• September 2026
    M T W T F S S
    « Aug    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

PENGALAMAN INDONESIA TENTANG RELASI AGAMA DAN NEGARA (2)

PENGALAMAN INDONESIA TENTANG RELASI AGAMA DAN NEGARA (2)
Di dalam kesempatan memberikan orasi ilmiahnya, Dr. Suryadharma Ali juga menyatakan tentang pentingnya common platdorm bagi sebuah bangsa. Baginya, pengalaman Indonesia kiranya dapat dijadikan model bagi penyelesaian konflik antar umat beragama dan juga relasi antara negara dan agama. Indonesia memiliki kesamaan dengan Thailand, yaitu negara yang penduduknya multikultural dan plural. Sebagai negara yang sesungguhnya memiliki kesamaan-kesamaan, maka eksperimen Indonesia kiranya dapat dijadikan sebagai role model bagi penyelesaian yang baik bagi relasi antara negara dan agama dan antara umat beragama.
Indonesia memiliki dasar negara yang tentu saja patut disyukuri sebab Pancasila telah diterima oleh semua pemeluk dan masyarakat Indonesia. Dengan penerimaan Pancasila sebagai dasar negara, maka berarti bahwa semua masyarakat Indonesia mengakui adanya dasar agama yang sama di antara berbagi suku dan etnis di Indonesia.
Pancasila yang berarti lima dasar atau lima asas tersebut terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/perwakilan dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Indonesia bukan negara agama, akan tetapi adalah negara yang menjadikan agama sebagai basis moralitas bagi kehidupan pemerintahan dan masyarakatnya. Indonesia menjadikan Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa memberikan bukti bahwa Indonesia memang bukan negara agama akan tetapi menjadikan agama sebagai basis penyelenggaraan negara. Hubungan yang diambil adalah hubungan timbal balik dan saling memerlukan.
Bagi umat Islam Indonesia, bahwa tidak perlu mempertentangkan antara Pancasila dengan negara atau pemerintahan. Sebab menjadi pedoman atau basis etika penyelenggaraan negara jauh lebih penting dibandingkan menjadi bagan formalitas dasar negara. Di dalam hal ini, maka perdebatan tentang Pancasila sebagai dasar negara dan relasi antara umat Islam dengan Pemerintah, ternyata menjadi bagian penting di dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Formalitas agama sebagai dasar besar negara hanya akan menjadi penyebab konflik antar warga negara. Dan hal ini tentu tidak baik untuk mengembangkan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Yang diperlukan bagi kita adalah menjadikan Islam sebagai substansi bagi kehidupan negara dan masyarakat. Maka yang diperlukan adalah bagaimana ajaran Islam yang menjunjung tinggi keadilan, kedamaian, kesejahteraan dan sebagainya yang menjadi tujuan bagi kehidupan masyarakat. Jika dengan dasar negara yang secara formal bukan agama akan tetapi dasar agama tersebut telah ada secara substansial di dalamnya, maka hal tersebut telah mencukupi kebutuhan masyarakat di dalam suatu negara.
Indonesia telah mengalami masa yang baik dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, sebab Pancasila bisa menyatukan seluruh elemen masyarakat dengan pluralitas dan multikulturalitasnya, sehingga Pancasila menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat indonesia untuk memilihnya.
Sebagai negara bukan agama, maka negara sangat menghormati agama-agama. Di dalamnya terdapat menteri agama dengan berbagai direktur Jenderal yang terkait dengan agama. Ada direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, ada Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Budha, Direktur Jendersl Bimbingan Madyarakat Hindu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik dan bahkan juga ada yang mengurusi Agama Konghucu. Di negeri ini juga ada hari libur agama-agama, yang semuanya memperoleh pengakuan yang nyata dari negara. Dijadikannya sebagai hari libur nasional dan semua menghormati terhadap keberadaan hari-hari agama tersebut. Makanya, meskipun indonesia terdiri dari berbagai macam agama dan suku bangsa makanya selalu terjadi ketentraman dan keamanan. hal ini sebagai perwujudan akan penghormatan terhadap agama-agama tersebut yang dilakukan oleh negara dan masyarakatnya. Coba kita bayangkan bahwa penganut agama Konghucu, dengan jumlah yang sangat sedikit. Kurang dari 0,05 persen. Akan tetapi meskipun jumlahnya sangat kecil akan tetapi negara dan masyarakat mengakui keberadaannya dan menghormatinya. Dengan cara seperti ini, maka kelihatan bagaimana relasinya antara agama dan negara sudah dilakukan dengan sangat baik. Dan melalui cara seperti ini, maka masing-masing agama akan merasa memperoleh perlindungan dan pengakuan yang sama di dalam negara.
Oleh karena itu, masyarakat Thailand yang memiliki basis sosial dan agama yang mirip dengan masyarakat Indonesia, kiranya dapat menjadikan pengalaman Indonesia di dalam mengelola relasi antara negara dan agama. Melalui pengalaman Indonesia ini, maka kiranya perlu ditegaskan bahwa model relasi antara agama dan negara dan melalui model ini kiranya akan dapat dijadikan sebagai pola penyelesaian bagi konflik dan ketegangan antar agama dan negara.
Wallahualam bisshawab.

 

PENGALAMAN INDONESIA TENTANG RELASI ISLAM DAN NEGARA (1)

PENGALAMAN INDONESIA TENTANG RELASI ISLAM DAN NEGARA (1)
Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. Suryadharma Ali memperoleh kesempatan untuk memberikan ceramah umum di depan civitas akademika Princess of Naradhiwas University, yang dihadiri oleh sejumlah pejabat Kementerian Agama dan juga pejabat di universitas tersebut. Acara ini berlangsung di ruang auditorium universitas, pada tanggal 23 September 2013.
Dinbrbrpa wilayah Thailand Selatan, memang ada beberapa perguruan tinggi. di antaranya, ada beberapa perguruan tinggi di Thailand yang menyelenggarakan program studi keislaman, yaitu Princess of Songkla University, Princess of Naradhiwas University, lalu Ya’la University dan Rajapat Ya’la University. Melalui keberadaan kajian Islam ini, tentu kajian secara akademis tentang Islam akan semakin baik di masa yang akan datang.
Dr. Abdur Rasyid, Direktur Akademi Pengajian Islam dan Bahasa Arab di dalam seminar tentang “kajian atau Studi Islam di Selatan Thailand dan Komunitas Asean” menyatakan bahwa Kajian Islam telah memulai mendapatkan tempat di Thailand. Perkembangan yang menarik tentu saja, mengingat bahwa Islam di Thailand adalah minoritas. Akan tetapi perkembangan akhir-akhir ini sangat menarik sebab Pemerintah memberikan kesempatan kepada perguruan tinggi Islam untuk mengkaji Islam pada level pendidikan tinggi.
Semula pengkajian Islam dilakukan di mushallah atau masjid saja. Kajian Islam tersebut tentu terkait dengan kajian agama saja. Selain itu juga ada pengajian Islam yang dilakukan oleh madrasah-madrasah. Jika di mushallah atau masjid hanya mengkaji ilmu Islam saja, akan tetapi di madrasah kemudian berkembang pendidikan Islam yang terkait dengan ilmu-ilmu lain.
Di dalam kesempatan ini, President Princess of Naradhiwas University, Dr. Chonrak Palasai menyatakan bahwa beliau sangat menghargai terhadap kedatangan yang Mulia, HE. Suryadharma Ali, Menteri Agama Republik Indonesia yang sudah memberikan beasiswa kepada mahasiswa Thailand untuk belajar di universitas-universitas di Indonesia dalam berbagai jurusan. Selain itu, maka universitas ini juga akan memberikan penghargaan Doktor Honoris Causa kepada yang terhormat Suryadharma Ali, Menteri Agama Republik Indonesia.
Di dalam acara ini, Menteri Agama RI juga menyampaikan terima kasih atas undangan Presiden Prince of Naradhiwas University atas semua kebaikannya, dan terutama juga keinginan untuk memberikan anugerah Doktor Honoris Causa. Menteri Agama juga menegaskan bahwa melalui MoU antara Kementerian Agama dengan pemerintahan Thailand yang diwakili oleh Southern Border Province of Administrative Center (SBPAC) sekarang sudah dilakukan implementasinya yaitu dengan memberikan beasiswa kepada 50 orang, yaitu 25 orang untuk program strata satu, 15 orang untuk program strata dua dan 10 orang untuk mahasiswa program strata tiga. Selain itu, juga ada peluang untuk mengirimkan para santri di Indonesia, khususnya di pesantren Assiddqiyah di Jakarta, yang sekarang dipimpin oleh Kyai Nur Muhammad Iskandar yang bertepatan Beliau juga hadir di tempat ini.
Selain itu, juga sebagai kelanjutan dari MoU antara Kementerian Agama dengan SBPAC, maka juga akan dilakukan kerja sama untuk pengajaran dan kajian Bahasa Indonesia yang nanti akan dilakukan perjanjian kerjasamanya dengan universitas Islam di Indonesia dengan Universitas Prince of Naradhiwas. Kerja sama ini akan dilakukan dalam waktu secepatnya.
Di dalam kesempatan ini, Menteri Agama akan menyampaikan bahasan tentang Kajian Islam di Asia tenggara, dengan sub topik yaitu Islam dan Negara, Pengalaman Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia. Tentu saja sebagai sebuah negara yang di dalamnya terdapat banyak agama, pulau, bahasa dan kebudayaan akan memiliki problem terkait dengan bagaimana relasi antara Islam dan negara. Pergumulan antara Islam dan negara tersebut tidak dapat dihindarkan sebab ada banyak keinginan untuk membangun Indonesia dengan keinginannya masing-masing. Akan tetapi Indonesia dan masyarakat Islam Indonesia sudah memilih Pancasila.
Pancasila di Indonesia sudah diterima oleh umat Islam, umat Hindu, umat Budha, Umat Kristen, umat Protestan dan juga umat Konghucu. Semua menerima Pancasila sebagai dasar negara yang sudah tidak lagi dipertentangkan. Semua menerima Pancasila setelah melalui perjuangan panjang yang menghabiskan segenap usaha dan tenaga agar Pancasila tersebut menjadi dasar negara.
Jika kita lakukan flashback, maka akan diketahui bahwa pergumulan antara Islam dan negara telah memiliki sejarah yang panjang. Sejarah Islam menegaskan bahwa pergumulan antara Islam dan negara juga sudah menjadi kajian dan praktik di dalam berbagai eksperimentasi di negara-negara Islam. Misalnya, kala pemerintahan Umayah, Abbasiyah dan negara-negara Islam lainnya yang menggambarkan bahwa Islam sesungguhnya pernah menjadi basis bagi proses penyelenggaraan negara.
Institusionalisasi politik Islam, sebenarnya terjadi secara naik turun. Ada saatnya menjadi sangat kuat dan di sisi lain juga mengalami kemunduran. Ada yang menyatakan bahwa tidak ada teori politik tentang Islam, misalnya yang dikemukakan oleh Ali Abdur Razig dan sebagainya. Ada banyak alasan tentang mengapa tidak ada politik Islam. Pandangan sekuler ini, tentu tidak sesuai dengan kenyataan teks, bahwa Islam mengintrodusir bahwa ada kata musyawarah, khilafah, keadilan, dan sebagainya yang dapat diinterpretasi sebagai konsep general tentang negara Islam.
Selain itu pandangan Ali Abdur Raziq ini juga bertentangan dengan kenyataan bahwa Nabi Muhammad telah membuat perjanjian. Yang sangat terkenal yaitu perjanjian Madinah atau piagam Madinah yang merupakan bentuk perjanjian antara negara Madinah dengan masyarakat suku di sekitar Madinah.
Konsep politik Islam sesungguhnya bukan hanya didasarkan atas teks AL Quran, akan tetapi juga berbasis pada pengalaman empirik lokalitas, sebagaimana dikembangkan oleh Rasulullah ketika beliau memimpin masyarakat Madinah dan juga pengalaman tentang bagaimana Nabi Muhammad membangun relasi dengan masyarakat sekitarnya.
Sesungguhnya pengalaman menyelenggarakan pemerintahan Islam juga mengalami pasang surut. Ada eksperimen yang dilakukan para penerus pemerintahan Islam yang mengadaptasi pengalaman lokal Islam di timur tengah yang menghasilkan pengalaman tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dan di satu sisi juga terjadi pengalaman ketika Islam dipisahkan dari pemerintahan, maka terjadilah kemundruan umat Islam. Jadi ketika Islam dikaitkan dengan pemerintahan, maka bisa terjadi kesejahteraan masyarakat dan juga sebaliknya terjadi kemunduran kala Islam ditinggalkan.
Ada dua aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu: pertama, kala Islam ditinggalkan maka akan terjadi kemunduran dan kala Islam diimplementasikan maka akan terjadi kesejahteraan. Makanya, kala ada yang menyebut bahwa Islam tidak terkait dengan politik, maka sesungguhnya adalah pernyataan yang keliru. Ada sejumlah alasan tentang pentingnya relasi antara Islam dan negara atau politik yaitu bahwa Islam sesungguhnya adalah agama yang kaffah, agama yang di dalamnya juga terdapat pengaturan negara atau pemerintahan.
Sebagaimana dipahami bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural, maka pilihan kepada Pancasila sebagai dasar negara di mana agama menjadi salah satu basis implementasinya, maka ternyata hal itu menjadi pilihan yang sangat baik. Berdasar atas pengalaman sejarah negara-negara yang pernah hidup di Indonesia, di mana masing-masing memiliki basis aturan dan dasar pemerintahan yang berbeda, maka dengan mudah dapat dipengaruhi bahkan dikalahkan oleh negara lain, makanya fakta sejarah tersebut menjadi dasar bahwa perlu ada commont platform untuk menjamin kebersamaan di dalam suatu negara, yaitu Pancasila.
Islam memang pernah mengalami masa pahit, misalnya di awal pemerintahan Presiden Soeharto, akan tetapi di masa akhir Pemerintahannya maka beliau melakukan perubahan politik yang lebih akomodatif, yaitu dengan mendirikan organisasi-organisasi yang berwatak keislaman, misalnya ICMI, Bank Islam, dan organisasi Islam lainnya, maka berarti terdapat era baru di dalam proses penyelenggaraan pemerintahan yang lebih akomodatif terhadap Islam.
Kita memang melihat bahwa pada akhirnya Presiden Soeharto memang jatuh dan digantikan oleh Presiden selanjutnya, akan tetapi yang dapat diapresiasi adalah semakin kokohnya Islam dalam kawasan politik yang kiranya kemudian menjadi pengalaman yang sangat menarik untuk dikaji dan bahkan mungkin diteladani. Islam yang berkorelasi dengan pemerintahan ternyata justru menjadi kekuatan baru bagi penyelesaian berbagai problem yang terjadi, misalnya di Aceh dan juga relasi antara umat islam dengan pemerintahan.
Wallahualam bisshawab.

INDONESIA CHANNEL 2013 (1)

INDONESIA CHANNEL 2013 (1)
Saya sungguh terharu melihat dan mendengarkan orang-orang luar negeri menari dan menyanyikan tentang kehebatan kesenian Indonesia dengan tari dan musik tradisionalnya. Perhelatan di dalam Indonesia Channel 2013 yang diselenggarakan di Auditorium Universitas Airlangga sungguh membuat kita semua seakan merasakan betapa kehebatan Indonesia dengan dunia seni dan tarinya yang tak terperikan.
Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri untuk menandai beasiswa bagi para duta seni luar negeri untuk memelajari tari dan seni Indonesia. Sungguh saya melihat betapa keindahan dan kemajemukan budaya Indonesia itu terasa di malam yang mengagumkan itu.
Acara yang dihadiri oleh M. Fachir, direktur Jenderal Diplomasi Publik, Prof. Dr. Kacung Marijan, Dirjen Kebudayaan, Al Busyro Basnur, direktur diplomasi publik, walikota Surabaya, dan sejumlah tokoh budaya dan masyarakat kampus ini memang didesain dengan sangat baik. Kerinduan saya untuk melihat opera Thailand yang pernah saya lihat beberapa tahun yang lalu terasa terobati dengan penampilan orang barat untuk menyanyi dan menari tarian Nusantara ini.
Pagelaran seni dengan latar kerajaan Majapahit ini tentu membuat kita semua bangga akan keanekaragaman budaya Indonesia. Desain panggung yang bagus, disertai dengan tata tari dan koreografi yang bagus ternyata bisa memberikan gambaran utuh tentang budaya Nusantara kita yang adiluhung. Tidak ada keraguan akan kebesaran Nusantara baik di masa lalu maupun di masa depan. Dengan sumpah Amukti Palapa yang dicetuskan oleh Maha Patih Gajah Mada, yang menjadi latar dan sekaligus pesan moral pagelaran tari ini, maka kita semua memperoleh sajian hiburan yang sangat indah dan sekaligus membangun wawasan kebangsaan yang sangat tinggi.
Jika kita melihat keanekaragaman tari Nusantara yang dilakoni oleh para pecinta seni budaya Nusantara tersebut lalu kita tidak mengaguminya, maka tentu ada yang salah di dalam diri kita. Kita lihat bagaimana tari dan seni Bali ditarikan, bagaimana tarian Jawa dilakukan, bagaimana tarian dan musik Jawa Barat dimainkan dan bagaimana musik dan tarian Sulawesi selatan digerakkan. Kita semua akan merasa bahwa ada roh seni yang sangat mengedepan,
Tarian Jawa yang dipadu dengan musik Jawa yang adiluhung tampak gemulai dimainkan. Akan tetapi ketika olah rasa dilibatkan di dalam penglihatan terhadap tarian itu, maka betapa terasa bahwa ada senyawa kimia yang bercampur antara keindahan dan kerohanian, ada perpaduan antara jagat kecil manusia dengan jagat besar Tuhan yang bersenyawa di dalamnya. Kita merasakan desiran bunyi musik Jawa yang mendayu-dayu dengan tarian Jawa yang gemulai.
Kala kita menyaksikan tarian dan musik Sunda, maka akan kita rasakan bahwa ada kekuatan gerak yang diperankan di dalam tarian tersebut. Hampir seluruh tarian tersebut memiliki watak dasar silat yang menjadi kekuatannya. Bukan tarian yang menggambarkan kekerasan akan tetapi memberikan pesan bahwa kekuatan fisik yang prima yang dipadukan dengan gerak tari yang indah akan membangun keserasian antara dunia fisik dengan yang non fisik dalam gerak para penarinya.
Yang juga menarik adalah tarian Bali. Kita tentu familier dengan tarian Bali. Meskipun tidak tahu namanya, akan tetapi ada karakter musik khas Bali yang dengan mudah diduga. Hentakan-hentakan musiknya yang berpadu dengan alunan musik yang rancak tentu menggambarkan bagaimana keriangan musik dan juga sekaligus keheningan musiknya dipertontonkan. Gerak tari yang ditandai dengan gerakan mata yang lincah dan juga gerakan tangan dan kaki dan seluruh tubuh yang serasi memberikan gambaran tentang keserasian antara gerak fisik dan batin yang menggelegar. Topeng yang menghiasi para penari dan juga balutan pakaian yang gemerlap juga menandakan bahwa tarian ini memberikan kesegaran, keindahan dan juga kehalusan Budi sekaligus.
Saya bukanlah orang yang tahu dunia tari dan kesenian. Akan tetapi saya sungguh merasakan bahwa tarian yang dibawakan oleh orang luar Negeri dari berbagai bangsa di dunia tersebut memberikan gambaran keindahan dan kekayaan budaya Indonesia. Dalam episode tari yang menggambarkan perang antara Buta Cakil dengan Arjuna, saya melihat betapa keindahan tari tersebut dipagelarkan. Penari dari Vietnam yang memerankan Buta Cakil menari dengan indahnya. Hanya ada satu kata: “luar biasa”.
Ada banyak anak muda kita yang menyukai gaya menari almarhum Michael Jackson, atau mengagumi boy band dari Korea Selatan dan juga lainnya, akan tetapi sungguh kita harus mengapresiasi dan merasa bangga bahwa tarian Jawa, Sunda, Bali dan Makasar ternyata tidak kalah dengan semua itu. Jika orang luar negeri saja mengagumi dan kemudian mempelajari kesenian Nusantara dengan sangat serius, maka kiranya menjadi tidak arif jika kemudian kita meninggalkannya.
Jangan sampai kita belajar tarian Jaran Kepang atau lainnya justru di luar negeri karena mereka yang mempelajari dan mengembangkannya. Tentu sesuatu yang sangat ironis.
Wallahualam bisshawab.

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MADRASAH

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MADRASAH
Salah satu di antara yang menjadi mandatory pengembangan pendidikan pada tahun 2013 adalah pengembangan pendidikan menengah universal atau disingkat PMU. Pendidikan menengah universal adalah istilah smart terkait dengan wajib belajar 12 tahun yang diancangkan Pemerintah. Kementerian Agama sebagaimana kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga berkewajiban untuk menyukseskan pendidikan menengah universal tersebut.
Oleh karena itu, sebulan yang lalu diselenggarakan acara penandatangan Memory of Understanding (MoU) antara Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dengan 16 Bupati/walikota seluruh Indonesia terkait dengan pengembangan pendidikan universal tersebut. Acara yang dihadiri oleh Menteri Agama ini juga dihadiri oleh seluruh pejabat eselon I dan II kementerian Agama dan juga beberapa kementerian lain yang mendukung terhadap pengembangan program pendidikan ini.
Secara sengaja memang untuk pengembangan PMU dilakukan kerjasama dengan kementerian lain, misalnya adalah Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Sosial, Kementerian PU, Badan Nasional Penganggulangan Bencana dan Badan Pertanahan Nasional. Kerjasama ini dibangun agar di dalam pelaksanaan PMU akan dapat dilaksanakan secara lebih berdaya guna.
Kerjasama dengan Kementeian Dalam Negeri, misalnya diperlukan terkait dengan pendanaan pendidikan yang seringkali tidak memberikan kesempatan kepada lembaga pendidikan di bawah Kementeian Agama untuk mendapatkannya. Melalui kerjasama ini sekurang-kurangnya akan diperoleh gambaran tentang bagaimana Kementerian Dalam Negeri juga memiliki tanggung jawab terhadap kemajuan pendidikan di bawah Kementerian Agama. Kerjasama dengan BNPB, misalnya terkait dengan wilayah rawan gempa sehingga andaikan kejadian tersebut terjadi, maka BNPB juga memiliki keterikatan untuk menanggulanginya. Demikian pula dengan Kementeian lainnya.
Dewasa ini, Kemenag telah memiliki lembaga pendidikan unggul, yaitu Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) yang memiliki keunggulan akademis luar biasa. Jika ada orang bertanya tentang manakah lembaga pendidikan sekelas pendidikan menengah yang sangat prestisius, maka jawaban yang meyakinkan adalah MAN IC tersebut. Oleh karena itu, maka Direktorat Jenderal Pendidikan Islam berkeinginan untuk mengembangkan MAN IC tersebut di seluruh provinsi di Indonesia.
Berdasarkan desain pengembangan MAN IC, maka tahun 2013 akan dikembangkan sebanyak 16 titik di provinsi-provinsi di Indonesia. Kemudian pada tahun 2015 akan dikembangkan lagi sebanyak 14 titik di provinsi lainnya, sehingga diharapkan bahwa setiap provinsi akan memiliki lembaga pendidikan unggulan MAN IC tersebut. Kita sungguh berbangga bahwa lembaga pendidikan Islam di bawah Kementerian Agama maju sangat pesat. Dan khususnya MAN IC telah menjadi aset sangat berharga bagi pengembangan SDM berkualitas. Sekian tahun yang lalu tidak kita bayangkan bahwa melalui MAN akan dihasilkan lulusan yang luar biasa.
Di antara lulusan MAN IC tersebut 90 persen diterima di lembaga pendidikan tinggi unggul di Indonesia. Mereka diterima di UI, UGM, ITB, ITS, IPB, UNAIR, UB, UIN, IAIN dan sejumlah PTN ternama lainnya. Bahkan ada di antara mereka yang diterima di Malaysaia, Singapura, Jepang, Korea Selatan dan beberapa negara barat lainnya. Prestasinya merupakan serangkaian capaian mengagumkan dari lembaga pendidikan Islam tersebut.
Prestasi demi prestasi yang diukir oleh siswa madrasah dalam berbagai even nasional maupun internasional sesungguhnya memberikan gambaran bahwa lembaga pendidikan Islam di bawah Kementerian Agama sudah mengalami perubahan ke arah kemajuan. Oleh karena itu diharapkan bahwa 16 provinsi yang tahun 2013 memperoleh pengembangan pendidikan akan sangat serius untuk melaksanakannya. Di antara 16 provinsi tersebut antara lain adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Barat, Kalimantan selatan, Sumatera Utara, Aceh, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku utara, Papua Barat, dan lain-lain.
Ke depan, kita sedang mendesain beberapa jenis pendidikan menengah. Di antara jenis pendidikan menengah di Kementerian Agama tersebut adalah desain pendidikan akademis, sebagaimana MAN IC dan MAN unggulan lainnya, kemudian MAN kejuruan, yang sudah memiliki fasilitas Alat ketrampilan, dan MAN khusus keagamaan, yang merupakan kelanjutan dari MAN pendidikan khusus keagamaan yang pernah ada dan dimoratoriumkan. Tahun 2014 akan kita mulai untuk mengembangkan MAN kejuruan dan MAN pendidikan keagamaan.
Jika desain ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh maka ke depan akan bisa kita lihat kemajuan pendidikan yang mengagumkan di bawah Kementeian Agama. Saya kira dibutuhkan kerja eras, kerja cerdas, kerja ikhlas dan tuntas
Wallahualam bisshawab.

 

 

MADRASAH RISET NASIONAL (3)

MADRASAH RISET NASIONAL (3)
Di perguruan tinggi kita mengenal tri Dharma perguruan tinggi sebagai proses pembelajaran, yaitu pendidikan dan pengajaran, riset atau penelitian dan pengabdian masyarakat. Oleh karena itu, penelitian menjadi bagian tidak terpisahkan dengan proses pembelajaran di lembaga pendidikan tinggi. Di lembaga pendidikan dasar dan menengah tentu tidak dikenal tiga konsep itu sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Pada lembaga pendidikan dasar dan menengah kata riset belumlah menjadi agenda utama di dalam proses pembelajaran. Bahkan di dalam banyak hal, proses pembelajaran lebih bercorak teacher centered dan belum mengarah ke student moooooll centered. Secara konseptual memang sudah dikenal konsep tersebut, akan tetapi secara empirik masih terjadi hal yang sebaliknya.
Perubahan tentu terjadi dengan upaya untuk mengembangkan kurikulum 2013 ini. Melalui pendekatan tematik integratif dan kurikulum yang dirancang dengan pengamatan dan analisis, maka riset sekurang-kurangnya menjadi bagian dari proses pembelajaran. Hanya saja tentu belumlah menjadi kewajiban yang sangat mendasar untuk melakukannya.
Melalui program madrasah riset nasional atau Pro Madrina, tentunya kita berharap agar pembelajaran di madrasah akan lebih maju dengan menempatkan riset sebagai bagian tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. Sebagaimana harapan Tuan Guru Hasanain Juwaini, bahwa dengan penerapan riset ini maka madrasah dan juga pondok pesantren akan menjadi moment kebangkitan semangat bangsa Indonesia.
Coba kita perhatikan beberapa penelitian yang sangat menarik dari para siswa madrasah kita. Muhammad Dzikrullah dan Nailul Fahmi melakukan penelitian tentang “Pendingin Alternatif Sederhana”. Mereka menemukan bahwa dari hasil percobaan terhadap buah segar yang ditaruh di dalam pendingin yang dibuatnya, maka ternyata memberikan gambaran bahwa buah-buah tersebut ternyata masih segar. Alat pendingin yang tidak menggunakan listrik dan hanya menggunakan pasir dan air ini ternyata mampu mendinginkan udara sehingga bisa menjadi alat pendingin bagi sayuran dan buah-buahan.
Kemudian Siti Fatimah dan Wasilatul Almariyah, melalukan riset tentang “Kertas Indikator Ekstrak Kunyit untuk identifikasi Boraks” mereka menemukan bahwa melalui eksperimen yang dilakukannya ternyata bahwa kertas indikator ekstrak kunyit dapat dipakai untuk mendeteksi terhadap kandungan boraks pada makanan. Melalui eksperimen yang sederhana ini ternyata dapat digunakan untuk mendeteksi makanan yang terindikasi boraks. Jadi masyarakat bisa mendeteksi sendiri terhadap makanan terutama makanan jajanan.
Selain itu, mereka juga tertarik dengan proses pembelajaran. Dalam riset yang dilakukan oleh Nurul Huda dkk., tentang “Kertas Bungkus Rokok dalam Rangkaian Listrik 3 in 1” menemukan bahwa melalui alat peraga barang bekas ternyata siswa menjadi semakin aktif belajar dan juga semakin disiplin, serta semakin berani dalam mengoperasikan rangkaian listrik dari sikap yang biasanya takut dan pasif. Dan yang lebih penting bahwa melalui prosesi pembelajaran seperti itu, maka program pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan siswa juga menjadi semakin aktif.
Kemudian, Suja’i dkk., juga melakukan penelitian tentang “Kaleng Bekas Obat Anti Nyamuk Semprot sebagai Alat Peraga Modifikasi Kalor” dia menemukan bahwa Alat peraga modifikasi Kalor ternyata lebih efektif dan efisien digunakan sebagai Alat peraga dibanding dengan Alat peraga lainnya. Selain itu, harganya lebih murah, kerjasama kelompok semakin baik dan juga memberikan efek pembelajaran yang lebih maksimal. Oleh karena itu, maka diharapkan agar metode ini dapat dijadikan sebagai salah satu Alat peraga yang memiliki peran yang lebih besar di dalam proses pembelajaran. Hanya saja kiranya memang diperlukan berbagai uji coba lain agar temuan riset ini akan lebih sempurna.
Di dalam inovasi madrasah, juga terdapat penelitian yang baik, yaitu yang dilakukan oleh Fahrurrazi. Dia menulis tentang “Pengembangan Madrasah Unggul Melalui Program Triple K”. Program yang bisa dilakukan adalah dengan (1) membangun kultur madrasah yang efektif, (2) membangun karakter atau akhlak baik yang menyangkut pribadi, akhlak yang berhubungan dengan orang lain, yang berhubungan dengan keindahan, yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat, dan juga akhlak yang terkait dengan Tuhan. Dan kemudian (3) membangun proses belajar yang dapat mengembangkan potensial siswa untuk menjadi lebih baik.
Tentu masih ada hasil penelitian lain yang menarik dan memiliki nilai efektif dan efisien untuk proses pembelajaran. Jadi memang kita bisa berbangga dengan prestasi madrasah dengan program risetnya ini.
Wallahualam bisshawab.