dalam proses penyelidikan tetapi dengan barang bukti yang sudah ditemukan, maka Andi Ibrahim sudah dijadikan tersangka. Mungkin secara nalarnya Andi Ibrahim sungguh sudah sempurna pencetakan uang palsu tersebut, misalnya sudah memakai kecanggihan alat dan prosesnya, akan tetapi tidak ada kejahatan yang sempurna.

Atas kasus ini, maka saya coba untuk melakukan analisis sederhana dengan menggunakan pendekatan sosio-religious. Pertama, dari sisi kesenjangan pemahaman teologis, maka ada beberapa pandangan. Ada yang serba Tuhan atau Theocentrisme, bahwa apa yang dilakukan oleh yang bersangkutan adalah kepastian Tuhan dan dia dipastikan akan menjalaninya. Di sisi lain ada yang serba manusia atau antroposentrisme artinya bahwa yang dilakukan itu semata-mata kesalahannya. Tidak ada campur tangan Tuhan. Tetapi di sisi lain, juga kepastian sudah ditentukan tetapi manusia masih memiliki kemampuan untuk memilih yang terbaik berkat kemampuannya di dalam menterjemahkan pedoman yang berdasar atas ajaran agama. Aliran Asy’ariyah ini yang banyak pengikutnya di Indonesia. Ajaran agama, akal dan hatinya dapat mengubah takdir yang jelek menjadi baik.

Kedua,  dari sisi kesenjangan pengetahuan agama dan pilihan perilaku. Semestinya, pengetahuan beragama berkorelasi dengan pilihan perilaku. Apa yang diketahui semestinya menjadi pilihan perilakunya. Apa yang tersaji di dalam tindakan Andi Ibrahim dalam kasus penggandaan uang merupakan sebuah kesenjangan yang sangat nyata antara pengetahuan beragama dengan pilihan perilakunya. Memang ini sebuah kasus yang di luar nalar. Artinya bahwa pengetahuan agama yang tinggi tidak menjamin perilaku pilihannya dalam menghadapi kehidupan yang nyata. Saya kira banyak orang yang seperti itu. Kita tentu bersyukur, meskipun tidak memiliki pengetahuan agama yang tinggi tetapi kita insyaallah bisa memilih tindakan sesuai dengan ajaran agama yang penting. Kita sudah memilih perilaku yang benar sesuai dengan tafsir agama yang kita yakini kebenarannya. Yang penting jangan ragu, bahwa yang kita lakukan dalam beragama ternyata memiliki dasar sebagaimana tafsir para ulama masa lalu sesuai dengan teks atau ajaran agama yang dipahaminya.

Ketiga,  kesenjangan antara pengetahuan agama dan spiritualitas. Memang tidak mudah untuk menyerasikan antara pengetahuan agama dengan spiritualitas yang berbasis rasa. Jika selama ini kita lebih terfokus pada rasio atau akal, maka pada saatnya kita harus menyerasikan dengan rasa atau hati. Rasa itu sulit dibohongi sebab di dalamnya ada panggilan batin yang akan mengarahkan pada pilihan yang benar. Rasio itu lebih banyak terkait dengan untung rugi. Dan yang menjadi pertimbangan lebih banyak untung tersebut. Jika misalnya terdapat peluang kerugian, maka harus dicarikan kekuatan untuk memperoleh keuntungan. Itulah sebabnya dalam banyak kasus penyalahgunaan wewenang, tindakan melawan hukum dan tindakan menyimpang lainnya dipastikan disebabkan oleh pencarian untuk membenarkan tindakan rasional dimaksud.

Berdasarkan hati nurani tentu tidak mungkin bahwa orang dengan pengetahuan beragama yang sangat tinggi bisa melakukan tindakan menggandakan uang. Dengan alasan apapun tentu tidak masuk dalam dunia batin atau rasa. Tetapi jangan lupa bahwa di dalam hidup ini, ada hal-hal yang tidak masuk dalam pertimbangan hati nurani  tetapi menjadi kenyataan.

Oleh karena itu berbahagialah bagi orang yang bisa menyeimbangkan antara pengetahuan dengan perilakunya, dan berbahagialah orang yang bisa menyerasikan antara pengetahuannya dengan spiritualitas berbasis hati nurani yang selalu menganjurkan akan kebaikan. Mungkin pengetahuan beragama kita termasuk golongan kaum minimalis, akan tetapi semoga perilaku kita termasuk yang maksimalis terbatas. Artinya di dalam shalat subuh, misalnya kita sudah maksimal, tetapi dalam yang lain, misalnya sedekah,  kita termasuk yang minimalis.

Akan tetapi di atas itu semua kita tetap harus bersyukur sebab kita telah menjadi bagian dari dua milyar umat Islam di dunia yang telah menjalankan ajaran agama yang benar sesuai dengan keyakinan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KETAATAN MUTLAK KEPADA ALLAH DAN RASULNYA

KETAATAN MUTLAK KEPADA ALLAH DAN RASULNYA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya diundang oleh Ketua Yayasan Pendidikan Nailun Najah, H. Moh. Fauzan, SH, SPdI,  Desa Margomulyo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban yang menyelenggarakan acara “Pengembangan Moderasi Beragama Berbasis  Digital Untuk Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Di Kecamatan Kerek Tuban” kerja sama antara Direktur Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama, Dr. A. Munir, MA, yang acaranya diselenggarakan di Front One King Hotel Tuban.

Di sela-sela waktu yang tersedia pada saat  saya ke Tuban, maka Saya  menyempatkan pulang ke rumah saya di Tuban, tepatnya di Desa Sembungrejo Kecamatan Merakurak, Tuban. Tentu merupakan kewajiban bagi saya untuk pulang ke rumah, sebab orang tua perempuan saya, Hj. Turmiatun, masih dalam keadaan sehat wal afiat. Rasa syukur yang luar biasa atas keadaan Emak saya tersebut.

Pada waktu subuh, Sabtu, 14/12/24, saya berkesempatan untuk shalat shubuh berjamaah di Mushallah Raudhatul Jannah. Saya bisa bertemu para sahabat saya di masa kecil. Ada di antara para sahabat tersebut yang sudah mendahului kita semua. Melihat para jamaah shalat subuh lelaki dan perempuan tersebut, maka saya tergerak untuk memberikan sekedar ceramah agama, yang saya kaitkan dengan salah satu ayat di dalam Surat Al Mujadalah. Ceramah tersebut bisa saya berikan tema “Ketaatan Mutlak Kepada Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW”.

Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu: Pertama, bersyukur atas nikmat Allah. Tidak bisa diingkari bahwa kita semua semakin merangkak menjadi tua. Bahkan sudah ada beberapa kawan kita yang sudah dipanggil Allah SWT. Mereka sudah berada di alam lain, alam barzakh, alam penantian antara kehidupan dunia dan akherat. Dan kita juga yakin bahwa suatu saat kita juga akan seperti itu. Kita masih diberikan usia yang panjang. Maka sudah saatnya kita bersyukur kepada Allah SWT. Kita mensyukuri atas nikmat usia panjang. Yang kita harapkan adalah usia yang panjang yang penuh dengan kesehatan, keberkahan dan keimanan kepada Allah SWT.

Kedua,  di dalam surat Al Mujadalah, Allah memberikan peringatan kepada kita agar  tidak melakukan perundingan dengan sesama sahabat atau kolega untuk melakukan perbuatan yang berdosa, berbuat jahat dan kemaksiatan kepada Rasulullah. Di dunia yang penuh dengan kepentingan politik, ekonomi, social dan budaya ini sangat dimungkinkan untuk melakukan apa saja, bahkan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan keagamaan. Orang rela untuk melakukan pembunuhan fisik atau kehormatan, karena factor politik. Untuk mencapai tujuan politik tidak jarang orang bisa berbunuh-bunuhan. Kekejaman banyak terjadi karena kepentingan di bidang politik dan ekonomi.

Bahkan juga di dalam kepentingan agama dan social. Perang bisa terjadi karena tafsir agama. Lihatlah orang bisa melakukan bom bunuh diri karena tafsir agama yang merusak kemanusiaan. Kelompok teroris bisa melakukan bom bunuh diri dengan meledakkan dirinya untuk membela tafsir atas jihad yang bermakna kekerasan atau mati syahid. Di dunia Ini ada saatnya orang berperang untuk membela keyakinannya. Semua dilakukan dengan alasan membela agama Tuhan. Demikian pula terkait dengan masalah social. Ada kesalahpahaman yang menyebabkan konflik social, ada interaksi social yang tidak seimbang lalu melahirkan disharmoni social dan sebagainya.

Ketiga, Allah melarang umat Islam untuk merencanakan perbuatan dosa. Allah melarang umat Islam merencanakan tindakan yang bermuatan permusuhan. Allah melarang umat Islam untuk bermaksiat kepada Rasulullah SAW. Umat Islam dilarang untuk merencanakan perbuatan yang mengingkari kebenaran Rasulullah dan mengingkari apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah seharusnya adalah apa yang dilakukan umat Islam. Apa yang disunnahkan oleh Rasulullah adalah apa yang seharusnya dilakukan umat Islam.

Jika Rasulullah meminta kepada umat Islam untuk melakukan dzikir untuk memuji Allah, maka umat Islam juga harus melakukannya. Jika Rasulullah mensunnahkan perbuatan seperti menyebarkan salam, memberi makan orang miskin dan membangun persahabatan melalui silaturrahmi kepada sesama umat Islam, maka itu pula yang harus dilakukan oleh umat Islam. Janganlah kita menjadi kelompok yang inkarus sunnah atau mengingkari sunnah Rasulullah SAW.

Kitab Suci Alqur’an itu memuat hal-hal yang mujmal atau umum, maka yang menjelaskannya adalah hadits Nabi Muhammad SAW. Aqur’an memerintahkan kita melakukan shalat dan tata cara shalat itu dijelaskan di dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Jadi antara Alqur’an dan Hadits adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan sumber ajaran Islam yang harus diyakini keberadaannya. Jika umat Islam mengingkari salah satunya, maka keislamannya menjadi salah. Yang bersangkutan akan menjadi kafir atau ingkar atas kebenaran ajaran Islam.

Kita bersyukur kepada Allah karena hingga hari ini masih menjalankan ajaran Islam dengan benar. Tidak ada di antara kita yang menjadi kelompok inkarus sunnah. Tidak ada di antara kita yang menolak ajaran Islam. Insyaallah kita telah menjadi bagian dari umat Muhammad SAW yang kelak akan mendapatkan syafaatnya karena kita telah melakukan amalan-amalan wajib dan sunnahnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

MENJAGA IMAN DARI GANGGUAN SYIRIK

MENJAGA IMAN DARI GANGGUAN SYIRIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya berkesempatan untuk memberikan ceramah agama di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Pada Selasa pagi, 03/12/2024, ba’da Shubuh. Acara pengajian rutin ini dikelola oleh Komunitas Ngaji Bahagia (KNB). Selasa yang lalu diisi oleh Ustadz Dr. Sahid Sumitro, trainer pengembangan SDM di berbagai tempat: Lembaga pemerintah, Lembaga swasta, dan juga Lembaga swadaya masyarakat. Pak Sahid merupakan seorang trainer andal dalam bidangnya.

Saya menyampaikan satu tema yang berjudul “Menjaga Iman dari Gangguan Syirik”. Tema ini dipicu oleh cerita Pak Bintara yang menemukan Jinglot, di depan rumahnya. Jinglot itu diyakini sebagai makhluk yang sudah mati tetapi masih hidup. Tanda hidupnya adalah rambutnya bisa memanjang bahkan melampaui badannya. Panjangnya kira-kira 10 cm-20 cm. badannya kering, tetapi kukunya bisa memanjang dan juga rambutnya. Makanya, ada yang menganggap Jinglot adalah makhluk yang memiliki kekuatan atau energi. Kebanyakan beranggapan energi negative. Wallahu a’lam.

Saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, iman merupakan ajaran pokok di dalam Islam. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sewaktu didatangi oleh Malaikat Jibril untuk mengajarkan tentang Iman, Islam dan Ihsan. Iman adalah percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari akhir dan Takdir Allah. Di dalam iman terdapat kegaiban. Iman itu keyakinan sehingga ada yang tidak bisa dipertanyakan. Sebagaimana Sayyidina Abu Bakar yang mempercayai iman tanpa keraguan sedikitpun. Iman dengan lesannya dan juga iman dengan hatinya. Ada orang yang lesannya beriman tetapi hatinya tidak beriman atau yang disebut sebagai orang munafik.

Iman merupakan ajaran Islam yang mendasar, melalui iman kepada Allah, maka akan menyatu  secara sistemik dalam iman kepada lainnya. Alqur’an misalnya menjelaskan tentang “aku beriman kepada Allah dan kemudian beristiqamah”. Perilaku istiqamah tidak akan terjadi jika tidak mendalam keyakinannya kepada Allah dimaksud. Iman kepada malaikat, makhuk gaib yang ada di dalam ajaran Islam, yang pernah datang kepada Nabi menyerupai orang yang sangat tampan di kala Nabi Muhammad bersama para sahabatnya. Ada seseorang yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi. Di kala para sahabat Nabi bertanya, maka Nabi menjelaskan bahwa yang datang tersebut adalah Malaikat Jibril untuk mengajarkan tentang Iman, Islam dan Ihsan.

Kitab suci dengan Nabi Muhammad SAW merupakan dunia keyakinan yang berwujud. Kitab suci dapat dibuktikan dengan otentisitas Alqur’an sebagai Kitab Suci dan kehadiran Nabi Muhammad SAW yang juga manusia sebagaimana manusia lainnya. Namun Nabi Muhammad SAW merupakan insan kamil atau manusia sempurna yang semua perbuatannya dipandu oleh wahyu Allah. Lalu ada hari akhir atau kiyamat dan kepastian atau takdir Allah yang berlaku bagi semua manusia dan alam seluruhnya.

Kedua, dalam rukun iman tersebut ada yang harus diyakini tanpa bisa dibuktikan. Misalnya eksistensi Allah dengan sifat, af’al dan dzatnya. Tidak ada satupun makhluk selain Nabi Muhammad SAW yang bisa bermuwajahah  dengan Allah. Nabi-nabi lainnya tidak memiliki kemampuan untuk bertemu Allah. Nabi Musa yang meminta bertemu dengan Allah di atas Bukit Thursina, maka Musa kemudian pingsan karena Gunung Thursina tidak mampu untuk menampung kekuasaan Allah. Inilah kegaiban pertama dan utama yang tidak mungkin manusia dengan ilmu pengetahuannya untuk menyibaknya. Sejauh-jauhnya hanyalah hipotesis tentang keberadaan Zat yang sempurna untuk menciptakan alam dan tata surya. Alam dan tata surya tidak mungkin terjadi dengan sendirinya kecuali ada desain sempurna yang menciptakannya. Keteraturan tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Pasti ada Akal Agung yang mendesainnya. Dan itulah yang dikenal sebagai Tuhan.

Keberadaan Rasul dan Kitab Suci dapat dibuktikan secara saintific. Melalui ilmu pengetahuan yang semakin maju, maka sesuatu di masa lalu yang dianggap sebagai mu’jizat, maka sekarang bisa dibuktikan kebenarannya. Fir’aun yang tenggelam di laut merah bisa dibuktikan kebenarannya. Bulan terbelah bisa dibuktikan kebenarannya. Malam lailatul qadar dapat dibuktikan kebenarannya. Dan masih banyak lainnya. Demikian pula hari akhir atau dikenal sebagai hari kiamat juga bisa dihipotesiskan melalui kajian-kajian empiris melalui studi astronomi. Semenjak ditemukannya teori big bang dan black hole maka kebenaran kiamat akan menjadi kenyataan. Melalui teori Stephen Hawking maka suatu ketika alam dan tata suryanya dapat ditelan oleh lubang hitam yang akan menyerap semuanya.

Ketiga, kita harus menjaga iman kepada Allah agar tidak jatuh kepada kemusyrikan. Di dunia ini banyak benda yang diyakini memiliki kekuatan atau dinamisme. Di dalam konsep lain disebut sebagai energi. Energi itu bisa positif dan bisa negative. Energi positif itu, misalnya energi Ka’bah atau energi dzikir atau bacaan Alqur’an. Dan energi negative dan positif bisa datang dari benda-benda yang ada di sekitarnya. Keris, akik, dan benda-benda antic lainnya bisa mengandung energi positif atau negative. Yang positif bisa datang dari malaikat dan yang jahat datang dari setan atau iblis.

Orang boleh saja untuk memiliki atau menggunakan berbagai akik atau bahkan keris yang dianggapnya memiliki energi yang baik bagi dirinya, akan tetapi jangan lupa bahwa energi tersebut adalah energi yang dianggap positif. Meskipun bukan penganut aliran serba kekuatan atau dinamisme, tetapi kita bisa percaya bahwa ada kekuatan atau energi yang dikandung oleh benda-benda tertentu. Hal tersebut merupakan kekayaan dunia, artinya bahwa semua suku bangsa di dunia memiliki kepercayannya seperti ini.

Di dalam Islam diajarkan agar jangan sampai kepercayaan akan benda-benda dunia, selain yang diajarkan Islam, dapat menyebabkan manusia tergelincir di dalam pemahaman dan perilaku syirik atau menyekutukan Tuhan. Ada syirik khofi atau menyekutukan Tuhan dengan samar-samar. Dan ada yang menyekutukan Tuhan secara nyata atau syirik jahri. Ada orang yang melakukan sesaji di pohon-pohon besar dengan keyakinan ada hal yang bisa dilakukan oleh pohon tersebut untuk menyelamatkan atau menyengsarakan. Jika kita meyakini seperti ini, maka kita sudah jatuh pada syirik jahri. Ada alat-alat sesaji dan diyakini sebagai instrument keselamatan. Kemudian ada yang khofi atau tersembunyi adalah jika kita meyakini ada kekuatan gaib yang bisa menyelamatkan atau menyengsarakan tetapi kita tidak melakukan upacara atau sesaji terhadapnya. Memahami atau mempercayai tanpa melakukan Tindakan apapun merupakan syirik khofi.

Berbeda dengan keyakinan atas manusia yang dianggap memiliki energi positif atau negative. Manusia bisa mendapatkan energi tersebut melalui serangkaian riyadhoh atau pelatihan. Sejauh kita tidak meyakini bahwa kebaikan atau kesengsaraan itu mutlak dari manusia tersebut, maka kita akan selamat dari pemahaman dan prilaku syirik. Kita meyakini bahwa para waliyullah adalah orang yang memiliki kelebihan karena usahanya diridloi oleh Allah. Energi positif yang digunakan untuk kebaikan tentu dapat diyakini dan tidak menjadi penyebab kemusyrikan. Energi positif para waliyullah akan bisa bertemu dengan energi Allah yang Maha Agung. Jika energi positif tersebut dipastikan datang dari Allah, maka kita dapat  mempercayainya dan bukan merupakan kemusyrikan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

HINDARI KAUM INKARUS SUNNAH

HINDARI KAUM INKARUS SUNNAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Salah satu di antara kelebihan dari Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya adalah mengedepankan diskusi yang lebih dominan dibanding ceramah atau penjelasan narasumber. Bahkan di dalam acara tahsinan pun juga dilakukan upaya untuk mendalami atas ayat-ayat yang ditahsinkan. Pada hari Kamis, 28/11/24, acara tahsinan sampai pada Surat Al Mujadilah ayat ke 9, yang intinya memberikan pencerahan kepada umat beriman agar tidak merencanakan untuk melakukan  perbuatan dosa, perlawanan dan durhaka kepada Rasulullah. Arti di dalam ayat 9 tersebut adalah: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Tetapi bicarakanlah tentang perbuatan kebajikan dan taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan kembali”.

Menilik atas ayat ini, maka ternyata Alqur’an itu sangat mendalam dalam menceritakan fenomena yang memang lazim terjadi di kalangan masyarakat. Ada pembicaraan rahasia yang kemudian mengandung dimensi kemadharatan. Allah menegaskan agar jika ada pembicaraan yang dianggap sebagai rahasia, maka diperkenankan dengan materi pembicaraan yang mengarah kepada kebaikan fid dini wad dunya wal akhirah. Ada tiga hal yang kita bicarakan;

Pertama, di antara kelompok yang bisa dinyatakan durhaka kepada Rasulullah SAW adalah kaum inkarus sunnah. Orang yang ingkar kepada Rasulullah. Mereka adalah orang yang menolak atas apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Mereka tidak mau menjalankan sunah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Mereka berkeyakinan hanya akan mengamalkan yang menjadi keyakinannya saja dan tidak mengamalkan atas apa yang disunnahkan oleh Rasulullah. Kelompok ini memang berkeyakinan atas keberadaan Allah SWT dan mempercayai atas firman Allah yang berupa Alqur’an akan tetapi tidak percaya tentang hadits-hadits yang menjadi basis bagi tindakan melakukan sunnah rasul.

Kaum inkarus sunnah menjadi fenomena di masa pemerintahan Islam Bani Umayyah dan terus berlanjut pada masa Bani Abbasiyah. Pada zaman imam-imam madzhab, aliran inkarus sunnah sudah berkembang di Timur Tengah. Ajaran kaum inkarus sunnah masuk ke Indonesia, Malaysia dan beberapa negara lainnya diperkirakan pada tahun 1970-an. Meskipun ajaran inkarus sunnah jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam  yang diyakini oleh mayoritas umat Islam, akan tetapi tetap saja ada pengikutnya.

Bisa jadi keyakinan seperti ini tumbuh karena perbedaan tafsir atas sunnah yang dilakukan oleh para mufassir, ahli hadits  dan ahli fiqih. Dari pada berada di dalam perdebatan yang tidak kunjung selesai di antara para fuqaha dan ahli hadits atau ahli tafsir, maka mereka lebih baik menghindarinya. Mereka sampai pada asumsi bahwa yang bisa diterima hanyalah firman Tuhan di dalam Alqur’an saja. Sayangnya, saya tidak bisa menjelaskan lebih detail tentang mana yang diterima dan mana yang ditolak di dalam ajaran sunnah atau bahkan ditolak seluruhnya atau ditolak sebagiannya saja.

Kedua, sebagai orang yang berada di dalam paham ahli sunnah wal jamaah, maka sungguh tidak masuk nalar atas pemahaman agama yang menolak sunnah Nabi Muhammad SAW. Bagi saya bahwa antara apa yang terdapat di dalam Alqur’an dengan apa yang ada di dalam hadits Nabi Muhammad sebagai basis sunnah rasul tentu tidak bisa dipisahkah. Alqur’an menjelaskan hal-hal yang mujmal atau umum, dan hadits dalam bentuk  ketetapan, ucapan dan tindakan Rasul adalah penjelasan detailnya. Contoh dalam perintah shalat, maka Alqur’an hanya memberikan perintahnya saja dan sunnah Nabi yang menjelaskannya. Jadi orang melakukan shalat harus berbasis pada amalan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Jadi tentu benar perintah Nabi Muhammad SAW yang menyatakan: “shalatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat”. Adapun bisa terjadi variasi di dalam pelaksanaan shalat,  maka hal tersebut merupakan konsekuensi dari tafsir para ulama tentang shalat Nabi Muhammad SAW. Jika ada doa dalam shalat yang berbeda, ada gerakan shalat yang berbeda, dan bacaan shalat yang berbeda, maka hal itu merupakan contoh yang diriwayatkan oleh generasi sahabat dan terus diwariskan oleh generasi tabi’in dan tabiit tabi’in dan sampai kepada kita sekarang. Ada banyak Riwayat yang menjelaskan tentang Nabi Muhammad membenarkan bacaan shalat sahabatnya dan membenarkan bacaan lainnya. Makanya ada Riwayat hadits yang menyatakan bacaan ini di dalam shalat dan ada bacaan itu di dalam shalat dan sebagainya.

Ketiga, Nabi Muhammad SAW merupakan tipe ideal dalam kasih sayang dan tipe ideal dalam kebebasan untuk mengekspresikan agamanya. Para sahabat sering melakukan ibadah dengan doa yang diekspresikannya dan kemudian dibenarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Itulah sebabnya ada varian di dalam doa dan bacaan di dalam shalat. Ada kelompok yang menggunakan bacaan sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari  dan ahli hadits Imam Turmudzi. Yang kemudian berimplikasi atas penafsiran tentang hadits tersebut. Misalnya hadits tentang bacaan Alfatihah di dalam shalat. Imam Syafi’i mewajibkan bacaan Alfatihah di dalam shalat, sedangkan Imam Abu Hanifah menyatakan tidak wajib hanya keutamaan saja.

Dengan demikian, saya tidak membayangkan bagaimana seseorang bisa menjadi kelompok inkarus sunnah, padahal untuk melakukan ajaran agama tentu diperlukan tindakan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Jadi yang paling rasional adalah menyandingkan atas teks Alqur’an dan teks Hadits Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu marilah kita beragama sebagaimana agama yang sudah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW berbasis pada pemahaman dari para ulama yang kita Yakini sebagai ahli di dalam penafsiran ajaran agama.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

MENGHINDARI DOSA, DURHAKA DAN MENGHINA RASULULLAH

MENGHINDARI DOSA, DURHAKA DAN MENGHINA RASULULLAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Agama apapun dipastikan mengajarkan kepada hambanya untuk menghindarkan diri dari perbuatan dosa, perbuatan durhaka dan pernyataan atau  perbuatan yang menghina Rasulullah. Tentu Islam memiliki konsep di dalam hal ini. Islam melarang dengan tegas atas beberapa tindakan yang diidentifikasi sebagai mengandung perbuatan dosa, perbuatan durhaka dan menghina, mencela atau menjelekkan Rasulullah Muhammad SAW.

Inilah inti dari pembahasan di dalam acara tahsinan, yang diselenggarakan oleh Jamaah Nagi Bahagia atau disebut sebagai Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), 20/11/2024.  Acara ini seperti biasa dilakukan setiap hari dan diikuti oleh jamaah Masjid Raudhoh Perumahan Sakura Ketintang Surabaya dan jamaah Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Acara  tahsinan ini sampai pada  Surat Al Mujadilah, pada Juz ke 28. Di antara ayat yang dibaca adalah mengenai pembicaraan yang terkait dengan dhihar atau menyamakan isteri dengan ibu kandung dan perbuatan  dosa, durhaka dan menjelekkan Rasululllah. Islam tidak melarang sekelompok orang melakukan pembicaraan tetapi tentu yang dibicarakan adalah mengenai kebaikan.

Ada tiga hal yang kita diskusikan di dalam acara tahsinan, yaitu: pertama,  terkait dengan larangan untuk berbuat dosa. Di dalam ayat ini disebut sebagai itsmi atau perbuatan dosa. Allah sungguh melarang agar seseorang tidak melakukan perbuatan dosa. Sebab dosa merupakan perbuatan  yang  mengandung kemadharatan, baik kemadharatan untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Untuk diri sendiri perbuatan dosa akan menjadi beban psikhologis dan beban spiritual. Seseorang akan menjadi gelisah, takut dan merasa bersalah. Kemudian juga akan membebani mindset bahwa kita akan masuk ke dalam neraka. Seseorang akan memperoleh duka nestapa karena terbayang dengan keadaan di neraka. Apalagi banyak sekali ayat Alqur’an yang menceritakan tentang penderitaan kehidupan di neraka. Oleh karena itu Allah memberikan solusi agar orang yang berbuat dosa segera bertaubat dengan melakukan perbuatan baik. Pertobatan dan perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang yang selesai melakukan dosa akan bisa menghapus dosanya tersebut.

Kedua, Allah juga melarang manusia untuk melakukan perbuatan durhaka. Perbuatan  durhaka itu berdimensi terhadap Allah, Rasulullah dan juga sesama umat manusia. Durhaka kepada Allah, misalnya kita memiliki mindset dan tindakan yang menyekutukan Tuhan, mengingkari keberadaannya, mengingkari syariatnya dan masih banyak lagi lainnya. Kemudian durhaka kepada Rasulullah, misalnya menjadi kelompok inkarus sunnah. Menolak sunnah rasul.  Melanggar atas apa yang disyariatkan Allah melalui Nabi Muhammad SAW.

Di dunia ini semakin banyak orang yang menjadi atheis atau tidak percaya kepada Tuhan. Di Eropa Barat, prosentase orang atheis semakin meningkat. Bahkan menunjukkan angka di bawah 30 persen. Di Belanda, Inggris, Swiss, Perancis, Spanyol dan negara-negara Skandinavia lainnya, maka jumlah orang yang percaya kepada Tuhan semakin menyusut. Mereka merasa cukup untuk berbuat baik saja tanpa harus mempercayai bahwa perbuatan baik tersebut seharusnya bersumber dari ajaran-ajaran agama. Mereka menjadi humanis nir teologis.

Kemudian yang tidak kalah penting juga durhaka kepada sesama manusia. Seseorang bisa durhaka terhadap orang tuanya. Mereka durhaka kepada saudaranya, gurunya, para ulama, dan juga masyarakat luas lainnya. Orang  merasa menjadi yang terhebat sehingga menyombongkan diri. Orang merasa paling pintar sehingga  tidak memerlukan orang lain. Mereka membuat kesombongan di dunia, yang merupakan perbuatan yang paling dibenci oleh Allah SWT.

Ketiga,  paham atau  tindakan yang merendahkan atau melecehkan Rasulullah. Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah adalah manusia yang ma’shum atau manusia yang tidak pernah melakukan perbuatan dosa. Manusia yang suci karena utusan Allah. Tidak ada cacat moral dan etika yang merusak kenabiannya. Tidak melakukan perbuatan dosa yang membatalkan kenabiannya. Rasulullah adalah makhluk Allah yang mendapatkan sebutan sebagai ulul azmi, Nabi pilihan yang diperuntukkan untuk manusia dengan berbagai karakter dan sifatnya yang menjengkelkan. Akan tetapi Nabi Muhammad SAW melakukan dakwahnya dengan kelemahlembutan. Di kala Nabi Muhammad SAW berdakwah di Thaif dan mendapatkan perlakuan yang sangat sadis dari masyarakat, maka Nabi tidak menerima usulan Malaikat Jibril agar mereka dihancurkan dengan dijepit dengan dua Gunung di dekat Thaif. Nabi justru menyatakan bahwa mereka melakukannya disebabkan oleh ketidaktahuannya. Nabi menyatakan bahwa dirinya diutus Allah untuk menyadarkan mereka dan bukan untuk menghancurkannya.

Oleh karena itu sungguh tidak selayaknya jika manusia melecehkan dan merendahkan kepribadian dan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad merupakan suri tauladan dalam kehidupan manusia. Nabi Muhammad SAW adalah uswah hasanah. Nabi merupakan role model kehidupan manusia. Contoh dalam perilaku religious, perilaku social, perilaku humanitas dan bahkan perilaku politiknya. Nabi merupakan contoh sempurna dari kehidupan manusia. Makanya menjadi tidak elok jika ada manusia yang melecehkan atau merendahkannya. Di dunia ini ada banyak tokoh orientalis yang melakukan tindakan melecehkan yang merendahkan Nabi Muhammad SAW.

Kita tentu sungguh bergembira bahwa meskipun kita tidak berjumpa dengan Nabi  Muhammad SAW akan tetapi tetap menghormati dan menyanjungnya sebagai Rasulullah. Nyaris tidak ada hari yang tidak diisi dengan shalawat sebagai ekspresi rasa cinta kepada-Nya. Kita semua yakin bahwa sebagai umat Islam yang mencintai Nabi Muhammad SAW, maka kita akan mendapatkan syafaatnya.

Wallahu ‘alm bi al shawab.