Beberapa hari ini saya menulis tentang Islam garis keras. Sebagaimana tulisan saya kemarin, maka saya selalu beranggapan bahwa untuk memberantas dan menanggulangi berkembangnya Islam garis keras, maka masyarakat juga harus terlibat. Saya kira tidak hanya menjadi tugas Densus 88 atau bahkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), akan tetapi juga seluruh (more..)
Ada femonena yang ganjil terutama pasca reformasi. Jika di masa Orde Baru dahulu, semua yang bertentangan dengan negara dianggap sebagai pelanggaran dan jika menyangkut ideologi negara, maka akan dihukumi dengan tindakan subversive. Akan tetapi di era Orde Reformasi, maka terjadi kesebalikannya. Artinya, bahwa terjadi perkembangan ideologi yang bak cendawan di musim (more..)
Beberapa bulan yang lalu saya menulis tentang hilangnya hati nurani bangsa ini untuk membangun kerukunan karena semakin banyaknya pertentangan atau perbedaan yang kemudian mengeras menjadi konflik missal. Saya kira tulisan tersebut bisa (more..)
Seharusnya dipahami bahwa sumbangan Pendidikan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) terhadap dunia pendidikan di Indonesia tentu sangat signifikan. Hal itu tentu didasari oleh kenyataan betapa banyak alumni yang dihasilkan oleh (more..)
Saya kira tidak ada satupun orang Islam, baik Sunni maupun lainnya yang membenarkan pengeboman terhadap orang yang melakukan shalat Jum’at, sebagaimana yang dilakukan oleh pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz Dzikra di Komplek Mapolresta (more..)