• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KETUPAT LEBARAN

KETUPAT LEBARAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Ketupat adalah Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Jawa disebut kupat dan dalam Bahasa Arab disebut Kaffatan. Ketiganya secara substansial memiliki makna yang sama. Yaitu sebuah istilah untuk menggambarkan suatu aktivitas, khususnya dalam tradisi Islam Jawa. Hanya saja, kaffatan di dalam Bahasa Arab menunjuk pada kesempunaan pengamalan dalam ajaran Islam. Kaffah artinya sempurna atau menyeluruh. Di dalam ayat Alqur’an dinyatakan: udkhulu fis silmi kaffah. Masuklah ke dalam ajaran Islam secara sempurna.

Di dalam tradisi Jawa istilah kaffah menjadi kupat. Mengubah ucapan dengan menyesuaikan dengan lidah orang Jawa adalah kekhasan cara para Waliyullah, Wali Sanga, dalam menyebarkan Islam. Istilah wudhu di dalam Bahasa Arab berubah menjadi ulu atau udu, sama halnya dengan shalat dhuhur menjadi sembahyang luhur atau sembahyang lohor. Salamatan dalam Bahasa Arab menjadi slametan dalam Bahasa Jawa atau barakah dalam Bahasa Arab menjadi berkat dalam Bahasa Jawa.
Namun secara substantial tentu yang dimaksudkan adalah ajaran kesempurnaan tentang orang yang sudah menyelesaikan ibadah puasa atau juga upaya untuk membersihkan atau menyempurnakan diri dalam menghadapi puasa. Maka, di dalam tradisi Islam Jawa dikenal ada tradisi kupatan Ruwah atau Sya’ban. Orang Jawa sesuai dengan penanggalan yang dibuat oleh Sultan Agung menyebutkan bulan Sya’ban dengan Wulan Ruwah. Rangkaiannya adalah Rejeb, Ruwah, dan  Poso atau di dalam kelender Islam disebut sebagai rajab, sya’ban dan Ramadlan. Doa kita di dalam Bahasa Arab adalah allahumma bariklana fi rajab wa Sya’ban wa balighna Ramadlan, yang artinya: “Ya Allah berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan  kami di Bulan Romadlon”.

Kupat di dalam Bahasa Jawa kemudian berubah menjadi Ketupat di dalam Bahasa Indonesia. Sampai hari ini, orang-orang pedesaan Jawa masih menggunakan istilah kupat dan bukan ketupat. Acara untuk melakukan selamatan di Masjid atau Mushalla atau balai desa disebut sebagai kupatan. Acara berdoa bersama dengan masing-masing individu pelakunya membawa kupat di dalam baskom atau lainnya yang disertasi dengan lepet dan sayur mayur serta daging ayam, yang digoreng atau dijadikan kare. Makanan  kare merupakan makanan favorit pada masyarakat pedesaan, yang terdiri dari daging ayam, dan bumbu kare yang terdiri dari santan, dan bumbu lengkap dengan campuran cabe sesuai dengan selera. Ada juga yang membawa sayur lodeh, biasanya buah pepaya muda dicampur dengan bumbu lengkap dan ditambah tahu, tempe atau kulit sapi atau kerbau yang biasanya disebut cecek. Keduanya, baik kare atau lodeh tentu nikmat dimakan dengan kupat.

Kreasi-kreasi semacam ini biasanya dinisbahkan dengan Kanjeng Sunan Kalijaga. Jadi jika dilihat masa hidup Kanjeng Sunan Kalijaga, maka kupat atau kupatan sudah terjadi di Nusantara, khususnya Jawa pada awal abad ke 15 sampai akhir abad 16. Berbagai Riwayat menyatakan bahwa nama Beliau semula adalah Raden Said, putra Bupati Tuban Wilwatikta dengan  Dewi Nawangrum. Beliau juga disebut sebagai Brandal Lokajaya. Beliau melakukan perampokan pada orang kaya yang tidak mau membayar zakat, dan hasil kegiatannya itu dibagi-bagikan kepada rakyat miskin di Kabupaten Tuban.

Beliau menjadi santri setelah bertemu dengan Kanjeng Sunan Bonang, yang diabadikan dengan simbolisasi buah kelapa yang berubah menjadi emas. Melalui lelaku atau ritual khusus untuk calon waliyullah dalam bimbingan Sunan Bonang, maka akhirnya Raden Said atau Brandal Lokajaya  menjadi waliyullah yang digelari dengan nama Sunan Kalijaga.

Secara hipotesis dapat dinyatakan bahwa tradisi kupatan merupakan kreasi Kanjeng Sunan Kalijaga di dalam mensimbolisasikan tradisi slametan dalam bentuk ritual kupatan yang dilakukan sebagai persiapan berpuasa dan setelah berpuasa. Tradisi kupatan menjelang puasa atau nisfu sya’ban dikaitkan dengan persiapan menghadapi ritual puasa dan tradisi kupatan sepekan setelah hari raya idul fitri dikaitkan dengan symbol keberhasilan melakukan puasa selama sebulan.

Kupat terbuat dari beras yang sudah dicampur air atau dipususi lalu dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa yang dibuat dalam segi empat atau segi tiga. Tidak mudah untuk membuat kupat. Harus belajar secara serius. Di masa  remaja  saya diajari untuk membuat kupat itu. Hingga hari ini saya masih bisa membuatnya. Tetapi anak-anak saya rasanya sudah tidak bisa membuatnya. Di era segalanya bisa dibeli, maka keterampilan untuk membuat kupat atau lepet sudah tidak lagi diminati. Kira-kira prinsipnya: bisa membelinya.

Kupatan tahun ini terasa ada yang kurang. Biasanya, saya dan keluarga datang ke Mojokerto di Desa Kutogirang, Ngoro, Mojokerto. Emak Hajjah Muthainnah selalu membuat kupat dan lepet yang diberikan khusus kepada saya. Hingga satu pekan kupat dan lepet tersebut tidak basi. Katanya karena dimasak dalam waktu yang lama, sehingga tahan lama. Selain itu juga rasanya yang menantang lidah untuk memakannya.

Sekarang Emak sudah tidak ada lagi. Tidak ada lagi yang bisa membuat kupat dan lepet khas seperti itu. Agak berbeda dengan kupat dan lepet di Tuban, tepatnya di Desa Sembungrejo, Merakurak, di orang tua saya, Hj. Turmiatun. Meskipun sesama kupat dan lepet, akan tetapi taste-nya agak berbeda. Saya merasakan kupat dan lepet di Mertua saya  lebih enak  dinikmati. Menikmati makanan khas seperti itu tetap ada kelebihannya di tengah semakin banyaknya inovasi tentang jajanan yang berkembang dewasa ini.

Kupat dan lepet terbuat dari bahan daun kelapa, yang disebut janur. Baik yang terbuat dari daun kelapa atau daun lontar, akan tetapi keduanya tetap disebut sebagai janur. Janur sering dipakai oleh masyarakat Nusantara untuk kepentingan upacara-upacara, misalnya upacara pernikahan. Janur merupakan keratabasa atau singkatan yang menggambarkan sejatining nur atau cahaya sejati atau sejatining rasa.

Kita masih ingat konsep Nur Muhammad, yang diciptakan oleh Allah sebelum menciptakan alam semesta dan manusia di dalamnya. Yaitu sebuah pemahaman bahwa semua yang diciptakan Tuhan itu berasal dari Nur Muhammad. Di dalam filsafat Jawa dikenal konsep Sang Hyang Nur Rasa, yaitu kekuatan cahaya rasa yang agung, yang bisa menyinari atas kehidupan manusia. Dengan kata lain bahwa di dalam diri manusia terdapat unsur Sang Hyang Nur Rasa, atau roh yang ditiupkan kepada janin kala di alam perut ibu. Dengan Sang Hyang Nur Rasa itulah manusia akan hidup dengan dimensi cahaya Tuhan atau Nurullah.

Kupat atau ketupat merupakan simbolisasi dunia spiritualitas yang harus disiapkan untuk menjalani puasa dan setelah selesai puasa. Kupat yang terbuat dari janur sebagai keratabasa sejatining rasa harus disiapkan kesuciannya untuk bertemu dengan bulan yang suci dan juga menandakan kelulusan rasa spiritualitas setelah selama satu bulan disucikan.

Orang Jawa, khususnya, memang sering berurusan dengan dunia simbolik. Dan kupatan adalah symbol kesucian untuk menjemput kesucian, bulan  puasa yang disucikan  dan keberhasilan dalam mengalami  pergulatan menahan hawa nafsu  di bulan kesucian.

Wallahu a’lam bi asl shawab.

 

 

KEBAHAGIAAN HAKIKI

KEBAHAGIAAN HAKIKI

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Sebagai negara muslim terbesar di dunia, ternyata indeks kebahagiaan masyarakat Indonesia  masih jauh dari harapan. Berdasarkan penilaian World Happiness Report  (WHR), masyarakat Indonesia menempati posisi 80 dari sebanyak 143 negara yang disurvei. Peringkat indeks kebahagiaan tersebut diukur dari  evaluasi hidup (PDB perkapita, harapan hidup sehat,  dukungan social, kebebasan, kemurahan hati dan persepsi korupsi), emosi positif dan emosi negative. Sedangkan negara dengan kebahagiaan tinggi adalah Skandinavia, Finlandia,  Denmark dan Islandia. Dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, Indinesia menempati urutan ke enam, setelah Singapura, Filipina, Vietnam, Thailand dan Malaysia (Yudi Latif, “Politik Kebahagiaan”, diunduh 14/04/2024).

Tampaknya memang ada paradoks. Di satu sisi masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang religious. Bahkan masyarakat yang sangat mempercayai keberadaan Tuhan. Masyarakat Indonesia dalam keyakinannya tentang Tuhan bahkan mengalahkan masyarakat Turki. Masyarakat Indonesia sebanyak 97 persen mengakui dan meyakini tentang keberadaan Tuhan, sementara masyarakat Eropa termasuk masyarakat dengan indeks kebahagiaan tertinggi tersebut lebih banyak yang tidak mempercayai Tuhan alias atheis. Jika membacanya seperti ini, maka tampaknya tidak ada kaitan antara agama atau keyakinan akan keberadaan Tuhan dengan kebahagiaan.

Nanti dulu untuk berkesimpulan seperti itu. Ukuran kebahagiaan sebagaimana yang dinyatakan oleh WHR, memang kebahagiaan berbasis pada pengukuran empiris dan lebih mendasar adalah dimensi ekonomi. Jika kita baca, maka ukurannya adalah hal-hal yang empiris, seperti pendapatan dan pengeluaran, harapan hidup sehat, relasi social dan juga emosi yang dihadapi oleh yang bersangkutan. Memang ukuran yang digunakan adalah bercorak material. Oleh karena itu, ukuran spiritual menjadi terabaikan. Karena ukurannya bercorak material seperti halnya pendapatan ekonomi, harapan hidup sehat, dukungan social dan kebebasan, maka tentu masih jauh harapan masyarakat Indonesia untuk mencapainya. Dilihat dari indeks Pengembangan Sumber daya Manusia, maka posisi Indonesia berada di angka 114 dari 180 negara di dunia.

Padahal sesungguhnya untuk mengukur kebahagiaan tidak sekedar ukuran material. Ada dimensi hati yang terlibat di dalamnya. Di sinilah, agama lalu menjadi penting untuk dilibatkan di dalam mengukur kebahagiaan. Sayangnya bahwa pemeringkatan kebahagiaan itu selalu hasil survey dari orang Barat yang hanya melihat kebahagiaan dari aspek kepemilikan harta. Asumsinya bahwa semakin kaya dengan asetnya yang banyak maka akan menentukan atas kebahagiaannya. Jadi, ukuran kebahagiaan adalah pada dimensi ekonomi secara lebih mendasar.

Jika menggunakan ukuran ini, maka kebahagiaan masyarakat Indonesia tidak akan beranjak naik secara drastic. Akan tetap berada di dalam kisaran 70-80 atau bahkan suatu Ketika akan turun menjadi di atas angka 80 dan di bawah angka 90. Dekat-dekat di situ. Memang harus diakui bahwa untuk mengukur kesejahteraan itu dapat dilihat kehidupan ekonomi. Jika secara ekonomi tercukupi, maka bisa dinyatakan sebagai hidup yang sejahtera.

Badan Pusat Statistik (BPS), telah merilis tentang Indeks kebahagiaan, dengan indicator: Dimensi Kepuasan Hidup yang terdiri dari Kesehatan fisik dan mental, Pendidikan dan keterampilan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, kondisi dan fasilitas rumah, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan social, kualitas lingkungan, kondisi keamanan. Lalu dimensi perasaan  yang terdiri dari perasaan senang, tidak khawatir, tidak tertekan. Kemudian standart dimensi makna hidup yang terdiri atas penerimaan diri, tujuan hidup, pengembangan diri, kemandirian, penguasaan lingkungan, dan hubungan positif dengan orang lain.

Ukuran kebahagiaan yang dilansir oleh BPS sudah lebih maju dibandingkan dengan ukuran kebahagiaan yang diungkapkan oleh WHR. Ukuran kebahagiaan menurut BPS sudah melibatkan standart kepuasan hidup, domensi perasaan dan dimensi makna hidup. Standart kebahagiaan hidup menurut BPS lebih memberikan peluang kepada seseorang untuk menjadi bagian dari orang yang bahagia, sebab sudah memasukkan dimensi perasaan dan makna hidup. Perasaan senang, perasaan dihargai dan perasaan masih diperhatikan oleh lingkungan dan masyarakat.  Sudah terjadi perkembangan mengenai indeks kebahagiaan yang  sebelumnya hanya diukur dengan kepuasan hidup (satisfaction), lalu dikembangkan dengan perasaan (affection) dan makna hidup (eduaimonia). Melalui pengukuran baru, maka memungkinkan terjadinya perubahan dalam realitas kebahagaiaan pada masyarakat Indonesia. Tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia rata-ratanya adalah 73,80 pada tahun 2021 dan  meningkat dibandingkan dengan hasil survey tahun 2017 sebesar 71,21.

Menurut Imam Al Ghazali, bahwa untuk menggapai kebahagiaan, maka ada lima tahapan, yaitu: pengetahuan tentang diri, pengetahuan tentang Allah, pengetahuan tentang dunia, pengetahuan tentang akhirat dan kecintaan kepada Allah. Manusia harus tahu dirinya, tahu siapa dirinya. Tahu bahwa dirinya adalah makhluk yang tidak berdaya kecuali atas kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT. Memahami atas diri akan menjadi jalan awal untuk memahami tentang hakikat manusia sebagai ciptaan Allah SWT. Lalu, manusia juga harus memahami siapa sesungguhnya yang menciptakan dunia dan seisinya, termasuk menciptakan dirinya. Dengan kelemahan yang dimilikinya, pantas jika dia harus menyandarkan dirinya kepada kekuasaan Tuhannya. Memahami diri dan memahami Tuhan menjadi bagian dari kalamullah: man ‘arafa nafsahu faqad  ‘arafa rabbahu. Orang yang memahami siapa dirinya dalam berhubungan dengan Allah, maka orang itu akan mengenal Tuhannya. Manusia juga harus memahami dunianya. Manusia hidup di dalam dunia, sehingga hukum dunia menjadi penting. Urusan duniawi harus diselesaikan dengan cara duniawi, samil memasrahkannya kepada Tuhannya. Dialektika manusia-Tuhan, Tuhan-manusia menjadi penting. Yang tidak kalah penting adalah pemahaman tentang kehidupan sesudah mati. Sesungguhnya yang mati adalah fisik atau jasadnya, sedangkan rohnya akan terus hidup di alam kubur. Roh akan menjalani siklus kehidupan untuk berada di alam kubur dalam rangka menunggu kehidupan di alam akhirat. Pengetahuan seperti ini, akan membawa seseorang untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan harapan akan kebahagiaan kelak di alam akerat. Dan yang terakhir betapa pentingnya adalah mencintai Allah. Cinta kepada Allah itu sudah ditunjukkan oleh para rasul dan yang fenomenal adalah kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah melebihi cintanya kepada anaknya, Ismail.

Dengan pengukuran kebahagiaan yang bercorak fisikal dan spiritual tersebut, maka manusia akan memperoleh kebahagiaan yang sejati atau kebahagiaan yang hakiki. Di sinilah makna doa sapujagat yang sering kita baca, yaitu: “rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

SEMUA ORANG MEMILIKI POTENSI KEBAHAGIAAN

SEMUA ORANG MEMILIKI POTENSI KEBAHAGIAAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kabahagiaan sesungguhnya bukan karena banyaknya harta dan besarnya kekuasaan, akan tetapi pada hal-hal yang sepertinya biasa saja tetapi memiliki makna yang mendalam pada masing-masing individu. Memang tidak terdapat ukuran yang sama dalam memandang kebahagiaan. Masing-masing memiliki ukurannya sendiri-sendiri sesuai dengan tujuan dan makna kehidupannya. Ada yang mengukur dari asset yang dimiliki dan ada yang mengukur dari kekuasaan yang digapai. Tetapi sesungguhnya kebahagiaan itu ada pada diri masing-masing.

Ada beberapa ibrah untuk menjelaskan kebahagiaan. Jika ukurannya adalah harta, bisa jadi orang seperti Qarun,  maka ukuran kebahagiaan ada pada hartanya yang tidak ternilai. Atau seperti Bernard Arnault  dengan harta Rp3.285 Trilyun, atau Elon Musk yang asetnya Rp3.200  trilyun, atau Jeff Bezoss dengan asset sebesar Rp2,800 trilyun. Ukuran banyaknya asset bisa menjadi ukuran kebahagiaan. Jika orang Indonesia, maka Prayogo Pangestu dengan kekayaan sebesar Rp694,7 Trilyun atau Low Tuck Kwong dengan asset sebesar Rp439 Trilyun.  Merekalah orang-orang yang bahagia.

Apakah ini menjadi ukuran kebahagiaan. Belum tentu. Banyak asset atau kekayaan terkadang justru membelenggu seseorang untuk mempertahankan kekayaannya atau justru akan memunculkan kerugian yang membuat kebangkrutan. Itulah sebabnya orang kaya akan menjaga kekayaannya agar kekayaan itu seakan-akan kekal selamanya. Jadi seluruh hidupnya diabdikan untuk uang dan uang, harta dan harta, atau asset dan asset. Mereka orang-orang kapitalis yang selalu berpikir akumulasi modal.

Kebahagiaan itu ternyata ada pada ketiadaan beban. Selama masih ada beban di dalam kehidupan, baik beban individu, keluarga, komunitas dan masyarakat, maka selama itu pula seseorang belum bisa menikmati hakikat kebahagiaan. Untuk bahagia tidak berarti harus menarik diri dari kehidupan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Tetapi hidup bermasyarakat yang membuat hati merasa tenang dan tenteram adalah cita-cita kehidupan manusia. Yang terpenting jangan ada beban di dalam kehidupan bermasyarakat dimaksud.

Kebahagiaan itu urusan hati dan bukan urusan kekayaan, jabatan dan pangkat. Kekayaan, pangkat dan jabatan tentu penting tetapi hal itu harus membuat ketentraman dan ketenangan. Harta yang banyak tentu boleh, jabatan yang tinggi tentu sah dan pangkat yang tinggi juga penting. Akan tetapi di atas hal tersebut, yang penting adalah ketengan batin. Jika mengikuti Syekh Hasan Syadzili, maka jangan sampai hati kita melekat kepada harta, pangkat dan jabatan tersebut. Jika harta, pangkat dan jabatan itu justru membawa ingat kepada Allah, maka  hal tersebut bisa menjadi instrument kebahagiaan.

Seseorang apapun kekayaan, pangkat dan jabatannya tentu tidak akan lepas dari masalah kehidupan. Seseorang  apapun kemiskinannya, ketiadaan jabatan dan pangkat juga tidak lepas dari masalah. Masalah itu hilang berganti. Hari ini masalah datang sore nanti hilang, dan besuk datang lagi dan malam hilang lagi. Disebut sebagai silih berganti. Kehidupan merupakan siklus masalah. Bagi orang yang mau hidup, maka harus berani untuk menyelesaikan masalah. Kapan dan di mana saja.

Kebahagiaan bukan hanya milik orang kaya saja, akan tetapi kebahagiaan juga milik siapa saja. Kebahagiaan bukan hanya milik para ulama atau kaum asatidz, kebahagiaan juga bukan hanya milik orang berpangkat, kebahagiaan juga bukan milik para penguasa, akan tetapi kebahagiaan adalah milik semua orang yang mampu untuk menyelesaikan problem kehidupannya. Jika hari ini ada masalah dan bisa diselesaikan, maka pada saat itulah kebahagiaan itu terjadi. Begitulah seterusnya.

Jika kita mengukur kebahagiaan itu dari kekuasaan, maka Fir’aun, Namrud, Jalud, Nebukanedsar, Jengis Khan, dan sebagainya adalah orang yang bahagia. Akan tetapi ternyata kehidupannya justru di dalam kegelisahan karena ingin mempertahankan kekuasaannya bahkan ada yang merasa menjadi Tuhan. Itu artinya bahwa kebahagiaan bukan karena kekuasaan, akan tetapi ada di dalam hati yang pasrah kepada kekuasaan Allah. Jika kita mengukur kebahagiaan dengan harta, maka Qarun seharusnya orang yang bahagia, akan tetapi nasibnya justru tragis karena Qarun dan hartanya ditenggelamkan oleh Allah ke dalam tanah.

Bandingkan dengan cerita-cerita tertulis seperti Dzinnun Al Mishri, Rabiah Al Adawiyah, Hasan Basri, Imam Ghazali, Imam Syadzili dan para ulama sufi yang larut di dalam jalan Ketuhanan. Maka hidupnya menjadi bahagian atau bahkan endless bliss sebagaimana ungkapan Sayyid Hossen Nasr, karena kebaktiannya kepada Allah SWT.  Hidup yang dipasrahkan kepada Allah semata jauh lebih mengenal kata bahagia dibandingkan dengan lainnya.

Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa salah satu instrument untuk menggapai bahagia adalah dengan mengingat atau dzikir kepada Allah. Ketenangan hidup manusia ditentukan oleh kualitas dzikirnya. Semakin berkualitas dzikirnya, semakin besar peluang baginya untuk menemukan ketenangan jiwa. Sudah sering saya ungkapkan: ala bidzikrillahi tathmainnul qulub. Hanya dengan berdzikir kepada Allah saja, hati akan menjadi tenang.

Problemnya adalah seberapa besar kita dapat  memperkuat kualitas dzikir kepada Allah. Sebab untuk berdzikir kepada Allah tentu memerlukan persiapan batin yang baik dan juga persiapan mental yang baik. Tetapi sebagai orang awam di dalam ilmu keislaman yang khas,  maka yang terpenting adalah bagaimana kita dapat memperkuat konsistensi di dalam berdziki sesuai dengan kemampuan. Mula-mula memang harus dipaksa akan tetapi seirama dengan perkembangan waktu akan menjadi kebiasaan, dan lama kelamaan akan menjadi kebutuhan. Jika dzikir sudah menjadi kebutuhan, maka di situlah sebenarnya ketentraman akan terjadi kala usai melakukannya.

Hati akan menjadi gelisah kalau tidak beribadah atau berdzikir, dan hati akan menjadi tenang sesudah berdzikir kepada Allah. Semoga di hari raya 1445 Hijriyah ini kita dapat mengembangkan pengamalan beragama kita setahap lebih baik. Dan jika sungguh-sungguh insyaallah kita bisa.

Wallahu a’lam bi al shawab

 

PULKAM: NILAI KEKERABATAN YANG KENTAL

PULKAM: NILAI KEKERABATAN YANG KENTAL

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Pulang Kampung atau pulkam memang bukan kegiatan rutin bulanan akan tetapi kebanyakan menjadi kegiatan rutin tahunan, terutama saat hari raya idul fitri. Nyaris setiap tahun orang yang melakukan migrasi dari daerah asal ke daerah lain, yang biasanya antar provinsi. Mereka melakukan migrasi karena pekerjaan atau karena factor lain.  Mereka kebanyakan para pekerja yang berasal dari pedesaan dan kemudian mengadu peruntungan di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan sebagaianya.

Pulkam memang bukan kewajiban tetapi telah menjadi tradisi yang tidak bisa ditinggalkan. Rasanya kurang afdhol jika kesempatan hari raya tidak digunakan untuk menjenguk kerabat, terutama yang masih memiliki orang tua keduanya atau salah satunya. Inilah dorongan terkuat dalam upaya pulkam yang mentradisi di kalangan masyarakat Nusantara. Tradisi ini tidak diketahui kapan dimulainya, akan tetapi sudah menjadi bagian dari tradisi hari raya yang tidak bisa ditinggalkan.

Tradisi ini memang pernah tidak dilakukan karena wabah Covid-19, sehingga menghasilkan konsep silaturrahmi virtual, yaitu silaturrahmi yang dilakukan dengan menggunakan Hand phone. Untunglah di era media social dewasa ini menyebabkan  orang masih bisa berkomunikasi secara efektif melalui media social dimaksud. Pada waktu itu memang dilakukan kebijakan nasional social distancing, sehingga di mana-mana dilakukan pemeriksaan orang yang datang dan pergi. Yang bisa lewat hanyalah yang dinyatakan sehat dengan surat resmi dari Puskesmas atau poliklinik pratama yang berizin.

Dua tahun lamanya dilakukan acara silaturrahmi virtual. Tahun 2021-2022. Dengan wabah Covid-19 maka seluruh transportasi udara, laut dan darat nyaris terhenti terutama yang terkait dengan angkutan orang. Sungguh merupakan musibah yang sangat luar biasa bagi relasi social yang biasanya terjadi secara offline.  Sungguh wabah Covid-19 telah menjadi ingatan sejarah perubahan yang luar biasa. Dari offline menjadi online, dari temu muka ke temu virtual, dari pembelajaran offline menjadi online, dari perdagangan offline menjadi online, dari media tradisional ke media online. Banyak sekali perubahan social yang diakibatkan oleh wabah Covid-19.

Kini masyarakat kembali menikmati nuansa kebebasan dalam kehidupan social. Nuansa hiruk pikuk terjadi di mana-mana. Berdasarkan informasi yang bisa dilihat di televisi atau berita di radio dan media social, maka betapa ramainya stasiun kereta api, pelabuhan laut, bandar udara dan kendaraan antar kota dan antar provinsi dan sebagainya. Betapa  ramainya. Sungguh nuansa hari raya sangat terasa. Saya tidak tahu apakah di negara lain seperti di Indonesia. Suasana hari raya menjadi ajang bagi temu orang tua, temu keluarga, temu kerabat dan temu masyarakat.

Saya juga memanfaatkan hari raya untuk pulang ke rumah orang tua. Saya tentu bersyukur karena orang tua perempuan saya masih hidup. Satu-satunya. Mertua sudah tidak ada keduanya. Bapak juga sudah meninggal tahun 1972 yang lalu. Itulah sebabnya saya harus berada di rumah Tuban saat hari raya. Bahkan mengusahakan harus berada di rumah pada hari pertama shalat idul fitri. Maklumlah di desa saya hari raya itu cukup sehari saja. Masyarakat yang terdiri dari tua muda datang ke rumah. Sekedar bersalaman dan mohon maaf, dan esok harinya sudah pergi di tempat pekerjaannya sebagaimana biasa. Jadi, kalau tidak datang pada hari pertama maka beresiko tidak bisa saling memaafkan.

Sungguh hari raya memiliki makna mendalam. Keluarga semuanya berkumpul dalam satu moment. Anak saya yang di Jakarta juga harus mudik untuk bertemu neneknya. Anak saya yang di Surabaya juga pulkam untuk meminta maaf dan doa neneknya. Mereka berkumpul untuk bersenda gurau dan menikmati nuansa pedesaan yang tidak hiruk pikuk dengan kendaraan yang lalu lalang. Meskipun nuansa pedesaan sudah berubah karena penetrasi budaya perkotaan dengan perumahan-perumahan berpola rumah perkotaan, relasi social juga sudah berubah, kehidupan social yang penuh keakraban juga sudah mulai berubah. Tetapi urusan pulkam masih terus berlangsung. Meskipun sudah ada media social yang bisa menghubungkan antar orang dalam real time, akan tetapi tidak dapat menggantikan pulkam yang bernuansa historis, sosiologi dan antropoplogis.

Secara historis bahwa pulkam adalah sejarah kehidupan yang sudah berlangsung dalam jangka panjang. Secara sosiologis bahwa pulkam adalah nuansa untuk bertemu dengan keluarga, kerabat dan masyarakat, dan secara antropologis pulkam merupakan upaya untuk menyambung tradisi yang tidak tergantikan. Jadi pulkam merupakan aktivitas social yang kompleks yang melibatkan  aspek-aspek kehidupan yang mendasar.

Saya memiliki tetangga, seorang perempuan yang di desa hanya tinggal bapaknya. Ibunya sudah meninggal dunia sekian tahun yang lalu. Perempuan ini meninggalkan desanya dan akhirnya menikah dengan orang Jawa Barat. Sukabumi tepatnya. Keluarga yang terdiri dari satu anak dan orang tuanya. Mereka menempuh perjalanan panjang dari Sukabumi ke Tuban selama kurang lebih 37 jam dengan sepeda motor. Setiap enam jam berhenti untuk istirahat. Suatu perjalanan yang tidak hanya melelahkan tetapi juga perjuangan yang tidak kenal lelah.

Akhirnya mereka sampai juga ke rumah orang tua lelakinya. Saya sungguh senang melihatnya dalam suka cita, sehat dan penuh dengan harapan.

Mereka harus menempuh perjalanan panjang karena satu kata kunci berhari raya dengan keluarganya. Ada rasa lelah, ada rasa capai, dan ada rasa perjalanan jauh tetapi semua sirna kala bertemu dengan orang tuanya. Ada rasa suka cita karena bertemu dengan kerabatnya. Inilah indahnya pulkam yang bagi orang Barat dan Timur Tengah tidak merasakannya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

AMPUNAN ALLAH

AMPUNAN ALLAH

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Malam 29 atau di dalam emic view disebut sebagai Malam Sanga pada bulan Ramadlan merupakan suatu malam yang banyak dinantikan orang, terutama bagi para pemburu malam lailatul qadar. Meskipun di dalam masyarakat diyakini bahwa malam lailatul qadar itu akan jatuh pada salah satu dari malam-malam ganjil pada akhir Ramadlan atau sepertiga terakhir dari bulan Ramadlan.

Pada malam tersebut, saya memberikan ceramah kepada para jamaah shalat Isya’, tarawih dan witir di Mushalla Raudlatul Jannah di Dusun Semampir, Desa Sebungrejo, Merakurak Tuban. Jamaah shalat tarawih laki-laki dan perempuan serta anak-anak yang memenuhi ruangan mushalla dimaksud. Malam 29 atau Malem Sanga tersebut bertepatan dengan hari Senin, 08/04/2024. Saya memberikan ceramah dengan tema “Ampunan Allah pada hambanya yang beriman, beribadah dan beramal shaleh.”

Pertama, harus bersyukur kepada Allah,  sebab kita sudah lulus melakukan puasa sampai hari yang ke 28, dan malam ini kita memasuki malam ke 29 atau disebut juga sebagai Malem Sanga. Yang kemudian menjadi penting semoga puasa kita benar-benar diakui sebagai puasa dengan jumlah hari yang sama, yaitu puasa yang makbul selama 28 hari. Tetapi kita harus yakin dengan penuh husnudh dhan bahwa puasa kita diterima sesuai dengan jumlah harinya. Kita harus meyakini bahwa Allah itu maha kasih dan sayang, sehingga dengan kasih sayangnya maka puasa kita juga diberikan pahala yang sesuai dengan tingkatannya. Yakinlah bahwa puasa kita bepahala sesuai dengan tingkatan puasa kita masing-masing. Ada tingkatan puasanya orang awam, puasanya orang khawas dan puasanya orang khawas lil khawas.

Kedua, malam ini  saya menjelaskan tentang ampunan Tuhan. Setiap malam jika kita melakukan tarawih, maka dipastikan setelah  selesainya shalat witir, lalu kita membacakan doa yang luar biasa kandungan maknanya, yaitu: “Allahumma innaka ‘afwun karim, tuhibbul ‘afwa wa’fuanna ya Karim”. Yang artinya: “Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun yang Maha Agung, Engkau mencintai ampunan, dan ampunilah dosa kami, wahai Yang Maha Mulia”. Coba kita resapi bacaan ini. Sebuah bacaan yang terus kita lantunkan selama satu bulan. Tuhan yang Maha Pemaaf, Tuhan yang Maha Agung, Tuhan yang Maha Mulia.

Pengampunan Tuhan atas manusia itu luar biasa. Coba kita bayangkan berapa banyak kita menyembah dan mengabdikan diri kepada Allah lewat ritual-ritual keagamaan. Dalam sehari waktu kita sepanjang 24 jam. Jika shalat yang kita lakukan setiap waktu shalat itu lima menit, maka hanya ada waktu sebanyak 25 menit untuk shalat. Jika dzikir kita 10 menit, maka hanya ada waktu sebanyak 50 menit. Jika shalat malam dan dzikirnya itu sebanyak 60 menit berarti dalam sehari kita hanya beribadah selama dua jam 15 menit. Jika tidur kita selama tujuh jam, maka waktu terjaga kita selama 17 jam. Dari 17 jam itu yang dipakai ibadah sebanyak 2,15 menit. Jadi hanya sebanyak 12,64 persen. Ini sudah baik. Sudah ada waktu shalat malam dan dzikir selama satu jam. Bayangkan jika kita tidak melakukannya. Saya kira di antara lebih banyak yang tidak melakukannya.

Itulah sebabnya kita perlu berdoa kepada Allah agar Allah memberikan ampunan atas semua kesalahan, kekhilafan dan dosa-dosa kita. Jika Allah tidak mengampuni dosa-dosa kita maka kita termasuk orang yang celaka. Inilah yang disebut sebagai orang yang merugi. Allah sudah mengingatkan: “wal ashr. Innal insana lafi khushr. Illal ladzina amanu wa ‘amilush shalihati, wa tawa shaubil haqqi watawa shaubis sabr.” Yang artinya: “Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang yang beriman dan beramal shaleh  dan berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran”. Insyaallah kita yang bearada di mushalla untuk mengamalkan shalat isya’, tarawih dan witir pada malam hari ini sudah termasuk dalam kategori orang yang beribadah kepada Allah.

Ketiga, Tuhan Allah merupakan Dzat yang menyukai ampunan. Itulah sebabnya, sebagai makhluknya, kita harus mengagungkan Asma Allah yang Maha Pengampun, Maha Pemaaf dan Maha Kasih Sayang. Karena Allah mencintai ampunan, maka manusia harus memanfaatkan peluang yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk memohon ampunannya. Tuhibbul afwa wa’fuanna ya Karim”. “Allah itu mencintai ampunan dan ampunilah kami Ya Allah Yang Maha Agung”.

Doa ini akan sangat baik jika tidak hanya dibaca pada waktu Bulan Ramadlan, akan tetapi menjadi doa yang bisa kita lantunkan selain bulan Ramadlan. Memang ada keyakinan bahwa orang yang melantunkan doa pada bulan Ramdlan, maka peluang dikabulkannya lebih besar. Itulah sebabnya, semua masjid yang berselaras dengan Nahdlatul Ulama (NU) dipastikan imamnya membaca doa tersebut setelah selesai shalat witir.

Yang diperlukan sesungguhnya adalah keistiqomahan kita dalam melakukan amal ibadah. Bukan perkara banyaknya, akan tetapi keistiqamahan kita. Sedikit yang ajeg atau kontinyu jauh lebih baik dari banyak dilakukan tetapi jarang-jarang. Sedikit  tetapi terus dilakukan. Semoga kita dapat menjadi orang yang ajeg dalam menjalankan ibadah dan melakukan doa.

Wallahu a’lam bi al shawab.