Hari raya ini, saya agak lama di pedesaan tempat kelahiran saya. Karena di sini ada Ibu saya, maka tentu saja saya harus mudik ke desa untuk bertemu ibu dan juga kerabat serta handai taulan yang di masa lalu pernah sekolah bersama dan bermain bersama. Hidup di desa itu memang ada juga nikmatnya, selain jauh dari kebisingan, kemacetan dan hiruk pikuk manusia juga ada banyak orang yang hidup ikhlas di tengah keidupan yang terbatas.
Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari religiositas orang desa. Dua kali saya memperoleh pelajaran tersebut. Yaitu tentang keyakinannya bahwa Allah pasti akan memberikan rezeki kepada makhluknnya dalam takaran apapun. Misalnya ada di antara mereka yang menyatakan bahwa mulut kita ini bukan sobek karena terkena kayu, tetapi diciptakan Allah, sehingga Allah pasti akan memberinya makan dengan cara yang disediakan. Kemudian, ada lagi pernyataan senada dari orang yang berbeda, bahwa selama orang melakukan pengabdian kepada Allah, maka dipastikan bahwa Allah akan memberinya makan sesuai dengan takarannya.
Para kerabat saya ini tidaklah belajar banyak tentang takdir, ikhtiar, dan ilmu agama yang rumit-rumit, akan tetapi mereka beragama dengan keyakinan dan amalannya saja, akan tetapi bisa menghasilkan rasa kepasrahan kepada Allah atas semua hal yang dihadapinya. Beragama seperti ini yang tekadang jauh dari orang-orang yang selama ini belajar agama dari sisi ilmunya. Jadi, beragama sesungguhnya berurusan dengan keyakinan, kepasrahan dan kepatuhan yang tidak usah ditawar.
Beragama bagi orang desa seperti ini adalah beragama dengan rasa pengabdian yang luar biasa tanpa ada keinginan mempertanyakan apa guna dan manfaat pengabdiannya tersebut. Dilaluinya amalan shalat tanpa ada pertanyaan untuk apa shalat yang dilakukannya itu. Baginya, shalat dan seluk beluk pengabdiannya kepada Allah adalah bagian dari kewajiban dan kebutuhannya untuk menghadapkan seluruh hidupnya untuk Tuhannya.
Sebagaimana yang pernah ditulis oleh para ahli, bahwa agama memang berisi keyakinan, ritual dan performance keberagamaannya itu. Maka ketika kita melihat meeka mengamalkan ajaran agamanya, maka yang tentu saja segera terlihat adalah bagaimana mereka beragama dengan keyakinan dan upacara keberagamaannya itu.
Keyakinan beragamanya terlihat dari bagaimana mereka memaknai pemberian atau rizki Allah kepadanya. Merek berkeyakinan bahwa Allah itu maha kasih sayang kepada hambanya, sehingga ketika hambanya itu dihidupkan, maka pastilah bahwa Allah akan memberinya rezeki. Allah tidak akan pernah mengingkari pemberian rezeki itu kepada hambanya. Dan mereka meyakini betul bahwa pasti ada cara Allah memberikan rezeki tersebut.
Bagi mereka setiap individu akan memperoleh rezeki sebagaimana ukurannya. Kepastia tentang rezeki itu adalah bagian dai takdir Tuhan yang memang harus terjadi. Allah pastilah akan memberikan rezeki kepada hambanya, hanya saja besar kecilnya tentu juga hanya Allah yang mengetahuinya. Mereka yakin betul akan kepastian pemberian rezeki tersebut. Setiap yang dicipakan Allah pasti akan diberikan rezekinya masing-masing.
Agama bagi orang desa adalah sesuatu yang sangat sederhana. Beragama itu yang penting adalah keyakinan tentang agamanya itu. Keyakinan bahwa Allah adalah Maha Pemberi, bahwa Allah adalah Maha Kasih Sayang, bahwa Allah adalah Maha kuasa. Sebagai pemberi, maka Allah pastilah akan memberikan rezeki kepada semua makhluknya. Sebagai pemberi kasih sayang, maka Allah dipastikan akan menyayangi hambanya dengan caranya Allah menyayangi. Demikian seterusnya.
Dan semuanya berimplikasi terhadap kepasrahannya kepada Allah. Di dalam hal kebahagiaan dan kesengsaraan di dunia, maka diungkapkan dengan kalimat “nerimo ing pandum” yang artinya “menerima dengan ikhlas semua pemberian”. Tuhan digambarkannya sebagai pemberi yang apapun pemberiannya harus diterima dengan ikhlas. Orang harus pasrah menerimanya.
Kepasrahan terhadap pemberian Tuhan inilah yang sesungguhnya menjadi inti dari kehidupan orang desa, sehingga mereka bisa menerima kemiskinan dan kekayaan sebagai pemberian Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat. Dengan keyakinan semacam ini maka orang desa bisa bertahan di tengah budaya materialisme yang mengandaikan bahwa kekakayaan adalah sagu-satunya pilihan di dalam kehidupan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Semalam (02/09/2011), saya menikmati sajian musik patrol yang dipagelarkan oleh kelompok musik Patrol Raden Santri Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, JawaTimur. Selama dua jam, dari jam 19.30 sampai jam 21.30 mereka memainkan musik patrol yang biasanya digunakan untuk membangunkan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan makan sahur. Jadi fungsi awal musik patrol adalah untuk membangunkan agar warga masyarakat bisa bangun untuk makan sahur tersebut.
Semula musik patrol memang dibikin untuk kepentingan beribadah puasa. Makanya alat-alat yang digunakan juga sangat sederhana. Ada batang bambu yang dipotong, gitar dan bekas galon air mineral yang dijadikan untuk menghasilkan suara khas dengung. Musik patrol ini juga dimainkan oleh anak-anak usia belasan yang berekeliling di jalan-jalan desa sambil menyanyi seadanya. Yang penting menghasilkan suara yang bisa membantu penduduk desa untuk bangun dan menunaikan sahur.
Akan tetapi lama kelamaan musik patrol ini semakin berkembang, baik dari sisi alat musiknya maupun pemainnya. Jika sebelumnya hanya dimainkan oleh anak-anak usia belasan, maka kemudian dimainkan oleh para remaja dan orang dewasa yang berkeinginan main musik patrol. Varian alat dan lagunya juga bervariasi. Alat musik gamelan kemudian menjadi bagian penting dari musik patrol. Ada peking, saron, kenong atau gong yang menjadi alat musik ini. Kemudian juga alat musik bambu, sederhana sekali, hanya batang bambu yang dipotong untuk menghasilkan varian suara musiknya, bekas galon air mineral, bekas drum plastik, gentong air, simbal, kencreng dan lainnya.
Meskipun alat musiknya sangat sederhana, akan tetapi ketika dimainkan dengan rancak dan penuh semangat ternyata bisa menghasilkan bunyi musik yang sangat indah.
Alunan lagu shalawatan, lagu campur sari dan bahkan juga musik pop bisa dimainkan dengan baik melalui alat musik sederhana tersebut. Makanya tidak salah jika masyarakat juga menikmati sajian musiknya. Ada yang berjoget ala musik dangdut dan ada pula yang menari beksan dalam tarian Jawa.
Musik patrol atau oleh masyarakat disebut musik Dunak Dungkul atau musik Tongklek adalah musik rakyat. Musik dengan genre ini adalah musik yang lahir dari keinginan untuk membantu mayarakat yang menjalankan ibadah puasa agar dapat melaksanakan sahur tepat waktu. Jadi meskipun berisik, akan tetapi masyarakat tetap memperoleh manfaat. Itulah sebabnya masyarakat menikmati kehadiran musik itu.
Musik patrol ternyata berkembang pesat di setiap desa. Hampir seluruh desa di wilayah Kabupaten Tuban ternyata memiliki musik ini. Makanya ketika diadakan lomba musik patrol di Kabupaten Tuban, maka pesertanya sangat banyak, kira-kira 150 peserta. Lomba tersebut tidak hanya di kota kabupaten, akan tetapi juga dilaksanakan di banyak tempat. Setiap kecamatan bahkan memiliki arena lombanya sendiri.
Menilik terhadap perkembangan musik patrol ini, maka sesungguhnya bulan puasa bisa menjadi medium untuk mengembangkan musik rakyat ini. Puasa selama ini hanya dianggap sebagai bulan ibadah dalam pengertian khusus, akan tetapi ternyata bisa juga menghasilkan musik rakyat.
Dan sebagaimana yang saya tahu, bahwa musik Tongklekan yang semula hanya menjadi tengara makan sahur, ternyata bisa juga menjadi musik hiburan khas pedesaan. Bahkan menurut penuturan masyarakat bahwa musik ini mulai digemari masyarakat dan banyak memperoleh order untuk tanggapan atau pementasan.
Oleh karena itu bisa dinyatakan bahwa puasa ternyata bisa juga menghadirkan musik meskipun hanya sekedar menjadi musik pedesaan. Tetapi apapun namanya tetapp saja ada manfaatnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Di tempat saya lahir, Desa Sembungrejo, Merakurak, Tuban, hari raya memang menjadi momentum penting untuk melakukan kunjungan rumah secara bergantian. Biasanya dari yang muda ke yang tua, baik kepada kerabat atau tetangga. Hari raya idul fitri yang jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011 atau hari Rabu berdasarkan penetapan yang dilakukan oleh pemerintah, sedangkan kalangan Muhammadiyah melaksanakannya hai Selasa, 30 September 2011, lalu menjadi ajang untuk kunjungan rumah tersebut.Akan tetapi sebagaimana diketahui bahwa meskipun mereka berhari raya berbeda, akan tetapi kerukunan tetap terjaga. Dan inilah keunikan umat Islam Indonesia.
Hanya sayangnya bahwa kunjungan rumah tersebut hanya terjadi sehari dan semalam saja. Memang agak berbeda dengan tempat lainnya. Di tempat lain, pelaksanaan hari raya bisa berhari-hari. Kunjungan rumah tersebut terasa sangat singkat, karena yang terpenting adalah datang ke rumah dan memohon maaf satu kepada lainnya. Ketika kecil saya diajari jika akan datang ke rumah kerabat, maka saya harus mengucapkan “ngaturaken sedoyo kelepatan kulo lahir soho batin, ingkang boten angsal idzine syara’ mugiyo lebur dinten meniko” yang artinya “saya menghaturkan semua kesalahan saya lahir dan batin, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat semoga diampuni semuanya”.
Disebabkan oleh singkatnya acara kunjungan rumah ini, maka selalu membawa problem bagi saya secara pribadi, jika saya tidak hadir di tempat kelahiran saya itu pada waktunya. Makanya saya selalu tergesa-gesa pulang ke rumah Tuban jika saya harus mengikuti acara yang waktunya bertepatan dengan hari pertama idul fitri.
Acara lebaran memang tidak hanya sekedar kunjungan rumah, akan tetapi juga ada nilai religiositasnya, yaitu adanya keyakinan tentang pentingnya silaturrahmi, ada ritual beribadah dan juga performance keagamaan yang menggambarkan dunia keyakinan tersebut mengejawantah di dalam kehidupan. Ada dimensi teologis dan syariat serta implementasi dari keduanya.
Halal bil halal yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia sudah merupakan tradisi yang sangat kuat keberadaannya. Makanya, tradisi ini juga diwariskan kepada anak- anak melalui proses enkulturasi. Untuk hal ini maka bisa dilihat tentang bagaimana kegiatan halal bil halal selalu melibatkan keluarga dan tidak hanya orang seorang. Ketika mereka datang ke rumah saya, maka semua anggota keluarga tersebut mengikutinya. Mereka kenalkan anak-anaknya tersebut kepada yang lebih tua. Diajarinya mereka ini untuk bersalaman dan memohon maaf kepada yang lebih tua.
Semuanya dipahaminya dari kerangka syariat Islam. Yang tidak mendapatkan pembenaran sesuai dengan syariat Islam agar dimaafkan. Itulah sebabnya tradisi lebaran sesungguhnya memiliki pijakan teologis dan syariat Islam atau terdapat pattern for behavior yang menjadi pedoman tindakan tersebut.
Sebagai bagian dari masyarakat Islam yang kiranya dianggap tokoh, maka banyak orang yang berkunjung ke rumah saya. Makanya, warga desa ini juga banyak yang datang kw rumah ketika saya sudah datang. Disebabkan oleh keinginan warga masyarakat seperti itu, sementara mereka harus bekerja pada hari berikutnya, maka saya harus menyempatkan pulang cepat agar bisa meraih keduanya. Saya bisa bersilaturahmi dan mereka juga tidak kehilangan jam kerjanya.
Rutinitas seperti ini akan terus berulang. Dari tahun ke tahun. Dan yang sungguh hebat bahwa tidak ada perubahan yang berarti. Tradisi yang lain bisa berubah dan memiliki potensi berubah, akan tetapi tradisi lebaran kiranya akan terus bertahan.
Kebertahanan tradisi ini tentu saja disebabkan oleh potensi masyarakat Indonesia yang memang memiliki budaya paguyuban yang terus berlangsung. Jadi meskipun modernisasi juga sedang berlangsung di negeri ini, namun tradisi yang di dalamnya mengusung kebersamaan tentu masih akan bertahan. Tradisi lebaran adalah satu di antara tradisi yang akan tetap bertahan di tengah modernisasi tersebut.
Sungguh di hari raya ini saya merasa sangat bergembira sebab saya bisa menunaikan tugas menjadi khotib di Masjid Nasional al Akbar Surabaya dan kemudian juga bisa melakukan silaturrahmi di desa saya. Desa di tempat saya lahir dan besar ini tetap saja mengandung kenangan sebab tentunya banyak hal yang memang tetap bisa dikenang. Jadi kita memang boleh merasa menjadi bagian dari orang modern, akan tetapi kita memang juga harus tetap merasa menjadi bagian dari masyarakat Indonesia pada umumnya, terutama masyarakat pedesaan yang masih menyisakan kebersamaan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
LEBARAN
Hari ini kita sedang berada di dalam suasana Lebaran. Lebaran adalah suatu konsepsi di dalam tradisi umat Islam Indonesia untuk menandai keberakhiran puasa pada bulan ramadlan. Setelah melaksanakan puasa selama satu bulan, maka hari ini adalah hari raya yang juga dikenal sebagai idul fitri atau hari raya idul fitri.
Di dalam konsepsi umum, hari raya idul fitri adalah suatu hari di mana umat Islam yang selesai melaksanakan puasa ramadlan kemudian kembali kepada kesucian. Fitrah dalam etimologi Arab diartikan sebagai suci atau kesucian. Jadi idul fitri berarti hari raya kesucian. Kembali kepada fitrah.
Lebaran dalam konsepsi Jawa bermakna akhir atau penghabisan. Jadi lebaran berarti penghabisan waktu puasa. Atau juga bisa diartikan sebagai pungkasan atau akhir. Makna secara etimologisnya adalah waktu berakhirnya pelaksanaan puasa dan dimulainya waktu tidak puasa.
Di dalam tradisi Jawa, hari ini juga dinyatakan sebagai riyoyo yang di dalam bahasa Indonesia disebut sebagai hari raya. Hari raya artinya adalah hari untuk bersenang-senang karena telah menyelesaikan suatu pekerjaan besar atau mungkin juga pertarungan besar untuk melawan sesuatu yang besar pula.
Di dalam konsepsi Islam pertarungan besar tersebut adalah perang melawan hawa nafsu. Di dalam peristiwa heroik peperangan Badar dalam sejarah peperangan Nabi Muhammad saw, maka Nabi Muhammad menyatakan bahwa “kita baru saja pulang dari jihad kecil menuju jihad besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu”.
Memang umat Islam baru saja menyelesaikan jihad melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh, yaitu dengan melakukan puasa. Oleh karena itu maka dirayakanlah kemenangannya itu di dalam bentuk hari raya yang dikenal sebagai hari raya idul fitri tersebut.
Tradisi lebaran hanya ada di Indonesia dan tidak terdapat di negara-negara Timur Tengah sebagai sumber inspirasi Islam. Timur Tengah sebagai sumber agama Islam memang tidak memiliki tradisi-tradisi sebagaimana Islam di Indonesia. Pengaruh Wahabi yang kering terhadap nilai-nilai lokalitas, menjadikan agama Islam juga miskin tradisi yang bersentuhan dengan unsur lokalitasnya.
Untunglah bahwa masyarakat Islam Indonesia tidak sepenuhnya mengambil rigiditas tradisi Timur Tengah, sehingga masih memungkinkan terjadinya relasi antara tradisi lokal dengan Islam dalam coraknya yang akulturatif. Bukan untuk saling mengalahkan akan tetapi untuk saling memperkaya.
Hari raya idul fitri juga tidak didapatkan di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Di sini, idul adha adalah hari raya yang memiliki pengaruh sangat besar. Sebab di hari raya ini, terjadi upacara haji yang luar biasa. Pada hari raya haji ini seluruh jamaah haji memenuhi tanah suci, Makkah al Mukarromah, sehingga Saudi Arabia menjadi pusat ritual haji dimaksud.
Jadi, hari raya Idul fitri adalah peristiwa biasa saja dan hanya menjadi momen untuk melakukan ibadah sunnah idul fitri. Hal ini berbeda dengan tradisi lebaran di Indonesia yang memiliki kekhasan tersendiri. Hari raya idul fitri jauh lebih ramai, sebab juga diramaikan dengan acara kunjungan dari rumah ke rumah atau halal bil halal.
Tradisi halal bil halal inilah menjadi kekhasan dari hari raya idul fitri di Indonesia. Melalui acara kunjungan rumah ke rumah, dari yang muda ke yang tua, dari anak ke orang tua dan sanak kerabat sesungguhnya menjadi bagian dari implementasi amalan silaturrahmi. Kunjungan rumah yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia merupakan gambaran bagaimana masyarakat ini melakukan amalan keislaman dalam coraknya yang khas.
Jadi sesungguhnya masyarakat ini memiliki potensi dan tradisi yang sangat menjunjung tinggi persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah dan bahkan juga ukhuwah basyariyah. Jika kemudian mereka berubah dari potensi dan tradisinya ini, maka sebenarnya tentu ada faktor eksternal yang menyebabkannya. Faktor inilah yang harus direduksi sekuat tenaga sehingga tidak akan mengganggu keislaman masyarakat Indonesia yang rahmatan lil alamin.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Saya memang bukan ahli hisab al hilal, sebab memang perangkat keilmuan saya tidak memadai untuk menjadi ahli hisab. Selama saya belajar di perguruan tinggi mulai dari Strata satu sampai strata tiga juga tidak ada yang terkait dengan ilmu rukyat al hilal apalagi hisab al hilal. Oleh karena itu, saya akan lebih suka untuk berkomentar dari sisi sosiologis saja tentang perbedaan hari raya (more..)