Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SYUKUR SEBAGAI PENDORONG DOA

SYUKUR SEBAGAI PENDORONG DOA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Kala saya menulis artikel ini, sesungguhnya saya gamang. Bukan apa-apa, sebab sayapun belum tentu bisa menjadi orang dengan tingkat kesyukuran yang sangat tinggi, luar biasa, di dalam kehidupan. Adakalanya, saya masih merasakan belum secara optimal di dalam bersyukur kepada Allah. Contoh kecil saja, misalnya saya terbangun jam 01 malam dan kemudian tidak bisa lagi tertidur sampai pagi, maka ada rasa gelisah. Ada rasa cemas bahwa pagi hari dipastikan akan lemas, badan kurang fit dan sebagainya.

Padahal seharusnya saya bersyukur kepada Allah karena dibangunkan di malam hari dan saya bisa berdzikir kepada-Nya. Tentu tuntas semua amalan shalat malam. Benar amalan itu dilakukan tetapi di dalam hati ada yang masih terasa mengganjal karena kepagian bangunnya. Seharusnya merasa bersyukur karena masih diberi peluang untuk hidup. Ini sebagai tasyakkur yang sangat besar, karena dengan masih diberikan hidup berarti masih ada peluang untuk memohon ampunan kepada Allah atas semua kekhilafan dan dosa.

Beberapa hari yang lalu saya membaca di media social tentang orang-orang yang kapalnya karam di lautan  (Selat Bali), karena tersapu ombak besar yang menerjangnya. Mereka berempat berkeinginan untuk meraih kembali kapalnya, akan tetapi ombak besar kembali menerjangnya sehingga mereka berempat terpisah. Akan tetapi dengan kemampuan berenang yang sangat baik, akhirnya mereka bisa bertemu dan berenang bersama. Selama empat hari terapung-apung di laut tentu menguras tenaga dan menghadirkan rasa haus yang luar biasa. Tetapi didapatkan air mineral di dalam botol sehingga bisa diminumnya. Mereka makan ikan mentah untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Sampai suatu saat mereka mendengar suara orang yang sedang mengaji. Dan akhirnya mereka berempat selamat. Ternyata keluarganya melakukan upaya untuk membaca Alqur’an pada waktu keempat orang tersebut terapung-apung di laut. Mereka meyakini bahwa suara orang mengaji tersebut merupakan kiriman keajaiban dari suara orang mengaji bersama-sama di rumahnya. Saya tidak bisa membayangkan kebahagiaan yang dirasakannya akibat selamat dari kecelakaan laut yang menakutkan. Ini merupakan bentuk syukur yang sangat besar, sebab menyangkut hidup dan mati. Sebuah pengalaman religious yang menarik untuk diceritakan. (Tribun Banyuwangi, 25/05/2025).

Rasa syukur tentu tidak harus datang dari peristiwa besar, akan tetapi juga bisa berasal dari kehidupan sehari-hari. Ada saja yang membuat kita seharusnya bersyukur. Adakalanya, kita bersyukur itu hanya atas peristiwa-peristiwa besar saja, sehingga yang kecil itu dianggap biasa saja. Kita bisa bangun tidur dengan perasaan enak saja merupakan hal yang harus disyukuri. Bisa makan dengan enak saja harus disyukuri. Tidak harus makanan yang lezat, makanan yang biasa saja tetapi jika tubuh dalam keadaan sehat, maka makanan itu akan terasa lezat. Kita bisa membayar hutang dengan tertib, jika memiliki kreditan, maka kita akan bersyukur. Rejeki dari Allah bisa datang dari mana saja. Allah dipastikan akan memberikan rejeki atas usaha yang kita lakukan, besar atau kecil. Rasanya yang penting cukup. Cukup itu tidak berkurang  dan berlebihan yang sangat. Cukup itu rejeki yang berkah. Nikmat digunakan dan tidak sia-sia. Rejeki yang berkah itu jika digunakan akan bertambah-tambah kebaikannya.

Kita ini makhluk yang terhingga sehingga juga urusannya dengan keterhinggaan. Itulah sebabnya doa pun harus dilakukan banyak kali agar doa tersebut bisa sampai ke hadhirat Allah SWT. Berbeda dengan orang yang sudah sampai maqam kasyaf atau tempat yang rasa ketuhanannya sudah transparan, sehingga bisa dengan mudah untuk bertemu dengan Dzat Yang Tidak Terhingga. Allah adalah Dzat Yang Tidak Terhingga. Makanya, jika yang tidak terhingga melakukan suatu amalan, maka Yang Tidak Terhingga akan dengan mudah bertemu dengan yang memiliki kapasitas yang gelombangnya sama.

Nabi Muhammad SAW adalah makhluk manusia ciptaan Allah yang memiliki otoritas bertemu dengan Dzat Yang Tidak Terhingga, Allah SWT. Makanya Nabi Muhammad SAW dapat bertemu Allah di suatu tempat yang penuh ketidakterhinggaan. Allah Dzat Yang Tidak Terhingga berada di suatu tempat Yang Tidak Terhingga, dan Nabi Muhammad SAW dapat masuk ke dalam Dzat Yang Tidak Terhingga.

Nabi Musa dinyatakan sebagai Nabi yang dapat berbicara dengan Allah, tetapi tidak memiliki kapasitas untuk bertemu dengan Allah. Kala berbicara dengan Allah, maka keduanya di dalam gelombang yang sama, Nabi Musa dapat masuk ke dalam Dzat Yang Tidak Terhingga. Tetapi di saat Nabi Musa ingin bertemu dengan Allah, maka tempat yang digunakan adalah Bukit Thursina yang bukan Dzat yang Tidak Terhingga, maka bukit itupun hancur lebur. Nabi Sulaiman juga  seorang Nabi yang bisa bercakap-cakap dengan Binatang, tentu karena terdapat gelombang yang sama di antara keduanya. Kelebihan tersebut tentu karena kekuasaan Allah SWT yang kemudian dikaruniakan kepada hambanya.

Kita bukanlah mereka yang memperoleh kelebihan atau mu’jizat yang agung. Kita adalah makhluk yang biasa saja dengan kedekatan dengan Allah yang sangat biasa saja. Oleh karena itu, maka di dalam berdoa juga akan mengalami “kendala” yang datang dari diri kita sendiri. Di antara kendala tersebut adalah kurangnya rasa syukur dimaksud. Yang menulis artikel ini juga berada di dalam keadaan seperti itu.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

BUTUH PROSES DALAM KESUKSESAN DOA

BUTUH PROSES DALAM KESUKSESAN DOA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) itu merupakan kelompok ngaji yang unik. Dinyatakan unik tentu karena di dalam acara tersebut terdapat Upaya untuk tertawa ceria sebanyak-banyaknya, sekurang-kurangnya 17 kali. Ini supaya kita sehat. Temanya pun sangat temporal. Tidak ada yang baku, harus ini atau itu. Bahkan juga terkadang tema itu datang dari peserta pengajian. Maklumlah peserta pengajian ini merupakan orang yang sudah malang melintang di dalam profesinya masing-masing. Bahkan  saya sering menyatakan bahwa pengajian ini menggunakan “Tafsir Jalan Lain” bukan “Tafsir Jalalain”.

Tema yang kita bahas pada hari Selasa, 19/05/2025 adalah tentang bagaimana doa akan sampai kepada Allah dan kira-kira butuh waktu berapa lama. Ini tema baru tentang doa dan berbeda dengan pembahasan atas doa-doa pada pengajian sebelumnya. Di dalam pengajian ini sudah pernah dibahas Trilogi: Ikhtiar, doa dan tawakkal. Baca buku saya “Islam Itu Indah” diterbitkan oleh Nur Syam Centre Publishing, 2024. Kali ini saya menjelaskan tiga hal, yaitu:

Pertama, teologi doa atau theocentrisme-doa.  Doa itu memiliki makna teologis. Artinya bahwa berdoa itu adalah perintah Tuhan untuk manusia. Allah yang memerintah kita untuk berdoa kepadanya. Doa itu arti gampangnya adalah permohonan atau upaya untuk mendapatkan sesuatu dari Allah sesuai dengan yang diinginkan. Bisa untuk mendapatkan rejeki yang halal dan thayyib, bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat, bisa untuk mendapat kebahagian dan juga untuk mendapatkan surganya Allah kelak di alam akherat.

Doa  harus dibarengi dengan ibadah. Coba kita perhatikan di dalam Surat Al Fatihah, maka dinyatakan: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. yang artinya: “Kepada-Mu Ya Allah kami menyembah dan kepada-Mu kami memohon”. Harus ada keseimbangan. Tidak boleh hanya berdoa tanpa ibadah. Doa dan ibadah adalah keseimbangan yang diciptakan oleh Allah untuk manusia.  Di dalam ibadah ada doa dan doa adalah ibadah.

Di dalam Alqur’an juga terdapat ayat yang menyatakan agar manusia memohon kepada Allah melalui doa. Ayat tersebut berbunyi: “Ud’uni astajib lakum”. Yang artinya: “berdoalah kepada-Ku dan Aku akan mengabulkannya”.  Ini janji Allah kepada umat Islam. Dan saya kira juga janji Allah kepada uma-umat Nabi terdahulu sebelum datangnya Islam. Allah sendiri yang meminta agar manusia berdoa.

Kedua, doa sebagai kebutuhan manusia atau antropocentrisme-doa. Semenjak 4.000 tahun SM, manusia sudah mencari Tuhan. Manusia sudah mencari dan menemukan Tuhan. Keyakinan tentang Tuhan itulah yang menyebabkan manusia ingin berbakti kepada yang diyakininya. Orang menyembah Tuhan yang diyakini sebagai Dzat yang berkuasa. Manusia memang membutuhkan agama. Di dalam kajian psikhologi, misalnya dinyatakan bahwa manusia membutuhkan spiritualitas.  Manusia memiliki kebutuhan untuk mengekspresikan kebutuhan spiritualitasnya. Tidak hanya kebutuhan biologis yang ingin dipenuhinya, akan tetapi juga kebutuhan psikhologis termasuk kebutuhan spiritualitas.

Orang yang mempercayai Tuhan, dipastikan akan memiliki kebutuhan untuk berdoa. Ada dimensi kemanusiaan di dalam doa yang dilantunkannya. Bagi sekelompok orang yang masuk di dalam pemahaman agama yang esoteris atau ahli tasawuf yang telah memasuki dunia “kedalaman” beragama, maka akan merasakan betapa nikmatnya berdoa. Seseorang akan merasakan ada “kehadiran” Tuhan dalam batinnya. Maklum bahwa mereka telah memiliki ‘ainun bashirah atau pengalaman batin yang berhubungan dengan Tuhannya.

Bagi orang yang awam dalam pengalaman beragama, maka yang terpenting adalah berdoa kepada Allah di dalam ibadah yang kita lakukan. Jangan lelah berdoa, karena Allah memerintahkan kita untuk berdoa. Bisa dilakukan langsung kepada Allah dan boleh juga dengan berwashilah kepada Nabi Muhammad SAW. Boleh berjuang sendiri dan boleh memohon pertolongan. Dan salah satunya makhluk Allah yang diberi otoritas untuk memberikan syafaat adalah Nabi Muhammad SAW. Berdoalah dengan berwashilah kepadanya.

Ketiga, doa itu  melalui proses. Ada proses agar doa sampai kepada Allah SWT. Memang ada orang yang doanya langsung kepada Allah dan Allah langsung membalasnya. Doa para kekasih Allah dipastikan akan langsung diijabah oleh Allah. Doa Nabi Muhammad SAW dan Nabi-Nabi lainnya bisa langsung diijabah oleh Allah. Bahkan juga para waliyullah, orang yang sangat dekat kepada Allah. Di dalam mitos, misalnya Kanjeng Sunan Bonang dapat mengubah buah kelapa menjadi kelihatan seperti emas, sehingga Raden Sahid takjub dan mau menjadi muridnya. Lewat peristiwa itu, maka Raden Sahid kemudian bertapa dalam waktu yang sangat lama, tiga tahun, dan kemudian mendapatkan ainun bashirah dari Allah dan kemudian menjadi waliyullah penyebar Islam di tanah Jawa.

Bagi orang awam, maka rasanya ada proses yang harus dilampaui. Tidak bisa begitu berdoa,  begitu dikabulkan. Ada proses yang bahkan panjang agar sampai kehadhirat Allah SWT. Misalnya, pagi kita berdoa lalu doa tersebut  terdorong ke atas. Untuk bisa terdorong ke atas, maka dibutuhkan tiga sikap dan tindakan yaitu syukur, sabar dan tawakkal. Ketiganya adalah kunci. Jika kita berdoa lalu diiringi dengan tiga kata kunci ini, maka doa akan terdorong ke atas. Dan jika ada salah satu yang berkurang maka doa akan bisa turun lagi. Doa itu kemudian akan berada di batas antara langit dan bumi. Jika syukur, sabar dan tawakkal itu terus berlangsung, maka doa akan terdorong ke atas ke langit pertama, jika persyaratannya terpenuhi akan terdorong ke langit kedua, ketiga, sampai langit ketujuh. Hal ini bisa terjadi jika sabar, syukur dan tawakkal tersebut terjaga dengan baik. Kira-kira untuk sampai ke langit ketujuh butuh waktu tujuh hari sebagaimana Allah menciptakan langit tujuh lapis dalam waktu tujuh hari. Sab’a samawatin”. Lalu akan terus ke atas dan diproses apakah  doa akan dikabulkan langsung, atau ditunda atau bahkan akan diberikan di alam akherat.

Dengan kata lain, agar doa kita bisa diijabah oleh Allah, at minimum, membutuhkan waktu tujuh sampai 10 hari. Ini tafsir lain atas proses perjalanan doa, dan hal ini hanya tafsir yang tentu bisa disalahkan atau diragukan. Yang tidak boleh diragukan adalah manusia membutuhkan berdoa kepada Allah. Jika gelombang Allah dengan orang yang berdoa sama, maka doa akan cepat dikabulkan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

ADAKAH HIDAYAH TUHAN UNTUK ORANG DHALIM?

ADAKAH HIDAYAH TUHAN UNTUK ORANG DHALIM?

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam teks Alqur’an pada Surat Jumu’ah ayat 5 dijelaskan bahwa Allah tidak akan memberikan hidayah kepada orang yang dhalim. Ayat tersebut menyatakan: “wallahu la yahdil qaumadh dhalimin”, yang artinya: “Allah tidak akan memberikan petunjuk bagi orang yang dhalim”. Jelas sekali teksnya. Berdasarkan ayat ini, maka tidak ada peluang atas orang yang dhalim untuk memperoleh petunjuk dari Allah SWT. Tidak ada. Jalan sudah tertutup untuk hal tersebut.

Di dalam pengajian pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya, maka hal itu saya jadikan sebagai pokok bahasan. Saya sampaikan ada beberapa kunci untuk memahami teks ini berdasarkan atas upaya untuk menghubungkan antar ayat atau antar konsep, sehingga dapat menjaring makna yang lebih konprehensif. Tentu saja upaya ini dilakukan dengan cara memahami teks dan konteks diksi dalam ayat yang berusaha untuk dipahami. Sekali lagi pemahaman ini bukan tafsir tetapi hanya upaya secara kntekstual dan tekstual atas ayat yang sepertinya “menutup” atas peluang sekecil apapun. Ada tiga hal yang saya jelaskan:

Pertama, menjelaskan ayat petunjuk atau hidayah. Sebagaimana makna teksnya bahwa hidayah itu adalah hak prerogative Allah untuk memberikannya kepada manusia. Artinya, ada orang yang memperoleh hidayah dan ada orang yang tidak memperoleh hidayah. Tetapi atas orang yang dhalim maka dalilnya jelas,  Allah tidak akan memberikan hidayah kepada ajaran Islam. Jika dengan berpedoman pada ayat ini, maka dipastikan siapa saja yang digolongkan orang dhalim maka tidak akan mendapatkan petunjuk. Secara terminology, hidayah adalah petunjuk Allah kepada manusia melalui Nabi-Nabinya, dan yang terakhir adalah petunjuk Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Petunjuk tersebut terkait dengan jalan kebaikan. Yaitu petunjuk untuk beriman kepada Allah dan beramal shalih. Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dinyatakan: “Qul amantu billahi tsummastaqim”. Katakanlah, “saya beriman kepada Allah dan akan istiqamah atasnya”. Istiqamah dalam beriman dan melaksanakan amalan-amalan sebagaimana yang diimani tersebut.

Kedua, ada tiga kata yang dapat dikaitkan dengan kata petunjuk atau hidayah, yaitu Rahman dan Rahim, keselamatan dan ajaran Islam. Jika dibuat bentuk segitiga, maka ajaran Islam berada di tengah di antara relasi antara hidayah, Rahman/Rahim dan selamat. Ketiganya merupakan relasi yang sistemik atau tidak berdiri sendiri-sendiri. Segi tiga ini untuk menjelaskan posisi orang yang dhalim apakah bisa mendapatkan hidayah atau tidak, masih ada peluang untuk mendapat hidayah atau tertutup sama sekali. Allah itu maha Rahman dan Rahim. Itu pasti. Allah itu pemberi keselamatan. Ini juga kepastian. Allah adalah yang memiliki ajaran agama sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Ini juga pasti. Dengan demikian, hidayah Allah kepada siapapun itu sangat tergantung atas datangnya ajaran Islam kepada manusia, yang dibarengi dengan keselamatan dan Rahman atau Rahim Tuhan. Sayyidina Umar bin Khattab mendapatkan hidayah dari Allah, sementara itu Abu Jahal tidak mendapatkannya. Sementara itu, Maurice Buchaille mendapatkan hidayah, tetapi Annemarie Schimmel tidak mendapatkannya. Bisa jadi ada tingkatan di dalam kedhaliman, sehingga ada yang dhalim mendapatkan petunjuk dan ada yang tidak mendapatkannya. Dalam kasus Sayyidina Umar bin Khattab, maka derajat kedhalimannya lebih ringan dibandingkan dengan Abu Jahal. Maka bisa dikategorikan bahwa ada gradasi atas kedhaliman tersebut. Ada kedhaliman besar, ada kedhaliman medium dan ada kedaliman kecil. Abu Jahal dapat dikategorikan sebagai orang dengan Tingkat kedhaliman luar biasa, karena keinginannya untuk mecelakai Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya, sementara Umar Bin Khattab tidak sejauh hal tersebut. Di dalam Riwayat dinyatakan bahwa Umar ingin membunuh adiknya tetapi tidak kesampaian sebab mendengarkan ayat Alqur’an dibaca adiknya. Sayyidina Umar bin Khattab justru mempercayai atas kenabian Muhammad SAW. Sementara Abu Jahal tidak sedikitpun tergerak hatinya untuk mempercayai ajaran Nabi Muhammad SAW bahkan ingin membunuhnya. Khalid bin Walid tentu juga melakukan kedhaliman tetapi tidak sebesar tingkat kedhaliman Abu Jahal dan Abu Lahab. Alqur’an banyak bercerita tentang individu yang dikenai adzab karena keingkarannya kepada Tuhan, misalnya Qarun, Kapitalis pertama di dunia.

Ada sejumlah kaum Nabi yang juga dapat dikategorikan sebagai kelompok dengan kedhaliman yang luar biasa, misalnya kaum Nabi Nuh yang akhirnya ditelah gelombang laut yang sangat dahsyat. Peristiwa banjir besar yang melanda Nabi Nuh berdasarkan Riwayat interteks dapat dinyatakan sebagai kebenaran, sebab tidak hanya Kitab Suci Alqur’an yang menjelaskannya, akan tetapi juga cerita di dalam Kitab Manawa Darma Sastra yang menceritakan mengenai Manu yang mengalami peristiwa banjir besar.

Selain itu juga kaum Nabi Luth atau Kaum Ad, yang melakukan tindakan sodomi dengan tingkat kedhaliman luar biasa sehingga diadzab dengan rihin shorshorin atau angin panas selama berhari-hari. Kota Sodom dan Gomorah itu kemudian sekarang dikenal sebagai Madain Shaleh. Demikian pula umat Nabi Hud, atau Kaum Tsamud yang juga diadzab Tuhan. Dengan demikian, ada individu yang kena adzab Tuhan dan juga ada sekelompok orang atau komunitas yang dikenai adzab Tuhan.

Dengan demikian, kedhaliman sesungguhnya tetap memiliki peluang untuk memperoleh hidayah Allah selama yang bersangkutan tidak “keterlaluan” di dalam kedhalimannya. Kedhaliman yang sangat besar sebagaimana contoh di atas merupakan gambaran orang yang dhalim yang tidak memperoleh hidayah, sementara yang tingkat kedhalimannya tergolong rendah atau bahkan medium, maka masih berpeluang untuk memperoleh hidayah Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

JAGA DIRI DENGAN IMAN DAN AMAL SALEH: PESAN NABI MUHAMMAD UNTUK KELUARGA

JAGA DIRI DENGAN IMAN DAN AMAL SALEH: PESAN NABI MUHAMMAD UNTUK KELUARGA

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Saya rasanya jarang  meneteskan air mata mendengarkan khutbah Jum’at. Nyaris tidak pernah. Tetapi berbeda dengan khutbah yang disampaikan oleh Muhammad Firdus Ramadlan, SH., alumnus Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel, Jum’at, 09/05/2025 di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya.

Ada tiga hal yang akan saya sampaikan terkait dengan khutbah dimaksud, yaitu: Pertama, bahwa Nabi Muhammad SAW pada suatu Ketika mengumpulkan kerabatnya. Pamannya, keponakannya, istrinya, anaknya, seluruh keluarganya.kalau di Indonesia semacam pertemuan untuk silaturahmi keluarga. Berbagai bani-bani di dalam kerabat Nabi Muhammad SAW datang untuk menghadiri undangan Nabi Muhammad SAW. Pada waktu memberikan ceramah kepada kerabatnya, Nabi Muhammad SAW menyatakan kurang lebih sebagai berikut: “Wahai Bani Abdi Manaf, Bani Hasyim, Bani Quraisy dan seluruh yang hadir di tempat ini, saya sampaikan bahwa yang dapat menyelamatkan dirimu dari api neraka adalah perbuatan atau amalan kalian semua. Saya tidak dapat memberikan keselamatan. Meskipun semua kerabat saya, tetapi saya tidak mampu menyelamatkan jika amalan di dalam kehidupan kalian semua tidak baik. Termasuk juga anakku Fathimah, jika dia tidak melakukan kebaikan maka saya tidak akan bisa menolongnya.”

Lebih lanjut Nabi menyatakan: “janganlah kalian semua mengandalkan keturunan. Meskipun tidak keturunan orang baik, akan tetapi menjalankan kebaikan, maka dialah yang akan selamat. Di dalam Islam dikenal sebuah nama yang hebat, yaitu Iklimah, seorang yang hafal Alqur’an, ahli tafsir dan ahli ibadah, padahal dia adalah keturunan Abu Jahal seorang tokoh yang sangat membenci Islam dan sering berperang melawan umat Islam. Jadi keturunan tidak menjamin keselamatan akan tetapi amalah shalihan yang akan menyelamatkan.”

Ada anak orang jahat, seperti Abu Jahal tetapi menjadi orang yang saleh, tetapi juga ada anak seorang Nabi Nuh yang Bernama Kan’an yang mengingkari perintah ayahnya. Ada puyra Nabi Adam yang sangat saleh, yaitu Habil dan ada anak Nabi Adam yang durhaka yaitu Qabil. Ada Nabi Ibrahim yang dibangsakan kepada Azar yang pembuat patung berhala, yang musyrik, dan  Nabi Ibrahim adalah seorang rasulullah. Dengan demikian, setiap orang bisa menjadi terbaik siapapun orang tua kita, dan juga berpotensi menjadi jahat siapapun orang tua kita.

Kedua, sebagai umat Islam, maka posisi kita semua sama. Ajaran persamaan sebagai manusia merupakan ajaran yang mendasar. Allah menciptakan manusia dalam berbagai suku bangsa dan kabilah. Tidak ada kelebihan satu suku bangsa dan kabilah atas lainnya. Yang membedakan adalah ketaqwaannya. Di sisi Allah SWT yang lebih utama adalah ketaqwaannya. Dari sini bisa dipahami bahwa di hadapan Allah, orang yang Istimewa adalah yang paling bertaqwa. Orang yang mempertahankan imannya kepada Allah dan melakukan amalan shalih itulah yang utama. Islam mengajarkan berimanlah kepada Allah dan kemudian istiqamahlah. Kita diminta meyakini Allah adalah Tuhan kita dan kita diminta untuk konsisten di dalam keimanan dimaksud.

Kita adalah drurriyah Nabi Muhammad SAW dalam kategori keturunan fisikal atau genealogi nasab, akan tetapi adalah dzurriyah Nabi Muhammad SAW dalam konteks orang yang menjadi pengikut dan setia untuk menjalankan ajaran-ajarannya. Kita percaya kepada Tuhan Allah sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dan kita juga orang yang mengamalkan ajaran Islam sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yakinlah bahwa kita adalah penganut setia ajaran Islam dengan segala konsekuensinya.

Ketiga, di dalam kehidupan ini ada dua hal yang diberikan otoritas oleh Allah untuk memberikan syafaat. Yaitu Rasulullah Muhammad SAW dan kitab Suci Alqur’an.keduanya dikaitkan dengan konsep syafi’an liashhabihi. Yang bisa memberikan syafaat. Allah memang memberikan kapasitas sebagai pemberi syafaat kepada umat manusia. Itu artinya, bahwa yang akan mendapatkan syafaat adalah umat Islam. Umat Islam memiliki peluang untuk mendapatkan syafaat dari salah satunya. Jadi yang mendapatkan syafaat adalah orang yang menjadi sahabatnya. Yaitu orang Islam yang bersahabat dengan ajaran Nabi Muhammad dan orang yang bersahabat dengan Alqur’an.

Kita ini orang yang beruntung sebab insyaallah adalah orang yang istiqamah di dalam beriman kepada Allah SWT. Meskipun secara minimalis kita telah berkomitmen untuk meyakni akan keradaan Allah Dzat yang Maha kuasa, dan mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Kita juga menjalankan ajaran Islam sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Insyaallah kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akherat.

Agar kita menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW, maka ada instrument yang dapat digunakan yaitu dengan membaca shalawat, Allahumma shalli ‘ala Sayydina Muhammad, wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad. Dan juga ada yang menjadi sahabat Alqur’an karena kecenderungannya untuk membaca Alqur’an bahkan menghafalnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

SEKALI LAGI KONSEP “DIAM” DALAM ISLAM

SEKALI LAGI KONSEP “DIAM” DALAM ISLAM

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Diam tentu konsep yang sangat penting di dalam Islam. Begitu pentingnya maka mendapatkan perhatian yang sangat mendasar di dalam berbagai kitab, salah satunya adalah Kitab yang dikaji oleh Pak Dr. Cholil, Nashaihul ‘Ibad, karya Imam Nawawi Al Bantani. Saya ingin membahas sekali lagi konsep ini, setelah kemarin saya bahas mengenai “Diam Sebagai Tindakan Kearifan”.

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW telah menyatakan di dalam haditsnya bahwa: “Barang siapa mempercayai Allah dan hari kiamat, maka hendaknya berkata yang baik atau lebih baik diam”. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori. Jadi yang dikehendaki oleh Allah adalah berkata yang baik, dan diam jika tidak dapat berkata yang baik. Tentunya ada kriteria perkataan yang baik dan ada perkataan yang jelek, atau ada kriteria dalam berkata dan ada kriteria diam. Hal ini agar kita tidak jatuh pada generalisasi bahwa semua perkataan jelek dan diam itu baik. Ada perkataan yang baik yang harus dilakukan dan ada perkataan jelek yang lebih baik diam.

Marilah kita bahas persoalan ini dalam tiga hal, yaitu: pertama, perkataan yang baik atau perkataan yang amar ma’ruf dan nahyi mungkar. Di sinilah tempat bagi kaum da’I dalam menyebarkan Islam. Tetapi harus tetap berada di dalam konteks menyatakan yang perlu dan yang perlu dinyatakan. Jangan sampai para da’I juga melakukan Tindakan menyebarkan ujaran kebencian, hoaks atau berkata yang berkepatutan  sesuai dengan prinsip komunikasi di dalam Islam. Prinsip misalnya qaulan layyinan atau berbicara dengan lemah lembut atau berkata qaulan kariman atau perkataan yang memuliakan manusia.

Perkataan atau pernyataan yang mengandung nilai-nilai keagamaan, seperti menjelaskan tentang keadilan, kesamaan, toleransi, kerukunan, dan keselamatan dan nilai kesopanan, keutamaan ajaran Islam dan sebagainya tentu dianjurkan, akan tetapi perkataan atau pernyataan yang mengandung kebencian, permusuhan, kebohongan, pembunuhan karakter, ghibah, mengumpat  atau perkataan dan pernyataan yang bertentangan dengan kemualiaan Islam tentu dilarang oleh Islam.  Beragama berarti mengusung bagaimana membangun relasi dengan sesama manusia dalam coraknya yang bisa membahagiakan orang lain. Jangan sampai kit aitu beragama tetapi kehidupan kit aitu menyusahkan orang lain. Saya sangat suka dengan konsep doa di dalam agama Buddha yang menyatakan “semoga semua makhluk Bahagia”. Konsep ini sama dengan doa di dalam agama Islam: Wahai Tuhan kami berikan kepada kami keselamatan di dunia dan akherat”. Jadi tekanannya kepada kami, kita semua, bukan aku.

Kedua, diam di dalam ajaran Islam ini bermakna jangan menyatakan atau mengatakan sesuatu ucapan atau tulisan yang bisa melukai manusia atau pemeluk agama lain, suku lain dan golongan social lain. Prinsip utamanya adalah bagaimana membangun relasi social melalui pernyataan atau perkataan yang membuat orang lain senang dan Bahagia. Bahkan Islam mengajarkan bahwa “senyuman itu sedekah”. Kalau kita berkata dan membuat pernyataan yang membuat orang lain tertawa dan Bahagia, maka hal itu adalah sedekah yang murah tetapi bermanfaat. Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) di Masjid Al Ihsan Ketintang Surabaya itu memiliki visi “mewujudkan komunitas Ngaji yang berbahagia”. Oleh karena itu tema-temanya ajaran Islam yang dikemas dengan konten kebahagiaan. Dengan tertawa maka akan muncul parasaan Bahagia.

Bagi saya, bahwa selama seseorang masih bisa tertawa maka peluang kebahagiaan itu masih ada. Bandingkan dengan orang yang ketagihan narkoba, maka dipastikan bahwa hidupnya akan penuh dengan kesulitan, dan untuk memenuhi kebutuhan atas zat adiktif dimaksud, maka terpaksa harus menyayat tubuhnya sendiri, dan menghisap darahnya untuk memenuhi kebutuhan perasaannya. Mereka merasakan tidak ada lagi kesusahan atau kesedihan tetapi semu. Berbeda dengan orang yang bisa tertawa yang bisa menghasilkan kebahagiaan.

Ketiga, sekali lagi diam itu tidak dimaksudkan dalam kebaikan dan Upaya untuk melakukan kebaikan. Misalnya kita ngaji bareng-bareng bada subuh Surat Al Waqiah yang dibaca Bersama maka itu bukan menghasilkan kebisingan akan tetapi menghasilkan rasa damai sesudah membacanya. Bacaan keras ayat Al Qur’an itu akan turut serta didengarkan oleh alam sekeliling kita, sehingga alam pun merasa berbahagian. Sayang belum ada penelitian bahwa alam sekitar yang ikut mendengarkan bacaan alqur’an juga marasakan kebahagiaan. Terhadap tumbuhan saya kira sudah ada hasil penelitiannya. Demikian pula mengenai keajaiban air yang didoakan.

Oleh karena itu jangan khawatir bagi orang yang sering membaca Surat Yasin atau membaa kalimat thayibah bersama-sama, dipastikan bahwa apa yang kita baca tersebut akan lebih dapat didengarkan oleh alam sekeliling kita. Coba kita pikirkan, bagaimana orang kesurupan makhluk halus lalu dirukyah tiba-tiba menjerit dan merasakan kehadiran bacaan ayat-ayat Alqur’an atau doa-doa lainnya. Hal itu berarti makhluk selain manusia  itu mendengarkannya.

Jadi adakalanya, kita berdoa dengan diam dan ada kalanya kita berdoa dengan suara lantang. Keduanya sama pentingnya di Tengah kehidupan social yang sekarang sedang terjadi. Dan mari kita berkeyakinan bahwa keduanya akan sampai kepada Allah SWT asal kita berada di atas garis kehidupan yang berisi syukur, sabar, tawakkal dan yang baik-baik, dan bukan di bawah garis tersebut, misalnya tidak bersyukur, suka marah, egois, merasa paling hebat dan seabrek pemikiran, sikap dan Tindakan yang mendegradasi makna doa.

Wallahu a’lam bi al shawab.