Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TAHUN BARU 2013

TAHUN BARU 2013
Hari Ini, Selasa, adalah tahun baru Masihiyah. Tahun baru biasanya dijadikan sebagai wahana untuk beriang gembira disebabkan oleh pergantian tahun tersebut. Tidak hanya remaja dan anak-anak yang ramai-ramai meniup terompet, akan tetapi juga banyak orang tua yang secara sengaja menghabiskan malam tahun baru dengan gegap gempita. Ada yang merayakannya di rumah bersama keluarga dan ada pula yang ramai-ramai di tempat hiburan dan ada pula yang menghabiskannya di hotel dan cottage untuk menyongsong tahun baru. 
Di jagat maya ini ada beberapa perayaan tahun baru. Yaitu tahun baru Miladiyah atau tahun baru berdasarkan kalender Islam yang dimulai dengan peristiwanya hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Kemudian tahun baru Masihiyah atau tahun baru berdasarkan kalender yang dibuat berdasarkan kelahiran Nabi Isa. Lalu juga ada tahun baru Cina, tahun baru Saka yang dibuat oleh Sultan Agung sebagai penanggalan Jawa dan sebagainya. 
Semua kalender atau penanggalan sesungguhnya dibuat untuk memberikan pengetahuan tentang hari, bulan, tahun dan sebagainya. 
Ada variasi cara orang menyambut tahun baru. Ada yang difasilitasi oleh Pemerintah, atau ada juga yang difasilitasi oleh kaum bisnis, dan ada juga yang difasilitasi oleh masyarakat. Hotel-hotel dan tempat hiburan juga seakan berlomba untuk menghadirkan nuansa berbeda menjelang perayaan tahun baru. Semua dikerahkan untuk menyongsong tahun baru. Musik, penyanyi, tari, kuliner dan sebagainya dikerahkan untuk menyambut datangnya tahun baru. 
Ada dua sikap yang terlihat di dalam menyambut tahun baru. Pertama, adalah menyambut tahun baru dengan Hura-Hura, dengan semangat untuk meramaikan dengan gegap gempita tanpa ada pemikiran bahwa dengan tahun baru berarti bahwa ada perjalanan baru yang harus ditunaikan. Yang penting Happy, bagaimanapun caranya. Mereka ini menutup tahun berlangsung dan menyambut tahun baru dengan kebut-kebutan di jalan. Mereka naik sepeda motor seakan tanpa ada aturan yang harus dipatuhinya. 
Mereka menjadi penguasa jalan raya. Hampir seluruh ruas jalan di kota-kota dikuasainya. Lelaki dan perempuan umur belasan tahun tanpa perasaan bersalah berkendaraan dengan berboncengan tiga, bersepeda sambil berdiri di atas kendaraannya, dan sebagainya. Mereka sama sekali tidak menghiraukan keselamatan dirinya dan juga keselamatan orang lain. Semalaman mereka berada di jalanan seakan dialah penguasa jalanan malam itu. 
Yang juga merayakan dengan hiruk pikuk adalah mereka yang  berada di hotel-hotel, baik hotel berbintang maupun tidak. Ada paket-paket yang secara sengaja ditawarkan untuk menarik minat penghuni hotel. Acara-acara yang berupa life music, dengan penyanyi terkenal dan juga DJ terkenal dijadikan sebagai paket menyongsong tahun baru. 
Meskipun semangatnya sama, akan tetapi yang di hotel tentu jauh lebih tertib dibanding mereka yang menyelenggarakan paket hiburan di lapangan terbuka. Hampir setiap kota terdapat paket hiburan seperti ini. Bahkan kota Jakarta juga menyelenggarakan paket acara hiburan di jalan-jalan utama kota Jakarta. Ada beberapa ruas jalan yang dikosongkan dari kendaraan bermotor pada malam tahun baru. Jalanan ini diisi dengan musik, tarian, dan juga pelawak, yang digunakan sebagai tempat hiburan bagi masyarakat Jakarta. 
Jakarta memang berubah di dalam menyambut tahun baru. Jakarta night festival, yang dijadikan sebagai ikon penyambutan tahun baru yang digelar di jalan utama Jakarta ternyata juga diharapkan dapat ke jadi daya tarik bagi pengunjung Jakarta di tahun baru. Bahkan hotel besar yang berada di sepanjang jalur seperti Jalan Sudirman, bundaran HI dan sebagainya juga mendukung terhadap acara ini. 
Ada sebuah pertanyaan, apakah merayakan tahun baru memang harus dengan Hura-Hura, dengan mengusai jalan raya, dengan mempertaruhkan nyawa, dengan mempertaruhkan keselamatan diri atau orang lain dan sebagainya. Jawabannya tentu tidak. Namun demikian, Menyambut tahun baru dengan Hura-Hura sudah menjadi tradisi yang melekat di dalam mindset di sebagian masyarakat kita. 
Tahun baru Masehi juga sarat dengan perayaan kembang api. Di pusat kota, pusat hiburan, tempat rekreasi, semuanya menyelenggarakan life music dan juga musik hingar bingar dengan DJ terkenal. Tahun baru adalah rezekinya para pesohor. Penyanyi, pelawak, MC dan lainnya seakan mendulang rejeki di tahun baru. Mereka menghibur dan sekaligus mengajak para pengunjung untuk menikmati dan menyambut tahun baru dengan kemeriahan dan suka cita. Ada yang khusus menyajikan lagu-lagu pop, Slow rock, rock dan juga musik melayu. Di hotel-hotel banyak yang mengedepankan musik-musik country yang berpusat si Amerika latin, atau musik cadas dari Amerika Serikat. 
Kemeriahan tahun baru tentu tidak akan ada artinya tanpa pertunjukan spektakuler tentang pesta kembang api. Langit yang gelap tiba-tiba menjadi indah karena hentakan bunyi mercon yang diiringi dengan berderainya pijar-pijar api warna warni. Bunyi dentuman itu terus menerus bergema seirama dengan keluarnya pijar-pijar api ke langit gelap. Ada yang memang didesain dengan meluncur secara sendirian dan ada juga yang didesain agar terjadi gesekan antara satu pijar api dengan lainnya. Ketika pijar api itu bersentuhan maka lahirlah pijar api baru ang dahsyat dan menarik. Kilau warna-warni itu seakan membuat langit tersenyum karena malam kelam tiba-tiba menjadi menarik untuk dikagumi. 
Bagi saya pesta kembang api adalah keindahan. Keindahan fisikal yang memang bisa menyenangkan mata dan kemudian masuk ke dalam pikiran dan bisa jadi juga menyenangkan hati. Hentakan musik yang dipandu oleh DJ terkenal dan seirama dengan pesta kembang  api yang sedang berlangsung, maka bisa membuat kesenangan dan hilangnya duka. Semua berteriak dan meniup terompet. Maka ingar bingar yang bercampur dengan kebisingan dan kemeriahan bersatu memadu dalam keriangan para pengunjung yang beraneka usia.
Kedua, ada sebagian kecil saja yang menyambut tahun baru, apapun tahun barunya, dengan perenungan dan muhasabah. Dilaluinya pergantian tahun bukan dengan Hura-Hura akan tetapi dengan melakukan berbagai macam ritual yang diyakini kebenarannya. Ada yang menyelenggarakan waridan bersama, istighasah  bersama, doa bersama dan sebagainya. Ada yang melakukannya dengan berjamaah dan ada yang melakukannya secara individual. Semua dilakukan dalam kerangka untuk menyambut tahun baru. Bahkan juga ada yang melakukan ritual slametan, baik yang diselenggarakan secara komunal maupun individual. Berbagai tindakan ini, sesungguhnya adalah cara untuk mengekspresikan penyambutan mereka terhadap hadirnya tahun baru dan berlalunya tahun berjalan.
Berbagai cara yang dilakukan tentu sah-sah saja, sebab tidak ada aturan yang membatasi orang untuk menyelenggarakan perayaan tahun baru. Yang tidak boleh sesungguhnya adalah ketika merayakan tahun batu lalu membuat keonaran, ketidaktentraman masyarakat dan sebagainya. 
Jika penyambutan malam tahun baru dilakukan dengan tetap mengindahkan pandangan dan sikap hidup orang beragama, maka saya berkeyakinan bahwa penyambutan tahun baru merupakan sesuatu yang nikmat  dan bukan sebaliknya.
Wallahu a’lam bialshawab. 

KURIKULUM CINTA TANAH AIR

KURIKULUM CINTA TANAH AIR
Pagi ini, saya memperoleh kesempatan untuk menjadi nara sumber dalam kerangka Temu Tokoh Pendidikan Islam yang diselenggarakan oleh direktorat pendidikan agama Islam di sekolah umum dalam kerangka untuk merespons terhadap rencana perubahan kurikulum yang akan diselenggarakan pada tahun 2013. 
Temu tokoh pendidikan Islam ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memberi masukan kepada kementerian agama, khususnya direktorat pendidikan agama Islam di sekolah umum sebagai landasan untuk merumuskan kebijakan yang terkait dengan perubahan kurikulum dimaksud.
Perubahan kurikulum tentu bukan sesuatu yang ekstraordinary, akan tetapi merupakan kelaziman bagi sebuah bangsa untuk merumuskan ulang tentang kurikulum yang memang sekali waktu harus diubah. Perubahan kurikulum bahkan menjadi wajib  oleh faktor eksternal yang berubah, misalnya perubahan kebijakan yang mendasar mengenai pendidikan.
Faktor yang mempengaruhi perubahan kurikulum itu antara lain adalah faktor perubahan zaman, misalnya di era baru globalisasi, maka mau tidak mau, kurikulum kita juga harus diubah sebagai masa di mana lembaga pendidikan itu akan menyongsong perubahan tersebut. Di dalam hal ini, maka tantangan globalisasi adalah kemungkinan akan semakin menipisnya identitas sebagai sebuah bangsa. Dengan semakin mudahnya relasi antar bangsa, semakin menipisnya jarak antar bangsa, budaya global yang terus menggerus nilai budaya bangsa tentu mengharuskan adanya usaha agar identitas sebagai bangsa akan tetap dipertahankan. 
Di satu sisi kita harus memasuki dunia global dengan segala atributnya, di sisi lain kita harus tetap utuh mempertahankan identitas dan budaya bangsa dalam relasi dengan budaya dan identitas bangsa lain. Contoh yang mengedepan adalah bagaimana. Bangsa Korea Selatan mengekspor budayanya ke negara-negara lain dan kemudian terjadilah gelombang Korea atau Korean Wave yang tidak dapat dibendung. Bagaikan air bah yang menerjang ke segala 
Penjuru dunia, maka gelombang Korea itu juga menerjang Indonesia sebagai pasar global yang dahsyat. Pertunjukan artis Korea selalu dibanjiri oleh anak-anak muda Indonesia seakan itulah idola mereka yang sesungguhnya. Itulah kekuatan budaya pop yang sedang melanda dunia, yang disebut sebagai Korean Wave itu. 
Pendidikan kiranya harus didesain agar identitas dan budaya bangsa tidak tergerus oleh gelombang budaya dunia yang diusung oleh media dengan terapan yang sangat kuat. Terapan budaya sing ini tentu mengharuskan adanya rumusan-rumusan baru kurikulum terkait dengan bagaimana lembaga pendidikan sebagai institusi yang paling bertanggung jawab terhadap Masa Depan bangsa akan dapat berperan lebih dahsyat. 
Pendidikan harus mengusung semangat menguatkan identitas bangsa dan budaya bangsa secara lebih fundamental artinya bahwa tugas dan fungsi pendidikan adalah bagaimana agar ide total bangsa yang merupakan ukuran mendasar sebagai bangsa tidak tergerus oleh zaman. Identitas bangsa tidak boleh lapuk oleh hujan dan tidak boleh lekang oleh panas. Dia harus tetap menjadi identitas bangsa yang abadi sampai kapanpun. 
Makanya pendidikan harus didesain dengan kurikulum cinta tanah air, cinta bangsa, cinta produk bangsa sendiri dan sebagainya. Masyarakat Indonesia harus terus menerus mencintai dan menyayangi bangsanya sendiri. Memang ada sesuatu yang menarik di negeri orang, misalnya keteraturan dan kenyamanannya, akan tetapi hal itu bukan berarti menjadikan kita lupa akan tanah air dan bangsanya sendiri. Hujan badai di negeri sendiri lebih baik dibanding hujan emas di negeri orang. Meskipun ini hanya sebuah ibarat, akan tetapi tentu dapat menjadi pegangan di dalam kerangka menjaga identitas dan mencintai bangsa sendiri.
Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang dapat menjadi instrumen yang baik bagi anak bangsa untuk mencintai bangsanya. Oleh karena itu mata pelajaran atau mata kuliah yang bernuansa kebangsaan haruslah menjadi bagian penting di dalamnya. Adakah mata pelajaran atau mata kuliah yang bisa menjadi instrumen bagi pengembangan jiwa dan pribadi bagi bangsa Indonesia. Makanya, para pakar pendidikan lalu menyarankan agar mata pelajaran pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan dapat dijadikan sebagai instrumen bagi para guru dan pendidik untuk menyemaikan, mengembangkan dan menguatkan identitas bangsa dan kemudian mereka mencintai bangsanya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.
Oleh karena itu, maka mata pelajaran atau mata kuliah tentu haruslah dirancang agar ke Depan dapat menghasilkan manusia indonesia yang memiliki rasa dan perilaku untuk mencintai bangsanya sendiri sehingga keutuhan negara bangsa juga akan dapat terus diwujudkan.
Menegakkan Pilar kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI dan kebhinekaan adalah kewajiban bagi setiap guru dan para pendidik untuk mentransformasikan kepada anak didik agar keberlangsungan bangsa Indonesia tidak akan lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas.
Wallahu a’lam bialshawab. 

MAMPIR MAKAN MALAM DI JERMAN

MAMPIR MAKAN MALAM DI JERMAN
Di Enscede saya merasakan kehidupan yang sangat teratur. Jalur yang lebar, kendaraan yang tidak berjubel dan keteraturan berkendaraan yang membuat perjalanan menjadi nyaman. Rasanya nyaman sekali berkendaraan, baik dengan sepeda, motor maupun mobil. Semua berjalan pada jalurnya. Tidak ada bunyi klakson atau orang berteriak karena berkendaraan yang ngawur. 
Di Enscede, kawan-kawan memang memiliki acaranya sendiri-sendiri. Ada yang presentasi di hadapan tim pendamping penelitian aksi dan ada yang membeli sepeda merk Gazelle khas Belanda. Saya merasa senang sebab semuanya berhasil memperoleh barang dan tercapai tujuan untuk kunjungan di Belanda. Untunglah bahwa kunjungan di Belanda ini diantar oleh staf KBRI, sehingga tujuan-tujuan untuk memperoleh barang atau makanan juga tidak sulit. Ketika ada yang ingin membeli sepeda merk Gazelle, maka beliau antar hingga barang tersebut diperoleh. 
Pak Anwar memang sangat menyukai sepeda Gazelle ini. Diperlukan pergi ke Belanda untuk membeli sepeda ini. Padahal sesungguhnya di Jakarta juga terdapat pusat penjualan sepeda dengan merk Gazelle. Akan tetapi agar terasa lebih bernilai sejarah maka kesempatan membeli sepeda dari negeri asli pun dilakukannya. Harganya juga tidak jauh berbeda. Sepeda Gazelle dengan spesifikasi tertentu berharga 1800 euro. 
Diperlukan waktu sehari untuk berkunjung ke Enscede. Memang agak padat acara di universitas. Selain memberi materi kuliah umum tentang perkembangan Islam di Indonesia, juga harus bertemu dengan para guru besar pendidikan untuk memberi keyakinan bahwa proyek pengembangan pembelajaran berbasis ICT memang diperlukan di Indonesia. Maka jam 4 sore acara seluruhnya barulah selesai.
Kami berangkat menuju Jerman. Jarak perbatasan Jerman dengan kota Enscede tidaklah jauh, sebab Enscede memang wilayah yang berbatasan langsung dengan Jerman. Perjalanan ke Jerman hanya membutuhkan waktu 45 menit dengan kendaraan roda empat. Jarak tempuh yang tentu tidak jauh jika menggunakan konsepsi negara lautan sebagaimana Indonesia. Jarak tempuh itu hanya sama dengan perjalanan Surabaya Mojokerto. Bahkan kalau macet kira-kira sama dengan jarak Surabaya Krian. 
Sebelum maghrib saya sudah sampai di rumah Bu Liana, perempuan asal Blitar yang telah lama bermukim di Jerman. Perempuan beranak empat ini telah cerai dengan suami pertamanya dan sekarang menikah lagi dengan lelaki Belanda yang kelihatannya penganut Islam yang taat. Dengan pakaian model Timur Tengah dengan jenggot yang sangat lebat, si Ahmad ini bermukim dengan Liana adan keempat anaknya di Jerman. 
Kami tentu merasa sangat senang bertemu dengan orang Indonesia yang telah bermukim di negeri orang. Selain Liana juga datang Ibu Sukarni yang telah menetap di Belanda semenjak usia 18 tahun. Perempuan dari Surabaya ini juga sudah sangat menikmati hidup di negeri Belanda dengan suaminya yang berasal dari Suriname dan anak-anaknya. Mereka menetap di Enscede. Dia datang ke Jerman karena ada tamu dari Jakarta yang berkunjung ke Ibu Liana. 
Ada suasana menyenangkan ketika mereka bertemu dengan orang Indonesia. Mereka bercerita tentang kehidupannya di Belanda dan sebaliknya kami bercerita tentang Indonesia. Ketika tahu bahwa kami dari Surabaya maka cerita menjadi semakin semarak. Bercerita tentang Surabaya yang makin macet terutama jalan A. Yani di Depan IAIN Sunan Ampel sampai bundaran di sebelah Cito. Dan juga daerah-daerah lain yang juga makin macet. Mereka bercerita tentang keluarganya dan juga kehidupannya di Belanda damn Jerman dan juga keterlibatannya di dalam jemaah pengajian di negeri Belanda. Meskipun kami baru saja mengenal, akan tetapi terasa keakraban yang sangat tinggi. Mungkin begitulah rasanya berada di negeri orang lain ketika kemudian bertemu dengan sesama bangsanya. 
Liana adalah tipe wanita pekerja keras. Setelah bercerai dengan suaminya, maka dia mendirikan usaha “Pulang Kampung.com”. Sebuah usaha yang bergerak di bidang pengiriman barang-barang dari Belanda atau Jerman bahkan negara lain ke Indonesia. Kami tentu beruntung sebab Pak Anwar Muhtadi yang membeli sepeda Gazelle di Belanda tentu saja harus mengirim sepedanya ke Indonesia. Makanya, kami titipkan pengiriman sepeda itu ke Ibu Liana agar dikirim ke Indonesia. Melalui usaha tersebut maka barang yang dibeli di Eropa hanya tinggal menunggu di Indonesia. Cuma saja memang butuh waktu panjang, sebab pengiriman barang tersebut menggunakan jasa pengangkutan laut. Butuh waktu kurang lebih satu bulan. 
Malam itu kami merasakan makanan khas Arab. Saya tidak tahu apakah itu nasi kebuli atau nasi beryani atau jenis masakan nasi lainnya. Tetapi yang jelas sangat lezat. Apalagi selama di negeri Belanda harus makan kentang dengan ayam goreng saja. KFC adalah tempat yang sering menjadi tempat kami mengisi perut, sebab masakan lainnya agak sulit memakannya. 
Karena malam itu hujan, maka kami tidak bisa menikmati suasana Jerman. Kami hanya benar-benar mampir makan, sebab setelah makan bersama, kami pun kembali ke Belanda. Ada sebuah pertanyaan yang sering berkecamuk di kepala saya, bahwa dengan telah menyatunya negara-negara Eropa di dalam Uni Eropa, maka batas wilayah itu sudah tidak ada lagi. 
Saya membayangkan bahwa sekian tahun yang lalu ketika Uni Eropa belum terbentuk, maka untuk masuk ke negara lain akan mengalami kesulitan. Dan saya menikmati keluar masuk negara tanpa kesulitan itu.
Wallahu a’lam BI alshawab.

CERAMAH DI MUSHALLA TWENTEE UNIVERSITY

CERAMAH DI MUSHALLA TWENTEE UNIVERSITY
Ketika saya datang ke Universitas Twentee di Enscede, maka oleh ketua perhimpunan mahasiswa Indonesia di negeri Belanda ditawari untuk memberikan ceramah dengan tema apa saja yang terkait dengan kenyataan empiris di Indonesia. Tawaran itu tentu saja saya terima sekarang-kurangnya untuk berkenalan dengan mahasiswa Indonesia di Belanda. 
Saya datang di kampus ini kira-kira jam 11.00. Lalu saya cari di mana mushallah kampus itu. Ternyata ada di lantai tiga. Mushallah ini juga menjadi tempat untuk shalatnya dari banyak mahasiswa yang beragama Islam. Ketika saya di situ, maka berdatangan banyak mahasiswa untuk melakukan shalat dhuhur. Ada yang dari Malaysia, timur tengah dan juga dari Afrika. 
Yang datang di acara ceramah memang tidak banyak. Hanya ada sebanyak 15 orang. Hal ini terjadi karena acaranya mendadak dan juga diselenggarakan pada waktu jam kuliah. Sesuai dengan sambutan ketua perhimpunan mahasiswa, maka acara ini memang diselenggarakan tanpa publikasi. Hanya disampaikan melalui SMS dan pemberitahuan yang mendadak. Tentu akibatnya adalah jumlah peserta yang tidak banyak. Saya tentu memahami situasi seperti ini. 
Saya secara sengaja memilih tema tentang perkembangan Islam di Indonesia sebagai materi ceramah saya di sini. Saya sampaikan bahwa pasca reformasi ada dua hipotesis yang ditulis oleh Bill Lidle, tentang Islam Indonesia. Dinyatakannya bahwa setelah reformasi maka akan terjadi kecenderungan beragama yang Lebih fundamental. Di tengah semakin demokratis dan terbuka sebuah negara, maka akan menghasilkan kehidupan beragama yang lebih bercorak fundamental. Di sisi lain, Karel Steenbrink justru berhipotesis bahwa era reformasi adalah era kehidupan beragama yang popular. Semakin demokratis dan terbuka sebuah negara maka akan memunculkan agama-agama popular. 
Hipotesis ini ternyata memang menuai kebenaran. Ada sejumlah fakta lapangan yang me jadi bukti tentang kebenaran hipotesis ini. Dewasa ini semakin meningkat kehidupan beragama dalam coraknya yang fundamental. Di Indonesia banyak kejadian yang diasosiasikan dengan gerakan Islam fundamental ini. Di sana sini terdapat berbagai tindakan kekerasan yang di dalam banyak hal dikaitkan dengan tindakan beragama kaum fundamental. Ada demonstrasi, ada sweeping, ada kekerasan yang dipicu oleh tindakan kaum fundamental. Ketika 
Bulan romadlon, maka mereka melakukan sweeping terhadap rumah-rumah makan, warung dan Cafe. Mereka melakukan atas nama agama dan atas nama Allah. Mereka tidak hanya mengingatkan akan tetapi juga dengan kekerasan aktual. Mereka melakukan sweeping dengan pentungan dan benda-benda keras lainnya bahkan juga tidak ragu untuk melakukan perusakan. Ketika melakukan perusakan mereka menggunakan ucapan “Allahu Akbar”. Makanya kemudian menghasilkan sindiran bahwa “Allahu Akbar” itu artinya perusakan. 
Kehadiran Islam hard line ini tentu mengkhawatirkan terhadap pemahaman Islam yang selama ini telah menjadi arus utama keberagamaan di Indonesia. kehadiran  kelompok ini di dalam pemahaman dan praktis keagamaan di Indonesia tentunya merupakan tantangan yang tidak ringan. Selain didukung oleh dana yang kuat juga didukung oleh ideologi keagamaan yang sangat militan. Militansi kelompok ini dikenal luar biasa. Kita tidak akan pernah membayangkan bahwa akan terjadi banyak bom bunuh diri di negeri ini terkait dengan pemahaman agama yang fundamental. Mereka melakukannya dengan kesadaran sebagai
jihad di sabilillah. Jihad karena Allah. 
Di sisi lain, juga terdapat pemahaman keagamaan yang bercorak lokal atau agama 
Popular. Agama popular ditandai dengan pengamalan dan keyakinan agama yang berbeda dengan agama arus utama yang ditafsirkan oleh para tokoh agama sebelumnya. Penafsiran agama memang telah menjadi otoritas kaum officialis agama. Makanya agama popular sering dijukstaposisikan dengan agama official. Agama dalam penafsiran rakyat dan agama da
Am penafsiran tokoh agama. 
Era reformasi memang menjadi lahan yang sangat subur bagi pengembangan pemikiran agama yang berbeda dengan arus utamanya ini. Mereka mengaku beragama Islam, akan tetapi paham dan pengamalan ya sungguh berbeda. Misalnya, ada yang mengajarkan saat dalam bahasa Indonesia, meyakini bahwa dirinya adalah rasul Tuhan, ada yang mengaku memperoleh wahyu dan sebagainya. Di Blitar, Kudus, Jakarta, Sumenep, Sulawesi selatan dan sebagainya muncul berbagai paham keagamaan yang sungguh berbeda dengan agama resmi. Semuanya menggambarkan bahwa ada gerakan lokalisasi agama atau pemahaman agama secara lokal. Gambaran seperti ini memunculkan realitas empiris bahwa masyarakat sedang mengembangkan keyakinan beragamanya sendiri tanpa menganggap 
adanya otorisasi agama dari para tokohnya.
Munculnya berbagai gerakan keagamaan seperti ini tentu saja terkait dengan kenyataan semakin demokratis dan keterbukaan negara dan juga semakin menguatnya posisi HAM dalam kehidupan masyarakat. Kewenangan Pemerintah memang hanyalah sebatas memberikan bimbingan dan pelayanan kehidupan beragama. Sedangkan untuk menentukan apakah sebuah keyakinan itu sah atau tidak, benar atau tidak, maka yang mendasar adalah kewenangan majelis agama-agama. Di Islam misalnya ada MUI atau organisasi keagamaan lainnya. Sedangkan di agama lain, misalnya ada DGI, WALUBI, dan sebagainya. Meskipun lembaga ini bukanlah lembaga fatwa, akan tetapi mereka memiliki kewenangan untuk menyatakan suatu paham agama itu sesuai atau tidak dengan ajaran agama yang dianutnya.
Melihat pers. Negara di dalam menghadapi berbagai gerakan keagamaan ini, maka ada sementara anggapan yang menyatakan bahwa negara berposisi lemah. Negara tidak sanggup untuk mengatur dan lebih jauh melakukan penetrasi agar gerakan keagamaan tersebut dihentikan atau dihilangkan. Negara tidak kuasa untuk membubarkannya. Inilah yang menyebabkan adanya pandangan bahwa negara lemah di dalam menghadapi gerakan keagamaan yang muncul akhir-akhir ini. 
Pertanyaan yang muncul di acara ini juga menanyakan peran negara di dalam menghadapi gerakan Ahmadiyah yang terjadi akhir-akhir ini. Kenapa negara tidak bertindak tegas untuk membubarkan Ahmadiyah yang memang menyimpang dari ajaran Islam. Pertanyaan seperti ini saya kira layak untuk diungkapkan mengingat bahwa konflik antar masyarakat yang dipicu oleh paham keagamaan ini bisa mengkhawatirkan keberlangsungan negara. 
Hanya saja perlu juga ditegaskan bahwa negara berwenang untuk mengatur kehidupan masyarakat termasuk kehidupan beragama. Negara di dalam hal ini berwenang mengatur ketentraman dan keamanan negara dan masyarakat. Makanya ketika ada kehidupan aagama yang menyebabkan keridaktentraman masyarakat maka negara akan mengatur agar kehidupan masyarakat menjadi tenteram. 
Saya me jadi teringat sewaktu saya membantu Pak gubernur Jawa timur, ketika terjadi kekerasan sosial yang melibatkan Jemaah Ahmadiyah dengan penduduk setempat,  maka gubernur Jawa Timur mengeluarkan SK Gubernur tentang larangan aktivitas keagamaan yang menyebabkan ketidaktentraman masyarakat. Maka gubernur tidak melarang agamanya akan tetapi aktivitasnya yang menyebabkan masalah sosial.
Kehidupan agama di Indonesia memang semakin semarak. Akan tetapi satu hal yang barangkali harus menjadi perhatian kita adalah semakin fundamentalnya kehidupan keagamaan tersebut, sehingga ketika tidak dimenej dengan seksama bukan tidak mungkin bahwa ke depan akan terjadi masalah yang lebih besar, terkait dengan relasi antar umat beragama. 
Maka, semua harus mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa relasi antar dan Interen umat beragama ini sambil terus membenahi kerukunan dan keharmonisan beragama.
Wallahu a’lam Bi alshawab. 

TWENTEE UNIVERSITY

TWENTEE UNIVERSITY
Pagi jam 6.00 saya beserta rombongan berangkat ke Enscede di ujung perbatasan antara Belanda dan Jerman. Jaraknya kira-kira 300 km, yang bisa ditempuh dengan perjalanan darat kira-kira 3 jam. Saya bersyukur sebab didampingi oleh staf KBRI yang dengan sigapnya untuk mengantarkan kami ke universitas Twentee di Enscede. Disebabkan oleh jalanan yang luas dan bebas hambatan, maka perjalanan ke Enscede juga sangat lancar. Maklumlah di negeri Belanda tidak kita jumpai kemacetan sebagaimana di negara Indonesia. 
Dengan mobil kedutaan yang dikemudikan oleh Pak Hari, maka kami dengan sangat nyaman untuk pergi ke Enscede. Tepat jam 9.00 kami sampai di Enscede. Kami berhenti di pasar di depan Mall V and D di Enscede. Maka kami ke pasar yang berjualan banyak bahan makanan, sayuran dan pakaian yang beraneka ragam. Karena belum makan pagi, maka tentu yang penting adalah mengisi perut  dulu. Kami lalu datang ke penjual makanan–kalau di Indonesia disebut warung tenda– yang menyediakan makanan khas Belanda atau makanan khas Eropa lainnya. Pilihan bagi kami hanyalah ikan goreng, udang dan kentang goreng. Ternyata memang perut ini tidak sembarang bisa menerima makanan yang baru. 
Kami kemudian ke Universitas Twentee. Dengan dipandu oleh Pak Agung yang menjadi ketua perkumpulan mahasiswa Indonesia di Belanda, maka kami menuju ke Universitas Twentee. Ternyata memang tidak mudah menemukan universitas ini. Bangunan Universitas Twentee memang moderen meskipun juga terdapat bangunan kuno yang bernilai historis. Sebagaimana perguruan tinggi di negeri Eropa, maka perguruan tinggi ini juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang ekselen. Hal itu ditandai dengan perpustakaan dan dosennya yang luar biasa. Selain itu juga terdapat kelengkapan seperti Cafe, warnet, dan mini market yang menyediakan berbagai kepentingan mahasiswa. 
Jumlah mahasiswa indonesia di Univefsitas Twentee tergolong yang paling banyak dibandingkan dengan jumlah mahasiswa Indonesia di perguruan tinggi lainnya. Mereka memiliki foru m untuk pertemuan rutin  sebagai manifestasi dari ras persaudaraan dan kebangsaan. Forum tersebut diisi dengan berbagai macam kegiatan, termasuk kegiatan keagamaan. Saya pun diberi kesempatan untuk memberikan pencerahan untuk mahasiswa indonesia di negeri Belanda tersebut.
Sebagaimana tujuan semula, bahwa program kunjungan kerja ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan Islam di Indonesia, terutama madrasah. Untuk kerjasama dengan Uni erosi tas Twentee, maka yang akan dilakukan adalah melakukan penelitian aksi untuk peningkatan kualitas proses pembelajaran berbasis teknologi informasi. 
Penguasaan teknologi informasi memang bukanlah sesuatu yang asing bagi proses pembelajaran dewasa ini. Sudah banyak lembaga pendidikan yang menyelenggarakannya, terutama lembaga pendidikan di kota-kota besar. Disebabkan oleh banyaknya lembaga pendidikan islam yang berada di wilayah pedesaan, maka pantaslah jika lembaga pendidikan Islam memperoleh sentuhan program penguatan pembelajaran berbasis ICT. 
Saya sampaikan di dalam forum itu bahwa Kementerian agama memiliki 67.000 madrasah yang tersebar di seluruh Indonesia. Madrasah ini memiliki variasi kualitas yang berbeda. Ada yang sangat maju dan ada yang sangat rendah kualitasnya. Disebabkan oleh kualitas madrasah yang seperti ini, maka program pemberdayaan madrasah harus terus dilakukan. Di antara yang sudah dilakukan adalah dengan mengembangkan akreditasi bagi madrasah. Madrasah yang sudah terakreditasi tentunya adalah madrasah yang sudah berkualitas. Bagi saya bahwa ukuran sebuah madrasah itu berkualitas atau tidak adalah dari terakreditasi atau tidaknya madrasah tersebut. 
Akreditasi adalah ukuran sebuah lembaga dianggap berkualitas dalam standard ukuran nasional. Akreditasi adalah rekor isi nasional tentang kualitas sebuah lembaga pendidikan. Jadi jika banyak lembaga pendidikan yang terakreditasi, maka tentu banyak lembaga pendidikan tersebut yang berkualitas. Saya patut berbangga sebab akhir-akhir ini semakin banyak madrasah yang terakreditasi, kira-kira 68 persen yang sudah terakreditasi. Untuk kepentingan ini, maka kementerian agama telah memiliki program untuk pendampingan akreditasi madrasah. Saya berharap bahwa tahun 2013 semua madrasah di kementrian agama sudah terakreditasi. 
Saya sesungguhnya mensuport terhadap program pengembangan pembelajaran berbasis ICT. Hal ini tentunya terkait dengan keinginan untuk kenaikan ranking kualitas lembaga 
Pendidikan Islam setahap lebih maju. Dengan program pembelajaran berbasis ICT, maka berarti bahwa madrasah telah memasuki dunia global yang memang harus dijalani. Dan dengan keterjangkauan madrasah melalui program ini juga akan berarti madrasah telah berada di dalam proses menuju kemajuan. Melalui program ini sekurang-kurangnya ada sebanyak 330 madrasah yang akan dicover. Madrasah ini tersebar di seluruh Indonesia. Memang jumlah yang belum memadai dibandingkan dengan jumlah masalah di seluruh Indonesia. 
Di dalam kerangka menghadapi perkembangan dunia global, maka dunia pendidikan juga dituntut untuk mengembangkan program pembelajaran yang relevan dengan kepentingan tersebut. Para guru harus menguasai teknologi informasi. Di zaman ini tidak boleh lagi ada guru yang tidak menguasai teknologi informasi. Guru tidak boleh lagi gagap teknologi. 
Untuk kepentingan ini, maka para guru harus dilatih secara intensif agar menguasai teknologi informasi sehingga akan dapat mengimplementasikan program pembelajaran berbasis teknologi. 
Melalui program pemberdayaan pembelajaran berbasis ICT tentu ke depan diharapkan agar lahir anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan akademik yang baik sehingga kesempatan untuk menyongsong Indonesia emas tahun 2045 akan dapat digapai dengan sempurna.
Wallahu a’lam BI alshawab.